Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menetapkan Hati Untuk Mengasihi
    Semakin seseorang serius dengan Allah, keseriusan tersebut ditandai dengan kesediaan mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Tentu saja hal ini tidak mudah dimengerti orang lain, tetapi memang kita tidak boleh memamerkannya, dan hal itu tidak perlu harus dimengerti oleh orang lain. Orang yang serius dengan Allah akan dibawa kepada pusat pusaran kebenaran yang semakin hari semakin cepat. Seperti suatu benda berada di pusat pusaran atau episentrum sebuah gerak air yang berputar, semakin ke tengah, semakin cepat berputar. Hal ini akan ditandai dengan keadaan seseorang yang mengasihi Allah lebih benar dapat masuk pengalaman hidup mengasihi Allah dengan benar.
    Semakin kita serius dengan Allah—yang ditandai dengan hati yang mengasihi Dia—maka kita akan dibawa ke pusat pusaran kehidupan dalam persekutuan dengan Allah. Ini berarti kita semakin memperoleh banyak pengalaman dengan Allah, dengan demikian, kita dapat semakin mengerti kehendak-Nya untuk kita lakukan. Pikiran kita semakin terbuka untuk menemukan apa yang Dia rancang, Dia rencanakan untuk kita penuhi dalam hidup kita ini. Dan itu sebenarnya inti kekristenan, yaitu mengerti kehendak Allah untuk kita lakukan, dan mengenal rencana-Nya untuk kita penuhi. Inilah gaya hidup hidup Yesus yang juga harus kita kenakan (Yoh. 4:34). Untuk hal ini, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh sepanjang hidup.
    Kalau seorang pria jatuh cinta, mengasihi, mencintai seorang wanita; atau sebaliknya, dicintai, itu jelas mudah terjadi karena ada impuls atau rangsang yang bisa dilihat, dan diri manusia ada lust, ada nafsu, ada eros yang memfasilitasinya. Demikian pula ketika seseorang menyukai satu barang, ia melihat barang itu, ada rangsang atau impuls dan ia memiliki jiwa yang memiliki keinginan, hasrat, desire, kerinduan untuk barang tersebut. Skema hidup seperti itu mudah terjadi atau berlangsung. Tetapi terhadap Allah yang tidak kelihatan, bukan sesuatu yang mudah, karena Allah tidak kelihatan, dan sering kita alami seakan-akan Dia tidak ada, dan jiwa manusia sudah terlanjur ada keinginan-keinginan terhadap banyak objek dan tidak ada keinginan untuk mencari Allah (Rm. 3:11).
    Ketika kita bersungguh-sungguh melangkah mencari Allah, sering kita alami seakan-akan Dia tidak menanggapi seperti yang kita harapkan. Kadang, seakan-akan orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan orang yang tidak mencari Tuhan kelihatannya sama. Tetapi Allah yang mulia dan agung, layak dan patut kita perlakukan dengan hormat, yaitu kita tidak boleh menuntut respons atau reaksi Dia dalam bentuk apa pun. Kita tetap percaya saja dan sungguh-sungguh mencari Dia. Dalam hal ini, Yesus sendiri berkata “berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat.” Dengan demikian, dasar atau landasan percaya bukanlah apa yang dirasakan oleh panca indera, tetapi percaya saja. Dari perjalanan hidup yang didasarkan pada “percaya saja,” seseorang dapat memiliki pengalaman yang berlimpah dengan Allah. Dari hal ini, seseorang pasti mengalami perubahan yang signifikan.
    Semakin kita serius dengan Allah, yang ditandai dengan hati yang mengasihi Dia, maka kita akan dibawa ke pusat pusaran pengalaman dengan Allah. Kita pasti akan lebih banyak mengalami Dia, makin mengenal kehendak-Nya, makin mengerti rencana-Nya, dan kita berhasrat untuk melakukannya. Kita akan memiliki pengalaman yang sangat pribadi dengan Allah. Allah yang seakan-akan tidak ada, kemudian menjadi nyata dan hidup, begitu riil. Di level ini, seseorang bisa menghayati kehadiran Allah yang semakin hari semakin kuat, tentu secara bertahap. Sehingga, seseorang bisa merasakan apa yang dimaksud hidup di hadirat Allah. Pengalaman hidup seperti ini tidak bisa dibahasakan dengan lengkap. Hal ini harus dialami secara pribadi dengan konkret. Dalam hal ini, Allah menjadi jelas, bukan karena menalar Dia dengan rasio, tetapi mengalami Dia secara riil.
    Ketika kita hidup di hadirat Allah sepanjang waktu,
    0 min
  • Hidup Tidak Gratis
    Sekalipun kita dapat memberi seluruh harta kita, tanpa kasih, semua sia-sia. Ini berarti bahwa kasih itu bukan hanya memberi sesuatu kepada seseorang, tetapi tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah, karena Allah itu kasih. Kalau kita membantu seseorang hanya karena kasihan dan kita senang dengan perbuatan tersebut, berarti kita melakukan untuk diri sendiri. Ini juga berarti kita masih mempunyai kepentingan. Tetapi kalau kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan Tuhan, maka kita menjadi gift, pemberian khusus dari Tuhan untuk orang sekitar kita. Siapa pun orang di sekitar kita, kita adalah gift dari Tuhan untuk mereka.
    Tidak bisa tidak, dalam hidup ini kita harus memilih; apakah kita melakukan sesuatu untuk dan karena diri sendiri, atau untuk dan karena perasaan Allah. Kalau kita memberi hidup sepenuhnya bagi Allah, kita melakukan segala sesuatu hanya untuk kesukaan hati Allah. Untuk ini, kita tidak harus menjadi aktivis gereja, majelis, atau pendeta, tetapi dalam segala hal yang kita lakukan, selalu menyenangkan hati Bapa. Jangan sampai terjadi, menjadi aktivis gereja, majelis, bahkan pendeta, tetapi malah tidak menyukakan hati Allah.
