Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengikut Yesus Jalan Yang Sukar
    “Yesus yang lain” mengajarkan Injil sebagai jalan mudah untuk mengarungi kehidupan di bumi ini. Para pembicara yang telah akrab dengan “Yesus yang lain” menampilkan “kekristenan” sebagai jalan keluar dari segala kesulitan hidup bagi mereka yang ada dalam masalah ekonomi, kesehatan, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya. Mereka menjanjikan bahwa Tuhan akan memberi jalan keluar dengan gampang atas dasar kebaikan Tuhan sangatbesar dan Ia memiliki kuasa untuk menyelesaikan masalah dengan mudah. Pengertian mereka buta terhadap hal yang lebih besar dari pemenuhan kebutuhan jasmani yang fana di bumi ini. Mereka tidak mengerti isi keselamatan yang benar. Dengan praktik kekristenan semacam itu,pelayanan pun menjadi sarana menjual nama Yesus. Dengan hal ini, kekristenan tidak memuat langkah untuk mengikuti jejak-Nya, yaitu belajar hidup seperti yang Yesus pernah jalani, namun menjadi usaha untuk memperoleh apa yang dipandang sebagai kebutuhan. Padahal,yang dipandang kebutuhan itu sering adalah keinginan pribadi yang sarat dengan gairah yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan Allah.
    “Yesus yang lain,” oleh para pembicaranya diperkenalkan sebagai pribadi yang menjual nama dirinya untuk sesuatu yang dianggap sebagai kebutuhan sesuai “pesanan.” Mereka mengajarkan bahwa Yesus datang untuk menyembuhkan penyakit, menyelesaikan masalah ekonomi, dan memberi kesuksesan. Kemudian, ia juga menjanjikan bahwa orang-orang Kristen yang adalah anak-anak Allah dapat menjadi kepala, bukan ekor.Itu berarti bahwa orang-orang Kristen pasti sukses di marketplace dan terkemuka dalam strata pergaulan, memindahkan kekayaan orang lain ke kantong orang Kristen, dan lain sebagainya. Melalui hal ini, nama Yesus dapat dijual sebab mereka dapat menawarkan berkat-berkat jasmani dengan menggunakan nama Yesus.
    Faktanya, praktik pelayanan tersebut di atas sudah menjadi standar pelayanan gereja dewasa ini. Pada dasarnya, mereka membuka “jasa” bagi jemaat dengan menggunakan kuasa mukjizat milik Tuhan Yesus. Biasanya, semboyan yang digunakan adalah “Tuhan Yesus baik dan Dia tidak berubah.” Pada dasarnya, mereka menjual nama Yesus melalui kegiatan rohani. Mereka tidak memahami apa dan bagaimana yang baik dalam diri Tuhan Yesus tersebut. Mereka juga tidak tahu hal apa yang tidak berubah dalam diri Allah Anak tersebut. Sesungguhnya, inilah Injil yang sebenarnya bukan Injil; inilah Injil palsu!
    Orang-orang yang dengan sembarangan menggunakan nama Yesus, berurusan dengan Allah hanya demi pemenuhan kebutuhan jasmani dan tercapainya keinginan dan segala cita-cita pribadi. Orang-orang seperti ini berurusan dengan Tuhan bukan karena urusan Tuhan sendiri, bukan untuk mengerti dan melakukan kehendak dan rencana Allah, melainkan urusannya sendiri atau kemuliaannya sendiri. Kalau orang percaya berurusan dengan Tuhan, yang harus dipersoalkan semestinya adalah maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan hanya untuk melayani Tuhan, dengan hidup selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah dalam segala hal.
    Sejatinya, hidup sementara di bumi ini hanya menjadi persiapan untuk hidup kekal di langit baru dan bumi yang baru. Orang yang tidak melayaniTuhan di bumi ini, tidak akan pernah melayani Tuhanselamanya. Orang Kristen yang menjadi Kristen hanya karena mau memperoleh berkat jasmani pasti tidak pernah belajar mengenal Yesus dengan benar. Mereka tidak pernah melayani Allah secara benar, sebab tidak memahami bagaimana hidup dalam sikap melayani Bapa seperti yang Yesus lakukan (Yoh. 4:34).
    Kita harus memahami bahwa kekristenan adalah proses kehidupan untuk menjadi seperti Yesus atau mengenakan gaya hidup-Nya. Ini berarti orang percaya harus memiliki karakter seperti Anak Tunggal Bapa ini. Memiliki karakter Tuhan Yesus adalah sesuatu yang sangat sukar, bahkan mustahil. Namun, yang mustahil bagi manusia itu tidak mustahil bagi Allah. Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa kekristenan bukanlah agama,melainkan jalan hidup.
    0 min
  • “Yesus Yang Lain” Untuk Praktik Perdukunan
    Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang salah mengenal Yesus yang diajarkan oleh Injil. Karena pemahaman yang salah tersebut, banyak orang Kristen yang menggunakan nama Yesus secara tidak benar. Mereka memandang nama Yesus seperti nama ajaib yang dapat dijadikan mantera untuk mencapai tujuan tertentu. Mereka berkeyakinan, kalau mereka menggunakan nama Yesus, apa pun yang diingini, yang dianggap sebagai kebutuhan, pasti dapat diperoleh. Yesus yang digambarkan demikian dan dipercayai seperti itu sesungguhnya bukan Yesus yang asli, melainkan“Yesus yang lain.” Mereka memahami dan memperlakukan Yesus seperti orang-orang di luar Kristen memperlakukan allah atau dewa-dewa mereka.Mereka berkeyakinan bahwa dengan menggunakan nama Yesus,mereka dapat memperoleh apa yang mereka harapkan. Dalam hal ini, iman hanya dikaitkan dengan permintaan atas suatu kebutuhan.
