Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Martabat Manusia
    Kita tidak bisa menyatu dengan Allah, kalau kita masih memakai kodrat dosa. Hal ini adalah tanggung jawab yang besar dalam hidup setiap orang. Makanya kita harus terus mengonsumsi, menyerap kebenaran Tuhan yang pasti akan mengubah karakter kita, mengubah kodrat kita, sehingga kita mengenakan kodrat ilahi, dan kita bisa bersekutu secara benar dengan Bapa. Kita harus menyediakan tubuh kita sebagai bait Allah, di mana kita memiliki Ruang Mahakudus, dan Bapa berkenan ada di dalamnya. Hal ini sebuah keniscayaan; ini sungguh bisa terjadi, dan ini harus menjadi satu-satunya fokus hidup kita. 
    Perjuangan yang kita lakukan dalam hidup ini, haruslah perjuangan yang terfokus pada hal ini. Percayalah, kalau kita melakukannya dengan tekad yang sungguh-sungguh, maka kita pasti bisa melihat perbedaan antara hidup kita dengan orang lain. Mungkin saja orang lain akan melihat kita memiliki keadaan yang aneh, asing, berbeda dengan yang lainnya. Hal itu tidak apa-apa, karena memang kita harus berbeda, sebab kita akan memiliki frekuensi dan fokus hidup yang berbeda dengan manusia pada umumnya.
    Sebenarnya, manusia diselamatkan supaya dapat menjadi manusia yang benar, artinya sesuai rancangan Allah yang semula saat menciptakan manusia. Manusia yang tadinya tidak bermartabat manusia, mau diubah menjadi manusia yang dimartabatkan. Martabat manusia yang benar adalah manusia Allah; man of God. Manusia yang berkodrat ilahi. Apa pun profesi dan jabatan kita—meskipun dia seorang rohaniwan atau memiliki profesi pendeta—hal itu sama sekali tidak ada nilainya di mata Allah. 
    Hal yang bernilai adalah ketika kita menanggalkan manusia lama, dan terus-menerus mengenakan manusia baru yang dibarui di dalam roh dan pikiran, sehingga dapat memasuki kekudusan yang sesungguhnya, seperti yang tertulis pada Efesus 4 atau dalam Ibrani 12, “mengambil bagian dalam kekudusan Allah.” Itulah yang dimaksud dengan sukses yang benar dalam hidup kita sebagai manusia ciptaan Tuhan.
    Banyak orang yang tidak percaya bahwa ada kehidupan di balik kehidupan sekarang, yang pastinya akan jauh lebih bernilai dibanding hidup di bumi yang sementara ini. Perbandingannya bukan 1000:1, bukan 1.000.000:1, bukan 1.000.000.000:1, bukan 1.000.000.000.000:1, melainkan ”tak terhingga dibanding nol,” karena semua hal di atas bumi ini akan lenyap dan terbakar dalam unsur api. Maka, yang nol ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya agar dapat menjadi sarana untuk kita dapat memiliki kehidupan kekal di Kerajaan Surga. 
    Kalau hidup ini tidak kita pergunakan dengan benar sesuai kehendak Tuhan, maka semuanya menjadi sia-sia dan akan lenyap dalam sekejap seperti uap. Jadi jangan merasa gagal, miskin, lemah, tak bernilai hanya karena tidak menikah, tidak mendapat jodoh, tidak punya anak, miskin, atau tidak berpendidikan tinggi. Kita merasa tertindas sebagai orang yang dipandang rendah. Jangan kita merasa gagal di situ, karena kesuksesan kita yang sesungguhnya adalah ketika kita menjadi manusia Allah; man of God dan menyatu dengan Allah. Itu back to the basic. Itulah manusia yang Allah inginkan. 
    Kalau kita mengalami perjuangan, kita akan merasa seperti seperti kupu-kupu yang dibungkus kepompong, yang mau keluar dari kepompong untuk menjadi kupu-kupu. Ini untuk tingkat tertentu. Tetapi yang lain, mungkin baru tingkat ulat, kemudian mau masuk menjadi kepompong. Kita akan menggeliat, rasanya sulit sekali keluar dan seperti tidak berhasil keluar. Memang hal itu butuh proses. Kalau kita putus asa, kita berhenti. 
    Maka di Ibrani 12, firman Tuhan mengatakan, jangan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah. Jangan kita berkata, “aku manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan. Ya, begini saja keadaanku.” Kita menjadi konyol. Lebih baik kita tidak pernah jadi manusia daripada membiarkan diri kita berhenti pada satu titik yang membuat kita tidak mencapai perubahan tersebut. Kita mau menguduskan diri,
    9 min
  • Kepentingan Tuhan
    Cara memandang hidup yang benar tidak bisa diperoleh seseorang dalam satu hari. Pasti memakan waktu bertahun-tahun, sampai bisa lengkap utuh. Inilah yang membuat seseorang mengenal suara Gembala. Mengenal suara Gembala artinya mengetahui segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk kita lakukan. Kita harus terus berjuang, agar tidak ada perbuatan yang membuat hati Tuhan tidak nyaman, apalagi mendukakan. Kalau Firman mengatakan: “baik kau makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk Tuhan,” berarti tidak ada yang kita lakukan yang tidak sesuai kehendak-Nya. 
