Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kedewasaan Rohani
    Bagi kita yang dari kecil sudah beragama Kristen, pasti kita bisa menangkap cara berpikir, cara pandang orang tua kita. Mereka sudah percaya Yesus sebagai penebus, maka otomatis cenderung atau bisa dipastikan merasa yakin akan masuk surga. Itu menjadi gambaran di dalam diri kita sejak kecil, namun sejatinya itu adalah suatu kesalahan, kebodohan dan bisa berarti juga penyesatan, penipuan dari kuasa kegelapan. Percaya Yesus sebagai Juruselamat yang menebus dosa, lalu yakin masuk surga—atau paling tidak, cenderung masuk surga—adalah suatu penyesatan. Tuhan Yesus memang datang menjadi Juruselamat, menyelesaikan karya keselamatan-Nya dengan mati di kayu salib dan bangkit, namun tidak berarti otomatis kita yang mengaku percaya pasti masuk surga. Kita harus membedah dahulu, apa yang dimaksud dengan percaya tersebut. 
    Kebangkitan Tuhan Yesus menunjukkan bahwa selama hidup Dia tidak berdosa (Ibr. 5:7-9). Karena kesalehan-Nya atau kesucian-Nya, Dia dibangkitkan. Kalau Yesus ada kesalahan, Dia harus dihukum. Dia tidak bisa menggantikan tempat kita. Namun, Yesus tidak punya salah sama sekali, tetapi dihukum. Mengapa? Karena Yesus menggantikan tempat kita. Dia yang tidak bersalah, tidak berdosa dijadikan berdosa supaya kita yang berdosa dibenarkan atau dianggap benar. Dibenarkan atau dianggap benar itu belum berarti sudah benar. Hanya dianggap benar, supaya kita menerima Roh Kudus dan bisa memanggil Allah sebagai Bapa. Allah Bapa mendidik kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:5-10). Tanpa penebusan, kita tidak bisa menerima Roh Kudus untuk menjadi anak-anak Allah yang dididik dan dihajar. Masalahnya, apakah kita menerima didikan supaya terjadi perubahan?
    Yohanes 1, firman Tuhan mengatakan, “Yang menerima-Nya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah.” Arti kuasa itu sebenarnya, hak; exousia. Ironis, banyak orang Kristen merasa sudah punya hak, karena sudah menerima fakta sejarah bahwa Yesus telah lahir di kota Betlehem sebagai Juruselamat. Ini namanya iman sejarah; hanya percaya sejarah. Kalau baru sampai tingkat ini, jangan merasa sudah memiliki hak. Yang memiliki hak adalah orang yang menerima Yesus. Menerima Yesus itu bukan sekadar percaya bahwa Dia penebus, percaya fakta sejarah. Namun, menerima hidup-Nya di dalam hidup kita untuk kita kenakan, teladani, dan peragakan. Sehingga kita bisa berkata seperti Galatia 2:19-20, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” 
    Semua orang yang masuk surga harus sampai pada kedewasaan rohani. Kalau masih “si aku,” berarti masih anak dunia dengan karakter lama kita. Dengan karakter yang diwarisi dari orang tua dan pengaruh dunia sekitar, yang menjadikan sosok “si aku” ini. Setelah menjadi anak-anak Allah, kita harus mengenakan sosok anak-anak Allah. Tentu melalui proses. Secara hukum kita menjadi anak-anak Allah. Lalu Bapa mendidik kita, diberi Roh Kudus, dan dibimbing lewat firman. Seperti dikatakan di Roma 8:28-29, “Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan.” Dari hari ke hari ada berkat-Nya; berkat rohani yaitu pembentukan. 
    Dalam Matius 22 kita temukan sebuah perumpamaan tentang undangan pesta. Pesta bangsawan, pesta raja-raja atau para petinggi. Namun, ada satu orang yang datang mengenakan baju compang-camping. Orang ini berarti tidak menghormati Raja atau tuan rumah. Undangan diberikan, tetapi bajunya harus kita usahakan sendiri. Ketika Raja tersebut marah, tetapi orang itu diam saja. Mengapa diam? Karena sejatinya dia tidak punya alasan. Dia tidak berani berkata, “Saya tidak tahu, Tuan. Saya tidak mengerti, Baginda.” Dia diam, berarti, dia tahu. Lalu Raja itu menyuruh hamba-hambanya untk mencampakkan orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. 
    Ini menunjuk soal neraka. Kalau Yesus bicara mengenai “ratap tangis dan kertak gigi,” ini selalu soal neraka. Ayat selanjutnya mengatakan, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Maksudnya orang yang dipilih harus bertanggung jawab...
    10 min
  • Masih Punya Waktu
    Kalau kita sudah masuk di dalam hadirat Tuhan, semua kelelahan kita menguap. Kita harus membiasakan diri seakan-akan besok Tuhan Yesus akan datang. Seakan-akan, bukan berarti kita percaya atau memastikan bahwa Tuhan Yesus akan datang besok. Bisa, Tuhan Yesus datang, atau bisa kita yang meninggal dunia. Salah satu yang membuat kita tidak sungguh-sungguh hidup suci adalah ketika kita merasa masih punya waktu banyak untuk berubah. Memang benar bahwa perubahan itu proses dan perlu waktu. Tuhan juga memberitahukan kepada kita bahwa proses itu tidak bisa kita hindari dalam perjalanan waktu. Namun, kita harus beranggapan seakan-akan sudah tidak akan ada waktu lagi untuk persiapan.