    Hendaknya orang percaya tidak beranggapan bahwa dengan nama Yesus Kristus,ia dapat mengatur Allah sesukanya sendiri. Penggunaaan nama Yesus harus benar. Nama Yesus adalah nama Tuhan yang Agung, yang tidak boleh digunakan untuk suatu kepentingan tanpa memperkarakannya terlebih dahulu dengan Dia. Menggunakan nama Yesus berarti kesediaan untuk mengakui adanya pemerintahan Allah. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh bertindak di luar kehendak dan rencana Allah. Selanjutnya, penggunaan nama Yesus harus untuk kepentingan Kerajaan Allah semata-mata. Orang percaya harus menghargai setinggi-tingginya nama Yesus, sehingga tidak boleh menggunakan nama Yesus secara sembarangan. Penggunaan nama Yesus untuk memperoleh apapun yang diingini seseorang merupakan praktik perdukunan. Mereka berurusan dengan Tuhan Yesus hanya karena hendak memperoleh keuntungan materi dengan menggunakan kuasa nama-Nya.
    Praktik perdukunan dalam gereja maksudnya adalah gereja menggelar praktik pelayanan yang mekanismenya seperti yang terjadi dalam praktik perdukunan di luar gereja. Bedanya, kalau orang di luar gereja,merekamenggunakan kuasa kegelapan, dan mediatornya adalah seorang dukun;dalam gereja,orang berusaha menggunakan kuasa Tuhan, dan mediatornya adalah seorang pendeta. Gereja-gereja yang mempraktikkan hal tersebut menampilkan “Yesus yang lain,” yang digambarkan sebagai pribadi yang sangat peduli terhadap persoalan-persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani jemaat. Dengan berbekal kuasa nama Yesus, pendeta-pendeta “Yesus yang lain” tersebut menjanjikan penyelesaian masalah yang dihadapi jemaatdengan mudah, dari masalah ekonomi, bisnis, kesehatan, jodoh, keinginan memiliki keturunan, dan lain sebagainya. Praktik gereja-gereja tersebut sama dengan praktik perdukunan, dimana “pasien” tidak perlu mengenal sang dukun atau kuasa kegelapan yang diharapkan pertolongannya, yang penting mereka memperoleh apa yang mereka butuhkan.
    Gereja yang melakukan praktik perdukunan memperkenalkan Yesus sebagai sosok yang dapat diajak peduli dengan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani atau apapun yang dipandang jemaat sebagai kebutuhan. Praktik ini sangat memicu ditampilkannya “Yesus yang lain.” “Yesus yang lain” ini dijadikan komoditi oleh orang-orang yang mengaku “hamba Tuhan.” Mereka juga mengesankan bahwa “Yesus ini” dapat dipengaruhi oleh sosok-sosok “hamba Tuhan” yang mengaku dekat dengan Dia dan memiliki karunia serta tempat istimewa di dekat Tuhan. Padahal, Tuhan Yesus tidak bisa dipengaruhi dan diatur oleh apapun, seperti pujian, tarian, dan sorak sorai dalam liturgi kebaktian di gereja. Pola seperti ini sekarang menjamur, disertai dengan tampilnya “tokoh-tokoh” yang mengaku dapat mewakili Tuhan untuk memberikan berkat, paling tidak menjadikan mereka mediator yang akan mendapat kemudahan dalam menerima berkat Tuhan.
    Tuhan Yesus memang baik, bahkan sangat baik.Namun, orang percaya harus memahami isi kebaikan Tuhan. Kebaikan Tuhan bukanlah kebaikan untuk apa yang dipandang sebagai kebutuhan oleh orang Kristen. Kebaikan Tuhan berorientasi pada keselamatan orang percaya.
    0 min
  • Doa Yang Dikabulkan
    “Yesus yang lain” selalu mengabulkan doa.Dia memberi apa yang diminta orang, tetapi Yesus tidak mudah mengabulkan doa. Yesus mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu …”(Mat. 7:7-11). Kita harus memerhatikan frasa “akan diberikan,” tidak dikatakan “dikabulkan.” Dalam terjemahan aslinya kata “diberikan” adalah dothesetai (δοθήσεται), dari akar kata didomi (δίδωμι). Dalam bahasa Inggris, frasa ini diterjemahkan menjadiit shall be given. “Diberikan” bukan berarti selalu pasti “dikabulkan.” Dalam teks bahasa Yunani untuk kata “dikabulkan” adalah genesthai (γενέσθαι). Kata ini berasal dari akar kata ginomai (γίνομαι). Kata ini bisa berarti dipenuhi atau diperkenankan (Ing.should be granted).Kalau berbicara mengenai doa yang dikabulkan (Mat 6:7, Luk 1:13), Alkitab tidak selalu menggunakan kata “ginomai” (dikabulkan atau dipenuhi), tetapi menggunakan kata “didengar.” Dalam teks aslinya kata “didengar” ini adalah eisakuo (εἰσακούω). Jadi, Allah mendengar berarti Allah memedulikan. Dan kalau Allah memedulikan, Allah berkenan untuk mengabulkan.
