Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Hati yang Beku
    Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
    Jelas dikatakan, bagi mereka yang mengasihi Dia, jadi bukan untuk semua orang. Ini berarti betapa bernilainya di hadapan Allah, orang yang mengasihi Dia. Jadi, orang yang pasti beruntung, pasti diberkati Tuhan, pasti dilindungi Tuhan, dan pasti diangkat Tuhan dalam kemuliaan adalah orang yang mengasihi Dia. Hal mengasihi Tuhan adalah hal yang ada di dalam otoritas atau kedaulatan masing-masing individu. Karena, Tuhan tidak menjadikan manusia sebagai makhluk yang diatur oleh sesuatu atau entitas dari luar. Manusia mengatur dirinya sendiri; kehendak bebas. Kalau seseorang di dalam keputusan, tindakan, nasib, dan takdirnya ditentukan oleh sesuatu di luar dirinya, maka ia tidak perlu bertanggung jawab.
    Namun, di Alkitab ditulis berulang-ulang bahwa manusia harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan. Ini berarti, manusia memiliki kehendak bebas. Dalam 2 Korintus 5:9-10, firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”
    Itu berarti manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatan orang lain, tetapi setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Jadi, tidak ada faktor di luar diri individu; tidak ada faktor eksternal yang menentukan nasib setiap orang. Orang itu yang menentukan nasibnya sendiri. Bicara mengenai hati, itu wilayah individu. Di mana Tuhan akan pasti menegakkan keadilan-Nya. Allah memiliki kedaulatan, dan di dalam kedaulatan Allah, Ia menetapkan tatanan bahwa manusia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Di sini manusia diberi kedaulatan oleh Allah untuk mengatur dirinya dan menentukan nasibnya atau menentukan keadaannya. 
    Apakah seseorang mau mengasihi Tuhan atau tidak, itu tidak tergantung siapa pun, bahkan juga tidak tergantung Tuhan. Ingat, hal itu tergantung dari manusia itu sendiri. Tuhan memiliki integritas keagungan kepribadian. Tidak mungkin Tuhan memaksa seseorang untuk mencintai diri-Nya. Manusia saja yang berakhlak, berintegritas, dan bermoral, pasti tidak akan memaksa orang untuk mencintai dirinya. Kalau seseorang memaksa orang lain untuk tunduk demi kesenangannya, kepentingannya pribadi, atau memaksa orang untuk menghormati dirinya, memuji dirinya, mencintai dirinya, bisa dipastikan orang itu jahat, lalim, kejam. Orang seperti itu, akan tega menjatuhkan orang lain, demi mencapai apa yang diinginkannya.
    Allah kita tidak demikian. Allah tidak memaksa kita untuk mencintai-Nya. Kita sendirilah yang harus menggerakkan diri kita untuk mencintai Tuhan. Sesungguhnya, ini prinsip penting, kita mau mengasihi Tuhan atau tidak, tergantung diri kita sendiri. Kita berhak memilih objek mana yang akan kita cintai. Jadi, kalau Tuhan di dalam firman-Nya mengatakan, “Kasihilah Tuhan Allahmu,” artinya bahwa kita harus menggerakkan diri kita untuk mencintai Dia. Melakukan hukum ini, pasti kita akan memenuhi hukum yang kedua, yaitu mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Jangan sampai kita menjadi pasif, karena mengasihi Tuhan itu merupakan proses bertahap di mana cinta itu bisa menjadi matang atau dewasa.
    Jadi, yang pertama, kita yang menggerakkan. Kedua, harus kita dewasakan. Pertanyaannya, apakah kita sudah menggerakkan cinta kita kepada Tuhan? Sebab di sekitar kita banyak objek yang memesona dan merangsang kita untuk membangkitkan cinta kepada apa yang di sekitar kita. Masalahnya, kita sudah telanjur jatuh cinta dengan dunia. Sehingga irama jiwa kita dikotori karena menikmati cinta itu ...
    10 min
  • Tidak Berubah
    Kita bersyukur kepada Tuhan kalau Tuhan membuka mata pengertian kita melihat pekerjaan Tuhan. Kita melihat manuver Tuhan, tetapi sekaligus kita juga melihat manuver kuasa kegelapan. Dewasa ini kita melihat bagaimana orang-orang yang belajar teologi, belajar Alkitab, memiliki gelar tinggi, tetapi justru mempertontonkan sikap yang benar-benar tidak menunjukkan sebagai anak-anak Allah. Hal itu sebenarnya memalukan. Dilihat dari etika umum saja tidak patut, apalagi dilihat dari etika kekudusan, kesucian Allah yang mengajarkan kelemahlembutan dan kerendahan hati. Bukan sebaliknya, keras, kasar, bengis, nafsu membunuh, nafsu merusak orang lain, merendahkan, membunuh karakter orang sampai tingkat memfitnah. 
    Hal ini memberikan kepada kita gambaran, betapa banyak orang merasa sudah berhubungan dengan Tuhan hanya karena memiliki pengetahuan tentang Tuhan di kepalanya. Sekarang kita harus mulai menyadari betapa pentingnya bertemu dengan Tuhan. Benar-benar bertemu dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan bukan hanya menalar Tuhan di pikiran atau di kepala kita. Perjumpaan dengan Tuhan akan membuat kita takut akan Tuhan. Tidak bisa tidak, ini akan mencegah kita berbuat dosa, di depan orang maupun di belakang orang. Hal ini akan membuat kita berhati-hati dalam mengucapkan kata, kalimat, melemparkan sesuatu di media sosial. Jelas sekali petanya. 
