Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Proyeksi Kekekalan
    Sekarang yang harus kita pelajari adalah bagaimana cara kita mencari Tuhan. Pertama, kita harus sungguh-sungguh setiap hari menyediakan waktu untuk berjumpa dengan Tuhan dalam jam doa, dalam saat teduh. Betul-betul kita memang menyediakan waktu untuk bertemu Tuhan. Kita punya waktu bertemu dengan orangtua, punya waktu bertemu dengan pasangan hidup, punya waktu bertemu dengan anak-anak, dengan keluarga, ada waktu untuk jalan-jalan dengan keluarga. Pada waktu kita datang ke hadirat Allah, itu harus kita anggap sebagai prime time kita, lebih dari semua waktu yang kita gunakan. Di sini akan tampak keseriusan kita memercayai Allah yang tidak kelihatan; memercayai Allah yang tidak tampak. Bisa berminggu-minggu kita seakan-akan berbicara ke udara kosong. Tetapi kita harus setia dan tekun dalam mencari wajah Tuhan, sampai kita menemukan-Nya. Ada pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang nanti kita akan alami di situ. Banyak ayat yang mengajarkan kita untuk selalu mencari Tuhan, misalnya Mazmur 27:8; 105:4; Yesaya 55:6; Amsal 5:6, 14.
    Jangan hanya bicara, “Ya, kita harus berdoa,” tapi tidak memiliki doa yang benar. Kita harus berani menyediakan waktu kita untuk itu. Tekun, duduk diam. Maka, jangan ada satu hari berlalu tanpa berjumpa dengan Tuhan. Kalau kita tidak memulai sekarang, kita tidak akan pernah memiliki jam pertemuan dengan Tuhan. Di ujung maut, ketika seseorang mau melepas nyawa, tangannya menggapai-gapai mencari pegangan. Ia ingin meyakini keselamatan dan Tuhan yang ada di sampingnya, tapi tidak mampu. Mengapa tidak mampu? Karena tidak biasa menjumpai Tuhan. Atau, pada waktu dalam bahaya atau pada waktu di dalam bahaya, ia pun tidak mampu menjumpai Tuhan.
    Yang kedua, kita harus menemukan kebenaran melalui Alkitab. Kemudian kita perkaya dengan membaca buku-buku rohani, dan mendengarkan khotbah pendeta atau hamba Tuhan. Hal-hal ini dapat membuka pengertian kita untuk mengenal Allah secara kognitif. Tentu untuk menentukan buku mana yang harus kita baca dan pendeta mana yang kita dengarkan, Tuhan akan mengarahkan kita. Kalau kita bisa baca koran setiap hari, kenapa tidak bisa baca Alkitab dan buku rohani? Kalau kita bisa nonton infotainment, film, dan berita, mengapa tidak mendengarkan khotbah? Ini menjadi ciri dari seseorang yang memang tidak serius mau mengenal Allah.
    Yang ketiga, kita harus memperhatikan setiap kejadian yang kita alami, karena itu merupakan cara Allah mendewasakan. Dalam konteks ini, dewasa itu sama dengan suci. Makin dewasa, makin suci. Suci itu bukan hanya berarti bersih, melainkan juga memiliki pikiran dan perasaan yang tajam, sehingga semua kehendak yang dilahirkan dari pikiran dan perasaan tersebut selalu sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, pendewasaan kita itu sama dengan proses untuk hidup makin kudus. Setiap peristiwa memuat nasihat dan berkat Tuhan. Ini tergantung bagaimana kita merespons terhadap kejadian dan peristiwa yang kita alami. Kalau respons kita salah, kita bisa tambah rusak. Kalau respons kita baik, ini tambah baik. Dan untuk ini, kita pakai satu jurus, yaitu domba kelu dibawa ke pembantaian; diam, mengalah. Mengalah itu akan mengarakter diri menjadi lemah lembut seperti Yesus.
    Memaknai suatu kejadian sebagai kehadiran Allah atau tindakan Allah, bukan saja pada waktu mengalami kesembuhan secara ajaib atau mengalami mukjizat kesembuhan, atau hal-hal spektakuler. Kita harus memaknai kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan sebagai bentuk atau cara Allah menyatakan kehadiran-Nya. Dia adalah Allah sebagai Bapa yang mendidik kita. Luar biasa. Maka, kalau kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, kita harus memperhatikan dengan saksama setiap peristiwa hidup sebagai cara Allah untuk membuat kita lebih dikuduskan, lebih dewasa. Melalui berbagai kesulitan-kesulitan hidup dan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, atau bahkan sangat tidak menyenangkan. Keadaan yang menyakitkan, bahkan sangat menyakitkan. Jadi jangan berpikir bahwa respons atau reaksi terhadap suatu keadaan...
    10 min
  • Mencari Tuhan
    Firman Tuhan mengatakan “carilah Tuhan.” Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mencari Tuhan itu? Mencari Tuhan bukan berarti Tuhan itu hilang dan harus ditemukan. Mencari Tuhan artinya usaha untuk mengalami Tuhan di dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup dan nyata, serta berjalan bersama dengan Dia setiap hari. Dalam hal mencari Tuhan, pada dasarnya sama dengan berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dan apa yang Tuhan rencanakan untuk kita lakukan dan kita penuhi dalam hidup ini. Tentu kehendak dan rencana Allah dalam hidup masing-masing kita itu berbeda. Maka, setiap orang harus menemukan apa kehendak Allah, dan apa yang Allah rencanakan dalam hidup kita masing-masing untuk kita penuhi. Sejatinya, Tuhan tidak pernah hilang. Ia selalu ada. Tetapi seseorang atau manusianyalah yang kehilangan Dia, karena memilih jalannya sendiri, tidak hidup menurut jalan Tuhan. Ia tidak memedulikan apa artinya mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan berjalan bersama Dia. Dia tidak peduli kehendak Allah dan rencana-Nya untuk dilakukan dan dipenuhi. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang kehilangan Tuhan.
