Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tindakan Iman
    Sebagai orang beragama, kita sudah sering mendengar dan juga mengucapkan kalimat “percaya kepada Tuhan” atau “beriman kepada Tuhan.” Sejatinya, apa dan bagaimana sebenarnya percaya atau beriman kepada Tuhan itu? Di lingkungan orang-orang yang tidak menghargai nilai-nilai agama, tidak mudah mengucapkan kalimat “percaya” atau “beriman kepada Tuhan,” terutama mereka yang hidup di masyarakat yang pengaruh agamanya sangat tipis, lalu masyarakatnya berpikir bebas. Mereka lebih senang mengaku sebagai free thinker, seperti di negara-negara Barat. Tetapi kalau di masyarakat yang menjunjung tinggi hal keberagamaan seperti di Indonesia, dikesankan dan memang dianggap bahwa percaya atau beriman kepada Tuhan itu mudah. 
    Sebenarnya percaya atau beriman kepada Tuhan yang benar, itu bukan sesuatu yang sederhana. Ini tidak berlebihan. Keyakinan biasanya bertalian dengan persetujuan pikiran. Ketika pikiran setuju kepada sesuatu, sesuatu itu diyakini; diyakini benar. Atau kata lain, “pengaminan akali.” “Amin” artinya “ya, benar.” Sedangkan percaya atau beriman adalah perbuatan, seluruh cara berpikir dan gaya hidup, sehingga tidak ada bagian dalam hidup kita yang kita lakukan di luar iman.
    Ibrani 11:6, “tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Jikalau kita membaca ayat-ayat berikutnya, ternyata iman itu tindakan, seperti tindakan Abraham yang meninggalkan Ur-Kasdim dan menyerahkan dirinya kepada satu janji yang Elohim Yahweh katakan akan membawanya ke negeri yang Yahweh akan tunjukkan kemudian. Di dalam Roma 14:23 dikatakan, “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Kalimat ini jarang diangkat ke permukaan. Ini terkait dengan 1 Korintus 10:31, “baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah.”
    Jadi, tindakan iman adalah tindakan untuk kemuliaan Allah. Dalam konteks umat Perjanjian Baru, apa pun yang kita lakukan, baik yang kita pikirkan, ucapkan, dan yang kita perbuat, jika bukan untuk kemuliaan Allah, dosa. Berarti, bukan tindakan iman. Kalau kita sudah ke gereja, menyanyikan lagu-lagu penyembahan, kita dulu merasa sudah menyembah Tuhan. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika Tuhan mencerahi pikiran kita, kita lebih memahami kebenaran, baru kita sadar betapa miskinnya iman kita, betapa rendahnya kualitas iman kita. Tetapi kita bersyukur karena Tuhan masih memberi kesempatan kita menyadari kesalahan kita dan kita bertobat. Maka untuk memahami pengertian “percaya atau beriman kepada Tuhan,” kita harus mengerti beberapa aspek atau bisa dikatakan “dimensi” dalam percaya atau beriman kepada Tuhan itu.
    Pertama, percaya itu terkait dengan pengakuan terhadap keberadaan Allah atau terkait dengan eksistensi Tuhan. Percaya bahwa Allah itu ada. Yang kedua, percaya terkait dengan pengenalan dan penerimaan terhadap pribadi-Nya. Seseorang bisa percaya Allah itu ada, tetapi apakah seseorang mengenal pribadi-Nya dan menerima keberadaan pribadi-Nya itu? Mengenal siapa dan bagaimana Allah, yaitu hakikat, sifat, dan karakter-karakter-Nya. Lalu bagaimana orang percaya atau orang beriman itu seharusnya bersikap terhadap Allah, atau bagaimana menempatkan diri dengan benar di hadapan Allah dan menempatkan Allah di tempat yang patut atau pantas? 
    Setelah mengenal, lalu penerimaan terhadap pribadi-Nya. Kita kenal seseorang, tahu dia ada, tapi apakah kita mengenal pribadi orang itu dan menerima keberadaannya? Itu berarti kita harus menempatkan diri kita dengan benar bagi dia, dan kita menempatkan dia dengan benar pula, sebagaimana seharusnya kita menempatkan orang itu. Ini kalau berbicara tentang pribadi manusia. Kalau Allah, lebih kompleks lagi, karena Allah itu tidak kelihatan.
    9 min
  • Panik
    Salah satu media Allah berbicara kepada manusia adalah melalui peristiwa-peristiwa besar; seperti bencana alam yang menelan banyak korban, juga perang yang baru-baru ini terjadi antara Rusia dan Ukraina di Eropa. Ada pesan Tuhan di situ. Jadi kalau secara individu, ada pesan Tuhan sekaligus penggarapan-Nya. Kalau untuk dunia ini, pesan Tuhan agar manusia berjaga-jaga dan bersiap-siap. Kalau perang melibatkan banyak negara meluas, apalagi dengan persenjataan nuklir yang dapat memusnahkan kehidupan di muka bumi, ini bukan perkara kecil. Terus terang, jarang ada berita yang sampai mengendap di pikiran kita waktu kita mau tidur di pembaringan tengah malam. Kita bangun, masih mengendap. Apalagi kalau kita melihat berita pengungsi yang jumlahnya sudah ratusan ribu. Melihat bagaimana seorang ayah memeluk anaknya menangis sebelum berpisah, bagaimana seorang wanita menangis memeluk pria yang akan maju ke medan perang. Itu semua miris. Ini tidak mungkin kebetulan. Ini merupakan suara atau pesan Tuhan, seperti teriakan orang: “Mempelai datang! Songsonglah dia!” Ini seperti ketukan pintu di Wahyu 3:20-21. Maksud peringatan itu adalah agar umat pilihan mempersiapkan diri menyambut Mempelai Pria, yaitu Tuhan Yesus.