    Harus dipahami bahwa apa yang diberikan belum tentu apa yang kita minta. Namun yang jelas, Allah Bapa pasti merespons doa kita. Kita harus dapat membedakan antara dikabulkan dan diberikan atau dijawab. Sering kali ayat-ayat Alkitab—juga yang tertulis dalam Matius 7:7-8—dijadikan sebagai jaminan atau patokan bahwa Tuhan pasti mengabulkan semua doa kita. Ini keliru sekali. Yesus mengatakan, “Carilah, maka kamu akan mendapat.” Mengapa Yesus berkata, “Carilah?” Hal ini menunjuk adanya suatu pergumulan untuk menemukan sesuatu, seolah-olah ada yang hilang yang harus ditemukan. Harus diperhatikan bahwa yang “dicari” di sini dan yangbelum ditemukan, bukanlah permintaan kita, melainkan kehendak Bapa. Di dalam menyampaikan permohonan, kita dipanggil untuk mencari kehendak-Nya terlebih dahulu, yaitu apakah permintaan kita tersebut sesuai dengan kehendak-Nya atau tidak.
    Allah tidak akan pernah meluluskan atau mengabulkan permintaan seseorang yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam Yohanes 15:7, Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”.Orang sering hanya melihat klausa,“Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”Namun, mereka tidak memerhatikan kalimat sebelumnya secara proporsional. Perhatikan frasa yang mendahuluinya, yaitu “tinggal di dalam Aku.” Jadi, kita harus tinggal di dalam Dia,artinya hidup dalam persekutuan dengan Tuhan sehingga mengerti kehendak dan rencana-Nya, barulah menyampaikan suatu permohonan. Hendaknya kita menghormati Tuhan dan menyukakan hati-Nya dengan menyampaikan permintaan yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.
    Allah adalah pribadi yang pasti merespons doa kita tetapi belum tentu mengabulkannya.Maksud “merespons” di sini adalah menanggapi dengan serius setiap pergumulan yang kita bawa kepada-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah pasti merespons doa-doa kita. Ia pasti menjawab. Tuhan tidak pernah tidak bereaksi terhadap persoalan yang diperkarakan di hadapan-Nya. Harus dimengerti “merespons” di sini tidak berarti mengabulkan. Tidak semua doa itu dikabulkan Allah.Namun, tidak ada doa yang tidak dijawab atau direspons oleh Allah.
    Kita harus benar-benar mempersoalkan apakah yang kita meminta sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Bila permintaan kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya, permintaan kita akan dikabulkan Allah. Allah tidak akan mengabulkan doa kita bila permintaan kita bertentangan dengan kehendak dan rencana-Nya.Oleh sebab itu, kita harus tinggal di dalam Dia, agar kita mengerti kehendak danrencana-Nya.Untuk itu, kita perlu memahami apa maksud berdoa dalam nama Tuhan Yesus. Doa dalam nama Tuhan Yesus artinya isi doa kita harus sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus. Allah tidak akan memberikan sesuatu apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.
    0 min
  • Ikut Menderita
    “Yesus yang lain” tidak mengajak orang percaya menderita, bahkan mengikut Yesus tidak perlu mengalami penderitaan. Namun, Yesus mengajak orang percaya untuk menderita bersama dengan Dia. Dalam Matius 20:23 tertulis, “Yesus berkata kepada mereka: ‘Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.’“Cawan yang dimaksud oleh Yesus adalah cawan penderitaan. Penderitaan mendatangkan kemuliaan. Jadi, semua orang percaya yang hendak dimuliakan bersama dengan Yesus pasti mengalami penderitaan.
    Dalam 2Korintus 4:17-18 tertulis,“… Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”Kalimat penting yang kita harus perhatikan adalah “penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal.” Disingkapkan oleh Paulus adanya penderitaan yang “mengerjakan” kemuliaan kekal. Kita akan menggali maksud ayat ini sebab ayat ini merupakan mutiara kebenaran Firman Tuhan yang sangat berharga.
    Dalam Roma 8:18, Paulus mengatakan bahwa penderitaan yang orang percaya alami hari ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kita alami nanti. Pernyataan ini menandaskan adanya penderitaan yang mendatangkan “kemuliaan.” Dengan pernyataan ini, Paulus hendak meneguhkan hati orang percaya agar tetap bertahan dalam penderitaan, agar kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi orang percaya yang setia tetap menjadi bagiannya. Dalam Roma 8:17, Alkitab berkata bahwa kita akan mewarisi janji-janji Allah yang akan kita terima bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Janji-janji itu adalah kemuliaan yang Bapa berikan kepada Tuhan Yesus dan orang percaya.
    Kemuliaan kekal menunjuk kepada “kebahagiaan” atau kenyamanan hidup dalam keabadian. Memang sering hal ini menjadi komoditi para rohaniwan untuk mencari keuntungan dari umat—atau sejajar dengan penggunaan fakta neraka untuk mengancam umat supaya memberi perhatian kepada perkara-perkara rohani—dan ujungnya ternyata supaya “bisnis rohaniwan” tidak sepi. Namun, mereka tidak menunjukkan bagaimana cara memperoleh kemuliaan kekal itu. Kita banyak menjumpai para rohaniwan ini hanya memberikan syarat yang ringan, yang sebenarnya belum memenuhi kualifikasi syarat yang dikehendaki oleh Tuhan.
