Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Jangan Merasa Betah
    Seperti apa yang dikatakan oleh Tuhan kita Yesus Kristus di dalam Yohanes 17:16 bahwa “kamu bukan berasal dari dunia ini,” karenanya kita tidak boleh merasa betah di dunia. Saya kira, kita sama; orang-orang yang pernah betah di dunia. Mungkin sebagian kita juga masih betah di dunia. Kita harus tidak merasa betah hidup di bumi ini karena kita bukan dari dunia ini. Untuk bisa merenungkan, menghayati, dan benar-benar menerima hal ini sehingga kebenaran ini mencengkeram jiwa kita, kita yang harus memaksa diri. Kita harus perintahkan seluruh saraf-saraf kita untuk menghayati bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Inilah yang membuat kita lebih bisa meninggalkan hal-hal yang tidak patut. Lebih bisa hidup suci, lebih bisa mengampuni orang, menerima orang lain, tidak membalas dendam, dan bisa lebih kokoh, tabah menghadapi segala keadaan dan kesulitan hidup. Tetapi terutama, kita bisa lebih benar-benar berkemas-kemas pulang ke surga. 
    Seperti bangsa Israel yang dituntun Tuhan keluar dari Mesir ke Kanaan; kita dituntun Tuhan keluar dari “Mesir dunia” ini ke langit baru bumi baru. Ini bukan hal yang mudah, karena kita punya alam berpikir yang sudah lama rusak. Tetapi oleh Firman yang kita dengar, dan ketegasan hati kita yang memerintahkan saraf-saraf kita untuk mengakui bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, kita bisa menghayatinya dan kita bisa benar-benar merenungkannya, sampai kita tercengkerami oleh kebenaran bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Dunia kita makin sulit. Kalau kita benar-benar memfokuskan diri pada perjalanan pulang ke surga, Tuhan pasti melancarkan jalan kita. Hal-hal yang mengganggu pertumbuhan iman kita, akan disingkirkan. Hal-hal itu bukan saja kesulitan, melainkan juga kenyamanan. Tuhan membuat kenyamanan kita diambil sehingga kita tidak nyaman. Supaya, dengan tidak nyaman itulah kita memandang Tuhan.
    Sebagian besar kita mengalami dimana ketika kita punya komitmen untuk berkemas-kemas pulang, Allah membuka jalan untuk benar-benar tidak ada hambatan. Yang menghambat bukan saja kesulitan, melainkan juga kekayaan, kenyamanan. Jadi, kadang-kadang Tuhan membuat hidup kita jadi sulit. Itu bukan karena Tuhan mau mempersulit kita, tetapi Tuhan tahu bahwa dengan kesulitan itu, kita dibuat-Nya untuk lebih fokus ke langit baru bumi baru. Ini luar biasa. Jadi, dengan kesulitan hidup itu, kita dibawa Tuhan ke langit baru bumi baru. Kita bersyukur kalau Tuhan izinkan kita harus mengalami banyak kesulitan, dan melalui kesulitan itu, justru kita mendapat jalan lebar untuk pulang ke surga. Saya mengalami bagaimana Tuhan menekan saya dengan banyak masalah, kekecewaan, kepedihan hati, tetapi itu yang membuat saya semakin melangkah mantap! 
    Mengapa Tuhan tidak membuat semua masalah dan kesulitan kita selesai dengan mudah? Mengapa Tuhan mengizinkan kita punya persoalan ini? Beban ini? Ternyata, hanya supaya kita tidak betah! Sementara kita melakukan pekerjaan Tuhan di bumi, kita tidak boleh menjadikan pekerjaan itu—apakah itu pekerjaan gereja atau non-gereja—sebagai kebahagiaan untuk mencapai kesenangan-kesenangan pribadi. Semua harus kita berikan untuk kemuliaan Tuhan. Ini merupakan hal yang sulit sekali bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang beruang. Sulit, karena biasanya dengan uang dan harta itu, mereka bisa terbang tinggi semau mereka, dan mereka bisa mencapai apa yang mereka mau dapatkan di bumi ini dengan segala kesenangannya. Tetapi, kita pun punya sayap lain yang terbang ke arah yang berbeda, yaitu ke langit baru bumi baru.
    Bulatkan tekad kita untuk mengenakan prinsip ini dalam kehidupan kita yang singkat di bumi ini. Bumi ini bukan rumah kita; kita bukan berasal dari dunia ini. Kehidupan kita yang sesungguhnya ada di langit baru dan bumi yang baru. Untuk itu, mari paksa diri kita untuk menghayati dan mengenakannya. Jangan sampai kita menunda, hingga akhirnya terlambat dan menyesal. Mumpung masih ada denyut nadi, detak jantung, kita berubah.
     
    0 min
  • Menjaga Perasaan Bapa
    Firman Tuhan dalam Lukas 12:5 mengatakan, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh tetapi lebih takutlah akan Tuhan yang bukan saja berkuasa membunuh tubuh tetapi juga membuangnya ke dalam neraka,” mestinya kita memperhatikan hal ini dengan serius. Di bagian lain di dalam Injil Matius 10:28, juga mengatakan hal serupa: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Ketika seseorang lebih takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh tapi tidak takut kepada apa yang dapat membunuh jiwa, ia pasti tidak menghormati Tuhan. Yang dapat membunuh tubuh adalah kemiskinan, kelaparan, kecelakaan, bencana, wabah penyakit, dan lain-lain. Itu memang menakutkan; bukan tidak menakutkan. Tetapi, mestinya kita lebih takut Allah. Dan kalau seseorang lebih takut Allah, ia pasti menghormati Allah. 
