Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • MENJADI ANAK KESUKAAN
    Tujuan akhir hidup orang percaya adalah menjadi serupa dengan Yesus, yang sering dikalimatkan sebagai “seperti Yesus.” Apa sebenarnya yang dimaksud menjadi “seperti Yesus” itu? Kalau jujur, sebenarnya kalimat ini abstrak dan sangat tidak jelas bagi banyak orang. Apanya yang menjadi seperti Yesus itu? Kita harus memahami frasa “seperti Yesus” dengan tepat. Pemahaman “seperti Yesus” pasti salah kalau kata “seperti” disamakan dengan kata “mirip.” Sejatinya, kata “seperti” dalam hal ini bukanlah “mirip,” sebab kalau dipahami sebagai “mirip,” maka “seperti Yesus” berarti “mirip Yesus.” Dalam hal ini, seakan-akan kehidupan orang percaya adalah sebuah tiruan atau imitasi dari Yesus. Alkitab tidak mengajarkan orang percaya menjadi mirip Tuhan Yesus. Alkitab mengajarkan orang percaya dapat mengenakan kehidupan Tuhan Yesus.
    Sebelum Paulus mengenal Yesus Kristus, ia adalah seorang yang sangat taat terhadap hukum Taurat. Dalam kesaksiannya, ia mengatakan bahwa tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat, dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6). Orang-orang Yahudi seperti Paulus adalah orang-orang yang dibelenggu oleh Taurat. Seluruh kehidupan mereka diatur oleh Taurat. Dengan demikian, Taurat telah menjadi seluruh gerak dan gaya hidupnya. Kehidupan baru yang dimiliki Paulus setelah mengenal Tuhan Yesus adalah kehidupan yang dipersembahkan bagi Allah, yang prinsip dasarnya berubah menjadi “Tuhan adalah hukumku.” Seperti Yesus artinya mengenakan karakter Tuhan Yesus, yaitu dalam segala hal yang dilakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa. Jika hal ini terwujud, berarti seseorang telah mengalami kelahiran baru.
    Kelahiran baru bukanlah kejadian sekejap, melainkan proses yang dikerjakan oleh Roh Kudus secara luar biasa dari respons manusia dalam menanggapi penggarapan Tuhan untuk keselamatannya. Kelahiran baru pada dasarnya adalah kesadaran baru dimana seseorang mengalami perubahan dalam cara pandang dalam segala hal. Dengan demikian, kelahiran baru bukanlah proses mendadak dan sekejap. Untuk mengalami kelahiran baru ini, seseorang harus mengalami pertumbuhan pengertian terhadap kebenaran, pertobatan terus-menerus, sampai berkeadaan menjadi tidak sama dengan dunia ini. Perubahan itu menjadi permanen bila disertai dengan pengalaman hidup. Itulah sebabnya, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia agar serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29).
    Orang yang “lahir baru” adalah orang yang telah memiliki konsep yang benar dan hidup sesuai dengan konsep tersebut. Orang yang telah lahir baru menyadari sepenuhnya bahwa ia menerima roh sebagai makhluk kekal dari Allah dan akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya (Pkh. 12:7; Rm. 14:12; 2Kor. 5:10). Kesadaran tersebut mencitrakan dirinya atau dikenakan secara konsekuen, sehingga ia menjadi manusia lain yang benar-benar berbeda dengan keadaannya sebelumnya. Manusia lain itu adalah kehidupan anak-anak Allah yang agung seperti yang pernah dikenakan oleh Tuhan Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti kita dua ribu tahun lalu. Kelahiran baru yang dialami seseorang akan membuatnya semakin menampilkan kehidupan yang pernah diperagakan oleh Tuhan Yesus pada waktu Ia mengenakan tubuh daging di bumi dua ribu tahun yang lalu. Dengan demikian, pada dasarnya kelahiran baru bertujuan agar seseorang menjadi manusia lain yang mengenakan karakter Yesus di dalam dirinya.
    Menjadi kehendak Bapa, Ia dapat menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti Putra Tunggal-Nya. Seperti bukan dalam arti mirip, melainkan dalam arti mengenakan karakter Kristus. Orang yang mengenakan karakter Kristus memperagakan kehidupan Yesus. Inilah orang-orang yang “membangkitkan” Yesus. Pertumbuhan kedewasaan rohani pada dasarnya adalah perubahan cara berpikir yang sama dengan pendewasaan hati nurani. Jika proses perubahan berlangsung dengan baik, maka karakter seseorang mengalami perubahan yang sangat nyata.
    0 min
  • MENYENANGKAN HATI ALLAH
    Dunia menawarkan berbagai kesenangan dengan berbagai fasilitas untuk dinikmati sampai manusia melupakan maksud dan tujuan dirinya diciptakan oleh Penciptanya. Dengan berbagai kesenangan, manusia melupakan siapa dirinya. Mereka hanya sibuk untuk diri sendiri dengan berbagai kesenangan yang dunia tawarkan tersebut. Dengan cara ini, manusia tidak membiasakan diri memberi tempat bagi Tuhan di dalam hidupnya. Kita harus selalu memeriksa hati kita dengan terang Firman Tuhan yang murni dan meditasi dalam doa. Hati kita harus benar-benar bersih dari segala sesuatu yang tidak Tuhan kehendaki. Saat dimana kita bermeditasi, saat yang sangat kondusif untuk dapat mengenal diri kita dengan jernih. Allah akan membuka mata kita untuk mengenali keadaan kita yang sebenarnya di hadapan-Nya. Setiap kali kita berlutut di hadapan Allah, pasti ada sesuatu yang dapat kita peroleh dari Dia. Dari perjumpaan dengan Allah, Dia akan mengalirkan gairah-gairah yang kudus di dalam hati kita.
