Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • ALLAH BESERTA KITA
    Ada satu pernyataan kristiani yang sangat populer, sering didengar bahkan juga diucapkan. Kalimat itu adalah “Allah beserta kita.”Orang Kristen begitu mudahnya mengucapkan kalimat ini.Namun, kenyataannya sungguh ironis.Tidak sedikit mereka yang tidak mengalami realisasi dari pernyataan tersebut. Pernyataan tersebut hanya menjadi kalimat klise yang tidak berkuasa. Banyak di antara mereka ragu-ragu,lalu bertanya-tanya dalam hati, “Apakah Allah masih menyertaiku?” Keraguan bahkan ketidakpercayaan itu muncul pada waktu ada masalah, pada waktu sudah berdoa tetapi Allah tidak kunjung memberi jalan keluar. Mereka merasa bahwa Allah tidak bertindak sama sekali baginya. Mereka meragukan apakah Allah masih eksis atau tidak.
    Mengapa masih banyak orang Kristen yang tidak menghayati penyertaan kehadiran Allah dalam hidupnya dan meragukan keberadaan-Nya? Ada beberapa penyebab mengapa seseorang kurang percaya bahwa Allah menyertainya dan meragukan keberadaan-Nya. Pertama, karena mereka menuntut Allah menyatakan diri secara fisik dengan tanda-tanda nyata secara lahiriah seperti yang mereka kehendaki. Kalau hal itu terjadi, mereka baru mau percaya. Bila orang-orang seperti ini tidak mengalami pengalaman secara fisik dan bila mungkin mengalami pengalaman secara spektakuler dengan Allah, mereka masih terus meragukan kehadiran atau penyertaan-Nya. Orang-orang seperti ini adalah orang yang memiliki gaya hidup seperti Tomas; baru mau percaya setelah melihat (Yoh. 20:24-29).
    Yesus menyatakan bahwa orang yang tidak melihat tetapi percaya adalah orang yang berbahagia. Ini berarti Allah tidak akan menyatakan diri secara visible supaya orang percaya. Dengan pernyataan tersebut, Allah menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak akan memiliki pengalaman seperti Tomas, tetapi percaya. Allah justru menghendaki orang dapat percaya kepada Allah walaupun tidak melihat. Dalam hal ini, orang percaya seharusnya berlatih untuk percaya dengan iman. Ia seharusnya tidak menggunakan indera jasmaninya untuk menangkap kehadiran Allah.
    Karena banyak orang menuntut fakta-fakta atau bukti lahiriah baru mau percaya, banyak orang Kristen tanpa sadar menjadi ateis dan dalam dirinya,mereka mengembangkan keyakinan bahwa Allah sudah mati. Kalaupun mereka masih beragama Kristen, mereka termasuk kelompok orang-orang ateis praktis. Secara teori, mereka percaya bahwa Allah ituada, tetapi secara praktik, mereka tidak percaya bahwa Allah itu ada. Tanda-tanda dari orang-orang Kristen seperti ini adalah berkelakuan tidak sesuai dengan Firman Allah dan secara terus-menerus hidup dalam kekhawatiran. Mereka tentuakan bercinta dengan dunia karena kekhawatirannya. Mereka merasa bahwa Allah tidak bisa diharapkan lagi.
    Kedua, karena mereka menghendaki Allah menyertai mereka dengan cara yang mereka inginkan. Persoalan-persoalan hidup yang mereka alami diharapkan selesai tuntas seperti skenario yang mereka kehendaki. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen tidak mendapat jawaban doa seperti yang mereka inginkan walaupun mereka sudah berdoa bahkan berpuasa. Dalam hal ini, banyak orang meragukan kebijaksanaan Allah. Hal ini terjadi kepadaorang-orang yang belum dewasa.
    Hampir semua orang Kristen, tatkala memulai pengiringannya kepada Allah tidak mengerti bahwa perjalanan mengiring Allah itubisaterasa sukar.Perjalananitu lebih sukar dibandingkan dengan sebelum mereka percaya Yesus. Lebih banyak orang yang berharap dengan menjadi orang Kristen, perjalanan hidup mereka akan lebih lancar, bebas dari persoalan yang rumit, malapetaka, kesukaran, dan segala sesuatu yang menyakitkan. Kenyataan yang dialami ternyata berbeda dengan apa yang diharapkan. Bila orang percaya tidak mengerti kebenaran, mereka dapat menjadi bingung, kecewa, dan curiga kepada Allah. Kenyataan yang harus diterima bahwa menjadi anak-anak Allah berarti “berjalan dijalan-Nya.”Itu berarti kitaharus bersiap-siap mengarungi jalan salib.
    Contoh yang paling jelas adalah perjalanan bangsa Israel.
    0 min
  • CARA KEHADIRAN ALLAH
    Hampir semua orang Kristen secara akali percaya dan mengakui bahwa Allah itu ada, hidup, dan Maha hadir. Maksudnya, Dia ada dan hadir dimana-mana. Namun, pengakuan itu tidak cukup membuat seseorang sungguh-sungguh mengalami Allah. Tidak banyak orang yang memiliki pengalaman riil yang diakuinya sebagai pernyataan kehadiran Allah dalam hidupnya secara pribadi. Teologi dan pengetahuan tentang Allah lebih banyak atau hampir semua didengar dari berbagai sarana dan media. Namun, itu pun hanya berupa teori-teori yang belum terbukti dalam kehidupan secara konkret. Dalam Alkitab, kita dapat menemukan kesaksian pribadi-pribadi yang telah berjalan dengan Allah secaraluar biasa. Itulah hidup yang sesungguhnya, yaitu kehidupan yang tidak terpisah dari Allah. Alkitab tidak pernah mencoba untuk membuktikan bahwa Allah itu ada dan membujuk pembacanya untuk memercayai eksistensi-Nya. Hal ini disebabkan karena para penulis Alkitab yakin benar bahwa Allah itu ada, yaitu hasil dari pengalaman nyata hidup mereka. Bagi mereka, eksistensi Allah bukan sesuatu yang aneh,melainkan sesuatu yang biasa dan tidak perlu lagi dibuktikan.
