Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tiada Berhenti Berjuang
    Tidak dapat disangkal bahwa Tuhan menghendaki anak-anak-Nya rela melepaskan apa pun yang menjadi kesukaan dan kebanggaan demi memuaskan hati-Nya. Ketika Allah menghendaki agar Abraham menjadikan Ishak sebagai kurban bakaran, Allah menghendaki agar diri-Nya dipuaskan oleh Abraham dengan cara memberikan yang terbaik, tersayang, dan termahal dalam hidupnya bagi Tuhan. Dari apa yang tertulis dalam Alkitab ini, tampak sekali tidak ada keraguan dalam hati Abraham terhadap Allah yang memerintahkan dirinya untuk melakukan sesuatu yang benar-benar asing dan aneh. Perintah Allah itu aneh sebab cara pengurbanan seperti itu biasa dilakukan oleh orang-orang Kanaan. Penurutan Abraham ini menunjukkan pandangannya bahwa Tuhan berhak menerima yang terbaik dari apa yang ada padanya, dan memperlakukan dirinya sesuka-suka Tuhan tanpa memedulikan perasaan dirinya. Dari hal ini, tampak sekali bagaimana Abraham menempatkan diri secara benar di hadapan Allah. Sikap ini adalah sikap yang luar biasa, tetapi normal di hadapan Tuhan, sebab memang Tuhan berhak diperlakukan demikian. 
    Umat Perjanjian Baru dikehendaki Tuhan untuk memiliki kehidupan iman seperti Abraham. Abraham dibenarkan bukan karena perbuatannya dalam melakukan hukum, sebab memang belum ada hukum. Namun, Abraham dibenarkan karena penurutannya yang begitu hebat. Penurutannya terbukti hingga kesediaannya mengorbankan anak tunggal yang telah lama dinantikannya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Kristen belum bisa dikatakan Kristen yang dibenarkan, sebelum memiliki kehidupan iman seperti Abraham. Pada mulanya, Abraham dipilih bukan karena perbuatan baik yang dilakukan, melainkan karena Allah memilih. Namun, setelah Abraham menjadi pilihan Tuhan, ia harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah yang sempurna. Pilihan Allah atas kehidupan orang percaya tidak membawa orang percaya kepada sebuah pelabuhan di mana mereka bisa berhenti dari perjuangan. Pilihan itu justru merupakan awal dari sebuah perjuangan untuk masuk jalan sempit.
    Orang percaya tidak dikehendaki Tuhan untuk melakukan hukum dan peraturan sehingga menyenangkan hati Tuhan. Tidak ada manusia yang dapat melakukan hukum dengan sempurna. Orang percaya telah menerima penebusan oleh darah Tuhan Yesus. Ketidaksanggupannya melakukan hukum telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus. Namun, ini bukan berarti bahwa semua sudah beres dan orang Kristen tinggal berpangku tangan menantikan hari kematiannya dan diperkenan masuk surga. Orang Kristen harus mulai berurusan dengan Tuhan secara pribadi dan memiliki kepercayaan yang mutlak dan total kepada Tuhan. Untuk ini, orang percaya harus bergumul untuk mengenal Tuhan secara lengkap dan mengalami Tuhan secara nyata agar dapat mengerti kehendak-Nya, serta melakukannya.
    Hal ini kebalikan dari apa yang dipahami selama ini oleh banyak orang Kristen, seakan-akan dengan memercayai secara nalar bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat, berarti seseorang sudah dibenarkan. Kekristenan menjadi begitu dangkal dan miskin, tidak ada keagungan dan keluarbiasaannya. Jika kekristenan hanya demikian, kekristenan menjadi lebih buruk dan sangat tidak berkualitas dibanding banyak agama lainnya. Orang Kristen hanya merasa bangga bahwa dengan menjadi Kristen maka memiliki cara mudah masuk surga dan menjadi anak Allah. Padahal, hanya orang-orang yang memiliki sikap hati dan langkah hidup seperti Abraham yang menjadi anak-anak Abraham. Orang-orang Yahudi yang berusaha membunuh Tuhan Yesus dikatakan sebagai bukan anak Abraham, sebab kalau mereka anak Abraham, mereka pasti bertindak seperti Abraham. Kalau ada orang-orang Kristen yang tidak mau mengerti misi utama yang dibawa oleh Tuhan Yesus—tetapi berkeras dengan gairah duniawi dalam dirinya—ia pun bukan anak Abraham. 
    Abraham adalah sosok yang berjiwa musafir dan menujukan hidupnya hanya untuk menerima negeri yang Allah janjikan. Penulis Ibrani memberi kesaksian: “Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan d...
    0 min
  • Memiliki Karakter-Nya
    Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. sesuai dengan kata “iman” yang dalam bahasa aslinya pisteuo (Yun. πιστεύω), artinya menyerahkan diri kepada objek yang dipercaya, iman adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Aktivitas pikiran hanyalah sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Kesalahan banyak orang Kristen adalah merasa sudah percaya hanya karena memiliki pengaminan akali. Tidak heran kalau kehidupan mereka tidak menunjukkan karakter anak Allah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. 