    Fenomena ini terjadi di seluruh dunia dan juga bisa terjadi atas diri kita. Kita juga dengan cerdas bisa panjat sosial secara terselubung. Kita sendiri dengan cerdas juga mau mencari pujian, sanjungan dan kehormatan. Kita sendiri juga bisa tanpa sadar menjadi materialistis, bisa gila hormat atau memiliki sikap-sikap yang Tuhan tidak berkenan. Betapa mengerikan kalau nanti di hadapan takhta pengadilan Tuhan, dibuka keadaan kita itu. Sungguh, malu dan mengerikan. Bukan hanya malu, tetapi juga mengerikan. 
    Jadi, kita harus benar-benar memiliki perjumpaan dengan Tuhan. Tuhan itu hidup dan hadir, maka kita harus berurusan dengan Tuhan. Kita berinteraksi dengan Tuhan, supaya kita dapat melihat diri kita sendiri dengan jelas, telanjang, dan terbuka. Jika ada dosa-dosa yang masih kita lakukan, hari ini kita mau serius bertobat. Sejatinya, pasti masih ada dosa-dosa yang kita lakukan. Pasti, masih saja ada kemelesetan. Jadi, kita yang bicara mengenai kekudusan, kesucian, kesempurnaan, bukan berarti sudah suci, atau sudah sempurna, belum. Namun, kita terus berjuang untuk setiap hari mengalami peningkatan. 
    Dari perjumpaan itulah kita akan dan bisa menghayati kekudusan Allah, kemurnian hati Allah, kelemahlembutan dan ketulusan hati Tuhan Yesus, keagungan dan kebesaran Pribadi-Nya, yang itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi akan tercermin dalam hidup kita. Jadi, kalau orang berjumpa dengan Tuhan, tidak bisa tidak, pasti akan memancar keluar keagungan, kemuliaan Allah di dalam hidupnya. Kebesaran jiwanya, kasih dan belas kasihannya kepada orang lain, kecerdasannya memahami Alkitab, dan kehidupannya pasti mengubah orang lain. 
    Sebab kalau seseorang tidak berubah, dia tidak bisa mengubah orang lain. Orang yang perubahannya di dalam nalar karena menalar Tuhan di dalam kepalanya, hanya bisa mengisi orang juga dengan pengertian kognitif di dalam nalar. Maka, yang penting adalah bagaimana kita mau hidup benar, hidup berkenan di hadapan Tuhan. Mari mulai hari ini, kita mau benar-benar melangkah hidup dalam kekudusan. Siapa pun kita, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan, kaya miskin, ayo, kita hidup suci. Mari kita menjadi saksi di tengah-tengah masyarakat di mana Tuhan menempatkan kita. 
    Kita bisa memancarkan kemuliaan Allah, ketulusan hati Tuhan Yesus, kerendahan hati Tuhan Yesus yang pernah diperagakan oleh Yesus. Hal itu yang sekarang kita peragakan dan itu yang memuaskan hati Allah. Bukan karena kita menjadi pendeta hebat. Bukan karena kita menjadi pemimpin organisasi ini-itu. Bahkan tidak cukup, kita bisa memberikan uang untuk pelayanan diakonia atau untuk keg...
    9 min
  • Mencari Tambahan
    Kesombongan berangkat dari sikap hati tidak membutuhkan Tuhan. Orang yang sombong adalah orang yang merasa tidak membutuhkan Tuhan. Pada umumnya, sebagai orang beragama, kita tidak berani berkata kalau kita tidak membutuhkan Tuhan. Namun pertanyaannya, berapa persen kita merasa membutuhkan Tuhan? Sebab, persentase membutuhkan Tuhan sangat menentukan sikap hati kita kepada Tuhan. Ini yang harus kita sungguh-sungguh persoalkan: berapa persen kita membutuhkan Tuhan? Untuk bisa merasa membutuhkan Tuhan sepenuhnya (100%) tentu membutuhkan kedewasaan rohani dan proses. 
    Seiring dengan perjalanan waktu, kita bertumbuh dewasa, kita menyadari betapa rentan dan tidak berdayanya kita. Fakta kehidupan, yaitu manusia datang silih berganti, menggetarkan jiwa kita. Ditambah dengan melihat realitas hidup yang kita alami, atau yang orang alami. Maka sejatinya, pengenalan akan Tuhan juga bertumbuh dan bertumbuh pula sikap perasaan membutuhkan Tuhan. Kita membutuhkan Tuhan lebih dari kita membutuhkan napas dan darah kita. Ketika napas kita lenyap, darah tidak dibutuhkan lagi. Jadi, tidak berlebihan ketika pemazmur mengatakan di Mazmur 73:25-26, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” 
    Masalahnya, irama hidup manusia adalah mencari apa yang menurut dia bisa menjadi topangan. Kita memang harus bekerja, punya uang, pendidikan, keahlian, gelar untuk mencari nafkah, tetapi itu bukan segalanya. Yang segalanya itu hanya Tuhan dan Tuhan tahu kita membutuhkan uang, fasilitas, dan lain-lain. Tuhan berjanji semua ditambahkan, tetapi jangan mencari tambahannya sampai kita tidak menjadikan Tuhan segalanya. Jangan sampai ketika kita ada di ujung maut, baru kita menyadari bahwa Tuhan segalanya. Terlambat. Sejak sekarang, ketika tubuh kita sehat, punya pekerjaan, punya uang, dan punya fasilitas, kita sudah berkata dengan ratapan, “Pegang tanganku, Tuhan. Jangan Tuhan lalui.”
