Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjadi Anak Penghiburan
    Seperti yang kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah yang memiliki perasaan. Dan tentu saja Allah memiliki kesukaan yang bisa Allah nikmati. Coba renungkan hal ini dengan saksama, kira-kira apa yang menjadi kesukaan Allah? Apa yang dapat menyenangkan hati-Nya? Mungkin kita akan menjawab, “pujian penyembahan kepada-Nya.” Amin, benar. Tetapi apalah artinya pujian penyembahan yang indah dan bagus dari bibir, kata-kata dan syair yang bagus diiringi musik, kalau kehidupan kita setiap hari tidak berkenan di hadapan Allah atau tidak menyukakan hati-Nya. Apa artinya? Mari kita berkomitmen menjadi orang-orang yang menyukakan hati Allah, yang menghibur hati Allah.
    Di dalam kitab Kejadian 6:1-2-3, dikatakan bahwa manusia telah menjadi bejat, rusak, dan firman Tuhan mengatakan hal itu memilukan hati-Nya. Karena kejahatan memuncak bertambah-tambah, hal itu benar-benar mendukakan hati Allah. Tetapi ada seorang yang bernama Nuh yang menjauhi kejahatan, dan tentu memperoleh kasih karunia dari Allah. Nama Nuh artinya anak penghiburan; anak yang menghibur. Ternyata Nuh bukan hanya menjadi anak penghiburan bagi orangtua dan masyarakat sekitarnya, lebih dari itu, justru Nuh menjadi anak penghiburan bagi Allah Bapa.
    Namun setelah Nuh mendapat tugas dari Allah untuk membuat bahtera, maka Nuh tidak lagi menjadi penghiburan bagi orang di sekitarnya yang menolak untuk masuk bahtera. Karena Nuh menjadi semacam “penyakit” di masyarakat. Menurut mereka, Nuh memiliki ide dan pikiran yang konyol yang menyatakan akan ada air bah yang melanda dunia. Dan itu membuat mereka menjadi terganggu. Karena di saat itu, mereka sedang menikmati kehidupan secara langsam, sesuai dengan irama hidup pada waktu itu. Nuh berlaku “aneh” sendiri, dia dan keluarganya membuat bahtera dan menyerukan adanya banjir yang akan memenuhi bumi—paling tidak, jagat waktu itu adalah area di sekitar mereka hidup—yang akan menenggelamkan semua makhluk. Dan memang menurut penyelidikan telah pernah terjadi banjir yang meliputi dunia.
    Apa yang disampaikan Nuh pasti menjadi ancaman bagi masyarakat di zaman itu. Mengganggu ketenangan dan ketenteraman mereka. Dan apa yang dilakukan Nuh itu juga berseberangan, bertolak belakang dengan aktivitas hidup masyarakat yang berlangsung pada waktu itu. Inilah Nuh, manusia yang menjadi penghiburan bagi Allah, kesukaan hati Allah, tapi sebaliknya, menjadi “penyakit” dan ancaman bagi masyarakat. Dunia kita hari ini seperti zaman Nuh, yang dikatakan di Lukas 17, Tuhan Yesus yang mengatakan, “orang sibuk makan dan minum, menanam dan membangun, menjual dan membeli, kawin dan mengawinkan.”
    Mari kita menjadi anak-anak penghiburan yang menjadi kesukaan hati Allah. Ibaratnya, seperti “mainan” yang menyukakan hati Bapa. Bapa menyenangi langkah-langkah hidup kita. Renungkan, betapa indahnya kalau kita menjadi seseorang yang diperhatikan oleh Allah, karena kita selalu membuat senyum-Nya. Di tengah-tengah kepedihan hati Allah melihat dunia yang jahat, dunia yang rusak ini, Allah Bapa bisa tersenyum melihat kita; kita bisa menjadi penghiburan bagi Allah Bapa kita, bagi Tuhan kita, yang hatinya pedih melihat kejahatan yang bertambah-tambah di dunia ini. Tentu saja hal ini kita lakukan bukan dengan terpaksa, tetapi kita lakukan dengan rela, dengan sukacita, karena inilah kehormatan kita. Betapa luar biasa kalau kita menjadi manusia yang menjadi kesukaan hati Allah. Dan tentu saja hampir-hampir tidak ditemukan makhluk manusia seperti itu. Tetapi kita mau memilih menjadi makhluk manusia yang menjadi kesukaan hati Allah.
    Memang pada awal-awal, kita belajar menjadi anak kesukaan Allah itu berat sekali karena bertentangan dengan keinginan daging kita dan keinginan jiwa kita yang sudah cemar oleh dosa. Tetapi kalau kita terus berjuang, akan menjadi irama yang tetap di dalam diri kita, menjadi kesukaan kita. Kalau dulu kita menikmati dosa dan bagi kita dosa itu kesukaan, karena kita nikmati dalam daging dan jiwa kita yang keruh,
    0 min
  • Percaya dengan Tenang
    Kita tidak bisa memiliki hubungan perjumpaan dengan Allah pada waktu kita berdoa kalau di setiap hari kita tidak dalam persekutuan dengan Bapa. Setiap hari kita harus berjuang untuk benar-benar hidup bersih. Dan itu penting sekali, bahkan itu satu-satunya yang kita perlukan: hidup di dalam kesucian Allah. Dan jangan suasana hati kita ditentukan oleh dunia ini. Makan itu enak, jalan-jalan dengan keluarga itu enak, menikmati pemandangan alam itu enak. Benar, tapi kita tidak terpengaruh dunia ini. Punya fasilitas untuk bisa dinikmati guna melaksanakan tugas-tugas hidup kita itu enak, tapi kita tidak terikat dengannya. Namun untuk memiliki kualitas hati seperti ini, tidak bisa mendadak. Kita tidak bisa memiliki hubungan yang harmoni waktu kita berdoa kalau di setiap hari kita tidak hidup benar. Nanti kita bisa mengalami dimana ketika hidup kita bercacat, itu terasa sekali waktu kita sedang ada di hadapan Tuhan, seperti saat ini. Itu terasa sekali.
