Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Merasa Berhak Hidup Wajar
    Hampir semua kita pernah melihat atau mungkin mengalami sendiri bagaimana anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua, lalu setelah dewasa mereka malah hanya menuntut dan merasa berhak untuk mendapat fasilitas daripada mengabdi kepada orangtua. Tidak sedikit anak menyusahkan orangtua di hari tua orangtuanya. Hal itu benar-benar menyedihkan. Bukan orangtua menolak dibebani, tetapi orangtua menginginkan agar anak-anaknya bisa memikul beban kita yang lain, memikul beban anak-anaknya sendiri, atau bahkan kalau sudah punya cucu, bisa memikul beban anak-cucu atau sesamanya. Namun lebih menyedihkan lagi, kalau kita yang telah mengikut Tuhan Yesus sekian lama, tetapi hanya mau menuntut diberkati secara materi. Dan kita tidak mempersembahkan hidup kita untuk melakukan apa yang Dia ingini. Sejujurnya, hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan banyak orang Kristen, termasuk pelayan jemaat, aktivis, bahkan pendeta tidak mempersembahkan hidup dengan benar.
     
    Dan ternyata semua itu disebabkan oleh satu hal yang menjadi bahaya besar, yaitu merasa berhak hidup wajar. Padahal, hidup wajar itu membahayakan! Sejujurnya, memang tidak banyak orang yang benar-benar bisa diajak untuk hidup tidak wajar, betul-betul merindukan langit baru bumi baru. Bukan sekadar mencari nafkah, menciptakan keluarga bahagia, membesarkan anak, memodali anak dengan pendidikan atau modal yang lain. Melainkan benar-benar fokus langit baru, bumi baru. Yang tidak ada kebanggaan lagi terhadap harta dunia, atau jabatan, karena itu mengecewakan hati Tuhan. Menjadi satu penyesalan dalam diri kita, ketika kita menyadari: pertama, mengapa tidak dari dulu kita mengerti kebenaran seperti saat ini? Yang kedua, mengapa orang-orang di sekitar kita tidak mengikuti perubahan kita? Memang kita tidak dapat memaksa seseorang untuk mengikuti apa yang kita ajarkan. Namun, apabila kita sudah memberikan cukup ruang dan waktu bagi mereka dan mereka menolak, kita harus terus berjalan ke depan, tidak usah menoleh ke belakang (Mrk. 6:11). Hendaknya, kita tidak terjebak dengan persaudaraan palsu. Kita harus berani hidup tidak wajar yang berbeda dengan dunia ini untuk berkemas-kemas pulang bersama ke surga.
     
    Sebagai pengikut Yesus, kita tidak perlu membela sinode, gereja, atau hamba Tuhan tertentu. Yang terpenting adalah perubahan hidup, sehingga dapat hidup sesuai dengan kebenaran Injil. Hendaknya kita tidak merasa “lebih” dari orang lain karena banyak belajar teologi dan memiliki gelar, sehingga gagal mengenal diri sendiri dengan benar. Untuk ini, kita tidak perlu berdebat, tidak perlu beradu argumentasi dengan siapa pun. Lebih bijaksana kalau kita diam dan tidak banyak bicara. Kita harus berjalan terus untuk berkemas-kemas. Karena, suatu saat kita semua akan menghadap takhta pengadilan Tuhan. Kita akan melihat di sana bagaimana keadaan kita yang sebenarnya di mata Allah dan tidak ada yang bisa disembunyikan. Kita semua harus takut akan Tuhan sejak di sini. Jangan sembarangan hidup. Allah Yang Mahakudus, Mahaagung, dan Mahamulia berhak menerima seluruh hidup kita tanpa batas.
     
    Kita masing-masing harus memiliki perasaan krisis terhadap dunia yang akan menuju kegelapan abadi ini. Dengan demikian, kita tidak menjadikan pelayanan pekerjaan Tuhan sebagai komoditas untuk kepentingan kita sendiri. Adalah ironis jika seseorang melayani pekerjaan Tuhan tetapi masih memiliki agenda pribadi di balik semua pelayanan yang kita gelar sebagai alasan untuk eksis atau demi uang, begitu liciknya kita. Bukan tidak boleh, kita memang harus punya beban terhadap jiwa-jiwa. Tetapi, mari kita lihat hidup kita dulu dari hari ke hari, apa kita fokus benar-benar ke langit baru bumi baru? Apakah kita sudah benar-benar membenahi diri untuk hidup berkenan dan tidak dibahagiakan oleh dunia ini? Hendaknya, kita membenahi diri kita. Simulasi setiap hari, seakan-akan kita ada di hadapan Takhta Pengadilan Tuhan. Harus diwaspadai hal yang sungguh mengerikan,
    0 min
  • Agenda Hidup
    Kita harus memahami peta lengkap dan rangkaian utuh dari apa yang Allah lakukan dalam hidup kita, dan mengerti maksud semua yang Dia lakukan bagi kita. Selagi seorang anak manusia masih anak-anak, biasanya ia tidak mengerti apa yang orangtua lakukan bagi mereka. Anak-anak hanya mengerti kebaikan orangtua dari setiap coklat dan mainan yang diberikan, dan kesempatan jalan-jalan ke tempat wisata. Tapi kalau anak itu sudah dewasa, seharusnya memiliki pemahaman yang lengkap dan rangkaian utuh dari apa yang dilakukan orangtuanya, dan mengerti untuk apa orangtua melakukan semua itu. Demikian pula kita sebagai orang Kristen yang dewasa, harus memiliki pengetahuan dan pengertian yang lengkap dari peta kebijakan Tuhan dan rangkaian utuh dari apa yang Allah lakukan, dan maksud-maksud-Nya melakukan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. 
