Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perkara Kecil
    Kita tidak boleh menyepelekan hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita, karena keagungan martabat dan moral kita dibangun dari hal-hal kecil yang terjadi dan berlangsung setiap hari. Ketika Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, dia juga setia dalam perkara besar,” memang konteks Lukas 16: 1-10 bukan bicara mengenai sesuatu yang lain, kecuali uang atau mamon (Luk. 16:10). Uang itu perkara kecil. Jadi, kalau soal uang sudah gagal atau tidak benar, maka soal yang lain juga tidak benar.  Dari perkara-perkara sederhana yang terjadi, kita membangun martabat yang agung dan karakter kita. Dari bangun tidur, kata apa yang kita ucapkan? Apa renungan hati kita? Apa rencana kita? Waktu istri lupa menyediakan kopi, misalnya, bagaimana reaksi kita? Pada waktu supir datang terlambat; anak menjatuhkan barang, apa reaksi kita? Mari kita belajar bahwa rambut kepala kita pun terhitung, artinya tidak ada satu pun perkara yang terjadi di luar kontrol dan kehendak Allah.
    Burung pipit yang harganya sangat murah, berharga di mata Allah. Tidak dibiarkan jatuh, apalagi kita. Rambut di kepala kita pun terhitung, artinya Allah begitu teliti memerhatikan kita. Satu lembar rambut kita “ditandai” oleh Allah. Ketika orang menyisir rambut lalu rambutnya rontok, dianggap biasa saja, tidak masalah. Kecuali yang hampir botak, baru mungkin bisa meratapi. Tetapi pada umumnya, orang merasa biasa saja. Namun, Allah menghitung jumlah rambut kita. Sebenarnya, kalimat itu juga bisa berarti “Allah menandai segala hal di dalam hidup kita.” Jadi, setiap kejadian atau peristiwa itu pasti berharga di hadapan Allah untuk kebaikan kita. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28-29).
    Menanggapi perhatian Allah atas hidup kita, maka kita harus benar-benar berhati-hati atas apa yang kita lakukan, reaksi kita terhadap setiap kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Misalnya, waktu kita bangun dikejutkan oleh benda yang jatuh atau pintu yang terbanting keras. Bagaimana reaksi kita? Itu sebenarnya akan menentukan atau ikut menentukan, membangun martabat dan karakter, watak kita. Pada waktu kita berkendara diperhadapkan orang yang mengendarai kendaraan ugal-ugalan, bagaimana reaksi kita? Belum lagi banyak kesempatan berbuat dosa, bagaimana reaksi kita?
    Banyak orang tidak memedulikan hal-hal kecil yang terjadi di dalam hidupnya. Mereka menganggap hal-hal tersebut tidak penting. Berbohong sedikit-sedikit, melakukan tindakan yang tidak patut, merasa tidak ada yang melihat.  Padahal ini akan merusak bangunan karakter kita. Biasanya mereka sembarangan dalam bertindak.  Hal ini menyebabkan kecenderungan menolerir tindakan-tindakan yang bisa melukai orang lain, menyakiti sesama, dan merugikan diri sendiri. Apalagi kalau seseorang itu kuat secara materi, kekuasaan atau kedudukan, dia bisa berbuat apa saja sesukanya. Biasanya bisa sewenang-wenang terhadap orang lain. Padahal yang dilakukan, bisa mendukakan hati Tuhan, membangun kebiasaan yang buruk, dan kebiasaan tersebut akan membangun karakter permanen dalam dirinya. Orang-orang seperti ini mudah melepaskan atau meledakkan emosinya dengan kata-kata sembarangan.
    Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga,” (Mat. 5:48). Sempurna seperti Bapa, artinya dalam segala perkara, tindakan kita selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya, Tuhan berkata “kamu harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela.” In everything we do, we say, we live in His perfect holiness; kita hidup dalam kesempurnaan karakter-Nya. Dalam segala hal kita hidup dalam kesucian-Nya. Kesucian yang sempurna. Kalau kita tidak memiliki tekad yang sungguh-sungguh, maka tindakan kita pasti meleset dari kekudusan Allah. Seharusnya begitu bangun tidur, kita harus berlutut dulu di kaki Tuhan. Kita bukan hanya mengucap syukur, memohon ampun dari Tuhan, kemudian buru-buru bangkit dan pergi ke kantor.
