Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menghargai Diri Dengan Benar
    Kita harus dapat mengasihi diri sendiri seperti Allah mengasihi kita. Jadi, kita harus menemukan bagaimana Allah mengasihi diri kita. Dengan cara bagaimana Allah mengasihi diri kita, dengan cara itulah kita mengasihi diri kita. Iblis tidak bisa, dia tidak mengasihi kita. Makanya hukum pertama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap, segenap, segenap,” dengan cara kita mengasihi Allah, kita berurusan dengan Allah. Dengan kita berurusan dengan Allah, kita tahu bagaimana Allah mengasihi kita. Maka di Matius 7:9-11 dikatakan, “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” 
    Sebaliknya, setan memberi apa yang kita minta; Tuhan memberi apa yang terbaik. Setan juga bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan orang sesuai selera si peminta. Tuhan tidak akan memberi sembarangan. Dia memberi roti kepada orang yang minta roti, tidak memberi batu. Setan memberi apa saja. Belum waktunya menikah, menikah. Senang sama siapa, lakukan. Mau kaya mendadak, bisa. Tuhan tidak begitu. Tuhan mengajari kita tanggung jawab. Tuhan memberikan hak, tetapi Tuhan juga memberi tanggung jawab. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah memberi pikiran dan perasaan. Itu hak. Allah tidak berintervensi, tidak mencampuri bagaimana masing-masing individu mengembangkan pikiran dan perasaannya, guna bisa seiring dengan pikiran dan perasaan Allah, sehingga bisa melakukan segala sesuatu dengan kehendak-Nya. Itu yang membuat hidupnya berkualitas.
    Namun kalau pikiran dan perasaan seseorang tidak disempurnakan oleh kebenaran, maka kehendaknya tidak selalu sesuai dengan kehendak Allah; tidak berkualitas. Manusia sudah rusak. Kualitasnya dinilai dari barang yang dimiliki dan dikenakan, aset, penampilan dan lain-lain. Orang yang punya kedudukan tinggi pasti dinilai lebih tinggi dibanding yang kedudukannya lebih rendah. Sejatinya, bukan soal kedudukan semata-mata, tetapi apakah dia memenuhi tugas kehidupan yang Allah percayakan? Misalnya, seorang ketua RW yang menyelesaikan tugas-tugas dan menjawab kebutuhan masyarakat dengan baik. Bisa jadi dia lebih bermartabat dari seorang walikota yang hanya karena mau kaya. Tuhan memberikan pikiran dan perasaan, Dia tidak mengendalikan. Maka harus dikembangkan, itu hak kita. Tapi tanggung jawab kita adalah bagaimana kita membangun pikiran dan perasaan dengan baik, supaya kita bisa menciptakan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Makanya yang kita konsumsi haruslah kebenaran. Manusia dirusak oleh Iblis dengan berbagai masukan. Rusak pikirannya, rusak perasaannya. Iblis tidak menghargai manusia.
    Kalau kita menghargai diri kita dengan benar, maka kita harus berjuang untuk keselamatan jiwa kita. Kita harus berjuang bagaimana cara kita mengasihi diri kita sendiri dengan benar, seperti Allah mengasihi kita. Bukan seperti anak dunia mengasihi dirinya. Mereka sudah sesat oleh dunia. Kalau dunia, “mata ganti mata; gigi ganti gigi.” Tapi kalau Tuhan, “tampar pipi kanan, beri pipi kiri.” Itu cara mengasihi diri sendiri dengan benar. Setan tidak memberi hak karena memang dia tidak berkuasa, dan dia juga tidak memberi tanggung jawab. Dia tidak mengerti, dia sendiri juga tidak bertanggung jawab. Dia tidak tahu bagaimana menjadi makhluk ciptaan yang mengabdi kepada Elohim Yahweh, Allah yang menciptakan langit dan bumi. Dia bukan mau masuk neraka, dia juga ingin surga. Tapi dia tidak mau dibawahi oleh Allah yang berhak untuk dimuliakan. Dia mau punya surga, di mana dia yang menjadi pemimpinnya. 
    Sebagai anak-anak Allah, jangan berkelahi untuk berebut kedudukan. Ini Teokrasi; pemerintahan Allah. Tuhan memberi kita hak, yaitu pikiran dan perasaan. Tetapi bagaimana mengembangkan pikiran dan perasaan kita, itu tanggung jawab, supaya hidup kita berkualitas. Bagaimana caranya?
    10 min
  • Berjalan dengan Iman
    Ada satu kesalahan yang bisa menjadi semacam penyakit bagi iman kita. Hal itu adalah ketidakberanian kita menerima dan memercayai apa yang belum kita saksikan, sebagai realita yang akan kita alami atau benar-benar terjadi. Kedatangan Tuhan Yesus dengan orang saleh-Nya dan akan memerintah di bumi ini merupakan suatu realitas yang benar-benar akan terjadi. Kita tidak boleh meragukannya. Hal-hal yang tidak pernah kita dengar dan lihat akan dinyatakan Tuhan kepada kita (1Kor. 2:9). Memang ayat ini konteksnya adalah hikmat Tuhan. Tetapi bukan berarti jauh maknanya dari apa yang sedang kita pelajari. Dari hikmat Tuhan inilah kita dapat mengerti apa yang disediakan Tuhan bagi kita. Menjadi sangat menarik sebab ternyata ayat yang diambil dari kitab Yesaya ini berbicara mengenai kedatangan Tuhan (Yes. 64:1-4). 
