Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mewariskan Kekristenan
    Adalah mudah untuk mewariskan dari generasi ke generasi kekristenan yang menjadi agama, dan sejatinya, hal itu sudah sukses terjadi. Namun di balik kesuksesannya, ada manuver kuasa kegelapan yang ikut menyukseskannya; yang membuat pewarisan kekristenan sebagai agama mulus terjadi atau mulus berlangsung. Biasanya, kekristenan sebagai keberagamaan ditandai dengan seremonial atau liturgi dan itu mudah diwariskan. Kalaupun ada perubahan-perubahan, hal itu tidak sulit dilakukan. Dan ciri lain kekristenan yang menjadi keberagamaan adalah memiliki standar kelakuan baik atau hidup menurut norma umum atau norma yang memang dikenal di dalam Alkitab dalam kehidupan bangsa Israel yang berdasarkan 10 Perintah Allah atau Dekalog. Keberagamaan, juga ditandai dengan dominasi tokoh. Jadi, peran pemimipin agama dominan di dalam kehidupan umat. Tapi kalau kekristenan sebagai jalan hidup, tidak mudah diwariskan. Dan inilah yang telah dipotong oleh kuasa kegelapan supaya tidak terwariskan. 
    Padahal sejatinya, kekristenan adalah jalan hidup; jejak hidup-Nya Tuhan Yesus yang harus diwariskan dari generasi ke generasi—bukan jalan hukum—yaitu bagaimana orang percaya harus menjalani hidup seperti yang Yesus jalani; dan itu tidak mudah. Karena setiap masa, setiap waktu, setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda dan berubah. Tetapi kehidupan seperti yang diselenggarakan oleh Tuhan Yesus harus tetap eksis, tidak boleh berubah. Tuhan Yesus berkata bahwa ibadah bagi umat Perjanjian Baru itu menyembah dalam roh dan kebenaran. Ini penting sekali. Sudah bukan pola keberagamaan, tapi jalan hidup dalam roh dan kebenaran, dan ini tidak mudah diwariskan. Tidak bermaksud mengesampingkan dalil teologi atau doktrin yang ada, tetapi kekristenan itu adalah jalan hidup. Doktrin, teologi ataupun dalil itu penting untuk mengembalikan kekristenan pada Injil yang murni (back to the Bible). Tetapi kita harus tahu fokus atau inti daripada kekristenan, yaitu diri Yesus. 
    Jadi, sekuat dan seteguh apa pun daktrin seseorang, namun kalau hal itu tidak membuat manusia menjadi segambar dan serupa dengan Allah yang modelnya adalah Tuhan Yesus, berarti kekristenan gagal dicapai. Masalahnya, “seperti Yesus” itu bagaimana? Sikap, tindakan, perilaku yang dalam segala hal sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Berarti setiap individu harus berurusan dengan Allah; setiap individu harus bersentuhan dengan Allah. Sebagai jemaat yang menyadari bahwa dirinya tidak memiliki ilmu teologi yang cukup, merasa “miskin,” namun kemudian ia melangkah untuk mengenal Allah—melalui doa, khotbah, buku dan sarana lain—maka jika dia dengar-dengaran dengan gairah yang murni dan tulus, dia pasti akan menemukan Tuhan. Sebaliknya, seorang yang merasa mengenal Allah karena segenggam ilmu teologi yang dia miliki, dia terparkir di situ. Dia tidak bertemu dengan Tuhan, tapi bertemu dengan ilmu tentang Tuhan. Bertemu Allah dan bertemu ilmu tentang Allah adalah dua hal yang sangat berbeda. Maka, jangan merasa puas dengan hidup kekristenan yang sudah kita capai. Sebab penyesatan kuasa kegelapan yang luar biasa sukses adalah ketika orang Kristen diparkir dalam hidup keberagamaan. 
    Kekristenan itu jalan hidup, artinya bahwa ibadah kita sesungguhnya bukan seremonial, tetapi seluruh perilaku hidup. Melayani Allah itu sesungguhnya, pertama, melayani perasaan-Nya. Bahkan setiap kata yang kita ucapkan, itu merupakan ibadah. Apakah ucapan yang kita lontarkan telah menunjukkan penghormatan kita kepada Allah? Perlakuan kita terhadap orang lain, apakah menunjukkan sikap hormat kita kepada Allah? Jadi, kita harus bertobat, jangan merasa sudah berbakti karena kita ada dalam acara liturgi atau kebaktian di gereja ataupun sudah menjadi aktivis, bahkan pendeta. Yang kedua, jangan merasa sudah melayani Tuhan, sudah berbakti, sudah menjadi orang Kristen karena bermoral baik. Sebab standarnya Bapa di surga: sempurna, seperti diri-Nya, serupa dengan Yesus. Yang ketiga,
    0 min
  • Barter
    Setiap kita harus dapat menghayati kebesaran Allah yang dahsyat, sehingga kita bersedia untuk melakukan apa pun yang Tuhan inginkan. Tuhan menghendaki kita melakukan “barter,” seperti yang ditulis dalam Matius 13:44-46, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” Pernyataan Tuhan Yesus di atas ini sangat jelas menunjukkan bahwa harus ada yang dilepaskan untuk memiliki Kristus atau keselamatan. Dalam hal ini pengertian solagratia harus dipahami secara benar. Anugerah memang cuma-Cuma, tetapi cara dan proses menerima keselamatan tidak gratis, harus ada yang dikorbankan demi bisa mengalami keselamatan atau menerima anugerah. 