    Ketika kita berkata, “dengan apa kubalas kebaikan-Mu?” Maka sebenarnya apapun yang kita lakukan tidak setimpal dengan apa yang telah Tuhan lakukan untuk kita. Jadi, kalau kita hanya berbicara mengenai berkat jasmani, Tuhan memberikan kita untung dalam bisnis 100 juta lalu kita kembalikan 10 juta sebagai tanda kasih kita kepada Tuhan, itu sikap kanak-kanak atau tidak dewasa. Tuhan memberikan diri-Nya bagi kita, adalah pemberian yang tidak ada taranya. Tuhan Yesus begitu ekstrem mencintai kita. Maka, sepatutnya kita membalas kebaikan Tuhan juga dengan cinta yang ekstrem. Tidak ada cara lain untuk bisa menyenangkan hati Bapa selain terus berubah untuk memiliki karakter Kristus. Sehingga, dalam segala hal yang kita lakukan tidak bercacat, tidak bercela. 
    Oleh sebab itu, kita harus berani mengambil satu keputusan dan berkomitmen, bertekad bahwa satu-satunya agenda dalam hidup kita adalah mencari Allah untuk mengenal dan mengalami Dia (Flp. 3:10-11). Masalahnya, banyak orang Kristen telah terjebak dengan filosofi yang salah. Banyak orang Kristen menyelenggarakan hidup bukan karena mau menemukan Tuhan dan mau membalas kebaikan-Nya, tapi karena memang hanya mau menikmati dunia dan kebaikan Tuhan yang diukur dari pertolongan-Nya atas studi, karier, kerja, keluarga, dan semua hal yang bersifat fana itu. Hal itu telah menjadi standar orang beragama pada umumnya. Sejatinya, kekristenan bukan agama, tapi jalan hidup. Jika kita sudah memahami peta lengkap dari pekerjaan-Nya, rangkaian utuh dari karya-karya-Nya, maka kita mengerti tujuan hidup kita. 
    Hidup ini tidak gratis. Adam dan Hawa diciptakan untuk mengelola taman, menaklukkan bumi ini (Kej. 1:28). Dan tentu yang ditaklukkan bukan hanya alam fisik, tapi juga metafisik, yaitu Lusifer atau kuasa gelap yang memang di buang di bumi. Sekarang kita menjadi anak-anak Allah yang ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Ini lebih berharga dari semua berkat jasmani atau pemenuhan kebutuhan jasmani. Sebab, kita ditebus untuk menjadi anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita diperhitungkan sebagai orang yang berutang untuk hidup menurut roh, bukan menurut daging. 
    Agenda hidup kita satu-satunya haruslah bagaimana kita mengenal Tuhan, mengerti kehendak-Nya, memenuhi rencana-Nya dalam hidup kita. Semua kegiatan hidup kita tujuannya hanyalah hal tersebut; menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada Bapa, menjadi kekasih Tuhan Yesus, dan mempelai yang tidak bercacat, tidak bercela, yaitu menjadi perawan suci di hadapan Allah. Ini tidak mudah, tapi kalau kita membiasakan diri, maka kita tidak akan meleset. Masalahnya, liciknya hati manusia dan pekerjaan Iblis yang cerdas membuat seseorang yang ada di lingkungan sekolah teologi dan gereja, tapi sebenarnya tujuannya bukan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Bukan karena mau menjadi anak-anak Allah yang berkenan atau mempelai Tuhan, tapi karena mau menjalankan roda kehidupan di bumi ini dengan nyaman. 
    Itulah sebabnya, sungguh berbahagia orang muda-orang muda yang sejak dini sudah dilatih Tuhan untuk memiliki satu-satunya agenda yang benar. Dan inilah yang disebut dengan “meninggalkan dunia,
    0 min
  • Penghargaan Diri yang Benar
    Banyak orang yang masih terikat dalam penghargaan diri yang tidak proporsional. Setiap kita memang harus menghargai diri kita sendiri, tetapi harus benar. Orang yang tidak menghargai dirinya sendiri dengan benar berarti ia tidak bisa menghargai orang lain dengan benar juga. Masalahnya adalah bagaimana seseorang bisa menghargai dirinya sendiri secara proporsional atau secara benar. Yang pertama, harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk kekal yang diciptakan Allah dan berharga di mata Allah. Jadi, harus disadari bahwa setiap kita ini adalah orang-orang yang berharga di mata Allah. Kita adalah makhluk kekal yang diciptakan menurut gambar Allah dan diharapkan bisa serupa dengan Allah. Kita bisa atau berpotensi memiliki kemampuan bertindak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dan atas setiap individu, Allah memuat rancangan Allah yang luar biasa. Dengan kesadaran ini, maka kita dapat menghargai diri kita secara benar atau secara proporsional. Dan berangkat dari kesadaran diri yang benar, maka kita akan bisa menghargai orang lain secara benar. Jadi, penghargaan kita kepada orang lain didasarkan pada kenyataan bahwa makhluk manusia bereksistensi kekal. Dan ini merupakan hal yang sangat dahsyat.
    Yang kedua, makhluk manusia diciptakan segambar dengan Allah dan diberi kemampuan untuk bisa serupa dengan Allah. Serupa dengan Allah artinya sesuai dengan rancangan semula, dimana manusia dapat selalu bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Yang ketiga, sejatinya setiap manusia memuat atau memikul rancangan Allah yang harus digenapi.
