Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • SATU-SATUNYA JALAN
    Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan sampai kepada Bapa. Pernyataan Yesus ini sangat istimewa yang menunjukkan bahwa kita bisa masuk dalam hubungan istimewa dan eksklusif dengan Bapa seperti yang dikemukakan Yesus dalam doa-Nya di dalam Yohanes 17:21 (“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”). Ayat ini bukan saja menunjukkan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus, melainkan Yesus bisa menjadi jalan masuk ke dalam persekutuan dengan Allah semesta alam, dimana Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak. Inilah sebenarnya inti Injil, terbukanya jalan untuk menemukan kembali persekutuan dengan Allah yang esa. Sebagai umat pilihan, kita benar-benar sangat beruntung karena memiliki kesempatan ini.
    Untuk itu, kita harus berani menginvestasikan hidup kita sepenuhnya guna mencapai hal tersebut. Dalam hal ini, harus ada kesediaan menyerahkan hidup kita tanpa batas untuk mewujudkan kedekatan atau keintiman dalam persekutuan dengan Allah, sesuai dengan yang Allah kehendaki, seperti yang termuat dalam doa Yesus: “Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.” Dalam kewajaran hidup seperti manusia beragama lain, banyak orang Kristen menjadikan kekristenan sekadar hiasan dalam hidupnya. Kekristenan bukanlah bagian hidup kita, bukan sekadar menjadi hiasan kehidupan, melainkan kekristenan itu sendiri adalah segenap hidup kita. Ini berarti, Tuhan menjadi segalanya dalam hidup kita. Kehidupan untuk bersekutu dengan Allah atau hidup dalam kekristenan yang sejati adalah seluruh hidup kita. Kesediaan menyerahkan segenap hidup kita untuk hidup persekutuan dengan Allah adalah kemutlakan. Orang yang tidak bersedia melakukannya berarti menolak anugerah keselamatan.
    Yesus sebagai jalan, bukan terjadi atau berlangsung secara otomatis dalam hidup kita, melainkan harus ada usaha dari pihak kita yang menyita seluruh hidup dan mengambil semua kekuatan atau potensi dalam hidup kita ini, untuk menjalaninya. Banyak orang berpikir bahwa kematian Yesus di kayu salib secara otomatis telah memperdamaikan orang percaya dengan Allah. Pengertian ini belum lengkap. Salib secara hukum (de jure) membuka peluang manusia diperdamaikan dengan Allah, tetapi secara kenyataan (de facto), harus ada usaha manusia untuk membangun perdamaian tersebut, agar ada perdamaian yang ideal. Kalau orang mengaku percaya dan menerima Yesus tetapi tidak memberi diri dimuridkan untuk diubah dalam sepanjang perjalanan hidupnya guna mengenakan kodrat ilahi, maka ia tidak menemukan kehidupan yang diperdamaikan dengan Allah.
    Satu aspek, Yesus menjadi jalan, artinya melalui salib Ia memikul semua dosa kita, mengampuni dosa, dan membenarkan kita di hadapan Allah. Ini adalah dimensi pasif dari keselamatan yang kita peroleh. Tetapi aspek lain, Yesus juga menjadikan semua bangsa murid, artinya mendidik kita untuk mengalami perubahan. Perubahan itu harus sampai pada tingkat perubahan kodrat. Perubahan itulah yang akan mengondisi hidup kita untuk dapat memiliki persekutuan dengan Allah. Mengondisi artinya dengan keadaan hidup kita yang berkodrat ilahi, maka kita dapat memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah. Kalau seseorang belum mengalami perubahan kodrat, ia tidak dapat mengimbangi kesucian Allah. Allah menghendaki kita kudus seperti diri-Nya (1Ptr. 1:14-16). Jadi, untuk menjadi seorang yang bersekutu dengan Allah, ia harus kudus seperti yang dikemukakan oleh Firman Tuhan: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu (2Kor. 6:17).
    Oleh sebab itu, kata “jalan” dalam ucapan Yesus di dalam Yohanes 14:6 tidak boleh dipahami hanya dari satu dimensi, yaitu dimensi pasif; tetapi juga dimensi lain, yaitu dimensi aktif,
    0 min
  • IMAN FANTASI
    Banyak orang Kristen merasa bahwa dirinya telah dibenarkan oleh iman di hadapan Allah, hanya karena mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Iman hanya dipahami sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran, padahal iman adalah tindakan. Tindakan tidak cukup dirumuskan dengan kata-kata dan disusun sebagai sistematika teologi. Hendaknya, kita tidak merasa sudah percaya kepada Yesus hanya karena dapat membuat tulisan dalam format-format definisi kalimat akademis yang dinalar, mengenai apa yang dimaksud dengan “percaya” atau “beriman” dalam lembar-lembar karya ilmiah. Format-format definisi kalimat akademis yang dinalar dalam berbagai pokok ajaran sering dipandang sebagai solusi untuk menjalani hidup kekristenan. Seakan-akan dengan memahami pengajaran-pengajaran tersebut, seseorang dapat membangun kehidupan Kristiani sesuai dengan standar Alkitab. Padahal, sering kali pengajaran-pengajaran tersebut hanya untuk mengisi pikiran tanpa memiliki implikasi yang jelas. Hal ini juga disebabkan karena nuansa teologi lebih cenderung pada keyakinan dalam pikiran, bukan pada tindakan yang harus dilakukan.
