Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kuasa Allah Dalam Injil
    “Yesus yang lain” dimuat dan diberitakan dari Injil yang sebenarnya bukan Injil. Terkait dengan hal ini, Paulus mengemukakan pemikirannya dalam Galatia 1:16-8.Paulus menyatakan, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Kalau Injil yang diberitakan bukanlah Injil yang benar, Yesus yang diajarkan juga pasti “Yesus yang lain.” Hal ini tidak boleh dipandang sepele, sebab kalau seseorang tidak memahami Injil yang benar, hal ini dapat mengakibatkan kegagalan memahami Yesus yang benar, sehingga orang tersebut pun tidak mengalami dan memiliki keselamatan yang benar.
    Jadi, bisa dimengerti kalau Paulus begitu marah terhadap pemberita Injil yang sebenarnya bukan Injil. Dalam Galatia 1:8-9 Paulus mengemukakan pernyataan ini, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”Pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil atau tidak sesuai dengan Injil mengakibatkan seseorang tidak mengalami dan memiliki keselamatan. Terkait dengan hal ini Yesus menyatakan, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”(Mat. 18:6). Penyesatan bukan saja memperbodoh seseorang, melainkan juga membinasakannya di kekekalan.
    Sedemikian pentingkah pemberitaan Injil yang benar itu? Dalam Roma 1:16-17 tertulis, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’” Injil adalah kuasa Allah.Ini berarti bahwa di dalam Injil terdapat kebenaran yang membuka pikiran seseorang untuk mengenali siapa dan bagaimana Yesus sebagai Juruselamat. Selanjutnya, iaakan dituntun untuk mengetahui segala sesuatu yang Yesus ajarkan dan diperagakan dalam hidup-Nya untuk diteladani. Keselamatan adalah proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah. Yesus adalah profil dari manusia yang dikembalikan ke rancangan Allah semula. Kalau seseorang tidak mengenal segala sesuatu yang diajarkan Yesus dan tidak memahami gaya hidup-Nya untuk diteladani, berarti ia tidak akan mengenal keselamatan.
    Terkait dengan hal ini, sangat penting untuk memeriksa kata “disesatkan” dalam 2 Korintus 11:3-4. Dalam ayat tersebut tertulis, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”
    Dampak negatif akibat pemberitaan ajaran “Yesus yang lain” sangatlah fatal, yaitu pikiran orang Kristen dapat disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus. Kata “disesatkan” dalam teks aslinya adalah phthare (φθαρῇ), dari akar kata phtheiro (φθείρω) yang juga berarti menghancurkan atau merusak (to ruin, to spoil, to corrupt). Sedangkan, kata “kesetiaan” berasal dari kata haplotetos ...
    0 min
  • Adanya “Yesus Yang Lain”
    Semua gereja pasti mengajarkan tentang Yesus, dan biasanya semua orang Kristen berpikir bahwa “semua” Yesus yang diajarkan oleh gereja-gereja tersebut, sama. Namun, sesungguhnya tidaklah demikian. Nama Yesus memang sama-sama diakui dan dimiliki oleh semua orang Kristen, tetapi apa yang mereka ajarkan mengenai Dia tidaklah sama. Dengan demikian, sosok Yesus yang diajarkan sangat besar kemungkinan juga tidak sama. Jika yang diajarkan tidak sesuai dengan Yesus yang diajarkan dalam Alkitab, itu berarti “Yesus yang lain.” Ternyata dari dahulu sudah ada orang-orang yang memberitakan “Yesus yang lain” kepada jemaat. Namanya sama, yaitu Yesus, tetapi Yesus yang diajarkan bukanlah pribadi yang dimaksud oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dengan demikian, Yesus yang diajarkan adalah palsu. Mengenai hal ini, Paulus juga mengemukakannya dalam 2 Korintus 11:3-4.
    Dalam 2 Korintus 11:3-4 tertulis, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”.” Frasa “Yesus yang lain” dalam ayat ini menunjukkan adanya pemberitaan Firman yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Mereka mengajarkan Yesus yang sebenarnya bukan Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru.
