Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bukan Karunia
    Kalau seorang wanita mendengar pria berkata, “aku cinta padamu,” sang pria bisa saja menipu atau tidak tulus. Walaupun kita punya nurani yang bisa menduga. Tetapi kalau kita berkata, “aku mencintai Engkau, Tuhan,” Tuhan Mahatahu, Tuhan bisa merasakan apakah cinta kita kepada-Nya adalah cinta yang tulus atau tidak. Karenanya, kita tidak mau menjadi munafik. Kita tidak mau menipu Tuhan. Kita harus berkata dalam doa, “Tuhan, buat aku mencintai Engkau sebagaimana seharusnya aku mencintai.” Kalau ibarat kuota, “berapa kuota yang harus kupenuhi sampai Engkau bisa merasakan bahwa aku mencintai Engkau?” Kalau ibarat sebuah derajat, “berapa suhu yang harus kumiliki sampai Engkau bisa tersentuh dan merasakan bahwa aku benar-benar mencintai Engkau? Terkutuklah aku kalau aku tidak mencintai Tuhan.” Ini jangan dipandang berlebihan. Pada kenyataannya, memang kita tidak bisa hidup tanpa Pencipta kita.
     Kalau kita berjalan dengan Pencipta kita, kita tidak bisa tidak, pasti mencintai Dia. Dan kita harus mencintai-Nya sesuai standar Tuhan, bukan standar kita. Karenanya, kita minta Roh Kudus menolong kita bagaimana seharusnya kita mencintai Dia. Roh Kudus pasti menolong. Kita harus menjadikan ini harta kita. Mahligai yang termahal, dan mestinya satu-satunya yang kita miliki. Setiap kita harus bisa melompat setinggi-tingginya sampai bisa menyentuh Tuhan. Dan Tuhan bisa merasakan bahwa sungguh kita mencintai Dia. Jadi, bukan apa yang kita rasakan semata, tapi kita juga harus memburu apa yang dirasakan Tuhan tentang kita. Artinya, apa yang dirasakan Tuhan mengenai cinta kita kepada-Nya. 
    Maka kita harus mengambil keputusan untuk mencintai Tuhan. Mencintai Tuhan, bukan karunia. Melainkan itu adalah usaha dan merupakan perjuangan pribadi kita, yang berasal dari kehendak bebas kita. Tapi ingat! Tuhan memiliki kehormatan, Dia tidak memaksa kita untuk mencintai Dia. Kita yang harus memaksa diri kita sendiri dengan kerelaan dan kesadaran untuk mencintai Tuhan. Allah lebih dulu mengasihi kita. Tetapi apakah berikutnya kita mengasihi Tuhan sebagai balas cinta-Nya kepada kita atau tidak, tergantung kita. Kita bisa dipandang hina oleh manusia, dipandang rendah oleh sesama, tapi kalau kita mencintai Tuhan dan terus bertumbuh di dalam cinta yang benar kepada Tuhan, maka kita menjadi berharga di mata-Nya. Secantik, seganteng, sekaya, seelok apa pun, kalau kita tidak berharga di mata Tuhan, percuma. 
    Tuhan bisa tidak terikat oleh siapa pun. Tapi kalau Tuhan menemukan orang yang mencintai Dia dengan sungguh-sungguh, Tuhan mengikatkan hati-Nya. Seperti ayat di 1 Korintus 6:17 yang mengatakan, “Siapa yang mengikatkan dirinya dengan Allah, menjadi satu roh dengan Dia.” Maka jangan tidak mengambil keputusan untuk mencintai Tuhan. Kita akan mengalami suasana yang baru di dalam kehidupan. Keadaan menjadi berubah. Hal ini tidak bisa diungkapkan, kecuali kita sendiri mengalami. Dan kita bisa minta Tuhan mendidik kita, agar kita terus mengembangkan cinta kepada Tuhan seperti yang Dia kehendaki, sampai cinta kita menyentuh Tuhan. 
    Tidak ada yang dapat menggantikan Tuhan di dalam hidup kita. Hanya Tuhan, yang dapat menjawab semua kebutuhan kita. Tetapi itu hanya bisa terjadi dan dirasakan oleh orang-orang yang sudah menetapkan hati mencintai Allah, dan terus bertumbuh di dalam cintanya kepada Tuhan. Sampai memiliki kehausan yang kudus akan Allah, sehingga ia tidak membutuhkan yang lain. 1 Korintus 16:22 berkata, “terkutuklah orang yang tidak mengasihi Tuhan.” Ayat itu mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa hal mengasihi Tuhan bukan dari pihak Tuhan, melainkan dari pihak manusia. Sebab kalau itu berangkat dari Allah, betapa jahatnya Allah, yang membuat orang yang tidak mengasihi Dia, terkutuk. Jadi Allah membuat orang terkutuk, yang tidak dibuat mengasihi Allah; dan Tuhan membuat orang tidak terkutuk, yang dibuat oleh Allah mengasihi Dia. Tidak mungkin. 
    Dan satu kalimat yang harus kita ucapkan di dalam hati,
    9 min
  • Kekristenan yang Luar Biasa
    Hampir semua orang Kristen atau sebagian besar orang Kristen menjadikan kekristenan sekadar keberagamaaan, sehingga kualitas hidup orang Kristen tidak lebih dari orang-orang beragama lain, dan itu menyedihkan hati Tuhan. Ada dua peristiwa besar di dalam sejarah gereja. Yang pertama, runtuhnya Israel. Mereka adalah umat pilihan, tetapi mereka menempati negerinya tidak lebih 700-1000 tahun. Tahun 586 sM, Israel Selatan ditaklukkan oleh Babel, dan sejak itu mereka tidak pernah punya tanah yang mereka kuasai sendiri. Negeri mereka jatuh ke tangan Babel, Media-Persia, Mesir, jatuh ke tangan Yunani (ketika Alexander the Great menguasai Palestina), lalu jatuh ke tangan Roma. 
