Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Dianggap Remeh
    Kalau kita bisa keluar dari konsep pikiran duniawi lalu masuk ke konsep pikiran rohani—seperti yang tertulis dalam Kolose 3:2, “Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi; set your minds on things above, not on earthly things”—berarti kita bisa memperjuangkan diri menjadi orang yang benar-benar hidup berkenan di hadapan Tuhan. Hidup kita akan sangat berdinamika. Satu dinamika yang tidak dikenal oleh anak-anak dunia, yang juga tidak kita kenal sebelumnya. Sebagai perbandingan—walaupun tidak sama persis—misalnya kalau ada orang yang terpapar ajaran doktrin atau indoktrinasi yang salah, contohnya “jika menjadi teroris, akan masuk surga dan dilayani oleh para malaikat,” maka ia akan mengisi pikirannya dengan bagaimana caranya agar dia bisa punya uang untuk membeli komponen-komponen untuk merakit bom. Biasanya dia akan menutup diri dari lingkungan, supaya tidak dikenali aktivitas kehidupannya. Dinamika hidupnya menjadi berbeda dengan orang di sekitarnya. 
    Kalau kita bisa memasuki kehidupan kristiani, maka kita akan memiliki dinamika hidup yang luar biasa. Perkara-perkara rohani menjadi satu-satunya perkara sebagai isi dan tujuan hidup kita. Apalagi kalau bisa sampai melangkah bagaimana menjadi orang terkemuka di hadapan Tuhan. Dinamika hidup kita pasti berubah total. “Jika Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu juga menyatakan diri bersama-sama dengan Dia di dalam kemuliaan.” Meskipun kita sekarang tidak dipandang, tidak dianggap, tidak punya nilai di mata manusia, tidak apa-apa. Tetapi jika Kristus yang adalah hidup kita—artinya dinamika anak-anak Allah yang standarnya adalah Yesus—maka ketika Yesus menyatakan diri, dimuliakan oleh Bapa, kita pun akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia. 
    Saat ini, banyak orang yang tidak memedulikan nilai-nilai kekekalan atau hal-hal rohani, apalagi soal kemuliaan bersama Kristus. Tetapi suatu hari nanti—jangankan hal dimuliakan bersama Yesus—kalau sampai tidak masuk langit baru bumi baru, itu sudah merupakan bencana atau celaka bagi mereka. Kalau bagi seorang siswa atau mahasiswa yang penting naik kelas saja, mungkin dia bisa naik kelas juga. Tidak menjadi juara, tidak ada di dalam ranking, tidak berprestasi pun tidak apa-apa. Tetapi hal ini jangan kita coba paralelkan atau analogikan dengan kekekalan. Kalau untuk masalah dunia fana, tidak bisa dibandingkan atau disandingkan dengan kemuliaan kekal. 
    Banyak orang terbiasa menyelesaikan masalah dengan mudah karena punya uang atau relasi pejabat, sehingga ada kecenderungan irama dalam jiwanya untuk menggampangkan atau meremehkan masalah yang dialami karena merasa bisa dengan mudah menyelesaikan dengan daya yang dimiliki. Jika ini terus-menerus dilakukan tanpa pertobatan, maka mengenai hal kekekalan pun dia akan anggap ringan dan remeh. Biasanya, orang-orang seperti ini tidak menghormati Tuhan. Orang-orang yang punya kelebihan—apakah uang, jabatan, kedudukan—biasanya tidak menghormati Tuhan secara patut. Apalagi kalau dia berhasil “membeli” pendeta, lengkaplah sudah sikap kurang ajarnya. 
    Jika ia merasa bisa “membeli” pendeta, biasanya dia juga merasa bisa “membeli” Tuhan. Makanya bagi para hamba Tuhan, khususnya para pendeta, mestinya berani berkata, “Aku lebih rela tidak punya jemaat, tidak punya gedung, tetapi aku berkenan di hadapan Tuhan. Daripada punya gereja, punya gedung, lalu menjual diri atau menjual Tuhan.” Seseorang bisa tahu bahwa dirinya bisa menaklukkan pendeta atau tidak. Dalam hati dan pikirannya, ia berkata, “Pendeta ini hormat karena aku punya kedudukan. Pendeta ini tunduk karena uangku.” Apalagi mereka adalah orang-orang yang berpengalaman dalam hidup. Mereka juga punya kecerdasan, dan sudah terbiasa disanjung-sanjung oleh orang sekitarnya.
    Orang yang punya kelebihan—baik kekayaan, kedudukan, gelar, prestasi, dan sebagainya—kalau tidak dihancurkan Tuhan, maka dia akan merasa lebih tinggi dan lebih hebat dari orang lain. Bahkan, Tuhan pun akan dia anggap remeh. Namun,
    9 min
  • Mencemooh Tuhan dengan Perbuatan
    Dunia ini akan berakhir. Namun kenyataannya, masih ada orang Kristen yang terjebak dalam pemikiran orang-orang yang tidak mengenal Allah. Firman Tuhan mengatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan kepadamu. Jangan khawatir mengenai apa yang kau makan atau minum atau hal-hal fana, karena itu dicari orang-orang yang tidak mengenal Allah.” Ironis, jika kita terjebak dalam atmosfer berpikir seakan-akan yang namanya hidup itu hanya sekarang; setelah kematian tidak ada kehidupan. Mestinya, kita berpikir kehidupan yang sesungguhnya yang Allah rancang untuk kita, umat pilihan, adalah nanti setelah kematian. 