    Banyak orang Kristen hanya mendapatkan penjelasan mengenai iman dari bangunan berpikir para teolog yang dibesarkan dalam tembok akademis. Hal ini membangun pemikiran bahwa dengan memahami teologi, seseorang sudah dapat menjalani hidup kekristenannya dengan benar. Dalam gereja, banyak ajaran yang secara logika memang dapat membangun penalaran yang sistematis mengenai pokok-pokok ajaran Alkitab yang diakui sebagai kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan pula secara akademis. Tetapi pada kenyataannya, penjabaran mereka tidak memiliki “implikasi konkret” yang membangkitkan kehidupan keberimanan yang benar. Inilah yang membuat gereja-gereja di Eropa menjadi mati. Inilah kekristenan yang hanya memiliki Allah dalam fantasi.
    Seseorang bisa berkata bahwa dirinya beriman kepada Allah, tetapi apakah Allah merasa dan mengakui iman tersebut? Bisa terjadi, seseorang merasa sudah beriman padahal Allah menilai bahwa orang tersebut belum melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. “Beriman” yang sama dengan “percaya” dalam teks asli Yunaninya adalah pisteuo yang artinya “menyerahkan diri.” Tindakan Abraham di sepanjang perjalanan hidupnya adalah bentuk iman yang Allah kehendaki. Dalam hal ini, iman bukanlah sekadar aktivitas pikiran. Jika demikian, betapa banyak orang Kristen hari ini yang sebenarnya belum beriman. Bisa dimengerti mengapa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 2:14-26). Iman yang dimaksud Yakobus adalah “keyakinan di dalam pikiran.” Keyakinan di dalam pikiran harus disertai dengan tindakan konkret, yaitu penurutan terhadap kehendak Allah. Itulah sebabnya, kalau seseorang tidak melakukan kehendak Bapa atau tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, berarti tidak beriman, maka ia tidak dikenal oleh Tuhan (Mat. 7:21-23).
    Firman Tuhan mengatakan “orang benar akan dibenarkan oleh iman.” Tentu saja “iman” yang dimaksud (Kitab Roma) di situ adalah iman seperti yang diperagakan oleh Abraham, sebab penjelasan Paulus mengenai iman dihubungkan dengan kehidupan Abraham. Oleh sebab itu, untuk mengerti iman yang dimaksud oleh Alkitab, kita harus memerhatikan kehidupan Abraham, sehingga kita memiliki pengertian “iman” yang benar. Dan selanjutnya, kita harus memiliki langkah-langkah kehidupan seperti Abraham dalam penurutan terhadap kehendak Allah (Rm. 4:8-13). Kalau dikatakan bahwa kita dibenarkan oleh iman, itu berarti tindakan-tindakan kita harus dalam penurutan terhadap kehendak Allah, yaitu mengikut jejak Yesus yang menempatkan kita sebagai orang yang diakui percaya kepada Tuhan. Jadi, kalau hanya mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, belum berarti percaya kepada-Nya.
    Pernyataan Alkitab bahwa kita “dibenarkan bukan karena perbuatan” berarti seseorang tidak dapat dianggap benar hanya karena melakukan hukum (Taurat),
    0 min
  • MENYADARI REALITAS
    Ketika COVID-19 merebak, ada kegelisahan yang kuat di dalam diri saya terkait dengan kehidupan jemaat Tuhan dan para pelayan-Nya yang menjadi tanggung jawab saya sebagai gembala dan pimpinan sinode. Kehidupan jemaat dan para pelayan-Nya di sini, maksudnya bukan hanya kehidupan jasmani atau yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, melainkan terutama kehidupan kekal mereka. Dengan lebih mudahnya terjadi kematian akibat terpapar COVID-19 ini, saya berpikir mengenai kesiapan mereka menghadapi kematian. Sebelum pandemi COVID-19 ini—dimana sudah sering saya perkatakan dalam banyak kesempatan dengan perasaan cemas—tetapi sekarang, dengan lebih rentannya fisik karena pandemi COVID-19, saya lebih cemas. Fakta empirisnya, banyak orang yang menjadi korban dengan mudah, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan yang memang sudah memiliki penyakit penyerta—darah tinggi, diabetes, jantung, dan lain sebagainya—seperti yang dilansir di berbagai media. Bagi mereka yang sudah mengidap penyakit-penyakit tersebut, mereka lebih mudah mengalami kematian ketika terpapar COVID-19.
    Ketika keadaan belum genting seperti hari ini, banyak orang tidak menyadari realitas hidup. Mereka hidup dalam suasana nyaman, segala sesuatu berjalan dengan baik, tidak ada yang mengejutkan. Namun, kita tiba-tiba dikejutkan oleh pandemi COVID-19. Banyak orang bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi. Inilah realitas kehidupan. Di dunia yang sudah jatuh ini, segala sesuatu yang mengejutkan bisa terjadi di luar dugaan atau prediksi manusia, seperti pandemi COVID-19 ini. Keadaan hari ini, sebenarnya juga belum terlalu genting dibanding dengan keadaan yang bisa lebih genting, yaitu nanti ketika pecah perang, terjadi bencana alam, dan bencana lainnya yang membuat kematian mudah terjadi.
    Dengan pandemi COVID-19 ini, orang bisa lebih menghayati gentingnya realitas kehidupan. Harus selalu diingat, bahwa kematian adalah fakta yang pasti akan terjadi, dialami setiap orang, cepat atau lambat. Oleh sebab itu, setiap orang harus mempersiapkan diri menghadapi realitas ini setiap saat. Faktanya, memang jarang sekali orang yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi hari kematiannya. Hal ini menunjukkan bahwa sedikit sekali orang yang serius mempersoalkan kekekalannya. Mengapa bisa terjadi demikian? Sebab, perhatian manusia hanya tertuju kepada perkara-perkara yang kelihatan. Dunia hari ini adalah dunia yang materialistis, yang filosofinya adalah materi merupakan nilai tertinggi kehidupan. Itulah sebabnya, Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus mengatakan: Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2Kor. 4:16).
