Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tanda Kehidupan
    Di dalam pernyataan Yang Mulia Tuhan Yesus kepada setiap jemaat di kitab Wahyu, Tuhan kita Yesus Kristus berkata, “Menanglah kamu seperti Aku menang,” berarti ada perjuangan yang dialami orang percaya supaya mengalami atau memiliki kemenangan. Memperoleh mahkota kemenangan bukanlah hal yang mudah, sebab itu orang percaya harus masuk sebuah pertandingan. Dalam 2 Timotius 4:7-8 Paulus mengatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir.” Paulus menunjukkan bahwa untuk mendapatkan mahkota itu, harus ada perjuangan. Dalam bahasa aslinya, ton agona ton kalon. Kata agona, juga ada di Lukas 13:24, ketika orang bertanya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Tuhan berkata, “Berjuanglah;” (Yun. agonizesthe). Kata agona—pertandingan, perjuangan, peperangan—juga digunakan dalam Ibrani 12:1, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” 
    Jadi, untuk memperoleh mahkota kebenaran, untuk bisa diakui bahwa kita telah melakukan kebenaran—sama dengan melakukan kehendak Bapa—kita harus berjuang; perlombaan yang diwajibkan. Sampai akhirnya kita bisa berkata seperti Paulus berkata, “Aku sudah mengakhiri pertandingan yang baik.” Ada banyak pertandingan dalam hidup ini, tetapi tidak semua pertandingan yang baik, dan tentu tidak wajib, bahkan mestinya tidak boleh dibuat wajib. Pertandingan yang wajib adalah pergumulan bagaimana kita memiliki kehidupan yang sesuai kebenaran, sesuai kesucian Allah, sehingga mendapat pengakuan, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Dan terkait dengan ini, Paulus dalam 1 Timotius 6:12 berkata, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” Kita yang harus merebut, bukan pasif mendapat hidup yang kekal. Jangan Saudara berpikir “percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat otomatis dapat hidup kekal.” Hal ini bisa bertentangan dengan tulisan Paulus, “bertandinglah supaya dapat merebut hidup yang kekal.” 
    Sejak hidup di bumi, sejatinya seseorang sudah memiliki tanda-tanda kehidupan atau tanda-tanda kematian. Kalau orang tidak mempersoalkan kekekalan, ia sudah tidak peduli apakah ada tanda-tanda kehidupan atau tanda-tanda kematian. Kita harus peduli. Kita harus melihat, apakah ada tanda-tanda kehidupan atau tanda-tanda kematian dalam diri kita. Seperti Paulus yang berjuang untuk memiliki kebenaran Tuhan, ia berjuang dan ia bisa memperoleh mahkota kebenaran. Sejak di bumi, “telah tersedia bagiku,” itu tanda-tanda kehidupannya sudah tampak. Itulah yang menjadi kemuliaan di dalam Kerajaan Surga. Inilah yang dikatakan Tuhan Yesus dan surat Yakobus sebagai mahkota kehidupan. Sejak di bumi, sudah tampak kebenaran, kemuliaan, dan hidup sebagai anak-anak Allah yang nanti layak menerima mahkota kehidupan. Kalau seseorang tidak peduli kebenaran dan berbuat semaunya, ia tidak bisa diajar lagi. Dia tidak layak menerima kemuliaan, dia tidak layak memiliki hidup kekal. Tapi kalau kita peduli untuk mengerti kebenaran, apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, maka kita sudah memiliki kemuliaan sejak di bumi. Tapi hampir semua orang menaruh kemuliaannya pada gelar, pangkat, kehormatan, kekuasaan, rumah, mobil, penampilan, baju, arloji, sepatu—hal fana.
    Sejak hidup di bumi, harus tampak kebenaran berstandar Tuhan Yesus yang kita kenakan. Itu nilai kemuliaan seseorang, itu tanda kehidupan, itulah kekristenan yang sejati. Jadi, kekristenan bukan sekadar keyakinan, melainkan pengalaman konkret yang dialami dan dijalani. Dari kehidupan yang mengalami dan menjalani kekristenan yang benar—yang sama dengan mengerjakan keselamatan—maka dilahirkan buah yaitu kepastian masuk surga, bahkan memperoleh mahkota. Untuk itu, kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Tinggalkan dosa, belajar Alkitab, tekun berdoa tiap hari,
    0 min
  • Tidak Dikerjakan
    Keselamatan bukanlah sekadar keyakinan masuk surga. Keselamatan adalah kepastian seseorang masuk surga. Apa bedanya “keyakinan” dan “kepastian?” “Keyakinan” lebih berorientasi pada pikiran atau nalar; “kepastian” berorientasi pada pengalaman konkret dalam kehidupan. Itulah sebabnya, keselamatan bukan hanya diyakini—tentu keyakinan harus ada—atau sekadar diuraikan menjadi pengetahuan yang dalam khazanah teologi dikenal sebagai soteriologi, namun haruslah merupakan pengalaman hidup nyata dari hari ke hari, yang dijalani orang percaya dengan tekun, sebab tidak mudah. Orang Kristen mula-mula belum memiliki Alkitab seperti kita, dan belum ada teolog-teolog hebat yang lulus dari sekolah tinggi teologi. Namun, mereka menjadi orang-orang percaya yang “sukses.” Ukuran kesuksesannya adalah ketika mereka disebut “Kristen” karena serupa dengan Kristus, bukan karena beragama Kristen atau karena berlimpah harta dan memiliki kedudukan. Jadi, suksesnya kekristenan adalah ketika seseorang serupa dengan Kristus, dan masyarakat mengakui itu. Bukan sekadar beragama Kristen, memakai kalung salib, atau nama yang bercirikan Kristen, melainkan perilaku seperti Kristus. Kita mau bicara apa? Mau bantah apalagi? Gereja mula-mula yang belum memiliki gedung seperti kita, belum memiliki anggaran dasar, tidak ada back up dana, tidak ada fundraising, pemimpinnya juga ditangkapi dan dibunuh, belum punya Alkitab—hanya parsial potongan surat-surat yang ada, tapi mereka sukses. Ini penting sekali. 