    Atmosfer berpikir seperti itu merupakan jebakan, penyesatan. Mengapa masih ada yang berpikir demikian? Ya, karena pengaruh lingkungan, filosofi, cara berpikir dunia yang kita warisi dari orangtua, diserap dari lingkungan, pendidikan, pergaulan, dan dunia yang makin fasik dan ateis. Banyak orang yang pikirannya sudah disesatkan, “Kata mereka: di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Orang yang tidak memercayai bahwa Tuhan akan datang kembali atau dunia akan berakhir adalah orang yang tidak memercayai bahwa ada kekekalan. 
    Maka, mereka mengejek Tuhan dengan perbuatan. Tidak sadarkah kita bahwa kita pun kerap mengejek Tuhan dengan tindakan? Karena prinsip, filosofi hidup yang mencengkeram jiwa kita bahwa seakan-akan kehidupan itu hanya sekarang ini. Sehingga kita tidak mampu meyakini ada kehidupan di balik kematian. Mungkin kita percaya, tetapi percayanya lemah, tidak menguasai, tidak mencengkeram pikiran. Sejatinya, ada pengharapan itu dan kita ingin segera ke sana. Sebagaimana seseorang yang ingin imigrasi ke luar negeri. Melihat kehidupan orang di suatu negara yang begitu nyaman, ada jaminan untuk mereka yang menganggur, anak-anak sekolah tidak membayar, maka ia yakin kehidupan di sana lebih nyaman dari tempatnya.
    Pertanyaannya, apakah kita tidak yakin bahwa surga lebih indah daripada bumi ini? Masalahnya, banyak orang tidak yakin betul. Orang kaya atau hebat bagaimanapun, akan berpisah. Maka, persiapkan diri kita untuk kumpul bersama di surga. Apa yang kita bisa capai dan miliki? Sebab akhirnya kita akan berpisah satu dengan yang lain. Pedih sekali. Tetapi kita punya pengharapan: langit baru bumi baru. Tuhan melatih kita untuk memikirkan kekekalan dengan serius. Tetapi kalau kita tidak berubah—walaupun Kristen, mengaku percaya ada surga—ketika di ujung maut, kita tidak akan sanggup memercayai ada surga. Kita akan ketakutan. Maka, jauh-jauh hari kita harus memindahkan hati di surga. 
    Kita sering lebih mengutamakan hal-hal fana dan segala kesenangan, daripada mencari Tuhan dan belajar Firman-Nya. Perilaku kita tidak menunjukkan bahwa ada Kerajaan Surga, kekekalan, Allah yang hidup yang kepada-Nya kita harus menyerahkan segenap diri. Berarti kita mencemooh atau mengejek Tuhan dengan perbuatan yang tidak serius berurusan dengan Allah yang hidup dan kekekalan. Kita harus minta pimpinan Roh Kudus, agar Tuhan dapat berbicara banyak. Kita jarang mendengar suara Roh Kudus, karena kita tidak mempedulikan suara-Nya. Banyak hal yang kita pikirkan, tetapi kita tidak membuka telinga mendengar suara Roh Kudus. 
    Kalau kita menyanyi “kuperlu Kau, Tuhan, pegang tanganku,” hanya karena masalah sakit-penyakit, ekonomi, rumah tangga, dibenci orang, masalah hukum. Kenapa kita tidak membawanya untuk masalah kekekalan? Jangan menunggu di ujung maut, ketika kita mau menghembuskan nafas terakhir, baru berkata: “kuperlu Kau, Tuhan, pegang tanganku.” Terlambat! Kita tidak akan mampu menjangkau Allah, karena Allah tidak bisa dijangkau saat itu. Allah sudah tidak memberi kesempatan, seperti Esau yang menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan. 
    Mari kita persoalkan bukan hal-hal fana dunia, supaya kita berhenti mencemooh Tuhan dengan perbuatan.
    8 min
  • Kemapanan Hidup
    Sejak kecil, cara berpikir kita telah dibentuk oleh lingkungan, yaitu bagaimana memiliki sebuah kehidupan yang mapan. Mapan artinya kokoh, tidak goyah, stabil, dan selalu berkeadaan baik. Biasanya, kemapanan diukur dari keahlian seseorang yang dapat menjadi modal untuk jabatan atau pekerjaan supaya memperoleh uang; atau bagi orangtua, untuk mempersiapkan warisan. Kemapanan lebih diteguhkan oleh prestasi mengumpulkan uang dan memiliki berbagai fasilitas. Lebih lengkap lagi, kalau memiliki kekuasaan atau memiliki relasi dengan pejabat tinggi, untuk membuat hidup lebih aman dan terjamin.
    Filosofi hidup seperti ini sudah mengakar di dalam diri semua kita. Filosofi ini sudah menjadi belenggu dalam pikiran semua manusia, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen. Sehingga, dalam stadium atau level tertentu—karena kurangnya pengajaran yang diserap, kurangnya pergumulan dan pergaulan kita dengan Tuhan—kita tidak pernah memperkarakan bagaimana menyelenggarakan hidup seperti hidup Yesus. Sebab, mengikut Tuhan Yesus bukan sekadar beragama Kristen, melainkan juga mengikuti jejak-Nya. Itulah sebenarnya martabat kita. The great man before God; menjadi orang besar dan mulia di hadapan Tuhan.
    Orang yang salah memahami kemapanan tidak mungkin menyelenggarakan hidup sesuai dengan moral Tuhan Yesus. Banyak orang berpikir bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti memiliki jaminan penyelenggaraan hidup di dunia ini. Hal ini dilandaskan pada keyakinan bahwa Tuhan bukan saja baik, melainkan juga kuat. Mereka tidak mengerti isi kebaikan Tuhan; “baik” menurut Tuhan itu apa dan bagaimana. Dan tentu saja mereka juga tidak memahami kehendak dan rencana-Nya. Mereka berpikir, dengan percaya kepada Tuhan maka Tuhan akan memelihara hidup mereka seperti yang mereka idamkan.