    Dari bangun pagi, kita sudah menghayati bahwa satu hari yang Tuhan berikan harganya tidak ternilai, yaitu kalau kita mengisi hari itu hanya untuk menyukakan perasaan-Nya. Harus diingat, bahwa baik orang kaya maupun orang miskin, berpendidikan atau tidak, pria atau wanita, orang terhormat di mata manusia atau tidak, memiliki kesempatan yang sama. Sama-sama memiliki satu hari yang tidak ternilai harganya. Banyak orang tidak menyadari hal ini, namun kalau sudah di ujung maut, baru mereka menyadari betapa berharganya satu hari itu. Dengan cara bagaimana pun, seseorang tidak bisa menambah satu hari umur hidupnya, dengan uang berapa pun.
    Satu hal yang kita harus perkarakan adalah bagaimana kita menjadikan satu hari menjadi tidak ternilai harganya. Jawabnya adalah mengisi hari hidup ini dengan melakukan segala sesuatu untuk kesenangan hati Allah. Jika tidak demikian, benar-benar sebuah kehidupan yang tidak bernilai, kehidupan yang celaka. Jadi, 70-80 tahun umur hidup kita, harus menjadi sesuatu yang bernilai untuk kekekalan, sebab segala sesuatu yang kita lakukan sekarang ini di bumi menentukan keadaan kekekalan kita. Dengan demikian, satu hari yang kita miliki, harganya tidak ternilai, sebab memberi dampak atau akibat terhadap keadaan kekekalan kita di balik kubur.
    Jika satu hari yang kita miliki benar-benar kita gunakan untuk menyenangkan hati Allah, maka hari itu menjadi hari yang luar biasa. Bukan hanya luar biasa untuk kita di bumi, tetapi juga luar biasa di Kerajaan Surga, baik sekarang ini maupun nanti. Kalau seseorang hidup suka-suka sendiri, ia harus membayarnya nanti di kekekalan, tentu dalam penderitaan kekal, yaitu terpisah dari hadirat Allah. Allah tidak akan bersama-sama dengan orang yang tidak menyukakan hati-Nya.
    Kalau seseorang mau berjuang untuk dapat menyukakan hati Allah, ia harus memiliki tekad yang kuat, sebab menyukakan hati Allah bukan hal mudah. Seperti yang dilakukan oleh Yesus, harus melalui penderitaan. Tetapi penderitaan tersebut mendatangkan upah di kekekalan, yaitu kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian, dapatlah diperoleh fakta sebagai hukum kehidupan bahwa hidup ini tidak gratis. Setiap orang harus menjalani jalan yang dikehendaki oleh Allah, dan memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi.
    Pengurbanan Yesus di kayu salib membuka ruangan pengadilan untuk semua manusia. Bagi mereka yang tidak mengenal Injil, dihakimi menurut perbuatan berdasarkan hukum yang mereka pahami atau taurat yang tertulis di hati mereka. Tetapi bagi orang percaya, standar hukum yang dikenakan adalah “berkenan di hadapan Allah.” Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 5:9-10 Paulus mengatakan, “Aku berusaha, baik aku diam dalam tubuh maupun di luarnya, supaya aku berkenan. Karena semua kita harus menghadap takhta pengadilan Kristus.
    0 min
  • Tidak Memiliki Kepentingan
    Menyembah Allah (Yun. proskuneo) artinya memperlakukan Dia sebagai Yang Mulia dan Agung. Dengan demikian, berarti memberi nilai tinggi bagi Allah, dan memperlakukan Dia sebagai satu-satunya yang bernilai. Sejatinya, inilah yang dimaksud dengan mempermuliakan nama-Nya. Kalau seseorang memberi nilai tinggi kepada Allah, maka seseorang bisa membunuh nafsu dan hasrat rendahnya. Orang seperti ini menjaga setiap kata yang diucapkan. Dia tidak meledakkan emosi yang dapat melukai hati orang lain. Dalam segala hal yang dia lakukan, tidak menyakiti dan tidak merugikan siapa pun. Orang percaya harus belajar memuliakan Allah dengan perbuatan-perbuatan baik secara umum atau dalam pengertian umum, hingga nantinya dapat selalu melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini bisa terjadi kalau kita mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat ilahi. Perubahan kodrat dimulai dari hal-hal sederhana setiap hari, sampai pada hal-hal yang besar. Ini bagian dari proses terjadinya kelahiran baru.
    Pada awal kita belajar untuk sungguh-sungguh dapat memuliakan Allah melalui segala hal yang kita lakukan, seakan-akan Allah tidak memberikan reaksi atau respons. Tetapi kita harus melakukannya terus, sebab itulah sebenarnya yang dimaksud dengan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Dari pengalaman hidup tersebut, kita akan memperoleh kesaksian dalam batin yang menjadi testimoni pribadi, bahwa Dia adalah Allah yang hidup. Kalau hal tersebut kita lakukan dengan setia, kita dapat memahami yang dimaksud dengan hidup tanpa memiliki kepentingan kecuali hanya untuk kesukaan hati Allah. Dalam hal ini, kita masuk dalam pelayanan yang sesungguhnya kepada Allah Bapa kita dan kepada Tuhan Yesus.
