Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perhentian yang Sejati
    Orang percaya yang benar pasti belajar untuk memiliki “hidup dalam kesederhanaan.” Hal ini bukan masalah uang atau harta atau penampilan, melainkan menyangkut sikap hati. Sebenarnya, yang membuat kita meleset dari kehendak dan rencana Allah, yaitu ketika kita membuat hidup kita menjadi complicated; menjadi ruwet, menjadi rumit. Oleh sebab itu, kita mau belajar memiliki kehidupan yang benar-benar sederhana. Bagaimana memiliki kehidupan yang sederhana itu? Ternyata tidak mudah. Namanya “sederhana” atau simple, tetapi tidak mudah. Kehidupan yang sederhana dimulai dari kesediaan tidak memiliki keinginan apa pun, jika itu bukan kehendak Allah. Bahkan dalam lingkungan pelayanan pekerjaan Tuhan atau gereja, hendaknya tidak melakukan suatu kegiatan rohani jika hal tersebut bukan kehendak Allah, atau belum waktunya dilakukan. 
    Untuk memiliki kehidupan yang sederhana, kita harus bersedia kehilangan segala sesuatu, sehingga kita tidak memiliki target apa pun kecuali bagaimana menjadi manusia yang menyenangkan hati Allah saja. Kita tidak perlu dan memang tidak boleh mengingini karya-karya atau perbuatan-perbuatan yang tampak besar di mata manusia demi menonjolkan diri. Walaupun itu masih di dalam gerak pikiran, perasaan kita yang tersembunyi, itu sudah merupakan kemelesetan. Bagi kita, yang penting melakukan apa pun yang Allah inginkan, walaupun itu dipandang tidak berarti di mata manusia atau bahkan dipandang salah. Orang yang benar-benar sederhana adalah orang yang tidak memiliki kepentingan diri sendiri; semua adalah untuk kemuliaan Tuhan atau kepentingan Kerajaan Surga. 
    Kalau seseorang tidak berpikir simple (sederhana), dapat terlihat ketika mempunyai banyak kegiatan—bahkan kegiatan pelayanan gereja—tetapi di dalamnya ada agenda pribadi. Orang yang tidak sederhana menjadi licik dan cerdik memanfaatkan kesempatan dan manusia lain, untuk kepentingannya sendiri. Biasanya, orang-orang seperti ini juga tidak tahu membalas kebaikan orang lain. Orang yang sederhana adalah orang yang tidak melakukan sesuatu di luar komando Tuhan. Orang-orang seperti ini tidak mempersoalkan apakah perbuatan baiknya dihargai oleh orang atau tidak. Bahkan, sekalipun dibalas dengan kejahatan, ia tidak marah. Ini berarti orang yang sederhana adalah orang yang tidak menuntut balas kebaikan yang dilakukan. Kalau ada yang mengecewakan dirinya, siapapun, bahkan oleh pasangan hidup, anak, atau keluarga dekat, ia tidak menganggapnya sebagai masalah besar. Ia sangat mengerti bagaimana membalas budi kebaikan orang lain. 
    Tuhan Yesus berkata, “Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kamu kelegaan.” “Kelegaan” itu perhentian (anapauso). Yesus berkata akan memberi perhentian. Kemudian Yesus juga berkata, “Belajarlah pada-Ku, supaya kamu bisa hidup di dalam perhentian itu.” Yesus menjanjikan, jiwa orang yang datang kepada-Nya akan memperoleh ketenangan atau kelegaan atau perhentian. Dalam teks aslinya di dalam ayat tersebut, terdapat dua kata “anapauso.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kata anapauso yang pertama diterjemahkan kelegaan, sedangkan kata anapauso yang kedua diterjemahkan “jiwamu mendapat ketenangan.” Ini bisa membangun pemikiran yang salah. Maksud pernyataan Yesus tersebut adalah agar kita memikul kuk dan belajar dari Yesus, sebab Yesus lemah lembut dan rendah hati, dan jiwa orang percaya akan mendapat anapauso atau perhentian kalau sudah belajar dari Tuhan Yesus. 
    Letih lesu dan berbeban berat yang dimaksud oleh Yesus ini bukan disebabkan karena masalah-masalah hidup seperti yang dialami manusia pada umumnya; yaitu apakah masalah ekonomi, kesehatan, belum mendapat jodoh, belum mendapatkan anak, belum memiliki fasilitas rumah, dan lain sebagainya. Setiap orang pasti mempunyai masalah, dan selalu akan ada masalah yang membuat orang letih lesu secara umum. Jadi, sebenarnya penyebab dari letih lesu dan berbeban berat yang dimaksud Yesus bukan karena masalah-masalah umum,
    0 min
  • Hidup yang Disita
    Kita bersyukur bahwa Tuhan semakin menyingkapkan atau membukakan kebenaran-kebenaran firman-Nya kepada kita, yang membuat kita lebih kokoh lagi dalam berkomitmen untuk hidup suci, untuk meninggalkan percintaan dunia, dan haus untuk benar-benar mengalami Tuhan. Pada bulan-bulan terakhir ini, kita—para pecinta Suara Kebenaran—selalu mendengar hal mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kadang-kadang dengan hati yang pedih, dengan hati yang agak kecewa, dengan hati yang menyesal, dan dengan perasaan krisis, kita menemukan banyak orang yang sebenarnya belum mengalami Tuhan. Tentu mengalami Tuhan itu bukan hanya pengalaman, misalnya liturgi, ikut berdoa, berdoa lama di menara doa, bukan itu. Seremonial atau kebaktian, baik itu kebaktian umum, kebaktian keluarga, atau berdoa di ruang doa, itu masih bersifat liturgi, dan sering kali itu masih merupakan satu pengalaman keagamaan, bukan atau belum merupakan pengalaman dengan Tuhan.
