Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kehadiran Tuhan
    Tuhan selalu hadir di dalam hidup kita. Tidak ada satu detik pun dimana Tuhan tidak hadir di dalam hidup kita. Tetapi faktanya, banyak orang tidak merasakan kehadiran Tuhan itu. Dan lebih konyol lagi, kalau orang tidak merasa membutuhkan kehadiran Tuhan. Bayangkan, kalau Tuhan tidak hadir dalam kehidupan manusia, dunia ini bahkan jagat raya ini chaos; hancur berantakan. Dan itu akan terjadi nanti di bumi pada waktu penghakiman terakhir sudah usai. Bumi akan menjadi lautan api; limne to puros. Atau mungkin seluruh wilayah solar system, artinya seluruh wilayah di mana matahari yang kita lihat sekarang ini semua jadi laut, jadi genangan api. 
    Sebenarnya bumi ini kalau dibanding dengan jagat raya, hanya seperti debu. Karena ada planet yang besarnya bisa hampir 200.000 kali bumi. Bayangkan, betapa kecilnya bumi ini. Itu yang sudah ditemukan manusia. Belum lagi yang belum ditemukan manusia. Dan Tuhan mengatur jagat raya dengan sempurna; tidak terjadi chaos atau kekacaubalauan. Kalau suatu hari bumi ini ditinggalkan oleh Allah, maka akan terjadi kekacauan. Betapa mengerikan jika hal itu benar-benar suatu hari nanti terjadi dalam hidup manusia atau dalam kehidupan jagat raya ini. Jadi kalau kita masih ada hari ini, karena Allah hadir. Kalau alam semesta masih eksis, ini semata-mata karena Allah yang mengaturnya. 
    Betapa Allah memelihara dunia dengan sangat sempurna. Lebih dari kehadiran Allah atas ciptaan-Nya yang bersifat material, lebih lagi kehadiran Allah dalam hidup individu. Itu luar biasa. Tetapi sayang, anugerah yang begitu besar dalam kehidupan manusia, dalam kehidupan individu, sering disia-siakan. Haleluya, Tuhan ingatkan kita pada kesempatan ini. Kalau Allah berkenan hadir di dalam hidup kita, betapa indahnya, betapa luar biasanya. Mari kita sambut kehadiran-Nya, kita harus menghayati bahwa Allah beserta kita. “Beserta kita” bukan hanya kita kaitkan dengan berkat yang dan perlindungan yang Tuhan berikan, melainkan anugerah pendewasaan dan pendidikan yang Allah berikan kepada kita yang tak ternilai. 
    Itu adalah pemberian kekal, pemberian yang akan menjadi milik abadi kita. Kalau hanya makan minum, berkat jasmani yang kita miliki atau kita nikmati, itu sekejap akan lenyap, artinya seiring dengan berakhirnya umur hidup seseorang, selesai sudah. Tetapi kehadiran Tuhan yang membentuk karakter kita, mendewasakan kerohanian kita, yang menuntun kita untuk mencapai kesempurnaan Allah agar kita memiliki moralitas kesucian-Nya, adalah berkat kekal yang tidak ternilai. Ini yang harus kita sambut. Setiap hari Tuhan mau berurusan dengan kita. Itu bukan berarti kita hanya ada di ruang doa, namun Allah hadir melalui setiap peristiwa hidup. Dan tidak bisa berkat kekal diberikan tanpa media masalah, tanpa media persoalan. 
    Namun bukan berarti lalu kita tidak perlu berdoa lagi untuk menjumpai Tuhan. Itu mutlak perlu. Pertemuan dengan Tuhan itu mutlak setiap hari. Itu tidak bisa digantikan dengan yang lain. Kita bisa menikmati Tuhan lewat perjumpaan secara pribadi dalam doa. Perjumpaan pribadi itu dengan Tuhan akan melahirkan pengalaman-pengalaman adikodrati yang luar biasa yang tidak bisa kita ungkapkan kepada orang lain. Jadi, sambut kehadiran-Nya dalam doa bersama yang menjadi irama hidup kita. Sambut kehadiran Tuhan dalam hidup pribadi, dalam doa pribadi, dan alami hal-hal yang sangat pribadi yang kita tidak bisa ungkapkan bagi orang lain. 
    Jangan mendengar suara fitnah jahat di dalam pikiran yang mengatakan, “Allah tidak menghargai aku. Aku sudah berdoa, Allah tidak hadir dan aku tidak merasakan kehadiran-Nya.” Tuhan hadir di dalam hidup kita. Tuhan menyertai di dalam hidup kita. Hayati kehadiran Tuhan. Jangan lepaskan penghayatan kita akan kehadiran Tuhan. Kita harus mulai masuk dalam pergumulan dimana kita berada, kita menghayati Tuhan. Dan setiap kali kita menghadapi satu peristiwa, kita bertanya, “Apa yang Kau mau aku pahami melalui persoalan ini, Tuhan?” Kalau tidak demikian,
    10 min
  • Pembaruan Hidup
    Yohanes 12:24, “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” 
    Pasti kita semua rindu menjadi seseorang yang mengalami hidup yang baru; hidup yang dibaharui. Tetapi pernahkah kita jujur mengakui bahwa ternyata hidup yang dibaharui tersebut tidak berlangsung? Sejatinya, banyak yang tidak mengalami pembaruan hidup secara signifikan, namun mereka tidak peduli. Hidup ini adalah sebuah organisme, artinya entitas yang hidup yang harus mengalami revolusi atau perubahan terus-menerus. Tetapi banyak orang lebih peduli dengan jumlah uang depositonya, nama besar, dan hal-hal fana lainnya. Pembaruan hidup kita ini harus terus berlangsung atau terjadi sampai kita benar-benar mengalami kematian daging; menjadi manusia baru. 
