Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Berkomunikasi dengan Sang Khalik
    Tanpa sadar, kita sering menganggap Tuhan sebagai pribadi yang tidak berperasaan. Kita tidak menghormati Dia secara pantas dan kita merasa aman-aman saja. Kita tidak punya koneksi komunikasi. Karena kita tidak punya sambungan dengan Allah, maka kita juga tidak pernah menikmati indahnya sambungan atau koneksi tersebut. Kita memerlukan Tuhan hanya pada waktu kita terjepit, kondisi sulit, saat kita tidak melihat secercah cahaya dalam menemukan jalan keluar. Sering Tuhan toleransi dalam keadaan itu, dan Tuhan memaklumi kebodohan orang-orang yang oportunis seperti ini. Namun, Tuhan tidak selalu toleransi. Tuhan memiliki integritas; lebih tepatnya, tatanan. Ada titik di mana Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu.” 
    Ada satu titik ketika Roh Kudus tidak akan menggarap seseorang, karena sudah sering mendukakan, lalu memadamkan, dan sampai tingkat menghujat. Artinya Roh Kudus sudah tidak bekerja, karena tidak bisa menggarap orang itu lagi. Orang itu tidak bisa diajak berkolaborasi. Kesucian itu sebenarnya kolaborasi antara kita dengan Roh Kudus. Kita tidak bisa mencapai kesucian dengan kekuatan sendiri. Namun, banyak orang tidak berkolaborasi dengan Roh Kudus, malah sibuk dengan banyak hal. Bukan salah jika kita sibuk. Kita harus berkarier, studi, dan mencari nafkah. Sibuk adalah bahasa kehidupan. Sibuk bisa menjadi isyarat bagi orang rajin, dan juga sebagai bukti orang yang tanggung jawab. 
    Namun, kalau sampai kita melupakan Tuhan sehingga kita tidak pernah mengenal koneksi dengan Allah, tidak pernah bersekutu, ber-fellowship secara pribadi, sejatinya kita terhilang. Kalau kita tidak memperhatikan peringatan ini, mungkin kita tidak akan pernah mendapat peringatan lagi. Allah memiliki integritas; Ia memiliki tatanan. Ia tidak bisa selalu didukakan, lalu diam. Dia bisa padam. Kalau sudah padam, Allah bisa berhenti menggarap kita. Allah hanya diwakili oleh Roh-Nya; Roh Kudus atau Roh Allah. Kalau sampai orang tidak menerima penggarapan Roh Kudus, tidak ada ‘perwakilan’ lain yang menggarap kita. 
    Allah menanti kita, pribadi lepas pribadi. Seperti yang dikisahkan di Lukas 15, anak bungsu itu sudah memberontak, tetapi ayahnya masih menunggu kepulangan anaknya. Namun, sejatinya yang lebih tragis dalam kisah tersebut adalah putusnya hubungan antara si sulung dengan Bapaknya. Ketika adiknya pulang, pesta diadakan. Si sulung tidak mau masuk rumah. Dia nyata-nyata unjuk rasa. Dia mempermalukan ayahnya. Walau mereka hidup di satu rumah, tetapi tidak ada rasa sepenanggungan dan seperasaan. Itu bukti daripada keterhilangan. Si bungsu hilang di luar kandang, tetapi ia kembali ke kandang. Si sulung hilang dalam kandang, dan mungkin tidak pernah pulang. 
    Jangan sampai kita sebagai orang Kristen, tetapi terhilang di dalam kandang. Tidak ada koneksi, sambungan dengan Allah. Salah satu buktinya adalah kita tidak sepenanggungan dengan Tuhan. Pernahkah kita menangisi jiwa yang terhilang? Pernahkah kita menghayati betapa berharganya satu jiwa? Ironis sekali kalau pendeta dalam kegiatan pelayanan memikirkan kemajuan gereja, kemajuan organisasi, dan juga sibuk mencari posisi dalam sinode, tetapi tidak mencintai jiwa seperti perasaan Allah. Tipis bedanya, antara untuk kepentingan Tuhan dengan agenda pribadi. 
    Kita memerlukan Tuhan agar kalau kita salah, Tuhan tegur dan ingatkan. Sebab kalau kita mendekat kepada Tuhan, kita pasti sadar bilamana ada dosa dan kesalahan di dalam diri kita. Kalau kita mendekat kepada Tuhan setiap hari, pasti ada impartasi, ada penularan spirit dari Tuhan ke kita. Dia hidup, Dia nyata. Kita menyengat Tuhan dengan kehidupan yang menyenangkan Dia. Maka, kita pasti akan diingat Tuhan. Namun, sering kita disengat oleh berbagai kesenangan, dari satu benda ke benda yang lain, dari satu merek mobil ke merek mobil lain, dari sejumlah uang dan sejumlah uang yang lain. Namun, pernahkah kita berpikir untuk menyengat Tuhan dengan kehidupan kita yang menyenangkan Dia? 
    Jangan jadi sampah abadi.
    10 min
  • Kemampuan Berkomunikasi
    Kita semua tahu bahwa manusia adalah makhluk yang benar-benar hebat, melebihi semua ciptaan Allah yang lain. Karena hanya makhluk manusia yang diberi Tuhan komponen seperti yang Allah sendiri miliki, yaitu pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan ini, manusia dapat menciptakan, memproduksi, membuahkan kehendak atau keinginan. Hewan hanya didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan fisik jasmani guna mempertahankan hidup. Ini yang luar biasa. Manusia memiliki kehendak yang bukan saja untuk memenuhi kebutuhan fisik atau kebutuhan jasmani, tetapi lebih dari itu. Manusia bisa mengeksplorasi semua yang Allah ciptakan guna meningkatkan kesejahteraan hidupnya, meningkatkan kualitas hidup secara fisik. Namun, itu belum sesuatu yang luar biasa, belum menjadi tujuan utama. 
