Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mencapai Puncak
    “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu,” jika kita kalimatkan dengan kalimat lain yang maksudnya tidak berubah: “Capailah tingkat setinggi-tingginya, berjuanglah untuk sampai puncak.” Bagi bangsa Israel, mereka harus maksimal mencintai Allah dengan instrumen, dengan alat yaitu hukum; berdasarkan hukum. Tetapi kita, mengasihi Tuhan Allah dengan standar pikiran dan perasaan Allah. Allah harus bisa merasa bahwa hati kita dipersembahkan kepada-Nya. Tidak “terdiskon,” tidak terpotong oleh apa pun dan siapa pun. 
    Untuk itu, secara hukum moral, kita harus benar dulu. Kita harus bergumul untuk itu, dan Roh Kudus pasti menolong. Bagi orang-orang di luar umat pilihan, mereka juga bisa mencapainya, walaupun tidak sempurna. Kalau bagi bangsa Israel, ada gagalnya juga. Namun, ada darah domba yang ditumpahkan untuk solusi kegagalan itu. Yohanes Pembaptis datang untuk mempersiapkan bangsa Israel agar siap menerima taburan kebenaran supaya bisa dibawa kepada standar hidup umat Perjanjian Baru. Supaya bisa “mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan” secara batiniah. Standarnya bukan lagi hukum, melainkan secara hukum moral sudah harus lulus. Kalau secara hukum moral belum lulus, maka tidak bisa.
    Maka, Yohanes Pembaptis diutus Bapa untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Lihat bagaimana Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan supaya mereka hidup dengan menghasilkan buah pertobatan, artinya mereka melakukan hukum sesuai dengan jiwanya, sehingga menghasilkan buah pertobatan. Bukan hanya melakukan hukum sesuai dengan bunyinya, lalu tidak terbukti berbuat kesalahan. Maka kepada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, Yohanes Pembaptis berkata, “ular beludak.” Padahal mereka pengajar hukum, tetapi justru menyimpangkannya. 
    Puncak masing-masing orang tentu berbeda, karena porsi masing-masing orang juga berbeda; “Yang diberi banyak, dituntut banyak; yang diberi sedikit, dituntut sedikit.” Kita harus berusaha sampai puncak, dan hanya Allah yang bisa menilainya. Apakah kita mengasihi Tuhan? Tuhan sudah rasa belum, cinta kita kepada-Nya? Apakah sudah “segenap”? Ini penting, lebih dari apa pun. Sebab ketika kita nanti berjumpa dengan Tuhan, lalu semua rahasia dibuka, pembukuan hidup masing-masing orang, neraca masing-masing orang dibuka, akan terlihat seberapa seseorang telah mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan. 
    Kata “mempersembahkan,” kalau digunakan kata yang lebih tepat sebenarnya “mengembalikan.” Karena ketika kita ditebus, kita bukan milik kita sendiri, tetapi menjadi milik Tuhan. Kebaikan moral tentu harus dicapai dulu. Jadi, kalau ada orang Kristen yang masih tidak jujur dalam keuangan, tidak setia kepada pasangan hidupnya, memiliki kebengisan terhadap orang lain, tega mengupayakan penderitaan orang, ibarat orang mau ikut perlombaan, sudah tidak bisa ikut. Secara moral umum, harus baik dulu. Ini saja perlu pergumulan. Kenapa? 
    Karena kita masih berdaging dan ini berpotensi melanggar hukum. Emosi dan temperamen kita itu berpotensi melanggar hukum. Kesombongan kita, masih berpotensi melanggar. Supaya punya harga diri, martabat, orang bisa bohong. Supaya punya prestise, dia bisa mencuri. Menjadi benar secara moral umum saja tidak mudah, tetapi nanti akan berproses simultan. Sementara kita berjuang untuk mencapai puncak, kedagingan kita mulai semakin diluruhkan atau digugurkan.
    Jadi, mari kita memiliki tekad untuk mencapai puncak setinggi-tingginya. Artinya, kita mau menjadi suci sesuci-sucinya; kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela sebersih-bersihnya. Tidak terikat dengan dunia, sebersih-bersihnya. Hukum-hukum moral umum itu masih membuka peluang untuk menjadi orang duniawi. Hukum moral umum tidak mampu membawa seseorang pada hati Allah di tingkat puncak. Maka, kalau kita melihat tokoh-tokoh Perjanjian Lama banyak cacatnya, tetapi Tuhan mengakui mereka itu sebagai sahabat dan kekasih-kekasih-Nya.
    10 min
  • Memiliki Respons yang Benar
    Kita akan sangat menyesal apabila ketika meninggal dunia, kita belum dilahirkan baru; belum mengalami perubahan kodrat, belum menjadi anak-anak Allah. Maka jangan heran ketika kita menjadi Kristen yang benar, kita justru mengalami begitu banyak tantangan. Ibrani 12 mengatakan, “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Kata ‘menyesah’ dalam bahasa aslinya berarti memukul berulang-ulang. Orang tua sering menghajar anaknya, tetapi kalau anak belum berubah, ia akan dipukul lagi sampai berubah. Tidak ada pilihan. 
     Selanjutnya dikatakan, “Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak.” Sebagai huios, anak yang sah. “Di mana anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Jadi, kalau kita sekarang menemui jalan-jalan berat dalam mengikut Tuhan—rasanya masalah tidak selesai-selesai, bahkan bertambah berat—itu karena kita adalah anak yang dihajar. Kita sedang diproses seperti janin dalam kandungan. Diproses untuk bisa dilahirkan sebagai anak. Masalahnya, bagaimana respons kita? Ini yang penting. 
