Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kesesatan Manusia
    Mari kita merenungkan dan membayangkan seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa. Maka, Adam menemukan dan menjalani hidup sesuai dengan maksud dan tujuan kehidupan diciptakan oleh Allah. Adam sebagai manusia pertama, sebagai nenek moyang semua manusia, menemukan dan menjalani hidup sesuai dengan maksud Tuhan menciptakan hidup. Maka anak, cucu, cicit, dan seluruh keturunan Adam akan memiliki hidup sesuai dengan hidup yang ditemukan dan dijalani oleh Adam. Hal itu akan terus berlangsung dalam kekekalan. 
    Tidak ada jenis hidup, gaya hidup, model hidup yang lain, selain yang dimiliki oleh Adam yang terus diturunkan, diwariskan kepada semua anak cucu dan keturunannya, sementara Adam sendiri tidak meninggal dunia. Jika manusia tidak jatuh dalam dosa, maka tidak ada kuburan. Tidak tidak ada model hidup selain model hidup yang dijalani oleh Adam yang terus diwariskan kepada semua makhluk manusia. Tetapi ternyata Adam telah jatuh dalam dosa. Belum sampai ribuan tahun, masih di tahun-tahun sesudah itu, pada Kejadian pasal 6, manusia sudah menjadi rusak. Alkitab mencatat, “kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Belum ribuan tahun, “maka menyesallah Tuhan bahwa Tuhan telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” 
    Adam tidak mewariskan model hidup yang mestinya ditemukan dan dijalani untuk diwariskan kepada anak cucunya. Manusia bertambah menjadi jahat. Makin tahun, makin jahat. Alkitab mencatat bahwa kejahatan manusia akan semakin bertambah-tambah menjelang akhir zaman. Inilah zaman kita. 
    Pada umumnya, hampir semua manusia, lahir, melihat model hidup yang diwariskan oleh orangtua dan yang dilihat dari dunia sekitarnya. Model hidup yang tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Dalam Yesaya 53:6, “kita sekalian sesat seperti domba. Masing-masing kita mengambil jalannya sendiri. Tetapi (Yahweh) TUHAN telah menimpakan kepadanya,” maksudnya kepada Anak Tunggal-Nya, Tuhan kita, Yesus Kristus, “kejahatan kita sekalian.” 
    Semua manusia telah sesat, selain berkeadaan sebagai orang berdosa karena mewarisi kodrat dosa dan menjalani hidup yang tidak sesuai dengan model yang Allah kehendaki. Tidak usah menunggu ribuan tahun, masih zaman purba saja kejahatan manusia begitu besar sampai memilukan hati Allah. Manusia sesat adalah manusia menjalani hidup tidak sesuai dengan model yang Allah kehendaki. Manusia mengambil jalannya sendiri, bukan jalan Tuhan. 
    Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini, selain memikul dosa-dosa, memikul kejahatan kita, yang kedua, tentu menjadi Gembala agar domba-domba mengikut Dia. Dia mati di kayu salib untuk domba-domba-Nya, tetapi Dia juga menjadi Gembala; gembala yang menuntun umat atau domba-domba. Banyak orang Kristen yang percaya kematian Yesus memikul kejahatan mereka, tetapi mereka tetap ada di jalan yang sesat. Semua manusia telah sesat, memilih jalannya sendiri. Tetapi, Yahweh menimpakan kejahatan manusia kepada Yesus. Banyak orang hanya sampai pada “Tuhan memikul dosa-dosa,” tetapi tetap sesat. Justru maksud Allah Bapa Yahweh mengutus Putra-Nya menjadi Gembala bukan hanya menyerahkan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya, melainkan juga memimpin domba-Nya itu ke rumput yang hijau, agar domba-Nya mengikuti jalan-Nya. 
    Firman Tuhan mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok.” Hati-hati, ada pencuri dan perampok yang mencuri, membunuh, dan membinasakan. “Tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba,” dia bukan pencuri, karena dia pemilik domba-domba itu. “Untuk dia, penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya,” suara gembala itu, “dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar.” 
    Salah satu karakteristik domba di Israel yaitu mengenal suara gembala.
    10 min
  • Pertaruhan
    Kalau seseorang tidak meneladani Yesus, tidak mau serupa dengan Yesus, berarti ia adalah seorang pengkhianat. Kalau kita memilih Tuhan, berarti kita menjadikan Dia segalanya. Kalau tidak, itu berarti belum memilih Tuhan. Seperti agama samawi, agama Yahudi, sementara dipandu oleh hukum dan ibadah kepada Yahweh, mereka juga hidup sebagaimana manusia pada umumnya hidup, yang fokusnya pada pemenuhan kebutuhan jasmani. 
    Kekristenan yang dikenakan Paulus, menjadi model orang Kristen. Prinsip-prinsip hidupnya jelas. “Bagiku hidup adalah Kristus, mati keuntungan. Asal ada makanan, pakaian, cukup.” Ini persis seperti Anak Tunggal Bapa, ini baru namanya memilih. Sementara, kita masih mau hidup wajar. Bahkan profesi pendeta pun menjadi profesi yang pada umumnya masih ada rasa berhak untuk mendapatkan sesuatu. Padahal pendeta, aktivis, jemaat, sama saja, standarnya harus Yesus. Kalau pendeta, aktivis, harus lebih dulu menjadi teladan atau contoh. Memang belum sempurna, tetapi harus terus berubah. Tidak boleh meleset sedikit pun. Kalau orangtua mau anak-anaknya menjadi orang-orang yang selamat, maka orangtua harus memancarkan teladan yang kuat, agar anak-anak bisa terbawa.