    Hidup yang dibaharui oleh Tuhan, tentu tergantung juga respons dari setiap individu. Tidak ada respons, maka tidak ada pembaruan. Respons yang dimaksud misalnya menyediakan waktu mendengar firman, pergi ke gereja, berdoa, tidak lagi nonton yang tidak perlu ditonton, tidak bergaul dengan orang-orang yang tidak takut akan Tuhan, dan lainnya. Dosa-dosa yang dulu kita lakukan, kita tinggalkan; dosa yang dulu kita nikmati, tidak lagi kita nikmati. Itu manusia lama yang kalau kita beri makan, akan semakin membuat kita kecanduan. Jadi, ketika kita menyadari hal-hal itu tidak berkenan di hadapan Tuhan, kita menyangkal diri, kita tidak mau melakukannya lagi. Transisi dari kebiasaan yang salah dan tidak lagi melakukan kebiasaan itu, menyakitkan. 
    Tapi, ingat, ada hitungan di atas kertas Tuhan. Kita harus masuk dimensi 3D: diam, diam, diam. Diam itu berkuasa. Nanti kita akan melihat bagaimana keadaan dikendalikan oleh Tuhan. Dulu maunya melawan atau membela diri. Tapi setelah belajar kebenaran ini, kita tidak melawan, tidak membela diri; kita diam saja. Maka, seperti biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, kita matikan kedagingan kita. Tidak lagi menuruti hawa nafsu, kemarahan, kejengkelan, kecemburuan, kemarahan, dendam, pikiran zina, nafsu kuliner, dan sebagainya. Semua yang tidak proporsional, kita tolak, kita matikan. 
    Proses menjadi mati ini, tidak mudah. Banyak orang belum mati, merasa diri sudah mati. Baru setengah mati, jangan-jangan seperempat mati. Kalau ada kesempatan berbuat dosa atau berbuat salah, manusia lamanya bangkit lagi. Maka, jangan sampai kita memberi peluang manusia lama kita hidup. Sebagaimana slogan petugas pemadam kebakaran, “pantang pulang sebelum padam,” dipadamkan agar padam total. Jadi, pastikan bahwa manusia lama kita itu sudah padam total. Dan ini proses yang tidak mudah. Di tengah-tengah pencobaan dan godaan-godaan hidup, kita harus berjuang. Rahasianya: bertekun terus, jangan berhenti berusaha, jangan berhenti berjuang. Sampai nanti kita akan menemukan jalannya, bagaimana kita dapat mengisi hari hidup dengan benar. 
    Bersyukur kalau hari ini kita masih hidup. Banyak salah yang kita lakukan. Puji Tuhan, Tuhan memiliki kartu kuning yang banyak. Kalau kartu kuning Tuhan hanya satu atau dua, kita sudah tidak ada sekarang. Tuhan selalu memberikan peringatan. Dan setiap kartu kuning, itu ada disiplinnya. Jangan main-main. Sebab, luar biasa berharga dan mahalnya pelajaran yang Tuhan berikan. Maka kalau kita mau berbuah, manusia lama kita harus dimatikan. Jadi kalau seseorang sungguh-sungguh hidup kudus, hidup dalam ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan Yesus, tidak bisa tidak, dia akan menghasilkan buah. 
    Maka kita harus rela kehilangan kehidupan kita di bumi, rela kehilangan kesenangan-kesenangan dunia, demi supaya kita bisa masuk langit baru bumi baru dan menikmati kehidupan yang akan datang. Itulah sebabnya Yesus berkata, “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Juga Kolose 3:1 mengatakan: “Carilah perkara yang di atas, bukan di bumi.” Jadi, memang orang percaya itu fokusnya harus langit baru bumi baru.
    9 min
  • Menggelapkan Mata Hati
    Sejujurnya, pernahkah kita memperkarakan apakah Tuhan merasakan dan menikmati cinta kita? Sebagai orang tua, kita tahu bagaimana anak-anak kita memperlakukan kita ketika mereka berbuat sesuatu, dan perbuatan itu sebagai ungkapan atau ekspresi tindakan cintanya kepada kita sebagai orang tua. Dan sebaliknya, kalau anak-anak kita tidak memperlakukan kita secara patut, melawan, berani memarahi, atau tindakan-tindakan lain yang menyakitkan, orang tua juga merasakan itu, dan ini melukai.
    Allah sebagai Bapa dan kita sebagai anak, sejatinya hubungan itu mengandung konsekuensi yang serius yang selama ini mungkin tidak kita pikirkan karena kita berpikir secara kanak-kanak. Kita tahu bahwa Bapa yang baik pasti memelihara, melindungi, menjaga, memenuhi segala kebutuhan anak-anak-Nya. Bahkan mungkin hanya mau menyenangkan kita. Sebagai anak, kita harus memperlakukan Bapa cara patut, menempatkan diri sebagai anak secara patut, dan tentu saja, memenuhi bagian kita sebagai anak. Sampai Bapa merasakan bahwa hubungan kita dengan Bapa benar-benar hubungan yang harmoni. 
    Bapa mengakui dan merasakan cinta dan ketaatan Tuhan Yesus sehingga pada akhirnya Bapa berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nya aku berkenan.” Dengan kalimat lain, Yesus menyenangkan dan meyukakan hati Bapa. Siapapun kita, berapapun usia kita—bagi yang muda jangan berpikir terlalu dini di usia mudamu—di mana pun, kita selalu diperhadapkan kepada banyak keinginan, namun pikirkan apa yang diinginkan Allah di dalam hidup kita untuk kita penuhi, guna memuaskan hati Tuhan, Allah Bapa, dan sebagai bukti cinta kita kepada Bapa.