    Ada satu hal penting yang kalau yang satu ini tidak dipenuhi, maka semua kemampuan yang dimiliki manusia menjadi sia-sia. Kemampuan itu adalah berkomunikasi dengan Penciptanya. Ini yang hebat. Hewan tidak akan pernah bisa berkomunikasi dengan Sang Khalik atau Penciptanya. Jadi kalau manusia yang diberi kemampuan untuk berkomunikasi dengan Penciptanya, tidak melakukan, betapa malang dan celakanya. Standar hidup manusia sudah begitu rusak, jauh dari standar yang Allah kehendaki. Namun, mereka merasa mereka ada sebagai manusia normal, yang beradab dan santun. 
    Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah, artinya kurang kemuliaan Allah. Manusia tidak bisa mengimbangi Allah, sehingga manusia tidak bisa berkomunikasi secara ideal dengan Allah. Di Perjanjian Lama kita menemukan tokoh-tokoh iman yang bisa dijadikan sahabat Tuhan, tetapi mereka bukanlah orang-orang atau manusia yang ideal sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia pada mulanya. Tentu Allah sangat bertoleransi terhadap tokoh-tokoh ini, walaupun mereka ada di bawah standar. Namun, Tuhan menghargai kelebihan yang mereka miliki. Misalnya, Abraham dengan tingkat percaya yang luar biasa, tetapi jika ditinjau dari standar moral kesucian umat Perjanjian Baru, Abraham tidak mencapainya. Abraham memiliki bukan saja dua wanita sebagai istri, melainkan juga gundik-gundik.
    Betapa hebat umat Perjanjian Baru yang hendak dikembalikan ke rancangan Allah semula atau diselamatkan, artinya dikembalikan ke rancangan semula supaya menemukan kembali atau meningkatkan kualitas hidup. Dari kurang kemuliaan Allah, menjadi manusia yang memiliki kemuliaan Allah. Ukuran kemuliaan Allah yang dimaksud Alkitab adalah moralitas kesucian yang standar Allah. Ini luar biasa. Makin kita mengerti kebenaran, kita makin melihat standar ini. Yang dulu kita tidak terlalu peduli. Selain kita tidak melihat contoh, kita sendiri jatuh bangun dan memiliki jejak rekam yang buruk, dan rasanya kita tidak pernah mengerti apa artinya sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Namun, bersyukur karena Tuhan menuntun kita, membimbing kita, dan mencerahi pikiran kita, sampai kita mengerti bahwa kesucian itu suatu keniscayaan, bukan dongeng, dan bisa kita capai. Jika kita tidak memperhatikan hal ini dan tidak berjuang, berarti kita gagal menjadi manusia. 
    Manusia standar Allah adalah Yesus Kristus. Dia adalah Pribadi yang dipenuhi oleh firman, dipenuhi oleh Allah, sehingga memiliki kodrat ilahi. Kita juga bisa mengalami dan mencapai apa yang dialami dan dicapai oleh Yesus. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Hendaknya kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus.” Kita bisa memiliki pikiran dan perasaan Kristus, bisa serupa dengan Dia. Kita bisa sempurna seperti Bapa. Roma 8:28-29 mengatakan bahwa kita bisa serupa dengan Yesus. Yesus sudah memulai sebagai yang sulung, dan Ia bisa menjalani serta mencapainya, maka kita juga bisa. 
    Tidak main-main kalau Tuhan Yesus Kristus berkata di Yohanes 17:20-21, “Engkau dalam Aku, Aku dalam Engkau, mereka di dalam Kita.” Yesus memiliki persekutuan dengan Bapa,
    10 min
  • Hidup dalam Penurutan
    Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” 
    Sebagian besar orang Kristen setuju, ayat ini dipahami bahwa kalau seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka dia menjadi anak-anak Allah. Hal ini sudah menjadi pengertian umum yang sudah final, yang mendarah daging dan merasuk di dalam jiwa hampir semua orang Kristen. Jadi, tidak heran kalau orang ke gereja atau menjadi Kristen, otomatis ia sudah mengaku sebagai anak Allah. Pertanyaannya, yakinkah kita kalau suatu hari ketika meninggal, kita diakui oleh Allah sebagai anak-anak-Nya? Coba kita perkarakan hal ini dengan serius. Apakah Allah mengakui kita adalah anak-anak-Nya? Jangan anggap remeh hal ini.
    Yesus berkata, “Berjuanglah masuk jalan sempit. Karena banyak orang berusaha masuk, tetapi tidak masuk.” Tuhan Yesus berkata ketika ada orang bertanya, “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Pernyataan Tuhan menunjukkan bahwa masuk surga itu tidak mudah. Setan yang membuat pikiran seseorang sesat, dengan asumsi bahwa masuk surga itu mudah. Karena seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu otomatis ia menjadi anak-anak Allah. Setelah menjadi anak-anak Allah, diakui oleh Allah sebagai anak-Nya karena menerima Yesus, lalu masuk surga. Jadi merasa memiliki privilege atau hak istimewa untuk masuk surga karena beragama Kristen. 