    Sejujurnya, kita ini sering lebih takut menjadi miskin, tidak tehormat, takut tidak punya barang ini, tidak punya barang itu, takut tergeser kedudukannya, takut tidak dihormati, takut tidak memiliki pamor, takut tidak memiliki prestise, takut tidak dianggap penting, takut kena wabah, takut kena penyakit, takut ini, takut itu. Memang kita harus betul-betul serius menjaga diri, bertanggung jawab, tidak boleh ceroboh. Tetapi, kita mestinya tidak terbelenggu oleh ketakutan. Kita mesti belajar pasrah. Makanya kalau orang takut akan Allah dengan benar, dia akan menghormati Allah dengan benar, bisa hidup suci dengan benar, bersedia mengabdi kepada Tuhan dengan benar, berusaha menyenangkan hati Allah dengan apa pun yang dia miliki, dan kematian fisik tidak menakutkannya lagi. Mestinya standarnya begitu. Itulah sebabnya, kita tidak henti-hentinya mengampanyekan, “Ayo, kita hidup suci.” Itu sama dengan, “Mari, takutlah akan Allah lebih dari kepada siapa pun dan apa pun.”
    Memang tidak mudah untuk hidup takut akan Allah, mengapa? Karena Allah tidak kelihatan dan sering seakan-akan tidak ada. Dan ketika kita berbuat sembarangan, hidup sembarangan, seakan-akan Allah juga tidak terganggu dan tidak berbuat apa-apa. Itu yang membuat kita malah merajalela, membuat kita suka-suka sendiri, jadi kurang ajar. Jujur saja, itu yang sering kita lakukan. Kita tidak menjaga perasaan Tuhan, karena Tuhan dianggap tidak ada atau kurang ada; padahal Dia hidup. Dan sebagai orang percaya, kita yang menerima Roh Kudus dalam diri kita, pasti Allah beserta kita. Dan sejatinya, setiap tindakan kita membangkitkan reaksi perasaan Allah. Tetapi, kita ini memang sering kali menganiaya perasaan Tuhan tanpa kita sadari. 
    Seperti yang sering saya katakan, “Allah yang senyap itu.” Tetapi, kita mau menghormati Allah, kita mau takut akan Allah. Mari, kita kampanyekan untuk hidup dalam takut akan Allah. Itu akan memberi kita motivasi yang sangat kuat untuk benar-benar berurusan dan berperkara dengan Tuhan. Sebenarnya, tidak ada hal yang lebih menakutkan daripada realitas kekekalan. Apakah surga kekal atau neraka kekal, itu mengerikan. Terkait dengan itu, yang mestinya yang paling dahsyat dan mengerikan adalah Allah! Dimana bagi orang yang tidak mau hidup dalam kekudusan, orang yang tidak mau hidup dalam kesucian, ini mengerikan. Allah menjadi dahsyat mengerikan negatif, tetapi bagi kita, Allah itu dahsyat mengerikan positif. Karena kalau kita takut akan Allah dengan sungguh-sungguh sejak di bumi, kita akan melihat kemuliaan Allah yang dahsyat; kita tidak gemetar ketakutan, tetapi kita akan dalam kegentaran hormat kepada Dia. Beda dengan orang-orang yang hidupnya sembarangan hari ini dan tidak menghormati Allah. Ketika nanti dia di kekekalan, dia baru gemetar ketakutan karena memang dia tidak menghormati Allah. 
    Kita mau mengakhiri sisa umur hidup kita dengan baik. Kita tidak boleh lagi tenggelam atau hanyut dengan masalah-masalah fana dunia dengan hal-...
    0 min
  • Mengkhianati Diri
    Hidup ini adalah pilihan. Pasti setiap kita sudah tahu dan mungkin kita sendiri telah mengucapkannya, bahwa hidup ini adalah pilihan. Mengerti dan menerima bahwa hidup adalah pilihan bukan berarti kita pasti memilih apa yang benar. Jadi, jangan merasa kalau kita sudah mengerti dan mengakui hidup ini adalah pilihan, lalu otomatis kita sudah ada di dalam pilihan yang benar. Ini sama dengan orang yang merasa rohani, sudah hidup di dalam apa yang diucapkannya ketika ia mengerti apa yang diucapkan dan menerima apa yang dia ucapkan, tapi belum tentu melakukan. Misalnya, seorang pengkhotbah yang mengerti suatu kebenaran dan menerima kebenaran itu, ia mengucapkan dan mengajarkannya. Tetapi apakah ia pasti telah mengenakan kebenaran itu secara konkret di dalam hidupnya? Sering sekali kita tidak sadar bahwa apa yang kita mengerti dan kita terima, sebenarnya belum kita bunyikan di dalam hidup kita, belum kita terjemahkan di dalam perilaku kita.
    Hidup ini adalah pilihan. Salah satu pilihan kita dan mungkin harus dikatakan sebagai satu-satunya pilihan kita adalah Tuhan. Itu jelas. Semua kita juga pasti sudah setuju dan mengakui hal ini. Tetapi, bagaimana kita menerapkan sebuah kehidupan yang memilih Tuhan? Kalau kita memilih Tuhan, maka hal itu tidak cukup dibuktikan dengan menjadi orang Kristen, berdoa, melakukan ibadah, bahkan sekali pun kita setiap pagi berdoa atau aktif dalam pelayanan; itu bukan berarti sudah memilih Tuhan. Kita disebut memilih Tuhan kalau kita memilih jalan-Nya. Dan jalan yang Tuhan tawarkan kepada kita itu adalah jalan Yesus; jalan hidup yang dijalani oleh Anak Tunggal Bapa, yang memang adalah standar model anak manusia yang Bapa kehendaki. Dan itulah keselamatan; yaitu proses atau usaha Allah mengembalikan manusia ke rancangan-Nya yang semula. 