    Memilih Tuhan berarti menjadikan Dia segalanya. Mengenakan hidup-Nya dalam setiap langkah kita, karena memang Dia telah membeli kita. Kalau kita punya rumah dibeli orang lain, kita tidak berhak tinggal di situ, bukan? Kalau kita punya mobil dibeli orang, kita tidak berhak mengendarai lagi, bukan? Kalau Tuhan membeli hidup kita, artinya Tuhan yang mengendarai hidup kita, bukannya kita lagi. Tetapi kita masih mengendarai diri kita. Itu luar biasanya Tuhan, Dia menebus kita, tetapi memberi kebebasan. 
    “Kamu memilih Aku atau tidak? Sekarang kamu bebas. Kamu sudah Aku keluarkan dari penjara ini. Sekarang kamu memilih, mau masuk penjara-Ku atau mau kembali ke penjara lama? Sekarang rumahmu sudah Kubeli. Sekarang kau biarkan Aku masuk, kamu menjadi hamba, atau kamu masih menjadi majikan lalu kamu mau memperdaya Aku seperti hamba?” Banyak orang merasa sudah memilih Tuhan, padahal belum. Ke gereja, menjadi aktivis bahkan pendeta, itu belum tentu sudah memilih Tuhan. 
    Ketika seseorang memilih Tuhan, memberi dirinya ditebus, mulai mau menyerahkan hidupnya untuk Tuhan, tidak memberi bagian atau ruangan untuk dunia, itu belajar. Kalau kita punya mobil dibeli orang, kita serahkan mobil kita. Mudah sekali itu. Kita punya rumah dibeli orang, kita serahkan kunci rumahnya, kita keluar. Masalahnya, kalau kita dibeli oleh Tuhan, keluar dari tubuh ini tidak mudah. Masalahnya bukan keluar masuk seperti keluar masuk mobil. Tubuh ini masih dalam kekuasaan kita. Lalu, bagaimana kita menyerahkan ini pada kekuasaan Tuhan? Artinya, pikiran, perasaan kita harus diproses, dibentuk untuk memiliki penurutan terhadap kehendak Allah. 
    Sesatnya banyak orang adalah merasa akan sungguh-sungguh nanti. Banyak orang menunda kesungguhannya dalam memilih Tuhan, padahal sejatinya mereka masuk dalam pertaruhan besar. Karena mungkin ia tidak akan sempat dimiliki Tuhan. Bukan tidak mungkin suatu saat ketika kita berkata: “Aku memilih-Mu, Tuhan,” Tuhan berkata: “kamu sudah tidak bisa memilih Aku lagi. Bukan Aku tidak mau dipilih. Karena kamu sudah tidak mampu memilih Aku. Mulutmu memilih, dagingmu tidak memilih, jiwamu tidak memilih.” 
    Mestinya pertaruhan itu kita bayar jauh-jauh hari. Ini masalah hidup kekal kita. Terbuang dari hadirat Allah atau tetap bersama dengan Allah? Kalau kita berjuang untuk ini, kita baru bisa melayani Tuhan dengan baik. Makanya ketika kita memilih Tuhan, menjadikan Dia segalanya untuk mengenakan hidup-Nya, kita merajut dari detik ke detik. Kalau tidak, kita akan terlambat. Jadi, kita butuh pemulihan Tuhan. Bukan karena kita jatuh dalam dosa judi, perzinaan, obat terlarang. Mungkin tidak, tetapi tidak tepat seperti yang Allah kehendaki dan kita harus meratap. 
    Jangan lagi terseret dengan pilihan-pilihan yang tidak perlu,
    9 min
  • Modifikasi Agama
    Kita tidak bisa menyangkali kenyataan bahwa keadaan dunia di mana kita hidup ini, keadaan bumi di mana kita berdomisili ini, tidak bertambah lebih baik. Faktanya, justru menjadi lebih buruk dari berbagai aspek, dalam berbagai bidang kehidupan. Dari aspek ekonomi, kita melihat dunia makin mengalami keadaan yang degradasi; menurun atau merosot. Negara adikuasa seperti Amerika, mengalami inflasi. Ada 10 (atau bisa lebih) negara yang diramalkan akan bangkrut. Puji Tuhan, salah satu pejabat IMF menyatakan bahwa Indonesia masih bisa kokoh dan bertahan di tengah krisis ekonomi global. 
    Alkitab sudah menubuatkannya. Adanya kuda hitam yang berkeliling dunia, ini menunjukkan krisis ekonomi. Alkitab menubuatkan adanya kuda merah, itu mengisyaratkan adanya perang; konflik antarbangsa atau konflik horizontal. Kita tidak pernah berpikir Eropa yang begitu humanis, artinya menghargai nilai-nilai kemanusiaan, bisa mengalami perang seperti hari ini. Perlombaan senjata dengan senjata pemusnah, tidak kunjung surut. Kalau terjadi perang, maka tidak ada ampun lagi, dunia akan menjadi padang gurun karena kekuatan nuklir sudah ratusan kali, bahkan ribuan kali dari kekuatan bom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. 
    Belum lagi ekosistem bumi; pergeseran lapisan tanah yang mengakibatkan erupsi, gunung meletus, tsunami, anomali cuaca, suhu panas ekstrem di beberapa negara. Sementara, di tempat lain ada daerah yang dingin sekali. Manusianya bisa sampai menjadi beku. Belum lagi krisis moral, di mana indikasinya adalah kejahatan manusia bertambah-tambah. Di mana-mana sudah tidak ada tempat yang aman. Dulu kalau kita ke Eropa, kita bisa merasa aman. Sekarang, di beberapa negara Eropa pun, kita menjadi tidak nyaman karena di mana-mana sudah tidak aman. 
    Pada tahun 90-an, ada riset di Amerika. Dari tiga pernikahan, dua di antaranya berakhir dengan perceraian. Dulu kalau yang namanya “kumpul kebo,” itu memalukan. Tetapi, sekarang sudah bukan hal yang memalukan lagi. Apalagi di negara-negara Barat, satu apartemen bisa dihuni oleh laki-laki dan perempuan yang tidak atau bukan suami istri. Dunia sudah rusak. Kita harus mengakuinya, sebab sudah tidak dapat disangkal kejahatan manusia sangat luar biasa.
