Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Metabolisme Kehidupan Rohani
    Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan itu dapat digambarkan seperti air. Mazmur 42 mengatakan, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan Engkau ya, Allah. Jiwaku haus kepada Allah. Kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah.” Tuhan Yesus juga mengemukakan pernyataan yang sering atau pernah kita dengar, “Akulah air kehidupan.” Berarti harus ada realitas yang kita alami yaitu bukan saja bersentuhan dengan Allah, mengalami Allah, tetapi juga “meneguk.” Sehingga kita dapat menikmati Allah dalam realitas, bukan fantasi.
    Kalau Tuhan digambarkan air, dan umat digambarkan rusa, rusa itu binatang yang lemah. Air bagi rusa itu bukan suplemen, melainkan sumber kehidupan. Mekanisme ini harus kita alami. Bukan hanya menjadi pengetahuan dalam pikiran, lalu kita berfantasi bahwa kita seperti rusa merindukan sungai yang berair. Kita menyanyikan, lalu berfantasi dalam beragama atau ber-Tuhan. Pada dasarnya, orang yang berfantasi pasti tidak ber-Tuhan dengan benar. 
    Mari kita semua benar-benar memperkarakan hal dan memiliki perasaan risau, galau yang digambarkan dengan kata “haus.” Haus itu menunjukkan kefrustasian fisik. Kalau kita haus, tubuh kita stres. Sekaligus memberikan sinyal bahwa tubuh kita sehat, dan mekanisme metabolisme tubuh juga baik. Kalau tubuh tidak haus atau seperti orang tidak lapar, tidak mau makan sampai tidak bisa makan, itu orang sakit. Maka, ada nasihat, setiap 1 jam orang mesti minum air setengah gelas atau setiap 2 jam. Supaya tidak sampai kehausan. Tetapi aspek yang lain, tubuh yang haus itu tubuh yang sehat, punya metabolisme yang baik. 
    Coba kita jujur melihat diri sendiri, apakah kita memiliki kehausan akan Allah? “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup,” bukan Allah yang hanya dibicarakan dengan mulut, bukan difantasikan, tetapi Allah yang dialami. Kita seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, tentu air menjadi objek dari kebutuhan kita. “Demikianlah jiwaku merindukan Engkau ya, Allah. Jiwaku haus kepada Allah.” Tubuh yang haus itu bisa stres. Kalau haus sekali, tentu stresnya lebih tinggi. Tetapi aspek lain, kalau tubuh kita bisa haus, ini tubuh yang sehat; memiliki metabolisme yang baik, yang memberikan sinyal atau isyarat bahwa ia membutuhkan air untuk diminum. 
    Kehidupan manusia yang sehat rohaninya, pasti ada sinyal di dalam dirinya untuk menemukan yang dapat memuaskan dahaga jiwanya. Ini metabolisme kehidupan rohani yang sehat. Jangan seperti di Lukas 12, orang kaya yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus. Ia melihat hartanya bertambah banyak, dia mau membangun lumbung, gudang lebih besar supaya bisa menyimpan harta bendanya, lalu berkata, “Hai, jiwaku, ada padamu banyak barang. Senangkan dirimu.” Ini sesat. Jiwanya tidak akan dapat diisi oleh barang-barang.
    Jiwa manusia seperti sumur, yang tidak memiliki dasar, maka diisi oleh apa pun, akan kurang. Hanya ada satu yang dapat menjawab kehausan jiwa, yaitu Allah. Manusia dikunci dengan keadaan ini. Sebagai ilustrasi yang mungkin tidak tepat benar, pencipta mobil atau penemu kendaraan, ia mendesain bahwa mesin kendaraannya itu harus diisi bensin—atau ada yang solar—tidak didesain diisi air. Kalau diisi air, pasti rusak, tidak jalan. Jiwa kita tidak bisa diisi oleh apa pun; telah dikunci oleh Sang Khalik oleh Penciptanya yaitu Tuhan semesta alam, bahwa yang dibutuhkan itu hanya Tuhan. 
    Kiranya kalau kita sekarang belum memiliki kehausan yang proper, maka disadarkan, dan mulai membangun kehausan itu. Banyak jiwa yang sudah sesat, ditandai dengan kehausan terhadap sesuatu yang dapat disediakan oleh dunia. Kuasa kegelapan pasti berusaha untuk menyesatkan, menunjukkan keindahan dunia sebagai solusi untuk menjawab kebutuhan, kehausan jiwa manusia. Seperti ketika Tuhan Yesus di Lukas 4, dibawa ke atas tempat yang tinggi dan ditunjukkan kepada-Nya kemuliaan, keindahan dunia. Tetapi tentu Tuhan Yesus tidak mau mengingini dunia. Sebab,
    9 min
  • Terus Konek dengan Tuhan
    Orang yang karakternya rusak, tidak mungkin bisa menikmati damai sejahtera Allah. Jadi memang perlu proses pembenahan. Semakin seseorang karakternya baik—karakter yang baik dalam standar Allah, maka metabolisme kehidupan rohaninya akan semakin baik, semakin sehat. Dia bisa berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Jadi, tidak heran kalau Rasul Paulus menulis dalam kitab Galatia, “Asal ada makanan, pakaian, cukup.” Kebutuhan fisik itu relatif. Kita bisa makan dengan tempe dan sambal terasi, atau makan steak wagyu, atau nasi dengan terasi saja; atau dedaunan tanpa nasi, bisa hidup. Tentu dedaunan yang bisa dimakan. 