    Frasa “Yesus yang lain” dalam teks aslinya adalah allon Iesoun (ἄλλον Ἰησοῦν). Kata allonberasal dari akar kata allos yang artinya “berbeda, tetapi masih sejenis.” Kata yang sejajar dengan kata allos adalah heteros (ἕτερος) yang artinya “yang lain” dengan keberadaan berbeda jenis dan bentuknya. Penggunaan kata allos di sini hendak menunjukkan bahwa “Yesus yang lain” bukanlah Yesus yang diperkenalkan oleh agama-agama lain, melainkan Yesus yang dibaca dalam Alkitab dan diperkenalkan “seakan-akan” sejenis atau sama bentuknya, padahal sebenarnya berbeda. Hal ini bisa terjadi karena pemahaman yang salah terhadap Alkitab.Walaupun Yesus yang diajarkan seakan-akan sejenis, sebenarnya itu bukanlah Yesus yang asli. Hal ini sama dengan barang palsu yang seakan-akan sejenis dan sangat mirip dengan barang asli, padahal sebenarnya palsu. Kata allos mengindikasikan kemiripan antara “Yesus yang lain” dan Yesus yang asli.Namun, semirip apa pun, “Yesus yang lain” itu tetaplah palsu.
    “Yesus yang lain” bisa merupakan konklusi dari berbagai doktrin yang dibangun sejak ratusan tahun. Doktrin-doktrin tersebut dirumuskan oleh para teolog yang membangun perpustakaan yang memuat tulisan mengenai Yesus. Mereka memiliki jawaban dari apa saja yang dipertanyakan mengenai Yesus. Mereka selalu memiliki argumentasi terhadap semua hal mengenai Yesus dan yang berkenaan dengan teologi Kristen. Para akademisi yang belajar teologi secara formal dalam sekolah tinggi teologi beranggapan bahwa tulisan para teolog dalam buku-buku di perpustakaan itu sudah cukup melukiskan wajah Yesus dan segala hal yang terkait dengan teologi Kristen. Dengan demikian, mereka merasa sudah menemukan Yesus dan pemahaman mereka mengenai Yesus sudah final.
    Mereka merasa sudah menemukan Yesus secara lengkap dan mencatatnya dalam buku-buku di perpustakaan dan dalam pemahaman pikiran mereka. Faktanya, Yesus yang mereka ajarkan adalah Yesus yang tidak mengembalikan manusia untuk berkodrat ilahi, dan tidak membuat orang percaya menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Hal ini terbukti dengan kenyataan banyak orang Kristen meninggalkan gereja dan berperilaku seakan-akan tidak pernah mendengar Injil. Ini berarti Yesus yang mereka ajarkan tidak sama dengan Yesus yang ada di Alkitab.
    Pikiran mereka telah terpenjara oleh doktrin-doktrin yang mereka pahami sebagai kebenaran mutlak. Mereka berpikir bahwa buku-buku di perpustakaan sudah cukup mewakili sia...
    0 min
  • Pasti Berakhir
    Banyak orang berpikir seakan-akan perjalanan hidup ini tidak ada ujungnya atau tidak ada akhirnya. Hal ini menyebabkan sebagian besar orang Kristen tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi pengadilan Tuhan. Bila hal ini terjadi, itu berarti ia tidak mengerti kebenaran. Ini adalah sebuah penyesatan Iblis yang sukses. Bila jujur, kita dapat menemukan banyak manusia yang memberontak atau menolak kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Ia tidak mau berpikir atau menerima kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Dan akhir perjalanan hidup manusia ini merupakan sebuah misteri yang pada umumnya tidak seorang pun tahu (Yak. 4:13-17). Iblis akan berusaha menenangkan banyak jiwa manusia seakan-akan hidup ini tidak ada bahayanya. Tanpa disadari, mereka sedang dibawa ke dalam siksaan kekal.