    Iman adalah respons aktif terhadap Injil. Di dalam Injil, terdapat tuntunan bagaimana mengisi hidup sebagai orang yang mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Tanpa tuntunan Injil, seseorang tidak bisa mengisi percayanya atau imannya. Ini berarti seseorang tidak mungkin dapat memiliki iman tanpa memahami isi Injil. Terkait dengan hal ini, Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus. Dalam hal ini, harus dipahami bahwa iman bukan sesuatu yang supranatural atau mistis, yang muncul atau ditimbulkan oleh Roh Kudus di dalam hati manusia. Iman timbul dari pendengaran terhadap Firman Tuhan (Rhema). Iman dapat eksis dalam kehidupan manusia oleh karena mendengar Injil (Logos) dan tuntunan Roh Kudus dalam perjalanan hidup (Rhema). Paulus memberitakan atau mengajarkan Injil itu, dan Roh Kudus menuntun orang yang mau belajar atau yang merespons pemberitaan Paulus. 
    Kalimat “supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” (Rm. 1:5), menunjukkan dengan sangat jelas bahwa respons individu sangat menentukan keselamatan mereka. Keselamatan tidak terjadi dengan sendirinya atau secara otomatis atau oleh karena faktor di luar diri manusia yang menentukan keselamatan itu. Dalam hal ini, kita tidak boleh menerima keyakinan atau pandangan bahwa keselamatan masing-masing individu ditetapkan secara sepihak oleh Allah dalam kedaulatan-Nya. Yang benar adalah bahwa dalam kedaulatan-Nya, Allah menentukan siapa yang mendengar Injil dan juga menentukan standar kesuciannya. Dalam kedaulatan-Nya, Allah menentukan tatanan atau hukum kehidupan bahwa manusia dalam kehendak bebasnya menentukan takdirnya sendiri. Sama seperti yang terjadi di taman Eden. Adam memilih memberontak, tentu bukan karena Allah yang menentukan pemberontakan itu dengan menggerakkan Adam memberontak kepada Allah. 
    Kalau seseorang berpendirian bahwa Allah menentukan segala sesuatu, berarti Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena Allah yang menentukan demikian, sehingga mereka gagal menuruti kehendak Allah. Ini berarti Allah yang merekayasa dosa itu sendiri. Jika hal ini benar, betapa jahatnya Allah tersebut. Tetapi yang benar adalah Allah telah memberi kehendak bebas kepada masing-masing individu untuk hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau menolaknya. Selanjutnya, apakah seseorang bersedia dimiliki oleh Allah atau memiliki dirinya sendiri, juga tergantung dari kebebasannya. Untuk menyerahkan diri menjadi milik Tuhan, juga harus melalui perjuangan yang berat. Mengapa demikian? Sebab selain daging dan ambisi jiwa kita mau berkuasa atas diri sendiri, keadaan dunia sekitar juga sering mendesak agar tidak memberi diri dimiliki oleh Allah.
    Menjadi milik Kristus bukan sesuatu yang bisa terjadi atau berlangsung dengan mudah. Jemaat Roma memberikan contoh bahwa orang percaya harus mempertahankan iman mereka dengan mempertaruhkan darah dan nyawa mereka. Kalau mereka masih merasa memiliki diri sendiri, tentu mereka tidak akan sanggup berlaku setia kepada Tuhan. Karena kesetiaan untuk dimiliki Kristus tersebut, maka mereka disebut sebagai umat yang lebih dari orang-orang yang menang. Orang yang menang adalah orang yang mengalahkan diri sendiri dengan menaklukkan dirinya kepada Tuhan. Sebaliknya, kalau orang mau menang sendiri, artinya orang yang hanya mau memuaskan keinginan daging dan ambisinya, menjadi orang yang kalah. Jemaat Roma disebut sebagai orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang,
    0 min
  • Semakin Sukar Melepaskan
    Satu pertanyaan yang penting untuk kita renungkan: barang atau bagian apa dalam diri kita yang kita pandang paling berharga; uang atau harta, nama baik, harga diri, keluarga (anak, pasangan hidup), binatang peliharaan, lukisan, atau barang antik bagi yang menyukai barang seni, dan atau yang lainnya? Renungkan dengan serius. Seberapa puas kita menikmatinya? Berapa lama kita akan dapat menikmatinya? Kemudian, apa dampak atau akibat memiliki dan menikmati hal tersebut? Pertanyaan ini menggiring kita berpikir sehat, cerdas, dan rohani. Pertanyaan ini bisa dianggap mengganggu kebahagiaan hidup kita, atau sebaliknya, bisa menyempurnakan kebahagiaan hidup kita. Mengganggu berarti mengurangi perasaan bahagia atau mengganggu kesenangan, karena diingatkan bahwa suatu saat apa yang kita miliki akan kita lepaskan. Dan ternyata, segala sesuatu yang kita miliki kalau tidak dikelola dengan benar, tidak membawa akibat apa-apa dalam kekekalan, bahkan bisa membinasakan kita. Seperti api, ia bisa menjadi teman atau lawan. 