    Dan yang paling mengerikan dalam sejarah bangsa Israel adalah pada tahun 70 Yerusalem diruntuhkan. Bukan hanya itu, Bait Allah juga diruntuhkan. Orang-orang Roma memiliki mitos bahwa di landasan atau fondasi bait Allah ada lempengan emas yang disimpan, sehingga mereka menggalinya. Sejak itu, mereka tidak memiliki tanah air sampai tahun 1948 (selama 2500 tahun). Mereka terbuang dan terlunta-lunta. Allah merelakan kemuliaan-Nya dijatuhkan. Itu peristiwa yang pertama yang membuat miris.
     Yang kedua, runtuhnya Bynzantium, kota yang dibangun oleh Konstantin, sehingga disebut Konstantinopel/Konstantinpolis. “Polis” artinya kota; kota yang dibangun oleh Konstantin. Pusat pemerintahan, sekaligus menjadi pusat kekristenan di dunia. Kekristenan Timur dengan bangunan gereja yang termegah di dunia, yang disebut Hagia Sophia. Hagia artinya kudus; hagios. Sophia itu hikmat, hikmat suci. Sekarang, bangunan tersebut menjadi Ayasofya. Kekristenan di Bynzantiun habis total. Ketujuh jemaat yang kita baca di kitab Wahyu, menjadi puing. 
    Gereja Hagia Sophia, yang ketika zaman Ottoman berubah menjadi masjid lalu Presiden Kemal Ataturk merubahnya menjadi museum, tahun lalu dijadikan masjid kembali oleh pemerintah Turki. Kalau kita mengunjungi Turki, kita bisa melihat betapa megahnya gereja ini. Tuhan membiarkan kemuliaan-Nya dijatuhkan. Kenapa? Sebab, percuma punya umat pilihan tapi tidak dengar-dengaran, sehingga Tuhan membuang mereka. 
     Orang-orang Kristen yang bisa menguasai pemerintahan Roma tetapi menjadikan kekristenan sekedar agama, diruntuhkan. Sisi ini tidak pernah diperhatikan dengan serius. Orang sering melihat wajah Tuhan hanya satu aspek, tapi tidak melihat aspek-aspek yang lain, sehingga tidak mengenal Allah secara utuh. Allah itu absolut. Allah itu mutlak. Allah bukanlah Allah yang bisa kompromi. Dia Allah yang tidak bisa kompromi, dan tidak mengizinkan umat-Nya kompromi dengan dunia atau konformistis atau menyesuaikan. 
    Allah tegas berkata di dalam Firman Tuhan, “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa,” 2 Korintus 6:17-18. 
    Kita melihat kenyataan, Tuhan seakan-akan tidak terganggu dengan perilaku kita yang sembarangan. Tuhan seakan-akan tidak terganggu oleh perilaku pendeta, orang Kristen, aktivis, yang tidak sesuai dengan kekudusan-Nya. Seakan-akan Allah diam. Ini bahaya sekali. Jangan sampai kita mengalami seperti yang dialami bangsa Israel atau seperti yang dialami orang-orang Kristen di abad ke-3, ke-4, ke-5 yang mengalami degradasi. 
    Kisah-kisah ini memang terdengar tragis dan konyol, tapi tidak sedikit di antara kita yang tidak menikmati dan tidak mengalami kekristenan yang luar biasa karena kompromi dengan dunia, dan itu menyedihkan hati Tuhan. Lebih tepatnya, memuakkan. Kalau Tuhan sekarang seakan-akan diam, seakan-akan Tuhan tidak terganggu, itu bukan karena Tuhan bisa diajak kompromi dan membiarkan umat pilihan-Nya hidup dalam penyesuaian dengan dunia. Tapi karena Tuhan sendiri terikat dengan tatanan-Nya. Tuhan bisa ingatkan umat-Nya melalui khotbah,
    8 min
  • Menjadi Berkat
    Seperti yang sering kita dengar dan setujui, kekristenan adalah jalan hidup. Agama lain juga bisa mengatakan bahwa agamanya adalah jalan hidup, tapi jalan hidupnya itu dipandu dan dituntun oleh hukum. Sedangkan dalam kekristenan, jalan hidup yang kita teladani adalah hidup-Nya Yesus. Yang karenanya, orang Kristen yang sejati adalah orang Kristen yang memiliki keberadaan bahwa hidupnya bukan dia lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam dirinya. Artinya, gairah yang ada pada kita adalah gairah seperti yang ada pada Yesus. Spiritnya, semangatnya, cara berpikirnya adalah seperti yang dikenakan oleh Yesus. Dan salah satu ciri dari kehidupan Yesus adalah tinggal di dalam Bapa, dan Bapa tinggal di dalam Dia. Seperti yang dikatakan di dalam Injil Yohanes 17:20-21, Dia selalu bersama-sama dengan Bapa. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan Yesus yang berasal dari diri-Nya sendiri. Ia melihat apa yang Bapa lakukan. Kalimat ini sebenarnya berarti bahwa segala sesuatu yang dilakukan Yesus, selalu di dalam petunjuk dan komando Bapa. 
