Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Dua Kali Mati
    Kalau kita memperhatikan anak-anak sekolah, mereka sama-sama belajar dari pagi sampai siang, bahkan sampai sore, tetapi di akhir masa sekolah, akan terlihat perbedaan. Ada yang lulus dan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi ada yang bahkan tidak lulus. Kehidupan sebenarnya seperti itu. Kita sama-sama menjalani hidup, sama-sama menjadi orang Kristen, sama-sama ke gereja, bahkan sama-sama menjadi aktivis atau pendeta. Tetapi nanti, pada akhir kehidupan, akan kelihatan bedanya. Ada orang yang menangis bahagia, tetapi ada yang menangis dalam ratapan; yang Alkitab katakan sebagai ‘ratap tangis dan kertak gigi’ karena terbuang dari hadirat Allah selama-lamanya.
    Ada orang-orang yang dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus seperti yang dikatakan di dalam Roma 8:17. Tetapi ada yang hanya menjadi anggota masyarakat. Hari ini, orang kelihatan baik-baik, kelihatan rohani, tetapi satu hari nanti semua kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang dapat menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dari dirinya. Semua akan dibuka, ditelanjangi, dan itu merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Kalau di dunia ini, orang bisa menghindari kejaran polisi, kejaran hakim, jaksa. Tetapi kalau di hadapan pengadilan Tuhan, tidak akan bisa.
    Tuhan kita, Yesus Kristus, berkata, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membuang jiwa ke dalam neraka. Takutlah akan Allah yang berkuasa, bukan saja membunuh tubuhmu, tetapi membuangnya ke dalam api kekal di mana ulat tidak bisa mati, apinya tidak bisa padam.” Ini menunjukkan kengerian keadaan orang yang terpisah dari hadirat Allah. Jangan takut kalau hanya fisik kita yang mati. Semua orang pasti mati, tetapi takutlah terhadap kenyataan kematian kedua, yaitu terpisahnya seseorang dari hadirat Allah. Itu yang harus kita takuti. 
    Oleh sebab itu, orang yang hanya satu kali mati (mati fisik), dia akan mengalami dua kali mati (mati fisik dan mati di kekekalan). Tetapi kalau orang dua kali mati (mati fisik dan mati kedagingan), maka dia hanya akan satu kali mati (mati fisik). Masalahnya, kematian membunuh daging kita ini ternyata bukan sesuatu yang mudah, ini proses dari hari ke hari, bukan dalam waktu satu dua hari, tetapi sepanjang tahun umur hidup kita. Ini yang dikatakan Alkitab sebagai menanggalkan manusia lama. Ironis, banyak orang tidak menyadari kedagingannya masih hidup. Ini celaka sekali. Mereka adalah orang-orang yang memiliki banyak alasan pembenaran diri dan tidak pernah sungguh-sungguh membereskan dirinya. 
    Efesus 4:20-24 mengatakan, “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
    Dulu, sebagian besar kita memahami keliru yang namanya lahir baru atau hidup baru. Kalau sudah ke gereja, merasa sudah hidup baru; dibaptis berarti sudah hidup baru, plus meninggalkan beberapa kebiasaan dosa moral. Hidup baru itu bukan seperti sebuah titik, melainkan seperti garis panjang. Itulah yang dikatakan sekolah kehidupan; “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Seorang murid yang baik pasti belajar, dan bukan hanya satu hari, melainkan proses panjang selama ia berstatus sebagai murid. Apalagi di dalam Tuhan, prosesnya panjang, yaitu seumur hidup kita. Dan kita harus menyadari satu per satu dosa yang terekam di dalam daging yang harus kita sembelih: kesombongan, keangkuhan, gila hormat,
    9 min
  • Mengarahkan Pikiran
    Pikiran adalah kemudi kehidupan yang mengarahkan seluruh kehidupan seseorang dan menentukan bagaimana keadaan hidupnya di bumi ini bahkan di kekekalan. Karena pentingnya peranan pikiran ini, maka dunia pendidikan berusaha secara intensif mengarahkan anak manusia sejak dini, sebab ketika anak manusia masih belia mereka sangat mudah untuk diarahkan. Salah asuh atau salah didik kepada anak-anak berakibat fatal kemudian hari. Hal yang sama terjadi juga dalam keselamatan, kalau seseorang tidak diarahkan sejak dini kepada Kerajaan Surga atau maksud keselamatan diadakan, maka mereka tidak pernah selamat (menjadi manusia seperti yang Allah kehendaki). 
    Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kalau seseorang tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, maka ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 18:3). Kata bertobat dalam teks ini adalah strepho (στρέφω) yang artinya berbalik. Sedangkan kata ‘anak’ dalam teks aslinya adalah paidion (παιδίον), anak usia efektif dibentuk atau dididik. Pernyataan Tuhan Yesus ini merupakan peringatan yang jelas agar orang percaya tidak boleh menganggap sepele kesempatan yang Tuhan sediakan untuk berubah melalui pembaruan pikiran agar bisa dikembalikan ke rancangan semula Allah.
    Selagi masih bisa diubah atau memiliki keadaan seperti anak-anak, seseorang harus mengarahkan atau mengubah pikirannya sesuai dengan pikiran Tuhan. Sebab kalau sudah telanjur melewati waktu, pada stadium tertentu, seseorang tidak bisa diubah lagi. Terkait dengan hal ini, banyak orang yang tidak menyadari sakitnya (kakos), sehingga mereka tidak menggarap keadaan yang rusak tersebut. Kalau hal itu berlarut-larut, maka ia sampai pada level menghujat Roh Kudus, artinya ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk digarap Roh Kudus karena tidak mampu lagi untuk berbalik kepada Tuhan. Jika Roh Kudus tidak menggarap, maka tidak ada lagi yang dapat mengarapnya. 
