Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Membangun Kesombongan
    Semua orang ingin memiliki kepastian. Kepastian yang biasa diharapkan manusia adalah keadaan baik, sesuai dengan standar kebahagiaan manusia pada umumnya. Seperti tubuh sehat, rumah tangga utuh dan bahagia, ekonomi baik, keadaan yang aman dan membahagiakan. Dan untuk itu semua, orang berusaha melakukan segala sesuatu demi memperoleh kepastian, demi supaya dapat menghindarkan diri dari sakit penyakit, bencana, rumah tangga yang hancur, kemiskinan, keadaan yang tidak aman dan tidak menyenangkan. Orang berusaha menjauhi keadaan yang tidak menyenangkan dan melakukan segala sesuatu demi mendapatkan kepastian kebahagiaan sesuai standar yang dimiliki manusia pada umumnya.
    Bagi orang beragama, mereka memercayai ada kekuatan di luar dirinya. Dan memang harus diakui bahwa manusia membutuhkan kekuatan di luar dirinya untuk menopang hidupnya. Maka, agama menjadi bagian untuk bagaimana memperoleh kepastian. Kalau jujur, yang dipercayainya—apakah itu dewa atau allah atau kekuatan yang lain—diharapkan bisa menciptakan keadaan yang pasti atau bisa memberikan kepastian keadaan baik tersebut. Dan itu sudah menjadi bahasa manusia, yaitu manusia membutuhkan kekuatan di luar dirinya untuk memberi kepastian hari esok. Karena manusia telah belajar bahwa banyak keadaan di luar prediksi bisa terjadi. Manusia juga belajar banyak hal bisa terjadi di luar perhitungan.
    Sulit bagi manusia untuk bisa menembus apa yang akan terjadi hari esok. Walau begitu manusia berusaha untuk tahu apa yang akan terjadi hari esok. Jadi kalau ada tukang ramal, itu karena kebutuhan manusia yang ingin memiliki kepastian. Kita sebagai orang percaya harus mengerti bahwa kita ada di dunia yang sudah jatuh. Tidak ada yang baik. Satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian, sebab hanya Tuhan yang pasti. Mengapa? Sebab ini bukan dunia yang dirancang atau dikehendaki Tuhan. Allah yang cerdas tidak menciptakan dunia seperti ini.
    Memang untuk sebagian orang yang ‘beruntung’—apakah itu orang kaya atau keturunannya, bangsawan, masyarakat yang hidup pada zaman tidak ada bencana dan perang—seakan-akan dunia ini bisa menjadi seperti Firdaus. Tetapi sejujurnya, tidak banyak orang yang mengalaminya atau memiliki keberuntungan seperti itu. Bahkan keberuntungan seperti itu juga membahayakan, artinya orang tidak sadar bahwa semua itu akan berakhir. Keadaan di mana tidak ada sakit penyakit, tidak ada perang, tidak ada bencana bisa membuat orang tidak membutuhkan Tuhan. Orang yang tidak membutuhkan Tuhan, pasti tidak membenahi diri. Padahal hidup yang sesungguhnya yang Tuhan kehendaki, itu nanti. Oleh sebab itu, kita bisa mengerti waktu Tuhan mengatakan, “Orang kaya sukar masuk surga.” 
    Dalam Mazmur 73:18-20 dikatakan, “Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina.” Yesus mau mengingatkan kepada mereka yang tidak memeriksa keadaan jiwanya—sebab yang dilihat hanya penampilan lahiriah, di mana semua running well—namun ketika mereka tiba-tiba mati, mereka akan dipandang hina. Sungguh kasihan. Pemazmur juga mengatakan, “Aku nyaris tergelincir, aku tidak mengerti mengapa orang yang jahat ini gemuk, sehat, kaya, senang selamanya, tetapi kemudian aku baru tahu ketika aku masuk Rumah Kudus Tuhan bahwa yang penting adalah nanti.”
    Orang yang sekarang ini secara pertimbangan umum tidak memiliki kepastian, bukanlah sesuatu yang buruk. Mereka yang tidak tahu dengan pasti bulan depan mau kontrak di mana, bagaimana anaknya mau sekolah, tidak punya tabungan, ingat! Ini bukan akhir dari segalanya. Namun, bukan berarti kita boleh ceroboh dan hidup tidak bertanggung jawab. Jangan khawatir, bunga di padang Dia dandani, burung di udara Dia pelihara; dan kita lebih dari bunga di padang dan burung di udara. Orang yang tidak punya kepastian menurut pengert...
    9 min
  • Alasan Kita hidup
    Firman Tuhan mengatakan di dalam Matius 22:14, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Jadi, dari sekian banyak orang yang menjadi anggota gereja atau menjadi orang Kristen, belum tentu semua masuk surga. Maka, kita juga bisa mengerti mengapa Firman Tuhan di dalam 1 Korintus 9:25 mengatakan, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
    Di sini Paulus bukan takut ditolak manusia. Sebab di ayat-ayat sebelumnya Paulus mengatakan, “Aku tak peduli bukan saja kepada orang. Aku juga tidak peduli dengan cara rasul-rasul lain. Kalau rasul-rasul lain bisa mendapatkan nafkah dari pelayanannya. Aku, dengan tanganku aku bekerja untuk mencukupi kebutuhan.” Kita tahu bahwa Paulus membuat kemah untuk biaya pelayanan. Seorang rasul memilki kecemasan dirinya ditolak Allah. Maka, ia melatih tubuhnya. Di ayat ini, perjalanan hidup kita diilustrasikan sebagai orang yang ada dalam gelanggang pertandingan. Semua peserta turut berlari, tetapi tidak semua menjadi juara. Hal ini memberikan semacam alarm bagi kita semua. Supaya kita jangan anggap sepele persoalan diterima dan ditolak oleh Tuhan. Sebab, banyak orang yang tidak peduli. 
