Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tuhan, Engkau Kebahagiaanku Satu-satunya
    Sejatinya, Tuhan adalah kebahagiaan kita satu-satunya. Tapi masalahnya, Tuhan tidak kelihatan, bagaimana kita bisa menjadikan Tuhan kebahagiaan kita? Ini yang tidak bisa diajarkan dengan kata dan kalimat dengan mudah. Tapi kita harus menggumuli, percaya bahwa Allah itu ada. Ibrani 11:6, yakin bahwa Allah itu ada. Tetapi bukan hanya yakin Allah itu ada, melainkan juga mengalami Allah yang ada tersebut, Allah yang eksis tersebut. Mengalami, dan kita bisa merasakan sukacita dan damai sejahtera dari Allah melalui pengalaman yang kita alami tersebut. Banyak orang yang hanya mengerti secara kognitif atau dalam pikiran, tetapi tidak mengalami. Mereka bisa nyanyi, “Kaulah segalanya bagiku Tuhan, Kaulah hartaku, kemuliaanku.” Tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengalami bagaimana Tuhan menjadi kebahagiaannya.
    Itulah sebabnya ketika Yesus berkata: “Datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” artinya “mengapa kamu letih lesu?” Karena kau banyak keinginan, banyak obsesi, karena kamu memiliki cita-cita yang belum kesampaian, memiliki rumah pribadi atau pasangan hidup, misalnya. Hal-hal seperti ini akan menghambat pertumbuhan rohani kita. Membuat kita tidak bisa menikmati kehadiran Tuhan. Kita harus buang hal-hal seperti itu, dan kita benar-benar mau menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Dan Tuhan akan tersanjung kalau kita menjadikan Dia benar-benar satu-satunya kebahagiaan kita. Ini yang namanya benar-benar memuliakan Allah. Artinya, menganggap Tuhan itu mulia, menganggap Tuhan itu agung, menganggap Tuhan itu besar, dan memang demikian adanya.
    Oleh sebab itu, kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Kita harus bisa mengatakan kepada jiwa kita, “Sudah, jangan ingini apa-apa. Ayo, ingini Tuhan dan Kerajaan-Nya saja.” Kita yang berkuasa atas diri kita sendiri. Kalau kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, kita bisa mengendalikan diri kita sendiri dan mengarahkan diri kita sendiri ke arah yang benar, yang Tuhan kehendaki, di mana kita harus melangkah ke sana. Jangan sampai kita terlambat menjadikan Tuhan itu sebagai kebahagiaan kita. Kenapa? Sebab kalau kita terlambat, kita tidak akan pernah mengalami-Nya sampai selama-lamanya. Kalau kita tidak bisa mulai sekarang menikmati Tuhan, selamanya kita akan kehilangan Tuhan.
    Orang yang benar-benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, sebagai satu-satunya tujuan hidup, akan terus mengalami pertumbuhan kedewasaan rohani, dan bisa merasakan keindahan Tuhan yang terus bertambah lagi, lebih lagi, lebih lagi. Sangat sedikit orang yang memiliki prinsip dan langkah hidup seperti ini bahwa Tuhan adalah satu-satunya kebahagiaan dan tujuan hidup. Mengapa? Karena dunia sudah begitu rusak. Dan kerusakan ini ada dalam kehidupan orang-orang Kristen, aktivis, majelis, bahkan pendeta sendiri. Tidak sedikit yang telah rusak. Maka kita harus berani mengakhiri jalan hidup jalan dunia, dan menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan.
    Pada umumnya, orang telah terikat oleh percintaan dunia. Terikat oleh berbagai keinginan dan kesenangannya sendiri. Dan itu membuat orang Kristen tidak mengalami pertumbuhan rohani. Di dalamnya, ia tidak semakin menghayati dan mengalami keindahan Tuhan. Betapa bodohnya manusia yang memilih dunia daripada memilih Tuhan sebagai satu-satunya keindahan. Kekhawatiran manusia bukan hanya terkait dengan adanya ancaman atau sesuatu yang dia rasa sebagai membahayakan hidup, melainkan kekhawatiran juga menyangkut mengenai sikap dan pemikiran, seakan-akan kalau tidak memiliki fasilitas dunia ini, hidupnya tidak merasa indah, tidak merasa bahagia, tidak merasa lengkap, tidak merasa utuh, tidak merasa ada jaminan keamanan. Ini yang merusak. Dengan cara demikian, seseorang terikat dengan dunia. Tidak terikat sebagaimana mestinya dengan Allah. Betapa bodohnya manusia yang memilih dunia daripada memilih Tuhan.
    Ketika seseorang masih mengharapkan kebahagiaan dunia ini,
    0 min
  • Tuhan, Engkau Kepentinganku Satu-satunya
    Orang tidak akan pernah merasakan bahwa Tuhan itu satu-satunya kebutuhan dan kepentingannya kalau ia masih menyimpan banyak keinginan atau masih merasa memiliki sesuatu. Tuhan mengatakan bahwa kita harus melepaskan diri dari segala milik kita, baru dapat menjadi murid atau baru layak bagi Dia. Memang pada akhirnya, orang percaya yang benar itu tidak boleh merasa memiliki sesuatu dan segala keinginannya itu harus ditanggalkan kecuali satu, yaitu bagaimana hidup menyenangkan hati Allah. Ini kedengarannya ekstrem atau aneh, bukan? Tidak. Justru ini yang paling benar. Jangan lagi sibuk dengan masalah-masalah yang lain, tetapi biar fokus kita hanya ini: bagaimana kita dapat benar-benar menyukakan hati Allah. Menjadi manusia yang benar-benar menyukakan hati Allah. Jadi, segala sesuatu yang kita lakukan memang semua semata-mata hanya untuk kemuliaan Allah. Seni untuk tidak merasa memiliki sesuatu dan tidak merasa memiliki kesenangan atau memang tidak memiliki kesenangan, bukan hal yang mudah. Itu berat. Tetapi orang yang merindukan hal ini akan diproses Tuhan. Memang prosesnya juga menyakitkan.