    Terkait dengan hal ini, Iblis akan berusaha agar manusia terlena dengan berbagai kesenangan dunia, sehingga selalu mendukakan Roh Kudus dan akhirnya menghujat-Nya. Orang-orang yang tertolak dalam Kerajaan Surga pasti tidak pernah menduga bahwa ia akan berkeadaan seperti itu. Hal ini sama dengan seorang pejabat pemerintah yang sembrono mempermainkan jabatannya sampai akhirnya digelandang polisi ke penjara. Betapa tragisnya ketika seseorang merasa seperti di alam mimpi digelandang polisi ke penjara, sementara para wartawan berusaha untuk mengabadikan peristiwa itu yang kemudian dilansir di media sosial. Malunya tak terkira. Sekarang semua fasilitas yang dia bisa nikmati, lenyap dan tidak pernah kembali berkeadaan seperti semula. 
    Ia diancam hukuman mati atau hukuman seumur hidup. Istri cantiknya tidak lagi cantik di matanya, anak-anak yang sempurna dan menyenangkan tidak lagi menjadi harta kekayaan yang menyukakan hatinya dan semua keindahan hidup menjadi runtuh berkeping-keping. Dalam situasi seperti itu, penyesalan sedalam apa pun tidak bisa mewakili perasaan gundah yang tidak terkira. Pendidikan dan karier yang telah dititinya selama bertahun-tahun dengan kerja keras, menjadi sia-sia. Mengapa semua ini terjadi? Sebab ia membiarkan pikirannya diisi oleh keinginan memiliki uang banyak, harta berlimpah dan segala kegemerlapan keindahan dunia. Sampai menjadi kecanduan dan tidak bisa menolak hasrat untuk memiliki lebih banyak lagi harta kekayaan, sampai ia dengan mudah menyalahgunakan wewenang dan melakukan pelanggaran moral yang serius. 
    Semua kejadian itu seperti mimpi, tetapi fakta nyata. Ia menyesal tentunya, tetapi penyesalannya tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Seandainya pada waktu itu ia bisa menguasai pikirannya, maka pasti ia tidak melakukan tindakan yang mencelakai dirinya sendiri dan orang-orang yang dikasihinya. Kasus di atas menunjukkan bahwa orang tanpa sadar menggiring pikirannya kepada suatu keputusan yang menghasilkan tindakan yang berbuntut panjang. Jangan sampai hal ini terjadi dalam hidup kita berkenaan denga...
    9 min
  • Melukai Hati Allah
    Pernah terlintas di dalam pikiran kita, apakah kalau jumlah orang yang saleh seperti Tuhan Yesus—yang pantas disebut corpus delicti—kurang pada rentang waktu tertentu maka Iblis tidak bisa dikalahkan atau tidak bisa dihukum? Ini berarti orang percaya harus berkejar-kejaran dengan waktu karena ada batas waktu tertentu di mana orang percaya harus memenuhi kuota atau jumlah orang-orang yang menjadi corpus delicti. Selama ini belum ditemukan teks Alkitab atau penjelasan yang mengarah ke sana. Tetapi lebih mengarah bahwa kalau Tuhan tidak segera datang maka orang yang binasa semakin banyak, sebab semakin panjang waktu umur bumi ini semakin banyak anak manusia dilahirkan dan disesatkan oleh Iblis. Padahal Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9).  Jadi, semakin panjang tahun dunia, manusia semakin melukai hati Allah, karena semakin banyak orang yang binasa. 
    Sebagai anak-anak Allah yang hendak menyukakan hati Bapa, kita harus berusaha menjadi corpus delicti agar rencana-Nya segera digenapi, yaitu Iblis dibinasakan dan Kerajaan-Nya datang. Dengan demikian, sejatinya kita mengurangi jumlah orang yang dibinasakan. Kitalah orang-orang yang bisa mempercepat kedatangan Tuhan Yesus ke dunia dan mengakhiri petualangan Iblis (2Ptr. 3:12). Tuhan Yesus pun mengharapkan betapa senangnya kalau Ia bisa menurunkan api ke bumi dan menyala. Api di sini adalah penghukuman. Itu berarti Iblis dikalahkan dan hati Bapa dipuaskan (Luk. 12:49). 
    Kalau melihat keadaan zaman hari ini, bukan tidak mungkin kita berada di situasi genting di mana jumlah corpus delicti bisa mendekati jumlah yang genap atau cukup. Ini berarti kuasa kegelapan akan berusaha menghambat agar jumlah corpus delicti tidak kunjung genap. Iblis akan bekerja berlipat ganda untuk menghambat atau menunda digenapinya rencana Allah. Itulah sebabnya dunia akan bertambah jahat dan Tuhan seperti membiarkan Iblis merajalela. Apakah ini yang dimaksud oleh kitab Wahyu bahwa Iblis mengepung perkemahan orang kudus (Why. 20:7)? Ayat itu bisa menunjukkan figuratif bagaimana orang percaya dikelilingi filosofi hidup yang tidak sesuai dengan kesucian Tuhan, sementara nabi-nabi palsu merajalela dan kelompok masyarakat yang anti Injil juga bangkit membuat intimidasi. 
    Ini adalah masa yang genting dan juga penting. Masa yang ikut menentukan sejarah kehidupan di langit baru dan bumi yang baru. Kita bersyukur karena kita hidup di masa peperangan besar ini. Inilah kesempatan menjadi laskar-laskar Kristus yang mengabaikan kepentingan pribadi dan menemukan tempat untuk berjuang bagi Injil Kerajaan Surga dan menggenapi rencana Allah. Perjuangan untuk menjadi corpus delicti ini menuntut pengorbanan segenap hidup. Untuk ini hendaknya tidak berpikir bahwa seseorang dengan sendirinya atau secara otomatis sebagai orang yang terpilih bisa menjadi sempurna dalam moral dan kesucian seperti standar Allah sendiri. 
