Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tuhan Menyertai
    Jangan takut hari esok, baik di bumi ini sampai di kekekalan, jangan takut. Nasib kita, anak cucu keturunan kita, Allah sangat sanggup pelihara. Dia Maha Kuasa. Ingat, mengapa Abraham begitu dicintai Tuhan. Lot, keponakannya, anak cucu keturunannya, semua terpelihara. Berapa banyak kalimat dalam Alkitab yang mengatakan, “Allah mengingat Abraham.” Allah mengingat Abraham karena Abraham membawa mandat-Nya. Abraham memikul rencana Allah yang harus dipenuhi. Dia harus menjadi bapak banyak bangsa, bapak orang beriman. Maka, hidupnya harus menjadi teladan, contoh, potret, prototipe orang beriman.
    Dia harus meninggalkan Ur-Kasdim supaya punya gaya hidup yang tidak sama dengan keluarganya, nenek moyangnya. Dia harus menunggu anak selama seperempat abad. Dia harus mengalami ujian-ujian berat. Hari ini, kita sebagai anak-anak Abraham dalam iman, bisa belajar. Abraham menjadi model, prototipe orang beriman, dan dia bayar harganya. Maka, Allah mengingat. Tidakkah kita senang jika Tuhan akan mengingat kita dan anak cucu keturunan kita? Kita bayar harga keamanan keturunan kita dengan kesucian hidup dan kedekatan kita dengan Allah semesta alam, walaupun itu bukan tujuan utama. 
    Tujuan utama kita adalah menyenangkan Dia dan melayani Dia. Jangan kehilangan kesempatan. Hidup ini tidak main-main. Jangan pulang ke negeri kekekalan dengan tangan kosong. Karena kita tidak berbuat apa-apa selama hidup. Bertobatlah, dimulai dari kehidupan yang benar. Jangan berbuat dosa lagi, karena dosa membuat kita terkubur dalam kebodohan, dan kita tidak akan pernah bisa dipercayai Tuhan. Sebab hanya orang-orang kudus yang bisa berjalan dengan Tuhan. Hal itu harus dimulai dari karakter yang baik. Bukan dimulai dari kecakapan, uang, atau apa pun yang bisa kita sumbangkan ke gereja. Tapi harus dimulai dari karakter, watak kita. Karenanya, kita harus berproses untuk benar-benar makin kudus, makin tak bercacat tak bercela. Ketika kita mengerti kebenaran, kita percaya Tuhan akan cukupi kita. 
    Tidak ada yang bisa menghindarkan diri dari pengadilan Tuhan. Cepat atau lambat kita ada di pengadilan Tuhan. Miliki kegentaran akan hal itu. Di bumi, kita memiliki nama besar, atau sebagai seorang pimpinan, pengusaha sukses, tetapi kalau ternyata di hadapan pengadilan Tuhan di mana tidak ada yang bisa kita tutupi, dan ternyata kita didapati busuk, memalukan. Jangan sampai kita dipermalukan dalam kekekalan. Jangan pulang dengan tangan kosong. Jiwa-jiwa yang kita selamatkan menjadi harta, permata Tuhan. Berharga di mata Allah. Maka, berubahlah, sebelum waktu ini berlalu. 
    Ketika kita memiliki beban dan mengambil bagian dalam penderitaan Tuhan, kita pasti dijagai Tuhan. Kita mungkin tidak punya apa-apa, tetapi kalau tulus berkata, “Ini aku, utuslah aku,” Tuhan akan bela kita. “Jadikan semua bangsa murid-Ku,” bukan sekadar membuat orang jadi Kristen. Murid itu belajar. Maka, kita harus jadi murid dulu. Kita harus bisa melakukan apa yang Sang Guru kita teladankan dan perintahkan, baru kita bisa menunjukkan diri bagaimana kita menjadi teladan, menjadi model bagaimana orang membentuk, membangun dirinya. Maka, tidak berlebihan Paulus berkata, “Ikuti teladanku dan orang-orang yang hidup sama seperti kami, jadi teladanmu.” 
    Paulus sudah di surga, tetapi ada orang-orang yang hidupnya seperti Paulus yang menjadi teladan. Bukan hanya cakap berbicara, tetapi orang yang hatinya seperti Paulus yang berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Semua kita bisa menjadi seperti Yesus dan mencontoh kehidupan Paulus. Ini kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk berubah. Kita harus berubah dan terus berubah. Mumpung kita masih memiliki hari dan kesempatan. 
    Barangkali saat ini hidup kita porak-poranda. Ibarat rumah, mungkin sudah miring, sudah berantakan. Namun, itu tidak menutup kemungkinan untuk kita dipulihkan. Marilah dengan tulus kita berkata,
    9 min
  • Tidak Terbatas
    Kita tidak dipaksa untuk mau menjadi utusan Tuhan. Kemauan dan kerelaan itu harus lahir dari diri kita sendiri. Namun, jika kita mau dan rela, pasti Bapa disenangkan. Uang kita tidak akan cukup untuk bisa memuaskan hati Allah. Kemampuan, kecakapan, bakat, talenta, tidak akan cukup untuk memuaskan hati Allah. Semua bisa terbatas, tetapi yang tidak terbatas adalah hati kita. Kita dapat membuat selebar-lebarnya, seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya hati kita untuk mencintai Tuhan, bisa. Sehingga kita bisa punya beban seperti beban yang ada di hati Tuhan. Namun, kalau kita memang tidak ingin, kita membatasi cinta kita kepada Tuhan dan kita memberikan hati kita kepada banyak hal yang ada di dunia ini, maka kita kehilangan kesempatan untuk bermartabat sebagai bangsawan surgawi. 
