Ada satu hal yang harus dengan serius kita perkarakan atau pikirkan, yaitu adanya setan dalam pikiran. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu, tetapi apakah kita memperkarakan hal ini dan mengantisipasi keadaan ini? Setan di dalam pikiran seperti yang dikatakan oleh Yesus ketika Ia berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau memikirkan bukan yang dipikirkan oleh Allah tetapi yang dipikirkan oleh manusia.” Yang harus kita perkarakan adalah pikiran-pikiran yang tidak membawa kita kepada kehidupan yang mengasihi Allah, pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan hati Allah, pikiran-pikiran yang tidak membuat orang lain terberkati, apalagi pikiran-pikiran yang memiliki rencana untuk melukai, menyakiti orang lain; semua itu harus kita singkirkan.
Kita harus selalu memperkarakan apa yang muncul di pikiran kita. Jangan kita merasa kita tidak memiliki kesalahan. Memang belum diekspresikan dalam bentuk tindakan, masih di dalam pikiran. Ketika kita memikirkan lawan jenis secara tidak senonoh, itu pun bisa merupakan dosa, dan itu bisa berkecamuk di dalam pikiran kita. Apalagi kalau melihat suatu kejadian, melihat film, atau mendengar suatu percakapan atau katakanlah impuls atau rangsangan dari luar. Yang jika impuls atau rangsangan itu salah atau sesuatu yang tidak baik ter-input dalam pikiran kita melalui mata atau telinga, pasti membangun pikiran dan pikiran itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus selalu memperkarakan, kita harus mempersoalkannya. Makanya, harus ada waktu dimana kita tidak banyak bicara, dan waktu yang paling tepat adalah waktu kita berdiam diri di kaki Tuhan dimana kita mengoreksi semua perkataan yang kita ucapkan dan mengoreksi gerak pikiran, perasaan kita. Hal itu sangat efektif.
Roh kudus pasti akan memberi tahu, tapi hal itu hanya akan menjadi sebuah simulasi saja, maksudnya bukan hanya saat kita berlutut di kaki Tuhan kita mengoreksi pikiran kita, melainkan di sepanjang waktu, setiap saat, kita harus memeriksa pikiran kita. Kalau ada hal-hal yang Tuhan tidak berkenan, harus segera kita buang. Jangan berpikir itu tidak bisa dilakukan. Ini penipuan terhadap diri sendiri, sebab kita bisa melakukannya! Apakah kita tetap membuangnya atau menyimpannya, tergantung pada diri kita sendiri. Seperti ketika kita berjalan di tempat gelap, kita bisa takut, bukan? Tetapi apakah kita menjadi takut atau berani, itu tergantung kita sendiri.
Tentu pengalaman-pengalaman seperti itu sudah dialami oleh banyak orang dan ada hamba Tuhan yang mengajarkan hal ini. Dari pengalaman hidupnya yang panjang, bagaimana waktu muda dia melewati kuburan di tengah malam, itu pelajaran mahal yang bisa dibagikan kepada kita. Dia menemukan cara untuk melawan takut, yaitu dengan berpikir tidak takut; “Aku tidak takut. Kalau aku tidak takut, tidak ada yang melarang saya. Kalau aku berpikir tidak takut, tidak ada yang memaksa saya menjadi takut. Aku tidak takut, titik.” Sama dengan seseorang dalam mengasihi Tuhan; tidak ada yang melarangnya untuk mengasihi Tuhan, tidak ada yang memaksanya untuk tidak mengasihi Tuhan, ini kemauan dari dirinya sendiri.
Demikian pula ketika ada muncul pikiran-pikiran di dalam diri kita. Kita yang berhak dan berkuasa untuk membuat pikiran itu menetap di dalam pikiran, dinikmati di dalam pikiran yang akhirnya bisa membuahi perbuatan, atau kita membuangnya. Kalau yang di-input itu pikiran yang baik mengenai kebenaran, kesucian hidup, langit baru bumi baru, menyelamatkan jiwa-jiwa, menangisi jiwa-jiwa, nilai jiwa-jiwa, itu positif. Dan kita menyimpannya, mengokohkannya di dalam diri kita, hingga akhirnya membuahkan tindakan untuk mewujudkan apa yang kita pikirkan yang positif tersebut.
Tetapi kalau yang masuk adalah hal-hal yang negatif, sesuatu yang tidak kudus, dan kita tetap memikirkannya, tidak kita buang bahkan kita renungkan, nikmati dalam pikiran, maka nanti pasti membuahkan perbuatan-perbuatan tidak senonoh. Maka,