    Banyak orang sebenarnya belum siap menghadapi kematiannya, karena mereka belum sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadap takhta pengadilan Kristus. Banyak orang Kristen hanya sampai taraf beragama, tetapi belum benar-benar ber-Tuhan. Jadi, Allah yang mereka yakini adalah Allah dalam fantasi. Orang yang hanya beragama tetapi tidak sungguh-sungguh ber-Tuhan, pada umumnya tidak berani menyongsong kematiannya. Orang-orang seperti ini, kalau menghadapi kematian hanya bisa dalam kepasrahan tanpa kepastian menerima kemuliaan bersama Kristus. Kepasrahan mereka adalah kepasrahan dalam keyakinan “mudah-mudahan diterima oleh Tuhan Yesus.” Dan mereka menganggap hal itu cukup. Kepastian pengharapan menerima kemuliaan dengan sukacita hanya bisa dialami oleh orang percaya yang benar-benar hidup ber-Tuhan.
    Ber-Tuhan artinya mengalami Tuhan secara rill, dimana seseorang berinteraksi dengan Tuhan dalam interaksi konkret setiap saat. Hal ini bisa terjadi kalau seseorang hidup dalam kesucian, tidak terikat dengan dunia, dan hidup dalam pengabdian sepenuhnya kepada Dia. Dalam konteks hidup orang percaya atau dalam ukuran keberimanan orang percaya, ber-Tuhan haruslah sampai pada taraf memenuhi doa yang diucapkan oleh Yesus di Yohanes 17:20-21,
    0 min
  • MENEMUKAN MENTOR YANG BENAR
    Di mana Tuhan dapat dikenal dan ditemukan oleh orang percaya? Tuhan sudah hadir dalam kehidupan setiap orang, sebab sejak kedatangan Anak Allah yang bernama Yesus, Allah berkenan hadir dalam kehidupan setiap insan umat pilihan. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa Yesus adalah Immanuel, artinya Allah beserta dengan kita. Bagi orang percaya, Roh Kudus dimeteraikan untuk membimbing kehidupannya. Ini berarti Tuhan bukan hanya mendampingi orang percaya, melainkan Tuhan tinggal di dalam kehidupan orang percaya. Tidak ada pemisah antara Allah dan manusia. Itulah sebabnya, sering dikatakan bahwa Allah hanya sejauh doa. Di mana Allah dapat ditemukan? Jawabnya adalah di dalam kehidupan orang percaya di dalam segala hal dan di mana pun mereka berada. Dalam hal ini, orang percaya tidak perlu meyakini ada tempat-tempat khusus di mana Allah bisa lebih dapat dijumpai.
    Allah dapat dikenal dan ditemukan di sepanjang menit, detik, dan setiap saat dalam perjalanan hidup kita. Orang percaya tidak perlu mencari-cari Allah di tempat tertentu. Di mana pun orang percaya berada dan dalam segala keadaan, Allah hadir dan bergerak. Allah tidak pernah berhenti memelihara, melindungi, dan mendidik orang percaya. Masalahnya terletak pada masing-masing individu, apakah menanggapi kehadiran Allah dalam hidup ini. Bagaimana cara menanggapi kehadiran Allah tersebut? Tentu membutuhkan hamba-hamba Tuhan yang memberi bimbingan atau penggembalaan. Untuk itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Allah memilih atau menunjuk orang-orang yang menjadi hamba-Nya untuk menjadi pembicara yang menuntun umat agar dapat menemukan dan mengalami Tuhan (Yoh. 21:15-17; 1Ptr. 5:2).
    Masalahnya kemudian adalah hamba-hamba Tuhan yang mestinya menggembalakan jemaat dengan memberi tuntunan bagaimana menanggapi kehadiran Allah hanya menjejali pikiran jemaat dengan doktrin atau ajaran yang hanya di dalam nalar. Doktrin dan ajaran-ajaran tersebut kurang, bahkan tidak memiliki implikasi yang jelas dalam menjalani hidup kekristenan. Kalau jujur, bisa dikatakan bahwa sangat sedikit atau hampir-hampir tidak ada jemaat yang berinteraksi langsung dengan Allah sebagai hasil dari menerima doktrin atau ajaran-ajaran para pembicara di mimbar gereja. Ironisnya, teolog-teolog tersebut merasa sudah memenuhi tanggung jawabnya dalam melayani jemaat, dan inilah standar pelayanan dalam gereja-gereja pada umumnya.
    Lebih dari siapa pun yang dapat dijadikan sebagai gembala atau mentor bagi jemaat, setiap orang percaya harus memiliki interaksi langsung dengan Allah. Masing-masing individu harus bertanya kepada Allah dengan kesungguhan, ke mana mereka harus berjemaat atau bergereja. Sudah saatnya setiap orang percaya memperkarakan siapa yang benar-benar menjadi jurubicara Tuhan yang dapat menggembalakan umat agar bisa menjumpai Allah, dan dapat berinteraksi langsung dengan Allah. Allah pasti berbicara kepada masing-masing orang percaya dan memberi petunjuk.
    Dengan kehadiran Allah di tengah-tengah orang percaya, seharusnya orang percaya dapat mendengar suara-Nya. Hendaknya, orang percaya tidak ragu-ragu terhadap bimbingan langsung dari Allah kepada setiap individu secara khusus. Untuk ini, orang percaya harus berani menginvestasikan waktunya guna menemukan Allah dan hidup berjalan dengan Dia. Orang percaya harus bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan Allah, serta meninggalkan percintaan dengan dunia. Orang percaya harus berani untuk tidak duniawi. Harus selalu diingat bahwa kita datang ke dunia tidak membawa apa-apa, kita juga meninggal dunia tidak membawa apa-apa. Menemukan Allah dan hidup dalam Dia harus menjadi agenda satu-satunya dalam kehidupan.