    Sebab, hanya para bangsawanlah yang akan diperkenan masuk ke dalam Rumah Bapa, dimuliakan bersama Yesus. Bangsawan-bangsawan itu adalah orang-orang yang dikatakan di dalam Roma 8:17, yang menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya meminta, menuntut, bicara soal perlindungan, penyertaan Tuhan selalu dikaitkan dengan perlindungan-Nya, berkat-Nya. Hal itu tidak usah kita persoalkan, mestinya. Seperti orang tua yang mendampingi anak yang belum mengerti sekolah, namun orang tua sudah memasukkan asuransi pendidikan. Bahkan anak belum lahir, baju, popok sudah disiapkan orang tua. 
    Bapa di surga pasti lebih dari itu. Tuhan berfirman, “Apakah ada anak yang ditinggalkan ibunya ketika dia disusui?” Tidak ada. Tidak ada ibu yang meninggalkan anak yang disusuinya. Tetapi seandainya ada, Tuhan berfirman: “Aku tidak pernah meninggalkan kamu.” Kitalah yang meninggalkan Tuhan. Kita tidak mau sepenanggungan dengan-Nya. Mau disertai, mau dilindungi, tetapi kita tidak mau mengerti untuk apa penyertaan Tuhan itu. Sebenarnya, penderitaan yang Tuhan perkenan kita alami atau salib yang kita pikul, itu mengerjakan kemuliaan. 
    Seperti yang dikatakan oleh Paulus, “Penderitaan zaman sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang kita peroleh.” Jadi, bukan bermaksud mau menyakiti kita, tetapi supaya kemuliaan yang Bapa janjikan untuk Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, bisa diwariskan kepada Tuhan Yesus bersama dengan kita, jika kita sepenanggungan dengan Tuhan. Sejatinya, banyak di antara kita yang masih jauh dari standar. Kita hanya mau disayang-sayang, diberkati, dilindungi, melihat dan mengalami mukjizat. Namun, kita tidak mengerti bahwa kita harus berkarakter seperti Yesus, berperasaan seperti Yesus, dan sepenanggungan dengan Dia. Karenanya, kesucian hidup itu mutlak. Kesucian, sama dengan berkarakter seperti Yesus. 
    “Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku,” itu bukan kalimat perintah sebenarnya. Dalam bahasa Indonesia, itu kalimat perintah. Namun, dalam teks aslinya berbentuk participle; “sementara kamu pergi.” Bukan perintah. Jadi, otomatis ke mana pun kita pergi, kita akan menggarami dunia, kecuali jika kita menjadi tawar. Di mana pun, kita menerangi dunia, kecuali kita padam. Di mana pun kita berada, kita akan memengaruhi orang, kecuali kita yang terpengaruhi dunia.  Tidak bisa tidak, kita pasti memberkati orang. Di tempat di mana kita memerankan panggilan kita—sebagai praktisi hukum, tenaga medis, pengusaha, supir online, ibu rumah tangga, pejabat pemerintah, aparat keamanan, politisi, atau apa pun—kita harus berdampak. 
    Sebab di mana pun kita berada, di situ ada pemerintahan Allah. Di mana pun kita berada, Tuhan senantiasa menyertai kita. Tuhan menyertai kita dalam rangka: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Sebab Tuhan punya masalah dengan keselamatan jiwa orang yang tidak diingini-Nya satu pun binasa. Apakah kita menganggap ini juga masalah kita? Atau kita punya masalah sendiri? Orang yang sibuk dengan dirinya sendiri, tidak akan sibuk dengan Tuhan. Maka, orang harus selesai dengan dirinya sendiri. Cukupkan dengan apa yang ada pada kita. Kalaupun kita punya masalah,
    7 min
  • Tidak Layak
    Dari sekian banyak kalimat yang sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan adalah kalimat “Allah beserta kita; God be with us.” Biasanya kalimat itu diambil dari Injil Matius 28:18-20, yang memuat atau berisi Amanat Agung Tuhan Yesus. “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” 
    Kalimat “Tuhan beserta kita” merupakan kalimat yang sangat populer di telinga kita, dan mungkin juga akrab di bibir atau di mulut kita. Kalimat ini diucapkan oleh Tuhan dalam konteks ketika Tuhan memberikan Amanat Agung kepada orang percaya. Dimulai dari deklarasi bahwa segala kuasa di surga dan di bumi di dalam tangan Tuhan. Bicara mengenai kuasa, jangan hanya dikaitkan dengan mukjizat, tetapi harus dikaitkan dengan kemampuan untuk menyelamatkan manusia. Jadi, Tuhan menyatakan bahwa Dia berkuasa untuk menyelamatkan manusia. Tidak keliru jika dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spektakuler. Tidak salah dikaitkan dengan mukjizat, tetapi lebih dari hal yang bersifat spektakuler, lebih dari hal yang bersifat mukjizat, Tuhan menekankan kemampuan-Nya untuk menyelamatkan dunia. 
    Dan indahnya, penyelamatan dunia itu dipercayakan kepada kita, seperti yang dikatakan di dalam Yohanes 20:21, “Damai sejahtera atas kamu. Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu.” Damai sejahtera itu pun diberikan dalam konteks dengan mandat utusan tersebut. Jadi, kita tidak layak menerima damai sejahtera, tanpa menjadi utusan; kita tidak layak disertai, tanpa memenuhi Amanat Agung. Coba kita hayati, betapa sabar-Nya Tuhan ketika menyertai kita. Memberi kesehatan, melapangkan jalan studi, melapangkan jalan karier, memberkati bisnis kita, membuka pintu-pintu yang tertutup sehingga kita bisa memiliki bisnis, usaha yang bagus. Namun, kita tidak mengerti bahwa itu semua memiliki tujuan. 