    Kalau kita menghargai diri kita secara benar, maka: Pertama, kita menghargai diri kita sebagai makhluk kekal, sehingga kita pasti berjuang untuk tidak masuk ke dalam kebinasaan atau ke dalam api kekal atau yang sama dengan terpisah dari Allah. Kedua, kita akan berusaha untuk dapat serupa dengan Yesus. Ketiga, kita berusaha untuk mengerti rencana Allah dalam hidup kita masing-masing, guna kita penuhi. Inilah cara penghargaan diri yang benar. 
    Penghargaan diri seperti ini juga kita berikan untuk orang lain, yaitu bagaimana kita mengupayakan mereka agar tidak binasa, dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula—yaitu menjadi serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa—dan mereka dapat menyadari rancangan apa yang Bapa berikan kepada masing-masing individu untuk dipenuhi. Berangkat dari hal ini, maka kita baru bisa memiliki kerendahan hati yang tepat. Kalau tidak, maka sikap dan perilaku kita akan bertendensi untuk mencari penghargaan diri yang tidak benar atau tidak proporsional. 
    Dan itu ternyata telah menjadi irama hidup manusia pada umumnya, yaitu bagaimana dirinya dianggap penting, dinilai lebih dari orang lain, dihargai sebagai patut mendapatkan kehormatan, pujian, sanjungan sampai pada tingkat gila hormat. Dan orang-orang seperti ini pasti tidak memahami siapa dan bagaimana manusia itu serta tanggung jawabnya. Oleh sebab itu, seharusnya sejak dini atau sejak muda kita harus sudah memiliki kesadaran ini, yaitu bahwa kiat berharga di mata Allah. Sedini mungkin! Dan jika kita menjalani hidup dengan kesadaran ini, maka proses keselamatan dapat berlangsung dengan benar di dalam hidup kita sehingga kita juga bisa memperlakukan orang lain secara benar. Dan bisa melayani sesama kita dengan benar pula. Kalau tidak, maka segala sesuatu yang kita lakukan akan berpusat pada diri sendiri; egosentris, manusia sentris, bukan Teosentris atau Allah-sentris. 
    Kita melihat kenyataan dalam lingkungan gereja—tanpa perlu melihat yang ada di luar gereja—bahwa tidak sedikit orang menjadi pendeta karena penghargaan diri. Tidak sedikit orang bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi untuk menjadi hamba Tuhan atau pelayan Tuhan hanya karena penghargaan tersebut. Dan manusia cakap untuk mendapatkan penghargaan atau nilai diri dari sesamanya dalam berbagai perilakunya. Misalnya dalam hal berpakaian, mengapa seseorang memakai pakaian ini, model ini, warna itu. Bukan karena kepantasan,
    0 min
  • Kehormatan Manusia
    Satu hal yang sungguh-sungguh harus kita percayai bahwa manusia itu benar-benar luar biasa. Sebab, manusia diciptakan oleh Penciptanya yang Mahacerdas, Mahaagung, Mahamulia dengan keadaan segambar dengan Dia, yang diharapkan juga bisa serupa dengan Dia. “Segambar dengan Allah” maksudnya manusia memiliki komponen-komponen yang juga ada pada Allah. Manusia diciptakan menurut tselem, artinya menurut gambar Dia. Dan Allah menghendaki agar manusia yang memiliki tselem atau gambar Dia ini bisa berkeadaan serupa (Ibr. Demuth) dengan Dia. Memang tselem dan demuth ini menurut teolog adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan, merupakan rangkaian dua kata yang menyatu. Tetapi kenyataannya, tidak bisa dibantah bahwa tselem bisa terpisah dari demuth. Tselem menunjuk pada gambar, demuth menunjuk pada keserupaan.
    Allah menciptakan manusia pada mulanya menurut gambar-Nya, tapi tidak menurut rupa-Nya. “Rupa” (Demuth) di sini adalah kualitas dari tselem; kualitas dari “gambar.” Maksud “gambar” di situ adalah manusia memiliki pikiran dan perasaan seperti yang Allah juga miliki. Dan Allah menghendaki agar pikiran dan perasaan manusia itu bisa mencapai kecerdasan seperti kecerdasan Allah. Maksudnya, agar manusia dapat berpikir, berperasaan secara benar sehingga segala keputusan-keputusan dan pilihan-pilihannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah yang dapat menyenangkan hati Allah. Allah bukanlah Pribadi yang oportunis, dan sebenarnya Allah bisa tidak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa. Jadi, kalau manusia diciptakan menurut gambar-Nya, justru itu merupakan kehormatan bagi manusia tersebut. Dan kehormatan yang diberikan kepada makhluk ini—yang disebut sebagai manusia—memuat atau berisi tanggung jawab dimana manusia harus mengembangkan diri untuk bisa memiliki kecerdasan rohani, yaitu kemampuan dimana manusia bisa selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. 
    Tetapi sayang sekali, manusia gagal. Itulah sebabnya dikatakan dalam Roma 3:23, manusia telah kehilangan (Yun. yustereo). Teks aslinya mestinya kata “kehilangan” itu berarti “kurang; lack of.” Manusia tidak mampu mencapai kecerdasan seperti yang Allah inginkan. Tentu manusia tidak akan bisa menyamai Allah, tetapi diharapkan manusia di dalam kecerdasannya bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, dan ini terkait dengan porsi pergumulan yang dimiliki masing-masing individu. Kegagalan manusia untuk mencapai keserupaan dengan Allah inilah yang mengakibatkan Allah harus mengutus Putra Tunggal-Nya guna mengembalikan manusia ke rancangan semula. 