    Orang yang dapat berbicara tentang keselamatan, belum tentu mengalami dan memiliki keselamatan. Dalam hal ini, kita bisa mengerti, dan jangan bingung lagi mengapa banyak orang bisa berkhotbah dan ceramah mengenai keselamatan atau menulis buku mengenai keselamatan, tetapi hidupnya tidak menunjukkan keagungan sebagai anak Allah; tidak serupa dengan Kristus; tidak memancarkan keagungan anak Allah serupa Kristus. Biasanya memancarkan keagungan manusia yang tampak dari jas, baju, atau pakaian atribut seorang rohaniwan Kristen. Sejatinya, mereka belum menjadi Kristen. Kalau jujur lebih tegas, mereka belum selamat, karena tidak makin serupa dengan Kristus. Kristen sejati itu pasti serupa dengan Kristus. Pengalaman keselamatan itu harus dirasakan oleh diri sendiri dari waktu ke waktu, dan dapat dilihat, serta dirasakan orang di sekitarnya. Keselamatan itu bukan seperti teka-teki yang diselubungi pertanyaan, misteri, dan tidak jelas. Keselamatan itu sesuatu yang dapat diketahui, dirasakan dengan sangat jelas, yaitu kalau orang itu benar-benar mengalami dan memiliki keselamatan karena mengerjakan keselamatan itu. Orang itu sendiri merasakan, dan orang lain juga merasakan. 
    Orang yang mengalami dan mengerjakan keselamatan sehingga memiliki keselamatan, dapat menghayati bahwa keselamatan itu sebuah proses; ada dinamikanya. Dinamika pertumbuhan, dinamika progresivitas, dinamika perubahan dari seorang yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi sesuai dengan rancangan Allah semula. Hal ini sebenarnya sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Sehebat apa pun seseorang dapat menjelaskan, hal ini harus dialami. Dari proses perubahan tersebut, seseorang barulah dapat memiliki kepastian masuk Kerajaan Surga. Dalam konteks Kristen, seseorang harus mengerti bagaimana dirinya berubah dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Keselamatan yang hanya diyakini adalah keselamatan yang tidak dikerjakan. Biasanya hanya dibicarakan, didefinisikan menjadi kalimat, didiskusikan, atau menjadi buku atau jurnal ilmiah. Biasanya, orang-orang seperti ini memahami keselamatan hanya sekadar terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga, dimana mereka pun tidak memiliki kepastian masuk surga. Tetapi, keyakinan dalam pikiran dan berharap masuk surga. Mestinya untuk masalah yang sangat penting dalam kehidupan—ini masalah kekekalan—kita tidak boleh gambling. Keselamatan harus menjadi sesuatu yang pasti. 
    Paulus dalam tulisannya mengatakan,
    0 min
  • Tidak Siap
    Kenyataan yang dapat kita lihat dan buktikan, bahwa banyak orang yang tidak tergetar terhadap realitas kekekalan. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa menghargai Allah secara benar, orang-orang yang tidak percaya kepada Allah secara benar. Orang yang tidak menghayati bahwa dirinya makhluk kekal dan ada realitas kekekalan, tidak tergetar oleh hal ini sehingga dia tidak berusaha berkenan kepada Tuhan. Seperti hewan yang tidak menyadari kekekalan, cenderung menjadikan sesamanya sebagai mangsa. Demikian pula sebagian besar manusia yang tidak mengenal dirinya sebagai makhluk kekal. Lihat saja, mereka bersikap sewenang-wenang terhadap sesamanya tanpa peduli bahwa ada Hakim yang akan meminta pertanggungjawaban. Kesadaran terhadap realitas bahwa manusia adalah makhluk kekal harus dihubungkan dengan realitas kematian yang akan dialami manusia. Sepasti matahari yang terbit di ufuk timur, sepasti itu pula kematian yang kita akan alami. Masalahnya, kepastian mengenai kematian ini sering dilupakan orang. Mereka tidak berusaha memikirkannya. Bahkan, mereka meminta supaya menghentikan percakapan mengenai kematian. Mereka tidak sanggup. Suatu hari, mereka akan menyesal. 
    Khotbah dan lagu mengenai kematian mengingatkan kita terhadap realitas kematian yang pasti kita hadapi, dan kekekalan yang kemudian kita akan alami. Hampir bisa dipastikan bahwa orang yang takut mendengar hal kematian, sejatinya adalah orang yang tidak siap menghadapi kematian. Orang-orang seperti ini sebenarnya orang-orang yang sangat malang. Dia tidak ingin mendengar hal yang menyangkut kematian. Padahal, suatu saat dia pasti mengalaminya. Betapa takut dan mengerikannya keadaan orang-orang yang ketika masih hidup tidak suka mendengar hal kematian. Waktu di ujung maut, mereka tidak akan siap menghadapi kematiannya dan tidak akan punya kesempatan untuk masuk dalam realitas kekekalan. Sebaliknya, orang yang akrab dengan tema “kematian dan kekekalan,” siap menghadapi realitas. Mereka akan kokoh menghadapi kematian karena sudah mempersiapkan diri. Mereka adalah orang-orang yang telah mematikan keinginan dirinya sendiri, dan hidup melakukan kehendak Allah. 
