Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kasih dan Keadilan Allah
     
    Dalam diri-Nya, Allah memiliki tatanan dalam menjalankan tata laksana pemerintahan semesta. Allah tidak dapat melawan tatanan yang terdapat dalam diri-Nya sendiri. Tatanan Allah ini bersifat permanen dan absolut. Permanen artinya tidak dapat berubah seiring ruang dan waktu. Absolut artinya tatanan dalam diri Allah tidak dapat dibatalkan oleh apa pun dan siapa pun, termasuk oleh diri-Nya sendiri. Tatanan ini menyebabkan keteraturan dalam diri Allah dan segala keputusan yang keluar dari-Nya. Tidak ada kontradiksi atau inkonsistensi yang dapat ditemukan dari diri Allah.
     
    Tatanan ini beririsan dengan hakikat-Nya yang mahakasih dan mahaadil. Hakikat Allah yang Mahakasih dan Mahaadil tidak bertentangan satu dengan lainnya. Banyak orang Kristen dan non-Kristen mempertanyakan pertemuan dua hakikat ini. Jika Allah mahakasih, mengapa Ia tidak mengampuni saja seluruh umat manusia? Mengapa Allah harus menghukum umat manusia yang tidak taat kepada-Nya? Bukankah Ia Allah yang Mahakasih? Kemunculan pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat dimengerti mengingat konsep Allah pada sebagian besar orang Kristen masih belum tepat. Allah dipandang berat sebelah pada diri-Nya yang penuh kasih, kebaikan, dan anugerah. Oleh karenanya, tidak heran apabila muncul pengajaran hyper-grace yang menekankan anugerah Allah yang menyelesaikan segala pelanggaran dan dosa manusia. Dosa dan pelanggaran manusia—bahkan Iblis—dapat diterima Allah dalam anugerah-Nya yang luar biasa. Anugerah semacam ini dapat dilihat sebagai anugerah murahan yang muncul dari pengenalan akan hakikat Allah yang tidak berimbang.
     
    Di sisi lain, ada kelompok yang menekankan keadilan dan ketegasan Allah. Akibatnya, sosok Allah dilihat sebagai sosok yang garang, penuh murka, dan tidak berbelas kasihan. Pandangan semacam ini telah muncul sejak abad pertama berdirinya gereja yang diwakili oleh sosok Marcion. Marcion melihat Allah Perjanjian Lama dan Allah Perjanjian Baru adalah Allah yang berbeda. Allah Perjanjian Baru dipandang sebagai Allah yang penuh kasih, sedangkan Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang jahat, garang, dan tidak berbelas kasih. Akibatnya, ia menolak Perjanjian Lama sebagai kitab-kitab untuk mengajar umat. Marcion melihat ketegasan dan keadilan Allah dalam Perjanjian Lama secara fatalistis dan tidak berimbang. Padahal, Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang sama yang ditemui pada Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus. Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang mengasihi umat-Nya dan penuh anugerah, sehingga Ia tidak memperhitungkan keadaan awal Israel ketika menebus mereka keluar dari Mesir. Jika sekiranya Allah melihat kepantasan dan kelayakan Israel, tentu mereka tidak akan dibebaskan dari Mesir. Namun pada faktanya, Allah tidak memperhitungkan kepantasan dan kelayakan Israel ketika membebaskannya dari Mesir. Allah setia pada perjanjian-Nya terhadap nenek moyang bangsa Israel, yakni Abraham, Ishak, dan Yakub.
     
    Sesungguhnya, sisi kasih dan keadilan Allah tidak dapat terpisahkan. Keduanya adalah hakikat Allah yang tidak terpisahkan atau non-dualistik. Dalam kasih-Nya, Allah menerima semua manusia melalui penebusan Putra Tunggal-Nya. Ia tidak memperhitungkan kepantasan dan kelayakan manusia ketika menyatakan kasih dan anugerah-Nya. Ketika Ia mengasihi dan menerima manusia, itu berarti Ia sungguh-sungguh menerima manusia tanpa syarat. Allah tidak berpura-pura menerima atau memaksa diri-Nya untuk menerima manusia. Ia adalah Allah yang kasih adanya. Namun di sisi lainnya, kasih Allah tidak membuat diri-Nya kehilangan kedaulatan untuk menegakkan keadilan.
     
    Dalam kasih-Nya, Ia menegakkan keadilan secara bersamaan sebagai Hakim yang membalas setiap orang menurut perbuatannya. Hal ini tidak perlu dipandang bertentangan atau kontradiktif. Justru dengan menegakkan keadilan, Allah menunjukkan kasih-Nya. Jika Allah tidak menunjukkan keadilan-Nya, maka Ia melanggar tatanan yang ada di dalam di...
    0 min
  • Tatanan Pengampunan
    Dalam Doa Bapa Kami, kita temukan kalimat: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Ini adalah kalimat yang penting dalam rangkaian Doa Bapa Kami. Hal pengampunan termuat di dalam rangkaian kalimat Doa Bapa Kami. Hal ini jelas menunjukkan bahwa hal pengampunan itu penting di dalam kehidupan. Apa pentingnya? Sebelum membahas hal pengampunan terkait dengan kesalahan orang terhadap kita, harus terlebih dahulu membahas mengenai pengampunan Allah yang diberikan kepada manusia, karena ini merupakan dasar atau landasan mengampuni orang lain. Banyak orang berpikir bahwa hal pengampunan itu adalah hal yang sederhana. Sehingga mereka tidak merasa perlu dibahas. Namun ternyata, kalau dipelajari, bukanlah sesuatu yang sederhana.