    Kalau seseorang tidak bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela serta tidak bersedia meninggalkan percintaan dunia, sebaiknya atau seharusnya berhenti jadi orang Kristen, sebab percuma ke gereja dan menjadi orang Kristen.
    0 min
  • MENDENGAR SUARA ALLAH
    Banyak orang Kristen berpikir, dengan pergi ke gereja, mereka pasti mendengar suara Allah melalui khotbah pendeta di mimbar gereja. Biasanya, jemaat sangat yakin bahwa semua khotbah adalah suara Allah untuk jemaat yang datang ke gereja. Jadi, kalau tidak ke gereja, mereka merasa tidak mendengar suara Allah. Itulah sebabnya, acara khotbah sering disebut sebagai pemberitaan Firman Allah. Tidak jarang sebelum khotbah, jemaat menyanyi dengan memuat syair: Berbicaralah kepada kami, ya, Allah. Jemaat juga memandang bahwa pendeta yang berdiri di mimbar selalu mewakili Allah sebagai jurubicara-Nya untuk menyampaikan teguran, peringatan-peringatan, dan nasihat-nasihat-Nya. Itulah yang membuat jemaat mudah memercayai seorang pembicara yang berbicara atas nama Tuhan dalam menyampaikan segala sesuatu yang dipandang, juga selalu sesuai dengan Alkitab, tentu karena menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai landasannya, walau penafsiran pendeta tersebut belum tentu benar.
    Apakah setiap khotbah pendeta selalu suara Allah? Belum tentu. Khotbah pendeta belum tentu suara Allah atau memuat nasihat Allah. Khotbah yang didengar di gereja sering hanya sebuah paparan pandangan seorang teolog, apakah pandangannya sendiri atau memaparkan pandangan orang lain, seperti pandangan para teolog masa lalu. Tidak jarang, khotbah pendeta di gereja hanya berisi paparan pikiran manusia yang tidak membawa perubahan dalam kehidupan jemaat. Di gereja-gereja tertentu yang pembicaranya sering mengatasnamakan Tuhan, nama Tuhan sering diobral begitu murahan. Jemaat yang tulus hati dengan mudah tertipu atau terperdaya
    Pertanyaannya: Apakah mimbar gereja bukan tempat Allah berbicara? Tentu saja itu sarana yang Allah gunakan untuk berbicara kepada umat. Tetapi masalahnya adalah apakah si pembicara benar-benar tinggal di dalam Tuhan, dan Dia di dalam diri pembicara? Apakah pembicara benar-benar hidup di hadirat Allah dengan benar sehingga dipercayai menjadi jurubicara Allah? Dengan fakta bahwa Allah membiarkan lalang dan gandum tumbuh bersama-sama di dalam gereja, maka hal ini mengindikasikan bahwa Allah membiarkan adanya penyesat-penyesat di dalam gereja (Mat. 13:34-20). Terkait dengan hal ini, Yesus berkata: “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Mat. 18:7).
    Untuk mengaku sebagai hamba Tuhan yang berbicara atas nama-Nya, bukan sesuatu yang sulit. Asal bisa masuk atau mengikuti pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi, seseorang pasti bisa berdiri di mimbar dan berbicara mengenai Tuhan. Tetapi, apakah ia berbicara dalam tuntunan Roh Kudus untuk menyampaikan isi hati Tuhan, sangat ditentukan oleh kualitas hidup orang tersebut dalam persekutuannya dengan Allah. Seorang yang benar-benar hidup dalam kesucian, tidak mencintai dunia, atau yang kebahagiaannya hanya pada Tuhan, hidup dalam doa yang memadai serta dilengkapi dengan pemahaman teologi yang benar, adalah yang menjadi jurubicara Allah.
    Dewasa ini, banyak pendeta sangat cakap berbicara mengenai teologi. Hal ini tidak sulit diperoleh atau dilakukan kalau mereka belajar teologi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Kecakapan seseorang berbicara mengenai teologi bukanlah jaminan atau ciri bahwa ia seorang hamba Tuhan yang benar dan pantas menjadi jurubicara Tuhan. Sangatlah mudah untuk berkarier menjadi pembicara teologi guna memperoleh nafkah dengan meniti karier dari seminari atau sekolah tinggi teologi. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak mudah percaya kepada mereka. Tentu tidak semua mereka hamba uang atau hamba karier untuk mencari popularitas.
    Itulah sebabnya, persiapan seorang hamba Tuhan bukan hanya mengikuti rangkaian perkuliahan sehingga menyandang gelar sarjana, magister, atau doktor teologi, juga tidak cukup selama beberapa hari sebelum berkhotbah mengumpulkan naskah dari berbagai sumber, tetapi kehidupan setiap saat dalam perkenanan Allah. Jangan merasa sudah mempersiapkan diri sebagai pemb...
