Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Merindukan Tuhan
    Hubungan kita dengan Tuhan sampai pada puncak atau titik yang tinggi ketika kita merindukan Tuhan. Sejatinya, tidak banyak orang percaya yang sungguh-sungguh memiliki hati yang merindukan Tuhan. Hal itu tidak bisa kita bangun dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun. Tetapi ini harus kita bangun dari waktu ke waktu. Sebab hati kita telah terikat dengan banyak kesenangan, dan kesenangan-kesenangan itu menjadi selera yang menghiasi jiwa kita dan sekaligus membelenggu. Dari kecil, memang kita telah terdidik, diasuh oleh dunia sekitar kita untuk menyenangi objek-objek tertentu. Maka selera kita dibangun terhadap objek-objek tertentu tersebut. Jadi tidak heran kalau ada di antara kita yang kesenangannya kendaraan, wisata, perhiasan, dan lainnya. 
    Hal ini sudah menjadi bagian integral atau bisa dikatakan melekat, inheren dalam hidup seseorang. Tetapi ketika kita mengenal Tuhan yang benar, mengenal Allah yang benar, hubungan kita dengan Tuhan harus seperti hubungan suami istri. Rupanya tidak ada gambaran hubungan yang eksklusif yang dapat menunjukkan hubungan kita dengan Kristus selain hubungan suami istri; Efesus 5:31-32, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan Ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat.” 
    Jadi ada rahasia hubungan antara suami istri. Sebenarnya, cinta sejati seperti yang dirancang Allah sejak semula, sulit ditemukan atau hampir tidak ditemukan. Mengapa? Karena semua manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Kehilangan kemuliaan Allah ini maksudnya tidak mencapai moral kesucian seperti standar yang Allah kehendaki. Jadi kalau manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah atau moralitasnya kurang, tidak sesuai dengan standar Allah, bagaimana bisa mencintai pasangannya dengan cinta yang ideal? Tetapi kalau pasangan suami istri tetap setia, bertumbuh di dalam kedewasaan rohani, maka akan tercapainya cinta yang ideal, yang dimaksud di dalam Alkitab. 
    Fakta yang kita temukan di dalam kehidupan adalah seperti yang digambarkan di kisah perjamuan kawin di Kana, orang memberikan anggur yang baik dulu, kemudian anggur yang kurang baik. Dan kenyataannya, banyak pasangan begitu. Tahun pertama, masih bulan madu. Tahun kedua, bulan madu. Tahun ketiga, bulan-bulanan.. Makin tahun, makin pudar. Apalagi kalau sudah mulai ada kebosanan. Mudah terjadi percekcokan, pertikaian, sampai perselingkuhan. Maka, cinta yang dia miliki terhadap sesama, juga dalam konteks ini kepada pasangan, tidak mungkin ideal juga. Kecuali sepasang suami istri sama-sama bertumbuh dewasa, nanti akan sampai pada titik idealisme cinta pasangan itu. 
    Banyak orang Kristen memiliki cinta mula-mula terhadap Tuhan yang begitu menggelora. Tiap hari rasanya mau ke gereja, baca Alkitab, tidak mau baca yang lain, tidak mau nonton TV, maunya berdoa. Tetapi seiring berjalannya waktu, cinta mula-mula itu mulai pudar. Dan itu bisa terjadi juga terhadap kita, termasuk para hamba Tuhan. Setelah pudar, menjadi tawar. Mestinya cinta itu tetap terbawa terus sampai menjadi permanen. Masalahnya, cinta mula-mula sering situasional sifatnya. Yang Tuhan kehendaki adalah cinta yang permanen kepada-Nya; intimasi. 
    Jadi kalau Alkitab Perjanjian Baru bicara soal Kerajaan Surga, pikiran kita jangan hanya hal masuk surga, terhindar dari neraka. Bukan hanya itu, melainkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, dimuliakan bersama dengan Yesus, menjadi mempelai Kristus. Sama dengan firman yang mengatakan, “Tidak seorangpun sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku. Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Sampai kepada Bapa adalah bentuk eksklusivitas; keintiman yang khusus. Tuhan mau kita eksklusif.
    1 Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ini masalahnya, menjadi satu roh dengan Allah. Jadi semua bisa saja kita lakukan atau kita makan kare...
    8 min
  • Berkat Kekal
    Kita harus bersyukur untuk hari baru yang masih Tuhan berikan. Dan tidak ada satu hari di mana Tuhan tidak menyediakan berkat. Seperti yang dikatakan di dalam kitab Yeremia, “Selalu baru setiap hari.” Jadi, setiap hari pasti ada berkat. Dan berkat yang dimaksud adalah berkat kekal. Kalau hanya makan-minum itu adalah berkat sementara, berkat untuk pemenuhan kebutuhan fisik. Tetapi itu tidak boleh menjadi prioritas. Kita harus lebih memiliki perasaan krisis karena keadaan kita yang belum seperti rancangan Allah semula daripada berbagai pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau kita merasa ada perasaan krisis kita untuk hal lain, bukan terkait dengan Allah, maka fokus kita pasti menjadi bias atau salah. 
    Sejujurnya, sering kita merasa krisis untuk hal-hal yang kita tidak perlu merasa krisis. Inilah yang menutup mata kita terhadap krisis yang mestinya kita tanggulangi, yang mestinya kita antisipasi dari sekarang. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun daripadanya tidak akan jatuh ke di luar kehendak Bapamu,” Matius 10:28-29. Tetapi yang hendak dikemukakan di sini bahwa keadaan baik secara lahiriah, secara materi, bukanlah ukuran berkat.