    Tubuh kita memiliki fleksibilitas yang luar biasa. Bahkan kalau kita memiliki tubuh yang sakit karena pola hidup yang salah, ketika kita mulai mengubah dengan pola hidup yang baru maka tubuh bisa menyembuhkan diri sendiri. Kalau metabolisme hidup rohani kita baik, maka kita makin mengerti bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini yaitu Tuhan. Bagaimana kita bisa memiliki metabolisme kehidupan rohani yang benar? Tuhan telah menyediakan sarananya, tetapi kita yang harus memilih. Analoginya, kalau orang sakit, ia dirawat dokter, diawasi suster, disediakan obat, dan tindakan-tindakan medis. Tetapi kalau sang pasien tidak mau menuruti nasihat dokter, maka tidak akan sembuh. 
    Harus kooperatif. Pernah dengar ada orang yang sakit tidak sembuh-sembuh? Diberi obat, tetapi kenapa tidak ada perubahan? Ternyata obat yang diberikan, tidak dia minum. Dimasukkan di bawah kasur, yang suatu hari ketahuan ternyata dia tidak minum atau mungkin dibuang. Tidak kooperatif. Disuntik, menolak; diinfus, tidak mau. Ada pantangan makan tertentu, dia tetap makan. Mati, akhirnya. Tidak sembuh. Kita ini pasien, dan Tuhan Yesus berkata, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang sakit.” Kita orang sakit, kita butuh tabib. Yesus adalah Tabib kita. 
    Ia bukan hanya menyembuhkan fisik kita, tetapi juga menyembuhkan jiwa kita. Maka, kita harus kooperatif. Gereja, pelayanan gereja, haruslah merupakan penyelenggaraan penyembuhan atas pasien-pasien yang mengalami sakit secara jiwa atau rohani. Gereja itu rumah sakit, bukan showroom. Yang datang ke gereja, orang-orang sakit yang harus dipulihkan atau diperbaiki. Tuhanlah Dokternya. Pengkhotbah dan para aktivis di gereja ibarat susternya. Suster memberi obat, melakukan tindakan-tindakan medis atas supervisi, kontrol, arahan dari dokter. Tidak boleh sok tahu. Walaupun dia mungkin tahu dari pengalaman sebelumnya, tetapi dia tidak boleh mengambil keputusan sendiri, harus tanya kepada dokter. 
    Tuhanlah Dokternya. Bagaimana jiwa seseorang sembuh, yang akhirnya menjadi keindahan di mata Allah, bukan hanya tergantung dokter dan suster, tetapi individu-individu; individu kita masing-masing. Kita harus sadar bahwa kita sakit. Jangan seperti orang-orang Yahudi, khususnya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang merasa dirinya sehat, lalu tidak menghargai Tuhan. Maka Tuhan mengatakan, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib atau dokter, tetapi orang sakit.” Jadi kita harus menyadari kita ini sakit. Metabolisme kehidupan rohani kita belum baik atau tidak baik. Banyak orang sadar bahwa dirinya masih duniawi, masih punya keinginan-keinginan daging. Lalu merasa dengan kesadaran itu sudah cukup. 
    Kemudian, seakan-akan Tuhan tidak terganggu dengan keadaan kita, karena kita sadar sebagai orang berdosa. Pengakuan itu seakan-akan sudah menjadi pembenaran, dan kita hidup wajar seperti manusia lain, seakan-akan Tuhan mengizinkan. Yang kita harus sungguh-sungguh menyadari, kita ini sakit. Supaya kita dirawat. Bagi para pengkhotbah, sebagai suster, kita harus mengerti benar bagaimana mempraktikkan ini. Kita harus memiliki koneksi yang tiada henti dengan Sang Dokter. Apa yang harus kita sampaikan kepada jemaat,
    9 min
  • Semangat Mencari Tuhan
    Hampir semua kita pernah mendengar bahwa menjalani hidup ini adalah sekolah kehidupan. Sebenarnya apa yang dipelajari di sekolah kehidupan? Hidup kita adalah hidup untuk mengenal Sang Khalik atau Sang Pencipta. Kalau binatang atau hewan, tidak perlu mengenal Sang Khalik atau Sang Pencipta. Kalau binatang peliharaan dengan sendirinya secara otomatis mengenal siapa yang menjadi majikan, ketika tiap hari mereka berinteraksi. Binatang tidak perlu mengenal siapa Penciptanya, dan tidak bisa berinteraksi dengan Sang Khalik atau Sang Penciptanya. Hanya makhluk yang memiliki pikiran dan perasaan yang segambar dengan diri-Nya, yang memiliki kemampuan atau berpotensi untuk bisa bergaul dengan Allah, berinteraksi dengan Allah, Penciptanya; berdialog atau berjalan bersama Dia. 
    Pertanyaan yang harus kita tujukan kepada diri sendiri dengan sangat serius, dari perjalanan hidup yang telah kita jalani, seberapa kita sebenarnya telah memiliki pengetahuan tentang Allah dari pengalaman langsung, di mana kita berinteraksi dengan Allah? Di dalamnya ada dialog, ada perjalanan bersama-Nya. Seberapa kita sebenarnya telah memiliki pengetahuan tentang Allah dari pengalaman hidup riil kita? Bukan sekadar dari apa yang kita dengar atau kita baca, tetapi benar-benar memiliki atau menemukan kekayaan pengetahuan tentang Allah atau pengalaman dengan Allah dalam perjalanan hidup ini. 
    Sesungguhnya itulah isi dari sekolah kehidupan. Ternyata hal ini dianggap tidak penting atau dianggap kurang penting, karena digantikan dengan pengetahuan tentang Tuhan, pengenalan akan Tuhan dari apa yang didengar dan dibaca, dipelajari melalui pendidikan formal di Sekolah Tinggi Teologi atau melalui pendalaman Alkitab atau melalui seminar-seminar rohani dan khotbah-khotbah di gereja. Begitu liciknya Iblis menyesatkan banyak orang, termasuk menyesatkan kita dan menyesatkan banyak orang Kristen lainnya. Menyesatkan para hamba Tuhan sebagai teolog, sebagai pendeta, sebagai pembicara di mimbar Kristen yang merasa sudah kaya akan pengetahuan akan Allah atau pengenalan hanya melalui buku, melalui proses pembelajaran di Sekolah Tinggi Teologi. 