     
    Kalau dulu mungkin kita tidak terlalu merasakan perbedaan antara ketika kita hidup di dalam kekudusan setiap hari, di dalam suasana menikmati sukacita kebahagiaan di dalam Tuhan, atau pada waktu hari-hari kita tidak hidup di dalam kebenaran dan kesucian. Sejatinya, itu terasa pada waktu kita berdoa. Tetapi terkait dengan hal ini, kita harus mengerti bahwa Tuhan di dalam integritas-Nya yang sempurna, tidak bisa kita atur suka-suka kita. Kita yang harus benar-benar menghormati Tuhan. Ketika kita belum dewasa, suasana doa kita itu sangat ditentukan oleh suasana hati kita. Jadi, sangat situasional. Kalau kita sedang ada masalah, kita terasa begitu dekat dengan Tuhan. Hati kita mudah pecah, hati kita mudah terangkat. Tetapi pada waktu kita tidak memiliki masalah, rasanya doa kita hambar. Pada tahun-tahun awal kita berdoa, kita akan mengalami seakan-akan Tuhan itu tidak ada. Di sini kita harus belajar menghormati Tuhan.
     
    Kita harus percaya dengan tenang. Kita percaya Dia ada, Dia hidup (Ibr. 11:6). Jangan bergantung pada perasaan, jangan bergantung pada emosi. Tetapi bergantunglah pada kepercayaan bahwa Allah itu setia. Coba kita renungkan, bagaimana orang-orang Kristen mula-mula teraniaya begitu hebat, dan di dalam penganiayaan yang begitu hebat tersebut, Tuhan seakan-akan tidak ada, seakan-akan Tuhan itu diam. Bayangkan! Seakan-akan Tuhan tidak ada, tetapi mereka tetap percaya! Bagaimana mereka dianiaya oleh prajurit-prajurit Kaisar Roma? Mereka benar-benar tidak berdaya, dan seakan-akan Allah diam. Tetapi mereka memercayai Allah itu ada dan hidup. Sama seperti Abraham yang dipanggil keluar dari Ur-Kasdim, yang tidak mengerti ke mana harus melangkah dan dia tidak kunjung punya anak. Sungguh suatu keadaan yang berat, tapi Abraham tetap percaya! Di sini kita dilatih untuk tetap setia dan percaya.
     
    Misalnya, kita berkomitmen untuk doa pagi. Di awal-awal komitmen, kita dengan semangat menepatinya. Namun lama-kelamaan mulai mengendor. Bahkan, kita tidak bisa merasakan bedanya antara hari yang dimulai dengan doa pagi dan yang tidak. Karena di dalam doa tersebut, rasanya kita tidak menemukan sosok Allah yang kepada-Nya kita memuji dan menyembah. Seharusnya, pada waktu kita berdoa, kita harus percaya Allah itu ada. Jangan bergantung kepada perasaan. Dan itu harus dilatih! Di kalangan orang Kharismatik, sering kali emosi lebih dikedepankan. Sebenarnya, hal itu malah bisa merusak. Sehingga lain waktu ketika ia berdoa tidak menggunakan emosi, ia merasa Tuhan tidak hadir dan juga tidak ada urapan.
     
    Jadi pada waktu kita berdoa dan seakan-akan Tuhan tidak ada atau ketika emosi kita tidak “terangkat,” jangan kita menjadi gusar. Kita harus melatih percaya kita bukan berdasarkan perasaan. Jangan merasa Tuhan hadir dan Tuhan mengurapi pada waktu emosi meledak oleh karena suatu masalah. Tentu tidak boleh begitu. Kita berlatih terus. Jadi, pada waktu kita berdoa, kita belajar untuk merasakan hadirat Tuhan.
    0 min
  • Berteologi dari Pengalaman Konkret
    Di dalam Alkitab, kita menemukan tokoh-tokoh iman yang menemukan Allah dari pengalaman hidup secara konkret. Bagaimana mereka berjumpa dengan Tuhan, berjalan dengan Tuhan, mengalami Tuhan. Jadi, mereka berteologi dari pengalaman hidup, dan hal itu membawa dampak nyata di dalam hidup mereka. Kebalikan dengan orang-orang sekarang yang belajar teologi dari buku, tulisan, ruang kuliah, mereka tidak menemukan Allah. Mereka hanya menemukan ilmu tentang Allah, tetapi tidak menemukan Allah secara pribadi. Kalau kita teliti, dalam seluruh tulisan yang termuat dalam Alkitab, tidak pernah Alkitab mencoba membuktikan bahwa Allah itu ada atau membujuk supaya pembaca Alkitab memercayai eksistensi Allah. Mengapa? Sebab penulis Alkitab yakin benar dan tahu dari pengalaman nyata yang mereka alami bahwa Allah itu ada. Bagi mereka, eksistensi Allah bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan sesuatu yang sudah menyatu dalam hidup mereka, sesuatu yang biasa.
    Dunia kita hari ini fasik. Kefasikan dunia makin memperkuat konsep atau keyakinan bahwa Allah tidak ada atau tidak perlu ada. Maka lahirlah kelompok “ateis praktis,” yaitu mereka yang sekalipun ada dalam lingkungan orang-orang yang berbicara mengenai Tuhan dan orang-orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada, namun kelakuannya menunjukkan bahwa mereka tidak percaya adanya Tuhan atau tidak memedulikan keberadaan Tuhan. Tanpa disadari, pengaruh dari dunia yang fasik telah mencemari kehidupan percaya orang Kristen. Mereka menyebarkan ajaran bahwa manusia bisa hidup tanpa Allah. Jadi, Allah tereliminir. Pengaruh seperti ini pasti ada dalam kehidupan banyak orang, termasuk kita. Dan yang menyedihkan hari ini, banyak orang tidak berusaha membuktikan Allah itu hidup, hadir di dalam dirinya.