    Berkat utama kita adalah berkat kekal, berkat abadi, berkat yang dapat kita miliki dan nikmati di dalam kekekalan. Berkat itu dibungkus di dalam peristiwa-peristiwa hidup, kejadian-kejadian yang kita dengar, kita lihat dan terutama yang kita alami. Tidak ada satu pun kejadian yang tidak memuat mutiara Tuhan. Setiap peristiwa, setiap kejadian ada mutiara Tuhan. Dan di situ Tuhan bicara kepada kita. Dan itulah rhema; firman yang keluar dari mulut Allah. Dan itulah yang mestinya kita tangkap setiap saat. Namun sering kali berkat-berkat seperti ini berlalu dan tidak kita asup, tidak kita konsumsi. Mengapa? Karena fokus kita tidak pada Tuhan. Mestinya fokus kita hanya pada Tuhan. 
    Dan kalau fokus kita pada Tuhan, maka kita tidak lepas dari memikirkan kesucian. Memikirkan kesucian berarti, yang pertama, menghindarkan diri dari hal-hal yang salah. Yang kedua, fokus pada kekekalan. Itulah berkat kekal yang bisa kita tangkap. Mari kita melihat, menemukan, merasakan, dan meraih berkat kekal itu di setiap peristiwa dan kejadian hidup yang kita alami. Tidak hanya masalah-masalah besar yang merenggut emosi, perasaan kita, dan yang bisa mempengaruhi fisik kita, tetapi hal-hal sederhana yang kita dengar dan kita lihat. Roh Kudus mengasuh kita, Roh Kudus bicara pada kita. Dulu kita tidak peduli. Kejadian demi kejadian berlalu, karena fokus kita terbagi kepada banyak hal. Tetapi ketika kita mulai sungguh-sungguh berurusan, berperkara dengan Tuhan, kita memperhatikan setiap peristiwa. 
    Maka, banyak hal yang Tuhan berikan kepada kita, banyak yang kita dengar, banyak rhêma (ucapan Tuhan) yang keluar dari mulut Allah. Kalau kita sebagai anak, waktu kita masih kecil atau masih memiliki orang tua, kita lihat ada orang tua yang cerewet. Cara kita pegang gelas kurang pas, pasti ditegur, “Hati-hati, perhatikan, nanti pecah.” Atau saat kita makan, kita bersuara, maka pasti mereka berkata, “Nak, jangan mengecap, tidak sopan.” Tetapi setelah kita dewasa, kita sadar bahwa semua menjadikan kita manusia yang santun. Itu orang tua yang baik. Jadi, kepada yang muda-muda kalau orang tuamu cerewet, bersyukurlah kepada Tuhan untuk orang tua yang cerewet. 
    Kita punya Roh Kudus yang bicara. Apa yang dikatakan Roh Kudus pasti berisi, bernilai, berkualitas lewat semua peristiwa. Maka jangan banyak bicara. Sebab semakin kita banyak bicara, semakin kita tidak menangkap suara Tuhan, nasihat Tuhan, teguran Tuhan, padahal pesan Tuhan dapat kita terima lewat peristiwa-peristiwa hidup yang terjadi. Jangan banyak bicara,
    8 min
  • Hidup dalam Pengabdian
    Kalau murid-murid mengenal siapa yang bersama mereka dalam perahu, maka ketika ombak bergelora, angin menghantam, dan air masuk memenuhi perahu, pasti mereka akan tetap tenang. Kalau mereka percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa, mestinya tidak ada kalimat: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Setiap kita pasti menemukan pengalaman ketika orang marah terhadap Tuhan; “Mengapa Tuhan tidak menyertai, kenapa keadaan menjadi begini?” Atau mungkin kita sendiri juga begitu. Itu merupakan indikasi, petunjuk bahwa kita tidak memiliki hidup dalam penyertaan Tuhan atau persekutuan yang intim dengan Allah. 
    Ciri yang ketiga dari orang yang hidup dalam penyertaan Tuhan adalah tidak takut menghadapi kematian. Dalam Filipi 1:21 Paulus mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Dan di dalam ayat yang lain, Paulus mengatakan, “Tetapi kalau aku disuruh memilih hidup atau mati, aku memilih bersama-sama dengan Tuhan.” Dan banyak ayat lain yang menunjukkan pengharapan kematian itu sebagai sesuatu yang indah. Paulus yakin bahwa kematian itu indah. Jadi kalau seseorang takut meninggal dunia, pasti ada yang salah dalam hidupnya. Kalau orang hidup di dalam penyertaan Tuhan, pasti kematian tidak menakutkan. Memang tidak bisa dibuktikan atau tidak perlu dibuktikan. Namun, orang nanti akan bisa mengendus, bisa melihat keistimewaan kita. Kesaksian di dalam batin ini menyangkut keberanian menghadapi hidup. 
    Yang terakhir, pengabdian. Orang yang benar-benar mengenal Tuhan, dan hidup di dalam penyertaan Tuhan atau memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, maka tidak mungkin tidak hidup dalam pengabdian kepada Tuhan. Maka kalau kita menghayati keagungan Tuhan, pasti kita akan memberikan pengabdian yang limpah, sampai tidak terbatas. Seberapa kita betul-betul menghormati Tuhan, memandang Dia berharga, memandang Dia bernilai? Dan itu harus kita alami. Bukan fantasi, bukan sekadar keyakinan. Yakin Allah Maha Besar, yakin di dalam nalar lalu berfantasi tentang Allah yang besar, tetapi kita tidak memiliki kesaksian dalam batin karena tidak ada perjumpaan dengan Dia. 
    Semua orang Kristen juga bisa menyanyi, “Then sings my soul, My Saviour, God, to Thee, how great Thou art,” bisa. Namun, seberapa seseorang benar-benar menghayati kebesaran Allah tersebut? Penyembahan kita diendapi dengan sikap menghayati Tuhan atau tidak, itu pasti terasa. Ini pengalaman riil bergaul dengan Allah. Di dalam penyembahan, kita menyanyi dengan tulus. Tentu harus dilatih. Kita bisa berdoa tahan lama, karena kita menghargai dan menghormati Tuhan. Dia agung, Dia mulia. Rasanya kita tidak ingin cepat-cepat berkata, “Amin.” Beda dengan orang yang kualitas hidupnya dalam penyertaan Allah itu rendah, maka ia tidak betah berdoa. Sejujurnya, seberapa kita punya keberanian menghadapi hidup dengan segala tantangannya? Seberapa kita membenci dosa? 