    Untuk menjadi sempurna harganya adalah perjuangan tiada henti dengan mempertaruhkan segenap hidup tanpa batas. Orang yang melakukan hal ini akan menyadari bahwa perjuangan ini sangat berat, tidak heran kalau mereka bisa putus asa (Ibr. 12:3-4). Harus jujur diakui bahwa untuk menjadi orang baik atau menanggulangi persoalan moral umum saja sudah sangat susah, apalagi menjadi sempurna atau menanggulangi masalah moral khusus atau berkepribadian seperti Tuhan Yesus (Ibr. 12:2-4). Tuhan Yesus sebagai Juruselamat yang dapat mengembalikan manusia kepada moral Bapa dapat memulihkan kita. Itulah sebabnya Ia berkata, “Belajarlah pada-Ku” (Mat. 11:28-29).  
    Tuhan Yesus juga berjanji bahwa Ia datang untuk memberi hidup. Hidup seperti yang dirancang Allah Bapa sejak semula. Orang yang bersedia diselamatkan harus datang kepada-Nya dan belajar. Hal ini menunjukkan proses yang tidak mudah dan tidak dapat berlangsung dengan cepat. Kesungguhan individu dan perjalanan waktu turut menentukan. Oleh sebab itu, seseorang yang berminat menjadi corpus delicti harus sungguh-sungguh bersedia memp...
    8 min
  • Ketekunan
    Dewasa ini banyak pengajaran yang tidak sesuai dengan Injil yang murni. Inilah yang dimaksud Paulus dengan injil-injil lain, yaitu injil yang berbeda dari Injil yang diberitakan oleh Paulus (Gal. 1:1-10). Injil lain mengajarkan Yesus yang lain dan spirit atau gairah yang lain (2Kor. 11:2-4). Injil lain ini menyesatkan karena memuat ajaran Iblis yang oleh karenanya Tuhan Yesus berkata agar Iblis enyah dari hadapan-Nya sebab itu merupakan suatu batu sandungan (Mat. 16:23). Injil palsu tersebut tidak dikenali kepalsuannya oleh banyak orang Kristen, sebab mereka tidak mengerti kebenaran sehingga tidak bisa membedakan kepalsuan atau kebenaran. 
    Mereka mengemas khotbah atau pengajaran mereka dengan merangkai berbagai ayat dan kesaksian pribadi seakan-akan hal itu alkitabiah. Ditambah lagi dengan pernyataan bahwa mereka sangat dekat dengan Tuhan, maka pengakuan itu merupakan usaha melegalisir pengajaran palsu tersebut seakan-akan kebenaran agar bisa diterima masyarakat Kristen. Ajaran-ajaran palsu tersebut pasti tidak menggiring orang Kristen pada rencana penyelamatan yang benar, yaitu mengembalikan manusia kepada rencana Allah yang semula. Mereka memikirkan apa yang dipikirkan manusia, yaitu bagaimana menyelamatkan hidup hari ini melalui karya salib Tuhan Yesus Kristus. Padahal salib itu diadakan justru untuk meninggalkan dunia atau tidak menyelamatkan hidup hari ini demi kehidupan yang akan datang. 
    Dengan cerdiknya, mereka membungkus pengajaran palsu tersebut dengan bungkusan yang baik, seakan-akan rohani padahal isinya sangat duniawi yang bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh Allah. Pemalsuan ini begitu canggih sehingga banyak orang tanpa sadar disesatkan. Pada dasarnya mereka membangun kerajaan manusia di bumi, sama seperti murid-murid Tuhan Yesus yang menghendaki agar Tuhan Yesus memulihkan kerajaan bagi Israel (Kis. 1:6-8). Banyak kemasan spirit atau gairah dunia dengan bungkus “rohani,” sehingga banyak orang tanpa sadar disesatkan.
    Dan untuk menghapus pikiran sesat yang ada pada pikiran kita tidak bisa cepat, perlu waktu yang panjang dan keseriusan. Waktu panjang dan keseriusan itu adalah belajar kebenaran firman Tuhan yang memadai sehingga menguduskan diri orang percaya. Pengudusan terjadi melalui kebenaran firman Tuhan (Yoh. 17:17). Penyucian oleh firman adalah penyucian di dalam pikiran mereka. Hal ini tidak bisa berlangsung secara cepat atau terburu-buru. Seperti halnya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, seseorang harus mengunyah makanan secara benar dan melalui tahapan-tahapan yang ketat, artinya tidak bisa makan sekaligus satu ton beras, demikian pula kehidupan rohani atau pemenuhan kebutuhan jiwa. Setiap hari harus mengalami proses pengudusan sampai pikirannya terbuka untuk melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2Kor. 4:3-4). 
    Tanpa ketekunan, seseorang tidak akan melihat cahaya Injil tersebut. Sayangnya sekali banyak orang Kristen merasa sudah dimerdekakan oleh kurban Kristus di kayu salib. Padahal kurban Tuhan Yesus merupakan pintu gerbang yang dibuka oleh Tuhan agar manusia dapat memperoleh kesempatan untuk dimerdekakan oleh kebenaran (Yoh. 8:31-36). Kurban Tuhan Yesus tidak secara otomatis membebaskan manusia dari belenggu dunia. Dalam hal ini setiap orang percaya harus memiliki usaha untuk menyerap sebanyak mungkin kebenaran untuk dimerdekakan. 
