Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Merintis Jalan ke Surga
    Kehidupan kekal yang berkualitas, artinya dalam persekutuan dengan Allah di surga nanti, sebenarnya dimulai sejak masih hidup di bumi. Kalau seseorang sejak hidup di bumi sudah hidup dalam persekutuan dengan Allah atau memiliki hidup yang berkualitas, maka pasti di balik kubur nanti, ia akan bersama-sama dengan Allah. Itulah sebabnya, dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajar kita agar kita mendatangkan Kerajaan Allah atau menghadirkan pemerintahan Allah, dan melakukan kehendak Allah dengan sempurna (Mat. 6:9-10). Dengan menghadirkan Kerajaan Allah dan melakukan kehendak Allah dengan sempurna, seseorang telah merintis jalan hidupnya menuju ke surga. Dalam hal ini, surga bukanlah tempat pembuangan yang nyaman, yang tentu saja diharapkan oleh semua orang bisa masuk ke dalamnya dan terhindar dari api kekal. Tetapi surga adalah tujuan yang harus mulai dirintis atau dijalani sejak kita masih hidup di bumi sekarang ini.
    Surga menjadi tujuan, artinya sejak di bumi seseorang harus sudah mulai tidak tertarik dengan dunia ini sehingga hanya fokus ke kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru. Bagi orang percaya, langit baru dan bumi baru adalah Rumah Bapa di mana orang percaya menjadi anggota keluarga Kerajaan, yang nantinya juga dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Sejak di bumi, orang percaya harus sudah memperjuangkan hal ini, sebab masuk surga bukan suatu kebetulan dan bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah pilihan yang harus dilakukan sejak hidup di bumi. Surga sebagai pilihan, artinya kita harus bertindak secara konkret, yang menunjukkan bahwa kita memilih surga sebagai tujuan, bukan sekadar harapan atau objek keyakinan yang diharapkan suatu saat bisa masuk ke dalamnya. Tentu kalau seseorang memilih surga sebagai tujuan, ada konsekuensi atau harga yang harus dibayar.
    Orang yang menjadikan surga sebagai tujuan akan berusaha untuk tidak terikat dengan dunia ini dan berjuang untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Orang yang menjadikan surga sebagai tujuan adalah orang yang menghargai surga tersebut, dan tentu juga menghormati Allah sebagai Kepala Pemerintahannya. Orang yang tidak menujukan tujuan hidupnya ke surga atau ke langit baru bumi baru adalah orang yang tidak berniat untuk masuk surga dengan benar. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, apalagi dimuliakan bersama-sama dengan Yesus.
    Kenyataan yang tidak dapat dibantah, sangat sedikit atau hampir tidak ada orang yang sungguh-sungguh menjadikan surga sebagai tujuan hidupnya. Banyak orang beragama hanya karena mau memiliki kehidupan yang nyaman di bumi dan mencapai pencapaian-pencapaian yang dapat membahagiakan hidupnya yang sementara di bumi ini. Sementara surga dianggap sebagai tempat di mana dirinya akan ditempatkan, tanpa menjadikannya sungguh-sungguh sebagai tujuan. Orang-orang seperti ini pada dasarnya menjadikan dunia ini tujuannya, bukan surga. Berhubung semua orang memiliki pola berpikir seperti ini, maka pola berpikir yang salah tersebut sudah dianggap sebagai suatu kewajaran. Padahal, itu sebuah kemerosotan dari kehidupan iman Kristen yang seharusnya menjadikan surga sebagai tujuan. Orang percaya yang menjadikan surga sebagai tujuan pasti berusaha hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar, yaitu hidup dalam kekudusan dan terlepas dari percintaan dunia. Orang-orang seperti ini dapat dikatakan sebagai orang-orang yang menjalani hidup menuju Kerajaan Surga dalam kepastian.
    Mereka yang sejak hidup di bumi tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah atau tidak memiliki hidup yang berkualitas, pasti di balik kuburnya tidak akan bersama-sama dengan Allah, artinya terbuang ke dalam api kekal. Dengan demikian, setiap individu sebenarnya sudah bisa memetakan kehidupan kekalnya sejak masih hidup di bumi. Sehingga, keselamatan adalah sesuatu yang pasti. Tentu bukan berdasarkan keyakinan semata-mata, melainkan kenyataan hidup, dimana seseorang yang ada dalam persekutuan yang bena...
    0 min
  • Bersikap Benar Terhadap Allah
    Seharusnya, setiap orang sudah dapat mengukur atau menakar dirinya sejak hidup di bumi sekarang ini: apakah dirinya layak masuk surga atau tidak. Kalau seseorang benar-benar memperkarakannya di hadapan Allah, maka Allah pasti menunjukkan keadaan yang sebenarnya dari orang itu, apakah ia layak masuk surga atau tidak. Tidak mungkin hal yang prinsip seperti ini disembunyikan Allah atas setiap individu atau pribadi. Keselamatan kekal seseorang haruslah menjadi prioritas di dalam hidup ini. Kalau seseorang memprioritaskan mengenai kekekalan, berarti orang tersebut mendahulukan Kerajaan Allah. Pastilah Allah menuntun orang percaya untuk dapat mengenali dirinya dengan benar (Mat. 6:33). Orang yang tidak memperkarakan dirinya di hadapan Allah, tidak akan mengenali dirinya. Itu berarti membawa dirinya kepada kebinasaan. Allah tidak bisa dipersalahkan, sebab Allah pasti memberi kesempatan kepada setiap individu untuk dapat selamat. Tetapi bagaimana respons individu terhadap keselamatan yang Allah sediakan, tergantung individu-individu itu.