    Kalau kita memilih Tuhan, berarti kita memilih jalan Tuhan, yaitu mengikuti jejak Yesus. Untuk itu, tidak bisa tidak, kita harus menyangkal diri. Banyak ayat Firman Tuhan di Perjanjian Baru yang menulis hal menyangkal diri. Kata “menyangkal diri” dapat kita ganti dengan kalimat lain yang maknanya tidak berubah, yaitu “mengkhianati diri.” Kita harus berani kejam terhadap diri kita sendiri. Kita harus berani mengkhianati diri kita sendiri. Menyangkal diri atau mengkhianati diri artinya bersedia untuk tidak menuruti keinginan diri sendiri, tepatnya membuang semua naluri kemanusiaan kita yang telah rusak oleh karena dosa, dan mengikuti naluriah rohani atau naluriah ilahi supaya kita menjadi manusia Allah (man of God), dan Yesuslah model kita. Sehingga, kita bisa berkata bahwa “Aku sudah mati dan hidupku tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Dan juga kita bisa berkata, “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”
    Salah satu proses ketika kita mengkhianati diri sendiri adalah bersedia untuk tidak mengingini apa yang kita ingini, dan bersedia mengingini apa yang tidak kita ingini. Hidup suci itu tidak kita ingini, sebab daging kita tidak suka, jiwa kita tidak suka. Misalnya, ketika kita disakiti seseorang, jiwa kita mau membalas, tetapi kita harus mengingini untuk tidak membalas. Juga keinginan-keinginan daging kita harus dimatikan. Kita mengingini apa yang tidak kita ingini. Kita tidak mengingini apa yang seharusnya kita ingini. Sebab, kita mengingini kehendak Allah, kesucian Allah; yang itu sulit, itu berat, itu menyakitkan. Tetapi kita harus berani menyangkal diri, mengkhianati diri kita sendiri. Ini yang benar. Kita yang serius mengkhianati diri untuk hidup dalam kekudusan dan kesucian, akan merasakan betapa sulitnya, jatuh bangun-jatuh bangun. Sampai kita bisa marah dan berkata kepada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang sedang saya lakukan? Untuk apa semua ini?” 
    Tetapi itu proses yang harus kita jalani, dan akhirnya nanti kita bisa menindas, membungkam, membuat tidak berdaya, bahkan mematikan semua keinginan dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Baik itu keinginan dalam jiwa,
    0 min
  • Catatan Hidup
    Tuhan pasti tahu siapa yang benar-benar telah memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga, dan yang belum. Coba kita bayangkan, bahwa hari ini di surga sudah ada catatan hidup dari nama orang-orang yang sudah memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Orang-orang yang hidupnya pasti memikat hati Allah, memikat hati Bapa di surga. Ini adalah perjuangan yang tidak mudah. Mengucapkannya mudah, tetapi melakukannya tidak mudah. Sampai hari ini pun, saya sedang berjuang. Jika masing-masing kita menilai, berapa kira-kira nilai yang Tuhan berikan atas kualitas hidup kita selama ini? Rasanya belum ada di antara kita yang telah mencapai angka 100. Tapi, makin hari nilai hidup kita harus makin meningkat, makin tinggi, sampai kita benar-benar dapat nilai 100 atau A. 
    Memindahkan hati ke Kerajaan Surga itu tidak mudah. Benar-benar tidak mudah, biar pun bagi seorang pendeta. Hanya Tuhan yang tahu memang, apakah kita sudah memindahkan hati di Kerajaan Surga atau belum. Tetapi, kita sendiri juga mestinya bisa merasakan seberapa jauh kita telah memindahkan hati di Kerajaan Surga. Dalam Matius 6:21, Firman Tuhan mengatakan, “Di mana ada hartamu di situ hatimu berada.” Kalimat ini diawali dengan pernyataan Tuhan Yesus di ayat 19-20, “Kumpulkan harta di surga bukan di bumi.” Jelas sekali pernyataan Tuhan itu! Padahal, dari kecil kita telah terdidik oleh nenek moyang yang diwarisi orangtua, lalu kita juga ikut mewarisi bahwa hidup terfokus kepada dunia ini, dan semua hanya berorientasi pada kefanaan. Namun setelah kita mengenal kebenaran, kita harus mengubah cara berpikir kita. Kita harus memindahkan hati di surga, artinya kita tidak boleh terikat oleh apa pun sehingga kita merasa keberatan kalau kehilangan sesuatu tersebut. 
    Tentu kita harus menjaga apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Tetapi, bukan berarti lalu kita tetap terikat, dan kita merasa bahwa hidup ini satu-satunya kesempatan untuk menikmati kebahagiaan, seakan-akan di bumi ini satu-satunya kesempatan untuk hidup. Padahal, hidup yang sesungguhnya dirancang oleh Allah itu nanti. Artinya, setelah manusia jatuh dalam dosa, bumi terhukum, bumi terlaknat. Maka, kita hidup di dunia ini hanya untuk persiapan kehidupan di langit baru bumi baru dimana Tuhan merancang sempurna seperti penciptaan awal dulu. Inilah yang mestinya benar-benar kita pahami dan kita juga benar-benar mengambil keputusan untuk itu; memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Jadi, hidup di bumi ini bukan satu-satunya kesempatan menikmati kebahagiaan. Justru di bumi ini tidak ada kebahagiaan yang benar. 