    Jadi, agar kita memiliki gen dari Allah, kita harus memiliki respons yang benar dalam menanggapi pendidikan atau proses Tuhan. Bagaimana caranya? Dengan berkomitmen, kita harus memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Kita yang harus menggerakkan hati untuk mengasihi Tuhan. Hal ini tidak bisa digerakkan oleh Allah. Kalau Allah menggerakkan hati orang, maka Allah yang harus bertanggung jawab atas orang yang tidak Dia gerakkan. Allah menggerakkan si A, tetapi tidak menggerakkan si B, maka Allah bertanggung jawab atas kebinasaan si B. 
    Kita mulai dengan pernyataan, “Bapa, aku mau mengasihi Engkau. Aku memilih mengasihi Engkau, Bapa.” Walaupun, kita masih punya keinginan-keinginan, ikatan-ikatan dengan dunia. Karena selera kita ini sudah rusak oleh selera dunia. Keinginan daging juga masih belum pupus, masih ada. Tetapi kita harus mengambil keputusan untuk mengasihi Allah, maka Allah akan menggarap kita (Rm. 8:28).
    Maka mestinya kita takut, jangan sampai kita telanjur terikat dengan percintaan dunia. Selera dan daging kita sudah terikat kuat sekali dengan dunia, sampai kita tidak sanggup lagi membagi hati untuk Tuhan. Ini tingkat menghujat Roh Kudus sebenarnya. Pastikan bahwa kita masih memiliki hati untuk mendengarkan Firman, untuk mendapat jamahan dari Tuhan, memperoleh sesuatu dari Tuhan. Tetapi ini harus dikobarkan. Jangan berhenti mengobarkan hati yang mengasihi Allah. 
    Ini tidak mudah, karena Allah tidak kelihatan. Roh Kudus yang akan berbicara kepada kita, bagaimana mengasihi Allah itu. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana yang bisa kita lakukan: ikut kebaktian, mendengarkan khotbah, doa bersama—Doa Pagi maupun Doa Malam. Maka, kita akan memiliki hati mengasihi Tuhan yang semakin bertambah dan berkembang. Dan proses ini, tidak bisa tidak, harus kita alami. Kita harus meledakkan cinta kita dan Tuhan pasti menyambutnya dengan memberikan proses. Cinta kita akan membara, tahap demi tahap. Dari cinta itu, maka kita menjadi haus dan lapar akan kebenaran. 
    Haus dan lapar akan kebenaran maksudnya adalah mengingini menjadi ‘orang baik’ menurut Tuhan; sempuna seperti Bapa serupa dengan Yesus. Orang yang haus dan lapar akan kebenaran itu pasti dipuaskan, begitu Firman Tuhan mengatakan. Dan Tuhan akan membuka pengertiannya untuk melihat standar yang baik, walaupun itu bertahap. Sehingga, kita tidak pernah merasa puas—bahwa kita sudah cukup baik, kita sudah sampai target—karena Tuhan akan membuat kita melihat dan kita mengingini terus. 
    Roma 8:28 mengatakan, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.” Allah tidak akan melanggar tatanan-Nya. Allah itu berintegritas. Jadi, ketika kita mengasihi Allah, Allah menggarap kita. Allah akan mendidik kita, membuka pengertian kita untuk melihat apa yang baik menurut Tuhan. Karena standar orang percaya itu harus sempurna seperti Bapa,
    9 min
  • Berkat Tuhan
    Firman Tuhan mengajarkan agar kita mengucap syukur dalam segala hal. Efesus 5:20 mengatakan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita, Yesus Kristus, kepada Allah dan Bapa kita.” Memang mudah kita berkata, “Mari kita bersyukur kepada Tuhan” tetapi sebenarnya mengucap syukur itu tidak mudah. Karena, sering kita menghadapi kenyataan-kenyataan hidup di mana kita sulit untuk mengucap syukur. Kita merasa malang atau bernasib buruk. Khususnya bagi yang belum dewasa rohani, bahkan disertai persungutan “Mengapa begini, mengapa begitu?” 
    Tidak jarang Tuhan juga dipersalahkan. Karena Tuhan tidak bisa diomeli, yang diomeli pendeta. Tidak berani mengomeli Tuhan langsung, tetapi mengutarakan itu kepada pendeta. Sebenarnya marah kepada Tuhan, sehingga meminta pertanggungjawaban dari hamba-Nya, sebab dianggap sebagai wakil Tuhan. Memang terkadang ada saat-saat di mana kita tidak bisa bersyukur karena keadaan yang susah. Apalagi kalau dilanda masalah yang berlarut-larut, tidak ada jalan keluar, dan rasanya masalah itu akan terus menghimpit dan tidak pernah bisa lepas dari hidup kita. Terutama jika masalah itu menyita pikiran dan perasaan kita, mengancam kita. Baik mengancam ekonomi, kesehatan, atau nama baik kita. Sulit kita bersyukur dalam kondisi seperti itu. Kita dilukai, dikhianati oleh orang dekat, saudara, atau pasangan hidup. Tentu rasa sakitnya luar biasa. 
    Dalam kondisi masalah ekonomi berlarut-larut, sulit kita mengucap syukur. Tetapi firman Tuhan tidak kompromi. Hendaknya kita berkata: “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu.” Bagaimana kita bisa mengucap syukur? Hendaknya benar-benar kita renungkan, terima, dan praktikkan. Yang pertama, ingat siapa kita dulu. Kalau misalnya hari ini kita memiliki kondisi ekonomi yang bermasalah, ingat siapa kita dulu. Dulu kita tidak punya apa-apa, bukan siapa-siapa juga. Kalau hari ini dompet tipis, rekening saldonya sedikit, ya sudah, dulu juga tidak punya apa-apa. Harus kita ingat, siapa kita dulu. Jikalau bukan Tuhan yang menolong, bukan Tuhan yang membela, pasti kita sudah binasa. Tidak ada seperti sekarang ini. 