    Manusia yang terhilang adalah manusia yang tidak mengalami Tuhan, tidak mengalami perjumpaan dengan Allah, dan tidak berjalan bersama dengan Tuhan setiap hari. Tentu orang-orang seperti ini tidak mengerti kehendak Allah dalam hidupnya, dan rencana Allah dalam hidupnya untuk dipenuhi. Walaupun kita ada di lingkungan pelayanan, kalau kita tidak mengerti apa kehendak Allah untuk kita lakukan, tidak mengerti apa rencana Allah untuk kita penuhi, dan kalau kita tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan tidak berjalan bersama dengan Dia, sebenarnya itu menandakan kita sedang terhilang. Seperti anak sulung yang terhilang di dalam rumah. Ada anak yang hilang di luar rumah, si Bungsu. Yang jelas melakukan kejahatan dan berbagai pelanggaran moral, dan nyata-nyata melawan bapaknya. Tetapi si Sulung ini, sekilas tidak melawan ayahnya. Dia ada di rumah, tetapi ia tidak memiliki kesatuan hati dengan sang Ayah. Ia terhilang di dalam rumah. Ketika si Bungsu pulang, ayahnya mengadakan pesta dan menyambut meriah anak bungsu yang dipandang telah mati dan hidup kembali. Namun, si Sulung tidak mau menerima hal itu. Ia tidak mau masuk rumah. Ia unjuk perasaan. Dan itu mempermalukan ayahnya di depan para tamu yang hadir dalam pesta dan hamba-hamba ayahnya.
    Secara doktrinal, kita sering mendengar dan kita tahu bahwa bukan manusia yang mencari Allah, melainkan Allah yang mencari manusia. Bisa digambarkan seperti garis: dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Allah yang mengutus Putra-Nya; Allah yang berinisiatif, berprakarsa menyelamatkan manusia. Tetapi, banyak orang tidak menyadari dirinya terhilang. Maka, sekarang kita dengan rendah hati, kita mau mempertimbangkan dan memperhitungkan bahwa kita mungkin sedang terhilang. Kapan? Ketika kita melakukan sesuatu di luar kehendak Allah, sehingga kita keluar dari persekutuan dengan Allah. Namun, Roh Kudus pasti mengingatkan, menegur agar kita bertobat, agar kita berbalik kepada Allah. Tetapi kalau peringatan dan teguran Roh Kudus diabaikan, tidak dipedulikan, orang itu akan benar-benar terhilang sampai selama-lamanya. Berbahayanya, setiap kita yang cakap berbicara mengenai Tuhan bahwa kita sangat berpotensi terhilang, tapi tidak sadar. Sebab, kita memiliki banyak alasan untuk membela diri. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.”
    Kalau kita serius mau hidup selalu ada di hadirat Tuhan, kita harus selalu memeriksa diri. Kalau ada sesuatu yang salah, kita langsung minta ampun. Kebiasaan segera memeriksa diri akan membuat kita memiliki naluri hidup bersih. Jadi kalau kita salah, kita mudah tertuduh. Damai sejahtera kita hilang, dan itu menjadi pertanda dari Tuhan. Sekarang, mari kita belajar rendah hati, belajar memeriksa diri supaya kita tetap ada di hadirat Allah. Jangan keluar dari lingkaran hadirat Allah.
    9 min
  • Fokus Kebutuhan
    Satu hal yang sangat penting untuk kita sadari, kita mengerti, dan kita akui, bahwa bukan Allah sebenarnya yang membutuhkan kita, melainkan kita yang membutuhkan Allah. Kita harus tahu, kalau kita membutuhkan Allah, bukan saja karena kita membutuhkan pertolongan-Nya dalam berbagai persoalan hidup yang kita alami berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani di bumi ini, melainkan terutama mengenai pemenuhan kebutuhan kekal kita. Dan pemenuhan kebutuhan kekal kita hanya satu: Allah sendiri. Kita harus memandang bahwa Allah adalah kebutuhan yang lebih dari segala kebutuhan. Sesungguhnya, inilah kunci kehidupan, kelimpahan itu. Ini kunci dari kehidupan yang berkelimpahan. Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “Aku datang untuk memberi hidup supaya mereka memilikinya dalam segala kelimpahan,” itu berarti melalui kurban Yesus di kayu salib, kita dibenarkan di hadapan Allah.
    Selanjutnya, di dalam Tuhan Yesus, kita dimuridkan. Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku,” artinya “jadikan semua mereka hidup seperti hidup yang Kujalani, yang Kuajarkan kepadamu. Sebab dengan hidup seperti hidup yang Kujalani, kamu memiliki kemuliaan Allah.” Hanya orang yang memiliki kemuliaan Allah, yang memiliki Allah. Tidak memiliki kemuliaan Allah berarti tidak memiliki Allah. Tuhan Yesus datang untuk menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang memiliki kemuliaan Allah itu. Itulah sebabnya kalau kita ikut Tuhan Yesus, artinya kita mengikuti jejak Tuhan, kita belajar hidup seperti hidup yang Yesus jalani, yang intinya adalah dapat melakukan kehendak Bapa.