    Ini juga berarti di dalam kehidupan Yesus ada persekutuan dengan Bapa, ada kebersamaan dengan Bapa yang tiada henti; terus-menerus dan berkesinambungan. Inilah dinamika hidup Anak Allah standar; model dari dinamika hidup anak manusia yang dikehendaki oleh Allah. Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, tidak ada manusia yang memiliki dinamika hidup seperti itu. Hanya dicapai oleh Yesus, atau tepatnya itu dimulai dari Anak Manusia yang bernama Yesus. Jadi, tidak ada manusia yang pernah memiliki dinamika hidup standar sebagai anak Allah. Adam dan Hawa juga gagal, mereka tidak menuruti apa yang Allah kehendaki. Tidak hidup menurut petunjuk dan komando Elohim Yahweh. Yesus hidup di dalam petunjuk dan komando Bapa. Itulah sebabnya Yesus bisa berkata, “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” 
    Kita semua tahu bahwa manusia hidup untuk mencari rezeki. Dari rezeki itulah manusia memiliki kehidupan dan kelengkapan hidup; makan minum, kesenangan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. “Rezeki-Ku,” kata Tuhan Yesus, “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Puji Tuhan, karena yang bisa melakukan kehidupan semacam itu, yang bisa memiliki dinamika hidup seperti itu bukan hanya Yesus, melainkan juga orang-orang percaya diberi kesempatan untuk juga bisa memiliki dinamika hidup seperti yang dimiliki-Nya. Karenanya, firman Tuhan mengatakan di dalam Roma 8:29 bahwa Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Artinya, Dia yang menjadi pionir, pemula, lalu ada yang bisa mengikuti-Nya. 
    Di dalam Ibrani 5:7-9, firman Tuhan mengatakan bahwa Yesus belajar taat walaupun Dia Anak. Tidak otomatis, sampai Dia bisa memiliki dinamika hidup standar Kerajaan Surga. Dia harus belajar. Dalam Injil Lukas dikatakan bahwa “Dia bertambah dalam hikmat dan besar-Nya;” Dia mengalami proses juga. Makanya dalam Ibrani 5:7-9 dikatakan: “Ia belajar.” Dan setelah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan atau penggubah; composer, menjadi (Yun.) Aitios. Ini kabar yang baik. Dan di sinilah sebenarnya inti Injil, bahwa manusia diberi kesempatan. Tentu disertai dengan kelengkapan kuasa untuk bisa memiliki dinamika hidup standar seperti yang Allah kehendaki. Tetapi ini tidak bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis. Ironisnya, banyak orang Kristen merasa hal itu bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis. Padahal, ini harus melalui proses. 
    Pada dasarnya, kekristenan adalah jalan untuk dipertemukannya kembali Allah dengan manusia; Bapa dengan anak. Jadi kalau dikatakan “diperdamaikan,” itu bukan hanya sebuah format kalimat verbal. “Diperdamaikan” artinya adanya perjumpaan yang di dalamnya ada interaksi. Ibarat sepasang suami istri yang ribut kemudian berpisah, lalu rujuk kembali atau diperdamaikan, itu berarti harus ada hubungan interaksi lagi. Tidak cukup hanya tinggal satu rumah. Kalau mereka tidak saling berinteraksi,
    10 min
  • Instrumen Tuhan
    Tuhan mau kita belajar untuk mengerti rahasia kehidupan ini, dimana tidak banyak orang tahu. Sering kali orang memandang hal-hal ini dengan kacamata yang salah, seakan-akan keadaan seperti ini sebuah kemalangan, kutuk, hukuman, lalu minta Tuhan cabut. Padahal, semua itu ada berkatnya. Namun demikian, kita pasti bisa melewatinya. Kita bisa melewatinya dan menjadi dewasa. Tuhan, Hakim yang adil, pasti akan menghakimi. Setiap orang akan menuai apa yang dia tabur. Orang-orang yang memperlakukan kita dengan jahat, akan menuai apa yang dia tabur. 
    Kita tidak usah berharap, dan memang tidak boleh kita berharap mereka mendapat celaka, mengalami musibah atau malapetaka, sehingga kita bisa membuktikan bahwa Allah itu memang di pihak kita. Orang-orang di sekitar kita juga bisa mengatakan memang kita orang baik, orang benar. Tapi, itu tidak perlu. Kalaupun semua orang tetap mengatakan kita salah, kita buruk, kita tidak layak dihormati, sekalipun orang yang menindas kita tidak mendapat celaka malah seperti diberkati, tetaplah kita setia kepada Tuhan. Sebab, ada perhitungannya nanti di kekekalan. 
    Di dalam satu pernyataan pemazmur di Mazmur 73 dikatakan, “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,” Mazmur 73:16. “Ketika aku melihat orang fasik, orang jahat, kenapa mereka makmur, subur, sehat? Seperti diberkati. Ketika aku bermaksud mengetahuinya, itu menjadi kesulitan di mataku. Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah dan memperhatikan kesudahan mereka.” Lihat akhirnya, lihat kesudahannya. “Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kau taruh mereka. Kau jatuhkan mereka, sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata. Lenyap, habis oleh karena kedahsyatan. Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kau pandang hina.”
    Rupa mereka dipandang tidak hina, dipandang mulia, dan terhormat di mata manusia, tetapi hina di mata Allah. Tetapi hendaknya kita tidak demikian. Dalam keadaan terpuruk atau tertindas, kita tetap menjadi orang-orang yang setia kepada Tuhan dan terus bertumbuh dalam kedewasaan dan kesempurnaan seperti Kristus. Semakin lama penderitaan yang kita alami, ternyata semakin cemerlang kehidupan rohani kita. Karenanya, salah satu yang membuat hati kita menjadi kokoh dan kuat dalam menghadapi keadaan-keadaan seperti itu adalah kita harus memandang hidup ini dari kacamata kekekalan. 
    Kalau kita memandang hidup dengan kacamata kefanaan, kita akan desperate, akan merasa miserable; prihatin, menderita, serta malang. Kita harus melihat itu dengan kacamata kekekalan, sebab penderitaan yang kita alami beberapa belas bahkan beberapa puluh tahun, tidak ada artinya jika dibanding dengan kekekalan nanti. Dan Tuhan itu tidak bisa kompromi, artinya manusia yang tidak berkualitas, tidak mungkin masuk Kerajaan Surga menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Tuhan tidak bisa toleransi di sini. Hanya orang-orang kudus, orang-orang saleh yang bisa menjadi mempelai Tuhan Yesus Kristus. 