    Banyak orang Kristen mau mengikut Tuhan Yesus dengan caranya sendiri, bukan dengan standar Tuhan atau Injil. Dan dunia kita ini semakin jahat, semakin jauh dari kebenaran orisinal yang diajarkan Tuhan Yesus. Sejujurnya, dewasa ini banyak pembicara Kristen yang menyesatkan umat; gereja keluar dari rel yang Tuhan Yesus gariskan. Kekristenan hanya menjadi agama dengan berbagai atribut dan berbagai ciri keberagamaan. Mereka mengajarkan bahwa ikut Tuhan Yesus dapat membangun kemapanan di bumi. 
    Pemikiran seperti ini adalah pemikiran orang beragama pada umumnya. Mereka akan mempromosikan bahwa allahnya benar, dan itu ditandai dengan kesuksesan mereka dalam karier, berpolitik, kekuasaan, makmur jasmani, dll. Ini adalah pemikiran sesat; pemikiran orang beragama pada umumnya. Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang berurusan dengan Tuhan hanya karena ingin membangun Firdaus di bumi. 
    Tuhan bukan tidak memedulikan kita, tapi Tuhan mengajak kita untuk memiliki kehidupan yang mapan di dalam Dia. Orang yang mengingini kehidupan yang mapan seperti konsep orang-orang dunia adalah orang yang mencintai dunia dan sedang berkhianat kepada Tuhan; dalam proses berkhianat total kepada Tuhan. Sebab, Tuhan tidak pernah mengajarkan untuk mencari kemapanan di bumi. Ini yang Tuhan ajarkan: “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). 
    Mengikut Tuhan Yesus berarti hidup dalam ketidakmapanan, seperti cara hidup Tuhan Yesus ketika Ia mengenakan tubuh manusia yang berdaging. Orang yang mengingini kemapanan di bumi adalah orang yang membangun kerajaannya sendiri. Jangan harap orang orang yang membangun kemapanan di bumi mewarisi Kerajaan surga bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Maka, selagi ada kesempatan, mari kita bertobat. Bertobat itu bukan hanya perubahan kelakuan, tapi perubahan cara berpikir yang menyebabkan perubahan kelakuan. Bukan hanya masalah moral umum, melainkan juga batiniah kita yang makin dibaharui. Dan jangan minta apa-apa, selain ini: “aku mau berkenan pada-Mu.” Apa yang kita “butuhkan” (bukan yang kita ingini) yang Bapa tidak penuhi? Tidak ada.
    Alkitab mengatakan,
    10 min
  • Jangan Meragukan Kebaikan Bapa
    Allah sebagai Bapa, benar-benar menginginkan kita memiliki keberadaan seperti Dia. Allah tidak menahan berkat-Nya karena Ia benar-benar ingin kita berkodrat iIahi. Bapa ingin kita mengambil bagian di dalam kekudusan-Nya, seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 1:3-4, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” 
    Jangan meragukan kebaikan Bapa, kehendak Bapa, usaha Bapa, untuk mengubah kita. Masalahnya pada kita, kita sering kurang atau tidak memiliki kerinduan yang kuat untuk berkodrat ilahi. Kita merasa hal itu tidak dapat dicapai atau menganggapnya tidak penting. Mari mengubah cara berpikir yang salah. Jangan hidup di dalam kesesatan! Kita harus berpikir dengan benar, bahwa Bapa di surga sangat menginginkan kita berkeberadaan seperti Diri-Nya. 
    Maka, Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa” (Mat. 5:48). Dalam Yohanes 1:12-13 dikatakan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”
    Hal ini melalui proses, karena Bapa mau menggarap kita seperti janin di dalam kandungan yang dirawat sampai lahir menjadi anak manusia dan bertumbuh dewasa, sempurna. Kita harus benar-benar memberi diri! Yakinlah Allah Bapa menghendaki kita berkodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Sungguh suatu keniscayaan, artinya kita bisa benar-benar mencapainya. Untuk itu, kita harus memberi diri diubahkan Tuhan dan tetap dalam persekutuan dengan Allah. Kita selalu minta petunjuk dan bimbingan Bapa; bagaimana bisa mengalami kelahiran baru dan menjadi manusia baru. 
    Bukan hanya merasa-merasa saja, lalu mengaku telah mengalami kelahiran baru. Benar-benar berproses; dari Firman yang didengar, pengalaman hidup di mana Allah mendewasakan kita melalui kejadian. Berproses terus sampai kita dapat mengalami dan merasakan bagaimana menjadi manusia baru di dalam Tuhan yang terus-menerus dibarui. Sering kali, kebanyakan orang Kristen beperkara dengan Tuhan bukan untuk masalah prinsip; yaitu menjadi manusia baru di dalam Tuhan yang berkodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kesucian Allah. Sering kita sibuk dengan banyak urusan fana.
    Tidak salah kita berdoa dan memperkarakan masalah-masalah fana dengan Allah Bapa. Memang Bapa juga menghendaki agar kita membawa seluruh permasalahan hidup kepada Tuhan. Tetapi mestinya yang menjadi masalah utama adalah diri kita; bagaimana menjadi manusia baru di dalam Tuhan, bagaimana berkodrat ilahi dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Di situlah kita benar-benar menjadi manusia baru yang mengalami kelahiran baru. Jadi kelahiran baru bukan sesuatu yang sederhana. Jangan dinaifkan, dipermiskin, didangkalkan dengan pengertian yang sempit, salah, bahkan meleset. 