    Jadi, kalau kita berkata, “Tuhan, aku mau menjadikan Engkau satu-satunya kebutuhanku, hanya satu-satunya kepentinganku,” Tuhan pasti menggarap kita. Menggarap dengan berbagai pergumulan, persoalan-persoalan hidup, sampai kita tidak merasa memiliki sesuatu lagi. Apakah itu harta kekayaan, harga diri, pangkat, gelar kehormatan manusia, dan kita akan merasa bahwa kita memang tidak punya sesuatu. Rumah, mobil, uang, bahkan keluarga kita pun semua milik Tuhan. Ini membuat kita akan mengalami yang namanya keringanan, dan kalau orang memiliki keringanan seperti ini, maka ia bisa memiliki keriangan. Apakah ini bisa terjadi di dalam hidup kita? Bisa! Dulu saya juga tidak yakin untuk ini. Kita dulu tidak yakin. Sekarang kita yakin bahwa ini sebuah keniscayaan, sebab Tuhan sendiri yang mengajarkan kepada kita bagaimana Dia menjadi segalanya dalam hidup ini.
    Kalau kita menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup ini, problem kita hanya Dia. Bagaimana kita menyukakan hati Dia, dan tidak mendukakan hati-Nya. Di dunia saja, kalau orang jatuh cinta, maka hal yang lain menjadi tidak berarti kecuali kekasihnya ini. Dia hanya ingin menyenangkan pujaan hatinya, memuaskan dia, bersama dia, dan tidak ingin melukai dia. Sama dengan kehidupan kita dalam pergaulan dengan Tuhan. Kalau kita membaca di dalam Alkitab Perjanjian Lama, misalnya Habakuk 3:17-18, umat Perjanjian Lama itu sudah memiliki prinsip-prinsip yang luar biasa seperti ini: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kkitang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Bayangkan! Mereka sudah mampu berkata: “walaupun aku dalam keadaan begini, di mata dunia itu bencana, musibah, malapetaka, kesialan, tapi bagi hamba Tuhan ini, bagi anak Allah ini, itu bukan masalah. Yang penting, Tuhan menjadi kebutuhanku satu-satunya. Yang penting Tuhan menjadi bagian hidupku.” Dalam keadaan yang terjepit pun mereka tetap berkata: “Beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Di dalam teks lain, ditulis: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm. 73:26).
    Kalau orang masih tersinggung, merasa tersisih, merasa disingkirkan, merasa didzolimi, berarti ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Itu pasti ada yang salah. Tentu kita juga pernah mengalami hal ini, atau bahkan sampai sekarang juga masih berjuang untuk hal ini. Tetapi, mari kita bersama-sama mengambil satu keputusan bahwa kita mau hidup sesuai dengan kehendak Allah. Tidak merasa memiliki sesuatu. Memang segala sesuatu juga akan kita tinggalkan, dan semua yang ada ini bukan milik kita. “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan,
    0 min
  • Tuhan, Engkau Problemku Satu-satunya
    Dalam hidupnya, manusia tidak mungkin lepas dari problem; manusia tidak mungkin lepas dari persoalan. Bahkan, persoalan atau problem yang benar itu akan dialami seseorang bukan hanya selama di dunia. Di kekekalan pun ini menjadi masalah atau menjadi problem; di surga pun menjadi masalah atau problem. Problem apa yang masih ada di surga? Bedanya memang, problem itu kalau di dunia ini diusahakan dengan kesukaran. Tapi kalau di surga, tidak. Problem apa itu? Problem itu adalah Tuhan sendiri. “Tuhan, itulah problem-ku.” Pada umumnya, yang dijadikan problem adalah sakit-penyakit, belum memiliki jodoh, belum memiliki anak, belum memiliki pekerjaan, belum memiliki rumah pribadi, dsb. Tetapi orang percaya yang benar akan berkata: “Tuhan, Engkau satu-satunya problem-ku. Problem-ku adalah bagaimana aku hidup menyenangkan Engkau dan tidak mendukakan hati-Mu.” Itu problem utama yang harus kita perjuangkan selama kita di dunia, dan itu berat. Kenapa berat? Karena kita memiliki kodrat dosa. Sementara kita memiliki kodrat dosa, kita mau hidup seturut dengan kehendak roh. Padahal, kehendak roh bertentangan dengan kehendak daging, sehingga terjadi pergumulan, pergulatan yang luar biasa.
    Kita anggap ini problem, karena kita menghadapi diri kita yang egois, yang masih mau dipuaskan atau disenangkan, sementara kita harus menundukkan diri sepenuh kepada Allah. Ini problem-nya. Oleh sebab itu, tidak mungkin kita tidak memiliki perjuangan. Pasti ada perjuangan. Ini yang dikatakan oleh Yesus, “masuklah jalan sempit. Karena banyak orang berusaha tapi tidak bisa masuk.” Dan memang, banyak orang yang dipanggil, sedikit yang dipilih. Jadi, keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita itu bukan sesuatu yang membuat kita mudah masuk surga. Keselamatan membuat pintu surga terbuka, tapi untuk masuk surga itu, kita harus berjuang. Berjuang untuk menjadi manusia yang layak masuk Kerajaan itu. Sama seperti kita dapat mobil. Mobil itu anugerah, kita tidak beli. Mobil itu kasih karunia. Tetapi untuk bisa mengendarai mobil itu, itulah persoalannya. Kita harus belajar mengendarai mobil.
