Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Boleh Berhenti
    Kita harus memberi diri kita untuk diperdamaikan dengan Allah. Hal itu harus kita mengerti bukan hanya secara sistematis teologis. Ketika orang berbicara mengenai keselamatan, lalu membuat rumusan dan format teologi bahwa “Yesus mati menggantikan kita, membenarkan kita,” maka kita merasa sudah dibenarkan dan sudah diperdamaikan. Secara de jure, adalah benar bahwa kita telah diperdamaikan karena Yesus mati di kayu salib, membuka akses kita datang kepada Bapa. Tetapi secara de facto, belum tentu. Tubuh kita bisa ada di gereja, tetapi kalau dalam menjalani hari-hari kita masih terikat dengan keindahan dunia, maka kita bukan anak-anak Allah yang ideal. Kita mungkin tidak berzina, tidak mencuri, tidak membunuh, tetapi hati kita tidak melekat sepenuhnya kepada Allah, maka berarti kita belum diperdamaikan dengan Allah. 
    Di dalam 1 Korintus 6:19-20 jelas dikatakan, “Kamu telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar.” Maka, kita bukan milik diri kita sendiri. Di 1 Korintus 6:7 dikatakan, “Barangsiapa mengikatkan diri dengan Allah, menjadi satu roh dengan Dia.” Luar biasa, bagaimana Allah membuka tangan untuk bisa satu roh dengan kita. Dan dalam Yohanes 17:20-21, “Engkau dalam Aku, ya Bapa, Aku dalam Engkau, dan mereka dalam Kita.” Luar biasa! Lalu setan mengelus-elus dan berkata kepada orang Kristen, “Ya, sekarang kamu sudah menjadi anak-anak Allah. Kamu sudah ke gereja. Kamu sudah memuji-muji Tuhan, Tuhan berkenan atas puji-pujian kamu. Maka kamu harus yakin masuk surga.” 
    Alhasil, banyak orang Kristen setuju dengan keyakinan itu, bahwa dia pasti masuk surga. Mestinya keyakinan itu dibangun dari pengalaman hidup, perjalanan hidup bersama dengan Tuhan, bukan dibangun dari pengertian-pengertian teologi. Kalau di perusahaan kita masih mencuri uang perusahaan, yakin masuk surga? Kalau masih ada cela dan noda dalam diri kita, yakin masuk surga? Makanya kita belajar tidak ada dosa sekecil apa pun, sehalus apa pun. Tidak ada dosa di dalam diri kita yang membuat Tuhan bukan saja terluka, tidak nyaman pun jangan. Bukan harus dosa-dosa besar, namun hal-hal kecil, hal sederhana kalau itu membuat Tuhan tidak nyaman, kita tidak lakukan. 
    Kebersamaan yang Tuhan kehendaki standarnya adalah kebersamaan Yesus dengan Bapa. Kebersamaan dengan Tuhan adalah kebersamaan yang tidak boleh berhenti. Jadi, tidak ada wilayah blank spot, harus tersambung terus dengan Tuhan. Kita stimulasi, kita rangsang lewat doa. Lalu kita bawa suasana itu keluar dari ruang doa, sementara kita melakukan berbagai pekerjaan. Kita bisa selalu ada di hadirat Tuhan, karena memang Roh Kudus dimeteraikan di dalam diri kita, dan Tuhan berjanji menyertai kita. Kita harus belajar dan berjuang untuk menghidupkan Tuhan di dalam hidup kita. 
    Ini bukan berarti Tuhan sudah mati. Allah hidup, dari kekal sampai kekal, tidak berubah. Tetapi bagaimana kita bisa menyatakan kehidupan Tuhan di dalam hidup kita, bagaimana kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan kebersamaan dengan Tuhan setiap saat. Ketika Paulus mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” secara implisit ada pesan di situ bahwa ia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Jadi, kalau kita serius akan hal ini, kita pasti tidak akan menyentuh dosa. Kalau kita berdosa sekecil apa pun kesalahan itu, kita akui, kita bereskan. Kita tidak terikat dengan kesenangan-kesenangan dunia. 
    Kita akan bisa menikmati kehadiran Tuhan dalam segala keadaan. Luar biasa, Dia menyertai kita. Sebagaimana dua orang yang bercinta, masing-masing mau dinikmati dan menikmati, demikian pula kita dengan Tuhan. Benar, Dia ingin kita nikmati dan Dia mau menikmati kita. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa kita adalah mempelai Kristus. Dan ketika Paulus menjelaskan mengenai hubungan suami istri, “Maka laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya,” lalu kalimat berikutnya, “Rahasia ini besar, tetapi yang kumaksud adalah hubungan jemaat dengan Kristus.” 
    8 min
  • Kebersamaan dengan Allah
    Tidak berlebihan kalau Firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus,” artinya kita harus memiliki standar kekudusan seperti Dia. Dan memang sudah standar kalau Alkitab berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Karena memang target yang harus dicapai itu ber-fellowship dengan Allah dalam kebersamaan. Kebersamaan dengan Allah jangan hanya diukur dengan status sebagai orang Kristen, walaupun rajin datang ke gereja. Setan memang banyak menipu dan menyesatkan banyak orang di sini. Juga jangan mengukur dengan menjadi aktivis gereja, bahkan tidak cukup sekalipun menjadi pendeta. 
    Sebagaimana hubungan suami istri yang ideal, tidaklah cukup ditandai dengan kebersamaan di ranjang atau di ruang makan. Tetapi kebersamaan itu harus sepanjang waktu, sehati, sepikiran, seperasaan, dan setujuan. Maka, kalau kita ber-fellowship dengan Allah, kita harus memiliki pikiran, perasaan yang memenuhi standar untuk bisa ber-fellowship dengan Allah. Bukan Allah yang menyesuaikan diri terhadap kita, namun kita yang harus menyesuaikan diri terhadap Allah. Maka, kita harus didewasakan, diproses untuk sempurna, memiliki pikiran perasaan Kristus. Dan itulah tujuan penggembalaan, tujuan pelayanan yang sebenarnya.