    Kalau pun ada, hal itu akan berakhir pada api kekal. Kalau pun ada dan memang ada kebahagiaan oleh dunia ini—oleh gelar, pangkat, kehormatan, dan semua pemuasan nafsu—hal itu tidak akan membuat kita hidup. Sebaliknya, membuat kita mati; kematian kedua, yaitu di dalam api kekal, terpisah dari Allah. Kita memilih untuk memiliki kehidupan yang akan datang. Karenanya, kita harus berjuang. Langkah pertama adalah melepaskan semua keinginan kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Ini yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai kehilangan nyawa. Tetapi kita akan memperoleh nyawa nanti, di langit baru bumi baru. Tetapi kalau kita masih terikat dengan segala kesenangan dan kita keberatan untuk melepaskannya, kita malah tidak akan memperoleh nyawa; kita kehilangan nyawa. Artinya, setelah mati, dibuang ke dalam api kekal! Jangan sampai hal itu terjadi di dalam hidup kita. 
    Karenanya, di setiap saat kita berkemas-kemas. Bukan hanya dengan perkataan, melainkan dengan perbuatan, dengan sikap, dengan langkah, dengan komitmen yang bulat, kita memindahkan hati kita di dalam Kerajaan Surga. Coba masing-masing kita bertanya kepada diri sendiri dan perkarakan di hadapan Allah, apakah kita sudah memindahkan hati di dalam Kerajaan Surga? Apakah kita memiliki catatan hidup yang menyenangkan hati Bapa di surga karena kita telah memindahkan hati di Kerajaan Surga? Untuk hal yang satu ini,
    0 min
  • Berjaga-jaga
    Menyadari bahwa kita hidup di dunia yang semakin jahat dan tidak menentu, akan membangkitkan sikap berjaga-jaga yang benar. Tapi bagaimana kita harus berjaga-jaga dalam hidup? Langkah-langkah apa sebagai sikap berjaga-jaga itu sebenarnya? Langkah pertama, kita harus menyadari bahwa kita ini hidup di dunia yang sudah rusak, sudah jatuh; jadi, jangan mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Walau demikian, kita masih bisa menikmati sukacita dan kebahagiaan di dalam Tuhan. Dengan apa pun, kita bisa merasa bahagia dan cukup. Memang ini bukan hal yang mudah. Mengucapkannya sangat mudah, tetapi melakukannya sangat sulit. Tetapi ini yang harus kita lakukan. Dunia bukan tempat hunian yang nyaman. Dalam hidup ini, yang kita tunggu hanya: pertama, persoalan; pasti ada masalah. 
    Yang kedua, menyadari adanya sakit-penyakit, pasti ada sakit-penyakit. Dan saat ini banyak di antara kita yang dalam keadaan tegang, cemas, susah, karena orang yang kita kasihi sakit atau kita sendiri yang sakit. Lalu yang ketiga, yang kita tunggu kematian; kematian kita, juga kematian orang-orang di sekitar kita. Makanya harus ingat ini: dunia bukan tempat hunian yang nyaman. Kita hidup di dunia yang sudah jatuh. Oleh sebab itu, kita harus mempersiapkan diri untuk hidup di kehidupan yang Allah telah sediakan di langit baru bumi baru. Untuk itu, kita harus hidup benar. Benar-benar benar, benar-benar suci, benar-benar tidak bercacat, benar-benar tidak bercela. Ironis, banyak orang yang sibuk dengan kehidupan duniawinya. Sementara di lingkungan gereja, para teolog sibuk menalar Allah dalam doktrin dan teologi. Bukan salah. Tetapi hal utama dalam hidup sampai tidak diutamakan, yaitu kesucian hidup. Menyedihkan. 
    Para pendeta sibuk dalam pelayanan, bagaimana mengembangkan sayap gerejanya dan menegakkan pelayanannya. Di dalamnya, banyak agenda pribadi yang terselubung, dan mereka diliciki oleh dirinya sendiri. Mereka menganggap itu pelayanan, pengabdian kepada Tuhan, tetapi sejatinya itu adalah nafkah, harga diri, prestise hidup mereka, bahkan bisa juga uang. Selanjutnya, mereka akan terjebak dalam urusan-urusan organisasi yang penuh intrik dengan berbagai intrik politik di dalam organisasi. Lalu bagi orang yang memiliki banyak uang, mereka merasa diri sudah melayani dengan membuka gereja, membangun persekutuan, membuat panti jompo, dan membuat kegiatan-kegiatan pelayanan sosial. Bukan tidak boleh, itu agung, mulia. Namun, apakah sudah benar-benar melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan? Kalau jujur kita melihat, kurang hebat apa organisasi-organisasi dari gereja-gereja yang besar itu? Namun, jadi apa jemaat-jemaatnya? Jadi apa pendeta-pendetanya? Lihat adanya keributan-keributan dalam sinode, kok masih tidak mau mengerti? Kadang-kadang kita hanya bisa diam, bingung, tidak tahu harus buat apa. 
    Bagi kita yang mau hidup suci, rasanya sudah setengah mati berjuang untuk dapat berkeadaan berkenan di hadapan Allah. Dan itu mustahil dengan kekuatan kita sendiri. Maka, perlu campur tangan Allah. Namun dari pihak manusia, kita harus sungguh-sungguh maksimal berusaha untuk hidup suci. Karena dunia ini bukan tempat kita yang nyaman, Allah menyediakan dunia yang akan datang. Dan sekarang adalah saatnya bagi kita untuk bersiap-siap, agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga; harus benar-benar hidup tidak bercacat tidak bercela. Di atas semuanya, kita berjalan dengan Allah dan menikmati damai sejahtera Allah di tengah-tengah segala keadaan. Nanti tiba waktunya dimana masalah datang, usaha berat, bahkan sampai bangkrut, sakit, lalu satu per satu orang yang kita kasihi meninggal dunia. Hidup ini hanya begitu saja.