    Perhatikan siswa atau mahasiswa yang berprestasi, mereka jarang menunda pekerjaan. Bisa saja satu, dua kali, tetapi hampir-hampir tidak pernah. Seakan-akan dia tidak punya waktu untuk menyelesaikan tugas. Selain dia ingin mengerjakan tugas dengan nilai yang baik, dia juga akan segera menyelesaikan tugasnya. Kalau membiasakan diri demikian, maka siswa atau mahasiswa itu akan merasa tidak tenang kalau belum selesai tugasnya. Berbeda dengan siswa atau mahasiswa yang membiasakan diri menunda, merasa masih ada waktu nanti. Dia tenang-tenang saja walaupun tugasnya belum selesai dan itu bisa menjadi irama jiwa, irama batinnya. 
    Inilah yang harus kita kembangkan. Kalau ada hal yang belum beres di dalam hidup kita, kita harus merasa tidak tenang. Setan memang bisa membuat orang tenang, “Nantilah, aku berubah. Nanti bisa diselesaikan. Masih ada proses.” Kita tentu setuju bahwa perubahan melewati proses dalam perjalanan waktu, tetapi kita harus berpikir seakan-akan tidak akan ada waktu lagi. Jadi, apa yang bisa kita selesaikan, kita selesaikan. Ini kabar baiknya: semua bisa diselesaikan. Misalnya kelemahan kita adalah pemarah, apakah bisa diselesaikan? Bisa. Kemarahan yang telah kita lakukan, kita akui kesalahannya. Itu selesai. Namun, jangan juga bermaksud nanti marah lagi, lalu dengan mudah minta ampun. Apa pun kesalahan kita, bisa selesai. Jadi, jangan berpikir masih ada waktu!
    Kadang-kadang kita bargaining dengan Tuhan, “Tuhan, yang satu ini, aku belum bisa meninggalkannya. Kesenangan yang satu ini belum bisa. Jadi, ampunilah, maklumlah.” Mungkin kita tidak mengucapkan, tetapi di hati kita mengatakan itu. Sejatinya, hal itu bisa jadi sumber bencana kita. Ditambah lagi dengan prinsip, “Manusia memang penuh dengan kelemahan, kekurangan.” Yang lebih rusak lagi doktrin yang mengajarkan, “Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik,” itu doktrin yang merusak kekristenan. Memang keselamatan bukan karena perbuatan baik, tetapi kita tidak boleh berbuat jahat lagi sejak kita menerima anugerah keselamatan. Tidak boleh, itu sumber bencana!
    Setan mau membunuh kita dari segala aspek. Maka, kita berseru: “Pegang tanganku, lindungi aku dari kuasa gelap, Tuhan, yang tentu melampaui kekuatanku, Tuhan.” Kedua, “Lindungi aku dari diriku sendiri,” ini mengerikan. Ini musuh dalam selimut. Ketiga, Llindungi aku dari pengaruh dunia, Tuhan tolong.” Setiap hari kita diintimidasi oleh kuasa gelap lewat pengaruh dunia; tontonan, film, Tik Tok, apa yang kita lihat di gadget, itu semua punya pengaruh; baik maupun jahat. Maka, teman pergaulan kita harus benar. Kalau orang menyadari kekekalan, dia pasti akan berusaha bagaimana menemui Tuhan. Itu tidak terbeli. Kalau kita meninggal dunia nanti bertemu Tuhan, di hadirat Tuhan, di hadapan takhta kemuliaan Tuhan, kita tidak bisa sok dekat, sok akrab. Kedekatan kita dengan Tuhan dimulai di sini, sejak kita di bumi. Maka, jangan terpengaruh dunia! 
    Keempat, bencana. Kelima, dari orang-orang yang bermaksud jahat. Setan memakai manusia lain yang digerakkan untuk menjatuhkan kita. Siapa pun. Jadi kita harus sungguh-sungguh menyelesaikan apa yang harus segera kita selesaikan dan jangan bermaksud berbuat salah lagi. Pengampunan diberikan kepada orang yang bertobat.
    10 min
  • Terjebak Kenyamanan Dunia
    Ibarat seorang kontraktor, ketika kita menghadapi dateline dari pembangunan sebuah gedung atau pembangunan sebuah jalan, maka ada kecemasan dan perasaan krisis. Tanggal tertentu, harus sudah selesai proyek itu, sedangkan waktu makin dekat. Maka, seorang kontraktor akan bekerja keras siang dan malam. Tidak ada waktu, tidak ada kegiatan; setiap saat ada kegiatan demi mengejar waktu yang sisa. Ibarat seseorang yang mau tampil dalam pertunjukan, sudah mendekati menit-menit terakhir, namun belum cukup dandanannya, maka ia berusaha untuk berdandan dalam waktu singkat. Ibarat sebuah tempat, baik itu sekolah atau kantor yang akan dihadiri seorang pejabat. Mendekati hari-hari terakhir, harus mendandani, memperbaiki bangunan. Mendekati jam-jam pejabat akan hadir di kantor maupun sekolah itu, semua barang yang tidak perlu ada dan tidak boleh ada, yang merusak pemandangan, harus disingkirkan.
    Demikian pula kita. Mendekati hari ketika kita harus menghadap takhta pengadilan Tuhan, kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri agar kita layak di hadapan Tuhan. Masalah krusialnya adalah kita tidak tahu kapan hari kita meninggal dunia. Ini perkara besar dan sungguh sangat serius. Sering kita terlena dengan banyak perkara. Sehingga kita tidak memiliki sikap yang berjaga-jaga. Kita terlena dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menjerat hidup kita tanpa kita sadari, dan terus hanyut di dalam kenikmatan hidup duniawi. Kalau seseorang tidak sadar mengenai keadaan dirinya tersebut yang terus ada dalam kehidupan yang jumawa, tidak peduli dengan kebenaran dan tidak mempersiapkan diri menghadap pengadilan Tuhan, betapa mengerikan. Semua kita bisa terjebak dalam suasana nyaman dunia ini.