    Pangkas, buang semua keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Teladani Yesus yang sejak usia muda-Nya menjaga hidup sampai pada satu titik Bapa menyatakan bahwa Dia Anak yang dikasihi-Nya. Kita harus sungguh-sungguh berjuang memperkarakan hal ini: apakah hidup kita benar-benar dinikmati oleh Allah karena kita mencintai Dia? Dan untuk Allah dapat merasakan cinta kita tentu tidak cukup dengan kata-kata, ucapan, nyanyian, tapi dengan sikap dan perbuatan. Apa yang harus kita lakukan untuk benar-benar bisa menyenangkan hati Bapa?
    Ingat peristiwa Abraham mempersembahkan anaknya Ishak? Juga ucapan Tuhan Yesus, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, dia kehilangan nyawa, tapi barangsiapa kehilangan nyawa karena Aku, dia memperoleh nyawa.” Abraham rela menyerahkan anaknya Ishak, lalu apakah dia kehilangan Ishak? Tidak. Apa yang dijanjikan Allah kepada Abraham, bahwa keturunannya akan sebanyak pasir di laut dan sebanyak bintang di langit, terwujud.
    Kalau pada hari itu Abraham menolak mempersembahkan anaknya Ishak dengan berbagai alasan, mungkin Abraham tidak pernah jadi nenek moyang Mesias. Dan apa yang dijanjikan Allah tidak pernah tergenapi karena Abraham tidak layak menerima penggenapan janji itu. Apakah kalau kita kehilangan apa yang paling kita cintai, lalu kita menjadi miskin dan susah? Justru tidak. Allah mencari orang-orang yang benar-benar mengasihi Dia di akhir zaman ini, di mana dunia bertambah jahat. 
    Dalam 2 Timotius 3:1-5 dikatakan bahwa ciri pertama orang yang tidak mengasihi Bapa adalah mencintai dirinya sendiri. Di tengah dunia kita yang rusak, yang pasti membawa pengaruh dalam hidup kita, kita tengadah kepada Tuhan yang tidak kelihatan, yang seakan-akan tidak ada, dan berkata, “Bapa, apa yang Kau ingini harus kulakukan? Apa yang Kau ingini harus aku perbuat?” Yang bertanya belum tentu mendapatkan jawaban dengan mudah dan cepat, apalagi jika kita tidak punya niat untuk memberikan hidup bagi Tuhan. Suatu saat, ketika orang bertemu dengan Tuhan, ia akan menyesal kenapa dia tidak memberikan hidupnya. Dia akan berkata, “Apa pun akan kuberikan, Tuhan, kalau tahu begini,” tapi terlambat. Seperti orang kaya di Lukas 16. 
    Kita harus mencintai Tuhan seekstrem mungkin. Kita mau menjangkau Allah yang tidak berubah.
    10 min
  • Menjemukan
    Mestinya kehidupan kekristenan kita tidak akan pernah menjemukan kita. Mestinya kehidupan kekristenan kita selalu menggairahkan. Sebab kehidupan Kristen yang benar itu berdinamika, artinya setiap hari pasti ada hal-hal yang baru, setiap hari pasti ada hal-hal yang tidak sama dengan pengalaman yang telah kita jalani sebelumnya. Sebab perjalanan kita mengikut Yesus adalah perjalanan perubahan. Setiap hari mestinya ada perubahan. Ibarat sebuah perjalanan, pasti ada pemandangan baru dan itu mengasyikkan, tidak menjenuhkan, dinamis, berdinamika. 
    Kalau kita merasa hidup kekristenan kita menjenuhkan, membosankan, menjemukan, maka kita harus introspeksi diri karena pasti ada yang tidak beres. Biasanya orang-orang yang mengalami stuck dalam pertumbuhan iman akan mulai merasa jenuh, bosan dan mengarahkan dirinya pada berbagai fokus kesenangan. Dan hal ini sangat berbahaya, sebab menarik orang dari hadirat Allah dan dari persekutuan dengan Tuhan, memisahkan, menjerumuskan, dan membuangnya ke dalam api kekal. 
    Lalu bagaimana kita bisa memiliki hidup yang dinamis dalam kekristenan dan tidak mengalami kejenuhan? Itu tergantung diri kita. Sebab Tuhan sudah menyediakan berkat-berkat rohani-Nya setiap hari. Allah yang dinamis, Allah yang menyediakan berkat-berkat kekal-Nya bagi kita setiap hari. Jadi tergantung apakah kita melangkah terus mengadakan perjalanan atau kita hanya mau pasif. Mengapa orang tidak bergairah menjadi orang Kristen? Sebab ia tidak memiliki langkah-langkah konkret untuk memiliki hidup kekristenan yang berdinamika indah. 
    Sejatinya, kita yang menciptakan, kita yang membuat dinamika hidup kekristenan kita menjadi indah. Kita tidak boleh melakukan hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki. Kita buang segala kebiasaan atau rutinitas hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan kita belajar untuk memiliki rutinitas hidup yang benar. Seperti bangun pagi, kita berdoa, membaca Alkitab, kita tidak menonton apa yang tidak perlu kita tonton, kita tidak mendengar apa yang tidak perlu kita dengar, kita mulai selektif dengan orang-orang yang kita bisa ber-fellowship, kita mencegah mulut kita mengucapkan kata-kata yang tidak patut dan tidak perlu, kita membersihkan mata kita dari pandangan yang salah, tentu juga kita terus mengoreksi pikiran kita, hati kita agar tidak dimasuki hal-hal yang najis. 
