Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menempatkan Diri secara Benar
    Banyak manusia yang semakin tidak takut akan Allah. Mata hati mereka semakin buta dan pikiran mereka semakin gelap, sehingga tidak memahami sama sekali tatanan kehidupan sebagai mahkluk ciptaan yang harus hidup hanya untuk menyukakan hati Allah. Mereka tidak menghayati bahwa keberadaan mereka ada yang menciptakan. Dengan pikiran ini, mereka merasa Allah tidak ada atau tidak perlu ada. Kalau seseorang sudah menyangkal keberadaan Allah, maka perbuatan mereka pasti tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang Kristen sendiri juga tidak menyadari bahwa yang seharusnya terus-menerus dihayati adalah hidup sebagai makhluk ciptaan yang menyukakan hati Allah. Jika seseorang menghayati hal ini secara benar, pasti ia akan bertindak bijaksana. 
    Orang yang belum menghayati hal ini adalah manusia yang tersesat, walaupun ia beragama. Banyak orang yang sebenarnya masih dalam keadaan sesat ini. Hendaknya kita tidak berpikir kalau sudah pergi ke gereja, mengambil bagian dalam kegiatan gereja, menjadi aktivis, bahkan menjadi pendeta, berarti sudah bisa menghayati dirinya sebagai makhluk ciptaan yang hidup hanya untuk kesukaan hati Allah. Banyak orang Kristen tersesat dalam hal ini, tetapi mereka merasa tidak tersesat karena mereka sudah ada di lingkungan tembok gereja. Bagi mereka, yang tersesat adalah orang-orang yang hidup di lingkungan pelacuran dan perzinaan, meja judi dan narkoba, korupsi dan manipulasi jabatan, serta berbagai pelanggaran moral lainnya yang pantas dijebloskan ke dalam penjara pemerintah dunia. Banyak orang yang memang bermoral sangat baik dan hidup dalam kesantunan di mata manusia, tetapi belum mampu menghayati dirinya sebagai mahkluk ciptaan yang hidup hanya untuk kesukaan hati Allah.
    Orang yang belum bisa menghayati dirinya sebagai mahkluk ciptaan yang hidup hanya untuk kesukaan Allah, pasti masih bertindak seolah-olah sebagai raja dalam kehidupannya sendiri. Ia merasa bebas memiliki keinginan, dan bebas melakukan segala sesuatu yang menurutnya tidak menyalahi hukum. Memang tindakan-tindakannya tidak menyalahi hukum, tetapi belum hidup sebagai makhluk ciptaan yang hidup untuk kesukaan hati atau perasaan Allah. Banyak orang Kristen berkeadaan seperti ini, tetapi mereka merasa sudah hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kalau pengertian mereka belum terbuka, selamanya mereka tidak pernah menjadi umat pilihan yang benar. Orang-orang seperti ini pada dasarnya belum dapat melayani Allah. Allah hanya dijadikan alat bagi mereka untuk kesenangan pribadi. Sebenarnya, pada dasarnya, pelayanan bertujuan agar jemaat dapat menghayati dirinya sebagai mahkluk ciptaan yang hidup hanya untuk kesukaan Allah semata-mata. 
    Ketika firman Allah mengatakan bahwa semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, di sini manusia sudah menjadi makhluk yang tidak mampu menghayati dirinya sebagai ciptaan, yang diciptakan hanya untuk kesukaan hati Allah (Rm. 3:23). Kerusakan manusia mengakibatkan keadaan manusia tidak lagi seperti maksud semula manusia diadakan atau diciptakan. Manusia tidak lagi mampu selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Sebagai akibatnya, manusia kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak mampu menghayati dirinya makhluk ciptaan yang hidup hanya untuk menyukakan hati Penciptanya. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus bermaksud mengembalikan manusia kepada maksud tujuan manusia diciptakan. Hal ini sama dengan bahwa manusia hendak dikembalikan ke rancangan semula Allah, yang akhirnya mampu menghayati dirinya sebagai mahkluk ciptaan, yang hidup hanya untuk kesukaan hati Allah. Jika demikian, manusia baru bisa menempatkan diri di hadapan-Nya secara benar. 
    Banyak orang Kristen masih sesat karena merasa bahwa dirinya sudah selamat, padahal mereka belum menempatkan diri secara benar di hadapan Allah. Mereka belum mengerti kebenaran, bahwa seseorang bisa dikatakan selamat kalau bisa menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya. Jika seseorang belum menempatkan diri secara benar d...
    0 min
  • Layak dalam Perlindungan Allah
    Orang yang bergantung pada Allah secara benar, pasti berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Orang yang hidup sembarangan—tidak memedulikan apakah tindakan-tindakannya melukai hati Allah atau tidak—bukanlah orang yang bergantung secara benar kepada-Nya. Mereka juga tidak layak menerima perlindungan dari Allah. Dalam hal ini, hidup bergantung kepada Allah tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah atau kehidupan yang berkenan kepada Allah. Dengan demikian, orang yang bergantung kepada Allah terbimbing menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya, dan diarahkan menuju Kerajaan Surga. Ketergantungan kepada Allah bukan hanya membawa dampak di kehidupan hari ini untuk menyelesaikan masalah-masalah fana dunia, melainkan juga di kekekalan, yaitu terbimbing layak menjadi anak-anak Allah; anggota keluarga Kerajaan Allah.