    Jangan berpikir kalau sudah rajin ke gereja berarti lahir baru. Jangan berpikir kalau sudah menjadi seorang yang bermoral baik berarti sudah mengalami kelahiran baru. Agama-agama di dunia juga mengajarkan hal tersebut. Lalu apa bedanya dengan kelahiran baru, menjadi manusia baru di dalam Tuhan? Menjadi manusia baru berarti berkodrat baru, berkodrat ilahi. Itu indah sekali. Luar biasa! Sampai kita tidak bisa berbuat salah. Kalau masih meleset—dengan perkataan atau tulisan di media sosial—berarti kita belum bersih menjadi manusia baru. Kita belum menjadi manusia baru yang ideal, seperti yang Allah kehendaki. 
    Firman Tuhan benar-benar harus kita perhatikan.
    8 min
  • Berkat Jasmani
    Selama kita hidup, kita bisa makan enak, tidur nyenyak, berlibur, memakai pakaian bagus, memiliki fasilitas rumah, kendaraan, dan hal lain yang menyenangkan. Namun, sebenarnya pada akhirnya kita akan mati juga. Banyak manusia yang hidup dalam siklus seperti itu. Betapa bodohnya dan ironis, karena kita semua ada di dalam siklus hidup seperti itu. Itulah irama hidup manusia pada umumnya. Betapa sedihnya hati Bapa—yang telah menyediakan kediaman kekal bagi kita, yang akan memberikan kita tubuh kebangkitan, tubuh kemuliaan seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, dan yang akan mempermuliakan kita bersama-sama dengan Yesus—melihat kita sibuk dengan siklus hidup yang tidak peduli dengan penggarapan Allah. Padahal, Allah menyediakan berkat rohani-Nya setiap hari; berkat untuk memperbaharui manusia batiniah kita. 
    Kalau kesetiaan Tuhan hanya diukur dengan berkat jasmani, betapa miskinnya pengertian kita. Kasih setia Tuhan harus diukur dengan ukuran yang benar. Berkat jasmani bisa saja diberikan oleh Iblis. Seperti ketika Yesus dibawa ke tempat tinggi lalu ditunjukkan kepada-Nya kemuliaan dunia ini, Iblis berkata, “aku berkuasa memberi kepada siapa saja.” Jadi berkat jasmani pun setan bisa beri, tetapi berkat rohani yang membawa seseorang kepada kehidupan sempurna, kehidupan sesuai rancangan Allah semula, hanya bisa diberikan oleh Allah. Dan itu hanya disediakan bagi orang percaya; yaitu kita, yang dikasihi Tuhan. Masalahnya, apakah kita memperhatikan berkat rohani itu atau tidak? Atau kita lewati begitu saja karena fokus kita hanya kepada perkara-perkara jasmani? 
    Apakah gunanya orang beroleh segenap dunia, kalau jiwanya binasa? Mari kita sadar, betapa sedih dan luka hati Bapa yang memberikan Putra Tunggal-Nya dan menyediakan penggarapan-Nya setiap hari, namun tidak dipedulikan oleh kita. Tuhan merancang segala sesuatu di dalam kehidupan kita agar kita mengalami perubahan-perubahan. Tetapi kalau fokus kita tidak tertuju kepada perkara-perkara rohani, sia-sia apa yang Allah sediakan itu. Oleh sebab itu, mari kita berambisi untuk menjadi orang yang benar-benar kudus di hadapan Allah, menurut penilaian Tuhan. 
    Kita harus benar-benar fanatik dan serius untuk hal ini. Jika kita memiliki ambisi yang kudus ini, bertekad dan berniat kuat untuk hal ini, kita pasti akan memperhatikan setiap berkat rohani yang Allah sediakan dari hari ke hari. Tetapi sebaliknya, kalau kita tidak punya ambisi yang kuat untuk menjadi kudus menurut standar Tuhan, kita tidak akan memedulikan atau menyadari bahwa ada berkat rohani yang menyempurnakan kita. Meteraikan ini di hati kita masing-masing. Rencana Bapa itu lebih dari sekadar mendapatkan jodoh yang terbaik, anak yang sempurna, sukses karier, sukses studi, sukses bisnis, dll. 
    Hanya umat pilihan yang memiliki Roh Kudus di dalam dirinya. Firman membuka mata kita sehingga kita memiliki kecerdasan roh dan mengerti kehendak Allah. Allah mendesain segala peristiwa dan kejadian, tapi kalau kita tidak pernah berdialog dengan Roh Kudus dalam doa pribadi, bagaimana Roh Kudus bisa bermanuver aktif dalam diri kita? Banyak orang mendukakan Roh Kudus dimana Roh Kudus dibiarkan, sehingga berkat yang disediakan baginya hari itu, terlewat begitu saja. Roh Kudus mau membawa berita dari Bapa, mau menyampaikan nasihat-nasihat-Nya, tapi kita sia-siakan. 
    Berapa banyak di antara kita yang berani keluar dari siklus hidup wajar seperti ini? Hati kita itu licik. Sering kita tidak sadar bahwa kita punya kesombongan terselubung, keserakahan terselubung, keinginan-keinginan daging yang masih menetap walaupun belum terekspresi. Kalau kita duduk diam di kaki Tuhan, kita berdoa, semua dosa-dosa kita bisa diangkat dan diungkap Tuhan agar kita bereskan. Peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami, bisa kita baca, apa maksud Tuhan di balik semua itu. Supaya berkat yang Tuhan sediakan lewat masalah-masalah itu bisa kita tangkap dan bisa mendewasakan kita. Maka, kita harus memiliki ambisi yang kuat untuk mencapai k...