    Jangan ketika kita tidak lagi memiliki kesempatan mempersiapkan diri, kita baru kebakaran jenggot. Sekarang kita harus panik, bukan nanti! Ketika kita sadar bahwa kita belum layak berdiri di hadapan kekudusan Allah, kita harus panik sekarang. Kalau masih ada kecenderungan-kecenderungan yang salah dalam hati kita—keinginan memiliki sesuatu, kesombongan, keangkuhan, kebencian, pikiran najis, ketidakjujuran, bosan mendengar firman, jenuh berdoa—sejatinya kita harus panik. Memang masalahnya sering setan mengadakan banyak peristiwa atau masalah yang membuat kita panik. Sehingga panik positif yang mestinya kita tanggulangi—yaitu bagaimana mempersiapkan diri menghadap takhta pengadilan Tuhan—digantikan panik yang sia-sia. 
    Semua kita punya masalah, baiklah kita hadapi dengan teduh. Kalau kita memang milik Tuhan—karena kita hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah—percayalah semua dalam kontrol Tuhan Yang Mahakuasa. Beri kesempatan orang itu berhadapan dengan Tuhan, jangan kita hadapi. Sejatinya, yang seharusnya membuat kita panik adalah mengapa kita memiliki perasaan benci, dan perasaan ingin membalas dendam.
    Baru-baru ini dengan adanya perang Rusia – Ukraina, banyak pengkhotbah mencoba untuk menafsirkan Rusia itu Gog Magog, dan sebagainya. Jangan sibuk berbicara mengenai tafsiran terhadap pokok-pokok akhir zaman karena adanya perang atau bencana. Yang penting adalah ketukan pintu itu merupakan peringatan. Bukan hanya Tuhan mau masuk, tapi bahwa dunia yang kita tinggali kini jahat dan akan dilawat oleh-Nya. Selesaikan tugas kita. Persiapkan diri kita agar layak berdiri di hadapan kekudusan Allah. Jangan sampai fokus kita diarahkan kepada yang lain. Memperhatikan keadaan zaman yang semakin jahat ini, kita harus memperkarakan bagaimana sebagai umat pilihan, kita memiliki kesungguhan atau kenekatan agar kita memiliki iman sesuai standar Tuhan. Dunia kita yang sangat jahat ini, dunia yang sulit dijalani dengan kehidupan iman standar Tuhan. Maka, tidak heran jika di Lukas 18:8 Tuhan Yesus berkata, “kalau Anak Manusia datang ke bumi, apakah menjumpai iman di bumi?” Ini iman menurut standar yang benar dari Tuhan. Jangan meremehkan atau memberi isi dangkal terhadap kata “beriman.”
    Orang-orang Kristen abad mula-mula seperti berjalan di lumpur karena menghadapi aniaya. Orang Kristen hari ini kalau mau meneladani hidup Yesus juga berjalan dalam lumpur; lumpur yang lebih pekat. Sekarang, kita pun berjalan dalam lumpur; lumpur pengaruh jahat dunia. Ini tidak lebih ringan. Maka, dibutuhkan keberanian dalam menjaga integritas dan tetap setia kepada Tuhan dalam standar iman Kristen yang benar. Jika kita melihat dari aspek janda di Lukas 18, mengapa dia sampai begitu nekat? Jawabnya,
    10 min
  • Sisa Satu Peringatan
    Kalau sekarang kita masih hidup, masih ada kesempatan, bisa jadi ini tinggal satu sisa peringatan. Sangat berbahaya apabila kita tidak menanggapi satu peringatan terakhir ini. Biarlah kita seperti orang yang kebakaran jenggot. “Kebakaran jenggot” menunjuk orang yang panik oleh sesuatu hal, namun juga bisa berarti orang yang bingung memberi jawab apa. Banyak hal yang bisa membuat kita panik. Orang yang panik akan mencoba mencari solusi untuk menyelesaikan penyebab kepanikannya itu. Banyak sumber yang membuat orang merasa dan mengalami kepanikan. Pertanyaan yang harus kita kemukakan kepada diri kita masing-masing saat ini adalah apa yang membuat saya panik? Kita harus dalam posisi kebakaran jenggot terkait dengan keadaan kita di hadapan kesucian Allah. Kalau kita ada di hadapan kekudusan Allah, apakah kita tahan berdiri dan siap? Seperti seorang yang diberi kepercayaan mengerjakan sesuatu oleh seorang majikan atau tuan, lalu tiba-tiba majikan datang. Kalau dia tidak mengerjakan pekerjaan itu dengan baik, dia akan menjadi panik. Tetapi kepanikannya sia-sia, karena ia sudah tidak bisa menyelesaikan tugas yang harus diselesaikannya.
    Di Matius 25:1, Tuhan Yesus mengemukakan perumpamaan mengenai lima gadis yang bodoh dan lima gadis yang bijaksana. Di ayat yang ke-6, tertulis: “waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!” Baik lima gadis yang bodoh dan bijaksana, bangun. Ternyata lima gadis yang bodoh, pelitanya padam karena mereka kehabisan minyak. Mereka panik. Mereka coba meminta minyak kepada lima gadis bijaksana yang memiliki persediaan minyak. Tetapi lima gadis yang bijaksana mengatakan, “tidak cukup untuk aku dan kamu. Pergilah kamu ke tukang minyak, dan belilah.” Lima gadis yang bodoh pergi mencari minyak, dan ketika datang kembali, pintu sudah ditutup. Pertanyaannya adalah mengapa paniknya tidak jauh-jauh hari? Mengapa tidak “kebakaran jenggot” jauh-jauh hari?