    Sangat ironis, hampir-hampir tidak ada orang yang sungguh-sungguh memperkarakan nasib kekalnya setelah kematian. Pada umumnya, orang lebih mempersoalkan keadaan hari ini; karier, rumah tangga, bisnis, pekerjaan, berbagai fasilitas yang dipandang sebagai kebutuhan, dan lain sebagainya, daripada mempersoalkan nasib kekalnya. Orang-orang seperti ini pada dasarnya adalah mencintai dunia dan tidak menghormati Allah. Tetapi biasanya, mereka merasa sudah menghormati Allah dengan pergi ke gereja, memuji dan menyembah Allah dengan bibirnya. Malangnya, gereja menganggap bahwa tindakan itu sudah cukup untuk Allah. Padahal, yang Allah kehendaki adalah perilaku setiap saat yang menganggap dan memperlakukan Allah sebagai satu-satunya yang bernilai atau berharga. Sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan menyembah Allah. Kata “menyembah” dalam bahasa Yunaninya adalah proskuneo, yang artinya memberi nilai tinggi atau tunduk.
    Pada umumnya, orang lebih mempersoalkan kepastian hidup di waktu mendatang di bumi ini, bukan di waktu mendatang di balik kuburnya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang dikatakan sebagai manusia hari ini, bukan manusia masa depan. Tetapi inilah yang dianggap wajar dan ukuran standar normal manusia pada umumnya. Jika tidak demikian, dipandang sebagai aneh. Selain karena takut dianggap aneh, juga takut kurang bahagia, maka banyak orang Kristen, aktivis gereja, dan bahkan pendeta, tidak berani hidup dalam ketidakwajaran. Padahal, ketidakwajaran itu adalah kewajaran di mata Allah. Hanya orang-orang yang berani hidup tidak wajar di mata manusia, menjadi wajar di mata Allah.
    Banyak orang berpikir bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu untuk bertobat dan berubah. Padahal, kalau seseorang menunda untuk bertobat dan berubah, itu bisa berarti dia menolak untuk bertobat dan berubah. Dalam kelicikannya, manusia berpikir bahwa suatu hari nanti, dia akan bersikap baik-baik di hadapan Allah yaitu kalau ada di hadapan pengadilan takhta Kristus. Padahal, kalau seseorang tidak mulai sekarang bersikap secara benar di hadapan Allah, dia tidak akan pernah bersikap secara benar di kekekalan. Tuhan tahu kemunafikan seseorang berakting seakan-akan mengasihi Allah dan menghormati Dia. Kemunafikan di hadapan Allah akan ditelanjangi di depan mata semua orang di pengadilan Tuhan nanti. Oleh sebab itu, mestinya sejak sekarang, seseorang bersikap benar terhadap Allah, supaya secara natural ia akan dapat mengasihi dan menghormati Allah di hadapan takhta pengadilan Kristus.
    Orang yang bersikap benar terhadap Allah—yaitu mengasihi dan menghormati Dia secara patut dengan kesediaannya meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya serta dosa-dosa—menjadi seorang yang terhormat di mata Allah. Orang-orang seperti ini hidupnya berkualitas atau bermutu tinggi, yang sama dengan memiliki hidup kekal. Seorang yang memiliki hidup kekal sejak di bumi, akan memiliki hidup kekal selama-lamanya.
    0 min
  • Memeriksa Diri dengan Sungguh-Sungguh
    Salah satu kiat yang dapat kita lakukan untuk serius mempersiapkan diri menghadapi kekekalan adalah dengan membayangkan seakan-akan hari ini adalah hari terakhir kita. Kita bisa membayangkan jantung kita berhenti berdetak, nafas tidak mengembang di paru-paru kita, kemudian kita dimasukkan ke dalam peti, dibawa ke kuburan, dan dikubur. Kemudian, roh kita melayang menuju lorong panjang yang di ujungnya kita dibawa ke hadapan pengadilan Tuhan. Betapa dahsyatnya suasana itu. Kalau kita tidak sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi realitas ini, kita akan gemetar dengan ketakutan yang tak terbayangkan. Satu-satunya upaya agar kita siap menghadapi takhta pengadilan Kristus adalah dengan upaya sungguh-sungguh hidup di dalam kehendak Allah dengan sempurna.
    Kita harus menyediakan waktu di hadapan Allah dan memeriksa diri, seakan-akan kita sudah ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. Kita harus berusaha untuk memeriksa diri, kira-kira apakah masih ada hal-hal yang tidak patut di dalam hidup kita di mata Allah. Ketika kita memeriksa diri dengan sungguh-sungguh, Roh Kudus pasti berbicara kepada kita dan menunjukkan hal-hal yang tidak patut di hadapan Allah dalam hidup kita. Hal ini dimaksudkan agar kita berbalik, mengakui dosa kita dan berkomitmen untuk tidak hidup lagi di dalam kesalahan yang kita lakukan. Komitmen harus terus dibaharui setiap hari, dan Roh Kudus pasti menuntun kita kepada seluruh kebenaran agar kita bisa sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.
    Ketika kita ada di hadapan Allah dan membuka mata pengertian kita terhadap keadaan kita di hadapan Allah, timbullah penyesalan dan duka yang mendalam atas keadaan kita yang belum memuaskan hati Allah. Kita lebih menyadari keadaan kita yang masih terjerat dalam keinginan-keinginan daging, perasaan mudah tersinggung, rasa dikhianati, kekecewaan yang bisa melahirkan kepahitan, dan berbagai belenggu dosa lain yang ternyata masih bergelayut dalam hidup kita. Kita akan merasa berutang karena kita masih belum hidup dalam pimpinan Roh, artinya belum hidup dalam kesucian yang Allah kehendaki. Hal ini akan menuntut dan mengejar kita agar kita mengubah diri, guna dapat melakukan kehendak Allah atau hidup dalam perkenanan Allah sehingga kita benar-benar dapat menyenangkan hati-Nya.