    Tuhan memakai hidup kita untuk memenuhi proyek mulia, proyek agung Allah, yaitu menyelamatkan umat manusia. Satu jiwa manusia nilainya lebih dari semua harta di dunia ini jika dikumpulkan. Satu jiwa. Apalagi 1000 jiwa, apalagi 100.000 jiwa, apalagi satu juta jiwa, dan seterusnya. Dalam 2 Petrus 3, firman Tuhan mengatakan, “Bapa tidak menghendaki seorangpun binasa.” Banyak orang tidak mengerti atau tidak mau mengerti betapa jahatnya kuasa kegelapan. Kalau kasih Allah bisa tidak terukur, kejahatan oknum itu juga tidak terukur. Kejahatan kuasa gelap itu bisa dihayati ketika seseorang masuk ke dalam api kekal, terpisah dari Allah. Yang dikalimatkan Tuhan Yesus dengan “ratap tangis dan kertak gigi, api yang tidak padam, ulat yang tidak bisa mati,” yang menunjukkan penderitaan yang tak terperi, tidak terbayangkan. 
    Sama dengan kita bisa menghayati lebih ketika kita ada di dalam Kerajaan Bapa di surga, menyaksikan kemuliaan Allah, merasakan dan menikmati keindahan Kerajaan Surga, baru kita bisa mengerti betapa sayang Tuhan kepada kita. Bapa tidak menghendaki seorang pun binasa. Tuhan Yesus sendiri menerima proyek itu dari Bapa. Lalu, tongkat estafet tugas itu dipercayakan kepada orang percaya. Tentu tidak semua orang percaya mengerti dan mau menerima tugas agung ini. Suatu hari, banyak orang akan sangat menyesal ketika menyaksikan keagungan Allah dan bisa menghayati nilai jiwa manusia, ketika menyaksikan manusia yang terpisah dari Allah begitu mengerikan, dan menyaksikan manusia yang tidak terpisah dari Allah, begitu mulia. Baru mengerti betapa tinggi nilai manusia.
    Seiring berjalannya waktu, bertumbuh dalam pengertian akan kebenaran, kiranya kita semakin mengerti nilai jiwa manusia. Kita belum terlambat, selama kita masih memiliki waktu. Pertanyaannya, seberapa kita benar-benar bisa menghayati nilai jiwa seorang anak manusia?
    10 min
  • Sengaja dan Sadar
    Sering tradisi gereja disamakan dengan kekuatan Alkitab. Padahal, wajah kekristenan telah berubah. Sekarang kita harus datang kepada Pemilik kebenaran, yaitu Bapa. Bapa yang memiliki logos, Bapa yang memiliki firman. Yesuslah manusia pertama yang menjadi bait Allah. Yang karenanya Dia berkata, “Rubuhkan bait Allah ini. Aku bangunkan dalam 3 hari.” Sudah saatnya Allah tidak mendiami gedung, tetapi mendiami tubuh dan Yesuslah manusia pertama yang didiami firman atau logos, atau hikmat Allah. Sehingga Yesus memperagakan kehidupan Bapa-Nya. Itulah sebabnya dalam Alkitab di kitab Wahyu beberapa kali dikatakan, “Yesus saksi setia.”
    Saksi siapa? Saksi Bapa. Yesuslah yang memancarkan kemuliaan Allah. Yang Paulus katakan, “Kita melihat kemuliaan Allah dalam wajah Yesus.” Kalau kita kembali ke Alkitab, bahwa kita juga harus menjadi tabernakel Allah, bait Allah. Supaya kita memancarkan wajah Bapa. Yesus berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu. Seperti Aku menjadi saksi setia Bapa, sekarang Aku naik ke surga, kamu yang masih tinggal di bumi, kamu menjadi saksi Bapa menggantikan Aku. Pancarkan wajah Bapa.” Itu baru satu dari kebenaran yang Tuhan akan singkapkan. 
    Kita telah mewarisi liturgi dari bermacam-macam gereja yang berubah wajah di setiap masa. Kita mau kembali ke Alkitab. Lagu-lagu kita harus sesuai dengan nafas Alkitab, harus sesuai dengan suara Alkitab. Kalau bagi umat Perjanjian Baru, harus merindukan Kerajaan Surga, harus tidak betah lagi hidup di bumi. Kita membela pekerjaan Tuhan dengan darah dan nyawa kita. Kita memiliki beban. Kita berdoa agar kita punya hati seperti hati-Nya Tuhan Yesus. Kita mengekspresikan perasaan Bapa di surga. Makanya, kita harus terus mencari wajah Tuhan. Terus menyediakan diri, duduk diam di kaki Tuhan. 
    Kalau kita tidak mengosongkan diri, maka kecerdasan Allah tidak mengalir dalam diri kita, karena kita merasa sudah cukup cerdas. Tuhan tidak mengambil kesadaran kita. Kita masih di dalam kesadaran, tetapi di dalam kesadaran itu, kita punya dialog dengan Roh Kudus. Karena Roh Kudus di dalam diri kita, maka kita harus jadi tabernakel-Nya Tuhan. Bagi para pendeta, harus punya stabilitas hidup setiap hari. Suci itu sucinya stabil, emosi jangan sampai dihinggapi oleh kedagingan kita apalagi roh lain. Stabil, supaya di mimbar juga stabil. Roh Kudus yang pimpin kita, supaya ada perjumpaan kita dengan Roh Kudus. 
    Jangan sombong. Tanpa kita sadari, kita diam-diam sombong, apalagi kalau ada prestasi masa lalu yang cemerlang. Justru itu yang membuat Roh Kudus jadi padam. Dia tidak punya saluran. Maka, kita harus banyak duduk diam di kaki Tuhan, supaya menyadari betapa besar hikmat Allah dan betapa tidak berartinya kita. Kita harus sadar bahwa kita ini bodoh. Kita mau belok kanan-belok kiri, Iblis bisa tahu. Dia tahu jurus kita, tetapi kalau Roh Kudus yang pimpin kita, Iblis tidak bisa baca, dia tidak bisa kalahkan kita. Makanya kita harus dikuasai Roh Kudus supaya hikmat Allah mengalir. Tergantung seberapa kita dikuasai oleh Firman, oleh Logos, oleh Allah itu. 