    Lebih menyedihkan sekarang ini, adanya banyak orang yang belajar teologi merasa sudah mengalami Tuhan, padahal belum. Memang pintar berbicara dan bisa memaknai setiap kejadian atau peristiwa sebagai pengalaman perjumpaan dengan Allah, padahal itu masih pseudo (palsu); masih fantasi. Pengalaman dengan Tuhan itu sesuatu yang benar-benar riil. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:6, bahwa kalau kita mencari Allah dan kita percaya Allah itu ada, dan Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia; kita akan benar-benar mengalami-Nya. “Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah bagi orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Sosok yang selalu bisa menjadi acuan orang percaya adalah Abraham. Bagaimana hidup Abraham disita seluruhnya untuk memenuhi panggilan yang Allah berikan kepadanya, yaitu meninggalkan Ur-Kasdim guna menemukan negeri yang Allah akan tunjukkan, walaupun sampai Abraham meninggal ternyata ia belum menjumpai negeri itu. Dan dalam Ibrani 11, ternyata negeri itu adalah langit baru bumi baru. Dari ayat 11-13, kita membaca bahwa negeri itu bukan di bumi ini.
    Orang yang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, hidupnya akan disita untuk memenuhi panggilan Allah. Yang mencemaskan hati kita, yang membuat gundah adalah banyak orang Kristen masih hidup dalam kewajaran seperti manusia lain dengan prinsip-prinsipnya yang tidak berstandar kehidupan Yesus. Hanya bedanya, orang-orang Kristen itu ke gereja dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi dalam prinsip-prinsip hidup pada umumnya, filosofi yang mereka kenakan tidak beda dengan anak dunia. Sementara itu, banyak teolog dan pembicara di mimbar gereja menggarami jemaat dengan penggaraman yang salah. Mereka mengesankan kalau sudah membicarakan tentang Tuhan, khususnya berteologi, mereka merasa sudah masuk wilayah Allah, dan mereka merasa sudah mengalami Tuhan. 
    Kita harus belajar teologi dengan benar, tetapi perjumpaan dengan Allah dalam hidup setiap hari itu yang penting. Dan orang yang mengalami perjumpaan dengan Allah itu, pasti akan tampak dari tutur katanya, dari karya-karyanya yang nyata bagi sesamanya, bukan hanya dari khotbahnya dan bukan hanya dari paparan teologinya. Dengan adanya media sosial ini, banyak orang yang mengangkat diri melalui keberaniannya berbicara. Padahal, yang dibicarakan itu sudah ada di buku-buku teologi, dan sebenarnya orang Kristen tinggal membacanya sendiri. Mereka membicarakan tanpa “spirit” atau roh yang membakar kehidupan rohani yang dibutuhkan pada masa ini. Mereka tidak mengajarkan bahwa orang percaya hidupnya harus disita oleh Allah dalam panggilan-Nya.
    Orang yang benar-benar mencari Allah, hidupnya disita hanya untuk mencari Allah. Jadi, Tuhan itu bukan menjadi tambahan (suplemen); Tuhan itu segenap hidup kita. Maka ketika Tuhan Yesus berkata, “Rezeki-Ku melakukan kehendak Bapa;” atau “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa,
    0 min
  • Tidak Ada Kata “Amin”
    Tuhan Yesus berkata di dalam Yohanes 17:21, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Tuhan memberi kepada orang percaya hak istimewa untuk ada dalam persekutuan dengan Bapa, Bapa di dalam Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus ada di dalam Allah Bapa, dan orang percaya di dalam Bapa dan Anak. Adalah suatu hal yang sangat luar biasa.  Kita orang ini yang tadinya adalah pemberontak, manusia yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, diperkenan tinggal di dalam Bapa dan Anak. Ini hal yang sangat luar biasa. Tetapi saying, tidak semua orang Kristen memiliki mengalami hal ini, karena mereka tidak berjuang belajar untuk hidup dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak.
    Sejatinya, orang-orang yang tinggal dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak adalah gereja yang tidak kelihatan, yang tidak perlu memiliki merk, tidak perlu di bawah sinode, atau denominasi, yaitu orang-orang memang sudah ada di dalam hadirat Bapa setiap hari.  Gereja yang sesungguhnya, yang tubuhnya didiami Roh Kudus, adalah orang-orang percaya yang selalu ada di hadirat Allah. Ironis sekali setelah rambut kita memutih, usia menua, baru kita bisa menghayati apa artinya ada di hadirat Allah setiap saat. Kita semua memang sebenarnya ada di dalam cengkeraman kehadiran Allah, setiap kita. Tetapi apakah seseorang benar-benar membangun hadirat Allah di dalam hidupnya, itu tergantung masing-masing individu. Banyak orang Kristen, termasuk kita dulu, tidak mengrti hal ini sehingga tidak hidup di hadirat Allah dengan benar. 
    Kalau kita mau membangun hadirat Allah di dalam hidup kita atau kita mau tinggal di dalam hadirat Allah, maka kita benar-benar dapat terus mengingat, terus-terus menghayati, terus-menerus dalam kesadaran bahwa kita ada di hadapan Allah. Jika demikian, maka kita pasti tidak akan berani sembarangan berbuat dosa. Pasti kita tidak akan merasa takut dan gentar menghadapi apa pun. Masalahnya, sering kita ini bersikap dualisme. Pada waktu kita ada dalam pertemuan doa, pada waktu kita kebaktian kita berusaha menghayati kehadiran Allah dan kita merasa ada di hadirat Allah, tetapi setelah selesai kebaktian, selesai pertemuan bersama dalam doa, kita sudah keluar dari hadirat Allah. 