    Memang hidup dengan menatap janji kedatangan Tuhan dan pemerintahan Allah yang akbar nanti, menjadikan kita seperti pemimpi-pemimpi. Anak-anak dunia memandang hal tersebut sebagai isapan jempol. Jadi kita mengerti mengapa orang mengolok-olok Nuh tatkala memberitakan berita keselamatan. Juga Lot ketika mengajak orang-orang keluar kota Sodom. Tetapi mimpi kita bukanlah sesuatu yang kosong. Mimpi kita adalah nubuatan Alkitab yang akan digenapi. Seperti Abraham memiliki mimpi dan hidup di atas mimpi tersebut, kita pun belajar demikian (Ibr. 11:8,10,16). Itulah yang namanya berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan (2Kor. 5:7). Nuh berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun berjalan dengan iman. Dengan iman, bukan dengan penglihatan, Nuh menggerakkan diri dan keluarganya untuk berjuang membuat bahtera. 
    Kedatangan Tuhan dan pemerintahan teokrasi yang dijanjikan Tuhan menjadi peragaan hebat yang sangat menakjubkan yang akan kita alami nanti. Kita tidak akan dapat bisa menjelaskan dengan kata-kata kita hari ini, sekaya apa pun perbendaharaan kata kita. Hari ini kita memang belum melihat, telinga kita pun barangkali jarang mendengar, menganalisa mimpi kita pun sulit, tetapi kita harus  berani percaya apa yang Tuhan katakan atau janjikan. Orang-orang zaman Nuh tidak akan menduga bahwa mereka akan mengalami bencana yang begitu dahsyat. Sementara Nuh dan keluarganya tidak menduga betapa nyamannya bahtera hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun. Bakal calon menantu Lot tidak akan menduga bumi mereka dijungkirbalikkan Tuhan dan api belerang membakar kota mereka. Sebaliknya, ketika Lot keluar dari Sodom dan Gomora, ia baru mengerti betapa beruntungnya keluar dari kota itu.
    Gambaran yang jelas dapat kita temukan di Lukas 16:19-25. Peristiwa ini cermin dari kehidupan manusia. Banyak orang tidak sadar betapa dahsyatnya kengerian api kekal, tetapi juga tidak menyadari bertapa beruntungnya ada di “pangkuan Abraham.”  Memercayai Tuhan juga berarti masuk ke dalam apa yang dijanjikan Tuhan di waktu mendatang. Masuk ke dalam apa yang Tuhan janjikan, artinya mulai sekarang hidup kita diarahkan kepada kehidupan yang akan datang. Inilah yang namanya berjalan dengan iman. Air bah belum melanda bumi tetapi keluarga Nuh sudah memasuki kehidupan yang Tuhan janjikan. Ini juga berarti hidup dalam janji Bapa. Yang paling mengagumkan adalah kehidupan Abraham. Seluruh kehidupannya adalah kehidupan untuk masa depan. Walau ia tidak mengalami tetapi sampai mati ia percaya (Ibr. 11:13). Sampai mati, Abraham tidak mengalami apa-apa yang dijanjikan Tuhan, tetapi imannya tidak pudar. Abraham adalah sosok manusia yang hidup untuk masa depan. Inilah kehidupan yang Tuhan kehendaki. Inilah yang dimaksud Tuhan dengan “mengumpulkan harta di Surga” (Mat. 6:19-24). Di bumi ngengat dan karat merusak, pencuri dapat mencuri serta membongkarnya. Harta Surgawi kekal. 
    Hendaknya kita tidak menjadi keras kepala seperti bangsa Israel yang menolak apa yang Tuhan katakan, bahwa di Kanaan mereka akan menjumpai tanah yang berlimpah susu dan madu. Bangsa Israel sudah terikat dengan Mesir.
    9 min
  • Tindakan Iman
    Melepaskan segala sesuatu jangan kita pandang sebagai jasa. Itu adalah iman. Jadi kalau seseorang belum melepaskan segala sesuatu, dia belum beriman. Percaya itu barter. Tidak ada percaya tanpa barter. Ini yang membuat orang kaya di Matius 19 tidak bisa ikut Yesus; ini yang membuat Nikodemus tidak berani ikut Yesus. Beda dengan Zakheus yang rela kehilangan segala sesuatu, dan kepada Zakheus, Yesus memberikan komentar: “telah terjadi keselamatan atas rumah ini.” Yaitu ketika Zakheus memberikan separuh hartanya kepada orang miskin, dan jika ada orang yang pernah dia peras, dia kembalikan 4 kali lipat. Sebab proyeksi kekristenan adalah melakukan kehendak Allah, sempurna seperti Bapa. Dan itu harus dimulai dengan rela kehilangan segala sesuatu, barulah seseorang dituntun Tuhan. Bukan hanya mampu melakukan hukum, tetapi mengalami perubahan kodrat. Bisa berbuat segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. 