    Hati kita harus dihiasi dengan gairah untuk menyukakan hati Tuhan, dan segala sesuatu yang kita lakukan hanya bertujuan untuk menyenangkan hati Allah. Dengan demikian, prinsip hidup kita hanya menyenangkan hati Bapa. Gairah ini akan menggiring kita untuk memiliki kehidupan yang benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela. Gairah ini juga akan membuat kita rela menyerahkan apa pun yang kita miliki demi kepentingan pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, kita akan mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan atau memiliki tempat untuk mengabdi kepada Tuhan. Untuk kepentingan Tuhan, kita akan rela berkorban tanpa batas. Hal ini bagi kita adalah kesukaan, bukan suatu beban. Di hari hidup yang singkat dan sangat terbatas ini, kita dapat melakukan segala sesuatu untuk kesenangan hati Tuhan yang menjadi Pelindung dan Penopang kita di kehidupan kekal nanti. Hanya Dia yang dapat menyediakan kekekalan yang indah.
    Dengan menghayati kenyataan ini, kita harus lebih berhati-hati, maksudnya kita dapat dengan tekun mempersiapkan kehidupan yang sesungguhnya nanti di balik kubur kita. Kita harus bersedia dipisahkan dari dunia ini. Dipisahkan artinya bersedia memiliki cara berpikir dan pola hidup yang berbeda. Kalau dunia memiliki fokus hidup dunia hari ini, namun fokus kita adalah dunia yang akan datang. Salah satu yang membuat seseorang tidak dapat menyenangkan hati Allah adalah ketika jiwanya masih terikat dengan dunia ini. Terikat dengan dunia ini, artinya jiwa yang masih bisa dibahagiakan oleh materi dunia dan segala hiburannya. Pada umumnya, orang masih terikat dengan dunia ini, termasuk banyak orang Kristen. Itulah sebabnya, sebenarnya tidak banyak orang yang benar-benar menyukakan hati Allah.
    Pikiran dan perasaan yang masih dapat dibahagiakan oleh materi dunia serta hiburannya, pasti melahirkan kehendak atau keinginan yang tidak sinkron atau yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak mungkin bisa berkenan kepada Allah. Dalam Roma 8:8 dikatakan, “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Orang yang hidup dalam daging, artinya orang yang jiwanya masih dibelenggu oleh percintaan dunia, dimana suasana jiwanya ditentukan oleh materi dunia dan segala hiburannya. Orang yang masih terikat dengan dunia ini pasti merasa “betah” hidup dalam dunia dan ingin memperoleh sebanyak mungkin yang dapat diraihnya dari dunia ini, yaitu materi dunia dan segala hiburannya. Tidaklah mengherankan kalau mereka menjadi serakah untuk dapat memiliki sebanyak-banyaknya apa yang dapat diraihnya dari dunia ini, baik materi, hiburan, sanjungan, kehormatan, dan kekuasaan. Bagi mereka, dunia ini adalah satu-satunya kesempatan hidup untuk dinikmati. Mereka adalah pengkhianat bagi Allah dan Kerajaan-Nya.
    Orang percaya harus belajar menutup pintu hatinya terhadap kesenangan apa pun, selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dalam hal ini, orang percaya harus menyangkal diri, artinya mengubah paradigma atau mindset-nya yang sudah mengakar atau melek...
    0 min
  • TIDAK MENGINGINI DUNIA
    Oleh karena kita telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, sejatinya kita tidak boleh merasa berhak memiliki hidup. Orang yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan tampak dari sikap hidup yang mengingini segala sesuatu untuk kepuasan dirinya. Orang-orang seperti ini berarti bersahabat dengan dunia. Mereka adalah orang-orang yang berkhianat kepada Tuhan. Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah. Kenyataan hari ini, banyak orang merasa berhak memiliki hidupnya dan menaruh berbagai keinginan dalam dirinya tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki hidup ini. Bahkan, mereka meminta Tuhan untuk memuaskan keinginannya sendiri. Orang yang mengumbar segala keinginan dalam dirinya adalah orang yang merasa berhak memiliki agenda sendiri. Orang seperti ini sebenarnya berstatus pemberontak. Mereka hidup di dunia hanya untuk memenuhi dengan segala kegiatan yang berasal dari agendanya sendiri. Ini salah! Seharusnya, hidup kita ini hanya untuk agenda Tuhan semata-mata, bukan untuk hidup menuruti keinginan kita sendiri.
    Berkenaan dengan keinginan yang ada pada diri setiap kita, perlu kita perhatikan apa yang ditulis Yakobus dalam suratnya di Yakobus 1:13-15, tertulis: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Tuhan tidak akan pernah membujuk kita berbuat suatu kejahatan atau mengisi jiwa kita dengan keinginan yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Firman Tuhan mengatakan bahwa setiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri.