    10 min
  • Menghayati Kehadiran-Nya
    Sering ada pertanyaan: mengapa Tuhan seperti pelit berbicara, seakan-akan Tuhan menahan suara-Nya untuk kita dengar? Memang kenyataannya, sedikit sekali orang yang bisa mendengar suara Tuhan. Padahal, mestinya setiap saat kita membutuhkan petunjuk, bimbingan suara Tuhan. Di Alkitab, kita menemukan tokoh-tokoh iman, mereka adalah orang-orang yang selalu berdialog dengan Tuhan. Walaupun kelihatannya tidak ada kisah mengenai dialog tersebut, tetapi mereka peka terhadap apa yang Allah kehendaki untuk mereka lakukan. 
    Di Alkitab, kita tidak menemukan Yusuf, anak Yakub, berdialog dengan Tuhan. Tetapi, Yusuf bisa mengartikan mimpi beberapa kali. Hal itu menunjukkan sebuah percakapan yang terus-menerus antara Yusuf dengan Allah. Inilah yang kita harus pelajari. Ini kabar baik karena kita diperkenan untuk bergaul dengan Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi. Betapa luar biasanya menjadi anak bagi Allah yang menjadi Bapa kita, dan Bapa juga berkenan berinteraksi, berdialog dengan kita. 
    Satu hal yang kita harus percaya dan terima bahwa Allah itu hidup, hadir, dan nyata. Di dalam Ibrani 11:6 firman Tuhan mengatakan: “tetapi tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Allah itu ada, hidup, dan Mahahadir. Kita harus memercayai keberadaan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa kita. Seluruh indera, seluruh saraf kita harus dicengkeram oleh keyakinan terhadap keberadaan Allah.
    Bagaimana kita bisa dicengkeram oleh kehadiran Allah? Maka, jiwa kita harus dicengkeram oleh kehadiran Tuhan, sehingga secara otomatis kita percaya dan menghayati mengenai keberadaan Allah. Kita harus melatihnya. Salah satunya dengan cara selalu merenungkan dan menghayati keberadaan Allah. Kita memancing jiwa dan seluruh indera kita untuk menghayati kehadiran Allah. Kita katakan, “Allah hidup, Allah Mahahadir, Allah ada, Allah nyata.” Kita perkatakan terus, sampai kita tidak perlu mengatakan lagi karena seluruh saraf kita sudah tercengkerami oleh kehadiran Tuhan. Sulit untuk tidak percaya Allah tidak ada. Kita akan sangat yakin bahwa Allah itu ada. 
    Mari kita melatihnya, meskipun kedengarannya konyol, jadi seperti anak-anak. Tetapi, ini latihan yang harus kita lakukan. Allah ada, nyata, dan hadir; perkatakan terus, agar kita menghayati dan semakin yakin keberadaan-Nya. Kenyataannya, banyak orang yang tidak percaya atau setengah percaya Allah itu ada, sampai mereka tidak bisa percaya kalau Allah itu ada. Buktinya, banyak orang Kristen sembarangan dalam berperilaku, berbicara, dan bertindak. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak yakin Allah ada dan hadir. Lebih nyata kalau orang tidak percaya Allah itu ada, adalah ketika berbuat sesuatu yang melanggar hukum, norma etika, dan melanggar kesucian Allah. 
    Kita harus mengakui, menyadari dengan sepenuhnya bahwa kita masih melakukan hal-hal yang tidak pantas, serta tidak ada perasaan takut akan Allah. Penyebabnya karena kita tidak menghayati keberadaan atau kehadiran Allah. Refleks emosi kita sering kali tidak menunjukkan bahwa Allah itu hadir. Sedikit tersinggung, kita mengamuk dan melakukan hal yang melukai orang lain. Selain refleks emosi, juga terpancar dari refleks dalam ketersinggungan, bohong, sombong, dan sebagainya. 
    Begitu ada kesempatan untuk menyombongkan diri, dengan mudah kita bersikap sombong. Dalam percakapan, begitu ada kesempatan mengangkat diri, meninggikan diri, refleks kita melakukannya. Itulah refleks-refleks dosa yang kita alami dan lakukan. Kita sudah mengalami dan melakukan hal tersebut selama bertahun-tahun. Belum lagi refleks-refleks dosa yang lainnya. Oleh sebab itu, agar kita bisa belajar mendengar suara Tuhan, karena sebenarnya Tuhan tidak pelit berbicara, pasti Ia akan berbicara kepada kita, hendaknya kita mulai dulu dari menghayati keberadaan Allah,
    10 min
  • Sembarang Orang
    Allah berurusan hanya dengan orang yang sungguh-sungguh mau berurusan dengan Dia. Allah tidak akan berurusan dengan orang yang tidak mau berurusan dengan diri-Nya. Siapa orang-orang yang berurusan dengan Allah? Pertama, orang yang hidupnya kudus. Kedua, orang yang menyediakan diri untuk memiliki tempat di hadapan Allah, mengabdi, melayani-Nya, hidup di dalam rencana Allah. Setiap kita memuat, mengandung, memikul rencana Allah. Banyak orang merasa hidupnya sudah hancur. Hancur pernikahannya, hancur usahanya, sehingga ia merasa tidak memiliki tempat di hadapan Allah, dan bukan orang istimewanya Tuhan. Padahal, kita itu orang-orang istimewa Tuhan yang oleh karenanya Bapa mengutus Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus. 