    Kalau para teolog mencoba membuktikan mengenai keberadaan Allah dengan ilmu teologi, dengan percakapan kalimat (verbal), tetapi mereka tidak berusaha secara pribadi untuk membuktikan bahwa Allah itu ada, Allah itu hadir di dalam hidupnya. Oleh sebab itu, menjadi tugas kita bersama untuk berjuang membuktikan bahwa Allah itu ada. Orang yang menghayati kehadiran Allah itu pasti hidupnya bersih, suci, makin tidak bercacat tidak bercela, makin menjauhi percintaan dunia, tidak terikat materi atau tidak meterialistis. Ia juga pasti berani menghadapi segala situasi karena ia yakin dan tahu Allah itu hadir. Tentu ia pasti juga berusaha untuk mengabdi kepada Tuhan dengan segenap hidup tanpa batas. Dan akhirnya, pasti merindukan dunia yang akan datang.
    Jika tidak ada ciri-ciri seperti di atas, berarti seseorang gagal menghayati keberadaan Allah. Allah harus menjadi realitas yang lebih dari segala realitas. Artinya, kalau kita menemukan suatu benda atau kita memiliki teman, dampak dari benda atau teman itu bisa sementara. Tapi kalau seseorang bertemu dengan Allah, dampaknya pasti besar, radikal, dan abadi. Allah harus dialami sebagai Pribadi yang riil; realitas yang lebih dari realitas. Ironis, banyak orang Kristen yang tidak menghayati kehadiran Allah itu. Mengapa?
    Pertama, karena mereka menuntut Allah menyatakan diri secara fisik dengan tanda-tanda secara lahiriah sesuai dengan versi atau keinginan mereka. Sejatinya, Allah yang besar dan agung itu patut dipercayai walaupun tidak ada bukti-bukti keberadaan-Nya. Allah yang agung dan mulia layak dipercayai walaupun tidak ada tanda-tanda bukti kehadiran-Nya.
    Kedua, karena mereka menghendaki Allah menyertai Allah dengan cara yang mereka ingini. Ini mirip dengan yang pertama, tapi lebih spesifik dengan hal-hal yang terkait dengan kebutuhan yang ingin mereka peroleh secara ajaib; mukjizat yang mereka harapkan berlangsung secara luar biasa atau secara spektakuler.
    Ketiga, karena mereka tidak hidup dalam kebenaran Tuhan atau tidak hidup dalam kekudusan. Kalau orang tidak berusaha menjadi orang baik, tidak mungkin dia bisa mengalami Allah. Jangan bicara soal kesucian dulu, mari kita bicara dulu mengenai niat. Kalau orang memiliki niat yang benar,
    0 min
  • Kecerdasan Rohani
    Tuhan menghendaki kita memiliki kecerdasan seperti Allah, yaitu kecerdasan rohani. Kecerdasan rohani artinya kemampuan untuk kita bisa mengerti apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita di dalam segala hal, di mana pun dan kapan pun. Untuk mencapai kecerdasan rohani ini—dimana seseorang bisa mengerti kehendak Allah; apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna, atau memiliki sensitivitas kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Allah—seseorang harus melalui proses perjalanan waktu, proses pendewasaan. Dan ini tidak bisa digantikan dengan pendidikan budi pekerti atau pendidikan etika, walaupun pendidikan etika dan pendidikan budi pekerti dibutuhkan sementara waktu sebagai tutor. Jadi, 10 Perintah Allah itu menjadi tutor. Orang tidak akan bisa menjadi berkenan dan sempurna kalau belum menjadi baik.
    Kegagalan Adam dan Hawa membuat mereka tidak mencapai yang sempurna yang Allah rancang. Mereka hanya bisa menjadi baik. Dan dalam sejarah kehidupan manusia ditulis dalam kitab Kejadian, ada orang-orang yang benar-benar baik, contohnya: Set, Habel, Henokh. Tetapi mereka tidak mencapai kesempurnaan. Kalau Kain,, jelas jahat. Dan keturunannya juga jahat. Mereka bisa menjadi bejat atau rusak. Tetapi keturunan Set, bisa menjadi baik namun tidak bisa menjadi sempurna. Inilah yang harus dipahami oleh orang percaya ketika dipanggil menjadi umat pilihan. Maka, hidup kita harus diproyeksikan sepenuhnya untuk memiliki spiritual quotient standar Allah, dimana Tuhan Yesus Kristus menjadi modelnya.
    Jadi, kalau Alkitab mengatakan dalam Filipi 2:5-7, “hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” sebenarnya kalimat itu sama artinya dengan “milikilah spiritual quotient seperti yang dimiliki oleh Yesus.” Dalam segala hal yang dilakukan oleh Tuhan Yesus selalu tepat; tidak hamartia (tidak meleset). Selalu tepat. Kalau kita harus menjadi seperti Yesus, bukan berarti kita menyamai kesempurnaan-Nya. Bukan berarti kita bisa setingkat dengan Dia. Soal setingkat atau tidak setingkat, juga ditentukan oleh kadar pencobaan yang dialami, kadar pergumulan yang dijalani. Kadar pencobaan dan pergumulan yang dialami Tuhan kita, Yesus Kristus, itu luar biasa. Ibarat gelombang, tingginya 10meter. Kalau kita mengalami gelombang, mungkin hanya 2 meter. Tapi 2 meter itu harus bisa kita lalui. Kita harus bisa melewati gelombang yang tingginya 2 meter, sehingga kita bisa sampai seberang. Kalau Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, harus melewati 10 meter supaya Ia bisa mencapai seberang. Jadi, pencobaan atau pergumulan yang dialami oleh Yesus adalah pergumulan yang hebat dan berat (tentu lebih dari kita), dan Ia bisa melewatinya. Ia selalu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa, sehingga Ia mendapatkan sertifikat: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”
    Bagaimana dengan kita? Kita juga memiliki pergumulan sendiri. Setiap kita mempunyai pergumulan sendiri, yang masing-masing punya porsi yang berbeda. Tetapi, di dalam pergumulan yang dihadapi oleh masing-masing individu, kita harus bisa bertindak atau bereaksi atau merespons sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jadi, kita harus memiliki persekutuan dengan Allah supaya segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Tentu saja Allah menuntun kita, Allah membimbing kita dalam segala hal. Oleh sebab itu, tidak cukup orang itu mengetahui teologi dan memformatkannya di dalam pikiran secara kognitif. Tidak cukup orang belajar hukum “yang ini baik, yang itu tidak baik; yang ini jahat, itu tidak jahat; yang ini halal, yang itu haram.” Tidak cukup. Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa memang 10 Perintah Allah dibutuhkan sebagai tutor. Bagaimana orang menjadi sempurna, kalau baik saja tidak? Harus baik dulu. Tapi, jangan berhenti hanya menjadi baik. Harus terus bertumbuh dalam kecerdasan rohani sampai memiliki kemampuan untuk selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Alla...