    Salib yang dipikul oleh Tuhan Yesus adalah penderitaan demi keselamatan orang lain. Salib kita masing-masing juga kita pikul demi keselamatan sesama. Semua orang percaya harus memiliki salibnya sendiri. Tentu saja sebelum kita memikul salib, kita sendiri harus telah mengalami keselamatan. Sebenarnya kalau seseorang benar-benar mengalami keselamatan, ia pasti mengusahakan agar orang lain juga mengalami keselamatan. Orang seperti ini akan berani membayar berapa pun harganya, sebab nilai jiwa manusia lebih dari semua kekayaan dunia ini. Nilai jiwa manusia itu tidak terhingga. Orang yang sudah mengalami keselamatan akan mengisi hidupnya—selain terus berusaha mengerjakan keselamatannya, yaitu bagaimana menjadi anak Allah yang sempurna atau ideal—juga mengusahakan orang lain mengalami kesempurnaan. Untuk melakukan ini, semua milik dipertaruhkan atau dikurbankan: baik tenaga, waktu, pikiran, harta, dan lain sebagainya. Semua ini dilakukan sebagai pengabdian kepada Tuhan.
    Pengurbanan segenap hidup yang dipersembahkan oleh anak-anak Allah yang baik akan sampai pada taraf “menyakitkan.” Inilah prajurit yang baik, yang rela menderita demi tugas yang disandangnya. Penderitaan inilah yang dimaksud dengan salib kita masing-masing (Mat. 10:38). Penderitaan tersebut akhirnya menjadi kenikmatan dan kebanggaan. Paulus berkata bahwa ia bermegah dalam penderitaan salib (Gal. 6:14).
    0 min
  • Tidak Bisa Bersalah
    “Yesus yang lain” adalah “Anak Manusia” yang tidak dapat berbuat dosa, sedangkan Yesus yang benar atau asli adalah “Anak Manusia” yang bisa berbuat dosa, tetapi Ia tidak berbuat dosa. Kebenaran ini juga sangat bertalian dengan pertaruhan kita sebagai pengikut-Nya yang harus meneladani sikap hidup-Nya. Kalau dikatakan bahwa Yesus bisa berbuat dosa atau melakukan suatu kesalahan, hal ini bukan menyangkal ke-Allahan-Nya, juga tidak bermaksud merendahkan derajat Yesus dan melecehkan-Nya. Ketika orang berpandangan bahwa Yesus dirancang tidak bisa bersalah, itu justru sebuah pelecehan, seakan-akan semua pergumulan Yesus yang dikisahkan dalam Injil adalah “sandiwara belaka.” Terkesan pula bahwa pergumulan menyelamatkan umat manusia bukan sesuatu yang diperjuangkan dengan berat dan serius, sebab Yesus pasti menang sesuai dengan skenario. Semua terkesan hanya main-main, seperti sebuah sandiwara yang telah disusun alur ceritanya. Sebagai pribadi yang agung, Allah tentu saja tidaklah demikian.
    Kalau Yesus tidak bisa berbuat dosa, Dia tidak bisa menjadi pokok keselamatan (Yun. aitios) bagi mereka yang taat kepada-Nya. “Pokok keselamatan” artinya mengubah manusia menjadi seperti Dia, yang bisa taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Taat kepada Yesus berarti mengikuti jejak-Nya (Ibr. 5:9). Bagaimana Yesus bisa menjadi pokok keselamatan kalau Ia tidak berkeadaan seperti manusia pada umumnya? Bagaimana kita bisa mengikuti jejak pribadi yang keadaannya berbeda dengan manusia? Orang percaya memiliki alasan untuk menyatakan bahwa tidak mungkin bisa meneladani hidup Yesus yang memang dirancang untuk tidak bisa bersalah. Ini berarti Yesustidak bisa menjadi teladan. Itu adalah “Yesus yang lain.” Jadi, perintah untuk menjadi seperti Yesus bisa dianggap percuma, sia-sia. Lebih konyol lagi, kalau timbul tuduhan bahwa Allah tidak fair, sebab kepada Putra Tunggal-Nya, Ia memberi keistimewaan—yaitu tidak bisa berbuat dosa (kebal terhadap dosa)—sementara orang percaya dikehendaki untuk menjadi serupa dengan Dia, tetapi tidak diberi keistimewaan yang sama (kekebalan terhadap dosa).
    Kalau Yesus tidak bisa berdosa, niscaya Iblis tidak akan mencobai-Nya dengan gencar. Setelah Ia keluar dari baptisan Yohanes dan menerima pengakuan dari Bapa, bahwa Ia adalah Anak yang berkenan bagi Bapa (Mat. 3:17), Ia mulai menghadapi pencobaan di padang gurun (Mat. 4:1-3; Luk. 4:1-13). Berikutnya, Yesus beberapa kali hendak diangkat menjadi raja menurut versi Yahudi, tetapi Ia menolak (Yoh. 6:15; 12:12-19) dan lain sebagainya. Puncak pencobaan yang dialami Yesus adalah ketika Ia merasa bahwa Bapa-Nya meninggalkan Dia, tetapi Ia tetap menaruh percaya kepada Bapa, sehingga Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa (Mrk. 15:34-37). Dari oleh Yesus dapat mengatasi semua pencobaan yang dialami-Nya dan tampil sebagai pemenang. Kalau Yesus tidak bisa berbuat dosa, Iblis tidak akan berusaha menjatuhkan-Nya dengan berbagai pencobaan.Tidak mungkin Iblis mencobai Yesus, kalau Yesus tidak bisa gagal.