    Kalau kita punya nilai rendah, berarti kita harus mengembangkan persekutuan dengan Allah atau mengembangkan kehidupan dalam penyertaan dengan Tuhan. Kita harus menggandakan waktu menyembah Tuhan, waktu berdoa, kalau perlu puasa. Walau peningkatannya kadang-kadang tidak signifikan, tetapi pasti ada perubahan. Jadi, kekristenan adalah sebuah jalan hidup yang dinamikanya itu nyata. Kalau seseorang tidak mengalami proses pertumbuhan dan ia juga tidak mempersoalkannya, betapa mengerikan kalau suatu kali dia menutup mata. Dalam keadaan miskin, tidak berbuat apa-apa bagi Tuhan, dia menghadap Tuhan, betapa mengerikan. Ingat, kita tidak boleh sama dengan dunia sekitar kita. Marilah kita memiliki pola dan gaya hidup yang berbeda dengan mereka yang bukan umat pilihan. 
    Satu-satunya dunia kita adalah Tuhan. Kalau kita melakukan berbagai kegiatan di dalam hidup ini, fokusnya hanya Tuhan. Dan ini standar. Alkitab pun jelas berkata, “Baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.”  Untuk itu, kita harus serius mengoreksi diri,
    9 min
  • Hidup dalam Hubungan yang Intim
    Kita harus bergumul dengan sungguh-sungguh, untuk mengetahui apakah kita benar-benar disertai Tuhan. Kalimat lain yang lebih tepat, apakah kita hidup dalam persekutuan yang benar dengan Allah. Jangan puas dengan keyakinan pikiran atau fantasi. Keyakinan di dalam pikiran itu bisa situasional. Hari ini yakin, besok kurang yakin, lain waktu bisa tidak yakin sama sekali. Fantasi lebih bersifat situasional, karena tidak memiliki dasar atau landasan. Tidak mudah untuk benar-benar membuktikan apakah kita ada di dalam penyertaan Tuhan atau tidak. Dengan kalimat yang lebih tepat, apakah kita benar-benar di dalam persekutuan yang ideal dengan Allah atau tidak. 
    Kita harus merasa berutang, merasa gusar, merasa tidak nyaman sebelum kita benar-benar yakin bahwa kita ada dalam penyertaan Tuhan atau berada di dalam hubungan yang intim dengan Tuhan. Banyak orang tidak peduli hal itu. Sejujurnya, kita pun tidak pernah atau kurang mempersoalkan apakah kita telah hidup di dalam penyertaan Tuhan atau tidak. Padahal ini adalah hal yang paling prinsip. Apalagi bagi seorang hamba Tuhan, itu mutlak. Kalau kita tidak sungguh-sungguh, mengerikan. Maka kiranya renungan ini benar-benar mengubah peta hidup kita. Kedengarannya hal ini seperti mengada-ada, tetapi ini hal yang prinsip dan fundamental. 
    Kalau seseorang bertanya kepada kita, “Apakah Anda disertai Tuhan?” Rata-rata kita akan menjawab, “Amin.” Kalau ditanya kemudian, “Apa verifikasi atau pembuktian bahwa Anda hidup di dalam penyertaan Tuhan?” Apa jawab kita? Pertanyaan yang kedua ini mungkin tidak perlu dijawab atau tidak bisa dijawab karena setiap kita harus punya kesaksian dalam batin bahwa kita hidup di dalam penyertaan Tuhan atau hidup dalam keintiman dengan Tuhan. Hal ini tidak bisa dibuktikan untuk orang lain, atau tidak perlu dibuktikan untuk orang lain. Tetapi kita pasti punya kesaksian dalam batin. Kesaksian di dalam batin ini pasti mewarnai hidup kita, pasti akan nampak dari buah-buah hidup. 
    Adapun ciri orang yang hidup dalam penyertaan Tuhan, yang pertama, tidak takut. Dalam hal ini, kalau kita benar-benar ada dalam penyertaan Tuhan dan kita hidup di dalam penghayatan terhadap realitas hidup dalam penyertaan Tuhan tersebut, maka sulit untuk kita memiliki perasaan takut. Bisa, tetapi sulit. Sebagaimana ketika kita diajak naik jet coaster. Kitalah yang bisa mengukur, seberapa tingkat keberanian di dalam batin kita. Ada kesaksian dalam batin. Kita harus memperkarakan itu. Jadi, ketika kita mudah takut, mudah gelisah, mudah cemas, tentu kita dapat yang mengenali diri sendiri. Carilah Tuhan dengan sungguh-sungguh lewat firman, doa, meditasi, dan lainnya. Sampai nanti kita akan bisa merasakan perubahan itu. 
    Yang kedua, membenci dosa. Biasanya seseorang tidak berbuat dosa dasarnya karena takut dilihat orang, malu. Yang benar adalah seberapa kita merasa resisten, jijik terhadap dosa? Yang tahu siapa? Tentu diri kita sendiri. Bagaimana respons atau reaksi kita terhadap impuls atau rangsang dosa? Orang-orang yang belum takut akan Allah, masih mudah berbuat dosa. Masih bisa, paling tidak dengan 1001 alasan. Misalnya, “Saya sebenarnya tidak mau berbuat dosa, tetapi karena kepepet, terpaksa saya lakukan.” Atau, “Tuhan, kali ini saja. Besok aku tidak berbuat dosa lagi.” Tetapi kalau kita hidup dalam penyertaan Tuhan, menghayati penyertaan Tuhan, dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan, kita tidak akan berkata begitu. Tidak ada pembenaran seperti itu. 