    Banyak orang Kristen yang mengaku sebagai orang percaya, tetapi tidak memiliki perasaan berutang kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Allah. Mereka hanya beragama Kristen tanpa perjumpaan pribadi dengan Allah, di dalamnya termasuk para aktivis gereja, bahkan pendeta yang hanya cakap berteologi tetapi tidak memiliki perjumpaan secara nyata atau riil dengan Allah. Orang-orang yang tidak merasa berutang untuk hidup menurut Roh atau hidup dalam kesucian standar Allah, akan merasa berutang kepada dunia, yaitu bagaimana memiliki berbagai fasilitas yang juga dimiliki oleh orang lain. Tentu saja mereka berpikir bahwa fasilitas dunia itulah yang dapat membahagiakan hidupnya. Kalau kehidupan seperti ini tidak segera dihentikan, sampai mati orang itu tidak pernah merasa berutang kepada Allah. Mereka selalu merasa berutang kepada dunia untuk menikmati dunia, seperti anak-anak dunia lain yang bukan umat pilihan.
    Kita harus selalu mempertimbangkan, jika suatu hari nanti kita ada di hadapan takhta pengadilan Kristus, apakah tangan kita sudah bersih dari percintaan dunia dan dari dosa. Idealnya, kita harus selalu memeriksa diri dan selalu menguduskan diri bagi Allah. Kita harus selalu berjuang untuk berkeadaan tidak terbelenggu dengan dunia, tetapi terbelenggu oleh Allah. Kita harus selalu berjuang pula untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Dengan segala kemampuan yang ada pada kita, kita berjuang dengan segenap hati. Orang percaya seperti ini pasti menarik perhatian Allah. Secara istimewa, Allah akan memperlakukan orang-orang seperti ini sebagai anak-anak-Nya yang kekasih. 
    Tentu Allah mengasihi semua manusia,
    0 min
  • Persekutuan yang Ideal Sejak di Bumi Ini
    Pada dasarnya, orang percaya dipanggil untuk memiliki kesenangan hanya ditujukan kepada Tuhan. Kalau seseorang memiliki suatu kesenangan dimana Tuhan tidak ikut menikmati kesenangan tersebut, berarti ia keluar dari hadirat Allah. Jadi, masalahnya bukan terletak pada apa yang kita senangi, tetapi apakah Allah ikut menikmati kesenangan tersebut atau tidak. Untuk hal ini, seseorang harus memperkarakan segala sesuatu yang diingini atau dihasrati, dan yang dilakukannya. Dimulai dari masalah jodoh, apakah Tuhan menghendaki kita menikah atau tidak. Kalau kita menikah, menikah dengan siapa. Dalam hal ini, bukan hanya selera kita, tetapi juga selera Tuhan. Pertanyaannya, kalau itu selera Tuhan, apakah sesuai dengan selera kita? Jawabnya adalah tentu saja “ya.” Sebab, Tuhan pasti tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang paling baik untuk kita, bagi kemuliaan nama Tuhan.
    Satu hal yang tidak dipahami oleh banyak orang, bahwa sesungguhnya Tuhan mau berjalan dalam kebersamaan dengan kita. Tuhan tidak melarang kita menikmati sesuatu atau memiliki suatu kesenangan, yaitu selama sesuatu yang kita nikmati atau senangi tersebut juga dinikmati oleh Tuhan. Allah adalah Allah yang transenden, artinya melampaui akal. Tetapi, Allah juga hadir dalam kehidupan kita secara imanen, artinya Allah dapat kita pahami dengan pikiran kita sehingga kita mengerti apa yang Allah kehendaki di dalam hidup kita ini. Itulah sebabnya, Ia disebut “Imanuel,” artinya Allah beserta dengan kita. Allah beserta dengan kita dalam segala hal yang kita alami dalam hidup ini. Dalam hal ini, Allah dapat merasakan apa yang kita rasakan. Itulah sebabnya, Ia tahu apa yang kita butuhkan, apa yang menyenangkan kita, dan yang tidak menyenangkan kita. Itulah sebabnya pula, langit baru dan bumi baru nanti didesain Allah sebagai suatu tempat domisili yang membahagiakan bagi manusia.
    Segala hal yang kita perkarakan kepada Tuhan, pasti mendapat bimbingan atau tuntunan Tuhan, sehingga segala sesuatu yang kita hasrati atau ingini, keputusan dan pilihan kita, serta segala tindakan kita, pasti mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Inilah kehidupan orang percaya yang normal, dimana seseorang hidup di dalam tawanan Allah oleh Roh Kudus. Kalau hal ini dibiasakan, maka seseorang akan memiliki irama hidup yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, seseorang dipimpin oleh Roh. Inilah kehidupan yang benar-benar berkualitas sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk dikenakan dan dimiliki oleh setiap orang percaya.
    Dengan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang percaya harus memiliki persekutuan yang ideal dengan Allah. Allah tinggal di dalam kita, dan kita tinggal di dalam Allah. Tidak ada satu saat dimana kita tidak ada dalam persekutuan dengan Allah. Di mana pun dan kapan pun, kita selalu ada dalam persekutuan dengan Allah secara ideal. Dalam persekutuan tersebut, kita menikmati Allah dan Allah menikmati kita. Selanjutnya, kita dan Allah menikmati bersama kehidupan dalam segala hal yang kita jalani. Oleh sebab itu, kita tidak boleh membayangkan Allah hanya ada di tempat yang Mahatinggi, di terang yang tidak terhampiri, tetapi Allah juga hadir dalam kehidupan kita, masuk dalam waktu kita dan dalam segala pergumulan yang kita hadapi. Dengan pola kehidupan seperti ini, kita menjadi manusia yang tidak terpisahkan dari Allah.