    Kita harus punya darah kehidupan Allah di dalam diri kita. Tidak ada jalan lain kecuali menyerap firman. “Firman” di sini adalah suara Tuhan yang menuntun seseorang sehingga memiliki gen-Nya Allah, menjadi teknon (anak) Allah. Tidak bisa terjadi atau berlangsung melalui sekolah teologi. Tidak cukup. Tidak bisa terjadi hanya karena rajin gereja, menjadi anggota gereja. Namun, kita harus dipimpin Roh Kudus. Roh Kudus akan melatih kita bagaimana menjadi anak-anak Allah. Tentu di dalam Alkitab, kita juga dapat menemukan jejak Allah; tindakan dan perbuatan Tuhan dalam hidup tokoh-tokoh iman, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di dalam sejarah ada perkataan-perkataan Tuhan untuk orang-orang pada zaman itu. 
    Tetapi, dari kisah sejarah dalam konteks pergumulan hidup tokoh tersebut, kita bisa mengekstrak pelajaran yang sangat berharga. Seperti misalnya kisah Abraham, Yusuf atau Daud; bagaimana Daud berdialog dengan Allah atau Musa berdialog dengan Allah. Di sini kita harus memiliki kecakapan dalam mengekstrak, menarik kebenaran, menyuling kebenaran dari setiap peristiwa-peristiwa itu. Juga apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Kalau Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya dalam Lukas 19:33-34, “Ketika mereka melepaskan keledai itu, berkatalah orang yang empunya keledai itu: “Mengapa kamu melepaskan keledai itu?” Kata mereka: “Tuhan memerlukannya.” Ini adalah ayat khusus. Kita tidak bisa menggunakan ayat itu ketika mengambil mobil seseorang di pinggir jalan dan berkata, “Tuhan memerlukannya.” Namun, kita bisa mengekstrak ayat tersebut bahwa kita harus menuruti apa yang diperintahkan-Nya tanpa bantah. 
    Tentu bagi setiap individu berbeda. Itulah sebabnya mengapa Roh Kudus dimeteraikan di dalam hidup kita, karena Roh Kudus yang akan menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Maka, ayat-ayat Alkitab menjadi hidup di dalam hidup kita, kalau Roh Kudus menghidupkannya. Masalahnya, dunia sudah menjadi rusak, Alkitab hanya dijadikan ilmu. Sehingga Roh Kudus tanpa disadari, disingkirkan. Maka, kita harus berteologi dengan benar. Teologi yang benar adalah perjumpaan dengan Tuhan. Perjalanan detik ke detik, menit ke menit, lewat persoalan-persoalan hidup dan pergumulannya, yaitu saat kita menemukan dinamika hidup berjalan dengan Tuhan, melalui atau di dalam Roh Kudus. 
    Misalnya, kasih itu apa? Tidak bisa dijelaskan. Namun, kita akan tahu, kalau kita mengalami. Seseorang disebut sebagai anak-anak Allah, kalau ia mengalami kepenuhan Allah. Karakter Allah,
    9 min
  • Menaklukkan Dunia
    Dunia kita hari ini adalah dunia yang semakin fasik dan jahat. Semakin fasik artinya semakin tidak takut akan Allah dan tidak peduli kehendak Allah; Allah juga seakan-akan dianggap tidak ada atau tidak hadir. Kalau kita pergi ke negara-negara yang kekristenannya telah menjadi bangkrut—artinya gereja-gereja menjadi sepi—kita temukan sedikit sekali orang yang mencari Tuhan dan berbakti. Kita bisa merasakan suasana ateis, suasana di mana orang-orang tidak memercayai adanya Allah. Suasana seperti itu ada di banyak negara, termasuk negara yang dulunya dikenal sebagai negara Kristen, bahkan mengirim misionaris atau zending ke Timur, ke Asia, juga ke Indonesia. 
    Hal itu juga terasa dalam lingkungan pergaulan hidup hari ini. Hal ini juga terasa dalam setiap sajian yang ada di gadget kita, yang juga dilihat anak-anak, yang mengisyaratkan seakan-akan tidak ada Tuhan, seakan-akan Allah tidak hadir atau dianggap tidak perlu ada. Di tengah suasana dunia seperti ini, kita harus meneguhkan hati untuk tetap memercayai Allah walaupun Allah tidak menyatakan diri secara spektakuler di dalam hidup kita. Orang-orang di sekitar kita mengisyaratkan seakan-akan Allah itu tidak perlu ada, tetapi kita tetap bertekad untuk mencari Tuhan, mencari hadirat Tuhan, belajar mengenai Tuhan yang terdapat di dalam firman-Nya.
    Jangan sampai kita dikalahkan oleh suasana dunia sekitar kita. Sebaliknya, kita yang harus menaklukkan dan mengalahkan dunia yang ateis ini. Dunia yang semakin tidak memercayai bahwa Allah itu ada. Beruntung kita hidup di Indonesia, yang sila pertama dari dasar negara Pancasila mengakui adanya Tuhan, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” maka tampak orang-orang masih melakukan kegiatan agamanya. Namun demikian, kenyataan yang kita jumpai walaupun mereka sebagian atau sebagian besar mencari Tuhan, seakan-akan beribadah, menunaikan agamanya, tetapi sering perbuatan dan sikapnya tidak menunjukkan Tuhan itu ada. 