    Yesus juga tidak akan berdoa dengan ratap tangis kepada Dia yang sanggup melepaskannya dari maut, kalau Ia tidak bisa berbuat dosa dan gagal melakukan tugas Bapa (Ibr. 5:7-9). Ini berarti semua pergumulan yang dihadapi-Nya adalah sandiwara semata-mata dan dengan demikian, Allah adalah penipu. Namun yang benar, semua berlangsung melalui suatu pergumulan yang nyata, bukan sandiwara. Ia bisa berbuat dosa, tetapi Yesus memilih taat kepada Bapa, sampai mati di kayu salib. Karena kemenangan-Nya, kita bisa diselamatkan.Ia bisa menjadi pokok keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:8-9).
    Sejatinya, kalau kita memandang bahwa Yesus bisa berbuat dosa, hal itu tidak membuat kita kurang menghormati Yesus atau bentuk pelecehan terhadap diri-Nya yang Mahaagung. Justru sebaliknya, kita jadi lebih menghormati dan mengagumi-Nya. Kita bersyukur atas perjuangan-Nya yang hebat dan kesetiaan serta kegigihan-Nya dalam menyelesaikan tugas penyelamatan dunia yang dipercayakan ...
    0 min
  • Anak Yang Sah
    “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa semua orang Kristen adalah anak-anak Allah yang sah. Berbicara mengenai anak-anak Allah, kita perlu meninjau Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Kata “kuasa” berasal dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang berarti hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Masalahnya adalah apakah setiap orang Kristen adalah anak-anak Allah yang sah? Bagaimana sebenarnya seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah? Dalam Roma 8:14, Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak-anak Allah.
    Pada zaman anugerah ini, Tuhan membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu hidup dalam pimpinan Roh Allah. Roh Allah berkenan kembali diberikan untuk diam dalam diri manusia. Inilah yang dijanjikan Tuhan Yesus, bahwa “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”(Yoh. 16:7). Kita adalah orang yang sungguh beruntung karena kita menjadi orang yang terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak mendukakan Roh Kudus yang telah dimeteraikan dalam diri kita. Jangan sampai peristiwa di Kejadian 6 terulang lagi:karena manusia tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus, selalu hidup dalam kedagingan, Roh Allah pun undur. Inilah yang disebut sebagai menghujat Roh Kudus. Menghujat Roh Kudus berarti menolak karya Roh Kudus yang menuntun orang Kristen untuk hidup sebagai anak-anak Allah.Bila kesempatan ini tidak dihargai, tidak akan ada lagi kesempatan kedua bagi kita.
    “Kuasa” yang dikatakan dalam Yohanes 1:12 tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak-anak Allah yang sah. Kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah yang sah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, seseorang tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti berkarakter seperti Allah. Inilah panggilan sebagai orang percaya, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48).Orang yang tidak memiliki karakter seperti Bapa tentu saja tidak pantas menyebut dirinya sebagai anak-anak Allah. Ciri dari orang Kristen yang sah sebagai anak-anak Allah adalah ketika seseorang memiliki karakter Bapa. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak sembarangan menunjuk seseorang sudah menjadi anak-anak Allah.
    Untuk membahas mengenai anak yang sah dan tidak sah, perlu kita memerhatikan tulisan dalam Surat Ibrani.Dalam Ibrani 12:8, terdapat kata “anak-anak gampang.” Apa maksudsebenarnya? Dalam teks asli Alkitab, kata “anak gampang” di sini adalah “nothos” (νόθος), yang berarti anak yang tidak sah (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam teks Yunani, selain kata nothos, ada juga kata huios (υἱός), yang artinya anak dalam arti, anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orangtua, atau seperti pangeran; tetapi ada anak-anak gampang, anak yang tidak sah yang tidak akan mewarisi kekayaan orangtua. Dalam kehidupan orang Kristen juga terdapat orang-orang yang tergolong sebagai nothos dan sebagai huios. Kalau jujur, Saudara termasuk yang mana?
    Pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos, yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu,
    0 min
  • Mengikut Yesus Tanpa Salib
    Yesus yang asli bersikap tegas terhadap segala bentuk tindakan atau praktik yang menghalangi kehidupan memikul salib. Dalam Matius 16:21-23, Yesus menghardik Petrus yang menghalangi diri-Nya ke Yerusalem. Petrus rupanya telah menerima masukan dalam pikirannya mengenai konsep Mesias yang salah. Konsep Mesias dalam pikirannya adalah konsep Mesias menurut orang-orang Yahudi. Seperti orang Yahudi, Petrus mau menjadikan Yesus sebagai juruselamat duniawi untuk hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Inilah “Yesus yang lain.” Iblis menyusupkan idenya dalam diri Petrus untuk merusak pekerjaan dan visi Tuhan. Tuhan Yesus tegas berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”Melalui hal ini, kita mengetahui betapa berarti dan pentingnya konsep-konsep yang ada dalam pikiran seseorang. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa manusia hidup bukan saja dari roti, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Perhatikan kata “mulut Allah!” Hal itu berarti kebenaran yang murni, dari mulut Allah, dari hati Allah.
    Petrus menganggap bahwa apa yang akan dilakukan oleh Tuhan Yesus—yaitu ke Yerusalem dan mati disalib—bukan ide yang berasal dari Allah (Mat. 16:21-23). Jadi selama itu, Petrus memiliki pemikiran yang bukan dari Allah.Ia menyerap pemikiran yang sebenarnya berasal dari Iblis.Namun, ia tidak menyadari bahwa ia sedang “kerasukan” Iblis. Iblis merasuk dalam diri seseorang bukan hanya ditandai dengan hal-hal yang bersifat lahiriah seperti menjerit, menelanjangi diri, dan lain sebagainya, melainkan masuk dalam pikiran yang menjadi landasan dalam bersikap hidup. Hal ini sudah cukup membuat Iblis menguasai seluruh kehidupan seseorang. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan manusia setiap hari, seluruh tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh pikirannya.