    Kita benar-benar membenci dosa. Kebencian terhadap dosa sebenarnya impartasi dari kekudusan Allah. Firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:16 mengatakan, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Apakah mungkin? Pasti mungkin dan kita harus bisa. Karena Tuhan yang berfirman, dan tidak mungkin Tuhan memberikan kita perintah yang kita tidak bisa lakukan. Bahkan, seandainya Tuhan memberikan kita perintah yang tidak bisa kita lakukan pun kita akan tetap melakukannya; “Apa pun yang Kau perintahkan padaku, Tuhan, kulakukan.
    8 min
  • Ruang Kosong
    Ketika Tuhan berkata, “Aku beserta kamu senantiasa sampai akhir zaman,” konteksnya ada mandat, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai The Great Commission; Amanat Agung; yaitu, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Ini dalam penugasan. Dunia kita bergerak, ada dinamika hidup tidak pernah berhenti dalam berbagai aspek; ekonomi, sosial politik, dan lain sebagainya. Termasuk ekosistem bumi, bencana, anomali cuaca dan lain sebagainya. Dunia ini ada dinamikanya secara komunitas, dan makin mengglobal. Apa yang terjadi di sebuah tempat, pasti memengaruhi tempat lain. 
    Setiap kita punya dinamika hidup yang tidak lepas dari dinamika hidup yang berlangsung. Di dalam hal ini, Tuhan hadir. Tuhan menuntun kita bagaimana melewati perjalanan dalam dinamika hidup yang bergerak ini. Sekolah kehidupan kita tetap berlangsung dalam dinamika hidup kita pribadi, terkait dengan dinamika hidup yang berlangsung di dunia sekitar. Bagaimana kita bergumul dalam dinamika hidup terkait dengan dunia ini, terkait dengan lingkungan, dan bagaimana kita harus bertumbuh dewasa. Dari proses ini, kita harus mengalami Tuhan. 
    “Aku menyertai kamu,” artinya “Aku akan tetap hadir dan memuridkan kamu, dan menolong kamu memuridkan orang lain.” Maka kita harus mengalami kehadiran Tuhan di dalam hidup kita, di zaman dan di waktu kita. Harus. Kita tidak boleh puas dengan pengetahuan teologi yang dimiliki, yang kita maknai sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Kita harus menyadari ada ruang kosong, ada bagian kosong dalam hidup kita yang harus dan hanya bisa diisi melalui perjumpaan dengan Tuhan. Tuhan mau memuridkan kita dan tiada henti menyekolahkan kita. 
    Kalau dunia mengalami krisis, kita juga mengalami krisis. Kalau dunia mengalami masalah ekonomi global, kita juga pasti mengalami. Di situasi seperti ini, harus ada pesan-pesan yang baru. Kalau seorang hamba Tuhan tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan, maka dia tidak bisa menyampaikan inspirasi baru yang dari Tuhan. Maka kita harus mulai bertanya, “Apakah saya mengalami penyertaan Tuhan selama ini?” Penyertaan yang real time saat ini dalam hidup kita, dalam masalah yang up to date yang kita alami. 
    Semua hal dalam hidup kita haruslah dalam desain Tuhan, karena ini pekerjaan-Nya dan tentu dalam tuntunan Roh Kudus. Hebatnya, Tuhan menyediakan porsi kehadiran-Nya dalam hidup kita sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Porsi kehadiran untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dan menyelesaikan masalah-masalah kita. Tidak akan meleset. Dia hidup. Dia nyata. Oleh sebab itu, firman Tuhan harus kita dengar, yang akan membangun bangunan pengertian secara nalar. Kita harus mengalami perjumpaan dalam doa yang membuat kita sensitif terhadap kehadiran Tuhan di dalam perjalanan hidup kita. 
    Tidak ada satu hari yang Tuhan tidak menyediakan porsi kehadiran-Nya untuk mendidik. Guru yang baik pasti menyediakan mata pelajaran, menyediakan kurikulum untuk pendidikan anak didiknya. Orang tua yang baik, menyediakan menu makanan bergizi yang dibutuhkan anak-anaknya. Allah lebih dari itu. Dia sebagai Bapa, menyediakan berkat pemeliharaan. Dia sebagai guru, menyediakan pendidikan. Tidak ada hari tanpa berkat Tuhan. Kenapa kita tidak mengalami itu? Karena kita bersikap salah terhadap Tuhan. Sikap benar yang harus kita miliki adalah jadikan Dia satu-satunya tujuan hidup. 
    Ketika kita bertemu dengan Tuhan, kita memiliki satu hubungan yang eksklusif, yang intim dan di situlah kita menemukan makna hidup. Jadi tidak berlebihan firman Tuhan mengatakan, “Baik kau makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Ini standar. Yang lain harus menjadi dukungan. Maka jangan punya keinginan apa pun selain Tuhan. Ketika kita menjadikan Tuhan tujuan hidup satu-satunya, hidup kita menjadi ringan. Sebab, apa pun yang terjadi, tidak masalah, yang penting kita punya Tuhan. Kalau Tuhan kita perlakukan dengan sikap itu, Tuhan tersanjung. 
    Ingat, kita tidak bercumbu dengan bayang-bayang,
    10 min
  • Jangan Takut Jujur
    Pasti Tuhan memenuhi janji-Nya dan membuktikan kesetiaan-Nya. Sebelum Yesus naik ke surga, Yesus berjanji bahwa Ia akan menyertai orang percaya; “Aku menyertai kamu senantiasa, sampai pada akhir zaman.” Seakan-akan Tuhan bicara, “Seperti Aku telah bersama-sama dengan kamu selama ini, Aku akan tetap bersama-sama dengan kamu.” Kita bisa mengerti mengapa murid-murid Yesus begitu berani memberitakan Injil, begitu berani berkorban, begitu kuat pengharapannya akan kedatangan Tuhan. Semua itu karena mereka benar-benar mengalami penyertaan Tuhan. Menjadi persoalan penting yang kita harus perkarakan pada kesempatan ini adalah seberapa kita sungguh-sungguh mengalami penyertaan Tuhan. 