    Kita harus memiliki perasaan takut kalau-kalau kita menoleh ke belakang dan terseret dunia kembali. Waktu kita banyak masalah, banyak kebutuhan, kita memandang Tuhan dan berusaha serius untuk hidup benar dan mengikut jalan Tuhan. Namun, ketika keadaan baik, tidak ada masalah, banyak uang, kita bisa lupa diri. Faktanya, ini sudah terjadi dalam kehidupan banyak orang. Karenanya kita mohon untuk Tuhan menjagai hidup kita. Jangan sampai kita menoleh ke belakang. Mari kita tetap fokus memandang Tuhan. Masalahnya, tanpa kita sadari, sering kita terbelenggu oleh masalah-masalah yang terjadi di dalam hidup kita. Misalnya, ketika kita diperlakukan tidak adil, disakiti, dilukai, difitnah, nama kita dirusak. Kita memikirkan itu siang dan malam. Ada kebencian, godaan untuk membalas dendam, dan godaan untuk bicara membela diri. Justru seharusnya di situ kita belajar untuk tetap fokus kepada Tuhan.
    Kalau hidup kita adalah pekerjaan Tuhan, kalau hidup kita adalah milik-Nya, Tuhan sanggup dan berkuasa, menolong dan melindungi kita. Namun, kalau hidup kita bukan milik Tuhan, bukan pekerjaan Tuhan, bisa saja seseorang menjadi khawatir, takut, cemas, dan melakukan hal-hal yang seenaknya atau semaunya sendiri. Kita adalah milik Tuhan. Kita harus fokus bagaimana membenahi diri, bagaimana mempercantik diri. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Kami tidak memperhatikan apa yang kelihatan, tetapi apa yang tidak kelihatan. Tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2 Kor. 4:16). Bagaimana kita harus berdandan setiap saat, karena setiap saat, kita memang bisa meninggal dunia. Kita bisa menghadap Tuhan, setiap saat. Maka, kita harus terus berdandan. Jika ada dosa, ada hal-hal yang salah kita lakukan, kita harus merasa krisis.
    Kita harus berjuang untuk melepaskan semua hal yang tidak patut kita lakukan atau kita kenakan sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah. Selalu saja masih melekat hal-hal yang tidak patut, dan itu harus serius kita tanggalkan. Kita harus bergumul menanggalkan semua unsur dosa di dalam diri kita. Roh Kudus pasti memberitahu. Tidak mungkin Roh Kudus tidak memberitahu. Roh Kudus pasti mendandani kita. Ia pasti memberitahukan hal-hal apa yang tidak pantas,
    8 min
  • Jangan Menoleh Ke Belakang
    Satu hal yang kita harus merasa takut, yang membuat kita hati-hati, yaitu menoleh ke belakang. Potensi kita untuk menoleh ke belakang itu besar, yaitu kembali mencintai dunia dan menikmati dunia seperti anak-anak dunia, potensi untuk itu selalu ada. Kuasa kegelapan dalam kecerdikannya akan berusaha bagaimana kita bisa berpaling ke dunia lagi, menikmati dunia lagi dengan segala keindahannya. Seperti contoh, seorang hamba Tuhan yang melayani pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh pada waktu dia miskin, tidak memiliki uang atau tidak cukup punya uang, hatinya terarah hanya kepada Tuhan, melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Namun, ketika uang banyak di dalam rekeningnya, dia bisa berubah pikiran. Yang tadinya waktu miskin, mau beli ini tidak bisa, beli itu tidak mampu, tetapi ketika uangnya banyak, ada godaan untuk memiliki sesuatu yang dulu dia ingin memiliki dan membelinya. 
    Setiap kita pasti memiliki pergumulan hidup seperti ini. Maka, bisa dimengerti mengapa Tuhan Yesus di dalam Lukas 17:32 berkata, “Ingatlah akan istri Lot.” Dia menoleh ke belakang, karena di sana ada harta, ada kenangan-kenangan manis dan indah di dalam hidupnya. Maka, gagallah karya keselamatan Allah di dalam hidup istri Lot. Allah mau menyelamatkan kita, tetapi apakah kita benar-benar bisa selamat atau tidak, itu bukan hanya tergantung Tuhan saja, tetapi juga tergantung kita. Jadi, jangan berkata kalau Allah sudah menentukan kita selamat, sampai ujung mana pun akhirnya selamat. Jangan berpikir begitu. Tuhan berkata, “Ingatlah akan istri Lot!” Artinya, kita harus serius dan hati-hati. 
    Kita yang harus memiliki langkah-langkah konkret untuk menghindarkan diri dari bencana, yaitu kebinasaan. Kita mohon pertolongan Bapa di surga, agar hati kita terus diubah agar memiliki hati seperti hati Bapa yang mencintai jiwa-jiwa yang terhilang, dan supaya kita tidak memiliki ruangan untuk mencintai apa pun. Kita mohon agar hati kita tidak terarah pada dunia ini dan segala keindahannya. Setan akan terus menunjukkan kepada kita keindahan-keindahan dunia, seperti yang pernah ia tunjukkan kepada Yesus (Luk. 4:5-8, “Kalau Engkau menyembah aku, aku akan memberikan dunia ini kepada-Mu.”). Demikian pula kepada kita, setan akan menawarkan keindahan dunia ini. Bukan tidak mungkin orang-orang yang tadinya mengasihi Tuhan, melayani Tuhan baik-baik, bisa berpaling lagi ke dunia ketika memiliki kesempatan meraih dunia. 
