Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Melipatgandakan Pertahanan
    Salah satu perubahan yang benar dan terjadi dalam hidup orang percaya yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, haus dan lapar akan kebenaran, dan merindukan perubahan adalah ia merasa aneh dan asing di tengah-tengah lingkungan yang biasanya ia tidak merasa aneh. Dulu kita sama dengan mereka; satu frekuensi, satu irama, satu nada, satu selera. Tetapi kemudian ketika kita mulai berubah—dimana fokus hidup kita mulai terarah kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, selera duniawi mulai berubah menjadi selera surgawi—kita akan melihat diri kita aneh, “kenapa aku tidak seperti dulu?” Pasti orang di sekitar kita cepat atau lambat pun akan melihat perubahan tersebut. 
    Ketika kita berada di tengah-tengah mereka, kita merasa tidak nyaman, ada perasaan menolak atau tertolak. Sejatinya, itu adalah ciri dari kehidupan orang percaya yang sedang dipindahkan Tuhan. Dan inilah yang sebenarnya lebih penting dari perubahan ekonomi, kesehatan atau perubahan dalam hidup yang bersifat fana. Justru perubahan seperti inilah perubahan yang paling normal di mata Tuhan; paling benar. Kita yang terus dengan setia mencari kebenaran, doa pagi setiap hari, tidak mungkin kita tidak berubah. Kita sendiri juga merasa perubahan tersebut.
    Hal-hal yang dulu kita kemukakan tidak kita kemukakan lagi, karena kita anggap kurang atau tidak pantas. Gelora emosi yang dulu muncul dan mengalir, sekarang mulai tereliminir. Jadi, ini adalah ciri dari seorang yang benar-benar mengalami perubahan. Namun jika kita sudah mulai mengalami perubahan, waspadalah, Iblis melihat kita membahayakan. Iblis melihat itu sebagai ancaman bagi kerajaan kegelapan. Iblis bisa melipatgandakan serangan, melipatgandakan serbuan dalam hidup kita.
    Jadi kalau kita sudah mulai menapaki perubahan ini, kita harus juga melipatgandakan waktu mencari Tuhan, mendengar khotbah dan mulai benar-benar meninggalkan hal-hal yang tidak perlu kita lakukan. Ingat, kita harus benar-benar memisahkan diri dari dunia. Memang ada orang-orang yang tidak bisa kita hindari; berhati-hatilah saat kita bertemu, karena penggaraman negatif dari dunia bisa melalui orang-orang dekat kita—pasangan hidup, orangtua, anak-anak, keluarga, orang dekat—yang dapat dipakai Iblis untuk menghentikan laju perubahan kita, karena kita sedang menuju Yerusalem Baru.
    Iblis akan memasang ranjau-ranjaunya, supaya kita terhambat dan kalau bisa digagalkan. Di sisi lain, kita juga akan mulai heran—seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 4:12 bahwa akan ada nyala api siksaan yang menimpa kita. Jadi ketika kita mulai sungguh-sungguh, kita akan menghadapi hal-hal yang tidak terpikir sebelumnya dan kita akan bertanya, “Mengapa semua ini terjadi, Tuhan? Kita akan dimurnikan melalui banyak hal, supaya kita menjadi mempelai yang cantik yang dikatakan oleh 2 Korintus 11 sebagai perawan suci. Kita akan menjadi perawan suci, dimurnikan, namun tekad kita harus makin bulat. 
    Dan satu hal yang penting yang kita harus lakukan adalah kita harus memiliki satu ruangan dalam hidup; dan itu adalah ruangan milik Tuhan yang tidak boleh dibagi dengan yang lain. Maka kata “berkemas-kemas” itu penting untuk kita ingat terus, agar kita tidak ada waktu untuk hal yang tidak perlu. Ingat waktu Nehemia membangun tembok Yerusalem, Sanbalat dan teman-temannya mengganggu, supaya usaha membangun kembali tembok Yerusalem itu terhambat. Ada saja yang dilakukan oleh kuasa kegelapan dalam menghambat pembangunan hidup rohani kita, tetapi justru seharusnya hal itu membuat kita lebih kokoh dari sebelumnya. 
    Jadi milikilah satu ruangan, supaya ruangan itu hanya diisi oleh Tuhan dan prinsipnya tidak ada kegiatan yang tidak diarahkan untuk Tuhan. Jadikan hidup kita berarti bagi Kerajaan Surga, sekecil apa pun peran kita; tapi bukan berarti kita memberi yang kecil, melainkan kita memberikan segenap hidup kita tanpa batas. Dan kita tahu kalau suatu hari kita bertemu dengan Tuhan, kita akan mengerti betapa kita harus setepat tepatnya melakukan apa yang Tuhan kehendaki,
    9 min
  • Merindukan Kedatangan-Nya
    Bagaimana kita bisa mengukur kita benar-benar bersukacita menyambut kedatangan Tuhan atau tidak? Ukurannya sederhana: apakah kita senang jika meninggal dunia? Apakah kita siap meninggal dunia? Bersuka tidak, meninggal dunia? Karena, meninggal dunia berarti kita bertemu Tuhan. Kalau Tuhan datang kembali; parousia, berarti Tuhan yang mendatangi atau menjemput kita. Tetapi kalau kita meninggal dunia, kita mendatangi Tuhan, berjumpa juga dengan Tuhan. Jadi, orang yang takut meninggal dunia, orang yang tidak senang meninggal dunia, pasti orang yang belum bersukacita. Tentu pergumulan ini pergumulan kita semua. 