    0 min
  • Pendewasaan Rohani
    Persoalan hidup yang dialami orang percaya di berbagai bidang yang digeluti merupakan sekolah kehidupan. Dan setiap masalah yang dihadapi itu bernilai, jika melalui masalah tersebut seseorang menemukan kebenaran yang mendewasakan rohaninya atau membuat dirinya menjadi cerdas secara rohani untuk bisa menjadi sepikiran dan seperasaan dengan Kristus. Firman Tuhan dalam Amsal 27:17 mengatakan: “Besi menajamkan besi,” ini sebuah gesekan yang melukai; manusia menajamkan sesamanya. Dalam hal ini, keterlibatan masing-masing individu sangat dibutuhkan atau dituntut. Dan kita pasti berhadapan dengan manusia atau individu lain yang di dalamnya kita menghadapi pergumulan atau persoalan. Dan individu itu bisa pasangan hidup, orangtua, anak, saudara kandung, teman, sahabat, atasan, bawahan, dan siapa pun. Ada masalah-masalah yang muncul dalam gesekan-gesekan tersebut, dan hal itu merupakan sekolah kehidupan yang sangat mahal.
    Jadi, kedewasaan rohani ini adalah tanggung jawab dan sebuah perjuangan. Tidak ada cara mukjizat untuk menerima pembentukan Tuhan. Kesalahan banyak orang hari ini adalah ketika menghadapi masalah, mereka mengharapkan mukjizat guna menyelesaikan masalah itu. Padahal, masalah itu bisa melahirkan kedewasaan rohani. Sebab, kedewasaan rohani tidak bisa dicapai dengan mukjizat atau tidak bisa dicapai dengan cara spektakuler. Kedewasaan rohani itu bukan karunia, melainkan buah kehidupan. Berarti, sebagai orang percaya, kita harus aktif untuk menghadapi setiap masalah secara bijak guna menemukan pelajaran rohani yang termuat di dalamnya agar kita dapat mencerdaskan diri untuk bisa menangani masalah-masalah yang bisa terjadi dalam hidup kita di bidang masing-masing. Apakah kita sebagai seorang ibu rumah tangga, pedagang, praktisi hukum, atau bergerak di bidang medis, pendidikan, dan sebagainya. Di situ kita akan bertemu dengan kasus. Tapi ingat, pemecahan terhadap masalah bukanlah tujuan akhir, melainkan pendewasaan rohani kita. Bahkan, masalah sekecil apa pun menjadi sangat berarti kalau memiliki buah pendewasaan rohani.
    Jadi, kalau Tuhan menganggap bahwa suatu peristiwa itu baik untuk kita, maka Tuhan pasti mengizinkan kita masuk dalam kancah pergumulan tersebut. Dan kita harus memandang itu sebuah berkat; berkat kekal. Dengan demikian, kita menjadi carang-carang yang berbuah. Banyak orang memandang bahwa masalah-masalah hidup seperti sebuah keadaan yang terjadi secara kebetulan. Mereka tidak melihat bahwa itu merupakan desain Allah dan berkat kekal yang Allah berikan. Di sisi lain, banyak juga yang berpikir bahwa masalah yang dihadapi merupakan “kesempatan” Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya dan kasih-Nya dengan memberi jalan keluar terhadap masalah tersebut. Mereka adalah orang Kristen yang kanak-kanak. Bagi orang Kristen yang dewasa, ketika dia menghadapi masalah, dia tahu bahwa masalah itu didesain oleh Allah untuk mengajar dirinya melatih diri, menguasai diri, mengendalikan pikiran dan perasaan, bertindak bijaksana, supaya melalui masalah tersebut, dia bertumbuh dalam kecerdasan rohani atau kedewasaan iman. Inilah sebenarnya yang harus kita pahami.