    Salah satu hal yang paling menyesatkan banyak orang Kristen adalah ketika orang atau orang Kristen berpikir bahwa menjadi anak-anak Allah terjadi tanpa syarat. Seakan-akan setiap orang Kristen otomatis sudah menjadi anak-anak Allah. Ini adalah salah satu hal yang paling menyesatkan dan merusak kehidupan Kristen yang sejati. Memang harus diakui, ketika kita yang berdosa diterima Allah karena pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, hal itu terjadi tanpa syarat. Artinya, anugerah yang dihadirkan oleh kematian Tuhan Yesus tidak memandang kepantasan atau kelayakan kita saat menerimanya. Ketika Yesus mati di kayu salib, setiap orang diperdamaikan oleh darah-Nya secara cuma-cuma. Namun, ini adalah proses penebusan yang dikerjakan oleh Allah. Manusia memiliki bagian dalam proses penebusan yang harus ia lakukan. Bagian dari orang yang menerima penebusan Tuhan adalah belajar untuk benar-benar memiliki keadaan atau karakter seperti anak-anak Allah. Bukan hanya berstatus sebagai anak-anak Allah, melainkan kita harus berkeadaan atau berkarakter sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus menerima bahwa hidup sebagai orang Kristen adalah hidup dalam pembelajaran yang tidak pernah berhenti sampai kita mati; pembelajaran untuk menjadi anak-anak Allah. Puncak atau klimaks dari hal ini adalah kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.
    Sebagai orang percaya, kita harus bisa menghayati keindahan, kemuliaan, kebaikan, kedaulatan, kewibawaan, dan kedahsyatan Allah, sehingga kita rela tidak terikat dengan dunia ini. Keterlepasan dari dunia harus kita miliki agar bisa mengisi hari-hari hidup kita dalam kekudusan dan kesucian, walaupun itu sangat berat. Untuk itu, kita harus melakukan barter. Barter kesenangan dan keindahan dunia yang terlanjur melekat dan dinikmati oleh jiwa kita, dengan keindahan Tuhan yang melampaui akal. Seperti seorang pedagang yang menjual seluruh miliknya untuk memiliki mutiara yang indah. Kita tidak bisa memiliki Kristus tanpa barter. Sehingga pada akhirnya, setiap orang yang mengaku percaya harus diperhadapkan dengan pilihan hidup, apakah ia memilih Tuhan atau dunia. Kita tidak bisa memilih keduanya, sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengabdi kepada dua tuan.
    Keterlepasan dari keindahan dan kenyamanan dunia dikalimatkan dengan tegas oleh Paulus dalam Filipi 3:8, “Aku melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus.” Paulus menjalani sebuah proses barter, yaitu pertukaran gairah dunia yang dimilikinya dengan Tuhan sebagai Tuan yang hendak ia layani. Untuk dapat melayani Tuhan, Paulus harus melepaskan semuanya dan menganggapnya sebagai sampah. Hal ini menjadi pelajaran bagi gereja dan rohaniwannya. Bahkan keindahan dan kenyamanan yang diperoleh dari pelayanan pun tidak boleh digenggam sebagai suatu hal yang membahagiakan. Bagi hamba Tuhan, pelayanan atau kegiatan gereja dapat menjadi berhala dimana ia menaruh kesenangan, rasa aman, dan kehormatan. Tanpa sadar,
    0 min
  • Kemutlakan
    Satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa inti kekristenan yang sejati adalah kehidupan Yesus. Serupa dengan Yesus dalam hal karakter adalah sebuah kemutlakan. Tidak ada kehidupan lain yang menjadi pola atau standar bagi kehidupan Kristen, selain kehidupan Yesus. Hal ini dikemukakan dalam surat 1 Yohanes 2:6 yang berbunyi: “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Barangsiapa percaya bahwa Allah itu ada, maka konsekuensinya ia harus hidup seperti jejak yang dikehendaki oleh Allah, yakni jejak kehidupan Yesus. Para rasul dan orang percaya abad mula-mula telah membuktikan hal ini. Mereka menjadikan kehidupan Yesus sebagai jejak satu-satunya dimana mereka berkiblat. Sampai mereka disebut Kristen karena perilaku mereka seperti Yesus.
    Standar ini berlaku bagi semua orang Kristen, bukan hanya untuk pendeta atau aktivis gereja. Firman Tuhan berkata dalam 1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Alkitab mengatakan bahwa setiap orang percaya adalah imamat yang rajani, bangsa yang kudus, kepunyaan Allah sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang percaya dari kalangan sosial mana pun memiliki standar yang sama. Baik ia seorang pendeta, aktivis, maupun jemaat biasa yang tidak terlibat secara khusus dalam pelayanan. Setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan, wajib mengikuti standar ini, yaitu jejak kehidupan Tuhan Yesus. Gereja tidak boleh mengesankan bahwa pendeta atau aktivis memiliki pola hidup yang lebih tinggi dibanding jemaat. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pendeta dan aktivis menjadi contoh yang disorot oleh banyak mata jemaat. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa jemaat boleh merasa aman untuk memiliki standar hidup yang lebih rendah. Seakan-akan jika statusnya jemaat, ia lebih dimaklumi untuk hidup duniawi dibanding pendeta atau aktivis. Sesungguhnya ini adalah pola pemikiran beragama yang harus kita hindari.