    Di dunia seperti ini, kita tidak bisa berlindung kepada siapa-siapa. Kita harus back to the basic; kembali ke dasar. Kita harus memandang, ada Pribadi atau Allah yang menciptakan langit dan bumi. Allah yang memelihara kehidupan, tentu Allah yang mengetahui perubahan-perubahan ini. Tentu Allah tidak menghendaki perubahan yang negatif. Ini bukan rencana Allah atau kehendak-Nya. Allah tidak menciptakan dunia seperti ini. Tetapi di dalam kedaulatan-Nya, Allah telah menetapkan manusia berkehendak bebas; manusia memiliki kedaulatan. 
    Kalau ada keadaan yang membuat manusia sengsara—apakah itu kemiskinan, perang, dan berbagai penderitaan lain—bukan karena Allah merancang atau mendesain semua itu. Bumi rusak karena penduduknya. Firman Tuhan mengatakan, bumi menjadi gersang karena perbuatan manusia itu sendiri. Di dalam kehendak bebasnya, Allah tidak bisa mencegah manusia merusak hidupnya sendiri dan merusak alam yang Allah telah ciptakan. Inilah tatanan kehidupan yang tidak bisa dihindari. Kita sebagai manusia hidup di bumi seperti ini, tidak bisa tidak, kita juga ikut menanggung dan memikul dampak. Tetapi mari kita kembali kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan tentu mengerti dan mengetahui perubahan-perubahan ini. Tuhan pasti berkuasa melindungi orang-orang yang menjadi kekasih-kekasih-Nya. Mari kita kembali kepada Tuhan. 
    Dengan kita ke gereja, belum tentu kembali kepada Tuhan. Orang bergereja itu belum tentu kembali kepada Tuhan. Justru yang terjadi, agama banyak menipu manusia. Maksudnya bukan agama dalam arti agama umum, tetapi cara orang beragama, itu yang salah. Tentu semua agama mengajarkan kebaikan, termasuk juga Kekristenan. Bukan agamanya yang salah, tetapi manusia yang telah memodifikasi agama.
    11 min
  • Hukum Dosa
    Takut akan Allah membuat kita menyelesaikan setiap kebiasaan salah, sekecil apa pun, sehalus apa pun kesalahan itu. Terlihat nyata, setiap orang yang takut akan Allah dan menghormati Dia, dan yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati Dia. Banyak di antara kita tidak sadar, sudah menerima pengampunan dosa tetapi masih saja menabur dosa dan melakukan kesalahan tanpa menjaga perasaan Tuhan. Ini orang yang tidak takut akan Allah. Kita celaka kalau terus-menerus begini. Kita harus berhenti dari segala perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Kalau kita berhenti berbuat dosa, berarti kita sedang mau menuai akibat taburan masa lalu kita, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang melekat di dalam daging dan di dalam jiwa kita. Menuai berarti kita menanggulangi kebiasaan-kebiasaan yang Tuhan tidak kehendaki. 
    Ini perjuangan berat. Mengapa harus begini? Karena kita manusia. Kita punya risiko kehidupan yaitu terpisah dari Allah atau bersama dengan Allah? Jadi, jangan berpikir penebusan oleh karya Kristus membuat kita otomatis menjadi anak Allah yang bersama dengan Dia. Iblis telah menyesatkan banyak orang, sehingga kita menganggap hidup ini murahan. Kalau menganggap hidup ini murahan, kita juga menganggap Allah murahan, dan tidak menghormati Tuhan secara patut. Kalau Tuhan mengingatkan kita mengenai kebenaran ini, kita mau berubah. Kita mau bertobat, selagi masih ada kesempatan. 
    Tuhan mau kita benar-benar merespons dan melakukan tindakan konkret, serta tidak menunda. Mungkin hanya tinggal satu kali kesempatan, satu kali peringatan. Bukan tidak mungkin, ini bisa merupakan peringatan yang terakhir untuk kita. Jangan menabur dosa lagi, tetapi kita harus menuai akibat kesalahan masa lalu kita. Kebiasaan-kebiasaan yang menyatu di dalam daging dan di dalam jiwa kita. Kita mau menyelesaikan, dan itu orang-orang yang takut akan Allah.  
    Demikian kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Tuhan. Seperti Bapa sayang anak-anak-Nya, Dia sayang pada kita. Bukan hanya memberikan Putra Tunggal-Nya, Dia juga memberikan Roh-Nya sendiri dalam diri kita. Roh Kudus, yang menjadikan tubuh kita bait-Nya supaya kita digarap Tuhan. Tahukah kita bahwa kehidupan orang Kristen atau kehidupan umat pilihan itu seperti kehidupan Adam dan Hawa? Manusia yang menjadi keturunan Adam dan Hawa, tentu semua manusia yang bukan umat pilihan, hanya memiliki opsi berbuat baik atau jahat. Mereka belum masuk dalam rencana dikembalikan ke rancangan Allah semula. 
    Tuhan memberi hukum, dan mereka harus memilih: mengikuti hukum Tuhan untuk menjadi manusia yang baik, yang mengasihi sesama seperti diri sendiri, atau tidak. Karena mereka semua ada di bawah hukum dosa. Hukum dosa; kemelesetan. Mereka tidak bisa hidup tepat seperti yang Allah kehendaki, dan mereka tidak dituntut untuk itu. Tetapi bagi orang percaya, dibawa lagi ke suasana pilihan Adam dan Hawa. Manusia yang dikembalikan ke rancangan Allah semula, yang dimungkinkan untuk bukan saja segambar tetapi serupa dengan Allah. Orang-orang yang memiliki pilihan, bukan hanya baik, tetapi juga sempurna. 