    Allah memberi kita kebebasan untuk mengelola dan mengarahkan hati kita; apakah kita mau mencintai Tuhan atau tidak, dan kalau kita mencintai Tuhan, seberapa besar bara cinta kita kepada Tuhan, tergantung kita. Seberapa serius kita dengan Tuhan, tergantung seberapa dalam kita memerlukan Dia. Bagaimana kita bisa merasa memerlukan Dia sehingga kita bisa serius? Tergantung seberapa kita mencintai-Nya. Kalau orang sudah cinta, orang tidak melihat dia kaya atau miskin; atau penampilannya. Lalu, mengapa kita tidak mempersembahkan hati kita seluruhnya untuk Tuhan? Kita tidak bisa dikuasai Allah sepenuhnya kalau hati kita mendua.
    Kita berurusan dengan Tuhan bukan karena berkat-Nya, bukan karena melirik dompet kuasa-Nya, melainkan karena Tuhan sendiri. Orang yang memandang Allah seakan-akan mati, Allah mati bagi orang itu. Namun, orang yang memandang Allah hidup, Allah hidup baginya. Kita mau ke mana?
    9 min
  • Tingkat Keseriusan
    Menjadi pertanyaan yang harus selalu kita perkarakan, “Apakah benar kita memfokuskan hidup kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus sebagai kebutuhan utama? Atau ternyata masih banyak keperluan lain? Bahkan ironisnya, hal itu malah sebenarnya bukan sesuatu yang kita pandang perlu dan penting. Maka, perkarakan juga, seberapa serius kita berurusan dengan Allah? Kita memiliki perjalanan hidup, pengalaman dengan berbagai objek dan kegiatan. Kita mengerti bagaimana serius dalam studi, serius dalam karier, serius dalam berbisnis, serius membangun hubungan dengan relasi-relasi bisnis, relasi-relasi pejabat yang bisa men-support bisnis kita. Tentu kita juga mengerti apa artinya serius menggalang hubungan dengan seseorang, yang dengannya kita menyatakan cinta sampai kemudian membangun rumah tangga. 
    Sekarang pertanyaannya adalah seberapa serius kita berurusan dengan Tuhan? Tuhan itu Tuhan yang seakan-akan diam; the silent God; Allah yang senyap. Kalau seseorang menganggap sepi Tuhan, maka sepilah Tuhan untuknya. Kalau ia menganggap Tuhan itu hidup, nyata, berpribadi, dan sungguh-sungguh memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang hidup, maka menjadi hiduplah Allah baginya. Jadi, Allah seakan-akan mati bagi orang yang menganggap Allah itu mati, tetapi bagi orang-orang yang memperlakukan Allah itu hidup, dia pasti mengalami perjumpaan dengan Allah dan mengalami Tuhan. Pernahkah kita serius mempersoalkan berapa saldo yang kita miliki di kekekalan? Seberapa puas Tuhan melihat kita? 
    Selagi kita masih memiliki kesempatan hidup, yaitu ketika jantung kita masih berdetak, nadi kita masih berdenyut, masih ada napas di paru-paru kita mengembang, kita masih memiliki kesempatan untuk memperkarakan hal ini. Jika kita ternyata kurang berkenan di hadapan Allah, kita masih memiliki kesempatan untuk berdamai, untuk rekonsiliasi. Sebesar apa pun dosa kita, Tuhan mau mengampuni. Karena firman Tuhan mengatakan, “Walaupun kita tidak setia, Dia tetap setia.” Jangan sampai kita miskin di kekekalan. Kita harus memiliki prinsip “Hanya Tuhan segalanya dalam hidup kita.” Seberapa kita merasa memerlukan Tuhan? Karena tingkat perasaan dan kesadaran kita dalam memerlukan Tuhan menentukan tingkat keseriusan kita dengan Tuhan. 
    Banyak orang tidak merasa memerlukan Allah, kecuali dalam kondisi terpepet, dalam kondisi krisis, baru sungguh-sungguh. Orang seperti ini curang. Kalau ada masalah-masalah berat, ia mencari Tuhan, tetapi ketika tidak ada masalah, dia tidak mencari Tuhan dengan sungguh. Pernahkah kita berkomitmen untuk setiap hari bangun sebelum pukul 5 pagi untuk doa pagi? Yang mungkin dipandang orang, itu keterlaluan. Namun, kalau kita merasa memerlukan Allah lebih dari apa pun dan siapa pun, maka jangankan pukul 5 pagi, pukul 4 pun kita bangun. Orang berkata tidak bisa bangun pagi, tetapi untuk menonton pertandingan sepak bola pukul 4 pagi, dia bangun sejak pukul 3. Karena bola itu dianggap perlu, maka dia serius soal bola. 
    Tuhan kita adalah Tuhan yang senyap. Ketika kita memperlakukan Tuhan secara sembarangan, kita anggap remeh, Tuhan diam. Ini justru mengerikan. Karenanya, kita harus memiliki kesadaran, membangkitkan gairah kita untuk merasa perlu Tuhan, dan mau serius dengan Tuhan. Perhatikan kalau pria atau wanita sedang jatuh cinta. Apa pun dilakukan demi orang yang dia cintai. Kalau orang tua sayang anak, apa pun dia lakukan demi anak. Seorang wanita lemah dan penakut pun jadi pemberani, bak pendekar sakti ketika anaknya terancam. Lalu, mengapa kita tidak memandang Tuhan sebagai yang kita perlukan lebih dari siapa pun dan apa pun? Kira-kira apa yang kita mau katakan di hadapan Tuhan saat nanti bertemu dengan Tuhan? 