    Kalau kita tidak menantikan kedatangan Tuhan, tidak merindukan kedatangan Tuhan, berarti ada yang salah dalam hidup kita. Kita sedang bersuka dengan sesuatu, bukan bersuka untuk bertemu dengan Tuhan. Kita harus memeriksa diri sendiri, mengevaluasi, mengintrospeksi, dan mengukur, benarkah kita mencintai Tuhan? Dan kalau kita mencintai Tuhan, kita pasti merindukan kedatangan-Nya. Kita harus memaksa diri untuk merindukan Tuhan. Memang, ada banyak kesenangan yang menjadi kesukaan kita, yang membuat kita tidak sungguh-sungguh untuk merindukan bertemu Tuhan. Maka, kita harus memaksa diri untuk membunuh semua hasrat, keinginan, cita-cita, dan mengarahkan diri kepada Tuhan, dan menyatakan untuk hidup guna melakukan kehendak Tuhan saja. 
    Jadi, baik kita makan atau minum, bekerja, berpacaran, menikah, punya anak, membangun rumah tangga, semua kita lakukan untuk kesukaan hati Tuhan. Dan orang yang benar-benar berusaha hidup untuk kesukaan hati Tuhan, itu orang yang akan merindukan Dia. “Sudah habis aku, Tuhan. Aku sudah selesai dengan diriku sendiri. Tidak ada yang kuingini, kuminati, kuhasrati.” Seperti pujian yang kita juga sering nyanyikan: “Tuhan, aku rela mengosongkan bejana hatiku” dari segala keinginan dan hasrat pribadi. Dan kita juga mengucapkan kalimat dalam lagu itu, di dalam syairnya: “Tuhan, penuhi aku dengan hasrat surgawi.” Kita harus nekat. Benar-benar seperti orang tidak waras. Dan memang dari kacamata umum, ini tidak waras. 
    Menikah karena Tuhan, punya anak, berumah tangga, semua kita kerjakan untuk Tuhan, semua kita lakukan untuk Tuhan. Kita mau menjadi kesukaan hati Tuhan. Dengan demikian, hidup kita baru menjadi keharuman di hadapan Allah. Maka, dalam doa kita bisa berkata, “Tuhan Yesus, ajar aku memiliki keharuman seperti keharuman-Mu, sehingga aku menjadi keharuman di hadapan Bapa di surga.” Memang, tidak banyak orang yang nekat seperti ini. Tetapi berbahagialah kita yang nekat, karena hidup kita singkat. Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir. Dan kekekalan itu dahsyat. Intinya, hanya sedikit yang benar-benar bersuka; tidak banyak orang yang benar-benar bersuka untuk bertemu dengan Tuhan. 
    Kita harus berusaha membunuh, mematikan semua hasrat, minat, keinginan pribadi kita, sehingga kita bisa mengatakan: “Tuhan, Engkau tujuan hidupku. Engkau gairahku. Engkau cintaku. Engkau minatku. Engkau hasratku, Tuhan.” Roh Kudus akan menolong kita mengelola batin dan hati kita, untuk bagaimana kita memiliki hanya satu ruangan dalam hidup ini, yaitu ruangan Tuhan. Kalau dulu, kita bagi-bagi berbagai ruangan, dan Tuhan punya satu ruangan. Sekarang, semua ruangan ini milik Tuhan. Ruangan kita hanya satu: ruangan Tuhan. Jadi, segala sesuatu harus dalam izin dan perkenanan Tuhan. Ini memang kedengarannya abstrak, tapi kita akan mengerti kalau kita menggumuli hal ini. 
    Sedikit sekali orang yang benar-benar bersuka menyambut kedatangan Tuhan dan merindukan Tuhan. “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap;” jadi “sekalipun aku dalam keadaan yang susah, sulit, aku tidak minta dikeluarkan dari keadaan ini. Aku berserah. Apa yang Tuhan kehendaki, harus kujalani. Yang penting, bagaimana aku diproses untuk diubah menjadi manusia yang berkualitas. Dan dengan menjadi manusia yang berkualitas, aku bisa bersekutu dengan Bapa.” 
    Jadi ketika Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,
    11 min
  • Tempat yang Kita Butuhkan
    Sebagai ilustrasi yang bisa membuka pengertian kita dalam rangka memahami hubungan atau relasi dengan Allah adalah ketika kita masih kecil atau anak-anak, kita tidak pernah mau memahami siapa dan bagaimana orangtua kita. Entah tidak mau atau belum mau mengerti karakteristik orangtua. Anak-anak hanya mau dimengerti, hanya mau dipuaskan, hanya mau disenangkan. Kadang-kadang, anak-anak menuntut orangtua seakan-akan mereka berhak menerima apa yang mereka ingini. Bahkan, terkesan orangtua seperti berutang kepada anak-anak. 
    Orangtua mengerti itu. Orangtua tidak menunjukkan karakteristiknya. Tetapi ada saat dimana orangtua akan berkata kepada anaknya, “Ayah tidak suka ini. Ayah tidak setuju.” Memang kalimat itu kadang-kadang juga terlontar kepada anak yang masih kecil, jika anak itu dipandang sudah mengerti. Jika tidak, orangtua biasanya jarang mengatakan “Ayah tidak suka itu. Itu bukan karakterku.” Sebab, anak-anak belum bisa diajak mengerti. Tetapi ada saat dimana anak-anak harus mau mengerti siapa dan bagaimana orangtua, karakteristik atau hakikat orangtua. 
    Demikian pula Tuhan terhadap kita. Tuhan itu Bapa yang Mahabaik. Bapa memahami ketika kita belum dewasa. Doa bagi kita adalah permintaan. Doa bagi kita adalah permohonan. Di dalam doa, selalu ada tuntutan kepada Tuhan. Dalam doa, ada keluh kesah. Tetapi ketika kita mulai seharusnya menjadi dewasa, doa menjadi dialog. Mulai kurang ada permohonan, permintaan, apalagi tuntutan. Dalam doa, bukan hanya kita yang berbicara kepada Tuhan, tetapi Tuhan juga berbicara kepada kita. Tahapan ini harus kita miliki dan alami. 