    Banyak persoalan hidup yang kita gumuli, banyak kebutuhan hidup yang mendesak yang oleh karenanya kita menggeliat, melakukan berbagai aktivitas, sehingga kita bisa tidak memiliki fokus terhadap kehidupan kekal. Padahal, justru itulah yang terpenting dan mestinya menjadi satu-satunya tujuan kita. Seperti Paulus mengatakan, “Aku bukan pelari yang tidak tahu tujuan. Aku berlari dengan tujuan. Bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” Jadi, bukan aktif hanya dalam banyak kegiatan. Tetapi apa tujuan dari semua itu? Banyak orang, termasuk orang-orang Kristen, yang disesatkan oleh dunia ini.
    Di balik semua cara berpikir, filosofi hidup manusia, yang menciptakan lifestyle atau gaya hidup, ada kuasa kegelapan yang memang sengaja menggiring orang menuju kegelapan abadi. Ironis, banyak orang tidak alert, banyak orang tidak waspada bahwa ia sedang digiring menuju kegelapan abadi. Banyak kegiatan, tetapi apa tujuan dari semua kegiatan tersebut? Jadi, kalau ibarat orang naik kereta, bukan cepatnya kereta itu, tetapi ke mana arah kereta tersebut. Mari pada kesempatan ini, kita teduh, diam, dan merenung. Apa tujuan hidup kita? Kedengarannya ini filosofis. Sejatinya, ini prinsip hidup yang penting. Dan ini harus diingatkan terus kepada setiap kita, karena ada kecenderungan kita lupa. 
    Dalam aktivitas pelayanan yang begitu padat, kita bisa lupa apa sebenarnya tujuan pelayanan. Kita bisa terjebak dalam kebodohan. Kita hanyut dan terjebak dalam siklus rutinitas pelayanan sampai kita lupa, apa tujuannya. Apalagi kalau kita terpapar oleh virus materialisme. Pendeta juga bisa terkena virus ini. Dunia kita hari ini sudah gelap. Banyak orang terbawa menuju kegelapan. Di Matius 7:21, Yang Mulia, Tuhan kita Yesus Kristus, berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!  akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” 
    Jadi, supaya tubuhnya jangan liar, jangan hidup dalam kedagingan, maka Paulus menguasai seluruhnya untuk kemuliaan Allah. Jangan sampai, dia yang sudah memberitakan Injil (baca: pelayan Tuhan) ditolak Allah. Sebab di Matius 7:21-23 jelas dikatakan bahwa mereka yang ditolak oleh Tuhan Yesus adalah orang yang sudah mengusir setan, sudah mengadakan mukjizat, sudah bernubuat, sudah menyembuhkan orang sakit. Dengan kata lain, mereka yang berprestasi dalam pelayanan. Namun,
    9 min
  • Rahasia Kehidupan
    Orang yang benar-benar menetapkan hati untuk mengasihi Tuhan akan menjadi berkeadaan mulia seperti Tuhan, berkeadaan kudus, berhati tulus, berbelas kasihan dan memiliki sifat-sifat Allah, sifat-sifat Tuhan yang dia cintai. Dan ini adalah pilihan, bukan anugerah. Sebab semua orang diberi Tuhan kesempatan untuk itu. Masalahnya, apakah seseorang memilih dan menggunakan kesempatan itu dengan baik? Hal ini benar-benar membahagiakan kita bahwa tidak ada orang atau siapa pun yang dapat melarang kita mengasihi Tuhan. Tidak ada orang yang bisa menghalangi kita mengasihi Tuhan. Memang ada gangguan-gangguan yang kuasa kegelapan lakukan agar kita tidak mengasihi Tuhan. Tetapi dia tidak bisa menghalangi kita, dia tidak bisa membatalkan, dia tidak bisa mencabut tekad, niat kita yang kita teguhkan, kita tetapkan untuk mengasihi Allah. Kita yang harus membuat cinta kita kepada Tuhan itu membara, menyala. Kita yang menyalakannya dan membuat membara.
    Sementara kita berkeadaan belum mulia, sementara sifat-sifat manusia lama kita masih melekat di dalam diri ini, sementara kita masih bisa melakukan banyak dosa dan kesalahan, tetapi kita tetap menetapkan hati untuk mengasihi Tuhan; di situ Tuhan menggarap kita. Benar yang dikatakan Roma 8:28 bahwa “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” Kebaikan yang dimaksud dapat kita lihat di ayat 29, yaitu “Serupa dengan Yesus.” 
    Itulah sebabnya Tuhan menaruh perasaan di dalam diri kita. Kita segambar dengan Allah, artinya; kita memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Dan tidak ada yang bisa menghalangi kita memikirkan Allah, mencari pengenalan akan Allah. Iblis bisa menggoda agar kita fokus kepada yang lain. Tetapi, kalau kita memang mau fokus kepada Tuhan, Iblis tidak bisa menghalangi kita. Tidak ada yang bisa menghalangi dan melarang kita untuk mencari Tuhan, memikirkan tentang Tuhan, mengenal Tuhan dan mengasihi Dia. 
    Jangan sampai hati kita direbut oleh dunia. Sebab Iblis berusaha merebut hati kita dengan mempertontonkan, menunjukkan keindahan dunia. Dan banyak orang yang terpikat, tertarik, lalu menikmati dunia ini, sehingga selera jiwanya menjadi sesat, rusak, dan hatinya terfokus kepada dunia. Dan Firman Tuhan mengatakan bahwa keinginan dunia ini membinasakan; “Dunia dengan segala keinginannya akan binasa, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah hidup selama-lamanya” (1Yoh. 2:17). Kita bisa memiliki hidup kekal dan menjadi mulia karena memiliki sifat-sifat Allah. Jadi, kepada siapa hati seseorang tertaruh, dia akan berkualitas seperti objek yang kepadanya ia menaruh hatinya. 