    Kehidupan yang memuliakan Allah itu tidak kompleks, sederhana, namun sangat sukar. Untuk ini, kita tidak boleh merasa memiliki kepentingan. Kita harus bertekad tidak memiliki kepentingan apa pun selain Allah, yaitu menyenangkan hati-Nya. Kita adalah budak (Yun. doulos) milik Tuhan Yesus. Untuk ini, kita tidak harus menjadi pengerja atau aktivis gereja, majelis gereja, apalagi menjadi pendeta. Kalau kita tidak terpanggil di tempat tersebut, kita malah membuat kesalahan. Yang penting, dalam segala hal yang kita lakukan, kita dapat menyukakan hati Allah dengan tidak melukai hati dan merugikan siapa pun. Orang yang berusaha dengan motivasi yang tulus mau menyenangkan hati Allah, pasti tidak melukai atau merugikan siapa pun. Sebab, orang yang mengasihi sesama pasti menyenangkan hati Allah.
    Oleh sebab itu, kita harus mempersoalkan apakah ada tindakan yang kita lakukan yang merugikan atau menyakiti orang lain? Kalau kita tidak merugikan dan tidak menyakiti siapa pun, kehidupan kita yang seperti ini adalah gift (hadiah) dari Tuhan untuk manusia di sekitar kita. Seperti Yesus yang adalah grace, gift dari Allah Bapa bagi dunia. Sebagai utusan Kristus, kita menjadi gift untuk orang di sekitar kita. Bahkan, untuk orang-orang yang memusuhi dan melukai kita. Jika kita bisa melakukan hal ini, kita benar-benar memuliakan Allah. Dan hal tersebut benar-benar menyenangkan hati Bapa. Dalam hal ini, betapa naifnya orang-orang yang merasa sudah memuliakan Allah hanya karena menyanyi atau mengucapkan syair yang memuat pujian bagi Allah. Memuliakan Allah pada dasarnya adalah sikap hati, yang tentu saja terekspresi dalam tindakan.
    Sangat mungkin di antara kita ada yang mempunyai dendam atau sakit hati, tersimpan di bawah sadar. Kita harus memperkarakan hal tersebut di hadapan Tuhan. Harus dipahami bahwa dendam yang tidak diselesaikan akan menjadi duka abadi, tetapi pengampunan adalah sukacita abadi di Kerajaan Surga. Tidak ada orang yang masih menyimpan dendam diperkenan masuk surga, karena memiliki dendam terhadap orang lain berarti membenci, dan seorang pembenci saudaranya adalah seorang pembunuh (1Yoh. 3:15). Memang dalam kenyataan hidup, sering kita dimusuhi oleh orang yang bukan berasal dari agama lain, tetapi saudara seiman,
    0 min
  • Testimoni Bagi Dunia
    Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi khususnya pada imam kepala, tokoh-tokoh agama, pemimpin dan rohaniwan Yahudi, “Robohkan Bait Allah ini. Aku akan membangunnya dalam 3 hari.” Bait Allah secara fisik sudah dibangun kira-kira selama 46 tahun. Diperbaiki oleh raja Herodes yang sedang mencari muka dari orang Yahudi, sebab dirinya bukan orang Yahudi, melainkan orang Edom. Ia diangkat raja oleh kaisar Roma untuk mengontrol Palestina. Tentu saja orang Yahudi tidak mau mengakui dia sebagai raja, sebab orang Yahudi sangat fanatik dalam kebangsaannya. Herodes mencoba mengambil hati orang-orang Yahudi dengan membangun kembali Bait Allah.
    Yesus berkata, “Rombak Bait Allah. Aku akan membangunnya dalam 3 hari.” Maksud “Bait Allah” di situ bukan bangunan secara fisik, melainkan tubuh-Nya, itulah Bait Allah. Pernyataan Yesus ini menunjukkan bahwa tubuh-Nya adalah Bait Allah. Hal ini menegaskan yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 6:19-20, bahwa kemudian hari orang percaya yang telah ditebus oleh Yesus dengan darah-Nya juga menjadi bait dari Roh Kudus. Terkait dengan soal penebusan ini, menunjuk soal budak pada zaman itu. Biasanya, budak yang dimiliki seorang tuan dapat dibeli atau ditebus oleh seorang majikan yang baru untuk menjadi miliknya. Budak tersebut, yang tadinya hidup dalam dominasi kekuasaan seorang tuan, harus pindah ke tuan yang baru. Tuan yang baru tersebut berhak melakukan atau berbuat apa saja terhadap budak yang dimilikinya.
    Kita ditebus oleh Yesus untuk menjadi milik-Nya. Kita seperti budak yang dibeli oleh seorang tuan, dimiliki sepenuh oleh tuan tersebut, yaitu Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan, “kamu bukan milik kamu sendiri.” Mengapa demikian? Karena kita telah ditebus, telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar. Pada zaman dahulu, seorang budak biasanya ditato di beberapa bagian tubuhnya untuk menunjukkan siapa pemilik budak itu. Hal ini juga kita alami sebagai orang percaya, Allah “menato” kita dengan memberikan meterai Roh Kudus. Meterai Roh Kudus ini tidak bersifat permanen, artinya kalau seseorang tidak hidup dengar-dengaran, maka ia bisa mendukakan Roh, memadamkan Roh, bahkan menghujat Roh. Ini berarti Roh Kudus akan meninggalkan dia.