    Jadi, sangat menyesatkan kalau dikesankan bahwa karena Yesus mengalami kebangkitan, kita juga pasti mengalami kebangkitan. Maka kita harus kembali ke Alkitab, bukan kembali ke tokoh A atau B pada zaman sejarah gereja dengan pandangan teologinya yang sekarang menjadi begitu solid dalam ajaran banyak gereja. Kita ke gereja untuk belajar Alkitab—sekolah Alkitab yang benar itu gereja—bukan untuk ibadah dalam arti seremonial. Ibadah itu pekerjaan kita setiap hari, kegiatan kita setiap hari. Orang yang telah mewujudkan imannya dalam tindakan melepaskan segala sesuatu adalah mereka yang berhak memiliki pengharapan kebangkitan, seperti yang Paulus katakan, “supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan.” Penerima surat Petrus adalah mereka yang bersedia dan rela menderita demi kepercayaannya kepada Yesus. Jadi bukan hanya dengan mulut atau pengakuan dengan bibir, tetapi percaya yang nyata dalam tindakan, yaitu mempertaruhkan hidup mereka. Kalau kita mempersoalkan hal ini dengan pertanyaan begini: “Tuhan, apa yang harus kulepaskan? Apa yang harus kupertaruhkan? Penderitaan apa yang harus kualami?” Tuhan pasti menjawab. 
    Selanjutnya, Petrus menulis, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu…” Apakah kita sudah melepaskan semuanya? Tapi seberapa kemurniannya? “…yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api—sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” Sejujurnya, kita mau cari apa di hidup ini? Mau mencari apa lagi? Tentu akhirnya yang kita cari adalah puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekarang jangan karena kita punya kedudukan, kehormatan, membuat kita tenggelam dengan kehormatan ini. Bahaya sekali. 
    Maka kita harus mengenal diri kita sendiri. Misalnya, kesombongan, sebab kesombongan tidak harus diucapkan atau dalam perilaku yang kelihatan; sikap hati atau suara hati sudah bisa jadi kesombongan. Kita sering menikmati puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan dari manusia, dan itu menyenangkan. Namun ini yang membutakan kita; dan di sini kita sedang tidak menderita untuk Tuhan. Kedudukan itu karena tanggung jawab, bukan karena kehormatannya. Penerima surat Petrus ini adalah orang-orang yang benar-benar telah melepaskan dirinya dan rela menderita sebagai wujud atau ekspresi imannya. Mereka bukan seperti orang-orang Kristen hari ini yang hanya memiliki pengakuan di mulut, melainkan mereka adalah orang-orang yang seluruh kehidupan mereka telah diserahkan kepada Tuhan. Karena, iman itu barter. Jadi kalau kita mau punya iman murni, kita tidak boleh memiliki apa-apa, kecuali Tuhan. Kita bersedia melepaskan segala sesuatu untuk mengikuti jejak Yesus. Dan untuk itu, harus ada ujian apakah kita layak menerima kehormatan agar dibangkitkan, dan menerima kemuliaan di dalam Kerajaan Surga atau tidak. 
    12 min
  • Menemukan Kebahagiaan
    Roma 11:36 mengatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Allah menciptakan segala sesuatu tentu untuk diri-Nya, bukan untuk siapa-siapa. Dan manusia yang diciptakan—jika hidup sesuai dengan maksud manusia diciptakan yaitu hidup bagi Allah—maka manusia akan menemukan kebahagiaannya. Jadi, manusia dapat menemukan kebahagiaannya, kalau ia hidup sesuai dengan maksud tujuan dirinya diciptakan oleh Allah. Tetapi manusia telah memberontak, seperti yang dilakukan setan. Manusia telah berkeberadaan meleset (Yun. hamartia), itu yang dikatakan di dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dan tentu dengan kemelesetan ini manusia kehilangan kemuliaan Allah. Yang dimiliki hanyalah kemuliaan manusia, yang relatif dan bisa berubah-rubah; tidak konsisten. 
    Keselamatan dalam Yesus Kristus hendak mengembalikan kita kepada keberadaan sebagai manusia, sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia itu. Dan tentu saja seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa, manusia menjadi kesukaan hati Allah. Allah menciptakan malaikat-malaikat, tetapi berbeda dengan makhluk manusia yang diberi kehendak bebas dan diberi mandat menjadi mandataris Allah untuk mengelola bumi, juga alam semesta yang tidak terbatas ini. Manusia adalah makhluk yang penting dan juga dirancang untuk menerima otoritas (Ingg. Someone; a person of importance or authority). Jadi, di mata Allah, manusia adalah seseorang yang penting dan memiliki otoritas. Dan jika manusia tidak memberontak kepada Allah dan memenuhi apa yang Allah kehendaki, manusia menjadi kesukaan Allah. Dan tidak berlebihan kalau dikatakan manusia menjadi kesukaan Allah lebih dari apa pun yang Allah miliki dan Allah ciptakan. 
    Tetapi manusia telah memberontak. Rencana Allah gagal untuk sementara, atau tertunda. Manusia yang mestinya menjadi kesukaan hati Allah, sebaliknya, manusia mencari kesukaannya sendiri. Di dalam Kejadian 6, tertulis: “ada seorang yang bernama Nuh.” Nuh seorang yang Alkitab katakan sebagai seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Dan Nuh hidup bergaul dengan Allah. Arti nama Nuh adalah orang yang menjadi atau memberi penghiburan. Terbukti dari yang tercatat dalam Kejadian 6:5-8, “ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa TUHAN telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.”