    Pengampunan menjadi suatu hal yang tidak sederhana ketika dipahami dari sudut pandang Allah. Pengampunan yang Allah berikan bukan sekadar tindakan Allah untuk memuaskan hati-Nya ataupun melegakan manusia yang diampuni. Pengampunan yang diberikan Allah berangkat dari hakikat-Nya yang Mahakasih. Allah adalah Allah Yang Mahakasih, sehingga Ia tidak mungkin tidak mengampuni manusia. Dalam hakikat-Nya ini, terpancar keagungan dan kemuliaan Allah dimana Ia dapat menerima keadaan manusia yang diciptakan-Nya. Hakikat Allah ini tetap atau tidak berubah. Hakikat-Nya tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar diri-Nya, sehingga keadaan manusia yang berdosa tidak mengubah hakikat Allah Yang Mahakasih.
    Kasih Allah ini dinyatakan dalam kehadiran Putra Tunggal-Nya untuk menebus dosa manusia. Dalam Yohanes 3:16 dinyatakan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat ini menyiratkan bahwa kasih Allah akan dunia ini memiliki bentuk yang dapat dipahami. Kasih Allah dinyatakan dalam bentuk kesediaan-Nya memberikan Putra Tunggal-Nya sebagai kurban tebusan bagi umat manusia. Dalam pengurbanan Tuhan Yesus, kasih Allah yang mengampuni umat manusia dapat direalisasikan. Tuhan Yesus menanggung dosa seluruh umat manusia dan memperdamaikan manusia dengan Allah. Akibatnya, murka Allah atas dosa manusia dapat dipadamkan dan terbuka peluang pemulihan hubungan antara Allah dan manusia. Manusia tidak lagi berada di bawah kutuk atau hukuman kekal, melainkan berpotensi untuk masuk dalam kehidupan kekal.
    Hakikat Allah Yang Mahakasih tidak boleh dipandang secara murahan. Terlepasnya manusia dari penghukuman karena kasih Allah yang dicurahkan melalui pengampunan bukan tujuan akhir dari pengampunan itu sendiri. Seakan-akan ketika manusia sudah diampuni, maka ia boleh bertindak semaunya sendiri karena sudah tidak berada di bawah hukuman. Jika demikian, maka pengampunan Allah merupakan suatu hal yang rendah dan tidak bernilai guna. Pengampunan Allah hanya berfungsi sebagai instrumen yang terkesan digunakan manusia untuk melegakan dirinya atas dosa yang telah dilakukan. Dosa seakan dipahami sebagai sebuah bidang kotor yang perlu dibersihkan dan cara untuk membersihkannya adalah permintaan ampun kepada Allah. Setelah meminta ampun, seolah-olah manusia kembali berhak untuk melakukan dosa lagi, asalkan setelah melakukannya ia harus kembali meminta ampun kepada Allah. Pengampunan semacam ini adalah pengampunan yang murahan dan tidak bernilai guna mengubah manusia.
    Pengampunan Allah terhadap manusia adalah pengampunan bernilai tinggi dan memiliki tatanan yang jelas. Pengampunan Allah pertama-tama memang dikerjakan atas inisiatif Allah sendiri melalui Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada manusia yang dapat diampuni jika Tuhan Yesus tidak mati di atas kayu salib. Dalam kematian-Nya, manusia diperdamaikan dengan Allah dan mereka yang menerima-Nya dimungkinkan untuk menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12). Secara de jure, manusia telah dibenarkan di hadapan Allah. “Dibenarkan” di sini maksudnya dianggap benar,
    0 min
  • Catatan dalam Genggaman
    Pernahkah kita membayangkan seandainya kita menghadap takhta pengadilan Kristus lalu Tuhan bertanya: “Apa yang ada dalam genggamanmu itu?” Mungkin genggaman kita seperti tidak ada apa-apa, tetapi di dalam genggaman itu ada catatan kita. Catatan itu memuat apa yang kita sayangi, kita kasihi, kita nikmati, yang mengikat kita sampai kita meninggal dunia. Anda dan saya meninggal tidak membawa apa-apa. Tetapi, goresan catatan itu ada dalam genggaman tangan kita, ada dalam telapak tangan kita, dan tidak ada yang dapat kita sembunyikan, ataupun tidak bisa kita hapus. Jadi, pada waktu kita meninggal, kita mencoba menghapus catatan itu, tidak bisa. Sudah tertulis di situ. Belum lagi dosa-dosa yang dinikmati yang belum terselesaikan.
    Betapa mengerikan keadaan ketika kita harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus dengan catatan di kedua telapak kita. Mengerikan sekali! Kita ingin bisa membuangnya, tapi tidak bisa. Mestinya, selagi kita hidup di dunia ini adalah kesempatan membuang semua catatan itu, sehingga ketika kita meninggal nanti, tidak ada yang kita genggam lagi. Pada waktu kita menutup mata, kedua lengan kita bersih. Ada satu kalimat lagu yang penulis gubah, kalimatnya begini: “Saat kupulang menghadap Bapa, hanya Engkau yang kumiliki…” Jadi, catatan yang kita miliki cuma satu: Yesus.
    Ada perjuangan untuk menghapus catatan itu karena jiwa kita terlanjur melekat dengan catatan tersebut. Bahkan dalam stadium tertentu, orang sampai tingkat kecanduan. Makanya ketika kita menyenangkan diri kita dengan suatu kesenangan, kesenangan itu menggores di dalam jiwa. Dipuaskan lagi, lebih menggores. Kalau terus-menerus dilakukan secara berlarut-larut dalam waktu yang lama, goresannya makin dalam sampai tidak bisa dihapus lagi. Misalnya orang senang disanjung dan ia mencari sanjungan. Setiap kali disanjung, ia menikmati itu menjadi goresan. Ia kecanduan untuk mencari sanjungan itu. Dia berusaha ini, dia berusaha itu, dia melakukan banyak hal yang intinya dia ingin memperoleh sanjungan. Akhirnya, kita tidak lagi mampu menghapus goresan tersebut, sampai goresan tersebut menjadi goresan yang abadi.