    Kalau Tuhan Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa,” itu harus, tidak bisa tidak. Berarti: pertama, kita harus melakukan kehendak Bapa. Itu harus, mutlak, absolut, tidak bisa tidak. Tuhan tidak toleransi dalam hal ini. Lalu yang kedua, bahwa perubahan hidup untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, itu harus melalui proses. Proses yang bertahap, proses yang bertahap gradually; bertahap, step-by-step; langkah demi langkah, tangga demi tangga. Tidak bisa seketika. Di sini dibutuhkan perjalanan waktu. Jadi, tidak bisa seseorang dalam sekian bulan menjadi sempurna. Harus melalui proses. 
    Lalu yang ketiga, di dalam proses itu, Tuhan membutuhkan peristiwa atau kejadian yang harus dialami oleh anak-anak-Nya yang mau diproses. “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” Allah bekerja dalam segala hal. Jadi, melalui segala hal. Tidak bisa tidak, melalui segala hal.
    8 min
  • Menjadi Satu Roh
    Alkitab berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku,” dan itu bukan hanya untuk mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi atau lulusan Sekolah Tinggi Teologi, melainkan untuk setiap kita. Sebab, setiap orang yang mengalami proses pendewasaan itu akan memengaruhi orang lain, akan menjadi berkat, akan menjadi alat dalam tangan Tuhan mengubah orang lain. Tuhan memberikan mandat tersebut bukan untuk sekelompok orang saja, bukan untuk kawasan teolog saja; namun untuk semua orang. Tapi dunia ini sudah rusak, sehingga proses ini tidak berlangsung di dalam hidup banyak orang karena menyerah kepada keadaan, dan dibawa Iblis dalam proses pembinasaan. Matarialisme dan materialistis merusak. Iblis sudah tahu dan melihat, bahwa aniaya fisik membuat orang berhenti berbuat dosa, justru memurnikan iman Kristen. Namun, matrealisme membuat orang Kristen menyembah kepada Iblis; menyembah berhala. Dosa percabulan rohani membuat orang Kristen atau orang percaya tidak mengerti kebenaran. Kalau tidak mengerti kebenaran, tidak akan sampai pada proses kesempurnaan. 
    Roma 8:28 mengatakan, “Allah turut bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” Mengasihi Allah itu wilayah kita, bukan wilayah Tuhan. Jadi kalau kita memberi diri diselamatkan, kita harus melepaskan diri dari percintaan dunia dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Allah tidak menggerakkan kita mencintai Dia. Kita yang harus menggerakkan diri kita sendiri. Dalam hal ini, kita tidak bisa menyerah kepada keadaan. Ini pilihan. Kita memilih mengasihi Tuhan, dan itulah yang kita pilih. Betapa beruntungnya kalau sampai kita bisa jatuh cinta kepada Tuhan, sampai tidak bisa menarik cinta itu kembali. Cinta itu bisa kita kembangkan. Seperti orangtua zaman dulu yang menikah tanpa proses pacaran. Namun ketika suaminya meninggal, sang istri ingin ikut dikubur. Bahkan di negara tertentu, kalau seorang pejabat tinggi meninggal, dia dikubur bersama istrinya yang masih hidup. Cinta itu bisa dikembangkan. Jadi kalau memberi diri diselamatkan, lepaskan diri kita dari ikatan percintaan dunia, dan cintailah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. 
    Kalau orang mengikatkan dirinya dengan perempuan cabul, menjadi satu daging, satu gairah dengannya. Tapi kalau kita mengikatkan diri dengan Allah, menjadi satu roh. Jadi jika kita mau mengikatkan diri menjadi satu roh dengan Allah, gairah hidup kita harus diubah. Masalahnya, materialistis ini gairah yang sudah mengakar sejak kecil, sehingga untuk melepaskannya, kita musti didetoks oleh kebenaran. Dan itu tergantung seberapa banyak kita menginvestasikan waktu, pikiran, tenaga kita untuk proses ini. Makanya, kekristenan itu bukan sebagian dari hidup kita. Kalau kekristenan hanya menjadi bagian hidup, kita tidak sampai tujuan. Kekristenan itu seluruh hidup kita, segenap hidup kita. Kita tidak akan bisa digarap oleh Allah, karena Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan hanya bagi orang yang mengasihi Dia, yang memberi diri diselamatkan. Maka, jangan menyerah kepada keadaan. Inilah yang harus kita lakukan: mengondisi hidup menjadi seorang yang bisa diselamatkan oleh Allah.
    Banyak orang bingung karena menyadari bahwa rohaninya tidak bertumbuh, masih duniawi, dan tidak bisa berkembang. Yang pertama, jangan harapkan kita bisa berubah dalam sekejap. Tidak bisa. Perlu ketekunan dan proses panjang. Yang kedua, rubah rutinitas hidup. Misalnya, biasa bangun pukul 7 pagi, sekarang diubah menjadi pukul 5 pagi, agar bisa ikut doa. Yang biasanya tidak pernah puasa, ikutlah puasa. Siapa yang merubah? Diri kita sendiri. Beri dirimu diselamatkan. Dan ini harus kita lakukan dengan segenap hati. Dan kalau kita bisa melakukannya dengan segenap hati, kita akan mengalami proses itu. Orang yang bisa main piano, sampai tangannya seperti punya “mata,” itu karena dia terbiasa dan sudah berlatih sejak kecil. 
    Kalau sampai kita bisa jatuh cinta kepada Allah, betapa indahnya.