    Persekutuan yang ideal seperti yang dijelaskan di atas adalah persiapan untuk hidup di dalam kekekalan di langit baru bumi baru dalam Rumah Bapa atau di dalam Kerajaan Surga. Orang-orang yang hidup di dalam persekutuan dengan Allah secara ideal hari ini akan tetap terus hidup dalam persekutuan dengan Allah di kekekalan nanti. Tetapi orang-orang yang tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah sejak di bumi ini, ia tidak akan pernah hidup dalam persekutuan dengan Allah di kekekalan. Surga, khususnya Rumah Bapa, bukanlah tempat di mana seseorang mendadak mengasihi Allah, mendadak menghormati Allah,
    0 min
  • Allah Lain
    Apakah gaya hidup seperti Yesus yang meninggalkan percintaan dunia dapat kita lakukan? Memang sulit sekali, tetapi kalau kita belajar kebenaran terus-menerus, kita akan mengerti dan bisa melakukannya. Banyak orang Kristen yang tidak yakin bahwa kehidupan seperti yang Yesus jalani dapat dijalani karena menganggap bahwa kehidupan Yesus adalah kehidupan yang mustahil dijalani. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa ia tidak percaya yang dikatakan oleh firman Tuhan bahwa kita harus serupa dengan Yesus. Alkitab jelas menunjukkan bahwa Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara, artinya bahwa setelah Yesus, pasti ada orang-orang yang juga dapat memiliki kehidupan seperti yang dialami-Nya. Inilah Injil yang sesungguhnya, bahwa manusia dimungkinkan memiliki kehidupan yang agung sebagai anak-anak Allah seperti yang diperagakan oleh Yesus. Kalau Injil menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani, itu berarti Injil yang palsu. Injil yang palsu tidak mengajarkan kesucian hidup seperti yang dikenakan oleh Yesus. Teologi Kemakmuran yang banyak ditawarkan oleh gereja-gereja adalah ajaran yang berasal dari kuasa gelap yang membinasakan banyak jemaat.
    Hal yang paling menghambat untuk dapat melakukan gaya hidup seperti Yesus dan dapat menggagalkan perjalanan hidup mengiringi Yesus adalah pandangan bahwa kebahagiaan hidup ini hanya dapat diperoleh melalui atau di dalam harta dunia. Pada umumnya atau rata-rata, manusia atau bahkan hampir semua manusia terjebak dalam jerat ini. Mereka tidak yakin atau kurang yakin ada kebahagiaan di luar fasilitas yang dunia sediakan. Hal ini disebabkan karena cara berpikir yang ditanamkan orangtua dan lingkungan di dalam pikiran semua manusia. Dengan demikian, hampir semua manusia sebenarnya hidup di bawah cengkeraman kuasa gelap, tetapi mereka tidak menyadari keadaan mereka yang sangat membahayakan itu. Seharusnya, pemberitaan Injil dapat menyadarkan mereka semua dari keadaan yang membahayakan tersebut agar mereka berpaling kepada Allah dan bertobat dengan sungguh-sungguh, guna memperoleh pembaharuan.
    Mereka yang terjerat bukan hanya jemaat awam, melainkan aktivis, bahkan pendeta pun terjebak di situ. Walaupun kita mungkin tidak materialistis sekali, masih memiliki juga hati yang murah untuk menolong pekerjaan Tuhan, tetapi masih ada bagian dalam hati kita yang terpikat oleh keindahan dunia. Kalau Tuhan menghendaki agar kita mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap kekuatan dan akal budi, itu berarti kita harus menyerahkan segenap hati kita secara bulat dan utuh hanya untuk Tuhan. Prinsipnya adalah: semuanya bagi Tuhan atau tidak sama sekali. Sebab, firman Tuhan tegas dan jelas mengatakan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Allah Yang Mahakuasa adalah Allah yang menghendaki diri-Nya berdaulat penuh atas umat-Nya. Itulah sebabnya, tidak boleh ada allah lain di hadapan-Nya. Allah lain tersebut bisa berarti siapa pun dan apa pun yang menggantikan tempat Allah di dalam hidup kita.
     Ikatan terhadap percintaan dunia pada dasarnya terkait dengan hasrat untuk terhormat di mata manusia, atau paling tidak, ingin disejajarkan dengan manusia lain dan tidak mau direndahkan. Biasanya, orang mau memiliki berbagai fasilitas bukan demi kebutuhan, melainkan demi kesenangan yang juga demi prestise dan kehormatan manusia. Dalam hal ini, orang tidak bisa membedakan antara “keinginan” dan “kebutuhan.” Orang-orang seperti ini sudah bisa dipastikan terjerat dan tersandera oleh dunia ini, dan di balik semua ini, ada kuasa gelap yang menggiring manusia menuju api kekal. Tetapi pada umumnya, manusia tidak menyadari hal ini, termasuk banyak orang Kristen di dalamnya. Karena, mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan kewajaran hidup. Dengan demikian, orang yang masih mau hidup wajar seperti manusia lain, tidak mungkin bisa mengikuti Yesus.
    Dalam Yohanes 5:44, Yesus berkata: “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang ...