    Semua hal bisa menjadi kebahagiaan kita, apabila kita menyadari bahwa segala sesuatu itu dipercayakan kepada kita untuk dinikmati walaupun sesaat, dan kita gunakan untuk melayani Sang Maharaja, guna membawa akibat kekal. Kita bersyukur karena segala sesuatu yang dianggap berharga tidak selamanya menguasai kita. Harus diakui, semakin banyak kita merasa memiliki sesuatu, semakin berat dan sukar kita melepaskannya. Hal ini tentu tergantung sikap hati. Ada orang yang memiliki sedikit, tetapi juga sukar melepaskannya, karena menganggapnya banyak. Akan tetapi logikanya, semakin orang memiliki banyak, semakin sukar ia melepaskannya, sebab semakin sakit ia melepaskannya. Inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus: “lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga.” Dalam hal ini, Paulus mengingatkan agar kita tidak berharap kepada sesuatu yang tidak pasti. Inilah tipu muslihat Iblis untuk membinasakan manusia. Iblis membuat manusia terikat begitu rupa dengan segala sesuatu yang bukan Tuhan. Inilah yang disebut Alkitab dengan percintaan dunia. 
    Tuhan Yesus tidak akan pernah sembrono dalam ucapan-Nya. Ketika Ia berkata bahwa “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan,” itu mengandung tuntutan dan tantangan yang tidak boleh dianggap sepele. Dalam pernyataan ini, Tuhan Yesus menantang kita untuk berdiri di pihak siapa dan hidup untuk kepentingan siapa. Seseorang tidak boleh ada dalam kelompok massa yang mengambang. Massa yang mengambang adalah mereka yang tidak memiliki niat untuk memilih atau mengambil keputusan. Kalau hanya menjadi Kristen dan menjadi aktivis, seseorang belum tentu termasuk kelompok pemilih aktif. 
    Banyak orang Kristen yang merasa sudah memilih Tuhan, padahal mereka belum berdiri di pihak Tuhan. Kalau seorang pelayan jemaat atau aktivis menjadikan gereja sebagai bisnisnya pribadi, ia tidak akan bisa berkata tegas kepada umat, sebab hal itu bisa mengganggu mata pencahariannya. Dengan gampangnya ia mengesankan bahwa semua yang sudah ke gereja—apalagi yang mendukung kegiatan gereja—berarti sudah di pihak Tuhan. Baginya, yang penting menguntungkan pelayanan gerejawi. Ia juga tidak akan mengarahkan jemaat sungguh-sungguh untuk hidup sebagai pengikut Kristus yang sejati, sebab dirinya sendiri juga belum menjadi pengikut Kristus yang sejati. Mereka belum mengerti kepentingan Tuhan. Hal ini pun dipandang wajar oleh jemaat yang digembalakan karena membuat hidup mereka nyaman. Oleh karenanya, benarlah apa yang dikatakan Paulus dalam 2 Timotius 4:3 “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Untuk mereka ini, pada bagian lain, Paulus menyatakan: Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara ...
    0 min
  • Melepaskan Dunia
    Terkait dengan hidup beriman dalam Yesus Kristus, kita harus memahami maksud Efesus 2:8-9 supaya kita jangan sesat, sebab banyak orang salah memahami maksud ayat ini. Mereka berasumsi bahwa kita tidak perlu memiliki usaha apa pun untuk memiliki keselamatan. Mereka memandang bahwa usaha sekecil apa pun dipahami sebagai pemberontakan terhadap kebenaran, seakan-akan usaha itu adalah usaha untuk memiliki dan mencapai keselamatan. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen tidak memiliki usaha apa pun untuk merespons keselamatan. Hal ini sama dengan tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Mereka pasti tidak pernah mengalami dan memiliki keselamatan yang Tuhan sediakan. 
    Dalam Efesus 2:8-9 tertulis: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Kalimat “itu bukan hasil usahamu” harus dipahami dengan benar. “Itu bukan hasil usahamu” artinya itu bukan dari dirimu sendiri, tetapi dari Allah atau pemberian Allah. Kalimat “bukan hasil usahamu” dalam teks aslinya adalah kai touto ouk ex hymon (καὶ τοῦτο οὐκ ἐξ ὑμῶν); Ing. That not of yourselves, his was not from yourselves, but is the gift of God. Sedangkan kalimat “bukan pekerjaanmu” dalam bahasa aslinya adalah ouk ex hymon (οὐκ ἐξ ἔργων), yang artinya “bukan karyamu.” Itu adalah karya Tuhan Yesus di kayu salib. Hal ini dikemukakan agar orang percaya tidak membanggakan diri seakan-akan keselamatan adalah hasil usahanya. Tanpa salib, tidak ada jalan keselamatan sama sekali. 
    Kita harus benar-benar paham bahwa walaupun keselamatan adalah anugerah, bukan berarti kita cukup percaya dengan pikiran, kemudian kita dapat selamat. Justru keselamatan yang ditawarkan kepada umat pilihan membuat umat pilihan harus melepaskan segala sesuatu. Inilah barter yang harus dilakukan orang yang mau mengenal dan memiliki keselamatan dalam Yesus Kristus. Kalau tidak pernah melakukan barter ini, maka berarti tidak pernah memiliki keselamatan yang benar. Paulus mengatakan dalam suratnya: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Flp. 3:7). Paulus mengerti sekali bahwa untuk memiliki keselamatan secara utuh, harus melepaskan segala sesuatu. 