    Paulus pun berkata, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Di sepanjang perjalanan sejarah gereja, pasti selalu ada orang-orang yang bisa menjadi teladan, walaupun itu makin sukar ditemukan. Jangan main-main dengan hidup. Kita bukan binatang atau makhluk lain. Kita adalah manusia yang diberi potensi untuk bersekutu dengan Allah. Dan Tuhan memberi kita akses untuk sampai kepada Bapa. 
    Coba kita merenung dan berpikir mengenai orang-orang yang mengambil keputusan bunuh diri. Betapa bodohnya. Dia pikir semua masalah akan selesai dengan bunuh diri itu, padahal ternyata di balik kubur ada kesadaran kekal. Dan betapa menyesalnya orang yang bunuh diri, ketika kekecewaan yang mendera hidupnya, dia pikir akan lewat namun ternyata itu tidak ada artinya waktu dia meninggal, dan melihat kekekalan. Ada ketakutan dan kengerian kekal, sehingga dia tidak akan sempat lagi berpikir tentang orang-orang yang masih hidup. 
    Tetapi ada “bunuh diri” yang bermartabat, yang tidak akan kita sesali, yaitu mematikan keinginan-keinginan dosa, mematikan kesenangan-kesenangan dunia. Ketika kita mengikat janji dengan Tuhan, “Aku mau mematikan semua. Aku berjanji hidup suci, Tuhan. Aku berjanji tidak mengingini dunia lagi.” Itu seperti orang bunuh diri. Tetapi, di situlah kita akan menemukan Allah yang hidup. Keuntungan menjadi manusia adalah diberi kemampuan untuk bersekutu dengan Allah; dengan kata lain, kita diberi kesempatan untuk memiliki Allah. Dan itu bisa kita miliki, kalau kita mematikan segala keinginan dosa. 
    Memiliki persekutuan dengan Allah membuat kita memiliki sukacita, kebahagiaan, kebebasan lebih dari apa yang bisa kita pikirkan dan bayangkan. Memang pada waktu kita mulai belajar untuk mematikan keinginan dosa, nafsu-nafsu yang tidak sesuai kehendak Allah dan kesenangan-kesenangan dunia, kita harus melewati masa penyesuaian yang sangat berat. Tetapi, makin hari pasti makin bisa. Semua yang dibiasakan, itu bisa. Semua yang dilatih, bisa membuat kita ahli. Jadi, jangan membuat waktu kita sia-sia. Ada keuntungan yang nilainya kekal. Namun tentu harus diusahakan, harus dilatih. Karena tidak bisa kita ber-fellowship, bersekutu dengan Allah dengan keadaan kita yang tidak memenuhi standar.  
    Kita harus bertumbuh dewasa seperti Yesus, supaya kita dimuliakan bersama-sama dengan Yesus. Kita bisa mengenali diri kita lebih baik, kalau kita bertanya kepada Roh Kudus, “Model begini apa layak tidak, dipermuliakan?” Jangan sampai kesempatan untuk bersekutu dengan Allah ini berlalu, jangan kita kehilangan waktu atau kehilangan kesempatan untuk dibarui, diubah,
    9 min
  • Suatu Kehormatan
    Menjadi manusia itu adalah suatu kehormatan. Kedengarannya filosofis atau dianggap dibesar-besarkan, tetapi ini benar-benar sangat prinsip dan fundamental. Bukan sesuatu yang kita boleh anggap sepele atau remeh. Kita harus menyambutnya dengan sikap yang benar, bahwa menjadi manusia itu suatu  kehormatan. Mengapa? Sebab manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat ber-fellowship dengan Allah, Penciptanya. Sayang sekali manusia pertama, Adam, telah meletakkan sejarah hidup manusia yang salah. Karena kejatuhan manusia pertama, membuat semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut, bayang-bayang dosa. Dan manusia harus mati. Dan kalau manusia mati, maka manusia tidak akan pernah menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah. Manusia telah meleset. 
    Sebab kalau manusia mati, maka manusia tidak akan pernah bisa bersekutu dengan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang hidup. Dia bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup (Luk. 20:38). Jadi kalau manusia mati, berarti tidak bisa berinteraksi dengan Allah. Allah berinteraksi dengan ciptaan yang hidup, bukan ciptaan yang mati. Bicara mengenai kematian, sering kali tidak dikaitkan dengan keberadaan Allah yang hidup. Biasanya kalau manusia jatuh dalam dosa, fokusnya hanya kejatuhan manusia dalam dosa itu sendiri, tapi tidak dikaitkan dengan kegagalan manusia yang tidak bisa ber-fellowship dengan Allah. 
    Menjadi manusia adalah suatu kehormatan, sebab hanya makhluk ini yang diberi kemampuan dan keberadaan untuk bisa ber-fellowship dengan Allah. Tak terbayangkan keagungan dan kemuliaan Allah, yang sudah ada dari kekal sampai kekal dengan segala kemuliaan yang Allah miliki. Dan Allah yang Maha Mulia ini berkenan untuk ber-fellowship dengan makhluk yang disebut manusia. Dosa menutup kemungkinan manusia dapat ber-fellowship dengan Allah. Tetapi puji Tuhan, Allah mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menghidupkan manusia. Itulah sebabnya, menjadi manusia yang memiliki kehormatan sekaligus anugerah, kalau kita menjadi umat pilihan. Jadi, kita ini memiliki kehormatan sebagai manusia, dan juga anugerah untuk ber-fellowship kembali dengan Allah. Banyak orang tidak memiliki anugerah seperti kita. Kita adalah umat pilihan. 