    Di dalam Lukas 4:5-8, Tuhan Yesus dibawa ke tempat tinggi dan kepada-Nya ditunjukkan keindahan dunia ini, kemuliaan dunia, dan Iblis menawarkan keindahan dunia kepada Yesus dan memberikannya asalkan Yesus mau menyembahnya. Tetapi Yesus berkata, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allah-Mu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Menyembah artinya memberi nilai tinggi atau proskuneo (Yun.). Kepada objek apa kita memberi nilai tinggi, kepada dialah kita menyembah. Dan yang kita sembah itulah yang kita cintai. Dan yang kita cintai itulah yang akan memberi sifat-sifat dan keberadaan. 
    Jadi kalau seseorang mencintai dunia, maka sifat-sifat dunia akan diserapnya. Mengerikan! Jika seseorang mencintai dunia, maka kualitas hidupnya seperti dunia. Tetapi, kalau orang mencintai Tuhan, maka ia menjadi mulia seperti Allah yang adalah mulia. Ia menjadi kudus, menjadi tulus dan memiliki sifat-sifat Allah yang agung itu. Jadi, bagaimana nasib atau keadaan kekal seseorang ditentukan oleh diri orang itu sendiri. Maka, Allah memberi perasaan dan pikiran. Dari pikiran dan perasaan inilah manusia bisa memiliki kehendak bebas. Kita bisa mempertimbangkan dan bisa mengambil keputusan dan memilih. Bukan Allah yang memilih, bukan Allah yang menetapkan, tetapi manusia itu sendiri. 
    Dulu kita sering berkata,
    8 min
  • Menyelesaikan Kodrat Dosa
    Pernahkah kita berpikir bahwa kita harus “berdandan” setiap saat di hadapan Tuhan? Pernahkah kita sungguh-sungguh memperkarakan, apakah di hadapan Tuhan, kita didapati cantik, berbau harum, dan menyenangkan hati Dia? Jangan anggap sepele hal ini, karena ini menyangkut nasib kekal kita. Firman Tuhan mengatakan, “Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu, setiap orang, menurut perbuatannya.” (Why. 2:23). Di dalam Yeremia 11:20 firman Tuhan mengatakan, “TUHAN semesta alam yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati.” Yeremia 17:10 mengatakan, “Aku, TUHAN yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” 
    Jujur, kita sering tidak atau kurang menghormati Tuhan. Kalau seseorang menghormati orang lain, ketika menghadap orang tersebut, dia berdandan. Pada zaman Nehemia, ada hukum kalau menghadap raja dengan muka muram, bisa dihukum mati; karena di hadapan raja, harus bersikap pantas atau bersikap santun. Berdandan di hadapan Tuhan, bukan waktu-waktu tertentu, melainkan setiap saat, setiap waktu. Itu tergantung dari keputusan dan pilihan kita. Kalau seseorang mengasihi Tuhan, sungguh-sungguh ingin menyenangkan hati Tuhan, maka ia mendorong dirinya untuk berdandan setiap saat di hadapan Tuhan. 
    Tuhan tidak menuntut apa yang tidak bisa kita lakukan. Setiap anak Allah memiliki umur rohani yang berbeda-beda; kecantikannya juga berbeda-beda; Tetapi mestinya semakin berumur, kita semakin indah. “Berdandan” bukan hanya berkeadaan tidak melakukan kesalahan. Asumsi banyak orang “Asal tidak melakukan dosa atau kesalahan, maka dipandang indah.” Ketahuilah bahwa yang Tuhan nilai itu batin kita. Kalau di dalam batin ada potensi untuk berbuat dosa, untuk sombong, untuk sewenang-wenang terhadap orang lain, dan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan standar kesucian Allah, maka wajah kita buruk.
    Harus ada kesungguhan untuk memeriksa diri. Kita pasti tahu—bagi yang mau tahu, bagi yang serius mau berhias di hadapan Allah—potensi untuk sombong, membenci orang, bersungut-sungut, dan lain sebagainya. Ketika kita melakukan kesalahan, yang kita selesaikan bukan hanya perbuatan salah itu, yang tentu diakui di hadapan Tuhan dan kita minta ampun, tetapi kita harus membuka mata kita untuk melihat kenyataan bahwa di dalam diri kita ada potensi melakukan kesalahan. Hal ini kita lakukan supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. 
    Kesucian itu bukan hanya keadaan tidak berbuat dosa, melainkan keadaan tidak bisa berbuat dosa. Hal itu bisa terjadi kalau potensi dosa di dalam diri kita kenali, lalu kita gumuli. Setelah kita gumuli, nanti ada ujian. Apakah masih bisa membuahkan perbuatan dosa atau tidak. Orang-orang yang disayang Tuhan sering dibawa kepada keadaan-keadaan yang sulit; keadaan yang membuat ia dipermalukan, dihina, direndahkan, tersakiti, baik secara fisik maupun mental. Semua itu sebenarnya untuk menggarap potensi kesalahan yang bisa muncul; menggarap potensi dosa dalam diri kita. Potensi itulah dosa yang mendatangkan maut. 
    Semua dosa bisa diselesaikan, dan Tuhan Yesus telah menyelesaikannya di kayu salib. Tetapi, dosa yang tidak diampuni adalah dosa yang tidak diselesaikan; dan itu adalah kodrat dosa kita. Banyak orang menyelesaikan buah dari kodrat dosanya, tetapi tidak menyelesaikan kodrat dosanya. Dibutuhkan kejujuran dan memperkarakannya dengan Tuhan. Kita bisa menangisi diri sendiri atas potensi dosa yang masih ada. Dan kalau suatu hari melahirkan perbuatan salah, itu sangat menyakitkan kita. 