    Firman Tuhan mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Jadi, barangsiapa bersahabat dengan dunia ini, berarti menjadikan dirinya musuh Allah. “Bersahabat dengan dunia” artinya kehidupan yang dapat dibahagiakan oleh fasilitas dunia ini. Orang percaya yang bersedia melepaskan persahabatan dengan dunia ini, berarti rela tidak menikmati dunia. Jadi pada intinya, seseorang tidak akan memiliki Kerajaan Surga tanpa melepaskan dunia (Mat. 13:44-45). Di dunia kita hari ini, pada umumnya manusia—termasuk di dalamnya sebagian orang Kristen—terikat dengan percintaan dunia. Dengan demikian, di akhir zaman semakin sulit orang diselamatkan, sebab ikatan dunia semakin kuat, bahkan sampai tidak dapat dilepaskan lagi. 
    Banyak orang Kristen hidup dengan gaya hidup anak-anak dunia dengan segala kesenangannya. Mengejar ambisi pribadi seluas-luasnya, tanpa memikirkan kepentingan Tuhan dan sesama, menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan, dan menyimpan kesenangan tertentu bagi dirinya sendiri. Mereka menganggap semua hal itu wajar karena dilakukan oleh banyak orang. Malangnya, tidak ada yang mengingatkan bahwa gaya hidup seperti itu adalah gaya hidup manusia yang tidak layak bagi Tuhan. Harga mengikut Tuhan Yesus sepanjang zaman selalu sama; tidak pernah menjadi kurang atau dipermudah. Kalau ada barang yang diakui sebagai asli tetapi harganya murah, pasti barang tersebut palsu. Demikianlah injil palsu yang banyak beredar, seakan-akan menerima Yesus tanpa pertaruhan. Mereka mengajarkan “asal memiliki keyakinan, mereka sudah menjadi umat Allah.”
    Terkait dengan hal di atas, Paulus mengatakan: “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesu...
    0 min
  • Putus Hubungan
    Ketika Abraham diperintahkan Tuhan untuk meninggalkan Ur-Kasdim, ia meninggalkan negerinya tanpa ragu-ragu. Abraham terus berjalan semakin jauh dari negerinya, dan tidak pernah berniat untuk kembali walaupun ia memiliki kesempatan untuk itu. Tindakan Abraham ini bisa diibaratkan; Ur-Kasdim telah disalibkan baginya, dan dia disalibkan bagi Ur-Kasdim. Sejak kepergiannya dari Ur-Kasdim, ia memutuskan hubungan dengan negeri tersebut. Kehidupan Abraham inipun menjadi inspirasi dan pola iman Kristiani kita. “Beriman” itu berarti memutuskan hubungan dengan dunia lama. Bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus mengingatkan orang percaya agar tidak memiliki langkah hidup seperti istri Lot yang menoleh ke belakang. Karya keselamatan yang disediakan bagi keluarga Lot, gagal atas diri istri Lot karena ia menoleh ke belakang. Rupanya, istri Lot tidak rela memutuskan hubungan hati dengan apa yang ada di kota Sodom dan Gomora. Tubuh istri Lot meluncur ke luar kota Sodom dan Gomora, tetapi hatinya masih tertinggal di kota Sodom. Seharusnya Sodom dan Gomora telah disalibkan bagi mereka (keluarga Lot), dan mereka telah disalibkan bagi Sodom dan Gomora. 
    Orang percaya pada abad mula-mula bisa percaya dan mengikut Tuhan Yesus kalau memiliki prinsip seperti yang ditulis Paulus ini, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikuti jejak-Nya, mereka harus kehilangan segala sesuatu. Mereka bisa kehilangan sahabat, teman, handai taulan, keluarga, bahkan nyawanya sendiri. Mereka disingkirkan dari masyarakat, bahkan mereka harus mempertaruhkan orang-orang yang mereka cintai karena dimasukkan penjara dan dibunuh. Sementara itu, mereka sendiri teraniaya dan bisa berakhir dengan kematian keji dalam bentuk hukuman pancung, disalib, atau dibakar hidup-hidup, dan lain sebagainya. Keadaan ini digambarkan Paulus sebagai dunia telah disalibkan bagi mereka dan mereka bagi dunia. Penderitaan tersebut menjadi kemegahan, bukan sesuatu yang memalukan karena mengerjakan kemuliaan. Bagi orang Kristen mula-mula, penderitaan yang berujung pada kematian sekalipun menjadi sebuah keuntungan yang tidak ditakuti sama sekali. Satu-satunya yang berharga apabila mereka dapat hidup seperti yang dikatakan Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:24, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”
    Apakah prinsip hidup ini masih bisa dikenakan atau berlaku bagi kita hari ini? Tentu jawabnya adalah ya. Kebenaran Firman Tuhan memiliki nilai abadi, bahkan sampai Tuhan datang kembali, dan semua yang dinubuatkan itu digenapi. Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengimplementasikan Firman Tuhan tersebut? Seperti Abraham meninggalkan Ur-Kasdim dan menjalani hidup pengembaraannya, demikian pula seharusnya orang percaya meninggalkan kesenangan dunia dan hidup dalam pengembaraan. “Hidup dalam pengembaraan” itu berarti tidak menjadikan dunia ini sebagai hunian nyaman yang tetap, tetapi sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya. Dunia ini harus dimengerti, diterima, dan diperlakukan sebagai bukan rumah kita. Sebaliknya, Kerajaan Tuhanlah yang harus dirindukan dan diharapkan dengan kuat sebagai rumah abadi setelah kita melalui persinggahan sementara di bumi ini.
