Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Akan Celaka
    Kalau kita berurusan dengan orang baik, pasti buah atau akibatnya adalah kebaikan atau keuntungan. Akan tetapi, kalau kita berurusan dengan orang yang tidak baik, orang yang jahat, hasilnya adalah kerugian, kecelakaan. Di dalam realitas jagat raya ini, ada dua oknum yang bertentangan sifatnya: yang pertama, Allah yang baik; yang kedua, kuasa kegelapan yang jahat. Tetapi masalahnya adalah selama ini kita sungguh-sungguh berurusan dengan siapa? Banyak orang memang tidak mau berurusan dengan setan atau kuasa kegelapan karena tahu setan itu jahat, tetapi juga tidak sungguh-sungguh mau berurusan dengan Allah. 
    Orang yang 100% mau berurusan dengan Allah, hanya sedikit. Sebab Tuhan itu tidak kelihatan, bahkan kadang-kadang seperti tidak ada. Sementara setan dapat tampil dalam berbagai bentuk, dalam berbagai wujud, dalam berbagai manifestasi, sehingga tidak dikenali sebagai setan. Sehingga banyak orang yang sebenarnya berurusan dengan setan, atau berurusan dengan setan secara setengah-setengah, dan tidak berurusan dengan Tuhan secara penuh. Tuhan sangat lembut. Jika Tuhan menegur, Tuhan menegur dalam kelembutan. Terkesan sebagai Allah yang diam (The silent God); bukan Allah yang tidak bergerak apa-apa, tetapi seakan-akan Allah itu tidak ada. 
    Kalau kita mau berurusan dengan Tuhan, kita harus berurusan secara serius, sungguh-sungguh, karena Tuhan tidak mau setengah-setengah. Dan kita harus cerdas untuk dapat melihat manifestasi atau penyataan-pernyataan kuasa kegelapan dalam berbagai bentuk. Itulah sebabnya, dibutuhkan gereja yang mimbarnya harus menjadi suara Tuhan yang memberitahu kepada jemaat bahaya-bahaya yang dapat membuat jemaat celaka atau terhilang. Jadi, ingat kedua hal ini: 
    Yang pertama, ada dua oknum; Tuhan yang Maha Baik, dan setan yang maha jahat. 
    Keuntungan dan kebaikan yang kita peroleh dari Tuhan itu bukan hanya kita nikmati dan kita terima dalam kehidupan kita pada waktu di bumi, melainkan terutama nanti di kehidupan yang akan datang, di kekekalan. Justru itu yang penting. Namun, banyak orang yang tidak tahu jalan hidupnya. Usahanya maju, berkembang terus, tetapi hidupnya hanyut, tenggelam, sibuk dengan urusan demi urusan. Apalagi kalau sudah menjadi konglomerat, sibuk sekali. Tetapi ketika mati, dia tidak membawa apa-apa. Malang sekali. 
    Memang mereka bukan orang jahat, bisa juga orang baik, tetapi tidak berurusan secara benar dengan Tuhan. Mungkin ke gereja juga, kalau dia Kristen, bisa juga dia menyumbang, memberi uang ke gereja, memberikan perpuluhan. Bahkan bisa jadi mereka adalah aktivis. Sejatinya, orang-orang seperti ini kasihan, sebab biasanya mereka tidak bisa diingatkan lagi karena sudah percaya diri. Dan mereka juga sangat terhormat. 
    Dunia kita hanya satu; yaitu, Tuhan. Artinya kita harus bekerja baik-baik, harus bekerja. Kalau tidak bekerja, Tuhan tidak berkenan. Malas itu dosa. Makan juga harus diperhatikan, apa yang kita makan. Tidak memiliki kebencian terhadap orang, jujur sejujur-jujurnya dan mengalah dengan tulus. Roh Kudus pasti akan tolong setiap kita. Hadiri atau ikuti jam-jam kebaktian, bangun pagi, berdoa. Inilah bukti bahwa kita menjadikan Tuhan satu-satunya dunia kita. Namun nanti, kita mungkin akan dimusuhi orang, sebab setan akan menggerakkan orang memusuhi kita dan Tuhan mengizinkan itu. Supaya kita belajar mengasihi musuh, mengasihi orang-orang yang membenci kita. Dan kita akan melihat pembelaan Tuhan, supaya bisa melihat kemuliaan Tuhan. 
    Yang kedua, ubah hidup kita sekarang.
    Jangan nanti, apalagi menunggu di pengadilan Tuhan, terlambat sudah. Bersyukur dengan apa yang ada, tidak takut menghadapi bahaya, makin yakin bahwa Allah itu nyata, tidak takut menghadapi kematian. Dan ini perlu proses, yang dimulai di rumah, di tempat kerja, dalam perjalanan hidup kita masing-masing. Lakukan apa yang Tuhan perintahkan, ini obat. Jiwa kita sembuh, karena kita menyenangkan Tuhan. Sementara itu, Iblis memberi ‘obat’ lewat mulut banyak orang,
    9 min
  • Kecanduan Tuhan
    Tuhan berkata, “Keluarlah kamu dari antara mereka. Jangan menjamah apa yang najis, kuduslah kamu sebab Aku kudus,” berarti kita tidak bisa menghampiri Tuhan tanpa kekudusan standar Allah, bukan standar kita. Dalam Matius 7:21 pun dikatakan, “Bukan orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga.” Melakukan kehendak Bapa, bukan hanya sulit, melainkan juga abstrak. Kalau agama pada umumnya, mereka hanya dituntut untuk melakukan hukum. Mereka mengerti dengan jelas apa itu menghormati orang tua, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri. Makanya Paulus mengatakan dalam Filipi 3, “Ditinjau dari Taurat, aku tidak bercacat.” 