    9 min
  • Kedahsyatan Allah
    Allah itu dahsyat! Sering kita mendengar dan juga mengucapkan bahwa Allah itu dahsyat, dan memang Allah itu dahsyat. Suatu saat, kita akan membuktikan kedahsyatan Allah bukan hanya pada kekuatan-Nya yang luar biasa, bukan hanya pada mukjizat-Nya, melainkan bahwa hanya Dia yang kita butuhkan. Pada waktu itulah kita menghayati kedahsyatan Allah dengan benar. Hari ini orang berbicara tentang kedahsyatan Allah, namun biasanya selalu dikaitkan dengan kuasa-Nya, kasih-Nya, mukjizat-Nya, dan tidak menghayati bahwa kedahsyatan Allah juga terkait pada kenyataan bahwa Dialah satu-satunya yang kita butuhkan. Betapa beruntungnya orang yang sejak hidup di bumi sekarang ini benar-benar bisa memahami dan mengerti bahwa hanya Dialah satu-satunya kebutuhan yang tidak tergantikan. Orang bisa mengatakan dan menyatakan itu berdasarkan konsep, tetapi tidak berdasarkan apa yang dia rasakan. Orang bisa mengatakan bahwa air itu kebutuhan, tapi tidak haus. Orang bisa mengatakan bahwa “jika tidak ada makanan, orang akan mati,” tapi dia tidak lapar. 
    Berbahagialah orang yang bisa menyatakan bahwa Allah itu satu-satunya kebutuhan, dengan kehausan dan kelaparan akan Dia, serta rasa membutuhkan yang benar. Ia baru bisa berkata “Allah itu dahsyat.” Tentu orang-orang seperti ini tidak akan memanfaatkan Allah atau memanipulasi Dia, sebab dia tidak membutuhkan yang lain selain Allah, kecuali Allah sendiri. Kalau Allah sendiri yang dibutuhkan, Allah menjadi pemuas dahaga jiwanya, dan ia tidak akan memanipulasi Allah. Dia tidak memerlukan yang lain dari Allah, kecuali diri-Nya sendiri. Hal ini tidak bisa dibagikan atau diajarkan kepada orang lain. Hal ini harus dirasakan dan dialami. Namun, sayangnya tidak banyak orang yang bisa mengerti hal ini dan mengalaminya. Kalau kita membaca Mazmur 73, pemazmur melihat kenyataan orang-orang fasik yang menambah harta benda, senang selamanya; senang di bumi. Banyak orang mengikut dia seperti air bah, sementara rasanya sia-sia baginya mempertahankan hati yang bersih dan berusaha untuk hidup suci. Dia kena pukulan, dia kena hajaran. 
    Tetapi matanya terbuka ketika memperhatikan hidup manusia, ketika masuk ke dalam tempat kudus Allah. Dalam sekejap mata, manusia lenyap dalam kedahsyatan: “Seperti mimpi pada waktu terbangun, rupa mereka dipandang Tuhan hina.” Lalu, bagaimana pemazmur merasa hatinya pahit, buah pinggangnya menusuk-nusuk rasanya. Ini adalah gambaran penderitaan fisik. Ia tidak mengerti mengapa keadaan itu ada. Dikalimatkan dengan kalimat: “seperti hewan, aku di dekat-Mu,” artinya aku tidak mampu menganalisa, aku tidak mampu memecahkan mengapa hal ini terjadi. Tetapi, ia tetap di dekat Allah sehingga ia memiliki pengalaman bagaimana Allah memegang tangannya. Lalu Tuhan menuntunnya dan mengangkatnya ke dalam kemuliaan; ini tentu saja bukan kemuliaan duniawi. “Kemuliaan” berbicara mengenai nilai hidup dan nilai diri. Nilai diri ini dikalimatkan di ayat 25, “siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau.” Artinya, “hanya Engkau yang kumiliki.” 
    Ada orang-orang yang diberi Tuhan kasih karunia melewati kesulitan-kesulitan hidup, tekanan-tekanan hidup yang sangat berat, yang sampai akhirnya dia bisa berkata: “hanya Engkau yang kubutuhkan, Tuhan.” Tetapi mestinya kita tidak harus dibawa kepada keadaan-keadaan kelam, baru kita bisa menyadari ini. Dengan mengerti Firman Tuhan ini, kita bisa bertekad bahwa dalam hidup ini kita hanya ingin memiliki Dia. Menyadari bahwa hanya Allah yang kita butuhkan. Itulah sebabnya pemazmur kemudian mengatakan di ayat 25, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi. Kalau aku mengingini yang lain, percuma. Aku mengingini yang lain dan memilikinya, sia-sia. Tetapi yang ada padaku di surga, hanyalah Engkau.” Jadi, “hanya Engkau yang kuingini di bumi.” Kita tidak dapat menjadikan Allah itu harta kita kalau kita masih merasa memiliki harta lain selain Allah.
    Bukan tanpa alasan kalau Rasul Paulus oleh ilham Roh berkata,
    12 min
  • Dangerously Addictive
    Salah satu keistimewaan yang dimiliki makhluk manusia adalah kehendak bebas. Manusia diciptakan dengan pikiran dan perasaan yang tidak terdapat dalam ciptaan lain. Dari pikiran dan perasaan manusia ini, manusia dapat memiliki kehendak, dan kehendak manusia itu bebas. Manusia bisa mengisi sebanyak-banyaknya apa yang dia ingini, apa yang dia kehendaki, dan apa pun yang dia minati. Dan Allah sendiri di dalam kedaulatan-Nya, memiliki tatanan yang Dia tegakkan. Allah konsekuen dengan diri-Nya dan tidak akan melanggar tatanan yang Dia sendiri buat, yaitu memberi manusia kesempatan untuk memiliki keinginan atau kehendak sebanyak-banyaknya yang manusia mau. Inilah keelokan, keindahan, kelebihan atau supremasi yang dimiliki manusia dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Itulah sebabnya, manusia disebut sebagai mahkota ciptaan Allah, puncak dari karya Allah. 