    Kalau kita ada sebagaimana kita ada, itu semua karena kemurahan Tuhan. Dulu kita tidak punya apa-apa, bukan siapa-siapa. Sekarang kita menjadi seperti hari ini, sepatutnya kita sangat merasa bersyukur. Ini akan memberi kekuatan kepada kita. Jangan lupakan siapa kita ini. Kita melihat prinsipnya Ayub. Ayub bisa tahan begitu hebat dalam menghadapi tantangan. Dia punya satu pernyataan di Ayub 1:21, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku. Dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.” 
    Tidak ada yang dapat kita genggam. Kita diberkati dengan kebenaran bahwa kita datang tidak membawa apa-apa, juga kembali tidak membawa apa-apa. Apakah itu suami, anak, atau siapa pun. Kalau punya anak lalu anak tidak nurut, tidak dengar-dengaran, bahkan mendurhaka seakan-akan tidak pernah dilahirkan dari rahim Ibunya, ya sudah, yang penting dia sudah memenuhi tugas sebagai Ibu yang baik. Kita jadi merdeka. Kalau ada di antara kita yang sedang di-bully, dihina, kehormatan kita diinjak-injak, ya sudah. Karena kita datang ke dunia juga tanpa kehormatan, dan dulu pun kita juga tidak terhormat. Kita percaya bahwa yang merendahkan diri, akan ditinggikan. Tetapi kalau meninggikan diri, akan direndahkan. 
    Itu yang pertama, yaitu supaya kita bisa mengucap syukur. Kalau Tuhan memberikan kita keadaan seperti hari ini, itu semua berkat Tuhan. Jadi kita jangan tidak tahu diri. Sudah punya sekian, masih saja bersungut-sungut. Dulu kita tidak punya apa-apa. Sekarang misalnya kita punya 100, hilang 40, lalu kita marah-marah. Dulu kita tidak punya apa-apa, bahkan mungkin minus. Jadi, keadaan kita hari ini bukan berarti sebuah kemalangan atau sesuatu yang patut membuat kita bersungut-sungut. Tetap harus kita syukuri, dengan mengingat siapa kita dulu dan apa yang ada pada kita. Sementara sekarang,
    9 min
  • Bertumbuh dalam Karakter Allah
    Ketika kita memiliki kesempatan—misalnya mencuri, korupsi, berzina—dan kita melakukan, memuaskan hasrat maka kodrat dosa akan menetap, kuat, tumbuh, sehingga kita menjadi anak setan dan serupa dengan dunia. Tetapi kalau kita menyangkal diri, kita berkata “tidak” dengan melihat perasaan Bapa karena tidak ingin menyakiti hati Bapa, berarti kita menyenangkan hati Tuhan. Kita membunuh terus karakter dosa. Pasti kita akan menghadapi kondisi-kondisi seperti itu, dan jangan kita anggap sebagai kecelakaan. 
    Misalnya dalam kondisi tertentu kita marah, kita maki-maki orang. Padahal, kita tidak perlu maki-maki. Marah mungkin tidak salah, tetapi harus marah yang membangun, bukan marah yang destruktif. Kita harus marah yang konstruktif, bukan destruktif. Marah destruktif adalah marah yang merusak; merusak perasaan orang, merusak perasaan kita sendiri. Artinya, membuat kodrat dosa kita tambah kuat. Kalau marah konstruktif, memang marah juga, tetapi menasihati, mengingatkan dengan teduh. Marah konstruktif itu membangun orang, juga membangun kita. Oleh sebab itu, kesempatan-kesempatan indah yang Allah berikan kepada kita untuk mengalami pertumbuhan kedewasaan rohani, jangan disia-siakan. 
    Apabila merasa pasangan kita merendahkan, mertua merendahkan, ipar merendahkan, di depan anak dihina, itu adalah kesempatan kita membunuh karakter dosa. Kita diam saja. Kita dihina, direndahkan, mungkin juga sampai difitnah. Kita diam saja. Indahnya difitnah itu adalah, pertama, kita bisa seperti Yesus yang juga difitnah. Lalu indahnya yang kedua, fitnahan itu membuat kita tercegah dari melakukan seperti apa yang difitnahkan. Misalnya kita difitnah menggunakan uang atau mencuri uang, artinya kita dicegah Tuhan untuk mencuri uang suatu hari. Kita difitnah berbuat A padahal kita tidak melakukannya, artinya Tuhan mencegah kita berbuat A. 
    Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Kejadian-kejadian yang kita alami, merupakan cara Tuhan untuk membuat kita memiliki karakter Allah. Karakter Allah, sifat-sifat Allah: kelemahlembutan, mengasihi musuh, mengerti dan menerima orang lain sebagaimana adanya, mengusahakan kesejahteraan sesama, dan lain sebagainya. Karakter-karakter Allah akan dibangun di dalam diri kita, dan itu yang membuat kita menjadi terhormat. Semakin kita bertumbuh dalam karakter Allah, semakin kita tawar hati terhadap keindahan dunia. Semakin bertumbuh karakter Allah di dalam diri kita, pujian tidak akan menenggelamkan kita. Sanjungan orang tidak terasa manis atau terasa lezat. 