    Itulah sebabnya, bagi orang percaya yang makin dewasa, doa bukanlah sebuah kewajiban melainkan kebutuhan. Tidak bisa buru-buru atau cepat-cepat, karena di dalam doa ada dialog; ada saat dimana kita menantikan Dia berbicara. Bukan hanya kita mau berbicara. Kita mau Allah mendengar doa, permintaan, tuntutan, keluh kesah kita, tetapi kita juga mau mendengar apa yang Bapa ingini, apa yang Bapa kehendaki. Perasaan-Nya, beban-Nya, yang juga kita boleh mengerti. Dan kalau kita bertumbuh dewasa, kita mau ikut memikulnya. Kita harus jujur memeriksa diri sendiri dalam tingkat kedewasaan rohani yang kita telah capai. Orang percaya yang dewasa akan mau mengerti karakteristik Allah Bapa kita, mau mengerti hakikat-Nya. 
    Dan ingat ini, bahwa Allah terikat dengan diri-Nya sendiri. Allah tidak terikat oleh siapa pun dan apa pun, tetapi Allah memiliki tatanan. Dia memiliki karakteristik. Dia memiliki hakikat yang tidak berubah dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Jadi kalau dalam waktu tertentu Allah bisa menolerir kita, itu karena kita dipandang kanak-kanak. Tetapi ada saat dimana Allah akan menunjukkan karakteristik-Nya. Dia tidak bisa diatur oleh siapa pun dan apa pun, sebab Dia mengatur diri-Nya sendiri.
    Dan kalau kita menghayati kebesaran dan kedahsyatan Allah, Dia adalah Pribadi yang Mahabesar, yang sudah ada dari kekal sampai kekal. Dia tidak diciptakan oleh siapa pun. Dia ada di dalam keberadaan-Nya yang kekal. Ia yang memiliki segala kuasa, kemuliaan, dan kerajaan. Maka kita akan tergetar, kita akan menundukkan diri. Kita akan mau mengerti karakteristik-Nya, kita mau mengerti hakikat-Nya, dan menundukkan diri pada hakikat-Nya atau karakteristik-Nya itu. Sampai kita tidak akan mudah meminta sesuatu, tidak akan mudah menuntut, bahkan tidak bisa menuntut kepada-Nya. 
    Kalau kita bisa menjadi manusia ini, sungguh anugerah. Ada satu ayat firman Tuhan, “bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang tempat menaruh anak-anaknya pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam. Ya, Rajaku, Ya Allahku.” Dimulai dengan kalimat ini: “betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam,” Mazmur 84. “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan. Hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah,
    9 min
  • Ruangan Kecil
    Sebagai orangtua, kita ingin anak-anak kita sehat, terlindungi, sukses, dan mengalami apa yang baik; kita akan tidak tega kalau ada sesuatu yang buruk terjadi atas mereka. Kita bisa menganalogikannya dalam hubungan kita dengan Bapa di surga. Sebagaimana kita memperhatikan dan mengasihi anak-anak kita, demikian pula Bapa di surga memperhatikan dan mengasihi kita agar kita berkeadaan baik. Tetapi kenyataan yang harus jujur kita akui, sering ada kecurigaan di dalam hati kita: “Apakah benar Allah mengasihi aku? Apakah sampai saat ini benar-benar Dia memperhatikan aku dan memedulikan aku?” 
    Ketika kita menghadapi kesulitan berlarut-larut, masalah yang tidak kunjung selesai, keadaan yang tidak kita sukai terjadi dalam hidup kita, hidup yang tidak kunjung berubah menjadi baik; sejujurnya, kita menjadi tidak percaya penuh bahwa Allah itu baik. Mereka adalah orang-orang Kristen yang marah terhadap Tuhan. Mereka tidak langsung marah kepada Tuhan, tetapi marah kepada keadaan. Lalu mereka akan mencari “orang” yang dipandangnya sebagai penyebab keadaan itu. Mereka marah kepada orang-orang tertentu, pahit, sakit hati bahkan dendam. Itulah faktanya. 
    Kalau jujur, ada suara di dalam diri kita (suara daging) bukan suara Roh, “Apakah Tuhan sungguh-sungguh memedulikan aku?” Mungkin kita bernyanyi: “Tuhan Pembelaku,” tetapi sejatinya ada keraguan di dalam hati kita. Apa bukti dari orang yang kurang percaya atau tidak percaya atau mulai meragukan Tuhan? Buktinya jelas, sederhana tapi pasti. Ia tidak sepenuh hati mau berurusan dengan Tuhan. Kalau orang sungguh-sungguh mau berurusan dengan Tuhan, tidak mungkin tidak ke gereja. 
    Ke gereja bukan hanya hari Minggu, di pertengahan minggu kalau ada Pendalaman Alkitab, ada kebaktian doa. Sebab baginya, itulah kehidupan. Setiap pagi tidak mungkin tidak berdoa. Tidak mungkin tidak ada waktu secara pribadi bertemu dengan Tuhan. Orang yang mau berurusan sepenuh dengan Tuhan, tidak mungkin melakukan kegiatan yang tidak mendatangkan pertumbuhan iman.  Dia tidak akan menyanyikan lagu-lagu dunia yang tidak membawa kesegaran bagi hidup rohaninya. Orang-orang seperti ini hanya punya satu ruangan dalam hidupnya; dan ruangan itu untuk Tuhan. 
    Pada umumnya, hati kita memiliki banyak ruangan. Ruangan untuk cari uang, anak, orangtua, hobi, dan lain-lain; namun ada ruangan juga untuk Tuhan. Tetapi ruangannya kecil karena tidak yakin apakah Allah sungguh-sungguh bisa diandalkan, apakah benar Allah itu baik dan mengasihi. Sehingga kita menyisakan ruangan kecil saja untuk-Nya. Ruangan itu besar atau kecil nampak dari cara kita menyediakan hidup—waktu, perhatian, tenaga, pikiran—untuk Tuhan. Sejatinya, Tuhan tidak membutuhkan uang atau tenaga kita. Jangan kita berpikir, Tuhan itu menuntut orang percaya harus memberi uang atau tenaga. Kalau kita memberi uang atau tenaga untuk Tuhan, itu karena kita mau mengasihi Dia; bukan kewajiban melainkan kebutuhan. 