    Kekristenan sudah terlalu jauh dari kebenaran orisinalnya. Makanya hidup kita ini memang harus mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kalau kita mau mengarahkan diri kepada Tuhan, harus 100%. Tidak boleh tidak 100%. Harus mengarahkan diri ke surga 100%. Tidak bisa tidak. Banyak orang Kristen yang tidak mau masuk neraka, tetapi tidak mengarahkan diri 100% ke surga. Jadi di dunia ini, dia masih mau membangun “surga-surga kecil” atau kenikmatan-kenikmatan kecil. Itu filosofi hidup, cara memandang hidup yang salah. 
    Petrus cara pandangnya demikian. Dia mau Yesus menjadi Raja dunia. Dia menghalangi Yesus ke Yerusalem. Jadi kalau kita tidak fokus ke Tuhan 100%, kita tidak bisa mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Kita tidak mengalami lahir baru. Kita tidak bisa mengerti apa yang Dia kehendaki; apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna, sehingga kita tidak menjadi anak Allah. 
    Kalau tidak punya pacar, merasa tidak lengkap. Sudah punya pacar, belum menikah, masih belum merasa lengkap. Sudah menikah, tetapi belum punya anak, juga tidak merasa lengkap. Itu filosofi, cara pandang hidup manusia pada umumnya. Tetapi ketika kita mengenal Tuhan Yesus, “Serigala mempunyai liang, burung punya sarang, Anak Manusia tidak punya tempat meletakkan kepala-Nya.” Kalau begitu, apakah berarti tidak boleh pacaran atau tidak boleh menikah? “Baik kau makan atau minum, boleh, asal untuk kemuliaan Tuhan.” 
    Orang yang tidak lahir baru, tidak masuk surga. Tetapi lahir baru jangan hanya menjadi kalimat doktrin, dan dibangun dalam pemahaman sistematika teologi saja sehingga sektor riilnya tidak jelas atau tidak ada pengalaman nyatanya, yaitu tidak pernah bertemu Tuhan. Kalau orang benar-benar mengenal suara Gembala, tidak ada yang berharga dalam hidupnya kecuali Tuhan. Kalau benar-benar mendengar suara Gembala, hidupnya pasti berguna bagi orang lain. Dia pasti berkarakter seperti Kristus. 
    Selagi kita masih memiliki kesempatan, cara pandang kita harus diubah. Cara pandang kita harus ditransformasi. Makanya, “persembahkan tubuhmu sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan,” artinya kita mesti serahkan semua, baru bisa tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Kekristenan yang benar itu menyita seluruh hidup kita. Dulu kita juga tahu bahwa kita hidup seperti manusia lain hidup. Hal itu sebenarnya menyimpang, tidak tepat. Kristen yang benar itu menyita seluruh hidup kita. Menikah, untuk Tuhan; tidak menikah pun, tidak masalah. Punya anak, puji Tuhan, dibimbing anak ini untuk menjadi perwira-perwira Kerajaan Surga. Tidak punya anak, juga tidak masalah. 
    Kehidupan kita yang sesungguhnya itu nanti, di balik kubur. Maka Tuhan berkata: “you are not of the world; kamu bukan dari dunia ini.” Paulus menulis: “cari perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Dan Tuhan Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Memang menjadi kacau, ketika filosofi dunia masuk ke dalam khotbah-khotbah pendeta sehingga menjadi seperti motivator. Sedihnya, tidak sedikit khotbah-khotbah pendeta yang lebih rendah dari kualitas motivator. Yang ditekankan hanya masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan bagaimana sebanyak-banyaknya bisa menikmati kenyamanan di bumi.
    Jangan berbisnis dengan Tuhan. Jangan dagang dengan Tuhan. Dia Bapa kita. Tuhan tidak punya kepentingan. Tuhan butuh apa dari kita? Sebenarnya,
    9 min
  • Yang Terbaik
    Satu dari tiga pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus dari Iblis adalah ketika Iblis membawa Yesus ke kota suci dan menempatkan Dia di bumbungan bait Allah. Iblis berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepada Iblis: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”  Maksud dari pencobaan ini adalah agar Yesus meragukan penyertaan Allah Bapa. Jadi, Iblis mendorong Yesus untuk berspekulasi. Hal ini terjadi di awal pelayanan Yesus. Pernyataan Tuhan Yesus ini sebenarnya diambil atau terkait dengan peristiwa bangsa Israel di Masa dan Meriba. 
    Dalam Keluaran 17:1 tertulis, “Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim.” Bangsa Israel dituntun tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam. Lalu berkemahlah mereka di Rafidim. Tetapi, di sana tidak ada air untuk diminum. Jadi mulailah mereka bertengkar dengan Musa. Bahkan pernyataan-pernyataan bangsa Israel menyakitkan hati Tuhan dan hati Musa. “Mengapa engkau bawa kami ke padang gurun ini? Apakah tidak ada kuburan di Mesir?” Selanjutnya mereka juga bertengkar. “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”  Ada kata “mencobai Tuhan”. Kata “mencobai” artinya meragukan kasih, kehadiran, pemeliharaan Allah, serta penyertaan-Nya. 
    Padahal mereka sudah menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana Tuhan memberikan tulah kepada bangsa Mesir. Mereka menyaksikan bagaimana laut Teberau terbelah. Di depan mata mereka, Allah membunuh algojo-algojo Mesir yang sangat besar kemungkinan pernah menyiksa mereka. Sekarang mereka mau melempari Musa dengan batu. Memang kalau kita membaca Alkitab, bangsa itu keras kepala, tegar tengkuk, sehingga sebagian besar mereka mati di padang gurun; tidak sampai ke tanah Kanaan. 