    Kematian adalah masa transisi dimana manusia berpindah dari dunia fana ini kepada kekekalan. Transisi yang dinantikan oleh mereka yang telah menghayati dirinya adalah makhluk kekal, dan telah berusaha hidup berkenan di hadapan Tuhan sebagai persiapan untuk memasuki kekekalan. Sebaliknya, kematian menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang yang tidak menghayati realitas kekekalan, sebab ia tidak mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang benar-benar berkenan di hadapan Tuhan. Sesuatu yang tidak logis; jika kendaraan yang belum tentu menabrak atau ditabrak, namun kita asuransikan, lalu mengapa untuk hal kematian yang pasti, tidak kita persiapkan? Orang-orang yang tidak mempersiapkan kekekalan adalah orang-orang yang celaka; tidak memiliki pengharapan di kekekalan. Pengharapannya ada di dunia hari ini. Kalau kita membaca Alkitab, kita menemukan model orang percaya yang sungguh-sungguh telah mempersiapkan diri menghadapi kekekalan. Dalam 2 Timotius 4:7-8 Paulus mengatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 
    Ayat ini sering dicantumkan pada berita duka atau berita kematian. Menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah orang yang meninggal dunia tersebut sudah berjuang seperti Paulus? Orang yang belum sungguh-sungguh melakukan pertandingan yang baik, belum mencapai garis akhir, dan tidak memelihara iman, tidak pantas menerima mahkota kebenaran. Sejujurnya, banyak orang yang sebenarnya tidak layak menerima mahkota kebenaran, tetapi mereka mengaku—atau biasanya keluarganya yang masih hidup yang menyatakan—bahwa m...
    0 min
  • Perangkap
    Gaya hidup melakukan keinginan Allah Bapa ini harus menjadi gaya hidup yang melekat seperti sebuah perangkap atau jerat, sehingga akhirnya kita tidak bisa keluar dari keadaan itu. Hidup kita hanya mau melakukan keinginan Bapa atau kehendak Bapa. Ini menjadi belenggu, tetapi belenggu yang memerdekakan. Bagi orang yang hidup dengan gaya hidup seperti ini, kematiannya adalah kematian yang bermartabat. Sebaliknya, kalau seseorang terjerat oleh gaya hidup melakukan keinginan diri sendiri, tentu akibat, pengaruh dari lingkungan dan dunia, maka hal tersebut juga bisa menjadi perangkap atau jerat, sehingga seseorang tidak bisa keluar dari gaya hidup tersebut. Ini adalah perangkap yang membinasakan. Perlu kita ketahui bahwa ada perangkap yang memerdekakan, dan ada perangkap yang membinasakan. Sekarang kita memeriksa diri, apakah kita dibelenggu oleh kebiasaan melakukan keinginan Allah atau kebiasaan melakukan keinginan diri sendiri. Tentu yang mudah adalah melakukan keinginan diri sendiri. Sebaliknya, melakukan keinginan Allah tidak mudah. Tapi kalau kita punya tekad, punya komitmen, Roh Kudus akan pimpin. Sehingga kita bisa mengerti apa keinginan Allah, apa kehendak-Nya yang harus kita lakukan. Jadi, kalau orang terperangkap dengan gaya hidup menyenangkan diri sendiri, maka kematiannya adalah kematian yang tidak bermartabat. 
    Kalau kita bisa memberi diri terperangkap dengan keinginan ini, kita akan sangat bersyukur. Kita tidak pernah menyesal, walaupun ini berat sekali. Sebab, ini adalah pilihan yang terbaik, dan sejatinya harus menjadi satu-satunya pilihan di singkatnya masa hidup kita di bumi ini. Sampai akhirnya, ini menjadi gairah hidup kita. Ketika kita berani memiliki komitmen, Tuhan pasti akan menuntun kita. Pada prinsipnya, asal kita mau dan nekat, Tuhan akan menolong kita. Apa yang menjadi kesenangan-kesenangan kita, harus rela kita tanggalkan. Itu harus dimulai dari diri sendiri. Sebagaimana seorang yang menderita penyakit tertentu, harus menghindari jenis makanan yang membahayakan kesehatan tubuhnya, sehingga ia pasti akan berani berkata “tidak” ketika ada yang menawarkan makanan tersebut. Ia punya tekad yang kuat karena ia mau sehat. Mengapa untuk kesehatan jiwa kita dan demi kekekalan, kita tidak berani berkata “tidak” kepada dosa?
    Namun, tidak bisa dipungkiri, ada orang yang tidak dapat bertahan lama untuk berkata “tidak,” karena perangkap tersebut sudah demikian menjerat. Maka, ketika kita sudah melepaskan—satu demi satu, apalagi jika sudah berhasil semua—perangkap yang membinasakan tersebut, jangan sekali-kali menoleh ke belakang dan punya kesenangan-kesenangan lagi, apa pun bentuknya. Ini baru yang namanya “berkemas-kemas.” Alkitab mengingatkan kita akan istri Lot yang masih menoleh ke belakang, dimana hatinya masih terikat pada Sodom Gomora. Dalam konteks masa kini, Sodom dan Gomora dapat berbicara mengenai unsur duniawi atau kekafiran lain yang masih melekat dalam diri orang percaya. Terdapat pemikiran atau anggapan bahwa kalau seseorang berbuat kesalahan kecil, Allah akan menolerir. Ini tentu sangat menyesatkan. Iblis menaburkan pemikiran seperti ini dalam pikiran orang percaya agar kita tidak pernah benar-benar terlepas dari perangkap yang membinasakan tersebut. Pertama, merasa berhak punya keinginan. Kedua, kesalahan kecil itu tidak masalah, sehingga banyak kesalahan yang kita anggap kecil menjadi kebiasaan hidup setiap hari. Ketidaktulusan, kebohongan, membicarakan orang lain, curiga, penuh prasangka, dll. Sementara itu, merasa bahwa itu bukan sesuatu yang mendukakan hati Allah.