    Ironis, Tuhan sering diperlakukan sekadar tambahan. Ada, syukur karena lebih lengkap. Tidak ada, ya tidak apa-apa. Maka, orang bisa tidak ke gereja hanya karena hal-hal sepele. Kalau kita merasa memerlukan Tuhan, kita pasti tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk berdoa, mendengarkan firman, dan ke gereja. Sewaktu kita melakukan itu, kita melihat seakan-akan keadaan hidup kita tidak berbeda dengan mereka yang tidak rajin mencari Tuhan. Namun, kalau kita setia terus, Tuhan menandai kita. Kita pasti akan melihat perbedaan, orang yang mencari Tuhan dan yang tidak mencari Tuhan. Sebagaimana rusa yang merindukan air, karena air itu segalanya, kehidupannya.
    Namun, banyak orang tidak menjadikan Tuhan segalanya. Punya Tuhan, tidak punya Tuhan, sama saja rasanya. Mencari Tuhan, tidak mencari Tuhan, kelihatannya sama saja. Rata-rata keadaan dunia kita seperti itu. Tuhan seakan-akan diam, karena itu tatanan. Tuhan tidak melanggar tatanan. Roh Kudus pasti mengingatkan, tetapi setan dengan kuasa kegelapan juga mempengaruhi orang untuk hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah. Ada manuver, baik Roh Kudus maupun kuasa kegelapan. Kita harus memilih, mau di pihak siapa? Mencari Tuhan atau tidak? Mencari Tuhan seakan-akan keadaan kita sama seperti orang yang tidak mencari Tuhan. Siapa bilang? Alkitab berkata, bahwa orang yang mencari Tuhan akan dibuat Tuhan menemukan Dia. Kalau sekarang belum tampak, tunggu 2, 3, 5, 10 tahun atau lebih, maka akan makin nampak perbedaan antara orang yang mencari Tuhan dan yang tidak. 
    Kalau pun tidak tampak dari hidup orang itu, anak cucunya akan menjadi peta dari perjalanan hidup kakek-nenek moyangnya. Hari ini, kita harus mengambil keputusan. Rendahkan hati, jangan sombong. Orang yang hidup sembarangan, menuai apa yang dia tabur. Kita tidak mau ceroboh. Bukan hanya sementara kita hidup di dunia, melainkan juga di kekekalan nanti. Kita tahu, ada pengadilan setelah kematian; kehinaan kekal atau kemuliaan kekal. Pangkat, gelar dan materi menjadi tidak ada artinya setelah kita masu...
    10 min
  • Mimpi Bodoh
    1 Petrus 1:24-25, “Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.”
    Mari kita merenungkan satu realitas yang tragis yang mestinya hal itu bisa mendahsyatkan jiwa kita, yaitu kenyataan manusia yang datang dan pergi, silih berganti. Coba ingat, orang-orang yang dulu pernah kita kenal, yang sekarang sudah meninggal dunia; kakek, nenek, orang tua, saudara, teman. Di sisi lain, hadir yang baru; anak, cucu, saudara, teman. Termasuk juga orang-orang yang dulu pernah popular; artis, atlet, politisi atau pengusaha. Yang pernah hidup sekarang telah tiada. Lalu muncul lagi atlet baru, artis baru, politisi baru, dan mereka pun akan mengalami keadaan atau nasib yang sama. Dan kita, pasti salah satu di antaranya.
    Semua yang hidup adalah seperti rumput. Jangan kita pandang ini berlebihan. Dari kacamata Tuhan, itu seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, menjadi kering dan bunga gugur. Hal ini mengingatkan kita pada apa yang dikatakan TUHAN di Kejadian 2, “Jangan makan buah ini, sebab pada hari kamu memakannya, kamu akan mati.” Memang, pada hari manusia makan buah itu, mereka mulai mengalami proses kematian. Kenyataan ini mestinya membuat kita tidak sombong dan membuat kita menengadah kepada Tuhan.
    Kita seperti manusia lain, datang dan pergi. Tetapi masalahnya, kita pergi ke mana? Ini yang harus sungguh-sungguh kita pikirkan. Ini bukan karena kita orang beragama atau karena kita orang Kristen, tetapi karena kita adalah manusia yang Alkitab katakan seperti rumput yang pagi mekar, sore sudah dibuang. Mari sungguh-sungguh kita renungkan dan camkan agar kita bisa bersikap rendah hati di hadapan Allah. Kalau dalam Yakobus dikatakan, “… seperti uap…” Ketika seorang di ujung maut, dan dia menatap hari-hari yang telah dilalui, maka dia baru bisa menyadari bahwa hidup benar-benar seperti uap. Sekarang saja, kalau kita melihat anak-anak kita, rasanya baru kemarin kita gendong dan antar sekolah, sekarang mereka sudah remaja, ada yang sudah jadi pemuda. Bahkan, ada yang sudah menikah dan mempunyai anak. 
    Kalau kita tidak disadarkan dengan Firman Tuhan ini, kita bisa hanyut dalam mimpi; mimpi bodoh. Kita merasa, seakan-akan jalan ini tidak berujung. Bangun pagi, melakukan aktivitas, pulang sore atau malam, makan bersama keluarga, beraktivitas sebelum akhirnya tidur. Besoknya terulang begitu lagi. Kita tergulung dalam suatu siklus yang seakan-akan siklus atau perputaran hidup tersebut tidak berujung. Setan membuat manusia tergulung dalam siklus tersebut dengan pemikiran seakan-akan, dia tidak memiliki ujung perjalanan hidup. 
    Pemazmur mengatakan dalam Mazmur 90:10, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Di ayat 12, ia melanjutkan, “Ajar kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Sebab kalau kita tidak menghitung hari, maka kita akan terhanyut dalam siklus hidup. Kita menjadi tidak bijaksana, menjadi ceroboh, sembarangan dengan apa yang kita ucapkan, lakukan, dan pikirkan. Seakan-akan jalan ini tidak ada ujungnya. 