    Perjalanan waktu juga mengisyaratkan adanya batas waktu yang disediakan untuk suatu tugas tertentu. Harus diingat bahwa Sabat telah diciptakan Tuhan sebelum manusia jatuh dalam dosa. Ini berarti Adam dan Hawa harus tertib dan ketat memerhatikan perjalanan hari sebab pada hari ketujuh mereka harus berhenti bekerja atau beristirahat. Jadi, Allah juga dengan tertib bergaul dengan manusia dalam perjalanan waktu yang bergulir. Hal ini dikemukakan oleh Pengkhotbah dengan kalimat “Untuk segala sesuatu ada masanya” (Pkh. 3:1). Kuasa gelap akan menggiring seseorang berpikir bahwa nanti selalu ada waktu untuk mencari dan menemukan Tuhan sehingga hidup hari ini harus diisi dengan segala kegiatan tanpa mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sementara hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Iblis mewarnai hidupnya dengan segala warna kehidupan yang membuat kebenaran Tuhan tidak memiliki tempat dalam hidupnya. Seseorang merasa telah memberi tempat bagi Tuhan sebab ia tidak merasa berencana mengkhianati Tuhan. Padahal, tanpa mengisi jiwanya dengan kebenaran Tuhan dan pengalaman pribadi yang konkret dengan Tuhan, seseorang sama dengan tidak memberi tempat bagi Tuhan.
    Tidak menyadari perjalanan waktu—sehingga tidak mengisi hidup ini guna mencari dan menemukan Tuhan secara benar—juga terjadi atas orang-orang yang merasa bahwa dirinya sudah bijaksana, cukup umur, dan memiliki banyak pengalaman serta prestasi kehidupan; apalagi kalau ditambah banyak uang. Mereka makin menjadi buta terhadap kebenaran yang murni. Padahal dalam Tuhan atau kedewasaan iman, mereka sebenarnya miskin. Inilah kebodohan “orang-orang bijaksana.” Bagi orang-orang seperti itu, Tuhan menyembunyikan hikmat-Nya (Mat. 11:25). Untuk orang-orang seperti ini, Tuhan Yesus menuntut agar melepaskan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat. 19:21; Luk. 14:33). Kalau mereka tidak merendahkan diri, mereka akan binasa dalam keangkuhan yang sering sangat terselubung. Nilai diri yang mereka miliki akan menjebak mereka menjadi orang-orang yang tidak bertumbuh dalam Tuhan dan kedewasaan iman yang Tuhan kehendaki. Mereka tidak bertumbuh dalam karakter Kristus yang seharusnya makin melekat dan muncul dalam kehidupan mereka.
    Momentum-momentum yang berharga yang Tuhan sediakan bagi orang yang dikasihi-Nya berlalu dengan sia-sia. Momentum-momentum itu bisa saja berupa pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang dapat menjadi kunci pembuka pengertian dalam pengalaman hidup untuk menemukan Tuhan. Karena kuncinya tidak dimiliki, pengalaman hidup yang di dalamnya memuat pembentukan Tuhan untuk menyempurnakan hidup, tidak berdampak sama sekali dalam hidupnya. Momentum- momentum ini adalah anugerah bertahap yang harus diterima secara berkesinambungan seperti tali yang harus bersambung terus dan dijaga agar tidak putus. Ironis, banyak hal yang dianggap lebih menarik dari Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Dengan sikap ini, mereka melecehkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Melalui penjelasan ini, Saudara diingatkan untuk bertobat. Jika tidak, Saudara akan binasa.
    Setiap orang terseret oleh waktu itu. Karenanya, sementara terseret oleh waktu, hidup harus diarahkan ke tujuan yang benar (1Kor.
    0 min
  • Mempersiapkan Kehidupan Hari Esok
    Sekarang ini, banyak orang Kristen yang tidak memikirkan masa depannya di dunia yang akan datang. Mereka tidak peduli sama sekali adanya Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang. Mereka hanya hidup untuk kesenangan hari ini, seakan-akan tidak ada dunia atau kehidupan lain yang akan mereka jalani dan nikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa Tuhan dan segala berkat-Nya diadakan hanya untuk kehidupan hari ini. Pada dasarnya ini adalah gaya hidup seperti hewan. Hewan adalah makhluk yang hidup hanya untuk hari ini. Paulus menggambarkan gaya hidup ini dan mengatakan, “Mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32). Mereka hidup dalam kewajaran anak dunia, dan tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana mengikut Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa cara atau gaya hidup mereka sudah wajar, tidak menyalahi kehendak Allah. Padahal kehidupan orang percaya harus seperti Tuhan Yesus, yang bersedia tidak menikmati kesenangan dunia, bahkan meninggalkan kemuliaan bersama dengan Bapa. Firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa tidak meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya, maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 14:33). Memang ini adalah bagian tersulit yang sering kurang atau tidak diajarkan dengan benar kepada umat dewasa ini.