    Di tengah-tengah manusia yang rusak dan bejat, ada sosok manusia yang menjadi kesukaan dan penghiburan hati Allah. Setelah itu, hampir tidak ditemukan manusia seperti itu. Sampai di Injil Matius 3:17, Ketika Allah menyatakan satu sosok pula yang menjadi kesukaan-Nya: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Tentu Yesus, yang di dalam Ibrani 2:17, “dalam segala hal disamakan dengan manusia,” Meskipun memiliki peluang untuk berbuat salah, tetapi Yesus memilih taat.  Bahkan di puncak penderitaan-Nya, ketika Ia nyaris meninggalkan tanggung jawab dengan mengatakan, “Jikalau boleh cawan ini lalu daripada-Ku.” Bahkan ketika Ia ada di salib di dalam penderitaan yang hebat, saat Allah Bapa meninggalkan diri-Nya, dan Dia berseru—bukan bersandiwara—”Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau tinggalkan Aku; eloi eloi lama sabachthani.” Ia tetap mengakhiri dengan satu komitmen: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu.” Ia tetap memercayai Allah-Nya. Yesus menjadi kesukaan dan penghiburan hati Bapa di surga. 
    Alkitab mencatat bahwa Ia telah berhasil menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula; berkenan....
    10 min
  • Hidup yang Berpengharapan
    Dalam Lukas 20:36 tertulis, “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Kalimat penting yang harus kita perhatikan dari deret kata, kalimat dalam ayat ini adalah “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Allah semua orang hidup.” Allah orang hidup, artinya bahwa Allah menciptakan manusia agar berkeadaan hidup. “Hidup” artinya memiliki fisik atau tubuh yang bergerak dan beraktivitas; makan, minum, dan melakukan segala kegiatan, serta dapat bersentuhan atau berinteraksi dengan Allah dan ciptaan-Nya. 
    Tentu pula dengan kehendak bebas, bukan robot yang diatur dengan remote control. Betapa indahnya kehidupan ini kalau manusia berkeadaan demikian; memiliki fisik atau tubuh yang dapat bergerak, makan, minum, dan melakukan segala aktivitas, serta dapat berinteraksi dengan Allah; berinteraksi dan bersentuhan dengan ciptaan Allah lain, baik hewan, tumbuh-tumbuhan, dan segala sesuatu dalam tatanan Allah. Dan disertai dengan kehendak bebas. Selanjutnya, dengan keadaan seperti ini, manusia dalam kesadaran penuh, dan kerelaan di dalam kehendak bebasnya selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehidupan seperti ini menyukakan hati Allah yang menciptakan. Dan inilah sebenarnya rancangan Allah semula. Kehendak dan rencana-rencana-Nya dipercayakan kepada makhluk ciptaan yang agung, yang diciptakan menurut gambar dan direncanakan serupa dengan Allah. 
    Tetapi ternyata rancangan Allah ini tertunda, sebab manusia telah menjadi manusia yang tidak bisa berinteraksi dengan Allah secara benar; manusia tidak mampu berbuat sesuatu yang selalu sesuai dengan kehendak Allah (Rm. 3:23). Sehingga, manusia tidak bisa memproduksi kehendak-kehendak yang tepat seperti yang Allah inginkan. Ini namanya “kehilangan kemuliaan Allah.” Tetapi bukan berarti manusia menjadi bejat. Memang, ada yang menjadi bejat. Tetapi tidak semua orang menjadi bejat. Manusia bisa tetap menjadi baik, tetapi kebaikan manusia bukanlah kebaikan standar Allah karena masih berkeadaan meleset. Dan ciptaan Allah yang sempurna ini, yang dikatakan “sungguh amat baik,” tidak bisa dikelola oleh makhluk yang meleset.
    Itulah sebabnya tidak ada kejadian yang lebih tragis dari kehidupan manusia di bumi ini, selain ketika manusia makan buah yang dilarang Allah untuk dimakan atau dikonsumsi. Tuhan berkata, “Pada hari kamu makan buah itu, kamu mati.” Di sini berarti manusia mengalami proses penuaan yang akan berujung kepada kematian (fisik). Tetapi selain itu, dengan makan buah yang dilarang Allah untuk dikonsumsi, manusia kehilangan kemampuan untuk memiliki ketepatan bertindak seperti yang Allah inginkan. Dan manusia yang tidak memiliki ketepatan bertindak, tidak mungkin bisa mengelola alam semesta ini dengan sempurna, karena alam semesta ini diciptakan Allah dengan sempurna. Jadi, bumi ikut terhukum. Maka, Allah menumbuhkan onak dan duri, dan bumi menjadi hunian yang tidak ideal, yang nanti akan berujung menjadi lautan api. Oleh karenanya, harus ada hunian lain. Dan Yesus berkata, “Aku pergi menyediakan tempat bagimu, supaya di mana Aku ada, kamu ada.”
    Kematian manusia membuat manusia tidak lagi memiliki pengharapan. Proses penuaan yang berujung kepada kematian, itu membuat manusia tidak lagi memiliki pengharapan. Sejatinya, begitu manusia lahir, ia sudah dieksekusi hukuman mati. Bisa 3 hari, 30 hari, 3 bulan, 3 tahun, 30 tahun, atau lebih. Manusia dilahirkan untuk mati, yang Alkitab katakan “ditetapkan untuk mati.” Dan manusia hidup di bawah bayang-bayang maut, artinya manusia bisa berkemungkinan bukan hanya mati secara fisik,
    10 min
  • Pengharapan Kebahagiaan
    Ada tiga peristiwa besar dalam sejarah Kerajaan Allah, sejarah bumi ini, sejarah kehidupan Allah dan manusia. Yang pertama, pemberontakan Lusifer; pemberontakan kerub/kerubim yang Alkitab sebut sebagai Hilel bin Sakhar. Yang kedua, kejatuhan manusia ke dalam dosa. Yang ketiga, penderitaan kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Ini semua memiliki benang merah yang terhubung. Kebangkitan Yesus dari kematian memberi harapan. Jadi, membuat hidup ini berpengharapan. Dikatakan dalam 1 Petrus 1:3-4, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati.”