    Selanjutnya, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”  
    Allah tidak pernah berubah. Apa yang Allah pernah lakukan bagi bangsa Israel, Dia juga akan melakukan bagi umat pilihan. Apa arti atau makna peristiwa ini bagi kita sekarang? Disertai Tuhan bukan berarti kita tidak memiliki masalah. Penyertaan Tuhan tidak ditandai dengan keadaan yang serba baik tanpa masalah. Ingat, Tuhan Yesus pernah menyuruh murid-murid-Nya menyeberang Danau Galilea. Hari itu ada badai. Salah satu karakteristik Danau Galilea adalah badai dan angin bisa datang tanpa bisa diprediksi. Ini seperti dunia di mana kita hidup hari ini. Masalah datang tanpa bisa diprediksi. Masalah pasti tidak menyenangkan. Tetapi masalah pasti ada. Bangsa Israel dituntun oleh tiang awan, tiang api, dibawa ke tempat di mana tidak ada air. Tuhan sengaja melakukan itu.
    Jadi kalau kita menghadapi masalah yang mengancam ketenangan hidup, hidup masa depan, jangan meragukan Allah. Sebagai manusia, ada kecenderungan dan godaan-godaan di mana kita menjadi kecut, kecil hati. Kita memang tidak berkata, “Tuhan, mengapa engkau tinggalkan aku?
    11 min
  • Ciri Allah yang Benar
    Berurusan dengan Allah yang benar, artinya kita harus memikirkan hal-hal yang bersifat kekekalan. Berurusan dengan Allah yang benar, maka orientasi berpikir kita harus hal-hal kekekalan. Ini ciri dari Allah yang benar, ciri dari jalan kebenaran yang benar. Banyak agama atau kepercayaan di dunia dan banyak ilah, allah, dewa yang ditawarkan. Ciri dari Allah yang benar adalah Allah yang memperkarakan kekekalan dan menghendaki umat-Nya berfokus pada hal ini. 
    Kalau kita berurusan dengan Allah Bapa yang bernama Elohim Yahweh, yang mengutus Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia, tetapi tidak memiliki orientasi berpikir mengenai kekekalan, maka kita tidak akan pernah bisa seiring dengan Allah. Sampai mati atau meninggal dunia, kita tidak akan pernah mengenal Dia dengan benar. Oleh sebab itu, mari ubah cara berpikir kita. Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kekekalan kita, bukan untuk perkara-perkara fana dunia. 
    Oleh karena pengaruh dunia, lingkungan sejak kecil—lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan pergaulan—maka kita memiliki cara pandang hidup yang salah. Proyeksi hidup dan orientasi berpikir kita masih kefanaan. Kita harus memeriksa diri dengan benar. Coba kita introspeksi diri. Jangan sampai terlambat mengubah diri atau diubah oleh Tuhan, sampai kita tidak pernah berubah. Selama masih ada kesempatan, dan hati kita masih bisa dilenturkan, kita bisa berubah. Tetapi kalau kesempatan yang Tuhan berikan kita abaikan, lalu kita berpikir dengan cara berpikir anak dunia terus-menerus, sudah mendengar Firman tetapi tidak mau menuruti, mengeraskan hati, kita mendukakan Roh Kudus. 
    Kalau terus-menerus mendukakan Roh Kudus, kita bisa memadamkan Roh Kudus. Setelah memadamkan Roh Kudus, kita menghujat Roh Kudus. Menghujat, artinya kita sudah tidak bisa menerima lagi pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita. Seperti tanah kering yang tidak bisa lagi ditumbuhi tanaman. Jangan main-main dengan peringatan ini! Kita mungkin selama ini merasa aman. Ketika kita sukses dalam karier atau bisnis, ada suara berkata, “Allah memberkati.” Kita merasa dalam keadaan yang diperkenan oleh Allah. Kita merasa diberkati Tuhan, itulah siasat setan yang menyesatkan dan menipu kita. He is a liar; dia penipu. 
    Bagi para hamba Tuhan, jangan berpikir dengan jemaat yang berjumlah besar, berarti sudah benar. Jangan merasa diberkati Tuhan karena memiliki bisnis atau karier yang sukses. Setan sedang menipu kita. Padahal, kita tidak ada di tempat yang tepat di mata Allah. Banyak orang Kristen yang merasa diberkati oleh Tuhan, sebenarnya tidak. Cirinya apa? Dia masih berorientasi pada kefanaan. 
    Bagi yang merasa diberkati Tuhan, bisa membangun gereja dengan uang yang dimiliki, membuat persekutuan doa di rumah lalu mengundang pendeta, melakukan kegiatan sosial, dan kita merasa diberkati oleh Tuhan. Dengan berkat itu, kita bisa membagi ‘remah-remah.’ Itu bukan seluruh hidup, hanya ‘remah-remah.’ kalau memiliki uang 1 triliun, kita mempersembahkan 3-4 miliar, itu masih remah-remah. Lihat bagaimana Iblis menipu kita. Pokoknya kalau kita belum berorientasi pada kekekalan, kita masih sesat (menyimpang). 
    Apa pun yang kita peroleh di dunia, seagung, semulia, sebesar, semakmur apa pun, tidak ada artinya dibanding kekekalan. Perbandingannya: nol dengan tidak terhingga. Gunakan logika rohani kita. Allah hanya mau berurusan dengan orang-orang yang berorientasi pada kekekalan. Ingat, ketika Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya, Dia menyampaikan khotbah di bukit. Di Matius 6:19-21 Tuhan Yesus memulai dengan pernyataan: “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Sudah sangat jelas. Kita bisa berbicara tentang Tuhan atau mengenai surga dan neraka, tetapi kita belum berorientasi pada kekekalan. Bagi para pendeta, lulusan Sekolah Tinggi Teologi, harus hati-hati. Jangan merasa sudah bisa berkhotbah tentang Tuhan, berarti sudah rohani dan diperkenan oleh Allah.