    Ini serupa dengan hal keselamatan, sama persis. Keselamatan diberikan gratis, pintu surga dibuka. Tapi untuk masuk dan layak menjadi anak-anak Allah, itu perjuangan atau pergumulan. Oleh sebab itu, kita harus membebaskan diri dari segala problem. Kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai problem, kecuali apakah itu mendukakan hati Allah atau menyukakan-Nya. Kalau kita masih menjadikan segala sesuatu masalah, maka kita akan terbelenggu di situ dan akan terseret masuk neraka. Tapi kalau kita berkata: “Problemku hanya Tuhan, yaitu bagaimana aku bisa menyenangkan hati-Nya,” maka kita akan diarahkan menjadi manusia yang hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Oleh sebab itu, jangan ada belenggu atau ikatan-ikatan yang membuat kita tidak fokus kepada Tuhan.
    Kalau kita membaca tulisan Paulus, begitu ekstremnya. Dia berkata begini: “Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah kau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu? Selanjutnya, hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.” “Hidup di dalam keadaan seperti pada waktu dipanggil Allah” bagi Paulus adalah dia tidak menikah. Paulus memiliki prinsip, seorang yang beristri, hidupnya akan tergerus menyukakan istri. Orang yang punya suami, hidupnya tergerus untuk menyukakan suami. Apakah salah? Tentu tidak. Selama kita tidak mengabaikan hal yang utama dalam hidup ini, yaitu menyukakan hati Allah. Karena itu merupakan satu-satunya problem kita.
    Oleh sebab itu, kalau seorang pria memilih jodoh salah, atau sebaliknya, seorang wanita memilih jodoh yang salah, dia membuat problem. Problem yang tidak efektif. Kecuali dia bertobat lalu betul-betul Tuhan bisa pakai,
    0 min
  • Tuhan, Engkau Kebutuhanku Satu-satunya
    Setiap kita pasti merasa memiliki kebutuhan. Banyak kebutuhan kita, baik kebutuhan yang menyangkut makan, minum, maupun apa yang kita kenakan atau sandang. Selain itu, kebutuhan primer lain adalah papan atau tempat tinggal. Sandang, pangan, dan papan. Itulah yang dipahami manusia pada umumnya, kebutuhan primer. Bagi orang percaya yang belajar kebenaran, ketika kita menghayati bahwa manusia adalah makhluk kekal, maka kebutuhan primer kita menjadi hanya satu, yaitu Tuhan. Tuhan adalah kebutuhan kita satu-satunya. Tentu hal ini tidak bisa dimengerti oleh kebanyakan orang. Hal ini hanya bisa dimengerti dan dihayati oleh orang yang belajar kebenaran Firman, dan mengerti arti hidup, makna hidup. Melihat tragisnya hidup di bumi dan dahsyatnya kekekalan, baru dia bisa berkata: “Tuhan, Engkaulah satu-satunya kebutuhanku.”
    Yang merusak kehidupan iman banyak orang Kristen hari ini adalah ketika gereja mengarahkan jemaat untuk menjadikan Tuhan sebagai jawaban atas pemenuhan kebutuhan jasmani. Padahal, pemenuhan kebutuhan jasmani itu sudah ada hukum atau tatanan yang berlaku bagi semua orang, bukan hanya bagi orang Kristen. Dan semua harus tunduk kepada tatanan hukum itu. Apa yang ditabur orang, itu juga akan dituainya. Dan itu tidak boleh diubah, diganti dengan (misalnya) “berdoa, maka berkat melimpah.” Itu menyesatkan. Banyak orang melihat kehidupan bangsa Israel yang diistimewakan oleh Allah, dan orang-orang Kristen ini berpikir mereka juga dapat diistimewakan seperti bangsa Israel. Orang-orang Kristen ini tidak mengerti konteks bagaimana bangsa Israel yang memang dipersiapkan Allah untuk menjadi bangsa yang melahirkan Mesias.
    Konteksnya, bangsa Israel adalah bangsa yang dipersiapkan Allah menjadi nenek moyang Mesias. Dari bangsa itu akan dilahirkan Mesias atau Juruselamat. Maka, Allah memberikan perhatian khusus atau istimewa. Sejak mereka ada di Mesir sebagai budak, Tuhan melepaskan mereka dengan keperkasaan-Nya. Memberikan 10 tulah dan menuntun bangsa itu di padang gurun selama 40 tahun dengan perbuatan-perbuatan ajaib Allah, yang mana tujuan utamanya adalah untuk maksud keselamatan yang Allah berikan kepada manusia, bukan kepada bangsa Israel itu sendiri sebenarnya. Di balik tindakan Allah tersebut, ada rencana Allah yang besar.
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa dirinya berhak memiliki rencana, keinginan, dan kemudian merasa memiliki kebutuhan untuk mencapai keinginan dan cita-citanya tersebut. Seperti Allah menuntun bangsa Israel dengan keperkasaan-Nya, mereka berharap Allah yang sama juga menuntun orang-orang Kristen ini dalam menggapai keinginan dan cita-citanya. Ini tidak sinkron, tidak paralel. Bangsa Israel menerima perlakuan istimewa, karena di balik semua tindakan Allah itu, Allah memiliki rencana, yaitu keselamatan yang akan dihadirkan melalui bangsa itu. Ini berbeda dengan orang-orang Kristen yang mau menerima berkat-berkat jasmani, pemeliharaan, perlindungan Tuhan yang istimewa untuk keinginannya sendiri, hidup dalam kewajaran seperti manusia lain.