    Banyak orang berpikir keselamatan itu hanya mengenai sekitar dimana manusia bisa terhindar dari neraka. Ini belum tepat benar. Sejatinya, terhindar dari neraka baru buah atau dampak atau akibat dari keselamatan. Sedangkan keselamatan itu sendiri diberikan agar manusia bisa memiliki keserupaan dengan Allah sesuai dengan rancangan-Nya semula. Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya manusia berkeadaan seperti Adam yang telah kehilangan kemuliaan Allah itu. Dalam Kejadian 5:3 tertulis, “setelah Adam hidup 130 tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki menurut rupa dan gambarnya.” Rupa dan gambar Adam, bukan rupa dan gambar Allah. Kata “rupa dan gambar” dalam teks aslinya di ayat ini juga tselem dan demuth, tapi bukan tselem dan demuth Allah.
    Dengan demikian, keturunan Adam tidak pernah melihat atau menemukan potret gambar diri manusia yang benar dan ideal. Karena Adam yang mestinya menjadi role model; gambar diri manusia yang ideal, tidak dapat mencapainya atau gagal. Mestinya, Adamlah yang harus bertindak atau berfungsi sebagai pokok keselamatan; penggubah (Ing. Composer) bagi anak cucu keturunannya. Tapi sayang, Adam gagal. Keselamatan dalam Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yang di dalam satu perspektif diistilahkan sebagai “agar manusia dapat menemukan kembali kecer...
    0 min
  • Hak untuk Bersalah
    Kita harus selalu berpikir dengan rela dan rendah hati bahwa setiap orang memiliki hak untuk bersalah. Sebab, manusia diberi kehendak bebas dan kita berhadapan dengan manusia-manusia di sekitar kita yang diberi kehendak bebas. Di dalam kehendak bebasnya, seseorang berhak berbuat salah dan kita bisa—bahkan pasti—menjadi korban dari kesalahan tersebut. Mungkin kata “pasti” tidak disukai, tetapi kita tidak bisa menghindari. Sebab Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kalimat ini, “seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” yang berarti, pasti ada orang yang berbuat kesalahan dan kita menjadi korbannya. Sebagaimana firman Tuhan mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami tidak melebihi pencobaan-pencobaan yang dialami manusia (1Kor. 10:13), itu berarti kita pasti mengalami pencobaan. Kalau Alkitab mengatakan agar kita bertekun dalam penderitaan, berarti kita pasti mengalami penderitaan. Merujuk pada fakta ini, kita pasti dilukai, disakiti, dirugikan, dimusuhi, dan kita menjadi korbannya.
    Kita harus menerima dengan lapang bahwa manusia berhak berbuat salah. Sama seperti kita juga berhak berbuat salah. Akan tetapi kita tidak menggunakan hak kita untuk berbuat semau kita. Kita tidak memilih berbuat salah. Kita berhak berbuat baik dan kita harus memilih apa yang baik. Namun jika orang lain, kita tidak bisa mengaturnya. Kita tidak bisa mendesain orang lain untuk mengikuti apa yang kita inginkan. Sering kali Tuhan sendiri yang menempatkan kita sebagai korban. Namun, posisi ini lebih baik ketimbang menjadi pelaku yang melukai orang lain.
    Mungkin kita kurang suka mendengar kalimat: “Allah menempatkan kita sebagai korban.” Namun, kita harus melihat hal ini dengan benar. Ketika Tuhan membawa kita kepada keadaan dimana kita menjadi korban dari perbuatan salah orang, ini adalah sebuah proyek luar biasa. Melalui hal ini, kita hendak dilatih untuk memiliki kualitas diri seperti yang dimiliki oleh Yesus. Tuhan Yesus diperlakukan tidak adil, disakiti, dilukai, difitnah. Akan tetapi, Tuhan Yesus tetap bisa mengampuni mereka. Kalau kita mau menjadi seperti Tuhan Yesus—kalau kita mau serupa dengan Tuhan Yesus—maka tidak bisa tidak, kita harus mengalami apa yang dialami oleh Tuhan Yesus. Tidak ada jalan mudah untuk menjadi serupa dengan Yesus. Sebab, untuk menjadi serupa dengan Yesus, kita harus menjalani hidup; seperti hidup yang Dia jalani. Di antara jalan itu adalah menjadi korban dari kejahatan manusia; korban dari kesalahan orang.
    Melalui hal tersebut, kita memperbaiki kejahatan atau kesalahan orang dengan menjadi korban dari kesalahan orang itu. Sama halnya ketika terjadi revolusi atau perubahan besar-besaran dalam sebuah negara. Banyak darah pahlawan yang tertumpah untuk memperjuangkan perubahan tersebut. Akibat darah para pahlawan yang tertumpah itu, banyak orang pada hari ini di negara-negara tersebut dapat menikmati kemerdekaan dan hidup dalam kesejahteraan. Jika tidak ada para pahlawan tersebut, tidak akan pernah ada kemerdekaan dan kesejahteraan pada masyarakat suatu negara. Ketika kita ingin melihat perubahan dalam diri seseorang, kita harus bersedia untuk menjadi korban dari perubahannya. Dengan bersedia menjadi korban dari perubahan seseorang, kita sebenarnya sedang memberkati mereka.