    Kalau orientasi berpikir kita belum kekekalan,
    8 min
  • Prestasi Kekal
    Mari kita mengejar prestasi yang memang Allah kehendaki kita kejar. Jangan mendukakan hati Allah dengan kehidupan yang sia-sia. Allah menyediakan kemuliaan untuk kita yaitu umat pilihan. Jangan sampai kita mengarahkan diri kepada sesuatu yang tidak mulia sebenarnya, tetapi dipandang mulia. Rata-rata semua kita adalah orang-orang yang pernah disesatkan. Kita memandang apa yang dinilai manusia, apa yang dinilai dunia sebagai kemuliaan, kita pun ikut terbawa. Dan kita sibuk dalam geliat untuk mencapai prestasi; prestasi yang kita pandang sebagai kemuliaan. 
    Ingat ucapan Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, “apa gunanya kamu beroleh segenap dunia kalau jiwamu binasa?” Apa artinya kita bisa meraih segala sesuatu yang bernilai di mata manusia, padahal itu hanya sekejap. Tetapi kita menyia-nyiakan kekayaan yang mestinya kita bisa miliki, yang oleh karenanya Bapa memberi kesayangan-Nya, Tuhan Yesus. Yang karenanya Yesus, Tuhan kita, rela menderita mati di kayu salib. Jangan meremehkan dan melecehkan Tuhan dengan cara pandang yang sesat itu. Allah menyediakan sesuatu yang benar-benar bernilai mulia, tetapi kita tidak memandang itu sebagai sesuatu yang bernilai atau mulia. 
    Ingat, apa yang dikatakan firman Tuhan dalam kitab Ibrani, “jangan seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan.” Dan ketika ia berusaha untuk memilikinya, ia tidak punya kesempatan. Jadi selagi jantung kita berdetak, nadi kita berdenyut, ada tarikan nafas, artinya masih ada kesempatan. Jangan menukar dengan semangkuk makanan, sepiring makanan; sesuatu yang fana. Kita harus serius memperkarakan ini. Jangan hanya pada waktu kita di gereja, tetapi sejak hari ini; hari-hari hidup, minggu, bulan, tahun-tahun hidup kita harus sungguh-sungguh serius mempersoalkan hal ini. 
    Ada kalimat yang luar biasa di Roma 8:17 yang sering lolos dari pengamatan kita. “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris.” Ahli waris dari Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, yang memiliki segala kuasa, kemuliaan dan kerajaan. Kita adalah orang-orang yang berhak menerima semua itu. Jadi, ayat 2 Korintus 8:9 jangan kita pahami keliru, seakan-akan kalau kita sudah percaya Tuhan Yesus Kristus, otomatis kita menjadi kaya. Lebih rusak lagi kalau kata “kaya” di sini diberi makna, diisi pengertian kekayaan materi. “Dia yang kaya jadi miskin, supaya kita yang miskin jadi kaya.” Kaya secara materi, itu lebih menyesatkan. 
    Kita tidak menolak kenyataan orang-orang yang diberkati secara materi oleh Tuhan, tetapi kalau ayat ini hanya ditujukan kepada materi, itu pasti dari kuasa kegelapan. Jadi, hati-hati dengan teologi kemakmuran yang tidak tepat. Prosperity theology. Kita percaya kemakmuran di dalam Tuhan yang Tuhan berikan bagi kita adalah supaya kita mengawal pekerjaan Tuhan. Bukan untuk kesenangan dan kepuasan diri kita. Tetapi kita harus sungguh-sungguh memandang bahwa kemakmuran duniawi tidak ada artinya jika dibanding dengan kekayaan Allah, yaitu kemuliaan. Kita kiranya mengingat ini, menuliskan, menggoreskannya di dalam hati kita. 
    Kita adalah anak-anak Allah, ahli waris. Ahli waris, maksudnya orang yang berhak menerima janji-janji Allah. Janji untuk menerima kemuliaan bersama dengan Kristus, yaitu—ini penting—jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Jadi, tidak otomatis. “Dia yang kaya jadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya,” itu tidak otomatis. Apalagi kalau kata “kaya” itu diberi pengertian, diisi pengertian “kekayaan materi.” Ini meleset. Kalau suatu hari kita memandang kekekalan yang dahsyat, berhadapan dengan Tuhan dan menyaksikan kemuliaan yang hari ini tidak bisa dibahasakan dengan kata, kalimat bahkan narasi, kita akan berpikir apa pun kita rela korbankan demi kemuliaan ini. 
    Jadi, kita harus sudah punya penglihatan yang jauh, visi yang jauh, yaitu kemuliaan bersama dengan Kristus. Dan ini bukan satu fantasi.
    9 min
  • Kemuliaan Sementara
    Hampir semua manusia—dan bisa ini dikatakan semua manusia—tentu manusia yang sehat dan wajar berpikirnya, ingin memiliki prestasi di dalam hidup, ingin ada pencapaian di dalam hidup ini. Tentu prestasi dan pencapaian masing-masing orang bisa berbeda, sesuai dengan filosofi hidup yang dimiliki setiap orang. Yang satu, pencapaiannya dalam dunia pendidikan; yang lain dalam dunia politik dan pemerintahan; yang lain lagi, dalam bentuk materi atau kekayaan, dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah kita memikirkan prestasi yang memiliki nilai kekal? Sebab kalau hanya gelar, kekuasaan dan pangkat, kedudukan, kekayaan, popularitas atau apa pun yang bisa diraih oleh seseorang, semua akan lenyap seperti uap. 