    Setiap orang memiliki perjuangan yang sama, yaitu untuk tidak terikat dengan keindahan dunia, dan semua yang kita usahakan benar-benar untuk kepentingan Kerajaan Allah. Hal ini sejajar dengan kehidupan Tuhan Yesus yang hidup hanya untuk kepentingan Kerajaan Allah. Komitmen-Nya teruji ketika diperhadapkan Iblis dengan pencobaan di padang gurun. Tuhan Yesus menolak untuk menyembah Iblis, ganti dunia yang akan diberikan kepada-Nya. Ia tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang harus diraih sebagai tujuan. Sebaliknya, Tuhan melihat bahwa Allah Bapa adalah satu-satunya tujuan hidup yang harus diperkenan selama hidup-Nya. Oleh karena itu, setiap orang Kristen harus memiliki tekad untuk sempurna, meninggalkan percintaan dunia, dan berkemas-kemas pulang ke surga. Kita harus siap sedia berjuang untuk menjadi anak-anak kesukaan Bapa setiap saat. Inilah satu-satunya agenda hidup kita.
    Jika dalam hidup ini kita mencapai sukses, jangan sampai hal itu dipandang sebagai standar yang menjadi tujuan hidup. Sukses kita tidak diukur dari berapa banyak uang atau materi yang kita miliki, kedudukan yang kita capai, gelar, pangkat yang telah kita gapai, tetapi seberapa kita benar-benar menjadi anak kesukaan Allah seperti Yesus. Jelas, Kolose 3:1-3 firman Tuhan mengatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kesuksesan kita adalah ketika kita berhasil mencapai jejak hidup yang dipertunjukkan oleh Yesus selama Ia hidup di bumi ini, yang tercatat dalam Injil. Baik itu dalam tingkah laku, belas kasih, kemurahan hati, kesucian, dan karakter lainnya yang berkenan di mata Bapa.
    0 min
  • Objek Penelitian
    Dunia kita hari ini benar-benar semakin fasik dan tidak peduli akan Tuhan, seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:1-5. Dunia juga sebenarnya semakin ateis praktis, dimana orang tidak memercayai adanya Allah. Walaupun dengan mulut mereka mengaku percaya akan Allah, tetapi perbuatannya tidak menunjukkan bahwa mereka benar-benar percaya kepada Allah. Suasana dunia seperti ini juga ada dalam lingkungan kehidupan banyak orang Kristen. Tanpa kita sadari, kita pun bisa terpengaruh oleh keadaan itu. Orang Kristen memang tidak menyangkali atau meninggalkan kepercayaannya, tetapi mereka membiarkan diri terikat dengan kesenangan dunia dan hal-hal yang tidak patut yang melukai hati Tuhan. Suasana dunia yang sudah sedemikian fasik membuat sikap ceroboh dan sembarangan hidup, juga telah menjadi irama kita.
    Harus jujur diakui bahwa irama hidup kita adalah irama hidup yang sering mendukakan hati Allah. Kita belum sungguh-sungguh berniat untuk menyenangkan hati Allah. Sering kali yang menjadi pertimbangan utama kita adalah kesenangan dan kepuasan hati kita sendiri. Meskipun kita selalu menyanyikan lagu yang bernuansa keinginan menyenangkan hati Tuhan, tetapi kita sebenarnya abai dengan perasaan Tuhan dalam keseharian. Mengapa hal ini terjadi? Salah satu jawabannya adalah kita tidak benar-benar mengalami Tuhan. Kita hanya mengenal Tuhan secara teoritis semata. Kita tahu bahwa ada Tuhan yang lahir sebagai manusia di Betlehem. Kelahirannya di dunia hendak menghapuskan dosa seluruh umat manusia, dan berbagai pengetahuan teoritis dan doktrinal lain mengenai Tuhan. Kita memahami Tuhan secara teoritis, tetapi tidak mengalami-Nya secara nyata. Bila demikian, wajar saja apabila kita dapat mengatakan ingin menyenangkan Tuhan tetapi tidak sungguh-sungguh menghidupinya dalam keseharian hidup kita. Tuhan hanya menjadi konsumsi kognitif atau objek pemikiran yang diteliti dengan nalar. Banyak orang Kristen dan teolog yang menjadikan Tuhan sekadar objek penelitian. Mereka merasa sudah mengenal Allah padahal sebenarnya mereka hanya mengerti dalam pikiran. 
    Sejatinya, orang Kristen tidak boleh menjadikan Tuhan hanya sebagai objek penelitian dalam nalar saja. Bukan berarti percakapan, teori, dan penelitian yang diadakan oleh para teolog dan sekolah tinggi adalah suatu hal yang perlu dihindari. Kajian teoritis tentang Tuhan merupakan suatu hal yang baik dan sangat diperlukan pada tempatnya. Akan tetapi, hendaknya kita tidak merasa puas apabila telah mempelajari hal-hal tersebut secara teoritis. Tuhan lebih dari tulisan dalam lembaran-lembaran kertas, dan Ia membuka diri-Nya untuk dialami oleh setiap individu. Jangan menjadikan Tuhan sebagai komoditas untuk mengangkat harga diri, bahkan untuk mencari uang, subscribers, dan akhirnya hanya untuk prestise atau kebanggaan diri. Allah harus menjadi sosok yang kita alami secara konkret.