    Jangan sampai, ketika kita mati, baru kita sadar bahwa tidak ada yang dapat menolong dan menyelamatkan, kecuali Tuhan. Sejatinya, banyak orang Kristen yang sebenarnya sudah disesatkan oleh Iblis dengan bisikan sederhana, “kamu sungguh-sungguh dalam Tuhan atau tidak, sama saja.
    9 min
  • Rahasia Kehidupan
    Orang yang benar-benar menetapkan hati mengasihi Tuhan akan menjadi seperti Tuhan; berkeadaan mulia, kudus, berhati tulus, berbelaskasihan, dan memiliki sifat-sifat Tuhan yang dia cintai. Ingat, hal ini adalah pilihan, bukan anugerah. Sebab, semua orang diberi Tuhan kesempatan untuk itu. Masalahnya, apakah seseorang memilih dan menggunakan kesempatan itu dengan baik? Ini benar-benar membahagiakan kita, bahwa tidak ada orang atau siapa pun yang dapat melarang kita mengasihi Tuhan. Memang ada gangguan-gangguan yang kuasa kegelapan lakukan agar kita tidak mengasihi Tuhan, tetapi dia tidak bisa membatalkan, atau mencabut tekad kita yang teguh untuk mengasihi Allah. Kita yang harus membuat cinta kita kepada Tuhan itu membara, menyala.
    Sementara kita berkeadaan belum mulia, sementara sifat-sifat manusia lama kita masih melekat di dalam diri ini, mungkin saja kita masih bisa melakukan banyak dosa dan kesalahan, tetapi kita menetapkan hati mengasihi Tuhan, di situ Tuhan akan menggarap hidup kita. Sungguh benar seperti yang dikatakan di dalam Roma 8:28, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” Kebaikan yang dimaksud dapat kita lihat di ayat 29, yaitu “serupa dengan Yesus.” Itulah sebabnya Tuhan menaruh perasaan di dalam diri kita. Kita segambar dengan Allah, artinya kita bisa memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Kalau kita mau serius dan bertekad kuat, maka tidak ada hal apa pun yang bisa menghalangi kita untuk memikirkan Allah dan mencari pengenalan akan Allah. 
    Iblis bisa saja menggoda agar kita teralihkan dan fokus kepada yang lain. Namun, kalau kita memang mau fokus kepada Tuhan, Iblis tidak bisa menghalangi kita. Tidak ada yang bisa menghalangi dan melarang kita untuk mencari Tuhan, memikirkan tentang Tuhan, mengenal Tuhan dan mengasihi Dia. Jangan sampai hati kita telanjur direbut oleh dunia. Sebab, Iblis memang berusaha merebut hati kita dengan mempertontonkan atau menunjukkan keindahan dunia. Faktanya, banyak orang yang terpikat, tertarik, lalu menikmati dunia ini sehingga selera jiwanya menjadi sesat, selera jiwanya menjadi rusak, sehingga hatinya terfokus kepada dunia. 
    Ingat, firman Tuhan mengatakan keinginan dunia ini membinasakan; “Dunia dengan segala keinginannya akan binasa, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah hidup selama-lamanya” (1Yoh. 2:17). Hidup kekal, menjadi mulia, karena kita memiliki sifat-sifat Allah. Jadi, kepada siapa hati seseorang tertaruh, dia akan berkualitas seperti objek yang kepadanya ia menaruh hatinya. Di dalam Lukas 4:5-8, Tuhan Yesus dibawa ke tempat tinggi dan kepada-Nya ditunjukkan keindahan dunia, kemuliaan dunia (the glory of the world), dan Iblis menawarkan keindahan dunia kepada Yesus dan memberikannya, asal Yesus mau menyembah kepada Iblis.
    Namun, Yesus berkata, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allah-Mu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Menyembah artinya memberi nilai tinggi atau proskuneo. Kepada objek apa kita memberi nilai tinggi, di situlah kita menyembah. Apa yang kita sembah, pasti itulah yang kita cintai. Hal-hal yang kita cintai, itulah yang akan memberi sifat-sifat dan keberadaan. Jadi, kalau seseorang mencintai dunia, maka sifat-sifat dunia akan diserapnya. Mengerikan! Jika seorang mencintai dunia, maka kualitas hidupnya seperti dunia. 
    Maka, kalau orang sungguh mencintai Tuhan, ia akan menjadi mulia seperti Allah mulia. Ia menjadi kudus, menjadi tulus, dan memiliki sifat-sifat Allah yang agung itu. Jadi, bagaimana nasib atau keadaan kekal seseorang, ditentukan oleh diri orang itu sendiri. Makanya Allah memberi perasaan dan pikiran. Dari pikiran dan perasaan inilah manusia bisa memiliki kehendak bebas. Dia dapat mempertimbangkan, mengambil keputusan dan memilih. Bukan Allah yang memilih, bukan Allah yang menetapkan, melainkan manusia itu sendiri. 
    Dulu kita sering berkata, “Gerakkan hatiku mencintai-Mu, Tuhan.
    8 min
  • Yang Tidak Kelihatan
    Tujuan kita menjadi orang Kristen adalah agar kita menjadi manusia baru di dalam Tuhan. Bukan hanya menjadi anggota gereja tertentu. Bukan hanya, dulu agamanya A sekarang ikut agama Kristen. Tentu tidak cukup demikian. Bahkan, tidak cukup walau dinilai baik menurut kacamata manusia, tetapi sebenarnya kita ini bobrok, hanya tidak ketahuan saja. Dulu main judi, sekarang tidak main judi. Dulu diam-diam selingkuh, berzina, sekarang tidak. Tidak cukup sampai di situ. Manusia baru itu tentu harus berproses tiada henti. Jadi terus berproses, tidak boleh berhenti; harus di-upgrade terus. 