    Apabila kita adalah seorang konselor, maka dalam menghadapi orang-orang yang datang dengan masalah, kita harus memiliki prinsip dan pemahaman yang benar bahwa masalah itu bukan sebuah musibah atau malapetaka. Tujuan seseorang membawa masalahnya kepada kita bukan sekadar supaya mendapat penyelesaian atas masalah itu sendiri, tetapi bagaimana kita mengarahkan orang tersebut untuk mengerti bagian mana dalam hidup orang itu yang dibidik Allah, yang menjadi target Allah untuk dirubah agar dia menjadi dewasa rohani. Bila demikian, pasti kita dapat mengerti bahwa masalah justru membuat seseorang berbuah, dan masalah itu menjadi semacam nutrisi bagi jiwa guna pendewasaan iman. Menyadari hal ini, maka yang pertama, tentu kita harus belajar mengucap syukur untuk setiap kejadian, termasuk bersyukur untuk manusia-manusia yang menurut kita mencelakai, menyakitkan,
    0 min
  • Integritas
    Sejatinya, dalam kehidupan ini, kita sedang ada dalam suatu perlombaan. Sebagaimana yang dikatakan dalam Ibrani 12:1 sebagai perlombaan yang wajib, dan isi perlombaan itu adalah menjadi serupa dengan Yesus (Ibr. 12:2), yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Iman yang sempurna maksudnya adalah penurutan mutlak, penurutan secara absolut. Dalam bahasa Inggris, bisa disebut total submission. Dalam bahasa Indonesia, ada istilah “ketaatan tak bersyarat.” Karakter Kristiani ditandai dengan ketaatan tak bersyarat; unconditional submission, dan ini dikemukakan dalam Filipi 2, dimana dikatakan bahwa Yesus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Di situlah letak total, mutlak, dan absolutnya. “Taat walau,” bukan “taat kalau.” Ada orang bisa berkata, “Saya tidak akan mencuri, apa pun yang terjadi, kecuali terpaksa.” Kalau seseorang bisa berkata “Saya anti nyontek kecuali terpaksa,” atau “Saya tidak akan berzina, kecuali terpaksa.” Kalau sudah pakai kata “kecuali,” ini tidak benar. Bukan unconditional.
    Kita dapat belajar dari ketaatan Yusuf. Karakter Yusuf itu luar biasa. Di dalam Kejadian 37, kita dapat temukan bahwa Yusuf adalah seorang adik yang tidak ikut terlibat dalam dosa atau perbuatan salah kakak-kakaknya. Memang dikatakan bahwa Yusuf sering menyampaikan berita tentang kakak-kakaknya kepada orangtuanya, Yakub, karena mereka berbuat salah. Seakan-akan Yusuf adalah seorang “tukang ngadu” atau “mulut bocor.” Tapi kita harus melihat hal ini dari perspektif positif. Ayat itu menunjukkan bahwa Yusuf adalah seorang yang tidak ikut terlibat dengan dosa kakak-kakaknya. Jadi, sejak muda belia, Yusuf tidak suka berbuat salah. Ia adalah pribadi yang memiliki integritas.
    Maka, ketika dia diperhadapkan kepada pencobaan—yaitu bujukan Nyonya Potifar—dia bisa berkata dengan tegas: “Tidak, Nyonya.” Inilah yang kita sebut sebagai total submission, unconditional submission; ketaatan yang tidak bersyarat. Padahal, tentu nyonya Potifar ini cantik. Mengapa? Zaman dulu, istri pejabat itu dari masyarakat yang cantik. Mereka bisa mengambil siapa saja yang mereka mau untuk menjadi istrinya. Padahal, kita melihat Yusuf adalah orang yang terbuang dan tertolak. Dalam kondisi kesepian, terbuang, dan tertolak, lalu ada seorang wanita cantik mendekatinya, semestinya Yusuf akan menyambutnya. Namun Yusuf tahu bahwa hal ini bisa mencelakakannya. Maka Yusuf berkata, “Tidak!” Dalam Kejadian 39 dikatakan bahwa semua urusan rumah tangga keluarga Tuan Potifar diserahkan kepada dia sebagai penanggung jawab, kecuali nyonya; istrinya tidak ikut diserahkan. Dan dalam Alkitab dikatakan sang Nyonya berhari-hari membujuk Yusuf. Tetapi Yusuf berkata, “Bagaimana saya berbuat dosa sebesar ini kepada Tuhan, Allahku?” (Kej. 39:9)
    Jadi sejatinya, setiap perbuatan yang kita lakukan harus selalu dikaitkan dengan Tuhan, “Apakah hal ini menyenangkan hati Tuhan?” Atau “Apakah hal ini melukai hati Bapa di surga?” Ini namanya integritas. Karakter Kristiani yang benar itu mestinya demikian. Dalam segala hal yang kita lakukan, harus selalu kita hubungkan dengan Tuhan, dengan Allah Bapa kita. Untuk itu, kita berlatih bagaimana hidup di hadirat Allah, dimana setiap saat kita menghayati kehadiran Allah dalam hidup kita atau kita menghayati bahwa kita sedang ada di hadapan Allah. Semua perbuatan kita itu pasti akan menimbulkan reaksi dari Allah atau perasaan-Nya. Masalahnya, kita menyenangkan hati Allah atau mendukakan Dia?
    Sejak muda, kalau seseorang sudah belajar menghubungkan perbuatannya dengan Allah—yaitu mempertimbangan apakah perbuatan ini menyenangkan Allah atau mendukakan-Nya—maka ia akan terbimbing, ia akan tergiring menjadi manusia yang takut akan Allah. Perasaan takut akan Allah yang benar, kegentaran akan Allah yang benar akan membentuk karakter seseorang sehingga menjadi kebiasaan (habit), bahkan menjadi sebuah keberadaan (being). Jadi, kalau kita melakukan sesuatu yang baik, itu bukan karena kita sekadar mau melakukan (not just to do),
    0 min
  • Tangan yang Bersih
    Kalau kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan dan kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita pasti berusaha agar setiap saat kita berkeadaan berkenan di hadapan Bapa. Jadi, setiap saat kita harus berjaga-jaga. Sehingga kalau waktunya tiba kita menghadap Allah, kita didapati benar-benar berkenan di hadapan Dia. Dan hal itu memang bisa terjadi setiap saat. Kalaupun kita tidak meninggal dunia, sejatinya kita harus ada di hadirat Allah setiap saat. Semestinya kita tidak sembarangan atau semena-mena hidup. Masalahnya, kadang-kadang bahkan sering, kita tidak memperhitungkan bahwa kita ada di hadirat Allah. Kadang-kadang, bahkan sering, kita tidak menghayati bahwa kita ada di hadirat Allah.