    Dan kita bisa membuang semua yang Tuhan tidak kehendaki. Setelah itu pasti Tuhan akan menuntun kita di pengalaman-pengalaman baru yang indah. Tuhan akan membawa kita kepada dinamika hidup kekristenan yang benar. Jadi kita tidak pernah sama. Seperti fisik mengalami pertumbuhan, seperti makhluk hidup mengalami pertumbuhan, tidak pernah sama. Setiap hari pasti ada hal-hal yang baru. Sekarang masalahnya, tidak sedikit orang yang berubah menjadi buruk, dan kalau hal itu berlangsung terus-menerus sampai pada titik tidak balik (point of no return) di mana ia tidak akan pernah menjadi orang Kristen yang benar. 
    Seseorang bisa merasa tetap sebagai orang Kristen, aktivis gereja, bahkan pendeta, tetapi dia tidak memiliki dinamika hidup anak-anak Allah, ia tidak bertumbuh ke arah kesempurnaan, yaitu dipenuhi Allah dan serupa dengan Yesus. Apakah hidup kita menjadi bergairah atau tidak, tergantung dari kita. Jangan menunggu gairah itu, ciptakan gairah itu. Dari pihak kita, ciptakan gairah untuk mencintai Tuhan, meninggalkan dosa dan kesenangan-kesenangan dunia. Itu harus kita lakukan. Kita mesti melangkah dan bertindak. Dari pihak Tuhan, pasti Ia memenuhi bagian-Nya. 
    Jangan kita menunggu bagaimana punya gairah untuk berdoa, membaca Alkitab, melayani, hidup suci; jangan tunggu gairah itu. Kita yang harus menciptakan gairah itu, kita bangun, kita kobarkan dari diri kita sendiri. Dan Allah akan memberikan kepada kita tuntunan dan bimbingan-Nya, sehingga gairah itu dimurnikan, dikuduskan, disempurnakan oleh Allah. Dan ini menjadi berita baik bagi kita yang selama ini merasa stagnan, mentok tidak bertumbuh,
    8 min
  • Manusia yang Agung
    Mari kita meneguhkan hati, menguatkan hati untuk tetap setia mencari Tuhan, tetap setia berdoa dan tidak menjadi kendor. Kesibukan hidup—walaupun itu pekerjaan gerejawi—jangan mengurangi kecepatan kita dalam bertumbuh, jangan membuat kita lamban atau lambat. Jangan sampai kegiatan makin banyak dan bertumpuk, tapi kehidupan rohani kita tidak bertumbuh. Kita mengerti bahwa kesibukan hidup menyita waktu dan perhatian. Namun jangan sampai kesibukan mengendurkan kehidupan rohani kita. Jangan sampai kita tertipu Iblis, tertipu kuasa kegelapan karena sibuk dengan segala kegiatan, sehingga pertumbuhan rohani kita menjadi kendor. 
    Kita bulatkan tekad untuk tetap mencari Tuhan dan mengalami pertumbuhan. Itulah sebabnya, perayaan ibadah tidak usah macam-macam, yang penting kita memuliakan Tuhan dengan pujian dan penyembahan. Yang penting kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah melalui firman Tuhan yang kita dengar. Yang penting kekudusan kita makin meningkat dan kita terus berambisi untuk mencapai tingkat kekudusan setinggi-tingginya, tingkat keberkenanan di hadapan Allah setinggi-tingginya. Kita tanggalkan semua beban dosa. Mari kita terus terbang tinggi. 
    Kalau dalam kehidupan rohani, justru kita harus terbang setinggi-tingginya sampai kita tidak bisa jatuh. Kalau kita masih ada di lingkungan atmosfer bumi, masih ada daya tarik bumi yang menarik kita jatuh; tapi kalau kita sudah keluar dari daya tarik bumi, kita tidak akan jatuh dan terus melayang tinggi menuju langit ketiga. Memang, kita masih kadang-kadang jatuh, karena kita kurang terbang tinggi. Jadi sekarang kita mau terbang tinggi. Jangan sampai kesibukan hidup mengurangi kecepatan kita terbang tinggi. 
    Kita menjadi komunitas yang benar-benar hanya memikirkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Ini bukan berarti lalu kita tidak bertanggung jawab atas pekerjaan, keluarga, dan hal lainnya. Justru ketika kita benar-benar menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup, pasti kita menjadi manusia yang agung, rajin, giat, bertanggung jawab. Jadi kalau seseorang hidup tidak bertanggung jawab, malas, tidak karu-karuan, pasti dia lepas dari persekutuan dengan Allah. Sebab seseorang yang bersekutu dengan Allah, yang berjalan dengan Tuhan, pasti menjadi manusia yang agung. 
    Tidak bermaksud mau sombong, namun kita mau menjadi komunitas yang istimewa di hadapan Allah. Setiap kali kita menyembah, kita membumbung tinggi sampai takhta Allah, sampai para penghuni surga—para serafim, kerubim dan semua malaikat—ikut menyembah. Bahkan kita juga selalu dinantikan oleh para malaikat, para serafim, kerubim dan penghuni surga, makhluk surgawi (angelic beings) untuk menyembah Allah. Itulah sebabnya, bukan hanya cakap dalam menyanyi, dalam vokal, dalam musik, tapi kesucian hidup setiap hari yang kita bangun, kecintaan akan Tuhan yang terus kita kobarkan lebih dari perhatian, kecintaan kita kepada siapa pun dan apa pun. 
    Kita harus tetap dalam integritas mencari Tuhan, sebab hidup ini sementara, fana, singkat dan tragis. Hanya di langit baru bumi baru saja tidak ada ketragisan. Dan itu menjadi tujuan kita, fokus kita, biar kita menjadi komunitas yang serius memikirkan kehidupan yang akan datang. Kita tinggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Kita tinggalkan dosa dengan segala kepuasannya. Memang, mengucapkan kalimat ini sangat mudah, tetapi melakukannya sangat sulit. Namun ingat! Sulit bukan berarti tidak bisa, sulit bukan berarti mustahil, karena Allah yang menuntun kita, memampukan kita melakukan apa yang Dia kehendaki. 