    Orang di luar umat pilihan dapat memilih baik atau jahat. Tetapi kita memiliki satu pilihan lagi: sempurna. Kita ditantang untuk memilih pohon kehidupan yaitu Tuhan sendiri, atau pohon pengetahuan yang baik dan jahat, yaitu suara dunia, sementara kita memiliki keadaan sebagai manusia yang telah hidup di bawah hukum dosa. Hukum dosa, bukan hukuman dosa. Hukum dosa; keberadaan kita yang serba meleset, tidak mampu melakukan apa yang tepat seperti Allah kehendaki karena kebiasaan-kebiasaan dosa yang kita lakukan. Memang, ada orang-orang Kristen yang dari kecil di lingkungan baik dan menjadi orang baik. Tetapi lebih banyak orang Kristen yang telah terbawa oleh suasana dunia, di mana dagingnya dan jiwanya telah merekam nafsu-nafsu, ambisi yang jauh dari standar kesucian Allah. 
    Bapa di surga mengirim Putra Tunggal-Nya, mengampuni dosa kita, menganggap kesalahan yang kita lakukan itu tidak ad...
    8 min
  • Melatih Kesucian
    Sejatinya tujuan diadakannya gereja dan pelayanan hanya satu, yaitu supaya umat memiliki Tuhan dengan benar. Dengan memiliki Tuhan, umat layak menjadi anak-anak Allah, menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, dan memiliki hidup yang penuh pengharapan. Tetapi, pengharapan yang dimaksud bukan pengharapan di bumi ini. Secerah apa pun masa depan di bumi ini, sesukses apa pun kehidupan yang dapat diraih seseorang, itu sementara dan sia-sia, yang akhirnya akan lenyap seperti uap. 
    Menyerukan hal ini, artinya kita senantiasa mempersenjatai dan melengkapi pikiran kita dengan kesadaran bahwa pelayanan tidak boleh digunakan untuk kepentingan apa pun. Bukan untuk keuntungan materi, uang, kehormatan, atau apa pun, melainkan kepentingan Tuhan. Kepentingan Allah Bapa di surga, yang tidak menghendaki seorang pun binasa. Ini yang menjadi satu-satunya concern Tuhan. Ini yang menjadi satu-satunya beban di hati Tuhan. Ini yang menjadi satu-satunya kerinduan hati Allah Bapa, yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan manusia. 
    Kalau kita punya anak, kita bisa merasakan betapa besar kepentingan anak itu di mata kita. Banyak orangtua yang kadang-kadang bisa menyingkirkan kepentingannya sendiri demi anak. Orangtua tidak tega melihat anaknya sakit atau menderita. Orangtua rela berbuat apa pun demi kebahagiaan dan sukses anak-anaknya. Perasaan kasih yang kita miliki seperti itu, juga dimiliki Allah Bapa lebih dari kita. Firman Tuhan mengatakan, “apakah ada seorang ibu yang meninggalkan anak yang disusuinya? Seandainya ada, Aku tidak pernah meninggalkan kamu.” Artinya, kasih ibu kepada anak tidak lebih besar dari kasih Allah kepada manusia; tidak lebih besar dari kasih Allah kepada umat-Nya. 
    Jangan berpikir kita bertetangga dengan Tuhan; jangan berpikir kita di luar lingkaran Tuhan. Kita adalah biji mata-Nya, kekasih-kekasih-Nya. Firman Tuhan mengatakan, “tembok-tembok rumahmu di mata-Ku.” Artinya, “Aku menjagai kamu, supaya tidak ada pencuri, rampok, maling, atau binatang buas menembus tembokmu dan menyusahkan, menyakiti kamu. Namamu terukir di telapak tangan-Ku.” 
    Ini kepentingan Tuhan yang harus kita junjung tinggi di atas segala kepentingan. Tidak masalah, apakah kita punya gedung gereja sendiri atau hanya kontrak. Tidak masalah kita punya aset dengan nilai tinggi, atau tidak punya. Semua itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah setiap kita harus menjadi anak-anak Allah yang benar. Oleh sebab itu, kita harus memiliki Tuhan. Beragama tidak menjamin seseorang memiliki Tuhan. Menjadi aktivis atau pendeta tidak jaminan dia memiliki Tuhan. Orang yang memiliki Tuhan adalah orang yang berani melepaskan hidupnya dari segala ikatan. 
    Yang pertama, ikatan dosa. Karena Allah tidak bisa dipersekutukan dengan kegelapan. Terang tidak bisa bersekutu dengan gelap. Apa pun, bagaimana pun, sukar atau sangat sukar, kita harus menjadi suci. Semua yang dilatih dan terus dibiasakan, akan menjadi mudah, dan kita bisa mencapainya. Tetapi kalau kita sudah bermental blok, “tidak mungkin bisa hidup suci. Suci itu nanti hanya di surga. Suci itu karunia untuk orang-orang khusus saja,” itu menyesatkan. Sehingga irama jiwa, tubuh dan hidup kita adalah irama meleset; hamartia; dosa, ketidaktepatan, kemelesetan. 
    Kalau orang berlatih memanah setiap hari, dia tidak pernah memanah keluar dari lingkaran sasaran. Malah, bisa tepat. Tetapi kalau orang tidak biasa memanah, dia bisa meleset sampai 2-3 meter. Kita yang tidak pernah berlatih main piano, jika disuruh bermain piano, sama sekali tidak bisa. Disuruh main saxophone dengan tuts yang begitu banyak, tidak bisa. Tetapi kalau dilatih setiap hari, kita bisa melakukannya. Semua yang dilatih, itu bisa. Semua yang dibiasakan, itu bisa menjadi mudah. Demikian juga dengan kesucian. 