    Aspek lain, kalau orang-orang Kristen dari kelompok tertentu sudah telanjur terjerat oleh pengajaran yang sesat, maka mereka tidak mudah dapat dilepaskan. Telinga mereka sudah tidak bisa lagi mendengar ajaran yang benar, mereka mengumpulkan guru-guru yang menyenangkan telinga (2Tim. 4:3). Mereka yang mendengar ajaran salah itu bisa semakin sesat dan sampai taraf tertentu membuat mata hati mereka menjadi gelap dan tidak pernah bisa mengerti Injil Kerajaan Surga yang benar (2Kor. 4:3-4; Mat. 3:21-22). Kalau mata hati mereka gelap, maka betapa gelapnya kegelapan itu.
    9 min
  • Menggeser Paradigma Berpikir
    Sedikit sekali orang yang benar-benar memiliki kegentaran terhadap realitas kekekalan. Dan betapa sukarnya seseorang dapat menghayati hidup secara benar sehingga dapat menghayati realitas kekekalan ini. Karena filosofi dunia tidak mengenal hal ini. Dan kita dibesarkan dalam lingkungan orang-orang yang tidak memikirkan realitas hidup yang benar, yaitu kekekalan. Dari kecil kita sudah terpapar dengan filosofi hidup yang dibahasakan oleh Paulus, “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Telah tercengkeram di dalam jiwa bahwa seakan-akan hidup itu hanya sekali di bumi ini. Tidak ada kehidupan lain selain di bumi ini. Jadi, bagaimana mengusahakan hidup yang seindah-indahnya sekarang, meraih sebanyak-banyaknya yang bisa diraih, menikmati kebahagiaan, kepuasan puncak yang bisa dinikmati.
    Prinsip hidup seperti ini sudah mencengkeram, mengakar di dalam diri kita semua. Bersyukur kita dilawat Tuhan, dibelas kasihani Tuhan melalui kejadian-kejadian hidup yang kita alami, Tuhan mencerahi pikiran kita. Sehingga kita bisa menghayati realitas hidup yang benar, lalu kita mulai menggeser fokus, paradigma berpikir kita. Kita mulai belajar dimensi hidup yang baru, dari dimensi hidup kefanaan menjadi dimensi hidup kekekalan. Kalau seseorang terlambat mengubah paradigma berpikirnya, maka ia tidak akan pernah berubah. Semakin kita tua, semakin banyak input di dalam pikiran kita—pikiran duniawi yang berbasis pada materi dan kesenangan sementara—sehingga kita tidak akan mampu lagi memiliki dimensi hidup yang benar. 
    Jika seseorang dididik hanya dengan mendengar, belum tentu paradigmanya berubah, atau bisa mendapatkan dimensi hidup yang baru. Tetapi pengalaman hidup—yaitu melewati keadaan-keadaan sulit yang seperti melemparkan kita ke dunia yang asing—bisa mengubah. Tuhan Yesus sendiri berkata di Injil Matius 19, “Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga.” Tuhan Yesus tidak anti orang kaya; kita pun tidak. Tetapi perkataan Tuhan itu, artinya kekayaan dapat mengunci seseorang terhadap kenikmatan hidup, sampai ia tidak membutuhkan dunia lain. Mengerikan sekali kalau suatu saat kita menutup mata, lalu melihat ternyata ada kekekalan. Kita harus takut, kita harus gentar akan realitas kekekalan.
    Secara teori kita semua pasti tahu, tetapi kegentaran yang sungguh—yang membuat kita benar-benar mau hidup tidak bercacat tidak bercela—apakah sudah kita miliki? Bukan hanya tidak melanggar hukum, tetapi jangan ada kesombongan terselubung, kebencian, dendam, ketidaktulusan. Apa pun yang kira-kira tidak membuat Tuhan nyaman, jangan kita lakukan. Orang yang gentar terhadap kekekalan pasti serius menggarap dirinya. Sejatinya, ini mengasyikkan. Kadang-kadang memang agak lelah, dan kita bisa putus asa. Dan ia juga akan lebih mudah melepaskan diri dari keterikatan dunia, karena ia menyadari bahwa hidup ini akan berakhir.
    Orang yang gentar terhadap kekekalan akan juga memiliki perasaan belas kasihan terhadap orang lain. Belas kasihan ini tidak bisa dibuat-buat. Belas kasihan bukan hanya terhadap orang yang tidak bisa makan, tidak pakai pakaian, atau kedinginan. Melainkan bagaimana kita menghambat, menghalangi orang masuk neraka. Kalau paradigma berpikir kita berubah sehingga kita bisa menghayati kekekalan, pasti kita akan sangat mengingini tidak ada seorang pun masuk neraka. Jadi, pelayanan yang kita gelar bukan sekadar kita menyelenggarakan sebuah kegiatan liturgi, melainkan kita harus memiliki destinasi yang jelas, output yang jelas, agar setiap orang jangan masuk api kekal. 
    Jangan main-main dengan hal kekekalan. Orang lain tidak peduli, hampir semua orang tidak peduli, dan itu membawa pengaruh dalam hidup kita, karena atmosfer dunia sekitar kita itu fasik. Tetapi kita, jangan ikut-ikutan. Maka, geser paradigma kita, karena kalau kita tidak menggeser sedini mungkin, kita tidak akan pernah bisa memiliki dimensi kekekalan. Orang yang tidak memiliki dimensi kekekalan,
    9 min
  • Bukan Kebetulan
    Apa pun dan bagaimanapun keadaan kita hari ini—pria atau wanita, menikah atau tidak menikah, punya anak atau tidak, kaya atau miskin—tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah apakah kita pada akhirnya ketika berada di ujung waktu, didapati berkenan atau tidak. Dan masalah lainnya adalah kita tidak pernah tahu di mana ujung waktu kita. Dari antara kita, satu per satu akan menghadap pengadilan Tuhan. Kita tidak tahu siapa yang akan lebih dulu di antara kita. Maka, jangan anggap ringan dengan perkara kekekalan ini. Jangan main-main. Sejujurnya, sebagian dari kita ini masih ceroboh. Kita berpikir semua aman-aman saja. Kita tidak sadar betapa mengerikannya kekekalan itu. 