    Sampai tingkat ini sudah berat, sudah tidak bisa dihapus, dan ini musibah. Benar-benar celaka ketika seseorang menghadap takhta pengadilan Kristus, dia tidak boleh masuk surga karena orang yang masuk surga harus hanya memiliki satu harta, yaitu Yesus. Tuhan mengatakan, “Kamu tidak bisa mengabdi pada dua tuan,” artinya harus hanya mengabdi pada Tuhan; tidak bisa mengabdi pada yang lain. Menghapus catatan itu tidak mudah karena sudah menyatu dalam diri kita. Tetapi oleh karena kebenaran Firman Tuhan yang kita dengar, kita bisa menghapus goresan itu. Dan Tuhan akan mengizinkan kita mengalami banyak persoalan yang melalui pergumulan hidup tersebut, kita diubahkan Tuhan menjadi seseorang yang berkenan di hadapan Tuhan. Kita diubahkan Tuhan dengan peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami dan perubahan tersebut akan membuat kita sampai tidak mengingini apa pun dan siapa pun selain Tuhan.
    Seperti pemazmur mengatakan, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” kita harus memiliki perasaan takut. Takut ketika menghadap Tuhan, apakah masih ada sesuatu yang kita genggam. Ketika Tuhan bertanya: “Apa yang kamu genggam?” Tidak ada lagi. Dan Tuhan tahu, ketika yang kita genggam ini hanya nama-Nya, dan kita baru bisa dikatakan sebagai perawan suci. Dikatakan sebagai “perawan suci” itu artinya perawan yang tidak ternoda. Ini tidak bicara mengenai seks, tidak bicara mengenai keperawanan dalam arti harfiah, melainkan orang yang hatinya tidak ternoda oleh keinginan-keinginan dunia. Orang yang hatinya hanya tertuju pada Tuhan Yesus, pasti dalam genggamannya hanya ada satu nama, yaitu nama Yesus; tidak ada nama lain.
    Untuk menghapus keinginan-keinginan dunia, bukanlah sesuatu yang mudah. Tuhan tidak memberikan mukjizat atau kasih karunia sehingga kita bisa dengan mudah menghapus ikatan-ikatan kita dengan dunia ini.
    0 min
  • Meninggalkan Dunia
    Kalau kita sering mendengar bahwa kita harus meninggalkan dunia ini, tentu bukan berarti kita harus pergi ke tempat sepi di kesunyian, jauh dari keramaian. Pada dasarnya, meninggalkan dunia adalah hidup dengan cara hidup yang berbeda dengan anak-anak dunia yang tidak berkomitmen menjadi serupa dengan Yesus. Meninggalkan dunia juga berarti mengenakan selera ilahi, selera rohani dalam menjalani hidup. Kita masih bisa merasakan gula itu manis, tapi manisnya gula yang kita nikmati hari ini beda dengan manisnya gula yang kita nikmati sebelum kita memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Kita bisa melihat pemandangan alam karena pemandangan alam itu indah, dan Allah yang ciptakan. Tetapi selera kita, cita rasa kita, suasana hati kita dalam menikmati pemandangan alam hari ini berbeda dengan anak-anak dunia dan berbeda dengan kita dulu. Kita bisa naik mobil bagus, tidak mogok, yang AC-nya baik, shock breaker-nya bagus, bisa kita nikmati. Tapi suasana hati kita menikmati mobil itu berbeda dengan anak-anak dunia yang tidak berkomitmen meninggalkan dunia dan berbeda dengan kita sendiri dulu, sebelum kita berkomitmen meninggalkan dunia. Ini harus kita tahu. Dalam menjalani hidup dengan pasangan, kita harus memenuhi tanggung jawab dalam segala aspeknya. Tetapi berbeda dengan dulu sebelum berkomitmen.
    Orang yang meninggalkan dunia bisa menikmati apa pun yang Allah sediakan selama itu tidak melanggar kekudusan. Makan, minum, seks, musik, pemandangan alam, dan sebagainya. Tetapi tidak terikat dan tidak menjadikan semua keindahan, semua kenikmatan di dunia ini sebagai pelabuhan hatinya. Sukacita kita, Tuhan. Kebahagian kita, Tuhan. Dengan menikmati sukacita dan kebahagiaan Tuhan, maka kita bisa menikmati apa pun yang Tuhan berikan. Makanan menjadi lebih enak, tidur bisa jadi lebih nyenyak. Kalau kita menikmati pemandangan alam, terasa pemandangan indah. Kita menikmati musik juga bisa. Kita menikmati musik instrumen klasik juga terasa lebih enak didengar telinga. Itu ciri orang yang meninggalkan dunia. Bukan berarti tidak menikmati sarana yang ada di bumi ini. Tuhan menciptakan semua ini untuk dinikmati, tapi cara menikmatinya beda, sebab dengan suasana jiwa atau hati yang beda.
    Orang yang meninggalkan dunia akan menikmati apa pun bersama dengan Tuhan. Ia tidak akan menikmati sesuatu kalau Tuhan tidak nyaman di situ. Kalau kita ada di sebuah tempat, dan kita menikmati tempat atau keadaan tesebut, tapi kalau Tuhan tidak nyaman di situ, kita harus meninggalkan tempat itu dan kita pun ikut merasa tidak nyaman. Kita menonton film-film yang tidak patut, pasti Tuhan merasa tidak nyaman bersama dengan kita. Kita menyanyikan lagu atau mendengar lagu yang Tuhan tidak nyaman mendengarkannya, kita ikut tidak nyaman dan kita tidak meneruskannya.