    Hukum kita bukan hanya pada kalimat-kalimat, tetapi pada perasaan Tuhan. Itu berarti kita harus bisa ‘membaca perasaan Tuhan.’ Dan itu bisa dilatih. Kalau kita mengundang Tuhan, menghadirkan-Nya dalam hidup kita, maka kita bisa belajar untuk mengerti kehendak-Nya.  Salah atau benar, bukan dari perspektif kita, tetapi dari perspektif-Nya. Namun, di balik pernyataan Tuhan Yesus itu, kita diberi peluang untuk menghampiri Bapa. Hal itu sungguh luar biasa. Kita berdoa agar kita bisa mengalami terobosan demi terobosan dalam kerohanian. Dan seiring dengan meningkatnya kekudusan kita, seiring dengan terlepasnya kita dari ikatan, kita akan semakin tembus. Ini prestasi kekal, prestasi abadi. 
    Menghadirkan Tuhan dalam rumah tangga membuat kita juga bisa menggarami anggota keluarga yang lain. Kalau seorang ayah pikirannya golf terus, maka atmosfer golf masuk di rumah itu. Orang tua yang kegilaan game, maka suasana game masuk di rumah. Namun, kalau orang tua ‘kecanduan’ Tuhan, maka suasana hadirat Allah pasti turun di dalam keluarga. Memang, hidup kita tidak lepas dari masalah. Namun, percayalah, semua masalah seberat apa pun, bisa diselesaikan. Tidak ada masalah yang tidak selesai. Namun, kalau orang sampai ke neraka, tidak ada jalan keluar.
    Maka, mari kita mau mengundang Tuhan hadir dalam hidup kita masing-masing, di dalam keluarga kita, agar semua tergarami. Bagaimanapun, kita tidak akan dipermalukan Tuhan. Tidak akan. Allah itu hidup, Allah itu nyata. Kita harus berani dengan tekun memperkarakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kalau seorang yang datang dari luar negeri bisa membuat rumah kita jadi berubah suasananya demi dia yang sudah menaruh kebaikan dan bisa memberi kebaikan lagi, Tuhan lebih dari itu. Dan kita mau mempersilakan Dia hadir di dalam hidup kita dan mengubah hidup kita. 
    Kita ingat kisah Lot, ketika dua utusan datang, tidak ada yang menyambut. Akan tetapi Lot menyambut mereka dan memaksa mereka untuk menginap di rumahnya. Orang-orang Sodom datang menggedor rumah Lot dan meminta kedua utusan itu untuk keluar karena mereka mau ‘memakai’ (baca: menyodomi) kedua utusan Allah itu. Benar-benar keji. Lot malah memberikan dua anak gadisnya guna mengganti kedua utusan tersebut. Dalam Kejadian 19:4-8 tertulis, “Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: ‘Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.’ Lalu keluarlah Lot menemui mereka, ke depan pintu, tetapi pintu ditutupnya di belakangnya, dan ia berkata: ‘Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku.’”  
    Lot luar biasa, ia membela tamunya dengan seluruh kekuatan dan miliknya. Pada akhir kisah, kita tahu bahwa kedua tamu ini menyelamatkan Lot dan anak-anaknya. Maka, jika kita mengundang Tuhan hadir dalam kehidupan ...
    8 min
  • Mengundang Tuhan Hadir
    Pernahkah kita mengalami atau paling tidak melihat satu kehidupan keluarga yang dalam waktu singkat berubah oleh karena hadirnya tamu? Kalau tamu itu seorang yang terhormat atau tamu itu dari luar negeri, maka satu kamar dikosongkan untuk tamu itu. Yang tadinya menjadi gudang atau tempat menyimpan barang-barang tertentu, sekarang dijadikan kamar untuk tamu tersebut. Kalau tamu itu dari luar negeri, maka keluarga mulai menyiapkan makanan-makanan yang bisa dinikmati oleh tamu yang tidak biasa makan masakan Indonesia. Kalau sang tamu tinggal satu bulan, situasi keluarga itu berubah. 
    Kalau tamu itu adalah seorang yang memiliki peran besar dalam hidup ekonomi keluarga, kita akan usahakan agar dia nyaman dan puas. Yang lain bisa diabaikan, bisa ditinggalkan demi tamu ini. Kalau tamu ini mengajak ngobrol sampai jauh malam bahkan sampai menjelang pagi pun, dilayani. Yang penting dia puas. Yang kemudian ketika tamu ini melihat keluarga ini bisa dipercaya, dari modal puluhan juta, bisa dipercayakan modal beberapa miliar; dari beberapa puluh miliar, bisa dipercayai untuk menerima ratusan miliar. Pertanyaannya, pernahkah kita mengundang Yesus hidup dalam keluarga kita, dan dalam hidup kita secara pribadi? Dan membiarkan Tuhan mengubah gaya hidup keluarga dan kita sendiri? 
    Yang pasti, Tuhan bisa memberi lebih banyak dari siapa pun dan apa pun, dan sudah memberi lebih banyak dari siapa pun dan apa pun. Apakah kita hanya menemui Tuhan di gereja, lalu setelah itu kita tidak pernah mau berurusan dengan Dia? Atau menemui Tuhan hanya 1-2 jam, setelah itu kita tidak memberi ruang hidup kita untuk Tuhan. Apakah kita memperlakukan Tuhan seperti itu dalam hidup kita? Di dalam rumah hidup kita masing-masing, rumah diri kita ini. Sebab, Dia mendiami tubuh kita sebagai bait-Nya (1Kor. 3:16; 1Kor. 6:19-20). Seberapa luas ruangan hidup yang benar-benar kita sediakan untuk Dia? 