    Kalau orang hidup sebelum zaman Yesus, mereka tidak mendapatkan kesempatan menjadi anak-anak Allah yang bisa ber-fellowship dengan Allah sebagai Bapa. Mereka yang hidup di daerah yang tidak pernah mendengar Injil, mereka juga tidak memiliki anugerah seperti kita, atau mereka yang hidup di wilayah di mana Injil diberitakan, tetapi tidak ditentukan menjadi umat pilihan atau tidak mendapat kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah, mereka tidak memiliki anugerah. Kita hidup pada zaman di mana Yesus sudah datang dan menebus dosa manusia. Kita ada di wilayah di mana Injil diberitakan, dan kita menjadi umat yang ditentukan untuk mendapat kesempatan untuk menjadi anak Allah. 
    Ditentukan menjadi umat pilihan, bukan berarti kita ditentukan pasti selamat, tetapi kita ditentukan untuk menjadi anak-anak Allah; ditentukan berstandar kudus. Sungguh tak terkira, tak terbayangkan, tak terduga, betapa hebat anugerah yang diberikan kepada kita. Kita adalah manusia keturunan Adam yang hidup di bawah bayang-bayang maut, yang sebenarnya tidak memiliki akses kepada Bapa untuk dipertemukan kembali dan ber-fellowship, tetapi oleh darah Yesus Kristus, kita mendapat akses kembali diperdamaikan dengan Allah. Jadi, ketika Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup, tidak seorangpun sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku,” tidak boleh dipahami secara naif. Tidak boleh dipahami secara dangkal, tidak boleh dipahami hanya sekadar kita masuk surga oleh karena pengurbanan Yesus. Tetapi harus dipahami sebagai kita memiliki akses untuk sampai kepada Bapa. 
    Jadi, kehidupan Yesus selain menjadi teladan, tetapi Dia juga adalah model manusia yang bisa ber-fellowship dengan Allah, sesuai dengan rancangan Allah semula; “Engkau di dalam Aku,
    8 min
  • Tidak Cukup
    Dalam Alkitab, Tuhan sering mengilustrasikan diri-Nya sebagai air. Namun, berapa banyak kita telah meneguk Tuhan? Kita harus sungguh-sungguh percaya, karena memang demikian, bahwa Allah itu ada, Dia hidup. Ironis, tidak banyak orang yang serius merespons Tuhan atau menanggapi Tuhan. Kalau kita percaya Allah itu ada dan Maha Hadir, maka konsekuensinya adalah kita harus berurusan dengan Dia. Masalahnya, berapa persen perhatian kita sungguh-sungguh kita tujukan kepada Tuhan dalam berurusan dengan Dia? Mari kita memeriksa diri sendiri, mengintrospeksi diri sendiri, menilai diri sendiri, seberapa serius kita sungguh-sungguh berurusan dengan Tuhan? 
    Seandainya kemampuan maksimal kita dipresentasikan dengan 100%, berapa persen kita telah memiliki langkah dalam berurusan dan berinteraksi dengan Dia? Ada banyak hal yang menarik perhatian kita, memikat hati. Banyak hal yang bisa mempesona hati kita, yang tentu membuat fokus kita kepada Tuhan tidak pada proporsinya. Coba periksa, berapa persen kita sungguh-sungguh selama ini memberi perhatian kepada Tuhan? Suatu hari ketika kita berhadapan dengan Tuhan, ketika kita melihat keagungan, melihat kebesaran Tuhan, kita baru sadar bahwa ternyata 100% yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan, itu pun tidak mencukupi. Agung-Nya dan mulia-Nya Tuhan, tidak cukup disetarakan dengan 100% persembahan dari segala yang kita miliki. Kalau kita bisa menambahkan, kita mau tambahkan. 
    Betapa celakanya orang yang selama hidup tidak memperlakukan Tuhan secara patut, dan santun. Bagian yang mestinya kita persembahkan kepada-Nya, tidak kita persembahkan. Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang memiliki segala kuasa, kemuliaan, dan kerajaan. Sehingga mestinya Dia menjadi segalanya bagi kita. Seperti apa yang dikatakan Tuhan Yesus di Matius 22:37-40, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan.” 
    Kuasa kegelapan begitu licik dan cerdik bermanuver di sekitar kita. Ia berusaha untuk menarik perhatian banyak orang Kristen kepada banyak objek, supaya hati mereka tidak sepenuhnya terarah kepada Tuhan; mencintai Tuhan. Padahal, firman Tuhan dalam 1 Korintus 16:22 tegas berkata, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.” Seorang yang tidak mengasihi Tuhan, tidak mungkin bisa memuja Dia. Mulutnya bisa saja mengatakan “ku puja, Kau,” namun hatinya dan hidupnya tidak. Itu menipu. Selama ini seakan-akan ia masih dalam keadaan aman, selamat, tenang. Tetapi satu kali, ketika ia ada di pengadilan Tuhan, ketika semua keadaan dibuka dan tidak ada yang tersembunyi, maka akan nampak apakah ia sungguh-sungguh telah memuja Dia atau tidak. 
    Itulah sebabnya liturgi gereja tanpa sadar sering menjadi sarana Iblis menyesatkan umat. Dengan liciknya, Iblis membisikkan kepada kita, “Yang penting kamu sudah ke gereja, menyembah dengan pujian, kamu sudah memberi persembahan. Tenanglah, kalau kamu mati, masuk surga.” Iblis menipu. Padahal warna hidup kita yang sesungguhnya yang diperagakan di dalam hidup setiap hari, tidak sesuai dengan pernyataan di mulut. Mari kita membangun kegentaran akan Tuhan. Kita bisa menipu manusia, bisa berakting seakan-akan kita memuja Allah, seakan-akan kita menyembah, tetapi sebenarnya kita tidak memuja, menyembah dalam arti yang benar. 