    Orang yang hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah, sementara itu juga merasa berhak menuntut perlindungan dari Allah, adalah orang yang melecehkan Tuhan. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang memandang Tuhan sekadar “pembantu” atau seperti hamba, bukan “Majikan” yang harus dipatuhi. Orang-orang seperti itu bersikap sebagai seorang majikan yang menggaji “petugas keamanan atau hansip.” Tuhan disamakan dengan “petugas security.” Sering kali pihak gereja begitu mudah mendoakan orang untuk meminta perlindungan Tuhan tanpa mengajarkan kebenaran ini, sehingga mereka merasa sebagai orang yang berhak menerima perlindungan Tuhan tanpa hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Sesungguhnya, jemaat seperti itu juga pendetanya tidak layak menerima perlindungan dari Allah, baik di bumi ini maupun di kekekalan. 
    Banyak orang Kristen tidak mau tahu bahwa keadaannya belum sesuai dengan kehendak Allah, tetapi merasa berhak memiliki perlindungan dari Allah. Orang-orang seperti ini tidak bisa bersikap rendah hati di hadapan Allah dengan benar. Kalau mereka masih tetap mengeraskan hati dengan keadaan sikap hati seperti itu, maka mereka dibiarkan merasa aman dan memang secara lahiriah aman. Mereka tidak pernah mau mengoreksi diri mereka dengan benar. Ketika berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah, mereka baru menyadari bahwa keadaan mereka ternyata tidak menghormati Allah sehingga mereka terbuang dari hadapan Allah untuk selamanya. 
    Di pihak lain, ada orang-orang Kristen tanpa sadar memiliki sikap meremehkan Allah. Biasanya, mereka merasa diri kuat karena bisa melewati segala keadaan tersulit bagaimana pun. Hal ini disebabkan karena faktanya, mereka selalu berhasil melewati berbagai kesulitan hidup. Sikap seperti ini terjadi, khususnya pada mereka yang kuat secara finansial dan memiliki relasi dengan pejabat tinggi negara, serta aparat keamanan. Pengalaman dapat melewati berbagai kesulitan hidup tersebut dapat membentuk cara berpikir yang meremehkan realitas kehidupan yang dahsyat. Dengan kekayaan, mereka membeli keamanan dirinya, dan pada kenyataannya, kekuatan uang tersebut terbukti dapat menghindarkan mereka dari jerat hukum, penjara, dan berbagai ancaman. Tanpa disadari, ia memiliki cara berpikir bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan uang. Dalam hal ini, irama hidup bergantung kepada kekuatan kekayaan terbentuk kuat di dalam pribadinya, sehingga mereka merasa tidak membutuhkan Allah. Padahal, yang dapat melindungi mereka adalah Allah sendiri. 
    Orang-orang yang terbiasa bergantung kepada kekuatan di luar Allah, pasti tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk berkenan kepada Allah. Cara berpikir meremehkan keadaan ini, berlanjut terus sampai mereka meremehkan Tuhan. Suatu saat, mereka akan tertumbuk pada keadaan dimana semua kekuatan apa pun termasuk harta mereka, tidak bisa diandalkan dan tidak bisa menyelesaikan suatu masalah. Jikalau hidup mereka tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka mereka tidak berhak memiliki perlindungan dari Allah. Kalau suatu hari mereka menghadapi masalah di luar kemampuan mereka, khususnya yang terkait dengan kekekalan,
    0 min
  • Lawatan Allah
    Banyak orang Kristen yang terjebak dalam kesalahan dimana mereka hanya menunggu lawatan Tuhan untuk mengalami pendewasaan, tetapi ternyata mereka tidak mengalami pendewasaan yang signifikan. Seharusnya, orang percaya aktif mencari agar menemukan lawatan Allah, bukan hanya sekadar menunggu. Tuhan menyediakan lawatan-Nya yang pasti akan berdaya guna untuk mengubah hidup kita, dari manusia duniawi yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Dalam Mazmur 23:5 tertulis, “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.” “Hidangan” di ayat ini adalah berkat rohani untuk pendewasaan kita. Berkat rohani ini tentu lebih jauh bernilai dibanding dengan hidangan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Untuk ini, kita harus menangkap segala sesuatu yang Tuhan sediakan tersebut. Seharusnya, berkat jasmani bukan lagi menjadi fokus orientasi hidup kita. Fokus orientasi kita yang sepatutnya adalah berkat kekal. Tetapi kenyataannya, lebih banyak orang yang fokus kepada berkat jasmani daripada berkat rohani. 
    Dalam waktu yang singkat di hidup ini, Tuhan menyediakan lawatan-Nya setiap hari untuk mengubah orang percaya menjadi manusia Allah. Oleh sebab itu, betapa berharganya waktu hidup ini. Ketika seseorang menutup mata, ia dapat menghayati betapa dahsyat dan berharganya waktu hidup ini, sebab di dalamnya, Allah mau berurusan dengan anak manusia guna menjadikan mereka sebagai anak-anak-Nya yang layak dimuliakan bersama Yesus. Kesempatan ini hanya satu kali dan singkat. Ini merupakan anugerah yang tiada taranya. Tidak menghargai anugerah ini berarti tidak menghargai Tuhan sendiri. Inilah sebenarnya yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai “mengumpulkan harta di surga.” Oleh sebab itu, hasrat terbesar kita adalah menjadi berkenan di hadapan Tuhan. Tidak boleh ada hasrat yang lebih besar dari hasrat menjadi seseorang yang berkenan di hadapan Tuhan. 