    Kita harus mengalami Allah, sebagaimana yang dialami oleh murid-murid Tuhan setelah Tuhan naik ke surga. Mereka mengalami Allah sampai tahap tidak takut kehilangan apa pun. Mereka tidak gentar harus teraniaya, kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa mereka. Pada saat-saat dimana mereka teraniaya, seakan-akan Tuhan tidak hadir dan menyertai, tetapi mereka tetap percaya Allah dan bertahan dalam pengharapannya. Sekarang kita menghadapi pengaruh dunia yang begitu fasik, dan tanpa sadar sering kita tergiring olehnya. Tetapi sekarang kita bertekad untuk tidak mau terbawa oleh dunia. Kunci untuk tetap konsisten mengikut Tuhan adalah mengalami-Nya secara nyata setiap hari. Mengalami Tuhan bukan saja pada waktu kita berdoa, melainkan pada waktu kita ada di dalam perjalanan hidup setiap hari. Misalnya, ketika kita harus memilih sesuatu, mempertimbangkan keputusan, atau berada di situasi yang tidak nyaman. Tuhan harus hadir pada setiap kawasan hidup kita setiap hari untuk menjadi pemimpin atas hidup kita. Jadikan keputusan Tuhan menjadi keputusan kita; pertimbangan Tuhan sebagai pertimbangan kita; perasaan Tuha...
    0 min
  • Penyerahan Diri yang Benar
    Ada satu rahasia kehidupan yang harus kita pahami. Kebenaran tersebut adalah keberanian kita menyongsong keadaan hari esok yang tidak menentu yang mana hal ini sangat dipengaruhi dengan penyerahan hidup kita kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengatakan kepada seseorang untuk kuat dan tabah, kalau orang tersebut tidak memiliki penyerahan yang benar kepada Tuhan. Ia tentu akan merasakan ketakutan dan khawatir menghadapi hari esok. Kalaupun memiliki semacam keberanian, biasanya palsu. Maksudnya, ketika belum menghadapi pergumulan, persoalan, bahaya ancaman di depan mata, seseorang dapat berkata dengan mudah, “Aku percaya. Aku tidak takut.” Tetapi ketika berada di dalam situasi bahaya dan mengancam hidupnya, baru dia tahu bahwa keyakinan dirinya tidak takut akan bahaya dan ancaman tidak cukup menopang hidupnya. Hal ini disebabkan perasaan kita bisa sangat situasional. 
    Kita bisa berkata “aku tidak takut,” tetapi ketika kita ada dalam situasi dimana kita menghadapi ancaman bahaya yang di depan mata, baru kita mengerti bahwa keyakinan atau kepercayaan tidak takut kita ternyata masih kurang. Kesiapan seseorang menghadapi hari esok sangat ditentukan oleh tingkat penyerahan dirinya kepada Tuhan. Kebenaran ini paralel dengan keadaan ketika seseorang ada di hadapan pengadilan Tuhan nanti. Orang bisa berkata, “Aku percaya Tuhan selamatkan aku; aku percaya nanti masuk surga; aku percaya nanti Tuhan menjemput saya di ujung maut.” Tetapi ketika seseorang ada di ujung maut, apalagi di hadapan pengadilan Tuhan, kepercayaan atau keyakinan itu tidak cukup menopang dirinya, kecuali ia memiliki penyerahan yang benar kepada Tuhan. Oleh sebab itu, seseorang harus membiasakan diri merasakan apa yang diyakini, bukan sekadar yakin saja di dalam pikiran; yang dirasakan atau dialami adalah Tuhan. Tuhan harus dialami bukan hanya diyakini. Orang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan pasti memiliki kualitas keberanian yang tinggi.
    Bicara soal penyerahan diri yang benar, kita harus memahaminya dengan tepat sesuai kebenaran yang ada di Alkitab. Penyerahan ini bukan hanya kesediaan kita menyerahkan persoalan hidup kita kepada Tuhan dan memercayai pertolongan-Nya. Penyerahan diri sering kali dipahami sebagai kesediaan menyerahkan segala persoalan hidup dan segala keadaan yang bisa dialami nanti ke depan. Di situ kita memercayai Tuhan akan menyertai dan menolong. Penyerahan ini bukanlah penyerahan yang benar dan berkualitas. Sebab untuk memiliki penyerahan hidup semacam ini, tidak diperlukan menjadi orang Kristen. Setiap orang yang oportunis dan hendak memanfaatkan Tuhannya, juga melakukan hal demikian.
    Penyerahan yang benar adalah ketika kita memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dalam hal ini, orang percaya tidak memilih dunia sama sekali. Dunia dengan segala kesenangannya dipandang sebagai suatu hal yang akan musnah (1Yoh. 2:17). Meskipun ia tidak memusuhi dunia—dalam arti menjauhi orang-orang dan hidup dalam lingkaran isolasi—namun ia sungguh bertekad tidak mengikuti jejak hidup orang-orang dunia pada umumnya. Jejak hidup orang dunia pada umumnya adalah menemukan kebahagiaan dari harta, pasangan, kedudukan, gelar akademik, fasilitas mewah, dan berbagai kesenangan yang memikat. Ketika seseorang menemukan kebahagiaan dari hal-hal tersebut, ia melangkahkan kakinya di jejak hidup yang sama dengan dunia. Sebaliknya, orang yang memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya akan menyerahkan hidupnya untuk menuruti kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ia tidak akan sibuk dengan perkara duniawi yang tidak mendewasakan atau menopang rencana Tuhan. Pikirannya semata-mata ia arahkan untuk perkara surgawi.