    Jadi kalau kita punya kesibukan kerja, memperhatikan anak dan lain-lain, semua ada di ruangan itu. Itulah yang dikatakan di dalam Firman Tuhan, “Baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Banyak orang yang sampai hari ini hidup dalam kemiskinan mental, spiritual, rohani, juga harta. Hal itu terjadi karena mereka tidak benar-benar mengandalkan Tuhan. Firman Tuhan berkata, “orang yang bimbang hati jangan harap beroleh sesuatu.” Maka, jangan berhenti berurusan dengan Tuhan. 
    Kita harus memberi ruang yang luas untuk Tuhan. Serusak apa pun kita, Tuhan sanggup pulihkan. Tentunya setelah melewati perjalanan panjang di dalam hidup, kita mulai mengerti bahwa hanya Tuhan yang kita butuhkan. Kalau hanya Tuhan yang kita butuhkan, tidak ada waktu untuk apa pun selain Tuhan. Bekerja pun, kita lakukan untuk Tuhan untuk menafkahi keluarga dan anak-anak bisa sekolah. Tidak ada waktu untuk menonton yang tidak perlu, bicara dengan orang-orang yang tidak membuat kita taku...
    10 min
  • Toleransi Allah
    Hari ini Tuhan seperti diam, seperti bisu, seperti tidak ada. Ketika kita berpikir begitu, kita sebenarnya sedang menghina Alkitab. Ketika kita berpikir seakan-akan Tuhan tidak ada, kita tidak menghayati kehadiran Allah, kita seperti menghina Alkitab. Apakah kita anggap Alkitab itu dongeng? Cerita bohong? Fiksi? Itu fakta. Allah yang hidup, yang ditulis Alkitab, Allah yang sama yang hadir sekarang. Allah yang hadir, Allah yang hidup sekarang. Dan itu membuat kita kuat, karena memang Tuhan luar biasa. Sering menguji, kita dibuat berlarut-larut menderita. Kita dibuat susah berkepanjangan. Kita dibuat seakan-akan tertindas, dan tidak ada yang bisa menolong kita. Tuhan pun seperti diam. Kita berseru, seakan-akan Dia tuli. Tuhan layak dipercayai, walaupun Dia tampak seakan-akan tidak ada. Dia layak tetap dipercayai. 
    Di situlah kehormatan kita kepada Allah. Jangan hanya karena setiap kali kita berdoa, Dia menjawab dengan cepat, Dia memenuhi keinginan kita, Dia mengabulkan doa kita, baru kita percaya. Ketika Dia seakan-akan tidak ada, ketika Dia seakan-akan tidak hadir, ketika Dia seakan-akan tidak peduli, seakan-akan Dia tidak ada, kita tetap memercayainya. Hendaknya kita senantiasa menghormati Tuhan semesta alam. 
    Kalau kita selama ini tawar hati terhadap Kerajaan Surga, tawar hati terhadap kekekalan, tawar hati terhadap kehidupan di langit baru bumi baru, hari ini kobarkan dalam hati kita. Jangan hanya berkata “langit baru bumi baru,” jangan hanya berkata tentang Kerajaan Surga. Itu tidak ada artinya tanpa kerinduan yang sungguh-sungguh. Allah memiliki hakikat. Allah memiliki karakteristik. Allah terikat dengan diri-Nya, dengan hakikat dan karakter-Nya. Dan yang mengerikan, Allah tidak bisa diubah oleh siapa pun, dan Allah juga tidak mengubah diri-Nya sendiri. Ia tidak bisa kompromi dengan apa yang bertentangan dengan hakikat-Nya.
    1 Petrus 1:16. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Kalau yang bicara itu manusia, mungkin bisa dengan ratapan. Tapi Allah tentu dengan kegagahan-Nya, karena Dia Pencipta langit dan bumi, Dia tidak perlu membujuk- bujuk, meratap-ratap “jangan begitu, Nak,” tidak. Allah tegas, “kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Tapi kalau seandainya bisa dibuat seperti manusia, Allah akan berkata: “kuduslah, Nak, kamu. Sebab Aku kudus. Kamu tidak bisa bersama Aku kalau keadaanmu seperti ini. Kamu mau Aku mengerti kamu, tapi kamu tidak mengerti Aku. Aku tidak bisa mengubah diri-Ku. Hakikat-Ku kekal, dari kekal sampai kekal. Kamu yang harus mengerti karakteristik-Ku, kamu yang harus mengerti hakikat-Ku,” dan ini tidak bisa ditawar. Mengerikannya, tidak bisa ditawar. 
    Kita harus sampai pada kegentaran akan Allah, dan menyadari bahwa ini tidak bisa ditawar. Setan yang membuat banyak orang merasa seakan-akan Allah toleransi terhadap kekurangan dan kelemahan. Allah toleransi waktu kita masih muda rohani. Allah bisa mengerti, ketika kita dipandang masih kanak-kanak. Tetapi tidakkah kita tahu, Allah juga bisa bertindak tegas dan berkata: “Aku tidak kenal kamu.” Waktu kita masih kecil, terutama bagi yang sudah Kristen sejak kecil, kita berpikir Kristen itu jalan tol masuk surga. Kalau orang sulit masuk surga karena tidak kenal Yesus, kita kenal Yesus, menjadi Kristen, sehingga ke surga menjadi lebih mudah. Nanti begitu di pengadilan Tuhan melihat wajah kita, “Ini Kristen, silakan masuk surga.” Ini menjadi bayangan kita yang masih belum mengerti.  