    Saat kita melakukan satu kesalahan dan kita sadar, maka sekecil apa pun kesalahan itu, kita harus melihat sumbernya. Sumbernya itu di dalam hati kita. Kalau pemazmur berkata di Mazmur 139:23, “Selidikilah aku, ya Allah, kenallah hatiku,” ini keadaan batin yang belum membuahkan perbuatan. “Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah,
    10 min
  • Memercayai Kehadiran Tuhan
    Dalam hati kita, mungkin ada pertanyaan: “Mengapa Tuhan seolah-olah tidak ada?” Banyak orang tetap beragama; mengaku percaya kepada Tuhan bahkan melakukan kegiatan agama, karena merasa berutang. Berutang kepada orang tua yang mewariskan agama, berutang kepada negara yang memberikan dasar negara Ketuhanan yang Maha Esa. Tetapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh memercayai bahwa Allah itu ada. Selanjutnya, rasa berutang kepada masyarakat, karena masyarakat sekitarnya beragama. Kalau tidak ikut beragama atau melakukan kegiatan keagamaan, dianggap kafir atau ateis. Atmosfer kehidupan seperti ini kuat mencengkeram masyarakat. Mungkin kita sendiri juga termasuk orang yang berkeadaan seperti ini. 
    Di lingkungan orang-orang Kristen yang memiliki kesaksian tentang mukjizat, orang merasa harus ber-Tuhan karena merasa berutang kepada masyarakat yang membuktikan adanya Tuhan dengan mukjizat. Tetapi, ada orang tertentu yang merasa Tuhan seakan-akan tidak ada. Dia tidak mengalami keberadaan Tuhan, tetapi tetap ber-Tuhan dan beragama, karena merasa berutang tadi atau faktor lain. Bukan karena sungguh-sungguh percaya. 
    Tuhan itu roh. Allah itu roh; tidak kelihatan seperti angin, tetapi geraknya bisa kelihatan; atau dampak dari tindakannya bisa kelihatan. Jadi, jangan berharap kita melihat Tuhan dengan mata jasmani. Bisa saja Tuhan menyatakan Diri dalam berbagai bentuk, seperti yang dialami umat Perjanjian Lama. Tetapi, bukan berarti Tuhan itu berbentuk dan dapat dilihat. Memercayai Dia berarti harus percaya walau tidak melihat. Ini akan membuat kita memiliki iman yang kokoh, sehingga tidak mengharapkan tanda-tanda lahiriah kehadiran-Nya. Kita tidak menggantungkan percaya kita pada penglihatan atau perasaan. Kalau merinding-merinding waktu berdoa, bulu kuduk kita berdiri, dianggap Tuhan hadir. Kita percaya Tuhan, walau tidak melihat. 
    “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat.” Kalau Tuhan menyatakan diri dalam berbagai penyataan supaya orang itu percaya, bisa saja, berarti dia membutuhkan kehadiran Tuhan secara fisik untuk membangun percayanya. Seperti bangsa Israel di Gunung Sinai, Allah menyatakan di dalam guruh, halilintar. Mereka gemetar, karena sebagai budak yang ratusan tahun tidak mengenal Elohim Yahweh, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah nenek moyang mereka. Maka, Allah menyatakan Diri dalam penyataan. 
    Kita tidak perlu demikian. Jangan berharap tanda-tanda lahiriah, baru kita percaya. Kita percaya Allah hidup, nyata, dan hadir. Mengapa Allah seakan-akan tidak ada? Pertama, karena Allah itu roh. Yang kedua, karena Allah mau melatih kita untuk percaya kepada-Nya. Yang ketiga, karena Allah Maha Tinggi, Maha Suci, Allah Maha Murah, tetapi tidak murahan. Karena Allah Agung, Mulia, Maha Suci, bertakhta di tempat Maha Tinggi, di terang yang tak terhampiri, tetapi Maha Hadir. Allah menghendaki kita untuk memercayai Dia tanpa tanda-tanda lahiriah, tanpa kehadiran-Nya secara nyata. 
    Banyak kepercayaan yang memiliki ilah, allah, atau dewa yang kelihatan. Bapa kita bukan Allah yang dapat diwakili, digambarkan, diwujudkan dalam bentuk patung atau benda. Tidak ada benda yang bisa mewakili keberadaan-Nya yang Maha Besar, Maha Mulia, Maha Agung. Jangan kurang percaya karena Tuhan tidak kelihatan, seakan-akan Dia tidak ada. Kita dilatih untuk memercayai satu-satunya Allah yang benar ini dengan percaya. Dia layak dipercayai, walau tidak ada tanda-tanda lahiriah dalam bentuk fisik, tidak ada dalam wujud yang bisa dilihat dengan mata jasmani. 
    Kita harus menghormati Allah tanpa tanda-tanda lahiriah-Nya. Dia layak untuk disembah, dipuji, dimuliakan. Dia Allah yang hidup dan nyata. Kita percaya Tuhan yang luar biasa, dahsyat, tidak kelihatan, tetapi Tuhan yang hadir. Kita bersyukur Tuhan yang hidup menyertai kita. Dengan keberadaan Allah seperti ini, kalau seseorang menghormati Dia dengan benar, maka orang itu tidak menuntut Tuhan menunjukkan tanda-tanda lahiriah-Nya. 