    Jangan menggantikan pengenalan akan Allah yang mestinya benar-benar dialami dari perjalanan hidup, pengalaman langsung dengan Allah, dengan pengajaran yang hanya ditangkap oleh nalar. Dan orang merasa bahwa ia sudah mengenal Allah secara benar. Betapa menyesatkan hal ini. Kalau seseorang belajar tentang misalnya Mr. Donald Trump sedetil-detilnya, bagus. Ditanya apa tentang sejarah hidup sosok ini, bisa dijawab. Tidak ada kepentingan kita dengan Mr. Donald Trump. Tentu berbeda kalau kita berbicara tentang Allah. Kita berkepentingan dengan Dia, sebab kita tidak bisa hidup tanpa Dia. Dia adalah Penguasa yang memerintah, yang dengan-Nya setiap insan yang memiliki pikiran dan perasaan mesti berinteraksi, bergaul, berdialog. 
    Banyak di antara kita yang miskin, bahkan sangat miskin dalam pengenalan akan Allah dari pengalaman hidup. Padahal, Allah bergerak setiap hari di dalam dan melalui hidup kita. Ada banyak jejak Allah di dalam hidup kita yang tidak kita mampu tangkap, tidak mampu kita mengerti. Kecuali hal-hal spektakuler, seperti sakit yang tak terobati, yang tenaga medis yang sudah angkat tangan, menyerah, lalu didoakan kemudian sembuh, misalnya. Atau hal-hal spektakuler lain yang bisa dimaknai sebagai tindakan Tuhan. Sedangkan yang lain, kejadian-kejadian lain yang dianggap normal, itu kejadian yang memang berlangsung dengan sendirinya. Seakan-akan tidak ada kehadiran Allah di dalam peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami. 
    Padahal, betapa kayanya pengenalan akan Allah melalui peristiwa-peristiwa hidup. Tahukah kita, kalau kita bisa menangkap kehadiran Tuhan melalui peristiwa-peristiwa hidup? Kita akan terbentuk, terbangun menjadi manusia Allah; man of God. Menjadi orang saleh. Tuhan pasti membimbing kita sebagai umat pilihan untuk bisa serupa dengan Yesus, seperti yang dikatakan di Roma 8:28-29,
    10 min
  • Rindu Berjumpa dengan Tuhan
    Jangan merasa sejahtera sebelum kita benar-benar menemukan Tuhan. Standar yang sangat rendah yang dikenakan oleh banyak orang Kristen hari ini telah membuat kita merasa damai semu dan tenang semu. Seakan-akan dengan kehidupan Kristen yang sudah dijalani dengan ke gereja setiap Minggu atau di pertengahan minggu, kita sudah menyerap pengenalan akan Allah, yang sebenarnya itu hanya pengalaman liturgi, pengalaman seremonial beragama, tetapi belumlah pengalaman langsung. Mari kita benar-benar fokus ke Tuhan. Hendaknya kita semua belajar ada di hadapan Tuhan atau di hadirat Tuhan di setiap saat dan di mana pun kita berada.
    Allah yang Maha Hadir adalah Allah yang melingkupi jagat raya. Allah adalah Allah yang omnipresent. Mestinya kalau Allah omnipresent, maka kita juga bisa, pasti bisa, seharusnya bisa merasakan kehadiran-Nya secara nyata. Tentu itu tergantung respons individu, bukan tergantung Tuhan. Seberapa kita betul-betul merasa membutuhkan Tuhan, betul-betul merasa haus dan lapar akan Dia? “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau ya, Allah. Jiwaku merindukan Engkau.” Kalau kita merindukan seseorang, kita pasti tidak puas kalau hanya melihat fotonya. Bahkan sekalipun bisa Facetime dengan video call, kita pasti kurang puas. Kita mau bertemu muka dengan muka; face to face. 
    Kalau seseorang merindukan Allah, artinya ia benar-benar merindukan perjumpaan. Jangan digantikan dengan belajar pengetahuan tentang Allah di dalam nalar. Lalu dikatakan di dalam Mazmur pasal 42 ini ayat yang berikutnya, “Jiwaku haus kepada Allah. Kepada Allah yang hidup,” Dia bukan Allah orang mati. “Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Kalau sudah bicara mengenai “melihat Allah,” ini jelas berbicara mengenai perjumpaan dengan Dia. Juga bisa berarti merasakan kehadiran-Nya; presence. “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: di mana Allahmu?” 
    Kita yang rajin ke gereja, ikut doa pagi tiap hari, mungkin tidak secara langsung orang berkata “Apa benar Allah itu ada?” Kita percaya juga Allah ada. Tetapi seberapa kita benar-benar mengalami Dia, dengan datang ke gereja, dengan doa tiap pagi? Seberapa kita telah memiliki pengenalan akan Allah dari perilaku kita yang serius mencari Tuhan? Jangan pedulikan orang-orang yang berkata, “Biasa sajalah. Percaya, ya percaya, Allah itu ada.” Kalau kita mau mengenal Allah secara pengetahuan atau secara kognitif, kita belajar 1 tahun juga sudah bisa jadi pintar, kalau tiap hari belajar, tiap hari membaca buku teologi. Tetapi untuk mengalami Tuhan, itu sepanjang umur hidup kita. 