    Kita bisa berlatih dalam banyak hal, dan bahkan bisa menjadi ahli. Orang yang dagang atau petugas bank, biasa menghitung uang, maka ia bisa menghitung uang dengan jari-jarinya secara cepat dan tepat.
    10 min
  • Tidak Ternoda
    Tidak semua orang menjadi umat pilihan. Kalau mereka hidup di zaman sebelum Yesus datang, maka mereka tidak pernah mendengar Injil atau orang yang hidup setelah zaman Yesus datang ke dunia tetapi mereka hidup di wilayah di mana Injil tidak diberitakan, mereka juga tidak pernah mendengar Injil. Atau hidup di wilayah di mana Injil diberitakan salah. Jadi mereka tidak pernah mengenal Yesus dengan benar. Sebagai orang yang dipilih, kita dikehendaki menjadi perawan suci. Maka kita tidak bisa menyamakan diri dengan orang lain, apalagi dengan mereka yang bukan umat pilihan, sebab mereka bukan orang yang dipanggil menjadi perawan suci. Perawan suci artinya, orang yang tidak ternoda oleh dunia. 
    Untuk menjadi orang yang tidak ternoda, kita harus memiliki sifat-sifat atau karakter Allah. Kalau agama pada umumnya mengajarkan umatnya melakukan hukum, nuraninya ditulisi hukum dan mereka bisa menaati hukum dengan konsekuen dan konsisten. Sedangkan orang percaya, bukanlah orang-orang yang hidup di bawah hukum tetapi di bawah kebenaran, sehingga dapat memiliki sifat-sifat atau karakter Tuhan. Hal ini berat sekali. Orang yang hidup di bawah hukum, mereka hanya taat dalam batas-batas tertentu. Artinya, sejauh yang dipahami orang itu mengenai hukum, tatanan atau syariat. Bagi orang percaya yang bertumbuh dengan benar, pasti memiliki sifat-sifat karakter Tuhan, tidak bisa berbuat salah dan tingkat ketaatannya kepada Tuhan adalah tingkat maksimal. Artinya, bukan hanya tidak melanggar hukum, tetapi mengerti apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidupnya.
    Untuk menjadi satu frekuensi dengan Tuhan, memerlukan kesungguhan dan melewati perjalanan waktu. Tidak bisa cepat. Kesalahan banyak orang yaitu menganggap hal ini mudah. Mencari Tuhan itu lebih mudah dari mencari uang. Mencari Tuhan bukan hanya pergi ke gereja, mengikuti kebaktian, lalu otomatis mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mengenal Tuhan berarti mengenal pribadi-Nya. Kalau kita mengatakan menerima Tuhan, berarti kita menerima sifat-sifat-Nya, karakter-Nya. Jadi, kalau Yohanes 1:12 mengatakan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya …” ini bukan menerima dalam arti pengakuan saja, melainkan menerima sifat-sifat Allah, “… diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.”
    Gelar sebagai anak-anak Allah itu bukan sekadar status, melainkan keberadaan. Di antara kesungguhan itu adalah rela melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia. Kita semua diperanakkan dari darah dan daging, kita mewarisi sifat-sifat orangtua, dan menyerap cara berpikir, gaya hidup yang juga sifat-sifat dari dunia sekitar kita. Sejujurnya, rata-rata kita masih terikat dunia, masih mau hidup wajar. Salah satu cirinya adalah merasa tidak lengkap atau tidak utuh kalau belum memiliki sesuatu. Sebaliknya, orang yang tidak terikat dengan dunia, ia sudah merasa lengkap atau utuh sekalipun ia tidak memiliki apa pun. Tuhan pasti akan mengisi hati orang ini dengan kehadiran-Nya. Dikatakan di ayat berikutnya, “orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, …” Kita diperanakkan oleh Allah bukan dalam 1 hari, 1 minggu, 1 bulan atau 1 tahun, melainkan lewat proses perjalanan waktu, di mana kita menyerap sifat-sifat Allah, hari demi hari dan menanggalkan sifat-sifat manusiawi kita. 
    Kita tahu sifat-sifat kita yang berangasan, temperamen, mata duitan, sombong dan lainnya. Kita tahu, tidak mungkin tidak tahu, itulah yang namanya menyangkal diri. Nanti di hadapan Tuhan, kita tidak bisa berkata, “Saya tidak tahu Tuhan kalau saya salah,” tidak mungkin. Tuhan pasti berbicara. Masalahnya, kalau Tuhan sudah bicara sekali, 2 atau 3 kali bahkan berkali-kali, namun kita tidak meresponinya sampai akhirnya kita memadamkan Roh. Kalau sudah memadamkan Roh, meningkat sampai menghujat Roh, sehingga nurani seseorang menjadi buta. 
    Tetapi Iblis, dalam kelicikannya membuat seseorang tidak menjadi biadab atau tidak membuat seorang menjadi jahat di mata manusia. Melainkan menjadi baik, santun,
    10 min
  • Ukuran Rohani
    Dalam Roma pasal 8 dikatakan bahwa orang yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi, kita harus hidup di dalam Roh, artinya menjadi manusia yang rohani. Dalam sudut pandang Alkitab, manusia yang rohani adalah manusia yang hidup di dalam Roh. Orang Kristen yang hidup di dalam Roh adalah orang Kristen yang tidak hidup di dalam daging. Standar “rohani” jangan diukur dari status sebagai pendeta, majelis atau aktivis gereja. Ukuran “rohani” jangan diukur dari kegiatan keseharian dalam aktivitas pelayanan gereja yang disebut pelayanan rohani. Ukuran rohani adalah kehidupan Yesus. Inilah standar rohani yang sesungguhnya. “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” 
    Kenapa disebut “rohani?” Tentu saja dari kata “roh,” rohani. Dalam Roma pasal 8, Firman Tuhan mengatakan orang yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi untuk berkenan, harus hidup di dalam Roh. Di dalam Roh sepenuhnya, bukan “setengah Roh,” karena firman Tuhan mengatakan kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Terang tidak bisa dipersekutukan dengan gelap. Sepenuhnya untuk Tuhan, atau tidak usah sama sekali. Tuhan 100% atau tidak usah sama sekali. Hidup menurut Roh yang benar, atau tidak usah sama sekali. 