    Bahkan, kita akan merasa tidak enak kalau orang terlalu memuji, terlalu mengangkat kita. Kalau dulu memang cari yang begitu, karena kita merasakan itu kelezatan. Tetapi ketika kita bertumbuh dalam karakter Allah, pujian menjadi sesuatu yang membuat kita tidak merasa nyaman. Memang tidak bisa dihindari adanya pujian manusia. Kita cukup meresponsnya dengan mengucapkan “terima kasih.” Tetapi kalau pujian itu berlebihan, kita justru tidak merasa nyaman. Ketika karakter Allah tumbuh dalam diri kita, kita akan memberikan kehormatan dan pujian hanya bagi Tuhan, bukan bagi siapa pun. 
    Di sini kita dilatih oleh Tuhan untuk hidup benar-benar bagi kemuliaan Allah. Kalau kita memeriksa diri kita sendiri, apakah masih ada unsur-unsur kodrat dosa di dalam diri kita, niat-niat untuk dipuji, disanjung, rasa tersinggung saat kita dikata-katai orang, dilukai? Kita harus benar-benar berhati-hati. Kita harus berhati-hati dengan diri kita sendiri, karena ada manusia lama dalam diri kita. Kalau mau dituruti, benar-benar jadi anak dunia atau anak setan. Sebab sudah mendarah daging dalam diri kita, rasa tidak mau dirugikan, tidak mau tersinggung, tidak mau direndahkan. Maunya dihormati, maunya diuntungkan, maunya dianggap penting. Ini yang harus dibunuh, harus dimatikan di dalam diri. 
    Kita di tengah-tengah keluarga besar direndahkan, tidak apa-apa. Itu cara untuk menaikkan diri di hadapan Allah.
    8 min
  • Memberikan Keteladanan
    Kalau kita memandang hidup secara salah, kita akan kehilangan hidup atau tidak memiliki hidup yang sesungguhnya yang Allah, Pencipta kehidupan ciptakan. Jadi, cara kita memandang kehidupan harus benar. Sebab kalau cara kita memandang kehidupan itu salah, kita mati. Tentu maksud “mati” di sini mengacu pada apa yang dikatakan oleh Allah Bapa di dalam Kejadian 2:17, “Kalau engkau makan buah ini, kamu akan mati.” Oleh sebab itu, mari buka pikiran dan hati kita dengan tulus dan rendah hati. Kiranya Roh Kudus memberi kita pengertian untuk memahami kehidupan dengan benar. 
    Kehidupan yang dimiliki kebanyakan manusia hari ini adalah kehidupan yang sudah rusak. Kehidupan yang dimiliki hampir semua manusia, itu sudah rusak dan salah. Kita tidak boleh memiliki pengertian, pandangan, asumsi mengenai hidup berdasarkan apa yang kita lihat dalam kehidupan manusia pada umumnya. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah; atau manusia tidak memiliki kemuliaan Allah yang mestinya manusia miliki. Kata “kehilangan” sama dengan “kekurangan.” Bahasa aslinya yustereo; kurang. Jadi kita melihat kehidupan yang dikenakan—bagi orang-orang yang belum diubahkan oleh Tuhan—telah mengalami kemerosotan; degradasi dari standar hidup yang mestinya dimiliki. 
    Digunakan kata “hampir,” maksudnya masih ada orang-orang yang disisakan. Jika mengenal Tuhan dengan benar, mengenal dan mengenakan kebenaran Injil, ia akan menemukan kehidupan. Paulus mengatakan, “Ikutilah teladanku dan teladan hidup mereka yang hidup sama seperti kami.” Paulus menemukan kehidupan yang berkualitas tinggi, berkualitas baik; kehidupan yang Allah kehendaki. Kehidupan yang Rasul Paulus miliki juga akan berlanjut nanti di langit baru bumi baru, setelah kematian. Tetapi kalau seseorang memiliki kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah—yang telah mengalami kemerosotan, yang tidak sesuai standar Allah—maka tidak akan berlanjut. 
    Orang yang mengenakan kehidupan yang salah ini akan di-terminate, diakhiri, dibinasakan. Itu namanya mati. Seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan “kematian yang kedua,” yaitu lautan api. Ada kematian pertama, yaitu ketika tubuh dikubur. Itu belum berisiko, karena manusia memang akan mati. Walaupun sebenarnya Allah tidak menghendaki kematian fisik. Tetapi kematian yang mengerikan adalah kematian yang kedua, lautan api yang tercatat dalam Wahyu 20:14, ketika manusia terpisah dari Allah. Oleh sebab itu, mari kita mengenal, memahami, mengerti kehidupan secara benar dari sudut pandang dan asumsi yang benar. 
    Memang ini bukan sesuatu yang mudah, karena kita sudah memiliki konsep yang sesat. Konsep itu telah kita jalani, juga telah membentuk, membangun cita rasa jiwa, cita rasa kehidupan. Tuhan Yesus, Gembala yang baik, yang menyelamatkan supaya kita menjadi domba-domba Tuhan dan mengikuti jalan-Nya, sebab Tuhan Yesuslah manusia pertama yang menemukan kehidupan. “Di dalam Dia ada hidup, dan hidup itu terang manusia,” Yohanes 1:4. Adam pertama, membawa kematian. Tetapi Adam kedua atau Adam terakhir, Yesus, memberi kehidupan. Kehidupan yang benar itu modelnya hanya satu. Suka tidak suka, kita terima atau tidak, kita anggap sukar atau mudah, hanya satu modelnya, yaitu Yesus. 