    Kita membutuhkan Allah bukan hanya karena kita membutuhkan pertolongan Allah terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi karena Allah sendiri itulah kebutuhan kita. Merasa membutuhkan Allah inilah yang dimaksud dengan “lapar dan haus akan kebenaran” di Matius 5:6 itu. Dan ini juga yang dimaksud oleh Tuhan Yesus, sebagai “orang sakit yang membutuhkan tabib.” Sejatinya, kita harus merasa cukup untuk pemenuhan kebutuhan jasmani—itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan “asal ada makanan dan pakaian, cukup”—sehingga, fokus kebutuhan kita adalah Allah sendiri. Karena fokus kebutuhan kita adalah Allah sendiri, maka kita harus berjuang untuk memiliki kualitas hidup seperti Tuhan Yesus Kristus, Sang Teladan. Semua keinginan kita, seturut dengan kehendak-Nya, tidak seperti Lusifer yang memberontak melainkan seperti Yesus yang prinsip-Nya “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa-Ku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Fokus kebutuhan-Nya adalah Allah saja. Demikian juga kita, sampai tingkat dimana seseorang bisa berkata, “yang kuingini Engkau saja. Sekalipun daging dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”
    Itulah sebabnya Yesus berkata kalau seseorang mau mengikuti Yesus, ia harus melepaskan segala sesuatu, sebagaimana perkataan Tuhan untuk orang kaya di Matius 19:21-23. Namun, ini bertentangan dengan filosofi dunia, dimana hidup seseorang yang berkualitas adalah jika ia bergelar banyak, jabatannya tinggi, uangnya banyak, hartanya berlimpah, terhormat, tersanjung. Tetapi, Tuhan Yesus mengajarkan berbeda. Dalam Lukas 14:33 Tuhan mengatakan, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ironis, kebenaran yang murni seperti ini sudah hilang dari hidup kekristenan. Berbeda dengan zaman gereja mula-mula. Begitu mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, hartanya habis, keluarganya bisa dibunuh, dirinya juga bisa dibunuh atau dipenjara, disiksa, dianiaya. Tetapi kalau zaman sekarang ini, orang tidak mengerti atau tidak mau mengerti kalau percaya Tuhan Yesus, maka ia harus kehilangan hidup. Galatia 5:24-25 mengatakan, “barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya.” Berarti, ia tidak berhak punya keinginan, kecuali keinginan itu maunya Allah. Jika seseorang benar-benar mengasihi Tuhan, dia pasti mau. Dan demi itu,
    10 min
  • Dipandang Hina
    Orang yang tidak tulus, pada akhirnya akan dipandang hina (Mzm. 73:20). Dipandang hina oleh manusia tidak masalah, tapi jangan sampai kita dipandang hina oleh Allah, karena itu kekal. Dipandang hina oleh manusia hanya sementara waktu. Tapi kalau dipandang hina oleh Allah, itu kekal. Kita harus mempersoalkan hal ini. Kira-kira, kita itu dipandang Tuhan hina atau tidak? Berapa nilainya? Dan itu adalah hal yang darurat, penting, dan mungkin satu-satunya. Salah satu penyakit jiwa manusia pada umumnya adalah mau dipandang orang lebih; merasa butuh penghargaan. Adalah tidak salah jika kita berharga di mata manusia. Tapi semua keberhargaan itu harus kita persembahkan untuk kepentingan pekerjaan-Nya, bukan untuk kepuasan diri semata. Maka, proses untuk menghancurkan karakter buruk itu luar biasa. Prosesnya sangat berat. Kenyataannya, banyak orang yang tidak rela dipandang hina oleh sesamanya, dipandang rendah, dipandang salah, dipandang sesat, dipandang bidat. Tidak rela. Maka, biasanya kita menggeliat, berusaha agar pandangan hina itu dihapus. Minimal direduksi, dikurangi, diminimalis.
    Dipandang hina artinya dipandang salah, dianggap lebih rendah, dianggap tidak terhormat, mendapat perlakuan tidak adil. Kita itu seperti dilucuti. Padahal, kita sudah membangun banyak mahkota sebelumnya, lalu mahkota itu dilucuti. Ketika kita diperlakukan seperti ini, justru inilah kesempatan kita dibentuk untuk memiliki wajah yang tidak hina di mata Allah. Ketika kita dipandang hina oleh orang-orang yang tidak kita kenal, sama sekali tidak masalah. Tapi kalau dipandang hina oleh orang-orang dekat, itu berat. Maka, di sini kita hanya bisa diam dan menunggu pengadilan Tuhan. Dan itu jadi indah, karena kita mencari perkenanan Allah. Supaya kita jangan berkeadaan seperti yang orang katakan itu. Dibutuhkan kesabaran dan ketenangan menghadapi keadaan seperti ini, dan kita harus berani menganggap ini sebagai berkat kekal. Kalau tidak mengalami ini, kita mungkin tidak bertobat atau masih sombong; kalau kita tidak mengalami ini, kita merasa diri lebih dari orang lain.
    Jadi, bersyukur kita yang dibuat terkapar oleh Tuhan lewat masalah apa pun. Karena di situ, kita diajar untuk memandang Tuhan. Ketika kita berada di lembah kekelaman, lalu kita meratap begitu rupa, tidak ada jalan keluar manapun, di situ baru satu hubungan adikodrati dengan Allah. Yang nanti akhirnya kita bisa berkata, “yang kuingini Engkau saja.” Dari masalah fana, sampai ke masalah kekekalan. Jadi, itu berkat kekal. Melalui semua itu, Tuhan mengajarkan jalan-jalan-Nya. Jadi, kita bukannya takut melawan manusia. Bukan juga karena kita tidak punya kemampuan. Kita bisa balas, tapi tidak membalas. Itu indah sekali. Kita tidak menjadi manja, kolokan. Kita “manja” di hadapan Tuhan saja, jangan “manja” di hadapan manusia. Allah itu hidup. Pasti kita dibela Tuhan. Makanya kita belajar Alkitab, mengerti apa isi Alkitab, dan menghidupinya. Hanya itu andalan kita, tidak ada yang lain.