    Di dalam Wahyu 3:20-21, Tuhan Yesus berkata, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk. Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” Selama ini, ayat-ayat ini digunakan untuk menantang orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dimana “pintu” yang tertulis di ayat ini digambarkan atau dipahami sebagai hati manusia. Tetapi kalau kita melihat konteksnya, ini adalah jemaat Tuhan; jemaat yang sudah memiliki Yesus, jemaat terakhir yang menerima surat dari Yesus. Ini bisa menunjuk jemaat akhir zaman. “Pintu yang diketuk” itu bukanlah pintu hati. Ini bukan bicara mengenai orang Kristen baru yang belum menerima Yesus. Ini jemaat Tuhan yang suam-suam, jemaat yang tidak siap menyambut kedatangan Tuhan. “Pintu yang diketuk” itu maksudnya pintu dunia ini. Maka Tuhan Yesus berkata, “Aku akan masuk mendapatkannya, dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia dan ia bersama-sama dengan Aku.” Dalam ayat-ayat Alkitab, kita menemukan kalimat bahwa kita akan makan dan minum bersama-sama Tuhan. Jadi “pintu” yang dimaksud itu pintu dunia.
    Dalam kehidupan ini, Tuhan berbicara kepada kita masing-masing melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk berbicara kepada kita, menasihati kita agar kita dewasa, sempurna, dan layak menjadi anak-anak Allah yang dimuliakan bersama Yesus. Atau, kalau kita mengacu pada Wahyu 3 tadi, supaya kita bisa menang dan didudukkan di takhta bersama Tuhan Yesus. Kita harus memiliki kepekaan dan kita harus bertanya kepada Roh Kudus, apa maksud Allah mengizinkan peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam hidup kita. Jadi kalau kita menghadapi masalah, yang kita persoalkan bukan “mengapa hal ini terjadi” dengan mencari penyebab atau kambing h...
    12 min
  • Anugerah Lawatan Tuhan
    Mari kita memikirkan hal ini dengan serius. Kalau dulu tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama seperti Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daniel bisa berdialog dengan Tuhan, hal itu karena Allah begitu nyata di dalam hidup mereka. Tetapi kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru—dimana Roh Kudus dimeteraikan dalam diri kita, dan kita sering berkata: “Ia ada di dalam hatiku”—mengapa kita seperti tidak pernah mendengar Tuhan berbicara? Mengapa kita seperti tidak pernah berdialog dengan Dia, sehingga banyak suara Tuhan yang berlalu dan terlewatkan? Kalau kita mendengar pendeta berkhotbah bahwa dia mendengar suara Tuhan, itu kita anggap luar biasa. Padahal, itu standar normal orang percaya. Salah satu jawaban yang Tuhan berikan terkait pertanyaan mengapa kita tidak bisa berdialog dengan Tuhan dan tidak bisa mendengar suara-Nya adalah karena banyak suara yang kita tangkap. Begitu gaduh pikiran dan jiwa kita, sehingga kita tidak mendengar suara Tuhan. Kalau firman Tuhan mengatakan, “jika kau mendengar suara Tuhan hari ini, jangan keraskan hatimu.” Jangankan bisa tahu kehendak-Nya, mendengar suara-Nya pun sama sekali tidak.
    Jika hal ini berlangsung terus, kita akan ditelan dunia. Banyak orang Kristen akan ditelan dunia. Maka, jangan kita membuka hati untuk suara-suara lain selain suara Tuhan. Banyaknya suara yang kita dengar, itu akan membuat pikiran kita menjadi keruh dan gaduh. Apa yang tidak perlu kita dengar, kita dengar; apa yang tidak perlu kita lihat, kita lihat; apa yang tidak perlu kita baca, kita baca, sehingga pikiran kita seperti benang kusut. Nanti kita akan mulai mengerti apa artinya “asupan yang mengacaukan.” Kalau kita nonton sesuatu di TV—entah berita, entah apa yang seharusnya tidak perlu kita dengar—hal itu dapat merusak kita. Kalau kita melihat pemandangan alam, kita melihat betapa cerdas dan cerdiknya hewan ciptaan Allah, kita menjadi kagum dan semakin menghormati Tuhan. Karena bagaimana hal itu bisa terjadi kalau bukan karena adanya satu Pribadi cerdas yang menciptakannya? Dunia ini penuh dengan masukan yang bisa membuat pikiran kita keruh atau rusak. Mari kita bertekad untuk tidak mengonsumsi sesuatu yang tidak perlu dalam pikiran kita, seperti percakapan yang tidak perlu, juga gadget kita yang penuh dengan masukan-masukan yang tidak perlu.
    “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.” Seharusnya, kita bisa mendengar suara-Nya. Namun kalau sampai tidak mendengar suara-Nya, bayangkan betapa rusaknya kita. Mari, kita bukan hanya puasa tidak makan, kita juga puasa bicara; kalau tidak perlu, tidak usah bicara. Lalu kita juga puasa dari masukan-masukan dari gadget dan medsos kita agar pikiran kita bersih. Satu-satunya tujuan kita melakukan semua itu hanyalah agar kita tidak melewatkan lawatan Tuhan atas hidup kita. Tuhan pasti menanggapi semua dialog yang disampaikan oleh umat-Nya. Hanya saja kita tidak boleh mengatur tanggapan tersebut dengan keinginan dan waktu kita sendiri. Tuhan tidak mungkin tidak melawat orang yang mencari suara-Nya. 