    Orang percaya yang ditebus oleh darah Yesus tidak lagi memiliki dirinya sendiri, namun ia mendapat “tato” atau meterai Roh Kudus, supaya hidup untuk kemuliaan Allah. Jadi, kalau ia tidak hidup untuk kemuliaan Allah, berarti ia tidak mau dimiliki oleh Tuhan. Memuliakan Allah tentunya bukan hanya mengikuti liturgi; hal itu belum tepat. Memang agama-agama pada umumnya—terutama pada agama suku—jika melakukan seremonial, hal itu dipandang dapat menyenangkan hati dewa atau alah atau ilah yang disembah. Itulah penyembahan yang masih primitif. Penyembahan yang benar adalah dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Seluruh perbuatan kita adalah penyembahan kepada Allah. Itulah sebabnya, dalam 1 Korintus 10:31 tertulis, “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
    Allah kita bukan seperti allah, dewa atau ilah yang disembah dalam agama-agama suku yang dapat disukakan dengan seremonial atau liturgi. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak merasa dengan berliturgi, menyanyikan lagu rohani, berarti kita sudah menyembah Allah dan hal itu menyenangkan hati-Nya. Kenyataannya justru sebaliknya, sering liturgi malah membuat orang bohong atau menipu, sebab dalam kelakuan hidup kesehariannya tidak sesuai dengan syair yang dilantunkan dan pengakuan yang diucapkan dalam liturgi. Itulah sebabnya, menjadi persoalan penting, apakah syair yang termuat dalam lagu-lagu yang kita nyanyikan dan pengakuan-pengakuan dalam liturgi itu merupakan peta yang mewakili kenyataan hidup kita setiap hari? Kalau tidak, namanya munafik (Yun. hipokrites; orang yang memainkan peranan). Ini berarti malah membuat seseorang berdosa kepada Tuhan.
    0 min
  • Percaya Saja
    Injil adalah Kabar Baik, namun yang penting, kita harus mengerti isi dan muatan kata “baik” di dalam Injil. Kita tidak boleh memahami kata “baik” menurut versi dan perspektif (sudut pandang) kita sendiri. Pengertian “baik” dari Injil harus dipahami sesuai dengan versi dan sudut pandang Tuhan. Kalau kita membaca Injil dan melihat sejarah gereja mula-mula yang dimulai dari Yerusalem, yang ditulis dalam Kisah Para Rasul, dapat kita temukan bahwa mengikut Yesus adalah jalan yang sukar. Tuhan tidak memberikan garansi, jaminan hidup nyaman di bumi, pada hari-hari ke depan yang akan dilalui, tetapi Tuhan mengajar orang percaya untuk percaya saja. Tuhan menggaransi bahwa mereka yang mengikut Tuhan Yesus tidak akan dirugikan, dan tidak akan dipermalukan di kekekalan.
    Ada orang datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, aku akan ikut Engkau ke mana pun Engkau pergi,” Tuhan Yesus tidak menjawab “ya” atau pun “tidak.” Tetapi Yesus menyatakan satu pernyataan yang sekilas tidak “nyambung” dengan pernyataan orang tersebut. Yesus mengatakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:57-58). Di balik keinginan orang tersebut untuk mengikut Yesus, ia mau menikmati sebuah kenyamanan. Yesus menunjukkan bahwa mengikut Dia, akan menjalani hidup yang sulit, sebab pengikut-Nya harus menjalani hidup sama seperti hidup yang dijalani oleh diri-Nya, yaitu jalan penderitaan dalam melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yesus datang untuk melayani dan memberi diri menjadi kurban bagi tebusan dosa manusia.
    Ketika Abraham dipanggil keluar dari negerinya dan dari sanak keluarganya, Elohim Yahweh juga tidak memberikan jaminan atau garansi bahwa Abraham akan menikmati kenyamanan dalam perjalanan hidupnya ke depan. Abraham harus hanya percaya saja. Abraham harus keluar dari Ur-Kasdim, bertahun-tahun tidak memiliki anak. Bahkan kemudian, sampai mati dia tidak menemukan negeri yang dijanjikan (Ibr. 11:13-14), sebab negeri itu bukan tidak ada, melainkan belum ada. Negeri itu baru bisa dinyatakan nanti, ketika Yesus memerintah di langit baru bumi baru.
    Mengikut Yesus bukan jalan yang mudah—yaitu kalau mengikut Yesus dengan benar—artinya sungguh-sungguh belajar Firman Tuhan, menjalani kehidupan yang bersih, tidak bercacat, dan tidak bercela, serta mengabdi sepenuhnya kepada-Nya. Dalam pengiringan kita kepada Tuhan, sering seakan-akan Tuhan memperlakukan kita sama dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh mengikut Yesus. Bahkan, Tuhan juga tidak menunjukkan hal-hal spektakuler yang membuat kita bisa memberikan testimoni atau kesaksian kepada orang lain bahwa ikut Tuhan itu menguntungkan. Sehingga, kita tidak memiliki kesaksian atau testimoni yang menunjukkan keperkasaan dan kejaiban Tuhan serta kebaikan-Nya secara khusus. Apakah dalam keadaan seperti ini kita tetap setia, bahkan lebih bersungguh-sungguh? Orang Kristen yang dewasa tidak lagi menuntut harus mengalami mukjizat atau perbuatan Allah yang spektakuler, tetapi lebih mengutamakan bagaimana menjadi seorang yang berkenan di hadapan Allah.
    Pada umumnya, kita berharap memiliki testimoni yang melaluinya kita bisa bersaksi bahwa Tuhan kita “luar biasa” dan menguntungkan. Seperti obat suplemen yang dijual hari ini, supaya diminati, maka harus ada testimoni-testimoni. Dalam pengiringan kita kepada Tuhan, sering tidak ada testimoni yang membuat kita dapat memikat seseorang untuk menjadi Kristen yang sungguh-sungguh. Tidak ada hal-hal yang spektakuler yang dapat kita saksikan. Hal ini bisa membuat hati kita kecut. Namun demikian, kita harus percaya saja. Percaya, bahwa kalau kita benar-benar menjalani hidup kekristenan dengan benar, pada saatnya kita dapat menemukan testimoni dari pengalaman pribadi bahwa Allah itu hidup.