    Kenyataannya, tidak sedikit gereja yang menawarkan Tuhan sebagai solusi dari persoalan tersebut. Akhirnya, bukan saja membuat orang Kristen tidak tunduk kepada hukum tabur tuai dan tidak mengerti realitas hukum yang Tuhan berikan kepada semua manusia, tapi juga bisa merusak etos kerja. Dan, yang lebih konyol lagi, membuat orang-orang Kristen tidak fokus kepada dunia yang akan datang; tidak fokus kepada langit baru bumi baru. Sehingga mereka—orang-orang Kristen yang pikirannya telah disesatkan ini—hanya membutuhkan Tuhan untuk mengisi kebutuhan jiwa sesuai dengan selera dirinya, selera manusia yang berkodrat dosa; hanya demi supaya memiliki uang, harta, kedudukan, pangkat, kehormatan, dsb. Sampai pada tingkat tertentu, orang-orang Kristen ini akan rusak dan tidak pernah bisa diperbaiki lagi.
    Jadi, kalau mereka menyanyi, “kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu,” baik-Nya Tuhan, karena Tuhan mau dipakai untuk memenuhi selera mereka.
    0 min
  • Perubahan yang Mutlak
    Kita semua tentu tahu bahwa kita harus berubah. Perubahan adalah prinsip, hukum, tatanan yang harus terjadi atau berlangsung dalam kehidupan, bukan hanya pada manusia melainkan juga pada makhluk lain. Kehidupan kerohanian kita yang menyangkut moral, akhlak, kesucian hidup atau pendewasaan rohani harus juga mengalami perubahan. Kita tahu, kita setuju bahwa kita harus mengalami perubahan. Tetapi ironisnya, banyak kita yang tidak sungguh-sungguh memperkarakan hal ini; apakah dirinya benar-benar mengalami perubahan atau tidak. Sehingga, berbulan-bulan, bertahun-tahun tidak mengalami perubahan secara benar, ia tetap merasa sejahtera saja. Ia tidak menganggap itu sebagai bencana atau kerugian. Padahal, waktu yang Tuhan berikan kepada kita itu singkat. Ada titik atau ujung akhir perjalanan hidup ini. Kalau seseorang sudah sampai akhir perjalanan hidupnya, ia tidak akan pernah mengalami perubahan lagi.
    Itulah sebabnya, di dalam kekristenan tidak ada doa untuk orang meninggal supaya orang meninggal yang tadinya masuk neraka bisa pindah masuk surga. Atau sudah masuk surga dengan tingkat rendah, bisa naik lagi ke tingkat tinggi karena didoakan orang yang masih hidup. Tidak ada. Tuhan tidak mengajarkan demikian. Tetapi Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menggunakan waktu. Selagi masih “siang,” kita harus bekerja untuk Tuhan atau harus bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Firman Tuhan mengatakan: “pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini jahat.” Kita harus memperhatikan bagaimana cara kita hidup supaya kita mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah itu. Semua itu berbicara mengenai perubahan yang harus terjadi atau berlangsung dalam hidup kita.
    Demikian pula dalam Roma 12:2 dikatakan agar kita tidak sama dengan dunia, tetapi mengalami transformasi atau perubahan cara berpikir sehingga kita mengerti kehendak Allah; apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna. Dan tanda atau ciri dari perubahan yang benar adalah tidak serupa dengan dunia ini. Tetapi seperti yang tadi penulis kemukakan, bahwa banyak orang tidak memperkarakan hal perubahan ini di dalam hidupnya. Sehingga ketika keadaan dirinya yang sebenarnya masih serupa dengan dunia ini, dia tidak menyadari keserupaan tersebut. Dia merasa nyaman-nyaman saja. Suatu hari, ketika dia berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, dia baru tahu bahwa ternyata ia tidak memiliki wajah Tuhan di dalam hidupnya, tetapi wajah dunia. Dan tentu wajah dunia adalah wajah orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa. Dan kepada orang yang tidak melakukan kehendak Bapa ini, Yesus akan berkata: “Enyahlah kamu dari hadapan-Ku, kamu yang melakukan kejahatan.” “Kejahatan” di sini bukan hanya berarti melanggar hukum, tetapi tidak melakukan kehendak Allah pun sudah merupakan kemelesetan.
    Oleh sebab itu, kita harus serius untuk mencari Tuhan. Hanya dengan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan menjumpai Dia, maka kita akan mengalami perubahan. Bukan hanya perubahan secara moral umum, melainkan perubahan sesuai dengan kesempurnaan Allah Bapa; perubahan keserupaan dengan Yesus. Dan ini adalah upah bagi orang yang mencari Dia. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:6, “tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ini hal yang luar biasa. Sering kali yang dipahami orang, “upah” adalah ekonomi membaik, kesehatan, kelimpahan berkat jasmani, dll. Atau apa pun yang dianggap sebagai kebutuhan. Sejatinya, “upah” yang dimaksud di sini adalah pengenalan akan Allah yang benar. Itu yang menjadi harta abadi. Sebab, kalau upah itu hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, itu tidak berkualitas. Sebab Allah itu kekal, maka berkat-Nya juga pasti bernilai atau terkait dengan kekekalan.
    Kita harus berjuang untuk mengenal Allah; berjuang mencari Allah. Tentu saja sarananya adalah melalui kebenaran Firman yang...