    Allah mengasihi kita. Kita berharga, kita berarti di mata-Nya. Oleh sebab itu, jika kita berharga dan berarti di mata Allah, maka kita harus masuk di dalam ladang pekerjaan Tuhan. Mungkin tidak harus jadi aktivis jemaat, tetapi di mana pun kita menjadi berkat bagi orang lain. Kita menggiring orang kepada keselamatan yang sejati di dalam Yesus Kristus. Setiap kita pasti punya tempat. Bisa saja kita dipakai untuk menyelamatkan orangtua, menantu, anak, dan cucu-cucu kita. Maka, sebelum kita “tidur” di kuburan, kita harus terus bekerja. Jangan berhenti bekerja sampai nafas kita berhenti, jantung berhenti berdetak, nadi berhenti berdenyut, baru kita tidak lagi bekerja untuk Tuhan. 
    Selama kita masih memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut, kita harus berusaha mencari tempat untuk bisa berbakti dan mengabdi kepada Tuhan. Orang yang memberi diri, berbakti kepada Tuhan untuk memenuhi rencana-Nya adalah orang yang sungguh-sungguh dan benar-benar memberi diri berada di ladang Tuhan. Mereka akan mendengar suara Tuhan. Tuhan tidak akan berbicara kepada sembarang orang. Orang yang hidup hanya untuk kesenangan diri sendiri, mungkin diberi kesempatan Tuhan untuk berubah dan bertobat. Tetapi kalau sampai tidak bertobat, maka tidak ada ampun. Kenyataannya ada orang-orang yang tidak bisa diperbaiki lagi, sebab sudah terlalu rusak. 
    Orang yang demikian tidak akan bisa melihat kemuliaan Allah, apalagi mendengar suara Tuhan. Mereka tidak hidup di dalam rencana Allah, tetapi hidup untuk dirinya sendiri. Jangan sampai kita seperti itu. Mari kita hayati kehadiran Tuhan. Kemudian, kita hidup di dalam kesucian Allah. Jangan terikat dengan percintaan dunia. Hendaknya kita juga hidup dalam rencana keselamatan Allah atas dunia atau melakukan pekerjaan Tuhan. Di mana pun kita berada, pasti ada tempat bagi kita untuk mengabdi dan melayani Tuhan. 
    Jangan sampai kita terkecoh atau tertipu oleh Iblis dengan perkataan: “kamu saja tidak bisa mengurus dirimu sendiri. Kamu sendiri lihat, kamu tidak bisa mengurus dirimu sendiri, apalagi menjadi berkat bagi orang lain.” Memang, ada orang yang sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak pernah sibuk dengan Tuhan. Tetapi ada orang-orang yang menyediakan diri untuk sibuk dengan Tuhan. Ada juga orang yang tidak terlalu mau sibuk dan yang memberikan porsi yang terbatas untuk pelayanan. Padahal yang benar, bagi kita yang telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, hidup kita hanya untuk Tuhan, untuk kepentingan-Nya; bukan untuk kepentingan diri sendiri. 
    Orang-orang yang hidup di dalam rencana Allah, yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, mereka adalah orang-orang yang peka mendengar suara Tuhan. Memang ada orang-orang Kristen baru yang bisa mendengar suara Tuhan, dan kelihatannya Tuhan mengistimewakan orang itu untuk bisa mendengar suara-Nya. Orang yang hidup hanya untuk pelayanan Tuhan, pasti orang-orang itu mendengar suara Tuhan. Tetapi, ada juga orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tuhan tidak perlu bicara kepada orang-orang seperti ini. 
    Ada orang yang sibuk dengan dirinya sendiri, maka Allah tidak mau bicara kepada mereka. Untuk apa Tuhan bicara? Kalau dia orang Kristen baru, mungkin Tuhan masih mau berbicara.
    8 min
  • Mengistimewakan Allah
    Kalau kita berkata, “Datanglah Kerajaan-Mu,” berarti seluruh kehidupan kita menjadi proyek surga. Apa pun yang kita lakukan, itu merupakan proyek pekerjaan Allah. Kita bisa mengerti, mengapa firman Tuhan mengajarkan kepada kita, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Namun pada umumnya, manusia hidup hanya untuk dirinya. Demikianlah cara hidup, gaya hidup dari manusia pada umumnya atau hampir semua, yaitu menjalani hidup untuk kepentingan, kesenangan diri dan keluarga. Mari kita fokus hanya memiliki satu kepentingan, yaitu menyenangkan Tuhan. Percayalah, Tuhan akan mengistimewakan kita. 
    Oleh sebab itu, yang pertama, kita harus menyadari bahwa kita ini umat pilihan. Kita tidak sama dengan manusia lain yang bukan umat pilihan. Kita itu istimewa sekali! Jangan hanya memandang keistimewaan dari sudut perlakuan Allah terhadap kita. Kita pasti diperlakukan Allah istimewa. Tetapi istimewa kita juga harus dilihat dari aspek bagaimana sikap kita terhadap Allah. Maka, kita pun harus mengistimewakan Tuhan dengan cara menyenangkan hati-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan, menyenangkan Dia. Allah tidak pernah memberi yang tidak terbaik. Allah sebagai Bapa bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi kita. 
    Bagaimana sikap kita terhadap Allah yang baik, yang tidak pernah memberikan yang tidak terbaik, yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita? Apakah kita juga mengistimewakan Dia? Kalau kita mengistimewakan Dia, kita harus sungguh-sungguh menujukan seluruh kegiatan kita untuk Kerajaan Allah. Allah memiliki rencana keselamatan atas dunia ini. Allah tidak memakai siapa-siapa, Allah hanya memakai umat pilihan. Sebenarnya harus diterima sebagai kehormatan, jika kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi. Allah Yang Mahabesar, sebenarnya bisa tidak memerlukan kita sama sekali, karena Allah itu Mahabesar dan sanggup berbuat segala hal. 