    Ketika kita menyatakan percaya, kita telah terhisab sebagai “bukan berasal dari dunia ini,” sama seperti Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini. Prinsip ini mutlak harus dikenakan dalam kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Kalau seseorang tidak dapat menjadi murid, berarti ia tidak bisa digarap untuk diubah ole...
    0 min
  • Tantangan Terbesar
    Kalau Alkitab berbicara mengenai “kematian dari manusia lama,” hal itu menunjuk kepada kesediaan untuk meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup, dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Seperti bangsa Israel diperintahkan untuk menumpas bangsa-bangsa di Kanaan, demikian pula kita harus menumpas semua pola berpikir dan gaya hidup yang masih memuat unsur-unsur kafir. Toleransi yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap sebagian penduduk Kanaan menjadi penyebab pengaruh kafir masuk dalam kehidupan umat Tuhan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh berhenti mengalami pembaharuan pikiran seperti yang dinasihatkan oleh Paulus (Rm. 12:2). Target yang harus dicapai adalah “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Sampai taraf ini, orang percaya pantas mendapat pernyataan Paulus bahwa kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:1-4). “Telah mati” berarti tidak lagi mengharapkan kesenangan dari dunia ini apa pun bentuk dan caranya. “Telah mati” di sini berarti pula bersedia untuk tidak memiliki keinginan diri sendiri. Semua keinginan yang ada pada kita harus untuk kepentingan Kerajaan Allah dan kesenangan hati Tuhan. Kepentingan Kerajaan Allah adalah mengusahakan agar orang-orang dibawa mengenal Tuhan Yesus dan kebenaran-Nya, serta bisa bertumbuh menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus.
    Dalam hal di atas, orang percaya harus menyediakan “bejana kosong” dan membuka diri untuk diisi oleh Tuhan Yesus. Lagu “Mari Masuk” bukan hanya berarti seseorang merasa Tuhan Yesus telah masuk dalam hatinya dan merasa telah berdiri di pihak Tuhan dan memiliki keselamatan. Itu merupakan pernyataan agar Tuhan Yesus masuk dalam hati, yang berarti juga adanya usaha keras untuk mengosongkan bejana hati dan mempersilakan Tuhan Yesus memenuhi diri kita dengan pikiran dan perasaan-Nya (Flp. 2:5-7). Pikiran dan perasaan Tuhan terdapat pada kebenaran Firman (logos) yang murni dan suara Tuhan (rhema) melalui pengalaman hidup konkret yang dialami orang percaya. Semakin penuh bejana hati kita dengan kebenaran Firman Tuhan, seiring dengan itu, semakin terbuang semua konsep dan pola berpikir yang tidak sesuai dengan kebenaran. Melalui proses ini, segala keinginan dan cita-cita kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dapat diluruhkan. Proses ini merupakan proses mengalami kematian dari manusia lama kita. 
    Memang proses sampai taraf “mati secara permanen” adalah proses yang panjang. Akan tetapi, itu harus dimulai dari sebuah kesediaan. Kesediaan itu adalah kerelaan meninggalkan dunia atau melepaskan diri dari segala milik (Luk. 14:33). Kesediaan yang tulus menunjukkan bahwa seseorang mengasihi Tuhan. Sejak memiliki kesediaan itu, seseorang akan digarap Tuhan. Ia berhak mendapat penggarapan Allah melalui segala keadaan atau peristiwa yang ia alami (Rm. 8:28). Tanpa kesediaan yang tulus atau sikap hati yang mengasihi Tuhan dengan benar, seseorang tidak akan mengalami penggarapan Allah. Hal ini juga berarti proses keselamatan tidak bisa berlangsung dalam kehidupan orang tersebut. Dalam hal ini, respons manusia sangat menentukan, sebab hanya orang-orang yang mengasihi Tuhan yang akan mengalami proses keselamatan sehingga menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Tuhan tidak akan menggarap orang yang tidak menghargai kasih karunia-Nya.
    Ajaran mematikan nafsu dan segala keinginan semacam ini juga terdapat dalam berbagai agama. Mereka yang berani melakukan hal ini akan menjadi orang-orang yang unggul luar biasa. Kalau mereka sanggup melakukannya, mengapa kita tidak berani melakukan? Kita bukan hanya mematikan nafsu dan segala keinginan—artinya mengosongkan diri belaka—tetapi kita mengosongkan diri untuk diisi oleh atau dikuasai oleh Roh-Nya, sehingga kita bisa memiliki kepribadian seperti Tuhan Yesus. Suatu hari bila kita berjumpa dengan Bapa, Ia akan menemukan pribadi anak-Nya di dalam diri kita. 
    Tantangan terbesar untuk menghidupkan pribadi Tuhan...
    0 min
  • Bukan Sekadar Moral Umum
    Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang berkata bahwa dirinya tidak berdosa adalah orang yang tidak mengenal kebenaran dan Firman-Nya tidak tinggal di dalamnya (1Yoh. 1:8,10). Ayat ini menunjukkan bahwa sejak dulu (zaman rasul-rasul), ada orang-orang yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki dosa atau salah. Tuhan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dan yang tidak tinggal di dalam Firman-Nya. Tetapi ironisnya, mereka mengaku sebagai orang kudus. Sejatinya, mereka adalah pendusta yang tidak bisa dipercayai. Mereka adalah orang-orang yang mencari penghargaan dan nilai diri di mata manusia lain. Biasanya mereka adalah moralis-moralis yang suka menghakimi sesama, mencela, dan mengutuk orang lain karena kejahatan yang disangkakan atau dinilainya secara naif.