    Dunia hari ini adalah dunia yang fasik.Kefasikan dunia makin memperkuat konsep atau keyakinan mereka bahwa Allah itu tidak ada dan tidak perlu ada. Kalaupun Allah itu ada, Dia tidak perlu memiliki relasi dengan manusia (2Ptr. 3:3-5, Mzm. 14:1-3). Itulah sebabnya Paulus mengingatkan bahwa hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:15-17). Banyak orang berpikir bahwa manusia dapat berdiri sendiri dan hidup tanpa Allah. Pengaruh semacam ini tanpa terasa telah membentuk jiwa dan kepribadian banyak orang, termasuk sejumlah besar orang Kristen. Itulah sebabnya dapat ditemui ada banyak orang Kristen yang hanya ber-Allah pada hari Minggu atau sementara berbakti di gereja. Di luar hari Minggu atau diluar hari kebaktian, mereka hidup kembali seperti anak-anak dunia yang tidak ber-Allah.
    Para penulis Alkitab oleh ilham Roh memaparkan eksistensi Allah tanpa ada unsur keragu-raguan sama sekali. Mereka begitu yakin bahwa Allah itu adalah suatu realitas yang tidak terbantahkan. Hal ini bisa terjadi sebab para penulis Alkitab benar-benar telah mengalami kehadiran Allah dalam pengalaman hidup konkret mereka. Mereka tidak pernah membuktikan bahwa Allah itu ada, sebab mereka telah mengalami pribadi Allah itu sendiri.Allah adalah Allah yang transenden, tetapi sekaligus juga adalah Allah yang imanen, karenanya Dia dapat dikenali. Namun, pengenalan akan Allah itu adalah pengenalan yang terbatas, sebab Allah yang transenden tidak bisa dipahami secara sempurna atau sepenuhnya oleh rasio manusia yang terbatas. Allah adalah Allah yang transenden.Maksudnya, Allah adalah Allah yang melampaui segala akal dan pengalaman (trans-empiris). Hikmat dan kebijaksanaan-Nya tidak terduga oleh akal manusia dan tidak dapat diselami secara sempurna oleh makhluk manapun. Namun demikian, dalam eksistensi-Nya yang transenden tersebut,Dia berkenan menyatakan diri-Nya sehingga manusia dapat mengenal-Nya. Dengan pengenalan yang ada, manusia dapat berinteraksi dengan Allah.
    Dalam pernyataan-Nya yang ditulis dalam Alkitab dan terbukti dalam sejarah bahwa Allah adalah Allah yang berpribadi. Dia bukanlah sekumpulan doktrin dan sejumlah penjelasan. Ia bukanlah sekadar tenaga aktif yang secara mekanis bergerak,melainkan Ia adalah Allah yang berpribadi. Maksudnya berpribadi di sini adalah bahwa Allah adalah Allah yang memiliki integritas sebagai Oknum yang berkehendak, berperasaan, dan berpikir. Dia memiliki kesadaran sebagai Pribadi yang dapat berkomunikasi dengan pribadi lain, dalam hal ini, manusia yang diciptakan-Nya. Oleh sebab itu, umat harus memperlakukan Allah sebagai Pribadi pula (Nah. 1:1-7). Roh Allah atau Roh Kudus adalah cara kehadiran Allah dalam kehidupan orang percaya.
    Allah adalah Roh.Maksudnya adalah bahwa Allah tidak dapat dilihat dengan mata jasmaniah atau disentuh. Ia adalah pribadi yang eksis tetapi tidak dapat dijamah secara lahiriah,
    0 min
  • BUKTI MENGALAMI KEHADIRAN ALLAH
    Setiap orang percaya harus sungguh-sungguh mengalami dan membuktikan bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata. Kalau seseorang percaya bahwa Allah ada, hidup dan bisa nyata, ia mestinya dapat mengalami Allah yang hidup dan nyata tersebut secara riil. Dengan hal ini, seseorang dapat memiliki kesaksian dalam batin, bahwa Allah itu hidup, nyata, dan dapat dialami secara riil. Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang hidup? Membuktikan bahwa Allah ada dalam kehidupan pribadi itu dilakukanbukan karena mengalami kuasa mukjizat-Nya. Terkait dengan kuasa dan mukjizat, Iblis pun sanggup melakukannya. Oleh karena itu, terkait dengan hal ini, ada beberapa bukti yang membuat seseorang dapat membuktikan bahwa Allah itu ada, hidup, dan bisa dialami secara riil.
    Pertama, ketika seseorang mengalami perubahan karakter. Perubahan karakter ini semakin membuatnya berkodrat ilahi. Semakin hari iadapat merasakan betapa luar biasa keagungan kepribadian yang diajarkan oleh Allah kepadanya. Kalau menengok tahun-tahun sebelum seseorang bersungguh-sungguh belajar kebenaran, ia dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok antara kehidupan dahulu dengan sekarang. Kita merasakan dan menghayati betapa hebat kuasa Allah yang bekerja di dalam dirikita agar kita mengalami perubahan. Dari hal ini, kita memiliki kesaksian dalam batin bahwa Allah ituada, hidup, dan bisa dialami riil. Dengan kehidupan seperti ini, kita barulah dapat menjadi berkat bagi semua orang. Dalam hal ini, kita barulah bisa mengerti bagaimana menjadi saksi Kristus.