    Hal ini karena karena kita tidak memberikan porsi yang sepenuh. Maka, jangan berharap kita bisa meneguk Tuhan secara berlimpah. Tuhan tidak akan bisa diteguk oleh orang-orang yang tidak sungguh-sungguh merindukan Dia dan mencintai Dia. “Terkutuklah orang yang tidak mengasihi Tuhan,” bukanlah ayat main-main. Seberapa kita bisa meneguk Tuhan, tergantung respons kita terhadap Dia. Maka pertanyaannya adalah, “Seberapa kita mengasihi Dia?” Persoalkan dan perkarakan ini. Bulatkan hati untuk mencintai Tuhan sehingga Tuhan menjadi segalanya di dalam hidup kita. Jangan main-main. Ini hal yang paling prinsip dalam hidup. Tidak ada yang lebih prinsip dari ini. 
    11 min
  • Meneguk Tuhan
    Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan itu dapat digambarkan seperti air. Di Perjanjian Lama, di Mazmur 42, firman Tuhan mengatakan, “seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan Engkau ya, Allah. Jiwaku haus kepada Allah. Kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah.” Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengemukakan pernyataan, “Akulah air kehidupan.” Ini berarti, harus ada realitas yang kita alami dalam hidup dimana kita bukan saja bersentuhan dengan Allah, mengalami Allah, tapi juga meneguk. Sehingga kita dapat menikmati Dia; menikmati Allah dalam realitas, bukan dalam fantasi. Air bagi rusa itu bukan suplemen, tetapi sumber kehidupan. 
    Mekanisme ini harus kita alami. Bukan hanya menjadi pengetahuan di dalam pikiran, lalu kita berfantasi bahwa kita ini seperti rusa yang merindukan sungai yang berair. Kita bernyanyi, berfantasi dalam beragama atau berfantasi dalam ber-Tuhan. Dan pada dasarnya, orang yang berfantasi ini tidak ber-Tuhan dengan benar. Mari kita benar-benar memperkarakan hal ini di dalam hidup. Miliki perasaan risau, perasaan galau yang digambarkan di sini dengan kata “haus.” Haus itu menunjukkan kefrustasian fisik. Kalau kita haus, maka tubuh kita akan stres. Sekaligus memberikan signal bahwa tubuh ini tubuh yang sehat. Kalau tubuh tidak dapat merasa haus atau seperti orang tidak lapar, tidak mau makan sampai tidak bisa makan, itu ciri orang sakit. Ini mekanisme metabolisme tubuh yang baik; tubuh kita stres waktu kita haus. Tetapi aspek lainnya, tubuh yang haus itu tubuh yang sehat, punya metabolisme yang baik. 
    Coba kita jujur melihat diri sendiri, apakah kita memiliki kehausan akan Allah? “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup,” bukan Allah yang hanya dibicarakan dengan mulut, bukan difantasikan, tapi Allah yang dialami. Maka jika kehidupan atau metabolisme rohani kita sehat, akan ada signal di dalam diri kita untuk menemukan ‘air’ yang dapat memuaskan dahaga jiwa kita. Jangan seperti Lukas 12, kisah orang kaya yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus. Ia melihat hartanya bertambah banyak, dia mau membangun lumbung, gudang lebih besar supaya dia bisa menyimpan harta bendanya, lalu berkata, “hai, jiwaku, ada padamu banyak barang. Senangkan dirimu.” Ini sesat. Jiwanya tidak akan dapat diisi oleh barang-barang seperti itu. 
    Jiwa manusia itu seperti sumur, yang tidak memiliki dasar. Yang diisi oleh apa pun, akan selalu kurang. Hanya ada satu yang dapat menjawab kehausan jiwa, yaitu Allah. Dan manusia dikunci dengan keadaan ini. Ibarat seorang pencipta mobil yang mendesain mesin mobil itu harus diisi bensin, tidak didesain diisi air. Kalau diisi air, rusak, tidak jalan. Jiwa kita tidak bisa diisi oleh apa pun, sebab telah ‘dikunci’ oleh Sang Khalik oleh Penciptanya, yaitu Tuhan semesta alam, bahwa yang kita butuhkan hanya Tuhan. Kalau sekarang ini belum memiliki kehausan yang pantas atau semestinya, kiranya kita disadarkan, dan mulai membangun kehausan itu. 
    Banyak jiwa yang sudah sesat, yang ditandai dengan kehausan terhadap sesuatu yang kelihatan, yang dapat disediakan oleh dunia ini. Dan kuasa kegelapan pasti berusaha untuk menyesatkan, menunjukkan keindahan dunia sebagai solusi untuk menjawab kebutuhan, kehausan jiwa manusia. Seperti ketika Tuhan Yesus di Lukas 4, dibawa ke atas tempat yang tinggi dan ditunjukkan kepada-Nya kemuliaan, keindahan dunia. Tapi tentu Tuhan Yesus tidak mau mengingini dunia. Mengingini dunia sama dengan menyembah Iblis. Kita ini memiliki jiwa yang sudah terlanjur rusak. Tetapi kalau kita mendengar firman kebenaran ini, dan dengan rendah hati kita menyambutnya dan mulai membenahi diri, Roh Kudus pasti akan menolong kita untuk kesembuhan jiwa kita ini. 