    Mereka juga adalah orang-orang yang mau menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain. Hal ini dilakukan, sebab tanpa sadar ia memandang atau merasa bahwa orang lain adalah saingannya. Inilah kesombongan rohani yang ditentang oleh Allah. Bisa dipastikan mereka belum mengenal Injil Tuhan Yesus Kristus yang tuntutan-Nya adalah sempurna seperti Bapa. Bisa dipastikan juga bahwa mereka tidak mengenal kebenaran yang menekankan sikap dan nilai-nilai batiniah. Kesucian hanya diukur oleh mereka dari tindakan lahiriah secara hukum moral umum. Kalau ia seorang pembicara di mimbar, pasti khotbahnya tidak berkembang dan penuh dengan kesaksian pribadi. Hal ini terjadi sebab ia tidak menggali kebenaran Firman. Sebagai gantinya, mereka akan mengagungkan kesaksian pribadi bahwa mereka sudah berhadapan langsung dengan Tuhan dan menerima mandat-Nya.
    Apakah mereka yang mengaku orang suci sudah mencapai kesucian seperti yang Bapa kehendaki? Pasti belum. Tetapi mereka merasa sudah tidak bercacat, sebab ukuran kesuciannya adalah moral umum. Karena mereka belum mengenal kebenaran—sehingga tidak hidup dalam kebenaran—maka cirinya jelas, yaitu meninggikan diri seakan-akan dirinya paling suci di antara manusia lain. Hal ini juga bisa didorong oleh hasrat ingin dikultuskan. Seharusnya, tidaklah demikian. Orang-orang seperti ini akan membangun strata kasta dalam gereja, sehingga tidak mendorong jemaat untuk mencapai kesempurnaan. Kalaupun seseorang memiliki kesucian yang tinggi dan luar biasa, hal itu tidak perlu dikemukakan kepada orang lain. Biarlah hanya Tuhan yang tahu, yang akan memberikan upah kepada setiap orang sesuai dengan perbuatan-Nya (2Kor. 5:9-10). Paulus sendiri seorang hamba Tuhan yang kualitasnya tidak diragukan lagi berkata, bahwa dirinya belum sempurna, dia sedang mengejar atau menggumulinya dengan sungguh-sungguh (Flp. 3:12; 1Kor. 9:27).
    Firman Tuhan mengatakan: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita” (1Yoh. 1:10). Kalimat ini sekilas sederhana, tetapi sebenarnya pengertiannya tidak mudah dipahami. Mengapa kalau seseorang mengaku tidak berdosa berarti membuat Tuhan menjadi pendusta? Apakah manusia bisa membuat Tuhan menjadi pendusta? Maksud ayat ini adalah kalau orang percaya tidak menyadari dan tidak mengakui keberadaannya sebagai orang-orang yang tidak mencapai standar kesucian Tuhan, maka ia tidak akan pernah berjuang untuk mencapai standar kesucian Allah. Jika demikian, maka kehidupan orang percaya tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya, bahkan kenyataannya ada yang lebih jahat. Keadaan hidup orang percaya ini akan menimbulkan pertanyaan: Untuk apa Tuhan Yesus datang ke dunia?
    Kalau kedatangan Tuhan Yesus membuat ajaran atau etika baru, atau lebih baik dari sebelumnya (Taurat), mengapa orang Kristen yang percaya kepada-Nya tidak berbeda dengan orang lain, bahkan lebih jahat? Bagaimana bisa memberitakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus? Dengan keadaan kehidupan orang percaya ini, maka membuat Tuhan menjadi pendusta, artinya memberikan stempel atau cap bahwa Dia penipu. Sebagai akibatnya,
    0 min
  • Allah Tidak Mengambil Kebebasan Manusia
    Satu hal yang harus kita sadari bahwa tidak ada yang lebih bertanggung jawab dalam hidup kita lebih daripada diri kita sendiri. Setan dan Tuhan tidak dapat dituntut pertanggungan jawab atas nasib kekal seseorang, sebab baik setan maupun Tuhan tidak dapat mengendalikan kehendak bebas seseorang untuk berbuat benar ataupun salah. Tuhan telah menyerahkan kedaulatan kepada manusia untuk menentukan nasib kekalnya sendiri. Sebagai buktinya, kita dapat melihat kisah Adam dan Hawa, Kain dan Habel, bangsa Israel, dan banyak lagi di dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia menentukan takdirnya sendiri. Semua itu pada dasarnya menunjukkan kepada kita fakta adanya hukum tabur tuai. Hukum tabur tuai adalah bahwa manusia menentukan nasib atau takdir serta keadaan dirinya sendiri tanpa campur tangan pihak lain. Allah memberikan kemerdekaan kepada manusia untuk bertindak dan menentukan keadaan dirinya berdasarkan hukum dan keadilan Tuhan. Jadi bagaimanapun, manusia tetap terikat dengan hukum dan keadilan Allah. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari realitas ini.