    Banyak umat Kristen hanya mengenal ajaran bahwa Tuhan memberkati kalau mereka datang ke gereja dan memberi persembahan. Jemaat hanya diajar untuk menjadi orang baik, memiliki keluarga bahagia, mendapatkan menantu yang baik dan cucu yang sehat dan sukses, tubuh sehat, bisnis maju, dan terhormat di mata manusia. Mereka memiliki ukuran kebahagiaan yang sama dengan anak dunia. Pola pikir tersebut adalah pola pikir anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran Injil yang murni. Mereka adalah orang-orang yang masih membangun kerajaannya di muka bumi ini. Sebenarnya, mereka tidak menginginkan dengan sungguh-sungguh Kerajaan Surga. Kehidupan mereka di bumi sudah menjadi kerajaan yang nyaman dan membahagiakan. Padahal yang terpenting dan satu-satunya gaya hidup yang benar adalah belajar kehidupan Tuhan Yesus dan mengenakannya dalam hidup ini agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.
    Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia. Artinya, oleh kematian-Nya di kayu salib, Ia mengangkat akibat dosa yang dilakukan manusia dan memuridkan orang percaya untuk mengalami perubahan agar berkeadaan layak sebagai anak-anak Allah. Penyelesaian dosa manusia terjadi pada waktu Yesus mati di kayu salib dan bangkit. Selanjutnya, orang yang dipilih menjadi umat Allah harus belajar mengenakan karakter dan cara hidup Tuhan Yesus. Seperti Tuhan Yesus meninggalkan segala sesuatu, orang percaya juga harus berani berbuat demikian. Untuk hal ini, ada dua tahapan yang harus dilalui. Tahapan pertama dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib; tahapan kedua dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya. Namun kalau orang percaya tidak bersedia belajar untuk memiliki kehidupan seperti Tuhan Yesus, ia menolak untuk diselamatkan. Ini berarti ia tidak memiliki hari esok. Orang seperti ini tidak mempersiapkan hari esoknya. Biasanya mereka hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia yang tidak memiliki keselamatan guna menjadi anak- anak Allah.
    Kalau bukan demi masa depan manusia atau hari esok manusia di kekekalan, Tuhan Yesus tidak perlu mengurbankan diri dengan pengurbanan yang sangat mahal. Kalau tidak perlu kehidupan hari esok, cukuplah manusia dapat menikmati hidup di bumi dengan segala kesenangannya yang rata-rata 70 tahun, setelah itu dibuang ke dalam api kekal. Jadi sesungguhnya, kedatangan Tuhan Yesus adalah demi kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan hari ini. Oleh sebab itu, keselamatan harus dilihat dari dimensi atau perspektif atau sudut pandang yang benar. Keselamatan diberikan untuk menggarap manusia hari ini di bumi demi persiapan kehidupan hari esok di langit baru dan bumi yang baru.
    Gereja diadakan agar jemaat belajar kebenaran,
    0 min
  • Meninggalkan Dunia Ini
    Semua orang yang mengikut Yesus harus meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia ini bukan berarti tidak lagi ada di dunia. Ia masih tetap di dunia, tetapi dengan cara hidup yang baru. Dengan kata lain, meninggalkan dunia berarti melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri, “biarlah orang mati menguburkan orang mati,” “tidak menoleh ke belakang,” “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” dan banyak lagi. Salah satu ciri dari orang yang sudah meninggalkan dunia adalah: Pertama, ia tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dunia ini. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya tidak terikat lagi dengan dunia ini. Untuk hal ini, yang dilawan ada dua hal, yaitu: pengaruh dunia yang sudah mengikat jiwa dan keinginan dosa dalam daging. Kalau seseorang masih terikat dengan dosa-dosa dalam daging, itu berarti ia masih memiliki diri sendiri. Hal ini sama dengan tidak dapat dimiliki oleh Tuhan. Kalau orang masih terikat dengan barang-barang dunia, ia berarti masih dimiliki dunia ini. Bisa dipahami mengapa mengingini dunia sama dengan menyembah Iblis.