    Jurubicara “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa menjadi orang percaya tidak perlu menderita, yang sama artinya dengan tidak perlu memikul salib. Pikiran duniawi sudah merasuk dalam diri mereka, sehingga mereka tidak pernah mau mengerti bahwa bagaimana pun setiap orang percaya harus memikul salib seperti yang telah dialami oleh Tuhan Yesus sendiri. Itulah sebabnya mereka sering mengemukakan bahwa Allah akan memelihara, menjaga, memberkati, tidak akan mengecewakan karena keadaan akan dibuat selalu ada jalan keluarnya, membuat orang Kristen menjadi kepala bukan ekor, kekayaan bangsa-bangsa akan diberikan kepada orang Kristen, dan lain sebagainya. Semuanya itu memetakan bahwa orang percaya akan menjadi sukses dan berhasil seperti—bahkan melebihi—orang non-Kristen. Kemuliaan Allah dinyatakan melalui keberhasilan-keberhasilan menurut konsep umum. Mereka melukiskan wajah Yesus yang tidak sama seperti yang Injil ajarkan. Mereka melukis wajah “Yesus yang lain.”
    Miskinnya pemahaman terhadap kebenaran membuat banyak orang menjadi bodoh. Mereka tidak dapat mengerti Yesus yang asli, sebab mereka sudah terlalu lama menerima pengajaran Firman Tuhan yang tidak keluar dari “mulut Alah.” Ajaran salah yang menyesatkan banyak orangsekarang justru lebih banyak beredar dan populer. Nabi-nabi palsunya pun juga mendapat kesempatan banyak berkhotbah di berbagai media, karena memiliki modal finansial dan relasi yang cukup. Banyak jemaat disesatkan.Mereka merasa bisa berdialog dengan Tuhan, padahal mereka tidak berdialog dengan Yesus yang sejati.Mereka sebenarnya berdialog dengan Yesus yang mereka ciptakan sendiri, yaitu “Yesus yang lain.” Banyak orang Kristen mengikuti nabi-nabi palsunya yang juga dengan mudah mengatasnamakan Tuhan dalam berbicara dan menyampaikan pesan-pesan-Nya. Semua itu adalah wilayah “Yesus yang lain” yang diajarkan adalah pikiran manusia, bukan pikiran Allah. Salah satu cirinya, apa yang disampaikan kepada umat pasti berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan perkara surgawi.
    0 min
  • Epicentrum Kebenaran
    Untuk bisa menemukan pelayan-pelayan Yesus yang sejati dan membedakannya dengan pelayan-pelayan “Yesus yang lain,” kita dapat melihat ajarannya dan gaya hidupnya. Seandainya Tuhan Yesus hidup pada zaman sekarang, Yesus yang benar pasti akan mengkhotbahkan khotbah yang sama seperti yang Dia pernah khotbahkan dan mengenakan gaya hidup yang pernah Dia kenakan dua ribu tahun yang lalu. Demikian pula para pengikut dan jurubicara-Nya juga pasti mengkhotbahkan apa yang pernah Dia khotbahkan tanpa kompromi dan berusaha untuk mengenakan gaya hidup Guru dan Tuhannya. Pengikut Yesus mula-mula tentu saja juga mengikuti jejak hidup Guru mereka. Kehidupan mereka agung bukan karena penampilan lahiriahnya, melainkan karena ketulusan dan kesucian yang terpancar dalam kehidupan mereka. Hal ini terjadi pada abad pertama dalam kehidupan gereja mula-mula. Orang-orang percaya pada abad mula-mula menjadi seperti surat yang terbuka bagi jemaat Tuhan, sehingga mereka disebut Kristen bukan karena beragama Kristen, melainkan karena berperilaku seperti Yesus. Orang-orang seperti itu dapat menjadi jurubicara Tuhan.
    Kalau sekarang kita hendak menemukan “Yesus yang lain” dan para pengikutnya, kita dapat melihat dari apa yang diajarkan dan dari gaya hidupnya. Biasanya mereka mengambil ayat-ayat Perjanjian Lama tanpa memerhatikan konteksnya, kemudian mengenakannya bagi kehidupan umat Perjanjian Baru. Pada dasarnya, khotbah-khotbah mereka mirip dengan para motivator sekuler.Bedanya, para pengkhotbah tersebut hanya menggunakan ayat-ayat Kitab Suci Perjanjian Lama sebagai dasarnya. Kalau ada ayat dalam Perjanjian Baru yang dipungut, biasanya dipelesetkan bukan untuk hal-hal yang bersifat rohani secara murni, melainkan tetap saja dikaitkan dengan hal-hal duniawi.