    Kedua, perasaan damai sejahtera yang sangat kuat, melebihi kesenangan dan kebahagiaan oleh apapun dan siapapun. Perasaan damai sejahtera dan bahagia tersebut belum pernah kita alami sebelumnya. Semakin hari, damai sejahtera tersebut akan semakin kuat. Hal itu membuat kita tidak terikat oleh suatu keinginan, kesenangan, atau kebahagiaan apapun. Orang-orang yang dapat menikmati damai sejahtera Allah secara benar dan proporsional tidak mungkin dapat tertawan oleh percintaan dunia. Mereka dapat memenuhi yang dikatakan dalam Firman Allah “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8).Mereka bisa mengikut Yesus dengan prinsip:“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”(Luk. 9:58). Hanya orang-orang seperti ini yang dapat mewujudkan Firman Allah untuk mengumpulkan harta di surga dan memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga. Mereka barulah dapat dikatakan sebagai orang yang “bukan berasal dari dunia ini,melainkanberasal dari surga” (bnd. Yoh. 17:14).
    Ketiga, perasaan tidak takut menghadapi apapun. Hal ini tidak pernah terpikir sebelumnya, sebab kitabelum pernah mengalaminya. Saatmengalaminya, kita sendiri akanmenjadi kagum, bahwa ternyatakita bisa menjadi begitu kuat dan kokoh menghadapi segala keadaan. Kita bukan saja tidak takut menghadapi ancaman dan keadaan yang paling genting sepertibagaimana pun, bahkan kita tidak bisa menjadi takut. Keberanian yang paling menakjubkan adalah ketika kita tidak takut menghadapi kematian. Kematian yang merupakan “momok” yang menakutkan malahan menjadi hari atau saat yang dinanti-nantikan. Kematian bukanlah bencana atau malapetaka, melainkan“jembatan emas” untuk menuju kemuliaan bersama dengan Allah Yesus.
    Keempat, perasaan mengasihi Allahyang sangat kuat. Perasaan cinta itubelum pernah kita alami. Perasaan cinta kasih ini mendorong kita untukmelepaskan segala sesuatu yang kita miliki demi kepentingan-Nya. Pelayanan pekerjaan Allah tidak lagi menjadi “kewajiban,” tetapi menjadi seperti “kebutuhan.”Denganhal itu, kita barulah bisa memahami pernyataan Yesus,“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34).  Bagi orang yang mengasihi Allah dengan benar, kebutuhannya adalah menolong sesama demi kemuliaan Allah. Hal ini mendorong kita untukmengasihi orang di sekitar kita dengan tulus dan dengan hati...
    0 min
  • ALLAH DALAM KEHIDUPAN RIIL
    Biasanya orang membangun hubungan dengan Allah secara satu pihak saja, yaitu dirinya percaya dan menggambarkan Allah di dalam pikirannya sesuai dengan pandangan teologinya. Namun, mereka tidak mempersoalkan Allah dalam kehidupan riil terkait dengan pengalaman hidup ini. Mereka tidak mempersoalkan bagaimana sebenarnya Allah itu dalam pengalaman hidupmereka. Mereka tidak memperkarakan bagaimana sikap Allah terhadap dirimereka dan sikap dirimereka terhadap Allah. Dengan demikian,merekasebenarnya hanya membangun konseptentangAllah di dalam pikiranmereka saja. Bagi kelompok Karismatik dan Pentakosta, mereka membuktikan kebenaran Allah yang mereka yakini dan promosikan dengan kesaksian, mukjizat, penglihatan, nubuat, dan berbagai karunia roh lainnya. Padahal semua itu sangat berpotensi sebagai pengalaman palsu. Namun, kelompok lain—biasanya dari kelompok Protestan—membuktikan kebenaran Allah yang diyakini dengan rumusan, kajian, dan doktrin teologi yang dipaparkan dalam ribuan lembar halaman buku.
    Bagaimana seharusnya kita bisa menghayati keberadaan Allah? Pengalaman pribadi dengan Allah harus dibangun melalui doa pribadi. Kalau Allah diyakini hidup, Allah pasti bisa dirasakan dan dialami secara riil. Untuk itu, kita harus berani menyediakan diri untukmenjumpai Dia secara khusus dalam ruangan tertutup dan waktu yang cukup. Hal ini bukan sesuatu yang mudah. Kalau seseorang tidak membiasakan diri, ia tidak akan bisa bertahan lama duduk diam di kaki Allah. Kalaupun bertahan lama, kebiasaanitutidak berkualitassamasekali. Kita harus memiliki “niat” yang tulus dan kuat untuk ini. Kalau ada niat, seberapapun waktu yang harus disediakan tidak akanmenjadi masalah. Niat juga akan menghalau kebosanan atau kejenuhan yang bisa timbul pada waktu duduk diam di kaki Allah. Dalam hal ini,ketekunansungguh-sungguh sangat dibutuhkan. Tanpa ketekunan, seseorang tidak akan menemukan Allah.
    Dalam niat menemui Allah, kita juga harus berprinsip bahwa tidak ada yang dapat memuaskan dan membahagiakan kita selain Allah. Kita harus membuang semua kesenangan, hobi atau apapun yang kita pandang sebagai kesenangan. Kalau hal ini kita lakukan, kita akandapat mengembangkan kelaparan dan kehausan akan Allah dalam diri kita. Firman Allah mengatakan bahwa hanya orang yang lapar dan haus akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5:6).Dalam kalangan Kristen, terdapat ajaran yang membuat mereka tidak mencari Allah dengan sungguh-sungguh karenaadanyasebuah teori yang salah dipahami. Teori pengajaran tersebut adalah bahwa “Bukan kita yang terlebih dahulu mencari Allah, melainkanAllah yang terlebih dahulu mencari kita.” Dengan prinsip ini, banyak orang Kristen—bahkan para teolog—merasa tidak perlu mencari Allah secara benar. Mereka memandang bahwa mencari Allah dipandang sebagai bentuk penyangkalan terhadap kebenaran dan dipandang sebagai kesombongan. Padahal,mencari Allah justru merupakan sikap kerendahan hati dari seorang yang merasa sungguh-sungguh membutuhkan Allah.