    Kalau kita tidak memberkati mereka, berarti kita kehilangan kesempatan untuk memPeroleh berkat. Artinya, jika kita tidak mengampuni orang lain dalam kesalahannya, maka kita tidak memeroleh pengampunan. Setiap orang Kristen yang mengampuni sesamanya adalah orang-orang yang menjadi berkat untuk sesamanya. Hal ini dapat kita lakukan apabila kita selalu mengingat bahwa setiap orang memiliki hak untuk berbuat salah. Sama seperti kita diberi hak oleh Tuhan untuk berbuat salah, begitu pula kita harus menyediakan ruang bagi orang lain untuk bersalah. Ketika menyediakan ruang itu, kita pun menyiapkan hati kita untuk mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita kelak. Sebab,
    0 min
  • Berkat Perubahan Hidup
    Dalam kisah Stefanus di Kisah Para Rasul 7, kita dapat menemukan sebuah kebenaran berharga akibat kematian Stefanus. Darah Stefanus bukan hanya menjadi benih gereja seperti yang dikatakan oleh Bapa Gereja, melainkan juga darah yang mendatangkan perubahan. Menjelang kematiannya, Stefanus berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis. 7:60). Doa ini seiring dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ketika Tuhan Yesus mengalami aniaya, “ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kualitas diri Stefanus mencerminkan keserupaan dengan Tuhan Yesus. Sebagai jawaban atas doa ini, pada Kisah Para Rasul 9 kita menemukan bahwa Saulus bertobat. Ketika ia rebah ke tanah, ada suara dari langit berkata: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapakah Engkau Tuhan?” “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:4b-5). Doa dari Stefanus, membuat Saulus—yang bertanggung jawab atas kematian Stefanus tersebut—bertobat. Saulus, yang mengakibatkan Stefanus mati, pada akhirnya bertobat.
    Ketika Tuhan memperhadapkan kita dengan orang yang berkesalahan dimana kita menjadi korbannya, hal tersebut sesungguhnya merupakan sebuah proyek. Proyek ini adalah sebuah proyek perubahan dimana kita diajak untuk menjadi rekan sekerja Tuhan untuk mencerminkan keagungan karakter-Nya. Sering kali cara kita merespons orang yang menjahati kita keliru, sehingga berkat dari Tuhan berlalu begitu saja. “Berkat” di sini tentu tidak merujuk pada berkat rohani, tetapi berkat perubahan hidup. Ketika kita meminta kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh untuk diubahkan, maka Tuhan akan menanggapinya dengan sungguh. Ia akan mendatangkan berkat perubahan dalam hidup kita melalui cara-cara yang tidak selalu nyaman bagi diri kita. Kalau bangsa Israel berbicara mengenai berkat, maka orientasinya pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi bagi orang percaya yang orientasinya adalah langit baru bumi baru, berkat tersebut adalah menjadi serupa dengan Yesus.
    Keagungan sebagai anak-anak Allah harus melalui proses pelatihan dan pendidikan yang Allah berikan. Jadi kalau kita mendapat perlakuan yang tidak adil, kita dijahati, dirugikan, dilukai, dan sebagainya, berarti kita sedang diberi didikan oleh-Nya. “Didikan Allah” di sini memiliki proyeksi kekekalan. Maka, keadaan itu bisa dikatakan sebagai berkat kekal. Keagungan sebagai anak Allah ini tidak bisa kita peroleh secara gratis atau secara otomatis. Memang banyak orang Kristen yang kanak-kanak dan merasa sudah agung karena jadi anak-anak Allah yang dipilih. Namun, Kristen yang dewasa membangun paradigma tentang keagungan diri dari perubahan karakter yang semakin seperti Kristus dan terpancar dari kehidupannya sehari-hari. Tuhan mau agar kita mengikuti jejak-Nya. Kalau kita mengikuti jejak Tuhan, kita akan dibawa di lorong dan jalan yang dijalani oleh Tuhan Yesus. Di antara lorong-lorong itu adalah perlakuan orang yang jahat terhadap kita. Ketika kita dilukai, disakiti, dirugikan, difitnah, didzolimi, di-bully, maka sekarang kita harus memandangnya ini sebagai berkat.
    Jadi ketika Yesus berkata, “jadikan semua bangsa murid-Ku,” artinya “mereka harus belajar hidup seperti hidup yang Kujalani. Dan kalau mereka belajar hidup seperti hidup yang Kujalani, mereka harus memasuki lorong yang juga Kujalani, jalan-jalan yang juga Kujalani; jalan terjal yang Aku jalani, mereka juga harus menjalaninya. Sebab, hanya dengan cara demikian Aku bisa mengajarkan hidup-Ku.” Setiap kita dipanggil untuk menghidupi jalan yang juga dijalani oleh Tuhan. Tidak ada jalan atau cara lain dalam hal ini. Tuhan membawa kita di ombak kehidupan ini karena kita mau dilatih menjadi seperti Yesus.
    Ketika kita diperlakukan tidak adil, dijahati, dilukai orang, kodrat di dalam diri kita ini pada umumnya bereaksi marah. Selanjutnya, memang sudah menjadi kodrat manusia pada umumnya untuk membalas. Akan tetapi sebaliknya, kita sebagai orang Kristen diajar untuk tidak membalas, melainkan mengampuni.