    “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: di mana Allahmu?” Maka kita berkata, “Tuhan, sebenarnya Engkau di mana?” Karena orang bertanya, “Di mana Allahmu?” Maka kita harus mengalami, kita harus membuktikan Allah ada. “Inilah yang hendak kuingat. Sementara jiwaku gundah gulana, galau karena hal ini. Bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke Rumah Allah dengan suara sorak sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.” 
    “Aku mencari Tuhan dengan rela. Aku mencari Tuhan dengan sukacita, karena ini kebutuhanku.” Mari kita berambisi untuk mengalami Tuhan. Kalau seorang pengkhotbah, tidak bisa tidak, harus mengalami Tuhan. Selanjutnya, dia harus bisa menyuarakan apa yang Tuhan kehendaki untuk disuarakan. Termasuk worship leader, harus ada perjumpaan dengan Allah. Supaya hidupnya dibungkus, dilingkupi kehadiran Allah, sehingga pada waktu menyembah, menyanyi, itu sudah ada dalam lingkup hadirat Allah. Orang bisa menyanyi, tetapi tidak memuji. Orang bisa mengucapkan kata-kata penyembahan, tetapi tidak menyembah. Beda dengan orang yang ada dalam lingkup hadirat Tuhan. 
    Jangan boroskan waktu untuk yang lain, pikirkanlah Tuhan siang dan malam.
    8 min
  • Di Hadirat Bapa
    Kalau setiap waktu kita sudah di hadirat Bapa, selamanya kita di hadirat Bapa. Jangan berpikir “nantilah, selamanya.” Kita harus mulai sekarang. Di situ kita baru memiliki pergaulan dengan Tuhan yang standar, dan kita bisa melihat gerakan Tuhan, tindakan Tuhan, kehadiran Tuhan melalui segala peristiwa hidup yang kaya dengan hikmat dan nasihat, yang membuat kita mengalami perubahan karakter, membuat kita kokoh dan teguh menghadapi segala hal yang akan terjadi di depan. Dunia ini tidak terprediksi. Kejadian-kejadian alam yang aneh dewasa ini, yang pasti kita ikuti, mengisyaratkan bahwa bisa saja terjadi sesuatu yang luar biasa. Maka, kita harus ada di hadirat Allah senantiasa. 
    Kita akan sangat menyesal kalau kita tidak mulai bergaul dengan Tuhan setiap detik, setiap menit. Kita akan menyesal sekali, mengapa kita masih sembarangan hidup, tidak bersih hidup, merasa takut oleh sesuatu, atau kita tidak punya pengharapan kekekalan, karena kita tidak bergaul dengan Allah secara benar. Dulu kita heran, bingung melihat pendeta pintar khotbah, teolog, tetapi kelakuannya tidak sesuai dengan apa yang dikhotbahkan? Tetapi sekarang kita bisa menjawab. Pengetahuan tentang Allah, tidak menjamin orang takut akan Allah. Harus ada perjumpaan pribadi dengan Tuhan agar kita mengalami-Nya.
    Kalau seorang hamba Tuhan mau dipakai Tuhan, maka setiap detik, setiap menit, harus bergaul dengan Allah. Baru dia akan menjadi juru bicara Tuhan, dan pasti mengubah orang. Ini bukan hanya untuk pendeta atau hamba Tuhan, walaupun hamba Tuhan-hamba Tuhan ini sangat berperan dalam pertumbuhan iman jemaat. Kalau pendeta tidak berjalan dengan Tuhan, tidak mengalami perjumpaan, maka dia tidak pernah memiliki hidup yang disaksikan oleh Paulus dengan kalimat “Hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku,” tidak pernah. Kita harus memburu pengalaman dengan Tuhan. 
    Jangan kita hanya memaknai apa yang terjadi seakan-akan itu perbuatan Tuhan, tetapi kita tidak yakin bahwa itu perbuatan Tuhan, karena kita tidak memperoleh pelajaran rohani di balik hal itu. Kecuali peristiwa-peristiwa spektakuler seperti mukjizat, baru kita yakin Allah yang bekerja. Mukjizat tidak membuat kita bertumbuh dalam kesempurnaan. Kita punya mata, melihat dari buta, tidak membuat kita menjadi sempurna secara karakter. Kita diteguhkan, betul mukjizat membuktikan Allah itu hidup, tetapi tidak membuat kita mengalami perubahan karakter. Hal yang lebih penting yaitu peristiwa-peristiwa hidup yang di dalamnya ada nasihat Tuhan, ada hikmat Tuhan, yang membuat kita dewasa. Lebih dari uang, kedudukan, pangkat, kehormatan; saat kita menemukan Allah dari pengalaman pribadi, itu lebih penting, bahkan segalanya. 
    Sebagian besar kita miskin, sangat miskin dalam pengenalan akan Allah melalui pengalaman, melalui fakta empiris. Bagi para teolog, jangan merasa sombong, bisa bicara panjang lebar tentang Allah, tetapi itu tidak menentukan kualitas hidup kecuali sudah bersentuhan dengan Allah. Jangan lewatkan kesempatan ini, selagi Tuhan membuka diri untuk dikenal, “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui.” 
    Penyesatan yang terjadi, kita bermental blok mengalami Tuhan karena kita merasa belum cukup punya “tiket” untuk mengenal Allah. Tiketnya itu teologi; ilmu tentang Tuhan. Memang tidak diucapkan, tetapi kita bisa bermental blok, ketika merasa tidak akan bisa mengenal Allah secara cukup dan proporsional karena tidak punya ilmu tentang Tuhan. Hal ini bukan berarti teologi atau ilmu tentang Tuhan tidak diperlukan. Bagi pengajar, tentu harus punya ilmu yang cukup memadai. Tanpa perjumpaan dengan Allah, teologi bisa menjadi racun karena akan membangun kesombongan. 