    Ini merupakan tantangan bagi kita. Tantangan yang sungguh berat. Tetapi tidak bisa kita hindari, dan ini merupakan berita yang sangat kita butuhkan. Ternyata, standarnya tinggi sekali, yaitu harus hidup di dalam Roh, baru disebut rohani. Apa itu “hidup menurut Roh?” Tentu harus dijelaskan apa itu hidup menurut daging? Ini penting sekali. Hidup menurut Roh dan hidup menurut daging, keduanya harus dijelaskan. “Menurut daging” bukan hanya berarti orang yang hidup di dalam pelanggaran moral, melainkan semua kehendak dan keinginan yang tidak sesuai dengan Roh Kudus, itu kedagingan. 
    Kenapa disebut demikian? Dari kecil, kita telah menyerap cara berpikir, cara hidup atau gaya hidup manusia di sekitar kita. Plus dengan gen yang kita warisi dari orangtua, yang membangun karakter kita, sehingga melahirkan minat, niat, hasrat, dan selera jiwa kita. Kita selama ini menganggap bahwa itu normal, pada umumnya. Apalagi bagi orang tidak mengenal kebenaran, mereka berpendapat bahwa yang penting tidak menyakiti orang, tidak merugikan orang. Lalu, menjadi orang Kristen itu cukup dengan ke gereja. Apalagi kalau jadi aktivis, lebih lagi jadi pendeta, itu sudah membuat mereka merasa rohani atau pantas disebut sebagai rohaniwan. 
    Rata-rata, orang tidak berani berbicara: “aku masih hidup dalam daging.” Tidak berani berkata tegas demikian. Tetapi, mungkin juga ada yang berkata, “rasanya aku masih hidup dalam kedagingan..” Lalu, kalau masih kedagingan, bagaimana? Berarti tidak berkenan di hadapan Allah. Karena kalau hidup menurut Roh, harus Roh Allah sepenuhnya yang menguasai kita. Jika masih hidup biasa-biasa saja seperti layaknya anak dunia, maka kita belum menjadi manusia rohani. Sayangnya, kita sudah telanjur terbiasa menganggap wajar gaya hidup atau cara hidup, filosofi, prinsip-prinsip yang sebenarnya tidak sesuai dengan firman Tuhan.
    Apa yang kita serap dari dunia sejak kecil, itu membangun niat, hasrat, cita-cita, dan selera. Inilah kedagingan. Apa pun itu, walaupun kelihatannya baik, tetapi kalau tidak sesuai dengan kehendak Roh Kudus, itu kedagingan. Tuhan Yesus mengatakan: “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Ia tidak mengatakan “kehendak-Ku,” melainkan “kehendak Bapa.” Ini namanya hidup menurut Roh atau di dalam Roh, bukan di dalam daging. Ini telah dijalani oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Firman Tuhan mengatakan agar kita memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus.
    Dalam pergumulan hidup Rasul Paulus, ia sampai pada tingkat “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Dalam perjalanan sejarah kehidupan, juga dalam perjalanan sejarah gereja, hal-hal seperti ini menjadi lenyap atau tidak tampak.
    9 min
  • Kesucian Standar Allah
    Kuasa Tuhan bukan hanya dapat membangkitkan orang mati secara fisik, menyembuhkan orang sakit, mencelikkan orang buta, melainkan juga bertalian dengan kemampuan yang diberikan kepada kita untuk mencapai kesucian, kalau kita berlatih, berlatih, dan berlatih. Mungkin kita pernah membayangkan, kalau kita seorang atlet, lalu kita membayangkan mendapat medali emas. Kalau seorang akademisi atau seorang mahasiswa, membayangkan diwisuda. Lalu, kenapa kita tidak membayangkan “aku bisa hidup tidak bercacat tidak bercela, menjadi orang saleh Tuhan, sehingga setiap tindakanku memancarkan keharuman?”
    Pertama, waktu kita punya kesempatan berbuat dosa, berarti kita berkesempatan memancarkan keharuman, dan kita berkata, “tidak.” Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, kita rela untuk memecahkan roti dan mencurahkan anggur. Dengan demikian, kita menjadi keharuman dan nyanyian di hadapan Allah. Kita mempersembahkan kehidupan kita untuk Tuhan, yaitu kalau kita bisa seperasaan dan sepikiran dengan Tuhan. Bangsa Israel ketika hidup dalam ketaatan kepada hukum, mereka diberkati dan dilimpahi rahmat oleh Tuhan. Demikian halnya ketika kita hidup di dalam kesucian sesuai dengan pikiran, perasaan Allah, maka kodrat kita bergerak dan berubah. Berkat jasmani jangan kita pikirkan, sebab Allah pasti mencukupi. 
    Tetapi yang hebat adalah ketika kita membuang semua kenajisan, sehingga kodrat kita tahap demi tahap diubah Tuhan. Pernahkah kita membayangkannya? Kalau kita menjadi orang yang setiap saat menyenangkan hati Allah, betapa indahnya. Kematian kita pun dinantikan oleh Tuhan dan para malaikat-Nya. Orang bisa membayangkan punya rumah besar, mobil, fasilitas, kehormatan dan pangkat. Tetapi pernahkah kita membayangkan menjadi seorang yang saleh; tak bercacat tak bercela? Hal itu bisa dan mungkin, karena Roh Kudus dimeteraikan di dalam diri kita, yang memberi kemampuan kita untuk dapat mencapai kesucian.