    Di dunia kita yang sedemikian fasik, ateis ini, kita harus berintegritas tetap memercayai Allah. Di lingkungan keluarga besar, pekerjaan, pergaulan di mana kita tidak menangkap atmosfer orang-orang yang benar-benar memercayai Tuhan, maka kita harus menampilkan hidup yang berbeda. Kita berintegritas dalam memilih Tuhan dan tetap mencari Tuhan walaupun kita berjalan di jalan yang sepi, hanya sedikit orang yang ada di situ; namun kita mau sungguh-sungguh di situ. Tanpa melihat kanan kiri, tanpa menghakimi orang lain, kita menjadikan diri kita berkenan di hadapan Allah.  Kita perjuangkan diri kita layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Apa pun yang terjadi di sekitar kita—dalam rumah tangga, pekerjaan, bisnis, dan dalam setiap keadaan—kita tidak meragukan Allah, kita yakin Allah itu ada dan hidup. Ia layak dipercayai walaupun kadang-kadang seperti tidak ada, kadang-kadang seperti tidak hadir, tetapi kita memercayai Allah yang hidup.
    Doa dan pertemuan bersama merangsang kita untuk menghayati dan menghargai keberadaan Allah, apalagi puasa. Karenanya, tetaplah berintegritas, jangan serupa dengan dunia ini. Demikian dalam Roma 12:2 dikatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kita harus memiliki integritas untuk meyakini, memercayai Allah dan mengikut jejak Tuhan Yesus Kristus. Roh Kudus pasti akan menuntun kita.
    Mari kita menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya tujuan hidup dan satu-satunya dunia kita. Untuk itu, kita harus selalu berhubungan dan berinteraksi dengan Tuhan. Bukan hanya menjadikan Tuhan sebagai fantasi dan tumpukan doktrin di dalam pikiran kita, melainkan sebagai realitas yang kita alami, yang dengan-Nya kita berinteraksi secara nyata. Kita bukan hanya mendengar khotbah pendeta atau seminar-seminar rohani, atau membaca buku-buku rohani, melainkan kita mendengar langsung Roh Kudus berbicara.
    7 min
  • Jalan yang Sepi
    Mengikut Tuhan adalah jalan yang benar-benar sepi. Artinya, sangat sedikit orang yang mau ikut di jalan Tuhan. Seperti restoran yang tidak laku, tidak ada yang mau makan di sana, sepi. Jadi, kalau kita sekarang serius mencari Tuhan dalam doa bersama setiap pagi, doa pribadi, doa puasa, ibadah raya di hari Minggu, ibadah tengah minggu, dan kegiatan lain, ternyata tidak banyak orang yang ikut. Dari sekian puluh juta orang Kristen di Indonesia, baik yang di dalam maupun di luar negeri, berapa banyak yang ikut doa? Baik doa melalui Truth.id atau doa dengan hamba Tuhan lain melalui kanal yang berbeda. Berapa ribu? Kalau boleh jujur, mungkin sangat sedikit. 
    Berapa banyak orang yang tekun untuk belajar firman Tuhan? Tekun, artinya bukan sekadar mendengar, melainkan mau belajar dan mengerti rahasia firman Tuhan. Berapa banyak orang yang sungguh-sungguh mau hidup kudus sesuai dengan kekudusan dan kesucian Allah? Berapa banyak orang yang mau sungguh-sungguh mengikuti jejak Tuhan Yesus, benar-benar mau menghidupkan Yesus di dalam hidupnya hari ini, untuk benar-benar menjadi berkenan di hadapan Allah, menyenangkan hati Tuhan, menjadi anak kesukaan Tuhan? Tidak banyak. Bahkan sejujurnya, hampir tidak ada. 
    Kalau hanya orang Kristen yang datang—dan rajin—ke gereja, banyak sekali. Masih cukup banyak. Namun, yang benar-benar mau hidup kudus tak bercacat tak bercela, sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, yang mengenakan dan menghidupkan hidup Yesus di dalam dirinya, tentu jumlahnya tidak banyak. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Jalan yang sesak, jalan yang sempit, sedikit orang yang mau masuk dan berjalan di dalamnya. Sungguh, ini jalan yang sepi. 
    Kita akan merasakan, mengalami dan melihat jalan yang sepi ini, ketika kita mulai sungguh-sungguh. Kalau tidak sungguh-sungguh, maka kita tidak akan pernah mengerti. Namun, ketika kita sungguh-sungguh mau hidup suci, sungguh-sungguh mempersiapkan diri pulang ke surga, berkemas-kemas, sungguh-sungguh mempersembahkan hidup untuk melayani Tuhan, memperhatikan jiwa-jiwa yang terhilang, memperhatikan mereka yang menderita dan mengangkat mereka yang menderita; baru kita tahu, betapa hampir tidak ada orang yang bersama dengan kita. Bahkan kemudian kita malah mendapat aniaya, tekanan, bullying, fitnah. Sampai kita menjadi bingung, “Mengapa jadi begini?” Namun, di situlah jalan yang benar dalam mengiring Tuhan.
    Kita harus setia dengan integritas yang tinggi, bahwa kita mau tetap setia di jalan yang sepi ini. Di restoran yang tidak ramai pengunjungnya, tetapi di ujung jalan kita menemukan padang hijau yang tidak bertepi. Kita menemukan Kerajaan Surga. Sungguh, hal inilah yang dikehendaki oleh Tuhan. Kiranya renungan ini akan memberikan inspirasi-inspirasi rohani yang kuat, yang mengubah hidup kita. Kalau kita tekun dan selalu mendengar nasihat-nasihat Tuhan, dengan tentu dalam pimpinan Roh Kudus, maka tidak mungkin hidup kita tidak berubah. Memang tidak ada yang instan, karena semua memerlukan proses.
    Bertekunlah! Satu, dua, tiga, empat, lima, enam tahun pasti kita berubah. Kemudian, kita lanjutkan persekutuan kita ini nanti di kekekalan, di Rumah Bapa. Sebelum matahari terbit kita sudah datang kepada Bapa di surga dan menikmati terbitnya kehadiran Bapa di dalam kehidupan kita. Jadi, tetaplah setia. Berintegritaslah di jalan sepi ini. Jangan terbawa oleh tawaran dunia yang kelihatannya menyenangkan, tetapi sejatinya berakhir pada kesengsaraan.