    Dengan cara hidup seperti ini, orang tidak membangun kesucian standar Allah. Sebab, kalau orang sudah ceroboh untuk hal-hal kecil, akhirnya dia juga bisa ceroboh untuk hal-hal besar. Kalau mau suci, mari kita ekstrem suci dan jangan tidak tulus. Memang, ada saja orang yang menganggap kita tidak tulus walaupun kita sudah tulus. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk selalu setuju dengan kita atau selalu menyukai kit...
    0 min
  • Tidak Bertepi
    Dengan keberadaan sebagai makhluk kekal, manusia harus bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan-keputusannya. Kehidupan ini benar-benar sebuah keadaan yang berisiko tinggi, sebab manusia yang berkeadaan kekal ini harus mengambil keputusan dan memilih kemuliaan kekal bersama dengan Allah, atau kehinaan kekal terpisah dari Allah. Dengan kesadaran terhadap fakta kekekalan ini, kita lebih berhati-hati dalam mengarungi kehidupan. Kehidupan ini berisiko tinggi, dan hidup ini tidak boleh kita terima seperti sebuah permainan kartu yang sifatnya gambling; berspekulasi (untung/rugi spekulatif). Tidak demikian. Masuk surga abadi bukanlah keberuntungan, dan masuk neraka kekal bukanlah kecelakaan. Karena, ke surga itu pilihan dari tanggung jawab kita. Setiap kita harus menetapkan apakah kita mau masuk surga bersama dengan Allah, atau tidak. Sudah ada tanda-tanda, apakah seseorang masuk surga selama-lamanya atau masuk neraka selama-lamanya. Ada gejala-gejala yang tampak, dan gejala-gejala itu bukan Allah yang menciptakan atau memberi; kita yang membuat, kita yang melangkah dan memberi tanda, gejala itu, symptom itu, ciri itu, karakteristik itu.
    Bagaimanapun setiap kita harus memilih dan menentukan nasib kekal kita. Manusia adalah makhluk kekal dan harus menentukan nasib kekalnya. Orang yang mengabaikan fakta ini adalah orang bodoh yang tidak berakal. Dari keputusan, pilihan, dan tindakan-tindakannya tampak apakah orang itu menuju Kerajaan Terang atau kerajaan gelap. Hidup ini tidak bertepi, dan kita sedang melangkah menuju kehidupan yang tidak bertepi itu. Kehidupan yang tidak bertepi adalah realitas yang sangat dahsyat dan benar-benar menggetarkan; hidup yang tidak terbatas. Dan ini mengandung rahasia yang penting untuk dimengerti dan direnungkan, sampai kita akan mendapatkan pencerahan dari Allah. Seperti ada lampu yang menyala di kepala kita. Kalau selama ini kita masih melihat surga seperti bayang-bayang, nanti akan tampak jelas. Berangkat dari pemahaman tentang hidup yang tidak bertepi ini, kita menjalani hidup untuk menuju tempat yang nyaman yang tidak bertepi; tempat yang tidak bertepi, tapi yang nyaman. 
    Mau tidak mau—bersedia atau tidak—kita harus berada di salah satunya: kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Tidak ada seorang pun manusia yang dapat mengelak dari realitas ini. Apakah kita ada di kemuliaan kekal, atau kehinaan kekal? Kita semua sebagai makhluk kekal telah terperangkap oleh realitas ini, dan kita tidak dapat menghindarinya. Ini risiko, ini konsekuensi sebagai makhluk kekal. Banyak orang yang hatinya tidak tergetar oleh realitas bahwa dirinya makhluk kekal. Hal itu disebabkan karena telah dihanyutkan oleh berbagai kesenangan dunia dengan segala kesibukannya. Dan kuasa gelap memang berusaha agar manusia tidak menyadari bahwa dirinya makhluk kekal dan supaya manusia tidak memikirkan realitas kekekalan ini, sehingga hidupnya menjadi ceroboh, menjadi makhluk yang tidak bijaksana; padahal, bisa bijaksana dan bisa memiliki akal yang baik. Suasana dunia hari ini adalah suasana kehidupan dimana pada umumnya hampir semua manusia tidak mempersoalkan bahwa dirinya adalah makhluk kekal, dan tentu saja tidak mempersoalkan kekekalan sama sekali. Coba, di masyarakat, di tengah-tengah pergaulan, dalam percakapan-percakapan, apakah kekekalan disinggung-singgung? Sama sekali tidak.