    Jadi kita seperti dilahirkan, dari seorang yang tidak berpengharapan, lalu menjadi orang yang diberi pengharapan, “… Oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu,” (1Ptr. 1:3-4). Maka, kita harus menaruh pengharapan kebahagiaan kita di dunia yang akan datang, bukan di bumi ini. Sebab kalau kita menaruh pengharapan kebahagiaan kita di bumi, maka kita tidak mungkin bisa setia kepada Tuhan. Kita akan berkhianat kepada Tuhan. Tidak mungkin kita maksimal dan nekat untuk hidup suci. Memang untuk mengubah irama jiwa kita yang rusak ini, tidak mudah, tetapi kalau kita tidak melakukannya, berarti kita seperti istri Lot yang menoleh ke belakang.
    Kalau seseorang masih menaruh pengharapan di bumi ini, berarti dia tidak mengerti kebenaran. Tidak mungkin dia menjadi Kristen yang benar. Tidak mungkin dia tidak berkhianat kepada Tuhan. Orang-orang seperti ini sejatinya belum mengenal keselamatan. Orang yang mengenal keselamatan dan memahami nilai keselamatan, tidak akan menaruh pengharapan kebahagiaannya di bumi ini, sebaliknya, dia akan menaruh pengharapannya hanya di langit baru bumi baru. Maka dalam 1 Petrus 1:13 Petrus mengingatkan kita, “Sebab itu siapkanlah akal budimu…” Pikir, renungkan, gunakan logikamu. Tentu logika rohani, bukan logika duniawi. Petrus menulis ini untuk jemaat, bukan untuk orang-orang kafir atau orang yang tidak percaya, tetapi jemaat. Yang Petrus katakan di awal suratnya sebagai “orang suci.” Selanjutnya, “… waspadalah,” artinya hati-hati karena pikiranmu bisa disesatkan dari kesetiaanmu yang sejati kepada Kristus, seperti Hawa diperdaya ular. “…dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” 
    Tapi seiring berjalannya waktu, dan Tuhan memproses kita dengan proses-proses yang luar biasa. Ketika kita menaruh seluruh pengharapan kebahagiaan kita kepada Tuhan, tidak bisa tidak, kita mengupayakan kehidupan yang tidak bercela. Tapi kalau kita masih menaruh pengharapan kebahagiaan di dunia ini, tidak mungkin hidup kita bersih. Maka dikatakan ayat lainnya, “hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu.” Kalau seluruh pengharapan kebahagiaan kita taruh pada Tuhan dan dunia yang akan datang, maka kita bisa hidup kudus dalam seluruh hidup. Paralel. Simetris. “… sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya.” Maka, jangan mengaku sebagai anak-anak Allah secara tidak bertanggung jawab, sebab anak Allah bukan sekadar sebutan, melainkan perbuatan dan keberadaan kita.
    Baiklah kita renungkan, suatu hari kita akan menghadap takhta pengadilan Tuhan. Kita berharap tidak ada saldo dosa dalam hidup kita. Tuhan akan menghabisi semua saldo dosa kita lewat peristiwa-peristiwa hidup. Seseorang yang gampang tersinggung dibentuk untuk menjadi orang yang tidak tersinggung, maka ia harus mengalami kejadian dimana ia disinggung. Waktu itulah ia berkesempatan untuk menghabiskan saldo dosa tersinggungnya. Makanya, Tuhan bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan.
    9 min
  • Wisata Abadi
    Pada masa COVID ini, kita sudah beberapa tahun tidak pergi ke luar kota atau ke tempat wisata yang ramai dikunjungi orang. Rasanya, bagi sebagian orang mungkin ada keinginan dengan beberapa orang dekatnya atau keluarga untuk wisata atau jalan-jalan ke luar negeri. Meskipun hal itu bukan merupakan kebahagiaan inti, tetapi rasanya tetap menyenangkan juga jika bisa pergi dengan orang-orang yang kita kasihi, kita bisa bercengkrama, berbicara tentang kebenaran dan memikirkan pekerjaan Tuhan. Tetapi, sebenarnya ada wisata kekal di Kerajaan Surga. 
    Sekarang kita diajak wisata ke tempat abadi; Kerajaan Surga. Namun, terkadang ketika mendengar atau membaca masalah hidup yang begitu tragis, jawaban yang kita dapatkan adalah: “Itu bukan masalah besar. Kalau kamu ingat ada tempat abadi di Kerajaan Surga, masalahmu menjadi tidak ada artinya.” Tetapi, bagaimana caranya agar bisa membuka pikiran kita untuk melihat kehidupan yang akan datang yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus? “Supaya di mana Aku ada, kamu ada,” inilah yang Ia janjikan. Banyak orang merasa tidak sanggup lagi hidup di dunia, karena dunia telah mengondisi mereka untuk memperhatikan apa yang kelihatan saja. Sedangkan Rasul Paulus berkata, “kami memperhatikan apa yang tidak kelihatan.” 