    Selanjutnya bisa memancarkan pesan, “Aku mengenal Allah dari sekolah teologi, dari pengetahuan.” Jemaat merasa tidak cukup punya tiket untuk mengalami Tuhan, karena tidak punya pengetahuan itu. Pada zaman penganiayaan, orang-orang Kristen tidak belajar teologi,
    9 min
  • Bisa Dinikmati Allah
    Sesuai dengan firman Tuhan bahwa setiap kali kita mengangkat roti perjamuan dan mengangkat anggur perjamuan, kita mengingat kurban Tuhan. Mengingat bukan hanya memunculkan dalam memori kita mengenai kurban Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, tetapi kita juga diingatkan untuk terus memperkarakan maksud pengurbanan Tuhan Yesus; apakah benar-benar kita pahami, kita kenakan, kita alami dalam hidup kita? Pertanyaan serius yang harus dipersoalkan adalah: apa dampak dari pengurbanan Tuhan Yesus bagi kita? Bukan hanya nanti setelah meninggal dunia kita diperkenankan masuk surga, tetapi saat ini pasti Allah Bapa menghendaki ada dampak nyata. 
    Harus ada buah konkret yang diakibatkan oleh pengurbanan Putra Tunggal-Nya untuk kita saat ini, yang juga bisa dinikmati oleh Allah Bapa. Apakah kita menganggap sepi perasaan Allah, seakan-akan Allah Bapa tidak mempersoalkan hal ini, sebab Allah hanya mau menghindarkan kita dari api kekal? Sementara kita hidup, seakan-akan Allah tidak bereaksi apa pun terhadap keadaan kita. Betapa jahatnya kuasa kegelapan yang menyesatkan manusia yang juga menjadi jahat; khususnya kita yang menerima penebusan oleh darah Yesus, tetapi tidak memperkarakan apakah keadaan kita saat ini mengalami dampak yang benar dari pengurbanan Tuhan Yesus di kayu salib yang dapat dinikmati oleh Elohim Yahweh, Allah Bapa.
    Banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh menyambut kurban Yesus di kayu salib. Bisa karena tidak tahu atau tidak mau tahu; bisa karena tidak mengerti, tetapi juga karena tidak mau mengerti. Kurban Tuhan Yesus Kristus memiliki dampak bukan hanya nanti di balik kubur, tetapi sekarang ini sejak seseorang hidup. Yang menerima penebusan oleh darah Tuhan Yesus, harus menerima bahwa dirinya dibeli. Berulang-ulang kita mendengar pernyataan ini yang tertuang dalam 1 Korintus 6:19-20. Jelas bahwa kita bukan milik kita sendiri. Itu risiko percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Konsekuensi mengakui bahwa Yesus mati di kayu salib menebus kita, berarti memang kita harus memberi diri dimiliki oleh Tuhan sepenuhnya. 
    Kalau kita menjadi milik Kristus Yesus, berarti kita harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Tidak boleh menjadi manusia wajar seperti manusia lain. Kepemilikan kita sudah berpindah dari dunia, dari kuasa gelap, dari diri sendiri, kepada Tuhan. Ini yang berat. Kalau kita tidak berani atau tidak bersedia menyalibkan daging dengan segala keinginannya, berarti kita tidak serius menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus. Pada umumnya, orang tidak serius. Ia ingin Allah menerima keadaannya yang duniawi, masih kedagingan, lalu mengajak Allah berkompromi. 
    Seakan-akan Allah diharapkan bisa berkata, “Tidak apa-apa. Biar mulutmu jorok, tidak apa-apa, Aku sayang kamu. Biar hatimu kotor, tidak apa-apa. Aku menebus kamu, Aku mengasihi kamu. Tidak apa-apa, darah Yesus sudah ditumpahkan untuk kamu. Tetap najis, tidak apa-apa.” Kita dibenarkan bukan berarti sudah berkeadaan benar; melainkan kita dianggap benar, walaupun belum benar. Luar biasa Allah kita. Tetapi, Bapa tidak menghendaki kita terus tetap dalam keadaan yang tidak benar. Makanya harus didewasakan. 
    Ibrani 12 mengatakan bahwa orang tua di dunia ini mendidik anaknya sesuai dengan apa yang dia pandang baik; Bapa di surga mendidik anak-anak-Nya supaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Kematian Yesus di kayu salib membuat manusia bisa dibawa kepada Bapa, dibenarkan, dan Bapa bisa mendidik. Itu dinikmati oleh Allah. Persoalannya, kita sudah dinikmati Allah, belum? Jangan hanya mendengarkan Firman, lalu setelahnya, kita kembali kepada irama hidup yang lama. Hal ini mendukakan hati Tuhan. Harus ada kerinduan hidup kita dinikmati oleh Allah, sejak di dunia. 
    Sebab kalau sejak di dunia kita tidak bisa dinikmati oleh Allah, tidak mungkin kita masuk ke dalam Rumah Bapa. Maka kita harus mau dididik, diubah agar kita memiliki karakter kristiani. Jangan menunda.
    9 min
  • Api Palsu
    Kalau Tuhan memperkenankan Injil menyala di Indonesia dan memancar ke seluruh penjuru tempat, hendaknya itu bisa terwujud, karena Amanat Agung Tuhan: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Tetapi, apakah api yang dinyalakan oleh Allah Bapa, di dalam dan melalui karya keselamatan dalam Yesus Kristus, masih api murni yang kita kenal hari ini? Kalau di Perjanjian Lama, korban yang dipersembahkan kepada Allah harus dinyalakan oleh perbaraan atau api yang turun dari Tuhan. Tidak boleh api asing.