    Jejak hidup seperti ini sudah dipraktikkan oleh Abraham, bapa orang beriman. Dalam kemapanan hidupnya di Ur-Kasdim, Abraham memilih untuk mengikuti jejak Allah yang dihormatinya. Kalau mau jujur, justru kehendak Allah yang diberikan kepada Abraham sama sekali tidak memberi jaminan masa depannya di bumi. Ketika Abraham keluar dari Ur-Kasdim,
    0 min
  • Menyerap Hidup-Nya
    Jika kita menyadari dan menghayati ada Allah yang menciptakan langit dan bumi, lalu apa yang berhak kita klaim sebagai milik kita? Semestinya, kita tidak berhak memiliki apa pun. Jika memiliki kesempatan untuk hidup, ini merupakan kesempatan yang tidak terkira. Tetapi perlu dipermasalahkan, bagaimana sikap hidup kita? Apakah kita masih merasa memiliki sesuatu di hadapan Tuhan? Banyak orang merasa bahwa dirinya memiliki hak di hadapan Tuhan. Biasanya orang seperti ini memberi batasan antara yang “milik Tuhan” dan “miliknya.” Apa yang menjadi milik Tuhan, biasa diberikan kepada gereja sebagai persembahan. Sedangkan apa yang menjadi miliknya, digunakan sesuai keinginannya sendiri. Persepuluhan yang diajarkan di banyak gereja sering menjebak orang percaya pada bagian milik Tuhan dan bagian miliknya. Dan ini membangun kesalahan yang bisa fatal. Mestinya segenap hidup kita adalah milik Tuhan, sehingga tidak ada pembagian milik (milik Tuhan dan milik pribadi). 
    Sesungguhnya sebagai orang percaya, kita telah ditebus sepenuhnya oleh Tuhan Yesus. Kita tidak berhak atas sejengkalpun hidup kita. Dalam 1 Korintus 6:19-20 dikatakan, “bahwa kamu bukan milik kamu sendiri, karena kamu telah ditebus, dibeli dengan harga yang lunas dibayar.” Jelas sekali bahwa “kamu bukan milik kamu sendiri,” jadi setiap orang yang telah ditebus Tuhan, tidak berhak memiliki dirinya sendiri. Baik itu keluarga, harta, fasilitas, kehormatan, kesehatan, atau apa pun itu, semuanya adalah milik Tuhan yang harus dikelola demi kepentingan-Nya. Seharusnya, tidak ada yang disebut sebagai “milikku” dan “milik Tuhan.” Semuanya harus disebut sebagai “milik Tuhan” dan berani kita persembahkan tanpa batas. 
    Dalam 2 Korintus 5:14 dikatakan, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Dari ayat ini, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kematian Tuhan Yesus membawa orang percaya kepada satu kawasan baru. Kawasan tersebut adalah kawasan hidup bagi Tuhan. Hidup bagi Tuhan tidak boleh disederhanakan dengan menjadi pendeta atau pelayan gereja sepenuh waktu (full-timer). Hidup bagi Tuhan juga tidak dapat dipandang secara dangkal sebagai hidup yang dipenuhi dengan kegiatan rohani seperti berdoa, datang ke gereja, dan membaca Alkitab semata. Hidup bagi Tuhan merupakan kawasan yang luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan orang percaya. Dalam setiap perkataan, perbuatan, pertimbangan, keputusan, dan tindakan, seluruhnya dipersembahkan untuk kepentingan Tuhan. Untuk masuk dalam kawasan ini, setiap orang harus menyerap hidup Yesus yang tertuang dalam Injil.
    Menyerap kehidupan Yesus berarti mengikuti jejak hidup Tuhan yang mengabdi tanpa batas kepada Allah. Tuhan Yesus tidak membatasi antara milik-Nya dan milik Bapa. Apa yang ada padanya semuanya adalah milik Bapa di surga. Dalam Filipi 2:6, dinyatakan bahwa Tuhan Yesus sama sekali tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia sampai mati di kayu salib. Dari kehidupan Tuhan Yesus, kita melihat keterlepasan Tuhan dari segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Ia terlebih dahulu memberi teladan, bagaimana memberi hidup tanpa batas kepada Allah. Ketika manusia hari ini hidup terbatas dengan Allah, Yesus memberi contoh hidup tanpa batas. Ia mengurbankan kemuliaan, bahkan nyawa-Nya, demi kepentingan Bapa dalam menyelamatkan umat manusia.
    Jadi, berbicara mengenai memberi hidup kepada Tuhan, bukan berapa persen yang kita harus berikan untuk pekerjaan Tuhan, sebab segenap hidup kita ini pekerjaan Tuhan. Tubuh kita sendiri adalah milik Tuhan untuk menggenapi pekerjaan-Nya. Bisnis, karier, pendidikan, tabungan, dan deposito kita adalah milik Tuhan semata. Berbicara ini bukan berarti seluruhnya kita serahkan ke gereja.
    0 min
  • Berpusat pada Kehidupan Yesus
    Alkitab menulis banyak kisah, dan tidak ada satu pun dari kisah Alkitab yang tidak mengandung kebenaran. Semua yang ditulis di dalam Alkitab pasti memuat kebenaran. Hanya, tentu saja semua kebenaran yang ditulis dalam Alkitab harus berpusat pada Perjanjian Baru dan akhirnya berpusat pada pribadi Yesus. Kebenaran yang berpusat pada pribadi Yesus adalah kebenaran berkualitas tinggi, sesuai yang dikehendaki oleh Allah Bapa bagi umat Perjanjian Baru. Hal ini tidak berarti kebenaran dalam Perjanjian Lama tidak memiliki arti sama sekali. Kisah dalam Perjanjian Lama—walaupun tidak dipusatkan pada Perjanjian Baru, khususnya pada pribadi Yesus—tetap memiliki nilai atau kualitas. Tetapi kualitasnya berbeda jika dibanding dengan kebenaran yang dipusatkan pada pribadi Yesus dalam Perjanjian Baru. 