    Kalimat “Bukan kita yang terlebih dahulu mencari Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu mencari kita” sebenarnya tidak salah, tetapi hal itu harus dipahami dengan benar. Memang Allah yang berinisiatif menyelamatkan kita dengan mengutus Putra-Nya untukturun dari surga, mengosongkan diri, dan menebus dosa kita di kayu salib. Namun, setelah kita menjadi anak tebusan, kita harus mencari dan menemukan Dia dengan benar atau secara proporsional. Terkait dengan hal ini, Paulus menyatakan,“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh KristusYesus” (Flp. 3:12). Konteks tulisan Paulus ini adalah panggilan untuk barter (salingbertukar) agar memiliki Kristus dan usahanya untuk mencapai kesempurnaan (Flp. 3:7-11).
    Banyak orang tidak memperkarakan sikap Allah terhadap diri mereka. Mereka tidak memedulikan secara proporsional apa dan bagaimana penilaian Allah atas dirimerek...
    0 min
  • BERMARTABAT SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH
    Kita semua harus terus mengalami proses perubahan, sehingga perjalanan hidup kita ini menjadi petualangan yang hebat karena itu menentukan kekekalan yang tiada batas. Tidak ada yang lebih menarik dalam hidup kita, selainperubahan-perubahan itu. Perubahan-perubahan itu akanmenyenangkan hati Bapa. Jadi, perubahan itu bukan hanya tidak berbuat dosa, melainkan juga perubahan menjadi manusia baru berstandar Yesus untuk menyenangkan hati Bapa. Allah Bapa mengetahui apakah kita ini mengalami perubahan yang benar atau tidak. JikaBapa merasakannya, tentu saja orang sekitar kita juga pasti akan merasakannya.
    Jika kita masuk pada pergumulan ini, tiada lagi yang menarik dalam hidup kecuali Allah dan Kerajaan-Nya. Untukitu, mengikut Yesus tidak mungkin dapat membuat kita hidup wajar, karena mengikut Yesus ituberartiharus hidup seperti Dia hidup; harus mengenakan hidup-Nya. Gereja Tuhan harus semakin berbicara lantang, tegas, dan tajam mengenai hal ini. Tidak ada lagi yang patut dipercakapkan, kecuali bagaimana kita mengerti kebenaran-kebenaran Firman yang mencerdaskan pikiran, dan membuat jemaat makin peka terhadap pikiran dan perasaan Allah. Kepekaan inimerupakaninti proses perubahan dalam kehidupan orang percaya, bukan sekadar menambah pengertian mengenai hukum yaitu apa yang diperbolehkan dan dilarang, halal, atau haram. Standar kebenaran dan kesucian orang percaya adalah memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga dapat dengan tepat memahami apa yang benar dan baik menurutstandar kesucian Allah. Inilah kekayaan abadi kita.
    Firman Tuhan mengatakan: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor. 8:9). Ini sama sekali tidak berhubungan dengan kekayaan materi. Jadi, kalau kalimat dalam ayat ini dikaitkan dengan harta dunia, itu merupakan kejahatan di dalam gereja; itu merusak tatanan pikiran.  Menjadi “Kristen” itu berarti diberi kesempatan menjadi anak-anak Allah. Jadi, menjadi orang yang beragama “Kristen” bukan berarti “sudah” menjadi anak Allah yang sah, melainkan “sedang” menjadi anak-anak Allah. Belum menjadi anak-anak Allah yang sah berarti masih menjadianak-anak yang tidaksah yang dalam kata bahasa Yunani disebutnothos. Namun, setelah menjadi anak Allah yang sah, yaitu setelah mengambil bagian dalam kekudusan Allah,anak-anak Allah itubarulah disebut dalamistilahbahasa Yunani sebagaihuios.
    Jadi, fokus hidup kita sekarang ini hanya bagaimana berubah terus sampai menjadi manusia yang benar-benar baru. Dalam pergumulan demi perubahan tersebut, kita pasti tahu jika masih ada ada unsur-unsur manusia lama kita. Jangan sampai kita sibuk di pelayanan secara teknis dan berprestasi dalam pelayanan, tetapi tidak mengalami pembaruan di dalam manusia batiniahkita. Ada orang-orang yang cakap berkhotbah dan cakap dalam mengatur organisasi gereja, tetapi gagal menjadi manusia baru. Tidak sedikit mereka berasal dari jemaat awam tetapi sudah memiliki pengetahuan Alkitab, menjadi cakap berkhotbah, membantu pelayanan dalam kegiatan-kegiatan gereja, tetapi mereka ternyata tidak mengalami perubahan seperti Yesus; tidak menjadi manusia baru. Tidak heran bila di tengah-tengah masyarakat mereka tidak tampil sebagai saksi Kristus, karena hidup mereka tidak memancarkan kehidupan Yesus. Proses perubahan harus dialami melaluiperjuangan dalamhal-hal sederhana.