    Namun, banyak orang Kristen benar-benar tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Mereka hanya mengalami perjumpaan dengan para pendeta, rohaniwan, dan liturginya di dalam gereja. Orang-orang seperti ini pasti suatu hari ditolak oleh Tuhan. Tidak mungkin mereka bisa melakukan kehendak Bapa. Sebab yang dapat melakukan kehendak Bapa adalah mereka yang berinteraksi dengan Allah Bapa. Menjadi orang baik itu belumlah memenuhi syarat kehidupan orang percaya.
    9 min
  • Aku Berserah
    Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” 
    Tuhan punya rancangan dalam hidup kita masing-masing. Sudah ada rancangan itu. Dan Tuhan katakan itu rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Jadi jangan gegabah, jangan melangkah salah. Kalau kita gegabah, melangkah salah, maka kita akan rugi sekali. Kalau Tuhan memandang bahwa sudah saatnya kita memiliki sesuatu, pasti Tuhan akan beri. Jadi kalau belum, kita harus tenang, tidak usah memaksakan kehendak atau keinginan kita. Misalnya, jodoh. Kalau seorang wanita sudah memiliki usia di atas 30 tahun, rasanya sudah dalam kondisi krisis. Tahukah kita bahwa Tuhan punya rancangan pria mana yang pantas untuk menjadi pendamping wanita tersebut? Jadi, jangan buru-buru. Kita adalah milik Tuhan, Tuhan pasti tahu apa yang kita butuhkan. 
    Tuhan berfirman di dalam Matius 7:11, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Jadi kalau Tuhan belum memberi, jangan kita pikir Tuhan itu lupa, lalai atau suka-suka sendiri, lalu kita mendesak-Nya terus. Kita doa puasa supaya dapat jodoh. Bukan tidak boleh kita berdoa puasa untuk satu kepentingan, itu tidak salah. Tapi kalau untuk masalah jodoh, ini bukan masalah yang mestinya kita paksa kepada Tuhan. Kita cukup menyerah saja. “Apa yang terjadi di dalam hidup ini, ya Tuhan, aku pasrah, aku berserah kepada-Mu.” Tuhan punya waktu. Tuhan tidak mungkin meleset.
    Namun, sering kali Tuhan disalahkan. Memang tidak langsung kita memarahi Tuhan, tetapi di kedalaman hati sebenarnya ada kemarahan; “Aku sudah mencari Engkau, Tuhan. Aku sudah jadi Kristen, aku sudah ke gereja. Tapi Engkau tidak membuat aku melihat kemuliaan-Mu. Aku tidak punya pacar. Sementara teman-temanku, bukan hanya pacaran bahkan sudah punya anak.” Jangan pakai pikiran atau nalar manusia. Kita akan menyesal jika kita mengambil keputusan sendiri karena tidak sabar menunggu.
    Segala keadaan bisa terjadi, maka kita harus mendiskusikannya dengan Tuhan. Semua kejadian bisa terjadi, artinya banyak hal bisa terjadi di luar prediksi, di luar perhitungan manusia. Tapi yang kita lakukan sekarang adalah menyerah kepada Tuhan. Waktu kita berdoa, kadang-kadang Tuhan seperti diam. Tuhan hanya mau kita ini tekun. Nanti Tuhan pasti menjawabnya. Apa pun yang terjadi, Tuhan pasti menopang kita. Jadi sekarang dalam doa kita berkata, “Tuhan, aku tidak punya keinginan. Aku memang ingin punya rumah dan fasilitas lain. Dengan gaji ini aku tidak cukup, tapi aku tidak akan melangkah apa-apa. Aku hanya mohon petunjuk dan pimpinan-Mu. Yang penting aku lewati dari hari ke hari. Aku bisa makan dengan keluargaku. Rumah masih kontrak, tapi aku masih bisa tinggal di bawah satu atap.” 
    Kenapa kita merasa kurang dengan keadaan itu? Tidak usah merasa kurang, lewati saja. Tuhan pasti menolong kita. Dan Tuhan mempunyai rancangan yang indah di dalam hidup kita. Jadi kalau kita berkata, “aku berserah kepada-Mu,” bukan berarti kita jadi pasif. “Aku berserah” berarti kita harus berusaha mengerti apa rencana-Nya yang harus kita penuhi atau kita lakukan. Jadi kalau orang berkata, “aku berserah kepada-Mu, Tuhan,” hanya karena putus asa, karena tidak mencapai atau tidak memperoleh apa yang diingini, karena merasa gagal dan perlu pertolongan Tuhan, maka berserah di situ karena mau memperdaya Tuhan. Tentu hal itu tidak boleh.
    Berserah itu artinya menuruti apa yang Tuhan kehendaki. Menuruti apa yang Allah kehendaki. Dan kalau kita berani berserah dengan benar seperti itu, dunia bergolak, berubah setiap saat dengan kecepatan tinggi, tidak masalah. Yang penting kita ada dalam track rencana Allah. Kita sering terjebak dengan visi misi yang kita anggap itu dari Tuhan,
    10 min
  • Keberanian untuk Percaya
    Kita melihat kehidupan makin tidak menentu. Keadaan bisa berubah tanpa diduga, dan dalam kecepatan yang makin tinggi. Kalau dulu, perubahan zaman itu memerlukan waktu lama, bahkan bisa terprediksi. Tapi sekarang, tidak terprediksi. Banyak kejutan yang bisa terjadi atau berlangsung di dalam kehidupan ini. Dalam gelanggang politik, kita melihat orang-orang yang tadinya tidak diperhitungkan menjadi pemimpin, bisa menjadi pemimpin. Orang-orang yang diperhitungkan akan menjadi orang besar, ternyata jatuh dan terhilang. Harga-harga turun naik tidak terprediksi, dan tentu juga tidak terkendali. Dunia bisa berubah setiap saat dengan kecepatan yang sangat tinggi.