    Tapi setelah kita belajar Firman, ternyata kekristenan itu jalan sempit, jalan sesak, sukar, harus berjuang. “Banyak dipanggil, sedikit yang dipilih,” tapi ini disembunyikan. Ayat “orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan” tidak disampaikan. Lalu ketika kita belajar terus firman Tuhan, lalu Tuhan berkata: “kuduslah kamu sebab Aku kudus,” Tuhan tidak bisa kompromi. Kita hanya berkata, “baik, Tuhan.” Jangan berkata, “tapi kita ini manusia yang masih di dunia, penuh kelemahan dan kekurangan.” 
    Kita tidak memanjakan perasaan Tuhan,
    8 min
  • Fitnah Iblis
    Kalau kita sungguh-sungguh mengingini atau merindukan sesuatu, kita sering membayangkan keadaan ketika kita sudah mendapatkan sesuatu itu. Misalnya seseorang yang mengingini mobil, dia sudah membayangkan bagaimana ia  mengendarai mobil itu. Ketika seseorang mengingini wisata di sebuah tempat, misalnya Eropa, dia belum sampai Eropa, dia sudah membayangkan ada di Eropa, walaupun sekilas. Hal itu dilakukan hampir semua orang, sadar atau tidak. Kalau seseorang mengingini lulus dari kuliah, lalu diwisuda, mendapat gelar, sekilas bisa muncul fantasi, bayangan diwisuda. Kalau seseorang merindukan, mengingini rumah di wilayah tertentu, di pinggir pantai, ada kolam renang pribadi, sekilas bisa muncul sudah memiliki itu dan seakan-akan sudah menikmatinya. Seorang yang ingin cantik, dia membayangkan wajahnya menjadi cantik dan dia berusaha untuk memiliki wajah seperti itu dan lain sebagainya. 
    Pernahkah kita membayangkan bagaimana menjadi orang saleh, orang suci Tuhan, serupa dengan Yesus, sempurna seperti Bapa, menjadi anak kesukaan, menjadi man of God (manusia Allah), yang menyenangkan Allah, yang hidup tidak bercacat, tidak bercela di hadapan Allah? Pernahkah kita membayangkannya? Dan jika kita bersedia, kita tidak boleh membayangkan yang lain—tidak membayangkan di sebuah rumah mewah atau tidak membayangkan di tempat wisata, walaupun kita bisa mencapai dan memiliki itu—tetapi yang kita bayangkan dan itu menjadi tujuan dan kerinduan kita adalah menjadi orang saleh Tuhan, menjadi orang suci Tuhan, menjadi man of God, manusia Allah yang benar-benar menyenangkan hati Allah dan benar-benar menjadi keharuman di hadapan Allah setiap saat. 
    Yang suatu hari ketika kita ada di hadapan pengadilan takhta Allah, Bapa berkata, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Dan kita menjadi salah satu dari perwira-perwira tinggi Kerajaan Surga, yang akan memerintah alam raya, jagat raya, yang tidak terbatas ini, di langit baru bumi baru. Mestinya itu yang kita fantasikan. Tetapi banyak orang tidak sanggup memfantasikan hal itu, karena:
    Yang pertama, dia berpikir tidak mungkin bisa dicapainya. Dan ini sebenarnya fitnah! Fitnah setan kepada Tuhan; tidak bisa suci, tidak bisa sempurna, itu hanya orang tertentu, sempurna itu nanti di surga, suci itu tidak mungkin. Padahal Tuhan Yesus sendiri yang berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa.” Firman Tuhan sendiri yang berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Tuhan Yesus sendiri yang berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya.” Kalau tidak ada orang yang suci hatinya, lalu Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya,” berarti Tuhan Yesus bohong, dan ucapan-Nya hanya omong kosong. 
    Faktanya tidak demikian, sebab Yesus adalah kebenaran. Kalau Yang Mulia Tuhan kita mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena ia akan melihat Allah,” pasti ada orang suci! Pasti ada orang yang bisa mencapai hal ini! Kalau Bapa berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus,” pasti bisa dicapai! Firman Tuhan tidak mengatakan, “Kuduslah kamu nanti di surga,” tetapi sejak di bumi! Firman Tuhan juga mengatakan dalam Yohanes 17, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; Firman-Mu adalah kebenaran.” 
    Sekarang tergantung apakah seseorang mau belajar Firman atau tidak? Masalahnya apakah kita yakin bahwa perkataan itu benar dan bisa teraplikasi konkret di dalam hidup kita? Penyebab mengapa orang tidak berani berfantasi itu, membayangkan itu, karena merasa tidak mungkin bisa mencapai hal itu. Ini fitnah Iblis yang merusak pikiran orang Kristen! 
    Yang kedua, yang merusak adalah ketika orang Kristen sudah hanyut dengan percintaan dunia. Sudah hanyut! Hatinya tidak memiliki kerinduan untuk menjadi man of God (manusia Allah), tidak punya kerinduan untuk memiliki kehidupan yang saleh, hidup suci, berkenan kepada Tuhan, tidak ada kerinduan untuk menjadi anak kesukaan ...
    10 min
  • Hanya Ada Satu
    Kalau kita benar-benar takut akan Allah, benar-benar menghormati Dia dan mengasihi Dia, maka kita memandang tidak ada masalah besar dalam hidup, kecuali satu. Satu ini terdiri dari dua kalimat atau dari dua butir pokok pikiran yang semua itu sebenarnya juga paralel. Hanya ada satu perkara besar dalam hidup kita, yaitu melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, atau memenuhi rencana Allah di dalam hidup kita. Seseorang tidak bisa dikatakan takut akan Allah atau belum takut akan Allah secara proporsional; seseorang belum menghormati Allah dan belum mengasihi Allah secara benar kalau masih memandang ada perkara besar dalam hidupnya selain hal ini. 