    Mumpung masih ada kesempatan, mari kita bertekad untuk benar-benar menjadi orang yang menghormati Allah, mengasihi Allah dengan benar. Dan kita tunjukkan dengan usaha kita yang serius dengan meninggalkan segala hal yang dapat mendukakan hati Tuhan. Pertama, jangan sampai kita berbuat sesuatu yang melukai hati Tuhan, menyakiti hati Tuhan. Dan yang kedua, jangan sampai kita masih terikat dengan dunia ini. Mari kita menjadi orang-orang yang luar biasa di mata Allah. Walaupun di mata manusia kita sering dipersalahkan, sering kita dihakimi—baik oleh orang jauh, maupun orang dekat—atau kita dihakimi, kita dikata-katai atas hal-hal yang tidak kita lakukan.
    Sebaliknya, justru hal itu yang memicu kita untuk berusaha lebih berkenan di hadapan Tuhan. Itu yang lebih mendorong kita untuk memiliki keadaan yang benar di hadapan Allah. Dimana suatu hari nanti di pengadilan Tuhan akan nyata keadaan kita masing-masing yang sesungguhnya. Kiranya ini yang memberi kita motivasi yang sangat kuat untuk menjalani hidup dan mengisi hari hidup kita ini dengan benar. Kalau kita mau berkompetisi, kita bukan berkompetisi di bumi ini untuk hal-hal fana; menjadi siapa yang paling terkenal, siapa yang paling terhormat, gereja mana yang paling besar, siapa yang dipandang lebih mulia dan terhormat. Bukan! Kalau kita mau berkompetisi, baiklah kita berkompetisi kita secara diam-diam, yaitu berlomba untuk mendapatkan penilaian yang terbaik dari Allah, Bapa kita.
    Allah yang Mahamulia, Mahabesar, Mahaagung itu layak menerima persembahan seutuhnya hidup kita, sepenuhnya. Tidak ada kepentingan dalam hidup ini selain menyenangkan Tuhan. Tidak ada hal yang lebih besar, tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup ini selain menyenangkan Allah Bapa kita dan Tuhan kita, Yesus Kristus. Dan mestinya inilah yang harus menjadi satu-satunya agenda hidup kita. Tidak ada agenda hidup yang lain selain menyukakan hati-Nya. Dan untuk itu, kita rela melepaskan segala sesuatu dalam hidup ini untuk kesukaan Dia. Ini bukan berarti kita lalu memberikan seluruh uang kita untuk gereja, atau mengirimkan uang kita kepada pendeta. Tentu, kita harus dipimpin Roh Kudus dalam mengelola uang, harta, dan segala sesuatu yang Allah percayakan kepada kita.
    Kita bukan takut kepada manusia atau mencari hormat dari manusia, tetapi kita takut akan Allah. Dalam Alkitab, dikatakan bahwa orang kaya itu sukar masuk surga. Hal itu bukan semata-mata karena kekayaan yang dia miliki, melainkan karena ia merasa bahwa kekayaannya merupakan haknya. Mereka sudah terbiasa dengan irama hidup mengelola uang sesuka hatinya. Kita harus ingat, kalau suatu hari kita di hadapan Tuhan, biarlah tangan kita ini sudah bersih. Tangan kita sudah bersih dari dosa, dari percintaan dunia, dan dari harta yang mestinya sudah kita lepaskan. Tidak ada keterikatan dengan dunia, tidak ada yang kita sisakan.
    Tidak ada yang kita sisakan, artinya kita tidak terikat dengan dunia. Kita bisa melihat ini sebagai suatu keniscayaan, suatu kemungkinan bahwa kita memang bisa hidup tidak bercacat tidak bercela. Kita bisa melepaskan diri dari keterikatan kita dengan harta, dengan dunia ini, dengan harta kekayaan. Yang mengerikan bukan uang itu sendiri yang menjadi masalah, tetapi ketika seseorang tidak setia dalam keuangan,
    0 min
  • Secara Natural
    Satu harta yang tidak pernah diduga oleh banyak orang ialah menemukan Tuhan di dalam hidup ini. Menemukan Tuhan artinya benar-benar mengalami Tuhan, dimana Allah yang Mahahadir yang melingkupi jagat raya ini dapat dialami secara konkret. Ibarat sebuah arus listrik, seseorang bisa mengalami aliran arus listrik itu. Dan hal ini tentu akan membawa dampak yang sangat kuat dan nyata di dalam kehidupan. Dampak yang nyata dari seorang yang mengalami arus dari Tuhan adalah kehidupan yang takut akan Allah secara natural. Takut akan Allah secara natural ini melahirkan kesucian hidup yang natural pula. Jadi, kalau seseorang bisa hidup tidak bercacat, tidak bercela, hal itu terjadi bukan karena terpaksa, melainkan karena memang sudah menjadi irama hidupnya untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Seorang yang sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Allah seperti sebuah arus listrik, pasti memiliki kecintaan kepada Allah yang melampaui kecintaannya kepada siapa pun dan apa pun. Kecintaan inilah yang akan menggerakkan seseorang rela berbuat segala sesuatu, rela melakukan apa pun juga demi Allah, Tuhan yang dicintainya.
    Seiring dengan itu, pasti dia tidak akan lagi tertarik kepada keindahan dunia ini. Keindahan dunia menjadi pudar di matanya. Ia tidak lagi memiliki ikatan atau belenggu terhadap keindahan dunia. Tetapi hatinya akan terpikat oleh Tuhan dan Kerajaan-Nya yang akan datang nanti. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang benar-benar mengalami kemerdekaan, artinya tidak akan dapat terbelenggu oleh harta dunia. Kalau ia seorang pelayan Tuhan, ia tidak akan membedakan orang kaya atau orang miskin berdasarkan kekayaan. Ia akan melayani dengan motif yang murni dan jernih, serta tidak memandang muka.