    Sebagai perbandingan, kita sering mendengar bagaimana seseorang menjalin persekutuan dengan kuasa kegelapan. Kuasa kegelapan tersebut dapat dengan aktif merespons dialog dan permintaan dari manusia yang mencarinya. Jika kuasa kegelapan yang derajatnya jauh di bawah Tuhan dapat dijumpai dengan nyata, apalagi Tuhan. Hanya saja, kita yang sering kali melewatkan lawatan dan sapaan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita terbiasa mengabaikan lawatan Tuhan di gereja melalui pengkhotbah atau firman yang disampaikan karena sibuk memikirkan berbagai hal yang menyita pikiran kita. 
    Kita terbiasa untuk melewatkan lawatan Tuhan melalui sesama kita yang membutuhkan pertolongan, karena kekhawatiran akan kekurangan. Ironisnya, kita melewatkan lawatan Tuhan dalam peristiwa hidup sehari-hari karena terlalu banyak bersungut-sungut dan kurang memperhatikan aspek didikan Tuhan melalui peristiwa tersebut. Sejatinya,
    11 min
  • Selama Masih Disebut “Hari Ini”
    Ibrani 3:15, “Tetapi apabila pernah dikatakan: pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.”
    Ibrani 4:7, “Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu ‘hari ini,’ ketika Allah setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!”
    Tuhan memiliki jadwal yang diberikan kepada masing-masing kita; jadwal atau waktu berbicara. “Jika kau mendengar suara Tuhan hari ini,” kalimat itu jelas menunjukkan bahwa ada satu waktu Tuhan berbicara. Ketika Tuhan berbicara kepada kita, Tuhan menghendaki kita menghormati Dia. Kalau sebagai orangtua kita bisa merasakan bagaimana marah, kesal, atau sedih ketika kita menasihati anak-anak namun mereka tidak mau mengerti; demikian pula Tuhan. Ketika Tuhan menjadwalkan satu waktu berbicara kepada kita, Tuhan menghendaki agar kita menghargai Tuhan dengan mendengarkan suara-Nya. Kalau dikatakan Tuhan memiliki waktu, dan di ayat itu diwakili dengan “hari ini,” itu bisa berarti tidak ada waktu lain dimana Tuhan berbicara. Sebenarnya ini adalah satu hal yang mengerikan. Fakta bahwa seseorang kehilangan kesempatan untuk memperoleh berkat adalah sebuah hal yang bisa terjadi. Hilangnya kesempatan, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Di dalam Alkitab, kita menemukan Esau yang kehilangan kesempatan, walaupun dengan meneteskan air mata, dengan teriak dan ratap tangis. Firman Tuhan juga mengatakan, “pergunakanlah waktu yang ada.” Tuhan Yesus juga berkata di Yohanes 9:4, “selagi hari siang.”
    Tuhan pasti melawat setiap kita. Setiap kita memiliki anugerah lawatan Tuhan. Kalau Tuhan melawat kita, hendaknya kita mengerti, tahu, dan menerima lawatan Tuhan tersebut. Jangan keraskan hati kita seperti bangsa Israel, yang pada akhirnya ditewaskan di padang gurun. Apakah hal ini karena ketidakberdayaan Allah menuntun mereka? Bukankah dengan mudah Tuhan mengobrak-abrik Mesir dan dalam sekejap mereka bisa keluar dengan bebas? Bukankah Tuhan bisa membelah laut Kolsom? Apa sulitnya bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel masuk Tanah Kanaan? Tidak sulit. Tetapi yang Tuhan perkarakan adalah karakter, watak manusia batiniah, kehidupan rohani dari bangsa itu. Bagi Tuhan, tidak sulit memberikan 10 tulah yang bervariasi kepada bangsa Mesir. Tidak sulit bagi Tuhan untuk membelah Kolsom. Tidak sulit bagi Tuhan merobohkan tembok Yerikho dan mengeringkan sungai Yordan, tetapi sulit bagi Tuhan untuk merubah karakter bangsa itu secara ajaib, karena itu bukanlah kodrat-Nya. Untuk merubah karakter bangsa itu dibutuhkan respons dari bangsa Israel sendiri. Dari bangsa budak, menjadi bangsa yang berdaulat, mewarisi negeri Kanaan yang permai, yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka, Abraham. 1 Korintus 10:5-6 mengatakan bahwa semua itu menjadi contoh bagi kita yang hidup di zaman akhir ini. Artinya, jangan kita seperti bangsa Israel yang tidak dengar-dengaran, sehingga akhirnya Tuhan memutuskan mereka tidak masuk tanah Kanaan.