    Oleh sebab itu, salah satu yang penting dalam hidup ini adalah menjaga lidah untuk tidak mengucapkan kata-kata yang sia-sia, belajar mengendalikan emosi, serta membersihkan jiwakita yang keruh dari perasaan-perasaan yang negatif seperti iri hati, cemburu, mencari hormat manusia, tidak suka orang lain dianggap penting, dan lain sebagainya. Itu semua adalah manusia lama yang harus dimatikan. Kalau masih hidup dalam sifat-sifat manusia lama tersebut, kitapasti tidak akan masuk Kerajaan Allah. Oleh sebab itu,
    0 min
  • BERJALAN HARMONIS DENGAN ALLAH
    Satu halterutama untuk bisa menyelenggarakan hidup sesuai dengan kehendak Allah adalah hidup dalam kekudusan-Nya. Firman Allah berkata,“Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Mengapa Allah menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan yang harus kita kenakan? Allah berkehendak agar orang percaya bersekutu dengan Allah sehingga menjadi satu Roh dengan Dia (1Kor. 6:17). Hal ini sama dengan panggilan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah.Kekudusan adalah syarat mutlak untuk bisa diterima oleh Bapa. Dalam 2 Korintus 6:17-18 tertulis,“Sebabitu: Keluarlahkamudariantaramereka, dan pisahkanlahdirimudarimereka, firmanTuhan, dan janganlahmenjamahapa yang najis, makaAkuakanmenerimakamu.Dan AkuakaanmenjadiBapamu, dan kamuakanmenjadianak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuandemikianlahfirmanTuhan, Yang Mahakuasa.”
    Oleh penumpahan darah Yesus, Allah Bapa memang menerima kita tanpa melihat keberadaan kita, yaitu ketika baru menjadi orang Kristen. Kita diterima dan diberi meterai Roh Kudus. Meterai tersebut sama dengan mengadakan Perjanjian dengan Allah, dimaksudkan agar kita terus berubah mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Kudus di sini bukan hanya karena kita telah menerima pengampunan dosa,melainkankarena karakter kita menjadi seperti Yesus, sehingga kita dapat mengimbangi Allah. Mengimbangi Allah artinya dapat mengerti kehendak Allah dan melakukan semua kehendak-Nya. Selain itu, mengimbangi Allah berarti berkarakter seperti Dia sehingga Allah disukakan oleh segala perilaku kita, baik yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan. Allah tidak akan bersama dengan orang yang karakternya buruk.
    Tidak mungkin orang yang kejam, bengis, tidak jujur, tidak bisa mengendalikan nafsu, dan berbagai karakter buruk lainnya dapat berjalan harmonis dengan Allah. Seseorang berwatak buruk seperti yang disebut diatas, beragamapun percuma. Memang, orang tersebut bisa menjadi orang beragama—meskipunpada dasarnya ia tidak ber-Tuhan—namun pada akhirnya, orang seperti itu tidak melakukan kehendak Bapa dan pasti ditolak oleh Tuhan (Mat. 7:21-23).Banyak orang Kristen dan teolog berpikir bahwa setelah menerima pengampunan dosa, hati merekamenjadi bersih dan secara tidak langung dilayakkan berjalan dengan Allah dan bisa berjalan harmonis dengan Dia. Orang-orang Kristen dan teolog seperti ini tidak pernah memperkarakan hidupnya secara langsung dengan Allah. Mereka tidak bertemu dengan Allah secara riil. Mereka hanya bertemu dengan Allah di dalam pikiran mereka, yaitu dengan Allah fantasi mereka. Mereka memiliki produk-produk teologi, tetapi tidak bersentuhan dengan Allah. Betapa rusaknya gereja dilayani orang-orang seperti ini!
    Kalau kita mengakui bahwa kita diciptakan oleh satu Pribadi Pencipta yang memiliki pikiran dan perasaan, seharusnya kita hidup hanya melakukan kehendak dan rencana-Nya.AdalahAllah yang miskin jika Diahanya menargetkan ciptaan-Nya untukmelakukan hukum yang disusun-Nya. Pencipta yang benar menghendaki makhluk ciptaan-Nya hidup hanya untuk melakukan kehendak-Nya secara penuh dan mutlak. Pencipta yang benar pantas berdaulat penuh atas ciptaan-Nya dalam segala hal. Bisa dimengerti kalau Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.Kita harus memilihsatusaja. Satu-satunya Tuan yang kepada-Nya kita mengabdi adalah Allah yang Esa.
    Banyak orang Kristen yang kehidupan rohaninya lumpuh, sebab mereka merasa sudah mengenal dan memiliki Allah dalam hidupnya, padahal Alah yang dimiliki adalah Allah dalam fantasi. Mereka sesungguhnya tidak berurusan dengan Allah. Mereka hanya berurusan dengan Allah di dalam pikiran mereka sendiri. Secara de facto, mereka sebenarnya tidak ber-Allah. Tidak heran kalau kelakuan sebagian orang-orang Kristen di atas ituseperti orang yang tidak mengenal Allah. Mereka merasa sudah mengenal Allah, padahal mereka tidak percaya kepada-Nya. Bagaimana mereka bisa percaya kalau hanya merasa mengenal?
    0 min
  • ALLAH YANG LAYAK DIPERCAYA
    Orang Kristen yang mau hidup di hadapan Allah harus memercayai Allah secara benar. Untuk itu kita harus memahami dan menerima sepenuhnya bahwa Allah pantas atau layak dipercayai. Allah pantas atau layak dipercaya walaupun Ia tidak menunjukkan bukti-bukti keberadaan dan kehadiran-Nya secara fisik atau lahiriah. Banyak hal yang tidak kelihatan, tetapi merupakan fenomena riil; seperti misalnyaarus listrik, angin,udaradan lain sebagainya. Manusia dapat meyakini keberadaan mereka karena dapat membuktikan keberadaan mereka, tetapi Allah hendaknya tidak diperlakukan sama seperti mereka. Allah harus dipercayai walaupun Dia seakan-akan tidak ada. Kita harus memercayai Allah walaupun tidak ada bukti lahiriah, sebab dasarnya adalah iman, yaitu apa yang dikatakan Alkitab mengenai Dia.