    Mungkin ada pertanyaan, “Apa salahnya kalau seseorang memiliki barang ini dan itu?” Tentu, tidak salah! Pertanyaannya adalah “Apakah orang percaya memiliki sesuatu untuk kepuasan diri dan prestise?” Banyak orang telah terikat oleh dunia dengan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Anak-anak meneruskan bisnis orangtua dan segala cara hidupnya. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti hal ini. Mereka merasa nyaman berada di tempat-tempat di mana diajarkan mereka tidak perlu meninggalkan dunia ini. Mereka diajar untuk hidup dalam kewajaran seperti manusia lain. Itulah sebabnya mereka tetap melestarikan cara hidup yang mereka warisi dari nenek moyang.
    Keterikatan dengan materi membuat seseorang tidak dapat memenuhi firman yang mengatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24). Harus diingat, kalau orang percaya menjadi anak tebusan Tuhan Yesus berarti segenap hidupnya diambil alih oleh Tuhan. Kalau seseorang tidak bersedia, ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan. Tidak apa-apa bagi yang lain, tetapi menjadi masalah besar bagi hidupnya sendiri. Kalau dalam Perjanjian Lama, berhala mereka adalah dewa-dewa yang mereka sembah. Namun dalam Perjanjian Baru, berhala kita adalah materi. Terkait dalam hal ini, Yohanes mengingatkan bahwa keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup bukan berasal dari Bapa (Yoh. 2:15-17). Yakobus lebih tegas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4).
    Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang terbelenggu oleh Tuhan. Namun sebenarnya, inilah justru kemerdekaan itu. Banyak orang merasa dirinya merdeka ketika ia boleh berbuat apa saja yang diingininya. Padahal, justru itulah perhambaan. Ketika seseorang diperhamba atau dibelenggu oleh Tuhan, ia memperoleh kemerdekaan. Namun semakin seseorang mau bebas sendiri, hidup dalam kesenangan dirinya sendiri, ia justru ada dalam perhambaan. Dalam hal tersebut, seseorang harus mengalami perubahan jiwa. Perubahan itu bisa terjadi hanya dengan Firman. Dalam level tertentu, seseorang yang tekun belajar Firman dan mengenakannya akan merasakan selera baru dalam jiwanya. Keterikatan dengan Tuhan bukanlah suatu belenggu, tetapi kesukaan. Kapan itu terjadi? Itu akan terjadi kalau seseorang dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.
    Kalau seseorang jatuh cinta, ia rela diperhamba oleh orang yang dicintai. Keadaannya sangat dipengaruhi oleh hubungan dengan orang yang dicintainya tersebut. Demikian pula hubungan orang percaya dengan Tuhan. Jadi, kalau orang percaya membeli barang atau memakai barang dunia ini, hal tersebut dilakukan dengan maksud agar dapat dipakai untuk kepentingan hidup yang sedang dijalani dalam pelayanannya kepada Tuhan. Uang yang dicari pun semata-mata dipergunakan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Hal ini tidak berarti semuanya harus diberikan ke gereja, tetapi juga untuk kehidupan keluarga,
    0 min
  • Kecantikan Rohani
    Sejatinya, maksud keselamatan dalam Yesus Kristus adalah “mendandani manusia batiniah.” Paulus menyebutnya sebagai pembaruan manusia batiniah. Hal ini membutuhkan waktu panjang; tidak dapat dikerjakan dalam sekejap. Suatu saat, orang- orang yang mengabaikan hal ini akan sangat menyesal ketika mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengubah diri. Pendandanan ini semakin sulit ketika seseorang sudah telanjur rusak oleh pengaruh dunia. Ia harus kerja keras untuk mengubah dirinya yang sudah berkeadaan rusak parah. Orang percaya harus berdandan seperti mempelai bagi Kristus. Hanya Roh Kudus yang dapat menuntun orang percaya untuk menjadi cantik sesuai dengan selera Tuhan, Sang Mempelai Pria (2Kor. 11:2-4).