    Itu juga yang kita telah lakukan dan alami sebelum mengerti kebenaran ini. Dengan keadaan tersebut kita menjadi orang-orang Kristen yang munafik. Tidak ada satunya kata dan perbuatan, tidak ada sinkronnya antara pujian nyanyian yang kita ucapkan pada waktu kita di dalam kebaktian dengan kehidupan setiap hari. Ini yang benar-benar harus kita sadari, kita ratapi dan kita mau bertobat dan berubah. Sekarang kita harus mengerti bagaimana membangun hadirat Allah di dalam hidup ini. Memang dibutuhkan perjuangan, latihan, pembiasaan, sampai hal itu menjadi irama dalam hidup kita. Sesungguhnya hal ini adalah privilege (hak istimewa), yaitu untuk tinggal di dalam Bapa dan Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. 
    Dalam Yohanes 20:21 Yesus menyebut “orang percaya” boleh ada dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak. Mereka adalah orang-orang percaya yang dikelompokkan oleh Tuhan dan disebut dengan istilah ‘mereka’. Seperti yang dikatakan dalam Firman Tuhan, orang-orang yang dikelompokkan sebagai orang-orang yang benar-benar dipandang sebagai gereja Tuhan yang sejati, “Agar mereka juga di dalam Bapa dan Anak.” Oleh sebab itu hendaknya kita membangun kehidupan seperti ini. Kalau kita tidak membiasakan diri mulai sekarang hidup dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak, maka kita tidak akan pernah bisa selamanya. Ini benar-benar mengasyikkan, menyenangkan, luar biasa. Dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak sampai kita bisa mengerti bahwa kita bisa hidup tanpa siapa-siapa, dan bisa hidup tanpa apa-apa, tetapi kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Kita baru bisa mengerti bahwa harta kita itu adalah Allah Bapa...
    0 min
  • Keharuman di Hadapan Allah
    Firman Tuhan dalam Wahyu 14:13, “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”  Kebenaran yang termuat di dalam ayat ini terkait dengan bagaimana kita membangun kehidupan yang berbau harum di hadapan Allah. Kelakuan kita, perilaku kita, baik yang ada di dalam pikiran, batin kita, setiap ucapan kita dan perilaku kita yang kelihatan, itu bisa menjadi suatu keharuman di hadapan Allah, yaitu jika kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang diingini oleh Allah atau sesuai dengan hakikat Allah. Hakikat Allah yang kasih, yang adil dan yang kudus.
    Jadi ketika perbuatan kita itu sesuai hakikat Allah, atau mengekspresikan hakikat Allah, maka ada keharuman yang dicium oleh Allah. Tentu saja Allah tahu, apakah dalam mengekspresikan hakikat Allah kita melakukannya dengan sikap hati yang benar, artinya kita melakukan sesuatu dengan hati yang mengasihi Allah. Tentu setelah seseorang diproses lewat perjalanan panjang didewasakan oleh Tuhan melalui karya Roh Kudus, sehingga berkeadaan (being) berkodrat Ilahi. Di mana segala sesuatu yang dilakukan memang sesuai dengan hakikat Allah tersebut. Hakikat yang kasih, yang kudus dan yang adil, pasti tidak melukai orang. Dan keharuman seperti itu menyukakan hati Allah. 
    Sebaliknya, kalau perbuatan seseorang sehakikat dengan kuasa kegelapan—seperti egoisme, kebencian, dendam, gila hormat yang pasti melukai orang, menyakiti sesame—itu menjadi bau busuk di hadapan Allah. Perbuatan yang melukai orang yang membuat dendam, kebencian, gila hormat, mencari sanjungan pujian manusia, kepuasan daging, kepuasan jiwa yang keruh, itu mendukakan hati Allah. Bau busuk. Nah, bau ini merupakan bau kekal atau bau abadi di neraka. Ketika seseorang meninggal dunia, apakah ia memiliki keharuman ataukah ia memiliki kebusukan, itu adalah akhir hasil yang akan dibawa di hadapan pengadilan takhta Kristus. Itu menjadi nilai kekalnya.
    Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa nanti setelah mati masih ada semacam proses di balik kubur; kalau di dunia baunya busuk nanti setelah mati bisa diproses, lalu menjadi harum. Tentu tidak demikian. Ini ajaran yang menyesatkan.  Kalau sudah di hadapan Allah nanti pasti orang gemetar, lalu meminta ampun. Nah, itu permintaan ampun yang palsu. Mestinya permintaan ampun itu sejak sekarang, sejak hari ini, yaitu ketika menghadapi kenyataan dunia yang jahat. Ketika seseorang mengakui dosa dan bertobat minta ampun, walaupun Allah tidak kelihatan, dan kadang-kadang seperti tidak ada, sementara orang di sekitar kita hidup suka-suka sendiri, tetapi tetap memilih untuk taat kepada Allah, itu baru pertobatan yang benar atau sejati. Dan itu yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah. 
    Olah sebab itu, kita harus bebenah atau berkemas-kemas mulai sekarang sejak kita hidup di dunia. Kita benahi hidup kita supaya kita memiliki keharuman. Dan ketika kita meninggal dunia maka keharuman kita itu—yaitu keharuman yang kita capai, keharuman yang kita bangun, keharuman yang kita buat sejak kita di dunia ini—menjadi keharuman kekal di hadapan Allah. Itu tidak ada rekayasa, tidak ada kamuflase, tidak mungkin ada kemunafikan. Oleh sebab itu kita memeriksa diri kita hari ini, apakah kita memiliki keharuman di hadapan Allah atau bau busuk.