    10 min
  • Percaya dengan Perilaku
    Allah yang tidak kelihatan, yang suara-Nya sering tidak terdengar secara audible atau tidak dapat kita lihat secara visible, Allah yang dapat dibuktikan kehadiran-Nya dan dialami melalui peristiwa-peristiwa kehidupan. Dalam setiap peristiwa kehidupan, Tuhan memperkenalkan dan menyatakan diri-Nya. Jadi, tidak ada satu kejadian pun yang di dalamnya tidak ada berkat rohani, yang juga adalah berkat kekal. Kita menerima, kita percaya bahwa Tuhan memakai peristiwa, memakai kejadian-kejadian dalam hidup kita untuk mendidik kita. Dan salah satunya adalah memperkenalkan diri-Nya bahwa Ia adalah Allah yang hidup, nyata, dan Maha Hadir. Tetapi Allah juga mau menyatakan kehendak-Nya, yaitu bagaimana kita bisa memiliki sifat dan karakter yang benar-benar baik menurut Tuhan, yang Allah ingini atau kehendaki untuk kita miliki. 
    Memercayai Allah itu ada, sebenarnya tidak mudah. Di dunia kita yang bersifat fasik; artinya tidak peduli Tuhan, tidak takut hukum-Nya, dan pengaruh suasana nihilisme di mana manusia merasa tidak membutuhkan yang disebut dewa, ilah, atau allah sebab tidak bisa dibuktikan ala sains—dan ternyata ilmu pengetahuan sudah cukup bisa menjawab kebutuhan manusia—Allah dipandang tidak ada atau tidak perlu ada. Bayangkan kalau manusia sudah memandang bahwa Allah itu tidak ada atau tidak perlu ada. Firman Tuhan mengatakan di Mazmur 14:1, “Orang bebal berkata dalam hatinya: tidak ada Allah. Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik. Tuhan memandang ke bawah dari surga,” ayat yang ke-2, “kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.” 
    Ini menjadi persoalan yang harus benar-benar kita selesaikan, tugas yang harus benar-benar kita jawab, yaitu untuk memercayai dan mengalami bahwa Allah itu benar-benar hidup. Tentu orang-orang beragama mudah mengatakan bahwa dia percaya Tuhan. Tetapi, apakah dia memiliki percaya yang benar? Percaya dari pengalaman riil, dari pengalaman nyata, sehingga tidak ada sedikit pun keraguan. Percaya seseorang terhadap keberadaan Allah, tidak bisa dipisahkan dari perilakunya. Tuhan memakai peristiwa atau kejadian untuk memperkenalkan diri-Nya. Dari peristiwa itu, Tuhan mengajar kita untuk memiliki karakter yang baik sesuai standar Tuhan, agar kita memiliki sifat-sifat Tuhan. Sebab hanya dengan cara demikian, kita bisa memenuhi yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di Matius 5:48, “Kamu harus sempurna seperti Bapa.” 
    Hanya dengan demikian kita bisa memenuhi yang dikatakan dalam Filipi 2:5-7, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Kita bisa bersama-sama hidup dengan seseorang. Tetapi untuk bisa sepikiran, seperasaan dengan orang itu, tidak mudah. Apalagi dengan Tuhan Yesus yang tidak secara fisik berjalan bersama kita. Kita tidak tahu bagaimana pikiran, perasaan Tuhan Yesus. Tetapi, dari kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa hidup yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita, di situ Bapa mengajarkan sifat-sifat-Nya. Roh Kudus pasti akan menolong kita untuk memiliki pikiran, perasaan Kristus. 
    Jadi, peristiwa-peristiwa kehidupan menjadi alat Tuhan memperkenalkan diri-Nya bahwa Dia hidup, Dia hadir, Dia ada, tetapi juga sekaligus mendidik bagaimana memiliki sifat Allah, bagaimana sepikiran, seperasaan dengan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya kehadiran Tuhan dalam peristiwa-peristiwa hidup bagi orang Kristen baru biasanya berupa berkat, mukjizat, pertolongan Tuhan. Waktu punya masalah, Tuhan tolong; waktu sakit, Tuhan sembuhkan; menghadapi jalan buntu, Tuhan beri pertolongan, sehingga orang kagum. Itu langkah-langkah awal. Allah memperkenalkan Diri melalui pertolongan-pertolongan-Nya; peristiwa-peristiwa hidup di mana Tuhan menunjukkan keperkasaan-Nya. Sama seperti bangsa Israel mengenal Allah yang disembah nenek moyang mereka, Abraham, Ishak, dan Yakub. 
    Peristiwa-peristiwa itu membuat kita melihat Allah, menemukan Allah yang hidup. Baru setelah itu,
    8 min
  • Terus Menyuarakan
    Allah adalah Allah yang hidup; Dia bukan sosok dalam mitos atau dongeng, bukan tokoh fantasi seperti Spiderman, Batman, atau Superman. Dia Allah yang hidup dan nyata. Allah menciptakan langit dan bumi, yang memelihara kehidupan, dan Maha Hadir. Jejak Allah dan tindakan-tindakan-Nya ditulis di dalam Alkitab. Alkitab adalah kitab yang memuat kebenaran Allah, maka kita tidak boleh meragukan sama sekali keberadaan-Nya. Dia Allah yang hidup dan nyata. 
    Bagaimana cara menghidupkan Allah di dalam hidup kita? Ini yang harus kita gumuli. Sebesar apa pun persoalan yang kita hadapi, tidak menjadi masalah sama sekali, jika Allah beserta dengan kita. Apa pun kebutuhan kita, pasti terpenuhi jika Allah beserta kita. Masalahnya, apakah kita memiliki iman yang melahirkan mukjizat? Merupakan suatu kebahagiaan dan kehormatan, kalau kita bisa menghidupkan (menghadirkan) Allah dalam hidup kita. 