    Kalau kita membangun hubungan dengan seseorang yang akan menjadi teman hidup, maka kita akan berbuat apa pun demi menyenangkan dia dan bisa memperoleh dia, dan bisa membuat ia bahagia di samping kita. Kalau dia tidak suka jenis makanan tertentu, kita tidak akan pernah membawanya ke restoran itu. Kelihatannya sederhana. Tetapi apakah kita memperlakukan Tuhan seperti ini? Dia berperasaan. Dia bisa didukakan, tetapi Dia juga bisa disenangkan. Berarti kita harus memperlakukan Tuhan secara nyata sebagai Pribadi yang berperasaan. Ia bisa merasakan atau merespons tindakan kita. Ia bisa bereaksi terhadap tindakan kita dan merasakannya. 
    Kalau Tuhan memiliki pikiran, Ia memiliki pertimbangan. Dia merancang apa yang kita harus lakukan. Tentu apa yang Dia rancang demi kebaikan kita, yang nanti akhirnya akan membuat kita dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Masalahnya, apakah kita serius mempertimbangkan perasaan Tuhan? Memperlakukan Tuhan sebagai Pribadi yang hidup? Allah Bapa bertakhta di surga, tetapi Roh-Nya memenuhi jagat raya. Kalau Allah itu Maha Hadir, mestinya kita bisa berinteraksi dengan Dia secara konkret, riil. Tetapi faktanya, betapa sulit. Kita mau menerobos agar bisa merasakan kehadiran Tuhan. Kita melakukan terobosan demi terobosan. Kalau kita berdoa, kita mencoba menghayati Tuhan. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, pasti akan tembus. 
    Sampai kalau nanti seseorang berdoa, ada dialog antara orang itu dengan Tuhan. Para teolog dan mereka yang belajar di Sekolah Tinggi Teologi, pasti cakap berdoa dengan bahasa dan kalimat doa. Tetapi berdoa dengan mengucapkan kalimat doa, itu berbeda. Doa itu sebuah dialog, ada perjumpaan antara Tuhan dengan kita. Perjumpaan dua pribadi. Maka kita tidak boleh merasa puas dengan level yang telah kita capai. Kalau seseorang sungguh-sungguh berinteraksi dengan Allah, maka bobotnya itu berbeda dengan orang yang tidak berinteraksi. Hamba Tuhan yang berinteraksi, waktu berdoa, pimpin doa, menyanyi, berkhotbah, apinya tidak bisa sama dengan mereka yang tidak memiliki kehidupan berinteraksi dengan Allah.
    9 min
  • Sensitif terhadap Dosa
    Kalau kita tidak siap meninggal dunia berarti kita belum merespons realitas pengadilan Tuhan dengan benar. Maka berbeda dengan orang yang berjaga-jaga, serius memperhatikan neraca hidupnya setiap hari, ia pasti siap dan bersukacita karena ia telah menabur. Tentu kita tidak ingin mati muda lalu meninggal dalam waktu singkat, karena kita mau bekerja dan berbuah sebanyak-banyaknya untuk pekerjaan Tuhan. Tetapi kalaupun kita harus meninggal dan menghadap takhta pengadilan Tuhan, kita telah menabur dengan kehidupan yang menyenangkan Tuhan setiap hari. Kalau kita berbuat dosa, kita minta ampun, kita memperbarui diri. Kita harus serius memperhatikan neraca hidup kita setiap hari. Sebelum neraca akhir hidup kita dibuka, kita sudah harus membereskan hidup kita dari satu neraca ke neraca berikutnya. 
    Dan kalau kita melihat neraca hidup kita buruk, segera kita perbaiki. Dan itu harus menjadi kegiatan hidup tetap, kegiatan rutin, sehingga tidak ada dosa yang terlewatkan yang masih melekat di dalam diri kita. Supaya kalau kita menghadap takhta pengadilan Tuhan, kita siap, dan kita telah menabur pelayanan; yaitu menolong sesama, memperhatikan orang miskin, menyelamatkan orang-orang yang di dalam kesulitan dan membawanya ke Kerajaan Surga. Dan mestinya apa pun masalah yang kita hadapi—kesulitan, pergumulan, persoalan dan segala kebutuhannya—tidak mengganggu usaha kita untuk melihat neraca hidup kita setiap hari. Masalah rumah tangga, masalah ekonomi, masalah apa pun, mestinya tidak merusak perhatian kita untuk memperhatikan keadaan neraca hidup kita di hadapan Tuhan. 
    Namun, kalau kita sudah menganggap hal ada di pengadilan Tuhan itu perkara sepele, maka kita akan mengorbankan itu untuk perkara-perkara fana; ibarat Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkok makanan. Bayangkan perasaan Tuhan, betapa gelisah-Nya Ia memperhatikan kita. Tuhan Yesus sudah mati di kayu salib menebus dosa kita. Kita ditebus, dan itu bukan hanya supaya kita bebas dari dosa-dosa yang sudah kita lakukan, tetapi juga supaya kita benar-benar berkeadaan menjadi orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Seperti penjara, kita dulu di dalam penjara. Tuhan Yesus membongkar pintu penjara. Kita bukan hanya menerima anugerah pintu penjara terbuka, tetapi kita juga harus melangkah keluar dari penjara itu. Tuhan bukan hanya menyediakan pengampunan dosa atas semua perbuatan dosa kita, melainkan Tuhan juga membebaskan diri kita dari kodrat dosa supaya kita berkenan. 