    0 min
  • Menerima Kebijaksanaan Allah
    Firman Tuhan dalam Wahyu 3:19 berkata: “barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar. Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Ayat ini hendak mengundang kita semua untuk mengubah pola berpikir kita terhadap sesuatu yang merugikan, menyakitkan, atau melukai. Tidak jarang pikiran kita dapat berubah dengan didukung oleh impuls atau rangsang tertentu. Ketika kita mengalami perlakuan tidak adil, disakiti orang lain, dibenci, atau dimusuhi oleh orang lain, terkadang kita mulai dapat berpikir kembali dan merenungi diri kita. Ketika keadaan baik-baik saja, cenderung kita merasa nyaman dan tidak merasa perlu berubah. Oleh karenanya, tidak heran apabila Tuhan mengatakan teguran dan hajaran merupakan bagian dari kasih-Nya.
    Dalam teks aslinya, kata “Kuhajar” berarti “memukul berulang-ulang.” Tuhan memukul berulang-ulang orang yang dikasihi-Nya sebagai anak. Pukulan ini tidak menandakan bahwa Tuhan jahat dan senang melihat kita menderita. Namun, dibutuhkan rangsang atau impuls untuk memicu perubahan dalam diri kita. Untuk itulah Tuhan mendatangkan “pukulan” yang dapat menyadarkan kita. Sesungguhnya, ini adalah sebuah berkat yang tidak perlu kita takutkan atau curigai. Sebaliknya, kita harus mensyukuri dan menerima segala hal yang terjadi sebagai hal yang ada dalam kebijaksanaan Allah. Dalam pertimbangan dan kebijaksanaan Allah yang sempurna, Ia memberikan kita berbagai vitamin rohani yang menyehatkan. Dengan demikian, jika seseorang marah terhadap suatu keadaan dimana ia dilukai, disakiti atau dirugikan, sejatinya itu merupakan sikap tidak menerima kebijaksanaan Allah. Allah menunjukkan kebijaksanaan-Nya yang di dalamnya memuat berkat kekal untuk pembentukan dan proses perubahan kita dengan diizinkan-Nya keadaan dimana kita disakiti, dirugikan, dilukai orang.
    Seperti yang telah sering dikemukakan, Doa Bapa Kami bukan hanya formula kalimat doa, melainkan formula kehidupan. Formula kehidupan dari anak-anak Allah yang hendak dikembalikan kepada rancangan semula. Di antaranya ada kalimat, “Seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Hal ini menunjukkan formula kehidupan yang benar dibangun dari perjumpaan dengan peristiwa yang tidak nyaman, yaitu harus ada orang yang bersalah kepada kita. Jika kita tidak perlu berjumpa dengan orang yang menyakiti kita, tentu Tuhan tidak perlu menyatakan kalimat di atas. Dengan eksisnya kalimat di atas dalam Doa Bapa Kami, ini menunjukkan bahwa dalam formula kehidupan orang percaya, ada unsur pahit atau tidak nyaman yang akan diperjumpakan dengan kita semua.
    Untuk bisa menerima kebijaksanaan Allah ini, kita harus memiliki satu prinsip, yakni setiap orang yang mau sempurna seperti Yesus harus berada pada keadaan yang sama dengan Yesus. Maka lebih baik bagi kita menjadi seorang korban daripada pelaku. Ketimbang melakukan perbuatan jahat kepada orang lain, lebih baik bagi kita untuk dilukai. Sebab dengan dilukai tersebut, kita mengambil bagian yang sama dalam penderitaan Tuhan Yesus. Jika seorang petinju mau menjadi juara dunia, pasti ia cari sparing partner yang sesuai dengan kelasnya. Oleh karenanya, jika orang ingin menjadi seperti Yesus, tentu ia akan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang tidak mudah.
    Makin seseorang didewasakan Tuhan, tikaman terhadap dirinya makin dalam. Bukan hanya tindakan yang tidak menyenangkan, tetapi juga keadaan-keadaan dimana kita bisa dibawa kepada kerugian yang menyangkut nama baik atau harga diri kita. Orang yang melukai kita itu bisa saja orang jauh, tapi juga orang dekat. Bisa pasangan hidup, bisa orangtua, bisa anak kandung, bisa orang yang kita anggap menjadi teladan dan kita hormati, yang ternyata malah melukai kita. Kalau seseorang mau sempurna seperti Yesus, ia harus mendapat perlakuan seperti yang Yesus alami. Setiap kali mendapat perlakuan yang menyakitkan, merugikan, melukai, atau paling tidak keadaan dimana kita merasa tidak senang, kita harus sadar memang Tuhan yang mengizinkan hal tersebut untuk mewujudkan Do...
    0 min
  • Kepastian Dilukai
    Dalam kalimat Doa Bapa Kami terdapat kalimat: “ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Secara tersirat, terdapat sebuah indikasi bahwa pasti ada orang yang akan bersalah kepada kita. Frasa “seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” merupakan pertanda jelas bahwa kehadiran orang yang melukai kita tidak dapat terhindarkan. Dengan kalimat yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Doa Bapa Kami ini, pastilah kita akan mengalami keadaan dimana orang berbuat sesuatu yang menyakiti kita, merugikan kita, melukai kita, atau paling tidak, melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebenarnya kalimat ini secara tidak langsung pula hendak menunjukkan bahwa pengampunan bisa diberikan kepada orang yang layak diampuni. Sepintas, hal ini terdengar melanggar prinsip sola gratia; hanya oleh anugerah. Bahwa keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita merupakan anugerah, artinya pemberian tanpa melihat kelayakan kita yang menerima pemberian itu. Hal ini menyiratkan orang percaya tidak harus memenuhi syarat tertentu dan tidak harus membayarnya karena pemberian cuma-cuma. Untuk memahami hal ini, kita harus melihat kebenaran secara utuh.