    Dan ketika seseorang melihat realita bahwa semua yang diupayakan dengan susah payah akhirnya lenyap dalam sekejap, itu ketragisan yang luar biasa. Dan orang-orang yang fokus pada prestasi atau pencapaian terhadap hal-hal yang fana tersebut, pasti dia mengorbankan prestasi kekal yang mestinya diupayakan, diusahakan, diperjuangkan. Betapa tragisnya itu. Tuhan Yesus memberi pesan kepada kita, “apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Jadi, apa pun prestasi yang bisa dicapai, tetapi kalau jiwanya binasa, tidak ada artinya. 
    Mari kita memikirkan hal ini dengan serius, memperkarakan ini di sepanjang hari, minggu, bulan, dan tahun-tahun hidup kita. Tuhan menghendaki kita berubah. Tuhan menghendaki kita mengarahkan fokus hidup kita kepada yang bernilai kekal atau abadi. Jangan sampai kita mengalami ketragisan hidup, ketika apa yang kita usahakan, upayakan dan perjuangkan dalam tahun-tahun umur hidup kita dengan susah payah, lenyap dalam sekejap. Dan kita tidak memiliki apa pun di dalam kehidupan ini. 
    Di dalam 2 Korintus 8:9 firman Tuhan mengatakan: “karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Kita percaya bahwa Yesus sudah ada sebelum lahir di kota Betlehem. Jadi, ada praeksistensi. Dia memiliki kemuliaan sebelum datang ke dunia. Dia adalah Anak Tunggal Bapa.
    Tentu “kekayaan” yang dimaksud di sini bukanlah kekayaan materi, sebab kekayaan Yesus tidak diukur dengan materi. Kemuliaan bersama Bapa, itulah kekayaan-Nya. Dia rela meninggalkan kemuliaan untuk menjadi manusia. Bahkan dalam keadaan sebagai manusia, Ia direndahkan, dihina dengan tubuh setengah telanjang atau telanjang, tergantung di kayu salib antara langit dan bumi, dan mati dalam keadaan miskin karena jubah yang dikenakan-Nya pun dilucuti dan diperebutkan dengan undi. Hal ini luar biasa. “Supaya kamu menjadi kaya.” Tentu kekayaan di sini adalah kemuliaan seperti kemuliaan yang pernah Yesus miliki. 
     “Supaya kita yang miskin menjadi kaya. Oleh karena kerelaan-Nya, Dia yang kaya menjadi miskin.“ Tetapi persoalannya sekarang, apakah benar kita sudah menjadi kaya? Ini bukan kekayaan materi. Apakah kita telah memiliki kemuliaan atau layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus? Roma 8:17 mengatakan, “jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus.” Di dalam Injil Yohanes, beberapa kali dikatakan atau Yesus mengatakan, “kemuliaan yang Kau berikan kepada-Ku sebelum dunia dijadikan.” Kemuliaan yang akan dikembalikan kepada Kristus. Dan bersama-sama dengan Yesus, kita akan menerima kemuliaan itu. Persoalannya, kita memiliki kemuliaan itu atau tidak? Tepatnya, apakah kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus? 
    Coba kita bertanya kepada diri kita sendiri. Kita layak tidak, dimuliakan bersama dengan Kristus? Apa pun yang kita telah capai dan miliki hari ini, itu kemuliaan sementara. Kita memiliki rumah tangga yang bahagia, suami yang cakap mencari nafkah, istri yang cantik dan mendukung suami, keluarga yang ideal di mata manusia,
    10 min
  • Perjalanan Umat Pilihan
    Dalam beberapa kesempatan kita membahas mengenai Lukas 18:8, “jika Anak Manusia, datang apakah Dia mendapati iman di bumi?” Ini adalah peringatan yang mengerikan, dan sepatutnya sungguh-sungguh menarik perhatian kita. Tuhan Yesus menyatakan dan mengesankan dengan jelas, bahwa semakin sedikit atau hampir-hampir tidak ada orang yang beriman. Tentu beriman ini harus standar Tuhan. Dan sebagai umat pilihan, kita harus menunjukkan standar iman yang benar itu bagaimana. Maka, kita harus terus berjuang. Kita harus menggeliat dan mempertanyakan apakah kita telah memiliki iman yang benar, sehingga kita diperkenan masuk tempat perhentian Tuhan? 
    Kita tidak boleh merasa sudah beriman hanya karena ke gereja, mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itu belumlah standar iman yang Tuhan kehendaki. Jangan kita merasa tenang, jangan merasa aman. Itu ketenangan yang palsu, aman yang palsu, damai yang palsu. Jangan sampai kita menyetujui penyampaian ini, namun begitu kembali pada aktivitas atau kehidupan sehari-hari, kita juga kembali pada ‘tekukan’ yang sudah ada (kebiasaan lama kita). Kita kembali dalam berbagai kesibukan dan aktivitas, sehingga lupa bahwa kita ini umat pilihan. Tidak semua orang dipanggil seperti kita. Umat pilihan itu harus diseberangkan dari Mesir. Dunia ini Mesir, kita mau diseberangkan ke langit baru bumi baru. 