    Masalahnya, sulit untuk bisa benar-benar sepenuhnya terarah kepada Bapa, ke Rumah-Nya, hidup suci, meninggalkan percintaan dunia kalau seseorang belum patah hati dengan dunia ini. Ini yang saya pahami dan saya alami. Harus patah hati dan kecewa yang dalam dengan dunia ini, baru seseorang bisa mencintai Tuhan dengan bulat, sepenuhnya, tanpa batas dan mengarahkan diri sepenuhnya ke Kerajaan surga. Tapi apa momentum seseorang bisa patah hati? Banyak sarana. Ketika seseorang belajar kebenaran dan makin memahami kebenaran dan memiliki hubungan dengan Tuhan, melihat kemuliaan Kerajaan surga di dalam iman, keindahan Tuhan; maka dia melihat betapa tidak bernilainya hidup di bumi ini. Betapa agung, betapa mulia Kerajaan Allah sehingga kita bisa melihat kemuliaan Allah.
    Jadi, melalui kebenaran Firman yang kita pelajari, itu mencelikkan mata hati kita melihat kemuliaan Allah, keindahan persekutuan dengan Tuhan. Dan mata iman yang dibuka melihat Kerajaan surga, kita melihat tragisnya hidup ini, tidak bernilainya hidup ini; kita bisa kecewa terhadap dunia. Ditambah lagi dengan jika kita melihat keadaan orang-orang di sekitar kita dan keadaan kita sendiri yang banyak bermasalah, yang tidak ada kenyamanan, membuat kita patah hati dengan dunia. Dan pengalaman-pengalaman pahit yang kita alami itu bisa membuat kita bunuh diri, yaitu menghabisi daging, nafsu, dan percintaan kita dengan dunia.
    Ayo, kita berangkat. Terus bergerak menuju langit baru bumi baru. Untuk itu, berubahlah. Mari kita hidup sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya, tidak terikat dunia, dan berusaha untuk menyenangkan hati Bapa di surga. Pahamilah apa yang bisa menyenangkan hati Bapa. Ketahuilah, mengertilah, kenalilah proyek pekerjaan yang Bapa percayakan kepada kita masing-masing untuk kita penuhi. Dengan demikian, kita mempersiapkan diri ke surga. Masalahnya, ada banyak orang Kristen yang merasa kalau sudah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pengaminan akali; yakin saja bahwa Yesus telah mati di kayu salib menebus dosa-dosa mereka, sudah merasa punya tiket untuk masuk surga. Ini adalah penyesatan. 
    Dosa-dosa memang sudah diampuni, yaitu perbuatan-perbuatan kita yang salah, baik yang kita lakukan dulu, sekarang, atau nanti kemungkinan melakukan kesalahan di masa mendatang. Tetapi, kodrat dosa di dalam diri kita, itulah yang harus kita selesaikan. Di masa penampian ini, yang jahat akan bertambah jahat, tetapi yang kudus akan bertambah kudus. Artinya, mengondisi orang yang sungguh-sungguh untuk mengalami kodrat dosa yang dikikis atau digerus lewat kehidupannya yang semakin dimurnikan dan disempurnakan. 
    Oleh sebab itu, kita tidak boleh rileks atau bersantai ria. Kalau ibarat naik kendaraan,
    8 min
  • Menghayati Kekekalan
    Ada satu hal yang kita harus selalu ingat dan ini mendasari semua cara kita berpikir. Jangan anggap ini hal sepele dan sudah terlalu usang untuk dibicarakan. Ini harus selalu kita ingat bahwa manusia adalah makhluk kekal. Dengan kita menghayati bahwa kita adalah makhluk kekal, hal ini membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Yang jelas, kita lebih serius berurusan dengan Allah. Dan ini yang membedakan kita dengan makhluk ciptaan lain; apakah itu tumbuh-tumbuhan, atau hewan. Kalau kita membaca dalam kitab Kejadian, manusia itu diciptakan dengan cara yang sangat khusus, unik, berbeda dari penciptaan Allah atas ciptaan yang lain. Sebab ketika manusia diciptakan, Allah mengembuskan nafas kepada manusia. 
    Alkitab menjelaskan bagaimana Allah menciptakan manusia; Allah mengembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidung manusia sehingga manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7). Allah menaruh yang namanya nishmat chayyim. Inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang hidup, yang artinya tidak pernah mengalami kematian seperti makhluk lain. Namun memang pada akhirnya, Adam dan Hawa melanggar perintah Allah, sehingga mereka mengalami kematian secara fisik. Fisiknya atau raganya mati, tapi jiwa rohnya masih abadi, masih sadar. Kalau hewan, raganya mati, kesadarannya sudah hilang sama sekali. Tetapi manusia tidak demikian. Raganya atau fisiknya mati, dikubur, tetapi kesadarannya masih tidak hilang, di dalam roh. 