    Gereja tidak boleh hanya sibuk dengan urusan-urusan organisasi, seremonial, dan lain sebagainya, sehingga gereja mengalami kesuaman. “Kesuaman” di sini artinya jemaat-jemaat di dalam gereja tidak dalam keadaan berkenan di hadapan Allah. Fokus jemaat harus terus-menerus tertuju kepada kehidupan yang sempurna. Oleh sebab itu, gereja tidak perlu lagi menantikan lawatan-lawatan Tuhan, sebab lawatan Tuhan sudah disediakan. Orang percaya yang harus menghampirinya. Kebangunan rohani tidak cukup hanya terjadi satu atau dua kali dalam setahun. Kebangunan rohani harus berlangsung setiap hari melalui berbagai kegiatan gereja. Kalau kegiatan gereja tidak membawa kebangunan rohani, maka harus dipertanyakan kegiatan macam apa itu. Gereja yang tidak membangun rohani jemaat guna mempersiapkan jemaat menjadi umat yang layak bagi Tuhan melalui seluruh kegiatannya, tidak layak mengaku sebagai gereja Tuhan. 
    Seseorang bisa mengalami lawatan Allah secara nyata jika ia menghidupkan Allah dalam hidup mereka. “Menghidupkan Allah” di sini bukan berarti Allah sudah mati, tetapi berusaha mengalami secara nyata keberadaan Tuhan. Banyak orang yang bertahun-tahun mengarungi hidup ini tanpa benar-benar mengalami lawatan Allah. Mereka tidak berusaha menghayati kehadiran Allah. Allah sering dipandang seperti sebuah konsep yang hanya dipercakapkan dalam diskusi. Sehingga, bagi mereka, Allah hanya sebuah fantasi dalam dunia imajinasi saja. Betapa mengerikan keadaan orang seperti ini, ketika ia menghadap takhta pengadilan Allah nanti. Tidak mungkin mereka berkenan kepada Allah sesuai dengan standar kesucian Allah. Keadaan ini terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen dan berlangsung lama, sehingga tidak mampu menanggapi Allah sebagai Pribadi yang hidup.
    Orang percaya harus berusaha menghidupkan Allah. Hal ini sama dengan sebagai “mencari Allah.” Tidak ada orang yang kurang serius dengan Allah, kemudian bisa mengalami lawatan Allah secara berkesinambungan. Allah hanya berurusan dengan mereka yang serius dengan diri-Nya.
    0 min
  • Penggarapan Allah
    Setiap kita sebagai orang percaya, memiliki hak yang sama untuk mengalami Allah secara berlimpah. Allah adalah Allah yang hidup, berkenan berurusan dengan setiap orang percaya yang sungguh-sungguh mencari Dia. Pengalaman dengan Allah adalah pengalaman dalam memperoleh penggarapan Allah yang berkenaan dengan pemenuhan rencana-Nya dalam hidup masing-masing individu agar bertumbuh dewasa menjadi serupa dengan Yesus. Pengalaman dengan Allah seperti ini adalah pengalaman yang berkualitas. Allah menyediakan pengalaman seperti ini secara limpah dan tidak terbatas bagi setiap orang percaya. Ini berarti kesempatan untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus merupakan keniscayaan dan terbuka lebar-lebar. 
    Kalau pengalaman dengan Allah hanya menyangkut pertolongan Tuhan berkenaan dengan pemeliharaan atas kebutuhan jasmani, hal tersebut belumlah berarti. Yang berarti adalah penggarapan Allah dalam mempersiapkan orang percaya agar dapat dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Terkait dengan hal ini, kita tidak perlu merasa kecil hati jika tidak memiliki pengalaman spektakuler seperti yang dialami orang-orang tertentu, sebab yang penting adalah pengalaman yang mendewasakan rohani. Sebaliknya, orang percaya hendaknya tidak merasa bangga jika memiliki pengalaman yang spektakuler berkenaan dengan mukjizat, sebab hal itu bukanlah ukuran kedewasaan rohani. Ukuran kedewasaan rohani bukanlah karunia, melainkan buah Roh. Oleh sebab itu, yang harus diupayakan haruslah buah Roh, bukan karunia Roh.
    Pemeliharaan Allah atas kehidupan jasmani juga dialami oleh semua manusia. Allah adalah Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Berarti, Allah memelihara kehidupan jagat raya beserta semua makhluk hidup di dalamnya, dengan seluruh tatanannya. Orang percaya dapat memiliki pengalaman eksklusif dengan Bapa dalam rangka penggarapan Bapa atas anak-anak-Nya supaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, dan mengenakan kodrat Ilahi (Ibr. 12:9-10; 2Ptr. 2:3-4). Pengalaman dengan Bapa harus dialami setiap orang percaya sebagai persiapan untuk masuk Rumah Bapa. Rumah Bapa adalah rumah orang percaya; dunia ini bukanlah rumah orang percaya. 
    Memiliki pengalaman yang eksklusif dengan Bapa dalam penggarapan-Nya adalah anugerah yang luar biasa yang hanya dialami orang percaya sebagai umat pilihan. Tidak semua manusia memiliki hak dan kesempatan yang luar biasa ini. Ini adalah hak istimewa yang tidak boleh digantikan dengan kesibukan dan kepentingan apa pun. Penggantian tersebut merupakan penyimpangan yang sering dianggap tidak merugikan dan tidak membahayakan, padahal itu sangat membahayakan dan bisa mengarahkan orang Kristen kepada kebinasaan. Kuasa gelap berusaha agar orang Kristen memiliki banyak keinginan sehingga tidak mempersoalkan mengenai pertumbuhan kedewasaan rohani yang mempersiapkan dirinya kepada kekekalan yang indah. 