    Demikian pula dengan kehidupan orang Kristen, yang akhirnya bisa tidak sampai Kanaan Surgawi. Sebab, ketika Tuhan berbicara pada waktu-waktu tertentu sesuai jadwal-Nya, kita bukannya mendengar namun malah mengeraskan hati. Jangan seperti bangsa Israel yang ditelan padang gurun dan tidak pernah sampai Tanah Kanaan. Demikian pula jangan sampai kita ditelan dunia ini dan tidak pernah sampai langit baru bumi baru. Ini bukan hal yang bisa kita anggap sepele atau remeh. Ini hal yang sangat penting, sangat prinsip. Kita berada dalam perjalanan, kita harus terus bergerak. Kalau bangsa Israel bergerak dari Mesir ke Kanaan, mereka harus menempuh jarak secara fisik. Tetapi perjalanan kita menuju langit baru bumi baru menempuh perubahan, yaitu perubahan karakter, agar kita bisa mewarisi Kerajaan Kekal Allah Bapa bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Untuk itu, harus ada perubahan. Untuk ada perubahan, harus ada nasihat. Ada suara Tuhan,
    9 min
  • Allah, Hartaku
    Abraham adalah sosok yang dimiliki Allah, sehingga mengenai dirinya, Allah berkata: “Siapa yang memberkati kamu, Kuberkati. Siapa yang mengutuk kamu, Kukutuk.” Ini berarti perlakuan orang terhadap Abraham, sama seperti perlakuan orang terhadap Tuhan. Orang percaya juga mestinya punya keadaan seperti ini, sehingga ketika orang yang dimiliki Tuhan atau orang percaya yang dimiliki Tuhan diperlakukan sesuatu, maka perlakuan itu diperhitungkan seakan-akan untuk Tuhan. Tuhan mengatakan, “Segelas air putih, secangkir air putih yang diberikan kepadamu, tidak akan lepas upahnya. Sebab apa yang diperbuat mereka terhadap kamu, Ku perhitungkan terhadap Aku.” Jadi, tidak heran ketika Saulus menganiaya orang-orang Kristen, Tuhan datang kepadanya dan berkata, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Ketika ia menganiaya orang Kristen, secara tidak langsung ia menganiaya Tuhan. Jadi kalau kita dimiliki Tuhan, jangan takut, karena perlakuan orang terhadap kita dipandang sebagai perlakuan mereka terhadap Tuhan. Jangan balas dendam, jangan juga membela diri. Ini mutlak harus kita lakukan. Seseorang tidak akan dapat memiliki Allah kalau ia tidak dimiliki oleh Allah.
    Seseorang bisa memiliki sesuatu atau seseorang, tanpa sesuatu atau orang lain itu memiliki dirinya. Misalnya, sebagai majikan, kita menguasai bawahan, namun ia tidak bisa menguasai kita. Tetapi tidak bisa demikian terhadap Allah. Allah bukan suatu benda, Allah juga bukan seseorang yang ada dalam kekuasaan kita. Kitalah yang harus ada dalam kekuasaan Allah. Jika kita dalam kekuasaan Allah, berarti kita baru bisa dimiliki Allah. Kalau kita bisa dimiliki Allah, baru kita bisa mengatakan “memiliki Allah.” Orang yang tidak hidup dalam kekuasaan Allah, tidak dapat dimiliki oleh Allah. Abraham bisa dimiliki oleh Allah karena Abraham hidup di dalam kekuasaan Allah. Maka Abraham bisa memiliki Allah dan mengatakan, “Engkau hartaku. Engkau lebih berharga dari anak kandungku sendiri.” Jadi, tidak heran kalau Abraham bisa menyembelih anaknya sebagai kurban bakaran.
    Ketika kita memiliki dan dimiliki Allah, maka hidup kita jadi benar-benar menarik dan indah. Kesempatan yang tidak pernah terulang. Jadi, selama kita masih bisa dilayakkan melakukan kehendak Bapa agar kita dimiliki Dia, kita lakukan itu. Melakukan kehendak Allah adalah sebuah kehormatan. Jikalau kita belum menemukan proyek yang Tuhan percayakan atau tugas khusus, lakukan satu ini: berusaha dan berjuanglah sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya. Jangan lakukan dosa sekecil apa pun atau sehalus apa pun. Dalam hal ini, firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Jadi, orang yang tidak mau hidup dalam ketertundukan, tidak mau diatur Tuhan, ia tidak bisa dimiliki Tuhan. Orang yang tidak menyalibkan dagingnya, tidak dapat dimiliki oleh Allah. Sebab, orang yang tidak menyalibkan dagingnya, akan dikuasai oleh dagingnya.
    “Daging” ini maksudnya adalah keinginan di dalam jiwa; keinginan atau nafsu-nafsunya yang tidak sesuai dengan kesucian Allah atau tidak sesuai dengan kehendak Roh. Makanya kalau orang percaya tidak hidup dalam kehendak Roh, tidak mungkin ia berkenan kepada Allah. Kita berutang untuk hidup menurut Roh. Memiliki Allah bukan berarti kita dapat menguasai Allah, tetapi kita dikuasai Allah. Umat yang pantas atau layak bagi Allah adalah umat yang pantas dan layak untuk dilindungi, diberkati, dan yang suatu hari akan dibawa ke Rumah Bapa. Kalau kita dimiliki Allah karena pantas dimiliki Dia, hidup seturut kehendak Allah, maka kita tidak perlu meminta apa juga, Bapa sudah tahu apa yang kita butuhkan. Kita juga tidak perlu pusing apa perlakuan orang terhadap kita, karena perlakuan orang kepada kita diperhitungkan sebagai perlakuan terhadap Tuhan sendiri. Kita tidak berhak untuk bereaksi; menggeliat, marah, kesal, balas dendam. Lagipula, perlakuan orang terhadap kita pasti ada berkat kekalnya.
    10 min
  • Hidup dalam Ketertundukan Total
    Harta adalah segala sesuatu yang dipandang memiliki nilai yang dapat membuat seseorang merasa bahagia, merasa lengkap, utuh, aman, terjamin, dan terhormat. Harta dapat menjadi dewa, dan memang harta itulah ilah atau dewa yang dapat menjadi tuan atau majikan bagi seseorang. Sesuatu atau seseorang yang membuat diri bahagia, merasa lengkap atau utuh, terjamin atau aman dan terhormat, dialah ilah atau majikan atau tuan. Jadi kalau Allah menjadi harta kita, berarti mestinya dengan memiliki Allah, kita sudah merasa hidup kita benar-benar bahagia, merasa lengkap, utuh, terjamin atau aman, dan terhormat. Kalau seseorang belum merasa bahagia, lengkap, utuh, terjamin dan aman, dan belum merasa terhormat walaupun dia mengaku percaya kepada Allah, berarti dia belum memiliki Allah. Tentunya juga belum dimiliki Allah. Orang seperti ini belum bisa dikatakan memiliki percaya yang benar. Sebab, hanya orang yang dimiliki Allah yang dapat memiliki Allah. 