    Namun, jika kita menghayati bahwa dunia memang bukan tempat kita untuk menikmati kebahagiaan, kita akan mengerti bahwa kebahagiaan kita hanya ada di dalam Tuhan. Dan kita memercayai bahwa kehidupan yang sesungguhnya yang Allah sediakan, nanti di langit baru bumi baru. Maka, kita pasti akan berjuang untuk hidup suci,
    0 min
  • Meratap
    Dalam perjalanan hidup ini, pasti kita pernah meratap kepada Tuhan; meratap karena berbagai masalah hidup. Juga seperti saat ini, banyak orang ketakutan sampai benar-benar paranoid—seperti orang sakit jiwa dan memang sakit jiwa—karena takut terpapar COVID-19. Apalagi kalau mereka memiliki penyakit bawaan (komorbid) atau kelemahan fisik tertentu, maka hal terpapar COVID-19 seakan eksekusi hukuman mati, sehingga orang meratap. Atau karena masalah anak, masalah rumah tangga, atau masalah hukum yang bisa mengancam nyawa dan mengancam dirinya sehingga bisa masuk penjara belasan tahun atau bahkan puluhan tahun, orang meratap kepada Tuhan. Ada saat-saat dimana kita ada di dalam keadaan yang sulit dan kita meratap kepada Tuhan, kita berseru kepada Tuhan. Saat seperti itulah kita bisa merasakan apa artinya membutuhkan atau memerlukan Tuhan. Tetapi setelah melewati persoalan-persoalan yang mengancam hidup, kita tidak lagi melekat kepada Tuhan seperti ketika ada dalam masalah. 
    Ini adalah kelicikan. Banyak orang licik. Mereka berurusan dengan Tuhan pada saat atau ketika dalam masa-masa krisis saja. Orang seperti ini adalah orang yang oportunis; orang yang memanfaatkan Tuhan. Sejatinya, Tuhan lebih dari sekadar bermanfaat. Tuhan itu segalanya dalam hidup kita. Jadi, pada saat kita tidak memiliki masalah, mestinya kita sudah mencari wajah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sebab, yang kita butuhkan itu Tuhan. Jadi, entah kita punya masalah atau tidak, entah kita sakit atau sehat, kita ada dalam ancaman atau tidak dalam ancaman, kita dalam satu persoalan atau tidak menyangkut masalah fana dunia; Tuhan adalah objek pencarian kita. Kita sangat-sangat-sangat membutuhkan Dia. Sebab, Tuhan adalah kehidupan kita; seperti nafas hidup kita. 
    Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, banyak orang berebut oksigen. Betapa berartinya oksigen bagi yang terpapar COVID-19 dan mengalami kesulitan bernafas. Ada yang mencari tabung oksigen sampai melakukan pelanggaran hukum, seperti berita yang dilansir di salah satu televisi swasta. Ada sekelompok orang yang tak dikenal masuk ke rumah sakit mau meminjam atau meminta oksigen, lalu petugas rumah sakit tentu tidak memberikan karena oksigen itu dibutuhkan di rumah sakit. Petugas rumah sakit itu lalu dianiaya, dan tabung oksigennya diambil. Mengapa orang-orang itu sampai nekat berbuat demikian? Karena demi nyawa orang yang mereka cintai. Tuhan itu seperti oksigen hidup kita. Artinya, kebutuhan mutlak yang harus kita miliki. Tanpa oksigen, tubuh jasmani kita mati. Tetapi nyawa kekal kita, roh kekal kita, kesadaran abadi kita membutuhkan oksigen yang membuat kita hidup di dalam kemuliaan kekal bersama Tuhan Yesus.
    Orang yang benar-benar menjadikan Tuhan sebagai kebutuhan satu-satunya, tidak mungkin berani berbuat dosa. Kalau berbuat salah atau menyimpang sedikit saja, dia akan segera membereskannya di hadapan Tuhan. Karena, hubungan yang tidak harmoni dengan Tuhan adalah siksaan yang menyakitkan. Kalau kita melakukan kesalahan, kita betul-betul merasa terpukul. Orang yang benar-benar membutuhkan Tuhan pasti hidup suci. Lalu selanjutnya, dia pasti bisa menembus perasaan takut. Memang tidak bisa dipungkiri adanya perasaan takut atau cemas ketika kita menghadapi persoalan berat. Coba hampiri Allah. Percayalah akan kebijaksanaan-Nya. Apa pun yang terjadi, semua ada dalam kontrol Allah yang sempurna. Allah yang mengasihi kita, yang kita butuhkan, dan kita tinggal di dalam Dia. Ayo, kita meratap membutuhkan Tuhan karena Tuhan sendiri. Jadi, kalau untuk masalah fana kita datang dan meratap kepada Tuhan, terlebih lagi untuk kesucian hidup, kita harus sungguh-sungguh mendekat dan meratap kepada-Nya.
     
    Kalau untuk masalah fana kita datang dan meratap kepada Tuhan, terlebih lagi untuk kesucian hidup, kita harus sungguh-sungguh mendekat dan meratap kepada-Nya.
    0 min
  • Terpaksa
    Jika kita perhatikan, ada orang-orang yang kalau sudah dalam keadaan terdesak, barulah dia berurusan dengan Tuhan. Seperti ketika terkena COVID-19—baik dirinya sendiri atau orang yang dia kasihi—atau ketika jatuh bangkrut, atau ketika menghadapi masalah tuntutan hukum; baru orang tersebut sungguh-sungguh mencari Tuhan. Kalau sudah dalam kondisi krisis, kondisi kritis barulah mereka mencari Tuhan, mencari pendeta. Ini sebenarnya hal yang licik. Tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen seperti itu. Pada waktu tidak memiliki masalah, mereka tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Sejatinya, orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak menghormati Tuhan, tidak menghargai Tuhan secara patut. Mestinya kita mencari Tuhan dan membutuhkan Dia bukan karena kita memiliki masalah, melainkan karena memang kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. 