    Manusia diperhadapkan kepada hukum dan keadilan Tuhan, yaitu berkat atas ketaatan, atau kutuk atas pemberontakan. Oleh sebab itu, kehidupan ini harus sungguh-sungguh dijalani dan disikapi dengan sikap hati-hati. Allah tidak pernah mengambil alih kebebasan manusia, sebab Allahlah yang menciptakan kebebasan itu dan Allah menghendaki agar manusia menggunakannya semaksimal mungkin. Manusia diperhadapkan pada pilihan-pilihan dalam jalan hidupnya, apakah ia hidup dalam ketaatan kepada Tuhan yang mendatangkan berkat, atau pemberontakan yang mendatangkan kutuk. Dalam hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa nasib manusia ada di tangan manusia itu sendiri. Kalimat bahwa “nasib manusia di tangan manusia itu sendiri,” harus dilihat dari perspektif manusia, bukan dari perspektif Allah. Allah memiliki bagian yang pasti Allah penuhi, tetapi manusia juga memiliki bagian mutlak yang harus dipenuhinya. 
    Menjadi kehendak Allah agar kita mengontrol kehendak diri, tubuh, jiwa, dan roh kita sendiri dengan saksama. Penguasaan diri dimana seseorang mampu mengontrol dirinya sendiri dalam ketertundukan pada kehendak Allah, membuat dirinya dapat menjadi anak Allah yang berkenan di hadapan Bapa. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung dalam kehidupan kita, bukan karena Allah mengatur secara sepihak sehingga menghilangkan kebebasan kita. Manusia tidak pernah kehilangan kebebasan, sampai menyerahkan kebebasan itu kepada Tuhan atau musuh-Nya. Manusia tidak pernah menjadi seperti robot yang diatur oleh remote control. Hal ini merupakan ketetapan dari kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah tidak menentukan bagaimana nasib masing-masing individu, tetapi kedaulatan Allah menetapkan bagaimana masing-masing individu menentukan nasibnya.
    Manusia mengatur dirinya sendiri. Kalau ia mau mengatur dirinya sesuai dengan kehendak Allah, maka terbangunlah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Jika tidak, maka tidak berlangsung demikian. Manusia yang menentukan sendiri. Kita juga dapat menentukan keadaan diri kita untuk hidup dalam perkenanan Tuhan. Tentu semua ini bisa terjadi atau berlangsung dalam pimpinan Roh Kudus. Pembiasaan diri menuruti kehendak Allah melalui penyangkalan diri terus-menerus akan membuahkan kehidupan yang semakin serupa dengan Yesus.
    Iblis menghendaki agar kita menggunakan kebebasan dengan ceroboh. Sebab ketika kita menggunakan kehendak bebas dengan ceroboh, maka Iblis dapat lebih leluasa menguasai seseorang sampai pada tingkat penguasaan yang permanen. Terkait dengan hal ini, Paulus menasihati orang percaya untuk tidak memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27). Kata “kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon. Kata ini dapat diterjemahkan sebagai “tempat berpijak” atau “pangkalan.” Pangkalan yang disediakan seseorang bagi Iblis dalam kehidupannya akan membuat seseorang hidup dalam penguasaan Iblis sepenuhnya sampai tidak dapat melepaskan diri dari penjaranya.
    0 min
  • Bersaksi Dalam Batin
    Dalam perjalanan sejarah hidup manusia, semakin nyata bahwa manusia menjadi bertambah jahat. Hal ini dikemukakan oleh Paulus dalam suratnya, yaitu dengan adanya penyembahan kepada berbagai objek. Orang-orang yang menggantikan penyembahan yang benar dengan berbagai objek ini biasanya kelakuannya pun pasti rusak (Rm. 1:22-25). Kejahatan manusia berkembang terus sampai pada penyimpangan seksual seperti seks bebas, kekerasan seksual, dan berbagai perilaku seksual amoral lainnya. Dalam Roma 1:24 tertulis, “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” Dalam Roma1:26 Paulus menulis, “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan,” dan dalam Roma 1:28 tertulis, “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas.” Kalimat-kalimat ini menunjukkan bahwa Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu dan pikiran yang terkutuk sehingga melakukan berbagai kejahatan, dan tidak lagi memiliki nurani yang baik. Apakah tindakan Allah ini merupakan tindakan sewenang-wenang? Tentu tidak.
    Ada beberapa alasan mengapa Tuhan menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka—yaitu kecemaran—sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka; menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan dan pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas. Alasan-alasan mengapa Allah menyerahkan mereka kepada perbuatan yang busuk itu dapat kita peroleh dari beberapa teks ini: Pertama, dalam Roma 1:23 tertulis, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” Kedua, dalam Roma 1:25 tertulis “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.” Ketiga, dalam Roma 1:28 tertulis, “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah.” 
    Ayat-ayat di atas ini menunjukkan mereka yang memilih untuk tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau tidak hidup dalam kebaikan moral. Setiap manusia memiliki pilihan bebas untuk memilih hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau tidak. Pilihan bebas ini disebut sebagai kehendak bebas yang berangkat dari pikiran dan perasaan independen manusia yang dianugerahkan oleh Allah sendiri. Kita tidak perlu mempertentangkan kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia, karena keduanya saling berhubungan. Dalam kedaulatan-Nya, Allah memberi manusia pikiran dan perasaan yang melahirkan kehendak. Kehendak ini tidak diintervensi oleh Allah, dan merupakan bukti bahwa Ia tidak menghendaki manusia menjadi robot yang semata-mata dikendalikan oleh Allah. Dengan kehendak bebas, manusia dapat memilih untuk menuruti kehendak Allah dari dirinya sendiri. Di pihak lain, kehendak bebas juga dapat digunakan manusia untuk melawan kehendak Allah dan menyembah sosok lain di luar-Nya.