    0 min
  • Aspek Kesucian
    Ada banyak tindakan Allah dalam Perjanjian Lama yang kita tidak mengerti. Tentu ada banyak yang kita mengerti, tetapi ada juga yang tidak kita mengerti. Untuk ini, kita tidak memaksa diri untuk mengerti, sehingga kita membuat tafsiran-tafsiran yang sembarangan. Masuk zaman Perjanjian Baru, Allah memeteraikan kita dengan Roh Kudus, dimana Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Itu berarti ada banyak hal yang kita akan ketahui, karena Roh Kudus yang memimpin kita kepada seluruh kebenaran. Allah akan memberikan kepada kita kecerdasan untuk mengerti tindakan-tindakan-Nya. Tentu selama orang itu mau belajar dengan sungguh-sungguh dan memiliki hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Allah menghendaki kita memiliki kecerdasan tersebut karena aspek kesucian itu adalah kecerdasan rohani, dimana seseorang bisa memiliki “frekuensi” seperti Allah atau yang ‘nyambung’ dengan frekuensi Allah. Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, bisa cocok dengan apa yang menjadi keinginan Allah, cocok dengan kehendak Allah, atau cocok dengan selera Allah. Dan ini tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Ini harus digumuli dalam perjalanan hidup yang panjang dan intensif, artinya setiap waktu.
    Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepada-Nya Anak itu berkenan menyatakannya.” Ini bukan sekadar pengetahuan tentang Allah atau yang sama dengan teologi, tetapi “mengenal” di sini mengenal kehendak-Nya; mengenal karakter-Nya, mengenal selera-Nya. Itulah sebabnya Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa.” “Sempurna seperti Bapa” itu bukan berarti kita mau menyamai Allah, melainkan dalam segala tindakan yang kita lakukan bisa selalu sesuai dengan keinginan, kehendak, dan selera Allah. Dan setiap kita tentunya memiliki pergumulan masing-masing yang berbeda. Tetapi, apa pun pergumulan yang dialami masing-masing individu, dia harus menjalani pergumulan hidup itu sesuai dengan keinginan, kehendak, dan selera Allah. Ini namanya “sempurna seperti Bapa.”
    Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak,” itu bukan hanya pengetahuan teologi mengenai Allah, tetapi apa yang Bapa ingini, kehendaki, dan selera-Nya yang Anak itu tahu. Maka di ayat berikutnya Yesus berkata, “mari datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat. Aku beri kamu kelegaan.” Kata “kelegaan” itu artinya perhentian; (Yun.) Anapauso. Mengapa seseorang mengalami letih lesu? Selama seseorang interest-nya masih bukan pada Tuhan saja, ia pasti letih lesu dan berbeban berat. Jadi, kita jangan mengundang orang menjadi Kristen hanya karena supaya dia dapat jodoh, ekonominya baik, supaya dia sembuh dari sakit, dan memperoleh kebutuhan jasmani. Itu menyesatkan. Memang Tuhan dapat membuat mukjizat untuk orang-orang yang memerlukan tanda supaya tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan. Tetapi sebenarnya tujuan dari kekristenan adalah agar orang mengenal Bapa, Allah Bapa yang menciptakan segala sesuatu, yang dikatakan dalam firman Tuhan bahwa segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia. Yesus sebagai manusia sejati, telah belajar mengenal Bapa-Nya dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan Bapa.
    Kita belajar dari Tuhan Yesus. Maka ketika Tuhan Yesus berkata, “Aku menyertai kamu sampai kesudahan zaman,” itu maksudnya bukan hanya menyertai kita supaya kita dapat memperoleh jalan keluar dari segala persoalan hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi maksud pernyataan Yesus itu adalah agar kita bisa mengenal Allah Bapa-Nya, dan melakukan kehendak Allah Bapa-Nya. Dan itulah perhentian. Jadi, perhentian kita bukan karena kita sudah membayar utang, sudah dapat jodoh, sembuh dari sakit. Bukan. Itu hanya tanda. orang-orang Kristen yang sudah mengerti Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mestinya tidak butuh tanda lagi. Kalau kita sakit, kita harus mengubah pola makan dan pola hidup.
    0 min
  • Hanya Satu yang Menarik
    Jika kita mau memiliki hidup kekristenan yang benar, mestinya hanya ada satu yang menarik dalam hidup kita, yaitu Tuhan. Itulah sebabnya, mau tidak mau kita akan memfokuskan diri kita hanya untuk Tuhan. Kalau kita bekerja, kita berkarier, kita melakukan segala sesuatu, kita melakukannya hanya untuk satu kepentingan ini, satu interest ini, yaitu Tuhan. Tuhan tidak kelihatan, Ia tidak mudah disentuh, dialami, dan dirasakan, tetapi bisa. Kita tidak akan pernah menyesal kalau memiliki satu interest ini. Karena ini berarti kita memiliki harta yang tiada ternilai. Hal inilah yang akan membuat kita takut berbuat dosa. Hal ini juga yang membuat kita tidak terikat dengan materi dunia (uang, harta, kekayaan). Hal ini akan membuat hidup kita menjadi simpel, tidak kompleks. Tetapi, memang dibutuhkan keberanian. Lebih dari sekadar fanatisme. Lebih dari ekstrem, bahkan. Jadi, ekstrem sekali; fanatik sekali.