    Memang ini tidak mudah, tetapi kita bisa mengukur diri kita masing-masing. Kita bisa menguji, dan kita bisa mempertanyakan ini kepada Tuhan untuk mendapat verifikasi, pembuktian, konfirmasi kebenaran dari Roh Kudus. Tidak ada perkara yang kita pandang besar, yang bisa membuat kita merasa terancam, yang bisa merenggut kebahagiaan dan ketenangan kita, yang bisa membuat fokus hidup kita menjadi kacau. Tidak boleh ada, kecuali satu ini, yaitu bagaimana kita melakukan kehendak Allah, menyelesaikan pekerjaan-Nya, atau memenuhi rencana Allah di dalam hidup kita masing-masing. 
    Kita harus menguji diri kita. Banyak hal yang membuat kita merasa terancam. Kita tidak merasa damai, tidak memiliki ketenangan, atau kita masih memiliki keinginan mendapatkan sesuatu. Kalau tidak mendapatkan sesuatu itu, kita merasa tidak lengkap atau kurang bahagia, dan lain sebagainya. Jadi kalau kita hari ini belum punya pacar; belum menikah walau sudah cukup umur; belum punya anak; belum ada pekerjaan tetap; mungkin juga mengidap penyakit yang mengancam nyawa, atau apa pun. Di situ bisa menjadi batu ujian bagi kita. Kita dites lewat hal tersebut. Pergumulan-pergumulan hidup, persoalan-persoalan hidup yang mengancam kita, yang bisa merenggut ketenangan kita, itu menjadi semacam batu ujian, apakah kita sudah memiliki hati yang benar-benar takut akan Allah, apakah kita benar-benar telah memiliki hati yang menghormati Dia dan mengasihi Dia secara patut. 
    Setelah pemahaman kita mengenai hidup lebih lengkap, mengenai kekekalan, langit baru bumi baru, melihat realitas hidup, itu tidak senang juga walaupun banyak harta. Lihat orang-orang yang berlimpah harta, hanya begitu saja. Lalu menemukan bahwa orang hanya senang sejenak, lalu kemudian pasti nanti akan menghadapi masalah; sakit, meninggal, dan seterusnya. Pengalaman hidup, fakta hidup, kita lihat, kita jalani, lalu pemahaman kita mengenai hidup lebih lengkap. Plus penghayatan akan kehadiran Tuhan pada waktu kita berdoa. Itu membuat kita menaikkan doa itu dengan permintaan yang sudah lebih matang. Permintaan orang lebih dewasa, lebih matang. 
    Mestinya kita tidak menganggap, tidak memandang ada masalah besar dalam hidup kita, kecuali melakukan kehendak Bapa. Menyelesaikan pekerjaan-Nya atau memenuhi rencana Allah dalam hidup kita masing-masing. Karena setiap kita pasti mengandung, memuat, memikul rencana Allah untuk kita penuhi. Dan ini sebenarnya prinsip hidup Tuhan kita Yang Mulia, Tuhan Yesus Kristus, di Yohanes 4:34. Jika kita belum memiliki prinsip ini secara benar, sesungguhnya kita belum memuliakan Allah secara benar. 
    Jadi kalau seorang Kristen memang masih kanak-kanak, mulutnya ada pujian, penyembahan, Bapa terima karena memang dipandang masih kanak-kanak. Tetapi kalau kita mesti sudah melewati, mesti kita dewasa karena sudah melewati tahun-tahun yang panjang dalam hidup kita, maka mestinya kita memiliki prinsip hidup seperti prinsip hidup Tuhan Yesus tadi. Di situlah kita baru bisa mengerti, merasakan, menghayati apa artinya menyembah Allah. Kata “Haleluya” kita itu “menjadi berkualitas. Menyembah itu memberi nilai tinggi Tuhan. Tunduk. Jadi, apa pun tidak menjadi masalah. Apa pun, kecuali hal ini: melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya atau memenuhi rencana Allah di dalam hidup kita. 
    10 min
  • Jejak Anak Allah
    Selagi kita masih punya kesempatan untuk “menyangkal diri”—yang dikalimatkan sebagai mematikan keinginan, hasrat, minat, cita-cita, tujuan untuk diri sendiri—selagi masih punya kesempatan untuk itu, lakukan. Sebab, ada saatnya diri kita menjadi monster yang begitu kuat, sampai kita tidak akan mampu mematikan diri sendiri. Itu berarti kita memilih untuk tidak sampai kepada Bapa. Yang merusak banyak kehidupan iman Kristen adalah ketika mengesankan bahwa masuk surga itu mudah. Sehingga, kita lebih fokus kepada banyak hal, kita tidak pernah selesai dengan diri sendiri. Masih banyak keinginan, cita-cita, ambisi. Belum ego, harga diri, prestise, gila hormat, gila panggung, sampai tidak mengenal diri sendiri. Kita harus berubah. Berbahagialah orang yang menyenangkan Tuhan. Kita menjadi biji mata Tuhan, dan kematian kita menjadi berharga. 
    Ada Pribadi yang Mahacerdas, yang menciptakan langit dan bumi dengan segala tatanannya yang sempurna; bumi dengan siklus alam dan hukum-hukumnya, manusia dengan metabolisme tubuh yang sempurna, yang masih menyimpan banyak misteri bagi manusia itu sendiri. Karenanya, tidak pernah berhenti penyelidikan; research mengenai tubuh manusia. Dia adalah Allah. Satu-satunya Allah yang menyatakan diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah atau Elohim yang namanya Yahweh; Allah Israel. Dialah Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Allah dan Bapa kita semua. Dialah sumber kehidupan. Dialah yang menciptakan manusia. 