    Tetapi harus diingat, manusia di dalam kehendak bebasnya harus mengerti dan menerima, mengapa dirinya diciptakan oleh Allah. Kita melihat peta kegagalan manusia pertama yang membuat bumi terhukum atau terkutuk dan semua keturunannya tidak menikmati kehidupan yang ideal. Dan peta itu cukup jelas memberi pelajaran yang sangat mahal kepada kita. Jangan sembarangan mengisi pikiran dan perasaan dengan kehendak sesuka kita sendiri, jangan menciptakan, membangun, dan memproduksi keinginan sesuka hati. Tetapi kalau mau sesuka hati, silakan, tidak ada yang bisa melarang. Allah sendiri pun tidak melarang. Dengan pertimbangan, bahwa yang dikehendaki itu akan membahagiakan dirinya, maka manusia telah memilih jalannya sendiri dan sesat. 
    Semua orang pasti mati, itu kematian pertama. Tetapi jangan mengalami kematian kedua, yaitu terpisah dari hadirat Allah. Kematian kedua membuat seseorang kehilangan nyawa, kehilangan hidup, terpisah dari Allah selama-lamanya, dan ini adalah kengerian di atas segala kengerian. Hanya, manusia jarang mengetahui dengan sungguh-sungguh; sedikit sekali orang yang mau mengerti dan benar-benar mengerti serta menerimanya. Kalau Yesus berkata, “Barangsiapa kehilangan nyawa karena Aku, ia akan memperolehnya,” artinya, dia tidak akan mengalami kematian kedua. 
    Sejatinya, orang Kristen yang benar tidak mungkin dapat hidup wajar di mata manusia. Namun, banyak yang belum tahu harga yang benar dalam mengiring Yesus. Harga yang benar menjadi orang Kristen adalah kehilangan nyawa; tidak boleh lagi sembarangan memiliki keinginan. Tuhan menyediakan bumi dan segala fasilitasnya untuk kita, tetapi di dalam menikmati semua, kita tetap di dalam jalur Tuhan dan kita tidak memberhalakan apa pun yang kita nikmati. Ada orang yang menikmati sesuatu, menjadi terikat dengan sesuatu itu; menjadi belenggu sampai ia tidak mau dan tidak dapat lagi mengerti kehendak Allah. Mestinya, kita bisa memberikan label “dangerously addictive.” Addictive artinya “candu,” sedangkan dangerously artinya bahaya; candu yang membahayakan. Tapi kita selama ini tidak pernah pernah peduli apakah ini membahayakan atau membuat kita terikat, atau tidak. 
    Suatu saat, tidak bisa tidak, seiring dengan hari tuanya dimana fisik tidak berdaya, baru ia menyadari bahwa semua akan berakhir. Tetapi dia sudah membayar harga mahal; perhatian, tenaga, pikiran, materi tercurah untuk semua yang pernah dia candui dan itu semua ternyata fana. Gereja juga bisa menjadi candu. Bukan berarti salah kalau kita aktif di gereja, tapi mestinya kesukaan kita bukan gereja itu sendiri melainkan Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita, bagaimana kita dapat menempatkan segala sesuatu secara proporsional supaya kita bisa benar-benar memiliki karya legacy yang memiliki nilai kekal di Kerajaan Surga. Kita bisa menikmati makan enak, tidur nyenyak, seni, alam, dan semua berkat tanpa terikat. Di sini sebenarnya kita harus bisa harus membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Kalau selama ini semua yang kita anggap keinginan itu kebutuhan, kita terikat. Pasti terikat, tercandui dengan banyak hal. Karena,
    12 min
  • Pengalaman Jatuh Cinta
    Pasti sebagian besar kita pernah mengalami apa artinya jatuh cinta, atau pernah mengalami bercinta. Pengalaman yang sulit dikatakan tidak indah atau tidak mungkin dikatakan tidak indah. Pengalaman bercinta atau jatuh cinta itu biasanya pengalaman yang indah. Alkitab juga mencatat bahwa hal ini sukar dimengerti, yaitu wanita yang mencintai pria, atau sebaliknya. Tuhan bisa membuat hubungan yang begitu istimewa antara pria dan wanita yang memiliki latar belakang yang berbeda, lalu bisa terikat dalam satu percintaan. Itu indah sekali. Seperti yang kita tahu, kita lihat, juga kita alami pada waktu kita jatuh cinta dan bercinta, rasanya dunia menjadi berubah. Sukar menceritakan kepada orang yang belum pernah jatuh cinta. Tapi kalau orang jatuh cinta, dunia seperti berubah ketika kita jatuh cinta lalu menikmati cinta itu. Tidak berlebihan, memang indah dirasakan. Bahkan, bisa jadi apa yang dikemukakan ini belumlah mewakili gelora indahnya cinta yang dialami, yang dijalani seseorang yang jatuh cinta atau bercinta. 
    Itu kalau cinta ditujukan kepada sesama. Benar-benar indah, dan dunia terasa berubah. Bagaimana kalau cinta itu kita tujukan kepada Tuhan? Jatuh cinta kepada Tuhan. Betapa berlipat ganda indahnya, dan betapa keadaan dunia sekitarmu juga benar-benar bisa berubah. Bahkan, kita mengubah nasib kekal kita. Jangan sampai kita tidak pernah memiliki pengalaman jatuh cinta kepada Tuhan. Mungkin kita bisa tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang, atau kita pernah dikecewakan oleh seseorang, sehingga menjadi takut menaruh hati atau jatuh cinta, sebab takut dikecewakan. Dan pengalaman traumatis seperti ini tentu dialami atau bisa dialami oleh orang orang-orang tertentu yang memiliki pengalaman pahit dan pedih dalam bercinta. 