    Maka, kita akan mulai memiliki metabolisme kehidupan rohani yang baik. Jangan sampai ketika kita meninggal dunia, kita belum meneguk Tuhan sebagai air kehidupan, karena disesatkan. Seperti orang kaya di Lukas 12 yang sesat pikirannya,
    10 min
  • Memperbarui Hati
    Ada satu hal yang harus kita lakukan setiap hari, yaitu memperbarui hati kita atau kita meng-update penyerahan kita kepada Tuhan, komitmen-komitmen kita, tekad kita, janji-janji kita kepada Tuhan, nazar-nazar kita kepada Tuhan, cinta kita kepada Tuhan. Itu harus kita lakukan setiap hari. Sebab banyak hal yang bisa membuat hati kita menyimpang atau men-distract hati kita. Kuasa kegelapan setiap hari bermanuver dan berusaha menarik kita untuk keluar dari hadirat Tuhan, keluar dari rencana Tuhan, keluar dari kehendak Tuhan. Jadi, setiap hari ada satu keharusan, kewajiban mutlak, yaitu kita menghadap Tuhan seperti yang kita lakukan setiap hari untuk meng-update sikap hati kita terhadap Tuhan. Kita harus memperbarui penyerahan kita, komitmen-komitmen kita, tekad kita kepada Tuhan. 
    Roh Kudus pasti membantu, menolong, dan mengoreksi kita. Ada hal-hal yang mulai tidak teguh, tidak kokoh dalam hati kita, ada penyimpangan-penyimpangan, ketidaktepatan di dalam hati kita. Roh Kudus pasti memimpin kita. Orang yang selalu memperbarui sikap hatinya kepada Tuhan adalah orang yang serius dengan Tuhan. Jadi, bukan hanya satu minggu sekali kita menyanyi “Kuserahkan tubuh nyawaku, roh jiwaku,” tetapi hari yang lain dia tarik kembali. Hari Minggu mengatakan, “Tuhan ambil hidupku guna hormat bagi-Mu,” hari yang lain kita tarik kembali hidup kita untuk kesenangan kita sendiri. 
    Kalau setiap hari kita meng-update komitmen kita kepada Tuhan, maka jika ada penyimpangan, ketidaktepatan, ketidaksetiaan, ketidakteguhan hati, kurangnya integritas untuk submit (tunduk) kepada Tuhan, maka akan segera kita sadari dan kita perbaiki. Perbaikan demi perbaikan tersebut akan membuat kita menjadi lebih sempurna, lebih kokoh, sehingga cinta kita kepada Tuhan menjadi kokoh. Tekad kita untuk hidup hanya bagi kesukaan Tuhan makin kokoh. Kesucian hidup kita makin mantap, kokoh, makin konsisten dan akhirnya kita mencapai kehidupan yang benar-benar berkenan kepada Tuhan. 
    Sering tanpa kita sadari terjadi penyimpangan karena kodrat dosa yang masih ada di dalam diri kita. Paulus mengakui itu, “Aku tahu apa yang baik, tetapi yang jahat kulakukan” (Rm. 7:21). Sehingga Paulus mengatakan, “Dengan akal budiku aku melayani hukum Tuhan, tetapi dengan tubuh insaniku, aku melayani hukum dosa” (Rm. 7:26). Sebenarnya maksud ayat itu adalah: “Aku terus bertekad untuk melakukan apa yang Allah kehendaki, sementara aku masih ada di dalam kodrat dosa.” 
    Tidak ada cara lain untuk mematikan kodrat dosa kita selain ketekunan. Dan di dalam ketekunan itu ada pembaruan setiap hari. Kita tidak memberi kesempatan manusia lama kita, kedagingan kita untuk tumbuh dan hidup kembali, apalagi berkuasa di dalam diri kita. Maka, bagi kita yang betul-betul mencintai Tuhan dan telah bergumul untuk hidup dalam kekudusan, pasti merasakan bagaimana manusia lama kita ini masih terus mendesak untuk dipuaskan—ambisi-ambisi pribadi, perasaan tidak mau mengalah, perasaan tersinggung, perasaan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, kebencian yang terpendam, sikap tidak mau mengampuni—semua itu mau tumbuh kembali. 
    Namun, kalau kita selalu memperbarui sikap kita, maka jika ada sikap hati yang salah tersebut, kita dapat langsung matikan, buang, salibkan. Penyaliban daging setiap hari bisa terjadi atau berlangsung kalau kita sungguh-sungguh bersedia memperbarui sikap hati kita setiap saat. Itulah sebabnya pertobatan tidak cukup satu kali, tetapi harus berulang-ulang. Setiap kali kita salah, kita menyadari kesalahan itu, kita mengakui kesalahan itu dan kita minta ampun dan berubah. Bukan hanya perbuatan-perbuatan yang kelihatan, namun juga sikap hati yang tidak kelihatan, cara berpikir yang tidak kelihatan tetapi yang menggerakkan kehidupan. Itu yang harus dikoreksi, diperbarui terus setiap hari.
    Kita bersyukur kalau kita disadarkan Tuhan akan hal ini. Sehebat apa pun kita, kita harus terus berubah. Apalagi kenyataannya,
    8 min
  • Penyembah yang Benar
    Ketika kita hidup dalam kekudusan setiap hari, dalam penghayatan akan kehadiran Allah, itulah Kristen yang benar. Itu tujuan menjadi umat pilihan. Jadi, betapa naifnya kalau orang merasa sudah menjadi Kristen hanya karena ke gereja, atau aktif dalam kegiatan. Dan kegiatan itu memberi nilai pada dirinya, apakah sebagai aktivis, pelayan jemaat, atau pendeta. Jangan tertipu oleh konsep yang salah tersebut. Ironisnya, ini sudah berlangsung selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Banyak orang Kristen sesat, sebenarnya, mereka merasa Kristen karena ke gereja. Lalu gereja dibuat semacam liturgi, seremonial yang agung, yang khidmat. Pendeta diberi pakaian yang khusus, dan mimbar dihiasi begitu rupa. 