    Banyak orang Kristen menganggap bahwa menggantikan pengalaman dengan Tuhan dengan kesibukan-kesibukan tertentu sebagai selingan sesaat adalah sesuatu yang tidak membahayakan. Biasanya, mereka berpikir bahwa karena masih hidup di dunia, maka hendaknya tidak perlu terlalu fanatik membicarakan kehidupan di balik kubur. Biasanya, mereka juga memandang orang yang suka membicarakan kehidupan di balik kubur itu tidak realistis dan antisosial. Padahal, kalau seseorang fokus ke langit baru bumi baru, ia akan berusaha memenuhi bagiannya selama hidup di dunia, yaitu menjadi berkat bagi sesama. Justru orang yang tidak fokus pada dunia yang akan datang, yaitu yang menganggap hidup di dunia ini harus dinikmati sebanyak-banyaknya, akan menjadi egois dan antisosial. 
    Sebenarnya, merupakan tindakan membuang sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini, kalau seseorang mengarahkan perhatiannya kepada perkara-perkara di dunia ini dan tidak fokus kepada kekekalan. Dengan berbagai kesenangan, perhatian banyak orang Kristen terfokus kepada banyak objek,
    0 min
  • Tidak Menyia-Nyiakan Keselamatan
    Dalam kehidupan orang Kristen, tanpa disadari banyak kegiatan yang “tidak berarti” atau “tidak bernilai sama sekali” menyita waktu, pikiran, dan semua potensi diri yang mestinya dapat digunakan untuk mencari Kerajaan Allah. Banyak orang Kristen yang memiliki berbagai kesibukan yang sebenarnya tidak berarti, sehingga melupakan apa yang seharusnya bernilai lebih penting. Mereka sibuk atau asyik dengan hal-hal yang tidak berarti. Dengan keadaan itu, mereka membawa diri kepada kebinasaan. Hal ini terjadi dalam kehidupan orang percaya, sebab mereka menyamakan standar hidup orang percaya dengan manusia di sekitarnya yang bukan umat pilihan. Bagi manusia pada umumnya, mereka sudah biasa melakukan segala sesuatu yang sebenarnya sia-sia hanya untuk menyenangkan diri sendiri untuk sementara waktu. Segala sesuatu yang mereka dilakukan tidak memiliki dampak yang positif terhadap kehidupan di kekekalan. Tentu saja mereka tidak peduli sebab mereka tidak mengerti sama sekali hal kekekalan.
    Banyak orang tidak berpikir bahwa akibat dari perbuatannya yang sia-sia bisa menyebabkan mereka kehilangan sesuatu yang tak ternilai, yaitu kehidupan kekal yang tidak dapat diupayakan lagi setelah meninggal dunia, baik oleh dirinya maupun orang lain. Orang percaya tidak boleh terjerat oleh kesenangan-kesenangan sementara dunia sehingga kehilangan kesempatan mengupayakan harta di surga, yaitu kemuliaan bersama dengan Yesus (Mat. 6:19-20). Kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus tidak boleh dan memang tidak dapat ditukar dengan hal-hal yang tidak berarti yang bersifat sementara. Oleh sebab itu, kita harus memeriksa diri kita dengan jujur, apakah masih ada kegiatan hidup yang sia-sia yang kita masih lakukan. 
    Kegiatan hidup yang sia-sia adalah hal-hal yang tidak berarti yang dilakukan hanya untuk menyenangkan hati sesaat. Banyak orang Kristen menolerir tindakan-tindakan bodoh seperti menghabiskan waktu di depan layar TV, shopping berkepanjangan, bersolek berlebihan, menekuni bacaan yang tidak baik untuk konsumsi pikiran, menikmati hobi yang tidak membawa seseorang bertumbuh dalam iman, berteman karib dengan orang yang tidak mengasihi Tuhan, dan lain sebagainya. Suatu hari, orang-orang seperti ini akan sangat menyesal. Penyesalan atas kesalahan ini memang tidak bisa dibayangkan pada hari ini, sebab merupakan penderitaan yang tidak terbayangkan. Tanpa disadari, banyak kegiatan yang sia-sia yang ternyata menguras energi sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk bertumbuh dalam Tuhan, disia-siakan. Dengan cara hidup seperti ini, seseorang membunuh kehidupan imannya yang seharusnya bertumbuh secara bertahap.
    Sebenarnya ketika seseorang melakukan hal yang sia-sia, ia melakukan tindakan ketidaksetiaan kepada Allah. Ketidaksetiaan yang fatal atau ekstrem sampai hubungan dengan Allah rusak sama sekali sehingga tidak dapat diperbaiki adalah keadaan paling mengerikan dalam kehidupan orang Kristen. Ketidaksetiaan seperti itu bisa terjadi dalam kehidupan setiap orang Kristen yang ceroboh dalam kehidupannya. Jadi, setiap orang percaya memiliki kemungkinan melakukan kebodohan, seperti yang dilakukan oleh anak-anak dunia yang menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bernilai. Harus diperhatikan, hal ini bisa terjadi dalam kehidupan kita, mulai dari hal-hal yang sederhana yang kita anggap tidak membahayakan.
    Banyak orang tidak menyadari ketika dirinya terbawa oleh suatu kegiatan yang sia-sia, akhirnya sampai tidak bisa lepas dari kegiatan tersebut. Dalam hal ini, orang percaya harus belajar meneliti setiap tindakan dan keadaan diri supaya cepat mengenali kalau ada indikasi ketidaksetiaan dalam dirinya terhadap Allah dari hal-hal yang kelihatannya sederhana atau kecil. Kita harus memiliki kesadaran terhadap tipu daya Iblis yang mau membinasakan kita. 