    Pertama, kita harus mengerti apa itu keselamatan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula. Jadi kalau seseorang tidak sampai pada proses pembaharuan atau dikembalikan ke rancangan semula, berarti keselamatan itu gagal. Rancangan semula Allah itu adalah manusia agung yang modelnya adalah Tuhan Yesus. Jadi, ciri atau tanda dari orang yang diselamatkan adalah memiliki kehidupan yang modelnya adalah Tuhan Yesus. Untuk ini, seseorang harus memberi diri untuk diubah. Diubah dalam perjalanan proses pertobatan atau perubahan pikiran. Kalau orang tidak bersedia mengalami proses pembaharuan pikiran, berarti dia menolak untuk selamat; atau sama dengan “ia tidak percaya.” Sebab, percaya adalah tindakan, bukan hanya keyakinan akali semata. Contoh terbaik untuk menjelaskan tentang iman atau percaya adalah Abraham yang disebut bapa orang percaya. Kehidupannya menunjukkan dengan jelas bahwa seorang yang percaya kepada Tuhan adalah seorang yang bertindak.
    Jikalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, ia harus mau diubahkan. Tuhan berkata, “kalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak masuk surga” (Mat. 18:3). “Bertobat” artinya berbalik. Kata “anak” diterjemahkan dengan paidion, yakni usia efektif untuk dididik dan dibentuk. Jelas bahwa seseorang yang bertobat harus mau dididik dan dibentuk ulang oleh Tuhan. Pertobatan bukan sekadar tindakan pemutihan dosa seseorang, melainkan komitmen untuk diubah dan dibentuk. Seolah-olah dengan bertobat seseorang dapat melakukan apa yang dikehendakinya lagi semaunya. Sesungguhnya pertobatan membawa pada perubahan dalam diri orang percaya. Menolak berubah atau dibentuk oleh Tuhan sama dengan menolak untuk diselamatkan.
    Percaya atau tidaknya seseorang kepada Tuhan, tidak digerakkan oleh Tuhan. Jika seseorang dapat percaya kepada Tuhan, hal ini berangkat dari kesadaran orang tersebut. Jika seseorang sudah percaya kepada Tuhan, maka apakah percayanya sekadar pada pengaminan akali atau sungguh-sungguh dibuktikan dalam tindakan nyata, juga merupakan pilihan dari orang tersebut. Tuhan tidak menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebab, jika ada orang yang Tuhan arahkan untuk percaya dan memiliki iman yang benar sedangkan yang lain tidak, maka Tuhan adalah jahat. Tuhan menjadi baik bagi sebagian orang yang diselamatkan, namun menjadi jahat bagi mereka yang terbuang.
    Orang yang merespons keselamatan dengan benar, artinya mereka yang percaya ditandai dengan tindakan. Percaya merupakan sebuah proses panjang sampai dapat benar-benar hidup dalam kehendak-Nya. Jika dikaitkan dengan kepastian dilukai, maka seseorang yang tahu bahwa Tuhan bekerja dalam segala perkara akan menyiapkan dirinya menghadapi apa pun,
    0 min
  • Momentum Tuhan
    Alkitab berkata bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sebagaimana Paulus pun berkata, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Dalam hal ini, jelas bahwa seseorang dapat dituntut bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang diambil semasa hidupnya. Seseorang tidak bisa menimpakan ganjaran atas pilihan yang ia ambil semasa hidupnya kepada Tuhan. Oleh karenanya, sangat aneh atau absurd apabila ada orang berpikir bahwa ketika seseorang bisa berbuat baik dan berkenan, itu karena Tuhan yang membuatnya dapat demikian. Sesungguhnya, tidak ada satu pun oknum di luar diri manusia yang dapat membuatnya menjadi baik ataupun jahat. Manusia diberi kehendak bebas untuk menentukan nasibnya di bumi ini dan di kekekalan. Setiap pilihan individu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan pada hari penghakiman.
    Dengan mengatakan hal ini, bukan berarti Tuhan sama sekali tidak peduli terhadap orang percaya atau Tuhan bersikap acuh terhadap umat-Nya. Tuhan adalah sosok Guru yang senantiasa mendampingi umat-Nya melalui kehidupan ini untuk sampai di rumah-Nya yang abadi. Dalam proses kehidupan kita menjadi berkenan, Tuhan menyediakan kairos atau momentum untuk mengubah orang percaya. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa mengikut Yesus berarti belajar. Ada kesempatan atau momentum tertentu yang Tuhan sengaja hadirkan dalam hidup kita. Melalui kesempatan atau momentum tersebut, orang percaya hendak diajar untuk menyesuaikan dan mengubah diri sesuai yang dikehendaki-Nya. Dalam hal ini, orang percaya harus merespons pengalaman atau peristiwa yang Tuhan berikan dengan disiplin. Disiplin adalah sebuah pembiasaan yang ketat. Jadi, Tuhan tidak bisa mengubah kita tanpa proses. Maka dikatakan: “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28). Allah membutuhkan peristiwa, kejadian, dan momentum untuk bekerja dalam kehidupan manusia. Allah memiliki kairos untuk membentuk orang itu. Di sini respons individu sangat menentukan. Allah pasti memenuhi bagian-Nya, tetapi apakah seseorang merespons apa yang Allah berikan, itu sangat tergantung pada keputusan masing-masing individu.