    Bagaimana cara memandang hidup dengan benar? Kita melihat hidup Yesus yang Rasul Paulus kenakan dan teladani. Ia berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Jika tidak demikian, Paulus tidak memiliki kehidupan. Paulus bisa berkata, “Ikutilah teladanku, karena hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Kalau Paulus belum memiliki kehidupan yang mengenakan cara hidup Tuhan Yesus, dia tidak berhak mengatakan “ikutilah teladanku.” Paulus juga mengatakan, “Ikutilah aku sama seperti aku ikut Yesus.” Dia juga berkata: “Ikutilah teladanku, dan mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Maka, yang pertama di dalam gereja harus ada kebenaran yang diajarkan. Yang kedua,
    9 min
  • Krisis akan Kekekalan
    Dalam kehidupan ini pasti kita memiliki perasaan krisis. Biasanya ada banyak penyebab atau kausalitas yang membuat kita memiliki perasaan krisis ini. “Krisis” sinonim dengan kata “kemelut;” yaitu setiap peristiwa yang sedang terjadi atau diperkirakan mengarah pada situasi yang tidak stabil dan berbahaya, yang dapat memengaruhi individu, memengaruhi kelompok atau komunitas. Di dalam kata “krisis” itu ada unsur khawatir, cemas. Pasti kita semua pernah mengalami perasaan ini, atau mungkin sedang ada dalam situasi itu.
    Perasaan krisis jangan selalu dipandang negatif, karena bisa juga memiliki peran positif di dalam kehidupan. Orang tua yang memiliki perasaan krisis mengenai kehidupan hari esok anaknya, maka tindakannya adalah mengasuransikan pendidikan untuk anaknya, mempersiapkan jalan bagi usaha anak ke depan. Karenanya, orang tua bekerja keras membangun bisnis atau usaha yang nanti akan diwariskan kepada anak. Mahasiswa yang memiliki perasaan krisis yang dapat menyebabkannya gagal studi, tidak lulus, harus mengulang, sehingga menunda bekerja. Ini perasaan krisis juga, tetapi itu bisa memberi dampak positif atau memberi peran yang positif. Karenanya, dia belajar rajin agar bisa berprestasi dalam kuliahnya.
    Jadi harus diakui, ada perasaan krisis yang positif dan ada perasaan krisis yang negatif. Dalam kehidupan manusia pada umumnya, perasaan krisis biasanya menyangkut hal-hal pemenuhan kebutuhan jasmani. Perasaan krisis seperti itulah yang menyandera dan membelenggu seseorang, sekaligus mengarahkan hidup seseorang. Menjadi berbahaya jika arah hidupnya bukan kepada Allah atau Kerajaan Surga. Perasaan krisis seperti itu yang juga kita lihat dalam kehidupan orang di sekitar kita. Namun, ingat! Perasaan krisis yang tidak dihubungkan dengan kekekalan adalah perasaan krisis negatif. 
    Tidak ada seorang pun yang ingin terpisah dari Allah. Setiap orang tidak ada yang ingin masuk neraka. Tetapi perasaan krisis terhadap neraka, tidak pernah terlihat dengan jelas dalam hidupnya. Perasaan krisis terpisah dari Allah, tidak kita lihat dalam kehidupan mereka. Pernahkah kita bertemu orang yang memiliki perasaan krisis karena belum berdoa hari itu? Kalau jujur, jawabnya jarang kita menjumpainya. Pernahkah kita menemukan orang yang memiliki perasaan krisis karena tidak ke gereja? Sedikit sekali. Lalu, jika pertanyaan itu untuk kita, apa jawaban kita?
    Lebih dari apa pun, kita harus mengejar kebenaran yang mempersiapkan kita untuk menyongsong kekekalan, dan hal itu tidak akan membuat kita merasa krisis. Kita dari kecil sudah mengalami banyak krisis; dari satu krisis ke krisis berikut, tenggelam dengan berbagai krisis kehidupan. Lalu, semakin hari seiring dengan bertambahnya umur, bertambahnya skala bisnis dan kapasitas hidup yang kita hadapi, justru kita makin tenggelam, makin hanyut. Memang kita tidak bisa terhindar dari krisis-krisis itu. Kita pasti akan menghadapi krisis, sampai masuk kubur. Jadi jangan harap tidak menghadapi krisis. Pasti setiap kita menghadapi krisis. 
    Melihat cucu, dapat membuat kita bertanya dalam hati, “Aduh, jadi apa cucuku nanti?” Melihat perkembangan dunia, melihat eskalasi politik, ketegangan antara Barat dan Rusia plus Cina yang bisa menegangkan. Jadi apa dunia ini nanti? Akhlak manusia pun semakin rusak. Yang mestinya mengamankan, ternyata perlu diamankan. Kalau sudah fenomenanya begini, mengerikan. Sudah rusak, dunia ini. 
    Tetapi, mari kita membuka cakrawala berpikir kita. Mari kita berpikir dalam skala kekal, skala manusia. Ya, kita semua manusia. Ada manusia yang berpikir skala manusia, dan manusia yang berpikir skala hewan. Maksudnya, orang yang menggunakan cara berpikir skala hewan, maka prinsip hidupnya adalah “mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Jadi, seakan-akan tidak akan ada kelanjutan kehidupan ini. 
    Firman Tuhan mengatakan di 1 Korintus 15, “Janganlah kamu sesat. Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Sekarang,
    10 min
  • Benar secara Moral Umum
    Suatu kali Tuhan Yesus ditanya oleh seorang ahli Taurat. Pertanyaan itu sebenarnya untuk mencobai Yesus: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Matius 22:36, “Jawab Yesus kepadanya: kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Hukum terutama maksudnya hal yang paling penting dan paling menyukakan hati Yahweh, Allah Israel. 
    Tuhan Yesus mengatakan bahwa satu iota, satu titik di dalam hukum Taurat tidak akan berlalu; “Langit dan bumi ini bisa berlalu, tetapi hukum Tuhan tidak akan berlalu.” Tentu hukum ini juga dikenakan bagi kita, tetapi dengan kualitas yang lebih tinggi. Bangsa Israel mengasihi Tuhan Allah dengan standar hukum, tetapi kita mengasihi Tuhan Allah dengan standar pikiran dan perasaan Allah sendiri, dan Roh Kudus menuntun kita untuk bisa mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi.