    Memercayai Allahharus tidak bersyarat.Prinsipnya adalah “Aku percayabukan karena melihat; aku percaya walaupun aku tidak melihat.” Sejajar dengan itu, prinsipkitaadalah “Aku percaya walaupun aku tidak mengerti,” bukan “Aku percaya karena aku mengerti.” Sesuai Firman Allah, kalau kita tekun memercayai Dia, kita akan mengalami Allah dan memiliki kesaksian bahwa Dia ituhidup dan nyata. Allah pasti memenuhi janji-Nya bahwa Dia berkenan ditemui oleh mereka yang mencari Allah.Ketika mengalami keadaan sulit, dan Allah seakan-akan tidak peduli, kita harus tetap memercayai keberadaan dan kehadiran-Nya.
    Ada orang-orang yang kecewa bahkan marah terhadap Allah, ketika mengalami suatu keadaan atau situasi tertentu yang dirasa merugikandan menyakiti. Ia akanmempersalahkan Allah. Mereka berpikir bahwaAllah adalahpenyebabnya. Kalau Allah bukan penyebabnya, mengapa Allah tidak menghindarkannya? Di antara mereka ada yang berkata, “Aku tidakakan percaya lagi kepada Allah,” bahkan ada yang berani berkata bahwa Allah itujahat. Orang-orang seperti ini tidak memahami bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Allah yang Mahabesar. Allah memangsering seakan-akan diam, tetapi bukan berarti ada alasan untuk menyalahkan-Nya.
    Percaya kepada Allah harus dengan keyakinan tanpa menuntut bukti-bukti atau tanda-tanda lahiriah kehadiran-Nya. Hal ini menjadi prinsip penting. Hal tersebut akan membuat kita tetap menghormati Dia, bagaimanapun keadaan kita. Selain itu, haltersebut juga dapat membuat kita setia dan tekun untukduduk diam di kaki Allah dalam penghayatan terhadap kehadiran-Nya. Untuk itu, kita harus belajar percaya bukan dengan perasaan,melainkan dengan iman. Melalui berbagai pengalaman hidup, Allah mengajar kita untuk mempertajam dan mengukuhkan kepercayaan kepada Dia. Tanpa pengalaman-pengalaman riil dalam kehidupan ini, kita tidak dapat memahami iman yang sejati kepada Allah. Tembok sekolah tinggi teologi tidak cukup untukmembangun iman yang sejati.
    Kita percaya kepada Allah bukan sekadar memercayai adanya Allah dan mengakui bahwa Allah itu esa, melainkanjuga menerima segala keadaan sebagai berkat yang Allah berikan untuk dapatlebih mengenal diri-Nya. Salah satu sikap penting yang harus dimiliki untuk hidup di hadapan Allah dengan benar adalah bersedia menerima segala keadaan. Sosok yang patut dicontoh dalam hal ini adalah Ayub. Sekalipun ia kehilangan segala sesuatu—yaitu harta, keluarga dan kesehatan tubuhnya—ia tetap percaya kepada Allah dan tidak berdosa dengan mulutnya (Ayb. 2:8-10).Untuk bisa menerima segala keadaan tanpa mempersalahkan Allah, seseorang harus bersedia kehilangan hak untukmenikmati hidup bahagia di dunia.Seseorang juga harusbersedia untukhanya mengarahkan diri ke Kerajaan-Nya. Dengan demikian, iaakan terus menerus beradadalam penghayatan bahwa dunia ini bukan rumah kita.
    Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Pencipta, kita seharusnya tidak merasa berhak hidup kecuali hidup dalam kehendak dan rencana Sang Pencipta. Hal ini merupakansesuatu yang sangat wajar. Idealnya, orang percaya hidupseperti Petrus yang sudah dewasa, yang tidak lagi mengikat pinggangnya untukpergi kemana pun ia suka,
    0 min
  • MENGHIDUPI IMAN
    Sebelum lebih mendalam membahas tentangrahasia hidup di hadapan Allah, kita perlu membahas keyakinan terhadap keberadaan Allah itu sendiri. Bagi orang yang dibesarkan dalam lingkungan beragama yang sudah terbiasa meyakini bahwa Allah itu ada, mereka sudah merasa bahwa dirinya sudah percaya dengan benar bahwa Allah itu ada. Bagi mereka, meyakini bahwa Allah itu ada bukan hal yang sulit. Keyakinan bahwa Allah itu ada telah menyatu dalam kehidupan dan mengalir dalam syaraf-syaraf jiwanya dan mengakar sangat kuat. Sulit bagi mereka yang ada di lingkungan beragama tersebut menyangkali keberadaan Allah. Mereka sudah sangat yakin bahwa Allah itu ada.  Keyakinan yang dimaksud di sini adalah pengaminan akali atau persetujuan pikiran, yaitu secara akal mereka percaya atau setuju bahwa Allah itumemangada. Mereka menerima keyakinan tersebut tanpa membantah sama sekali.
    Keyakinan seperti di atas diturunkan dari generasi ke generasi secara otomatis. Masyarakat seperti ini sering hanya memandang Allah sebagai sekadar simbol keagungan orang beragama, tanpa memahami keyakinannya dengan baik serta mengamalkan ajarannya secara konsekuen dan konsisten. Mereka dikondisi untukmeyakini bahwa Allah itu ada tanpa nalar yang proporsional untuk menganalisis atau memahami-Nya. Keyakinan semacam itu sebenarnyatidak banyak artinya, sebab faktanya di negara dimana agama dijunjung tinggi, moral manusianya tidak lebih baik dibanding negara yang tidak menjunjung tinggi agama.
    Fenomena seperti di atas juga ada pada lingkungan masyarakat yang mayoritasnya adalah orang-orang Kristen. Mereka adalah orang-orang Kristen KTPatauKristen keturunan. Mereka melestarikan agama Kristen dan melakukan ibadah liturgis secara rutin dan setia setiap hari Minggu.Namun, mereka tidak melakukan usaha untuk mengenal Allah dengan menggali kebenaran Firman Allah secara memadai dan berusaha melakukannya. Tidak heran jika di lingkungan masyarakat Kristenini,terjadiberbagai pelanggaran moral yang memalukan juga. Orang-orang Kristen seperti itu sebenarnyatermasuk kelompok pengejek-pengejek Allah seperti yang dikemukakan oleh Petrus (2Ptr. 3:1-3).