    Firman Tuhan mengatakan agar kita tidak menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar yang disediakan bagi kita. Kalau energi—yaitu waktu, tenaga, perhatian,
    0 min
  • Hidup Berkelimpahan
    Pada dasarnya, hidup dalam kelimpahan atau hidup dalam kebahagiaan yang berkualitas tinggi adalah ketika seseorang ada dalam persekutuan dengan Allah. Jalan satu-satunya untuk hidup dalam kelimpahan ini hanyalah Yesus. Hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan oleh Tuhan di dalam firman-Nya—yaitu dalam Yohanes 10:10—hanya dimiliki oleh orang yang hidup sesuai dengan kehendak Allah. Yesus berkata: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Kata “datang” dalam teks aslinya tertulis erchomai (ἔρχομαι), yang bukan saja berarti come (datang menghampiri), melainkan juga berarti accompany (bersama-sama dalam suatu tujuan). Kata erchomai menunjukkan bahwa “datang kepada Bapa” berarti kebersamaan dengan Bapa dalam persekutuan pribadi yang indah. Itulah sebabnya, pengertian “datang” dalam teks ini tidak boleh diartikan sekadar masuk surga, seperti yang dipahami banyak orang. “Datang kepada Bapa” mempunyai pengertian yang dalam. 
    Banyak orang Kristen telah terjebak dalam pengertian dangkal memahami kata “datang kepada Bapa.” Pengertian “datang kepada Bapa” bisa dipahami dengan benar bila kita menghubungkan dengan pengertian keselamatan secara benar. Keselamatan bukan hanya membuat orang percaya diperkenan masuk surga, melainkan juga dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dalam Kerajaan-Nya. Untuk dipermuliakan, seseorang harus memilki kualitas hidup yang tinggi. Orang percaya bukan hanya menjadi anggota masyarakat di Kerajaan Surga, melainkan menjadi pejabat-pejabat dalam pemerintahan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menyatakan bahwa mereka yang menderita bersama-sama dengan-Nya akan duduk bersama dalam kemuliaan-Nya. Untuk maksud ini, yaitu dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, harus diselenggarakan proses pendewasaan atau penyempurnaan agar orang percaya hidup dalam kelimpahan yang benar, yaitu hidup dalam persekutuan dengan Allah. Proses inilah yang membawa orang percaya dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, sebab Allah menghendaki orang percaya kudus seperti diri-Nya. Hanya orang yang kudus seperti Dia yang dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah. 
    Dewasa ini, sangat sedikit orang yang mengalami hidup berkelimpahan tersebut. Ini berarti lebih banyak orang yang tidak memahami kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Keadaan inilah yang membuat banyak orang Kristen menganggap kekristenan sama dengan agama-agama lain. Mereka juga tidak berusaha mengadakan perburuan terhadap kebenaran dengan sungguh-sungguh. Biasanya, mereka sudah merasa puas dengan pengetahuan Alkitab yang telah mereka miliki dan hidup kekristenan rutin yang mereka telah jalani. Pada dasarnya, orang-orang ini belum mengerti dan belum pernah mengalami indahnya hidup dalam kelimpahan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tidak heran mereka sangat mudah menyangkali iman dan berpindah agama.
    Orang percaya harus berkeputusan untuk memilih Tuhan Yesus, bukan dunia, demi memeroleh kehidupan yang berkelimpahan tersebut. Pada zamannya, murid-murid Tuhan Yesus dipandang sebagai orang-orang bodoh. Mereka meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus. Mereka begitu berani mempertaruhkan seluruh hidup mereka demi mengikut Yesus. Pada akhirnya, terbukti bahwa keputusan mereka tidak salah. Semua penderitaan yang mereka alami tidak sia-sia, mereka menjadi orang terkemuka di Kerajaan Surga. 
    Seperti keputusan murid-murid Tuhan Yesus pada waktu itu dengan berani mengikut Yesus, demikian pula kita harus berani mengikut gaya hidup Yesus. Kita harus percaya bahwa tidak ada hidup yang berkelimpahan di luar Tuhan Yesus. Dunia dengan segala keindahannya tidak akan dapat memuaskan jiwa kita. Kalau seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada fasilitas dunia ini dan merasa bisa dibahagiakan oleh dunia, itu berarti perasaan yang sesat. Kebahagiaan kita adalah kalau hidup dalam persekutuan dengan Allah. Dalam persekutuan dengan Allah, kita mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa untuk kita lakukan.
    0 min
  • Layak Disertai Allah
    Menjadi masalah yang tidak sederhana ketika dipersoalkan mengenai apa dan bagaimana perasaan aman atau nyaman itu, dan apa yang dianggap sebagai ancaman atau malapetaka. Jika dipandang dari sudut manusia pada umumnya, perasaan aman atau nyaman adalah suasana sukacita atau kegembiraan atau kebahagiaan yang disebabkan atau ditopang oleh terpenuhinya semua kebutuhan jasmani. Pada umumnya, manusia menjadikan semua ini sebagai tujuan hidup. Sehingga jika manusia memiliki semua itu, barulah ia merasa hidupnya terlindungi. Jika seseorang yang beragama memiliki keadaan yang baik—yaitu terpenuhinya semua kebutuhan jasmani—maka mereka merasa hidup di dalam perlindungan Tuhan. Padahal, yang membuat mereka merasa aman adalah harta dunia, bukan Tuhan sendiri. Maka, dalam hal ini diperlukan kejujuran. 