    Penyataan pribadi Yesus dalam Perjanjian Baru merupakan penggenapan dari apa yang diajarkan, dirindukan, dan diharapkan oleh para nabi (Mat. 5:17; 13:17). Ketika membaca Perjanjian Lama, hendaknya kita menggunakan kacamata Perjanjian Baru untuk menemukan penggenapan dari apa yang hendak Allah ajarkan kepada bangsa Israel. Jadi kita tidak boleh mengambil pelajaran secara harafiah dari Perjanjian Lama lalu mengenakannya dalam kehidupan umat Perjanjian Baru. Harus selalu diingat bahwa pusat pusaran kebenaran adalah apa yang diajarkan oleh Yesus dan yang dilakukan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar standar kehidupan yang harus dikenakan orang percaya adalah segala hal yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus. 
    Seperti misalnya jika kita meninjau sejarah hidup Abraham, kita harus belajar dari imannya. Iman itu artinya penurutan kepada kehendak Allah. Kita bisa belajar dari jiwa kemusafiran Abraham yang cocok dengan kehidupan kita sebagai umat Perjanjian Baru. Melihat kehidupan Daniel, kita melihat integritasnya yang taat tak bersyarat. Kehidupan Sadrakh, Mesakh, Abednego dalam kisah ketika mereka dibuang ke dapur api yang panasnya dilipatgandakan, menyatakan iman yang kokoh terhadap Allah Israel meskipun dalam ancaman maut. Ketaatan tidak bersyarat seperti yang ditunjukkan Abraham, Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego jika dilihat dengan kacamatan Perjanjian Baru, maka iman seperti itu persis seperti yang dimiliki Tuhan Yesus. Ia taat walau sampai mati di kayu salib.
    Jadi, semua kisah dalam Alkitab harus berpusat pada Yesus. Nilai dari kisah dalam Alkitab harus dikaitkan dengan kehidupan umat Perjanjian Baru. Kalau kita memperhatikan banyak khotbah, sering kali kisah dalam Perjanjian Lama memiliki frame atau bingkai masing-masing, sehingga tidak pas dengan kehidupan orang percaya karena memiliki agenda sendiri di dalam kisah-kisah tersebut. Lalu, agenda tersebut tidak berpusat pada Perjanjian Baru, khususnya pada pribadi Yesus. Memang mengandung pelajaran yang bisa bermanfaat, tetapi tidak cocok sepenuhnya untuk umat Perjanjian Baru. Oleh karenanya, kita harus berhati-hati dalam menerapkan ayat-ayat Perjanjian Lama dalam kehidupan masa kini.
    Jika jemaat tidak memahami penerapan yang benar dari Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama, dia merasa bahwa itu Firman Tuhan yang harus dilakukan secara harfiah. Akan tetapi, sebenarnya tindakan tersebut tidak cocok sepenuhnya untuk umat Perjanjian Baru. Kalau kita yang selama ini belajar Firman Tuhan dengan menekankan kekudusan/kesucian, hidup bertanggung jawab, langit baru bumi baru; maka dengan tiga ukuran ini sebenarnya kita sudah cukup memiliki pertimbangan untuk bisa membedakan roh. Membedakan roh artinya menangkap spirit atau gairah apa di balik khotbah, nasihat, pemberitaan Firman itu. Di Alkitab, kita mengerti ada “yesus lain,” ada “injil lain,” ada “roh lain.” Jadi, spirit apa yang hendak dikemukakan di balik khotbah, nasihat, atau pemberitaan Firman tersebut? Seseorang yang belajar kebenaran dengan sungguh, dapat mengendus atau merasakan relevansi Firman tersebut dalam kehidupannya. Apabila Firman tersebut tidak berimplikasi pada hidup orang percaya sehingga semakin seperti Kristus,...
    0 min
  • Transaksional
    Salah satu ciri orang beragama, adanya pola transaksional antara umat dengan ilahnya. Pola “transaksional” di sini maksudnya ada pertukaran antara umat dan ilah yang disembah untuk memperoleh sesuatu. Dalam kepercayaan tradisional, biasanya ketika umat hendak datang kepada ilah untuk memohon berkat atau perlindungan, umat membawa sesajian atau persembahan tertentu. Sesajian atau persembahan tersebut menjadi syarat pertukaran umat kepada ilahnya untuk memperoleh sesuatu. Tanpa sesajian atau persembahan, kedatangan umat kepada ilahnya dipandang tidak memenuhi persyaratan. Sedangkan dalam agama pada umumnya, bentuk memberi sesajian ini, umumnya telah ditinggalkan. Namun, pola transaksional dimana umat membawa sesuatu sebagai syarat pertukaran dengan allah untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh umat, masih terjadi. 
    Dalam konteks agama Kristen, terutama di kalangan Pentakostal-Kharismatik misalnya, jemaat berpikir bahwa dengan menaikkan pujian dan penyembahan, Tuhan disenangkan. Semakin khusuk pujian dan penyembahan yang dilantunkan, jemaat merasa Tuhan akan semakin mendengar doa dan permohonan mereka. Sebenarnya ini adalah pola transaksional yang menjadi ciri khas orang beragama. Bagi orang Kristen yang belum dewasa hal ini bisa ditolerir, sebab mereka masih dalam pola berpikir “duniawinya.” Tetapi hal ini tidak bisa ditolerir kalau terjadi atas orang Kristen yang mestinya sudah dewasa, ditinjau dari waktu menjadi orang Kristen.