    Dalam kesabaran-Nya, ketika kita mengalami problem atau persoalan berat, lalu kita membawanya kepada Tuhan, Tuhan masih mau mendengarkan dan menolong. Namun, jika kita terbiasa seperti itu, maka ketika kita meninggal dunia lalu berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, bayangkan betapa gemetarnya kita karena tidak terbiasa berurusan dengan Tuhan. Dan ironisnya, saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk kita menjalin hubungan dengan-Nya. Maka, seharusnya kita senantiasa berjalan dengan Tuhan, mencari Tuhan, memburu Tuhan, bukan karena kita ada di dalam kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan karena Tuhanlah kehidupan kita. Supaya kalau suatu saat kita meninggal dunia, kita sudah berjalan dengan Dia. Untuk masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani; sakit misalnya, kita bisa ke dokter atau bisa minta didoakan. Kalau kita menghadapi masalah hukum, kita bisa mencari bantuan lewat pengacara, dan lainnya. Tetapi kalau hal menghadap takhta pengadilan Allah, tidak ada bantuan dari pihak mana pun, karena masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan hidup, dan sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya.
    Oleh sebab itu, memang fokus kita itu haruslah kekekalan. Kita berjalan dengan Tuhan hari ini, dan itu perjalanan yang terus kita bangun sampai kita menutup mata. Dan kalau kita betul-betul berjalan dengan Tuhan, kita memiliki kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan. Sebagaimana pemazmur mengatakan dalam Mazmur 42:1, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Kita merindukan Tuhan bukan karena kita punya masalah, melainkan sampai kita ini benar-benar dapat merasakan pentingnya kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Bahwa jiwa kita ini kosong atau hampa tanpa Tuhan. Masalahnya, banyak orang belum sampai mengalami kekosongan jiwa ini, karena kekosongan jiwa manusia sesat. Banyak yang merasa jiwanya kosong karena belum punya rumah, belum punya mobil, belum punya jodoh, belum punya anak. Bukan tidak boleh memiliki jodoh, mobil, rumah, dan lain-lain, tetapi itu semua kekosongan yang menipu. Orang-orang seperti ini licik; yang kalau suatu saat ada masalah, barulah mereka datang ke Tuhan. Namun kalau mereka masih ada di bumi, memang dengan kekuatan materi dan koneksi, mereka masih bisa ditopang. Tetapi kalau sudah mati, tidak ada lagi yang dapat menopang dan tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri. 
    Oleh sebab itu, Tuhan memang kadang-kadang—dengan terpaksa—mengizinkan kita dalam kondisi yang sulit dimana kita tidak berdaya, supaya kita mencari Tuhan. Melalui peristiwa dan masalah dalam hidup, Tuhan merangsang kita untuk mencari Dia. Dari masalah kebutuhan pemenuhan kebutuhan jasmani—entah itu masalah keuangan, sakit-penyakit, masalah hukum, masalah rumah tangga, dan lain-lain—Tuhan menyengat dan mengguncang kita dengan masalah-masalah tersebut, sehingga pada akhirnya Tuhan mau kita mencari-Nya. Namun, sering kali sesudah disengat dengan masalah pun, kita masih tidak mengerti atau bahkan tidak mau peduli. Yang kita upayakan adalah masalah itu selesai,
    0 min
  • Dua Tugas Akhir
    Ada dua tugas akhir yang harus segera selesai, yang tidak boleh ditunda, harus segera kita penuhi sebelum kita menutup mata. Yaitu, pertama, melepaskan ikatan-ikatan dengan dunia. Misalnya, segala bentuk kesenangan-kesenangan yang tidak berguna untuk pelayanan pekerjaan Tuhan yang masih saja mengambil waktu kita atau mencuri perhatian kita. Mungkin hal itu kelihatannya wajar, tidak menyalahi hukum sama sekali, tetapi membuat kita kurang, bahkan tidak efektif bagi Tuhan. Kita harus lepaskan, kita harus tinggalkan. Kita harus benar-benar bisa fokus. Hal yang sia-sia tidak boleh mencuri waktu, perhatian, tenaga, apalagi uang dan harta kita. Yang kedua adalah kita harus benar-benar memeriksa diri jika masih ada dosa yang kita lakukan. Atau kalau bukan dosa yang jelas-jelas melanggar hukum, melanggar norma; hal-hal yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Perkataan yang sia-sia, canda yang melukai, pikiran yang kotor dan jahat, dan banyak lagi, yang mana Roh Kudus akan ingatkan kita bahwa kita tidak patut melakukan hal tersebut. 
    Kita harus menjadi komunitas yang benar-benar khusus. Bukan untuk angkat diri, bukan untuk mau tebar pesona, bukan mau menjadi orang yang kontroversial, bukan supaya kita mendapat perhatian, tetapi memang seharusnya kita mempersiapkan diri untuk masuk Kerajaan Surga. Jangan sampai nanti kita kehilangan kesempatan, dimana kita belum berkenan di hadapan Allah. Jangan sampai kita menghadap takhta pengadilan Kristus dalam keadaan yang belum beres, belum tuntas. Kita harus semakin mengerucut untuk menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya tujuan. Doa-doa kita akan terus mengerucut ke hal tersebut. Masalah-masalah yang kita hadapi, kita doakan dan kita serahkan di dalam tangan Tuhan, dan kita berusaha untuk menyelesaikan dengan seluruh tanggung jawab dengan mengerahkan semua usaha yang kita bisa lakukan, artinya kita memenuhi bagian kita. Di luar itu, kita serahkan kepada Bapa di surga. Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Jadi, berserah saja, selama kita sudah memenuhi bagian kita sehingga tidak ada sesuatu yang membuat kita menjadi kacau, susah, dan lain sebagainya.