    Yakobus 2:19-23 mengatakan, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik. Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai, manusia yang bebal. Maukah engkau mengakui sekarang bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan. Dan oleh perbuatan-perbuatan iman itu menjadi sempurna. Dengan jalan demikian, genaplah nats yang mengatakan: lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu, Abraham disebut sahabat Allah.” Salah satu kebenaran penting yang termuat di dalam perikop ini adalah bahwa percaya itu bukan hanya menyangkut aktivitas pikiran atau logika yang berbentuk keyakinan. iman atau percaya yang benar adalah sikap-sikap yang melahirkan perbuatan konkret. Jadi, iman yang benar pasti memiliki sikap, dan sikapnya melahirkan perbuatan yang konkret.
    Bahwa roh-roh jahat pun percaya kepada Allah yang benar, bahkan gemetar, artinya mereka memiliki pengetahuan mengenai Allah atau pengalaman mengenai Allah yang membuat dirinya gemetar, namun “roh-roh jahat” ini tidak memiliki hubungan yang benar dengan Allah. Mereka tahu dan memiliki pengetahuan tentang Allah, serta gemetar. Orang bisa memiliki keyakinan bahwa ada Allah yang Esa, tetapi bukan berarti orang itu sudah disebut sebagai orang beriman atau percaya. Ironisnya, banyak orang mudah memberi pengertian “beriman.” Pokoknya kalau orang sudah melakukan kegiatan agama, berarti sudah beriman. Alkitab tidak mengajarkan begitu. Sebab, keberimanan orang percaya sangatlah tergantung dari hubungan dengan Allah. Hubungan yang ideal adalah hubungan yang harus dipenuhi antara umat yang percaya, dan Allah yang menjadi objek percayanya. Seseorang dikatakan beriman, kalau memiliki hubungan dengan Allah secara ideal. Hubungan ideal yang harus dipenuhi antara umat yang percaya dengan Allah yang dipercaya itu harus menurut standar Allah, bukan menurut standar kita. Hubungan ideal yang harus dipenuhi agar seseorang bisa dikatakan beriman adalah kesediaan untuk melakukan apa yang Allah kehendaki. Ini harus digoreskan di dalam jiwa kita, bahwa hubungan ideal yang harus dipenuhi antara umat dan Allah, sesuai dengan standar Allah, adalah kesediaan seseorang melakukan apa yang Allah kehendaki.
    Jadi kalau di dalam Ibrani 12:1-2 ada kalimat “Yesus yang membawa iman kamu kepada kesempurnaan,” artinya Yesus yang akan mengajar kita memiliki ketaatan seperti ketaatan Dia. Jadi, yang diajarkan bukan keyakinan di dalam pikiran semata-mata, melainkan kehidupan yang menaati Bapa seperti yang Yesus lakukan; taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Itulah iman. Abraham disebut sebagai sahabat Allah. Apa yang dilakukan Abraham? Mempersembahkan anaknya, Ishak. Karena sikapnya melahirkan perbuatan sesuai yang Allah ingini, maka ia disebut sebagai bapa orang percaya.
    9 min
  • Satu-satunya Harta
    Dalam kehidupan ini hanya ada dua jenis harta. Yang pertama, Allah sendiri. Yang kedua, apa pun yang bukan Allah. Bicara mengenai ‘apa pun yang bukan Allah,’ ini jadi masalah karena kalau orang menjadikan objek itu sesuatu yang baik, maka dia jadi manusia baik. Kalau orang menjadikan objek sesembahannya sesuatu yang salah, dia menjadi jahat. Sebagai umat pilihan atau orang Kristen, tidak bisa tidak, harus menjadikan Allah sebagai satu-satunya harta. Kalau tidak menjadikan Allah menjadi satu-satunya harta, berarti memilih yang lain. Orang seperti itu berarti tidak memosisikan diri sebagai anak Allah; bukan anggota keluarga Kerajaan Allah, bukan mempelai Kristus. Mengapa demikian? Karena orang Kristen sebagai anak-anak Allah memang ditetapkan untuk hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya harta. Hanya dengan bersikap ini—yaitu seseorang menjadikan Allah sebagai satu-satunya harta—maka barulah orang itu menjadi umat pilihan Allah yang benar, menjadi anak-anak Allah, atau menjadi mempelai Kristus.
    Makanya, tidak heran kalau orang percaya itu dituntut sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Orang yang tidak menjadikan Allah satu-satunya harta, tidak mungkin sempurna seperti Bapa dan tidak mungkin serupa dengan Yesus. Orang percaya tidak dikehendaki memiliki harta, kecuali Allah sendiri. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan bahwa “kamu bukan milik kamu sendiri” (1Kor. 6:19-20). Kita tidak memiliki diri kita, berarti tidak memiliki apa-apa. Makanya di dalam Lukas 16:12 dikatakan, “hartamu sendiri itu bukan di sini. Bukan dunia ini. Jangan mengingini.” Tuhan Yesus juga berkata, “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Apakah dengan begitu, kita tidak perlu mencari uang? Harus. Karena firman Tuhan mengatakan, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu, lakukan semua untuk Tuhan.” Bekerja, pacaran, menikah, dan punya anak, semuanya untuk Tuhan. Ini yang disebut dengan mengumpulkan harta di surga. Ironis, standar ini sudah hampir-hampir hilang. Melalui renungan harian ini, kita mau kembali ke jalan ini. Kita tidak boleh memiliki harta, kecuali Tuhan.