    Orang yang meninggalkan dunia adalah orang yang tidak terikat. Jangan lupa nanti di langit baru bumi baru keadaannya seperti bumi ini. Jadi, surga itu seperti pengulangan dunia ini, tetapi di sana sempurna. Kalau kita tidak bisa menikmati apa yang Tuhan berikan di bumi ini, bagaimana bisa kita menikmati surga? Jadi, jangan kita berpikir mau menjadi orang suci, mau meninggalkan dunia, kita sengaja tidak makan, kita sengaja tidak menyentuh musik. Kita sengaja tidak hidup wajar supaya nanti kita bisa ke surga. Surga itu pun alam fisik kita seperti bumi ini dengan segala fasilitas yang ada. Kita harus bisa menikmati dunia ini dengan cara anak Allah, dengan suasana jiwa anak Allah, dan kita menikmatinya bersama dengan Tuhan yang menyertai kita. Itu artinya meninggalkan dunia.
    Orang yang meninggalkan dunia adalah orang yang menjadikan segala sesuatu yang dilakukan untuk kepentingan Kerajaan Surga, dan di situ dia ikut menikmatinya. Segala sesuatu yang dia miliki, dia persembahkan untuk kepentingan Kerajaan Surga. Kepentingan Kerajaan Surga itu pada intinya adalah memberitakan Injil kepada orang yang belum mendengar Injil, dan mengubah orang untuk serupa dengan Yesus sesuai dengan mandat Tuhan Y...
    0 min
  • Suasana Surga
    Salah satu penyebab mengapa orang tidak merindukan surga adalah karena ia tidak menikmati suasana surga sejak hidup di bumi. Dulu ada lagu yang kalimatnya: “Suasana surga turunlah.” Lagu itu sering dinyanyikan pada tahun 1970-1980an. Suasana surga artinya apa? Suasana surga adalah suasana kehadiran Tuhan dalam hidup seseorang dimana orang itu bisa menikmati damai sejahtera Allah. Masalahnya adalah bagaimana orang bisa menikmati Allah yang tidak kelihatan dan bisa menikmati damai sejahtera-Nya? Ini rahasianya. Orang yang menikmati atmosfer Kerajaan Allah adalah orang yang tidak membutuhkan apa-apa dan tidak membutuhkan siapa-siapa selain Tuhan. Sukacitanya ditopang oleh kerinduannya untuk menyukakan hati Allah dan bisa merasakan hadirat Tuhan setiap saat. Di situ orang baru bisa merasakan atmosfer Kerajaan Allah atau suasana surga. Kalau seseorang memiliki suasana jiwa yang sukacitanya ditopang oleh uang, fasilitas dunia atau materi, pujian, sanjungan, kehormatan manusia, kedudukan, dan lain sebagainya, maka tidak ada atmosfer Kerajaan Allah yang hadir.
    Seseorang bisa merasakan atmosfer Kerajaan Allah kalau ia sudah benar-benar tidak mengharapkan kebahagiaan apa-apa dari dunia ini. Memang hal ini sulit sekali dialami oleh orang-orang muda. Bahkan, orang tua-orang tua pun sulit bisa merasakan dan mengalami hal ini kalau mereka belum patah hati terhadap dunia. Kita harus melihat realitas kalau dunia memang tidak membahagiakan. Kalaupun memberikan kesenangan, itu adalah kesenangan sementara, kesenangan semu, dan orang percaya pun tidak bisa merasakan kebahagiaan kalau melihat orang lain menderita. Ketika seseorang melihat tragisnya hidup ini dan melihat—apalagi mengalami tragisnya hidup seperti ditinggal oleh orang yang dicintai, dikhianati orang yang dicintai, ditipu, selalu ditindas, selalu diperlakukan tidak adil, gagal dalam banyak hal—maka orang-orang seperti ini berpotensi memindahkan hatinya ke Kerajaan Surga. Hal ini berpotensi untuknya merasakan kehadiran Allah, yaitu jika dia berhenti mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Tetapi orang-orang seperti ini juga berpotensi menoleh ke belakang kalau tidak dewasa dalam arti matang rohaninya. Ada peluang untuk menoleh ke belakang.
    Oleh sebab itu, dalam suasana dimana seseorang merasa gagal, tertindas, tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari dunia ini, justru ia harus belajar kebenaran dengan tekun, berkomitmen dengan bulat meninggalkan dunia, dan memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Dan harus diketahui juga, suasana hidup yang dialami itu pun harus diterima sebagai anugerah, jangan merasa malang. Jangan pernah bertanya: “mengapa orang lain tidak mengalami seperti yang aku alami?” Seakan-akan kita memang orang yang dilukai oleh Allah. Sebenarnya, di balik semua yang diizinkan Allah terjadi dan berlangsung dalam hidup kita, terdapat berkat kekal. Ketika seorang wanita dikhianati oleh seorang pria sehingga dia patah hati, dia tidak mau lagi berhubungan dengan pria-pria lain, bahkan ia tidak mau menikah. Dia pikir semua pria sama seperti laki-laki yang mengkhianatinya. Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang sampai bunuh diri, karena tidak ada yang diharapkan lagi dari dunia, sebab kebahagiaannya hanya tertuju pada pria itu. Sekarang dirinya dikhianati, sehingga dia tidak lagi memiliki seseorang yang menyayanginya dan didamba.
    Situasi hidup seseorang yang seperti itu—gagal dalam karier, gagal studi, dikhianati orang, selalu tertindas, dan lain-lain—bisa mengondisi dia untuk bunuh diri. Tapi, yang kita bunuh bukan diri kita. Yang kita bunuh adalah semua hasrat yang ada dalam diri kita untuk menikmati dunia ini, kita gantikan untuk menikmati Tuhan dan Kerajaan-Nya saja. Kita harus berkomitmen memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan itu efektif sekali. Situasi itu sangat kondusif untuk membuat kita memindahkan hati di Kerajaan Allah. Kita harus merasa bahwa kita adalah orang yang istimewa. Kalau mengalami hal ini, berarti kita adalah orang yang istimewa; kita ...