    Testimoni tersebut akan terbangun dalam wujud kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, sukacita di dalam Tuhan,
    0 min
  • Terlahir Istimewa
    Adalah sangat istimewa kalau kita terlahir dalam keluarga Kristen. Ada orang yang terlahir bukan sebagai orang Kristen, misalnya terlahir di daerah pedalaman. Mungkin sampai mati, ia tidak pernah menjadi orang Kristen. Kalaupun pernah mendengar Injil, tapi Injil yang didengarnya tidak benar. Kalau kita terlahir sebagai orang Kristen, kita disebut sebagai umat pilihan, tetapi ini bukan berarti pasti terpilih masuk surga. Ketika kita terlahir sebagai orang Kristen, kita diberi kesempatan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, mendapat kesempatan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Ini berarti, kita diberi kesempatan untuk dimuliakan bersama dengan Yesus. Tetapi aspek lainnya, kita harus menjalani hidup—yang berat dan sukar—sebagai umat pilihan, dan kita harus memutuskan hal ini sebagai pilihan.
    Kalau kita terlahir sebagai orang Kristen, begitu lahir, kita sudah mendapat stempel “kamu bukan berasal dari dunia ini.” Masalahnya, bagaimana orangtua sejak dini bisa mewarnai jiwa anak-anaknya supaya mereka menghayati bahwa mereka bukan berasal dari dunia ini? Orangtua harus memancarkan kehidupan seseorang yang bukan berasal dari dunia ini. Jadi, betapa besar tanggung jawab orangtua untuk memperkenalkan iman kepada anak-anak, dan mereka harus memilih. Anak-anak generasi milenial kebanyakan sudah tidak mengenal hal ini sama sekali, tetapi orangtua harus dapat menggarami mereka agar anak-anak tergiring menuju Kerajaan Allah di langit baru dan bumi yang baru nanti. Umat pilihan terlahir sebagai orang Kristen yang berutang untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging (Yoh. 8: 12-14).
    Manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah masih mampu menjadi orang bermoral berdasarkan hukum, secara otomatis oleh kondisi masyarakat dan kultur, dimana seseorang bisa terbawa untuk bermoral berdasarkan hukum. Tetapi kalau untuk menjadi orang percaya yang benar, ia harus mengikut jejak Yesus. Alkitab mengatakan “jadikan semua bangsa murid-Ku,” ini berarti bukan murid gereja, bukan murid orangtua, atau bukan pula murid pendeta (Mat. 28:18-20). Tuhan bisa memakai gereja, orangtua, pendeta untuk menjadi mentor, tetapi setiap individu harus berhubungan langsung dengan Allah. Harus ada hubungan interaksi, timbal balik dengan Allah secara konkret. Kalau hanya bermoral baik, seperti bangsa Israel, tidak harus memiliki hubungan langsung dengan Allah. Sebab, hukum bisa diajarkan kepada semua orang tanpa Roh Kudus. Tetapi untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula sesuai dengan maksud dan keselamatan yang Allah berikan, harus campur tangan Allah langsung kepada masing-masing individu; harus dipimpin oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya, kita harus memilih.
    Umat pilihan sebenarnya juga disebut sebagai umat “perjanjian.” Bangsa Israel memiliki perjanjian dengan Allah. Sebagai umat perjanjian, mereka tidak boleh menyembah allah lain selain Elohim Yahweh; mereka tidak boleh hidup di luar Taurat, sebab jika tidak hidup menurut Taurat, itu berarti mengingkari perjanjian. Ini adalah sikap pemberontakan. Sejarah bangsa itu menunjukkan bagaimana Allah menghukum mereka dengan sangat menyakitkan ketika mereka berkhianat kepada Allah dengan tidak melakukan hukum. Sebagai tanda umat perjanjian, mereka harus “disunat.”
    Bagaimana dengan orang percaya? Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengalami sunat hati, bukan secara fisik. Hati kita yang harus diremukkan. Kalau kita tidak mengikut jejak Yesus, berarti kita mengingkari perjanjian itu, sebab iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Jadi, tidak heran kalau dikatakan dalam Ibrani 12 sebagai “perlombaan yang wajib.” Perlombaan itu adalah berusaha memiliki iman yang sempurna seperti Yesus, artinya ketaatan kepada Bapa seperti Yesus (Ibr. 12:2). Orang percaya terikat perjanjian dengan Allah karena Yesus mati bagi kita; kita dibenarkan di hadapan Allah. Kita harus mengikut jejak Tuhan Yesus. Begitu terlahir, kita sudah berstatus bukan berasal dari dunia ini.
    0 min
  • Menuntut Seseorang Untuk Memilih
    Umat pilihan dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu: yang pertama, umat pilihan secara jasmani—yaitu berdasarkan darah dan daging—atau keturunan Abraham. Ini hanya berlaku bagi bangsa Israel dan umat Perjanjian Lama. Kalau seorang anak manusia terlahir sebagai orang Israel atau Yahudi, otomatis ia menjadi umat pilihan secara atau berdasarkan keturunan. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, dia langsung menjadi umat pilihan tanpa harus memilih. Yang kedua, umat pilihan Perjanjian Baru, ini tidak didasarkan secara darah daging, tetapi didasarkan pada iman, dan berlaku bagi segala bangsa dan suku. Sering kali umat pilihan Perjanjian Baru juga disebut sebagai Israel rohani.
    Selama ini, kita melihat kenyataan sebagian orang Kristen karena terlahir sebagai anak manusia dalam keluarga Kristen, otomatis menjadi orang yang beragama Kristen. Dulu, kita tidak tahu atau tidak menyadari bahwa kita telah menjadi Kristen tanpa memilih, dan kita menganggap bahwa kita sudah menjadi anak-anak Allah yang sah karena beragama Kristen dari orangtua atau pasangan hidup. Kita berpikir, kalau sudah terlahir dari keluarga Kristen, otomatis sudah menjadi orang Kristen yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini berarti juga sudah otomatis menjadi umat pilihan yang terpilih masuk surga.