    Jadi kalau kita mencari uang, bisnis, karier, studi, kuliah, jadi sarjana, mendapat pangkat, gelar, semua harus dipersembahkan untuk Tuhan. Bisa dimengerti kalau kehidupan orang percaya harus didasarkan pada prinsip “asal ada makanan dan pakaian, cukup.” Yesus sendiri menjadi teladan kita mengatakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dalam hal ini, sebenarnya kekristenan yang sejati yang diajarkan Yesus, hanya bisa dikenakan oleh orang-orang nekat; orang-orang yang berani tidak wajar. Kalau tidak nekat, pasti hidupnya dalam kewajaran seperti manusia lain. Inilah yang membuat kekristenan merosot selama berabad-abad, sampai hari ini. Kalau seseorang tidak mengenal Elohim Yahweh, tidak mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, tidak dituntut memiliki kehidupan seperti orang percaya ini, yakni menjadikan Elohim Yahweh satu-satunya harta. Maka, kita jangan berpikir dan berpandangan bahwa orang di luar Kristen pasti memiliki pengertian dan sikap yang salah mengenai harta. Kita tidak bisa membandingkan orang Kristen dengan mereka yang tidak mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Memang mereka tidak memiliki pengertian mengenai keselamatan dalam Yesus Kristus dan tidak mengenal Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, tetapi bukan tidak mungkin—dan faktanya demikian—tidak sedikit yang memiliki filosofi-filosofi yang tidak menjadikan harta materi dunia sebagai nilai tinggi.
    Dalam kenyataan hidup, kita dapat jumpai orang-orang yang rela tidak menjadi kaya secara harta materi. Rela tidak memiliki harta dunia, rela melepaskan semua gemerlap dunia, menjadi orang-orang sederhana atau menjadi orang yang benar-benar miskin. Banyak orang memandang keadaan itu keadaan yang mulia dan terhormat. Dalam kisah Sidharta Gautama, kira-kira 500 tahun sebelum Tuhan Yesus lahir,
    11 min
  • Konsekuensi
    Harta biasanya dipahami sebagai segala sesuatu yang memiliki nilai dan dipandang dapat membuat hidup lebih bahagia, lebih lengkap, lebih terjamin, lebih aman, dan lebih terhormat. Dalam pengertian umum, “harta” bisa berwujud segala sesuatu yang mempunyai nilai moneter; uang atau aset barang yang kelihatan. Harta juga bisa dipahami segala sesuatu yang yang dimiliki seseorang. Walaupun tidak berwujud, tetapi memiliki nilai yang membuat seseorang dapat menjalani hidup lebih bahagia, lebih lengkap, lebih terjamin, lebih aman, lebih terhormat. Seperti misalnya status sosial, gelar, dan yang lain yang tidak berwujud. Jadi, pada dasarnya harta itulah yang menjadi dewa atau ilah atau allah seseorang. Kita harus memahami dengan benar, karena ini sangat penting. Harta adalah objek dimana seseorang mengabdi, sehingga pada dasarnya harta itu adalah majikan atau tuan seseorang. Dalam Lukas 4:5, kita menemukan pelajaran yang sangat berharga terkait dengan harta ini, “Kemudian Yesus dibawa oleh Iblis ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata Iblis memperlihatkan kepada Yesus semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada Yesus, ‘Segala sesuatu itu, kuasa serta kemuliaan dunia itu, ku berikan kepada-Mu. Sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku, dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.’”
    Janji yang ditawarkan Iblis tersebut tidak dibantah oleh Yesus. Berarti memang demikian; Iblis bisa memberikan kemuliaan dunia, keindahan dunia dengan segala gemerlapnya kepada manusia atau kepada siapa saja Iblis mau memberikan. Lalu Iblis melanjutkan, “Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “ada tertulis, engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Dari ayat-ayat ini kita mendapat pelajaran rohani yang indah sekali, yang berharga sekali bahwa ketika seseorang menyembah objek tertentu, maka objek itu menjadi ilahnya atau allahnya. Iblis “mensubkan” dirinya pada harta dunia atau materi. Kalau orang mengingininya, itu berarti ia menyembah Iblis. Jangan kompromi, jangan mengurangi ketegasan kebenaran ini. Kalau orang mengingini harta dunia dan memandang bahwa harta dunia materi tersebut membuat hidupnya lebih bahagia atau merasa dirinya bahagia, lengkap, aman, terjamin, terhormat, maka ia menyembah Iblis.
    Itulah sebabnya, menanggapi pencobaan itu Yesus berkata, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! Kata ‘berbaktilah’ dalam Bahasa Yunani adalah latreia; latreuo, kata kerjanya. Yang di dalam bahasa Inggris diterjemahkan service; melayani. Kata ini juga digunakan oleh Paulus di dalam Roma 12:1, “Ibadah yang sejati mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah.” ‘Ibadah yang sejati’ di dalam teks aslinya menggunakan kata latreia. Jadi, kalau kita tidak menyembah 100% kepada Tuhan Allah, lebih baik tidak usah sama sekali. Selama ini kita menguranginya, dan kita merasa aman-aman saja. Kita itu tanpa sadar membagi hati kita. Tetapi sekarang kita harus benar-benar bertobat dan benar-benar mau berubah. Jangan berkompromi dengan ruang hati sekecil apa pun terhadap harta.