    Inilah kenyataan yang terjadi. Manusia yang hidup di dunia semakin fasik. Di kedalaman hati mereka, mereka sebenarnyamerasa bahwamerekadapat hidup tanpa Allah.  Bagi mereka, Allah bukanlah jaminan untukdapat memiliki kehidupan yang bahagia. Allah tidak dijadikan sebagaisumber kebahagiaan satu-satunya. Menurut mereka, yang dapat memberi kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah materi dan segala hiburan dunia ini. Allah hanya menjadi sarana atau alat untuk menolong mereka meraih dunia ini. Allah hanya dibutuhkan jika mereka menghadapi masalah-masalah yang sulit. Terutama masalah yang mereka tidak sanggup menanggulanginya. Sikap terhadap Allah seperti ini sebenarnya adalah sikap yang tidak menghormati Dia, sebab merekatidak menempatkan Allah secara patut.
    Seharusnya orang Kristen sadar bahwa keyakinan kepada Allah tidaklah cukup melaluisebuah pengakuan bibir saja. Pengakuan terhadap Allah haruslah diterjemahkan secara konkret dalam kehidupan. Orang Kristen yang percaya adanya Allah haruslah menunjukkan keyakinan-Nya itu dalam bentuk perbuatan nyata, yaitu berusaha mengerti kehendak Allah untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk dipenuhi. Dalam hal ini, kita mengerti mengapa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yak. 2:14-26). Kita harusmenyadaribahwa perbuatan seseoranglah yang menghidupkan imannya atau melaluiperbuatannyalahimannya dapat dinyatakan. Dalam hal ini, orang Kristen harus terus berusaha untuk belajar memperlakukan Allah sebagai pribadi yang hidup dan nyata. Jika seseorang memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang hidup dan nyata, ia berusaha mengerti kehendak Allah dan melakukan-Nya.
    Orang percaya juga harus menghayati bahwa Allah adalah pribadi yang mengamati semua perbuatan manusia. Pada kenyataanya, banyak orang Kristen yang mengaku percaya kepada Allah dan pergi ke gereja den...
    0 min
  • MENGHADIRKAN KERAJAAN ALLAH
    Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap mahkluk pasti hidup di hadapan Allah, sebab Allah Mahahadir. Tidak ada tempat dimana Allah tidak hadir. Namun, tidak semua orang hidup secara khusus di hadapan Allah dengan benar. Orang seperti bisa dikatakan tidak hidup di hadirat Allah. Hal hidup di hadirat Allahini tidak tergantung pada Allah, sebab Allah dengan sendirinya memenuhi jagad raya ini dengan Roh-Nya.Hal itutergantung pada masing-masing individu, yaitu bagaimana seseorang menghayati kehadiran Allah dan bersikap secara patut terhadap-Nya. Kenyataan yang kita jumpai, banyak orang mengaku bahwa Allah itu ada, tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Dengan demikian, secara teori mereka mengaku memiliki dan memercayai Allah atau ber-Tuhan, tetapi secara praktik, mereka tidak ber-Tuhan. Mereka seperti orang ateis, yaitu orang yang tidak memercayai adanya Allah.
    Banyak orang di Indonesia bersikap seperti yang disebutkan di atas.Walaupun memiliki Pancasila denganSila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Dasar Negara yang harus diamalkan, perbuatan mereka tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada.  Hal itutampak dalam praktik kehidupan sebagian anak bangsa ini yang masihmelakukan tindakan korupsi, penyalahgunaan wewenang, penindasan kepada kaum lemah atau sikap tidak peduli kepada kaum miskin, diskriminasi kepada kelompok minoritas, atau adanya diktator mayoritas, dan lain sebagainya. Banyak orang menjadi pejabat tinggi negara dan berpolitik bukan karena bermaksud hendak membela kepentingan bangsa dan negara, tetapi demi uang dan jabatan. Dengan berperilakudemikian, masyarakat luas, bangsa, dan negara inilahyang dikorbankan. Banyak praktik keji, memalukan, dan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat bahkan pejabat tinggi negara tanpa merasa malu dan bernurani. Semua ini bukti nyata adanya orang yang beragama tetapi tidak ber-Allah.
    Demikian pula dengan keadaan banyak orang Kristen hari ini. Mereka ke gereja setiap hari Minggu, mengikuti liturgi, bahkan mengambil bagian dalam kegiatan gereja, tetapi kehidupan setiap harinya tidak menunjukkan bahwa mereka percaya adanya Allah. Banyak orang yang melakukan praktik-praktik perilakudi atas yang adalah juga orang-orang Kristen. Kalaupun seandainya tidak melakukan praktik di atas secara terang-terangan, mereka tidak hidup seperti Yesus yang menjadi teladannya. Dengan keadaan ini, orang-orang Kristen tersebut sebenarnya tidak berhak mengenakan identitas atau status sebagai orang Kristen sebab “Kristen” artinya seperti “Kristus.”Kalau orang Kristen gagal menjadi “seperti Kristus,”iaberarti gagal menjadisaksi Kristus.