    0 min
  • FANTASI DALAM GEREJA
    Banyak orang berpikir bahwa di gereja, orang Kristen dapat atau pasti akan bisa bertemu dengan Allah. Hal ini sebenarnya akibat pengaruh agama-agama lain, dimana mereka lebih meyakini bahwa ilah atau dewa berada di tempat-tempat suci yang khusus. Di tempat-tempat khusus tersebut, mereka biasanya mengadakan ritual upacara agama atau seremonial agama. Dengan konsep ini, banyak orang Kristen berpikir bahwa Tuhan lebih bisa ditemukan di gereja daripada di tempat lain. Paling tidak, di gereja Tuhan lebih mudah ditemui, sebab Ia suka berada di gereja. Itulah sebabnya, ada larangan bicara keras-keras di gereja walaupun tidak ada orang sedang berdoa atau mengadakan kebaktian, tidak boleh mengenakan pakaian sembarangan, tidak boleh makan dan minum bukan karena demi kebersihan melainkan demi kesakralan. Ada pula gereja yang mewajibkan seseorang yang berdiri di mimbar harus membuka sepatu, bukan karena demi kebersihan gereja melainkan menganggap bahwa area di sekitar mimbar ada kehadiran Allah secara khusus. Hal ini membuat seseorang secara kejiwaan, kalau berdoa di gereja lebih merasakan kehadiran Allah. Karenanya, kalau berdoa di gereja, emosi atau perasaannya mudah terbangkitkan.
    Apakah benar, kalau seseorang ke gereja pasti mengalami perjumpaaan dengan Allah? Kalau benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, mestinya ada perubahan dalam perilaku; menjadi lebih saleh, lebih suci, atau paling tidak bermoral lebih baik dibanding dengan mereka yang tidak pergi ke gereja. Perjumpaan dengan Allah mestinya membuat seseorang tidak memiliki kejahatan. Tetapi fakta yang tidak dapat dibantah, banyak orang Kristen yang ke gereja, tetapi tidak lebih baik dari orang yang tidak bergereja. Ada orang-orang Kristen ke gereja, bahkan pengurus gereja, yang kelakuannya lebih buruk daripada orang yang ada di luar gereja. Inilah yang membuat kepercayaan kepada gereja menjadi merosot, bahkan sampai tidak memiliki kepercayaan sama sekali kepada gereja sebagai simbol kehadiran Allah di dunia. Hal ini juga menjadi alasan pembenaran orang-orang tidak bergereja.
    Orang yang ke gereja belum tentu mengalami perjumpaan dengan Allah secara benar. Perjumpaan dengan Allah tidak hanya diwakili oleh liturgi atau tata cara ibadah. Perjumpaan dengan Allah adalah perjumpaan dalam segala keadaan dan dalam persoalan hidup yang dialami oleh seseorang. Apakah dengan mengikuti liturgi atau acara kebaktian hari Minggu berarti sudah bertemu Tuhan? Jika demikian, apa bedanya dengan agama-agama yang menawarkan ritual seremonial untuk berurusan dengan mereka yang disembah di tempat-tempat tertentu yang khusus, yang diyakini tempat ilah atau dewa mereka berdomisili? Liturgi yang menjadi alasan sudah bertemu dengan Tuhan justru membodohi jemaat, sehingga jemaat sudah merasa puas menjadi orang Kristen yang rajin ke gereja. Kekristenan adalah jalan hidup, yaitu bagaimana menjalani hidup kekristenan dalam persekutuan dengan Tuhan tiada henti, dan ibadah yang sesungguhnya adalah seluruh perbuatan kita setiap hari.
    Di gereja, banyak orang hanya bertemu dengan liturgi gereja (tata cara ibadah) yang telah diwariskan oleh para pendahulu sesuai dengan aliran atau denominasinya. Liturgi bukanlah cara untuk menjumpai Allah. Liturgi adalah bahasa orang beragama, bukan bahasa orang ber-Tuhan. Ber-Tuhan yang benar sesuai dengan format yang Yesus ajarkan adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:34). Liturgi bisa menjadi sarana berinteraksi dengan Allah kalau memang dalam kehidupan sehari-hari telah berinteraksi secara riil atau konkret. Jika tidak, mengikuti liturgi di gereja malah menambah dosa, karena pasti berlaku munafik, menipu diri sendiri, dan mencoba menipu Tuhan.
    Penjelasan ini bukan bermaksud hendak mengemukakan bahwa pergi ke gereja itu tidak perlu, tetapi yang terutama harus dipenuhi adalah perjumpaan dengan Allah dalam segala keadaan dan persoalan hidup yang dialami. Dalam liturgi, seseorang menyatakan pengakuan sesuai dengan kehidupan iman yan...
    0 min
  • SUBJEKTIVITAS NALAR
    Dalam kehidupan banyak orang, Allah masih dalam wacana teologi (ilmu tentang Allah) yang ada di dalam pikiran mereka; itulah Allah dalam fantasi. Teologi yang mereka miliki pun sangat minim. Ini bukan berarti mereka yang teologinya tidak minim lebih mengalami Allah. Justru sering terjadi, semakin banyak ilmu teologinya, semakin jauh dari perjumpaan langsung dengan Allah. Mereka lebih percaya diri dan merasa bahwa mereka sudah ber-Tuhan dengan benar, tetapi ternyata mereka semakin berfantasi mengenai Allah yang hanya ada di dalam pikiran mereka. Semakin banyak teologi yang mereka miliki mengenai Allah, mereka berpikir semakin merasa sudah memiliki kedalaman perjumpaan dengan Allah. Padahal, sebenarnya sering sebaliknya, keadaan mereka justru semakin jauh dari realitas Allah yang hidup, yang mestinya dialami secara konkret. Sebab, teologi yang mereka miliki tidak membawa mereka kepada realitas perjumpaan konkret dengan Allah.