    Di Lukas 12, kita menemukan potret dari orang yang dia pikir jalan ini tidak ada ujungnya. Seorang kaya yang tidak puas dengan harta yang dia miliki. Ia mau merombak lumbung-lumbungnya untuk mendirikan yang lebih besar, dan menyimpannya di dalamnya segala gandum dan barang-barangnya. Lalu dia berkata, “Hai jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” Pertanyaannya, sampai kapan?
    Padahal selanjutnya dikatakan, “… firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu,
    10 min
  • Petualangan Hidup yang Hebat
    Sampai saat ini, banyak orang yang merasa tidak punya kesempatan besar untuk memiliki petualangan hidup yang hebat. Karena mereka merasa gagal menjadi ibu rumah tangga, gagal sebagai pebisnis, mahasiswa, karyawan, belum lagi kalau sakit-sakitan, atau berpenampilan buruk di mata manusia. Apalagi kalau mereka melewati tahun-tahun di mana mereka direndahkan dan mendapat label yang buruk dari keluarga dan orang lain. Mereka merasa bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, padahal sesungguhnya mereka memiliki Allah Bapa yang sangat mengasihinya. 
    Sejatinya, apa pun dan bagaimana pun keadaan kita hari ini, kita tetap bisa memiliki petualangan hidup yang hebat. Yang kehebatannya tidak dapat dinilai oleh mata manusia, tetapi dinilai oleh Allah. Petualangan hidup yang hebat itu adalah petualangan hidup orang yang dinikmati oleh Sang Pemilik Kehidupan, yaitu Allah. Kita akan dilestarikan di keabadian. Makhluk manusia seperti kita—yang memiliki kehidupan yang berjalan dengan Tuhan—dinikmati Tuhan dan akan terus dilanjutkan di kekekalan. Jadi, ayo kita mulai hari ini dengan semangat hidup yang baru karena kita masih memiliki kesempatan hidup yang hebat. Kesempatan hidup untuk membangun kehidupan yang sangat berkualitas. 
    Waktu adalah anugerah. Di dalam waktu, kita memiliki momentum atau kairos; atau kesempatan yang tepat untuk melakukan apa yang Allah kehendaki. Jadi, petualangan hebat kita itu ketika kita melakukan apa yang Allah kehendaki di dalam hidup kita masing-masing dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Setiap orang pasti memiliki pekerjaan khusus dan khas dari Allah, dan setiap orang harus memperkarakannya. Maka, kalau seseorang mau mengerti apa rencana Allah dan pekerjaan Allah yang dipercayakan kepadanya, tentu ia harus mulai dari melakukan kehendak Allah di dalam setiap kasus hidup yang dialaminya setiap hari. 
    Dan pada akhirnya, setiap orang akan harus memilih, haus akan Allah atau haus akan dunia; haus hidup suci atau haus melakukan hal-hal yang memuaskan diri sendiri. Jadi, di dalam setiap momentum ada kesempatan untuk melakukan kehendak Allah atau menolak. Namun, kalau kita memandang Tuhan, maka kita melihat apa yang dapat kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Dari hal ini, kita mengalami proses kepenuhan Allah. Kebiasaan hidup melakukan kehendak Bapa itu membuat kita menjadi berkodrat ilahi (Yun. theios). Dan Yesus, Tuhan kita, telah berhasil mencapai itu. Maka, Dia menjadi pokok keselamatan atau aitios; penggubah, komposer, atau penyebab suatu keadaan. 
    Jadi, keselamatan yang dikerjakan Yesus, pada intinya itu untuk mengubah kita. Tentu Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, harus menjadi modelnya. Maka, jangan kita mendengar fitnah dari Iblis yang berkata, “Kamu tidak berguna. Kamu tidak berharga. Allah melupakan kamu.” Jangan didengar. Yang benar adalah kita berharga dan Allah mengasihi kita. Kita masih punya kesempatan untuk menjadi orang hebat di hadapan Allah. Jangan hanya mengaminkan renungan ini, tetapi berikanlah respons yang baik, dan berubahlah. Namun, hal ini tergantung dari niat kita. Jangan terjebak dalam apa yang disebut pasivitas; pasif. Kita harus membuat diri kita itu hidup; aktif. Yang kita arahkan kepada perkara-perkara rohani; aktif. 
    Ingat perkataan Tuhan Yesus di Matius 5:20, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih dari hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, kamu tidak masuk surga.” Pernyataan Tuhan Yesus ini sebenarnya memuat panggilan agar kita memiliki hidup yang luar biasa. Lebih dari ahli Taurat dan orang Farisi, lebih dari tokoh-tokoh agama samawi. Maka, jangan padamkan suara Tuhan ini. Di sisa umur hidup kita, jadikanlah hidup kita ini bernilai, agar menjadi petualangan yang hebat. Kita mulai dengan berjalan bersama Tuhan setiap hari. Tidak ada kehidupan yang lebih bernilai dari kehidupan yang berjalan dengan Tuhan. Hal ini memang abstrak, tetapi tidak menjadi abstrak kalau kita melakukan dan mengalaminya. 