    Paulus menulis, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Mari kita melihat dengan iman istilah “apa yang tidak kelihatan” yang dimaksud oleh Paulus. Yang tidak kelihatan adalah Kerajaan Surga. Ironis, banyak gereja dan persekutuan Kristen yang tidak mengajak jemaat melihat “yang tidak kelihatan” itu. Sebaliknya, yang diperhatikan hanya kehidupan hari ini yaitu di bumi saja. Bagaimana rezeki lancar, sukses dalam studi dan kariernya, kebutuhan terpenuhi, punya berbagai fasilitas. Memang hal itu tidak salah, karena kita memang harus memperhatikan itu. Namun, itu semua bukan tujuan yang benar dalam iman kekristenan.
    Ada yang tidak kelihatan, yaitu Kerajaan Surga. Di mana, Tuhan akan bertakhta sebagai Raja. Sekarang memang tidak kelihatan, tetapi tempat itu sungguh-sungguh ada. Tergantung kita yang mau percaya atau tidak. Sebagian kita yang telah mengalami perjalanan panjang hidup ini, pasti mengalami Tuhan. Apalagi orang yang rajin berdoa. Ada suasana-suasana tertentu, pengalaman-pengalaman tertentu yang bersifat luar biasa, spektakuler. Allah itu ada dan nyata, tetapi Ia tidak murahan, maka Dia tidak bisa dialami oleh sembarang orang. Kalau kita memperhatikan hal-hal yang tidak kelihatan, punya tujuan hidup di kekekalan, hidup kita pasti berubah. 
    Maka, mau tidak mau kita harus di-upgrade untuk menjadi lebih benar, lebih rendah hati, lebih suci, sabar, lebih mengerti orang lain, dan lebih mengampuni. Hal itu tidak pernah berhenti sampai kita meninggal dunia. Makanya di dalam 2 Korintus 4:16 dikatakan, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Secara lahiriah memang sudah tidak secantik dulu, tetapi belas kasihannya untuk sesama semakin besar. Nah, orang-orang seperti ini yang layak untuk masuk surga. Jadi, yang penting bagi kita adalah hari ke hari bisa dilewati, bisa makan-minum, dan hati kita tidak terikat dunia.
    Hal ini tidak main-main dan bukan hanya untuk orang tua, tetapi untuk orang muda juga. Sebab kita pasti mati. Jadi kita mestinya siap-siap. Kapanpun kita meninggal, kita memiliki kepastian diterima di Rumah Bapa. Lebih baik kita takut sekarang, tetapi berubah menjadi benar daripada kita tidak pernah takut sehingga kita hidup sembarangan. Kita harus mau belajar untuk mengerti, percaya, dan menerima realitas bahwa ada kehidupan yang akan datang. Di luar sana, orang tidak memikirkan kekekalan. Namun, jangan sampai kita terbawa arus mereka. Ingat, jangan sampai ketika berada di ujung maut kita bingung: “Aduh, aku diterima gak ya?”
    Di dalam kekristenan, kita diajar bukan untuk ragu-ragu, spekulasi, untung-untungan. Keselamatan adalah sebuah kepastian. Namun, bagaimana cara kita memastikannya? Keselamatan menjadi milik yang pasti apabila setiap hari kita lulus ujian. Kalau tes harian kita sudah jelek, mana mungkin bisa masuk surga? Tersinggung sedikit, langsung marah. Kita kalah. Tetangga cerewet, kita ikut cerewet; dia menjahati kita, kita lawan. Kita kalah lagi. Maka, kita harus selalu bersedia di-upgrade. Pasti kita tidak bisa membayangkan apa yang Tuhan sediakan untuk kita. 
    Maka, jangan takut, jangan kita khawatir akan hari esok. Kalau kita jadi kekasih Tuhan,
    7 min
  • Tuhan Menguji Batin
    Seorang teknisi pesawat terbang bukan hanya harus orang yang genius, melainkan juga teliti. Ia harus bisa memeriksa komponen mesin pesawat terbang dan memastikan bahwa pesawat itu laik terbang. Sebab bisa membawa—bukan saja puluhan, melainkan ratusan penumpang. Kalau naik mobil di jalan beraspal atau di tanah rusak, kita bisa menepi atau berhenti di tempat, tetapi kalau pesawat tidak bisa. Jadi, harus benar-benar presisi. Bukan hanya genius, melainkan juga super teliti, demi keselamatan pesawat itu. 
    Pertanyaannya, pernahkah kita sungguh-sungguh memperkarakan bagaimana dengan pesawat hidup kita ini? Kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus, agar kita mengenali keadaan diri kita dengan benar. Bukan saja cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara rohani, memiliki kualitas spiritual quotient (SQ), kecerdasan rohani yang baik untuk bisa mengenali dan menyelami sedalam-dalamnya keadaan diri kita. Firman Tuhan mengatakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu” (Yer. 17:9). Di ayat selanjutnya, firman Tuhan mengatakan, “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin atau menguji hati manusia” (Yer. 17:10).
    Tuhan yang menguji batin. Maka, manusia harus menyadari dan mengelola batinnya dengan baik. Kita memohon Roh Kudus memberikan kita kemampuan, kegeniusan rohani atau kecerdasan rohani sekaligus ketelitian dan kejujuran mengenal diri kita. Kiranya kita mau serius untuk merenungkan, membuat simulasi di dalam pikiran, yaitu: kalau aku berhadapan dengan Tuhan semesta alam, kira-kira bagaimana? Betapa mengerikan kalau masih ada hal yang tidak patut yang kita lakukan, yang masih tersisa di dalam hidup kita. Karenanya, kita mohon petunjuk Roh Kudus agar kita benar-benar serius memeriksa diri dan dituntun oleh Roh Kudus untuk mengenali keadaan kita di hadapan Tuhan. Dengan kacamata Allah yang cerdas dan sempurna, pasti kita bisa mengenali keadaan kita sebagaimana adanya. Kita harus meminta agar Roh Kudus menolong kita.