    Para pengikut Yesus yang sejati selalu menjadikan Perjanjian Baru sebagai episentrum kebenaran dan semua itu menunjuk kepada kehidupan Yesus yang harus diteladani. Misalnya, kalau membahas mengenai Abraham, yang diperhatikan dan ditekankan tentu adalah ketaatan Abraham kepada Elohim Yahweh dan jiwa kemusafirannya. Hal ini bisa menunjuk kepada diri Yesus yang sangat menghormati dan taat kepada Bapa, serta semangat kemusafiran-Nya. Yesus berkata bahwa “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”(Mat. 8:20; Luk.9:58). Yesus juga berkata bahwa diri-Nya bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17). Bagi pengikut “Yesus yang lain,” saat memerhatikan kehidupan Abraham, yang ditekankan adalah “berkat Abraham” yang terkait dengan berkat materi atau berkat jasmani.Padahal, Abraham sendiri sudah tidak mempersoalkan materi dunia sebab arah hidupnya ditujukan ke dunia yang akan datang (Ibr. 11:8-14). Jika dalam memerhatikan hidup Abraham yang ditekankan adalah berkat jasmaninya, tidak ada pelajaran rohani berarti yang dapat diperoleh dari kehidupan Abraham bagi umat Perjanjian Baru.
    Jika memerhatikan kehidupan Daud, seharusnya kita belajar akan kasihnya kepada Allah, dimana Daud memiliki hati yang berkenan kepada Allah. Dari kehidupan Daud yang berkenan kepada Allah—yaitu dari seluruh sikap hidupnya yang begitu setia kepada Elohim Yahweh—ia dilayakkan menjadi nenek moyang Mesias. Saat memerhatikan kehidupan Daud, kita hendaknya melihat seluruh sikap hidupnya yang begitu agung, bukan hanya pada puji-pujian yang Daud naikkan kepada Tuhan dan mazmurnya dalam Kitab Mazmur. Perlu diketahui bahwa mazmur dalam Kitab Mazmur,meskipun mencantumkan nama Daud sebagai penulis atau penggubahnya, belum tentu Daud sendiri yang menulis atau menggubahnya. Sudah menjadi budaya pada waktu itu, karya sastra mencantumkan orang terhormat sebagai penggubah atau penulisnya. Sangatlah naif kalau melihat kehidupan Daud hanya dari tari-tariannya, sebab Daud tidak menari setiap hari. Alkitab hanya mencatat Daud satu kali menari di hadapan Allah, yaitu pada waktu Tabut Perjanjian diarak (2Sam. 6:14).
    0 min
  • Penyesatan Dalam Gereja
    Kita harus selalu mempertimbangkan bahwa penyesatan dalam gerejasangat mungkin terjadi. Saluran penyesatan yang paling dominan dan paling berbahaya adalah melalui pengajaran yang tidak beralaskan pada kebenaran Firman Tuhan. Pengajar-pengajarnya berpikir bahwa kesimpulan dari idenya adalah suara Roh Kudus atau sebuah penemuan yang lahir dari hikmat Tuhan. Padahal sejatinya, tidaklah demikian. Kita harus waspada bahwa pikiran manusia dapat disesatkan oleh Iblis (2Kor. 11:2-3). Pikiran manusia atau idenya dapat menjadi kendaraan bagi pikiran Iblis untuk memenuhi rencananya (Mat. 16:21-23). Dalam hal ini, kita dapat menemukan bahwa seorang pengajar atau pembicara di mimbar memiliki tanggung jawab dan pergumulan yang berat. Pertumbuhan rohani dan kualitas iman jemaat tergantung dari isi pengajaran dari pembicara dalam gereja.
    Tidak sedikit pembicara mengaku diri sebagai “penyambung lidah Allah,” padahal mereka tidak menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Ini sebuah penyesatan terselubung. Iblis datang untuk mengambil kehidupan dan membawa manusia kepada kemiskinan, terutama kualitas diri yang rendah sebagai umat pilihan. Inilah yang diusahakan oleh Iblis, yaitu membuat seseorang tanpa sadar mengkonsumsi racun di dalam hidupnya, yaitu pemberitaan firman palsu mengenai Yesus. Dalam kecerdikan dan kelicikannya yang luar biasa, Iblis merusak orang Kristen sehingga dalam taraf tertentu, jiwanya tidak bisa diperbaiki lagi (2Tim. 4:3-4).
    Pemikiran yang bukan berasal dari Allah adalah dari Iblis. Dengan cara inilah nabi palsu memalsukan pengajaran. Pembicara atau pengkhotbah seperti ini biasanya menambahi Alkitab dengan pemikiran manusia. Memang tidak semua mereka bermaksud sengaja menyesatkan orang lain.Namun oleh karena tidak mengerti Alkitab dengan benar, pikiran Iblislah yang diajarkan sehingga terjadilah penyesatan. Dalam hal ini, sebagai pendengar, jemaat harus menguji roh dengan saksama. Jemaat harus menguji pengajaran yang disampaikan: apakah berasal dari Tuhan atau dari kuasa kegelapan. Tidak sedikit gereja menghadirkan “pikiran-pikiran” yang bukan dari kebenaran Alkitab yang murni. Hal ini tidak menggiring iman Kristen kepada kesetiaan yang sejati kepada Kristus (2Kor. 11:2-4). Dengan cara inilah, Iblis menyesatkan umat Allah. Oleh sebab itu, dibutuhkan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan yang diangkat dari Alkitab melalui proses pendalaman, eksplorasi, dan eksegesis alkitabiah yang benar. Inilah modal dasar bangunan hidup rohani kita.
    Korban penyesatan ini terjadi pada orang-orang Kristen yang tidak bertumbuh dalam pengertian terhadap kebenaran, sehingga mereka tidak mampu lagi membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.Dalam lingkungan gereja, banyak jemaat telah diracuni dengan pengajaran yang salah dan spirit yang terpancar dari pembicara yang hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan. Dengan penjelasan ini, kiranya mulai sekarang jemaat memerhatikan dengan teliti apa yang didengar. Jangan mudah percaya dan menelan apa yang disajikan melalui mimbar gereja. Setiap individu harus memperkarakan hal ini dengan Tuhan untuk dapat menemukan pembicara yang benar-benar menyampaikan kebenaran.