    Kita harus serius memeriksa hidup kita, supaya jangan ada niat, kodrat dosa yang tersisa di dalam diri kita. Sebab, ternyata dosa yang mendatangkan maut itu adalah kodrat dosa yang tidak diselesaikan. Kalau dosa-dosa yang kita lakukan, diampuni Tuhan dengan darah Yesus yang menghapus, tetapi kodrat dosa kita harus dihapus dengan firman. Yohanes 17:17 mengatakan, “Kuduskan mereka dalam kebenaran. Firman-Mu adalah kebenaran.” Bagaimana sifat dosa kita diganti dengan sifat Allah. Kita harus membawa keadaan kita itu di hadapan Tuhan, karena di Kerajaan Surga tidak ada lagi pemberontak. Tidak ada lagi orang-orang yang berbuat apa yang tidak sesuai kehendak Allah. 
    Juga setiap potensi dosa yang ada dalam diri kita, harus diganti oleh sifat-sifat Allah. Jadi, kita kenali diri kita dengan benar. Kita bawa neraca batin kita di hadapan Tuhan. Maka, setiap hari kita harus punya waktu bertemu Tuhan, sebab tidak mungkin Tuhan tidak berbicara. Kekudusan Tuhan akan membuat kita sensitif terhadap dosa. Yang akhirnya kita menjadi anti dosa. Kalau kita rajin setiap hari ada di hadapan Tuhan, kita baru merasakan resistensi itu. Bukan tidak mau berbuat dosa, melainkan tidak bisa berbuat dosa. Dan kita mengenali diri kita. Kalau masih ada dosa, kita tahu. Ada umpan-umpan yang dibiarkan Tuhan untuk bisa kita nikmati. 
    Kita harus menjadi kurban yang disembelih di atas mezbah. Sehingga jangan sampai kita merobek kekudusan. Yang harus kita robek adalah dosa. Kapan kita merobek dosa?
    9 min
  • Bukan Sesuatu yang Dahsyat
    Wahyu 20:11-15, “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.”
    Kitab Wahyu mencatat suatu penglihatan yang akan terjadi atau pasti akan berlangsung suatu hari nanti, yaitu semua orang akan berdiri di hadapan takhta untuk menerima apa yang patut diterimanya. Ini bukan fiksi atau fantasi, melainkan realitas yang akan dihadapi oleh setiap orang, setiap kita. Semua orang atau hampir semua orang tahu, terutama orang-orang beragama, bahwa setiap orang harus menghadap takhta pengadilan Tuhan. Pasti. Tetapi ironis, mereka tidak memberikan respons yang benar terhadap realitas yang akan dihadapinya. 
    Sama seperti anak-anak yang nakal, yang tidak bertanggung jawab. Orang tua, dari perjalanan hidup, mengerti. Karenanya orang tua menasihati anak-anak untuk sekolah dengan baik, bergaul dengan baik, hati-hati dalam pergaulan. Anak-anak dinasihati untuk fokus belajar, demi masa depan. Kalau tidak lulus, tidak memiliki keahlian, hidup nanti akan susah, dipermalukan. Tetapi banyak anak yang tidak mau mengerti. Mereka menganggap sepele nasihat orang tua. Ketika mereka sudah menjadi tua, lalu mereka terpenjara di dalam kebodohan dan kemiskinan, di mana mereka tidak bisa keluar dari keadaan itu, barulah mereka menyesal.
    Namun, apa pun yang terjadi di bumi ini, masih bersifat temporal atau sementara. Betapa mengerikan kalau seseorang sudah ada di hadapan takhta pengadilan Allah. Sebab yang dihadapi itu nasib kekal, keadaan kekal yang hari ini hampir semua orang menganggap sepele. Apa pun bentuk kegagalan yang dialami seseorang di dunia ini, masih bukan sesuatu yang dahsyat. Masih bisa ditanggulangi dan pasti akan berakhir. Tetapi kalau namanya sudah tidak tertulis di dalam kitab kehidupan, maka ia akan dilemparkan ke dalam lautan api, terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Betapa mengerikan! Ironisnya lagi, tidak banyak gereja yang menyuarakan dengan tegas, jelas, dan keras akan hal ini. 
    Jemaat mendapatkan kesan bahwa ke surga itu tidak terlalu sulit. Dikesankan bahwa kalau orang sudah ke gereja, mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, pasti nanti masuk surga. Jadi, tidak heran kalau di pemakaman, di rumah duka, di kebaktian penghiburan, pendeta begitu mudah mengatakan bahwa almarhum atau almarhumah sudah ada di surga, di sisi Tuhan. Ini sembarangan. 
    2 Korintus 5:9, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”
    Ada neraca kehidupan yang pasti nanti harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadi, sebenarnya hidup ini tidak gratis. Dan banyak orang telah menjadi sesat dan berpikir bahwa hidup ini gratis. Dia bebas berbuat apa saja dan aman-aman saja, berakhir di kuburan, lalu entah nanti bagaimana. Mereka adalah orang yang tidak berakal. Tidak ada yang bisa lolos dari ketepatan pengadilan itu. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Tidak ada yang bisa disuap. Dan betapa mengerikan keadaan itu. 
    7 min
  • Bertindak Presisi
    Ada banyak media yang Tuhan izinkan kita alami, yang di situ Tuhan memberi kesempatan untuk menyenangkan Dia. Kita harus memiliki perasaan krisis, waspada dan berjaga, kalau suatu saat kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, di hadapan terang kekudusan-Nya, kita didapati bahwa kita telah melakukan apa yang presisi, yang tepat seperti yang Allah kehendaki. Jika kita tidak serius memperkarakan ini, berarti kita tidak siap menjadi manusia. Dan pasti akan akan dihabisi, dibuang; jadi sampah. Maka, betapa bernilainya waktu yang Tuhan berikan selama 70, 80, 100 tahun umur hidup manusia. Betapa berharganya setiap hari yang Tuhan berikan, setiap kesempatan yang ada di dalamnya untuk menyenangkan Dia. 