    Kalimat dalam Doa Bapa Kami: “…melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat,” adalah panggilan agar kita mengisi hati kita dengan segala hal yang benar-benar tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8). Untuk ini, pikiran kita harus selalu diperbaharui. Hati kita seperti sebuah taman, tentu taman milik Tuhan yang tidak diisi tanaman suka-suka kita, namun diisi dengan tanaman yang dikehendaki pemiliknya. Itulah sebabnya Firman Tuhan berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan” (Ams. 4:23).
    Dengan demikian, kalimat dalam Doa Bapa Kami ini menggiring kita kepada kehidupan yang bahagia. Kalimat dalam Doa Bapa Kami merupakan upaya Tuhan untuk menghindarkan kita dari penderitaan dan kesengsaraan akibat kesalahan kita sendiri. Banyak orang berkata, “Bukankah lebih baik kita tidak dibawa Tuhan kepada pencobaan?” Pernyataan ini sama dengan dengan pernyataan: “Mengapa Tuhan menaruh pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat di tengah taman, kalau karena ini manusia jatuh dalam dosa?” Dalam hal ini, sebenarnya Tuhan menguji siapa yang kita pilih dan siapa yang kita ingini: Tuhan atau Iblis. Dan itu nyata, dari keinginan siapa yang kita turuti. Pencobaan adalah kesempatan untuk menerima kemuliaan, sebab pencobaan akan menjadi jembatan memperoleh kemuliaan (Yak. 1:12, Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia). Sama seperti seorang mahasiswa, ia tidak akan diwisuda kalau tidak membuat skripsi dan menghadapi ujian skripsi. Harus ada pencobaan dan penderitaan, barulah ada mahkota kehidupan.
    Banyak orang Kristen yang masih hidup dalam keserakahan, tetapi mereka menganggap hal ini bukan dosa yang membahayakan, bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Hal yang sangat membahayakan hari ini adalah Tuhan diseret untuk memuaskan hasrat atau keinginan-keinginan diri sendiri. Inilah yang membuat banyak orang tidak mau mengerti bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya puas dengan apa yang ada. Kita harus bisa membedakan manakah kebutuhan dan manakah keinginan. Tuhan menghendaki kita merasa cukup dengan apa ya...
    0 min
  • SIAP MENGHADAPI KEMATIAN
    Orang yang selesai dengan dirinya sendiri bukan hanya siap menghadapi kematian, namun kematian menjadi saat yang dinantikan karena membahagiakan. Paulus menunjukkan kualitas hidup seperti ini (2Kor. 5: 1-10; Flp. 1:21). Kesiapan menghadapai kematian adalah masalah yang bukan saja sangat penting, melainkan sangat mendesak dan harus selalu dipandang sebagai hal yang sangat penting. Kalau ada hal lain yang dianggap penting dan mendesak, maka ia tidak mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan serius. Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus mulai sekarang. Sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan berjaga-jaga dan berdoa tiada berkeputusan. Suatu relasi yang terus dibangun dengan Tuhan. Tidak boleh ada saat di mana kita tidak memiliki hubungan yang baik atau harmonis dengan Tuhan. Hubungan yang harmonis dengan Tuhan adalah kebutuhan yang lebih penting dari makan dan minum atau kebutuhan apa pun dalam hidup ini. Demi hubungan yang harmoni dengan Tuhan ini, orang percaya harus bersedia mengorbankan apa pun. Orang percaya harus berani memilih demi keselamatan kekalnya dan ia juga harus rela kehilangan segala sesuatu.
    Kuasa kegelapan berusaha agar orang Kristen dengan berbagai kesenangan melupakan realitas ini. Hal ini membuat seseorang menunda untuk berusaha mengerti kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kuasa kegelapan menipu seseorang dengan pemikiran bahwa sekarang ini—selama masih di dunia dan belum menghadap takhta pengadilan Allah—seseorang belum bisa mengetahui dengan pasti apakah dirinya ditolak atau diterima oleh Allah. Itulah sebabnya, mereka berpikir tidak perlu mempersoalkannya dulu. Pemikiran atau anggapan ini sungguh-sungguh sangat menyesatkan. Dengan pemikiran                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       tersebut, seseorang menjadi ceroboh.
    Banyak orang Kristen merasa bahwa keadaan kekekalan bukan hal yang penting. Mereka selalu menunda untuk melakukan kehendak Bapa. Mereka berpikir bahwa Tuhan memaklumi dan menolerir keadaan mereka yang belum berkenan kepada-Nya. Mereka berpikir bahwa yang penting, mereka tidak menjadi orang jahat dan tetap pergi ke gereja. Mereka tidak mengerti bahwa menjadi Kristen harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Tanpa keselamatan dalam Yesus Kristus pun orang bisa memiliki moral atau mental yang baik, tetapi yang dikehendaki oleh Allah adalah serupa dengan Yesus. Hendaknya, kita tidak berpikir bahwa hal diterima atau ditolak Allah tidak bisa dipersoalkan sejak hari ini, seakan-akan Allah menyembunyikan hal tersebut. Jika seseorang beranggapan bahwa Allah sekarang ini—yaitu sejak manusia masih hidup—sengaja menyembunyikan kepastian diterima atau ditolak oleh Dia, berarti ia menuduh Allah sebagai Allah yang jahat dan licik. Sejak masih hidup—yaitu sebelum meninggal dunia dan sebelum menghadap takhta pengadilan Allah—seseorang harus dapat mengetahui dengan pasti keadaannya, apakah ia diterima atau ditolak oleh Allah kalau meninggal dunia saat ini. Itulah sebabnya, Tuhan menghendaki agar setiap orang menguji dirinya dan mohon Tuhan membuka pikirannya untuk mengetahui apakah jalannya serong (2Kor. 13:5; Ef. 5:10; Mzm. 139).