    0 min
  • Setan dalam Pikiran
    Ada satu hal yang harus dengan serius kita perkarakan atau pikirkan, yaitu adanya setan dalam pikiran. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu, tetapi apakah kita memperkarakan hal ini dan mengantisipasi keadaan ini? Setan di dalam pikiran seperti yang dikatakan oleh Yesus ketika Ia berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau memikirkan bukan yang dipikirkan oleh Allah tetapi yang dipikirkan oleh manusia.” Yang harus kita perkarakan adalah pikiran-pikiran yang tidak membawa kita kepada kehidupan yang mengasihi Allah, pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan hati Allah, pikiran-pikiran yang tidak membuat orang lain terberkati, apalagi pikiran-pikiran yang memiliki rencana untuk melukai, menyakiti orang lain; semua itu harus kita singkirkan.
    Kita harus selalu memperkarakan apa yang muncul di pikiran kita. Jangan kita merasa kita tidak memiliki kesalahan. Memang belum diekspresikan dalam bentuk tindakan, masih di dalam pikiran. Ketika kita memikirkan lawan jenis secara tidak senonoh, itu pun bisa merupakan dosa, dan itu bisa berkecamuk di dalam pikiran kita. Apalagi kalau melihat suatu kejadian, melihat film, atau mendengar suatu percakapan atau katakanlah impuls atau rangsangan dari luar. Yang jika impuls atau rangsangan itu salah atau sesuatu yang tidak baik ter-input dalam pikiran kita melalui mata atau telinga, pasti membangun pikiran dan pikiran itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus selalu memperkarakan, kita harus mempersoalkannya. Makanya, harus ada waktu dimana kita tidak banyak bicara, dan waktu yang paling tepat adalah waktu kita berdiam diri di kaki Tuhan dimana kita mengoreksi semua perkataan yang kita ucapkan dan mengoreksi gerak pikiran, perasaan kita. Hal itu sangat efektif.
    Roh kudus pasti akan memberi tahu, tapi hal itu hanya akan menjadi sebuah simulasi saja, maksudnya bukan hanya saat kita berlutut di kaki Tuhan kita mengoreksi pikiran kita, melainkan di sepanjang waktu, setiap saat, kita harus memeriksa pikiran kita. Kalau ada hal-hal yang Tuhan tidak berkenan, harus segera kita buang. Jangan berpikir itu tidak bisa dilakukan. Ini penipuan terhadap diri sendiri, sebab kita bisa melakukannya! Apakah kita tetap membuangnya atau menyimpannya, tergantung pada diri kita sendiri. Seperti ketika kita berjalan di tempat gelap, kita bisa takut, bukan? Tetapi apakah kita menjadi takut atau berani, itu tergantung kita sendiri.
    Tentu pengalaman-pengalaman seperti itu sudah dialami oleh banyak orang dan ada hamba Tuhan yang mengajarkan hal ini. Dari pengalaman hidupnya yang panjang, bagaimana waktu muda dia melewati kuburan di tengah malam, itu pelajaran mahal yang bisa dibagikan kepada kita. Dia menemukan cara untuk melawan takut, yaitu dengan berpikir tidak takut; “Aku tidak takut. Kalau aku tidak takut, tidak ada yang melarang saya. Kalau aku berpikir tidak takut, tidak ada yang memaksa saya menjadi takut. Aku tidak takut, titik.” Sama dengan seseorang dalam mengasihi Tuhan; tidak ada yang melarangnya untuk mengasihi Tuhan, tidak ada yang memaksanya untuk tidak mengasihi Tuhan, ini kemauan dari dirinya sendiri.
    Demikian pula ketika ada muncul pikiran-pikiran di dalam diri kita. Kita yang berhak dan berkuasa untuk membuat pikiran itu menetap di dalam pikiran, dinikmati di dalam pikiran yang akhirnya bisa membuahi perbuatan, atau kita membuangnya. Kalau yang di-input itu pikiran yang baik mengenai kebenaran, kesucian hidup, langit baru bumi baru, menyelamatkan jiwa-jiwa, menangisi jiwa-jiwa, nilai jiwa-jiwa, itu positif. Dan kita menyimpannya, mengokohkannya di dalam diri kita, hingga akhirnya membuahkan tindakan untuk mewujudkan apa yang kita pikirkan yang positif tersebut.
    Tetapi kalau yang masuk adalah hal-hal yang negatif, sesuatu yang tidak kudus, dan kita tetap memikirkannya, tidak kita buang bahkan kita renungkan, nikmati dalam pikiran, maka nanti pasti membuahkan perbuatan-perbuatan tidak senonoh. Maka,
    0 min
  • Terhilang Dalam Gereja
    Di dalam Injil Lukas 15, kita bisa membaca kisah mengenai anak yang terhilang. Tentu kita sudah belajar bahwa anak yang terhilang itu bukan hanya satu, melainkan sejatinya, yang terhilang adalah kedua. Yang satu, hilang dari rumah bapaknya. Dia pergi menghambur-hamburkan uang. Dan yang kedua, kakaknya, hilang di dalam rumah. Ketika si Bungsu pulang dan ayahnya menyambut si Bungsu dengan mengadakan pesta, si Sulung tidak mau masuk rumah. Sampai perumpamaan itu diakhiri oleh Yesus, tidak ada penjelasan apakah si Sulung akhirnya masuk rumah atau tidak. Sang Bapak pergi menemui si Sulung untuk memberikan pengertian kepada si Sulung yang sedang marah. Ia tidak mengerti mengapa adiknya yang sudah memberontak itu masih diterima pulang, bahkan Sang Ayah mengadakan pesta menyambut kepulangannya.