    0 min
  • Kurikulum Hidup
    Perubahan hidup tidak bisa terjadi atau berlangsung secara drastis atau instan. Harus melalui proses yang bertahap. Ketika Tuhan Yesus berkata, “manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah,” secara implisit, sebenarnya ditunjukkan kepada kita adanya proses bertahap. Misalnya, dalam pertumbuhan fisik seorang anak manusia, ia tidak langsung menjadi besar dengan makan roti dua kwintal, melainkan dari 2 ons, 3 ons, bahkan tidak sampai. Mungkin 1 ons saja. Semua itu harus melalui proses bertahap. Demikian pula dalam perubahan hidup. Sampai kita mengalami kelahiran baru, mengenakan kodrat ilahi. Di sini, waktu sangat berperan dan menjadi sangat berharga. Karena di dalam waktu ada momentum-momentum yang berharga, dimana Tuhan membentuk kita atau membangun kehidupan kerohanian (kekristenan) kita. Tuhan membentuk lewat proses yang bertahap. Kalau bisa secara instan, tentu kita lebih enak. Kita cukup berdoa 5 menit, dalam sekejap kita bisa menjadi dewasa rohani. Kita berkata, “Tuhan, silakan Tuhan ubah hidupku untuk menjadi serupa dengan-Mu,” lalu seketika itu juga kita menjadi dewasa. Perubahan tidak terjadi secara demikian
    Tuhan tidak melakukan hal itu. Kalau kita berdoa, “Tuhan, buat aku rendah hati,” tidak seketika kita bisa rendah hati. “Tuhan, buat aku sabar,” tidak seketika kita menjadi sabar. “Tuhan, buat aku bisa mengendalikan nafsu-nafsuku,” tidak seketika kita bisa mengendalikan nafsu kita. Tetapi, kita harus diproses dari menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Jadi, usaha Tuhan mengembalikan kita ke rancangan-Nya yang semula adalah proses yang bertahap, berlangsung secara berkesinambungan. Pasti Tuhan memiliki program atau kurikulum atas setiap individu. Tuhan pasti memiliki program untuk mengubah seorang anak manusia yang percaya kepada Yesus, yang mengasihi Allah. Mengasihi Allah artinya orang yang bersedia meninggalkan percintaan dunia dan bertekad untuk hidup suci, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Walaupun sejatinya masih ada unsur duniawi atau memiliki ikatan dosa, tapi kita bisa memiliki komitmen Komitmen itu adalah “aku mau meninggalkan percintaan dunia, aku mau hidup suci.” Komitmen dan tekad ini bisa membuat seseorang digarap Tuhan. Dalam Roma 8:28-29, firman Tuhan mengatakan bahwa yang digarap Allah adalah orang-orang yang mengasihi Dia.
    Jadi, Allah memiliki program bagaimana mengubah seseorang. Kalau dikatakan “Allah bekerja dalam segala hal,” perlu dipertanyakan, hal apa? Tentu dalam segala hal, dalam kebijaksanaan-Nya Tuhan memilih kejadian-kejadian apa yang perlu kita alami. Tuhan memiliki sebuah “kurikulum,” bagaimana mencerdaskan rohani kita. Kalau kurikulum yang tersaji di sekolah atau perguruan tinggi memiliki tujuan bagaimana mencerdaskan seseorang di dalam bidang-bidang tertentu. Adapun Allah memprogram setiap kejadian dalam hidup kita. Allah menyusun kurikulum, apa saja yang harus kita alami dan bagaimana seharusnya kita bersikap, agar kita serupa dengan Yesus (Rm. 8:29). Banyak orang tidak mengerti hal ini. Mereka berpikir, kalau nanti waktunya baik, mereka baru mau sungguh-sungguh menjadi Kristen. Mereka tidak pernah akan menjadi sungguh-sungguh, karena, “waktu baik” itu tidak boleh ditunggu. “Waktu baik” harus digunakan, karena sudah ada. Saat ini juga adalah waktu yang baik. Kalau orang berkata, “nanti tunggu waktu yang baik, saya akan sungguh-sungguh,” maka dia tidak akan pernah sungguh-sungguh di dalam Tuhan.
    Orang sering berpikir bahwa masih ada banyak waktu untuk bertumbuh dan berubah. Ini pikiran sesat yang membuat seseorang bisa binasa. Mestinya yang dipikirkan adalah “Aku tidak akan memiliki waktu lagi.” Hal ini dimaksudkan agar kurikulum Tuhan bisa kita pahami dan jalani, dan program Tuhan bisa terwujud dalam hidup kita, begitu kita bangun tidur, kita harus memerhatikan apa yang Tuhan mau kerjakan dalam hidup kita. Komitmen kita harus bulat,
    0 min
  • Simple, Tapi Mustahil
    Kekristenan sebenarnya simple, tetapi sangat sukar. Bahkan kalau jujur, bisa dikatakan mustahil. Kenapa mustahil? Sebab, kekristenan berarti mengenakan hidup Yesus. Yesus adalah manusia sejati yang luar biasa, yang mendapat predikat “berkenan di hadapan Allah.” Menjadi orang Kristen itu berani masuk kemustahilan. Pertanyaannya, “kalau mustahil begini, mengapa jadi Kristen?” Tetapi inilah indahnya kekristenan, karena ada kasih karunia di dalamnya. Anugerah-Nya di kayu salib membenarkan kita. Tidak ada keselamatan di luar Kristus. Ini harga mati, bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama yang diberikan manusia, yang di dalamnya manusia beroleh keselamatan. Itu dikatakan dalam Kisah Para Rasul 4:12, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Inilah kasih karunia dan anugerah itu.
    Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, semua manusia tanpa hambatan, tanpa diperhitungkan dan dipertimbangkan, meluncur ke neraka. Tetapi dengan adanya salib, kita dibenarkan; kita dianggap benar. Kita dibawa kepada Bapa di surga dan diterima sebagai anak. Tetapi, keadaan kita belum benar. Bapa melihat darah Yesus yang membungkus kita. Keseriusan Allah mengangkat kita sebagai anak, ditandai dengan memberikan meterai Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Tanpa Roh Kudus, kita tidak akan mengenal kebenaran; dan tanpa kebenaran, kita tidak bisa dimerdekakan. Dalam Yohanes 8:31-32 firman Tuhan mengatakan, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kemerdekaan ini adalah kemerdekaan dari kodrat dosa. Perubahan ini tidak bisa terjadi atau berlangsung tanpa Roh Kudus yang memimpin kita kepada seluruh kebenaran. Dan perubahan itu bisa lebih permanen melalui peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami, agar serupa dengan Yesus (Rm. 8:28). Yang mustahil menjadi tidak mustahil, kalau ada kasih karunia.