    Terkait dengan kehendak bebas, dapat diperoleh melalui fakta empiris bahwa objek yang disembah seseorang sangat memengaruhi perilaku penyembahnya. Dengan kalimat lain, dapat dikatakan bahwa bagaimana model dewa atau Allah yang disembah seseorang, begitulah model hidup manusia yang menyembahnya. “Model” di sini menyangkut gaya hidup dan seluruh perilaku, serta budaya manusianya. Di tengah-tengah kehidupan mereka, kadang dijumpai orang-orang yang nuraninya sangat baik. Namun, tidak jarang juga hidup mereka yang jahat dan kejam seperti gambaran allah yang mereka percayai. Pada dasarnya, kehendak bebas manusia untuk mempersekutukan dirinya dengan objek yang disembah, akan memengaruhi gaya hidup serta perilakunya.
     Tindakan manusia yang menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana,
    0 min
  • Tanpa Belenggu
    Roma 7:26 adalah salah satu ayat dalam Alkitab yang sangat sukar dipahami bukan hanya di antara ayat-ayat dalam kitab Roma, tetapi juga di antara semua ayat-ayat dalam Alkitab. Dalam Roma 7:26, Paulus memberikan kesaksian: “Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” Pernyataan Paulus ini—dalam terjemahan bahasa Indonesia—memberi kesan yang sangat kuat seakan-akan Paulus memiliki hidup dalam dualisme; dimana di satu pihak, dengan akal budinya, Paulus melayani hukum Allah; tetapi di pihak lain, dengan tubuh insaninya, melayani hukum dosa. Dengan kesan tersebut, seakan-akan secara akal pikiran Paulus menyetujui hukum Allah atau hidup dalam kesucian Allah, tetapi di pihak lain Paulus juga menyetujui untuk hidup dalam dosa atau masih hidup dalam dosa, karena menuruti keinginan dosa dalam dagingnya. Dalam hal ini, seolah-olah dikesankan karakter Paulus buruk. 
    Karena kesan tersebut, ada teolog-teolog yang memiliki pandangan bahwa pergumulan Paulus dalam Roma 7:23-26 adalah pergumulan Paulus sebelum ia mengenal Tuhan Yesus atau sebelum ia mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Juga ada yang mengatakan bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat tambahan yang tidak ada dalam naskah aslinya. Melalui sebuah penelitian, ternyata semua naskah asli memuat kalimat tersebut. Jadi, hal ini tidak boleh dibantah, karena memang Paulus menulis kalimat tersebut. Masalahnya adalah bagaimana memahami isi atau maksud tulisan Paulus tersebut? 
    Adalah pandangan yang sangat keliru kalau kita mengatakan bahwa pernyataan Paulus tersebut menunjukkan pergumulannya sebelum mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sebenarnya, pergumulan Paulus di sini adalah pergumulannya setelah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Sangat mudah untuk menunjukkan atau membuktikan bahwa hal tersebut adalah pergumulan Paulus sesudah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Hal ini ditunjukkan oleh Roma 7:25 dimana Paulus mengatakan, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Dari pernyataan ini, jelas sekali bahwa hal tersebut menunjukkan pergumulan Paulus setelah mengenal Yesus. Kalimat lengkapnya, Paulus menyatakan, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” Dalam terjemahan Alkitab bahasa Yunani, ayat 25 dan 26 ini tergabung. Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, juga banyak yang menggabungkannya.
    Dalam pernyataannya tersebut—di dalam terjemahan Bahasa Indonesia—Paulus menyatakan bahwa dirinya “melayani hukum dosa.” Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Paulus, sebab Paulus dalam kesaksiannya menyatakan bahwa sebelum mengenal Tuhan Yesus, ia adalah seorang yang tidak bercacat dalam melakukan hukum Taurat (Flp. 3:6). Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah mengenal hidup dalam perhambaan kepada dosa atau melayani hukum dosa. Justru yang dirasakan oleh Paulus adalah sebaliknya. Sebelum mengenal Tuhan Yesus—yaitu ketika hidup dalam keberagamaan Yahudi—ia merasa tidak bercacat, yang sama dengan tidak berdosa (Flp. 3:6). Perlu ditambahkan di sini bahwa yang dipahami oleh Paulus mengenai dosa—sebelum ia mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus—adalah pelanggaran terhadap hukum Taurat. Mengenai hal itu, ia menyaksikan bahwa dirinya tidak bercacat. Sangatlah tidak mungkin ia memiliki pernyataan bahwa dirinya diperhamba oleh dosa atau menghambakan diri kepada dosa. 
    Menjadi persoalan yang harus dipecahkan, benarkah Paulus hidup dalam dualisme? Tentu tidak. Memang dari pernyataan Paulus dalam Roma 7:26 tersebut, bisa muncul kesan bahwa Tuhan Yesus memperkenankan Paulus hidup dalam dualisme, sebab Paulus mengatakan kalimat di atas (Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa). Kalau dipahami demikian—dimana seakan-akan Tuhan Yesus menyetuju...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…