    Jangan sia-siakan! Jangan berpikir masih ada kesempatan nanti untuk menjadi orang baik, menjadi orang suci. Kalau kita tidak membiasakan diri mulai sekarang, kita tidak akan pernah punya irama menyenangkan Tuhan. Tidak pernah bisa mengubah dari antroposentris ke teosentris, karena itu perlu waktu. Jangan anggap remeh. Jadi ketika kita ada di dalam kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan untuk memilih menyenangkan Tuhan atau menyenangkan diri sendiri, kita memilih menyenangkan Tuhan. Mari kita membangun dan membentuk diri untuk menyenangkan Tuhan. Sampai kita terkondisi menjadi manusia yang teosentris. Ini tidak bisa dipelajari di mana pun. Ini harus kita pelajari lewat perjalanan hidup masing-masing individu. Dan yang bisa mengajar hal ini hanya Roh Kudus yang pasti berbicara kepada kita.
    Kalau hanya menyangkut hukum, kita tidak membutuhkan Roh Kudus. Agama mana pun mengajarkan membunuh itu dosa, tidak menghormati orang tua itu salah, berzina, mencuri itu tidak beradab. Namun, kalau ketepatan bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, harus dipimpin Roh Kudus. Tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, menghormati orang tua, tentu hal-hal itu berkenan di hadapan Allah, tetapi tidak cukup membuat puas hati Tuhan. Yang dapat membuat puas hati Allah, kalau tindakan kita presisi sesuai pikiran dan perasaan-Nya. Jadi memang semakin pelik masalah kita—yang sesuai pikiran dan perasaan Allah—semakin menyenangkan hati Tuhan. Kalau kita bisa mengampuni orang yang hanya membuang muka, itu belum sebanding dengan kalau kita bisa mengampuni orang yang meludahi muka. Di sinilah kelas orang-orang saleh yang berkenan di hadapan Tuhan, bukan kelas orang beragama saja. 
    Dalam segala hal kita harus presisi sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Hal sederhana, hal-hal yang dianggap sepele, tetapi tidak menjadi sederhana dan sepele karena kita mengaitkan dengan perasaan Allah. Itulah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus Kristus, di Matius 5:48, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga.” Ingat, pada waktu Yesus mengatakan itu, Tuhan sedang membedakan antara hukum Taurat atau hukum yang diajarkan kepada manusia pada umumnya, hukum yang ada di agama-agama samawi. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, tetapi Tuhan mengatakan, “Kasihi musuhmu.” 
    Tuhan memiliki hukum yang tidak bisa diungkapkan oleh kalimat hukum, karena sifatnya batiniah. Berzina itu bukan hanya melakukan hubungan seks di luar nikah dengan orang yang bukan pasangannya. Namun, ketika kita melihat lawan jenis, dan kita mengingininya, kita sudah berzina. Membunuh berarti menghabisi nyawa orang, tetapi Tuhan mengajarkan, “Ketika kamu membenci, kamu adalah seorang pembunuh.” Tidak ada hukum yang bisa mengurai masalah batin ini. Ya, memang abstrak, tetapi tidak menjadi abstrak kalau Roh Kudus menuntun kita dalam kehidupan konkret yang kita hadapi, dalam dinamika kehidupan yang kita jalani. 
    Sebenarnya di situlah orang bisa merasakan kehadiran Allah. Bukan hanya pada waktu berdoa atau beribadah di gereja. Namun, ketika kita menjalani hidup dan menghadapi berbagai kasus, kejadian, peristiwa–kairos atau momentum—yang menjadi media untuk kita menyenangkan Tuhan atau menyenangkan diri sendiri, di situ kita bisa membuktikan kehadiran Allah. 
    9 min
  • Menyenangkan Diri Sendiri
    Kita harus selalu waspada, dan sesuai firman Tuhan, selalu bersikap berjaga-jaga atau memiliki perasaan krisis. Krisis yang positif, krisis yang kudus, bahwa jika kita menghadap Tuhan, benar-benar kita telah memenuhi dua hal. Yang pertama, hidup yang berkenan kepada Tuhan. Tidak menyakiti hati Tuhan, tidak melukai hati Tuhan, tetapi menyenangkan dia, menyukakan hati Tuhan. Tuhan tidak membutuhkan hiburan apa pun dan Tuhan tidak bisa disenangkan apa pun, lebih dari kehidupan manusia yang memiliki kehendak bebas dan mengarahkan kehendak bebas tersebut untuk melakukan apa yang menyenangkan hati-Nya. Itulah sukacita Allah, Bapa kita. Itu sukacita Tuhan Yesus.
    Setiap hari ada media, dan momentum untuk kita bisa menyenangkan hati Tuhan dalam segala kejadian, peristiwa, atau keadaan yang kita alami. Tergantung kita, apakah kita menjadikan media itu kairos atau momentum untuk menyenangkan diri kita, atau menyenangkan hati Tuhan. Bagi orang dewasa rohani, ketika kita bisa menyenangkan Tuhan, itu berarti menyenangkan diri sendiri. Namun, kalau orang belum dewasa rohani, menyenangkan Tuhan itu tidak menyenangkan diri. Orang yang belum dewasa rohani lebih suka untuk menyenangkan diri sendiri; tidak peduli apakah orang lain di sekitarnya merugi atau dilukai. Tidak peduli. Bahkan dia juga tidak peduli perasaan Allah.  Keadaan seperti ini kalau dibiarkan terus-menerus, akan menjadi karakter, sehingga orang-orang seperti itu sampai tua, hidupnya egosentris, antroposentris; berpusat pada diri sendiri, tidak mampu berpusat pada Allah. 