    Kalau kita haus akan Tuhan, rindu berubah,
    8 min
  • Berjalan bersama Tuhan
    Khususnya dalam pemberitaan firman Tuhan, jemaat pasti membutuhkan suara Tuhan atau firman Tuhan yang murni, yang dari Tuhan, bukan pikiran manusia. Memang ini adalah pekerjaan yang sangat berat bagi para pemberita firman yang ada di mimbar. Kalau hanya berbicara atas pengetahuan tentang Tuhan, ilmu tentang Tuhan, teologi yang dipelajari di sekolah tinggi teologi, hal yang dibaca dari buku atau didengar dari pendeta atau penceramah lain, itu sangat mudah. Terlalu banyak bahan yang akan bisa disediakan dan disampaikan kepada jemaat. Namun, kalau seorang pemberita firman harus menyampaikan apa yang Tuhan kehendaki untuk disampaikan, pasti ini akan berat sekali. Harganya juga sangat mahal. Maka, tidak cukup hanya sekolah teologi, atau pengetahuan yang diserap dari berbagai sumber. Hal yang paling dibutuhkan adalah seorang yang berjalan dengan Tuhan setiap saat.
    Tentu untuk berjalan dengan Tuhan setiap saat, maka seseorang harus benar-benar hidup suci, hidup kudus dalam standar Allah. Sebab firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Artinya, seseorang harus benar-benar tidak terikat dengan dunia ini. Jika hal itu benar-benar dilakukan, yaitu setiap saat berjalan dengan Tuhan, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, hidup di hadirat Tuhan, maka ia bisa dicengkeram, dirasuki Roh Kudus, dipenuhi Roh Kudus. Itulah yang Alkitab katakan “dipenuhi oleh Allah” atau “kepenuhan oleh Allah.” Yesus adalah Pribadi Agung yang dipenuhi oleh Allah dan itu menjadi model yang benar bagi hidup kita saat ini. Firman Tuhan mengatakan, “Karena dari kepenuhan-Nya, kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” 
    Kepenuhan Allah bukan hanya untuk pendeta yang menyampaikan firman di mimbar. Itu tentu mutlak. Efesus 3:19 berkata, “Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Ingat, semua kita adalah saksi-saksi Tuhan dan surat yang terbuka. Maka, standar yang kita harus capai adalah di mana kita hadir, di situ juga Allah hadir. Sehingga, di mana pun kita berada, kita mewakili Bapa di surga. Di mana pun kita berada dan melakukan berbagai aktivitas, di situ kita menjadi utusan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tuhan Yesus berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu.” Tidak pernah kita tidak menjadi utusan Tuhan Yesus di mana pun dan kapan pun. 
    Betapa sulitnya menjadi seorang yang hidup dalam kepenuhan Allah. Menjadi perwakilan Tuhan, menjadi saksi Tuhan yang di mana pun berada menghadirkan Tuhan. Betapa sulitnya, karena kita sering tidak stabil. Keadaan kita sangat terpengaruhi oleh lingkungan. Jadi situasional. Waktu di gereja, kita bisa berakting bagai malaikat, tetapi di luar gereja, kita bisa tidak ingat kalau kita sedang ada di hadapan Tuhan. Maka, kita sedang terus menggerakkan gerakan 24 jam di hadirat Allah, untuk menghayati bahwa kita ada di wilayah di mana Allah selalu hadir. Kita tidak berada di daerah yang tak bertuan, tetapi kita selalu ada di daerah yang bertuan di mana Allah hadir. Kita harus selalu menjaga setiap gerak pikiran, perasaan kita, renungan hati, perkataan dan perbuatan kita. Memang tidak ada orang yang bisa menilai kita, karena tidak ada orang yang bisa mengikuti perjalanan hidup kita 24 jam. Sebaliknya, kita juga tidak boleh dengan mudah menilai orang lain. Tidak dengan mudah, artinya bukan tidak bisa sama sekali. 
    Berjalan bersama Tuhan setiap saat adalah petualangan hidup yang hebat. Namun, cara hidup anak dunia yang telah merasuki kita bisa menjadi penghalang untuk kita memiliki petualangan hidup yang berarti atau bernilai. Umumnya, seseorang merasa memiliki isi atau petualangan hidup yang bernilai kalau lulus dari perguruan tinggi, memiliki fasilitas lengkap, atau menjadi seorang pejabat. Bukan tidak boleh, tetapi jangan jadikan hal itu sebagai tujuan. Masing-masing kita tentu harus ahli di bidangnya, tetapi hal itu tidak menjadi petualangan yang hebat kalau kita tidak dipenuhi oleh Allah. 
    Mari kita sadar.
    10 min
  • Bersungguh Hati
    2 Tawarikh 16:9 dikatakan, “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” 
     
    Tuhan adalah kasih, Allah adalah kasih. Allah ingin melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Mata Tuhan menjelajah mencari orang yang takut akan Tuhan yang bersungguh hati terhadap Dia. Maka, seberapa kita bersungguh hati mau berurusan dengan Allah, itu menentukan kebaikan berkat dari Tuhan. Jangan sampai hati kita tercuri oleh kesenangan-kesenangan dunia, apalagi oleh nafsu-nafsu dan dosa. Jangan sampai tercuri! Karenanya hari ini, mari kita tetapkan hati untuk bersungguh-sungguh berurusan dengan Allah. 
    Jadi, kalau kita memang bersungguh hati terhadap Allah, pasti kita akan memikirkan Dia setiap saat. Sementara kita bekerja atau melakukan berbagai aktivitas, kita akan tetap di dalam satu penghayatan bahwa Allah senantiasa hadir. Maka, segala sesuatu yang kita lakukan harus selalu kita pertimbangkan; apakah hal ini berkenan di hadapan Tuhan atau tidak? Apakah ini menyenangkan Tuhan atau melukai hati-Nya? Selalu kita harus pertimbangkan dengan baik. Sehingga kita benar-benar tahu bahwa kita hidup berjalan bersama dengan Tuhan. 