    Dunia kita yang fasik; tidak memedulikan Allah dan tidak memedulikan hukum Allah. Manusia telah “mengisolasi” Allah; menyingkirkan, membuang Allah dari hidupnya dan membuang diri dari hadirat Allah. Sehingga, dunia kita suasananya benar-benar ateis. Bukan hanya di negara-negara yang jelas-jelas menolak keberadaan Allah. Di negara-negara yang mengaku ber-Tuhan, yang agama begitu dominan, ternyata perilaku manusianya tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Agama malah bisa dijual untuk banyak kepentingan.
    Lebih menyedihkan kalau tokoh agama melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan etika. Ini membunuh iman banyak orang. Tidak heran kalau—dalam konteks Kristen—ada orang tidak mau ke gereja karena melihat perbuatan pendeta, majelis atau aktivis gereja yang menyakitkan, merugikan; tidak menunjukkan etika kehidupan seorang yang ber-Tuhan. Ini dunia yang ateis dan fasik. Makin hari, makin banyak orang yang sebenarnya tidak percaya Allah ada. 
    Betapa mengerikan anak-anak yang sejak kecil hanya hanyut dengan gadget, hiburan, dan berbagai fokus yang tidak melibatkan Tuhan. Artinya, mereka tidak terlibat untuk belajar kebenaran mengenal Allah. Di beberapa tempat, banyak tokoh agama yang terus menyuarakan bagaimana hidup beragama. Tetapi di tempat-tempat lain khususnya di kota-kota besar yang pengaruh sekuler (duniawi) begitu kuat, orang tidak peduli Tuhan sehingga menjadi ateis. Ini suasana dunia yang tidak mendukung untuk meyakini Allah ada dan nyata. Kita harus terus menyuarakan di dalam diri kita bahwa ada Allah yang hidup. Allah memelihara kesetiaan-Nya, dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. 
    Selalu suarakanlah di dalam diri kita mengenai Allah yang hidup dan nyata. Jangan berhenti menyuarakan bahwa Elohim Abraham, Ishak, dan, Yakub, satu-satunya Allah yang benar, yang menciptakan langit dan bumi, yang menurunkan nabi-nabi-Nya dimulai dari Abraham, Ishak, dan Yakub, dan seterusnya, termasuk Raja Daud, Samuel, Elia, Elisa, keturunan Abraham. Allah yang sama, Allah yang hadir di dalam hidup kita sekarang ini, saat ini. 
    Oleh sebab itu, untuk bisa lebih efektif merenungkan keberadaan Allah, maka kita harus ada di lingkungan orang-orang yang percaya Tuhan. Jangan bersahabat dengan orang yang tidak percaya Allah hidup. Jangan bersahabat dengan mereka yang mengaku Tuhan ada, tetapi perilakunya tidak menunjukkan Tuhan itu ada. Jangan hanyut dengan tontonan, hiburan-hiburan dunia yang membuat hati makin kurang yakin atau bahkan tidak yakin Allah itu ada. Sebab hiburan dunia menyuarakan seakan-akan Allah itu tidak ada. Ini bahaya sekali. 
    Jangan bergaul dengan orang yang tidak percaya Allah itu ada. Walaupun di mulutnya mereka yakin Allah ada dan mereka beragama, tetapi dalam perbuatannya, tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Tidak heran jika dalam perbuatannya tidak menunjukkan takut akan Allah. Kita harus bergaul di tengah-tengah orang yang meyakini Allah itu ada. Seperti nasihat Mazmur 1, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
    9 min
  • Seluruh, Bukan Sebagian
    Kekristenan bukan sekadar bagian hidup kita, melainkan seluruh kehidupan kita. Maksudnya bukan sekadar beragama Kristen, melainkan mengikut jejak Kristus. Kristen artinya “seperti Kristus.” Sayangnya, banyak orang menjadikan kekristenan sekadar bagian hidupnya, karena merasa di mana pun dia adalah orang Kristen (beragama Kristen). Bukan hanya mengaku Kristen di gereja, di tempat pekerjaan, di pergaulan, dalam keluarga, melainkan di mana pun, artinya mengaku sebagai orang beragama Kristen, sehingga merasa kekristenan menjadi kehidupannya. Ini cara berpikir yang salah. Kekristenan menjadi seluruh kehidupan kita, kalau kita mengenakan kehidupan sebagai pengikut Kristus dalam seluruh perilaku.
    Menjadikan kekristenan sebagai seluruh hidup kita, artinya semua perbuatan kita sesuai dengan kehendak Allah. Seandainya Yesus hidup pada zaman sekarang, apa yang Dia lakukan? Itu yang menjadi pertimbangan kita. Seharusnya, kita selalu memeragakan kehidupan Yesus setiap saat, di manapun. Bukan hanya di gereja menyatakan kalimat-kalimat sebagai pengakuan atau kredo bahwa kita percaya Tuhan Yesus, bahwa kita melayani Dia, dan lain sebagainya. Tetapi di luar gereja pun, kita mengenakan kehidupan Yesus. 
    Galatia 2:19-20 mengatakan, “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Kehidupan seperti inilah yang mestinya kita gumuli dan menjadi persoalan utama atau satu-satunya. Mengapa menjadi persoalan? Karena tidak mudah, mengenakan kehidupan Yesus. Kita memiliki kehidupan kita sendiri, dan telah kita jalani. Ada yang belasan tahun, ada yang sampai puluhan tahun, sehingga terbiasa dengan irama hidup. Cara bicara, sikap, kebiasaan-kebiasaan, itulah hidup kita. Banyak orang, hari Minggu ke gereja atau di pertengahan Minggu datang ke persekutuan doa. Namun di luar itu, perilakunya belum tentu sesuai dengan perilaku Tuhan Yesus, seandainya Yesus hidup pada zaman sekarang. 