    Oleh sebab itu, kesempatan di mana kita ada di hadapan Tuhan seperti saat ini, kesempatan kita bisa mengoreksi diri dengan baik: apakah jalan hidup kita benar-benar bersih atau tidak? Karenanya kita harus selalu memperhatikan setiap langkah kita, setiap menit ke menit, setiap jam ke jam. Kalau ada sesuatu yang buruk atau busuk, kita akui di hadapan Allah, minta pengampunan-Nya, kemudian dibereskan, dan melakukan pemberesan atau dilakukan penyelesaian di hadapan Allah.
    0 min
  • Penghiburan Bagi Allah
    Seperti yang kita tahu bahwa Tuhan kita adalah Allah yang memiliki perasaan. Dan tentu saja Allah memiliki kesukaan yang bisa dinikmati oleh Dia. Pernahkah kita merenungkan dengan sungguh-sungguh kira-kira apa yang menjadi kesukaan Allah atau yang bisa membahagiakan hati-Nya? Apa yang dapat menyenangkan hati Dia? Ternyata yang benar-benar dapat menyukakan hati Allah adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kita harus berani berkomitmen menjadi orang-orang yang menyukakan hati Allah, yang menghibur hati Allah. Di dalam kitab Kejadian 6:1-6, dikatakan bahwa manusia telah menjadi bejat, rusak. Dan firman Tuhan mengatakan, hal itu memilukan hati-Nya, karena kejahatan memuncak bertambah-tambah, hal itu benar-benar mendukakan hati Allah. Tetapi ada seorang yang bernama Nuh, yang menjauhi kejahatan, dan tentu memeroleh kasih karunia dari Allah. Nuh artinya anak penghiburan. Anak yang menghibur. Ternyata Nuh bukan hanya menjadi anak penghiburan yang menghibur orangtua dan masyarakat sekitarnya, justru Nuh menjadi anak penghiburan bagi Allah Bapa. 
    Kenyataannya, Nuh tidak menjadi penghiburan bagi orang di sekitarnya yang menolak untuk masuk bahtera. Karena Nuh menjadi semacam “penyakit” di masyarakat. Menurut masyarakat, Nuh memiliki ide dan pikiran yang konyol yang menyatakan akan ada air bah yang melanda dunia. Dan itu membuat mereka menjadi terganggu dan menolak pemberitaan kebenaran dari Nuh (2Ptr. 2:5).  Sementara orang menikmati kehidupan secara langsam, sesuai dengan irama hidup pada waktu itu, Nuh aneh sendiri, dia membuat bahtera dan menyerukan akan adanya banjir yang akan memenuhi bumi. Paling tidak jagad waktu itu di sekitar hidup mereka yang akan menenggelamkan semua makhluk. Dan memang menurut penyelidikan telah pernah terjadi banjir yang meliputi dunia. Pemberitaan Nuh mengganggu ketenangan orang pada zamannya.
    Apa yang disampaikan Nuh itu pasti menjadi ancaman bagi masyarakat di zaman itu. Mengganggu ketenangan, mengganggu ketentraman mereka. Dan apa yang dilakukan Nuh itu juga berseberangan, bertolak belakang dengan aktivitas hidup masyarakat yang berlangsung pada waktu itu. Inilah Nuh, menjadi penghiburan bagi Allah, kesukaan hati Allah, tapi menjadi “penyakit” dan ancaman bagi masyarakat. Dunia kita hari ini seperti zaman Nuh, yang dikatakan di Lukas 17, Tuhan Yesus yang mengatakan, “orang sibuk makan dan minum, menanam dan membangun, menjual dan membeli, kawin dan mengawinkan.”  Kita harus menjadi anak-anak penghiburan yang menjadi kesukaan hati Allah. 
    Kita bisa menjadi orang-orang yang menyukakan hati Bapa. Bapa menyenangi hidup kita, langkah-langkah kita yang menghibur hati Allah. Betapa indahnya kalau menjadi seseorang yang diperhatikan oleh Allah, karena kita selalu membuat senyum-Nya. Di tengah-tengah kepedihan hati Allah melihat dunia yang jahat, dunia yang rusak ini, Allah Bapa masih bisa tersenyum melihat kita. Kita bisa menjadi penghiburan bagi Allah Bapa kita dan bagi Tuhan Yesus Kristus, yang hatinya pedih melihat kejahatan yang bertambah-tambah di dunia ini. Tentu saja hal ini kita lakukan bukan dengan terpaksa, tetapi kita lakukan dengan rela, dengan sukacita, karena inilah kehormatan kita.
    Sekarang ini hampir-hampir tidak ditemukan manusia yang menjadi penghiburan bagi Allah.  Namun demkian, kita memilih menjadi manusia yang menjadi penghiburan bagi Allah. Memang pada awal-awal kita belajar menjadi anak kesukaan yang menghibur hati Allah itu berat sekali, karena bertentangan dengan keinginan daging kita dan keinginan jiwa kita yang sudah cemar oleh dosa. Tetapi kalau kita terus berjuang akan menjadikan hal itu irama yang tetap di dalam diri kita, yaitu menjadi kesukaan kita, kita dapat mencapainya. Kalau dulu kita menikmati dosa dan bagi kita dosa itu kesukaan, karena kita nikmati dalam daging dan jiwa kita yang keruh, sekarang kita mau menikmati kesucian, kita merasakan keharuman kesucian hidup di mana kita hidup dalam penurutan terhadap kehe...