    Menghadapi dunia seperti ini, orang bisa takut, gentar, khawatir dan cemas. Hal ini yang membuat seseorang tidak merasa bahagia, merasa masih ada sesuatu yang membuat jiwanya tidak tenang. Mereka terintimidasi dengan perasaan khawatir, takut jangan-jangan nanti terjadi ini dan itu. Untuk itu, mari kita memperhatikan apa yang Tuhan ajarkan kepada kita yaitu menaruh percaya kita kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan bukan hanya berarti percaya kuasa Tuhan yang dapat meloloskan kita dari berbagai keadaan yang kita tidak ingin kita alami atau dapat menghindarkan kita dari berbagai hal yang tidak menyenangkan, melainkan berarti percaya kepada pribadi-Nya bahwa segala sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita itu sesuatu yang tidak akan mencelakai kita, tidak akan melukai, tidak akan menyakiti; apa pun yang terjadi. 
    Kepercayaan kepada pribadi Tuhan berarti kita tidak meragukan atas apa yang Allah izinkan terjadi di dalam hidup kita. Tentu kita harus percaya tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ini secara kebetulan. Semua ada di dalam kontrol Tuhan, semua di dalam monitoring Allah. Firman Tuhan mengatakan, “Pagar rumahmu ada di depan mata-Ku,” artinya “jika ada orang jahat, jika ada binatang buas, jika ada malapetaka, jika ada marabahaya datang, Aku tahu.” Jadi yang harus kita lakukan adalah menyerahkan hidup kita di dalam tangan Tuhan. Menyerahkan hidup di dalam tangan Tuhan bukan hanya berarti kita bisa tenang karena tidak ada masalah berat, dan Tuhan pasti memenuhi apa yang kita butuhkan, melainkan berarti mengikuti rencana-Nya di dalam hidup kita.
    Seseorang jangan berharap memperoleh keadaan yang baik, kalau tidak menyerahkan hidup kepada Tuhan; dengan catatan menyerah kepada rencana-Nya. Kita menyerah bukan karena ketidakberdayaan supaya Tuhan menopang, melindungi—sebab itu sudah pasti—melainkan kita menyerah kepada kehendak Tuhan. Apa yang Allah kehendaki di dalam hidup ini. Jadi, kita menyerah, artinya “biar kehendak-Mu yang jadi di dalam hidupku, Tuhan.” Dan ingat, firman Tuhan mengatakan bahwa “Aku tahu rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu. Bukan rancangan kecelakaan, tetapi rancangan damai sejahtera.”
    Di sini memang dibutuhkan keberanian untuk memercayai bahwa apa yang Dia lakukan atau apa yang Allah lakukan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Jadi, kita harus menyerah. Ini bukan hal sederhana. Kenyataannya, sangat sedikit orang yang benar-benar menyerahkan hidup kepada Tuhan; yang artinya menyerahkan dirinya untuk memenuhi rencana, rancangan Allah. Berarti dia tidak boleh memiliki visi dan misi pribadi. Sudah tidak boleh. Apa pun yang dia ingini, harus dibicarakan dengan Tuhan. Apa pun yang direncanakan, harus didiskusikan dengan Tuhan. 
    Dan ini memenuhi apa yang dikatakan oleh Yakobus 4:13-14, “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,” sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Lalu apa yang kita harus lakukan? Segala sesuatu yang kita lakukan, tentu kita diskusikan dengan Tuhan, kita dialogkan dengan Tuhan dan prinsipnya adalah “jika Tuhan menghendaki....
    9 min
  • Keseriusan yang Tidak Terbatas
    Allah, Bapa kita, Tuhan kita Yesus Kristus, serius berurusan dengan kita. Tidak ada kegiatan lain di dalam kenyataan keberadaan Allah semesta alam dan Tuhan kita Yesus Kristus selain memelihara alam semesta, dan penggarapan-Nya untuk kita. Jadi, Allah benar-benar serius berurusan dengan kita. Bukan hanya serius, namun juga setiap saat. Karenanya firman Tuhan mengatakan, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan.” Dalam segala hal berarti tidak ada hal di mana Allah tidak bekerja di dalamnya. Allah serius, Allah sungguh-sungguh mau berurusan dengan kita setiap saat. 
    Sekarang masalahnya, seberapa kita serius mau berurusan dengan Allah? Banyak orang tidak memercayai Allah itu hidup, ada, dan Maha Hadir. Bukan orang-orang kafir yang tidak beragama, melainkan orang-orang beragama. Dalam konteks kita adalah orang-orang Kristen yang rajin ke gereja, bisa-bisa menjadi aktivis, jangan-jangan malah menjadi pendeta, tetapi memberikan bagian yang terbatas untuk Tuhan. Jadi keseriusannya pun terbatas. Allah mengasihi kita dengan kasih yang begitu besar, yang tidak dapat kita mengerti dan tidak terbatas, maka mestinya kita juga memiliki keseriusan yang tidak terbatas pula dalam berurusan dengan-Nya. 
    Tetapi kita melihat hampir semua orang memberikan kuota yang sangat kecil dalam hal berurusan dengan Tuhan. Untuk studi, karier, rumah tangga, atau bisnis, mereka bisa all out—segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan—tetapi untuk Tuhan, tidak. Dia pikir, Tuhan pasti akan memaklumi keadaannya. Dia juga pikir, Tuhan hanya menopang hidup. Sehingga mereka menjadi orang beragama—menjadi orang Kristen—hanya karena mau memanfaatkan atau memanipulasi Tuhan. Dan sedihnya, kita mendengar khotbah-khotbah yang tidak mengarahkan jemaat serius berurusan dengan Allah.