    Kalau bangsa Israel mengasihi Allah, standarnya hukum; hukum harus dipenuhi. Tetapi kalau orang percaya, harus hidup di dalam kebenaran hukum, atau secara moral harus sudah baik dan benar. Mengasihi Allah bukan dengan instrumen atau alat hukum, melainkan manusia batiniahnya. Pernahkah kita menggumuli apakah kita sudah mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi?
    Apakah dalam melakukan hukum secara moral umum, kita benar-benar sudah baik? Kalau standar bangsa Israel itu hukum; moral umum, karena hukum di dalam Dekalog yang merupakan landasan semua hukum yang ada di Israel, juga dikenal oleh bangsa-bangsa di dunia. Menghormati orang tua, menghargai pernikahan, menghargai milik orang lain, kejujuran, itu juga dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Ini juga sering dijadikan salah satu bukti teistik bahwa Allah itu ada. Pembuktian bahwa semua bangsa di dunia memiliki kesamaan dalam hukum.
    Ternyata kesamaan itu tertuang di dalam Dekalog (10 Perintah Allah) yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Terutama dari hukum ke-5 sampai ke-10. Hukum yang pertama sampai yang keempat, itu eksklusif untuk bangsa Israel. Tetapi menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, itu juga dikenal oleh bangsa-bangsa di dunia. Itulah bukti teistik (teis; Tuhan), bukti ketuhanan bahwa Allah itu ada, yaitu adanya kesamaan hukum.
    Secara moral umum, apakah kita sudah baik? Kita harus memperkarakannya dengan serius. Ingat, sebelum Tuhan Yesus memberitakan kebenaran Injil, Yohanes Pembaptis telah mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan agar orang-orang Yahudi melakukan hukum sesuai dengan jiwanya, bukan hanya sesuai dengan bunyinya. Artinya, orang-orang Yahudi yang akan mendengar Injil; orang-orang Israel yang akan mendengar Injil, itu dipersiapkan, harus memiliki pertobatan secara hukum. Maka, Yohanes Pembaptis mengatakan, “Hasilkan buah sesuai dengan pertobatan.”
    Ketika ada laskar, prajurit Roma yang berkata, “Apa yang harus kami lakukan?” Yohanes Pembaptis menjawab, “Jangan memeras. Cukupkan dirimu dengan gajimu.” Kalau kamu dibaptis, bukan hanya dibaptis. Yang penting perubahan. Ketika tokoh-tokoh agama Yahudi, orang Farisi, ahli Taurat mau ikut-ikutan, Yohanes Pembaptis berkata dengan tegas, “Apa urusan kamu? Kapak sudah tersedia. Pohon yang tidak berbuah, ditebang.” Yohanes Pembaptis sudah mempersiapkan agar orang-orang Israel yang akan mendengar Injil telah memiliki pertobatan secara moral umum. Kita memperkarakan, apakah secara moral umum kita sudah benar? Jika tidak, kita harus terus mengalami pertobatan.
    Secara moral umum harus baik dan benar dulu. Ini tidak mudah, tetapi kalau kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, kita bersedia, Roh Kudus pasti menuntun,
    9 min
  • Baptisan
    Baptisan bagi orang kafir yang mau beragama Yahudi dan mengikuti agama orang Israel dinamakan baptisan Proselit. Sejak itu, mereka tidak boleh makan makanan yang dianggap atau dipandang haram oleh Taurat, cara gaya hidupnya pun berubah total. Karena memang orang Yahudi itu ekstrem dalam keberagamaan. Sampai hari ini, ada di antara mereka yang masih ekstrem. Baptisan lain yang dikenal dalam Alkitab adalah baptisan Yohanes Pembaptis. Sebelum Yesus memberitakan Injil, Ia pun dibaptis. 
    Jangan hanya kelihatannya benar karena sudah dibaptis, tapi kita harus membuktikan buah-buah pertobatan. Makanya, tidak heran kalau Yohanes Pembaptis ketika bertemu dengan tokoh-tokoh agama Yahudi, ia memanggil mereka dengan sebutan: “Hai, kamu ular beludak.” Karena dia tahu, kalau baptisan cuma menjadi sebuah formalitas, percuma. Yohanes Pembaptis mau mereka melakukan hukum sesuai dengan jiwanya, nafasnya, menghasilkan buah-buah pertobatan. 
    Adapun baptisan dalam nama Bapa, Anak, Roh Kudus berarti hidup baru di dalam Tuhan. Yang satu ini, standarnya tinggi. Makanya di Roma 6:4 tertulis begini, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” 
    Kita belum sempurna, namun kita tetap bisa mengasihi Tuhan. Kita harus mati, dan kita mengerti sekali bahwa baptisan itu lambang kematian; kesediaan untuk hidup baru. Jangan dibaptis kalau kita tidak berani mati bagi dunia. Sejatinya, jika baptisan sudah menjadi budaya—umur sekian harus dibaptis—atau karena mau menikah, kita melecehkan baptisan. Banyak orang tidak mengerti bahwa ‘harga’ baptisan itu sangat mahal.
    Bersyukur, tahun demi tahun, lewat perjalanan hidup kita mengerti, Bapa menghajar kita melalui banyak kejadian. Yang melalui hajaran-Nya itu kita menjadi huios (anak yang sah). Maka, gereja harus menjadi sekolah Alkitab yang benar. Di Ibrani 12, kita membaca mengenai pelombaan yang diwajibkan, dan perlombaan itu adalah memiliki iman yang sempurna dan Yesuslah modelnya. Karena, kita mau dijadikan anak-anak bagi Allah. 