    0 min
  • Bersyukur yang Benar
    Kita harus bersyukur atas pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Penyertaan Tuhan sejak kita dilahirkan, masa kanak-kanak sampai hari ini adalah pemeliharaan Allah yang sempurna. Kalau kita sungguh-sungguh menyadari betapa besar kasih Tuhan atas hidup kita, maka kita tidak berani lagi menuntut apa-apa kepada-Nya. Kita tidak berani lagi mencoba mengatur Tuhan. Tetapi yang kita lakukan adalah menyerahkan hidup kita, dan memberi diri untuk diatur oleh Tuhan, sesuka hati Tuhan, atau yang sama dengan kita menyediakan diri untuk hidup dalam kedaulatan Allah. Kebaikan Tuhan atas kita tidak akan pernah bisa kita hitung, baik yang kelihatan, yang kita tahu, maupun yang tidak kita sadari. Terlalu banyak berkat dan pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Sejak kita dirajut oleh Tuhan di dalam kandungan ibu, kita dilahirkan dengan sempurna. Masa kanak-kanak kita di dalam pimpinan Tuhan, lalu memasuki remaja dan seterusnya. Kita berutang kebaikan kepada-Nya.
    Belum lagi kalau kita menyadari betapa besar harga keselamatan yang Allah Bapa berikan, dengan memberikan Putera Tunggal-Nya kepada kita. Sungguh kita tidak akan pernah bisa menghitung jumlah berkat Tuhan, dan kita tidak pernah akan bisa dapat membalas atau mengembalikan kebaikan Tuhan. Tetapi kita bisa bersyukur dengan tulus. Dan ucapan syukur kita bukan hanya dengan kata-kata, tetapi kita bisa mengucap syukur dengan tindakan, dengan perbuatan, yaitu menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, hidup di dalam pengaturan Tuhan.
    Sikap kita membalas kebaikan Tuhan adalah dengan menyerahkan hidup agar kita hidup di dalam kedaulatan Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya. Ini juga merupakan langkah untuk menyelamatkan diri kita, supaya kasih yang Allah sediakan kepada kita akan lebih lengkap, lebih sempurna, lebih utuh kita terima. Sebab berkat yang Allah sediakan bagi kita juga tidak terbatas, tidak hanya sampai pada saat ini. Tetapi berlanjut terus dalam bentuk proses pendewasaan agar kita serupa dengan Yesus. Tetapi sayang, kalau jujur banyak berkat-berkat Tuhan yang telah kita sia-siakan. Seandainya dari dulu kita hidup di dalam kebenaran Tuhan, dalam kesucian, dalam kekudusan Tuhan, dalam penurutan terhadap kehendak Allah, pastilah lebih lengkap, lebih banyak, lebih utuh berkat yang Allah sediakan bagi kita dapat kita alami dan kita miliki. Tetapi kita telah banyak mengambil salah langkah, kita sering mengambil keputusan keliru, bahkan kita juga sempat menjadi domba yang terhilang.
    Pada saat-saat kita tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, berkat-berkat kekal dari Tuhan banyak terbuang sia-sia, yang mestinya bisa kita miliki. Tetapi bersyukur Tuhan membawa kita kembali kepada-Nya. Masih banyak berkat yang Allah sediakan, yaitu kekekalan dimana kita diubah terus untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak mengambil langkah yang keliru lagi, kita harus menyerahkan hidup kita sepenuh kepada Tuhan, untuk hidup di dalam kedaulatan Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya. Dan itu pun tidak mudah kita raih. Kita harus berjuang untuk belajar berjalan bersama Tuhan. Kita harus terus menerus belajar mengenal kebenaran, dan hidup di dalam kebenaran tersebut. Melalui pemberitaan Suara Kebenaran yang kita dengar, melalui doa-doa yang kita lakukan, kita mencari wajah Tuhan. Kita mau mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Kita bisa tahu rencana Allah dalam hidup kita yang harus kita penuhi atau tugas khusus atau tugas istimewa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing.
    Kita akan sangat menyesal kalau suatu saat di hadapan Allah, ketika pengertian kita menjadi lengkap dan utuh, ternyata kita menyia-nyiakan berkat-berkat kekekalan yang besar yang Allah sediakan bagi kita. Tapi kiranya hal itu tidak akan terjadi di dalam hidup kita. Dengan mengerti kebenaran ini dan mengenakan kebenaran ini, kita masih dapat meraih berkat-berkat yang Allah sediakan bagi kita di waktu mendatang.  Allah bukan hanya baik,
    0 min
  • Merindukan Tuhan
    Kita tidak bisa memiliki Tuhan sekaligus juga memiliki dunia. Banyak orang, termasuk kita dulu, berpikir itu bisa. Tetapi sekarang harus mengerti bahwa kita tidak bisa memiliki dua-duanya. Kalau kita mau memiliki Tuhan dan dimiliki oleh Tuhan, kita harus hanya dimiliki oleh Dia dan memiliki Dia. Segala sesuatu yang ada pada kita hari ini harus benar-benar kita pandang, kita anggap sebagai milik Tuhan, bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Dan itu bukan hanya sekadar perkataan. Bagaimana kita bisa memperlakukan seluruh milik kita sebagai milik Tuhan? Yaitu kalau kita tidak menggunakan itu untuk kepentingan kita sendiri, bukan untuk sebuah harga diri, bukan untuk sebuah penghormatan dari manusia atau sanjungan, pujian dari manusia atau bukan untuk memperalat orang lain. Tetapi segala sesuatu yang kita lakukan benar-benar untuk kemuliaan atau kepentingan Tuhan. 