    Bagaimana kita serius berurusan dengan Allah? Yaitu kalau kita serius memperhatikan urusan-Nya. Apa urusan Tuhan agar kita masuk dan terlibat di dalamnya? Banyak sekali orang yang berurusan dengan Tuhan karena mau menarik Tuhan di dalam masalahnya, untuk menolong hidupnya dalam berbagai masalah; mau memanfaatkan Tuhan. Sebenarnya Tuhan lebih dari bermanfaat, lebih dari berguna, Tuhan itu segalanya. Tetapi kalau kita berurusan dengan Tuhan berarti kita mau berurusan dengan urusan-Nya. Bukan urusan kita, bukan bisnis kita. 
    Maka mestinya kita sungguh-sungguh memperkarakan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita tahu, apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan, apa yang Tuhan kehendaki untuk kita tunaikan. Jadi, kita berurusan dengan Tuhan karena kita mau masuk di dalam urusan Tuhan. Namun, banyak orang Kristen berpikir hidup berurusan dengan Tuhan itu wajar-wajar saja. Kita melihat banyak orang tidak mengalami Tuhan secara proporsional dan benar. Pada kesempatan ini mari kita memperkarakan seberapa serius kita mau berurusan dengan Tuhan. 
    Satu prinsip yang harus bersama kita kenakan, ‘Tuhan adalah satu-satunya duniaku, Tuhan adalah satu-satunya persoalanku dan aku harus masuk pada apa yang menjadi persoalan Tuhan.’ Dan inilah persoalan Tuhan, Ia ingin mengubah kita menjadi anak-anak-Nya; anak-anak Allah bukan hanya sekadar status, namun sebuah keberadaan. Jadi kalau kita memanggil Allah itu Bapa, di dalam hal ini ada konsekuensi yang serius, yaitu kita harus bersedia untuk dididik Bapa. Agar kita dapat memiliki sifat, karakter, kodrat Bapa, kodrat ilahi, divine nature. 
    Kodrat ilahi tentunya adalah kekudusan atau kesucian. Bukan superlatifnya, yaitu kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas terkait dengan kuasa-Nya. Tetapi kita berurusan dengan Tuhan untuk menyerap kebenaran yang Allah sediakan. Untuk menyerap firman yang harus kita kenakan dalam tubuh kita. Firman itu masuk ke dalam daging. Dan tentu kalau masuk dalam kehidupan seseorang, maka kehidupan seseorang menjadi firman yang diperagakan, firman yang dihidupi. Hal ini sama dengan menghidupkan Allah di dalam hidup kita. Karena pada dasarnya firman itu adalah Allah sendiri...
    10 min
  • Berani Melepaskan Keterikatan
    Yakobus 4:4, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” 
    Sekarang pertanyaannya, apakah kesetiaan yang sejati itu? Sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Yakobus 4:4, ternyata kesetiaan yang sejati kepada Kristus adalah hati yang mencintai Tuhan. Tidak ada distorsi, tidak ada penghalang. Sedangkan permusuhan dengan Allah terjadi ketika seseorang mencintai dunia. Masalahnya, banyak orang Kristen merasa itu wajar. Padahal, bukan tidak boleh ini dan itu—namun juga bukan selalu boleh—melainkan segala sesuatu yang kita lakukan, landasannya adalah karena kita mengasihi Tuhan. Kalau tidak, kita menyakiti Tuhan, kita memberontak. 
    Tetapi kenyataan yang kita lihat hari ini, hampir semua orang merasa berhak punya keinginan, memiliki barang ini dan itu tanpa memedulikan apakah ini didasarkan pada hati yang mengasihi Tuhan atau barang tertentu. Inilah sulitnya, maka dari sejak dulu, murid Yesus ada yang mengundurkan diri dan orang yang mengikut Yesus mulai meninggalkan-Nya. Mereka berkata satu dengan yang lain, “Jika demikian, “siapa yang diselamatkan?” Jadi kalau sekarang kita melihat banyak orang Kristen merasa mudah masuk surga karena percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat masuk surga, itu penyesatan. Sebab orang yang masuk surga adalah orang yang mengasihi Allah. 
    Tidak mungkin orang yang tidak mengasihi Allah dapat masuk surga. Dan orang yang mengasihi Allah adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia, tidak bersahabat dengan dunia. Lalu, apa itu bersahabat dengan dunia? Ketika seseorang merasa bisa dibahagiakan oleh fasilitas dunia ini, dia berkhianat kepada Tuhan. Yesus pun berkata, “Kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tak dapat jadi murid-Ku.” Ini Kristen yang benar. Mengacu pada prinsip ini, kita jadi berpikir, rasanya kita belum seperti yang Allah kehendaki. Syukur Tuhan masih mengampuni dosa kita, dan memberi kesempatan untuk diubahkan oleh Tuhan. Jadi, ketidaksetiaan adalah ketika kita masih membuka pintu hati untuk menikmati dunia ini. Dan itu yang kita lakukan selama bertahun-tahun tanpa merasa berdosa. Kesenangan ini, kesenangan itu, hobi ini, hobi itu. Mestinya tidak demikian. 
    Bersyukur melewati banyak masalah hidup, kita mendapatkan kemurahan Tuhan, kita diubahkan menjadi seperti kita hari ini. Salah satu yang membuat kita diubahkan Tuhan adalah ketika kita berani meninggalkan hobi-hobi tertentu yang selama bertahun-tahun mengikat kita. Maka, jika kita punya gairah hidup bukan digerakkan oleh Tuhan, itu pengkhianatan. Dulu kita pikir itu biasa. Ternyata bukan begitu; “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Memang ini seperti mustahil. Tapi kalau suatu hari kita bertemu dengan Tuhan, kita melihat keagungan Tuhan, baru kita tahu bahwa Dia layak disembah. 