    Dalam kisah Ayub, kita menemukan ia masih mempertahankan keluarganya di hadapan Allah. Ia mempersembahkan korban bagi kesalahan anaknya agar tidak mendapat hukuman dari Allah (Ay. 1:5). Harus diakui, bahwa hal ini menunjukkan bagaimana Ayub bertransaksi dengan Allah agar melindungi keluarganya. Jika diamati pula, Allah memang melindungi Ayub dan keluarganya. Hal ini terlihat dalam dialog Iblis ketika mendakwa Ayub dengan berkata di hadapan Allah, “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu” (Ay. 1:9-10). Tentu pola transaksional yang tercermin dalam kehidupan Ayub tidak perlu dipermasalahkan, sebab ia adalah umat Perjanjian Lama dengan standar hidup yang berbeda dengan umat Perjanjian Baru. Allah memaklumi adanya unsur transaksional saat berurusan dengan-Nya.
    Namun tentunya, Allah tidak tinggal diam dan membiarkan Ayub hidup dalam pola demikian. Allah hendak meningkatkan kualitas Ayub. Dalam Ayub 23:10 dikatakan, “karena Ia tahu jalan hidupku. Seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Kita dapat menangkap kesan bahwa memang Ayub sudah memiliki kualitas yang baik saat berhubungan dengan Allah, namun belum dalam kualitas yang tinggi. Ayub mengatakan, “Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?” (Ay. 31:1). Ini menunjukkan bagaimana Ayub menjaga kesucian moralnya. Bahkan, ia mengatakan di dalam pernyataannya, “apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tapi tidak mau menerima yang buruk?” Alkitab sendiri menyaksikan bahwa Ayub tidak berdosa dalam segala tanggapannya terhadap kesulitan yang Allah datangkan (Ay. 1:22). Ayub sudah memiliki kualitas yang cukup baik untuk orang sezamannya, namun masih ada pola transaksional yang ingin dimurnikan oleh Tuhan. Pola transaksional pada masa itu semakin terlihat ketika sahabat-sahabat Ayub mempersalahkan dia terkait dengan peristiwa yang menimpanya. Mereka berkata bahwa Allah tidak mungkin berhenti memberkatinya kalau memang dia tidak bersalah. Perhatikan di sini, ada cara berpikir transaksional dimana jika Allah mengizinkan seseorang mengalami peristiwa buruk, itu berarti ada kesalahan. Salah berarti laknat; taat berarti berkat. Ini pemikiran orang pada masa Ayub. Ayub sendiri dalam keputusasaannya menunjukkan pola transaksional ini dengan mengutuki hari kelahirannya (Ay.
    0 min
  • Berkhianat
    Menjadi orang percaya berarti memberi diri kepada objek yang dipercayai. Oleh karenanya, ketika kita mengatakan “Aku percaya Tuhan Yesus,” berarti kita bukan hanya percaya status-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan, melainkan menyerahkan diri kepada-Nya. Implikasinya dalam hidup adalah kita hidup seperti Dia hidup. Percaya kepada Yesus berarti bersedia hidup sama seperti Dia hidup. Percaya di sini berarti kita bersedia mati. Tanpa kematian diri, seseorang tidak dapat memiliki percaya yang benar. Abraham meninggalkan Urkasdim, hidupnya hanya mengikuti petunjuk Tuhan tanpa mengetahui tempat yang dituju. Abraham tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Itulah sebabnya kalau seseorang mau mengikut Yesus, ia harus melepaskan segala sesuatu dan rela kehilangan nyawa demi hidup hanya untuk kepentingan Bapa.
    Ketika ada orang yang berkata, “Tuhan, aku mau ikut Engkau ke mana pun Engkau pergi,” Tuhan berkata, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” (Mat. 8:19-20). Mengikut Tuhan tidak cukup hanya menjadi orang beragama Kristen. Banyak orang beragama Kristen yang tidak mengikut Yesus. Termasuk majelis, aktivis, juga bahkan tidak mungkin pendeta yang belum mengikut Yesus secara benar. Mengikut Yesus secara benar, berarti kita mengikut jejak hidup-Nya sampai mendarah daging. Kita tidak bisa dimiliki dan memiliki Tuhan Yesus tanpa memiliki karakter-Nya. Inilah harga yang harus dibayar oleh setiap yang menyandang gelar Kristen dalam hidupnya. Jika tidak, maka berarti Kristen palsu.
    Kita harus menjadikan hal ini sebagai agenda utama dalam hidup ini; bagaimana kita mengikut Dia. Itu berarti tidak ada topangan lain yang kita harapkan selain Tuhan. Sebagaimana tidak ada yang menopang diri Yesus ketika Ia mengenakan tubuh daging, sehingga prinsip hidup-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Orang mengaku anak Allah harus bertumbuh seperti Kristus, sehingga kodratnya jadi kodrat ilahi. Sebelum kesempatan hidup ini berlalu, kita sudah harus bertumbuh seperti Kristus. Harus diingat bahwa kesempatan hidup hanya satu kali.
    Tantangan terbesar untuk mencapai hal ini adalah manusia lama kita yang pada prinsipnya telah lama bersahabat dengan dunia. Sejak kecil, kita menyerap dan meniru cara hidup orangtua serta lingkungan. Tuhan berkata, “Kalau kamu tidak melepaskan segala milikmu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ini merupakan panggilan untuk melepaskan semua cara hidup lama yang kita warisi. Cara hidup tersebut adalah cara hidup yang berorientasi pada kekayaan dunia agar merasa tenang, terlindungi, dan bahagia. Padahal, orang yang mencari kekayaan dunia agar merasa tenang dan terlindungi serta membangun kebahagiaan, sejatinya ia menolak rencana Allah. Selama kita masih bisa dibahagiakan oleh dunia ini, kita tidak bisa setia kepada Tuhan. Dengan kata lain, kita berkhianat kepada Tuhan.