    Roh dan jiwanya itu masih kekal, abadi, ada, dan dalam kesadaran. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan, “Jangan kamu takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa dan membuangnya ke dalam neraka.” Maka hanya manusialah yang bisa mengalami dua kali kematian. Ada kematian jasmani, tapi juga ada kematian kekal; Wahyu 20:14, “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api, itulah kematian yang kedua. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api.” Ini tidak bermaksud menakut-nakuti atau mengancam. Jika kita bertobat karena takut atau karena ancaman, itu merupakan pertobatan yang tidak natural. Bukan pertobatan yang baik atau berkualitas. 
    Tuhan mau pertobatan kita merupakan pertobatan yang tulus, lahir dari kesadaran akan kebenaran, sikap hormat kepada Allah, takut akan Allah, hati yang sungguh mengasihi Allah, dan kerelaan yang tulus meninggalkan dosa. Kalau tidak bertobat dengan sungguh-sungguh, bukan hanya fisiknya yang mati melainkan juga jiwa, rohnya pun juga bisa terbuang ke dalam lautan api. Ini yang menakutkan. Lebih menakutkan dari kematian fisik. Kalau hanya kematian jasmani, itu bukan sesuatu yang bisa dikatakan sebagai kecelakaan yang mahadahsyat. Kecelakaan yang lebih dahsyat atau mahadahsyat terkait dengan kehidupan manusia adalah ketika terpisah dari hadirat Allah. Dalam Matius 10:28 dikatakan, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah kepada Dia, Allah, yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Ini peringatan yang harus benar-benar kita perhatikan. 
    Kiranya kita selalu mengingat bahwa kita adalah makhluk kekal. Hal ini akan membuat kita berurusan dengan Allah lebih serius, dan lebih sungguh-sungguh. Sebab kalau orang tidak sungguh-sungguh menghayati dirinya adalah makhluk kekal, apa yang dia lakukan? Jangan kita seperti mereka yang tidak memiliki pengertian, sehingga mereka sembarangan dalam hidup. Di dalam 1 Korintus 15:32 Paulus mengatakan, “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja, aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus. Apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Artinya, kalau manusia hanya berhenti sampai di kematian, setelah itu tidak ada kesadaran, kita puas-puaskan saja apa yang bisa kita nikmati hari ini. Tetapi,
    8 min
  • Peringatan Tuhan
    Betapa beruntungnya kita yang menyediakan waktu untuk membaca Alkitab, mendengarkan khotbah dari hamba-hamba Tuhan yang memang benar-benar diberi hikmat oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman Tuhan, karena Firman yang kita dengar menghidupkan pengertian yang murni. Orang bisa membaca Alkitab, mendengar khotbah, tetapi kalau tidak di dalam pimpinan Roh Kudus, dan Firman yang dia dengar bukan oleh pimpinan Roh Kudus, maka hal itu tidak akan menghidupkan pengertian yang murni. Dan harus diingat bahwa pengertian kita itu tidak sekaligus berkembang secara instan, melainkan lewat proses bertahap, seakan-akan kehidupan kita yang mencari Tuhan tidak mengalami perubahan yang berarti, tetapi lewat proses panjang. 
    Ketekunan yang dilakukan dalam waktu sekian tahun, baru kita bisa benar-benar melihat perbedaannya. Sejatinya, pemberitaan Firman Tuhan yang benar itu memuat peringatan-peringatan. Entah kita sadari atau tidak, kita sering mendengar peringatan-peringatan itu. Apakah bicara mengenai waktu kita yang singkat, kekekalan yang dahsyat, mengerikannya terpisah dari hadirat Allah, atau kuasa kegelapan yang mengancam. Peringatan-peringatan tersebut menghidupkan pengertian yang murni, dan pasti hidup kita menjadi tidak ceroboh. Kita bisa menyaksikan orang-orang yang hidup dengan sembrono dan tidak memedulikan kekekalan. Walaupun tidak mau masuk neraka, tetapi mereka mengarahkan diri ke api kekal. Tentu tidak ada orang yang mau masuk neraka. Tetapi, mereka tidak mau memperkarakan hidupnya dengan Tuhan. Tidak memiliki pengertian yang murni, karena tidak pernah mendengar peringatan-peringatan. 
    Kegentaran yang kita miliki sekarang harus sudah ada dalam suasana itu. Menarik suasana hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik di dalam perenungan dan penghayatan kita tidaklah mudah. Atau menarik suasana di hadapan pengadilan Tuhan dan mengerikannya keterpisahan dari Allah untuk kita bisa hayati bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi pengertian yang murni akan memampukan kita menghayati hal tersebut. Dan kalau kita mampu menghayatinya, kita tidak usah dipaksa untuk hidup suci. Kita tidak perlu diancam untuk hidup tidak bercacat tidak bercela. Kita sudah terpacu untuk hidup suci, tidak bercacat tidak bercela. Tidak perlu diiming-imingkan sesuatu, kita pasti sudah rela mengorbankan apa pun demi pekerjaan Allah. 
    Di lain pihak, kita sudah bisa menarik indahnya Kerajaan Surga. Hamparan padang hijau yang tidak bertepi. Pengertian yang murni. Kemudian kita melihat ayat berikutnya. “…supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu.” Ketika Petrus menulis surat ini, tidak jelas dokumen apa yang dimiliki oleh rasul Petrus. Tetapi pasti paling tidak, ada dokumen lisan yang menjadi pengetahuan mereka, yang karenanya Petrus mengatakan, “mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu.” 