     
    Kita harus setia dengan integritas yang tinggi,
    bahwa kita mau tetap setia di jalan yang sepi ini.
    6 min
  • Tidak akan Dipermalukan
    Tidak banyak orang yang berani sungguh-sungguh dalam berurusan dengan Tuhan. Tuhan mendapat bagian atau kuota yang sangat terbatas. Sejatinya, itu adalah sikap semena-mena terhadap Tuhan. Hal itu terjadi karena tidak percaya atau kurang percaya. Memang tidak mudah memercayai Allah yang tidak kelihatan, tetapi Allah itu hidup, harus benar-benar dialami. Dalam Alkitab, kita dapat membaca jejak Tuhan yang jelas, bahwa orang yang menaruh percaya kepada-Nya tidak dipermalukan. Namun kenyataannya, banyak orang yang percayanya itu tidak berkualitas, belum sungguh-sungguh. Kuota yang disediakan untuk serius dengan Allah sangat minim. Sehingga banyak di antara mereka yang hidupnya dipermalukan. 
    Namun, bukan berarti kalau kita melewati hari-hari yang kita mendapat malu dan terseok-seok, berarti Tuhan menghukum kita. Belum tentu. Sekalipun kita sudah percaya sepenuhnya, tetapi bisa saja Tuhan mengizinkan kita mengalami keadaan yang kita seakan-akan mendapat malu. Namun akhirnya, pasti kita tidak dipermalukan. Kalaupun jatuh, kita tidak akan terkapar. Orang benar jatuh 7 kali, kata firman Tuhan, bangkit lagi. Ada pengalaman pemazmur di Mazmur 22, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka. Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.” 
    Jadi di sini ada bagian pemazmur merasa ditinggalkan oleh Allah, merasa Tuhan tidak memedulikan dia. Lalu pemazmur membandingkan dengan pengalaman tokoh-tokoh iman, pengalaman nenek moyang Israel yang terluput dari berbagai bencana dan mereka tidak mendapat malu. Seperti ada kesenjangan dari pengalaman nenek moyang Israel dengan pengalaman pemazmur. Bukankah ini sebenarnya juga persoalan kita? Kita tidak mengucapkannya, tetapi di dalam hati kita berkata, “Tuhan ini serius tidak, berurusan dengan aku?” Sampai akhirnya kita meragukan-Nya, “Tuhan itu ada tidak, sebenarnya?” 
    Hal ini bisa terjadi ketika kita memberikan kuota yang minim, asal-asalan berurusan dengan Tuhan. Kita masih memberi ruangan lain, yang menjadi pengharapan hidup kita dengan kekuatan sendiri atau cara sendiri. Sesungguhnya, itu adalah sikap semena-mena terhadap Tuhan. Sadari, mengapa kita tidak sungguh-sungguh? Apakah karena kita merasa Tuhan kurang manjur, sehingga kita tidak berani menaruh seluruh pengharapan kepada Tuhan? Apa merasa Tuhan pilih kasih? Di mana Tuhan? Bagaimana bisa memercayai Allah yang model begini? Kita lupa, janji Allah kepada Abraham, bahwa dia akan punya anak sebanyak bintang di langit dan pasir di laut, dan Abraham menunggu selama seperempat abad. Mengapa selama itu? Supaya ia jangan memandang Tuhan itu murahan. Tuhan layak dipercayai, apa pun keadaannya. Ini pelajaran penting dan berharga. 
    Hari ini kita mungkin dalam kesulitan ekonomi, masalah keluarga, masalah bisnis, dan Tuhan tidak segera menolong. Keadaan kita berlarut-larut semakin sulit. Nasib kita tidak diperhatikan. Ini semua fakta hidup di dalam mengiring Tuhan. Jangan mudah percaya jika ada hamba Tuhan yang berkata, “Tenang, Tuhan akan tolong segera.” Kata “segera” tidak boleh dikatakan. Sebab itu berarti kita mengatur Tuhan. Ingatlah, Tuhan punya cara dan waktu yang paling tepat untuk menolong kita, dan setiap kita pasti berbeda. Walaupun kondisi hidup hari ini membuat kita malu, tetapi pada akhirnya kita tidak dipermalukan. 
    Jadi, jangan setengah-setengah. Kalau percaya, harus sepenuhnya. Kita tidak usah menoleh ke belakang, tidak usah membicarakannya lagi. Allah yang sama, yang meluputkan bangsa Israel dari kejaran tentara Firaun, yang melepaskan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dari dapur api,
    11 min
  • Berfantasi vs Berinteraksi
    Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya masih berfantasi tentang Tuhan.  Hal itu khususnya terjadi atas mereka yang hanya menalar Allah, belajar tentang Tuhan dalam pikiran, bukan dalam kehidupan konkret. Terutama bagi mereka yang merasa bahwa berteologi itu cukup. Jadi, mereka merasa dengan berteologi itu mereka sudah ber-Tuhan. Sejatinya, banyak orang berfantasi. Dia merasa sudah ber-Tuhan dengan memiliki pengetahuan tentang Tuhan tersebut. Dia merasa bahwa dia sudah mengenal dan dikenal oleh Allah, padahal ia hanya berfantasi. Mereka bisa berkhotbah, memberi seminar, jadi pendeta, jadi dosen Sekolah Tinggi Teologi, bahkan bisa menjadi Ketua STT; bukan tidak mungkin, bisa, tetapi Tuhan masih dalam fantasi atau setengah fantasi. 