    0 min
  • TELAH SELESAI DALAM HAL PENGAMPUNAN
    Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah adalah orang yang pasti selalu mengampuni orang lain. Ia tidak bisa tidak mengampuni orang yang bersalah terhadap dirinya. Memang, pada dasarnya orang percaya tidak berhak tidak mengampuni orang hanya karena kita merasa berhak memberi hukuman. Hukuman itu paling tidak adalah tidak mengampuni orang lain. Kita tidak berhak menghukum dan menghakimi siapa pun. Kita tidak berhak marah dan membalas dendam. Dengan demikian, kita tidak berhak tidak mengampuni siapa pun. Dengan kesadaran ini, otomatis kita akan lebih mudah mengampuni orang lain. Demikianlah, Tuhan Yesus mengajarkan doa soal pengampunan dengan kalimat: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Mengampuni orang lain adalah salah satu ciri dari karakter Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ini adalah ciri dan juga bisa merupakan inti dari kasih. Kasih adalah hakikat karakter Bapa.
    Salah satu ciri dari karakter Yesus adalah sikap mengampuni dan mengasihi musuh dengan hati yang tulus kepada mereka yang memusuhi dan menyakiti-Nya. Dalam banyak kesempatan, ketika orang-orang Farisi, Saduki, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan para pemimpin agama menyerang Yesus dengan kata-kata, Yesus selalu menanggapi dengan tenang, tanpa sikap perlawanan untuk menyerang mereka. Yesus diserang, tetapi tidak balik menyerang. Yesus selalu memberi jawaban-jawaban yang bijaksana sebagai sarana pula untuk menyingkapkan kebenaran. Peragaan kasih-Nya yang sempurna terhadap mereka yang memusuhi dan menyakiti-Nya nyata sekali ketika Ia tergantung antara langit dan bumi, yaitu ketika ada di salib. Di atas salib, dari bibir-Nya meluncur doa yang pasti mengalir dari hati-Nya yang tulus: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).
    Stefanus memperagakan kehidupan Yesus seperti yang pernah dijalani-Nya. Stefanus menyampaikan khotbahnya di depan anggota Mahkamah Agama, lalu mereka menjadi marah dan menyambut khotbah Stefanus dengan gertakan gigi. Mereka menyeret Stefanus keluar kota dan melemparinya dengan batu. Ketika mereka melemparinya, Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut, ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Peragaan nyata dari Stefanus ini menampilkan karakter Yesus (Kis. 7:54-60).
    Pengampunan dari Tuhan tidak dapat dipisahkan dari pengampunan kita kepada orang lain. Bila kita tidak mengampuni sesama kita, Tuhan juga tidak akan mengampuni kita (Mat. 6:14-15; 18:35). Ini adalah harga mati yang tidak dapat ditawar. Dari hal inilah kita dapati bahwa memiliki karakter Bapa adalah suatu kemutlakan. Mengampuni orang lain adalah perintah tegas dari Tuhan yang harus dipatuhi. Seperti halnya perintah-perintah lain harus dipatuhi, demikian pula hal mengampuni orang lain harus dipatuhi secara mutlak tanpa syarat. Mengampuni orang lain ini adalah perwujudan tindakan kasih. Bila seseorang tidak mengampuni orang lain, itu berarti ia tidak mengasihi sesamanya. Bila ia tidak mengasihi sesamanya, itu berarti ia adalah seorang “pembunuh” (1Yoh. 3:15 bdk. Why. 21:8). Seorang pembunuh tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Bagian dalam Kerajaan Surga artinya bagian sebagai bangsawan surga. Masuk surga dengan masuk sebagai anggota Kerajaan Surga adalah hal yang berbeda.
    Tuhan Yesus menghendaki agar orang percaya memperagakan sikap mengampuni dan mengasihi musuh seperti yang telah ditunjukkan-Nya ketika Ia menjadi manusia. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Yesus juga dapat diperagakan oleh orang percaya di sepanjang zaman. Keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita bukan karena perbuatan baik kita, melainkan karena anugerah Allah. Serusak atau sebejat apa pun kita, Tuhan mau menerima dan mengampuni segala dosa dan pelanggaran kita. Tetapi setelah kita menerima pengampunan dan disambut sebagai anak-anak-Nya,
    0 min
  • MENYEMBAH DAN BERBAKTI KEPADA ALLAH
    Orang Kristen yang belum selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah, hidupnya tidak berarti, sebab ia belum menemukan makna dan isi hidup yang harus dikenakan dalam kehidupan orang percaya. Makna dan isi kehidupan orang percaya termuat di dalam pernyataan Yesus dalam Lukas 4:8, yaitu “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Kepada sesuatu yang diangap sebagai nilai tertinggi, seseorang akan menyembah kepadanya. Kata “menyembah” dalam Lukas 4:8 adalah “proskuneseis,” dari akar kata proskuneo. Kata ini dalam arti sempit bermakna “tunduk,” tetapi dalam arti luas adalah “memberi nilai tinggi.” Menyembah Allah sebenarnya menunjuk sikap batin yang menghargai Allah setiap saat dalam segala hal. Terhadap Tuhan, kita harus tunduk dan hormat melebihi terhadap siapa pun dan apa pun.