    Mengatakan begini bukan berarti kalau pendeta pakai pakaian khusus, itu salah. Tetapi itu tidak atau bukan nilai utama. Bukan juga karena khidmatnya lagu penyembahan atau hingar-bingar lagu pujian, bukan di situ. Ibadah kita adalah perbuatan baik kita yang tak bercacat tak bercela. Itu yang namanya menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Kita harus melakukan pembaruan pikiran, cara berpikir yang benar. Jadi kalau Alkitab berkata “Berdoa tiada berkeputusan,” itu bukan berarti kita masuk ruangan doa terus berlutut, tiada henti selama 3, 4, 5, 6, 7 jam. Bukan begitu. Tidak salah, berdoa beberapa jam. “Berdoa tiada berkeputusan” artinya, setiap saat kita selalu ada di hadapan Tuhan; 24 jam sehari. Maka, tidak ada kehidupan yang lebih indah dari kehidupan seseorang yang menghayati kehadiran Allah. Selalu ada di hadirat Tuhan. 
    Sebab ketika seseorang hidup di hadirat Tuhan, ia termotivasi untuk hidup tak bercacat tak bercela, membangun ibadah yang benar, menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Aspek lainnya, keindahan dunia menjadi pudar di mata kita; segala sesuatu yang di sekitar kita, menjadi gugur di hadapan Tuhan. Inilah yang Tuhan kehendaki. Menyembah itu dalam bahasa aslinya proskuneo, artinya memberi nilai tinggi Tuhan. Kapan? Setiap saat. Cara kita memandang hidup, cara kita memandang dunia, cara kita memandang segala sesuatu, itu sikap menyembah. Sikap menyembah bukan hanya 5-10 menit waktu menyanyi. Bukan seperti satu titik, melainkan garis yang terus berkesinambungan. 
    Hayati Tuhan di mana pun kita berada. Jaga perasaan dan pikiran kita, jangan sembarangan. Jaga mulut, jangan ada kata yang sia-sia. Jaga perilaku. Tidak ada kesombongan yang terselubung, tidak ada ketidaktulusan. Semua harus bersih. Baru kita bisa mengerti apa artinya bersekutu dengan Tuhan. Dan kita belajar dari waktu ke waktu. Mungkin ada di antara kita yang merasa nyaris terlambat. Tetapi puji Tuhan, kita tidak terlambat sekali. Masih ada kesempatan. Ciri orang yang hidup dalam penyembahan yang benar, dalam roh dan kebenaran, yang selalu hidup di hadirat Allah adalah: 
    Yang pertama, kesucian lahir batin. Yang kedua, akan memiliki kepedulian terhadap sesama. Ketika orang hidup dalam kesucian, berjalan dengan Tuhan, dia pasti mendapat impartasi dari Tuhan; spirit Tuhan dipindahkan. Pasti dia memiliki beban terhadap sesama. Dia ingin orang lain juga mengalami apa yang dia alami. Jadi bukan sekadar membawa orang ke gereja supaya menambah jumlah anggota gereja. Apalagi kalau orang itu dari non-Kristen, lebih bangga lagi. Untuk apa? Kita harus menjadi berkat bukan hanya orang menjadi Kristen atau anggota gereja, melainkan mengubah hidupnya menjadi seperti kita hidup. Kita menampilkan model, prototipe kehidupan anak-anak Allah. Maka, firman Tuhan mengatakan, “Pergilah jadikan semua bangsa murid-Ku.” 
    Sebenarnya di mana pun kita berada, secara otomatis kita menggarami. Kehidupan kita memancarkan model dari ibadah yang benar; menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Namun, jangan berpikir bahwa “Setelah kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, kita tidak perlu ke gereja lagi.” Itu salah. Ke gereja itu mutlak. Sebab, di gereja itulah kita bertemu dengan saudara seiman. Kita bisa sharing atau berbagi. Paling tidak,
    10 min
  • Menguasai Lidah
    Tidak ada kehidupan yang lebih indah daripada kehidupan seseorang yang bisa menghayati kehadiran Allah setiap saat. Ketika Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 4:24 bahwa “Ada saatnya orang akan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran,” yang Tuhan maksud sebenarnya bukan soal liturgi. Jangan kita salah mengerti. Itu bukan soal liturgi atau tata cara ibadah atau semacam ritual, seremonial orang beragama. Ketika Tuhan Yesus menunjukkan bahwa ada saat di mana orang akan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, pada intinya sebenarnya ada saat manusia bisa bersekutu dengan Tuhan setiap saat, setiap waktu. 
    Kalau dalam agama Yahudi atau agama samawi lainnya, ada seremonial, sembahyang, seperti orang Yahudi sembahyang sekian kali dalam satu hari, dan mereka berkiblat ke Yerusalem. Tetapi, Yesus berkata bahwa bagi umat Perjanjian Baru, tidaklah demikian. Tetapi kita harus menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Ini adalah sebuah persekutuan yang tiada henti; berkesinambungan, kontinyu. Di sini orang percaya harus bisa menghayati kehadiran Tuhan. Persembahan bagi Tuhan tidak lagi hanya sekadar nyanyian yang disertai dengan musik naik turun atau fluktuasi nada, tidak lagi dengan tata cara ibadah atau seremonial, tetapi dengan kehidupan yang berkenan kepada Allah. Dari apa yang dipikirkan, diucapkan, direnungkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah. 
    Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Pikirkan apa yang baik, yang kudus, yang berkenan kepada Allah.” Di Kolose 3 dikatakan, “Pikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Juga dalam Filipi 2:5-7 firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” berarti kita harus berperasaan seperti Kristus. Jangankan perbuatan yang sudah kelihatan, ada sesuatu di dalam pikiran batin, kalau luput, sudah dosa. Maka, kalau orang benar-benar mau mengikut Yesus, dia akan teliti memeriksa hati dan batinnya. Alkitab mengajar agar kita selalu memeriksa diri dan berdoa, “Selidiki aku, Tuhan. Periksa diriku, Tuhan.” 