    Dulu kita kampungan, sekarang jangan kampungan. Kita harus jadi bangsawan. Jangan dulu kampungan, sekarang lebih kampungan, tidak menjadi bangsawan surgawi. Miskin secara materi tidak masalah, tetapi jangan miskin secara rohani. Jangan kaya secara materi, tetapi miskin secara rohani karena memiliki kesenangan-kesenangan dunia. Hobi ini, hobi itu, apalagi hobi-hobi yang bisa menggerus banyak uang. Sejatinya, uang itu bisa kita gunakan untuk pekerjaan Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh menggarap hati kita, membawanya kepada Tuhan, minta pertolongan-Nya, pasti Tuhan akan menolong kita agar kita tidak menoleh ke belakang. 
    Mata kita harus tertuju terus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya sampai kita memiliki perasaan takut dan khawatir yang positif supaya kita berhati-hati, yaitu jangan menoleh ke belakang, karena ada potensi untuk menoleh ke belakang. Semua kita punya potensi. Ingat, waktu kita miskin secara materi, kita bisa setia. Ketika kaya secara materi, kita punya uang, bisa berubah pikiran. Kiranya Tuhan menolong kita untuk hanya tetap memandang Dia. Pernahkah kita membayangkan, seandainya puluhan tahun, belasan tahun atau beberapa tahun yang lalu Tuhan tidak melindungi kita, mungkin hari ini kita sedang ada dalam penjara, mungkin sedang berteduh di pinggir jalan karena tidak punya rumah atau di bawah kolong jembatan, tergeletak di rumah sakit atau mungkin dirawat di rumah sakit jiwa. Namun, ingatlah kalau kita ada sebagaimana kita ada hari ini, kita dapat sehat jasmani rohani, dan kita masih bisa mengabdi,
    9 min
  • Mendampingi Kita
    Sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, kualitas hidup kita harus sampai sepikiran dan seperasaan dengan Bapa. Maka, semua aktivitas—seperti menonton film dan pertemanan yang bisa merusak—harus kita tinggalkan. Bukan berarti kita tidak boleh menonton film, karena ada film yang patut kita tonton. Gereja harus meluluskan orang-orang pilihan di Kerajaan Surga. Seperti sekolah, meluluskan orang-orang pilihan. Tentu ini pekerjaan berat. Kalau kita penuh dengan Roh Kudus dan tunduk kepada firman, sehingga hidup kita digerakkan oleh firman yang kita pahami, kita pasti bisa mengekspresikan pikiran dan perasaan Allah dengan rela. Kita dengan ikhlas berjalan sesuai dengan pikiran dan perasaan Roh Kudus. 
    Kita bisa menolak-Nya, tetapi kita tidak menolak. Kita menerima-Nya, sehingga kita menjadi man of God; manusia Allah. Sering kali sekolah tinggi-sekolah tinggi teologi dengan arogansi akademisnya membuat Roh Kudus tidak bisa bekerja. Semua harus secara nalar, harus diformat secara sistematis. Bukan tidak setuju. Harus, tetapi pergaulan dengan Allah, perjumpaan dengan Tuhan harus terjadi. Buat hidup kita berarti. Jangan merasa gagal, lemah, tidak berdaya, kecil. Lalu, jadi minder. Kalau hidup kita mengikuti apa kata firman, pasti hidup kita jadi unggul dan cerdas. 
    Ciri orang seperti ini adalah hatinya penuh belas kasihan, karena perasaan Tuhan itu belas kasihan. Kesenangan-Nya adalah menyelamatkan orang, menolong orang, mengangkat orang. Kadang-kadang melihat orang jatuh dalam dosa, kita yang pukul dada dan berkata, seakan-akan kita yang jatuh, “Mengapa kau lakukan itu?” Jadi, kita bisa mengerti kalau kita berbuat dosa, betapa berdukanya hati Tuhan. Dulu kalau kita lihat orang berbuat dosa, kita jadikan topik dalam percakapan. Kita punya data yang mengangkat kita sebagai orang penting untuk didengar. Namun, ketika kita belajar mengenakan perasaan Tuhan, maka ketika kita melihat orang berbuat salah, seakan-akan kita yang salah, dan kita berduka. Apalagi kalau orang yang jatuh itu adalah orang yang kita kasihi. 
    Hal ini bukan berarti kita setuju orang berbuat dosa, tetapi kiranya kita juga ingat bahwa tidak ada orang yang pernah bermimpi mau mencuri, korupsi, berzina, pukul orang, atau membunuh. Tidak pernah. Namun, setan menggiringnya untuk menjadi pencuri. Lalu ramai-ramai orang lempar batu. Tuhan Yesus tidak demikian. Maka, pelayanan harus lahir dari hati Tuhan, bukan hati manusia. Jadi, kalau kita menatap orang, kita menatap dengan hati Tuhan. Kita tidak pernah lagi membedakan dia suku apa, kaya atau miskin. Kita tidak lagi menghitung, “Apa untungku memperhatikan dan menolong orang ini?” Namun, kita hanya mau mengekspresikan perasaan Tuhan. Betapa hebat kehidupan seperti ini. 
    Inilah jalan yang harus kita tempuh. Jangan penampilan kita intelek, cakap, tetapi hati kita busuk. Walaupun penampilan kita buruk di mata manusia, kalau kita mengekspresikan perasaan Allah, kita mempesona Kerajaan Surga. Kematian kita pun ditunggu oleh penghuni surga, dan kita akan disambut, karena kita menghormati Allah. Allah para penghuni surga, yang perasaan-Nya kita gelar dalam hidup kita dan kalau kita berbuat baik, kita tidak ingin dipuji karena itu bukan tujuan kita berbuat baik. Kita tidak bangga dengan perbuatan baik kita, karena kecintaan kita kepada orang lebih besar dari kebanggaan apa pun. Itulah kekristenan. 