    Sejujurnya, kita pasti merasa bahwa masih saja ada kemelesetan yang kita lakukan dalam hidup ini. Masih saja ada ketidaktepatan yang kita lakukan. Mungkin, kita tidak melakukan dosa-dosa pelanggaran moral yang memalukan dan bahkan melanggar hukum, kita tidak melakukan lagi. Kita tidak pernah melakukannya, tetapi bisa saja masih ada dosa yang tersembunyi di dalam hati kita; kesombongan terselubung, ketidaktulusan, hasrat menjadi orang terhormat, senang dipuji, senang disanjung, bangga dengan prestasi, bangga  dengan pengalaman yang kita merasa senang kalau orang tahu prestasi kita, pengalaman kita, istimewa kita; baik kita sendiri atau istimewa keluarga atau istimewa orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita, yang kita bisa jual menjadi kebanggaan kita. Kita harus jujur bahwa banyak ketidaktepatan yang masih sering kita lakukan dan mungkin tidak kita sadari.
    Di hadapan Tuhan semua akan terbuka dan telanjang. Itulah yang harus terus kita pertimbangkan. Kita yang harus membuat simulasi di dalam pikiran kita, kita bayangkan kita ada di hadapan Allah Yang Maha Kudus. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi di hadapan Allah. Jangan sampai ternyata masih ada kebusukan-kebusukan di dalam diri kita yang masih kita simpan atau kita pertahankan. Betapa mengerikan hal itu ketika kita ada di hadapan Allah. Kita mau menjadi seorang yang benar-benar bersih di hadapan Allah, yang tidak bercacat dan tidak bercela agar Tuhan pasti berkenan, Roh Kudus pasti berkenan. Roh Kudus pasti membukakan pikiran kita untuk dapat mengenali diri kita dengan benar.
    Mari kita tidak cepat merasa puas diri dengan apa yang telah kita capai. Sudah menjadi jemaat yang rajin, sudah menjadi aktivis yang giat, sudah menjadi pendeta yang terhormat; jangan puas dengan keadaan-keadaan ini. Namun, bawalah hidup kita kepada Tuhan dan terus perkarakan, apakah masih ada sesuatu yang tidak pantas, sesuatu yang tidak patut yang masih kita lakukan?
    9 min
  • Mendengar Suara Tuhan
    Kenyataan yang kita temui, sangat sedikit orang yang benar-benar mengikut Yesus dan mendengar suara-Nya, karena memang tidak mudah. Roh Kudus itu lembut, tidak memaksa. Jadi, kalau seseorang dari muda hidup benar-benar dalam penurutan, maka dia bisa mendengar suara Roh dengan jelas, dan semakin jelas. Ironis, kebanyakan orang lebih mendengar suara dunia dengan segala filosofinya yang melahirkan, menelurkan, membuahkan, menciptakan gairah, menciptakan selera. Mereka pasti tidak bisa mendengar suara Roh Kudus dengan baik. Mereka lebih sensitif terhadap suara dunia dan seleranya. 
    Sejujurnya, kita ini orang-orang yang pernah tersesat, tetapi Tuhan memanggil kita melalui berbagai peristiwa hidup, lalu kita mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan Yesus. Tuhan memberikan firman-Nya, kita juga menyediakan diri menghampiri Tuhan dalam doa. Di situ Tuhan mengubah kita. Di dalam proses itulah kita menemukan bagaimana kembali kepada jalur yang benar. Ternyata untuk bisa mendengar suara Tuhan dan mengikut jejak Tuhan Yesus, kita harus mematikan semua keinginan. Namun, di sisi lain, inilah yang membuat orang curiga terhadap ajaran seperti ini, karena dianggap menyalahi kodrat kehidupan. 
    Argumen yang sering kita dengar, “Namanya juga manusia, pasti punya keinginan” atau “Hiduplah wajar seperti manusia pada umumnya, yang penting tidak melanggar hukum.” Padahal ketika kita ditebus oleh darah Tuhan Yesus, kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Ayat-ayat lain yang senada, misalnya: “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup dalam aku. Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Kalau Dia sudah mati bagi kita, kita semua sudah mati. Kalau kita hidup, kita hidup untuk Dia.” Berarti kita tidak berhak untuk punya kesenangan dari diri sendiri. Kita harus berani mengambil keputusan untuk tidak punya keinginan. Kalau ada keinginan di dalam diri kita, maka harus kita persoalkan dengan Tuhan, Tuhan mengingininya atau tidak. 
    Percayalah, kalau kita berani melakukan itu, hidup kita menjadi limpah. Kita bisa menikmati apa saja dan kita tidak akan dipermalukan. Sebab kita menjadi bagian dari Tuhan. Tuhan membela kita tanpa batas, karena kita juga memberi hidup tanpa batas kepada Tuhan. Sampai kita bisa berkata, “Apa pun yang Kau kehendaki, kulakukan, Tuhan. Aku mematikan semua keinginan, aku hanya melihat apa yang Kau kehendaki untuk kulakukan.” Inilah puncak dari pertobatan seseorang; yang dalam bahasa Yunani disebut metanoia atau perubahan pikiran yang ujungnya adalah hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa. 