    Ayat berikutnya mengatakan, “… Ia menyesah orang yang diakui-Nya …” Jadi, sejak di bumi sudah diakui. Ada pengakuan dari Allah: “Ini anak-Ku, Kuhajar dia.” Tetapi kalau anak gampang (nothos), tidak dihajar. Karena memang yang dihajar hanya orang yang mengasihi Dia. Hajaran dan didikan-Nya membuat seseorang mengalami kelahiran baru; dilahirkan oleh Roh Kudus. Namun, kita harus memiliki komitmen individu untuk memberi diri dibentuk, maka Allah kerjakan.
    Sejatinya, kita tidak punya pilihan lain dalam hidup, kecuali menjadi anak-anak Allah. Bukan sekadar status yang dirumuskan dengan kata-kata atau kalimat di atas kertas, melainkan pengalaman riil dengan Allah. Tidak mungkin Roh Kudus tidak memberitahu bagaimana keadaan kita di hadapan Allah. Ibrani 12:6, “… karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?”
    Kita diproses, dan kita tahu itu. Namun kadang-kadang kita berkata, “Tuhan, aku tidak sanggup lagi.” Tapi memang perubahan kodrat tidak bisa sulapan, harus lewat masalah. Jadi, tidak heran kalau orang yang diproses Tuhan dengan sungguh-sungguh, ia merindukan pulang ke surga; “Aku capek, Tuhan, aku lelah. Tapi aku belum jadi seperti yang Kau mau. Aku masih harus berubah dengan sungguh-sungguh.” Maka kita harus tekun, tekun, dan tekun.
    Kita bisa mengalami perubahan demi perubahan karena kita tekun. Siapa yang bertekun sampai akhir, diselamatkan. Bertekun sampai akhir! Itu respons kita. “Aku sudah mati, hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Jangan sampai manusia lama kita masih hidup.
    10 min
  • Anugerah sebagai Umat Pilihan
    Ketika Tuhan Yesus berkata di Lukas 18:8, “Jika Anak Manusia datang di bumi, apakah Ia mendapati iman di bumi?” Ini sama dengan: Kalau Yesus datang, apakah Ia mendapati orang Kristen yang benar-benar berstatus sebagai anak-anak Allah di mata Allah? Berkeadaan sebagai anak-anak Allah? Jangan main-main dengan hal ini! Semua orang Kristen pasti mengaku bahwa dirinya adalah anak-anak Allah. Tetapi, apakah Allah merasa kita itu anak-anak-Nya? Ini yang harus kita persoalkan, karena ini menyangkut sikap hidup kita. 
    Sama seperti orang tua. Mereka merasa bahwa anaknya memperlakukan dirinya sebagai orang tua, maka orang tua akan mengakui si anak ini memang anaknya. Tetapi tidak jarang ada anak-anak yang berperilaku tidak pantas. Sampai orang tua  tidak merasa dia itu anaknya. Apakah Allah merasa kita ini anak-anak-Nya? Di dunia yang semakin gelap, di tengah-tengah suasana dunia yang jahat yang fasik—artinya tidak takut Tuhan, tidak peduli hukum—apakah kita serius berurusan dengan Allah dan memperlakukan Allah dengan benar? Berperilaku sesuai dengan apa yang Allah kehendaki sampai Allah merasa bahwa kita itu anak-anak-Nya? 
    Yohanes 1:12 tertulis, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Hak diberikan oleh Allah, bagi yang menerima Firman, supaya mereka menjadi anak-anak Allah. Ini percaya atau beriman yang benar. Iman dengan kualitas seperti yang tertulis dalam Lukas 18:8. Orang-orang yang menerima Firman Kebenaran dan percaya atau beriman dengan benar adalah “Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Kita semua dilahirkan oleh orang tua kita dan kita pasti mewarisi gen, sifat, karakter orang tua.
    Allah mau kita dilahirkan oleh Dia. Allah tahu, siapa yang telah mengalami kelahiran ini. Orang yang mengalami kelahiran baru pasti mengalami perubahan. Perubahan sesuai dengan apa yang Allah inginkan yaitu sempurna seperti Bapa. Gen dari Bapa harus turun ke anak-anak-Nya. Hal itulah yang diperjuangkan oleh Allah, melalui atau di dalam Roh Kudus. Itulah sebabnya, di dalam Ibrani 12, Firman Tuhan mengatakan bahwa Bapa mendidik kita sesuai dengan apa yang Bapa pandang baik. 
    Sama seperti orang tua di bumi yang mendidik anak-anak mereka supaya anak-anak menjadi baik, menurut pandangan orang tua. Setiap orang tua punya konsep apa itu baik, apa itu sukses. Allah pun memiliki standar. Maka, Ia mendidik manusia yang menerima Yesus, menerima Firman, menerima kebenaran supaya menjadi anak-anak-Nya. Jika seorang Kristen atau orang percaya menerima didikan-Nya, maka dia akan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Ini sama dengan mengalami perubahan kodrat. 