    Ketiga, dominasi tokoh. Dalam agama pada umumnya, harus ada imam atau tokoh. Namun kekristenan, tidak. Kalau kita hidup sebagai anak-anak Allah, Bapa pasti mendampingi kita. Sebagaimana kita selalu ingin jalan bersama dengan anak kita atau orang yang kita kasihi. Bapa pun mau. Tidak perlu perantara. Memang pada kenyataannya, jemaat membutuhkan seorang Gembala Jemaat, tetapi kita tidak boleh bergantung kepada Gembala Jemaat atau hamba Tuhan mana pun. Kita tidak boleh mengultuskan manusia. Kita harus menghadirkan pemerintahan Allah sehingga atmosfer kehadiran Allah nyata di dalam hidup kita. 
    10 min
  • Perjalanan Liturgi
    Setelah melalui perjalanan panjang kehidupan Kristen, akhirnya kita dapat mengerti—walaupun sulit menjelaskan—bahwa kekristenan bukan sekadar agama. Pada umumnya, agama memiliki penekanan terhadap 3 hal, yaitu: Pertama, seremoni atau liturgi. Dalam kekristenan, ritual seremonial atau liturgi yang sejati adalah perjalanan hidup kita setiap hari. Tidak lagi dikemas dalam acara pertemuan seperti yang biasa kita lakukan. Itu bukan sesuatu yang salah, tetapi jangan merasa bahwa kita sudah mengadakan ibadah kepada Tuhan dengan mengikuti sebuah liturgi keagamaan. Jangan berpikir naif begitu. Itu hanya pertemuan bersama; bagian kecil dari ibadah kita yang luas. Liturgi kita adalah seluruh kehidupan. Kekristenan itu benar-benar menyita hidup kita tanpa sisa. Kekristenan itu bukan bagian hidup kita, tetapi seluruh hidup kita. Tidak banyak orang yang rela memasuki hidup kekristenan yang benar ini. Sebagaimana ditulis dalam 1 Korintus 10:31, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 
    Kalau kita datang di suatu acara kebaktian atau upacara agama mana pun, kita dimasukkan ke dalam suasana; suasana keberagamaan. Setelah selesai, kita keluar dari suasana itu. Liturgi kita dimulai dari bangun tidur sampai kita tidur dan bangun lagi, itu kalau kita mau menjadi orang-orang yang dirahmati, diberkati Tuhan, dan memiliki kehidupan yang akan berlanjut di kekekalan. Itulah sebenarnya dimaksud oleh Tuhan Yesus: “Datanglah Kerajaan-Mu;” artinya kita selalu ada di dalam pemerintahan Allah. 
    Kalau agama-agama suku yang memiliki dewa-dewi dan berbagai ritual, ketika mereka keluar dari suasana atau acara ritual, mereka tidak lagi hidup dalam cengkeraman dewa atau ilahnya. Namun, di dalam kekristenan, cengkeraman Allah itu tidak pernah putus. Tidak ada daerah atau wilayah di mana kita tidak menyembah, tidak berbakti. Tidak pernah ada. Menyembah artinya memberi nilai tinggi; proskuneo. Jadi, di mana pun kita berada, kita dalam suasana menyembah. Maka, kita pasti hati-hati dengan apa yang kita ucapkan, tidak sembarangan. Namun, tidak banyak jumlah orang yang berani masuk di sini. 
    Inilah arti menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Tidak di atas gunung Gerizim, tidak pula di kota Yerusalem. Kekristenan itu bukan agama, melainkan jalan hidup; Christianity is not just religion, but the way of life. Bagaimana mengerti hal ini? Ternyata lewat perjalanan waktu dan mengalaminya  tidak mudah. Kalau kita konsekuen melakukan hal ini, maka kita tidak akan berbuat dosa. Benar-benar kita gentar, takut akan Allah. Kalau kita melatih diri untuk memiliki kehidupan seperti ini, kualitas hidup kita akan meningkat terus. Seperti rajawali, terbang tinggi. Jika tidak, kita akan makin merosot dan tidak akan pernah memiliki kehidupan seperti ini. 
    Ingat, kita harus berani. Masing-masing kita punya nafsu, ambisi, emosi, selera, tetapi mari kita memilih untuk memiliki kehidupan seperti ini. Dimulai dari ucapan, jangan banyak bicara. Joke-joke yang tidak perlu, jangan diucapkan, sebab kita senang apa yang diucapkan membuat orang tertawa, padahal kita memuaskan diri dengan hal itu. Mulut kita harus menjadi mulut Tuhan. Tidak salah kalau sekali-kali kita bicara lalu membuat ceria orang, tetapi jangan memuaskan diri dengan joke-joke seperti itu. 
    Kedua, agama memiliki hukum. Ada hukum, juga tentu ada sanksi-sanksi jika tidak melakukan hukum atau peraturan-peraturan tersebut. Ini mutlak, agama apa pun pada umumnya demikian. Namun, kekristenan tidak punya hukum. Maksudnya, tidak ada hukum yang tertulis. Kita menyerap pikiran dan perasaan Allah, lalu mengekspresikannya dalam hidup. Tidak mungkin ada kebencian, dendam, sakit hati, atau tidak menangisi jiwa-jiwa. Kalau tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka pasti ada Ruang Maha Suci. Kita dikontrol, dimonitor dan digerakkan oleh Ruang Maha Suci. 1 Korintus 6:19-20; 1 Korintus 3:16, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalamku.
    10 min
  • Kesempatan Hidup
    Efesus 6:16-17 mengatakan, “… dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Ini kabar baik untuk kita. Kita semua bisa berhasil. Walau faktanya memang tidak semua orang berhasil. Mengapa? Tergantung dari keputusan individu. Tanpa disadari, ketika seseorang jatuh tertidur, keadaan itu disertai dengan pengalaman-pengalaman dunia di sekitar, pelan-pelan ia digiring ke situ. Seperti sarang laba-laba, dari kecil, tetapi semakin lama semakin makin besar, sampai serangga lain yang terjebak tidak bisa bergerak.