    Segala sesuatu yang dilakukan manusia terfokus kepada dirinya sendiri, terfokus pada kehidupan sekarang di bumi ini, seakan-akan tidak ada kehidupan di dunia lain, seakan-akan manusia tidak akan mati, seakan-akan tidak ada kehidupan di balik kematiannya. Tentu orang-orang seperti ini juga tidak memikirkan adanya pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Tuhan nanti. Padahal, setiap kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita selama di bumi, dan semua kita pasti menghadap takhta pengadilan Allah. Ini juga mestinya menggetarkan kita. Tetapi kalau orang sudah hanyut dengan berbagai kesenangan dunia dan kesibukannya,
    0 min
  • Tantangan Hidup
    Kata “takdir” ini tidak asing bagi telinga kita, bahkan akrab di mulut banyak orang di sekitar kita. Kata “takdir” dalam pemahaman umum biasanya mendapat isi atau dimengerti sebagai penentuan Ilahi. Kata “takdir” juga biasanya disejajarkan maknanya dengan kata “nasib.” Kata “takdir” sangat populer di lingkungan orang-orang beragama, karena kata ini bertalian dengan “oknum” yang diakui sebagai berkuasa menentukan apa yang terjadi atas hidup masing-masing individu manusia secara mikro, dan atas alam kosmos (alam semesta) ini secara makro. Baik yang terjadi atas seseorang, maupun yang melibatkan alam semesta dan memengaruhi banyak orang, seperti misalnya bencana alam. Oknum yang menentukan segala peristiwa dalam kehidupan tersebut adalah Tuhan. Di balik kata “takdir,“ diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam segala kejadian atau peristiwa. Jadi, “takdir” dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Tuhan yang mutlak atau absolut. Sebelum suatu peristiwa terjadi, segala sesuatunya sudah ditentukan oleh Tuhan untuk berlangsung. Hal ini adalah pandangan yang tidak tepat! Dalam hal ini, Tuhan sekaligus berperan sebagai penulis cerita dan “ki dalang” yang mengatur setiap peran kehidupan dalam pentas panggung sandiwara. Lebih tegas lagi, bila kita objektif memandang hidup dengan kacamata ini, berarti Tuhan berlaku sebagai pengatur remote control, dan manusia menjadi robot yang hanya bisa dikendalikan oleh remote tersebut tanpa kebebasan kesempatan memilih suatu pilihan.
    Pemahaman di atas ini pada akhirnya bisa membangun pandangan bahwa pengertian dan pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Tuhan menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang akan ditemukan secara otomatis. Biasanya, pengakuan terhadap realitas takdir ini dianggap sebagai kesadaran akan kebesaran Tuhan, mengakui supremasi atau keunggulan Tuhan, menyadari bahwa manusia hanya hamba, manusia tidak boleh melawan apa yang Tuhan sudah tentukan. Penerimaan realitas takdir dianggap sebagai tanda pengabdian. Pada prinsipnya, umat hanya menerima saja dengan pasrah, tanpa memberontak atas apa yang dialaminya, sebab Tuhan yang menentukan. Umat dikehendaki untuk diam saja. Pasrah, diam, titik. Konsep ini tidak benar! Banyak orang berpendirian bahwa oleh karena Allah adalah Allah yang Mahakuasa, Allah yang tidak perlu diatur atau dinasihati oleh siapa pun, maka Ia tidak akan membuat kekeliruan dalam rencana-Nya, sehingga manusia sepatutnya hanya menerima apa saja yang Allah perlakukan tanpa memiliki pilihan. Pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik dan pasti terlaksana. Karena Alah adalah Allah yang tidak terbatas, bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat, maka kehendak dan rencana-Nya tidak dapat dibatalkan oleh siapa pun dan dengan kuasa apa pun. Jadi, apa pun yang dialami manusia adalah rancangan-Nya. Dengan kewenangan-Nya yang tidak terbatas, Allah bertindak secara absolut.
    Berpijak pada anggapan di atas, ini berarti manusia akan selalu diperhadapkan dengan keadaan yang tidak dapat ditolaknya. Konsep ini sekilas sangat luhur dan agung, akurat, dan Alkitabiah, tetapi konsep ini menghilangkan unsur kebebasan yang Allah telah taruh dalam diri manusia. Dengan demikian, menghilangkan tanggung jawab yang masing-masing individu harus pikul. Masalah yang bisa muncul kemudian adalah apakah manusia masih dianggap sebagai manusia yang berkualitas, bila dengan berkeadaan tanpa kehendak bebas untuk memilih dan bertanggung jawab atas segala tindakannya? Hendaknya kita tidak membela kebodohan kita dalam mengambil keputusan dengan alasan takdir. Dengan demikian, kita mencoba melemparkan atau memindahkan kesalahan yang kita lakukan kepada Tuhan. Kehidupan bukan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan tantangan yang menuntut keberanian dan tanggung...
    0 min
  • Tanggung Jawab Setiap Individu
    Selain Tuhan, tidak ada hal lain yang lebih dahsyat dari kekekalan. Kekekalan menunjuk sebuah masa yang tidak berdurasi. Dunia yang akan datang nanti adalah sebuah negeri yang berdurasi kekal. Satu hal yang menarik adalah ternyata suku-suku bangsa di dunia memiliki keyakinan bahwa di balik kehidupan di dunia ini, masih ada kesadaran atau kehidupan selanjutnya. Ini sebuah konsep universal. Walau konsep-konsep mereka agak kacau, bahkan kacau sama sekali, namun demikian dari tradisi-tradisi mereka tampak keyakinan adanya kehidupan di balik kematian. Rupanya manusia memiliki nurani yang bisa menyadari dan menghayati realitas kekekalan ini walau mereka tidak mengenal kebenaran Alkitab. Dalam hal ini, pada dasarnya atau prinsipnya, manusia adalah makhluk kekal (Ing. immortal).