    Orang yang menyembah Allah pasti juga berbakti kepada-Nya. Kata “berbakti” dalam Lukas 4:8 adalah “latreuseis.” Kata ini lebih tepat diterjemahkan “melayani” atau “to serve.” Kata ini berakar dari kata latreuo, yang juga digunakan Paulus dalam Roma 12:1-2, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “ibadah yang sejati.” Ini berarti seluruh daya dan kekuatan yang ada harus dipersembahkan untuk mengabdi kepada Tuhan; bagi kepentingan Kerajaan-Nya. Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri tidak lagi egosentris atau antroposentris, sehingga dengan demikian, barulah ia dapat menyembah dan berbakti kepada Allah.
    Yesus berkata, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Di dalam kalimat inilah terletak arti dan isi kehidupan ini. Kalau kehidupan ini tidak diisi dengan menyembah Allah dan berbakti kepada Dia saja, hidup ini tidak berarti sama sekali. Hidup kita harus menjadi suatu kehidupan yang dibaktikan kepada Tuhan sepenuhnya. Segala sesuatu yang kita miliki dan kita lakukan, harus hanya demi kepentingan-Nya. Kebaktian kita kepada Tuhan terbukti dalam hidup setiap hari, bukan hanya pada aktivitas ke gereja setiap minggu. Kehidupan yang tidak berarti karena tidak menyembah dan berbakti kepada Allah adalah jalan manusia menuju kebinasaan abadi. Setiap makhluk harus menyembah dan mengabdi kepada Allah dengan benar.
    Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah adalah orang yang tidak memberi nilai tinggi kepada apa pun dan siapa pun, namun memberi nilai tinggi Allah. Orang yang memberi nilai tinggi sesuatu, hatinya pasti terikat oleh sesuatu tersebut, dan kepadanya, seseorang menyembah dan berbakti. Kalau seseorang memberi nilai tinggi sesuatu selain Allah, berarti ia memiliki berhala atau yang sama dengan menyembah Iblis. Banyak orang Kristen merasa tidak menyembah Iblis karena tidak terlibat dalam perdukunan atau praktik okultisme. Tidak terlibat dengan perdukunan atau praktik okultisme belum berarti tidak menyembah Iblis.
    Ketika seseorang mencintai dunia ini atau bersahabat dengan dunia ini, ia menjadikan dirinya sebagai musuh Allah. Menyembah Iblis model zaman ini adalah ketika seseorang merasa tidak lengkap hidup tanpa memiliki berbagai fasilitas yang ada untuk kebahagiaan diri dan prestisenya atau kebanggaannya. Orang-orang seperti ini telah terpengaruhi dan terbentuk oleh semangat zaman ini. Mereka mengumbar keinginan memiliki apa yang orang lain miliki tanpa mempersoalkan apakah hal itu demi kepentingan Tuhan atau kesenangan dan kebanggaan pribadi. Orang seperti itu bisa menjadi orang beragama yang baik, tetapi tidak pernah mengalami keselamatan, artinya tidak pernah mengalami proses dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Orang yang memberi nilai tinggi dunia ini pasti mengharapkan kebahagiaan dengan fasilitas uang atau harta. Mereka adalah orang yang terikat oleh percintaan dunia. Namun, orang yang tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini dengan berbagai fasilitasnya adalah orang yang menolak menyembah Iblis. Orang yang tidak menyembah Iblis tetapi hanya menyembah Allah,
    0 min
  • PENGHARAPAN KEHIDUPAN YANG AKAN DATANG
    Agar jemaat dapat mencapai kehidupan “sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah,” pemberitaan Firman harus bersifat rohani sepenuhnya. Karena banyak gereja telah dipengaruhi semangat zaman yang fasik, sehingga pemberitaan Firman sering hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Hal ini yang membuat seseorang tidak merasa haus dan lapar akan kebenaran. Kehausan jiwanya telah rusak, yaitu tertuju kepada segala keindahan dunia dengan segala hiburannya, sehingga percintaan dunia telah menguasai mereka. Mereka tidak peduli apakah Injil yang mereka dengar adalah Injil yang benar atau palsu.
    Harus ditegaskan bahwa Injil yang murni yang diajarkan Tuhan Yesus tidak berunsur duniawi sama sekali. Hal ini berbeda dengan apa yang diajarkan banyak pendeta hari ini, yang menjurus kepada kemakmuran jasmani. Pengajaran yang menekankan kemakmuran jasmani, sesungguhnya pengajaran yang berpotensi besar merusak bangunan iman Kristiani yang benar. Kita harus tegas menolaknya, sebab Tuhan Yesus hanya mengajarkan ajaran yang menekankan hal-hal rohani saja. Hal-hal rohani adalah pokok-pokok ajaran yang pasti Tuhan Yesus kehendaki untuk diajarkan kepada orang percaya sekarang ini, tanpa merubahnya sama sekali. Jadi, apa yang harus diajarkan gereja hari ini harus sama seperti yang pernah diajarkan oleh Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu. Yaitu hal-hal rohani yang menyangkut kesempurnaan karakter, tidak terikat dengan percintaan dunia, hati yang mengasihi Tuhan, dan fokus pada Kerajaan Surga.