    Jangan sampai kalimat ini ditujukan kepada kita, “sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku, mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” Memang, Tuhan seakan-akan tidak terganggu dengan perilaku kita yang sembarangan. Tuhan seakan-akan tidak terganggu dengan kita yang tidak berkualitas, yang tidak sesuai standar Tuhan. Tetapi, sebenarnya Tuhan terganggu. Tuhan ingin kita memiliki iman sesuai dengan standar Tuhan. Dan iman standar Tuhan itu seperti yang ditulis di Ibrani 12:2, Yesus. Ketaatan Yesus kepada Bapa di surga, itulah standar iman yang benar. 
    Kita tidak pernah sungguh-sungguh memperkarakan betapa bencinya Allah terhadap dosa, betapa muaknya Allah terhadap kenajisan. Kita ditipu oleh diri kita sendiri, ditipu oleh kuasa gelap, seakan-akan Allah toleransi terhadap kelemahan dan kekurangan kita, sehingga kita tidak sungguh-sungguh berusaha untuk hidup kudus; tak bercacat, tak bercela. Apalagi kalau kita sudah melihat catatan hidup kita yang telah kita lalui, betapa sulitnya hidup suci, sampai putus asa. Ibrani 12:2 menunjukkan bahwa standar iman kita itu adalah ketaatan Yesus kepada Bapa. 
    Lalu di ayat yang berikutnya,  Tuhan berkata: “dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah.” “Dosa” artinya kodrat di dalam diri kita yang tidak sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. “Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: Hai, anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Tuhan mau kita menjadi anak; huios, pewaris Kerajaan Allah. 
    Allah tidak memiliki bisnis lain. Allah hanya memiliki satu bisnis, yaitu keselamatan; mengubah individu menjadi anak Allah. Dan perubahan ini, ini simetris, analog dengan perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan. Kalau perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan menempuh jarak, tetapi perjalanan kita menempuh perubahan; dari kodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Kalau di dalam Ibrani pasal 12, dikatakan “menjadi orang yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah.” Tidak ada bisnis Tuhan yang lain. Kalau kita membaca dalam Yohanes pasal 15 mengenai pokok anggur, Bapa sebagai Pengusahanya, Yesus sebagai pokoknya, kita rantingnya, supaya berbuah. Buah itu apa? Kalau kita menghisap, kita menyerap getah dari pokok anggur itu, kita akan menghasilkan buah. Buah dari serapan karakter dan watak Tuhan Yesus. 
    Ini perjalanan.
    10 min
  • Tanpa Batas
    Tuhan Yesus belajar taat dari apa yang diderita-Nya. Setelah Dia mencapai kesempurnaan, Dia menjadi pokok keselamatan. Menjadi Penggubah, menjadi contoh atau teladan bagi kita. Jadi, kita bisa hidup seperti Dia hidup, sebab memang Tuhan Yesus naik ke surga supaya pekerjaan-Nya kita teruskan. “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu.” Tongkat estafet yang Yesus terima dari Bapa, diberikan kepada kita. Tentu kita yang mengikuti jejak Tuhan Yesus, yang mau hidup di dalam kesucian Bapa dan terus belajar untuk memiliki pikiran, perasaan Tuhan. Tuhan tampil di gelanggang dunia ini melalui dan di dalam hidup kita. Kita perwakilan-Nya. Karenanya, Tuhan Yesus mengatakan: “mereka menolak kamu, mereka menolak Aku.” Kita representative, ambasador-Nya; utusan, menjadi surat yang terbuka untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada dunia. Inilah yang dimaksud dengan prestasi kekal, prestasi abadi yang harus dipergumulkan dan diperjuangkan. 
    Banyak orang mengisi tahun-tahun umur hidupnya dengan perjuangan demi karier, pangkat, kedudukan, gelar, popularitas, harta, yang itu dianggap sebagai prestasi. Dan tentunya orang berpikir dengan prestasi itu, ia menjadi bernilai, berharga dan bahagia. Padahal semua itu lenyap sekejap, seperti uap. Pada umumnya kita telah disesatkan, sehingga kita telah terbawa oleh irama dunia. Bersyukur, kita mendengar kebenaran ini. Kita ditarik untuk keluar dari irama yang salah. Kita mau memperjuangkan prestasi yang memiliki nilai kekal; prestasi abadi. 
    Kalau suatu hari kita melihat kemuliaan Allah dan memandang kekekalan yang dahsyat, kita akan sangat menyesal sekali. Kita bisa merasakan, menghayati betapa singkatnya waktu yang Tuhan berikan, 70-90 tahun kalau dibandingkan dengan kekekalan, tidak ada artinya. Tetapi kalau kita mengisi tahun-tahun hidup untuk mencapai prestasi abadi; yang sama dengan mengumpulkan harta di surga, kita tidak pernah menyesal. Hidup jadi mengasyikkan. Doa kita adalah “Tuhan, jadikan hidupku bernilai bagi Kerajaan Allah. Sekecil apa pun, buat hidupku berguna, berperan dalam pekerjaan-Mu.” Kata “sekecil” bukan berarti mau memberikan sekecil-kecilnya, melainkan memberi tanpa batas apa yang kita miliki, yang berperan bagi pekerjaan Tuhan. Sekecil apa pun, tetapi merupakan seluruh hidup tanpa batas. 