    0 min
  • Keberanian Meninggalkan Percintaan Dunia
    Keberanian adalah sesuatu yang bisa dan harus dibangkitkan di dalam hidup kita untuk hal-hal positif dan dikembangkan terus, sehingga bisa membentuk karakter berani yang positif pula. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya untuk meninggalkan percintaan dunia. Demi keselamatan kekal jiwa kita, kita harus berani meninggalkan dunia dengan segala keindahannya. Kalau seseorang menunda membangkitkan tekad untuk berani meninggalkan dunia, maka sampai mati dia tidak akan pernah meninggalkan dunia dengan segala keindahannya. Ini berarti sebuah persahabatan dengan dunia. Padahal, persahabatan dengan dunia berarti permusuhan terhadap Allah. Orang yang mengasihi dunia, memposisikan diri sebagai musuh Allah. Keadaan seperti ini adalah keadaan dan sungguh-sungguh sangat mengerikan. Tetapi faktanya, banyak manusia yang hidup dengan keadaan seperti ini, termasuk banyak orang Kristen. Malangnya, mereka tidak menyadari keadaan mereka yang yang memusuhi Allah.
    Banyak orang Kristen yang tidak memiliki keberanian meninggalkan dunia. Jika keadaan ini berlarut-larut, sampai mati mereka tidak pernah memiliki keberanian meninggalkan percintaan dunia. Biasanya, orang-orang yang takut meninggalkan dunia mereka merasa tidak memiliki kebahagiaan lagi kalau meninggalkan percintaan dunia. Seakan-akan hanya dunia ini yang dapat membahagiakan dirinya dan dan seakan-akan tidak ada lagi kehidupan lain dimana dirinya dapat menikmati kebahagiaan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Mereka tidak memandang Allah sebagai Allah yang baik. Mereka tidak percaya bahwa Allah yang baik menyediakan langit baru bumi baru yang dapat memberi kebahagiaan sempurna bagi anak-anak-Nya. Seharusnya, sebagai orang percaya, kita berani menaruh hati kita di Kerajaan Surga untuk memenuhi yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, di mana ada harta kita, di situ hati kita berada (Mat. 6:21).
    Kalau kita bertekad meninggalkan dunia, Tuhan akan menolong kita dan mengajar bagaimana kita dapat melakukannya. Paling tidak, kita harus memiliki tekad untuk meninggalkan percintaan dunia, walaupun kenyataannya hati kita masih ada ikatan dengan dunia ini—dibutuhkan proses. Maka selanjutnya, Tuhan mengajarkan kita kehausan akan Allah. Tuhan tahu kelemahan kita dalam hal ini. Tuhan akan menolong kita bagaimana kita dapat melepaskan diri dari percintaan dunia. Tetapi kalau seseorang sudah putus asa dan berpikir bahwa ia tidak bisa tidak mencintai dunia, ia tidak akan memiliki gairah sama sekali untuk meninggalkan percintaan dunia. Kita harus optimis. Seperti Yesus dapat meninggalkan segala kemuliaan, mengosongkan diri, dan berkeadaan sama seperti manusia, demikian pula kita dapat meninggalkan percintaan dunia dan mengosongkan diri agar bejana hidup kita diisi oleh Roh Kudus.
    Dibutuhkan keberanian untuk bisa berkata: “Tuhan, Engkau kebahagiaanku, Engkau kesenanganku satu-satunya.” Dengan pernyataan ini, kita bisa “mati sebelum mati” atau “selesai sebelum selesai.” Orang-orang seperti ini adalah orang yang merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki siapa-siapa. Kalaupun memiliki banyak hal, ia merasa bahwa semua hal itu adalah milik Allah. Walaupun banyak orang di sekitarnya, ia merasa bahwa semuanya adalah milik Tuhan. Tentu saja sebagai manusia, kita memiliki kesenangan bersama dengan pasangan hidup, anak, menantu, dan cucu-cucu. Tetapi semua itu tidak ada artinya jika kita tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Akhirnya, Allah menjadi segalanya dalam hidup kita. Tentu saja kita memiliki kesenangan dan kepuasan ketika berhasil dalam studi, karier, bisnis, dan lain sebagainya. Tetapi semua itu juga tidak ada artinya jika kita tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Semua harus menjadi kesenangan Tuhan. Tuhan senang melihat rumah tangga kita yang bahagia, Tuhan senang melihat anak cucu kita, Tuhan senang melihat sukses karier dan studi kita, yang tentu saja semua itu bisa dipersembahkan untuk kepentingan Kerajaan Surga.
    0 min
  • Menunda Menabur
    Gereja harus memberi pelayanan yang baik, yaitu mengajarkan kebenaran yang dapat mengubah cara berpikir atau paradigma jemaat. Gereja yang hanya mengajarkan mukjizat dan berkat-berkat jasmani untuk diklaim dari Tuhan adalah gereja yang memarkir jemaat di dalam dunia, sehingga jemaat berpikir secara duniawi. Jemaat seperti ini berpotensi tergiring ke dalam api kekal. Kalau orang didorong ke gereja hanya supaya memperoleh mukjizat dan berkat-berkat materi atau berkat jasmani serta pemenuhan kebutuhan jasmani, mereka sudah disesatkan. Kalau jemaat diajar untuk memperoleh berkat berlipat ganda, 30, 60, 100 kali lipat karena memberi persembahan, itu berarti suatu pembodohan sampai tingkat penyesatan, dan dampaknya adalah kebinasaan. Pendeta dari gereja-gereja seperti itu merasa bahwa mereka sedang melayani Tuhan dengan memberkati jemaat dengan berkat jasmani yang menurut mereka sebagai kebutuhan utama. Tanpa disadari, pendeta-pendeta tersebut sebenarnya menyesatkan jemaat dengan memindahkan fokus. Seharusnya, fokusnya ditujukan kepada Kerajaan Allah, tetapi karena ajaran pemenuhan kebutuhan jasmani, fokusnya disimpangkan.