    Yesus datang ke dunia menebus dosa kita. Mengajarkan Injil, memberi contoh peragaan hidup bagaimana seharusnya manusia hidup. Dan kita semua tahu bahwa inilah model manusia yang Allah kehendaki. Kedatangan Tuhan Yesus untuk memperdamaikan kembali antara Allah dan manusia. Ini bukan suatu wacana pasif, melainkan sebuah panggilan aktif dimana manusia bukan hanya ditebus oleh Tuhan Yesus, diampuni dosanya, dibenarkan atau dianggap benar, melainkan juga dimuridkan, didewasakan, diubah untuk memiliki kualitas hidup yang bisa bersekutu dengan Allah Bapa. Karena Allah Bapa memiliki tatanan, Dia tidak bisa menyangkali tatanan-Nya. Hanya orang kudus yang bisa melihat Allah. Hanya orang suci yang bisa bersekutu dengan Allah. Makanya, orang percaya harus suci seperti Allah. “Akulah jalannya, ikuti jejak-Ku. Belajar kebenaran yang Kuajarkan, dan kenali hidup yang Kuperagakan. Supaya engkau memiliki hidup seperti hidup yang Kumiliki.” 
    Kualitas hidup manusia ditentukan bukan pengetahuan yang dia pahami tentang Allah, melainkan perilakunya serupa dengan Yesus, dan karakter Bapa yang dimilikinya. Dan Allah Bapa ingin berjalan serta bersekutu dengan orang yang sekarakter dengan diri-Nya. Karena, memang rancangan Allah semula menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Dia. Inilah sebabnya, gereja harus menjadi sekolah Alkitab yang benar. Yang studinya bukan 5-6 jam di bangku kuliah, tapi 24 jam setiap hari; 7 hari seminggu, 30-31 hari sebulan, dan sepanjang tahun umur hidup kita. Yang setiap kita harus evaluasi, “seberapa jauh aku telah memiliki peningkatan atau pertumbuhan?” Kalau kita masih tidak menyukai kematian, takut menghadapi kematian, berarti ada yang salah. Kita pasti tidak bersuka menyambut kedatangan Tuhan. Padahal, bumi ini bumi yang terkutuk, yang menumbuhkan onak dan duri. 
    Tuhan sudah menetapkan “dengan berpeluh, engkau hidup di bumi.” Karenanya, kita menantikan langit baru bumi baru. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita hari ini, tidak masalah. Yang penting, kita bertumbuh terus. Sampai pada tingkat: “setiap tarikan nafasku, setiap detak jantungku, denyut dan nadiku, untuk Tuhan.” Dan Dia alasan kita hidup. Baru kita ditempatkan pada tempat yang benar, dimana kita hidup hanya untuk kesukaan Allah. Pada umumnya, orang berkhotbah mau membagikan pengetahuan tentang Tuhan. Tidak salah, memang. Tapi spirit yang harus disalurkan, spirit yang harus dibagikan, haruslah spirit yang menantang orang untuk kembali kepada gambar semula Allah, untuk serupa dengan Dia.
    9 min
  • Memberi Diri Dipoles
    Seorang pelukis akan berusaha untuk menciptakan karya lukisan seindah-indahnya. Seorang yang belajar melukis, bisa menghabiskan waktu dari pagi hari sampai pagi lagi, untuk menghasilkan karya yang memuaskan. Ketika ia menjadi semakin ahli, ia akan berusaha menghasilkan lukisan-lukisan yang dapat dianggap mengagumkan, menakjubkan, serta memiliki nilai komersial yang tinggi. Bagi seorang penyair, ia akan berusaha membuat syair-syair yang indah; membuat puisi dengan diksi (pemilihan kata) yang indah sehingga karyanya diminati, dikagumi, serta memiliki nilai komersial. Kalau seorang teknokrat; teknisi mesin, jika ia menghadapi kesulitan dalam mengoperasikan suatu alat, dia akan berusaha mencari persoalan atau masalah alat tersebut lalu menemukan solusinya. Jika hendak menciptakan suatu karya, dia akan berusaha menciptakan suatu alat yang berguna, sehingga disenangi orang dan memiliki nilai komersial yang tinggi. 
    Apa bidang yang kita tekuni? Kalau kita seorang ibu rumah tangga, kita berusaha mengurus anak sebaik-baiknya; membuat rumah bersih, sehingga kalau kedatangan tamu, kita tidak merasa malu dengan kondisi rumah yang kotor. Kita juga berharap anak-anak bisa sekolah dan mendapatkan prestasi yang baik. Pada umumnya, manusia akan berusaha untuk memiliki prestasi di bidang masing-masing,  serta mengembangkan apa yang menjadi keahliannya, yang di dalamnya mereka memperoleh nafkah, harga diri, prestise, dan lain sebagainya. Pasti ada yang dikejar untuk ditingkatkan. Ada upaya-upaya yang dilakukan agar kemampuan kita dalam bidang yang kita tekuni itu bertambah atau meningkat.
    Namun, mengapa kita tidak mengusahakan hal yang sama dalam persekutuan kita dengan Allah? Kalau ada pertanyaan, “Mengapa aku tidak kunjung menjadi rohani?” Pernahkah kita mempersoalkan hal ini dan mencari penyebab (kausalitas) mengapa kita tidak kunjung menjadi manusia yang rohani atau saleh? Mengapa kita tidak menjadi seorang yang benar-benar berkenan kepada Allah? Apakah kita sudah berkenan di hadapan Allah atau belum? Mengapa kita tidak mempersoalkan hal ini dengan sangat serius? Apa kausalitas dari keadaan kita yang tidak kunjung menjadi orang suci, tidak kunjung menjadi orang kudus di hadapan Allah? Mengapa kita tidak berjuang untuk meraihnya? Kalau untuk perkara-perkara fana kita berjuang agar kita bisa berprestasi dan mencapai kesuksesan, mengapa untuk kekekalan kita tidak berjuang sungguh-sungguh? Di situ akan tampak, apakah seseorang menghormati Tuhan atau tidak. 