    Pengkhianatan kepada Tuhan juga dapat terjadi kepada aktivis dan rohaniwan seperti pendeta. Ketika masalah pertumbuhan gereja secara kuantitas dan organisasinya menyita perhatian lebih dari pada pertumbuhan kodrat ilahi, sebenarnya mereka sedang berkhianat kepada Tuhan. Gereja yang Tuhan dirikan tidak dimaksudkan untuk mengumpulkan massa yang besar untuk kebesaran nama pendeta dan para aktivisnya. Sejatinya, tidak boleh ada satu pun bendera yang berkibar kecuali bendera Tuhan Yesus. Ketika pelayanan gereja diagungkan sedemikian rupa dengan tujuan terselubung di dalamnya, sebenarnya para hamba Tuhan di dalamnya sedang tidak melayani Tuhan. 
    Firman Tuhan dalam 2 Petrus 3:10 berkata, “tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” Suatu hari, bumi ini akan sampai pada akhirnya. Kekayaan, kehormatan, gereja yang besar, pangkat, gelar akademik,
    0 min
  • Pengakuan yang Palsu
    Mazmur 73 memuat kebenaran yang hebat dimana kita dapat menemukan rahasia bagaimana seseorang bisa menghayati bahwa kebutuhan sebenarnya dalam hidup ini adalah Tuhan sendiri. Seharusnya kesadaran dan penghayatan ini sudah kita miliki sejak kita di bumi. Kalau seseorang baru menyatakan bahwa Tuhan itu kebutuhannya ketika ia sudah berada di hadapan Allah di kekekalan nanti, itu pasti pengakuan yang palsu. Seharusnya, mulai sekarang di tengah berbagai tawaran dari keindahan dunia, di tengah dorongan nafsu dan keinginan-keinginan yang ada di dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, kita memilih percaya kepada Tuhan, melakukan kehendak Allah dan memenuhi rencana-Nya. Justru sekarang kita harus mulai menyadari dan menghayati bahwa hanya Allah kebutuhan kita. Kalau Allah menjadi kebutuhan kita berarti kita hidup hanya untuk menyukakan hati-Nya. Dunia menjadi tidak indah di mat akita, fokus kita hanya Kerajaan-Nya. Orang yang masih tertarik keindahan dunia adalah orang yang belum membutuhkan Allah secara patut.
    Persoalannya, bagaimana kita menyadari dan menghayati bahwa Allah adalah satu-satunya kebutuhan kita? Mazmur 73 dapat menjawab pertanyaan ini. Dalam Mazmur 73, Pemazmur melihat realita bahwa menjadi orang benar dan tulus itu tidak mudah. Menjadi orang benar dan tulus itu bukan berarti kita lalu diberkati secara materi, berlimpah secara harta, terhormat, dan ditinggikan. Sebaliknya, justru orang fasik yang terlihat sehat, gemuk, dan banyak orang seperti air bah mengalir mengikut dia. Namun, dirinya yang takut akan Allah, yang menjaga kesucian, yang tulus, malah kena tulah atau hukum; atau pukulan atau hajaran. Dari pergumulan itulah kemudian Pemazmur menulis Mazmur 73, dan mengerti bahwa yang penting adalah bagaimana keadaannya nanti di kekekalan. Dari pergumulan hidup tersebut, Pemazmur dapat menemukan lensa kehidupan yang benar. Dikatakan di dalam ayat 17, “… sampai aku masuk dalam tempat kudus Allah dan memperhatikan kesudahan mereka.” Ia mendapatkan lensa yang baru di dalam memandang hidup ini. Jadi rahasinay adalah mengubah lensa hidup kita, dari lensa kefanaan menjadi lensa kekekalan.
    Harus jujur kita akui, kadang-kadang ketika seseorang hidup di dalam kelimpahan, dalam penghormatan manusia, seseorang tidak bisa dididik oleh Tuhan karena mereka hidup di dalam kesenangan-kesenangan pribadi. Akan tetapi ketika seseorang berada dalam keadaan terdesak, terpojok, tersesak, di situlah ia bisa membawa diri kepada Tuhan dan dapat diajari. Di sini kita menemukan satu hal yang penting, bahwa mengenal Allah harus melalui pengalaman hidup, bukan karena kita sekadar membaca buku dan mendengar khotbah orang. Kita pribadi harus mengalami pergumulan hidup yang di dalamnya Tuhan akan mengajar kita, bagaimana memiliki lensa seperti lensa yang dimiliki oleh Tuhan sendiri, yakni lensa kekekalan. Jika sudah demikian, barulah kita bisa berkata seperti yang dikatakan Pemazmur di ayat 25, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.”
    Tuhan memanggil kita berjuang untuk tidak fokus dengan dunia. Rasul Paulus katakan dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kita benar-benar ingin memandang hidup dengan lensa kekekalan, supaya kita mempersiapkan diri layak di hadapan Allah. Paling tidak, hari ini kita memiliki lembar hidup yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan. Tetapi kalau besok kita memiliki hari lagi, berarti kita persembahkan dua lembar, dan seterusnya. Jikalau kita masih punya hari-hari yang panjang, semua lembar hidup kita adalah lembar-lembar keindahan di mata Allah. Oleh karena itu, berjuanglah untuk membangun pengakuan yang benar di hadapan Allah sejak hari ini. 
    Mulailah dari hal sederhana seperti menjaga perkataan, memegang janji,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…