    Dalam Galatia 6:7-8 tertulis, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Sebenarnya ketika Alkitab berbicara mengenai tabur tuai, itu masalahnya bukan soal sekadar urusan di bumi, melainkan bicara soal kekekalan.
    Maka, kita harus serius, ada Allah Bapa yang Maha Besar, yang memperhatikan hidup kita. Kalau kita mau belajar untuk rendah hati, lemah lembut, mau jadi sempurna, Tuhan akan memberikan momentum yang mahal. Apa? Kita diizinkan mengalami perlakuan tidak adil, dihina, dan macam-macam yang tidak menyenangkan. Namun, itu adalah cara Tuhan mendewasakan kita. Momentum itu berharga untuk membentuk kita, supaya kita bertumbuh dalam kesempurnaan di dalam Tuhan Yesus Kristus, menjadi manusia yang agung. Kekristenan bukan hanya membuat kita menjadi orang baik, tetapi kekristenan membuat kita menjadi orang yang sempurna.
    Banyak perjuangan yang dilakukan oleh orang hanya untuk memenuhi ambisi dan kesenangan dunia, tetapi bukan untuk meraih bagaimana memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Maka, kita harus berani fanatik, jangan jadi orang baik saja, jadilah orang yang sempurna. Nanti kita akan bertemu momentum-momentum yang mengubah hidup kita. Memang tidak bisa berubah dalam sekejap. Namun, ingatlah itu adalah momentum berharga yang Tuhan berikan, jangan disia-siakan. Kita bersyukur masih diberi kesempatan hidup di bumi ini. Kalau kita masih bisa bernapas saat ini, itu adalah anugerah Tuhan, kemurahan Tuhan. 
    Waktu sisa yang Tuhan masih berikan, harus kita gunakan sungguh-sungguh untuk hidup berkenan kepada Tuhan, menyenangkan hati Tuhan, menyukakan hati Bapa. Ayo, kita berjuang menjadi anak-anak kesukaan Bapa di surga. Bukan sekadar anak-anak kesayangan Bapa di surga, tetapi menjadi anak-anak kesukaan. Filipi 3:13-14 tertulis, “Mari kita melupakan apa yang telah di belakang kita, mengarahkan diri kita ke depan, berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Kita harus fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya! Namun, kalau hati kita masih fokus kepada keinginan dunia, maka kita pasti akan menyesal ketika kita menutup mata selamanya. Firman Tuhan 2 Petrus 3:15a mengatakan, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat.” Waktu hidup yang Tuhan masih beri bagi kita adalah kesempatan untuk kita beroleh selamat, bertobat, berubah menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah.
    Sejak Rasul Petrus menulis surat ini, banyak orang yang mengejek, “Di mana janji tentang kedatangan Yesus? Katanya Yesus mau datang kedua kali ke dunia ini, tetapi kok belum datang juga?” Banyak orang mengejek kita, orang percaya, mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, tetapi Rasul Petrus memberikan jawaban atas ejekan tersebut, yaitu: 
    Pertama, Tuhan sabar terhadap kita. Memang Tuhan Yesus belum datang kedua kalinya ke dunia ini saat ini. Namun ingat, Tuhan bisa saja memanggil kita. Jadi bukan Tuhan yang datang ke dunia ini, tetapi kita yang datang kepada Tuhan. Itu bisa, yaitu kiamat pribadi kita.
    9 min
  • Menghargai Waktu
    Kita hidup di dalam perjalanan waktu, seiring dengan detak-detak jantung kita, denyut nadi kita, begitulah perjalanan waktu yang kita miliki. Sebenarnya perjalanan waktu ini sangat menggetarkan. Hal itu akan disadari, ketika seseorang ada di ujung maut, yaitu ketika dia harus melepaskan nyawanya. Dia baru sadar, betapa berharga setiap detik, setiap menit, setiap jam yang dia miliki. Ketika dia harus melepaskan waktu, itu berat sekali. Kalau dia punya harta, dia pasti berani menyerahkan semua hartanya, demi 1 jam atau 2 jam tambahan umur hidupnya. Oleh sebab itu, kita harus menghargai waktu yang Tuhan berikan. Bagaimana kita menghargai waktu kita? Yaitu jika kita mengisi waktu kita untuk sesuatu yang bernilai abadi, sesuatu yang bernilai kekal.
    Kalau hanya gelar, pangkat, uang, jodoh, anak, pasangan hidup, keturunan, semua itu akan kita tinggalkan. Yang terpenting bagaimana kita memiliki diri yang dibentuk Tuhan, yang diproses Tuhan, sehingga kita berharga di mata Tuhan. Masalahnya, sampai kapan kita ini berharga di mata Tuhan? Seperti tanah liat, berharga, tetapi sampai kapan? Kalau tanah liat tersebut bisa dijadikan bejana yang bagus, maka ia menjadi berharga. Namun, kalau waktu dan momentumnya sudah lewat, dan ia tetap menjadi tanah liat, maka dia menjadi sampah. Seperti sebongkah batu permata, yang jika tidak diasah, dia tetap sebongkah batu, tetapi kalau diasah bisa menjadi permata yang berharga.
    Manusia diperhadapkan kepada momentum-momentum, atau saat-saat berarti bagi dirinya. Saat-saat yang berharga itu juga saat-saat yang berarti bagi orang lain. Sebab saat-saat itu akan menentukan keadaan hari esok kita dan memengaruhi orang-orang di sekitar kita, bahkan akan mempengaruhi anak cucu kita. Ini adalah hukum kehidupan, kita harus sangat berhati-hati dengan hukum atau tatanan ini. Kita akan menemukan momentum-momentum yang berharga, kejadian-kejadian yang Tuhan izinkan kita alami dalam hidup ini, yang melalui momentum-momentum atau kejadian-kejadian itu Tuhan membentuk kita.