    Injil yang benar pasti mengarah kepada kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Ini juga berarti orang percaya harus hidup dalam kesucian. Selanjutnya, fokus hidup harus diarahkan ke dunia, di mana orang percaya akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga. Dalam hal ini, orang percaya harus sudah memindahkan hatinya di surga sebelum meninggal dunia. Dengan demikian, hatinya tidak melekat pada dunia ini. Kalau orang percaya diberi kesempatan hidup, maka harus mengisinya hanya untuk melayani Tuhan. Dunia adalah tempat perjuangan untuk mengalami perubahan hidup dan menolong orang lain untuk mengalami perubahan hidup.
    Kita harus dalam kesadaran dan penghayatan terus menerus bahwa dunia ini bukan rumah kita. Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, seperti Dia juga bukan dari dunia ini (Yoh. 17:15-16). Paulus mengatakan bahwa arena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat (Flp. 3:20). Orang percaya adalah orang yang menumpang sementara di bumi guna persiapan untuk menetap di Kerajaan Tuhan Yesus sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga. Ini berarti orang percaya bukan milik dunia, melainkan milik Allah.
    Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Itulah kota yang dirindukan oleh Abraham. Oleh sebab itu, kalau mau menjadi seorang yang berasal dari atas, kita harus meninggalkan percintaan dengan dunia ini. Percintaan dunia artinya hasrat menikmati hidup di bumi sama seperti orang-orang pada umumnya. Kenikmatan mereka adalah kenikmatan yang ditopang oleh kekayaan dunia. Orang percaya hidup hanya untuk mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang di atas. Orang percaya seperti ini akan sangat merindukan hari kebangkitan dari antara orang mati.
    Dewasa ini, ajaran tentang pengharapan kebangkitan dari antara orang mati sudah nyaris lenyap dari gereja. Pengharapan kebangkitan dari antara orang mati nyaris tidak pernah terdengar di gereja. Banyak orang Kristen tidak memahami pengajaran mengenai kebangkitan, sehingga tidak dapat mengajarkannya kepada orang lain. Mereka tidak mau belajar mengenai hal kebangkitan dengan sungguh-sungguh. Rasul-rasul, khususnya Paulus, menekankan hal kebangkitan ini dalam pemberitaannya. Dalam Alkitab Perjanjian Baru,
    0 min
  • TUHAN ADALAH KEBAHAGIAAN
    Orang-orang yang memiliki banyak keinginan untuk memuaskan hawa nafsu adalah orang-orang yang mengarahkan selera jiwanya kepada dunia. Mereka menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4). Kata “hawa nafsu” dalam teks aslinya di Yakobus 4:1-3 adalah hedone (ἡδονή) yang artinya pleasure (kesenangan), enjoyment in an unfavorable sense (kenikmatan dalam arti yang tidak menguntungkan). Kata hedone ini dalam Alkitab bahasa Indonesia juga diterjemahkan “hawa nafsu.” Kata “mengingini” (Yak. 4:2) dalam teks aslinya adalah epithumia (ἐπιθυμέω; lust), yang artinya keinginan yang kuat atau sangat mengingini (covet, craved, longing, desire). Pada dasarnya, orang-orang yang hedonistis adalah orang-orang yang menjadikan dunia ini sebagai kebahagiaannya. Mereka tidak akan pernah bisa menjadikan Allah sebagai kebahagiaan-Nya. Jika demikian, ia tidak selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah, sebab orang yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah adalah orang yang menjadikan Allah sebagai kebahagiaannya.
    Orang memahami kebahagiaan sebagai perasaan senang, sukacita karena keadaan nyaman dan aman, tidak ada ancaman, keinginannya dipuaskan, dan cita-cita tercapai. Sebenarnya, kebahagiaan tergantung dari cara seseorang memandang hidup. Kebahagiaan seseorang menjadi sangat relatif, artinya tergantung persepsi seseorang mengenai apa kebahagiaan itu dan cita rasa jiwa yang biasa dialami atau dinikmati setiap hari. Melalui berbagai sarana atau pengalaman hidup, cara berpikir seseorang terbentuk dalam memandang apa yang dapat membahagiakannya. Pada umumnya—termasuk sebagian orang Kristen—orang membangun kebahagiaan hidupnya di atas dasar materi kekayaan dunia. Cara berpikir ini telah meracuni banyak orang, termasuk Kristen dan para rohaniwan. Tanpa disadari, cara berpikir banyak orang Kristen dipengaruhi oleh cara berpikir yang salah tersebut. Kalau cara pandang hidup sudah salah—menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target—ia akan diperbudak oleh sesuatu yang menjadi target tersebut. Orang seperti ini tidak akan pernah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah. Tentu saja mereka tidak dapat diubah oleh Tuhan kalau tidak bertobat dan meninggalkan cara berpikirnya yang salah tersebut.