    Sejatinya, yang penting adalah bagaimana memiliki pengenalan yang mengantar seseorang benar-benar bisa mengalami perjumpaan dengan Allah. Jadi, bukan berapa banyak teologi yang dimiliki, tetapi seberapa tepat dan memadai teologi yang dimiliki untuk bisa berinteraksi dengan Allah. Ekstremnya, di situasi dimana tidak ada peluang dan sarana untuk belajar teologi secara formal—dimana seseorang tidak belajar teologi secara formal di seminari atau sekolah tinggi teologi—tetapi bisa memiliki kehausan akan Allah dan berusaha mencari Allah, kepada mereka Allah memberi diri-Nya ditemukan secara berlimpah. Hal ini dikemukakan, bukan berarti tidak perlu belajar teologi. Penjelasan ini dimaksudkan agar yang terutama adalah hati yang bersih, tulus, dan jujur untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Kerinduan yang kuat terhadap Allah, akan membuat seseorang mengalami perjumpaan dengan Allah, tetapi kerinduan menguasai teologi tanpa kerinduan akan Allah, membuat seseorang menjadi arogan dan mempermainkan Allah.
    Karena tidak memiliki kerinduan akan Allah, banyak teolog tidak menyediakan diri menjumpai Allah dalam meditasi atau doa peribadi. Dengan dasar bahwa manusia yang sudah jatuh dalam dosa adalah manusia yang berkeadaan “mati,” sehingga tidak dapat menemukan Allah, mereka tidak bersungguh-sungguh mencari Allah untuk menjumpai Allah secara konkret. Biasanya, kelompok teolog dan orang Kristen yang menekankan nalar atau rasio menghindari bentuk subjektivitas. Bagi mereka pengalaman pribadi dengan Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Biasanya juga dicurigai sebagai “halusinasi atau delusi.” Ditambah lagi, dengan kenyataan adanya orang-orang yang mengaku bergaul dengan Allah padahal suatu dusta, maka orang-orang rasionalis ini memandang semua pengalaman subjektif adalah bohong. Mereka tidak pernah mengalami perjumaan pribadi dengan Allah secara konkret. Memang mereka tidak hanyut dalam subjektivitas pengalaman pribadi yang bersifat mistis, tetapi tanpa disadari mereka juga hanyut dalam subjektivitas nalar. Tidak sesat dalam mistisis, tetapi sesat dalam rasionalis.
    Biasanya, orang-orang yang lebih atau hanya menekankan nalar dalam berteologi semakin mencurigai pengalaman subjektif dengan Allah. Karena pengalaman pribadi dengan Allah tidak dapat disistematikakan. Mereka tidak tahu bahwa mengenal Allah dalam pengalaman konkret jauh lebih sulit dan mahal harganya daripada mengenal Allah di ruang perpustakaan dan ruang kuliah atau ruang pendalaman Alkitab. Banyak orang berpikir kalau mereka belajar teologi di seminari atau sekolah tinggi teologi, mereka akan menemukan atau berjumpa dengan Allah. Ini pikiran yang salah. Di sekolah tinggi teologi, pasti mereka menemukan ilmu tentang Allah (teologi), tetapi belum tentu bertemu dengan Allah secara pribadi. Di seminari atau sekolah tinggi teologi, pasti mereka bertemu dengan pikiran Origenes, pikiran Tertulianus, pikiran Athanasius, pikiran Arius, pikiran Agustinus, pikiran, Thomas Aquino, pikiran Bultman, belum lagi pikiran Aristoteles,
    0 min
  • VIRUS YANG MERUSAK
    Di media sosial, tampak dua kelompok—yaitu orang-orang rasionalis dan mistisis—menampilkan diri. Kelompok rasionalis memiliki kecakapan berbicara dalam mengemukakan doktrin dan ajaran-ajarannya; biasanya, mereka menganggap bahwa diri mereka adalah yang paling benar. Itulah sebabnya, mereka banyak berbicara dengan alasan hendak meluruskan ajaran orang yang dianggapnya salah dan merasa berkewajiban mengajarkan ajaran mereka yang mereka klaim paling benar. Mereka suka mengkritisi dan mengomentari pandangan, ajaran, dan praktik pelayanan orang lain. Biasanya, kelompok ini juga tidak segan-segan menuding denominasi lain atau ajaran pendeta-pendeta tertentu sebagai sesat. Tidak jarang mereka menyampaikan ujaran dengan kata-kata keras kepada orang lain dengan label “sesat, pembohong, penipu, tolol, bodoh, dan lain sebagainya. Berdasarkan pemahaman mereka, gereja atau orang lain yang tidak sesuai dengan ajaran mereka, pantas disebut sebagai bidat.
    Kelompok rasionalis ini juga tidak segan-segan berdebat dengan agama lain, dan merasa memiliki kewajiban untuk berapologet, artinya menjelaskan dan mempertahankan iman Kristiani melalui dialog sampai pada perdebatan. Sebaliknya, orang-orang mistisis, biasanya tidak melakukan perdebatan-perdebatan teologi atau berapologet dengan agama lain. Mereka menampilkan Allah yang mereka percaya melalui kesaksian-kesaksian, yaitu kesaksian mukjizat dan penyataan kuasa Allah yang mereka alami yang mereka klaim sebagai pengalaman bersama Tuhan. Kalau kebanggaan para rasionalis adalah kepiawaian berteologi dan berapologet, sedangkan kebanggaan kelompok mistisis adalah penyataan demonstrasi kuasa Allah atau hal-hal yang bertalian dengan fenomena spektakuler yang mereka yakini sebagai manifestasi dari karunia-karunia Roh.