    Alkitab berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya,” artinya hiduplah sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah yang benar. Model dari anggota keluarga Kerajaan Allah itu adalah Yesus. Alkitab berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus,” artinya kita harus berpikir dan berperasaan seperti Tuhan Yesus ketika menjadi manusia, dan itu permanen; bukan beberapa menit, beberapa jam, bukan beberapa hari, melainkan sepanjang waktu hidup kita, dari detik ke detik, dari menit ke menit. 
    Belasan tahun atau puluhan tahun, mungkin seseorang telah memiliki irama hidup yang keliru. Jadi, bisa seseorang memiliki dualisme; artinya sebagai orang Kristen ke gereja, tetapi juga sebagai anak dunia dalam keseharian. Kekristenan menjadi “bagian” hidupnya, bukan “seluruh” hidupnya. Mestinya kekristenan menjadi seluruh kehidupan agar kita memahami bagaimana menjalani hidup dengan mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Bisa dikatakan mustahil, tetapi apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. Roh Kudus akan memimpin kita, sehingga bisa menjalani hidup dengan mengenakan pikiran dan perasaan Allah. 
    Hanya orang yang berjalan dengan Tuhan dalam pimpinan Roh Kudus setiap saat, yang dipimpin bagaimana mengenakan kehidupan Kristus. Jangan merasa kalau sudah sekolah Alkitab, bisa langsung dengan mudah mengenakan kehidupan Kristus. Harus dalam hitungan detik ke detik, dari menit ke menit kita mengenakan kehidupan Kristus. Setiap keputusan, setiap pilihan, setiap tindakan kita sesuai dengan pikiran dan perasaan Kristus. Itu sukar, dan tepatnya mustahil. Tetapi Roh Kudus akan menuntun orang-orang yang sungguh-sungguh mau belajar mengenakan kehidupan Kristus. Karenanya firman Tuhan mengatakan, “Jadikan semua bangsa murid-Ku. Agar mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu.” 
    Selain irama hidup kita yang sudah salah selama bertahun-tahun yang harus dirombak, kita juga menghadapi banyak persoalan. Tidak sedikit orang yang fokusnya tertuju kepada persoal...
    8 min
  • Mengambil Kebahagiaan
    Hidup di dunia yang hanya sementara, adalah kesempatan untuk menemukan Kekasih Abadi. Tidak ada hal yang lebih penting, tidak ada hal yang lebih mulia, tidak ada hal yang lebih agung dari menemukan Kekasih Abadi. Kekasih itu adalah Tuhan sendiri. Kita takjub terhadap kehidupan iman pemazmur yang bisa mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” Mazmur 73. Di Mazmur yang lain, pemazmur berkata, “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” 
    Dalam pergumulan hidup sebagai anak Allah, kita harus memperkarakan apakah sungguh-sungguh kita merindukan Tuhan? Apakah ada seseorang atau sesuatu yang kita rindukan selain Tuhan, apalagi lebih dari Tuhan? Bagi kita yang pernah jatuh cinta, kita bisa mengerti apa artinya jatuh cinta, apa artinya rindu kekasih. Apa artinya siang dan malam memikirkan kekasih, ingin berjumpa. Kekasih itu seperti air, dan kita seperti haus untuk bisa meneguk, yaitu berjumpa, berkasih-kasihan dengannya. Demikian semestinya kita dengan Allah. Kalau kita tidak merindukan Allah sesuai dengan standar Alkitab, kita harus mendengar bunyi alarm; bunyi tanda bahaya. 
    Alkitab ketat mengatur bahwa perkawinan harus monogami. Seorang pria hanya boleh memiliki seorang wanita sebagai istri; seorang wanita hanya boleh memiliki seorang pria sebagai suami; monogami. Tetapi, karena bengkoknya hati manusia, dan Alkitab berkata karena keras hati dan tegar tengkuknya, maka Tuhan mengizinkan ada perkawinan yang tidak monogami; poligami. Tetapi di Alkitab, Tuhan tegas berkata bahwa perkawinan itu harus monogami. Ini sebenarnya menjadi gambaran hubungan Kristus dengan jemaat-Nya, seperti dicatat dalam Efesus 5, “Rahasia ini besar, tetapi yang kumaksudkan adalah hubungan Kristus dengan jemaat-Nya.” Paulus mengatakan ini ketika dia bicara mengenai hubungan suami istri; mono. 
    Di dalam hubungan pribadi kita dengan Allah, Allah strictly; ketat menghendaki demikian. Ketika Tuhan berfirman, “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku,” monoteisme; hanya punya satu Tuhan. Bagi orang Yahudi, artinya mereka tidak boleh melakukan ibadah seremonial kepada ilah, allah, atau dewa-dewa yang lain. Mereka harus menyembah kepada satu Allah, yaitu Elohim Yahweh. Dalam Alkitab, dosa politeisme hukumannya bukan hanya dialami oleh pelaku, tetapi juga anak cucu keturunan ketiga, keempat. Ini menunjukkan betapa Tuhan membenci politeisme atau penyembahan kepada allah lain. 
    Bagi bangsa Israel, mereka harus menyembah Allah satu-satunya, yaitu Elohim Yahweh dalam bentuk seremonial. Kalau di dalam kekristenan, tidak cukup demikian. Kita tahu bahwa kekristenan sangat menekankan sikap batiniah. Perzinaan itu bukan hanya melakukan hubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya, melainkan memandang lawan jenis dan mengingininya, itu sudah termasuk berzina; batin. Membunuh itu bukan hanya menghabisi nyawa orang; membenci juga suatu pembunuhan. Demikian pula Firman “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku,” itu tidak cukup hanya tidak memiliki ilah, allah, dewa lain, dan tidak melakukan seremonial terhadap ilah atau dewa-dewa. Tidak boleh ada yang dominan di dalam hati kita, kecuali Tuhan. 