    Suasana dunia hari ini dengan filosofinya mengondisikan banyak orang, termasuk orang Kristen, untuk memiliki kebahagiaan yang ditentukan oleh materi kekayaan dunia dengan segala hiburannya. Tidak dapat dibantah, di dunia yang materialistis ini, pikiran manusia diarahkan untuk mengakui bahwa materilah sumber kebahagiaan. Dunia juga mengondisikan manusia untuk merasakan betapa hebat kekuatan uang dan nyata dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi hampir semua orang. Dengan demikian, banyak orang dikondisi untuk menjadikan uang sebagai kebahagiaannya, sehingga uang akan menjadi tujuan hidup. Mereka berpandangan bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, akan merasa semakin memiliki kebahagiaan. Cara berpikir ini juga telah meracuni pikiran banyak orang Kristen, sehingga mereka juga tertawan oleh cara berpikir tersebut, dan hidup dalam keterikatan dengan dunia. Padahal, keterikatan dengan dunia ini adalah suatu perhambaan; artinya kepada siapa hati seseorang terikat, kepadanya ia mengabdikan dirinya. Sebagai orang percaya yang mengerti kebenaran, kita harus berani menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan dan perlindungan satu-satunya. Tidak ada yang dapat diandalkan selain Tuhan. Dengan demikian, orang percaya tidak memiliki berhala apa pun.
    Kalau seseorang mengandalkan materi sebagai kebahagiaannya, ia tidak pernah bisa bersekutu dengan Allah. Keselamatan yang Allah sediakan tidak pernah terwujud dalam kehidupan mereka. Dalam hal ini, Iblis bisa menyusup dalam gereja, melalui mimbar-mimbarnya dengan mengajarkan teologi kemakmuran yang mengarahkan pikiran bahwa Tuhan bukan satu-satunya kebahagiaan hidup. Dengan demikian, jemaat terparkir di dunia sehingga tidak mengalami keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesu...
    0 min
  • IKATAN CINTA UANG
    Tidak dapat disangkal, bahwa kenyataan sekarang ini uang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Uang telah menjadi fokus hidup satu-satunya pada hampir semua orang, termasuk banyak orang Kristen. Pada akhir zaman ini, manusia telah menjadi hamba uang (2Tim. 3:2). Banyak orang—termasuk orang Kristen—menjadi hamba uang dimana hidupnya dikendalikan atau dikuasai oleh uang. Memang dunia yang semakin materialistis menciptakan keadaan di mana uang menjadi “segalanya” dan menjadi pusat kehidupan. Hal ini memberi pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan banyak orang Kristen. Ternyata, tidak sedikit pendeta yang telah terbelenggu oleh gairah cinta akan uang ini, sehingga mereka pada dasarnya tidak lagi menjadi hamba Tuhan, tetapi telah menjadi hamba uang.
    Uang dapat membuat mata hati menjadi gelap sehingga seorang pendeta yang berdiri sebagai pembicara di mimbar menyampaikan Firman yang telah disesuaikan dengan semangat zaman, yaitu teologi kemakmuran duniawi. Sering kali apa yang dianggap kebutuhan adalah ambisi pribadi atau pikiran fasik manusia berdosa yang ingin memuaskan diri dengan materi. Harus disadari bahwa dengan jumlah uang yang besar atau banyak, bisa membawa seseorang akan semakin terbelenggu oleh gairah cinta akan uang. Mereka berusaha untuk memiliki uang dalam jumlah besar, tentu dengan anggapan bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, maka semakin bahagia, lengkap, serta merasa aman dan nyaman. Orang yang fokus hidupnya adalah uang, akan semakin tidak pernah mengenal apa artinya sudah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah.
    Orang Kristen yang cinta uang pasti tidak mengalami keselamatan, sebab hanya kebenaran yang memerdekakan. Dengan demikian, orang yang tidak memiliki sikap yang benar terhadap uang tidak dapat dikembalikan ke rancangan semula Allah, sebab selalu meleset. Memang mereka bisa menjadi orang yang baik di mata masyarakat, tetapi ia tidak pernah bisa hidup dalam ketepatan sesuai dengan kehendak Allah. Padahal, panggilan orang percaya adalah panggilan untuk sempurna seperti Bapa: ketepatan berpikir, berucap, dan berperilaku setiap hari.
    Paulus dalam 2 Timotius 3:1-5 menunjukkan bahwa salah satu ciri gairah atau spirit manusia pada zaman akhir ini adalah menjadi hamba uang. Firman Allah menyatakan bahwa “cinta uang” merupakan akar segala kejahatan (1Tim. 6:10). Kata “cinta uang” dalam teks aslinya adalah philarguria (φιλαργυρία). Kata ini gabungan dari dua kata, yaitu philar dan guria. Philar berasal dari kata phileo yang artinya bersahabat, bukan sekadar berteman; adapun guria berarti uang. Kata “teman” dalam bahasa Yunani adalah hetairos. Jadi, philarguria berarti bersahabat dengan uang. Hal ini menunjuk kedekatan dan keterikatan seseorang dengan uang. Orang yang terbelenggu oleh cinta uang memiliki keadaan hati yang merasa tidak bahagia jika tidak memiliki uang dalam jumlah tertentu. Mereka berpikir bahwa dengan memiliki uang dalam jumlah besar, dapat lebih merasa bahagia aman dan nyaman. Orang seperti ini akan selalu mengharapkan dan berusaha memiliki uang dalam jumlah yang lebih banyak untuk dapat memenuhi semua keinginannya, guna membeli atau memperoleh sesuatu. Dengan demikian, orang seperti ini hidupnya bergantung pada kekayaan.