    Yang kedua, setiap kita harus menemukan apa yang Tuhan kehendaki untuk melakukan pekerjaan Tuhan atau memenuhi rencana Tuhan. Setiap orang pasti istimewa di mata Allah, bukan hanya karena jiwanya kekal—yang oleh karenanya Allah Bapa memberikan putra tunggal-Nya, Tuhan kita, Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita—melainkan juga karena kita adalah makhluk yang bisa menyenangkan hati Allah. Seindah apa pun ciptaan Allah yang lain, tidak ada artinya dibanding dengan entitas yang disebut manusia yang diberi kemampuan Tuhan untuk dengan kehendak bebas memilih melakukan apa yang Tuhan kehendaki sehingga menyenangkan Dia. 
    Istimewanya setiap individu terbukti dengan Allah melibatkannya di dalam pekerjaan-Nya, di dalam rencana-Nya. Ada maksud tujuan ilahi atas setiap individu atau divine purpose. Maka, setiap orang harus menemukan apa rencana Allah di dalam hidupnya. Tentu ini adalah level yang tinggi. Kalau seseorang belum bisa menggunakan atau memanfaatkan media yang Tuhan berikan setiap hari—yaitu untuk menyenangkan Dia—tidak mungkin mata hatinya tercelik untuk menemukan apa rencana Allah di dalam hidup orang itu. 
    Kerusakan di dalam kehidupan pelayanan, banyak orang yang belum menggunakan kesempatan atau media dalam hidupnya setiap hari untuk menyenangkan hati Allah, tetapi sudah melayani “pekerjaan Tuhan”; melakukan kegiatan pelayanan di gereja. Tentu modalnya adalah gelar kesarjanaan, pengetahuan tentang Tuhan atau teologi, kecakapan teknik berkhotbah, teknik konseling, dan lain-lain. Bukan berarti ini salah, tetapi tanpa disadari, terjadi penyimpangan. Mestinya yang prinsip adalah setiap kita harus bisa memanfaatkan setiap momentum, setiap kairos, setiap kesempatan untuk menyenangkan hati Tuhan. 
    Ketika di kantor, kita diperlakukan tidak adil atau ditindas oleh pimpinan, itu adalah media. Bagaimana reaksi kita terhadap atasan yang menindas? Bagaimana reaksi kita terhadap rekan kerja yang mau menjatuhkan? Bagaimana reaksi kita terhadap teman sekantor yang berkhianat, yang cemburu, iri terhadap posisi kita lalu ia memfitnah? Semua itu adalah media untuk pertumbuhan rohani kita. Kalau kita dewasa, kita menyenangkan Tuhan dengan hidup di dalam kesucian, dan itu membahagiakan. Namun, kalau kita tidak dewasa, kita akan memuaskan diri, tidak peduli apakah orang lain dilukai—bahkan pasangan hidup kita sendiri—dan melukai Tuhan. Banyak media yang Tuhan sediakan.
    9 min
  • Sengaja Mencintai
    Sejujurnya, kita masih suka tidak stabil; lagi mau ke gereja, pergi; lagi tidak mau, tidak pergi. Lagi niat berdoa, berdoa; tidak niat, juga tidak berdoa. Jangan sampai nanti ketika menghadap Tuhan, ternyata kita telah menolak cinta Tuhan, karena kita seperti domba yang lebih tertarik suara orang asing, bukan Gembala. Mencintai Tuhan harus dengan sengaja kita lakukan, bukan sekadar permainan perasaan. Dan ini menyangkut seluruh gerak kehidupan kita. Belajar mengasihi orang, jangan terikat dengan dunia, jangan terikat dengan konten gadget yang tidak membangun iman. Kita tidak akan menjadi rohani. Dan nanti ketika kita mendengar khotbah sebagus apa pun, kita tidak akan tersentuh. Karena kita punya pikiran dan perasaan biasa disentuh oleh yang lain, bukan oleh Tuhan. 
    Jadi, menggores cinta kita kepada Tuhan itu bukan hanya sesaat dengan membuat frekuensi cinta, tetapi harus ada tindakan konkret untuk menunjukkan cinta itu. Kita harus berkomitmen untuk menutup hati terhadap siapa pun dan apa pun. Jangan sampai Tuhan bertepuk sebelah tangan. Kita membaca dalam Alklitab, bagaimana Abraham atau Daud bergaul dengan Allah, dan terutama Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, Anak Allah, yang bergaul karib dengan Bapa-Nya, “Bapa tinggal di dalam Aku, Aku dalam Bapa.” Masalahnya, bagaimana hal itu bisa kita alami juga? Bagaimana menghidupkan Tuhan yang memang hidup itu di dalam hidup kita? Harus ada interaksi, yaitu kita bisa mencurahkan cinta kita kepada Tuhan, dan Dia juga merasakannya. 
    Mari kita sedang berjuang untuk menyelamatkan diri kita dari pengaruh dunia. Tentu Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita dengan mati di kayu salib. Tetapi apakah kita mau keluar dari penjara dosa, penjara kedagingan, penjara nafsu, penjara kodrat dosa kita? Dulu pintu itu dikunci, tetapi Tuhan yang membongkar kunci dan sekarang pintu penjara itu terbuka. Apakah kita mau keluar atau masih ada di dalamnya? Tangan Tuhan terulur, dan Tuhan tidak paksa kita keluar. Firman Tuhan mengatakan, “Yesus telah memerdekakan kamu. Hendaklah kamu hidup di dalam kemerdekaan.” 