    Orang percaya harus merasa aman dan nyaman bukan karena terpenuhinya kebutuhan jasmani, melainkan karena keselamatan jiwanya tidak terancam. Artinya, sudah memiliki kepastian masuk surga berdasarkan pengalaman berjalan dengan Allah. Banyak orang merasa lebih takut ketika pemenuhan kebutuhan jasmaninya terancam, daripada keselamatan jiwanya yang terancam. Tuhan Yesus berkata: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat. 10:28). Pernyataan Yesus ini mengisyaratkan agar kita lebih memedulikan keselamatan jiwa kita daripada pemenuhan kebutuhan jasmani. Di balik pernyataan ini, Yesus juga memberikan jaminan bahwa Allah akan melindungi orang percaya dengan sempurna kalau memiliki hati yang takut akan Dia. Kalau Tuhan berkata: “Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh,” berarti Tuhan menjamin pemeliharaan-Nya atas kebutuhan jasmani orang percaya. 
    Allah pasti memelihara anak-anak-Nya dengan sangat sempurna. Yesus menunjukkan bahwa orang percaya diperhatikan Tuhan lebih dari bunga di padang dan burung pipit yang paling murah sekalipun. Kita sebagai orang percaya tidak boleh meragukan perlindungan Tuhan. Orang-orang Kristen yang khawatir mengenai pemenuhan kebutuhan jasmani disamakan dengan orang yang tidak mengenal Tuhan (Mat. 6:32). Orang yang tidak mengenal Tuhan adalah orang yang tidak mengerti pemeliharaan Allah semesta alam sebagai Bapa yang melindungi dengan sempurna, termasuk keselamatan jiwa manusia. Keselamatan jiwa adalah proyek utama dan merupakan satu-satunya alasan mengapa Anak Allah diutus oleh Bapa.
    Allah tidak memiliki proyek lain selain proyek keselamatan ini. Allah mengerahkan semua yang dimiliki-Nya demi proyek keselamatan manusia tersebut. Dari hal ini, dapat diambil kesimpulan bahwa hidup dalam perlindungan Tuhan berarti hidup di dalam rencana-Nya. Tuhan tidak akan melindungi sesuatu yang tidak bertalian dengan proyek keselamatan ini. Proyek satu-satu-Nya adalah mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Orang yang tidak hidup dalam proyek keselamatan—yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula—tidak layak memperoleh perlindungan Tuhan. Kalau selama ini Allah masih memberikan pemeliharaan-Nya atas dunia ini, sebab Allah masih memberikan kesempatan kepada semua orang agar tidak ada yang binasa. Selama kesabaran Tuhan masih ada, Tuhan masih memberi kesempatan kepada setiap orang untuk bertobat. Tetapi kalau kesempatan ini habis, maka dunia akan dihancurkan menjadi lautan api. 
    Oleh sebab itu, kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan sungguh-sungguh, artinya berusaha terus bertumbuh menjadi serupa dengan Yesus yang adalah model manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Itulah sebabnya, Yesus berkata agar orang percaya mendahulukan Kerajaan Allah. Orang yang mendahulukan Kerajaan Allah pasti mendapat pemeliharaan yang khusus dari Tuhan. Selanjutnya, kalau kita berusaha untuk membawa orang lain juga masuk proses keselamatan ini, Tuhan pasti menyertai kita secara khusus dalam pelayanan.
    0 min
  • KEHIDUPAN ANAK ALLAH
    Ketika Yesus menjalani hidup di bumi, Ia memiliki gaya hidup “tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.” Dalam 1 Petrus 2:23 tertulis, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” Sebagai orang percaya, kita juga harus meneladani gaya hidup Yesus sebab inilah ini kekristenan yaitu “mengikut jejak-Nya.” Tentu saja memiliki hati seperti Yesus bukan sesuatu yang mudah. Sebab, sebagaimana umumnya manusia, kita juga memiliki kecenderungan untuk membela diri, membalas dendam, dan memiliki gairah untuk melukai sesama, khususnya melukai orang yang melukai kita. Sangat mudah muncul kecenderungan peristiwa atau seseorang yang melukai kita. Tetapi, orang percaya harus mengikuti jejak Yesus. Itulah sebabnya dalam 1 Petrus 3:9 tertulis: “…dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” Sesungguhnya, dengan memaafkan orang yang bersalah kepada kita dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sedang membiasakan diri mengenakan gaya hidup Yesus. Tetapi hal yang membuat kita sulit melakukan hal ini adalah harga diri. 
    Harga diri bertalian dengan perasaan, sebab ketika nilai yang diberikan orang kepada dirinya tidak seperti yang diharapkan, ia akan tersinggung atau terluka karena merasa direndahkan. Harga diri inilah yang membuat seseorang menuntut orang memperlakukan dirinya sedemikian rupa sesuai dengan keinginannya. Kalau seseorang merasa dirugikan dan dilukai, itu berarti harga dirinya direndahkan. Biasanya, orang menuntut untuk dihargai dengan tidak merendahkan dirinya melalui sikap perbuatan yang tidak melukai hatinya. Kalau seseorang sudah merasa dirinya direndahkan, perasaannya biasanya menjadi tersinggung. Dalam kehidupan, sering hal ini menjadi awal dari sebuah bencana. Banyak orang Kristen yang memanjakan perasaannya sehingga tidak belajar mengenakan gaya hidup Yesus. Orang-orang seperti ini tidak bisa bertumbuh, dan tidak akan pernah bisa dipercayai untuk dapat mengambil bagian bagi pekerjaan Allah.