    Kalau seseorang benar-benar berinteraksi dengan Allah, maka cirinya adalah: yang pertama, benar-benar hidup di dalam kekudusan. Tentu, yang bisa mengenali hanya diri orang itu, sebab kesucian tidak bisa dilihat oleh orang lain. Siapa yang bisa melihat sedalam-dalamnya kehidupan kita? Kalaupun dia bisa melihat selengkap-lengkapnya apa yang kelihatan dalam hidup kita, mereka tidak bisa melihat ke kedalaman hati. Kedalaman laut bisa diukur, tetapi hati manusia, siapa tahu? Orang yang berinteraksi dengan Allah pasti orang yang hidup di dalam kesucian. Mereka pasti memiliki perasaan takut dan gentar akan Allah. 
    Dia akan berhati-hati dalam berbicara dan berkata-kata. Walaupun tidak dapat disangkal, sekalipun sudah berhati-hati, masih kadang-kadang meleset. Jadi, kalau nurani kita masih benar, masih bersih, kita bisa membedakan kehidupan orang yang benar-benar berinteraksi dengan Allah dan orang yang hanya berfantasi. Jadi, jangan mudah percaya. Mau setinggi apa pun ilmu seseorang, sebanyak apa pun gelarnya, seahli apa pun dalam bahasa dan lain sebagainya. Nurani kita yang harus bicara. Namun, yang paling kita amati haruslah diri kita sendiri. Apakah kita masih berfantasi dengan Allah atau sudah berinteraksi?
    Yang kedua, orang yang benar-benar berinteraksi dengan Tuhan adalah orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. Ia tidak mungkin tidak memiliki jam-jam doa. Bukan hanya berdoa sesaat atau ikut-ikutan doa pagi atau kebaktian doa, tetapi serius mencari Tuhan. Orang yang bisa meninggalkan selimut untuk berdoa pagi, pada umumnya atau hampir bisa dipastikan sungguh-sungguh mau mencari Tuhan. Kita sungguh-sungguh harus menyediakan diri untuk mendengarkan firman Tuhan, mencari kebenaran. Kalau hanya belajar teologi secara formal, biasanya banyak motivasi di dalamnya. Orang kampung yang tidak punya masa depan, maka untuk punya masa depan, ia mencari sekolah yang gratis, lalu bisa mendapat gelar S1-S2-S3. Namun, lihat perkataannya, keji dan kejamnya terhadap orang lain.
    Kalau orang betul-betul elegan dan intelek, pasti perkataannya akan membangun sesama. Kita harus selalu mencari firman dan kiranya jangan puas dengan ilmu yang telah kita miliki. Temuilah Tuhan yang hidup dan berdialog dengan Dia. Carilah wajah-Nya dan hadirat-Nya selalu. Memang perlu ketekunan. Jangan puas walaupun kita sudah punya gelar, sudah menulis banyak buku, sebab kebenaran yang datang dari Allah tidak pernah kering. Seiring dengan perjalanan hidup kita, apalagi dengan 1001 masalah yang muncul, tentu kita membutuhkan suara Tuhan. Selalu kita membutuhkan Tuhan dan menantikan suara-Nya, lewat doa, membaca Alkitab, dan mendengar khotbah. 
    Siapa pun kita, harus terus haus akan firman. Bukan hanya dari buku dan apa yang kita dengar dari khotbah dan seminar, tetapi kita serius mau mendengar langsung Tuhan berbicara. Kalau kita percaya Allah itu hidup, percaya ada Roh Kudus, dan yakin Tuhan Yesus Kristus berjanji menyertai kita sampai kesudahan zaman, maka kita bisa berdialog dengan Tuhan. Orang yang berinteraksi dengan Tuhan, tentu dia akan berusaha hidup suci dan tidak melukai hati Tuhan. Maka cirinya pasti hidup tidak bercela, menjaga mulut, sikap, dan perbuatan; supaya agung,
    9 min
  • Selalu Beralasan
    Kita bersyukur kalau kita masih memiliki perasaan membutuhkan Tuhan. Banyak orang yang mata hatinya telah menjadi buta, perasaannya telah menjadi tumpul, dan bagi mereka Tuhan itu hanya satu kata yang menghiasi kehidupan orang-orang beragama yang mereka pandang bodoh. Bahkan tidak sedikit atau tidak jarang yang memandang bahwa orang-orang Kristen yang ke gereja adalah orang-orang yang telah ditipu oleh pendetanya. Memang ada pendeta yang menipu, yang memanipulasi kekuasaan rohani untuk kepentingan pribadi, kebesaran gereja yang berujung pada kebesaran diri, tetapi tentu tidak semua pendeta seperti itu. 
    Ada orang yang benar-benar anti gereja dan mereka selalu memiliki alasan untuk tidak ke gereja, mengapa mereka tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Bahkan mereka tidak sanggup berdoa sebelum makan atau sebelum tidur, mereka tidak mengenal apa itu percakapan atau dialog dengan Tuhan. Mereka menganggap Tuhan itu tidak ada atau tidak perlu ada. Sejatinya, betapa mengerikan keadaan orang-orang seperti ini, yang ketika suatu hari menghadap Tuhan, mereka baru tercelikkan bahwa ternyata Tuhan ada, dan ternyata mereka telah menyia-nyiakan kesempatan untuk bertobat dan membangun diri menjadi manusia yang sesuai dengan rencana Allah. 