    Kita harus semangat dan harus melatih diri mulai hari ini. Tidak ada hal yang lebih mulia, tidak ada hal yang lebih berharga, selain kehidupan yang bersekutu dengan Allah. Kita bisa bersekutu dengan Allah kalau kita hidup di dalam kesucian. Dan yang kedua, kita tidak terikat dengan apa pun. Kalau bangsa Israel menuruti hukum, cukup hanya dengan menaati hukum Taurat, maka mereka diberkati menjadi umat Tuhan. Sedangkan bagi orang percaya, harus sepikiran dan seperasaan dengan Allah. Hal itu telah dikatakan oleh Tuhan Yesus, “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” 
    Karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka Allah mau kita membangun Ruang Mahakudus di dalam hati kita, di mana Allah bertakhta. Kita tidak memberi peluang, kesempatan, pijakan, takhta untuk setan. Memang seseorang bisa kelihatan santun, sopan, bahkan menjadi orang Kristen, aktivis, atau mungkin pendeta. Tetapi kita tidak tahu seberapa kedalaman hatinya. Inilah yang disebut Alkitab sebagai “mengumpulkan harta di surga.” Kita tidak bisa memiliki Allah kalau kita tidak hidup dalam kesucian standar Allah. Maka kita harus berjuang. 
    Ketika kita melatih ini, hal ini paralel dengan latihan piano, latihan saxophone, atau latihan apa pun. Kebenaran itu selalu paralel. Nanti kita akan semakin mengerti bahwa “ini bisa, ini mungkin.” Dengan berlatih, kita menjadi bisa bermain piano atau saxophone, nanti lama-lama bisa mengiringi orang bernyanyi, bahkan bisa sampai ahli. Kesucian juga demikian. Harus dengan latihan, maka lama-lama kita bisa. Suci itu bisa dicapai. Tidak bercela itu bisa dicapai. Ini tidak bisa diajarkan, kecuali kita berjuang di situ. “Kuduslah kamu sebab Aku kudus,” 1 Petrus 1:16. Kekudusan yang harus kita capai yaitu kekudusan standar Allah, dan itu tinggi sekali serta tidak terbatas. Tuhan mau kita memiliki itu. 
    Kalau kita bersedia, pasti Roh Kudus akan aktif membimbing kita. Kalau kita membiarkan, “menganggurkan” Roh Kudus karena kita sibuk sendiri, pasti kita akan menyesal karena kesempatan demi kesempatan yang Allah berikan untuk k...
    11 min
  • Bersikap Pantas
    Pernahkah kita berada dalam keadaan gelap gulita, rasanya kita ingin keluar, ingin terlepas tetapi tidak bisa? Hal yang sama terjadi ketika seseorang masuk dalam kegelapan abadi. Betapa mengerikan! Ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk bertobat; terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Jangan kamu takut kepada apa yang membunuh tubuh; apakah itu kemiskinan, apakah itu ancaman orang atau bahaya apa pun jangan takut. Tetapi takutlah akan Allah yang bukan saja berkuasa membunuh tubuh tetapi bisa membuangnya ke dalam api kekal” (Mat. 10:28). Coba kita memeriksa diri, seberapa kita memiliki perasaan takut akan Allah? Bukan hanya pada waktu berdoa, melainkan juga dalam kehidupan setiap hari, dalam segala hal yang dijalani, dan dalam setiap perkara yang kita hadapi di setiap waktu.
    Jangan menunggu nanti di hadapan pengadilan Tuhan baru kita mengerti betapa seharusnya kita takut akan Dia. Mestinya sekarang ini sebelum kita meninggal dunia, kita sudah menemukan perasaan takut yang semestinya kepada Tuhan. Milikilah perasaan hormat kepada Allah secara patut, sehingga kita bisa bersikap santun, sopan, pantas di hadapan Allah. Ini yang harus kita persoalkan. Jangan sampai kita bersikap tidak santun, tidak sopan, tidak pantas di hadapan Allah. Siapa yang bisa menyelamatkan kita dari kegelapan abadi? Hanya satu, Tuhan; yaitu kalau kita takut akan Dia, bersikap santun, sopan dan pantas terhadap Allah. Karena Allah tidak akan mengizinkan orang yang tidak takut akan Dia untuk masuk dalam Kerajaan-Nya. Sebaliknya, mereka akan terbuang ke dalam kegelapan abadi.  
    Jangan ada di antara kita yang hari ini tidak berubah. Sebab mungkin ini adalah kesempatan terakhir. Kalau kita tidak mengubah diri untuk memiliki hati yang santun dan sopan di hadapan Allah, kita mungkin tidak akan pernah berubah. Sampai pada titik tertentu, kita tidak pernah memiliki hati yang takut akan Allah. Jangan sombong. Tuhan harus merasakan bahwa kita takut akan Dia. Kita harus berjuang untuk benar-benar memiliki takut yang tulus akan Allah, takut yang kudus; sehingga kita menghormati Tuhan setinggi-tingginya, menundukkan diri di hadapan Tuhan serendah-rendahnya, sedalam-dalamnya dan Tuhan merasakannya.
    Firman Tuhan di dalam Perjanjian Lama dan juga dalam Perjanjian Baru jelas menunjukkan, orang yang takut akan Allah itu terlindungi, terberkati. Tangan kita terbatas untuk melindungi orang-orang yang kita kasihi. Tetapi Tuhan memiliki tangan yang tidak terbatas, yang akan melindungi orang-orang yang kita kasihi. Kita tentu ingat bagaimana Abraham seorang yang takut akan Allah mendapat perlindungan bagi Lot, sekalipun Lot pernah melawan dan tidak menghormatinya, namun Tuhan mengingatnya karena Abraham. Tuhan menyelamatkan Lot karena Abraham. Maka, orang-orang yang kita kasihi juga akan diselamatkan, dilindungi, dijaga Tuhan kalau kita takut akan Dia. 