    Dari pernyataan tersebut, jelas si Sulung tidak memiliki hati yang seirama dengan ayahnya. Dengan sikapnya yang tidak mau masuk rumah, sebenarnya ia mempermalukan ayahnya. Ia “menampar” muka ayahnya di depan tamu-tamu undangan, di depan para hamba ayahnya. Jadi, si Sulung ini menyakitkan hati sang Bapak. Bahkan, akhirnya si Sulung lebih menyakitkan hati ayahnya dibanding adiknya yang pernah terhilang dan sudah kembali. Jadi, ada yang hilang di luar rumah tetapi kembali, dan ada yang hilang di dalam rumah dan mungkin tidak pernah kembali.
    Dari kisah ini kita belajar, jangan karena kita merasa kita sudah menjadi orang Kristen yang rajin ke gereja, berarti kita tidak terhilang. Jangan karena kita merasa sebagai aktivis gereja, majelis, kita bukan orang terhilang. Bahkan, tidak jaminan seorang pendeta  tidak terhilang, walaupun ia memiliki jabatan rohani dan disebut rohaniwan. Apa yang menjadi ciri dari orang terhilang itu? Untuk ini, kita tidak boleh memahaminya secara dangkal. Kalau seseorang tidak pernah ke gereja, mabuk-mabukan, pergi ke tempat pelacuran atau melakukan pembunuhan atau perjudian, berarti mereka adalah orang yang terhilang, benar. Tapi jangan naif. Kalau yang dikategorikan sebagai orang terhilang hanya sebatas itu, maka kita ada dalam bahaya. Kita bisa tidak sadar kalau kita sendiri adalah orang terhilang.
    Ketika seseorang tidak menangkap pikiran, perasaan Allah, tidak tahu apa kehendak Allah dalam hidupnya, ia terhilang. Seperti si Sulung, ia ada di dalam rumah tapi tidak tahu apa yang diingini ayahnya. Orang Kristen, aktivis, bahkan pendeta sekalipun, kalau tidak tahu apa yang diingini Allah Bapa dalam hidupnya, dia terhilang. Memang mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagaimana si Sulung melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Dia membantu orangtuanya dengan baik. Makanya si Sulung berkata bahwa dia sudah membantu orangtuanya, tetapi seekor anak kambing pun tidak diberikan, padahal yang dimiliki ayah juga merupakan milik dia. Sang Ayah berkata bahwa apa ia (sang Ayah) miliki adalah milikinya (si Sulung) juga. Namun, si Sulung rupanya tidak seirama dengan ayahnya, dia terhilang di dalam rumah.
    Ini merupakan gambaran dari orang-orang Kristen yang ada di dalam gereja, tetapi tidak seirama dengan Allah Bapa. Pekerjaan gereja dilakukan, tetapi banyak motivasi terselubung di balik kegiatan pelayanan tersebut. Bukan tidak mungkin itu semua hanya sebuah kamuflase atau sarana untuk mendapatkan keuntungan materi atau harga diri atau sanjungan, dan lain-lain. Ciri orang yang terhilang adalah tidak makin seperti Yesus, tidak memiliki perasaan Yesus. Pikiran, perasaan Kristus adalah mengasihani musuh, ditempeleng pipi kanan beri pipi kiri, mengerti orang lain, memaafkan, rela berkorban, berkorban tanpa batas. Yang begini sudah jarang kita temukan di gereja. Dari pemantauan penulis sejak lebih dari 40 tahun melayani pekerjaan Tuhan, penulis melihat pertikaian di dalam gereja, saling menyingkirkan, saling mengata-ngatai, saling memburuk-burukkan di belakang, sampai fitnah, menikam dari belakang, mengkhianati. Bahkan, di dalam lingkungan gereja ada orang-orang yang dibesarkan oleh pendetanya penuh kasih sayang tapi ...
    0 min
  • Menjebak Diri Sendiri
    Kita harus berani menjebak diri kita sendiri atau menyulitkan diri kita sendiri demi keselamatan kekal. Maksudnya adalah kita harus berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kita harus berani berkomitmen meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya; kita harus berani berkomitmen untuk menyerahkan seluruh hidup kita tanpa batas untuk kepentingan Kerajaan Surga, yang itu semua dirangkum dengan kalimat: tidak minta apa pun dari Tuhan kecuali berkenan pada-Nya. Sebenarnya, ada kerinduan itu dalam hati kita. Hanya, sering kali tidak kita kobarkan sehingga tenggelam dengan berbagai kesenangan, keinginan, hasrat yang hilir mudik dalam pikiran kita, dan kadang-kadang tersangkut sehingga akhirnya kita bisa terjebak pada keinginan-keinginan dunia atau bahkan dosa-dosa.
    Supaya kita tidak terjebak dengan dosa-dosa dan keinginan-keinginan dunia tersebut, kita menjebak diri kita dengan komitmen. Kita harus berani berkomitmen. Memang kita harus berhati-hati kalau mengucapkan nazar. Ini bukan sesuatu yang murahan, ini prinsip. Misalnya kalau kita bernazar, “Kalau nanti aku selesai kuliah, aku mau menjadi pendeta,” atau “Nanti kalau bisnis ini berhasil, aku persembahkan sekian persen untuk gereja.” Sebaiknya, kita tidak usah bernazar seperti begitu. Nazar kita bukan begitu. Dalam hal ini, kita akan menggunakan kata “komitmen, janji.” Kita membuat perjanjian dengan Allah bahwa aku mau hidup tidak bercacat, tidak bercela, walaupun sebenarnya kita berkeadaan belum mampu melakukannya. Tapi Tuhan akan memberikan kemampuan. Yang kedua, aku memindahkan hati ke langit baru bumi baru, aku tinggalkan percintaan dunia. Yang ketiga, aku mau sungguh-sungguh hidup untuk kepentingan Tuhan.