    Kekekalan ini dahsyat, dan mestinya menggetarkan kita sampai bisa menggiring kita kepada perasaan krisis. Orang yang memercayai fakta kekekalan pasti berusaha untuk berdamai dengan Tuhan guna persiapan untuk kehidupan kekalnya. Banyak orang Kristen yang sebenarnya belum sepenuhnya meyakini adanya kekekalan. Realitas kekekalan inilah yang seharusnya membuat manusia menjadi gentar menghadapi hidup ini. Kegentaran yang mendorong manusia berlindung kepada Tuhan. Berlindung bukan karena masalah-masalah fana dunia. Kegentaran tersebut berangkat dari kesadaran bahwa pertaruhan hidup ini sangat mahal. Kalau orang main judi dengan taruhan kecil, maka perjudian tersebut tidak berisiko. Tetapi kalau taruhannya tinggi, maka permainan tersebut menjadi sangat berisiko. Hidup ini memuat pertaruhan yang sangat tinggi yaitu—kekekalan—surga kekal atau neraka kekal. Hal ini sungguh-sungguh menggetarkan. Tuhan mengajar orang percaya untuk memiliki kegentaran terhadap kenyataan ini, kenyataan adanya kebinasaan. Supaya sejak hidup di bumi, orang percaya sudah mempersiapkan diri menghadapi kekekalan sedini mungkin.
    Dengan keberadaannya sebagai makhluk kekal, manusia harus bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan-keputusannya. Kehidupan ini benar-benar sebuah keadaan yang berisiko tinggi, sebab manusia diperhadapkan kepada surga kekal atau neraka kekal. Dengan kesadaran terhadap fakta ini, seseorang lebih berhati-hati dalam mengarungi lautan kehidupan ini. Dengan memahami hal ini, seseorang cenderung tidak menjadi ceroboh. Nasib kekal manusia adalah pilihan dan tanggung jawab setiap individu. Setiap orang harus menetapkan apakah dirinya akan bersama dengan Tuhan dalam kekekalan, atau terbuang dari hadirat-Nya selama-lamanya di kegelapan abadi. Bagaimanapun, setiap orang harus memilih dan menentukan nasib kekalnya. Orang yang mengabaikan fakta ini adalah orang-orang bodoh yang tidak berakal. Sesungguhnya, sejak hidup di dunia ini sudah tampak gejala-gejala seseorang akan beroleh kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Dari keputusan, pilihan, dan tindakan hidup seseorang, tampak apakah ia menuju Kerajaan Terang atau kerajaan gelap yang kekal. Dengan demikian, harus diterima bahwa hidup ini tidak bertepi. Kehidupan yang tidak bertepi adalah realitas yang sangat dahsyat dan benar-benar menggetarkan.
    Kalau kita melihat berkat kekekalan, apa pun yang kita persembahkan untuk Tuhan hari ini, tidak ada artinya. Anugerah keselamatan luar biasa besarnya. Dia mengampuni dan menghapus kesalahan kita. Dia menyediakan Roh Kudus dan mau bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita rela memberi diri untuk diproses itu, karena kita makhluk kekal. Sangat mengerikan kalau kita sampai tidak mendapatkan bagian dalam kekekalan. Satu-satunya sumber yang harus kita percayai adalah Alkitab. Persepsi manusia yang tidak mengenal kebenaran, jangan kita percayai, jangan kita ikuti. Rata-rata, manusia di sekitar kita itu tidak menghayati kekekalan. Mereka bicara surga dan neraka, betul. Pendeta juga bisa bicara surga dan neraka, tapi perilakunya tidak menunjukkan bahwa dia percaya ada kekekalan.
    Hidup ini memang penuh misteri. Bukan hanya yang tidak kelihatan,
    0 min
  • Kesadaran Kekal
    Sejatinya, kematian bukanlah suatu hal yang mengerikan kalau kematian itu seperti orang tertidur, dan bersamaan dengan kematian tersebut, semua yang dijalani oleh manusia dianggap sudah selesai. Namun menjadi masalah, karena kematian tidak menghilangkan kesadaran manusia. Walaupun tubuh manusia mati dikubur, tetapi manusia masih memiliki kesadaran, dan kesadaran manusia itu kekal. Ini yang menjadikan persiapan menghadapi kematian harus dipandang serius. Maka, kita harus mengenal siapa manusia itu. Sebab, pengertian yang benar tentang manusia dan penghayatan yang penuh atas keberadaan sebagai manusia memengaruhi seluruh perilaku hidup seseorang. Namun, jika hanya pengetahuan secara kognitif, pengetahuan tentang manusia yang dimiliki tidak memberi pengaruh yang kuat terhadap perilaku hidupnya. Maka, kita harus mengenal kebenaran yang murni, bertumbuh di dalam kebenaran yang benar, dimana dibutuhkan pimpinan dan pencerahan Roh Kudus. Perlu diingat bahwa orang bisa belajar teologi tanpa Roh Kudus. Seorang yang beragama lain bisa sekolah di Sekolah Tinggi Teologi Kristen untuk bisa menyerap pengetahuan tentang Allahnya orang Kristen, termasuk antropologi Alkitab. Sangat bisa. Jadi, tanpa Roh Kudus pun orang bisa mengerti pokok-pokok ajaran di dalam Alkitab. 
    Tetapi kalau Roh Kudus memimpin seseorang—dan tentu disertai perjumpaan—maka pengetahuan tentang Allah yang benar dari orang yang haus dan lapar akan kebenaran tersebut akan berdampak atau mendesak orang itu memperagakannya. Jadi, orang yang bicara mengenai siapa dan bagaimana Allah dengan benar, memahami siapa dan bagaimana Allah dengan benar, maka pemahaman itu pun akan mendesak dia melakukan sesuatu. Demikian pula jika kita mengenal siapa manusia itu dengan benar, hal itu akan mendesak kita melakukan sesuatu. Seseorang yang mengenal dirinya dengan benar, pasti akan, pertama, menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan; artinya mengerti bagaimana seharusnya bersikap terhadap Tuhan, terhadap sesama, dan terhadap lingkungan kita. Ini yang mendasari kita membangun hubungan interpersonal dengan Tuhan; sebuah relasi interpersonal yang konkret, sebab itu akan berlanjut terus di kekekalan. Jadi, jangan kita merasa sudah cukup mengerti tentang siapa diri kita. 