    Hidup ini tidak gratis. Kita ada di bumi ini by design; bukan ada secara kebetulan atau kecelakaan. Allah yang mendesain dan merancang kita menjadi makhluk yang agung di mata Tuhan. Keagungan itu tidak diukur dari arloji yang kita kenakan, tas yang kita sandang, penampilan wajah, pakaian, dan lain-lain. Bukan penampilan lahiriah, melainkan manusia batiniah kita, yang nanti suatu hari akan dipakaikan tubuh kemuliaan. Maka, kita belajar mendengar peringatan-peringatan Tuhan. 70 – 80 tahun umur hidup kita merupakan persiapan kekekalan. Apa yang kita lakukan? Tuhan tahu bagaimana mendesain waktu hidup kita. Momentum demi momentum menjadi kronos, kronologi yang bagus untuk menciptakan manusia yang agung.
    Jangan kita hanya setuju, namun camkan ini. Setiap hari kita harus serius, sebab hidup kita ini luar biasa, tidak semua orang menjadi umat pilihan. Allah hanya menentukan orang-orang tertentu sesuai dengan prerogatif Allah. Kalau kita hidup sebelum zaman penggenapan, maka kita tidak pernah menjadi orang yang mengenal Yesus. Atau kita ada di suatu pedalaman yang sangat terpencil, kita pun tidak pernah mendengar Injil. Kalau pun mendengar, tetapi kita tidak pernah mendengar Injil secara benar. Tetapi sebagai umat pilihan, kita harus menjadi saksi bahwa Yesus dari Allah yang benar. Kita menjadi saksi-Nya dengan mengenakan hidup-Nya. Belas kasihan, ketulusan, kasih, moralitas kesucian. Itu kesaksian yang harus kita tunjukkan. Sehingga tercipta suasana “yang tidak melawan kamu di pihak kamu.” 
    Luar biasanya menjadi umat pilihan adalah kita dipersiapkan untuk dipermuliakan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Maka, kita harus memiliki keagungan mental, spiritual, karakter yang agung seperti Bapa di surga. Maka, Yesus berkata di Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Melepaskan diri dari beban dan dosa (Ibr. 12:1), sehingga kita bisa melihat Yesus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Kita tidak bisa ikuti Dia, karena beban dan dosa. Menanggalkan beban dan dosa bukanlah perlombaan itu sendiri. Tetapi itu adalah hal yang menghalangi, menghambat, merintangi perlombaan yang wajib. Perlombaan yang wajib adalah to be like Jesus. Itu harus menjadi kerinduan kita. 
    Maka, kita harus memberi sepenuhnya hidup kita untuk itu. Sejatinya, kita mau cari apa dalam hidup ini? Apa pun yang kita miliki, akan kita lepas. Ayo, kita kembali berpikir ulang. Banyak hal yang kita anggap selalu penting, selalu mendesak. Tetapi yang mestinya penting dan mendesak adalah momentum-momentum yang Tuhan berikan, yang di dalamnya Tuhan mau membentuk kita. Jangan dilewatkan. Jangan sampai kita melewatinya, karena kita tidak punya kepekaan. Fokus kita tidak tertuju kepada Tuhan karena banyak urusan lain. Kita pasti banyak urusan, pasti sibuk. Tetapi ingat, di dalam semua kesibukan tersebut, fokus kita harus tetap langit baru bumi baru. Fokus kita harus tetap kekekalan, dan kita mempersiapkan diri untuk kekekalan tersebut. 
    Maka, hidup kita harus diubahkan. Harus memberi diri disita. Setiap dosa atau kesalahan yang kita lakukan, harus kita sadari. Jangan berpikir melepaskan besok, atau hari ini, sama. Tidak sama. Kalau sudah telanjur merekam dosa,
    10 min
  • Menyita Hidup
    Ada orang yang biasa menunda pekerjaan, namun hal itu tidak atau kurang membahayakan, tidak atau kurang merugikan. Sehingga, menunda sesuatu yang harus diselesaikan pada waktunya menjadi suatu habit; kebiasaan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan pada waktunya dan itu berisiko tinggi, tetapi ada banyak hal yang bisa ditunda dan tidak atau kurang memberi risiko negatif. Tetapi yang satu ini tidak boleh ditunda, sebab kalau hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, kalau hanya menyangkut keselamatan fisik, itu tidak berisiko tinggi. Tetapi kalau menyangkut kekekalan, kita tidak boleh menundanya. Tetapi heran, justru yang menyangkut kekekalan ini banyak ditunda. 
    Ada orang-orang baik yang tidak menunda pekerjaan atau tugas, yang disiplin dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab dalam banyak hal, tetapi ironis, terkait dengan kekekalan, dia menundanya. Ia menganggapnya tidak atau kurang penting. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang lebih dari ceroboh. Orang-orang seperti ini bisa dipastikan tidak menghormati Tuhan. Ia bisa menghormati sesama, orang tua, atau orang yang patut dihormati di bumi, tetapi dia tidak menghormati Allah. Dan ini merupakan salah satu bukti dari keberhasilan kuasa kegelapan dalam menyesatkan orang-orang baik. Mereka bisa bertanggung jawab dalam banyak hal dan tidak menunda apa yang seharusnya dilakukan pada waktunya. Tetapi untuk kekekalan, dia menunda. Biasanya orang-orang seperti ini menganggap bahwa hal-hal yang menyangkut Tuhan, hal-hal rohani, hal-hal kekekalan itu bisa ditunda dan tidak berisiko. 