    Kita harus berubah, kita harus tinggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Kita harus benar-benar hidup suci. Kita harus memiliki benar-benar positioning. Sejujurnya, selama ini kita masih memiliki kompromi-kompromi, pembenaran-pembenaran diri yang sebenarnya itu salah. Sekarang kita harus benar-benar mencapai seklimaks-klimaksnya apa yang Allah kehendaki yang harus kita lakukan. Hari ini, kita mau menjadi manusia baru di dalam Tuhan, kita harus nekat, senekat-nekatnya. Mungkin kita akan dianggap kurang waras, berlebihan, ekstrem, dan orang bisa menyerang kita, tetapi itu tidak menjadi masalah sama sekali, tidak boleh menjadi masalah sama sekali. Kita harus berjalan terus ke depan. Dulu kita memahami kata “menoleh ke belakang” berarti kita kembali lagi dalam kesibukan dunia, tidak melayani, tidak ke gereja, itu namanya menoleh ke belakang. Tetapi sebenarnya yang dimaksud dengan “menoleh ke belakang” seperti yang dikatakan dalam Lukas 17:31-33 adalah ketika kita masih menyediakan hati kita untuk kesenangan-kesenangan diri sendiri. Apa pun bentuk kesenangan itu, walaupun kelihatannya kesenangan tersebut tidak melanggar hukum, tidak menyakiti orang lain; tetapi sesuatu itu tidak membuat kita efektif bagi Tuhan. Jadi masih ada distorsi-distorsi yang membuat kita tidak fokus 100% kepada Tuhan. Tentu masing-masing orang memiliki tuntutan dari Tuhan yang berbeda-beda.
    Namun standar yang Bapa tentukan, sama bagi semua orang percaya, yaitu serupa dengan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Maka, di sisa akhir hidup kita, mari kita fokus akan kedua tugas akhir kita ini. Selesaikan secepat mungkin dan semaksimal mungkin. Penundaan berarti pemberontakan, karena penundaan bisa mengakibatkan kita tidak punya kesempatan lagi atau kita tidak mampu lagi untuk melepaskan kodrat dosa dalam jiwa kita ini.
    0 min
  • Bertumbuh melalui Proses
    Karena manusia di sekitar kita pada umumnya atau hampir semua tidak takut akan Tuhan, tanpa sadar kita juga terbawa oleh suasana itu. Kita terbawa oleh suasana hidup manusia yang tidak takut akan Allah. Sebenarnya kata “takut akan Allah” itu tidak sederhana. Sama sekali tidak sederhana. Hal itu tidak akan bisa dimengerti dengan benar jika tidak dirasakan. Hal itu tidak akan bisa dimengerti, kalau tidak dialami. Dan takut akan Allah itu sebenarnya sebuah kedewasaan yang bertumbuh melalui tahapan-tahapan di dalam proses. Waktu kita belum setua hari ini secara umur biologis, belum dewasa rohani seperti sekarang, kita merasa bahwa kita sudah takut akan Allah. Kita merasa bahwa kita telah ada dalam sikap yang sudah patut. Tetapi seiring dengan bertumbuhnya pengertian kita akan Allah, pengalaman perjumpaan melalui atau di dalam doa, dan melalui segala pengalaman hidup yang kita alami, maka bertumbuhlah perasaan takut akan Allah itu; perasaan takut akan Allah secara benar. 
    Kalau kita mendengar hamba Tuhan mengatakan, “Allah itu besar, dahsyat, yang menciptakan langit dan bumi tidak terbatas,” apakah kita dapat merasakan kegentaran akan Allah yang dahsyat tersebut? Kegentaran akan Allah akan, pertama, membangun kesucian yang murni; kesucian yang berkualitas. Kedua, menggerakkan kita untuk menyenangkan hati-Nya. Kita akan merasa sangat terhormat apabila bisa menyenangkan hati Allah yang besar, Allah yang dahsyat, Allah yang mulia. Dan ketiga, kalau kita benar-benar memiliki hati yang takut akan Allah, kita tidak akan lagi menghargai sesuatu lebih daripada menghargai Allah. Namun ironis, banyak orang yang tidak mampu lagi takut akan Allah. Sebenarnya, pada dasarnya mereka tidak mampu percaya kepada Tuhan. Kalau mereka berkata, “Oh, saya percaya kepada Tuhan,” maka itu percaya versinya sendiri, bukan versi Allah. Orang kafir atau gembel di pinggir jalan diberi makan, diajari mengenai Allah, sesaat, dia pun bisa berkata begitu. Tidak sulit untuk mengatakan ini. Tetapi bagaimana sungguh-sungguh mengalami Allah sehingga kita memiliki kegentaran dan takut akan Allah yang kudus serta membangun kesucian hidup, dan yang akhirnya membangun kesediaan kita menyenangkan Dia dengan pengabdian dan memandang Dia lebih mulia, lebih terhormat dari segala sesuatu, merupakan hal yang tidak sederhana? 
    Ada cukup banyak bukti yang bisa kita temukan di lingkungan orang percaya, dimana sampai hari tuanya, mereka tidak mampu untuk takut akan Allah; mereka masih materialistis, memiliki ketegaan, kekejaman terhadap orang lain, sembarangan bicara, penuh kecurigaan kepada orang lain, bahkan kepada orang benar yang mestinya dipercayai, hatinya menjadi begitu bengkok. Betapa mengerikannya orang-orang seperti ini kalau suatu hari meninggal dunia. Mereka tidak akan menduga betapa dahsyatnya kemuliaan Allah itu. Dan mereka tidak akan berdaya ketika malaikat menyeretnya menuju api kekal. Mungkin mereka akan berkata, “Oh, saya tidak tahu akan begini keadaannya. Saya tidak tahu kalau bakal begini akhirnya.” Percuma, sebab selama di dunia mereka adalah orang-orang yang keras kepala, keras hati. 