    Sejatinya, orang yang mudah tersinggung ketika harga dirinya direndahkan menunjukkan bahwa dirinya belum dewasa rohani. Orang-orang seperti ini akan selalu menuntut lingkungannya untuk menghargai dirinya sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang percaya harus berani melakukan penyaliban diri. Bukan hanya bersedia menolak perbuatan yang bertentangan dengan hukum, melainkan juga kesediaan dan kerelaan untuk direndahkan dan dianggap tidak penting; harus rela disakiti dan dikhianati. Orang percaya yang sungguh-sungguh mau mengenakan gaya hidup Yesus, pasti tidak memanjakan perasaan demi kepuasan diri. Orang percaya harus rela tidak memiliki harga diri di mata manusia, dan mencari kehormatan serta harga diri di mata Allah. Dengan sikap ini, seseorang dapat hidup hanya untuk mempermuliakan nama Allah dan kepentingan Kerajaan Surga.
    Meneladani gaya hidup Kristus bertujuan agar orang percaya menjadi berkat bagi orang lain dalam hidup bersama. Jadi, di mana pun orang percaya berada, mestinya mendatangkan keuntungan bagi orang lain dalam rangka pelayanan pekerjaan Tuhan. Kalau seseorang mematok harga dirinya seperti seorang pedagang memasang bandrol harga, ia tidak akan dapat hidup dalam persekutuan secara dengan benar dengan sesama dan tidak bisa menjadi pelayan bagi orang lain. Secara langsung atau tidak langsung; secara terang-terangan atau terselubung, orang seperti itu akan menuntut orang membayar harga sesuai dengan bandrol yang dipasangnya. Jika tidak, ia akan merasa direndahkan dan tersinggung. Orang seperti ini selamanya tidak dapat menjadi pelayan Tuhan dengan benar.
    Hidup dalam gaya hidup Yesus yang agung merupakan representasi dari karakter Bapa. Yesus adalah pribadi Anak Allah yang merepresentasikan Bapa.
    0 min
  • Impartasi Gaya Hidup
    Dengan keberhasilan Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan, maka ada penebusan. Roh Kudus dimeteraikan dalam kehidupan orang yang percaya, selanjutnya, Allah menggarap orang-orang percaya untuk menjadi serupa dengan Yesus agar Anak-Nya menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:28-29). Pengurbanan Yesus melahirkan banyak saudara-saudara bagi Yesus yang bisa berkeadaan seperti Dia, bagi kemuliaan Allah. Yesus seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, sehingga dapat menghasilkan anak-anak Allah yang berkeadaan seperti Dia. Tentu saja hal ini tidak terjadi secara otomatis, tetapi harus melalui proses perjuangan setiap individu. Banyak orang Kristen hanya mengerti pengurbanan Yesus yang memikul dosa, tetapi tidak mempermasalahkan maksud pengurbanan itu diberikan, yaitu agar orang percaya dilahirkan sebagai anak-anak Allah. Hal ini tidak terjadi secara otomatis. Karena tidak mengerti, maka tidak ada tindak lanjut atas pengurbanan Yesus, yaitu berjuang untuk bergaya hidup seperti-Nya, sehingga banyak orang Kristen sudah merasa puas sebagai orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, dan merasa telah memiliki jaminan masuk surga. Padahal, mestinya ada tindak lanjut yang dilakukan orang percaya agar menjadi seperti gandum yang jatuh ke tanah dan mati, agar juga dapat berbuah juga seperti Yesus.
    Demi tegasnya panggilan ini, Tuhan Yesus mengancam, kalau seseorang tidak berbuah maka Tuhan akan mengerat dan membuang orang tersebut (Yoh. 15:2). Dengan demikian, merupakan suatu keharusan bagi orang percaya untuk menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, agar bisa menghasilkan buah. Buah tersebut adalah kehidupan yang bergaya hidup seperti Yesus, yang dapat membuat orang lain diselamatkan. “Seperti biji gandum yang jatuh ke tanah” artinya bersedia meninggalkan seluruh watak atau karakter kita yang “lama” dan mengenakan kehidupan Yesus. Kehidupan seperti ini sama dengan kehidupan Paulus yang dirumuskan dengan kalimat “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Kehidupan seorang anak Allah yang serupa dengan Yesus pasti dapat terimpartasi atau menular kepada orang lain. Inilah yang dimaksud menjadi garam bagi dunia. Proses impartasi ini menghasilkan orang-orang yang bukan saja datang ke gereja menjadi orang Kristen, melainkan juga berperilaku seperti Yesus, seperti yang kita peragakan. Orang-orang yang ditulari gaya hidup Yesus inilah buah-buah kehidupan kita sebagai orang percaya.
    Merupakan perjuangan yang berat, bagaimana menanggalkan diri sendiri dan mengenakan gaya hidup Yesus. Dalam hal ini, seperti menanggalkan pakaian lama dan mengenakan pakaian yang baru. Pakaian lama kita adalah diri kita sendiri, sedangkan pakaian baru kita adalah gaya hidup Yesus atau roh Kristus. Pertukaran pakaian inilah yang dimaksud dengan “menyangkal diri.” Sebenarnya, menyangkal diri bukan hanya tindakan menolak perbuatan yang melanggar hukum, melainkan juga tindakan menolak “gaya hidup wajar” dan mengenakan gaya hidup sebagai anak Allah, yang standarnya adalah kehidupan Yesus. 