    Kalau kita masih gampang tersinggung, masih mudah tersulut marah, masih hidup dalam penipuan, perzinaan, materialistis, berarti kita masih di dalam penjara dan tidak layak masuk ke dalam Rumah Bapa. Sebab, Yerusalem Baru hanya dihuni oleh orang yang tidak bercacat tidak bercela. Suasana dunia kita ini jahat sekali. Kalau kita tidak punya komitmen yang kuat, kita akan terbawa oleh arus dunia. Jangan anggap semua sudah baik-baik saja. Makanya pendeta sendiri harus berjuang. Kita harus berubah. Gores hati kita untuk mencintai Tuhan. Bukan hanya punya sekadar niat sesaat, tetapi kita benar-benar memiliki komitmen, tekad untuk menggores hati kita dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari. 
    Apa hebatnya hidup ini? Hidup ini tragis. Hanya ada satu jawabannya: Rumah Bapa. Maka, jangan sampai nanti di kekekalan, kita tidak diperkenan masuk Kerajaan Surga. Kepada setiap orang, Tuhan berkata: “Aku mati untukmu.” Maka, kita pun juga harus berani berkata, “Apa pun kulakukan demi keselamatanku dan sesama.” Namun, kalau kita belum bisa mengasihi diri sendiri dengan benar, bagaimana bisa mengasihi sesama? Karena firman Tuhan mengatakan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” 
    Cara kita mengasihi diri sendiri, adalah cara yang harus kita berikan untuk orang lain. Bagaimana mencintai diri sendiri dengan baik? Keluar dari dosa dan jangan menyentuh apa yang najis. Jangan main-main dengan kehidupan ini. Tuhan seperti diam hari ini. Karena kita sudah diingatkan lewat hamba Tuhan, pendeta, dan peristiwa-peristiwa hidup. Mestinya kita tahu. Yang suatu hari nanti, kita tidak akan bisa mengelak. Kita tidak bisa berkata, “Saya tidak tahu,” tidak bisa. Mari kita minta Tuhan memperbarui hati kita.
    Berkaryalah untuk Tuhan, tetapi, selamatkan diri kita dulu. Bereskan diri kita dahulu. Kalau kita sungguh-sungguh berusaha untuk didapati Tuhan tak ...
    8 min
  • Lewat Perjuangan
    Semakin kita mengenal kebenaran, semakin kita menghayati kehidupan, maka semakin terasa bahwa pelayanan pekerjaan Tuhan itu sangat berat. Beratnya bukan terletak pada kegiatan organisasi, masalah kebutuhan, keuangan, dan berbagai masalah teknis, melainkan pada tanggung jawab. Karena kita semakin bisa menghayati betapa dahsyatnya keadaan orang yang terpisah dari Allah. Apalagi dunia kita hari ini semakin tidak memedulikan Allah. Dari kanak-kanak, sajian konten di media sosial menyampaikan pesan yang secara implisit tidak disadari, yaitu: “Allah tidak ada, Allah tidak perlu ada.” Bukan Tuhan yang meninggalkan manusia, melainkan manusia yang meninggalkan Tuhan. Dan itu tragis. Dunia yang tidak menghayati kehadiran Allah, yang tidak memedulikan Tuhan, sehingga mereka juga tidak mempersoalkan kengerian, kedahsyatan kengerian terpisah dari Allah. Dan juga tidak memikirkan kedahsyatan, kemuliaan di dalam Rumah Bapa. 
    Ibarat domba, dunia—termasuk orang Kristen—sudah semakin tercerai-berai, semakin liar. Tidak bisa diarahkan untuk menuju satu tujuan yang benar. Domba yang baik adalah domba yang mengikut ke mana Sang Gembala menuntun dan selalu dengar-dengaran suara gembalanya; Gembala Agung, yaitu Tuhan Yesus. Dalam Yohanes 10:4 tertulis, Jjika semua dombanya telah dibawa keluar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena sura orang-orang asing tidak mereka kenal.” 
    Ironis, makin banyak domba yang lari dari Gembala yang baik, lalu mengikuti orang asing. Dunia ini merupakan gambaran orang asing dengan prinsip-prinsip dan cara berpikir yang menyesatkan. Misalnya, harus punya uang banyak supaya bisa jalan-jalan, bisa punya fasilitas ini itu karena itulah kebahagiaan. Dan pada umumnya hampir semua orang begitu. Kondisi seperti ini sulit untuk membawa domba-domba itu ke arah yang benar. Apalagi kalau gembala kecil—hamba Tuhan atau pendeta—tidak memiliki arah perjalanan hidup yang benar. Tidak sedikit yang menjadikan pelayanan sebagai mata pencaharian dan untuk menikmati fasilitas. Kalaupun mereka membuat berbagai kegiatan, hal itu hanya untuk sebuah aktualisasi diri atau prestise. Mereka tidak serius untuk mengarahkan jemaat ke surga. 
    Mengemukakan hal ini kiranya menyadarkan kita betapa sulitnya masuk Kerajaan Surga. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 13:23-24, “Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: ‘Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?’ Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ‘Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.’” Di dunia yang semakin fasik, ada perasaan krisis apakah kita benar-benar sudah jadi manusia rohani, sudah benar-benar memiliki semacam sertifikat yang karenanya Tuhan berkata, “Aku kenal kamu.” Jangan sampai di hadapan Tuhan, kita dipermalukan. Yang berjuang sungguh-sungguh saja, tidak mudah. Apalagi kalau kita tidak berjuang. Kita tidak pernah rohani, karena kita hidup wajar seperti manusia lain. 