    Banyak orang Kristen yang tidak yakin bahwa Allah menyertai dirinya, bahkan mungkin juga meragukan apakah Allah benar-benar ada, apakah Allah benar-benar suatu realitas, apakah benar-benar Allah suatu kenyataan yang bisa dialami. Sementara orang-orang Kristen yang baik-baik, tidak mengalami penyertaan Tuhan, tetapi tidak merasa gusar dan tidak memperkarakannya, tidak mempertanyakannya kepada diri sendiri dan tidak mempertanyakannya kepada Tuhan. Kita dapat memperkarakan hal ini terhadap diri sendiri dengan pertanyaan, “Seberapa aku sungguh-sungguh telah mengalami Tuhan?” Memperkarakan dengan Tuhan dengan pertanyaan, “Bagaimana aku bisa mengalami penyertaan-Mu, Tuhan?” 
    Jangan takut jujur untuk mengakui bahwa selama ini kita kurang mengalami penyertaan Allah. Bahkan orang-orang yang memiliki kesaksian-kesaksian, juga ada saat di mana mereka meragukan bahwa Allah masih menyertai mereka. Pada intinya adalah bagaimana pada akhirnya setiap kita benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, berinteraksi dengan Allah secara nyata. Dan inilah yang harus benar-benar kita gumuli, supaya kita tidak berfantasi mengenai Allah, tetapi kita benar-benar mengalami Allah secara nyata dalam kehidupan ini. Untuk itu, kita harus benar-benar menyediakan waktu untuk berseru kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang dikisahkan di dalam Alkitab bahwa Dia adalah Allah yang hidup. Dan kita memperkarakan ini, “Di manakah Engkau ya, Allah?” Jangan malu mengakui bahwa selama ini kita belum mengalami Tuhan secara nyata atau secara riil. 
    Mestinya kita bisa mengalami. Hamba-hamba Tuhan yang belajar Alkitab, belajar teologi, mengesankan bahwa mereka mengenal Allah. Namun sejujurnya, mereka mengenal Allah dalam ilmu, mengenal secara kognitif, tetapi belum tentu mengenal dalam perjumpaan secara pribadi dengan Allah. Umur berapa pun kita, tetap kita harus mencari wajah Tuhan yaitu mencari hadirat Tuhan. Memang ada kesaksian-kesaksian yang kita alami dalam hidup yang tidak terbantahkan bahwa itu campur tangan Tuhan, bahwa itu benar-benar menunjukkan kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Tetapi kiranya kita masih harus merasa ada bagian yang kurang di dalam hidup yang harus kita penuhi; yaitu, “Aku harus mengalami Tuhan.” 
    Sebab, pengalaman kita dengan Tuhan harus selalu baru. Kita bukan hidup di masa lalu. Pernah sakit, sembuh; pernah mendapat persoalan berat, Tuhan tolong. Apa pun kesaksiannya, jangan berdiri di atas pengalaman masa lalu semata-mata di dalam konteks atau masalah ini. Setiap hari harus ada pengalaman baru dengan Tuhan, perjumpaan dengan Tuhan. Jika tidak, ada bagian yang kurang dalam hidup kita. Kita tidak bisa mengisi kekosongan jiwa kita dengan pengalaman masa lalu, tetapi harus kita isi dengan pengalaman yang baru dengan Tuhan. Dan Tuhan berkenan menyediakan pengalaman baru itu, sebab Dia beserta kita. 
    Jadi, betapa malang kalau seseorang merasa hubungannya dengan Tuhan sudah cukup karena sudah punya pengalaman dengan Tuhan di masa lalu, dan bagian kosong di dalam dirinya diisi dengan pengalaman masa lalu. Mari kita sadari bahwa Dia yang berkata menyertai kita sampai kesudahan zaman berarti penyertaan-Nya terus-menerus tiada henti. Dan mestinya kita harus selalu merasa ada kekosongan dalam diri kita,
    8 min
  • Merebut Hidup
    Setelah kita belajar untuk mencintai Tuhan dan merasakan getar cinta dalam kalbu, maka ketika kita berbuat salah, kita akan merasa sangat terganggu. Kita diizinkan Tuhan merasakan luka Tuhan dan kita akan sangat merasa bersalah, sehingga dosa menjadi hal yang paling membuat kita trauma. Kita jadi trauma terhadap dosa, dan itu adalah jalan di mana kita mulai memiliki kesucian yang sempurna. Kalau dulu, kita tidak pernah merasakan luka itu. Karena ketika kita berbuat dosa, kita menikmati dosa dan tidak peduli dengan luka hati Tuhan. Namun, ketika kita mulai mencintai Tuhan, tentu ada cinta yang harus kita jaga, di tengah-tengah kompetitor yang mana Iblis akan menawarkan keindahan-keindahan. Dan yang paling berat yang kita hadapi adalah diri kita sendiri. 
    Pesaing yang paling berat adalah diri kita sendiri. Setan akan menunggangi manusia lama kita. Manusia lama kita menjadi foothold—tempat berpijak Iblis—agar kita asyik dengan kesenangan diri kita, kepuasan diri kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Kalau kamu tidak menyangkal diri, kamu tidak layak bagi-Ku.” Mungkin ada yang bertanya, “Sebegitukah Tuhan mau merebut hidup kita?” Tuhan merebut hidup kita demi keselamatan kekal kita. Dia mati di kayu salib merebut kita, supaya secara hukum, Dia berhak memiliki kita karena Dia mati di kayu salib menebus dosa kita. Tetapi, apakah kita memberi diri untuk Tuhan atau tidak, itu merupakan kehendak bebas kita. Kita bisa berikan untuk diri kita sendiri, untuk kesenangan kita sendiri, itu kebebasan kita. Tuhan tidak memaksa. 