    Kita harus bisa mencapai satu stage; satu stadium, satu tingkatan rohani di mana  bisa benar-benar mengalahkan semua dan menaklukkannya di bawah kaki Tuhan. Serta mengatakan kepada Tuhan, “Kau segalanya bagiku.” Jadi, yang sekarang rasanya sudah memiliki hubungan yang baik dan harmoni dengan Tuhan, itu karena belum melihat tandingan-Nya. Tuhan belum menunjukkan saingan-Nya. Maka, ada orang-orang yang dulu melayani Tuhan dengan setia, dengan hati yang mencintai Tuhan, tetapi pada tahun-tahun berikut, tidak setia; menyimpang dari jalan Tuhan. Mengapa bisa terjadi demikian? Sebab dulu belum ada pesona dari sesuatu. Segala kesenangan yang memikat hati, yang membuat kita merasa bahagia memiliki dan menikmatinya, itu adalah berhala.
    10 min
  • Meneguk Tuhan
    Berbicara mengenai kematian, bagaimana perasaan kita ketika ada di ujung maut? Kita bisa menghayati dan baru menyadari bahwa yang kita butuhkan ternyata hanya Tuhan. Memang manusia seiring dengan perjalanan waktu, usia meninggi, tidak bisa lagi menikmati hidup karena kondisi fisik. Umumnya orang mulai menyadari bahwa tidak ada kenikmatan dalam hidup ini. Makan dibatasi, banyak pantangan, sakit-sakitan, tidak lagi bisa menikmati seks seperti ketika muda, mudah lelah, dan lain sebagainya. Manusia dikondisi demikian, dan semestinya itu merupakan alarm; peringatan bahwa pada akhirnya tidak ada yang kita butuhkan selain Tuhan. 
    Kira-kira apa yang paling kita sesalkan ketika di ujung maut? Apakah gagal mencapai gelar, tidak memiliki pasangan hidup, tidak punya anak, tidak memiliki popularitas, atau apa? Saat tersadar di ujung maut ternyata yang kita butuhkan hanya Tuhan, maka yang paling bisa disesali yaitu tidak meneguk Tuhan sebanyak-banyaknya atau tidak dipenuhi Tuhan. Sangat mungkin orang memiliki target-target dalam hidup. Bagi pendeta, target dalam pelayanan. Tetapi, tidak berusaha memiliki target bagaimana dipenuhi oleh Tuhan. 
    Seseorang tidak akan dapat melakukan kehendak Bapa, kalau dia tidak dipenuhi oleh Tuhan. Dipenuhi oleh Tuhan artinya dipenuhi oleh Roh Kudus. Orang yang tidak dipenuhi Tuhan, tidak mungkin melakukan kehendak Tuhan dengan benar. Kita sebagai umat pilihan bukan hanya dikehendaki untuk melakukan hukum, menjadi orang baik, tetapi melakukan kehendak Tuhan artinya sepikiran, seperasaan dengan Allah. Filipi 2:5 mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.” Melakukan kehendak Tuhan bisa terjadi di dalam kehidupan orang yang dipenuhi oleh Tuhan. 
    Standar orang yang ditebus oleh darah Yesus yaitu harus dipenuhi oleh Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Tubuhmu bait Roh Kudus,” Roh Kudus diam di dalam tubuh kita, artinya dipenuhi oleh Roh Kudus. Tubuh kita bukan bagian dari bait Roh Kudus, tetapi bait Roh Kudus. Tuhan tidak menghendaki diduakan. Tuhan seluruhnya atau tidak usah sama sekali. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan;” segenap. Jiwa, pikiran, dan ruangan hidup kita harus hanya dipenuhi oleh Tuhan. 
    Hal ini benar-benar mustahil, jika Tuhan tidak menuntun kita. Dari kecil, dunia telah melatih kita untuk memiliki kesenangan-kesenangan yang membangun selera jiwa. Umumnya, orang menggerakkan hidupnya untuk memenuhi selera-selera itu yaitu memenuhi kesenangan-kesenangan. Manusia telah dicemari dengan selera-selera dunia. Bahkan, berurusan dengan Tuhan pun demi selera-selera atau kesenangan-kesenangan. Kalaupun menyanyi “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, jiwaku merindukan Engkau, jiwaku haus akan Engkau,” itu kehausan palsu; kehausan yang masih terdistorsi atau belum murni, belum bersih, belum tulus. 
    Kita punya gairah-gairah yang palsu: mulut besar, tetapi hati kosong, pikiran kosong. Mengapa demikian? Karena kurang berdoa! Tidak bersentuhan dengan Tuhan. Setinggi apa pun ilmu dan pengalaman kita, jika tidak berdoa, tidak bersentuhan dengan Tuhan, pasti kita sesat. Tetapi Tuhan di dalam kemurahan dan kesabaran-Nya, mengerti dan menerima untuk orang Kristen yang baru. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu dan meningginya usia, mestinya bejana hati kita kosong dari segala keinginan dan selera, supaya Tuhan memenuhi kita. 
    Tuhan itu baik. Bayangkan kalau orang makin tua makin banyak makan, makin berselera, makin nafsu, pasti makin rusak. Bersyukurlah, diberi alarm Tuhan supaya sadar bahwa akhirnya yang dibutuhkan hanya Tuhan. Betapa indahnya yang masih muda. Walaupun muda, masih punya nafsu, gairah, kedagingan, tetapi bisa memadamkannya dan mengosongkan bejana hidup dari semua yang Allah tidak kehendaki, dan memiliki kehausan yang murni akan Tuhan. 
    Tuhan merasakan apakah kita memiliki kehausan yang murni terhadap Tuhan atau tidak.
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…