    Kita memilih menjadi orang tulus. Orang tulus mengupayakan kebaikan orang lain. Ini yang wajahnya tidak dipandang hina. Indah sekali. Tidak membutuhkan uang milyar, triliun untuk menolong orang. Ketika kita memberi senyum dan sapa yang tulus, itu sudah cukup membuat Anda menjadi seorang yang berwajah indah di mata Allah. Maka, Tuhan pasti akan mengirimkan “Lazarus-Lazarus” dalam hidup kita. Jadi, orang-orang tulus itu pasti istimewa di mata Allah. Jangan mengupayakan kejahatan orang lain. Jangan ikut-ikutan orang mengata-ngatai, apalagi memfitnah orang lain, dan jangan sekali-kali berbuat itu. Karena, ada perhitungan di dalam kekekalan. Jika kita yang menjadi korbannya, jangan membalas. Banyak orang Kristen lancar berbicara tentang “keselamatan hanya oleh anugerah,” tapi tidak menggarap manusia batiniahnya. Tidak pernah menjadi orang yang tulus.
    Mari kita memilih menjadi orang tulus, agar kita tidak dipandang hina oleh-Nya. Kita diajar Tuhan, “apa yang kamu suka orang perbuat kepadamu, lakukan.
    8 min
  • Mematahkan Kesenangan
    Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, tidak akan mengerti kebenaran (Luk. 16:11). Tidak setia dalam mamon yang tidak jujur, artinya masih memiliki kehausan dan kelaparan terhadap materi; masih duniawi. Tidak mungkin orang seperti ini mengasihi Tuhan. Dan orang yang tidak mengasihi Tuhan, tidak akan menerima penggarapan Allah. Karena, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mereka yang mengasihi Dia. Kalau kita kembali melihat Mazmur 73:21-24, kita menemukan bahwa keadaan-keadaan yang sulit dipakai Tuhan menjadi alat untuk menggarap orang-orang yang Dia kasihi, sehingga bisa memiliki kehausan akan Allah. Sering kali kalau kita dalam keadaan nyaman, kita tidak merasa butuh Tuhan. Celakanya kalau kita sampai tenggelam dalam kenyamanan. Dan jika ada sesuatu yang mengganggu kenyamanannya, perasaan krisisnya muncul, sehubungan dengan masalah yang mengganggu kenyamanannya tersebut.
    Kadang kita tidak bisa menghindari hal-hal yang tidak nyaman. Tapi, ada hal yang lebih besar dari persoalan-persoalan hidup kita hari ini. Apa? Kekekalan. Yang pasti tidak bisa kita hindari. Maka, kita harus mempersiapkan diri kita sejak sekarang ini. Jadi, jangan ada hal yang kita anggap sebagai krisis, kecuali keterpisahan dari Allah. Kepada orang-orang yang mengasihi Allah, Allah sering menunjukkan kasih-Nya dengan membawa orang itu kepada keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan. Sebagai contoh yang jelas, orang-orang Kristen abad mula-mula. Di dalamnya, termasuk murid-murid Tuhan Yesus yang sangat dikasihi oleh Tuhan Yesus dan Allah Bapa. Mereka benar-benar hidup di dalam penderitaan. Tetapi, itu mempersiapkan mereka kepada kekekalan. Pergumulan itu berakhir pada penyempurnaan. Allah menggarap seseorang, supaya bisa mematahkan semua kesenangan dan egonya.
    Kalau Allah satu-satunya yang kita butuhkan, kita pasti takut akan Dia. Maka, jangan sampai kita mengarahkan diri kepada sesuatu yang kita anggap kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi. Yang mutlak itu hanya Allah. Kebutuhan mutlak kita itu hanya Tuhan. Kita harus memandang Allah sebagai kebutuhan yang lebih dari segala kebutuhan lain. Yesus datang untuk membawa atau memberi kita kelimpahan (Yoh. 10:10). “Kelimpahan” di situ adalah perisos, artinya kehidupan yang berkualitas tinggi. Tetapi itu tidak bisa datang dengan sendirinya atau secara otomatis. Bagaimana kita bisa memiliki kehidupan yang berkualitas? Kita harus memiliki kehidupan seperti Yesus; Manusia yang menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Orang yang menemukan kemuliaan Allah yang hilang, dia menemukan Allah. Orang yang tidak menemukan kemuliaan Allah, dia tidak memiliki Allah. Sepanjang umur hidup kita adalah pergumulan untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau keserupaan dengan Tuhan Yesus ini. 
    Kita harus serius menanggulangi keadaan kita. Kehidupan Yesus adalah kehidupan yang selalu melakukan kehendak Allah. Ini yang disebut sempurna seperti Bapa. Murid-murid Yesus harus mengenakan kehidupan yang Yesus jalani, baru kemudian dapat mengajarkan kepada orang lain untuk menjalaninya. Maka, Tuhan Yesus bisa berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu. Kalau orang mau melihat kemuliaan Bapa, orang melihat Aku. Sekarang kamu meneruskan itu. Kemuliaan Bapa. Sehingga, kamu disebut anak-anak Allah yang bercahaya seperti bintang-bintang di cakrawala.” Jadi, murid-murid Yesus harus mengenakan kehidupan Yesus, baru kemudian mengajarkan orang lain untuk menjalani hidup tersebut. Orangtua yang menginginkan anak-anaknya takut akan Allah, harus menunjukkan kehidupan yang takut akan Allah, yang dapat anak-anak lihat dan rasakan. Dan pasti terjadi penularan/impartasi. Demikian juga untuk orang di sekitar kita.