    Hati kita ada di dalam kekuasaan atau kedaulatan kita. Tuhan tidak paksa kita berikan kepada siapa, karena Tuhan menghargai kedaulatan yang dipercayakan-Nya kepada masing-masing manusia. Tuhan tidak menetapkan siapa yang selamat, siapa yang tidak selamat, tetapi Tuhan menetapkan hukumnya; hukum kedaulatan. Apakah kita memilih Tuhan atau tidak, itu kedaulatan kita. Mestinya kalau Tuhan sudah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar, artinya kita harus memberikan hati kita kepada Tuhan. Bicara soal kedaulatan hati, ini bukan sekadar menjadi orang baik yang melakukan hukum-hukum. Sebab banyak orang Kristen merasa sudah selamat, apalagi merasa sudah ditentukan selamat, lalu dia memberikan hidupnya untuk melakukan hukum dan menjadi manusia baik-baik. Itu bisa.
    Namun, kalau kita memberikan hati kita untuk Tuhan, dalam standar yang Tuhan kehendaki, yaitu kita menyerahkan kedaulatan hati kita untuk Tuhan, maka kita bukan hanya melakukan hukum melainkan semua yang kita lakukan sesuai pikiran dan perasaan-Nya. Jadi, standar kita bukan hanya jadi baik, lalu merasa sudah selamat. Selamat berarti dikembalikan ke rancangan semula; serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Kedaulatan diberikan supaya hati kita sepenuhnya diberikan kepada Tuhan. Kalau kita memberikan hati kepada Tuhan, mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, akal budi, dan kekuatan, maka kita bisa berkata, “Kehendak-Mu yang jadi, Bapa, bukan kehendakku. Bukan kehendak-Mu menurut hukum, melainkan kehendak menurut pikiran dan perasaan-Mu.” 
    Pada level ini barulah kita menjadi kekasih Tuhan. Sejujurnya, betapa sulitnya kehidupan semacam ini. Itulah sebabnya Roh Kudus dimeteraikan di dalam diri kita, yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Hati ini kita persembahkan untuk mencintai Tuhan, supaya dengan rela kita melakukan kehendak-Nya. Kalau di Perjanjian Lama dikatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi,” itu berarti kita harus melakukan hukum. Tetapi, ketika ayat itu ada di Perjanjian Baru, ditambahkan satu kata lagi: “akal budi, jiwa, segenap hati dan kekuatan.” Maksudnya, kita harus melakukan apa yang dipikirkan Allah, apa yang diingini Dia. 
    Sebab kalau hanya melakukan hukum, belumlah mencintai Tuhan dengan benar, untuk standar Perjanjian Baru. Dari cinta kepada Tuhan yang bertumbuh, sampai kita rela untuk hidup di dalam kedaulatan Allah,
    10 min
  • Mencintai Tuhan dengan Benar
    Kita mungkin kagum melihat seorang konglomerat dengan harta yang berjumlah ratusan triliun atau seorang pejabat yang agung di mata manusia, memiliki kekuasaan dan prestasi dalam dunia politik dan pemerintahan. Namun, mereka tidak ada artinya dibanding seorang yang menjadi kekasih Tuhan. Tidak ada prestasi yang lebih mulia dan yang lebih unggul dari prestasi seseorang yang mampu mencapai hati Tuhan. Sampai Tuhan berkata, “Engkau di hati-Ku, karena Aku tahu Aku di hatimu.” Tuhan merasa. Di hati kita ada siapa, Tuhan tahu. Dia bukan hanya Maha Tahu, tetapi Dia juga merasa. Karena Tuhan punya perasaan dan Tuhan menikmatinya. Tuhan tahu ketika kita mencampakkan Dia dan menganggap-Nya tidak bernilai, karena kita menganggap ada sesuatu atau seseorang yang lebih bernilai dari Tuhan. 
    Namun, dalam panjang sabar-Nya, Tuhan menanti kita bertobat. Dalam Kitab Amos, kita menemukan pengkhianatan bangsa Israel kepada Allah. Bangsa Israel digambarkan seperti perempuan sundal yang melacur diri, dan itu sangat melukai hati Tuhan. Tetapi Tuhan mau menerima mereka kembali. Tuhan mau menyambut kembali istri yang tidak setia, yang menjadi perempuan sundal ini. Dan Tuhan pun mau menerima kita kembali, walaupun kita telah berkhianat kepada-Nya. Tetapi kalau kesempatan ini tidak kita gunakan dengan baik, maka kita kehilangan kesempatan sampai selama-lamanya. Untuk itu, kita harus serius dan hati-hati. 
    Jangan menunggu waktu yang baik, karena waktu yang baik adalah saat ini. Firman Tuhan mengatakan, “Jangan keraskan hatimu!” Seperti ketika bangsa Israel ada di padang gurun, Tuhan tidak menginginkan seorang pun tidak mencapai Kanaan. Tetapi sebagian besar dari bangsa ini tidak mencapai Kanaan. Bukan karena Allah tidak sanggup, bukan karena Allah tidak mampu, tetapi karena bangsa itu mengeraskan hati. Jangan sampai kita ditipu dengan ajaran yang salah, seakan-akan kalau kita percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka otomatis masuk surga. 