    Kita harus keluar dari irama yang salah, yang menyesatkan semua manusia. Kita ikut jejak Tuhan Yesus yang hidup-Nya benar-benar hanya difokuskan kepada Bapa dengan kalimat: “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Tuhan berbicara mengenai kekayaan kekal di Lukas 12:20 dan 21, “tetapi firman Allah kepada orang kaya itu,” yang sibuk mengumpulkan harta di bumi, “Hai, engkau orang bodoh.” Padahal orang ini bisa dianggap konglomerat kalau di zaman kita, sebab begitu banyak miliknya dan asetnya sehingga harus menambah gudang. 
    Dia berkata, “hai, jiwaku, tenanglah, senangkan dirimu.” Gandum itu tidak terkait dengan jiwa. Kalau perut diisi nasi, jiwa tidak bisa diisi roti. Jiwa kita hanya bisa diisi Tuhan, bukan makanan. Tetapi banyak orang tidak mengerti. Ini seperti orang bodoh. Orang ini kaya dan sukses. Kalau di zaman ini, pasti dihormati oleh masyarakat, para konglomerat, orang-orang kaya, dan dihormati oleh pejabat-pejabat karena bisa menjadi ATM. Lalu juga dihormati oleh pendeta-pendeta. Terapi kita tidak boleh begitu. Itu melukai hati Tuhan. Semua kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah; anak-anak Allah. 
    Konglomerat ini, dia merasakan dan berkata: “hai, jiwaku. Banyak harta, senangkan dirimu, tertimbun bertahun-tahun.” Lalu firman Tuhan mengatakan: “Hai, kamu orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?” Anak cucu punya rezekinya sendiri, tetapi kita punya tanggung jawab untuk orang yang menjadi bagian kita, yang kepadanya kita harus pecahkan roti dan curahkan anggur. 
    Apakah tidak boleh mewariskan kekayaan ke anak-anak? Harus.
    9 min
  • Perhentian Tuhan
    Kalau kita sekarang masih memiliki kesempatan, jangan sia-siakan kesempatan itu. Berbahagialah orang-orang yang usianya relatif muda, karena memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk diproses menjadi man of God; manusia Allah, yang bebas dari unsur-unsur duniawi, sehingga bisa menjadi manusia cemerlang di hadapan Allah. Jangan terbawa oleh dunia. Kita pasti bisa mengerti bagaimana dunia mencoba menarik kita dari kehidupan keberkenanan di hadapan Allah dengan berbagai pengaruh: lagu, gadget, tontonan film, suasana pergaulan yang begitu fasik. 
    Kita yang belajar kebenaran seperti ini, bisa lebih peka melihat. Jadi, jika hari ini kita mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hati. Jangan kita tidak menggeliat. Ayo, kita berubah. Tiap hari berusaha berubah. Di singkatnya waktu hari hidup ini, apalagi mengingat suamnya kekristenan di Barat, menyimpangnya banyak gereja, kita pertanyakan kepada Tuhan, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” Sementara, kita memeriksa diri dengan saksama, jangan sampai kita sendiri meleset.
    Ibrani 4:8, “sebab andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pastilah Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh bagi umat Allah.” Maksudnya “perhentian yang sesungguhnya” itu ada di langit baru bumi baru. Ada jenis perhentian lain, selain perhentian di tanah Kanaan. Kita perhatikan, “sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian Allah, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.” Ini kalimat bagus, “baiklah kita berusaha.” Perhatikan kata ini: “baiklah kita berusaha untuk masuk dalam perhentian itu.” Harus ada usaha. 
    “Kita mengalir saja,” mengalir ke mana? Banyak orang mengalir, namun sejatinya mereka tidak tahu mereka mengalir ke mana. Dunia lebih kuat arusnya, menggiring orang ke dalam kegelapan abadi. Kalau orang benar saja hampir-hampir tidak diselamatkan, bagaimana dengan orang fasik? Itu firman Tuhan. Jadi, seberapa kita punya usaha untuk masuk dalam perhentian itu? Ingat, tadi firman Tuhan mengatakan ada jenis perhentian yang lain. 
    Ini sejajar dengan apa yang kita sering kemukakan. Abraham tinggal di Kanaan, itu negeri yang dijanjikan. Tetapi dia sebagai orang asing di situ. Mengapa? Sebab Dia menantikan janji yang satu itu: Kanaan surgawi. Kanaan di mana Abraham, Ishak, dan Yakub tinggal, di situ dia bersikap sebagai orang asing. Dia hanya membuat kemah, tidak membangun rumah permanen, seperti rumah Abraham di Lembah Sumeria yang sudah Metropolis dan modern pada zamannya. Dia tetap sebagai bangsa nomaden; bangsa pengembara. Kalau sejarah dunia mencatat bahwa nenek moyang bangsa Yahudi itu bangsa nomaden, memang hal tersebut benar adanya. Tetapi kalau membaca Alkitab, Abraham menjadi bangsa nomaden karena mencari negeri yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Walaupun belum sampai negeri itu, dia sudah melambai-lambai. Ada tanah yang dijanjikan; janji yang satu ini. 
    Demikian pula perhentian. Ada perhentian yang lain. Penulis Ibrani menunjukkan adanya perhentian lain. Kalau bangsa Israel, Kanaan duniawi di bumi ini, di Palestina. Kalau kita, di langit baru bumi baru. “Karena itu berusahalah untuk masuk ke dalam perhentian itu,” berusahalah, “supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.” Jadi, ada orang-orang yang memang tidak sampai kepada perhentian Tuhan, karena tidak dalam ketaatan atau hidup dalam ketidaktaatan. “Berusaha, sungguh-sungguh,” lalu ayat berikutnya, perhatikan. Ayat ini sering dilepaskan dari konteksnya, tetapi kali ini kita masukkan ayat ini dalam konteks. 