    Dalam hal tersebut dibutuhkan kepekaan terhadap kehendak Allah. Kita harus belajar bertumbuh dalam kebenaran, sehingga kita memiliki pikiran perasaan Kristus. Hal ini tidak bisa dijelaskan secara lengkap, secara jelas, secara utuh dengan kata-kata, tetapi bisa dirasakan. Bisa dirasakan dan dihayati melalui pengalaman berjalan dengan Allah secara riil. Untuk ini kita harus memandang semua yang ada pada kita sebagai bukan milik kita lagi. Kita melihat keindahan dunia ini seperti tidak ada nilainya, dan memang tidak ada nilainya, jika tidak digunakan untuk kesenangan hati Tuhan. Itulah yang sering dikatakan sebagai tidak menyisakan apa pun bagi kita sendiri. 
    Dengan demikiankita dapat mengalami sukacita dan damai sejahtera Tuhan. Sukacita dan damai sejahtera Tuhan tidak bisa difantasikan, atau hanya di dalam pikiran. Tetapi harus dialami secara rill atau nyata, yaitu ketika seseorang merasakan suasana atau atmosfir Kerajaan Surga. Salah satu ukuran apakah kita benar-benar telah melepaskan segala sesuatu adalah apakah kita benar-benar merindukan bertemu dengan Tuhan. Kita tidak boleh berfantasi dalam kerinduan terhadap Tuhan. Tidak boleh munafik. Apakah kita benar-benar merindukan bertemu dengan Tuhan? Orang yang benar-benar merindukan Tuhan dapat merasakan kebahagiaan bertemu dengan Tuhan Yesus. 
    Kalau kita benar-benar menjadi mempelai yang setia, seperti perawan suci yang tidak bernoda, maka tidak ada kegembiraan dalam hidup kecuali kita menyenangkan hati Allah Bapa. Melakukan segala sesuatu yang Allah Bapa kehendaki, dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada kita masing-masing (Yoh. 4:34). Sebab masing-masing kita pasti memuat, memikul, menanggung rencana Allah yang harus kita genapi. Bagi orang-orang di sekitar kita, di tempat di mana kita berada, dalam keluarga besar, di tempat kerja, di lingkungan pergaulan, dan lain sebagainya. Ketika kita sampai pada level atau stadium hidup kekristenan seperti ini, kita bisa benar-benar mengerti apa artinya kebahagiaan puncak. Dan itu kehidupan yang sangat indah dan luar biasa. 
    Kita tidak merasa berbuat baik kalau kita melakukan sesuatu untuk sesama kita, karena kita merasa itulah irama hidup yang menjadi kesukaan hati Bapa. Kalau kita berkorban untuk pekerjaan Tuhan, kita tidak merasa sedang memberi karena memang semuanya milik Tuhan. Dan kita sedang melakukan apa yang menjadi bagian kita, dan itu menjadi kesukaan kita. Surga menjadi begitu dekat. Dan rasanya kita ingin segera melangkah melihat Kerajaan Bapa di surga. Sebelum tidur kita bisa membayangkan hamparan padang hijau yang begitu indah, langit baru bumi baru. Belum lagi Istana Allah Bapa kita yang begitu agung. Dan itu semua adalah realitas, karena nanti kita akan memiliki tubuh kebangkitan, atau tubuh kemuliaan seperti tubuh Tuhan Yesus. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “kita akan makan dan minum bersama dengan Tuhan.” Luar biasa!
    Oleh sebab itu, komunitas “pecinta suara kebenaran” kiranya menjadi komunitas yang benar-benar mempersiapkan diri menjadi mempelai-mempelai Tuhan.
    0 min
  • Menikmati Kesucian
    Pasti semua orang tahu apa artinya menikmati dosa. Menikmati dosa artinya menikmati hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah tetapi menyenangkan daging kita, menyenangkan jiwa kita yang telah dicemari oleh dunia. Semua manusia telah jatuh dalam dosa, yaitu orang-orang yang hidup menikmati dosa.  Sehingga hal itu menjadi ikatan dalam kehidupan seseorang seperti sebuah candu atau selalu ketagihan untuk melakukan atau menikmatinya lagi. Berbicara mengenai candu, makanan kesukaan juga bisa menjadi ikatan seperti candu, walau tidak sekuat alkohol atau narkoba. Alkohol dan narkoba berpotensi kuat menjadi ikatan yang pada akhirnya benar-benar membunuh fisik, sampai membawa kematian. Demikian pula dengan dosa, bisa dinikmati dan menyenangkan sampai seseorang tidak bisa lepas dari hal itu sampai mati, kemudian masuk neraka. Banyak orang mengenal, mengalami, dan bahkan menikmati dosa secara terus menerus sampai mati, ini mengerikan sekali. Sebab orang yang menikmati dosa tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Yerusalem baru hanya untuk orang-orang kudus, yang tidak bercacat tidak bercela (Why. 21:27).
    Kalau dosa bisa dinikmati, demikian pula kesucian mestinya juga bisa dinikmati. Tetapi faktanya sedikit sekali orang yang benar-benar menikmati kesucian sampai menjadi kecanduan terhadap kesucian tersebut. Kesucian itu bisa dinikmati, masalahnya adalah bagaimana bisa menikmati kesucian? Dimulai dari tekad kita, komitmen untuk menyenangkan hati Allah. Ini adalah pilihan. Setiap orang diperhadapkan pada pilihan: apakah menyenangkan diri sendiri—yaitu memuaskan keinginan daging—atau mau menyenangkan hati Tuhan? Kita harus memilih dan menetapkan hati, walaupun kita masih ada di dalam kodrat dosa, bahkan sementara masih juga jatuh bangun. Namun demikian, kita bisa berkomitmen untuk memilih hidup suci atau menikmati kesucian, artinya memilih untuk menyenangkan hati Allah. Hal ini harus kita putuskan. Kalau kita berani mengambil keputusan untuk menyenangkan hati Tuhan dalam segala hal dan setiap saat, itu berarti kita mengasihi Tuhan. Orang bisa belum sempurna, tapi bisa berkomitmen secara bulat untuk mengasihi Tuhan. Orang-orang seperti ini pasti dipimpin Roh Kudus kepada kesempurnaan.