    Dalam hal ini, tidak sedikit gereja yang menjadi alat Iblis untuk menyesatkan jemaat agar terhilang dari hadirat Allah. Pendeta-pendeta yang sebenarnya bukan hamba Tuhan yang benar tersebut biasanya menjadi hamba uang yang dipakai Iblis untuk menyesatkan umat. Hamba Tuhan palsu seperti ini bukan berarti tidak bisa berkhotbah dan bukan berarti tidak bisa mengadakan mukjizat. Mereka adalah orang-orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan, memikat banyak orang untuk mengikut atau menjadi anggota gerejanya. Hamba Tuhan seperti inilah yang suatu hari akan ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat. 7:21-23). Hal ini seharusnya tidak mengherankan, sebab memang dari dulu penyesatan juga berasal dari dalam. Setan bukan hanya bisa ada di luar saja, melainkan juga bisa melingkar di mimbar gereja dan mengajarkan ajaran yang tidak membawa jemaat kepada Allah dan Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya, Paulus menasihati anak rohaninya, Timotius, agar mengawasi dirinya dan mengawasi pengajarannya. Oleh sebab itu, pastinya setiap orang harus lebih memeriksa dirinya sendiri daripada menilai orang lain dan menghakimi.
    Gereja yang benar adalah gereja yang mendorong jemaat untuk mencari Tuhan saja, yaitu bagaimana hidup berkenan kepada Allah, menjadi anak-anak kesukaan Allah yang melakukan kehendak Bapa. Gereja seperti ini pasti mengarahkan jemaat untuk fokus kepada langit baru dan bumi baru, yaitu rumah Bapa di surga, selalu menyadarkan jemaat untuk menghayati bahwa orang percaya berasal dari atas, bukan dari bumi. Dengan demikian, orang percaya dapat menghayati bahwa dunia ini ini bukan rumahnya. Gereja seperti ini adalah gereja yang membangun anggota keluarga Kerajaan Surga. Dalam hal ini, gereja seharusnya kembali kepada maksud tujuan keselamatan yang Allah berikan. Keselamatan diberikan bukan supaya manusia memiliki agama, melainkan supaya manusia memiliki kehidupan sesuai rancangan awal semula. Oleh sebab itu, fokus pelayanan gereja haruslah perubahan kehidupan jemaat, yaitu dari kehidupan yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Selain gereja mengajarkan kebenaran, para pelayan jemaat harus menjadi teladan bagaimana hidup seseorang yang telah dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Seharusnya orang percaya mengerti bahwa dalam kehidupan ini, ada hukum atau tatanan yang tidak bisa dilanggar. Hukum itu adalah hukum tabur tuai. Kalau seseorang rajin bekerja, pada umumnya bisa atau pasti dapat memiliki harta lebih banyak. Tetapi orang malas tidak akan dapat dipercayai memiliki harta banyak, kecuali dengan cara-cara curang yang akhirnya akan membawa orang tersebut kepada kebinasaan. Orang percaya harus menjadi manusia yang bertanggung jawab, yaitu dengan bekerja rajin, menjaga pola hidup yang baik agar memiliki kesehatan yang prima. Doa untuk memperoleh berkat jasmani akan sia-sia kalau seseorang tidak bertanggung jawa...
    0 min
  • Proses Bertahap
    Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang kaya sukar masuk surga, bukan berarti orang miskin mudah masuk surga. Orang-orang miskin secara materi yang masih ingin kaya karena berharap kekayaan dapat membahagiakan hidupnya adalah juga orang-orang yang sukar masuk surga. Menjadi orang kaya bukanlah kesalahan atau dosa. Idealnya, sebaiknya orang percaya secara materi berkeadaan kaya. Kekayaan membuat seseorang lebih efektif bagi pekerjaan Allah. Oleh sebab itu, kalau seseorang mau menjadi kaya, bukan supaya lebih bernilai dan memiliki Firdaus di bumi dengan fasilitas uang banyak tersebut, melainkan karena mau berbuat banyak bagi Tuhan atau efektif bagi Tuhan. Dalam hal ini, firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya dipanggil untuk memuliakan Allah dengan hartanya. Sejujurnya, sangat sedikit orang kaya yang memuliakan Allah dengan hartanya. Biasanya, orang kaya memuliakan dirinya sendiri dengan hartanya.
    Orang kaya dalam Matius 19:21-23 diperintahkan untuk menjual segala miliknya, kemudian memberikannya kepada orang miskin, lalu mengikut Yesus. Karena, ia tidak bisa mengikut Yesus kalau tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya. Tuhan tahu hatinya masih terbelenggu dengan harta kekayaan (Luk. 14:33). Dalam kenyataan hidup ini, banyak orang kaya yang terikat dengan kekayaannya, tetapi ada pula yang tidak terikat kekayaan. Sebaliknya, banyak orang miskin yang masih terikat kekayaan. Baik orang kaya maupun orang miskin yang masih terikat kekayaan adalah orang-orang yang sukar masuk surga. Diharapkan pelayanan gereja dapat membuat seseorang tidak terikat dunia lagi, tetapi mengarah diri kepada Tuhan.