    Yesus mengatakan dalam Injil bahwa orang percaya harus melepaskan diri dari segala milik agar layak menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Melepaskan diri dari segala milik berarti juga terlepas dari belenggu cinta uang. Orang yang masih terikat dengan percintaan uang, tidak akan dapat menjadi murid Yesus. Itu berarti tidak akan pernah mengalami perubahan, yaitu dari kodrat manusia ke kodrat ilahi. Ini juga berarti maksud keselamatan diberikan tidak terwujud dalam hidup orang itu. Sekarang ini, kenyataan dalam hidup yang terjadi, uang sudah menjadi segala-galanya bagi hampir semua orang.
    Orang percaya harus melepaskan diri dari ikatan cinta uang. Jika seorang Kristen tidak terlepas dari belenggu cinta uang,
    0 min
  • MERASA CUKUP
    Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah adalah orang yang puas dengan apa yang ada. Orang seperti ini dapat memenuhi yang dikatakan oleh Firman Allah: Asal ada makanan dan pakaian, cukup (1Tim. 6:8). Kata “cukup” dalam teks aslinya di sini adalah arkesthesometha, dari akar kata arkeo yang artinya cukup atau puas. Orang yang tidak merasa cukup adalah orang yang selalu merasa haus untuk dipuaskan. Dengan keadaan seperti ini, seseorang tidak memberi tempat untuk yang lain. Ia hanya memberi ruangan bagi dirinya sendiri. Sudah tentu orang seperti ini belum selesai dengan dirinya sendiri dan melayani dirinya sendiri sepanjang waktu, sehingga diperbudak oleh dirinya sendiri.
    Orang yang tidak merasa cukup dengan apa yang ada pasti tertawan oleh dunia ini dengan segala keindahan dan hiburannya. Dunia menawarkan segala sesuatu yang merangsang untuk dimiliki. Sementara filosofi hidup banyak orang sudah menjadi rusak, mereka berpikir bahwa dengan memiliki berbagai fasilitas yang dunia tawarkan, hidup akan menjadi lebih bahagia, lengkap, aman, dan nyaman. Dengan filosofi seperti ini, seseorang tidak akan pernah memiliki “rasa cukup.” Dengan demikian, ia tidak akan pernah mengalami selesai dengan diri sendiri. Masyarakat yang konsumeristis memiliki gaya hidup yang menganggap bahwa barang-barang mewah adalah ukuran kebahagiaan dan kesenangan. Ini adalah gaya hidup yang tidak hemat, gaya hidup shopping. Ini adalah konsumerisme tanpa batas yang sedang melanda dunia ini dengan dahsyat. Semua itu menjadi sarana hidup yang menaikkan citra diri atau prestise. Filosofi hidup ini bisa dikatakan sebagai kapitalisme pribadi. Dalam semangat konsumerisme tersebut, keinginan diumbar sebegitu rupa sehingga menjadi liar tak terkendali. Hati selalu haus untuk dapat memiliki semua yang ditawarkan dunia hari ini.
    Orang percaya tidak berkewajiban memiliki segala sarana yang ada di dunia ini, tetapi yang penting adalah mempersiapkan diri menjadi anak Allah yang layak dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Jadi, kalau orang percaya studi, berkarier, bekerja, berumah tangga, dan melakukan segala kegiatan, semua itu diperuntukkan bagi kepentingan persiapan memasuki Kerajaan Surga, bukan untuk membangun kerajaannya sendiri di bumi. Orang percaya harus mengerjakan segala sesuatu untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Dengan demikian, orang percaya menaruh harapan, sukacita, dan kebahagiaan hanya pada penyataan kedatangan Tuhan Yesus nanti. Sikap hati ini akan membangun kehidupan yang selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah.
    Orang Kristen yang selalu merasa kurang berkenaan dengan hal pemenuhan kebutuhan jasmani menunjukkan bahwa ia belum sungguh-sungguh sudah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah, sebab ia belum mengenal dan mengecap kekayaan dalam Kristus Yesus. Orang percaya dipanggil untuk memahami betapa luar biasanya kekayaan yang terkandung dalam Kristus Yesus; yaitu kasih, damai sejahtera, dan hikmat yang Tuhan berikan, serta kemuliaan yang akan kita terima, baik selama hidup di dunia ini, maupun di balik kubur nanti (Ef. 3:8). Dengan mengenal kebenaran yang murni secara mendalam dan hidup dalam pergaulan dengan Tuhan, seseorang akan mengenal kekayaan Kristus. Untuk ini, orang percaya harus mengarahkan pikirannya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Harus ada waktu yang disediakan untuk belajar kebenaran dan untuk bertemu dengan Tuhan setiap hari. Dengan demikian, seseorang dapat memahami kekayaan dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Orang yang memiliki dan menikmati kekayaan dalam Kristus dapat mengerti yang dimaksud Paulus dengan “merasa cukup” sehingga dapat mencapai kehidupan selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah. Orang yang belum memiliki dan menikmati kekayaan dalam Kristus adalah orang-orang yang masih terikat dengan dunia ini atau selalu haus dan lapar akan berbagai fasilitas hidup di bumi ini, yang dipandang dapat dijadikan sebagai sarana kebahagiaannya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…