    Percayalah bahwa Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, tidak akan pernah berkhianat kepada kita? Tidak akan pernah mengecewakan kita. Betapa indahnya jika kita memiliki pengalaman bercinta kepada Tuhan. Betapa jauh lebih indah dari cinta seseorang kepada sesamanya. Dan betapa kehidupan kita menjadi berubah, bahkan nasib kekal kita. Jangan sampai kita tidak pernah jatuh cinta kepada Tuhan. Tidak berlebihan, ketika Allah menciptakan manusia, Allah mengunci manusia dengan satu keberadaan bahwa manusia tidak pernah bisa menjadi manusia, jika tidak bersatu dengan Penciptanya. Kalau kata “bersatu” diganti dengan kata “jatuh cinta,” manusia tidak akan pernah menjadi manusia jika tidak jatuh cinta kepada Penciptanya. Ini tidak berlebihan. 
    Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Samaria di perigi Yakub di kota Sikhar di Injil Yohanes 4, “Kamu minum air ini, kamu haus lagi. Tapi kalau kau minum air yang Kuberikan, kamu tidak pernah harus lagi. Akulah air kehidupan.” Pengalaman bercinta bisa menjadi gambaran atau analogi hubungan kita dengan Tuhan. Kalau seseorang sudah jatuh cinta, normalnya atau yang proporsional dan proper, siapa pun menjadi tidak menarik lagi. Ketika seseorang jatuh cinta, ia merasa bahwa objek yang dicintainya itulah satu-satunya yang bisa mengisi hatinya. Jadi, tidak heran kalau seseorang dikhianati oleh pacarnya atau pasangan hidupnya, bisa sampai mengambil keputusan ekstrem seperti bunuh diri. 
    Ini menjadi gambaran atau analogi hubungan kita dengan Allah. Kita harus mengalami percintaan dengan Tuhan, sampai kita benar-benar memahami yang dikatakan oleh firman Tuhan, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan Engkau.” Kita juga bisa memahami yang dikatakan firman Tuhan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Terus terang,  jarang kita temukan orang yang memiliki cinta yang utuh, yang bulat, yang membara kepada Tuhan dalam standar yang benar, dalam standar yang proporsional ini. Tetapi pasti Tuhan menyisakan orang-orang yang mencintai Tuhan seperti ini. Dan mestinya, hamba-hamba Tuhan mencintai Tuhan dengan gelora yang kuat, sehingga waktu dia berdoa, menyanyi,
    8 min
  • Bukan Karena Terpaksa
    Kalau kita sungguh-sungguh mau menujukan cinta kita kepada Tuhan, maka secara bertahap kita akan makin menghayati kehadiran Tuhan dan dapat merasakan adanya kehausan dalam jiwa. Misalnya, seseorang yang tadinya kalau pagi tidak berdoa dan merasa biasa-biasa saja, tetapi sekarang dia mulai merasakan ada yang hilang. Yang tadinya tidak kebaktian satu bulan dan merasa tidak masalah, tetapi sekarang satu minggu lewat, dia merasa kehilangan. Kita harus belajar mengalami bahwa rasa membutuhkan Tuhan itu bukan hanya di mulut. Mari kita merenungkan kalimat pemazmur yang mengatakan, “seperti rusa merindukan sungai yang mengalir,” yaitu bagaimana seorang pemazmur yang hidup di zaman Perjanjian Lama, sudah bisa memiliki kehausan akan Allah. Dia juga berkata, “Tuhan, Rajaku, pada-Mu sangat haus jiwaku.”
    Apa yang kita pelajari dari Alkitab dan proses kehidupan yang kita alami, inilah kebenaran yang menuntun kita sampai ke surga. Kalimat “seperti rusa merindukan sungai yang berair,” artinya sungai itu bukan sekadar pelengkap, suplemen, tambahan, atau kebutuhan sekunder, melainkan segalanya. Rusa tidak bisa hidup tanpa air. “Merindukan” di sini bukan sekadar mengingini, dan boleh dijawab atau boleh tidak dijawab. Pengertian “merindukan” di sini yaitu membutuhkan sebagai kebutuhan yang mutlak. Kita harus menyadari bahwa yang kita butuhkan di hidup ini hanyalah Tuhan, agar kita bisa mengasihi Dia secara natural. Tuhan menghendaki kita mencintai Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi secara sukarela. Kalau manusia mencintai-Nya secara terpaksa, maka Allah tidak bisa menikmati cinta tersebut. Tidak mungkin Allah menerimanya. 
    Kita harus mencintai Tuhan secara natural, sebab hanya Dia yang kita butuhkan. Kita harus menghormati Dia secara patut, bukan karena terpaksa. Tentu Allah memiliki harga diri. Dia tidak memaksa makhluk ciptaan untuk menghormati-Nya. Kalau kita takut akan Dia, kita takut karena kita mengasihi dan menghormati-Nya. Seperti seorang anak yang takut kepada orangtuanya, dia merasa segan karena menghormati dan mengasihi, bukan takut karena ancaman tidak mendapat bagian warisan atau karena orangtua lebih kuat secara fisik atau kuat secara relasi dengan pejabat, sehingga anak itu menjadi takut. Sebenarnya, ini bisa menjadi gambaran tentang hubungan kita dengan Tuhan. Kalau seorang anak sejak kecil bisa menghayati hubungan orangtua dan anak secara proporsional, yaitu bagaimana anak bisa menghayati bahwa yang paling dibutuhkan olehnya adalah ibu dan bapaknya dan tidak bisa tergantikan dengan apa pun dan siapa pun, maka hubungan kita dengan Tuhan pun seharusnya demikian. Kita membutuhkan Tuhan karena Tuhan sendiri. Hanya Tuhan yang dapat mengisi kehausan jiwa kita, bukan karena berkat dan kuasa-Nya. 