    Betapa menyesalnya! Sungguh, penyesalan itu tidak terbayangkan yang membuat mereka mengalami yang namanya kertak gigi dan ratap tangis; penyesalan yang begitu dalam, tetapi tidak dapat mengulang kehidupan yang sudah dijalaninya. Bersyukur kalau kita masih memiliki mata hati untuk mencari Tuhan. Namun, mata hati kita harus terus kita pertajam. Kita harus benar-benar bisa mengerti hati dan pikiran Tuhan tentang kita. Kita pasti tidak bisa mengerti pikiran hati Tuhan yang melampaui segala akal, tetapi untuk hal yang terkait dengan hidup kita, pasti kita diperkenan mengetahuinya. 
    Yang karenanya Pemazmur mengajari kita berdoa, “Ujilah aku, periksa diriku Tuhan, apakah jalanku serong.” Kita harus sungguh-sungguh membawa diri kita kepada Tuhan. Sebab kalau kita tidak sungguh-sungguh memeriksa diri dengan benar, ternyata ketika kita berhadapan dengan Tuhan, dan masih ada hal-hal yang tidak patut yang masih kita lakukan, hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Allah, bahkan melukai Dia, betapa mengerikannya keadaan itu! 
    Namun, kalau seseorang sudah biasa melakukan segala sesuatu untuk kesenangan diri sendiri, dan dia menikmatinya, maka dia tidak akan dapat melirik pikiran dan perasaan Allah. Kalau terus menerus hal itu dilakukan, maka mata hatinya menjadi gelap, pikiran dan perasaannya juga menjadi tumpul. Ia menjadi seorang yang jahat di dalam gereja dan jahat di dalam pelayanan. Ingat, hal itu bisa terjadi atas setiap kita. Dengan kelicikan, kita melakukan segala sesuatu dan selalu punya alasan mengapa buat begini atau begitu. 
    Kiranya hati kita diterangi oleh Tuhan, sehingga kita bisa mengerti jika ada sesuatu yang Tuhan tidak berkenan yang masih kita lakukan. Kita tidak akan lagi membuat alasan apa pun. Pokoknya kalau Tuhan tidak berkenan, atau kalau itu bisa melukai hati Tuhan atau membuat hati Tuhan tidak nyaman, maka kita tidak lakukan. Apa pun. Tidak usah membela diri, tidak usah mencari pembenaran, kalau itu tidak membuat Tuhan berkenan, kita tidak lakukan. Masalahnya, bagaimana kita tahu kalau hal itu berkenan di hadapan Tuhan atau tidak?
    Kita bisa melihat perilaku orang-orang Kristen, pendeta, teolog yang jelas menunjukkan bukan perilaku seorang yang layak disebut orang yang beretika. Di mata dunia saja sudah minus, apalagi di mata Tuhan. Namun, mereka melakukan itu terus-menerus, dengan selalu punya alasan. Maka, jangan sampai kita merasa kita sedang membela Tuhan, melayani Tuhan, berkorban apalagi, tetapi ternyata tidak. Karena ternyata kita bukan sedang melayani Tuhan, tetapi kita sedang ada dalam keadaan yang benar-benar melukai hati Tuhan. 
    Biasanya orang-orang seperti ini tidak memiliki doa yang sungguh-sungguh.
    9 min
  • Sehati dengan Tuhan
    Pada umumnya, banyak orang Kristen tidak merasa bertanggung jawab atas pekerjaan Tuhan. Mereka bertanggung jawab atas keluarga mereka sendiri. Ya, memang harus begitu. Namun, mereka tidak mengambil tanggung jawab dalam pekerjaan Tuhan di atas pundak mereka. Entah prinsip apa yang memengaruhi pikiran banyak orang tersebut sehingga mereka berpikir itu bukan tanggung jawabnya. Mereka pikir itu adalah tanggung jawab pendeta atau hamba Tuhan. Padahal, hamba Tuhan pun belum tentu memiliki beban itu. Bahkan tidak sedikit pendeta yang merasa dirinya berhak dicukupi, berhak digaji, berhak dilayani.
    Lukas 22:25-30, “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” 
    Mengapa kita tidak berambisi menjadi orang terkemuka di Kerajaan Surga? Bukan karena kita gila hormat, tetapi karena memang Allah menghendaki demikian. “Duduk semeja dengan Tuhan,” menunjuk orang-orang terhormat, orang-orang yang dekat dengan Tuhan, perwira-perwira tinggi di dalam Kerajaan Allah. Siapakah mereka? “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.” Orang yang sepenanggungan dengan Tuhan adalah orang yang akan dimuliakan Tuhan. Bukan hanya di mata malaikat-malaikat dan penghuni surga nanti di Kerajaan Surga, melainkan di dunia pun Tuhan menjadikan dia terpandang. 
    Walaupun tentu musuh-musuh Allah—yaitu orang-orang yang digerakkan kuasa kegelapan—pasti berusaha untuk menghancurkan. Namun, itu sebenarnya merupakan tanda bahwa orang itu memang disertai Allah. Orang yang disertai Allah bukan berarti tidak mendapatkan tantangan. Ketika firman Tuhan mengatakan, “Baik kau makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semuanya untuk Tuhan,” artinya jelas bahwa kita tidak berhak hidup untuk diri sendiri. Kita hanya hidup bagi Tuhan. Masalahnya, selama ini dikesankan adanya dua kelompok dalam gereja, yaitu kelompok imam atau para pendeta (full timer), dan kelompok awam. 