    Penggarapan Allah untuk perubahan kodrat tidak bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis yang dikerjakan oleh satu pihak. Hal itu bisa terjadi atau berlangsung kalau ada kerja sama dua pihak: pihak Allah yang memberikan fasilitas pembaharuan—yaitu penebusan, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah—dan pihak kita, yaitu menyambut atau merespons penggarapan Allah tersebut. Bagaimana yang mustahil ini menjadi tidak mustahil? Jawabnya adalah kalau kita memiliki keberanian untuk menyerahkan segenap hidup kita bagi Dia. Dalam hidup ini, tujuan hidup kita satu-satunya adalah mengenakan kodrat ilahi. Percaya yang benar menghasilkan perubahan dari kodrat dosa ke kodrat ilahi. Dan untuk perubahan itu, seseorang tidak boleh terikat dengan dunia. Bagian Allah menyediakan anugerah, bagian kita meresponi anugerah dengan benar.
    Kita yang harus nekat dan berani untuk memutuskan hubungan kita dengan dunia. Seperti kalau kita menyukai satu jenis makanan, lalu kita mau mengubah pola makan kita. Kita merubah selera makan kita terhadap jenis makanan tersebut. Tekad tersebut harus dari diri kita sendiri. Itu namanya respons. Meninggalkan dunia bukan hal yang mudah, sebab kita sudah terbelenggu dengan berbagai keinginan dunia. Selera kita sudah tersandera oleh kenikmatan kesenangan dunia. Untuk itu kita harus berani berkata tegas “tidak.” Itu bagian kita, dan kalau kita berani melakukannya, kita bisa diproses Tuhan atau diubah Tuhan.
    Tuhan berkata, “kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tak dapat jadi murid-Ku (Luk. 14:33). Kamu harus menanggalkan beban dan dosa, baru boleh atau baru bisa ikut perlombaan yang diwajibkan.” Selama kita belum melepaskan keterikatan kita dengan percintaan dunia, sampai kita mati, kita menjadi orang Kristen yang tidak mengalami perubahan kodrat. Sampai titik tertentu benar-benar mustahil,
    0 min
  • Mengisi Percaya Yang Benar
    Orang yang menaruh percaya kepada Tuhan harus memiliki isi di dalam percayanya. Jadi, kalau kita mengatakan kepada seseorang “aku percaya kepadamu,” itu pasti ada urusan mengapa kita mengatakan “aku percaya kepadamu.” Tidak mungkin kita bertemu orang di jalan, lalu orang itu berkata kepada kita “aku percaya kepadamu.” Kita bisa bingung, “apa maksudnya?” Tetapi kalau kita sedang berurusan dengan seseorang, apakah tentang bisnis, perjanjian kerja misalnya, lalu salah satu berkata “aku percaya kepadamu,” pasti ada isinya ‘percaya’ itu.
    Begitu pula ketika kita berkata “aku percaya kepada-Mu, Tuhan.” Pasti ada isinya. Dan percaya kita kepada Tuhan bukan temporal atau untuk sesaat dan untuk satu-dua hal saja, melainkan seluruh hidup kita itu “hidup karena percaya,” seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam 2 Korintus 5:7, “— sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”  Sekarang, yang harus kita persoalkan adalah apa isi percaya kita kepada Tuhan? Banyak orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan, artinya mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi mengisi percayanya itu hanya dengan pergi ke gereja saja dan melakukan kegiatan-kegiatan kerohanian. Ini tidak tepat, sebab “percaya” itu seluruh hidup kita. Setiap keputusan, pilihan, tindakan kita harus mengekspresikan percaya kita kepada Tuhan. Bukan hanya pergi ke gereja atau melakukan kegiatan rohani lainnya. Kalau hanya demikan, orang tidak beragama pun melakukan.
    Apa yang sebenarnya Tuhan inginkan atas hidup kita dalam mengisi “percaya” itu? Isi percaya kita kepada Allah adalah mengikut jejak Yesus. Bagaimana kehidupan Yesus dua ribu tahun lalu bisa kita kenakan dalam hidup kita hari ini. Sehingga, orang bisa menemukan kehidupan Yesus dalam hidup kita hari ini. Itu luar biasa, tetapi sulit sekali. Namun, memang tidak ada cara lain untuk mengikut Yesus dengan mengisi percaya kita kepada-Nya. Kalau seandainya ada dialog imajinatif antara kita dengan Yesus, kita berkata, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu.” Lalu Yesus bertanya, “mengapa kamu percaya kepada-Ku?” Kita menjawab, “karena Engkau Tuhan dan Juruselamat.” Ia bertanya kembali, “mengapa engkau percaya Aku adalah Tuhan dan Juruselamat?” Mungkin kita mulai diam dan bertanya-tanya, atau paling tidak berkata, “Karena memang Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat.”
    Banyak orang Kristen mungkin hanya menjawab seperti itu, karena hanya sampai di situ pengertiannya. Tuhan Yesus bisa berkata, “kalau kamu mengakui Aku sebagai Tuhan, kamu harus tunduk kepada-Ku. Aku Tuanmu, kamu harus menuruti apa pun yang Kuperintahkan. Kalau kamu mengakui Aku Juruselamat, kamu harus mengerti untuk apa keselamatan itu diadakan.” Keselamatan itu diadakan agar umat pilihan dikembalikan ke rancangan semula Allah, dan model manusia yang sesuai rancangan Allah itu adalah Yesus. Dan kalau kita mengakui Dia Tuhan, kita taat kepada-Nya untuk mengenakan hidup-Nya di dalam hidup kita. Ikut Yesus itu memang ikut jejak-Nya.