    Bersungguh hati terhadap Allah tidak cukup ditandai dengan datang ke gereja setiap Minggu dan di pertengahan minggu atau bahkan setiap hari. Menjadi aktivis gereja, bahkan menjadi pendeta, belumlah tentu memiliki kehidupan yang bersungguh hati terhadap Allah. Orang yang bersungguh hati terhadap Allah adalah orang yang setiap saat menghayati kehadiran Allah dan terus mempertimbangkan atau memperkarakan, apakah tindakannya berkenan di hadapan Tuhan atau tidak, menyenangkan Tuhan atau tidak. Orang yang bersungguh hati terhadap Tuhan akan berusaha mengerti apa yang Allah ingini dalam hidupnya dan rencana-Nya dalam hidup yang harus diselesaikannya.
    Jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka perjumpaan dengan Tuhan akan benar-benar kita rindukan, kita nantikan; itu berarti kematian sama sekali tidak menakutkan kita, bahkan kita menantikan hari di mana kita dijemput pulang oleh Tuhan Yesus. Ya, tentu kita tidak ingin umur pendek. Sebisa-bisanya kita panjang umur dan dengan umur panjang kita dapat berkarya lebih banyak bagi Tuhan. Namun, kalau memang kita harus meninggal dunia, maka itu bukan sesuatu yang kita takutkan. 
    Mari, kita menetapkan hati untuk bersungguh-sungguh terhadap Tuhan. Jangan kita hidup wajar seperti manusia lain. Memang mereka bukan orang ateis, bukan orang kafir yang tidak beragama; mereka beragama, tetapi mereka tidak ber-Tuhan dengan benar. Ingat, yang penting adalah ber-Tuhan dengan benar. Abraham tidak jelas apa agamanya, tetapi dia pasti ber-Tuhan. Ia bergaul dengan Allah, berinteraksi dengan Allah, maka dinamika hidupnya adalah dinamika hidup orang beriman. Sebenarnya itulah yang dimaksud Alkitab, yaitu dia menjadi bapa orang percaya. Maka, kita yang mau menjadi anak-anak Abraham, yaitu Israel-Israel rohani yang menjadi umat Allah, harus mengikuti jejak Abraham. Abraham harus meninggalkan Ur-Kasdim untuk menemukan negeri yang Allah janjikan, hidupnya diselimuti, dicengkeram oleh keinginan atau kehendak Allah.  Abraham meninggalkan Ur-Kasdim untuk menemukan negeri yang akan ALLAH tunjukkan, yang walaupun sampai akhir hayatnya, ia tidak menemukan negeri itu atau belum menemukan negeri itu, tetapi negeri itu sungguh ada. Sebelum meninggal, seperti yang dikatakan di dalam Ibrani 11 bahwa dari jauh Abraham melambai-lambai. 
    Kita harus bersungguh hati terhadap Tuhan. Kita harus hidup di dalam kehendak dan rencana-rencana-Nya. Tahukah kita, apa kehendak dan rencana Allah? Damai sejahtera. Dia hanya ingin membawa kita masuk ke dalam Rumah Bapa. Bapa tidak menginginkan lebih dari ini. Ia ingin kita menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus. Sebab dengan demikian, kita dapat dilayakkan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah.
    9 min
  • Setengah-setengah
    Rahasia kehidupan ini indah sekali, yaitu menjadikan hal melakukan kehendak Allah sebagai kehormatan. Itulah kemuliaan hidup sebenarnya. Artinya, hal yang mulia, agung, dan berharga, lebih dari apa pun dan siapa pun. Kiranya kita memiliki gelora, gairah ini di dalam hati. Jika kita sungguh-sungguh memahami ini dan mau mengalaminya, kita akan bertanya kepada Bapa di surga, “Apa yang Bapa ingini harus aku lakukan? Apa yang Bapa kehendaki yang harus aku perbuat?” Memang tidak mudah mengerti kehendak Allah itu. Bapa di surga tidak akan memercayakan kehendak-Nya yang kudus, agung, dan mulia kepada orang yang setengah-setengah. Artinya, orang-orang yang tidak mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan. 
    Kehendak Tuhan akan dinyatakan kepada orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan, artinya orang yang serius. Kita bisa berkeadaan belum sempurna, tetapi kita bisa bertekad untuk mengasihi Tuhan dan benar-benar mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan. Pasti Roh Kudus akan menolong kita bagaimana mengasihi Tuhan, Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan. Seperti yang disabdakan Tuhan Yesus, “Roh Kudus akan menuntun kita kepada seluruh kebenaran Allah.” Jadi, kita harus berani bertekad, bahwa yang menjadi kehormatan dan kemuliaan hidup kita adalah melakukan apa yang Bapa ingini, apa yang Tuhan ingini. 
    Kalau hal ini kita pandang mulia, lebih berharga dari jodoh, teman hidup, keluarga, harta, kekayaan, bahkan kita memandang hal ini lebih berharga dari nyawa kita sendiri, pasti kita akan berusaha mencari, menemukan dan mengerti kehendak Allah itu; apa yang Bapa ingini untuk kita lakukan. Roh Kudus pasti memberitahu, dari menit ke menit, dari jam ke jam. Prinsip ini harus kita genggam, kita pegang teguh, bahwa kita memiliki kehormatan hanya kalau kita melakukan kehendak Bapa. Ingat, itulah kemuliaan kita. Orang-orang yang memiliki kehormatan seperti ini, akan benar-benar dibawa ke dalam Kerajaan Surga dan akan mendapat kemuliaan Allah. Maka, selagi masih memiliki kesempatan, mari kita serius berjuang. 