    Kalau bangsa Israel tanpa memilih menjadi umat pilihan, hal itu tidak masalah sama sekali, sebab memang mereka menjadi umat pilihan berdasarkan keturunan atau darah dan daging. Tetapi, orang percaya menjadi umat pilihan karena berdasarkan iman. Iman menuntut seseorang untuk mengambil tindakan. Iman itu menuntut seseorang untuk memilih. Betapa banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak akan pernah terpilih menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, dan tidak akan pernah dimuliakan bersama dengan Yesus karena mereka tidak pernah memiliki iman. Mereka tidak pernah memiliki iman yang benar. Mereka memahami bahwa asal sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, artinya mengakui status-Nya, berarti sudah percaya dengan benar dan secara otomatis menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih.
    Orang-orang Kristen seperti tersebut di atas, merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah, dan pasti kalau mati masuk surga. Mereka membedakan orang Kristen dan non-Kristen hanya pada fakta, yaitu orang Kristen mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sedangkan orang non-Kristen tidak mengakui itu. Dan orang-orang Kristen yang sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat merasa memiliki nilai lebih. Mereka merasa sudah mendukung keberadaan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan hal itu dianggap sudah mensahkan diri mereka sebagai umat pilihan yang pasti masuk surga.
    Sejatinya, iman yang benar tidak bisa diturunkan secara otomatis, artinya iman tidak bisa otomatis dimiliki hanya karena memeluk agama Kristen karena keturunan. Iman itu menuntut keputusan pilihan individu, yang karenanya harus bertindak. Memang, orangtua harus memberikan pendidikan rohani untuk anak-anaknya. Dan orangtua harus lebih dahulu memiliki Allah, baru bisa mewariskan atau memberikan Tuhan kepada anak-anaknya. Memiliki Tuhan berarti: pertama, orangtua harus memiliki karakter Tuhan Yesus, baru mereka bisa menularkan iman itu kepada anak-anaknya.
    Yang kedua, orangtua harus hidup dalam damai sejahtera dan sukacita dalam Tuhan. Orangtua tidak boleh melandaskan suasana sukacitanya pada dunia. Orang yang melandaskan suasana sukacita jiwanya dari dunia, tidak mungkin dimiliki oleh Allah dan tidak mungkin memiliki Allah. Jadi, suasana sukacita dan damai sejahtera Allah harus melingkupi kehidupan orangtua, baru orangtua bisa menularkan atau mengimpartasikan kepada anak-anaknya. Itu pun anak-anak tidak otomatis bisa mendapatkan impartasi, harus melalui proses perjalanan yang panjang karena dunia juga berusaha untuk mewarnai mereka.
    Yang ketiga, orangtua harus hidup sepenuhnya bagi kepentingan-Nya. Orang tidak mungkin dimiliki Tuhan kalau tidak hidup sepenuh bagi k...
    0 min
  • Tidak Menunda
    Kita harus memilih, dan pilihan itu harus kita baharui setiap hari (update). Hendaknya, kita tidak menunda dalam memilih mengikut Yesus secara konsisten dan konsekuen. Penundaan berarti sebuah penolakan. Jika Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk berubah, kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Kalau seseorang sudah tidak ada kesempatan lagi, itu keadaan yang sangat mengerikan. Jadi, kalau hari ini Tuhan masih memberi kita nafas hidup, kita masih bisa mendengar peringatan Tuhan, kita harus mengambil keputusan memilih Dia. Dalam hal ini, dibutuhkan keberanian untuk memilih. Seseorang akan sangat menyesal ketika meninggal dunia, tetapi ia belum menemukan tujuan dirinya dihadirkan di bumi ini. Sesungguhnya, dalam kehidupan setiap individu ada rancangan Allah, dan setiap individu bertanggung jawab mewujudkannya.
    Oleh sebab itu, fokus kita hanya Kerajaan Allah saja. Dan itu adalah sebuah pilihan: menjadi manusia hari ini atau menjadi manusia hari esok. Kita harus memilih untuk menjadi manusia hari esok yang dibahasakan dalam Matius 6:21, “memindahkan hati; di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Kita harus mengakhiri jalan hidup dalam kewajaran dunia. Kelihatannya ini satu hal yang sederhana, tapi sebenarnya tidak. Kalau seseorang memiliki fokus hidup Kerajaan Allah, ia dapat merasakan perasaan krisis terhadap keselamatannya sendiri dan keselamatan orang lain. Nuh memiliki perasaan krisis ini, sehingga ia mendedikasikan hidupnya untuk membangun bahtera, karena ia melihat keselamatan umat manusia.
    Harus selalu diingat bahwa kita akan mati. Setelah itu, kita akan menghadapi kekekalan. Mengapa kita tidak maksimal untuk berprestasi bagi Allah selama kita masih hidup di bumi? Prestasi itu adalah menjadi serupa dengan Yesus, yaitu memiliki kemampuan melakukan kehendak Allah, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ini adalah prestasi kehidupan yang bernilai kekal. Menjadi serupa artinya berkarakter seperti Dia dan menderita seperti Dia untuk keselamatan orang lain (Flp. 3:9-10). Roh Kudus pasti membimbing kita pada jalan salib penderitaan, atau persekutuan dalam penderitaan-Nya.