    Banyak orang Kristen yang sebenarnya belum ikut Yesus. Banyak orang Kristen yang hanya beragama Kristen; ikut agama Kristen, tetapi tidak ikut Yesus. Kalau demikian, suatu hari nanti di pengadilan Tuhan, orang-orang seperti ini bisa tertolak. Dalam 2 Korintus 5:9-10, dikatakan bahwa kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus. Mengapa Kristus yang mengadili kita? Yang pertama, karena memang Dia yang menebus dosa kita. Yang kedua, Allah memercayakan pengadilan itu kepada Dia. Tapi Yesus berkata, “Aku tidak mengadili sendiri. Aku bersama Bapa.” Yang ketiga, karena Kristuslah yang menjadi ukuran dari kebenaran itu. Ukuran dari keberkenanan di hadapan Allah.
    Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 5:9-10, Paulus berkata, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya,
    0 min
  • Melirik Perasaannya Sendiri
    Orang yang mengaku percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya kebenaran dan Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi hanya di dalam pikiran atau nalarnya, pasti hidupnya tidak memiliki tujuan. Artinya, segala sesuatu yang dia lakukan hanya demi sesuatu itu sendiri. Kalau dia pekerja, demi pekerjaan itu sendiri; kalau dia berkarier, demi karier itu sendiri; kalau dia studi, demi studi itu sendiri, dan pada akhirnya, semua hanya untuk kepentingan diri sendiri. Dia bisa bekerja keras atau giat, tetapi di balik semua aktivitasnya, agendanya hanyalah bagaimana dia bisa menikmati semuanya, yaitu pekerjaannya, kebersamaan dengan orang-orang di sekitarnya, yaitu segala sesuatu yang dirasakan membahagiakan dirinya. Tentu orang-orang seperti ini tidak pernah memikirkan bahwa ada Allah yang hidup, yang berperasaan.
    Sebagai orang percaya yang benar, mestinya kita memikirkan, merenungkan dan menghayati kenyataan keberadaan atau adanya Allah yang hidup, yang menaruh roh-Nya dalam diri kita. Orang Kristen yang percayanya kepada Tuhan hanya di dalam pikiran, pasti hanya melirik perasaannya sendiri. Dia hanya melihat apa yang dapat membuat dirinya bahagia dan senang. Tetapi dia tidak melirik dan melihat hati Tuhan. Secara antrophomorfistis, dia tidak melihat bibir Tuhan, apakah tindakannya membuat Tuhan tersenyum atau sebaliknya, membuat Tuhan berduka. Irama hidup seperti ini dimiliki hampir semua orang, dan itu memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan orang-orang Kristen.
    Banyak orang Kristen yang pola hidupnya sebenarnya tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Mengisi hidupnya untuk kesenangan diri sendiri. Dia bisa bertanggung jawab atas orangtua, karena pasti memiliki naluri membela orangtua. Tetapi hanya sampai pada ‘naluri’ itu saja. Ia bisa membela keluarga, keluarga besar. Tetapi, karena ada naluri ikatan kekeluargaan, bukan karena mau menyukakan hati Allah. Tentu orang-orang seperti ini akan sangat membatasi diri. Dia tidak akan memberi ruangan yang cukup untuk orang lain. Yang penting keluarga sendiri atau keluarga dekatnya. Dia tidak akan memedulikan orang lain. Dan dia juga tidak peduli dengan pembantu rumah tangga, supirnya, dan lain-lain. Dia bisa memanfaatkan mereka, tetapi tidak sungguh-sungguh menaruh kasih, bagaimana mereka bisa menemukan Allah dan Juruselamat di dalam dan melalui hidupnya.
    Tentu saja orang-orang Kristen seperti di atas ini bisa ramah dan santun kepada orang lain, tetapi tidak akan memancarkan keagungan anak Allah. Sebab, sampai pada titik tertentu, bagaimana pun dia akan menunjukkan egoismenya, dia tidak akan bisa menembus batas mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sifat atau jiwa kesukuannya pasti masih kuat, memandang orang karena materi atau harta, pangkat, gelar, suku, dan sebagainya. Karena dia tidak peduli perasaan Allah, kalaupun dia ramah terhadap orang lain yang berbeda agama, suku, sosial ekonomi, itu karena kepentingan dirinya sendiri, bagaimana dia menyesuaikan diri dengan keadaan demi keuntungan pribadi. Mereka tidak bisa mengerti yang dimaksud Alkitab, “Baik makan atau minum, dilakukan untuk kemuliaan Allah.” (1Kor. 10:31). Yang dia mengerti adalah bagaimana dia hidup dalam kesenangan. Bisa melalui hobi, wisata, makan dan minum bersama keluarga, dan segala sarana yang bisa membuat dirinya bahagia.
    Memang bedanya tipis, antara orang percaya dan orang tidak percaya. Kadang-kadang, agak sukar dibedakan. Tetapi, pada akhirnya akan tampak. Orang yang memiliki percaya yang benar pasti menerjemahkan percayanya dalam tindakan hidup secara konkret; sebaliknya, orang yang tidak mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan adalah mereka yang tidak memiliki percaya secara benar. Bagaimana pun pada titik tertentu akan kelihatan, karena orang yang mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dengan benar—karena percaya dengan benar kepada Allah—akan mengalami pertumbuhan kedewasaan yang makin hari makin seperti Kristus. Tetapi orang yang tidak percaya dengan benar,
    0 min
  • Arah Tujuan Hidup Yang Benar
    Apabila seseorang bertanya kepada kita, “Apakah Anda percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya kebenaran?” Apa jawaban kita? Hampir dapat dipastikan kita akan menjawab, “Ya, amin, saya percaya.” Kalau ada pertanyaan selanjutnya, “Apakah Anda juga percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat?” Tanpa ragu kita pasti juga menjawab, “Ya, saya percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat.” Namun persoalannya adalah bagaimana kita membuktikan percaya kita itu? Apakah kita hanya memercayai kebenaran itu di dalam pikiran, ataukah kita mengisi percaya kita dalam tindakan konkret setiap hari? Tentunya percaya bukan hanya keyakinan di dalam pikiran, percaya adalah tindakan konkret dan berkesinambungan di dalam kehidupan kita setiap saat. Percaya bukan hanya ada di dalam pikiran, tetapi di dalam kehidupan setiap saat.