    Ketika pola berpikir kita diubah, maka selera jiwa kita berubah, sehingga kita benar-benar hidup hanya untuk mengerti kehendak Bapa dan melakukannya. Orang-orang seperti inilah yang memenuhi Yohanes 6:56, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Tuhan benar-benar tidak mau diduakan. Maka, kita tak dapat mengabdi kepada dua tuan. Tuhan saja, atau tidak usah sama sekali. 99% pun tidak cukup, harus 100%. Jadi, tidak ada kata “kelimpahan” di luar Tuhan. Kelimpahan itu kita alami ketika kita hanya menginginkan Tuhan saja. Apa yang kita ingini harus berguna untuk pekerjaan Tuhan. Jangan ada kebanggaan apa-apa, senangkan hati Tuhan saja.
    Maka, perlu perjumpaan dengan Tuhan. Kita bisa dipojokkan sampai bisa memahami ini, karena kita duduk diam di kaki Tuhan. Hal ini tidak bisa diajarkan oleh siapa pun; harus Tuhan sendiri, yaitu melalui Roh Kudus. Maka, kalau sampai kita berbuat dosa, itu sudah keterlaluan. Tidak berbuat salah secara hukum, secara moral umum saja, itu belum memenuhi standar Allah, apalagi sampai kita melanggar. Kita bukan hanya tidak melakukan kesalahan, tetapi kita mau masuk di hati Tuhan dan merogoh hati-Nya. 
    Kalau kita mengikut Yesus, kita ikuti juga ucapan-Nya di Yohanes 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Lalu, makanan kita apa? Sering kali,
    10 min
  • Kelimpahan
    Tuhan Yesus berkata, “Aku datang untuk memberi hidup, supaya mereka memiliki hidup itu dalam segala kelimpahan.” Sejak remaja, muda, dewasa muda, dan tua seperti hari ini, mungkin kita sudah berulang-ulang mendengar ayat itu. Sampai satu titik kita mempersoalkan di mana kelimpahan tersebut, apa bentuk kelimpahan tersebut, siapa orang yang pernah memiliki kelimpahan tersebut. Kalau di gereja, tentu kita mencari orang yang mengalami, memperoleh kelimpahan itu dan kita bisa mencontoh dan bertanya, bagaimana memiliki kelimpahan tersebut. Kita melihat bahwa ayat itu sering hanya menjadi teori yang mengisi pikiran. 
    Bagi mereka yang menganut Teologi Kemakmuran dan sebagian besar orang Kristen, mereka memercayai bahwa kelimpahan tersebut artinya di dalam hidup di bumi ini tidak berkekurangan. Paling tidak, pas; tidak kurang. Lalu kalau meninggal dunia, masuk surga. Sebenarnya itu kacau, tidak jelas. Namun, setelah melalui pengembaraan panjang, pergumulan hidup, akhirnya kita memahami bahwa kelimpahan itu hanya dialami oleh orang yang bisa mendengar suara Tuhan. Kalau kita membaca Yohanes 10:10 dikatakan, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Kata ‘hidup’ dalam ayat ini menggunakan kata zoe; sedangkan kata ‘kelimpahan’ berasal dari kata perisson atau perisos, yang artinya sangat tinggi kualitasnya; very high in quality; bukan dalam kuantitas.
    Ayat 10 tidak bisa dipisahkan dari ayat sebelumnya, ayat ke-4, “Jika semua domba-Nya telah dibawanya keluar, Ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti Dia.” Mengikuti Dia, karena mereka mengenal suara Gembala itu. “Tetapi orang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari daripadanya, karena suara orang-orang asing itu tidak mereka kenal.” Kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, selama ini kita mengikut siapa? Suara siapa yang kita dengar? Banyak orang Kristen, termasuk kita, pernah sesat. Atau sekarang banyak orang Kristen yang masih sesat. Kalau menjadi Kristen, sudah ke gereja apalagi aktif dalam pelayanan, terlebih lagi menjadi pendeta, mereka merasa sudah mengikut Tuhan. Apalagi kalau dulu dari agama lain lalu menjadi Kristen, sebelumnya hidup dalam pelanggaran moral lalu jadi orang baik, maka ia merasa sudah mengikut Tuhan. 
    Padahal, mengikut Tuhan Yesus tidaklah sesederhana itu. Mengikut Tuhan berarti mengikut jejak-Nya. Supaya kita bisa mengikut jejak-Nya, berarti harus mendengar suara-Nya. Tuhan Yesus tetap bersuara di dalam diri kita melalui Roh Kudus. Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus, yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Roh Kudus yang disebut Parakletos. Janji Tuhan itu dipenuhi dengan hadirnya Parakletos, bukan perikletos; “Apabila Ia datang, yaitu roh kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. Sebab Dia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya, dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” 
    Roh Kudus pasti berbicara kepada kita, tetapi dalam kegaduhan hidup ini, kita sering tidak mendengar suara itu. Hal yang paling membuat para teolog tidak mendengar suara-Nya adalah ilmu teologi. Teologi tidak salah, tetapi kalau teologi tanpa Roh Kudus, itu membuat telinga kita jadi tuli. Karena mengandalkan pikiran berdasarkan format-format teologi. Semakin cakap berteologi, semakin tidak mendengar suara Roh Kudus karena semua diformatkan dalam penalaran sistematika pikiran. Jadi, kita harus memberi ruangan seluas-luasnya untuk berkomunikasi dengan Roh Kudus. Ini tidak bisa lewat bangku sekolah, tidak bisa lewat literatur. Karena ini bersifat supranatural. Memang subjektif dan adikodrati. 
    Kalau Alkitab mengatakan, “Yesus pagi-pagi bangun lalu berdoa,” pasti bukan 5 menit. Juga dikatakan, “Semalam-malaman,” itu tentu bukan 10 menit. Bagaimana dengan kita? Berapa lama kita dapat duduk diam di kaki Tuhan?
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…