    Tuhan tidak akan memasukkan ke dalam Rumah-Nya orang-orang yang mengkhianati Dia, yang tidak setia. Coba kita introspeksi diri; kira-kira sudah setiakah kita kepada Tuhan? Kedatangan kita ke gereja bukanlah ukuran bahwa kita sudah setia. Karena kesetiaan kita diukur dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, hari ke hari seberapa kita benar-benar menempatkan Tuhan di hati kita. Sebab bisa saja kita menempatkan Tuhan sesaat di gereja, setelah itu kita melepaskan-Nya dan menempatkan yang lain di dalam hati kita. Kita berkhianat. Mungkin yang kita tempatkan itu bukan sesuatu atau seseorang, melainkan masalah-masalah hidup yang juga bisa membelenggu hati kita karena kita lebih fokus kepada masalah daripada fokus kepada Tuhan. 
    Jangan jadikan Tuhan hanya menjadi penolong atau pelindung hidup. Jelas, Dia penolong kita satu-satunya. Jelas, Dia pelindung kita satu-satunya. Tetapi jadikanlah Dia Kekasih hidup satu-satunya. Jadikanlah Dia segalanya dalam hidup kita. Ketika kita tidak mencintai Tuhan dengan benar, sejatinya kita mengkhianati dan mencelakai orang-orang yang kita kasihi. Sebab ketika kita tidak mencintai Tuhan dengan benar, artinya kita mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri dan bagi orang-orang yang kita cintai. Bisa apa kita melindungi mereka? Ingat, hanya Tuhan dengan lengan kuat-Nya yang bisa melindungi mereka. 
    Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Tuhan yang besar. Tidak ada yang bisa menyentuh kita, kalau kita menjadi kekasih-Nya. Kita tidak membutuhkan uang untuk mencintai Dia, tidak butuh pendidikan tinggi, penampilan atau perawakan. Kita hanya butuh hati yang kita angkat dan berkata, “Aku mencintai Engkau, Tuhan, dan aku mau mencintai Engkau.” Kita bisa memberikan uang, tenaga, pikiran, dan perasaan kita untuk Tuhan, tetapi itu ada batasnya. Yang tidak terbatas adalah hati kita. Hati yang kita persembahkan tanpa batas. Jangan menunda! Hari ini kita harus mulai mengobarkan hati kita untuk mencintai-Nya, bukan demi siapa-siapa,
    8 min
  • Menjadi Sahabat Tuhan
    Ketika seseorang mau sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus, sering kali ekonomi hidupnya tidak kunjung pulih, kesehatannya juga tidak kunjung disembuhkan, masalah pun tidak kunjung selesai, bahkan tidak jarang keadaannya tidak berbeda dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh bertekun mencari Tuhan. Sejujurnya, hal itu menjadi satu alasan yang membuat seseorang menjadi lemah, lalu berhenti bertekun. Padahal, ada satu pengertian yang sangat penting dan berharga dalam mengikut Tuhan. Seseorang tidak dapat mengerti kebenaran ini bahwa kalau ia mencari Tuhan dengan tekun, lalu ekonominya segera pulih, kesembuhan dia peroleh, masalah segera selesai, maka orang akan berduyun-duyun mencari Tuhan dengan motif yang salah; bukan Tuhan. Sehingga, pasti meleset. 
    Sebab yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita adalah bagaimana kita mengenal Tuhan, mengenal hati-Nya, dan dari pengenalan akan Tuhan tersebut, kita kenakan dalam hidup kita. Sebab Allah menghendaki kita menjadi anak-anak-Nya, memiliki keintiman dengan-Nya. Maksudnya, agar kita berkarakteristik, bersifat, berkodrat seperti Dia. Entah kita miskin atau kaya, sehat atau sakit, hidup dalam masalah atau tidak. Maka, jangan kita menjadi lemah. Sebab Tuhan layak dan pantas kita percayai walaupun tidak ada tanda-tanda lahiriah kehadiran-Nya, tidak ada perlakuan istimewa Tuhan terhadap kita; kita tetap memilih Tuhan. 
    Kalau proses pendewasaan itu berlangsung dengan baik, berlangsung dengan benar, dan kita bertumbuh dewasa, pasti kita akan dijadikan Tuhan sahabat-Nya. Yesus berkata, “Kamu tidak lagi menjadi hamba-Ku, tetapi sahabat-Ku. Karena hamba tidak tahu yang dilakukan Tuannya.” Sebagaimana dalam kehidupan ini, kita juga kadang-kadang menemukan majikan yang menerima dan menganggap bawahannya sebagai sahabat, karena kesetiaan dan pembelaan bawahan itu. Maka ketika kita menjadi sahabat-Nya, di situlah Tuhan akan memberitahukan kepada kita rencana-rencana-Nya dalam hidup kita pribadi, keluarga besar, masyarakat yang dekat dengan kita, sampai rencana Allah atas dunia ini. 
    Namun, Allah mau kita punya kualifikasi tinggi untuk bisa menjadi sahabat Allah; yaitu hanya untuk mereka yang memilih Tuhan, hidup di dalam kekudusan setiap hari, tidak terikat dengan percintaan dunia, tidak menyalahgunakan pelayanan untuk kepentingan pribadi. Yang terakhir ini menakutkan, karena godaan, potensi dan kesempatannya besar. Maka, kita harus sungguh-sungguh mengarahkan diri kepada Tuhan dan meyakini Allah yang hidup. Kita harus belajar membawa diri seakan-akan kita hidup di zaman Musa, di mana Tuhan mau mengentaskan bangsa Israel dari Mesir. Kita menjadi Musa-Musa itu. Ayo, kita keluar dari Mesir. 
    Kita juga bisa terkadang membayangkan diri seperti Nuh yang sedang membuat bahtera dengan ukuran, model yang tepat seperti yang Allah kehendaki, dan bahtera itu adalah hidup kita. Dan kita mengajak orang untuk masuk ke bahtera yang kita buat. Kemurnian, ketulusan, pelayanan seperti ini akan membuat kita berbeda dengan dunia. Kita tidak mengatakan diri paling benar atau paling baik, tetapi kita lihat di pengadilan Tuhan nanti. Tetapi petanya jelas. Betapa jahatnya dunia ini. Untuk itu, kiranya Tuhan membukakan mata kita untuk melihat proyek-proyek pekerjaan Tuhan, yang melaluinya akan ada orang-orang yang diselamatkan; dari anak-anak, remaja, pemuda, sampai orang tua. Terutama sekarang generasi muda, anak-anak yang dari kecil sudah disemai oleh kuasa kegelapan. 