    Coba kita renungkan dan hayati, kalau suatu hari kita bertemu dengan Bapa di surga, kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus, dan jika kita sudah giat sejak di dunia ini dalam mencari, menemukan dan mengerti kehendak Allah serta melakukannya, betapa berbahagianya kita. Kita bisa berkata, “Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, Tuhan Yesus. Aku sudah melakukan apa yang Engkau juga pernah lakukan selama Engkau di bumi mengenakan tubuh daging seperti kami. Aku telah menyelesaikan tugasku dengan baik, Tuhan.” Wah, betapa indahnya. Kita cium kaki Tuhan Yesus dan berkata, “Telah usai tugasku, Tuhan.”
    Itulah sebabnya jangan ada kehendak Tuhan dalam hidup kita yang terlewati, yang lolos, yang tidak dimengerti dan kita tidak lakukan. Jangan sampai ada sesuatu yang Bapa ingini untuk kita tahu dan lakukan justru lewat, lolos, karena kita hanya mau melakukan kehendak kita sendiri. Banyak orang Kristen dan bisa dikatakan sebagian besar mereka belum benar-benar mengerti apa yang diingini Allah dalam hidup mereka atau apa yang dipercayakan kepadanya untuk diselesaikan atau dipenuhi. Pasti itu unik dan spesifik. Misalnya, Tuhan memberi tugas kepada seseorang untuk menyelamatkan mertuanya dan lain sebagainya. 
    Jangan sampai waktu ini berlalu dan kita tidak dipercayai Allah mengerti apa yang Dia ingini, apa yang Bapa rencanakan dan pekerjaan-Nya untuk kita ketahui dan penuhi. Jangan sampai itu terjadi. Ini harus menjadi suatu peringatan yang membuat perasaan kita menjadi krisis. Kita harus bisa menangkap apa yang Allah ingini untuk kita lakukan. Apa yang Bapa kehendaki untuk kita perbuat. Apa yang Dia rencanakan untuk kita penuhi, jangan berlalu. Ingat, kalau sudah berlalu, kita tidak bisa menangkap lagi momentum atau kairos yang Tuhan berikan. Itu tak ternilai harganya, tak terukur.
    9 min
  • Melukai Tuhan
    Kalau kita masih mengingini sesuatu yang Tuhan tidak menikmati sesuatu itu—karena tidak berguna untuk pertumbuhan iman kita dan tidak berguna untuk keselamatan orang lain—Tuhan berduka. Sesuatu yang kita miliki haruslah sesuatu yang memang berguna untuk kita menjalani hidup. Baju dan kendaraan, kita memerlukannya, tetapi bukan untuk sebuah prestise. Namun, hal ini sifatnya pribadi dan kita tidak bisa menghakimi orang, karena setiap orang memiliki porsi masing-masing. Kalau orang porsinya kendaraan roda dua, dia tidak bisa mengkritik orang yang punya roda empat sebagai mewah. Kemewahan itu relatif, tergantung kebutuhan individu dan ini pribadi sifatnya.
    Namun, kalau seseorang masih melakukan dosa, berarti ia tidak menghormati Tuhan. Ketika kita melukai seseorang, kita melukai Tuhan. Walaupun kita disakiti sesakit apa pun, jangan membalas. Kita juga harus belajar untuk mengampuni dengan tulus. Jangan mulut mengampuni, tetapi hati panas. Ingat, kita harus teduh. Kalau Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu, jangan kita menolak. Ketika Tuhan menyuruh kita membantu seseorang—misalnya untuk bayar uang sekolah anak—kita harus lakukan, karena kalau uang itu masih di rekening kita, itu belum uang kita. Namun, ketika uang kita ditransfer ke orang tersebut atau untuk pelayanan, maka uang itu baru menjadi uang kita. Hal itu menyenangkan Tuhan. 
    Kita mau menghormati Tuhan. Jangan dengan hati galau, penuh kebencian, dendam, atau sakit hati. Hati yang menyembah adalah hati yang bersih dari percintaan dunia dan dosa, yang terbangun lewat proses perjalanan waktu. Bagaimana seseorang bisa hidup suci? Tidak bisa dalam satu hari, bukan? Bagaimana orang bisa tidak mengingini dunia? Perlu waktu. Seiring dengan perjalanan waktu, kita mengalami banyak pergumulan hidup, dan pergumulan itu mendewasakan kita. Jadi makin dewasa rohani, hati yang menyembah pun makin berkualitas. Di singkatnya umur hidup kita, harus punya hati yang menyembah, sebab kita akan dilayakkan masuk Kerajaan Surga dengan hati yang menyembah. 
    Memang ada nyanyian di surga, tetapi bukan sekadar nyanyi, melainkan sikap hati. Ini yang penting. Di dunia ini ada orang bisu atau orang yang selalu fals, mereka tidak bisa bernyanyi. Namun, kalau hati yang menyembah, itu pasti berkenan di hadapan Tuhan. Jadi, mari kita benahi sikap hati kita supaya kualitas hati kita meningkat. Pasti kita akan bisa merasakannya. Dalam bahaya, apakah kita bisa tetap teduh? Semakin kita hidup suci, tidak terikat percintaan dunia, maka keyakinan kita akan keberadaan Allah pun semakin menguat. Makanya, orang kudus, orang yang tidak terikat percintaan dunia, pasti doanya lebih tepat. Ini tidak bisa dipelajari dalam satu bulan, satu tahun, karena yang menentukan adalah kualitas hidup kita hari demi hari. Hidup kita berharga kalau kita punya hati yang menyembah. 
