Oleh karena kita telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, sejatinya kita tidak boleh merasa berhak memiliki hidup. Orang yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan tampak dari sikap hidup yang mengingini segala sesuatu untuk kepuasan dirinya. Orang-orang seperti ini berarti bersahabat dengan dunia. Mereka adalah orang-orang yang berkhianat kepada Tuhan. Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah. Kenyataan hari ini, banyak orang merasa berhak memiliki hidupnya dan menaruh berbagai keinginan dalam dirinya tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki hidup ini. Bahkan, mereka meminta Tuhan untuk memuaskan keinginannya sendiri. Orang yang mengumbar segala keinginan dalam dirinya adalah orang yang merasa berhak memiliki agenda sendiri. Orang seperti ini sebenarnya berstatus pemberontak. Mereka hidup di dunia hanya untuk memenuhi dengan segala kegiatan yang berasal dari agendanya sendiri. Ini salah! Seharusnya, hidup kita ini hanya untuk agenda Tuhan semata-mata, bukan untuk hidup menuruti keinginan kita sendiri.
Berkenaan dengan keinginan yang ada pada diri setiap kita, perlu kita perhatikan apa yang ditulis Yakobus dalam suratnya di Yakobus 1:13-15, tertulis: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Tuhan tidak akan pernah membujuk kita berbuat suatu kejahatan atau mengisi jiwa kita dengan keinginan yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Firman Tuhan mengatakan bahwa setiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri.
Kalimat dalam Doa Bapa Kami: “…melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat,” adalah panggilan agar kita mengisi hati kita dengan segala hal yang benar-benar tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8). Untuk ini, pikiran kita harus selalu diperbaharui. Hati kita seperti sebuah taman, tentu taman milik Tuhan yang tidak diisi tanaman suka-suka kita, namun diisi dengan tanaman yang dikehendaki pemiliknya. Itulah sebabnya Firman Tuhan berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan” (Ams. 4:23).
Dengan demikian, kalimat dalam Doa Bapa Kami ini menggiring kita kepada kehidupan yang bahagia. Kalimat dalam Doa Bapa Kami merupakan upaya Tuhan untuk menghindarkan kita dari penderitaan dan kesengsaraan akibat kesalahan kita sendiri. Banyak orang berkata, “Bukankah lebih baik kita tidak dibawa Tuhan kepada pencobaan?” Pernyataan ini sama dengan dengan pernyataan: “Mengapa Tuhan menaruh pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat di tengah taman, kalau karena ini manusia jatuh dalam dosa?” Dalam hal ini, sebenarnya Tuhan menguji siapa yang kita pilih dan siapa yang kita ingini: Tuhan atau Iblis. Dan itu nyata, dari keinginan siapa yang kita turuti. Pencobaan adalah kesempatan untuk menerima kemuliaan, sebab pencobaan akan menjadi jembatan memperoleh kemuliaan (Yak. 1:12, Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia). Sama seperti seorang mahasiswa, ia tidak akan diwisuda kalau tidak membuat skripsi dan menghadapi ujian skripsi. Harus ada pencobaan dan penderitaan, barulah ada mahkota kehidupan.
Banyak orang Kristen yang masih hidup dalam keserakahan, tetapi mereka menganggap hal ini bukan dosa yang membahayakan, bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Hal yang sangat membahayakan hari ini adalah Tuhan diseret untuk memuaskan hasrat atau keinginan-keinginan diri sendiri. Inilah yang membuat banyak orang tidak mau mengerti bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya puas dengan apa yang ada. Kita harus bisa membedakan manakah kebutuhan dan manakah keinginan. Tuhan menghendaki kita merasa cukup dengan apa ya...