    Bagaimana kita harus bersikap menanggapi fenomena ini? Sikap yang paling bijaksana adalah diam. “Diam di sini adalah tidak memberi komentar apa-apa terhadap mereka atau terhadap orang lain. Kita harus menghindari menyerang ajaran atau doktrin yang diyakini oleh orang lain yang kita pandang tidak sesuai dengan kita, apalagi menyerang pribadi pengajarnya. Dengan diam, apakah berarti kita tidak bertanggung jawab? Tentu kita bertanggung jawab dengan cara yang santun. Cara santun di sini maksudnya adalah kita mengajarkan doktrin atau ajaran yang kita pahami sebagai kebenaran yang Alkitabiah kepada lingkungan kita sendiri, tanpa membenturkan secara frontal (head to head) dengan doktrin atau ajaran orang lain, apalagi menyebut nama pribadi. Memang konsekuensi logisnya, bagaimana pun ajaran kita akan bersentuhan dengan doktrin dan ajaran orang lain, serta tidak jarang pula harus bertentangan. Tetapi, hal tersebut mestinya tidak menjadi penyebab permusuhan atau pertikaian. Perbedaan harus diakui ada dan sebagai sesuatu yang wajar. Perdebatan sampai pada tingkat pertikaian tidak memberi dampak yang baik untuk semua pihak.
    Pada akhirnya, perdebatan tidak menghasilkan suatu kelompok berpindah pandangan ke kelompok lain. Kelompok masing-masing, baik yang rasionalis dan mistisis, sudah mengkristal, menjadi segmen yang permanen, tidak berubah lagi. Masing-masing orang bisa menyampaikan apa yang dipandangnya baik tanpa perdebatan dan pertikaian. Masyarakat yang akan menilai atau menimbang, mana yang dianggapnya benar. Orang yang suka berdebat dan berusaha menunjukkan kesalahan orang lain dengan alasan bahwa dirinya sedang membela kebenaran—padahal belum tentu demikian—adalah orang-orang yang “belum selesai dengan dirinya sendiri.”
    Memang bisa saja Tuhan memerintahkan seseorang untuk menyampaikan kebenaran dengan menunjuk kesalahan orang lain, seperti Paulus menunjuk kesalahan Petrus (Gal. 2:11-14), tetapi hal tersebut tidak boleh menjadi alasan seseorang untuk bertindak secara sembarangan. Kita tidak meragukan sama sekali kapasitas Paulus sebagai rasul dalam bertindak demikian, juga tulisan Paulus yang mengkritisi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Injil yang diberitakan oleh...
    0 min
  • DUA KUTUB
    Masyarakat Kristen diperhadapkan kepada dua kutub terkait dengan ajaran. Yang pertama, kutub rasionalisme; yang kedua, kutub mistisisme dalam memandang Alkitab dan menjalani hidup kekristenannya. Kedua kutub ini selalu ada dalam perjalanan sejarah gereja, sejak dulu hingga sekarang. Rasionalisme yang berlebihan menekankan rasio dalam menalar isi Alkitab, seakan-akan hasil eksplorasi terhadap Alkitab yang menghasilkan sistematika teologi, doktrin, dan berbagai ajaran mereka menentukan kemurnian, keaslian kekristenan. Kelompok ini sangat rajin menggali Alkitab dari berbagai perspektifnya. Mereka menggunakan nalar semaksimal mungkin untuk menghasilkan format-format, rumusan-rumusan, dan bebagai definisi terhadap pokok-pokok atau tema-tema pengajaran Alkitab. Mereka berpikir, dengan sistematika teologi yang argumentatif, orang dapat mengenal Allah dengan benar, dan hal tersebut sudah cukup menjadi kapital untuk bisa membangun kekristenan secara murni sesuai dengan yang diajarkan Alkitab.
    Kutub yang lain adalah mistisisme, yaitu cara berpikir yang menekankan pengalaman pribadi, spontan, dan subjektif. Mereka tidak atau kurang terlalu tertarik mengeksplorasi Alkitab sesuai kaidah hermeneutik dan eksegesis. Mereka tidak terlalu merasa perlu membutuhkan hermeneutik dan eksegesis secara mendalam. Mereka berkeyakinan bahwa Roh Kudus sudah cukup bisa menuntun atau memimpin mereka untuk mengenal kebenaran, sehingga mereka bisa menemukan kekristenan yang sejati. Di dalam sepanjang sejarah gereja, selalu ada kelompok ini. Kelompok mistisis ini adalah kelompok yang sekarang sering disebut sebagai orang-orang yang “nge-roh.” Selalu menyaksikan pengalaman pribadi dengan Allah.
    Diberi istilah “nge-roh” sebab mereka melandaskan pengalaman-pengalamannya berdasarkan pada pekerjaan Roh Kudus atau alam roh. Jadi, mereka biasanya mengatasnamakan Roh Kudus atas berbagai pengalaman pribadinya. Tentu kita tidak bisa dengan mudah membuktikan kebenarannya, tetapi hendaknya, kita juga tidak dengan sembarangan menuduh mereka sesat. Satu sisi, kita harus berhati-hati dalam menyikapi fenomena “alam Roh,” tetapi kita tidak boleh gegabah menganalisa, menilai, menuduh, dan menghakimi secara sembarangan terhadap fenomena tersebut. Allah adalah Allah yang transenden dan transempiris. Kita harus selalu memberi ruangan untuk realita yang transenden dan yang transempiris. Kalau segala sesuatu harus diverifikasi secara logika dan empiris, maka menempatkan kita pada kenaifan atau kepicikan. Sikap yang paling bijaksana adalah diam. Sementara itu, kita mengajarkan kebenaran yang kita pahami Alkitabiah kepada jemaat yang menjadi tanggung jawab kita.