    Kalau kita membaca Alkitab, kita menemukan tokoh-tokoh yang ekstrem sekali terkait dengan hal ini—artinya mengenai Tuhan ini. Abraham rela meninggalkan Ur-Kasdim, esktrem; Yusuf rela tidak menyentuh nyonya Potifar walaupun harus masuk penjara; Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel tidak menyentuh makanan yang haram walaupun itu akan sangat merugikan mereka. Bahkan, Daniel rela masuk gua singa demi percayanya kepada Elohim Yahweh. Sadrakh, Mesakh, Abednego rela masuk ke dalam dapur api demi imannya kepada Elohim Yahweh. Dan yang luar biasa, pasti tentu yang paling hebat adalah Tuhan kita, Yesus Kristus, yang rela dalam segala hal disamakan dengan manusia, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai satu hal yang harus Ia pertahankan atau mau Dia capai. Ini adalah contoh-contoh dari kehidupan orang yang tidak memiliki interest apa pun, kecuali Tuhan.
    Dan kita harus punya interest itu. Satu-satunya interest kita adalah Tuhan. Sebab, seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:6, orang yang mencari Allah itu harus yakin bahwa Allah itu ada, dan Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Kata “sungguh-sungguh mencari Dia,” dapat kita ganti dengan kalimat yang tidak berubah maknanya: “yang sungguh-sungguh hanya punya interest kepada-Nya; hanya memiliki interest kepada-Nya.” Seseorang yang belajar teologi bisa memiliki interest terhadap ilmu teologi, tapi ia tidak interest terhadap Allah. Maka, jangan kita menjadi orang Kristen yang hanya menangkap pengetahuan tentang Allah yang hanya diimpartasikan, ditularkan oleh seorang teolog, tapi tidak menerima impartasi atau penularan hati yang memiliki interest terhadap Allah. Jadi, ada teolog yang interest terhadap pengetahuan teologi, tapi tidak interest terhadap pribadi Allah. Ironis, ada banyak sekali yang seperti ini.
    Interest kepada Tuhan itu mulia sekali. Kalau sampai kita bisa interest kepada Tuhan saja atau ketertarikannya hanya tertuju kepada Tuhan saja, maka kita menjadi orang yang lebih beruntung dari anak dari seorang konglomerat, atau sang konglomerat itu sendiri, atau seorang pejabat tinggi negara; siapa pun. Hal ini tergantung kita, apakah kita mau mengarahkan interest kita kepada Tuhan, atau masih banyak interest yang lain. Banyak orang yang karena telah memberikan ruangan hatinya bagi dunia ini, ia tidak mampu memiliki interest yang bulat, interest yang utuh kepada Tuhan. Ia tidak mampu. Kalaupun seandainya dia mau, tidak bisa lagi karena ruangan hatinya telah dipenuhi oleh keinginan dunia dan ia menikmatinya, apakah itu uang, harta, mobil, perhiasan, arloji, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang celaka sekali. Orang-orang seperti ini nanti akan sangat menyesal ketika menutup mata, ternyata interest-nya yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang—bukan kepada Tuhan—mendatangkan celaka bagi dirinya.
    Allah yang Mahamulia, Mahaagung, Allah yang layak menjadi satu-satunya objek interest kita, bukan yang lain. Kita harus berani mengatakan: “kebutuhanku dan kepentinganku hanya Tuhan saja.
    0 min
  • Allah seperti Senyap
    Tidak bermaksud melecehkan Sekolah Tinggi Teologi, tetapi memang fakta berbicara bahwa banyak lulusan Sekolah Tinggi Teologi yang menjadi pembicara yang mengaku sebagai “sumber pengetahuan tentang Allah,” tetapi tidak memperlengkapi diri dengan pengalaman perjumpaan dengan Allah. Mereka adalah orang-orang yang bisa mengisi banyak tulisan dan berkhotbah di media sosial. Dari pernyataan-pernyataan mereka dan tulisan-tulisan mereka dalam bentuk perdebatan-perdebatan dan adu argumentasi, tampak betapa tidak patutnya mereka menjadi jurubicara Tuhan. Dan itu menunjukkan kalau memang mereka tidak takut akan Allah. Mereka tidak segan-segan mengucapkan kalimat yang benar-benar tidak etis.
    Dalam ukuran kesantunan umum saja sudah sangat rendah, apalagi diucapkan seorang yang mengaku sebagai utusan Kristus atau hamba Tuhan. Semua itu menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan atau teologi, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Ini perlu dikemukakan, sebab pengaruh tulisan dan pernyataan-pernyataan mereka di media sosial cukup signifikan bagi jemaat yang belum bisa membedakan roh. “Membedakan roh” di sini artinya belum bisa membedakan antara kebenaran dan ketidakbenaran. Tidak jarang terjadi, tuduhan-tuduhan terhadap orang lain secara semena-mena, apakah tuduhan itu mengenai ajaran atau mengenai individu.
    Perjumpaan dengan Allah yang dialami seorang teolog itu akan tampak. Antara lain, akan nyata sekali dari pernyataan-pernyataan dan tulisannya. Orang yang takut akan Allah itu—hasil dari perjumpaan dengan Allah—akan sangat kelihatan kesantunannya, kesalehannya. Mereka akan mengalah, tidak menyerang orang lain, tidak mengangkat diri, tidak menunjukkan bahwa seakan-akan dialah yang paling benar, penuh belas kasihan terhadap sesama, bahkan bukan hanya terhadap sesama orang Kristen tetapi juga terhadap mereka yang beragama lain pun mereka menunjukkan kesantunan. Faktanya, apa yang telah terjadi dalam dunia media sosial menunjukkan bahwa banyak teolog Kristen yang sebenarnya belum mengalami perjumpaan dengan Allah, dan jemaat harus mengerti. Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang tidak patut didengar. Orang-orang yang hanya mau mengangkat diri, dan kalau hidup mereka diperiksa, mereka bukanlah orang-orang yang telah benar-benar memberi pengaruh positif kepada masyarakat di sekitarnya.