    Perubahan zaman dan pergeserannya bukan tidak mungkin telah mengubah, menggeser api yang murni, sehingga api yang menyala hari ini sebenarnya bukan api orisinal yang dinyalakan oleh Bapa, melalui dan di dalam karya keselamatan dalam Yesus Kristus. Semangat zaman bisa mendistorsi, merusak api tersebut. Hanya orang yang benar-benar melekat dengan Tuhan, berlogika maksimal belajar kebenaran serta mengalami perjumpaan dengan Tuhan, yang bisa membedakan api asli atau palsu. 
    Dalam 2 Korintus 11:3, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”
    Ada Injil lain, yang tentu punya api juga. Tetapi ada Injil asli, yang tentu api inilah yang mestinya harus terus dilestarikan. Hanya orang-orang yang benar-benar bergaul dengan Allah, yang memiliki kepekaan untuk membedakan roh; roh artinya spirit, gairah. Gairah apa yang mencengkeram seseorang, komunitas atau kelompok Kristen? Ada semangat zaman yang merasuk dalam jiwa kita, dan kita tidak menyadarinya. Hanya oleh belas kasihan Tuhan, lewat cara-cara ajaib yang Allah kerjakan, maka kita dibimbing Tuhan untuk kembali kepada-Nya. 
    Di kisah anak terhilang; ada yang terhilang di luar rumah, si Bungsu. Tetapi ada yang terhilang di dalam rumah, si Sulung, yang tidak sepikiran dan seperasaan dengan bapaknya. Jangan merasa karena ada dalam gereja, rajin, jadi aktivis, atau pendeta, maka kita tidak terhilang. Ketika kita tidak sepikiran, seperasaan dengan Allah, kita terhilang. Ada kompromi-kompromi yang kita lakukan. Kompromi ini ditandai dengan satu hal: ketika kita menikmati kesenangan yang di dalamnya Allah tidak ikut menikmatinya. 
    Pasti Tuhan memberitahu, karena Roh Kudus dimeteraikan dalam diri kita. Waktu kita menikmati sesuatu—berita, film, atau tontonan—dan Tuhan tidak ikut menikmatinya, berarti kita telah keluar dari hadirat-Nya. Ketika kita memiliki keinginan yang tidak didiskusikan dengan Tuhan—walaupun itu pekerjaan Tuhan—namun jika bukan yang Allah inginkan, kita menikmati dan seakan-akan Allah menikmati, padahal tidak. Biasanya di situ ada agenda pribadi, karena hati kita licik. Alkitab berkata, “Hati lebih licik dari segala sesuatu.” Kita harus bertanya: “Apakah Injil yang kita kenali, Yesus yang rasanya kita terima, percayai, Roh yang kita percaya dimeteraikan di dalam diri kita adalah Roh yang asli?”
    Karenanya, mencari Tuhan harus lebih dari segala sesuatu, dijadikan segalanya sampai kita benar-benar menemukan Dia. Seseorang dikatakan telah menemukan Tuhan jika ia melakukan kehendak Bapa, mengerti yang Allah kehendaki, memahami dan memenuhi apa yang Allah rencanakan. Orang tidak bisa menemukan Tuhan tanpa mengerti rencana dan kehendak-Nya.
    Tuhan akan membuka pikiran kita untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki, memahami apa yang Allah rencanakan, agar kita melakukan serta memenuhinya. Dalam pengalaman hidup, Tuhan sering seperti jual mahal. Yang sungguh-sungguh mencari saja tidak mudah menemukan, apalagi yang setengah-setengah. Artinya, ketika hatinya dibagi untuk menikmati sesuatu, di mana Allah tidak ikut menikmatinya; tidak bisa. Maka, hati kita harus tidak ada kesenangan,
    9 min
  • Keluar dari Jebakan
    Kita harus punya visi besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Bagi para pendeta, harus serius mau mengajarkan kebenaran, dan mengajak berdoa agar jemaat memiliki karakter kristiani. Memindahkan hati bukanlah perkara sekejap tetapi step by step, day by day. Baru tekukan hidup kita bisa berubah. Masalahnya, banyak orang yang masih tercengkeram dengan pikiran seakan-akan hidup itu hanya di sini; di bumi. Pada umumnya, aktivis bahkan pendeta pun banyak yang masih berpikir bahwa hidup itu sekarang. Nanti bukan hidup, tetapi mati. 
    Justru setelah mati itulah kehidupan yang sesungguhnya, yang Allah sediakan. Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga bukan di bumi;” “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya;” “Kamu bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia ini.” Paulus mengatakan, “Kewargaan kamu di surga, di sana kita menantikan Tuhan yang mengubah tubuh kita;” “Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Tetapi ayat-ayat seperti ini sekarang tidak lagi terdengar, bukan? 
    Kita tidak akan sanggup mengubah cara berpikir kalau tidak mulai sejak dini. Cara hidup harus diubah. Jangan seperti siklus manusia pada umumnya; cari makan, hidup, besok mati, selesai. Bukan begitu. Cara berpikir kita haruslah cara berpikir anak-anak Allah yang hatinya telah dipindahkan di Kerajaan Surga. Maka, kita harus menggeliat, mengubah diri, harus ada usaha yang serius; yaitu mendengarkan Firman. Waktu di kantor pada jam istirahat, jangan mengobrol yang tidak pantas, berbuat dosa. Bercanda yang tidak pantas akan mengganggu pikiran kita, merusak. Lebih baik kita mendengarkan khotbah.
    Cara hidup kita harus berubah. Jangan tenggelam dengan persoalan-persoalan yang tidak prinsip, yang membawa kita masuk di siklus kehidupan seperti manusia pada umumnya. Hanya menunggu waktu, jadi tua dan mati. Kita punya banyak masalah, banyak kesibukan, banyak hal yang akan menyita proyeksi pikiran kita. Tetapi jangan tenggelam di situ. Jalani dengan penuh tanggung jawab. Tetapi pikiran kita harus menembus batas. 