    Kelompok mistisis ini, kalau membuka Alkitab, mengklaim bahwa apa yang mereka pahami dan ajarkan adalah kebenaran yang benar-benar tuntunan dari Roh Allah, bahkan tidak jarang mereka mengatakan Allah sendiri yang mengajar mereka secara langsung. Kelompok mistisis ini tidak ragu-ragu atau tidak segan-segan berbicara atas nama Tuhan atau bernubuat, dan menyaksikan bagaimana Allah berbicara, memberikan perintah kepada mereka. Mereka juga sering memberikan kesaksian-kesakasian tentang pengalaman dalam penglihatan, mimpi, dan hal-hal yang bersifat transenden; melampaui akal. Kelompok mistisis bisa transempiris, artinya mengemukakan hal-hal yang melampaui pengalaman yang sudah ada. Tetapi kelompok rasionalis lebih menggunakan empirisme, pengalaman yang sudah terjadi, lalu merumuskannya menjadi pemahaman atau ilmu yang diakui sebagai standar.
    Kutub mistisis ini biasanya terdapat pada orang-orang Kharismatik, Pentakosta, dan beberapa gereja yang lebih cenderung menekankan pengalaman subjektif. Tentu tidak semua orang Kharismatik dan Pentakosta bersifat mistisis. Sebagian kelompok yang mistisis adalah orang-orang yang biasanya memiliki pengalaman jam doa di ruang doa atau di menara doa untuk menerima pewahyuan-pewahyuan dari Allah. Dari kelompok ini, juga muncul praktik-praktik pelayanan yang sulit diterima d...
    0 min
  • BUKAN ORIENTASI YANG BENAR
    Ternyata, pelayanan yang dipahami oleh banyak pejabat yang disahkan sinode—seperti pendeta dan pengurus sinode hari ini—lebih mengarah kepada teknis pelayanan dan sistem berorganisasi, bukan pelayanan yang benar sesuai yang dimaksud oleh Tuhan. Tekanan kegiatan pelayanan yang pada umumnya dilakukan oleh gereja dan sinode, lebih pada kemasan atau kendaraannya saja, bukan muatan atau isi yang seharusnya dibawa. “Kemasan” di sini maksudnya adalah hal-hal yang hanya menyangkut yang kelihatan; seperti mengatur organisasi dalam gereja, menyelenggarakan pelayanan pastoral, diakonia, mengajar Alkitab dalam berbagai media dan bentuk, memimpin puji-pujian, misi ke daerah, pendidikan umum, pendidikan teologi, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maksud dan tujuan pelayanan tidak memenuhi visi dan misi yang harus ditunaikan oleh orang percaya sebagai utusan Kristus.
    Banyak pejabat gereja atau mereka yang mengaku sebagai pelayan Tuhan merasa ada dalam kancah pelayanan pekerjaan Tuhan, padahal mereka hanya hanyut dan tenggelam dengan kesibukan yang tidak benar-benar menyelamatkan manusia. Inilah yang disebut sebagai pelayanan palsu. Tetapi kenyataannya, sangat sedikit orang yang menyadari kesalahan ini. Sebenarnya, kegiatan-kegiatan pelayanan tersebut adalah kendaraan yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keselamatan bagi umat manusia, tetapi kalau tidak diisi dengan isi atau muatan yang benar dan tidak diselenggarakan oleh orang yang sudah mengalami perubahan kodrat, maka semua kegiatan tersebut menjadi sia-sia. Kendaraannya memang baik, tetapi kalau isinya atau muatannya salah atau kosong, maka sia-sia semua kegiatan tersebut.
    Sejatinya, pelayanan adalah pengabdian yang sungguh-sungguh sampai pada tingkat pengorbanan tanpa batas yang berisi atau memuat usaha untuk mewujudkan keselamatan dalam kehidupan seseorang. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Jadi, pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang berorientasi pada perubahan manusia. Perubahan itu adalah perubahan kodrat, dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Ini berarti, setiap orang yang menjadi objek pelayanan harus mengalami perubahan diri sehingga sempurna seperti Bapa atau menjadi serupa dengan Yesus.
    Jika suatu kegiatan tidak berorientasi pada hal ini, maka itu bukanlah pelayanan. Dengan demikian, kegiatan dalam lingkungan gereja belum tentu sebuah pelayanan; dan sebaliknya, kegiatan di luar lingkungan gereja tidak berarti bukan pelayanan. Kegiatan apa pun—di dalam maupun di luar lingkungan gereja—bisa disebut pelayanan jika menjadi dukungan dan berperan dalam usaha mengubah manusia; apa pun kegiatan tersebut selama tidak melanggar etika kehidupan. Kegiatan di lingkungan gereja bisa dikatakan bukan pelayanan kalau tidak berdaya guna mengubah manusia sesuai dengan maksud keselamatan diberikan oleh Allah. Kegiatan di lingkungan gereja yang tidak berdaya guna mengubah manusia ini, pasti sarat dengan agenda pribadi yang menguntungkan pribadi-pribadi pejabat gereja dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Keuntungan tersebut bisa berupa materi atau sebuah penghargaan dan penghormatan dari manusia. Sehingga, pelayanan pekerjaan Tuhan menjadi kegiatan bisnis terselubung bagi para rohaniwan.
    Ciri dari kehidupan pendeta dan gereja yang telah kehilangan visi dan misi dari Tuhan tampak dengan adanya perebutan kekuasaan dalam gereja. Perebutan kekuasaan terjadi di dalam gereja lokal sampai sinode. Dalam gereja lokal, terjadi pertikaian antara majelis jemaat dan pendeta, antar majelis, antar pendeta dan antara aktivis atau antar pengerja gereja. Pertikaian yang terjadi di tataran para pemimpin gereja pasti merembet ke jemaat, sehingga jemaat ikut bertikai, dan mengakibatkan perpecahan serta kepahitan antar jemaat. Perebutan kekuasaan juga terjadi dalam tubuh para pemimpin gereja, yaitu dalam tubuh sinode. Pemilihan ketua sinode sering diwarnai dengan pertikaian,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…