    Kedua, ia dapat memperlakukan dirinya sendiri dan sesamanya dengan benar pula. Sebaliknya, orang yang tidak mengenal dirinya sendiri tidak dapat menghargai dirinya dengan benar pula. Hal ini sama artinya dengan tidak dapat mengasihi dirinya sendiri. Orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri tidak akan dapat mengasihi sesamanya secara benar, sebab landasan mengasihi sesama adalah mengasihi diri sendiri terlebih dahulu (Mat. 22:39). Orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri berarti tidak memanusiakan dirinya dengan benar. Ketiga, merupakan pijakan untuk menemukan maksud rencana Allah menciptakan manusia, yaitu untuk membinasakan pekerjaan Iblis; Lusifer. Mandat untuk menaklukkan bumi tentu bukan hanya aspek fisiknya, tetapi juga aspek metafisik. “Metafisik” di sini maksudnya adalah alam roh atau alam rohani yang memiliki peranan lebih besar dalam kehidupan, dimana terdapat oknum Iblis atau setan yang telah memberontak kepada Allah dan juga merupakan lawan yang tidak boleh dianggap remeh.
    Keempat, menjadi landasan hubungan antara Allah dan umat, antara manusia dan sesamanya, serta dengan alam ciptaan. Tanpa landasan hubungan yang benar ini, maka kehidupan menjadi rusak. Terakhir, ia akan mengelola alam ciptaan Tuhan sebagai sebuah tanggung jawab. Kalau hari ini bumi dan alamnya menjadi rusak, hal ini disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri yang tidak mengelola alam dan melestarikannya dengan bijak. Pada umumnya, manusia tidak memahami atau tidak mau mengerti bahwa tugas untuk mengelola alam ini juga menjadi tanggung jawabnya. Keserakahan manusia telah merusak ekosistem bumi ini dalam skala yang semakin besar. Jika hari ini banyak bencana alam, itupun disebabkan perbuatan manusia itu sendiri.
    0 min
  • Keturunan Allah
    Selama bertahun-tahun, para teolog Kristen menentang keras kalau ada usaha untuk mencoba menyejajarkan Allah dengan manusia. Memang benar, Allah tidak bisa disejajarkan dengan apa pun dan siapa pun, apalagi disejajarkan dengan ciptaan-Nya, seperti manusia. Tetapi sikap tersebut jangan sampai menjadi ekstrem sehingga gagal menempatkan manusia pada proporsinya. Manusia ditempatkan sekadar sebagai makhluk ciptaan yang tidak memiliki unsur keilahian sama sekali, seakan-akan sama dengan ciptaan Allah yang lain. Unsur keilahian artinya unsur-unsur yang ada pada Allah sebagai “Master Plan”-nya, unsur-unsur itu adalah kemampuan moralnya. Alkitab jelas menunjukkan bahwa manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Pernyataan ini sendiri sudah memberi indikasi bahwa pasti ada unsur-unsur yang ada pada Allah, juga ada pada manusia. Dalam Alkitab dikatakan bahwa Adam adalah anak Allah (Luk. 3:38). Lebih tegas dan kontroversi lagi, Paulus menyatakan bahwa manusia adalah keturunan Allah (Kis. 17:28-29). Kata “keturunan” dalam teks aslinya adalah genos (ένος) (Ing. offspring, race, stock, descendants); kata yang sama digunakan untuk pengertian keturunan secara umum. Pernyataan ini bukan bermaksud meninggikan derajat manusia dan melecehkan Allah. Paulus sendiri yang kita percayai memiliki karunia untuk menyampaikan pesan Allah pun menyatakan demikian.
    Pernyataan Paulus ini bukan tidak berdasar. Sebab, kalau kita memperhatikan kisah penciptaan manusia, maka kita dapati bahwa “roh” manusia bukanlah sesuatu yang berasal dari sumber lain. Roh manusia bukan diciptakan, tetapi “dikeluarkan” dari dalam diri Allah. Jadi roh manusia adalah roh yang berasal dari Allah sendiri. Roh manusia tidak bisa dikatakan diciptakan, sebab keluar dari diri Allah ketika Allah menghembuskan nafas-Nya (Kej. 2:7). Tentu saja ketika Allah menghembuskan “sesuatu” tidak perlu menarik nafas terlebih dahulu. Dalam hal ini, berarti ada sesuatu yang berasal dari dalam diri Allah mengalir keluar. Itulah sebabnya dikatakan dalam Yakobus 4:5 bahwa roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu. Ia menghendaki roh manusia, sebab roh itu milik-Nya. Dalam Ibrani 12:9 dikatakan bahwa Allah adalah Bapa segala roh, artinya semua roh yang ada berasal dari Dia, termasuk roh manusia berasal dari Allah Bapa. Itulah sebabnya pula dengan tegas Alkitab menyatakan bahwa orang percaya adalah “manusia Allah.” Maksudnya “manusia Allah” di sini bukan berarti manusia sejajar dengan Allah atau bisa menjadi Allah, tetapi manusia bisa memiliki karakter atau moral seperti Allah yang adalah Bapanya.