    Kita harus jujur melihat diri kita sendiri, apakah kita masih terikat dengan dunia ini? Orang yang terikat dengan dunia ini hidupnya pasti digairahkan hanya untuk mencari uang. Setiap kali kita bangun tidur pada pagi hari, kita bertanya apa yang membuat kita bergairah hari itu. Sesuatu yang membuat seseorang bergairah itulah yang menjadi isi dan tujuan hidup. Orang percaya harus berani berprinsip bahwa bagi dirinya Tuhan adalah segalanya. Orang percaya seperti ini berani berkata: “Aku bahagia memiliki Tuhan. Tuhan satu-satunya kebahagiaanku.” Orang percaya seperti ini tidak memperhitungkan sesuatu sebagai yang dapat menggembirakan atau membahagiakan hatinya. Orang percaya yang memiliki sumber kebahagiaan selain Allah berarti memiliki berhala atau ilah lain. Inilah yang Alkitab katakan sebagai perzinaan atau percabulan rohani. Kalau ada orang Kristen terkadang seperti ini, berarti ia tidak menjadi perawan suci di hadapan Allah. Ini berarti juga orang tersebut tidak layak menjadi mempelai Tuhan.
    Sebagai orang percaya, kita harus memiliki langkah yang berani, yaitu berprinsip bahwa hanya Tuhan yang menjadi kebahagiaan kita. Kita harus berani melepaskan diri dari segala ikatan, kemudian lambat laun, selera jiwa kita pasti berubah. Dalam hal ini, memang dibutuhkan proses. Perubahan diri tidak bisa berlangsung secara cara cepat atau instant. Dari kitab Kejadian mengenai penciptaan alam semesta, tampak sekali tatanan Allah—yaitu Allah bekerja dalam proses bertahap. Tatanan ini juga berlaku dalam proses pendewasaan. Tidak ada cara mudah untuk menjadi dewasa atau tidak ada cara gampang untuk menjadi orang yang berkenan kepada Allah. Salah satu ciri dari ajaran yang tidak sesuai Alkitab adalah keselamatan sebagai sesuatu yang dapat diterima secara instantly. Keselamatan harus dipahami sebagai suatu proses, yaitu usaha Allah mengembalikan manusia ke rancangan-Nya semula. Hal ini bukanlah hasil penentuan Allah atas individu-individu tertentu, melainkan respons individu tersebut terhadap keselamatan yang Allah sediakan atau anugerah yang Allah telah berikan melalui karya salib Kristus. Dengan demikian, keselamatan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.
    Untuk memperoleh hidup yang kekal, yang sama dengan memiliki hidup sesuai dengan rancangan Allah semula, orang kaya dalam Matius 19 harus memperjuangkannya.
    0 min
  • Cara Pandang yang Diubah
    Berangkat dari penjelasan bahwa “binasa” itu artinya terpisah dari Allah, “kekal” itu artinya hidup yang bernilai, dan yang bernilai itu adalah hidup dalam persekutuan dengan Allah, maka mestinya sejak hidup di bumi, orang sudah bisa mengerti betapa kosong jiwanya kalau tidak memiliki persekutuan yang baik dengan Allah; betapa menyakitkan kalau kita tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Kemudian, baru dia bisa melihat betapa ngerinya kalau seseorang terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya dan tidak pernah mendapat kesempatan untuk dipulihkan. Sebaliknya, ia akan bisa melihat betapa indahnya persekutuan dengan Allah di kekekalan nanti.
    Persekutuan dengan Allah, di dunia ini diperjuangkan dengan berat. Kenapa dengan berat? Karena kita menghadapi banyak musuh. Paling tidak, ada tiga musuh yang berbahaya. Pertama, kuasa gelap yang berusaha menarik kita masuk dalam persekutuan dengan kuasa ini. Yang kedua, kita menghadapi diri kita sendiri yang sudah dicemari oleh dunia, sehingga diri kita ini memiliki kehausan-kehausan yang sesat, kehausan-kehausan yang salah. Ibarat orang diabetes, memiliki kehausan minum softdrink. Yang ketiga, yang kita hadapi adalah pengaruh dunia. Dari segala hal yang dilihat dan didengar, semuanya bisa tampak menarik sehingga kita bisa terbawa. Inilah perjuangan yang berat dalam mengikut Tuhan. Harus diketahui bahwa yang berjuang saja belum tentu bisa mengalahkan, apalagi kalau tidak berjuang. Perjuangan ini harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Dengan demikian, bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus berkata, “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih” (Mat. 22:14). Bukan tanpa alasan kalau Yesus berkata, “Banyak orang yang berusaha, tapi tidak masuk. Maka, berjuanglah!” (Luk. 13:23-24). 
    Oleh sebab itu, dengan seluruh kekuatan, perhatian, dan potensi yang ada pada kita, mestinya kita mendahulukan Kerajaan Allah, yaitu hal memiliki kehidupan yang bersekutu dengan Allah. Kalau seseorang menganggap hal ini penting, maka ia pasti mendahulukannya; tetapi kalau seseorang menganggap Kerajaan Allah itu tidak penting, maka tidak didahulukan, bisa ditunda, dikalahkan dengan hal lain yang dianggap lebih penting untuk didahulukan. Sebenarnya, apa yang dikemukakan ini tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata. Kita harus bisa mengalami atau menghayatinya dengan sepenuhnya. Kalau seseorang menghayati sepenuhnya hal ini, ia akan menghargai pentingnya Kerajaan Allah. Faktanya, banyak orang yang sudah tidak sanggup menghayati pentingnya hidup dalam persekutuan dengan Allah. Cara pandang atau paradigma mereka sudah rusak.