    Yang sering terjadi dalam hidup banyak orang adalah ketika tiba di ujung maut baru sadar untuk mencari Tuhan, tetapi terlambat. Sekian lama hidup dalam percintaan dunia lalu mau bertumbuh, sulit. Apalagi kalau tidak memikirkan Tuhan sama sekali. Lalu ketika di ujung maut, baru mau memikirkan Tuhan, ia tidak akan mampu menembus batas, tidak mampu percaya ada kehidupan di balik kematian. Tidak mampu yakin Allah menjemput, malaikat diutus menjemput. Tidak mampu percaya ada Kerajaan Surga. Itu kengerian sekali. 
    Pikirkan hal-hal yang menyangkut kekekalan, maka masalah lain nanti menjadi kecil. Kita tentu bertanggung jawab, dan pasti bisa diselesaikan, karena orang di luar gereja juga bisa menyelesaikannya dengan baik. Tetapi yang tidak dilakukan oleh hampir kebanyakan manusia adalah memikirkan kehidupan yang sesungguhnya nanti. Kita adalah umat pilihan yang memang diproyeksikan untuk menerima warisan kekayaan Allah di Kerajaan Surga. Kita adalah orang-orang istimewa yang berkesempatan dimuliakan bersama Tuhan Yesus.
    Sekalipun kita telah mengkhianati Tuhan, pernah tidak setia, masa lalu kita rusak, mungkin sampai hari ini kita masih hidup di dalam dosa, tetapi Tuhan mengasihi kita, karena Tuhan tidak menginginkan seorang pun binasa. Ia mengasihi kita lebih dari yang kita duga. Ada satu kalimat yang mengejutkan, yaitu Allah punya kekayaan, punya langit dan bumi, dan bisa memberikan kekayaan apa pun untuk kita. Tetapi Tuhan hanya ingin memberi satu yang terutama, Diri-Nya.
    Lalu, siapa yang bisa menerima Diri-Nya? Tentu orang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Allah menciptakan manusia agar manusia hidup dalam kebersamaan dengan Diri-Nya. Tetapi karena dosa, maka manusia terpisah; namun keselamatan mendamaikan. Artinya, memberi akses dan potensi bagi manusia untuk diperdamaikan dan berjalan dengan Tuhan. Tetapi manusia harus mengubah diri. Kalau masih menggunakan cara hidup seperti cara hidup anak-anak dunia,...
    10 min
  • Terjebak
    Ketika kita memperhatikan siklus hidup manusia, kadang kita merasa miris. Kalau di negara Barat kehidupan berjalan dengan tertib, siklus hidupnya tenang. Bangun pagi, kerja, sore kumpul di café bersama teman, malam makan bersama keluarga, menonton film atau berita, lalu tidur. Rumah tidak ada pagarnya, aman dan nyaman. Mereka hanya menunggu tua, lalu mati. Tragis. Pertanyaannya, seberapa nyamannya? Berbeda dengan siklus hidup di Indonesia yang lebih rush, padat.
    Mari renungkan, apakah hidup kita hanya begitu saja? Pertanyaan yang kedengarannya filosofis tetapi fundamental adalah: “Apa alasan kita hidup? Apa benar kita punya proyeksi hidup bagi Kerajaan-Nya?” Biasanya, proyeksi manusia hanyalah sesaat. Bagaimana masalah ini selesai, lalu muncul masalah berikut; bagaimana masalah itu selesai? Bagaimana mengganti kendaraan atau punya rumah pribadi? Bukan tidak boleh. Tetapi kita telah tergulung dalam aktivitas dan siklus kehidupan seperti itu. 
    Belum lagi kalau terjerat dosa. Itulah hidup wajar menurut kacamata dunia. Bagaimana dengan kita? Apakah sama seperti orang pada umumnya? Karena gaya hidup orang tua, lingkungan, pendidikan, pergaulan bisa tanpa sadar telah menjebak kita. Kalau kita pernah terjebak, maka kita harus belajar untuk keluar dari jebakan. Kita harus meninggalkan kewajaran hidup! Kalau tidak, kita mungkin tidak pernah jadi manusia lebih baik, apalagi sempurna. 
    Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia adalah untuk mengubah, supaya kita memiliki cara dan gaya hidup anak-anak Allah. Bukan cara hidup manusia yang bukan anak-anak Allah. Kita harus keluar dari jebakan ini, dan berjuang semaksimal mungkin. Tidak bisa dengan sendirinya kita keluar dari jebakan ini karena ke gereja, atau jadi orang baik-baik. Ingat! Setan jauh lebih cerdik dari yang kita duga. Tetapi kalau kita memiliki tekad kesungguhan untuk keluar dari cara hidup wajar anak dunia, Roh Kudus akan menuntun kita. Roh Kudus memberikan kecerdasan rohani untuk bisa menjalani hidup sesuai Standar Kerajaan Allah (SKA).
    Kita harus mulai melangkah keluar, dan itu harus sedini mungkin. Jangan sampai terlambat. Ibarat karet, sudah tidak bisa ditarik panjang. Kalau ibarat tanah, sudah tidak bisa menumbuhkan tanaman dan membuahkan buah yang baik. Kita harus sadar bahwa waktu itu mahal; tidak bisa dibeli dan tidak bisa ditukar. Dalam perjalanan waktu, orang harus mengisi hari hidupnya dengan benar, membentuk atau membangun diri menjadi anak-anak Allah. Hal itu tidak bisa ditukar dengan waktu yang lain. 