    Jadi kalau Tuhan berkata, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku,” perjuangan beratnya tidak terletak pada menginjil atau menceritakan tentang Yesus kepada orang lain, tapi bagaimana kita mengenakan hidup-Nya Yesus di dalam hidup kita,
    9 min
  • Perasaan Krisis yang Benar
    Kita harus sungguh-sungguh mencari Allah. Kita membutuhkan Dia lebih dari membutuhkan apa pun dan siapapun. Orang yang benar-benar membutuhkan Allah secara proporsional akan merasa haus dan lapar akan Allah dan kebenaran, sehingga ada perasaan krisis di dalam dirinya karena ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Sejatinya, kita harus lebih memiliki perasaan krisis karena keadaan sakit kita, daripada berbagai pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau kita merasa ada perasaan krisis kita untuk hal lain yang bukan terkait dengan Allah, maka fokus kita pasti menjadi bias atau salah. Sering kita merasa krisis untuk hal-hal yang kita tidak perlu merasa krisis. Inilah yang menutup mata kita terhadap krisis yang mestinya kita tanggulangi, yang mestinya kita antisipasi. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus berkata dalam Matius 10:28-29, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun daripadanya tidak akan jatuh ke di luar kehendak Bapamu.” “Seduit” adalah mata uang paling kecil pada zaman tersebut yang dapat membeli dua ekor burung. Tuhan menyatakan bahwa kita lebih berharga dari banyak burung.
    Tuhan mengingatkan untuk kita tidak khawatir mengenai pemenuhan kebutuhan jasmani. Mengapa? Karena ada hukumnya, ada tatanannya. Kalau kita bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan jasmani kita dengan bekerja keras, menjaga pola hidup dan pola makan yang baik, jujur, rajin, maka kita pasti bisa menyelesaikannya. Kalaupun sudah sebaik-baiknya tapi kita tidak memiliki banyak, berarti itu memang porsi kita yang dipandang Tuhan tepat bagi kita. Antara kebutuhan dan keinginan, harus bisa dibedakan. Tidak semua keinginan itu adalah kebutuhan kita. Maka mengenai pemenuhan kebutuhan jasmani, harus ada rasa cukup. Kita harus sudah merasa cukup dengan apa pun yang Allah berikan, namun tidak merasa cukup dalam pengenalan akan Allah. Jadi, jangan merasa krisis untuk hal yang tidak perlu kita merasa krisis. Ayat Matius 10 ditulis sesuai dengan konteks zaman waktu itu, dimana orang-orang Kristen teraniaya. Mereka harus mempertaruhkan nyawa demi imannya. Hari ini kita tidak perlu sampai mempertaruhkan nyawa secara fisik. Tapi juga tidak kalah hebatnya pertaruhan kita, karena kita menghadapi dunia yang materialistis, sementara kita sendiri juga telah dirusak oleh cara berpikir dunia yang telah kita warisi dari nenek moyang dan lingkungan kita. Dan kita harus memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran Alkitab yang Tuhan ajarkan. Kita harus berani kehilangan nyawa. “Nyawa” di situ bukan nyawa fisik, melainkan nyawa dalam arti kesenangan-kesenangan.
    Sejatinya, perasaan krisis yang benar itu terkait dengan kenyataan adanya kemungkinan kita terpisah dari Allah selama-lamanya. Karena Allah adalah kebutuhan kita satu-satunya dan kita ingin memiliki Dia, kita harus menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Kemuliaan Allah yang hilang adalah keberadaan sebagai anak-anak Allah yang modelnya adalah Tuhan Yesus. Pikiran dan perasaan kita sesuai dengan pikiran, perasaan Allah; kehendak kita seturut dengan kehendak Allah. Dan ini bukan hal yang mudah, bahkan ini sebenarnya mustahil. Tetapi yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah, asalkan kita mau. Kalau orang nekat, apa pun dia lakukan. Seorang anak muda yang kecanduan obat, dapat mengorbankan seluruh uangnya, bahkan uang orangtuanya. Nekat. Mengapa kita tidak berbuat apa pun demi supaya terhindar dari neraka? Apa pun, agar kita tidak melukai hati Allah. Salah satu alasannya adalah krisis kita itu harus ditujukan kepada hal itu. Karena takut kepada sesuatu yang tidak perlu ditakuti, maka orang tidak takut akan Allah.
    Perasaan tersebut ada dalam diri, tanpa kita sadari. Pada waktu misalnya kita dilukai, maka apa pun kita lakukan demi kepuasan kita. Emosi, dendam,
    9 min
  • Debu di Dalam Debu
    Bumi kita ini sangat kecil jika dibanding dengan banyak planet-planet yang bisa ribuan kali, ratusan ribu kali, bahkan bisa jutaan kali lebih besar dari bumi kita. Maka, kalau kita membandingkan bumi dengan jagat raya yang tidak terbatas ini, bumi ini seperti debu. Dan kita, ada di dalam bumi yang sebesar debu. Jadi, bisa dibayangkan betapa kecilnya kita. Debu di dalam debu, kecil sekali. Kalau ini, bicara mengenai besar volume. Kalau kita bicara mengenai perjalanan waktu, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, ini kekekalan. Dan sekarang, berlangsung terus kekekalan sampai kekal. Jadi, 70-80 tahun umur hidup kita ini seperti debu juga, jika dibanding dengan kekekalan. Mungkin, lebih kecil dari yang kita bayangkan. Sebab, kekekalan itu tidak terbatas, sementara kita hanya punya waktu 70-80 tahun. Seandainya kita hidup 1000 tahun, juga seperti debu. Dan kenyataannya, tidak ada manusia yang usianya lebih dari 1000 tahun, karena memang Tuhan berkata, ‘Pada hari kau makan buah itu, kau mati!’