    Kalau Allah berkenan melibatkan kita di dalam pekerjaan-Nya, betapa luar biasa! Karenanya, setiap lembar rupiah, setiap tetes keringat kita, harus menjadi sesuatu yang berarti untuk pekerjaan Tuhan. Tuhan sebenarnya tidak punya kepentingan. Tetapi karena kasih Tuhan yang besar terhadap kita, Ia ingin kita berkeadaan baik-baik. Baik-baik dalam segala hal, artinya kita bisa bersekutu dengan Allah dan layak masuk surga. Kalau orang tidak menjadi alat kemuliaan Tuhan—artinya menjadi alat kemuliaan yang lain; kemuliaan diri sendiri, kemuliaan setan—maka ia tidak layak dibela.
    Sebagai bapak rumah tangga, kita harus menggerakkan seluruh kehidupan keluarga kita untuk Kerajaan Allah. Sebagai ibu rumah tangga, kita pun harus menujukan seluruh kegiatan untuk Kerajaan Allah. Sebagai anak, juga harus menujukan seluruh kegiatan hidup—sekolah, studi, kuliah, bekerja, berkarier—untuk Kerajaan Allah. Supaya hidup kita dan keluarga kita memiliki tempat di dalam pekerjaan Tuhan, di dalam Kerajaan Allah. Jangan berpikir dengan memiliki prinsip hidup seperti ini, kita kurang bahagia atau kurang senang. Jika kita lakukan, maka kehidupan kita akan berlanjut di kekekalan. Kehidupan kita dalam komunitas keluarga akan berlanjut di kekekalan. 
    Oleh sebab itu, proyek yang paling besar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Bagaimana mengubah terus-menerus hidup kita, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan benar-benar kita tujukan untuk Kerajaan Allah. Tuhan mengizinkan Iblis mencobai kita dengan berbagai kesempatan untuk melampiaskan kemarahan, mengangkat diri, dan/atau dosa-dosa lain. Saat seperti itulah kesempatan menyenangkan Tuhan. Jadi, kita harus tahu bahwa ketika kita “disodori” sesuatu dimana kita bisa memuaskan daging kita, itu adalah kesempatan menyenangkan Tuhan; yaitu ketika kita memilih tidak melakukan apa yang salah.
    Tetapi kenapa hidup begitu sulit? Karena kita tidak berdamai dengan Allah secara benar.
    10 min
  • Men-setting Pikiran
    Sangat sedikit orang yang memberi nilai tinggi terhadap perkara-perkara rohani, yaitu hal-hal yang menyangkut kekekalan. Bahkan, mungkin kita juga belum menempatkan perkara-perkara rohani atau hal-hal kekekalan di tempat tinggi. Mestinya atau standarnya adalah hal-hal rohani atau perkara-perkara kekekalan adalah satu-satunya yang bernilai. Tidak ada urutan, tidak ada prioritas. Hanya satu: perkara-perkara rohani kekekalan, yang semua itu terbungkus dalam masalah ketuhanan atau masalah pribadi Allah. Hal ini harus diletakkan pada urutan pertama, bahkan mestinya satu-satunya. Saat ini, kita belajar menempatkan itu di urutan pertama dan nanti akhirnya yang lain akan menjadi luruh atau gugur sehingga kita memiliki satu-satunya yang menjadi tujuan dan isi hidup kita. 
    Jangan berpikir ini berlebihan. Di Perjanjian Lama saja, pemazmur sudah mengatakan, “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau?” Lihat bagaimana proyeksinya sudah ada di kekekalan. Kita bisa melihat dengan jelas, bahwa tidak ada prioritas di situ. Tidak ada prioritas; hanya satu-satunya. Tuhan Yesus juga menegaskan di dalam Matius 6:20, “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Hal itu juga menunjukkan proyeksi, isi tujuan hidup yang tunggal. Nyatanya, memang sedikit sekali orang yang memiliki sikap yang benar terhadap nilai-nilai rohani atau kekekalan.
    Lalu, apa akibatnya? Apa dampaknya? Mereka pasti juga tidak dapat menghormati Tuhan secara utuh atau penuh. Tidak mungkin mereka bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Tidak mungkin tidak ada unsur-unsur duniawi di dalam hidupnya. Kita semua harus serius memperkarakan hal ini. Semua kita, termasuk juga para aktivis dan para pelayan Tuhan. Sampai kita nanti memiliki pemikiran atau pemahaman bahwa ketika kita tidak menjadikan perkara-perkara rohani sebagai isi dan tujuan hidup kita; ketika kita tidak menjadikan kekekalan sebagai isi dan tujuan hidup kita, artinya kita sedang berkhianat kepada Tuhan. 
    Mengapa bisa berkhianat? Harus diingat bahwa Allah Bapa sudah memberikan Putra Tunggal-Nya, Putra kesayangan-Nya untuk kita, supaya kita dibebaskan dari kematian kekal, kita diperkenankan untuk berjalan dengan Allah sejak di bumi, dan kita layak masuk Rumah Bapa. Kalau kita hanya menjadikan ini sebagai suplemen, maka itu benar-benar sikap kurang ajar terhadap Tuhan. Bagaimana tidak dikatakan berkhianat? Bapa menyediakan Roh Kudus agar dalam segala hal Roh Kudus bekerja untuk kebaikan kita, guna mengubah hidup kita dapat serupa dengan Yesus. Maka, kita harus fokus kepada hal-hal kekekalan! Sungguh tak ternilai anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. 