    Dengan komitmen ini, kita baru bisa memindahkan hati kita ke Kerajaan Surga, dan ini standar karena Yesus sendiri berkata bahwa kita tidak berasal dari dunia ini. Kesediaan kita menjebak diri kita sendiri sebenarnya seperti seorang yang membawa diri ke satu mezbah untuk dikurbankan. Seperti domba yang dibawa ke sebuah mezbah kurban, dipotong-potong, dibakar habis seluruhnya, harus berani. Saya kira orang-orang yang memberi diri menjadi relawan ke Suriah, menjadi tentara atau milisi ISIS itu ada juga yang ragu-ragu, tetapi dia menguatkan hatinya, dia meneguhkan hatinya, lalu dia mau tidak mau harus pergi. Ketika dia sampai di Suriah, dia harus berani mempertaruhkan semuanya.
    Untuk indoktrinasi seperti itu, orang bisa nekat. Saya tidak katakan itu salah atau benar, itu bukan urusan saya untuk menilai. Tapi yang saya lihat, komitmennya—bukan tidak mungkin—sempat mengalami keraguan. Tetapi ketika dia terus menguatkan komitmennya, jadilah langkah itu. Demikian pula kita. Mungkin ada keraguan, tetapi pilihan ini adalah pilihan luar biasa. Tidak akan pernah disesali karena ini menyangkut kekekalan.
    Seorang hamba Tuhan berdoa suatu hari, “aku berjanji tidak minta apa-apa selain menjadi anak kesukaan-Mu.” Ketika dia mengatakan itu, ada keraguan, tetapi tidak ada pilihan lain. Ini adalah pilihan yang sangat menguntungkan untuk hidup kekal dan harta surgawi yang tiada tara. Ketika hamba Tuhan itu menetapkan hatinya demikian, dia menjebak dirinya, dia menjerumuskan dirinya pada wilayah komitmen yang berat. Hidup ini hanya sekali. Mengapa kita tidak berani berkomitmen untuk nilai-nilai kekekalan.
    Jangan seperti orang kaya di Lukas 19 yang ketika mendengar syarat mengikuti Yesus adalah menjual segala miliknya dan membagikannya ke orang miskin, dia pergi dengan sedih, sebab kata firman Tuhan, hartanya banyak. Ingat, bukan sebab dia tidak ditentukan selamat, melainkan hartanya banyak. Dia memilih untuk mencintai hartanya. Itu masalahnya. Beda dengan Zakheus. Dia menyambut Yesus datang ke rumahnya, dia memberi separuh hartanya pada orang miskin, dan jika ada orang yang pernah dia peras, dia kembalikan 4 kali lipat. Yesus berkata, “keselamatan terjadi atas rumah ini.” Kalau Zakheus tidak melangkah melepaskan kekayaannya,
    0 min
  • Menembus Batas
    Fokus pelayanan gereja haruslah sungguh-sungguh mempersiapkan jemaat menjadi mempelai yang layak bagi Kristus, artinya menjadi orang-orang yang hidup tidak bercacat, tidak bercela atau kalimat lain, melakukan kehendak Bapa. Untuk melakukan kehendak Bapa, orang percaya harus memiliki kepekaaan terhadap apa yang menjadi selera Bapa. Maka untuk itu, ia harus belajar kebenaran. Jadi, kebenaran-kebenaran itu bukan hanya membuat pikiran menjadi pintar berteologi, melainkan membuat seseorang memiliki kecerdasan rohani, sehingga bisa mengerti kehendak Allah; apa yang baik, berkenan, dan sempurna. Maka, kebenaran tidak boleh kurang, harus selalu disampaikan terus-menerus. Belajar kebenaran itu mutlak; semutlak makan. Orang tidak makan dan tidak minum, mati. Orang yang tidak belajar kebenaran, mati rohaninya.
    Gereja—dalam hal ini para pelayan jemaat, para pendeta—harus memiliki perasaan krisis terhadap kenyataan dunia kita yang sekarang ini sudah semakin jahat. Banyak jemaat yang telah tertarik, terpikat, dan terhanyut oleh dunia ini. Sehingga mereka tidak fokus terhadap kehendak Allah, mereka tidak peduli akan kehendak Allah, mereka hanya peduli apa yang menjadi keinginan mereka. Mereka hanya peduli materi dengan fasilitas dunia, dengan kesenangan dunia dan segala hiburan, sehingga jemaat tidak dipersiapkan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Gereja sendiri—tentu tidak semua gereja—berfokus pada masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Ciri gereja seperti itu adalah pemutusan kutuk-kutuk kemiskinan, kutuk sakit-penyakit, dan berbagai kutuk yang orientasinya pada berkat jasmani. Maka, tanpa disadari, fokus jemaat pun tertuju pada dunia ini. Seperti halnya Doa Yabes, yang mana orientasinya masih alam berpikir umat Perjanjian Lama, dan fokusnya masih pada berkat jasmani di bumi ini. “Berkat yang berlimpah” adalah berkat jasmani, sedangkan “yang diperluas” adalah tanah di bumi ini. Kemudian, mereka berdalih bahwa berkat yang dimaksud adalah berkat rohani, dan tanah yang diperluas adalah hal perluasan Kerajaan Allah. Jelas hal itu dipaksakan. Maka, kita tidak boleh mengambil Doa Yabes sebagai doa wajib umat Perjanjian Baru.