    Oleh sebab itu, tujuan hidup kita satu-satunya hanyalah menjadi seperti Yesus. Segenap hidup harus diarahkan untuk satu-satunya tujuan hidup ini. Orang percaya harus menyediakan “segenap” hidup untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus. Dengan tujuan hidup ini, seorang Kristen tidak lagi berusaha memaksa diri membuat rumahnya menjadi lebih mewah, mobilnya menjadi lebih banyak, perhiasannya menjadi lebih mengagumkan, dan lain sebagainya yang bersifat duniawi. Selanjutnya, orang percaya yang berjuang untuk menjadi serupa dengan Yesus akan memenuhi pikiran dengan kebenaran Alkitab. Kebenaran firman Tuhan inilah yang akan mencerdaskan seseorang sehingga bisa menangkap “suara Tuhan” setiap hari, melalui segala peristiwa yang di alami. Oleh sebab itu, betapa berharganya setiap menit yang kita miliki untuk mengisi pikiran dengan kebenaran firman Tuhan. Akhirnya, orang percaya harus selalu menjumpai Tuhan melalui doa pribadi.
    0 min
  • Gaya Hidup Berbagi
    Setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus harus memiliki gaya hidup “menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah.” Inilah gaya hidup berbagi dalam standar anak Allah. Ada juga “berbagi dalam standar yang lain.” Kalau “berbagi” hanya berarti membagi sebagian milik kepada orang lain, maka gaya “berbagi” seperti ini juga dilakukan orang di luar gereja. Alkitab menunjukkan bahwa sekalipun seseorang bisa memberikan seluruh hartanya, tetapi bila tanpa kasih, maka sia-sia (1Kor. 13:3). Kekristenan memiliki kebenaran yang lebih dari berbagai ajaran agama manapun. Ajaran Yesus tidak dapat disamakan dengan ajaran agama-agama di dunia. Dalam “berbagi” untuk orang lain, landasan kita adalah kasih. Kasih adalah tindakan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dalam hal ini, “berbagi” bukan sekadar memberikan sebagian milik kita kepada orang lain, melainkan harus sesuai dengan keinginan Allah. Inilah standar “berbagi” yang Yesus kenakan.
    Untuk itu, kehidupan orang percaya harus diubah dengan gaya hidup berbagi yang berlandaskan “jika Tuhan menghendaki.” Ini berarti bukan sekadar melakukan hukum, melainkan melakukan apa yang Tuhan inginkan. Itu berarti, kalau Tuhan memerintahkan apa pun juga, kita harus lakukan. Seperti Abraham harus memberi anak satu-satunya bagi kurban bakaran, ia melakukannya dengan rela. Hati seperti ini akan menciptakan kesediaan melayani Tuhan tanpa batas. Orang Kristen seperti ini bisa disebut seperti “anggur yang tercurah dan roti yang terpecah” secara benar. Mestinya, kita tidak berkeberatan melakukan hal ini, sebab memang sebagai orang yang telah ditebus Yesus, kita telah menjadi milik Allah. Jika seseorang menyadari dan menerima hal ini, ia menempatkan dirinya pada kehidupan yang selalu bersedia melakukan apa pun yang Allah kehendaki. 
    Orang percaya harus menerima bahwa dirinya tidak dimiliki dirinya sendiri lagi, tetapi semua yang ada padanya adalah milik Allah. Kesadaran bahwa semua harta adalah milik Tuhan akan menciptakan kepribadian yang kuat. Pribadi yang tidak mudah khawatir dan cemas menghadapi masalah dalam bisnis dan menghindarkan diri dari praktik-praktik bisnis yang bertentangan dengan kehendak Allah, yang melawan hukum dan norma, serta merugikan orang lain. Kesadaran bahwa semua harta yang ada adalah milik Tuhan akan mendorong seseorang bersungguh-sungguh mempersembahkan hidup bagi kepentingan Tuhan dan Kerajaan-Nya tanpa batas, sehingga ia dengan rela berbagi untuk sesama dengan motif yang yang murni, karena semua dilakukan sesuai dengan “komando” Allah. Kebenaran ini membuat orang percaya sangat berhati-hati dalam mengelola harta milik Allah yang dipercayakan kepadanya. Harta yang mereka miliki adalah barang kepercayaan dari Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah pada hari penghakiman di hadapan takhta pengadilan Kristus. Oleh sebab itu, hendaknya orang percaya mengelola harta yang ada padanya dalam pimpinan Roh Kudus. 
    Seorang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus haruslah memiliki gaya hidup Kristus yaitu kehidupan yang dijalani oleh Yesus, dua ribu tahun yang lalu. Setiap orang percaya harus mengenakan gaya hidup Yesus. Gaya hidup itu adalah menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Ini adalah sebuah kehidupan yang “berbagi” untuk sesama tanpa batas. “Tanpa batas” artinya selama diperintahkan oleh Bapa. Itulah sebabnya, Yesus menyatakan bahwa orang yang hendak mengikut Dia menjadi murid-Nya haruslah rela kehilangan segala miliknya.
    Mengenakan gaya hidup Yesus ini hendaknya tidak dipandang sebagai beban; bukan sesuatu yang membuat seseorang merasa tertekan dan teraniaya. Sebaliknya, harus dipandang dan dirasakan sebagai kasih karunia. Tentu juga harus melalui perjuangan. Banyak orang Kristen kalau berbicara mengenai kasih karunia, selalu hanya dikaitkan dengan korban Yesus di kayu salib. Selanjutnya, mereka memandang bahwa kasih karunia akan bekerja dengan sendirinya sehingga orang Kristen secara otomatis da...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…