    Allah memang Mahahadir. Ia hadir dimana-mana.Namun, seberapa kuat seseorang menghayati kehadiran-Nya dan bersikap terhadap Allah menentukan seberapa benar seseorang hidup di hadapan-Nya. Hidup di hadapan Allah artinya bagaimana menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah dalam segala hal yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Hidup di hadapan Allah juga berarti hidup dalam pemerintahan-Nya. Hal ini sama dengan hidup sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga dengan baik sejak hidup di bumi. Dikatakan sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga sebab hubungan kita dengan Allah adalah hubungan anak dan Bapa. Hal ini memenuhi apa yang dikatakan di dalam Doa Bapa Kami,“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilahkehendak-Mu di bumiseperti di sorga” (Mat. 6:10). Hanya orang-orang yang berperilaku seperti Kristus yang dapat mewujudkan kalimat permohonandalam Doa Bapa Kami ini, sebab standar menghadirkan Kerajaan Allah adalah kehidupan seperti yang Yesus telahjalani.
    Orang yang hidup di hadapan Allah adalahorang yang bersikap hormat kepada Bapa seperti yang dilakukan oleh Yesus. Penghormatan kepada Bapa tidak cukup dengan menyanyikan lagu rohani yang menyanjung nama-Nya atau melakukan penyembahan di dalam liturgi gereja. Penghormatan-Nya kepada Bapa di surga ditunjukkan dengan hidupyang selalu melakukan kehendak Bapa dan menyeles...
    0 min
  • HIDUP DI HADAPAN ALLAH
    Hidup di hadapan Allah berarti menjalani hidup secara benar dalam hubungan dengan Allah. Rahasia hidup di hadapan Allah berartibagaimana kitamenjalani hidup secara benar dalam hubungan dengan Allah. Hal ini disebut rahasia dalam pembahasan ini sebab banyak orang tidak tahu bagaimana menjalani hidup secara benar sesuai dengan kehendak Allah. Sebagian yang lain telah sesat atau salah dalam menjalani hidup, tetapi merasa sedang menjalani hidup secara benar di hadapan Allah. Hal kedua ini disebabkan oleh pengajaran salah yang diserap dari orang lain atau karena kebodohan dalam memahami Allah. Mereka menyimpang karena tidak mengenal kebenaran.
    Di dalam hati, pasti ada orang-orang yang bertanya-tanya bagaimana menjalani hidup yang terbaik. Kita dapat mengamati bahwa selalu saja ada bangsa-bangsa dan suku-suku yang memiliki keyakinan terhadap adanya “Entitas yang kuat” yang mereka yakini sebagai kekuatan di atas segala kekuatan dan kekuasaan di atas segala kekuasaan. Dengan segala cara, bangsa-bangsa dan suku-suku tersebut berusaha menemukan Pribadi atau sosok tersebut dan bagaimana menyelenggarakan hidup sesuai dengan kehendak yang dipercayai sebagai kekuasan di atas segala kekuasaan tersebut. Maksud hidup sesuai dengan kehendak Pribadi atau sosok tersebut adalah agar mereka dijauhkan dari malapetaka dan memperoleh kemudahan hidup dengan segala kebahagiaannya. Sangat disayangkan, mereka tidak mengenal Allah yang benar, sehingga mereka tidak tahu bagaimana menyelenggarakan hidup yang terbaik. Kita bersyukur kepada Allah, sebagai umat pilihan yang mendengar kebenaran Injil, kita diperkenan memahami bagaimana menyelenggarakan hidup yang terbaik, yaitu hidup secara benar di hadapan Allah.
    Sesungguhnya hidup secara benar di hadapan Allah adalah hal terpenting dalam kehidupan ini, lebih dari harta, keluarga, dan nyawa kita sendiri. Hidup di hadapan Allah secara benar seharusnyaadalah satu-satunya halyang harus digumuli, diperjuangkan, dicapai, dan dimiliki setiap umat pilihan. Semestinya tidak boleh ada agenda lain dalam hidup ini selain menemukan bagaimana menjalani hidup secara benar di hadapan Allah. Kalau di masa lalu kita telah menjalani hidup dalam kewajaran dengan segala agenda seperti manusia lain, sekarang kitaharus mulai berubah secara revolusioner mengingat waktunya semakin singkat. Dunia bisa segera berakhir, atau paling tidak semakin tidak menjanjikan untuk dihuni dengan nyaman.
    Satu dalil atau ketetapan yang tidak boleh dilanggar adalah bahwa manusia diciptakan untuk Penciptanya. Manusia diciptakan untuk Penciptanya iniberartibahwamanusia harus menjalani hidup sesuai dengan pola, cara, atau kehendak Penciptanya. Kejatuhan manusia ke dalam dosa memang tidak membuat manusia menjadi biadab seperti binatang. Manusia memang masih bisa berbuat baik, tetapi manusia tidak mampu mencapai kebaikan seperti yang diingini oleh Penciptanya. Manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah tidak akan mampu hidup di hadapan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.Kedatangan Allah Anak sebagai Juruselamat hendak menempatkan manusia di hadapan Allah dengan benar atau secara ideal. Kalau dikatakan Yesus sebagai jalan keselamatan, itu artinya bahwa Yesus membuka jalan bagimanusia untukdapat menemukan bagaimana menjalani hidup secara benar di hadapan Allah. Jalan yang dibuka oleh Yesus pertama adalah melaluipenebusan-Nya. Dengan penebusan tersebut manusia dapat dibawa kepada Allah Bapa sebagai orang yang telah dibebaskan dari hukuman. Kedua, Yesus mengajarkan kebenaran Injil yang adalah kuasa Allah yang menuntun manusia agar dapat menjalani hidup secara benar di hadapan Allah.
    Kalau orang telahditebus dan kepadanya diajarkan bagaimana menjalani hidup secara benar di hadapan Allah, tetapi menolak, sesungguhnya itumerupakantindakan memberontak. Hal itusama dengan menolak karya salib. Orang seperti ini dikatakan sebagai seteru salib Kristus (Flp.3:17-19). Inilah faktanya, banyak orang Kristen yang duniawi yang oleh karenanya Paulus m...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…