    Orang yang mengalami perjumpaan dengan Allah seperti merasakan arus yang mengalir di dalam hidupnya, pasti akan memiliki keberanian terhadap apa pun juga. Artinya, tidak takut menghadapi segala ancaman dan bahaya. Sebab ia menghayati kehadiran Allah di dalam hidup ini. Ia bukan hanya yakin Allah menyertai, tetapi dia tahu bahwa Allah menyertai. Ia merasakan penyertaan Tuhan tersebut, dan inilah yang membuat seseorang benar-benar berani menghadapi segala keadaan. Seorang yang berani menghadapi segala keadaan adalah orang yang merdeka. Hatinya tidak akan menjadi kecut menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di dalam hidupnya.
    Sebaliknya, orang yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah di dalam hidupnya, pasti akan sembarangan dalam tutur kata, sembarangan dalam tindakan dan perilaku. Orang-orang seperti ini tidak akan mungkin memiliki kekudusan atau kesucian yang natural. Kalau ia kelihatannya hidup suci, hidup saleh, hal itu karena terpaksa. Tentu ia tidak ingin menjadi seorang yang dinilai bermoral rendah. Ia tidak ingin dipandang sebagai orang yang tidak beretika, ia tidak ingin dianggap sebagai orang bejat. Tentu ia ingin menjadi orang yang dipandang baik. Jadi, kebaikan yang ia bangun atau kesucian yang ia bangun bukan karena kerinduannya menyenangkan hati Allah, melainkan sebenarnya masih egosentris; masih berpusat pada diri sendiri.
    Kalau seseorang masih berpusat pada diri sendiri, berarti pula tidak teosentris. Dan kalau seseorang tidak teosentris, dia tidak akan pernah bisa memuliakan Allah dalam hidupnya. Percuma, kesucian hidup yang dia miliki adalah kesucian palsu. Orang-orang seperti ini pasti masih terikat dengan dunia, masih tertarik dengan keindahan dunia. Kalau kelihatannya ia rohani, mencari Tuhan, atau bisa mengatakan “Allah itu indah,” sesungguhnya itu hanya kamuflase. Itu pura-pura, tidak tulus. Tidak sungguh-sungguh dia merasakan keindahan Tuhan di dalam hidupnya. Tidak mungkin ia memiliki kerinduan yang kuat untuk menikmati langit baru bumi baru. Orang-orang Kristen seperti ini tidak mungkin menjadi rohani. Tidak mungkin dia menjadi seorang yang benar-benar melayani Tuhan dengan hati yang tulus. Kalaupun dia menjadi seorang pendeta,
    0 min
  • Menghargai Tuhan
    Siapa Allah yang disembah seseorang, tergantung dari siapa yang dihargai, yang dihormati, yang dijunjung tinggi dalam kehidupan orang itu setiap saat. Kita tidak bisa menyembah Allah yang benar kalau setiap saat kita tidak menghormati, dan tidak menghargai Allah dengan benar. Allah tidak bisa dipermainkan! Jangan kita berpikir kita bisa menyembah Allah dengan benar pada waktu dalam kebaktian atau dalam pertemuan doa, sementara setiap harinya tidak menghormati Tuhan dan tidak menghargai Tuhan secara benar melalui perilaku. Jadi, kalau kehidupan seseorang setiap hari menghargai uang, harta, hiburan lebih dari menghormati Tuhan, maka pada waktu dia kebaktian atau pada waktu pertemuan doa, sebenarnya Allah tidak menerima penyembahan orang-orang seperti itu. Sebab, orang-orang ini di mata Allah adalah munafik dan mempermainkan Allah, serta berkeadaan najis.
    Sikap kita setiap hari kepada Tuhan itulah yang menentukan apakah kita benar-benar menyembah Allah dan meninggikan Allah pada waktu kita kebaktian atau dalam pertemuan doa. Banyak orang berpikir bahwa Allah menerima pujian, penyembahan pada waktu dalam kebaktian atau dalam waktu pertemuan doa-pertemuan doa bersama. Padahal Allah tidak menerimanya, karena orang-orang ini najis bibirnya. Orang-orang yang terikat dengan dunia dan yang tidak mencintai Tuhan secara benar, tidak disukai oleh Allah. Oleh sebab itu, mari kita berhenti berbuat dosa. Mari kita berhenti mencintai dunia ini supaya kita bisa menghormati Tuhan secara benar. Kita bisa menghadap takhta pengadilan Tuhan dengan berani suatu hari nanti, dan bahwa kita memang benar-benar mencintai Tuhan dan melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia ini.
    Jadi, persekutuan kita dengan Tuhan, tidaklah ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berdoa dan datang kebaktian, tetapi seberapa dalam dan tulus kita menghormati, menghargai Tuhan dalam kehidupan kita setiap saat. Misalnya, kalau seseorang tidak menolong sesamanya ketika sesamanya di dalam kesulitan, itu berarti dia menghargai uang lebih daripada menghormati Tuhan. Kalau seseorang mestinya memberi waktu untuk membaca Alkitab atau mendengarkan khotbah tetapi dia hanyut dan tenggelam dengan tontonan, dengan film, dan berbagai hiburan, berarti dia tidak menghormati Tuhan secara patut. Ini bukan berarti kita tidak boleh menonton film. Tentu ada waktu untuk itu, dan kita seharusnya mengerti apa yang patut ditonton dan apa yang tidak patut ditonton.