    Sebaliknya, kita melihat ada hamba-hamba Tuhan yang tidak banyak bicara di media sosial, tetapi mereka adalah orang-orang yang menggarami jemaatnya atau orang-orang di sekitarnya, dan nyata sekali prestasi kehidupan yang mereka capai untuk sesamanya. Jangan sampai kita terbawa suasana fasik itu, suasana fasik di lingkungan Kristen. “Fasik” artinya tidak takut Allah dan tidak peduli perasaan-Nya, tidak peduli hukum-Nya. Jangan kita terbawa dalam suasana seperti itu. Maka, tidak perlu kita mendengar apa yang mereka kemukakan, tidak perlu kita membaca apa yang mereka tulis, karena hal itu akan mengeruhkan pikiran kita dan merusak spirit kita. Kalau kita sudah terlanjur memiliki irama hidup yang salah karena pengaruh media sosial yang fasik itu, kita masih berkesempatan untuk berubah dan mulai menemukan Allah.
    Temukan Allah, cari wajah Allah dalam doa pribadi kita. Memang masalahnya Allah itu kadang-kadang seperti senyap, seperti tidak ada, seperti sulit dijangkau. Tetapi kalau kita benar-benar memburu pengenalan akan Allah dengan hati yang haus dan lapar akan Tuhan, kita pasti menemukan-Nya. Kita bisa merasakan hadirat Allah dalam penghayatan yang benar akan kehadiran Allah. Kita tidak akan terjebak dalam kepuasan memiliki pengetahuan tentang Allah tanpa mengalaminya, seperti yang banyak orang alami, memiliki banyak pengetahuan tentang Allah tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Dia. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah—Allah yang seakan-akan senyap itu—Ia menjadi tidak senyap di dalam hidup kita. Dia berbicara aktif, Allah yang hidup. Sehingga kita bisa menemukan keindahan Tuhan.
    0 min
  • Pengenalan akan Allah
    Banyak orang yang bisa belajar dengan sangat tekun di ruang perpustakaan dari pagi sampai malam, tetapi tidak tekun ada di ruang doa. Di ruang doa setengah jam saja sudah terasa sangat melelahkan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih gemar mengalami perjumpaan dengan huruf-huruf, tulisan di dalam buku-buku mengenai Allah, daripada menjumpai Allah secara langsung. Itulah sebabnya, banyak teolog yang cakap berbicara tentang Allah tetapi tidak memiliki pengenalan akan Allah secara benar. Tentu saja mereka tidak akan betah berdoa, karena tidak mengalami perjumpaan. Sebab, kalau seseorang mengalami perjumpaan dengan Allah, waktu setengah jam itu cepat sekali. Ia akan merasa kurang.
    Allah itu Allah yang riil dan nyata. Kedahsyatan Allah yang dihayati atau dirasakan akan membuat seakan-akan detak detik jarum jam kita berhenti. Perjumpaan dengan Allah akan membuat kita lupa waktu. Kedahsyatan kehadiran-Nya—yang di dalamnya ada damai sejahtera, keteduhan, dan kedahsyatan lain—membuat seseorang tidak ingin cepat-cepat mengakhiri doanya. Oleh sebab itu, alami! Jangan hanya berteori. Memang, akan lebih mudah ada di perpustakaan daripada duduk diam di kaki Tuhan. Karena untuk memiliki seni duduk diam di kaki Tuhan itu tidak mudah. Tetapi itulah yang harus kita lakukan. Sebab, mencari Allah itu tidak cukup dengan membaca buku-buku teologi, melainkan harus menjumpai Dia secara langsung. Itu yang benar-benar bisa dikatakan ber-Tuhan, bukan sekadar beragama yang seminggu sekali ke gereja mengikuti liturgi dan merasa sudah beribadah. Mudah berkata, “saya percaya Allah itu ada.” Namun, untuk memiliki kehidupan yang benar-benar bersentuhan dengan Allah, itu bukan sesuatu yang mudah. Tetapi, inilah yang harus menjadi agenda satu-satunya hidup ini.
    Mari kita bayangkan kalau suatu hari kita sekarat atau ada di ujung maut di ruang ICCU atau di ruang ICU. Artinya, apakah kita berani memasuki kekekalan tanpa benar-benar memiliki pengenalan akan Allah? Kalau pengenalan hanya secara literal, hanya secara akademis, itu tidak akan cukup menjadi bekal seseorang memasuki kekekalan. Seorang pendeta, juga dosen Sekolah Tinggi Teologi yang cukup umur (sudah di atas 50 tahun), jujur mengakui bahwa pengetahuannya tentang Tuhan tidak membuat ia yakin berhadapan dengan Tuhan di pengadilan-Nya, sampai ia harus benar-benar menemukan Tuhan dalam perjumpaan langsung. Pendeta dan dosen Sekolah Tinggi Teologi menyaksikan bahwa seorang akademisi yang memiliki prestasi tinggi dalam dunia akademis, tetapi dengan jujur ia mengakui bahwa pengetahuannya tentang Tuhan atau teologi belum cukup menjadi bekalnya memasuki kekekalan. Banyak orang yang mengaku percaya bahwa Allah itu ada dan percaya bahwa Allah memberi upah, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, tidak sungguh-sungguh memburu pengenalan akan Allah, dalam arti mengalami perjumpaan dengan Allah.