    Kalau seseorang benar-benar memercayai bahwa Alkitab adalah kebenaran Allah—satu-satunya kebenaran—dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, pasti ia memiliki arah tujuan hidup yang benar. Segala sesuatu yang dilakukannya pasti untuk kemuliaan Allah. “Untuk kemuliaan Allah,” artinya segala sesuatu yang dilakukan menyukakan hati Bapa di surga. Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang kita lakukan yang melanggar etika kehidupan yang digariskan oleh Alkitab atau tidak akan bertentangan dengan kesucian Allah. Tidak ada perbuatan kita yang melukai atau merugikan orang lain. Pasti tidak ada kebencian, tidak ada dendam, atau sakit hati kepada seseorang. Tidak ada usaha sedikit pun yang membuat orang lain terlukai.
    Kalau seseorang memiliki percaya yang benar, bangun pagi, makan pagi, pergi ke kantor atau ke tempat kerja atau berbisnis pasti dengan hati yang tertuju kepada Tuhan, artinya melakukan segala sesuatu untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Tuhan yang pertama adalah merawat orangtua; bertanggung jawab atas orangtua yang telah membesarkan dirinya. Terkait dengan hal ini ia pasti memilih jodoh atau teman hidup yang juga mencintai orangtuanya. Ia mengurus rumah tangga dengan baik dan tidak menjadi beban untuk orang lain. Selanjutnya, memerhatikan keluarga besar dimana ia berada. Pasti ada saja keluarga besar atau famili yang perlu ditopang. Orang seperti ini pasti menjadi berkat bagi masyarakat dan orang di sekitarnya. Kalau di kantor, bertemu dengan petugas keamanan, cleaning service, dan orang-orang di lain sekitarnya, ia menjadi keteduhan dan berkat bagi mereka.
    Mungkin kita tidak memberi uang atau sesuatu secara materi kpada orang lain karena keterbatasan kita, tetapi senyum, salam, sapa kita yang tulus sudah menjadi gift atau pemberian, sudah dapat menjadi hadiah bagi mereka. Dan Allah memang mau menjadikan kita ini hadiah untuk orang lain. Pergi ke tempat kerja dengan gairah karena dimana kita bekerja kita akan menebar berkat. Kita menjadi keharuman bagi Allah, menjadi simfoni yang merdu bagi Tuhan dan bagi orang lain.
    Pulang dari kerja, kita bergairah bertemu dengan keluarga yang bisa diajak bercengkerama, sharing Firman, berdoa bersama, menonton TV bersama (tentu tontonan yang patut dilihat), saat teduh, family altar, dan merenungkan Firman Tuhan bersama-sama. Ada saat-saat tertentu, jalan-jalan ke mal, makan bersama di luar, dan bisa ber-fellowship setiap hari. Tentu saja kita menjadi pasangan hidup yang setia, orangtua yang bertanggung jawab, dan sekaligus menjadi teladan atau menjadi pola dengan mana anak-anak membentuk dan membangun dirinya. Dan itu adalah satu keindahan. Dengan demikian suasa Firdaus terbangun.
    Suasana Firdaus di dalam rumah juga dinikmati bukan saja oleh ayah, ibu, anak, atau famili yang tinggal di rumah, melainkan juga bisa dinikmati oleh pembantu rumah tangga, sopir dan pegawai yang bekerja di rumah. Mereka bisa menikmati suasana yang indah dan baru. Dan dengan cara seperti itulah, sebenarnya kita menjadi saksi dan membuktikan bahwa Firdaus ada di dalam keluarga kita. Membangun kehidupan seperti ini memang bukan h...
    0 min
  • Mantan Agama Lain
    Ketika ada orang-orang tertentu berpindah agama—dari agama lain kemudian mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat untuk menjadi orang Kristen—tidak jarang mereka disambut secara berlebihan oleh orang-orang Kristen. Mereka mendapat perhatian dan perlakuan istimewa, termasuk kemudahan mengikuti studi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Berpindahnya seseorang dari non-Kristen menjadi seorang yang beragama Kristen, bukanlah jaminan bahwa mereka benar-benar telah mengalami pertobatan yang sejati. Kita harus memahami apa yang dimaksud dengan pertobatan itu. Pertobatan bukan saja langkah berhenti berbuat sesuatu yang melanggar moral secara umum atau berpindah keyakinan dari agama non-Kristen menjadi Kristen.
    Pertobatan adalah langkah baru sebagai bentuk kesediaan meninggalkan cara hidup yang salah dengan filosofinya, kemudian berusaha untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan. Cara hidup yang baru adalah hidup dalam kesucian dan meninggalkan segala bentuk kesenangan dunia dengan meneladani kehidupan Yesus. Bila proses ini berlangsung terus-menerus, seseorang akan benar-benar mengalami perubahan kodrat. Perubahan kodrat inilah target yang harus dicapai oleh setiap orang Kristen, sebab pada dasarnya, keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula, yaitu bisa segambar dan serupa dengan Allah atau berkodrat ilahi.