    Mungkin keadaan kita saat ini sudah nyaman, tetapi marilah kita mengambil apa yang menjadi kesenangan keluarga kita dan kesenangan kita, untuk pekerjaan Tuhan. Mungkin ada orang yang meragukan, tetapi hal itu tidak masalah. Kita tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun. Jadi, jangan pikirkan pandangan buruk atau negatif tentang kita. Kita dapat melihat bagaimana orang-orang dituai oleh Iblis. Di daerah-daerah, di pelosok-pelosok di mana narkoba sudah masuk, juga seks bebas, dan ini tidak main-main. Jadi, satu,
    7 min
  • Mengenali Diri
    Di dunia kita hari ini, kalau kita tidak sungguh-sungguh bertemu dengan Tuhan setiap hari, maka kita tidak akan mengenali diri kita sendiri dengan benar. Sering kita tanpa sadar merasa khawatir, takut, dan tidak mempercayai Allah. Sadarkah kita bahwa itu melukai hati Bapa? Seakan-akan Dia tidak ada, seakan-akan Dia tidak hadir, seakan-akan Dia tidak peduli, sehingga ada perasaan takut yang merambat dan menguasai kita. Padahal, salah satu ciri dari mereka yang masuk neraka adalah penakut (Why. 21:8). 
    Di sisi lain, tanpa kita sadari, kita sering sombong, merasa lebih baik dari orang lain, lebih benar, lebih cakap, lebih pandai, lebih cerdas. Manifestasi dari sikap itu akan nampak pada waktu kita berbicara dengan tidak segan-segan kita menjatuhkan orang. Entah kita menyebut nama orang dengan inisial atau terang-terangan. Kita menjadi sombong dan itu tidak diajarkan Tuhan. Tanpa kita sadari pula, kita masih materialistis, masih berharap bahwa dunia akan memberi kelengkapan, sukacita, dan kebahagiaan dengan berbagai fasilitas. 
    Tanpa disadari, ternyata kita belum benar-benar mengasihi orang, apalagi kalau orang itu memusuhi, menjahati, merusak nama baik kita, membunuh karakter kita. Mungkin dari mulut kita mengatakan, “Ya, tidak apa-apa,” tetapi hati kita marah, dendam. Ada kebengisan di hati kita terhadap orang-orang yang menurut kita melukai dan merugikan. Sering kita tidak sadar masih ada dosa-dosa yang kita lakukan di dalam hati dan batin kita. Mari kita jujur memeriksa batin kita. 
    Sejatinya, kita membutuhkan penerangan dari Tuhan, sebab kesucian yang dikehendaki Allah untuk dicapai adalah kesucian Allah Bapa sendiri. Kudus seperti Bapa kudus, suci seperti Bapa suci. Jadi tinggi sekali standarnya. Bayangkan kalau kita tidak benar-benar bertemu dengan Tuhan, kita tidak bisa melihat keadaan diri kita dengan jelas, maka kita tidak dapat menemukan keadaan diri kita dengan benar. Sungguh, itu membahayakan kehidupan kekal kita. Kalau tiba-tiba kita meninggal dunia, pasti kita tidak akan tahan berdiri di hadapan Allah. 
    Karenanya, perjumpaan dengan Tuhan itu mutlak. Bukan hanya menaikkan doa permohonan, atau menyembah Tuhan dengan syair lagu dan alunan nada, melainkan dengan hati yang terbuka. Kita mau dikoreksi oleh Tuhan, dikenali oleh Tuhan. Mari kita berdoa agar Tuhan membuka mata pengertian kita, agar kita bisa mengenali diri kita secara utuh, secara penuh, secara clear. Jika ada dosa-dosa yang masih kita lakukan atau kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yang masih kita perbuat, kita segera minta ampun kepada Tuhan. Dan kita benar-benar mengubah diri. Proses ini tidak berlangsung hanya dalam satu minggu, satu bulan atau satu tahun. Ini berlangsung terus sampai kita mati, sampai kita menutup mata. 
    Perjumpaan dengan Tuhan setiap hari itu mutlak, karena pada saat itulah kita mendapatkan penerangan, pencerahan dari Tuhan untuk mengenali diri kita dengan benar. Tidak cukup dengan membaca buku, belajar teologi di perpustakaan, mendengar ceramah, tetapi kita harus bertemu langsung dengan Tuhan dan mendapatkan pencerahan dari Dia. Dunia kita sekarang berada dalam gelap dan kacau. Orang bisa bicara apa saja di media sosial dan mengaku mengerti firman Tuhan, mengaku dirinya cakap, pintar. Kiranya, Roh Kudus menolong kita untuk membedakan hamba Tuhan yang palsu dan hamba Tuhan yang sejati. 
    Semua kita sebagai jemaat Tuhan, sudah saatnya tidak bergantung kepada siapa pun, termasuk kepada pendeta. Kalau dulu sedikit-sedikit datang ke pendeta minta didoakan, maka sekarang tidak lagi begitu. Sudah saatnya masing-masing individu mencari dan menemukan Tuhan. Milikilah perjumpaan pribadi dengan Allah. Itulah sebabnya kita mencanangkan 24 jam di hadapan Allah. Maksudnya kita semua, bukan hanya pendeta atau aktivis gereja, tetapi semua kita. Semua kita harus memiliki intimasi, hubungan yang akrab, yang karib dengan Tuhan. Jadi, jemaat Tuhan jangan bergantung lagi kepada pendeta.
    11 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…