    Dengan demikian, bisa dimengerti kalau Allah Bapa rela memberikan Putra Tunggal-Nya. Hal tersebut jelas menunjukkan seakan-akan nilai jiwa manusia seharga dengan nilai Putra Tunggal-Nya. Nilai Putra Tunggal-Nya tak terhingga, sebab Dia adalah anak Tunggal-Nya. Dalam hal ini, seakan-akan demi menyelamatkan manusia, Allah Bapa memberikan diri-Nya sendiri. Sehingga, betapa mahal harga keselamatan yang Tuhan berikan tersebut. Itulah sebabnya kita tidak boleh menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar (Ibr. 2:3). Dengan memahami hal ini, maka seseorang dapat menghargai dirinya sendiri dengan benar, sebab menyadari betapa mulia dirinya itu. Itulah sebabnya kita tidak boleh membuat diri merasa berharga karena faktor lain (kedudukan atau pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, popularitas, dan lain sebagainya). Kita berharga sebab memang kita bernilai tinggi sebagai keturunan Allah sendiri. Banyak orang menghargai diri secara salah yang berakibat justru menyia-nyiakan hidupnya. Pada umumnya, manusia menghargai diri dengan membuat dirinya dihormati orang lain.
    Kalau seseorang sudah tidak menghargai dirinya secara benar dan mengalihkan penghargaan kepada hal-hal lain, maka ia tidak pernah mengenal keselamatan yang Tuhan berikan. Pernyataan dalam Yohanes 1:12 sama maknanya dengan Yohanes 10:10, bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberi hidup agar manusia memiliki hidu...
    0 min
  • Menikmati Keindahan Tuhan
    Keindahan Tuhan hanya bisa dihayati oleh orang-orang yang benar-benar telah melepaskan dirinya dari kesenangan apa pun, dari percintaan dunia ini. Jadi, pengertian, pengetahuan, dan persetujuan kita belum pasti membuat kita benar-benar mengalami, menikmati, menghayati keindahan Tuhan itu. Sebab, keindahan Tuhan hanya dapat dinikmati oleh mereka yang benar-benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan dan tujuan hidup. Sangat sedikit orang yang memiliki prinsip dan langkah seperti ini, bahwa Tuhan itu satu-satunya kebahagiaan, satu-satunya tujuan hidup. Pada umumnya dan hampir semua orang, telah terikat oleh percintaan dunia, terikat oleh kesenangan dunia, dan berbagai hal yang menurut dirinya membuat ia bahagia dan lengkap.
    Ini yang harus diwaspadai. Semakin seseorang memuaskan kesenangannya, semakin ia menumbuhkan “monster” dalam dirinya; satu monster – satu kesenangan; dua monster – dua kesenangan; tiga kesenangan – tiga monster; dan seterusnya. Kalau bukan Tuhan yang menjadi kebahagiaan dan kesenangan kita, kita membuat atau membangun monster. Semakin memuaskan monster itu, semakin kuat dia. Jadi, jangan kita berkata: “Sekali ini saja, nanti tidak lagi.” Sekali kita memberi umpan kepada monster itu, dia semakin kuat dan terus meningkatkan cengkeramannya dalam hidup seseorang, sampai seseorang itu tidak bisa lepas lagi. Ini mirip dengan orang-orang yang adiktif atau kecanduan. Ternyata, kesenangan-kesenangan hidup ini yang telah menggeser selera kita dalam menikmati Tuhan.
    Itulah sebabnya Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya, dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Ayat ini secara tidak langsung mengemukakan bahwa lebih dari segala sesuatu yang dapat kita peroleh dan miliki di dunia ini, tetap ada dalam persekutuan dengan Allah adalah satu-satunya yang kita butuhkan. Keterpisahan dengan Allah adalah kematian kekal. Kita harus memandang ini sebagai satu-satunya ancaman dalam hidup. Tidak ada yang boleh dianggap sebagai suatu ancaman dalam realitas hidup ini, selain terpisah dari Allah. Kalau orang menganggap ada ancaman lain selain dari Allah, tidak mungkin dia sepenuh hati memberikan hidupnya kepada Tuhan. Tidak mungkin, karena ia pasti masih menyisakan sesuatu untuk yang dia takuti.
    Kalau seseorang tidak takut terhadap kenyataan keterpisahan dengan Allah, ia juga tidak memiliki perasaan takut secara proporsional kepada Allah. Walaupun kelihatannya dia santun, beretika, orang Kristen yang baik, mungkin juga seorang aktivis gereja atau pendeta. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak takut terhadap realitas keterpisahan dari Allah ini. Mereka lebih takut kepada banyak hal lain, sehingga demi segala kepentingan dan kesenangan, mereka mengorbankan perhatian yang seharusnya diberikan untuk perkara-perkara rohani, guna menjadi anak-anak Allah dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Kalau seseorang tidak membiasakan diri untuk simulasi di hadapan Allah, akhirnya pasti di ujung maut pun tidak pernah memiliki perasaan takut yang benar. Baru nanti di hadapan pengadilan, bergetar hebat. Hingga akhirnya, terbuang ke dalam kegelapan abadi, baru menyadari betapa agung, mulia, besar, kudus, dahsyat Allah itu. Baru menyesal, mengapa ketika di dunia tidak menghormati Dia, tidak mengasihi Dia, tidak takut akan Dia, dan tidak membela Tuhan segenap hidup. Bahkan jadi pelayan Tuhan, jadi pendeta pun hanya karena nafkah dan rezeki.
    Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa memiliki Allah, sumber segala keindahan itu? Kita tidak pernah memiliki Allah sampai kita dimiliki oleh Dia sepenuhnya. Dimiliki Allah sepenuhnya artinya hidup sepenuh untuk kepentingan-Nya. Tetapi, Allah tidak memaksa. Kalau seseorang masih berkeras memiliki dirinya sendiri—berarti memberi diri kepada pihak lawan atau pihak musuh—Allah membiarkan. Namun, tentu saja Allah akan memberi peringatan-peringatan sebelumnya. Jadi,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…