    Jadi, orang-orang yang berpindah agama dari non-Kristen menjadi Kristen belum tentu benar-benar telah mengalami pertobatan. Aspek lain yang harus dipertimbangkan adalah perpindahan agama seseorang bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang tidak membangun atau mengondisi pertobatan yang sejati. Dalam hal ini, perpindahan agama belum tentu sebuah ciri atau tanda pertobatan yang benar. Kalau dalam agama lain, bisa saja dipahami bahwa perpindahan agama seseorang kepada agama atau keyakinannya sudah dianggap sebagai pertobatan. Tetapi tidaklah demikian dalam kekristenan. Dalam hal ini, yang penting bukan hanya pindah agama menjadi Kristen, melainkan mengenakan normal baru di mata Allah.
    Sudah sangat sering terjadi mantan agama lain yang masuk Kristen mendapat kesempatan berdiri di mimbar-mimbar gereja guna menyaksikan pengalaman perpindahan agamanya. Tidak jarang mereka mengemukakan hal-hal yang menjadi bukti kesalahan agama yang pernah dianutnya. Tidak sedikit pula muncul pelecehan terhadap agama yang dianut sebelumnya, pelecehan terhadap Kitab Suci, dan nabinya. Hal ini bisa menimbulkan penistaan agama. Tentu saja, hal ini bisa merusak harmonisasi kehidupan masyarakat yang heterogen, juga membahayakan kelangsungan gereja setempat. Kalaupun ada kesaksian-kesaksian seperti ini, mestinya disampaikan dalam ruangan tertutup hanya pada orang-orang tertentu. Memang bisa saja kesaksian perpindahan agama mereka disaksikan secara terbuka, tetapi harus dengan cara dan isi yang santun.
    Ada orang-orang mantan agama lain yang menjadi Kristen memiliki pengetahuan yang baik mengenai agama sebelumnya. Mereka bisa menjadi narasumber untuk memahami agama mereka yang lama, tentu dalam sikap kejujuran (fair) dan dalam pemahaman yang komprehensif. Tentu hal ini bisa memberi input yang sangat berguna bagi orang percaya. Tidak semua orang mantan agama lain yang menjadi Kristen memiliki pemahaman yang baik yang dapat dipercaya mengenai agama lamanya. Pemahaman yang jujur dan komprehensif bisa mengokohkan iman orang percaya terhadap Tuhan Yesus. Orang percaya dapat mengetahui perbandingan dan perbedaan iman Kristen dengan keimanan agama lain.
    Mantan penganut agama lain yang mendapat kesempatan studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, sebaiknya mendapat perhatian dan penggarapan secara khusus, agar mereka dapat dipersiapkan menjadi hamba-hamba Tuhan yang “selesai dengan dirinya sendiri.” Latar belakang masa lalu yang telah menggores di dalam jiwa mereka telah membentuk atau membangun paradigma yang tidak mudah diubah. Tentu hal ini tergantung waktu dan proses kehidupan masa lalu mereka.
    0 min
  • Kehidupan Mantan Penjahat
    Harus diakui—dewasa ini, di denominasi gereja tertentu—betapa mudahnya menjadi seorang pendeta atau hamba Tuhan. Sementara itu, profesi pendeta atau hamba Tuhan dipandang sebagai profesi yang dapat memberi kehidupan dan penghormatan dari cara atau jalan yang tidak sulit. Seorang mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba, atau mantan “preman jalanan” yang mengaku bertobat, sangat mudah dibawa ke seminari atau sekolah Alkitab untuk menjadi hamba Tuhan. Biasanya, karena mereka memiliki latar belakang jahat atau sangat buruk seperti itu dan menyatakan bertobat, maka dapat membangkitkan empati dan simpati orang Kristen yang lebih besar terhadap mereka. Dengan mudah mereka mendapat fasilitas untuk studi di seminari atau sekolah tinggi teologi atau sekolah Alkitab. Tidak jarang orang-orang Kristen berlomba memberi dukungan beasiswa untuk mereka, tentu dengan harapan mereka dapat menjadi pendeta yang baik.
    Banyak orang lupa atau tidak menyadari bahwa mahasiswa mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” adalah orang-orang “sakit” dengan stadium khusus yang harus mendapat perawatan khusus pula, demi kesembuhan atau perbaikannya. Harus sungguh-sungguh dipersoalkan: Apakah mereka semua benar-benar telah mengalami pertobatan? Tidak mudah mengetahui seberapa sungguh-sungguh pertobatan yang mereka alami. Lagipula, pertobatan adalah sebuah proses yang harus terus berlangsung dalam kehidupan setiap hari. Untuk memulihkan mereka, harus ada pelayanan khusus. Tetapi faktanya, hal ini banyak diabaikan. Kalau jujur, banyak seminari dan sekolah tinggi teologi atau sekolah Alkitab tidak menyediakan fasilitas penanganan khusus bagi mereka.
    Sering dalam masa pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi, mahasiswa mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” menjadi biang masalah yang mengganggu mahasiswa lain dalam proses pendidikan. Tentu tidak semua mereka berkeadaan sama. Memang ada yang sungguh-sungguh mengalami pertobatan yang benar, sehingga dalam masa studi mereka tidak menjadi biang masalah. Bahkan, ada yang lebih baik dari mereka yang belum pernah mengalami dan melakukan kejahatan. Pengalaman masa lalu bukan sesuatu yang menyandera seseorang sehingga tidak bisa lebih baik dari orang yang belum pernah hidup dalam kejahatan secara umum.