    “Sebab firman Allah itu hidup, dan kuat, dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum, ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Percayalah, Roh Kudus melalui Firman-Nya akan memberi kita pengerti...
    11 min
  • Alat Kemuliaan
    Betapa mengagumkan kesabaran, pengertian, penerimaan Tuhan atas kita. Dan Penjunan yang Mahahebat dan Mahacerdas ini, dalam kesabaran-Nya, mau membentuk kita, mau mengubah kita. Oleh sebab itu, kemurahan Tuhan yang begitu besar, tidak boleh kita sia-siakan. Jangan sampai kita sia-siakan. Tuhan mengampuni kita, menerima kita, lalu membentuk kita. Yeremia 18:4, “Apabila bejana yang dibentuk-Nya itu rusak atau gagal, dibentuk-Nya kembali menjadi bejana yang lain.” Jadi, jangan menyia-nyiakan anugerah ini selagi kita masih memiliki kesempatan untuk dibentuk dan diproses. 
    Tuhan ingin kita ini menjadi alat kemuliaan-Nya di kekekalan. Di kekekalan nanti, menjadi bejana indah yang bersama-sama dengan Bapa. Di sana ada kehidupan. Tetapi, kita sudah terbentuk sejak kita di bumi ini, menjadi alat kemuliaan-Nya, menjadi irama yang tetap, yang ajeg, yang permanen. Natural, bukan dibuat-buat. Dan ini kita bawa di kekekalan. Maka untuk menjadi orang yang iramanya ajeg, permanen, baik, itu perlu waktu. Yang tadinya jalan oleng-oleng, lalu jalannya jadi lurus, perlu perubahan dan waktu. Jangan sampai saat meninggal dunia, jalannya masih oleng. Sehingga tidak bisa masuk ke dalam Rumah Bapa yang agung, kudus, dan mulia. 
    Roh Kudus pasti berbicara kepada kita. Roh Kudus akan ‘mengupas’ kita seperti bawang. Dikupas lagi, lalu dikupas lagi, selapis demi selapis sampai habis. Kita sering tidak tahu, tapi sekarang kita tahu bahwa ada kemunafikan, kesombongan, ambisi yang terselubung, dan lain-lain, dalam lingkungan hidup kita. Bagi pendeta di lingkungan pelayanan, biasanya tidak menyadari keadaan itu. Semoga suatu hari kita bisa sampai pada titik dimana kita optimis bisa sempurna seperti Yesus. Sampai kita berkata, “hari ini aku akan mulai serupa dengan Yesus. Hari ini aku bisa.” Walaupun hari itu rasanya belum memuaskan, esok harinya lagi, “hari ini aku bisa.” 
    Dulu kita tidak berani berkata begitu. Tidak mampu, karena memang faktanya kita jatuh bangun dan kita masih kompromi dengan kesalahan-kesalahan kita atau masih tidak tegas terhadap dosa. Tetapi ketika kita mulai tegas, kita bergumul, irama kita makin tetap, kita bisa. “Hari ini aku bisa serupa Yesus. Hari ini aku mulai, bisa.” Dan itu optimis sekali, walaupun kenyataannya ada melesetnya. Besoknya begitu lagi, “aku bisa hari ini.” Dan itu benar-benar membahagiakan. Alat kemuliaan Allah—kalau kita standar SNI—ini “Standar Kerajaan Allah” (SKA). SKA kita itu Tuhan Yesus. Jadi, harus benar-benar memperkarakan dan disibukkan dengan hal ini. 
    Apakah boleh jika standarnya dikurangi? Tidak bisa. Kita harus mengerti, kita harus menjadi cerdas. Sebagaimana sering orang berkata: “kita tidak bisa sempurna seperti Tuhan Yesus,” memang mungkin tidak bisa, karena persoalannya berbeda. Beban yang dipikul Yesus berbeda dengan beban kita. Kita tidak bisa memikulnya jika disamakan bobotnya. Tetapi, yang penting lulus. Jadi, sama seperti Yesus, apanya? Lulusnya. Soalnya saja yang berbeda; berat atau bobot persoalannya memang tidak akan bisa sama atau tidak mungkin sama.
    Jadi kalau Standar Kerajaan Allah itu Yesus, apakah bisa kita capai? Bisa. Kenapa tidak bisa? Tuhan tidak akan mengizinkan kita mengalami keadaan atau menghadapi persoalan, pencobaan yang tidak bisa kita pikul. Kalau Tuhan Yesus itu misalnya memikul 1000 ton, mungkin kita hanya 10 ton atau 100 ton. Tapi, kita bisa lulus. Berhasil jadi alat kemuliaan Allah juga. Kalau ombak yang harus dilewati Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, tingginya 6 meter, mungkin kita hanya setengah meter. Tapi yang penting tetap bisa kita lewati. Kita tetap bisa menjadi alat kemuliaan Allah sesuai dengan keadaan kita masing-masing dan di mana pun kita berada. 
    Jadi kalau ada orang berkata, “kita tidak mungkin sempurna seperti Yesus,” harus dijelaskan dulu “sempurna itu apa?” Sempurna berarti lengkap, utuh, lulus. Kita tidak bisa sempurna seperti Yesus, karena persoalannya berbeda. Tapi, kita bisa sempurna seperti Yesus,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…