    Kalau sejak dini orang tidak mengubah diri, tidak berjuang sungguh-sungguh, maka ketika hari tuanya ia mulai sadar, mau bagaimanapun sulit; ibarat karet ditarik ke mana juga tidak bisa panjang. Karenanya, selagi masih memiliki kesempatan, kita harus keluar dari cara hidup yang salah. Firman Tuhan mengatakan, “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja, aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Ini adalah filosofi hidup manusia yang terjebak dalam siklus kewajaran gaya hidup anak dunia.
    Ketika pikiran orang diracuni, seakan-akan yang namanya hidup itu hanya sekarang di bumi, sejatinya mereka telah terjebak. Tetapi bagi umat pilihan, mestinya proyeksi hidupnya itu nanti, bukan sekarang. Namun, mengubah cara pandang ini tidak mudah. Jangan berpikir dengan mendengar khotbah lalu kita berubah, tidak bisa. Ibarat kertas yang sudah ditekuk lama, ketika dibuka pun balik lagi. Mendengar khotbah sedahsyat apa pun, kalau memang dasarnya tidak mau berubah setiap hari, pasti ia balik lagi ke filosofi lama. Kalau kita sudah digores dunia, maka untuk menghilangkan goresan ini tidak mudah. 
    Kita tidak akan bisa mengubah cara dan gaya hidup, kalau cara berpikir tidak kita ubah setiap hari. Pada umumnya, atmosfer pikiran kita adalah seakan-akan kematian itu keadaan tidak hidup.
    8 min
  • Menujukan Hati Hanya Kepada Allah
    Ketika kita membaca kembali kisah hidup Abraham, maka kita dapat menemukan bahwa Abraham adalah pribadi yang memancarkan karakter kristiani. Abraham memiliki iman dan karakter yang dapat menjadi teladan kita. Seorang yang tidak mau membuat persoalan yang menyusahkan orang. Di manapun berada, dia adalah seorang yang terhormat. Dalam perjalanan Abraham dari Ur dan beberapa kisah interaksinya dengan bangsa-bangsa di sekitar Kanaan, Abraham disebut “tuan,” karena Abraham begitu ramah. 
    Kita takjub terhadap sikap Abraham terkait dengan Lot, keponakannya. Pada saat gembala-gembala dari Lot dan Abraham bertikai, Abraham berkata, “Tidak baik kita bertikai; gembalamu, gembalaku; aku dan kau, karena kita masih kerabat. Sekarang pilihlah, negeri ini luas bagimu.” Mestinya Lot tahu diri, dia seorang keponakan yang dibawa oleh Abraham. Bukan tidak mungkin, masa kecilnya pun dalam asuhan Abraham. Lot mestinya berkata, “Paman yang pilih dulu, jangan saya.” Tetapi Lot tidak berkata begitu. Dia melihat Lembah Yordan seperti taman Tuhan, yang airnya berlimpah dan subur, maka Lot memilihnya.
    Abraham mengalah, “Kalau kamu ke timur, aku ke barat. Kalau kau ke barat, aku ke timur.” Karakternya itu mengalah. Ketika istrinya meninggal, orang-orang Kanaan menyediakan tempat bagi istrinya dengan cuma-cuma. Tetapi Abraham tidak mau terima cuma-cuma. Dia bayar seharga yang berlaku bagi para saudagar. Walaupun dia bisa mendapatkan gratis. Kisah lainnya, ketika dia mendengar Lot ditawan oleh raja Kedorlaomer, dia bisa berkata, “Rasakan, kamu.” Tetapi tidak. Dia mengumpulkan orang-orangnya yang hanya sekitar 318 jumlahnya, untuk mengejar raja itu. 
    Abraham bukan seorang yang duduk-duduk. Abraham seorang pekerja keras, dan bisa jadi seorang panglima perang, sebab bukan hanya Kedorlaomer melainkan beberapa raja yang sudah dikalahkan sebelumnya. Ketika dia kembali, raja Sodom minta pembebasan atas orang-orangnya yang ditawan, tetapi hartanya diserahkan kepada Abraham. Abraham berkata, “Tidak, ambil semua. Yang sudah dimakan bujang-bujangku, ya sudah.” Abraham tidak mau mengambil barang rampasan perang yang mestinya menjadi haknya. 
    Apa yang membuat Abraham memilih karakter seperti itu? Kita tidak pernah tahu dengan pasti, karena latar belakang masa muda Abraham tidak jelas. Tetapi dalam Kejadian 12:7-8, dan ayat-ayat lain, tertulis, “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”
    Kita dapat membaca ayat-ayat senada, ketika Abraham berada di sebuah tempat, dia membangun altar atau mezbah. Kalau diurutkan, agama di sekitar Mesopotamia—di daerah Sumeria—ada agama kuno. Bukan tidak mungkin, Abraham dan kerabatnya juga pernah memeluknya. Tetapi Abraham mengenal Yahweh. Apa pun bentuk penyembahan yang dilakukan Abraham, dia tidak menujukan objek penyembahannya kepada siapa pun, kecuali kepada Yahweh. 
    Kita bisa mengerti kalau Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, sudah ada dari kekal sampai kekal, keagungan-Nya tak terkira; mau memperkenalkan diri sebagai Allah Abraham, karena Abraham menujukan hatinya kepada Yahweh. Apa pun cara penyembahannya, dia memberikan altarnya bagi Tuhan, bukan bagi dewa lain. Bukan kepada objek lain, tetapi kepada Yahweh, Allahnya. Allah yang proper name-Nya Yahweh, yang menyatakan diri sebagai Allahnya Abraham, adalah Bapa kita. Dia tidak berubah; dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Allah yang sama. 
    Selanjutnya, dalam Kejadian 13 dan berikutnya, yaitu perjalanan hidup Abraham. Sebagai manusia, dia juga punya kekurangan. Ketika masuk Mesir, Abraham takut kalau dirinya dibunuh. Maka,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…