    Oleh karena itu, jika seseorang benar-benar mengerti apa arti dari “Tuhan menjadi satu-satunya kebutuhan,” ia pasti tidak bisa memanipulasi Tuhan. Tuhan tidak perlu dimanipulasi, sebab Dia sendiri yang kita butuhkan, bukan “apa yang dapat Dia berikan kepada kita,” hanyalah Dia sendiri; Pribadi-Nya. Tetapi sebagian besar manusia memiliki jiwa yang sudah rusak, sehingga belum mengerti maksud dari “Tuhan satu-satunya kebutuhan.” Itu semua disebabkan karena kita memiliki konstruksi, sirkuit, cara berpikir yang sudah rusak. Kita telah kecanduan atau addict; kecanduan oleh perkara-perkara dunia. Kita melihat banyak orang Kristen yang memanfaatkan Tuhan, memanfaatkan kuasa-Nya, meminjam tangan-Nya yang perkasa untuk meraih apa yang dia pikir bisa melengkapi hidup, memuaskan, dan membahagiakan dirinya. Dengan sikap seperti itu, tanpa kita sadari, kita berkhianat kepada Tuhan, artinya kita menyakiti hati-Nya. Tetapi karena kita dianggap belum matang atau belum dewasa, Tuhan bisa mengerti dan Tuhan masih mau bertoleransi kepada kita. Namun demikian, kita tidak boleh terus-menerus dalam keadaan kekanak-kanakan yang naif, picik, dan bodoh ini. Kita harus bertumbuh terus dalam proses pendewasaan,
    9 min
  • Kompleksitas
    Kuasa gelap akan berusaha membuat hidup kita terasa rumit supaya kita tidak memiliki fokus yang benar. Coba kita renungkan, pada akhir hidup seseorang, apa pun yang telah diperjuangkan dan dimiliki, semuanya akan lenyap dalam sekejap seperti uap. Kompleksitas atau kerumitan hidup benar-benar telah membuat manusia gagal fokus. Manusia mestinya memiliki fokus yang benar, tetapi kuasa gelap berhasil membuat manusia tenggelam dalam segala kegiatan dan kesibukan, sehingga hidupnya menjadi kompleks. Harus diingat bahwa tidak ada orang yang lebih merdeka dari orang yang sampai pada titik dia mengatakan: “sudah selesai.” Manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang telah dia capai dan dia miliki. Maka, manusia terus bergerak untuk mencapai apa yang dia rasa, dia pikir belum dimiliki, dan merasa mutlak harus memiliki. 
    Apalagi kalau sesuatu itu tampak membahagiakan, dipandang menguntungkan, dan mendatangkan kehormatan. Manusia terus dibuat sibuk dan menggeliat dalam kesehariannya dari satu kerumitan ke kerumitan yang lain, sehingga menjadi tidak pernah fokus kepada sesuatu yang mestinya dia memberikan fokus. Ketika meninggal, barulah ia sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang begitu berharga yang Tuhan berikan untuk memiliki fokus yang benar, dan hidup di dalam fokus itu guna memiliki kekekalan. Tentu kekekalan yang indah, sebab manusia harus memilih: kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Kompleksitas manusia, yaitu kerumitan hidup yang dijalani manusia membuat manusia menuju kehinaan kekal. Bahkan orang-orang yang hidupnya secara ekonomi baik dan terhormat. Mungkin secara finansial dia tidak memiliki kerumitan, tetapi sebenarnya dia memiliki kerumitan yang lain, yang mungkin tidak disadarinya. 
    Tetapi yang jelas, dia belum menemukan “pelabuhan,” artinya ia belum bisa berkata “sudah selesai.” Mari kita teduh dan mendengar nasihat Tuhan ini. Jujurlah mengakui keadaan kita, bagaimana kita telah membuat kerumitan yang membuat hidup kita menjadi kompleks karena tidak memiliki fokus yang benar. Kita diajarkan kebenaran supaya memiliki fokus hidup yang benar. Fokus hidup kita hanya satu, yaitu Tuhan. Suatu hari, kita akan dapat membuktikan bahwa ternyata yang kita butuhkan dalam hidup ini hanya satu, yaitu Tuhan. Kalau kita belum memahami kebenaran ini, itu dikarenakan jiwa kita sudah rusak. Sama seperti lidah yang jika rusak bisa mati rasa, artinya tidak bisa mengecap dengan benar. Mestinya asin, tidak merasa asin; mestinya manis, tidak bisa merasa manis. Kalau seseorang terus berproses dikembalikan ke rancangan Allah semula, mendengar kebenaran, dia akan sampai pada satu titik, dan bisa mengerti bahwa yang dibutuhkan hanyalah Tuhan. 
    Kita harus benar-benar menyadari bahwa sesungguhnya yang dibutuhkan itu hanya Tuhan. Tetapi ketika seseorang baru sadar bahwa kebutuhannya hanyalah Tuhan ketika dia sudah meninggal, itu sudah terlambat. Ia pasti tidak memiliki Tuhan secara benar. Dia pasti telah gagal fokus dalam hidup ini. Mestinya sejak kita hidup di dunia, jiwa kita sudah benar-benar menjadi sehat, proper, dan bisa menghayati bahwa yang kita butuhkan sesungguhnya hanya Tuhan. Sebagian besar kita, pada umumnya juga lebih serupa dengan dunia daripada serupa dengan Yesus. Tetapi melalui pemberitaan Suara Kebenaran dan jika kita tekun mengikutinya, maka secara bertahap kita bisa mengerti bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini sesungguhnya hanya Tuhan. Sebab, hanya orang yang sampai pada tahap ini, barulah dia bisa menghormati Tuhan secara patut. 
    Orang yang mengerti bahwa yang dibutuhkan hanya Tuhan saja, akan bisa menghormati Tuhan secara patut. Dia bisa mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Barulah orang-orang seperti ini memiliki takut akan Allah secara benar, dan betapa berbahagianya orang-orang yang sampai pada tingkat ini. Pasti kita semua bisa mencapainya. Maka, kita harus bertumbuh dan berjuang terus sampai bisa mencintai Tuhan dengan segenap hati,
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…