    Untuk itu, kita harus memulai dengan melakukan sesuatu bersama Tuhan, dimana Tuhan nyaman bersama dengan kita. Kalau kita merasakan sesuatu dimana Tuhan tidak nyaman dengan apa yang kita lakukan, hendaknya kita tidak melakukannya. Seperti misalnya kalau kita bergaul dengan orang yang Tuhan tidak berkenan, seharusnya kita tidak bergaul dengan orang tersebut. Keputusan itu harus sekarang, tidak boleh ditunda. Hendaknya, kita tidak berpikir selalu masih ada waktu untuk berubah. Jangan sampai kita tertipu oleh kuasa gelap yang jahat, yang mengintimidasi untuk menunda, sampai akhirnya kita tidak mempunyai waktu untuk berubah dan memang tidak akan bisa berubah lagi; dimana pikiran sudah menjadi tumpul dan tidak akan pernah bisa mengerti kehendak Allah.
    Kita harus berani mengambil keputusan menjadi anak-anak Allah yang setiap saat menyukakan hati-Nya. Tuhan akan mengizinkan kita mengalami banyak hal—kesempatan berbuat dosa, korupsi, berzina, membalas kejahatan dengan kejahatan—namun kita harus memilih untuk tidak melakukan kesalahan. Tuhan sering membawa kita kepada keadaan-keadaan dimana terdapat peluang untuk berbuat dosa. Keadaan-keadaan seperti itu sebenarnya menjadi ujian bagi kita, seberapa kita mengasihi Tuhan. Kita terus menjaga kesucian, sampai kemudian kita bisa memberikan apa pun untuk kepentingan Kerajaan Allah. Dalam Filipi 3:10 tertulis, “dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” artinya Tuhan Yesus mati untuk kemuliaan Bapa. Hidup-Nya sepenuhnya utuh untuk Bapa di surga, demikian pula seharusnya gaya hidup kita. Kalau kita tidak mulai sejak sekarang, kita tidak bisa berubah. Dan pilihan itu kita lakukan setiap hari. Kita memiliki kehendak bebas, kita mau mengarahkan pikiran kita ke Kerajaan Surga atau dunia, tergantung diri kita sendiri. Mestinya, orang percaya hidupnya hanya diarahkan untuk melakukan kehendak All...
    0 min
  • Terhanyut Oleh Keadaan
    Menjadi seseorang yang beragama Kristen itu bisa bukan pilihan, karena hanya terhanyut secara otomatis oleh keadaan, berhubung orangtua beragama Kristen atau karena menikah dengan seseorang yang beragama Kristen. Tetapi untuk menjadi pengikut Yesus, seseorang tidak bisa “terhanyut secara otomatis,” karena itu adalah sebuah pilihan yang berat dan sukar yang harus diambil, serta harus memiliki komitmen yang bulat. Seseorang yang mau mengikut Yesus harus mengagendakan seluruh kegiatan hidupnya hanya untuk satu maksud, yaitu menjadi pengikut Yesus. Dan jika seseorang mengikut Yesus dengan benar, berarti ia menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.
    Merupakan suatu kesalahan fatal bila diajarkan bahwa menjadi orang Kristen itu dapat menikmati kenyamanan hidup di dunia seperti manusia pada umumnya, dan dengan mudah memiliki jaminan pasti masuk surga, kalau sakit bisa didoakan dan dengan mudah memperoleh mukjizat kesembuhan sebab bilur-bilur Yesus berkuasa. Di gereja-gereja tertentu, selalu juga dikemukakan bahwa Allah itu baik, penuh kasih, memberi berkat jasmani secara berlimpah. Ajaran-ajaran seperti ini akhirnya melahirkan orang-orang Kristen oportunis; artinya orang-orang yang mencari keuntungan tanpa memedulikan kebutuhan atau kepentingan pihak lain, sebab bagi mereka, yang penting dirinya memperoleh keuntungan. Tentu mereka menjadi orang-orang Kristen yang tidak mengerti bagaimana mengabdi dengan benar kepada Tuhan.
    Di dalam gereja, kita sering mendengar pernyataan-pernyataan seperti: “Allah baik, Allah menyayangi, Allah melindungi, Allah menjaga, Allah mengerti perasaan kita, tetesan air mata kita disimpan dalam kirbat-Nya,” dan lain sebagainya yang senada. Pernyataan-pernyataan tersebut tidak salah kalau ditujukan kepada orang Kristen yang masih baru, tetapi untuk orang Kristen yang dewasa, mestinya tidak lagi dijejali dengan kalimat-kalimat tersebut. Kalau orang Kristen selalu terpaku pada pernyataan-pernyataan tersebut, mereka terparkir pada kebodohan sehingga selalu menjadi orang Kristen yang berpikir secara kanak-kanak. Kita bisa maklum kalau kalimat-kalimat tersebut hanya untuk orang yang baru masuk Kristen. Tetapi, kalau kita sudah akil baligh, dan mestinya sudah menjadi dewasa rohani, maka sudah tidak lagi memiliki alam pikiran seperti Kristen kanak-kanak.
    Banyak komunitas Kristen yang tidak bertumbuh. Mereka tetap pergi ke gereja, tetap berliturgi, tapi pemahamannya tentang Allah dangkal. Mereka hanya berbicara mengenai Allah yang baik, yang melindungi, yang mengampuni dosa, Allah yang nanti menyediakan surga, memberi kekuatan, menyembuhkan yang sakit, mencukupi semua kebutuhan, dan lain sebagainya. Mereka tidak mau tahu bahwa mengikut Yesus berarti harus memiliki gaya hidup-Nya. Mestinya setelah menjadi Kristen yang dewasa, yang harus dipersoalkan bukan hanya bagaimana dijaga oleh Tuhan, tetapi bagaimana menjaga diri kita dari pengaruh dunia dan menjaga pekerjaan Tuhan, atau ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Ini adalah pilihan untuk tidak memiliki kehidupan normal menurut dunia.