    Kalau kita memperhatikan atau pernah melihat film mengenai petualangan orang-orang yang mencari harta karun di tempat di mana ada peninggalan emas, misalnya, mereka berani mempertaruhkan nyawanya untuk itu. Mereka bisa meninggalkan rumah, mempersenjatai diri, berlatih untuk bisa memiliki kemampuan mencapai tempat di mana harta karun itu berada. Mereka tidak cukup belajar dari peta di mana harta karun tersebut berada, tetapi mereka melangkah untuk menemukan harta karun itu. Membaca peta mengenai harta karun bukan tidak penting, itu pun harus. Tetapi melangkah untuk menemukan harta karun seperti yang tertulis atau tergambar dalam peta itu, itu penting. Bahkan, itulah tujuannya. Demikian pula kalau kita belajar tentang Tuhan. Itu petanya. Tetapi tidak cukup hanya belajar mengenai teologi atau peta mengenai Tuhan. Harus menjumpai Tuhan secara langsung. Justru itu yang penting. Justru tujuan belajar mengenai Tuhan itu supaya menjumpai Tuhan.
    Banyak orang yang belajar mengenai Tuhan, tapi tidak menjumpai Tuhan. Dan ironisnya, kalau mereka mengajar kepada jemaat,
    0 min
  • Kemelesetan
    Ada sesuatu yang perlu kita pahami—karena ini penting untuk dipahami oleh banyak orang Kristen—bahwa belajar teologi tidak menjamin seseorang bisa menjadi rohani, saleh, dan baik menurut ukuran Tuhan. Tentu ini bukan berdasarkan dugaan atau pertimbangan pribadi karena melihat seseorang, melainkan berdasarkan pengalaman dari kehidupan pribadi seorang hamba Tuhan yang telah sejak kecil Kristen, yang menjalani sekolah teologi menjadi pendeta, menjadi guru di Sekolah Tinggi Teologi, menulis lebih dari 100 buku, menjadi ketua sinode, dan bahkan menjadi pemimpin dari beberapa kegiatan dan lembaga Kristen. Ia menyaksikan bahwa belajar teologi itu tidak menjamin seseorang menjadi saleh. Kalau kita melihat, mereka yang bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, ternyata semakin tinggi tingkatan pendidikannya, ada yang makin tidak suka berdoa, makin tidak rendah hati, makin tidak mau mengerti orang lain. Tetapi sebaliknya, ia makin cakap berdebat, makin berani melawan. Yang tadinya ketika baru masuk kuliah, ia begitu taat kepada dosen bahkan kepada seniornya (senior sesama mahasiswa), tetapi setelah semakin tinggi tingkat pendidikannya, makin tidak taat kepada dosen atau guru, dan makin tidak menghormati senior.
    Hal ini memberikan pesan kepada kita bahwa gelar akademisi tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang baik. Tentu maksud menyatakan hal ini bukan mau melecehkan Sekolah Tinggi Teologi. Melainkan supaya jemaat jangan sampai tersesat, jangan sampai terkesima kalau seseorang memiliki gelar, apakah itu sarjana teologi, magister teologi, bahkan doktor teologi. Itu tidak menjamin kesalehannya, tidak menjamin kehidupannya yang baik. Tidak menjamin kualitas hidupnya dapat membimbing umat untuk mengenal Allah. Gereja telah mengalami kemerosotan berabad-abad, dan itu dimulai dari Eropa. Mereka memiliki Sekolah Tinggi Teologi yang sangat baik, yang memiliki kualifikasi akademis yang sangat baik. Dosen-dosen yang bergelar bukan saja doktor, melainkan profesor. Tetapi kenyataannya, mereka tidak dapat menyelamatkan masyarakat. Kekristenan mengalami kemerosotan, dan bisa dikatakan ‘ambruk.’ Gereja-gereja sepi ditinggalkan jemaat. Penduniawian, sekulerisme, humanisme, dan berbagai -isme lainnya telah menggantikan kekristenan dalam kehidupan masyarakat Kristen di dunia Barat.
    Hal ini membuktikan bahwa pendidikan teologi ternyata tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang efektif menyelamatkan jiwa-jiwa sesuai dengan nafas Amanat Agung Tuhan Yesus. Kalau seandainya Tuhan Yesus hadir di bumi hari ini, kira-kira apakah Ia membuka Sekolah Tinggi Teologi? Barangkali karena kebutuhan dan tatanan dalam kehidupan di masyarakat, Yesus harus membuka Sekolah Tinggi Teologi. Masalahnya, macam apa Sekolah Tinggi Teologi yang dibangun-Nya? Apa yang diajarkan oleh Yesus? Apakah hanya menalar Allah sehingga membuat orang pintar berdebat? Kalau hanya belajar doktrin, belajar sistematika teologi, dan berbagai mata kuliah seperti yang diajarkan di Sekolah Tinggi Teologi, dikhawatirkan tidak dilahirkan hamba-hamba Tuhan yang benar-benar menjadi utusan Kristus. Seperti contohnya adanya perdebatan di media sosial dari para pendeta, notabene para teolog. Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki manner atau perilaku sebagai hamba Tuhan Yesus. Dengan perkataan atau pernyataan mereka di media sosial tersebut, justru menunjukkan mereka tidak memiliki moral Kristiani yang agung dan itu benar-benar memalukan.
    Tetapi begitulah “model” teolog zaman sekarang, dimana kalau ia sudah bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, tidak sedikit yang tata kramanya justru menjadi rusak, kesantunannya jadi hilang. Ironis, lebih santun orang-orang muda yang tidak pernah belajar teologi, tetapi yang dengan rendah hati menerima tuntunan hamba Tuhan untuk belajar duduk diam di kaki Tuhan. Tidak akademis, tetapi memiliki hati seperti Yesus. Kalau Yesus memiliki Sekolah Tinggi Teologi, yang pasti menjadi mata kuliah utama adalah diri-Nya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…