    Dengan sungguh-sungguh berjuang untuk memperoleh kehidupan yang berkenan di hadapan Allah, bukan berarti kita tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang memang menjadi tugas kita. Hendaknya kita jangan berpikir kalau kita memfokuskan diri menjadi orang saleh, menjadi manusia yang berkenan di hadapan Tuhan, lalu bidang-bidang dimana kita bertanggung jawab di dalamnya, menjadi terbengkalai dan kacau. Justru sebaliknya, kita akan menjadi lebih baik dan bahkan bisa berprestasi dalam bidang tersebut. Karena kalau seseorang memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, dia akan menjadi cerdas, berhikmat, penuh belas kasihan. Dia juga bisa mengontrol atau mengendalikan diri dengan baik. Dan orang-orang seperti ini pasti akan menghasilkan karya besar dalam bidang yang digelutinya, sebab dia melakukan semua itu untuk kemuliaan Tuhan!
    Ibarat seorang pelukis yang mengingini hasil karya yang bagus sehingga bisa menjadi masterpiece-nya, seharusnya kita pun berjuang melukis kanvas hari kita agar bisa menjadi mahakarya yang bisa dibanggakan oleh Bapa di surga dan menghadirkan senyum di wajah-Nya. Mari kita melukiskan kanvas minggu, bulan dan tahun hidup kita agar menjadi lukisan yang indah, yang layak dipajang di dalam Kerajaan Surga. Tentu saja lukisan yang buruk, yang tidak sedap dipandang, tidak indah terlihat, tidak bisa masuk dalam Kerajaan-Nya. Lukisan yang tidak memiliki keindahan sesuai standar Bapa, yang penuh dengan coretan dan guratan sehingga dianggap cacat,
    9 min
  • Mengalami Konversi
    Damai sejahtera Allah tidak bisa dilepaskan dari karakter. Kalau karakter orang buruk, hatinya busuk, tidak mungkin bisa menikmati damai sejahtera Tuhan. Kita sudah menikmati damai sejahtera Allah, belum? Ayo, kita sama-sama menembus batas. Memang tidak mudah, tapi Roh Kudus akan menuntun kita yang benar-benar serius, yang benar-benar tekun dan mau belajar. “Datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku beri kamu perhentian.” “Kelegaan” di situ dalam teks aslinya “perhentian.” 
    “Pikul kuk yang Kupasang, belajar pada-Ku, maka kamu akan beroleh perhentian. Jiwamu mendapat ketenangan,” itu teks aslinya sama: perhentian. Sama dengan kata “sabat; sabaton, anapauso.” Perhentian. “Letih lesu, berbeban berat” itu bukan letih lesu karena sakit, belum sembuh; lajang belum menikah; sudah menikah tapi tidak punya anak. “Letih lesu” di situ bukan berarti banyak utang, belum punya rumah, belum cukup fasilitas. “Letih lesu” di sini tidak terkait langsung mengenai pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan orang yang tidak berhenti memiliki keinginan, orang yang tidak berhenti memiliki hasrat dan cita-cita, dia akan dilelahkan oleh hal itu. 
    Tuhan berkata: “belajar pada-Ku,” tentu Tuhan tidak berbicara mengenai harta bendani. “Belajar pada-Ku,” belajar apanya dari Tuhan? Lihat, Tuhan Yesus yang mengatakan: “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dengar Tuhan Yesus yang berkata: “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” “Belajar pada-Ku; jangan memiliki hasrat, niat, keinginan yang bertentangan dengan apa yang Allah kehendaki.” Ini terkait dengan mematikan hasrat, keinginan, minat, cita-cita dari diri sendiri. 
    Kalau kita melihat sejarah bangsa Israel keluar dari Mesir ke Kanaan, siapa yang mati? 1 Korintus pasal 10 mengatakan, “mereka di antaranya yang bersungut-sungut.” Mereka mengatakan, “lebih enak dulu, di Mesir. Kita duduk di belanga, ada makanan,” menoleh ke belakang. Sampai-sampai Musa dimarahi oleh mereka. Menjadi umat pilihan, harus rela meninggalkan dunia. Sekalipun kita tidak menjadi orang terhormat di mata manusia, tidak menjadi orang kaya, tidak masalah. Kalaupun kita punya fasilitas, terhormat, berkedudukan, bergelar tinggi, semua itu bukan sesuatu yang membahagiakan. 
    Kalau kita bisa menikmati kehadiran Tuhan, kita bisa berkata: “Yesus cukup bagiku.” Jadi sudah jelas kata firman Tuhan, bahwa ”ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka.” Jadi ada yang masuk tempat perhentian, ada yang tidak masuk tempat perhentian. “Sebab itu pula, Tuhan menetapkan pula suatu hari, yaitu hari ini, ketika Tuhan setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud, seperti dikatakan di atas: pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.” 
    Setiap hari Tuhan menuntun kita, karena proses perubahan dari manusia duniawi menjadi manusia rohani itu tidak mudah. Konversinya ini tidak mudah; menuntut atau membutuhkan waktu. Maka jika Tuhan bicara hari ini, jangan keraskan hati kita. Setiap hari ada Firman, setiap hari ada tuntunan Tuhan. Tidak ada satu hari dimana tidak ada tuntunan Tuhan. Tidak ada satu hari pun dimana tidak ada lawatan Tuhan yang mengubah kita. Tidak ada satupun kejadian di dalam hidup kita yang tidak ada faedahnya, yang tidak ada kegunaannya atau yang tidak ada berkatnya. 
    Bagaimana kita bisa tahu ada faedah, ada kegunaan, ada berkat di situ? Kalau kita melihat segala sesuatu dengan kacamata kekekalan. Karena, ini adalah proyek utama Tuhan yang mau mengantar umat-Nya dari Mesir ke Kanaan. Itu bagi orang Israel. Sedangkan untuk kita, orang percaya, dari Mesir; “dunia” ke langit baru bumi baru, Kanaan surgawi. Pasti proyeksinya dan fokusnya pada hal itu. Jadi, tidak ada satupun kejadian dalam hidup kita, yang tidak ada faedah, kegunaan,
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…