    Artinya, kita harus aktif dalam memeriksa pikiran dan perasaan kita. Tidak usah bicara kotor yang terdengar di telinga, berpikir kotor saja, sudah salah. Jangankan membunuh orang, membenci juga sudah salah. Tetapi inilah kehendak Tuhan. Tidak hanya melakukan hubungan seks di luar nikah, melihat lawan jenis dan mengingininya, itu zina. Jadi kita harus benar di hadapan Allah. Batin kita, sikap hati kita harus benar. Tidak boleh ada sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki. Sekecil, sehalus apa pun dosa, tidak boleh ada. Selanjutnya, kalau kita sudah bisa mengatur batin, kita pun harus mengatur pikiran, lalu mengontrol lidah atau perkataan. 
    Maka, kalau orang tidak bisa mengatur batinnya, pasti dia tidak bisa menguasai lidahnya. Jika ada orang berkata, “Mulutku memang jahat, tetapi hati saya tidak,” itu omong kosong. Kalau mulutnya busuk, hatinya pasti busuk, karena hati adalah sumber. Surat Yakobus mengatakan, “Siapa yang bisa mengendalikan lidah, maka dia bisa sempurna.” Orang yang bisa mengendalikan lidah adalah orang yang sempurna. Jadi, kita bisa melihat bahwa lidah itu sangat berperan. Tetapi, lidah bisa dikendalikan kalau pikiran dan perasaan dikendalikan. Seseorang yang punya kecenderungan bicara dan tidak bisa mengendalikan mulutnya, itu merupakan gejala bahwa batiniahnya sebenarnya rusak. Kalau batinnya rusak, kelakuannya tidak mungkin tidak rusak. 
    Sebaliknya, kalau perkataan kita baik, tidak menjadi duri tajam yang melukai orang, maka itu merupakan ciri dari orang Kristen yang bertumbuh dalam kedewasaan. Kalau kita mau menjadi orang Kristen yang benar, maka kita harus menjaga mulut. Itu ibadah. Apa gunanya seseorang menyanyi di gereja, atau aktif di pelayanan, tetapi hidupnya tidak memberkati orang? Itu berarti ia belum beribadah, karena ibadah yang benar itu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Kita bukan orang sempurna.
    8 min
  • Ada Rasa
    Bagaimana kita dapat merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan benar? Ternyata hal merendahkan diri di hadapan Tuhan tidak cukup hanya dipahami dengan pengetahuan secara pikiran atau secara nalar dalam mengenal Dia. Kita tidak bisa merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan benar, kita tidak bisa menghormati Tuhan dengan benar, kalau kita hanya memiliki pengetahuan di dalam nalar dan pikiran kita mengenai Dia. Walau kita sejak lahir sudah Kristen. Misalnya, sejak remaja aktif dalam pelayanan, sekolah teologi dalam beberapa stratum. Dari strata 1, 2, 3 dan memiliki prestasi yang baik dalam studi. Bisa saja banyak pengetahuan yang kita ketahui tentang Tuhan, tetapi hal itu sebenarnya tidak membuat kita otomatis bisa sungguh-sungguh dapat merendahkan diri di hadapan Tuhan secara benar. Jangan menganggap bahwa hal itu membuat kita benar-benar bisa menghormati Allah.
    Merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menghormati Allah adalah tentang rasa. Maka, sebenarnya hal itu bukan hanya pengetahuan di dalam kepala semata. Pengetahuan memang penting, tetapi itu bukan segalanya. Di dalam hal ini, yang kita benar-benar perlukan bukan hanya pengenalan di dalam pikiran, melainkan juga rasa di dalam perasaan, di dalam jiwa, di dalam hati kita. Dan rasa itu bisa terbangun ketika kita menyediakan diri menemui Tuhan atau berhadapan dengan Tuhan dalam ruang pertemuan dengan Tuhan. Nalar kita bisa bertemu atau diisi dengan pengetahuan tentang Allah. Pikiran kita bisa bergelut dengan studi mengenai Allah atau mengenai Tuhan. Tetapi, sesungguhnya perasaan jiwa kita harus menemui Pribadi-Nya, yaitu Tuhan sendiri. 
    Seseorang bisa belajar mengenai seorang tokoh, misalnya presiden. Bisa membaca biografinya lengkap berulang-ulang, bisa timbul kekaguman juga terhadap tokoh tersebut; tetapi belum tentu dengan belajar dari biografi melalui buku, maka seseorang bisa memiliki kekaguman yang benar, hormat yang benar terhadap tokoh itu. Sampai suatu hari, ketika ia benar-benar bertemu muka dengan muka, hidup bersama (get along), bersentuhan secara langsung, berdialog, barulah ia bisa mengerti kebesaran tokoh tersebut, keagungannya, yang membuat hati mengagumi dan jiwa menghormati. 
    Demikian pula antara kita terhadap Tuhan atau demikian pula hubungan kita, dalam relasi dan keterkaitan dengan Allah. Pikiran, nalar kita bisa bersentuhan atau diisi dengan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi ingat, hal itu saja tidak cukup! Hati, jiwa kita harus merasakan bahwa Tuhan Allah bukan sekadar objek pengetahuan, Dia bukan hanya tema sebuah pembahasan. Dia adalah Pribadi yang hidup, Pribadi yang nyata, yang harus dialami secara langsung oleh setiap kita. 