    Kalau mahasiswa mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” belum mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh dan pendidikan teologi tidak merawat mereka dengan benar, maka ketika mereka lulus sebagai seseorang yang diakui sebagai hamba Tuhan dan ditahbiskan menjadi pendeta, mereka dapat mendatangkan kehancuran bagi diri mereka sendiri dan pekerjaan Tuhan yang luas. Tetapi, kalau mereka benar-benar bertobat dan mengalami perubahan kodrat, mereka bisa lebih efektif di ladang pelayanan tertentu, karena pengalaman hidup mereka selain menjadi kesaksian, juga dapat menggarap orang-orang yang memiliki latar belakang kehidupan seperti yang mereka pernah jalani di masa lalu. Pengalaman masa lalu bukan menjadi kebanggaan, melainkan kesaksian yang memicu orang yang hidup dalam kehidupan jahat untuk dapat ditobatkan. Dalam hal ini, yang penting bukan hanya berhenti menjadi penjahat, melainkan mengenakan kehidupan normal baru di mata Allah.
    Harus dipahami bahwa keristenan adalah jalan hidup, yaitu jalan hidup Yesus. Semua orang percaya diproyeksikan untuk mengalami perubahan kodrat sehingga dapat mengenakan kehidupan Yesus. Untuk ini, moral secara umum seseorang harus sudah baik, barulah kemudian bertumbuh terus untuk mencapai kesempurnaan di dalam Yesus. Kalau moral secara umumnya saja rendah, sangatlah tidak mungkin untuk mencapai kesempurnaan atau keserupaan dengan Yesus. Adapun orang-orang yang adalah mantan narapidana dari kasus kejahatan, atau mantan pecandu narkoba atau mantan “preman jalanan” memerlukan ...
    0 min
  • Bukan Untuk Mengubah Nasib di Bumi
    Selama ini, terdapat suatu kesalahan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan beberapa abad. Pelayanan sering dimulai dari mengikuti pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi. Sehingga pelayanan berangkat dari kemampuan akademis atau apa yang diajarkan di seminari atau sekolah tinggi teologi kepada mahasiswanya. Tidak sedikit mereka yang mengaku terpanggil melayani dan masuk pendidikan seminari atau sekolah tinggi teologi bukan didasarkan pada panggilan pelayanan yang murni, melainkan hanya karena mencari tempat dalam kehidupan pencarian nafkah, atau untuk hidup dalam kewajaran seperti orang pada umumnya yang memiliki sebuah profesi. Dalam hal ini, pelayanan menjadi batu loncatan untuk memperbaiki tingkat kehidupan sosial ekonomi. Harus diingat, selama seseorang masih terfokus oleh pemenuhan kebutuhan ekonomi, ia tidak akan pernah memiliki kehidupan yang normal di mata Allah.
    Seminari atau sekolah tinggi teologi sering dijadikan batu loncatan yang mudah atau sarana untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik atau memperbaiki tingkat kehidupan sosial ekonomi. Orang-orang yang tinggal di pulau-pulau yang jauh, di kampung-kampung di daerah terpencil, mustahil atau sangat sulit dapat mengubah nasib menjadi orang yang bisa melihat kota besar dan memiliki kehidupan yang lebih layak. Seminari atau sekolah tinggi teologi atau sekolah Alkitab menjadi jalan atau sarana yang sangat mudah untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut. Sementara itu, banyak seminari atau sekolah tinggi teologi membuka pintu beasiswa. Hal ini merupakan jalan untuk mengubah “nasib” tersebut. Mereka pergi meninggalkan daerahnya untuk menjadi hamba Tuhan. Mereka memang tidak bermaksud menipu Tuhan dan jemaat Kristen, tetapi faktanya, mereka sebenarnya belum mengenal diri mereka sendiri. Kalau mereka tidak berubah, mereka dapat menjadi penipu-penipu di ladang Tuhan.
    Ketika orang-orang ini menjadi sarjana, magister, atau doktor teologi sementara watak mereka belum terbentuk dengan baik, apalagi belum mengalami perubahan kodrat, maka mereka menjadi hamba Tuhan hanya untuk mencari nafkah. Inilah pendeta karier yang sebagian telah memenuhi gereja hari ini. Tidak jarang jemaat di kota memberikan anak gadis mereka kepada “hamba-hamba Tuhan” tersebut yang sebenarnya masih belum sembuh dari obsesinya untuk menjadi manusia yang hidup secara wajar. Mereka sebenarnya bukan hamba Tuhan, melainkan hamba diri sendiri yang terobsesi menjadi manusia yang wajar seperti manusia lain yang bermartabat ekonomi lebih baik daripada tetap tinggal di daerah terpencil. Memang pada dasarnya, di kedalaman hati mereka, studi di seminari atau sekolah tinggi teologi adalah untuk memperbaiki tingkat kehidupan sosial ekonomi.
    Tentu tidak salah kalau seseorang meninggalkan daerahnya dari pulau-pulau yang jauh, kampung-kampung, atau daerah terpencil untuk masuk seminari atau sekolah tinggi teologi guna menjadi seorang pendeta. Tentu tidak salah, kalau kemudian hari mereka menjadi pendeta di kota dan menikah dengan orang kota, dan memiliki kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik daripada hidup di daerah terpencil. Tetapi, seharusnya mereka mengalami perubahan kodrat untuk dapat menjadi hamba Tuhan yang melayani dengan tujuan mengubah jemaat sesuai dengan maksud keselamatan diberikan oleh Allah. Tetapi faktanya, tidak mudah terjadi perubahan dalam diri mereka, sebab selain obsesi tersembunyi di kedalaman hati mereka begitu kuat, juga seminari atau sekolah tinggi teologi tidak memberikan pendidikan yang memadai guna terjadinya proses “konversi” dari manusia yang berkodrat dosa ke manusia yang berkodrat ilahi. Pendidikan di sekolah teologi sering hanya mengisi pikiran dengan ilmu dan teknik-teknik pelayanan, tetapi tidak menyediakan pendidikan guna perubahan kodrat.