    Untuk memiliki rasa takut akan Allah, perlu ketekunan yang harus dibangun dari kehidupan setiap hari dari waktu ke waktu. Jadi, berbahagialah kita yang mendengar Firman ini lalu belajar untuk takut akan Allah. Dan selanjutnya, Tuhan pasti akan menuntun atau membimbing kita, bagaimana mengalami Tuhan lewat pengalaman hidup setiap hari. Maka takut akan Allah terus bertumbuh dalam hidup kita, terbangun terus. Pengkhotbah, setelah banyak bicara dalam tulisannya, dia berkata, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pkh. 12:13). Maka, mari kita belajar menghormati Allah. Orang yang takut akan Allah pasti hidup tidak bercacat, tidak bercela, pasti mau menyenangkan Tuhan dengan mengabdikan hidup sepenuhnya.
    0 min
  • Hati yang Berbelas Kasihan
    Semakin hari dalam pergumulan hidup kita mencari Tuhan, semakin kita merasakan—bukan hanya semakin tahu saja—bahwa memang Allah menghendaki kita benar-benar sempurna seperti Bapa. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. Allah menghendaki kekudusan seperti kekudusan-Nya. Allah menghendaki perilaku kita seperti Putra Tunggal-Nya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Yang mana hal itu tidak terlalu kuat kita pahami dan mendorong kita, apalagi kalau orang sudah rusak oleh satu bangunan teologi yang salah yang jelas-jelas telah merusak gereja. Jadi, kesucian hidup bukan sesuatu yang gratis, bukan sebuah karunia, melainkan perjuangan. Potensi untuk hidup suci, itu karunia. Tetapi kalau potensi tidak digunakan, hal itu menjadi sia-sia. Itu sama dengan menolak keselamatan yang Allah sediakan. Keselamatan yang Allah sediakan bermaksud mengembalikan manusia ke rancangan-Nya yang semula. 
    Ironis, hal ini tidak disadari oleh banyak orang. Kalau bagi para pendeta, mereka sibuk dengan berbagai kegiatan pelayanan yang bungkus luarnya untuk kepentingan Tuhan, tetapi ternyata itu hanya kesibukan yang bisa mendatangkan keuntungan, upah, gaji, nama besar, dan lain-lain. Bukan tidak boleh pendeta mendapat gaji atau hidup dari pelayanan; boleh. Tetapi kalau seorang pendeta tidak sungguh-sungguh memahami bahwa yang dikehendaki Allah adalah kesucian hidup seperti kesucian Allah Bapa, pasti kegiatan pelayanannya memiliki agenda-agenda pribadi yang bersembunyi di baliknya. Mereka dibuat meleset ketika sibuk mengolah nalar, mengolah pikiran untuk berteologi. Lalu mewujudkannya dalam bentuk tulisan, jurnal, karya ilmiah dan lain-lain, dan bisa diseminarkan, dikhotbahkan. Dan bagi para dosen Sekolah Tinggi Teologi, mereka juga hanyut tenggelam dalam pengajaran, tetapi tidak hanyut dan tenggelam dalam bagaimana mencari, memburu, menggumuli kesucian hidup yang berstandar Allah sendiri. 
    Kalau jemaat awam, mereka dibuat meleset, ditelikung oleh setan, sibuk dengan membahas mengenai akhir zaman, 666; yang lain, sibuk membahas nama Yahweh, atau disibukkan dengan berbagai kegiatan sosial. Semua itu tidak salah, tetapi hanya membuat mereka sibuk tanpa mengenal Sang Pribadi yang mereka “layani.” Di pihak lain, orang beruang sibuk dengan mengikuti doktrin hypergrace. Sejatinya, doktrin hypergrace membunuh perjuangan yang seharusnya dimiliki oleh orang percaya, dengan mengatakan tidak perlu berjuang lagi karena Yesus berjuang untuk kita. Mereka tidak memahami Alkitab dengan lengkap dan utuh. Orang-orang yang beruang merasa sudah mendukung pekerjaan Tuhan dengan membuat gereja, membuat persekutuan doa, membuat yayasan sosial. Padahal Tuhan berkata, “yang Kukehendaki bukan persembahan, tetapi belas kasihan.” Hati yang benar-benar berbelas kasihan seperti hati Tuhan sendiri; ini sama dengan kesucian Tuhan. 
    Jadi, ini yang harus Saudara-Saudara pahami dan mengerti. Jangan sibuk hanya dengan kegiatan, namun semua itu tidak mencabut akar dosa, tidak membuat kita menyembelih kedagingan, tidak membuat orang-orang Kristen ini meninggalkan dunia. Ini adalah bentuk kompromi. Dan setan dalam kelicikannya membuat orang-orang Kristen ini merasa puas dengan apa yang mereka lakukan. Padahal, yang Tuhan kehendaki adalah hati yang bersih. Kesucian yang harus kita kenakan adalah kesucian Allah sendiri. Ingat, Firman Tuhan di dalam 1 Petrus 1:16, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus. Tanpa kesucian tak seorang pun dapat melihat Allah.” Ini yang seharusnya sungguh-sungguh kita gumuli. Dalam perjalanan pelayanan, dapat kita temui orang-orang yang kelihatannya baik-baik, kelihatannya mendukung pekerjaan Tuhan, tetapi ia belum menjadi kurban bakaran yang disembelih, dibakar habis di atas mezbah. Bersyukur kalau Tuhan terus menggarap kita supaya kita ini menjadi kurban bakaran. 
    Biasanya, kurban bakaran itu binatang yang dipotong-potong lalu dibakar habis seluruhnya. Dan Firman Tuhan mengatakan,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…