    Dalam perjalanan hidup dipimpin Roh Kudus seseorang akan mendapat banyak tantangan, godaan, cobaan dan tawaran kenikmatan daging. Kenikmatan dunia atau kesempatan-kesempatan untuk memuaskan keinginan daging dan keinginan jiwa yang dicemari dosa, selalu ada. Dalam hal ini seseorang bergelut dan bergumul. Tidak sedikit yang jatuh bangun. Namun demikian kita tidak boleh berhenti berkomitmen untuk mengasihi Allah. Kita tidak boleh berhenti berkomitmen untuk menyenangkan hati Allah. Komitmen kita untuk menyukakan hati Allah harus di-update setiap hari. Di-update artinya harus diperbaharui setiap hari. 
    Selanjutnya kita harus berjuang bagaimana kita bisa menikmati kesucian secara permanen. Ketika kita memilih untuk taat, pada saat itu juga ada kesempatan berbuat dosa. Dalam hal ini Tuhan mengizinkan kita mendapat peluang atau kesempatan untuk menikmati dosa. Di mana kelemahan kita, di situ kita diuji. Kalau kelemahan seseorang adalah kesombongan, Tuhan memberi kesempatan untuk menjadi sombong. Kalau kelemahan seseorang adalah materi harta dunia, Tuhan memberi kesempatan untuk menikmati materi harta dunia.  Kalau kelemahan seseorang adalah seks, ada kesempatan untuk melakukan dosa perzinaan dan lain sebagainya. 
    Jadi ketika kita mendapat kesempatan berbuat dosa, yaitu menikmati suatu kesukaan yang bertentangan dengan kesucian Allah, kita harus menolak dengan tegas. Untuk ini kita harus rela menyakiti diri sendiri, demi menyenangkan hati Tuhan.  Kalau kita mau memuaskan diri sendiri, maka kita tidak menolak perbuatan dosa tersebut, selanjutnya hal itu akan menjerat dan menjadi seperti candu yang mengikat. Tetapi kalau kita menolak dengan tegas perbuatan dosa, pada mulanya menyakitkan diri kita sendiri,
    0 min
  • Satu-satunya Kebahagiaan
    Tidaklah keliru, kalau kita mempunyai barang branded, arloji bagus, mobil bagus, rumah bagus, kalau itu memang bagian kita yang Allah berikan. Tetapi kalau hal-hal tersebut ternyata menjadi kebahagiaan dan kesenangan hidup kita, seakan-akan hal-hal itu bisa menjadi kebahagiaan yang kita miliki di samping Allah, itu sangat berbahaya. Kalau kita memandang sesuatu sebagai dapat membahagiakan hidup di samping Allah, berarti kita memiliki allah lain di hadapan Allah Yahweh.  Kita harus menjadikan Allah Bapa kita sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Dan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang lain yang dapat membahagiakan kita, selain Dia. Dan itu harus terus di-update, diperbaharui setiap hari. Bangun tidur kita menghadap Tuhan, kita mengambil keputusan bahwa hanya Dia satu-satunya tujuan hidup kita, hanya Dia satu-satunya yang berharga. Kita bekerja, kita melakukan segala sesuatu, kita lakukan untuk Tuhan. Mau tidur kita diam, kita merenung di pembaringan, bahwa kita memilih Tuhan, bahwa Tuhan satu-satunya yang berharga dalam hidup ini. Tidak ada yang lebih berharga selain Dia, dan memang hanya Dia yang berharga dalam hidup ini. 
    Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang berharga dalam hidup ini, maka kita akan dihormati Tuhan suatu saat nanti di hadapan Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Juga di depan para malaikat, kita dihormati sebab kita menghormati Allah secara patut. Inilah yang menjadi gairah hidup kita, dan inilah yang menyemangati hidup kita. Hal ini membuat kita bergerak dan melakukan segala sesuatu. Jadi segala sesuatu yang kita lakukan dimotori atau digerakkan oleh cinta dan hormat kita kepada Tuhan. Kesempatan ini tidak akan terulang, sekali untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu kita harus memanfaatkannya.
    Kita akan menyesal, kalau kita tidak menggunakan atau tidak memanfaatkan kesempatan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, kita harus melepaskan semua keterikatan dengan dosa dan keinginan memiliki apa yang manusia pada umumnya miliki. Ini adalah harga yang harus kita bayar untuk memiliki Allah, yaitu menjadikan Dia sebagai satu-satunya yang kita miliki dan yang berharga dalam hidup ini. Kebenaran ini harus menjadi inspirasi dalam hidup kita. Kita harus mulai belajar dari saat ini sebelum tidak kesempatan lagi dan jangan sampai kita mengeraskana hati (Ibr. 3:15). 
    Di tengah-tengah bullying orang, fitnah yang ditujukan kepada kita, kita tidak boleh merespons salah. Sebaliknya, hal itu justru memicu kita untuk hidup benar. Kita harus berterima kasih kepada orang-orang yang mem-bully dan memfitnah kita, mereka yang memandang kita sesat, bahkan menilai kita sebagai orang yang benar-benar buruk dan jahat. Bullying tersebut bisa berasal dari orang jauh, tetapi juga dari orang yang dekat dengan kita. Bullying tersebut bisa membuat kita merasa kehilangan kebahagiaan, sebab kita merasa direndahkan dan dihina. Tetapi justru melalui hal tersebut Tuhan mengoreksi diri kita, sekaligus kita belajar untuk tidak membangun kebahagiaan dari nilai diri di mata manusia. Justru melalui bullying tersebut kita berjuang untuk bisa menjadi orang yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menjadi untuk menjadi anak kesukaan-Nya. 