    Apa yang menjadi dokumen lisan yang dipahami, Petrus ketahui, dan penerima surat ini juga pahami? Ini. “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu?’ sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula pada waktu dunia diciptakan.” Pengejek-pengejek ini bukan mengejek hanya dengan kata-kata, tetapi lebih kuat, yaitu dengan perbuatan. Sikap hidup, perilaku yang merupakan bentuk ejekan sekaligus pemberontakan, yang mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak akan datang. Bahwa apa yang dikatakan nabi-nabi dan rasul-rasul yang meneruskan ucapan Tuhan dan Juruselamat kita, Tuhan Yesus, itu omong kosong. 
    Kita tahu bahwa kalau dusta yang diucapkan terus-menerus,
    9 min
  • Menghitung Hari Sisa
    Seperti yang dikemukakan di dalam Matius 25 mengenai lima gadis yang bodoh dan gadis yang bijaksana, waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru “Mempelai datang, songsonglah dia.” Ini merupakan peringatan bahwa mempelai datang. Tuhan juga memberi peringatan kepada kita melalui peristiwa-peristiwa di dalam sejarah. Yang jelas, ekosistem bumi yang anomali—gempa, tsunami, dan berbagai tanda alam—ini ibarat sebuah seruan “Mempelai datang, songsonglah Dia!” Juga secara khusus, konflik bersenjata atau perang antarbangsa, jelas ini juga merupakan peringatan. Dalam Wahyu 3:20-21, Tuhan Yesus berkata, “Lihat Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk.” Ketukan itu juga merupakan isyarat, tanda bahwa Tuhan datang; Mempelai datang. 
    Kita harus siuman supaya kita tidak terlena dengan kesibukan dan kesenangan diri, seperti hamba-hamba yang tidak tahu kapan tuannya datang. Ketika tuannya datang, ia sedang memukul satu dengan yang lain atau berkelahi satu dengan yang lain. Ia tidak mempersiapkan diri terhadap kedatangan majikannya. Kita sudah melewati masa menuai, sekarang kita masuk pada masa penampian. Dunia akan diguncang dengan berbagai guncangan. Di sini akan terjadi pemisahan; orang yang hidup suci akan bertambah suci, tetapi orang yang jahat akan bertambah jahat. Kita harus mengambil sikap yang jelas, kita mau termasuk kelompok orang-orang yang disisakan, atau bukan? Tuhan Yesus berkata di Lukas 18, “Jika Anak Manusia datang, apakah Ia mendapati iman di bumi?” Kita mau menjadi kelompok orang yang memiliki iman di bumi, tentu iman menurut standar Allah. 
    Dengan tanda-tanda yang jelas ini, kita tinggal menghitung hari sisa. Orang tidak akan pernah menyadari sungguh-sungguh betapa dahsyatnya kekekalan, atau kedatangan Tuhan, kalau tidak mulai sekarang kita membangun keyakinan terhadap apa yang Firman Tuhan katakan. Mari kita hayati terus-menerus, kita sudah harus masuk ke suasana kekekalan. Sebelum secara fisik dan real-time kita masuk ke dalam suasana kekekalan, kita sudah bisa menghayati kekekalan itu. 
    Tidak sedikit orang yang ketika masuk penjara—dieksekusi 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, apalagi seumur hidup, terlebih lagi dijatuhi hukuman mati—yang tidak bisa menerima realitas itu dengan mudah dan masih belum siap sehingga bertanya-tanya dalam pikirannya, “Inikah penjara?” Tidak pernah dia pikirkan hal ini akan menimpanya waktu dia melakukan grativikasi atau korupsi. Bagi seorang penjual narkoba, Ketika dia menjual narkoba, menjadi bandar narkoba, tidak pernah memikirkan betapa “dahsyatnya” eksekusi hukuman mati yang akan dia terima. Namun kekekalan itu jauh lebih dahsyat daripada hukuman apa pun di dunia ini. Ingat kisah orang kaya di Lukas 16, ketika ia melihat Lazarus duduk di pangkuan Abraham—sedangkan ia ada di tempat yang sangat mengerikan—sulit baginya untuk menerima kenyataan tersebut. Tetapi kenyataan itu harus dia alami dan jalani. Maka dia berkata, “Bapa Abraham, suruh Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke air dan meneteskannya kepada lidahku karena aku sangat menderita.” 
    Jangan kita berpikir bahwa hal ini tidak akan pernah kita alami. Bisa saja kita alami. Dan Tuhan sudah memberi peringatan lewat firman-Nya, “Mempelai datang, Mempelai datang!” Tuhan sudah mengetuk pintu, ketukan-Nya dalam bentuk gempa, perang, kelaparan, kesulitan ekonomi, krisis ekonomi. Ini ketukan, ini seruan. Dan inilah masa penampian. Orang yang mendengar seruan itu akan mendengar dan berjaga-jaga, sementara yang tidak mendengarnya, akan semakin tidak mendengar dan tidak tahu apa-apa hingga hari-Nya benar-benar tiba. Tentu kita mau termasuk orang yang mendengar, yang karenanya Firman Tuhan ini disampaikan. 
    Kita tinggal menghitung hari sisa. Dan di sisa hari yang Tuhan berikan ini, hendaknya kita serius mempersiapkan diri. Kita bisa berkata saja mengamini dan setuju dengan apa yang disampaikan ini, tetapi setelah membaca pemberitaan Firman Tuhan ini, bisa saja kita kembali lagi ke irama hidup hari-hari k...
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…