    Oleh karenanya, tidak bisa tidak, kita harus ada perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi. Perjumpaan yang panjang, perjumpaan yang terus-menerus, perjumpaan yang tiada henti. Dari perjumpaan itulah ada rasa di dalam jiwa; perasaan hati kita ada rasa kagum, hormat, dan cinta. Dan di situlah api penyembahan kita menyala dengan benar. Di situlah hormat kita kepada Tuhan baru benar. Bukan sandiwara, bukan hanya menghiasi bibir. Orang bisa saja menyusun kata-kata yang indah tentang Tuhan. Menyusun kalimat doa yang indah, yang didoakan bisa lebih dari 30 menit. Dengan kalimat-kalimat yang bagus. Tetapi itu semua hanyalah kalimat-kalimat teologi. Kekayaan dari bahasa yang dimiliki pendoa itu, hebat. Ingat, orang yang berdoa, mengucapkan kalimat doa, belum tentu adalah seorang pendoa. Bisa ya, bisa tidak. Mengucapkan kalimat doa, lalu menyanyi, lalu sekaligus berkhotbah. Dan kekayaan kalimatnya begitu tinggi menakjubkan. 
    Tetapi pertanyaannya, apakah ada rasa yang benar? Bukan dari fantasi di pikiran, melainkan rasa yang benar. Hal ini tidak bisa dijelaskan. Tetapi ketika kita terus bertumbuh, ada di hadapan Tuhan terus-menerus dalam waktu yang panjang dan lama, kita baru tahu apa artinya merendahkan diri di hadapan Tuhan secara benar. Dia Besar, Dia Mulia, Dia Agung, Dia Maha Tinggi.
    9 min
  • Alasan
    Orang yang bengkok hatinya adalah orang yang tidak jujur. Dan mereka tidak akan diperlakukan Tuhan sebagai orang yang layak menerima anugerah. Sebab Tuhan berfirman, “Terhadap orang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang bengkok Engkau berlaku bengkok.” Jangan sampai di hadapan Tuhan kita masih beralasan ini dan itu. Tidak ada alasan. Salah adalah salah. Jangan membiasakan diri beralasan. Itu orang bengkok. Atau kita mengaku salah, tetapi ada embel-embelnya. Suatu hari ketika kita berhadapan di hadapan takhta pengadilan Allah, dan semua pengetahuan lengkap, kita akan mengenali bahwa alasan yang kita buat adalah bentuk sikap tidak menghormati Allah. 
    “Bagaimana saya bisa cukup, kalau saya jujur?” Orang yang seperti ini menganggap bahwa kehidupan yang benar dan kesucian itu membahayakan dan menyulitkan hidupnya. Maka, kesucian harus dibangun sejak muda. Namun, walaupun saat ini kita sudah cukup berumur dan sering gagal, tetap kita masih bisa diperbaiki. Di-reset, di-redefine, di-recode; diformat. Ingat! Kalau kita mengasihi Tuhan, Tuhan juga mengasihi kita. Jangan kita balas berkata, “Walaupun kita tidak mengasihi Dia, Allah mengasihi kita,” nanti dulu. Jadi begini, seharusnya makin tua umur kita, maka cinta kita kepada Tuhan juga harus makin kuat. Seimbang dengan kedewasaan rohani kita. Memang dulu waktu masih remaja, cinta kita kepada Tuhan yang porsinya sedikit, aman. Tetapi tidak akan aman ketika kita sudah tua. Jadi seiring dengan usia rohani, kita juga harus bisa mencapai puncak kecintaan kepada Tuhan. 
    Sebab tidak ada cara lain untuk menghadirkan hadirat Allah dan kuasa Allah, kecuali dengan kekudusan dan kesucian hidup. Kita rindu diubah, benar-benar menjadi seorang yang mengasihi Tuhan. Di dalam 2 Korintus 11:2 dikatakan, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi, karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci.” Kita harus jadi perawan suci. Jadi kalau ada orang berkata, “Tuhan mengasihi kita, walaupun kita tidak mengasihi Dia,” nanti dulu. Waktu umur rohani kita berapa? Walau kita tidak setia, Dia tetap setia. Berapa kali kita memberontak dan melakukan tindakan tidak setia? Sampai kapan? 
    “Perawan” di sini bukan berarti tidak pernah melakukan hubungan seks. Ini bukan dalam pengertian umum, tetapi menunjuk kepada seseorang yang tidak terikat dengan percintaan dunia. Tuhan mencintai kita dan Ia sebagai mempelai laki-laki. Namun, kalau kita tidak menjadi perawan suci, artinya kita tidak akan menjadi mempelai di kekekalan. Maka, Paulus berkata, “Tetapi aku takut kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus.” Siapa yang disesatkan? Manusia; orang Kristen. Siapa yang menyesatkan? Iblis. 
    Sebagai mempelai Tuhan, kita itu ibarat sudah masuk kotak; dibelenggu dengan status “tunangan.” Kalau di Indonesia, tunangan gampang bisa putus. Tetapi kalau di Israel, menurut tradisi Yahudi, kalau dikatakan “Maria tunangan Yusuf,” arti tunangan itu sudah legal suami istri, tetapi belum tinggal serumah. Tuhan sudah membeli kita secara legal. Kita milik Tuhan. Maka kalau kita tidak nurut, memberontak, berarti kita bengkok. Kita tidak boleh hidup sembarangan. Jangan lupa, ada Iblis yang terus mencoba untuk menarik kita masuk dalam persekutuan dengan kegelapan. Jadi, ingat! Kita sudah dibelenggu dalam status sebagai mempelai Kristus. 
    Kita harus memilih Tuhan dan kita harus mencintai Tuhan lebih dari mencintai nyawa kita. Ironis, banyak yang tidak mampu, karena irama hidupnya sudah salah selama belasan, bahkan puluhan tahun. Selain Tuhan tidak kelihatan, mereka memuaskan daging dan ambisinya, sehingga mereka tidak sanggup lagi. Tetapi kalau Tuhan berkemurahan, dan mereka mau bertobat, bisa. Tetapi kalau sudah tidak nekat, sombong, masih hidup dalam nafsu kedagingan, maka itu bahaya. Jangan lawan Tuhan. Makanya kita-kita semua harus menjadi juru kampanye Tuhan. Kita bukan hanya jadi penggembira.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…