    Mungkin tanpa kita sadari, ada momentum-momentum yang berharga. Bagaimana kita menyikapi momentum tersebut, itu sangat penting. Momentum tersebut bisa membawa kita ke dunia atau kepada kebenaran. Membawa kita ke neraka atau ke surga. Namun, jika kita mau belajar dari Tuhan, maka Tuhan pasti akan membimbing kita. Tuhan cakap sekali mengubah orang; bagaimana orang seperti kita ini bisa diubah. Namun, tidak banyak orang yang mau masuk sekolah kehidupan seperti ini, sebab biasanya fokus hidup orang itu adalah kesenangan-kesenangan; tidak terfokus bagaimana menjadi anak-anak Tuhan yang berkenan.
    Kita harus memilih ini, walaupun tidak populer, dan tidak dikenal oleh orang-orang di luar sana. Supaya kita menjadi anak Tuhan yang berkenan, maka Tuhan akan memberikan pengalaman-pengalaman hidup untuk membentuk kita. Tuhan tidak menjerumuskan orang ke neraka, tetapi Tuhan juga tidak bisa menahan orang kalau ia mau masuk neraka. Tuhan tidak bisa paksa orang berbuat baik, tergantung orang tersebut. Jadi, 70-80 tahun umur hidup kita itu berharga sekali.
    Ketika nanti kita menghadap Tuhan—dan itu bisa kapan saja kita alami—kita akan sangat bersyukur kalau dalam setiap momentum dalam hidup kita, kita tidak berbuat salah. Sebaliknya, kalau momentumnya kita isi untuk berbuat salah, betapa menyesalnya kita. Maka, saat-saat kita sekarang menentukan hari esok, memengaruhi hidup kita, dan hidup kita memengaruhi orang lain. Kalau sampai kita melewatkan kesempatan untuk hidup benar, itu berat. Dunia membuat orang terlena, hidup suka-suka sendiri. Kita harus menyadari kita hidup di daerah yang bertuan, bukan di daerah yang tidak bertuan. Apa pun yang kita lakukan itu pasti ada tuaiannya. Ada Tuhan yang memerintah, maka kita harus hidup hati-hati, tidak ceroboh.
    Nilai waktu terletak pada momentumnya, maka momentum itu mahal yaitu bagaimana kita bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Efesus 5:14-15 mengatakan,
    8 min
  • Wilayah Kekuasaan Tuhan
    Jangan meragukan Tuhan. Kalau kita benar-benar percaya Allah itu ada, hargai Dia. Kalau kita yakin Allah itu ada, maka kita harus merasa membutuhkan Dia. Membutuhkan Dia bukan karena sesuatu, tetapi karena Dia sendiri. Sebab Dialah kehidupan kita. Allah menciptakan manusia dalam keadaan tidak bisa terpisah dari Dia. Terpisah dari Allah, itu kebinasaan. Maka kita harus keluar dari wilayah kekuasaan dunia dan masuk ke dalam wilayah kekuasaan ilahi. Kalau kita masuk wilayah hukum atau wilayah kekuasaan atau jurisdiction dunia, kita tunduk kepada dunia. Kita tunduk kepada kesenangan dunia. Kita dibeli oleh dunia. Namun, kalau kita masuk wilayah kekuasaan Tuhan, kita dibeli oleh Tuhan. Maka, kalau kita masih memiliki kesenangan dunia lalu di dalamnya juga memiliki kesenangan dosa, itu wilayah kekuasaan dunia. 
    Bagaimana caranya? Jangan menyenangi, menyukai apa yang disediakan dunia, tetapi menyukai apa yang Allah sediakan. Apa yang disediakan Allah? Diri-Nya. Diteguk, dihirup, diminum, dinikmati. Kalau kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita akan “digigit” oleh Tuhan, sehingga kita menjadi seperti Tuhan. Orang belum sampai “digigit” Tuhan, masih “digigit” dunia. Dia pikir bisa “digigit” dua-duanya. Tidak bisa. Kita belum sempurna, tetapi kita berjuang terus agar tidak diikat oleh kesenangan apa pun. Sebab kalau kita masih memiliki kesenangan dari dunia dan berharap dunia membahagiakan berarti kita membawa diri pada jurisdiction dunia.
    Punya uang banyak pun, tidak merasa punya uang. Punya barang bagus pun, tidak merasa punya barang bagus. Sebab, tidak ada barang yang kita miliki tanpa berguna untuk pekerjaan Tuhan. Jadi kalau kita punya barang pun, harus berguna untuk pekerjaan Tuhan. Kalau hanya supaya kita merasa lengkap, utuh, bahagia, kita tidak bisa memiliki Kerajaan Surga. Apa pun yang kita miliki harus untuk kepentingan Tuhan. Memang akan terasa sangat sulit bagi orang-orang muda, tetapi kalau kalian bisa melakukan ini, maka kalian menjadi manusia unggul yang tidak akan dipermalukan Tuhan. Kalau kita dalam keadaan susah hari ini, itu karena kita sudah melakukan banyak kesalahan dan kita harus menuai apa yang kita tabur di hari kemarin. 
    Kalau kita berada di wilayah hukum dunia, kita terikat di situ, kesenangan-kesenangan kita di situ. Kita harus tunduk pada dunia. kita dibeli oleh setan, dan dibawa ke neraka. Namun, kalau kita masuk jurisdiction Tuhan, kesenangan kita adalah Tuhan sendiri. Tidak ada orang yang berada di dalam wilayah kekuasaan Tuhan yang tidak berguna bagi pekerjaan Tuhan. Tidak mungkin. Sebab dia bukan hidup untuk dirinya sendiri, melainkan dia hidup untuk Tuhan dan sesamanya. 