    Pikiran sesatnya mengatakan bahwa apa yang dilakukan sekarang dan nanti untuk perkara-perkara rohani yang menyangkut Tuhan dan kekekalan, sama saja. Hal-hal yang terkait dengan Tuhan, dengan hal rohani, hal kekekalan, itu dilakukan hari ini, besok, 5, 10 tahun yang akan datang, sama saja. Beda dengan soal uang, atau studi. Ia tahu bahwa hal-hal ini harus dilakukan tepat waktu. Maka dia tidak menunda, dia bisa melakukan pada waktunya. Ini pikiran sesat. Kebenaran itu selalu paralel, dan Tuhan membuat itu luar biasa. Semua ada hukum dan tatanannya. Pertumbuhan fisik seseorang itu ketat melalui tahapan-tahapan. Alkitab mengatakan, waktu masih kanak-kanak kamu makan makanan yang lunak, bukan makanan keras. Dan itu sudah memberikan kepada kita sebuah isyarat atau indikasi atau petunjuk bahwa pertumbuhan hidup rohani itu paralel dengan kehidupan jasmani. 
    Maka Paulus mengatakan, “Ditinjau dari waktu, kamu mestinya sudah makan makanan keras. Tetapi karena kamu lamban. Kamu lamban, sehingga kamu belum bisa makan makanan keras. Kamu tidak dewasa.” Jangan kita tidak menghormati Tuhan dengan meremehkan atau melecehkan perkara-perkara rohani. Pasti mereka menganggap bahwa mencari uang itu lebih sukar dari mencari Tuhan dan menganggap berkarier itu harus diutamakan, sedangkan hal mencari Tuhan bisa ditunda. Sebab Tuhan bukan sesuatu yang darurat. Tuhan bukan sesuatu yang mendesak dan penting. Ada banyak hal yang mendesak, tetapi tidak penting. Ada yang penting, tetapi tidak mendesak, dan Tuhan tidak dua-duanya. Banyak hal yang kita anggap dua-duanya: penting dan mendesak. 
    Untuk hobi yang tidak penting, seseorang harus membelanjakan uangnya. Tetapi karena menyenangkan, itu ia pandang sebagai hal yang mendesak dan penting. Tetapi masalahnya bukan hanya itu. Dia tidak berurusan dengan Tuhan secara baik. Kita tidak boleh menunda apa yang seharusnya kita kerjakan pada waktunya. Ada peristiwa-peristiwa yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita, ini namanya kairos atau momentum. Dan Tuhan tahu bagaimana memproses kita—manusia berdosa dengan kodrat dosa—untuk jadi manusia agung. Peristiwa-peristiwa itu memuat berkat kekal, berkat abadi. Tidak ada satu pun peristiwa yang kita dengar, kita lihat, dan kita alami yang tidak memiliki berkat di dalamnya. 
    Dan kalau momentum itu lewat, maka tidak ada berkat yang persis seperti itu. Jangan berkata,
    9 min
  • Belum Maksimal
    Ada saat di mana kita merasa bahwa kita seperti berada dalam situasi stagnan, tidak bergerak, tidak bertumbuh dan berubah secara benar dan merasa kurang menyenangkan hati Tuhan, padahal kita rindu menyenangkan hati Tuhan. Kita merasa belum hidup di dalam kekudusan, padahal kita sudah berusaha. Kita merasa belum berkenan padahal kita juga sudah berusaha. Apa yang terjadi di saat seperti itu? Tuhan tahu bahwa kita belum maksimal dalam tekad dan niat. Kita mau hidup suci, benar. Kita mau hidup berkenan di hadapan Tuhan, benar. Kita mau bertumbuh lebih dewasa, benar. Tetapi kemauan kita belum maksimal, belum puncak, belum klimaks. 
    Biasanya masih ada hal-hal di dalam hidup ini yang kita harapkan dapat menyenangkan dan memuaskan hati kita. Sehingga tekad, niat kita itu tidak utuh, tidak bulat, tidak maksimal, tidak penuh. Lalu, ketika kita dalam keadaan stagnan itu, apa yang harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan adalah mengobarkan kerinduan, menyalakan lebih besar keinginan dan kemauan untuk hidup suci, hidup berkenan di hadapan Tuhan, untuk bertumbuh makin dewasa dan sempurna. Kuncinya ada di niat, di tekad, di kemauan kita.
    Ketika kita berkata, “Tuhan, aku tidak lagi meminta apa pun,” sebenarnya kita terjebak oleh kalimat itu. Tuhan akan bertanya kepada kita, “Apakah kamu serius mengucapkannya?” Pertanyaan itu sebenarnya mengingatkan, menasihatkan kita untuk melihat diri kita seberapa besar kita punya niat, kemauan, tekad dalam berurusan atau berperkara dengan Tuhan. Bersyukur kita menyadari hal ini, sehingga kita mengobarkan, membuat membara keinginan kita untuk hidup suci, hidup tak bercacat cela, hidup berkenan di hadapan Tuhan dan bertumbuh makin dewasa. Ini hal yang memang benar-benar sulit; tepatnya, mustahil. Tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Kita bergantung, kita minta tolong kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa menolong kita untuk bisa hidup tidak bercacat tidak bercela. 
    Kalau kita berteriak, dan menangis, berseru dengan tulus, “Tuhan, tolong aku untuk hidup berkenan di hadapan-Mu. Satu yang ‘ku perlu, berkenan di hadapan-Mu,” sejatinya kita seperti merobek langit, mengoyak langit. Dan seruan kita akan sampai ke hadapan Bapa dan Bapa berkata, “Anak-Ku ini, serius.” Indah kalau sampai Bapa melihat bahwa kita serius, sungguh-sungguh mau berkenan. Dan Bapa membuat keadaan kita yang tadinya stagnan, berhenti, mulai bergerak. Tuhan kadang atau bahkan sering, mulai mengguncang keadaan kita. Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa dalam hidup kita untuk menggerakkan roda kehidupan rohani kita, roda kesempurnaan kita untuk bertambah. 