    Di dalam kehidupan kita ini—kita yang kecil, debu dalam debu, bahkan tidak kelihatan—kita mau menjadi orang-orang yang menerima kemuliaan yang Allah janjikan. Allah memedulikan kita, Allah mengasihi kita. Maka, kita tidak mau dan memang tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan. Kita debu di dalam debu, tapi Allah berkenan memperhatikan kita dan mengasihi kita. Kita debu dalam debu, namun di waktu 70-80 tahun umur hidup kita ini, Allah pun berkenan melawat kita. Jadi kalau kita menjadi sangat ekstrem, hidup hanya memikirkan Tuhan saja, itu tidak berlebihan sama sekali. Karena Allah yang besar, dari kekal sampai kekal, itu dahsyat. Dan ciptaan-Nya, jagat raya yang luas ini, dahsyat. Kita debu, tetapi Allah mau memperhatikan kita di singkatnya umur hidup kita. Jadi, mestinya kita tidak tertarik lagi dengan apa pun dan siapapun.
    Mestinya kita hanya tertarik kepada Allah. Allah yang besar, yang mau memedulikan kita. Allah yang mau melawat kita, dan mengubah kita menjadi manusia yang agung, mulia, dan unggul, yang diperkenan bersama-sama dengan Tuhan Yesus menerima kemuliaan dan memerintah di dalam Kerajaan surga. Namun sejujurnya, kita telah banyak melakukan kesalahan. Kita tidak sungguh-sungguh berani ekstrem dengan Tuhan. Kita tidak berani benar-benar fanatik dengan Tuhan. Orang yang ekstrem dan sangat ekstrem dengan Tuhan, tidak akan menjadi bencana bagi orang lain. Makanya, dengan sering berbicara mengenai kekekalan, sering berbicara mengenai langit baru bumi baru, kita diingatkan pada fakta mengerikan api kekal, atau diingatkan dengan kedahsyatan kengerian terpisah dari Allah. Orang yang takut akan Allah akan memiliki kehausan akan Allah. Ini yang membangun usaha untuk tidak terpisah dari Allah. Tetapi kalau seseorang takut terhadap hal lain, maka ia akan membangun usaha untuk memperoleh sesuatu itu. Dan akhirnya, ia menganggap remeh, menganggap sepele Allah. Dan kalau orang sudah menganggap sepele Allah, kehausannya hanya ditujukan kepada yang lain. Ia pasti tidak takut akan Allah.
    Setelah melewati berbagai pergumulan hidup dan dengan bertambahnya usia, kiranya kita pada akhirnya memilih untuk berlabuh di dalam Tuhan, dan ini adalah berkat abadi. Tentu kita harus bekerja, berkarier, mengurus rumah tangga, memenuhi tanggung jawab kita, sebagaimana seharusnya kita hidup sebagai manusia yang bertanggung jawab. Tetapi, semua itu kita lakukan hanya untuk Tuhan. Karena firman Tuhan mengatakan, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Tuhan” (1Kor. 10:31). Dan inilah kesempatan yang tidak akan pernah terulang selama-lamanya. Kesempatan sekali-kalinya, yang pertama dan yang terakhir. Kita harus memandang Allah sebagai satu-satunya kebutuhan kita. Dan kalau orang membutuhkan Allah, ia akan memiliki kehausan dan kelaparan akan Allah, seperti halnya orang sakit yang membutuhkan dokter. Pertanyaannya, apakah kita merasa haus akan Allah,
    9 min
  • Diam
    Mudah untuk tidak melukai, merugikan, dan menyakiti orang lain, kalau orang itu tidak bermasalah dengan kita. Tetapi menjadi sulit, bahkan sangat sulit, kalau orang itu bermasalah dengan kita; yaitu orang yang menyakiti kita, sengaja merugikan kita, sengaja membuat hati kita luka. Sulit untuk tidak membalas kejahatan orang kepada kita. Apalagi kalau perbuatan orang kepada kita itu, kita rasakan berlebihan jahatnya atau keterlaluan kelakuannya. Semakin besar kesalahan orang kepada kita yang kita nilai dan rasakan, maka ada dorongan untuk berkewajiban membalas dan merasa berhak untuk membalasnya. Biasanya, alasan membalas kejahatan orang lain adalah untuk memberi pelajaran bagi orang itu agar tidak mengulangi perbuatannya, atau lebih bersifat berkorban, agar tidak memperlakukan orang lain dengan cara yang sama ia memperlakukan kita. Sejatinya, kedua alasan ini tidak pernah diajarkan Tuhan kepada kita.
    Apa pun perlakuan jahat orang kepada kita, Tuhan mengajar kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita harus belajar diam, diam, diam, dan diam, meski itu menyakitkan. Tetapi kalau kita mencintai Tuhan, kita mau benar-benar menyukakan hati Bapa, kita mau berkenan di hadapan Allah dan mau menjadi anak kesukaan-Nya, kita belajar diam. Kita meledakkan itu di dalam diri kita. Kita tidak meledakkan itu dengan kata-kata, dengan sikap, dengan perbuatan, namun kita ledakkan di dalam diri kita. Dan, kita berurusan dengan Allah. Semakin kita tertekan dan kita meledakkan apa yang ada dalam diri kita dalam rangkaian berperkara dengan Allah, maka Allah mendewasakan kita. Tuhan akan memberikan kepada kita penghiburan. Melalui pengalaman tersebut, Tuhan mau menyempurnakan kita agar kita serupa dengan Yesus yang juga diam, diam, dan diam. Ini benar-benar menyakitkan, tetapi itulah yang diajarkan Tuhan Yesus, Guru kita, Tuan kita, Majikan kita.