    Jika suatu keadaan menuntut kita mengalah tetapi kita tidak mau mengalah, mestinya mengampuni tetapi kita tidak mengampuni orang, mestinya tidak menyakiti orang dengan perkataan, mestinya tidak mempercakapkan orang lain di belakang orang itu tetapi kita melakukannya, berarti kita tidak menghormati Tuhan. Dan sikap-sikap seperti itu menunjukkan bahwa kita sebenarnya tidak memberi sikap hormat yang patut kepada Allah. Lalu pada waktu kita datang dalam kebaktian, dalam pertemuan doa, kita menyembah Tuhan, kita mengatakan bahwa kita meninggikan Dia dan mengatakan bahwa kita menghormati Dia, itu omong kosong belaka. Ironis, banyak orang tidak mengerti hal ini sehingga hidup mereka sembarangan, hidup mereka sembrono. Ingat yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa “Penyembah-penyembah benar akan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23). Ibadah kita itu seluruh waktu hidup kita, sepanjang waktu hidup kita. Penyembahan kita adalah di mana pun dan kapan pun, melalui segala hal yang kita lakukan, melalui segala sesuatu yang kita perbuat. Bukan hanya dalam ritual atau dalam seremonial atau dalam liturgi atau pada waktu kita kebaktian. Allah tidak bisa dipermainkan!
    Kiranya kita mulai memiliki mata hati yang tulus, mata hati yang jujur pada waktu kita kebaktian, pada waktu kita dalam pertemuan doa bersama, waktu kita menyembah Tuhan dan berkata: “Engkau yang termulia,” biar kita merasa tertuntun untuk menghormati Tuhan secara patut di dalam kehidupan kita setiap hari.
    0 min
  • Menikmati Dosa
    Semua orang pasti tahu apa artinya menikmati dosa, karena ini merupkan irama hidupnya. Menikmati dosa artinya menikmati hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah tetapi menyenangkan daging kita, menyenangkan jiwa kita. Pasti kita mengalaminya. Semua manusia telah jatuh dalam dosa, dan pasti telah pernah hidup di dalam dosa. Dan mungkin sekarang masih hidup di dalam dosa sehingga hal itu menjadi ikatan seperti candu. Misalnya, kalau kesukaan seseorang itu makanan jenis tertentu, maka makanan itu menjadi candu baginya. Apalagi kalau terkait dengan alkohol, narkoba, dan sejenisnya. Pasti itu akan menjadi ikatan yang pada akhirnya benar-benar membunuh fisik, membunuh jasmani, merusak tubuh.
    Banyak orang mengenal, mengalami, bahkan menikmati dosa secara terus-menerus sampai mati. Ini mengerikan sekali! Sebab orang yang menikmati dosa tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Yerusalem Baru hanya untuk orang-orang kudus, yang tidak bercacat, tidak bercela (Why. 21:27). Kalau dosa bisa dinikmati, kesucian mestinya juga bisa dinikmati. Tetapi faktanya, sedikit sekali orang yang benar-benar menikmati kesucian sampai menjadi kecanduan terhadap kesucian tersebut. Ini yang harus kita mengerti. Kesucian itu bisa dinikmati. Bagaimana kita bisa menikmati kesucian?
    Pertama, dimulai dari tekad dan komitmen untuk menyenangkan hati Allah. Hal ini adalah pilihan. Kita harus memilih antara menyenangkan diri sendiri, memuaskan keinginan daging, atau mau menyenangkan hati Tuhan. Kita harus memilih dan menetapkan hati, walaupun kita masih ada di dalam kodrat dosa, bahkan masih jatuh bangun. Tetapi kita bisa berkomitmen untuk memilih hidup suci. Artinya memilih untuk menyenangkan hati Allah. Itu harus kita putuskan, bukan orang lain. Kalau kita berani mengambil keputusan untuk menyenangkan hati Tuhan dalam segala hal dan setiap saat, berarti kita benar mengasihi Tuhan. Orang bisa belum sempurna, tapi bisa mengasihi Tuhan. Dan orang yang mengasihi Tuhan pasti dibawa kepada kesempurnaan!
    Di dalam perjalanan hidupnya, seseorang akan mendapat banyak tantangan, godaan, cobaan, tawaran-tawaran kenikmatan. Kenikmatan dunia atau kesempatan-kesempatan untuk memuaskan keinginan daging dan keinginan jiwanya. Di situ seseorang bergelut, bergumul. Ia akan jatuh bangun. Tetapi jangan berhenti berkomitmen untuk mengasihi Allah. Jangan berhenti berkomitmen untuk menyenangkan hati Allah. Komitmen kita untuk menyukakan hati Allah harus di-update setiap hari. Di-update artinya harus diperbaharui setiap hari. Ini yang pertama: berkomitmen.
    Kedua, ketika kita memilih untuk taat. Pada saat kita mendapat kesempatan berbuat dosa—dimana pasti Tuhan akan mengizinkan kita mendapat peluang untuk memuaskan diri kita. Di mana kelemahan kita, di situlah Tuhan akan menguji. Iblis juga pasti mencobai kita. Seperti yang dialami Ayub, Iblis berusaha menjatuhkan Ayub dengan pencobaan. Tetapi dari sisi Allah, itu ujian untuk meningkatkan kualitas Ayub. Jadi ketika kita mendapat kesempatan berbuat dosa—lewat kesukaan kita yang tidak berkenan di hadapan Allah—kita harus mulai berkata dengan tegas, “tidak.” Itu menyakitkan diri sendiri. Sakit, tetapi menyenagkan hati Allah.
    Sebaliknya, jika kita memilih untuk memuaskan diri sendiri, kita tidak berkata “tidak,” tetapi kita akan berkata “ya” terhadap dosa. Maka, kita akan terjerat di situ. Itu akan menjadi candu yang membinasakan. Tetapi ketika kita berkata “tidak” terhadap dosa, walau sakit memang pada mulanya, tetapi kalau itu terus berlangsung dalam hidup kita, akhirnya kita bisa merasakan kekudusan itu nikmat, indah. Kita bisa menghayati tidak ada kehidupan yang lebih indah dari kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela. Atmosfer kesucian itu harus kita nikmati.
    Ketiga, kebenaran Firman yang merubah pola pikir kita. Bagaimana kita memiliki kekuatan batin untuk berkata “tidak?” Sebab waktu kita berdoa, kita ke gereja, kita bertemu orang, kita mudah berkata “aku mau hidup suci.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…