    Ayat-ayat dalam Perjanjian Baru sudah cukup berlimpah. Doa Yabes diangkat ke permukaan, dinyanyikan, menjadi sebuah doa wajib pada akhir kebaktian yang mana mengarahkan jemaat pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau kita memang mau berlimpah secara materi, maka kita harus kerja keras. Bukan salah memiliki berkat jasmani yang berlimpah, tetapi harus dari hasil kerja keras, bukan karena Allah memberikan kemudahan. Allah kita tidak akan melanggar hukum-Nya; hukum yang ditetapkan-Nya adalah apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Kita sekarang harus mulai mengerti bahwa fokus orang percaya adalah batin yang diubah terus untuk menjadi serupa dengan Yesus. Kalau kita mengalami proses perubahan itu dengan benar; mengalami proses keselamatan dengan benar, kita akan menjadi orang yang layak didudukkan sebagai mempelai bagi Kristus dan layak masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan, sehingga kita pasti memiliki kerinduan yang kuat terhadap langit baru bumi baru; kita memiliki kerinduan yang kuat untuk pulang ke surga. Sekarang ini, hampir kita tidak menemukan orang yang betul-betul rindu ke surga.
    Jika seseorang benar-benar telah mengalami proses pertumbuhan rohani dengan melakukan kehendak Bapa, hal itu merupakan sesuatu yang menembus batas. Bukan hanya menjadi orang baik, bukan hanya dipandang sebagai orang yang melakukan hukum secara santun, melainkan bisa berpikir seperti Allah berpikir sesuai Firman Tuhan; memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Orang-orang seperti ini baru bisa menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, dan pasti tidak akan terikat lagi dengan keindahan dunia. Orang-orang seperti ini baru bisa memiliki kerinduan pulang ke surga. Seperti anak di bawah 10 tahun atau di bawah 15 tahun, ketika dijanjikan pergi ke tempat wisata,
    0 min
  • Akhirnya, Ditolak!
    Satu hal yang sungguh-sungguh menyedihkan adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang sebenarnya masih ada di bawah bayang-bayang maut kebinasaan dan tertolak dari hadapan Tuhan, tetapi mereka tidak menyadari keadaan itu. Mereka merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, sudah merasa sebagai anak-anak Allah, lalu sudah merasa sebagai orang Kristen yang memenuhi standar hak masuk Kerajaan Surga. Mereka memandang surga itu murahan, seakan-akan surga itu bisa dimasuki oleh orang-orang dengan kualitas mental anak-anak dunia. Pada dasarnya, mereka memiliki kualitas hidup yang juga tidak jauh dari anak-anak dunia, bahkan tidak jarang lebih buruk.
    Mereka mengandalkan prinsip sola gratia; hanya oleh anugerah. Mereka juga memandang semua orang di luar Kristen dengan mudahnya masuk neraka, sedangkan dirinya pasti masuk surga. Padahal, bukan tidak mungkin kalau orang di luar Kristen—jika berbuat baik karena memang bukan umat pilihan, sehingga tidak dituntut sempurna, dan mereka dihakimi oleh perbuatan serta mengasihi sesama seperti diri sendiri—masuk ke dalam surga sebagai anggota masyarakat. Sedangkan orang-orang Kristen seperti ini, jangankan masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan, jadi anggota masyarakat saja tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai orang-orang Kristen yang jahat, bengis, duduk di kursi pemerintahan lalu korupsi. Menjadi aparat, tetapi tidak memenuhi tanggung jawabnya dengan baik pada bangsa dan negara. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah orang-orang Kristen di lingkungan gereja yang saling menikam, konflik, saling membenci, merusak nama baik orang, memfitnah; mereka ada di lingkungan gereja, di lingkungan pelayanan, bahkan di lingkungan para pendeta, dan teolog yang bergelar.
    Berbekal argumentasi dalam nalar, mereka yakin akan masuk surga. Padahal, sebenarnya sederhana saja ukurannya, yaitu apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa atau tidak. Kita jangan merasa yakin masuk surga hanya karena kita adalah orang baik, sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jangan kita tertipu oleh diri kita sendiri karena kita sudah mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, menjadi aktivis gereja, majelis, atau bahkan pendeta. Jabatan aktivis gereja, majelis, dan pendeta itu tidak otomatis membuat orang masuk surga. Sama sekali tidak menjamin seseorang masuk surga. Tetapi yang menjamin masuk surga adalah kurban Yesus di kayu salib yang direspons dengan benar, yaitu dengan melakukan kehendak Bapa.
    Kalau tidak melakukan kehendak Bapa, seesorang tidak akan masuk surga atau masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Firman Tuhan jelas mengatakan: “Keluarlah kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan” (2Kor. 6:17-18). Firman Tuhan tersebut menetapkan bahwa ada syarat. Dalam konteks ayat ini, syarat yang dimaksud adalah respons kita. Artinya, respons kita harus memenuhi standar respons yang benar, yaitu melakukan kehendak Bapa. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, siapa yang menolak ini menolak Allah. Di bagian lain, firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:16 mengatakan: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus, sebab kalau kamu memanggil Allah itu Bapa yang menghakimi orang tanpa memkitang muka artinya perbuatanmu, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Kalimat yang lain mengatakan: “hendaklah kamu hidup dalam kekudusan, hanya orang-orang kudus yang melihat Allah,” itu firman Tuhan jelas.
    Banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini atau tidak mau mengerti oleh karena ajaran yang keliru yang mengesankan masuk surga itu mudah. Ini yang menjadi masalah. Mereka berpikir masuk surga itu gampang, sehingga yang terjadi adalah tidak ada usaha untuk menjadi anak-anak Allah yang memenuhi standar hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu Yesus sebagai modelnya. Usaha untuk berbuat baik sering ditanggapi atau dinilai sebagai tindakan yang keliru s...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…