    Jangan dikesankan bahwa apa pun keadaan orang percaya, yang penting percaya saja. Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk kita dan kita sudah dibenarkan secara otomatis. Kepercayaan ini sesungguhnya adalah kepercayaan pada ranah akali yang kelihatannya dogmatis atau teologis, namun menyesatkan. Ajaran seperti ini tidak memiliki implikasi kuat untuk mengubah orang percaya. Keyakinan dalam pikiran tanpa mekanisme yang jelas membutakan mata orang percaya terhadap kebenaran. Sehingga mereka menjadi orang-orang yang merasa tidak bermasalah ketika menjadi wajar di mata dunia. Sesungguhnya, ajaran yang benar harus dapat dipraktikkan dalam kehidupan konkret dan berimplikasi pada perubahan hidup yang radikal.
    Kebenarannya adalah setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing. Tuhan memberikan momentum bagi setiap orang percaya sesuai dengan pergumulan dan kebutuhan untuk mengubah orang tersebut. Namun momentum tersebut harus direspons dengan benar oleh orang percaya dengan melakukan apa yang dikehendaki Allah. Jika dikaitkan dengan pengampunan, maka setiap kita harus hidup dalam keharmonisan sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus dosa-dosanya. Kehadiran orang-orang yang melukai, memfitnah, melukai, merusak nama baik, atau membunuh karakter kita merupakan momentum yang Tuhan izinkan untuk mengubah kita.
    0 min
  • Menderita Bersama Tuhan
    Setiap orang percaya yang ingin disempurnakan seperti Yesus harus mengalami apa yang Yesus alami. Jika diilustrasikan dengan perlombaan kelas dunia, maka seseorang yang hendak memenangkan perlombaan tersebut harus memiliki kualitas kelas dunia. Jika seseorang ingin menjadi seperti Yesus, ia harus mengalami seperti yang dialami Yesus. Sama halnya dengan Paulus ketika ia berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Paulus menyadari bahwa panggilan hidup seperti Yesus berarti turut serta dalam kematian-Nya. Seseorang yang hendak mengikut Tuhan Yesus harus mengalami apa yang Ia alami, sampai tahap kematian dari seluruh keinginan. Oleh karenanya, jika Tuhan diludahi, dipukul, difitnah, maka tidak heran apabila kita pun harus mempersiapkan diri menghadapi semua itu dari orang lain yang kita temui.
    Tuhan mengajarkan kita apa yang Dia sendiri jalani. Di sinilah letak keagungan dari kekristenan, yakni kita dapat menjalani apa yang Tuhan telah jalani. Firman Tuhan mengatakan begini, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5:38-39). Makna dari teks ini adalah jikalau seseorang berbuat kejahatan, kita tidak boleh membalasnya dengan kejahatan. Sebaliknya, kita dikehendaki untuk mengampuninya. Ketika seseorang mengasihi sesamanya dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, maka Tuhan katakan ia memancarkan watak anak Allah. Tuhan berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga,” (Mat. 5:44-45). Jadi, keberadaan sebagai anak Bapa ditunjukkan dengan karakter yang sama dengan Tuhan Yesus, yakni mengasihi sesama dengan mengampuni.
    Akan tetapi, suatu hal yang tidak dapat dibantah adalah mengampuni orang bukan saja bisa dilakukan oleh orang Kristen. Orang-orang yang beragama lain (misalnya filosofi suatu agama dari dataran Tiongkok) juga mengajarkan pengampunan, bahkan tidak membalas kejahatan musuh dengan kejahatan. Dalam agama Kejawen juga terdapat filosofi serupa yang mengajarkan penganutnya untuk mengalah. Filosofinya adalah ngalah luhur wekasani, yang artinya mengalah untuk menang. Hal ini menunjukkan bahwa di luar Kristen terdapat banyak pandangan yang luhur. Oleh karenanya, kekristenan seharusnya memiliki kebenaran yang lebih dari itu karena kita memiliki standar untuk menjadi anak-anak Allah. Namun faktanya, tidak sedikit orang Kristen sulit mengampuni orang, bahkan ada yang sengaja melukai, menyakiti, merusak nama baik orang, dan memfitnah.
    Sebab itu Tuhan berkata, “kamu juga harus mengampuni.” Tuhan menujukan ini kepada orang percaya sebagai hal yang harus diperjuangkan dengan sungguh. Tuhan tidak membuat seseorang dapat mengasihi atau mengampuni. Seakan-akan ketika menerima Tuhan Yesus, orang percaya langsung bisa mengasihi orang lain karena diubah hatinya oleh Tuhan. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengasihi setiap orang, baik mereka yang berpihak atau berlawanan dengan kita. Bagi mereka yang berlawanan dengan kita, hendaknya setiap kita mampu mengampuni mereka. Hal ini kita lakukan karena kesadaran kita sebagai anak-anak Allah yang harus mencerminkan pribadi Bapa kita. Jika kita tidak mengampuni orang lain, kita akhirnya tidak berkeadaan sebagai anak.
    Dengan demikian, berkualitas seperti Yesus adalah sebuah kemutlakan. Kita harus bersedia mengalami apa yang telah dialami oleh-Nya. Mengalami apa yang dialami Tuhan berarti bersedia masuk dalam penderitaan untuk menjadi serupa dengan Dia. Paulus berkata, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…