    Sejatinya, semua orang percaya harus menjadi full timer. Sebab, kata firman Tuhan, “Kamu telah dibeli dan harganya lunas dibayar. Bahwa kamu bukan milik kamu sendiri.” Seperti budak-budak yang dibeli oleh seorang majikan, dia tidak berhak atas dirinya. Budak tidak memiliki martabat, kebebasan, tidak punya kepentingan sendiri, tetapi kepentingan majikannya. Ironis, standar seperti ini hilang dan hanya dikenakan untuk para ‘imam’ dalam gereja, yaitu pendeta-pendeta. Padahal, belum tentu mereka benar-benar melayani Tuhan dengan segenap hati. Orang yang mengerti, menghayati dan berusaha melakukannya saja, tidak mudah. Dia harus belajar menaklukkan dirinya setiap hari, sampai memiliki ketertundukan total kepada Tuhan. 
    Apalagi bagi mereka yang tidak berniat untuk itu, yang tidak belajar menundukkan diri, pasti mereka tidak pernah mengerti apa artinya hidup bagi Tuhan, seperti yang dikatakan Paulus dalam Filipi 1:21, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Kalau kita sepenanggungan dengan Tuhan, maka Tuhan tidak akan membuat kita dipermalukan. Kita akan mendapatkan perlakuan istimewa. Kepada kita, Yesus akan berkata, “Aku tidak memanggil kamu hamba, tetapi sahabat. Karena hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya, tetapi sahabat tahu.” 
    Mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat merupakan harga mati. Namun,
    9 min
  • Berurusan dengan Bapa
    Ketika Tuhan Yesus berfirman, “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” sebenarnya kalimat itu juga bisa berarti, “Apa gunanya kamu menikmati kesenangan sesaat, namun setelah itu kamu tidak memiliki kebahagiaan selamanya?” Tuhan tidak mau kita seperti Esau yang sesaat menikmati semangkok makanan, tetapi kehilangan hak kesulungannya. Kehilangan jiwa berarti tidak memiliki keselamatan, terpisah dari Allah selama-slamanya. Dalam Ibrani 11:20, dikatakan, “Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau.” Sebenarnya berkat itu disediakan untuk Yakub dan Esau. Namun sayang sekali, pada akhirnya Esau tidak memperoleh bagian berkat. 
    Tuhan sangat mengasihi kita, seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 3:9-10, “Tuhan tidak menginginkan seorang pun binasa.” Tuhan menghendaki kita menikmati kekekalan yang indah, maka Yesus mati di kayu salib. Tuhan Yesus berkata di Yohanes 14:1-3, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
    Namun, apakah akhirnya seseorang bersama dengan Tuhan atau tidak, hal itu tergantung setiap individu dalam merespons kebaikan dan kemurahan Tuhan. Jadi kalau sampai ada yang binasa, pasti bukan kehendak Tuhan, tetapi pilihan orang itu. Kita harus dapat menangkap pesan Tuhan ini dan memberikan respons yang benar; menjadi pengguna firman, pengguna anugerah, pengguna keselamatan. Sebab ini tidak bisa terjadi secara otomatis. Tidak hanya di dalam pikiran, yakin percaya Yesus adalah Juruselamat, tetapi harus di dalam tindakan yang menunjukkan percayanya itu. Percaya itu berarti menyerahkan diri dan di dalamnya ada urusan, aktivitas, relasi yang harus terbangun dalam urusan tertentu antara Bapa dan kita. 
    Urusan apakah yang kita miliki dengan Bapa? Kalau hanya ke gereja, ini belumlah memenuhi yang dimaksud oleh Bapa. Jadi, kalau kita berkata, “Aku percaya,” berarti kita harus masuk dalam urusan dengan Bapa yang kita percayai. “Aku percaya kepada Tuhan Yesus,” harus ada urusan dengan Yesus yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita. “Aku percaya kepada Roh Kudus,” lalu apa urusan kita dengan Roh Kudus? Jangan berkata, “Itu urusan orang kharismatik, urusan orang pentakosta kalau bicara Roh Kudus.” Itu urusan kita semua. 
    Pertanyaan yang harus direnungkan, apa urusan yang kita miliki dengan Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus yang kita percayai? Sejatinya, tidak sedikit orang Kristen yang tidak pernah berurusan dengan Roh Kudus, sehingga tidak pernah memiliki pengalaman dengan Roh Kudus. Padahal, Roh Kuduslah yang mengingatkan segala sesuatu, yang dikatakan, “Roh Kudus akan menuntun kamu kepada segala kebenaran.” “Ia akan mengingatkan kepadamu segala sesuatu yang Aku katakan.” Firman Tuhan mengatakan, “Semua dosa diampuni, kecuali menghujat Roh Kudus,” karena menghujat Roh Kudus bukan hanya menunjuk suatu perbuatan, tetapi menunjuk suatu keadaan ketika seseorang tidak dapat lagi merespons pekerjaan Roh Kudus, karena terus menolak—sampai level tidak pernah mendengar lagi—suara Roh Kudus. Tidak bisa menerima penggarapan Roh Kudus.
    Orang yang tidak bisa lagi menerima penggarapan Roh Kudus adalah orang yang tidak memiliki kesempatan sama sekali. Bapa dan Tuhan Yesus diwakili oleh Roh Kudus, Roh-Nya Bapa, Roh Allah di dalam kehidupan. Maka, orang yang tidak memiliki doa pribadi, tidak dapat mengerti Roh Kudus, karena tidak pernah mendengar Roh Kudus. Sehingga khotbah yang didengar hanya akan ada di pikiran dan kemudian lenyap. Buku rohani yang kita baca, hanya memberikan input sesaat, lalu kita lupa. Seharusnya, Roh Kudus yang mengingatkan kita.
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…