    Bagi orang percaya, mutlak berlaku firman agar kita mengasihi musuh, seperti yang diucapkan Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit di Matius 5, memberkati orang yang melukai kita, menyakiti kita. Tentu termasuk orang-orang yang menista Tuhan kita, Yesus Kristus, menista Kitab Suci kita, Alkitab, menista ajaran kekristenan kita, atau menista keyakinan kita. Jangan membalas. Kalau kita membalas kejahatan orang yang menista Allah yang kita sembah, itu mengesankan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang lemah, Allah yang tidak berkuasa membela diri-Nya sendiri, sehingga perlu ditolong. Sejatinya, justru kita menista Allah kita waktu kita mencoba membela-Nya dengan cara demikian. Allah kita kuat, Allah kita berkuasa melindungi dan membela diri-Nya sendiri. Jadi, biarlah Dia melindungi diri-Nya sendiri, sedangkan kita melindungi diri kita dengan kelakuan kita yang baik, yang senonoh sesuai karakteristik Allah yang kita sembah. Orang percaya tidak boleh merasa jagoan dengan membela Allah yang disembahnya. Allah tidak perlu dibantu. Allah bisa dan berkuasa membela diri-Nya sendiri.
    Tapi, belum tentu Allah bertindak sekarang. Allah akan bertindak pada waktu-Nya. Jadi, kita jangan mencoba untuk mengatur Allah. Kalau nama Yesus dinista, dihina, Alkitab kita diinjak-injak, kita tidak usah marah. Kalau kita percaya Allah yang kita sembah itu Allah yang benar, yang menciptakan langit dan bumi, yang membelah Laut Kolsom, merobohkan tembok Yerikho, apa artinya nistaan dari orang-orang yang tidak berarti itu? Jadi, kalau seseorang berusaha membela Allah yang disembah dengan membalas kejahatan orang yang menista Allah dan ajaran-Nya yang dianut, itu menunjukkan rendahnya moral allah yang disembah atau ajaran yang diajarkan, yang boleh mengajarkan kejahatan dengan kejahatan; kekerasan dibalas kekerasan.
    Suatu hari nanti, setiap orang akan diadili sesuai dengan perbuatannya. Dan akan dibuktikan, siapakah Allah yang benar itu. Jadi, kita harus teduh di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan majemuk. Teduh, memberi kesempatan orang untuk menjalankan ibadahnya,
    9 min
  • Merasa Betah
    Dalam mempersiapkan diri menerima kemuliaan yang Bapa janjikan, kita juga harus memperhatikan dengan siapa kita bergaul selama kita hidup di bumi ini. Orang-orang yang Bapa tidak suka kita bergaul dekat dengan mereka, jangan bergaul. Biasanya orang-orang yang tidak layak dengannya kita bergaul adalah orang-orang yang tidak mempersiapkan diri untuk masuk ke Rumah Bapa; tidak berkemas-kemas. Jangan bergaul dengan orang yang tidak berkemas-kemas. Nanti kita akan ikut merasa betah di bumi ini. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak bergaul dekat dengan orang-orang yang tidak berhasrat secara benar untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Memang kita harus bergaul dengan semua orang, untuk menjadi berkat. Tapi, jangan bergaul dekat sampai kita berbagi emosi dan perasaan. Kalau pergaulan sudah membuat kita menyimpang dari kebenaran, kita harus menghindarinya dan menjauhinya. Bapa menghendaki kita bergaul dengan orang-orang yang mana Bapa bisa memakai mulut mereka untuk menyampaikan kebenaran, sehingga terjalin persekutuan, saling menguatkan untuk menjadi orang saleh, dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah.
    Jadi, pengaruh orang di sekitar kita itu besar. Jika bertemu orang yang sama-sama berambisi untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, kita terpengaruh secara positif. Tapi sebaliknya, kalau berambisi mencari kehormatan, kita ikut jadi rusak. Pemazmur mengatakan, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik.” Secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, orang-orang di sekitar kita itu menasihati kita. “Berbahagialah orang yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.” Dalam bahasa aslinya, “pencemooh” artinya adalah orang yang menilai salah orang lain. Sejujurnya, sering kali kita banyak berdosa di meja makan atau di meja kafe, karena di situ kita tergoda membicarakan orang. Jadi, mestinya kita bergaul dengan orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam, terus-menerus. Oleh sebab itu, mulai sejak hari ini kita harus benar-benar berani meninggalkan teman-teman yang tidak membawa kita kepada kebenaran. Dan selanjutnya, kita selektif terhadap siapa yang menjadi sahabat kita. Sebab, kemuliaan bersama dengan Tuhan itu tidak murahan, harus dibangun sejak dini. Jangan menganggap murahan, lalu kita menunda bertobat, menunda hidup suci, menunda berkorban. Jangan begitu. Baiklah kita menghabiskan sisa umur hidup kita untuk memberkati.
    Kalau seseorang benar-benar berurusan dengan Tuhan secara baik dan memiliki keintiman yang benar dengan Allah, pastilah tidak merasa sejahtera bila bergaul dekat dengan orang-orang yang tidak takut akan Allah. Dalam hal ini, kita harus menyadari bahwa tidak semua orang yang beragama Kristen itu Kristen. “Kristen” artinya seperti Kristus, atau paling tidak semakin berproses seperti Kristus. Kita semua belum sempurna, tapi harus ada perubahan dan pertumbuhan. Bergaul dengan sesama orang Kristen belum tentu menjadi baik, kalau orang Kristen tersebut tidak dewasa rohani. Bergaulah dengan orang-orang Kristen yang berhasrat untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, yang sungguh-sungguh mengajak kita berkemas-kemas. Agar ketika kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, kita diperkenan oleh Tuhan. Dalam hal ini, kita minta petunjuk Tuhan untuk membedakan roh. Artinya, membedakan orang yang takut akan Allah dan yang tidak takut akan Allah.