    Jadi, sangat tidak berlebihan kalau firman Tuhan mengatakan, “Carilah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi; set your heart on things above, where Christ is seated at the right hand of God.” Jadi, setting pikiran kita! Kita yang harus men-setting. Kalau tidak, kita akan terbawa oleh arus dunia. Pagi hari kita berdoa, kita men-setting ulang. Bahkan kadang-kadang, kita yang harus me-reset. Misalnya, ketika kita berkumpul dengan teman-teman, pergi keluar negeri 1-2 minggu bersama orang-orang yang tidak takut akan Allah, spirit kita bisa rusak.
    Begitu pula jika kita menonton film. Spirit kita bisa rusak. Film yang dimaksud adalah film-film tidak patut ditonton, tentunya. Sebab, ada juga film-film yang baik dan patut disaksikan. Oleh sebab itu, kita harus me-reset. “Set your heart on things above where Christ is seated at the right hand of God.” Jadi, setting pikiran kita. Kalau kita tidak men-setting pikiran kita, maka dunia yang akan men-setting pikiran kita tanpa kita sadari. Dunia akan men-define pikiran kita. Setiap hari kita harus me-reset. Jangan kita tidak peduli terhadap hal ini. Kita harus merasa terganggu, merasa tidak damai. Jangan sampai damai yang kita miliki adalah damai semu.
    8 min
  • Menanggalkan Manusia Lama
    Orang bisa bicara mengenai kelahiran baru dengan berbagai konsep penjelasan secara sistimatis karena menguasai sistimatika teologi, tapi sering kali itu hanya menyentuh di pikiran. Dan itu telah berlangsung selama berabad-abad. Sekarang kita mau menyentuh hati, makanya kita mencari Tuhan. Logika, kita gunakan maksimal. Tapi perasaan, juga kita gunakan secara maksimal. Untuk itu, kita berdoa setiap pagi, mengikuti kebaktian doa, dan berpuasa. Kita berpuasa bukan karena mau mengalami mukjizat saja, melainkan yang terutama karena kita mau mendapat pencerahan. 
    Kita sendiri harus berubah; mengalami kelahiran baru yang dibuktikan dengan menjadi manusia baru. Kita bisa melihat naluriah manusia kita sendiri, apakah masih ada marah, benci, dendam kepada orang, yang jelas-jelas itu adalah karakter setan. Bahkan, berbuat baik pun kita harus pertanyakan, “Apakah Tuhan mau saya lakukan ini?” Karena, jangan-jangan itu bukan dari Tuhan, melainkan ada motif-motif tertentu di hati kita. Sebagai anak-anak Allah, kita hanya memperagakan maunya Tuhan, mengekspresikan perasaan Tuhan; melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan. Makanya, kalaupun kita berbuat sebaik apa pun, kita tidak bisa sombong. Karena kita hanya memperagakan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita peragakan. Itulah ciri manusia baru. 
    Jadi kalau kita berkata, “miliki pikiran, perasaan Kristus,” itu sama dengan “jadilah manusia baru dengan standar Yesus.” Namun, banyak orang percaya yang keadaannya jauh dari standar ini. Sayangnya, mereka tidak menyadarinya. Mereka tidak merasa perlu untuk menggumuli, dan tidak memandang ini sebagai hall penting dan mendesak. Dalam Efesus 4:22 dikatakan, “yaitu bahwa kamu berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Berapa persen manusia lama yang belum kita tanggalkan? 30% atau masih 100%? 
    Sejatinya, menanggalkan 100% manusia lama itu tidak mudah. Tapi ingat, dalam stadium tertentu, kita akan tidak bisa diubah lagi. Kalau lingkungan kita buruk, manusia lama kita pun buruk dan jahat menurut pandangan ukuran moral umum. Siapa yang bertanggung jawab menanggalkan manusia lama kita? Tentu saja diri kita sendiri. Kita yang harus menanggalkan manusia lama itu setiap hari, bahkan setiap saat. Ketika kita berbuat baik dan kita merasa senang, itu bisa berasal dari manusia lama kita. “Baik” memang, menurut moral umum. Tapi, bukan mengekspresikan perasaan Tuhan. Untuk orang Kristen baru, Tuhan senang-senang saja. Tapi kalau kita sudah mestinya akil baligh, seharusnya kita tidak lagi berbuat baik karena mau berbuat baik. Kita berbuat baik karena Allah kita mau berbuat itu. 
    Ada orang yang demi masa depannya mengikuti kursus—montir, ikan hias, salon, dan lain sebagainya—agar masa depannya lebih terjamin. Berapa pun harganya, dia bayar. Bagaimana dengan kita? Berapa harga yang berani kita bayar untuk merias manusia rohani kita demi hidup kekal? Supaya kita diperbarui dalam roh dan pikiran kita, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan, karena Tuhan menghendakinya. Makanya saat kita mau mengambil keputusan, jika kita sudah melekat dengan Tuhan, dengan kecepatan tinggi kita bisa tahu. Tapi ada saatnya kita harus berdiam diri dan mempertanyakan, “apa yang Tuhan mau harus kulakukan?” Kadang-kadang kalau urusan dengan keluarga—karena ada ikatan keluarga yang menimbulkan rasa sentimentil—kita sering mengambil keputusan di luar pikiran Allah. 
    Kita harus benar-benar menjadi wakil Tuhan yang mengekspresikan pikiran, perasaan dan tindakan Tuhan. Mungkin kita mantan penjahat, orang berdosa, bobrok, rusak, namun kalau kita mengikuti proses yang dikerjakan Roh Kudus sampai lahir baru, kita pasti akan sukses. Kalau Perjanjian Lama berkata, “yang kuingini Engkau saja,” terus terang kita tidak tahu konsep Mazmur 76 itu seberapa dalam. Tapi kalau kita berkata, “yang kuingini Engkau saja,” berarti kita mau mengenakan karakter-Nya, pribadi-Nya,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…