    Kalau seseorang bersikap salah terhadap harta, maka konsekuensinya adalah terpisah dari Allah; kebinasaan. Memang pada umumnya orang disebut kaya kalau memiliki nominal uang jumlah besar atau aset dalam jumlah besar. Dikatakan miskin, kalau kebalikannya; jumlah nominal uangnya kecil atau bahkan banyak utang, asetnya tidak banyak. Tetapi kalau mengacu pada pengertian bahwa harta adalah segala sesuatu yang membuat orang merasa bahagia, lengkap, aman, terjamin, terhormat, maka yang namanya “kaya” atau “miskin” tidaklah ditentukan oleh apa yang ada di luar diri orang itu; tidak ditentukan oleh harta materi duniawi. Dengan kata lain, jumlah nominal uang dan besarnya aset tidak menentukan seseorang itu kaya atau miskin.
    11 min
  • Suasana Surga
    Banyak orang menganggap remeh, hatinya masih mendua, tidak sungguh-sungguh mau bertobat dan mengarahkan diri kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Memang di sini dibutuhkan kesungguhan, kenekatan, atau bisa dikatakan pemaksaan. Siapa yang tidak ingin memuaskan ambisi, hasrat, hawa nafsu, dan keinginan-keinginan supaya puas? Semua orang juga ingin. Semua kita ada di dalam sinful nature atau kodrat dosa. Tergantung kita, seberapa kita berani untuk menghormati Allah dengan membunuh semua keinginan-keinginan yang tidak sesuai kehendak Allah. Karena kita tidak memiliki keberanian untuk nekat, kita menunda. Penundaan-penundaan tersebut bisa menjadi langkah membatalkan. Akhirnya, kita tidak pernah menjadi seorang yang benar-benar mengasihi Allah dan Kerajaan-Nya. Banyak orang Kristen yang ditawan oleh pikirannya yang bodoh dan tersesat tersebut, sehingga mereka makin dibelenggu oleh kuasa kegelapan untuk dibawa ke api kekal. Lebih ironis lagi, banyak orang Kristen yang tertawan, tetapi mereka tidak menyadari.
    Tidak perlu menunggu Tuhan berbicara dengan keras lalu memukul kita. Kita tidak perlu harus dihabisi Tuhan, sebab seharusnya kita menghabisi diri kita sendiri. Dibuat sakit, miskin, malu, baru bertobat, baru sungguh-sungguh. Mestinya kita yang harus menghabisi diri sendiri dengan rela, sehingga tidak perlu ada korban. Jadi, kita harus menyadari, jangan menganggap remeh. Allah yang Mahabesar, Mahamulia, Mahasuci, Mahatinggi, harus ditanggapi dengan kesungguhan tekad yang kuat, senekat-nekatnya. Dengan demikian, barulah kita bisa “mengimbangi kebesaran Allah.” “Mengimbangi” artinya memenuhi bagian kita yang patut, sebab kita tidak mungkin mengimbangi Allah. Tuhan memperhatikan, memeriksa setiap individu, seperti yang difirmankan, “Aku menguji batin.” Seberapa kita sungguh-sungguh mengasihi Allah? Kita harus membuat diri kita membara mengasihi Dia. Kalau kurang, kita yang harus berdoa, “Buat aku mengasihi Engkau, Tuhan. Lebih baik saya mati daripada saya tidak dikenal.” Mari kita berjanji untuk hidup suci dan tidak mencintai dunia lagi; karena tidak ada pilihan, dan dunia ini sudah dekat ujungnya. Kita juga akan meninggal kapan saja.
    Jadi, sejatinya banyak orang Kristen sebenarnya dalam keadaan tertawan. Dia tahu bahwa dirinya masih duniawi, tapi tidak mau keluar dari keadaan duniawinya, karena tidak punya tekad yang kuat. Kita fokus ke Tuhan saja. Apa pun yang kira-kira bisa mengacaukan pikiran, harus kita buang. Di sini perlu kenekatan. Menjadi pertanyaan, mengapa kita tidak ingin pulang ke surga? Jawabnya adalah karena kita tidak atau belum menikmati sukacita persekutuan dengan Allah. Mengapa kita tidak menikmati sukacita persekutuan dengan Allah? Karena Allah tidak bisa mendampingi kita yang masih punya banyak selera yang bertentangan dengan selera Roh Kudus. Banyak orang terlena dengan keindahan dunia, manisnya dunia, kesenangan dunia dengan segala hiburannya, sehingga dia tidak bisa berjalan dengan Tuhan. Damai sejahtera yang diberikan oleh Tuhan Yesus tidak bisa dinikmati orang yang memiliki damai sejahtera yang lain. “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan,” termasuk di dalamnya “kamu tidak bisa menikmati damai sukacita Tuhan, dan sekaligus damai sukacita dunia.”
    Kita harus menikmati Tuhan, baru kita bisa merasakan sebagian suasana Kerajaan Allah. Jadi kalau orang tidak ingin pulang ke surga, itu karena memang belum menikmati suasana Kerajaan Allah. “Kerajaan Allah bukan soal makan dan minuman, tapi soal kebenaran, damai sejahtera, sukacita oleh Roh Kudus.” Ayat ini menunjukkan bahwa kita tidak harus masuk surga dulu, baru bisa merasakan mengalami suasana surga. Suasana surga seharusnya terasa sejak sekarang, tergantung kita nekat atau tidak, walaupun tentu kita tidak bisa mengalami suasana surga secara sempurna kecuali ketika kita menginjak surga nanti. Tetapi hal itu sudah cukup membuat kita tidak mengingini dunia dengan segala keindahannya. Ternyata suasana surga itu terkait dengan kesucian hidup.
    13 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…