    Keputusan untuk mengubah diri merupakan keputusan yang akan menentukan hidup kekal kita, maka jangan menunda. Kuasa kegelapan akan berusaha untuk membungkam Injil kebenaran, merusak suasana yang bisa membuat kita salah mengambil keputusan. Kalau kita belum memiliki hati yang takut akan Tuhan, Roh Kudus akan memimpin kita. Jangan berpikir hal lain yang tidak bernilai. Bahkan, yang bisa membinasakan. Arahkan diri kita hanya untuk satu hal ini, yaitu bagaimana memiliki hati yang takut akan Allah; takut yang seharusnya. Hal ini tidak bisa kita peroleh dalam waktu singkat. Di sini kita harus berjuang. Langkah yang harus kita miliki adalah berdoa. Gereja yang benar bukanlah gereja yang ditandai dengan kekayaan materi, atau yang dipenuhi dengan mukjizat (belum tentu), tetapi gereja yang benar adalah gereja yang berdoa dengan tekun. 
    Berdoa dengan tekun tidak bisa dibuat-buat. Mukjizat bisa terjadi secara insidentil. Tidak mungkin orang yang setengah-setengah ikut Tuhan lalu rajin berdoa. Maka kita harus menyediakan waktu untuk berdoa,
    7 min
  • Berkeadaan Dikunci
    Harus selalu diingat bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah dengan keberadaan segambar dengan Allah, yang juga diharapkan bisa serupa dengan Allah adalah makhluk yang tidak mungkin bisa terpisah dari Penciptanya. Jangankan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk hidup, tidak mungkin bisa hidup tanpa kehadiran Sang Khalik, Sang Pencipta yang memberi kehidupan. Apalagi manusia. Manusia yang memiliki pikiran dan perasaan, memiliki satu kebutuhan yang tidak bisa dijawab oleh makhluk apa pun, benda apa pun, tetapi hanya bisa dijawab oleh Sang Khalik atau Sang Pencipta.
    Sebenarnya, manusia dikunci dengan satu keberadaan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Itulah sebabnya ada kehausan dalam jiwa manusia yang tidak bisa dipenuhi oleh apa pun dan siapa pun. Ada kehausan dalam jiwa manusia yang hanya bisa dijawab oleh Tuhan. Dalam percakapan dengan perempuan Samaria di perigi Yakub dekat Kota Sikhar, Tuhan Yesus mengatakan, “Barangsiapa minum air ini …” maksudnya air secara harfiah yang bisa melambangkan dunia “… ia akan haus lagi. Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya, air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus-menerus memancar, sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:13-14). 
    Dalam pernyataan Tuhan Yesus di kedua ayat tersebut, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa manusia sebenarnya berkeadaan dikunci. Berkeadaan dikunci, di mana manusia tidak akan pernah memiliki jawaban atas kehausan jiwanya, sampai dia bertemu dengan Tuhan. Sampai dia dipenuhi oleh Tuhan. Banyak manusia yang tidak mengerti ini, karena memang manusia telah jatuh dalam dosa, manusia telah menjadi sesat, kehausan jiwanya menjadi sesat. Itulah sebabnya manusia berusaha untuk mencari pemenuhan dari kehausan jiwanya dengan harta, kepuasan fisik—yaitu makan, minum, seks—dan keangkuhan hidup. 
    Dia berpikir melalui hal-hal itu dia akan mendapat kepuasan. Padahal manusia tidak pernah puas dengan apa yang dapat dia teguk dari apa pun dalam hidup ini, sampai dia bertemu dengan Tuhan. Faktanya, banyak orang yang sudah begitu sesat. Sampai mati, ia tidak pernah mengerti adanya kehausan yang mestinya hanya bisa dijawab oleh Tuhan. Keselamatan dalam Yesus Kristus membuka rahasia kehidupan ini. Maksud Tuhan Yesus memperdamaikan kita dengan Allah bukan hanya sekadar hubungan kita dengan Tuhan dapat diperbaiki. Tetapi maksud yang sebenarnya adalah Tuhan Yesus memberi kita kesempatan untuk dipenuhi oleh Allah. Kehausan kita dijawab oleh Allah. 
    Namun kita harus mengikuti apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Tuhan Yesus berkata agar kita melepaskan diri dari segala ikatan dunia. Ini bukan bagian Allah, karena ini tanggung jawab kita; kita yang harus melakukannya. Melalui kebenaran Alkitab yang kita pelajari, cara berpikir kita diubah, pemahaman-pemahaman kita mengenai kehidupan terbuka. Itu potensi kita untuk mengambil satu langkah. Langkahnya adalah melepaskan diri dari ikatan dunia. Tuhan Yesus mengatakan di Lukas 14, “Barangsiapa tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tak dapat jadi murid-Ku,” artinya tidak bisa diubah; tidak akan sampai pada level di mana dia menemukan kehausan akan Allah dalam jiwanya. 
    Tidak sedikit orang Kristen juga mengalami keadaan titik tidak balik. Sampai mati mereka tidak pernah merasakan adanya kehausan akan Allah. Mengapa? Karena tidak menuruti apa yang Tuhan Yesus ajarkan; melepaskan diri dari segala milik. Sejatinya kita sadar bahwa kita terikat harta, uang, hobi, kesenangan, dan berbagai hal. Kita bisa melepaskannya, walaupun tentu perlu perjuangan dan kadang-kadang bertahap, berproses. Tetapi langkah itu harus kita ambil. Mengapa banyak orang Kristen tidak mampu meninggalkan ikatan dengan dunia ini? Karena pengertiannya tentang kebenaran belum cukup. Yohanes 8:31-32 mengatakan, “kalau kamu tetap di dalam Firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku. Dan kamu akan mengetahui kebenaran,
    11 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…