    Kesetiaan yang sejati ditandai dengan tidak bersahabat dengan dunia. Tidak bersahabat dengan dunia ditandai dengan tidak dapat dibahagiakan oleh dunia ini. Yang dapat membahagiakan kita hanya Tuhan. Tidak ada yang lain. Maka, siapa yang menjadikan dirinya sahabat dunia, dia memusuhi Allah. Jadi kita mengerti mengapa ketika Yesus dicobai oleh Iblis, ditunjukkan kepada-Nya kekayaan dunia, Yesus menolak dan berkata, “Kamu harus menyembah Tuhan, Allahmu. Dan hanya kepada Dia saja kamu berbakti.” Hidup ini menjadi asyik, kalau kita sampai pada level ini. Memang bagi orang tertentu kedengarannya berlebihan. Tapi ini standar. 
    Kesetiaan yang sejati ditandai dengan tidak adanya sesuatu di hati kita, kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya. Waktu kita menghadap Tuhan nanti, kita menghadap dengan cinta yang bulat dan utuh. Tidak ada lagi kesenangan dalam hidup kita. Semua telah kita lepaskan. Makanya, gairah hidup kita hanya Tuhan. Dan ini menjadi kesukaan atau kebahagiaan kita. Jadi,
    8 min
  • Pola Permainan Iblis
    Ada satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa Allah menginginkan agar kita tetap setia sampai akhir. Sebab hanya orang yang setia sampai akhir, yang diperkenan masuk surga. Inilah yang membuat Rasul Paulus dalam 2 Korintus 11:3-4 menulis, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima.”
    Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah apakah di mata Tuhan kita sudah dinilai setia atau belum? Kalau iya, seberapa kita telah setia kepada Tuhan? Apakah kesetiaan kita kepada Tuhan hari ini adalah kesetiaan yang benar yang diakui Tuhan? Hati-hati, jangan sampai ketika kita menutup mata dan menghadap Tuhan, Tuhan berkata, “Kamu tidak setia kepada-Ku.” Karena ternyata kita belum memiliki kesetiaan sesuai dengan yang Allah inginkan atau tidak sesuai dengan yang Allah kehendaki. Sangat mengerikan! Mari kita minta hikmat Tuhan, minta pencerahan dari Tuhan, apakah kesetiaan yang kita miliki hari ini adalah kesetiaan yang benar. 
    Dalam ayat di atas, bisa dibayangkan waktu Adam dan Hawa sudah makan buah itu lalu mata mereka terbuka, mereka menyadari ketelanjangan mereka, kemudian baru timbul penyesalan. Sebegitu dahsyatnya akibat kesalahan yang telah dilakukan oleh Adam dan Hawa. Mereka pasti menyesal, tetapi penyesalan mereka tidak mengubah keadaan. Semua sudah hancur, tidak bisa diperbaiki. Seperti kristal yang pecah. Maka mestinya jangan sampai hal ini terjadi di dalam hidup kita. Jadi bukan tanpa alasan kalau Paulus berkata, “Aku takut kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Ini patut betul-betul dipersoalkan. 
    Sebab, tanpa disadari, kita diarahkan untuk memetik buah yang terlarang dan terjadilah itu. Banyak dosa yang dilakukan oleh seseorang tanpa direncanakan. Ketika dosa itu sudah dilakukan, baru ia menyesal,  tapi sudah terjadi. Maka, di sini sebenarnya dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan untuk datang di hadapan Tuhan; untuk berdoa, berinteraksi menyembah Allah. Mestinya, harus kita lakukan dengan tekun dan setia. Sebab perjumpaan dengan Tuhan di dalam doa membuat kepekaan kita bertambah. Ketika setan mengarahkan kita kepada langkah-langkah yang keliru, yang bisa menuju kepada pemberontakan kepada Allah atau ketidaksetiaan kepada Allah, kita bisa mendeteksi sejak dini. 
    Belum sampai jatuh, baru kita mengarah ke hal itu, kita sudah tahu. Jadi kalau sampai kita melihat orang jatuh, itu pasti ada tahap demi tahapnya. Pada waktu tahap menuju kejatuhan, mestinya kita peka terhadap keadaan itu bahwa kita sedang menurun. Masalahnya, banyak orang tidak menyadari pada waktu dia sudah dalam keadaan menurun ini, atau mereka menganggap ringan. Memang mereka tidak bermaksud mau mengkhianati Tuhan, apalagi masuk neraka, tetapi langkah-langkahnya menunjukkan langkah-langkah ketidaksetiaan. Inilah yang harus sungguh-sungguh kita perhatikan. Kalau tiap pagi kita berdoa, kita punya waktu bersekutu dengan Tuhan, maka kita akan tahu ketika ada arah yang salah, yang sedang membawa kita kepada pemberontakan atau ketidaksetiaan. 
    Kita harus sadar bahwa yang kita hadapi adalah ular yang telah berpengalaman miliar tahun. Ia pasti lebih cerdas dari manusia, melampaui pikiran manusia. Kalau tidak dihadapi dengan pertolongan Roh Kudus, kita pasti jatuh. Makanya kita berdoa memohon perlindungan Tuhan. Yang pertama, dari kuasa gelap. Yang kedua, dari manusia lama kita. Yang ketiga, dari pengaruh dunia jahat sekitar kita. Keempat, dari bencana, malapetaka. Yang kelima, dari orang-orang yang bermaksud jahat terhadap kita.
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…