    Dulu kita adalah orang yang mempunyai kesombongan atau harga diri, berusaha untuk dianggap sebagai orang yang lebih baik dari orang lain, lebih mulia, lebih rohani, dan lain sebagainya, Hal itu menjadi kebahagiaan kita. Tetapi dengan bullying tersebut akhirnya kita dapat diubah hanya untuk mencari kemuliaan di hadapan Tuhan, mencari nilai diri di hadapan Allah, mencari pujian di hadapan Tuhan bukan di hadapan manusia. Hal ini mengkondisi kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Inilah harapan terbesar kita, yaitu bagaimana kita bisa menjadikan Tuhan itu harta kita. Kita harus sungguh-sungguh ngotot, bagaimana saya bisa menjumpai dan mengalami Allah seperti Musa,
    0 min
  • Kecanduan Tuhan
    Satu hal yang kita harus mengerti, bahwa kehendak bebas kita juga menentukan siapa yang kita pilih, apa dan siapa yang termulia dalam hidup ini, yang terhormat dalam hidup ini, yang ternilai atau yang maha berharga dalam hidup kita. Kehendak bebas kita bukan hanya menyangkut tindakan yang terkait dengan moral, tetapi juga terkait dengan penghargaan kita kepada objek tertentu. Oleh karena hal ini maka hendaknya kita tidak kehilangan kesempatan memilih Allah yang seharusnya kita muliakan, selama kita masih hidup di dunia ini, di mana kita diberi Tuhan kesempatan untuk memilih. Apakah kita memilih Tuhan atau memilih yang lain?  Hal ini sangat menentukan nasib kekal kita. Tentu saja kita harus memilih Tuhan sebagai satu-satunya yang berharga dalam hidup kita ini.
    Walaupun daging kita masih menolak, bahkan jiwa kita ikut memberontak, kita tetap berkomitmen untuk mengasihi Allah. Walau jiwa kita yang sudah dicemari oleh hasrat-hasrat duniawi, ambisi-ambisi duniawi, tetapi kita bisa tetap menundukkan daging dan jiwa kita untuk memilih Allah sebagai yang berharga dalam hidup. Apa pun keadaan kita sekarang, kita bisa berketetapan memilih bahwa hanya Allah satu-satunya yang berharga dalam hidup ini. Kita bisa memilih bahwa harta kita satu-satunya di dunia ini adalah Yahweh, Allah Israel, Allah Abraham Ishak dan Yakub. Kita studi, kita karier, kita bekerja, kita memiliki pasangan hidup, dan memiliki anak, dan semua fasilitas, itu bukan sebagai tujuan pencarian hidup. Tujuan pencarian hidup kita hanya satu, Tuhan Allah serwa sekalian alam. Selanjutnya kita berusaha bagaimana kita bisa mengenal Allah dan mengalami Dia. Bagaimana kita bisa mengalami apa yang dialami Abraham, bagaimana kita bisa mengalami apa yang dialami oleh Musa? Mereka bisa bertemu muka dengan muka dengan Allah, dan berjalan dengan Allah, dan seperti yang dialami tokoh-tokoh iman, terutama juga seperti yang dialami oleh Yesus sendiri. 
    Sebagai catatan penting, tentu Allah tidak akan berjalan dengan orang yang hidupnya najis, hatinya jahat, hatinya bengkok, hatinya tidak tulus dan tidak menghormati Allah secara patut atau secara pantas.  Allah yang besar, Allah yang mulia, Allah yang Mahaagung, patut menerima seluruh persembahan hidup kita. Untuk itu kita harus rela meninggalkan segala sesuatu dan menganggapnya tidak bernilai (Flp. 3:7-9). Kita bisa memiliki semua fasilitas yang orang lain miliki di dunia ini, atau segala sesuatu yang dapat kita raih, tetapi kita tidak menganggapnya itu sebagai sesuatu yang berharga.  Dan kalau kita menganggapnya itu sebagai bukan sesuatu yang berharga, maka kita rela melepaskannya demi kesukaan hati Allah. Kita harus memenuhi yang dikatakan dalam firman Tuhan, “Baik kamu makan, atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, kita melakukan semua itu untuk kemuliaan Allah.”  (1Kor. 10:31). 
    Jadi bagi kita yang memandang Tuhan paling berharga dalam hidup ini, kita tidak berkeberatan kalau harus bangun pagi untuk berdoa, merasa tidak berkeberatan sama sekali walaupun kita merasa masih lelah dan mengantuk. Jangankan pukul 5 pagi, pukul 4 pagi pun kita bersedia. Kerelaan kita bangun berdoa bukanlah “musiman, tetapi permanen. Hendaknya kita berdoa, bukan hanya karena lagi. Orang-orang seperti ini tidak sunguh-sungguh mencari Allah dan tidak memperlakukan Allah secara patut. 
    Pada jam-jam di mana kita harus mendengarkan Firman Tuhan, kita harus bisa meninggalkan semua aktivitas dan duduk diam di kaki Tuhan. Kita harus memaksa diri untuk setia mendengar Firman Tuhan. Tetapi sebaliknya, pada waktu kita memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dapat melukai hati Allah, kita tegas berkata “tidak.” Inilah sikap menghormati Tuhan secara patut dan pantas. Dan inilah langkah-langkah memilih Tuhan, menghargai Tuhan, dan menghormati Tuhan. Kalau kita melakukan hal ini dengan benar, maka ketika ada dalam pertemuan doa bersama, atau pada waktu kita berlutut di kaki Tuhan dalam doa pribadi,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…