    Kita sudah deklarasikan dan terus kita mau mantapkan, ada di hadirat Tuhan 24 jam. Sehingga ketika kita mau berbuat sesuatu yang salah, kita takut. Kita mau bicara sesuatu yang akan merugikan seseorang yang tidak ada di situ, orang tidak dengar, kita takut. Kehidupan yang takut akan Allah, hidup di hadapan Tuhan itu harus dikembangkan terus. Namun, sedikit sekali orang yang benar-benar merindukan Tuhan, yang benar-benar hidup di hadirat Allah dan berjuang mematikan keinginan daging. Kita punya kesempatan berbuat dosa. Setiap hari ada peluang untuk memuaskan nafsu yang mana orang tidak lihat. Namun, karena kita mengembangkan hidup di hadirat Allah 24 jam setiap saat, kita takut. Ini bukan perjuangan yang mudah. 
    Belum lagi nanti Tuhan bicara, “Aku mau yang itu kamu lepaskan. Aku mau kamu buat ini,” kita lakukan. Berat,
    8 min
  • Menyengat Tuhan
    Semua bisa berkata, “Aku mau menyenangkan-Mu, Tuhan,” tetapi seberapa kita mau menyengat Tuhan? Ibarat keharuman, itu keharuman yang sangat kuat. Sejatinya, semua kita berpotensi untuk itu. Sebab ini bukan karunia melainkan hasil atau buah kehidupan dari langkah individu. Kita akan sangat menyesal ketika kita menutup mata dan menengok betapa singkatnya 70 tahun umur hidup kita dan kita melihat kekekalan. Betapa beruntungnya orang yang menjadi bunga harum yang menyengat di hadapan Allah. 
    Tuhan berkata, “Aku menguji batin.” Dan di balik pernyataan ini Tuhan mau berkata, “Aku bantu kamu untuk mengenali diri. Tapi ingat, cari Aku selama atau selagi Aku bisa ditemui.” Sebab kalau orang tidak memeriksa dirinya dengan benar, artinya dia hidup dalam perbuatan-perbuatan yang mendukakan hati Tuhan, maka lambat laun dia akan mendukakan Roh, lalu dia akan memadamkan Roh. Setelah memadamkan Roh, dia akan menghujat Roh. Artinya, tidak menghargai karya Roh Kudus di dalam dirinya, sehingga ia tidak bisa menerima pekerjaan Roh Kudus di dalam dirinya atau tidak bisa berkolaborasi dengan Roh Kudus. 
    Padahal kalau kita membiasakan diri berkolaborasi dengan Roh Kudus, kita akan punya kepekaan, yaitu mengerti apa yang Allah kehendaki. Sebaliknya, kalau kita menolak pekerjaan Roh Kudus, kita hidup sembarangan, maka kita menjadi buta. Ibarat rumah sakit, pendeta seharusnya berbicara mewakili Dokter di atas segala dokter. Dan pendeta menyampaikan resep yang harus jemaat tebus. Di mana kita menebus resep ini? Di rumah, di pergaulan, di pekerjaan, di perjalanan waktu. Bukan di apotik, melainkan di perjalanan hidup kita. Namun, kalau kita hanya mendengar, setuju, dan tidak melakukan, maka kita seperti terima resep dokter dan tidak menebusnya ke apotik. 
    Kita harus berambisi bagaimana mencapai puncak kesucian yang bisa kita capai sesuai dengan porsi dan bagian kita masing-masing. Bagaimana kita bisa mencapai puncak pengabdian, dan itu menyengat hati Tuhan karena kehidupan kita yang berkenan di hadapan Allah. Ini bukan karunia. Ini adalah kesempatan yang di dalamnya ada tanggung jawab. Dan jikalau kita menggunakan kesempatan ini dan memenuhi tanggung jawab ini, maka kita pasti akan mencapainya. Maka, jadikan Tuhan satu-satunya dunia kita. Pada akhirnya, kita pasti meninggal dunia. Tidak ada yang dapat kita bawa, tetapi kalau selagi hidup kita bersahabat dengan Allah semesta alam, kita berjalan bersama Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, menyenangkan hati Bapa, itu pasti menjadi bekal abadi. 
    Yeremia 17:9-10, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya.” Alkitab jelas mengatakan bahwa hati manusia itu licik. Kita bisa merasa rendah hati, padahal belum. Merasa sudah bekerja buat Tuhan, padahal ada agenda-agenda pribadi. Merasa mengasihi, padahal kita mau memanfaatkan orang. Kita mau menunjukkan pengabdian, padahal kita masih ingin kehormatan. Kalau kita membiarkannya, akhirnya hati kita jadi membatu. Kalau ibarat penyakit, sirosis; sudah tidak bisa disembuhkan
    Hari ini kita masih punya kesempatan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan sampai kita menutup mata di hadapan takhta pengadilan Tuhan, baru terbongkar keadaan kita yang sebenarnya. Sungguh penyesalan yang tak tergambarkan. Seperti yang tertulis di dalam Wahyu 2:23, kita bersyukur memiliki Tuhan yang menguji batin. Dia Hakim, sebab Dia akan memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Tuhan mau memeriksa batin kita, sebab keadaan batin kita menentukan langkah perbuatan kita. Dan langkah perbuatan kita harus kita pertanggungjawabkan. 
    Hal ini yang Tuhan mau, yaitu agar kita bisa memiliki kehidupan yang menyengat Tuhan. Hal itu pasti bisa kita lakukan. Maka, jangan mendengar suara daging,
    7 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…