    Inilah yang dimaksud di dalam Roma 8:28-29, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, bagi orang yang mengasihi Dia.” Kalau kita mengasihi Tuhan, kita akan berseru dengan sungguh-sungguh, “Buat aku menyenangkan Engkau, ya Allah, ya Bapa. Jangan sampai aku mendukakan hati-Mu, ya Bapa. Aku mau menjadi anak kesukaan-Mu, ya Bapa.” Dengan sungguh-sungguh kita buat membara hati kita. Berkobar-kobar dalam ketulusan. Menyerukan kerinduan ini di hadapan Bapa dan merobek langit di atas kita. Dan ini yang Bapa berkenan, karena kita mengasihi Dia. Mengoyak langit dengan jeritan, dengan seruan, “Bapa, aku rindu menyenangkan Engkau. Bapa, bawa aku terbang tinggi.” Aduh, luar biasa! 
    Coba kita bayangkan kalau suatu hari nanti kita meninggal dunia, kita ada di hadapan Allah, apa yang kita perlu waktu itu? Hanya satu, berkenan di hadapan Allah. Kalau kita berkenan di hadapan Allah Bapa, maka kita tahan berdiri di hadapan Allah Bapa, kita masuk dalam kemuliaan bersama Tuhan kita Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita yang dimuliakan Bapa, yang memiliki nama di atas segala nama, yang setiap lutut bertelut, dan setiap lidah mengaku, Yesus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. 
    Jangan kebenaran ini berlalu. Kita camkan sungguh-sungguh, kita hargai, lalu kita amalkan, kita tunaikan,
    8 min
  • Hologram Tuhan
    Pada saat kita membawa diri berada di hadapan takhta pengadilan Kristus, kita baru bisa benar-benar menghayati bahwa hanya Tuhan yang kita butuhkan. Namun bagi orang-orang agnostik, orang-orang yang skeptis terhadap Tuhan, mungkin di ujung maut pun mereka tidak merasa begitu krisis, apalagi mereka yang berkeyakinan bahwa setelah kematian tidak ada kesadaran karena otak tidak berfungsi lagi. Mereka bisa memiliki keberanian memasuki kematian, walaupun tidak bisa dibantah, ada kegentaran di dalam hatinya. Tetapi kalau seseorang sudah menutup mata dan membuka mata kekalnya dan melihat keberadaan kekekalan, baru sempurna kesadaran bahwa yang dibutuhkan itu hanya Tuhan, namun itu sudah terlambat.
    Ini bukan mengada-ada. Karena fakta itu akan terjadi, akan berlangsung di dalam hidup kita. Jadi kita bisa simulasi, membayangkan seakan-akan kita sudah ada di momen itu. Dan itu kita mulai sejak sekarang ini, ketika kita belum ada di momen itu. Jangan kita merasa sok akrab-sok dekat, padahal kita tidak dikenal oleh Tuhan. Jadi jauh-jauh hari, sebelum momen itu terjadi atau berlangsung dalam hidup kita. Jangan ketika kita hidup; tubuh, jiwa, roh kita, kita serahkan kepada dunia. Artinya kita menikmati kesenangan-kesenangan yang Tuhan tidak kehendaki atau paling tidak yang Tuhan tidak ikut menikmatinya. Lalu setelah meninggal dunia, barulah kita berkata: tubuh, nyawa, roh dan jiwaku kuserahkan pada-Mu; licik itu. Dan pasti bencana ketika kita ditolak oleh Tuhan. 
    Pada waktu tidak ada masalah, waktu keadaan baik-baik, orang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, tidak berjuang untuk hidup suci, tidak berjuang untuk meninggalkan percintaan dunia dan mengembangkan cintanya kepada Tuhan. Tetapi begitu meninggal dunia atau ketika dalam persoalan-persoalan berat, baru ia berseru kepada Tuhan. Itu yang pada umumnya terjadi dalam hidup kita. Kita tidak mau melakukan kebodohan itu. Orang melihat kita konyol, memang tidak mengucapkannya, tetapi dalam hatinya mereka berkata: “Fanatik banget sih!” Namun, yang kita khawatirkan adalah pada suatu hari nanti di kekekalan orang berkata, “Kenapa kalian tidak paksa saya ikut kalian waktu itu? Kenapa kalian tidak terus terang waktu itu?” 
    Saat ini kita melihat satu fenomena di mana orang disempurnakan kejahatannya, kebenciannya, oposisinya. Suatu saat ia tidak bisa berkata apa-apa, ketika ia terbuang ke dalam api kekal. Ia sudah sempurna memilih jalannya. Sehingga ia tidak bisa berkata: “Kenapa kamu tidak paksa saya?” Sejatinya, mereka sudah berada di posisi kejahatan yang matang sejak di bumi. Jadi, yang penting adalah kita berlomba—walaupun tidak ada perlombaan yang secara eksplisit terlihat—mencari dan menemukan Tuhan. Ayo, siapa yang menemukan Tuhan? Kita masuk ruang doa, asah batin kita, kembangkan sayap doa dan terbang tinggi terus menghampiri Tuhan. 