    Masalah terbesar dalam hidup ini adalah ketika seseorang terpisah dari hadirat Allah. Tidak ada masalah yang lebih besar dari ini. Kalau seseorang hidup di hadirat Tuhan, Tuhan tidak mungkin permalukan. Tuhan yang berkata dalam Matius 6:26-27, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Jadi kalau Tuhan menambahkan umur, berarti Tuhan akan mencukupi kebutuhan kita. 
    Kalau kita tidak terpisah dari hadirat Allah—Sang Sumber Kehidupan yang menciptakan langit dan bumi—maka kita tidak perlu takut. Untuk makanan dan pakaian, ada. Jangan kita melihat dari perspektif yang lain, karena prinsip kita adalah: “Asal ada makanan, pakaian, cukup.” Maka, ada satu rumus harus kita terapkan dalam kehidupan ini: “lawan semua masalah dengan kesucian.” Kita semua punya masalah. Mari kita memercayai Allah kita yang hidup. Kita percaya bisa memetakan hidup kita ke depan. Kalau kita hidup suci, hidup benar, maka Dia memelihara, menjaga kita dan kita tidak akan dipermalukan. 
    Maka, yang paling kita takuti hari ini adalah berbuat salah.
    9 min
  • Dikoyakkan oleh Kebenaran
    Seberapa seseorang percaya kepada Tuhan, dapat dilihat dari seberapa dia menghargai Tuhan, menghormati Tuhan, dan merasa membutuhkan-Nya. Kalau ada orang tidak hidup di dalam kesucian dan masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, artinya ia belum percaya dengan benar. Itu bisa dimengerti kalau seseorang masih belum dewasa rohani; masih kanak-kanak, tetapi hal itu tidak boleh berlangsung terus-menerus. Seiring dengan pendewasaan rohani seseorang, artinya seseorang mengenal dan mengalami Tuhan, maka dia akan menghormati Tuhan, menghargai Tuhan, dan merasa membutuhkan-Nya yang ditandai dengan kesucian hidup dan tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Jika hal itu dicapai oleh seseorang, maka seseorang baru mengerti betapa berharganya Tuhan di dalam hidup ini. 
    Suatu hari nanti banyak orang akan menyesal mengapa mereka tidak meneguk Tuhan sebanyak-banyaknya ketika Tuhan memberi Diri untuk diteguk, dinikmati. Mereka tidak membiarkan dirinya “digigit” oleh Tuhan, tetapi “digigit” oleh dunia. Masing-masing orang memiliki kemampuan menghargai Tuhan yang berbeda. Orang Kristen yang baru boleh berkata, “Kau segalanya bagiku,” tetapi sebenarnya di dalam dirinya masih mengalir banyak selera dunia. Selera dunianya masih mengalir, belum habis. Mulutnya mengatakan, “Kau segalanya bagiku. Kau yang terindah di dalam hidupku, yang termanis,” tetapi masih menghargai Tuhan murah. 
    Hal itu tidak bisa hanya difantasikan. Kalau difantasikan, sering kali antara mulut dengan keberadaan itu tidak cocok. Kalau orang masih duniawi, kehidupannya itu masih kehidupan yang sebatas makan minum, pakaian, dia belum bisa mengatakan “ku perlu Kau lebih dari nyawaku.” Tetapi ketika seseorang sudah menginjak dewasa atau sudah akil balik, atau sudah dientaskan dari cara berpikir dunia, ia bisa memandang kehidupan dari perspektif yang berbeda. Maka, dia baru bisa berkata, “ku perlu Kau lebih dari nyawaku.” Tetapi yang sampai di titik ini, tidak banyak. 
    Dalam Mazmur 73, kita membaca bahwa pemazmur sempat nyaris tergelincir melihat orang fasik sehat, gemuk, orang berbondong-bondong ikut dia, dan “senang selamanya,” artinya selama hidup tidak ada kesulitan. Sedangkan dia, kena tulah, pukulan. Dia menjadi bingung mengapa demikian. Tetapi dia baru tahu pada akhirnya, ketika masuk Ruang Suci Tuhan, dia baru tahu. Makanya pemazmur yang memiliki pengalaman itu mengatakan, “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu, tetapi aku tetap di dekat-Mu. Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” 
    Setelah dia diremukkan, baru bisa mendengar nasihat Tuhan. Orang fasik, tidak bisa mendengar. Jadi, kalau hati kita masih bisa dikoyakkan oleh kesenangan dunia, kita tidak bisa dikoyakkan oleh kebenaran. Kalau kita masih bisa dibahagiakan oleh dunia, kita tidak bisa dibahagiakan oleh Firman. Dengan kalimat lain, kita tidak bisa dinasihati secara benar. Hati kita tidak seperti tanah subur yang menerima taburan kebenaran. Suatu hari nanti, orang akan sangat menyesal mengapa tidak meneguk Tuhan sebanyak-banyaknya; mengapa masih meneguk dunia. 
    Jadi, kalau seseorang benar-benar menghormati Tuhan, dia hidup suci. Dia tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Tuhan tidak mungkin tidak menolong kita. Keadaan kita sekarang yang berantakan justru membawa kita untuk mengenal Tuhan. Sebab kalau tidak, maka kita tidak bisa duduk diam mendengar Firman. Kita mutar-mutar berpikir: “Hari ini mau makan di mana, mau nonton apa, mau belanja apa.” Kita tidak mencari Tuhan. Mungkin kita juga tidak hormat kepada orang tua, mungkin kita juga sewenang-wenang terhadap sesama. Keadaan kita saat ini adalah keadaan yang terbaik untuk kita. Sekarang yang kita lakukan adalah bagaimana meneguk Tuhan sebanyak-banyaknya. 
    Orang yang tidak menghormati Tuhan dan tidak merasa membutuhkan Dia,
    11 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…