    Orang Kristen karena keturunan bisa menjadi orang-orang Kristen yang setia dalam ukuran umum. Mereka bisa membela kekristenan dengan kekerasan, tapi bukan itu yang Tuhan kehendaki. Yang Tuhan kehendaki adalah memilih untuk mengikut Yesus. Kalau hanya menjadi orang yang beragama Kristen, bisa dilakukan tanpa memilih, bisa terkondisi dengan sendirinya, pergi ke gereja setiap hari Minggu, dan menjadi orang yang bermoral baik. Tetapi kalau mengikut Yesus, itu adalah pilihan. Karena tidak bisa terkondisi dengan sendirinya. Harus ada komitmen dan tekad untuk bagaimana mengisi hari hidup dalam pertumbuhan iman yang benar.
    Harus diingat bahwa menjadi tua itu otomatis, tapi menjadi dewasa adalah perjuangan. Memang melalui pengalaman hidup, seseorang bisa menjadi dewasa secara mental, tetapi untuk menjadi dewasa rohani—dimana makin hari makin serupa dengan Yesus—adalah perjuangan. Hendaknya,
    0 min
  • Keberanian Memilih
    Mengikut Tuhan Yesus itu pilihan. Orang percaya harus memiliki pilihan dari dirinya dalam mengikut Tuhan Yesus. Ini berarti menjalani hidup Kristen yang normal (yang benar) tidak dapat diwariskan secara otomatis, tetapi harus menjadi pilihan setiap individu. Banyak orang Kristen merasa sudah memilih Tuhan Yesus, padahal dia belum pernah memilih Dia. Mereka menjadi Kristen karena orangtua atau pasangan hidup. Sejatinya, orang-orang seperti ini belum pernah memilih Yesus. Imannya pasti bukan iman yang benar, sebab iman itu artinya penurutan terhadap kehendak Allah. Orang-orang Kristen yang menjadi Kristen sejak lahir, sangat berpotensi menjadi orang yang hanya beragama Kristen, tanpa pernah menetapkan pilihan. Ini bukan berarti orang yang menjadi Kristen sejak lahir pasti tidak berkualitas, tetapi keadaan tersebut berpotensi menempatkan seseorang hanya menjadi orang yang beragama Kristen tanpa isi kekristenan yang benar.
    Mengikut Yesus berarti menjadi serupa dengan Dia. Kita tidak dapat secara otomatis menjadi serupa dengan Yesus dengan beragama Kristen saja. Serupa dengan Yesus bukan berarti kita bisa sejajar atau setara dengan-Nya, melainkan kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Yesus Kristus (Flp. 2:5-7), dimana kita memiliki kecerdasan rohani. Sehingga kita bisa melakukan segala sesuatu, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan perjuangan dari saat ke saat, secara intensif. Dibutuhkan komitmen yang sungguh-sungguh. Oleh karenanya, hal mengikut Yesus harus merupakan pilihan.
    Kalau orang merasa sudah mengikut Yesus dengan beragama Kristen dan hanya pergi ke gereja, pasti ia tidak memiliki perjuangan untuk menjadi serupa dengan Yesus. Oleh sebab itu, gereja harus mengajarkan kebenaran yang mendorong jemaat untuk mengagendakan hal ini sebagai satu-satunya isi hidupnya, dan mengambil keputusan untuk memilih mengikut Dia. Itulah sebabnya, di dalam pelayanan penggembalaan, pengajaran itu sangat penting. Seperti murid-murid pertama yang ditulis dalam Kisah Rasul, mereka tekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka bukan hanya menalar Tuhan, melainkan juga mengalami perjumpaan dengan Allah dari apa yang diajarkan. Pengajarannya pasti berimplikasi dalam pengalaman hidup secara konkret.
    Setiap hari kita harus memilih, apakah hanyut oleh berbagai kesibukan tanpa memedulikan Tuhan, atau kita masih menyediakan waktu mendengarkan khotbah, belajar Alkitab, membaca buku rohani, dan meditasi. Kenyataannya, banyak orang Kristen mengalokasikan waktunya hanya untuk kesibukan dunia. Tetapi tidak menyediakan waktu untuk Tuhan secara memadai. Walaupun mereka masih tetap pergi ke gereja, tetapi mereka tidak mempunyai pilihan mengikut Yesus dengan benar. Mereka beragama Kristen tanpa memiliki kekristenan. Orang-orang Kristen seperti itu bisa menjadi orang beragama Kristen yang baik dan bermoral, tetapi tidak pernah melakukan kehendak Allah dalam standar yang dikehendaki oleh Allah, yaitu sebagai umat pilihan Perjanjian Baru; bahkan, ada juga orang-orang Kristen yang moralnya lebih buruk dari orang non-Kristen.
    Jadi, kalau seseorang menjadi orang yang beragama Kristen sejak lahir merasa sudah memiliki kekristenan, ia harus menyadari keadaan yang membahayakan ini dan bersedia untuk bertobat. Kita harus sungguh-sungguh memilih. Kalau tidak, kita pasti akan ditolak oleh Tuhan nanti (Mat. 7:21-23). Karena standar orang yang masuk Kerajaan Surga—dalam konteks keluarga Kerajaan—adalah melakukan kehendak Bapa. Setelah kita mengambil keputusan atau memilih mengikut Yesus, kita harus belajar kebenaran Firman Tuhan, memiliki kepekaan, mengerti kehendak Allah, dan melakukannya. Selanjutnya, kita akan dibawa kepada pengalaman memikul salib atau menderita untuk Dia. Penderitaan adalah jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh kemuliaan bersama-sama dengan Yesus (Rm. 8:17).
    Ketika Yesus tampil di tengah-tengah bangsa Israel,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…