    Setelah mereka menjadi pendeta, sebagian mereka masih menunjukkan adanya “manusia lama” yang sangat kental dengan “DNA” (deoxyribonucleic acid) darimana mereka berasal dan obsesi duniawinya.
    0 min
  • Firman Allah Untuk Zaman Ini
    Semua gereja pasti mengajarkan tentang Yesus, dan masing-masing pasti mengklaim bahwa Yesus yang mereka ajarkan adalah Yesus yang benar. Yesus diakui oleh semua gereja sebagai Juruselamat, tetapi apa yang mereka ajarkan mengenai Dia, ternyata berbeda-beda. Dengan demikian, sosok Yesus yang diajarkan sangat besar kemungkinan juga tidak sama. Tidak sedikit gereja yang ternyata mengajarkan Yesus yang tidak sama dengan Yesus yang ditulis dalam Perjanjian Baru. Ini berarti mereka menciptakan sosok Yesus yang lain (2Kor. 11:3-4). Ironisnya, mereka yang mengajar adalah orang-orang yang dipandang ahli mengenai Perjanjian Baru atau Alkitab secara umum. Dalam hal ini, kita tidak boleh tertipu oleh mereka yang cakap berbicara, seakan-akan mereka orang yang bisa memberi penjelasan yang benar mengenai Yesus. Dan tidak terpikat dengan buku-buku tebal yang mereka tulis mengenai Yesus, bahkan paparan teolog masa lalu pun tidak boleh secara membabi buta kita percayai.
    Frasa mengenai “Yesus yang lain,” dalam teks aslinya adalah allon Iesoun (ἄλλον Ἰησοῦν). Kata allon berasal dari akar kata allos yang artinya “berbeda, tetapi masih sejenis.” Kata yang sejajar dengan kata allos adalah heteros (ἕτερος) yang artinya “yang lain” dengan keberadaan berbeda jenis dan bentuk. Penggunaan kata allos di sini hendak menunjukkan bahwa “Yesus yang lain” bukanlah Yesus yang diperkenalkan oleh agama-agama lain, melainkan Yesus yang dibaca dalam Alkitab dan diperkenalkan oleh teolog-teolog Kristen; “seakan-akan” sejenis, padahal sebenarnya berbeda. Hal ini bisa terjadi karena pemahaman yang salah terhadap Yesus yang ditulis di dalam Alkitab. Kata allos mengindikasikan kemiripan antara “Yesus yang lain” dan Yesus yang asli. Namun, semirip apa pun, “Yesus yang lain” tetaplah palsu. “Yesus yang lain” bisa merupakan buah pikiran dari berbagai doktrin yang dibangun sejak ratusan tahun oleh teolog-teolog masa lalu. Teolog-teolog tersebut selalu memiliki argumentasi terhadap semua hal mengenai Yesus dan yang berkenaan dengan teologi Kristen. Ajaran mengenai Yesus tersebut dirumuskan memenuhi halaman buku yang dipajang di perpustakaan-perpustakaan, khususnya perpustakaan seminari atau sekolah tinggi teologi.
    Para akademisi yang belajar teologi secara formal di seminari atau sekolah tinggi teologi beranggapan bahwa tulisan para teolog dalam buku-buku di perpustakaan itu sudah cukup melukiskan wajah Yesus dan segala hal yang terkait dengan teologi Kristen. Dengan demikian, mereka merasa sudah menemukan Yesus dan mengunci dengan sikap bahwa pemahaman mereka mengenai Yesus sudah final. Mereka merasa sudah menemukan Yesus yang benar, tetapi realitanya, Yesus yang mereka ajarkan tidak mengubah jemaat menjadi orang percaya yang berkodrat ilahi. Ini berarti Yesus yang lain. Kalau doktrin gereja tidak mengubah jemaat, berarti harus dikoreksi atau direvisi, atau paling tidak dilengkapi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teologi yang benar memiliki implementasi yang jelas dan mendesak untuk diperagakan, yang kemudian pasti membangun kecerdasan rohani untuk mengerti kehendak Allah serta memberi spirit atau gairah yang membangun kodrat ilahi.
    Banyak gereja dan seminari atau sekolah tinggi teologi yang menjadikan kekristenan sekadar kegiatan olah nalar untuk merumuskan dan melestarikan doktrin atau sistematika teologi dari pandangan teolog masa lalu. Dengan demikian, kekristenan yang seharusnya menekankan peragaan hidup seperti yang telah diperagakan oleh Yesus, telah berubah menjadi kegiatan “menalar” Allah saja. Ada orang-orang yang dianggap sebagai pengajar yang baik karena melewati jenjang pendidikan teologi, namun ternyata mereka hanya mengolah Firman Tuhan secara nalar sebagai salah satu bidang disiplin ilmu pengetahuan semata-mata. Di antara mereka, dengan arogansinya bersikap seolah-olah Allah dengan mudah dapat diformulasikan. Mereka mempertahankan pola pikir akademisi yang mereka peroleh selama bertahun-tahun di bangku sekolah tinggi teologi,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…