    Oleh sebab itu, harus mendengar kebenaran sampai cara pandang mereka diubah dan berbeda dengan cara pandang dunia. Dengan cara pandang berubah, selera jiwanya juga berubah. Dengan selera jiwa berubah, fokus “pencarian hidup” itu juga berubah. Kalau seseorang belum mengalami perubahan cara pikir atau paradigma, maka berbicara tentang neraka sedahsyat-dahsyatnya juga mereka tidak akan takut. Karena, bagi orang-orang itu, seleranya bukan pada Tuhan melainkan pada dunia. Surga yang digambarkan seindah-indahnya pun tidak akan menarik. Tetapi kalau cara pandangnya diubah, maka seleranya hanya pada Tuhan. Kalau seleranya tertuju kepada Tuhan, tidak usah didesak-desak untuk mencari Tuhan, dia sudah mencari Tuhan dan mendahulukan Kerajaan Allah. 
    Matius 19:21-23 melukiskan orang kaya yang berkeberatan menjual segala miliknya untuk memperoleh hidup yang kekal atau hidup yang berkualitas. Tentu ini adalah kehidupan yang bersekutu dengan Allah. Untuk memiliki hidup yang kekal, ia harus berhenti menikmati miliknya atau dunia ini, yaitu harta, uang, kedudukan. Ia harus memberikannya kepada orang miskin—yaitu orang-orang yang tidak bisa membalas kebaikan—kemudian datang kepada Yesus dan ikut Yesus. “Ikut Yesus” artinya ikut cara hidup-Nya; cara hidup Yesus yang membangun persekutuan yang benar dengan Allah. Hidup yang bernilai itu standarnya Yesus,
    0 min
  • Kehausan akan Allah
    Orang yang sungguh-sungguh telah memiliki hidup yang kekal atau hidup yang berkualitas, maka cara pandangnya terhadap hidup dan dunia pasti sangat berubah. Seiring dengan perjalanan waktu, ketika cara pandangnya terhadap hidup dan dunia makin berubah, kualitas hidupnya pun semakin meningkat tinggi. Orang-orang seperti ini akan mengerti betapa berartinya kalau seseorang memiliki persekutuan dengan Allah. Tentu saja ia juga dapat menghayati betapa mengerikan keadaan seseorang yang tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar. Oleh sebab itu, orang percaya harus terus-menerus mengalami perubahan cara berpikir atau paradigma. Cara berpikir atau paradigma orang yang belum diubah tidak akan pernah menemukan kekosongan di dalam jiwanya. Orang seperti itu tidak merasakan dan tidak mengerti kesepiannya terpisah dari Allah. Ia tidak mengerti betapa tidak berartinya hidup di luar persekutuan dengan Allah. 
    Kenyataannya, dunia telah meracuni pikiran banyak orang, termasuk orang-orang Kristen dan rohaniwannya, sehingga tanpa sadar mereka membangun cara berpikir atau paradigma dari sudut pandang atau perspektif dunia. Itulah sebabnya, banyak di antara mereka berpikir betapa tidak berartinya kalau orang tidak memiliki harta, betapa tidak bermutunya orang yang tidak terhormat di mata manusia, betapa kosongnya kalau orang tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Hampir semua manusia sudah sesat dalam hal ini. Lebih menyedihkan, kalau orang-orang menjadi pelayan Tuhan—yang mestinya menganjurkan bagaimana memiliki hidup yang berkualitas menurut versi Tuhan—masih ada di dalam area kehidupan duniawi. Mereka memang sejak semula, sejak sekolah Alkitab atau di sekolah tinggi teologi berusaha hidup hanya mau mengubah nasib. Setelah nasibnya berubah, kehidupan ekonomi yang baik bisa dicapai atau dimiliki, lalu berambisi bagaimana memiliki kedudukan, bagaimana lebih terhormat dari jemaat, bagaimana lebih terhormat dari para pendeta lain, dan seterusnya. Tidak mengherankan bila terjadi pertikaian dalam gereja lokal, di sekolah-sekolah teologi, di kelas sinode, atau di persekutuan gereja di aras nasional. 
    Banyak orang yang salah memahami pengertian “hidup kekal,” sehingga mereka tidak memiliki kehausan akan Allah, dan memang tidak akan pernah bisa memilikinya. Kehidupan orang Kristen yang benar akan merasa kosong, merasa sepi, jika tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Keadaan tersebut sangat menyiksa. Hal inilah yang mendorong seseorang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini, mereka mencari Tuhan bukan karena masalah-masalah dunia fana atau pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi karena kehausan akan Allah. Orang-orang seperti ini barulah dapat menyatakan apa yang menjadi kerinduan pemazmur: “Seperti rusa merindukan sungai yang berair dengan jiwa merindukan Allah” (Mzm. 42:1-2). Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang haus dan lapar akan kebenaran akan memperoleh kepuasan. Ketika dahaga jiwa manusia ditujukan kepada perkara-perkara dunia ini, maka ia tidak pernah mengenal dan merasakan kehausan akan Allah. 
    Kalau sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Allah, walaupun rumah sepetak, satu kamar, itu pun sewa bulan ke bulan, hidup ini terasa lengkap dan hidupnya terasa berarti serta berisi. Walaupun belum memiliki jodoh, belum memiliki anak kandung; walaupun dikhianati anak kandung, walaupun dikhianati teman hidup, walaupun sendirian, walaupun tidak punya apa-apa, tetap merasa hidupnya bernilai atau hidupnya berarti, karena ia memiliki Tuhan. Sebenarnya, prinsip seperti ini sudah dimiliki pemazmur sejak periode Perjanjian Lama, dan itu sebenarnya sudah memberikan kita pelajaran yang mahal. Dalam kesaksiannya, pemazmur mengatakan: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selamanya.” Pernyataan pemazmur ini menunjukkan bahwa yang membuat ia “kehilangan hidup” adalah Tuhan. 
    Kalau seseorang sudah mengerti betapa tidak bern...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…