    Bapa kita yang sejati, Bapa segala roh, mendidik kita supaya kita beroleh hidup. Artinya, memiliki zoe (kehidupan) yang berkeadaan berbeda dari sebelum kita dididik. Makanya, kita harus memberi diri dididik sampai mengalami perubahan sesuai dengan apa yang dipandang Allah itu baik, sesuai dengan standar Allah. Inilah yang namanya dilahirkan baru; ciptaan baru. Ibrani 12 mengatakan, ‘beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.’ Artinya kita bisa memiliki keadaan seperti Bapa. Jadi kalau bicara tentang kekudusan, di dalam kata “kudus” termuat potensi atau kemampuan untuk bertindak seperti Tuhan. Berpikir, berperasaan seperti Tuhan. Memiliki gen dari Allah. Dan kesempatan ini mahal sekali, maka:
    Yang pertama, kita harus mengerti bahwa tidak semua orang memiliki anugerah menjadi umat pilihan. Ini merupakan hak prerogatif Allah. Jadi, kalau ada orang yang tidak menjadi Kristen, kita tetap menjadi saksi. Tetapi jangan mengkristenkan dan memaksa ia harus ke gereja. Dia ke gereja untuk apa kalau akhirnya hanya beragama Kristen? Sebab kalau seseorang menjadi Kristen karena ditarik-tarik, diberi bantuan sembako atau karena menikah, dia tidak pernah jadi Kristen yang benar.
    8 min
  • Menemukan Karakter Yesus
    Kita harus melihat ada unsur-unsur dalam diri kita yang bukan kodrat ilahi. Misalnya kita dilukai orang, kita kesal. Itu bukan kodrat ilahi. Kita bisa marah terhadap ketidakbenaran, tetapi tidak usah sampai dendam, mengharapkan orang celaka atau dipermalukan. Itu bukan kodrat ilahi. Pria melihat wanita dengan cara pandang yang salah, itu kodrat manusia. Harus dengan cara pandang yang benar. Melihat kemewahan, rumah bagus, barang bagus, reaksi kita apa? Kita bisa “mengendus,” masih ada tidak di dalam diri kita, kodrat manusia atau kodrat dosa? Waktu kita bercakap-cakap lalu kita menerima pernyataan yang kita tidak suka, lalu kita bereaksi, reaksi kita itu kodrat manusia atau kodrat ilahi?
    Kalau sejak muda kita menganyam, merajut kesucian seperti ini, kodrat dosa kita akan hilang. Jadi, jangan memberi makan; mengumpani kodrat dosa kita. Jangan berkata, “Sekali ini saya berbuat salah, nanti tidak.” Kita akan jadi makin addict; ketagihan. Kita mengingini sesuatu yang tidak patut dan tidak perlu dimiliki, lalu kita ngotot untuk punya, kita umpani keinginan itu. Kodrat dosa atau kodrat manusia menjadi tidak bisa mati. Cara kita membunuh kodrat manusia kita adalah dengan “membunuh” hal-hal tersebut. Kita harus benar-benar mengerti bahwa hidup yang sesungguhnya itu bukan sekarang, tetapi nanti. Jadi tidak heran kalau Tuhan Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” 
    Paulus mengatakan, “Pikirkan perkara yang di atas, bukan di bumi. Kamu bukan dari dunia ini.” itu kata-kata yang sudah normal bagi anak Allah. Masalahnya, bagaimana kita bisa menjadi orang yang “berasal dari atas,” yang nanti bisa tinggal di Rumah Bapa? Yesuslah potretnya. Maka, gereja harus mengajarkan terus kebenaran tentang Yesus itu bagaimana, kebenaran yang diajarkan itu bagaimana. Dan, menstimulasi kita untuk mengenal Dia lewat perjumpaan. Jadi, harus ada perjuangan yang benar-benar serius. Bukan hanya belajar Alkitab, mendengar khotbah, mengerti cara memandang hidup. Kita juga harus masuk dalam cara hidup, gaya hidup yang dikenakan Yesus. 
    Perjumpaan-perjumpaan dengan Tuhan akan membuat kita menemukan karakter Kristus, yang kita kenakan sesuai dengan kepribadian masing-masing, dan kita bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Kita harus sadar ketika Yesus membeli kita, Bapa memberikan Anak-Nya membeli kita, berarti kita bukan milik kita sendiri. Kita mau diubah sesuai dengan kehendak Allah, menjadi manusia versi-Nya, manusia jenis lain. Maka, Tuhan berhak mengubah kita. Masalahnya, banyak kita yang memberontak, tidak mau diubah. Kita bukan boneka, dan Allah punya tatanan. Ia tidak memaksa kita berubah. Kita yang harus rela diubah. Kalau kita menolak diubah, berarti memberontak. “Kamu bukan milik kamu sendiri. Kamu ditebus dengan harga yang lunas dibayar. Muliakanlah Allah dengan tubuhmu,” artinya jadilah manusia yang memuliakan Allah. 
    Memuliakan Allah itu bukan hanya di gereja, melainkan di seluruh waktu hidup kita, di mana pun kita berada. Kita tidak bisa merindukan Tuhan tanpa merindukan karakter-Nya. Kita harus merindukan bagaimana memiliki karakter-Nya dan cara hidup-Nya. Maka, kita belajar hidupnya Tuhan Yesus. Kalau kita gagal memandang hidup artinya kita gagal memiliki hidup. Kalau kita gagal memandang cara hidup yang benar, maka kita tidak punya hidup. Cara hidup yang benar adalah Yesus. Kalau kita merindukan Tuhan Yesus, kita harus merindukan cara hidup-Nya. Baru kita lebih berharga dari permata. Harus ada passion dan ambisi yang kuat untuk memiliki karakter Kristus.
    Cara pandang kita banyak yang sudah sesat. Secara nalar logika, kita mengerti hal ini, tetapi sulit untuk mengenakannya, karena sudah terlanjur salah. Bertahun-tahun cita rasa jiwa kita sudah keliru. Maka, mengubahnya bukan sesuatu yang mudah. Kita sudah telanjur mengadopsi cara hidup manusia di sekitar kita. Kalau Paulus, ia melewati proses perubahan sampai bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…