    Bergaulah dengan orang-orang yang mengajak kita berkemas-kemas. Mengajak kita hidup tidak bercacat, tidak bercela. Walaupun kita barangkali masih bercela, tapi paling tidak, kita akan mau berubah setiap kali ada cela dalam diri kita. Orang yang tidak berurusan dengan Allah, pasti berurusan dengan dunia. Hidupnya tenggelam dalam kesenangan-kesenangan dunia, yang ditopang oleh materi dan hiburan dunia. Dan hal ini membangun selera jiwa, mengondisi selera jiwa, sehingga terikat dengan materi dan berbagai hiburan dunia...
    10 min
  • Merdeka dari Segala Keinginan
    Seharusnya, setiap kita memiliki perasaan krisis—bukan krisis karena uang atau krisis karena nama baik kita dicabik-cabik, atau juga krisis karena keinginan kita tidak terpenuhi—melainkan karena kita takut kalau-kalau masih ada kesalahan yang kita lakukan atau ketidaktepatan, dan kalau-kalau mestinya ada yang bisa kita lakukan untuk Tuhan tetapi kita menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Jangan hanya bangga karena menjadi pendeta, atau karena telah setia mengikuti khotbah Suara Kebenaran. Tetapi, mari kita responsif mengenakan kebenaran ini. Sampaikan, “selidiki aku, Tuhan,” seperti yang pemazmur katakan. Makanya kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Tidak ada orang yang lebih merdeka dan mulia daripada seorang yang berhenti dari segala keinginan. Ini sungguh tidak mudah. Tidak ada lagi cita-cita, tidak ada lagi sesuatu yang membuat dirinya bahagia, tetapi ia selalu bertanya, “Apa yang harus kulakukan, Bapa?” Kalau kita bisa mengikuti ini, kita menjadi orang yang sangat beruntung. Karena, pertaruhannya adalah kekekalan.
    Kalau segenap hidup bisa kita persembahkan untuk Tuhan, berhenti dari segala keinginan pribadi, dan hanya ingin melakukan kehendak Bapa, ini tidak berlebihan. Karena memang Alkitab mengatakan, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Barangkali ada yang bertanya atau berkata atau menanggapi, “Bukankah kita sebagai manusia boleh punya keinginan?” Memang manusia diciptakan Tuhan dengan pikiran, perasaan, supaya manusia memiliki kehendak atau memiliki keinginan. Manusia tidak mungkin tidak punya keinginan dan memang tidak boleh tidak punya keinginan. Tetapi masalahnya adalah, apa objek keinginan kita? Itu masalahnya. Kalau tadi dikatakan bahwa orang yang paling merdeka adalah orang yang tidak memiliki keinginan, maksudnya bukan kita meniadakan keinginan, melainkan keinginan kita hanya ditujukan kepada Tuhan.
    Sebab, kita hidup di dunia yang sudah jatuh, dunia yang terhukum, dunia yang terkutuk. Sementara, moral karakter kita juga masih berantakan. Maka, apa yang muncul di hati dan pikiran kita, produk dari dunia sekitar kita. Ditambah dengan ambisi pribadi yang keruh melahirkan kejahatan, melahirkan dosa. Kalaupun itu kelihatannya tidak melanggar hukum, namun tidak membuat kita melekat dengan Allah. Kita akan selalu punya keinginan sampai selama-lamanya. Di surga, keinginan atau kehendak individu itu masih ada, dan kehendak individu itu selalu bebas. Allah memberi kedaulatan manusia dalam kedaulatan yang terbatas. Dan di dalam kedaulatan itu, manusia memiliki keinginan. Jadi kalau kita memiliki keinginan yang ditujukan kepada objek tertentu—bukan Tuhan dan Kerajaan-Nya—pasti kita lepas dari hadirat Allah, jatuh, terbelenggu, atau terikat. Logikanya, kita hidup tidak lebih dari 70-80 tahun. Setelah itu, kita akan memasuki dunia di mana tidak ada dosa, dunia di mana tidak ada kejahatan, dunia di mana tidak ada kuasa kegelapan. Sehingga, secara otomatis keinginan-keinginan seseorang pasti baik. Tetapi untuk memiliki keinginan yang selalu baik, bukan dimulai nanti waktu di surga, melainkan sejak di bumi kita sudah melokalisasi keinginan kita, mempersempit keinginan kita. Yang akhirnya, nanti kita fokuskan satu saja, yakni Tuhan dan Kerajaan-Nya.
    Kemuliaan bersama Tuhan itu tak ternilai. Jangan sampai kesempatan dimana kita bisa berkobar-kobar mengisi hari hidup untuk melayani Tuhan, rusak karena pergaulan. Seperti orangtua di dunia ini, tidak ingin anak-anaknya bergaul dengan orang-orang yang bisa mengganggu dan merusak masa depan anaknya. Baik masa depan secara ekonomi, maupun secara moral. Orang yang tidak berurusan dengan Allah, tidak peduli dengan siapa dia bergaul. Yang penting dia merasa ada kebersamaan, yang penting dia senang. Simbiosis mutualisme; saling menguntungkan. Kita harus sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah kita bergaul dekat dengan orang yang Allah menyukai kita bergaul dengan dia, atau tidak. Mazmur 73:24-26,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…