    Sebagai manusia, kita bisa merasakan kalau orang menghargai atau menghormati kita atau tidak. Betapa memuakkannya, kalau mereka mengucapkan kalimat-kalimat menghormati, menyanjung, tetapi perilakunya mengkhianati dan menikam kita. Betapa jahatnya orang-orang seperti itu. Lebih baik tidak usah memuji-muji daripada memuji, tetapi juga melukai, menyakiti, mengkhianati, atau menikam. Betapa munafiknya orang seperti itu. Maka, kepada Tuhan semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, Yang Maha Tahu, bagaimana kita bisa sembarangan memperlakukan Dia dalam sikap hidup dan sikap hati setiap hari?
    Ironis, selama ini betapa dianggap normal dan wajarnya orang-orang Kristen yang hidup sembarangan pada hari-hari biasa, tetapi ke gereja memuji Tuhan. Bagaimana seseorang bisa menghormati Allah dengan perkataan, tetapi dalam kehidupan setiap hari tidak menghormati Dia secara patut? Lalu, hal itu dianggap biasa. Sekarang kita mau mengakhiri sisa umur hidup kita dengan baik. Kita harus mengoreksi diri dengan serius. Walaupun untuk itu kita tidak bisa beli mobil bagus, tidak bisa beli rumah, hanya kontrak,
    10 min
  • Hati yang Menyembah
    Sebagai anak-anak Allah atau umat pilihan, atau mereka yang mau dilayakkan masuk Rumah Bapa, kita mutlak harus memiliki hati yang menyembah. Hal ini tidak ditujukan kepada semua orang, karena mereka tidak akan pernah dilatih Roh Kudus untuk menyembah Allah. Sebab yang menyembah Allah, hanya mereka yang menjadi umat pilihan, yang merespons pembentukan Allah, yang menerima pimpinan Roh Kudus, sehingga memiliki hati yang menyembah. Memiliki hati yang menyembah adalah pergumulan panjang; sepanjang umur hidup. Kesalahan banyak orang adalah ketika seseorang bisa mengucapkan kata—di antaranya mengucapkan kata “haleluya”—kalimat penyembahan, maka ia merasa sudah menyembah Allah. Juga dengan mengikuti liturgi dengan syair, pujian yang memuat penyembahan, merasa sudah menyembah Allah.
    Bagaimana orang bisa mengajak orang lain menyembah Tuhan atau memuji Tuhan, kalau dirinya sendiri tidak atau belum memuji Tuhan? Jadi, menyembah kepada Tuhan adalah soal sikap hati. Untuk memiliki sikap hati yang menyembah, perlu proses pembentukan panjang di sepanjang umur hidup seseorang. Mari kita belajar mengenai kata “menyembah.” Kalau kita membaca Lukas 4:8, Tuhan Yesus berkata, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah kamu berbakti!” Harus. Kata “menyembah” di dalam teks aslinya proskuneo, yang pengertian singkatnya berarti “tunduk.” Sejajar dengan kata shachah di dalam bahasa Ibrani. Dalam pengertian luasnya, berarti “memberi nilai tinggi.” 
    Jadi, proskuneo adalah sikap hati bagaimana seseorang menghargai dan menghormati Tuhan. Tidak mudah. Karena dunia sekitar kita adalah dunia yang tidak menghormati Allah. Dari sejak kanak-kanak, kita melihat peragaan manusia yang tidak menghormati Allah. Jarang sekali kita menemukan orang yang menghormati Allah dengan benar. Sehingga, pengaruh dunia sekitar kita—dari peragaan dan gaya hidup atau pola hidup sesama—telah meracuni umat pilihan, sehingga tanpa disadari membentuk hati atau batin yang tidak menghargai, kurang bahkan tidak menghormati Dia. 
    Apalagi di dunia kita sekarang, yang di dalam 2 Petrus 3:3 dikatakan bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Jadi, mengejek Tuhan bukan hanya dengan perkataan, melainkan dengan perbuatan. Ini sudah merupakan puncak kejahatan. Hal ini mengingatkan kita akan Kejadian 6 sebelum Tuhan mengakhiri sejarah dunia, kejahatan manusia luar biasa. Alkitab mengatakan bahwa segala kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan; bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Inilah zamannya, ketika orang tidak menghormati Allah. 
    Sejatinya, tanpa kita sadari, kita juga telah terpapar virus tidak atau kurang menghormati Allah. Tentu orang yang hatinya terpapar virus ini tidak bisa menyembah Allah dengan benar. Bernyanyi lagu penyembahan dengan syair penuh kalimat penyembahan, atau dengan iringan musik yang presisi pun, percuma. Jangan berpikir Allah itu seperti ilah, dewa-dewa asing yang senang menerima persembahan dalam bentuk ritual seremonial. Biasanya di agama-agama atau keyakinan tertentu, penyembahan dilakukan dengan genderang, tarian, dan kurban-kurban, tanpa memedulikan kualitas hidup manusia yang memberikan penyembahan itu. Kita harus masuk ke dalam kehidupan Kristen yang murni. Kita masuk dalam gerakan 24 jam di hadirat Allah; maksudnya kita belajar menghormati Tuhan di mana pun dan kapan pun kita berada, kita menghayati Allah hadir supaya kita menjaga perkataan, perbuatan dan pikiran kita. Memang itu tidak mudah, membutuhkan perjuangan. 
    Virus dunia meliputi dua hal. Pertama, percintaan dunia. Menyangkut ikatan di dalam daging, lalu di dalam jiwa. Hati yang menyembah adalah hati yang sampai titik tidak mengingini apa pun, dan ini pasti tingkat orang Kristen yang sudah dewasa. Tentu kalau orang-orang muda atau orang Kristen baru belum bisa diajak untu...
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…