    Tidak mudah memercayai Allah yang tidak kelihatan, apalagi memiliki perjumpaan dengan Tuhan. Kalau orang seakan-akan telah menemukan Tuhan dengan doa yang begitu lancar, dengan penjelasan yang begitu fasih tentang Tuhan, itu adalah Tuhan di dalam ilmu, dalam fantasi, dalam pikiran. Itu hologram Tuhan. Tuhan jangan diperlakukan seperti hologram. Orang bisa menciptakan hologram yang bagus dalam buku, seminar, ceramah, argumentatif, bukan faktual, tetapi Tuhan mau kita menemukan-Nya secara riil. Salah satu yang akan menjadi pemicu adalah dengan mensimulasi momen seakan-akan kita sudah berada di hadapan pengadilan-Nya. Dan itu pasti terjadi. Siapkah kita? 
    Sejatinya, hal ini akan membuat kita berusaha menemukan Tuhan, melakukan kehendak-Nya, mengerti apa penilaian Tuhan terhadap diri kita. Jangan sampai kita terlambat! Sekarang ini kita mulai. Sebab ada waktu di mana Tuhan tidak bisa ditemui lagi; Yesaya 55:6, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Simulasi-simulasi itu membuat kita takut akan Dia dan menggiring kita kepada kesucian. Karena terus terang,
    8 min
  • Perjalanan Terakhir
    Iblis selalu mencoba untuk menarik orang percaya keluar dari persekutuan dengan Tuhan, lalu masuk kembali dalam persekutuan dengan kuasa kegelapan. Maka Alkitab berkata dalam 1 Petrus 5:9, “Lawanlah dia dengan iman yang teguh.” Iman yang teguh artinya kesungguhan untuk menuruti kehendak Allah. Dalam hal ini, “iman” bukan sekadar keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Jadi kita tidak boleh pasif. Jika kita hanya bersikap pasif, maka kita pasti menjadi mangsa kuasa kegelapan. Kita dilahirkan dengan keadaan seperti masing-masing kita, tanpa kita minta. Tetapi di tangan Tuhan, kita ini bisa menjadi seseorang yang luar biasa. Ini kabar baiknya. Masalahnya, mau atau tidak kita dibentuk oleh Allah menjadi bejana yang indah di taman Tuhan. Keputusan itu berasal dari kebebasan kita memilih.
    “Lawan dia,” artinya kita harus berusaha untuk taat. Dengan kita taat kepada Allah, sama dengan mengikut jejak Tuhan Yesus, Iblis akan lari. Firman Tuhan mengatakan: “Tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis, maka ia lari dari padamu. Mendekatlah kepada Allah, dan Allah akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa, dan sucikanlah hatimu, kamu yang mendua hati,” Yakobus 4:7-8. Ini jalan yang Tuhan tunjukkan. Tetapi jalan ini tidak mudah, karena apa? Karena ikut jejak Tuhan Yesus itu memang sulit. Iblis itu cerdik. Sementara beredar di mana-mana bahwa pengajaran seakan-akan Iblis adalah yang mengganggu ekonomi, kesehatan, keluarga, karier, dan lain-lain. Iya, benar, itu bisa dikerjakan oleh Iblis. 
    Tetapi tujuan akhir kuasa kegelapan bukanlah ekonomi itu sendiri, bukan keluarga yang dihancurkan, bukan karier yang dikandaskan, melainkan agar kita tidak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, tidak menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, tidak menjadi corpus delicti. Makanya disesatkan dengan kalimat: “Bukan kita yang memilih Tuhan, melainkan Tuhan memilih kita,” titik. Benar, bukan kita yang memilih Tuhan, namun Tuhan yang memilih kita, tetapi jangan berhenti sampai di situ. Sebab setelah kita dipilih, kita harus memilih Tuhan. Maka—khususnya bagi anak-anak muda—bidik dulu manusia batiniah kalian. Ini fokusnya. Bukan berarti lalu kita tidak studi, tidak bisnis; bukan. Tetapi hati kita harus diarahkan untuk Kerajaan Surga. 
    Kelicikan Iblis juga ditebarkan lewat mimbar yang mengajarkan: “Minta apa saja dalam nama Yesus, maka kamu akan menerimanya” (Yoh. 14:13-14). Tetapi tidak diajarkan kalimat atau ajaran selanjutnya yang mengatakan, Kkalau kamu tinggal dalam Aku, Aku dalam kamu.” Syaratnya, kita harus tinggal dulu dalam Tuhan. Memang sulit, tetapi jangan menyerah. Ayo, kita keluar dari kebodohan kita, kita berubah, kita bertobat. Jadi kita tahu apa yang dibidik Iblis terhadap kita. Di satu sisi, sekelompok orang dibuat makmur, senang, limpah, kaya, tidak bermasalah, tetapi mereka diparkir di situ. Yang penting mereka tidak mengingini langit baru bumi baru, tidak makin serupa dengan Yesus atau makin sempurna seperti Bapa. Pada umumnya, mereka adalah orang-orang baik. Di sisi lain, sekelompok orang dibuat hancur-hancuran; rumah tangga, ekonomi, kesehatan, dan mereka juga diparkir di situ. Sama. 
    Iblis memang mengarahkan manusia untuk tidak menjadi anak-anak Allah yang berkarakter serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Cukup hanya menjadi baik, dan diparkir di situ. Kalau bisa, menjadi jahat.  Dengan situasi hidup yang berantakan, itu bisa disempurnakan kejahatannya. Maka, para pelayan Tuhan harus memperhatikan mereka. Yang kaya, juga harus diperhatikan. Yang miskin dan susah, harus lebih diperhatikan. Yang anak-anaknya perlu topangan kita, supaya kita bisa memberikan belaian kasih sayang melalui perbuatan baik kita, dan mereka berkata: “Masih ada Tuhan.” Gereja harus benar-benar menopang jemaat. Jadi jemaat yang susah, harus mesti ditopang. Jangan sampai mereka menjadi kecewa kepada Tuhan karena gereja tidak berbuat apa-apa. 
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…