    Untuk dapat membedakan apakah seseorang membawa pengajaran yang sesat atau benar, kita harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab. Ukurannya bukanlah kelakuan lahiriah orang yang mengajarkan kebenaran tersebut semata-mata, sebab kita tidak hidup bersama dengan mereka setiap saat. Jadi, kita tidak tahu kehidupan mereka setiap hari. Pada akhirnya, kita memang dapat membedakan nabi palsu atau tidak tergantung dari “buahnya” (Mat.7:15-23). Namun dalam kondisi tertentu, kita membutuhkan klarifikasi segera atau secepatnya sebelum kita terjebak lebih jauh ke dalam penyesatannya. Untuk itu, kita harus menggunakan Alkitab sebagai tolok ukurnya.
    Oleh sebab itu, setiap kita harus dengan jeli selalu mengawasi seorang pemimpin jemaat, pembicara, atau pengkhotbah yang menggunakan kebenaran Firman Tuhan sebaga...
    0 min
  • Potensi Disesatkan
    Orang Kristen akan sangat mudah disesatkan di dalam gereja ketika gereja mengajarkan mengenai satu sosok yang bernama “Yesus” dan mengajarkan juga bahwa “Yesus” di semua gereja dan yang disampaikan semua pengkhotbah itu sama. Di dalam pikiran mereka, “Yang penting adalah nama Yesus.” Namun, mereka tidak mengerti bahwa nama bisa sama, tetapi pribadinya bisa berbeda. Penyesatan lebih mudah terjadi terhadap orang Kristen yang telah menjadi Kristen sejak kecil, yang menjadi Kristen bukan karena pertobatan atau mengenal secara pribadi Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi karena “warisan agama.” Mereka adalah orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran Injil. Kelompok ini adalah kelompok orang “beragama Kristen,” tetapi yang hidup dalam tawanan kuasa kegelapan, sehingga tidak mengenal Yesus yang sejati. Pemahaman mereka tentang Tuhan adalah dari apa yang mereka terima dan apa yang mereka dengar tanpa bergumul sendiri untuk menemukan Yesus yang sejati. Miskinnya pemahaman terhadap kebenaran Firman Tuhan mencenderungkan seseorang mudah disesatkan dengan mudah menerima “Yesus yang lain.”
    Mereka pergi ke gereja pada setiap hari Minggu, bahkan pada pertengahan minggu, dan mereka juga pergi ke kebaktian persekutuan doa. Mereka tampak serius memerhatikan khotbah pendeta, tetapi tidak memberi seluruh wilayah hati dan hidupnya untuk Tuhan setiap hari karena Yesus yang mereka kenal ternyata salah. Yesus yang mereka kenal yaitu “Yesus yang lain,” yang mereka pikir dapat dipuaskan hanya melalui kehadiran umat di gereja demi mengikuti liturgi.Mereka berpikir bahwa mereka tidak perlu menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus atau menjadi orang percaya yang dikembalikan ke rancangan semula Allah, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat ilahi. Mereka tidak mau berjuang mengerjakan keselamatan dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7, 12-13), sehingga jauh dari standar hidup orang percaya, “… Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Orang-orang yang mendengar ajaran “Yesus yang lain” akan hidup dalam kewajaran seperti manusia lain hidup. Biasanya, mereka juga masih kompromi dengan pola hidup yang tidak berdasar pada kesucian Allah.
    Orang-orang Kristen yang belajar dari “Yesus yang lain” melalui pelayan-pelayannya tidak menekankan proses pembaruan pikiran. Padahal pikiran adalah medan pergumulan yang menentukan apakah seseorang dikuasai oleh Tuhan atau setan, musuh Allah (Iblis). Paulus dalam tulisannya mengemukakan bahwa dirinya menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Kor. 10:5). Ini merupakan perjuangan yang harus dilakukan oleh setiap anak Tuhan (2Kor. 10:4). Pikiran adalah tempat di mana terdapat pangkalan, apakah pangkalan itu untuk Tuhan atau musuh-Nya. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan agar kita menjaganya dengan segala kewaspadaan (Ams. 4:23). Kata “hati” dalam teks ini adalah leb (לֵב), selain berarti hati juga berarti mind (pikiran).
    Dalam Yohanes 8:43, Tuhan Yesus mengatakan, “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.” Kata “menangkap” dalam nas ini, teks aslinya adalah akuo (ἀκούω), yang juga berarti mengerti atau memahami. Tidak mengerti Firman Tuhan sehingga tidak memahami bahasa Tuhan artinya tidak mengerti apa yang dipercakapkan-Nya. Ini sama dengan “tidak nyambung” dengan Tuhan. Orang-orang yang disesatkan bisa cukup—bahkan sangat giat—dalam kegiatan rohani sebagai jemaat, aktivis gereja bahkan pendeta. Namun sayang sekali, mereka mengenal “Yesus yang lain,” sehingga dengan demikian mereka gagal menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Mereka tidak bisa diselamatkan. Demikian pula dengan sebagian orang Kristen yang sebenarnya giat mencari Tuhan, tetapi karena mereka belajar dari “Yesus yang lain,” mereka tidak mengalami keselamatan yang sejati. Namun ironisnya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…