    Kata “cantik” bersinonim dengan kata elok, molek, bagus. Kata-kata ini berarti sesuatu benda atau seseorang yang berkeadaan baik, indah tidak bercacat. Kata ini memang lebih banyak digunakan untuk melukiskan wajah wanita. Kecantikan rohani berarti keadaan kehidupan rohani seseorang yang baik, indah tidak bercacat. Keadaan rohani di sini maksudnya adalah keadaan pikiran, hati, dan batin seseorang. Unsur rohani atau jiwani manusia adalah suatu hal yang tidak kelihatan dalam diri manusia, tetapi manifestasinya tampak jelas melalui perkataan, tingkah laku, dan perbuatan seseorang.
    Kecantikan jasmani mudah dilihat karena dapat ditangkap dengan mata jasmani, tetapi kecantikan rohani tidak mudah dilihat. Namun, itu bukan berarti tidak akan dikenali. Kecantikan rohani tetap akan dapat dikenali. Untuk menutupi ketidakcantikan jasmani, banyak cara yang dapat dilakukan: mulai dari make up sampai operasi plastik. Namun untuk menutupi ketidakcantikan rohani, biasanya orang harus bersikap munafik. Munafik artinya pura-pura (apa yang dilakukan tidak sesuai dengan keadaan isi hatinya). Tuhan Yesus sangat mengecam kemunafikan sebagai upaya untuk menutupi kejelekkannya macam ini (Mat. 23:27-28). Ukuran kecantikan jasmani bersifat relatif, walaupun pada umumnya manusia mempunyai standar yang hampir sama. Bagi masing- masing orang, istrinyalah yang paling cantik. Namun pada umumnya, orang yang memiliki organ tubuh—khususnya wajah yang tidak bercacat—organ wajah harmonis, adalah yang disebut berkategori cantik. Namun demikian, bagaimana pun kecantikan jasmani tetap relatif sifatnya.
    Lalu, apa ukuran kecantikan rohani? Ukuran itu bukan jabatan rohani, bukan kemampuan melakukan pekerjaan gerejani, atau gelar sekolah Alkitab, dan lain sebagainya. Kecantikan jasmani bertolak pada pandangan manusia. Karena jumlah manusia banyak dan pandangan serta persepsinya berbeda-beda, kecantikan jasmani bersifat relatif, tergantung siapa yang menilai. Kecantikan rohani tidak relatif. Kecantikan rohani bertolak pada pandangan Tuhan. Oleh karena Tuhan hanya satu dan Ia adalah Allah yang tidak berubah, Allah yang konsisiten, ukuran-Nya pun tunggal, tidak relatif. Ukuran kecantikan rohani dapat dilihat dalam Matius 3:17 yaitu, “Yang Allah berkenan.” Yang berkenan pada Allah artinya yang kehidupannya tidak bercacat. Tidak bercacat maksudnya bukan tidak bercacat tubuh, melainkan kepribadiannya sesuai dengan hati Tuhan, tidak bercacat rohani. Cacat rohani diuraikan dalam 1 Korintus 10:6-10, yaitu: Pertama, mengingini hal yang jahat. Misalnya: dendam, kebencian, kemarahan, permusuhan, dan lain-lain. Kedua, penyembahan berhala: mengasihi sesuatu dan seseorang lebih daripada mengasihi Tuhan. Ketiga, percabulan: seperti penyelewengan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual. Keempat, mencobai Tuhan: artinya tidak memercayai kasih, kehadiran dan pemeliharaan Tuhan. Kelima, bersungut-sungut: yaitu sikap tidak mensyukuri keadaan hidup.
    Model manusia yang cantik rohani, yang berkenan kepada Allah adalah Tuhan Yesus Kristus. Dialah pribadi yang tidak bercacat: bersih luar dan dalam. Orang percaya yang berkeadaan cantik rohani, tak bercacat seperti Tuhan Yesus, itu adalah kehendak Allah Bapa (Rm. 8:29). Dengan keadaan itu, Bapa di surga dapat berkata,
    0 min
  • Menentukan Penyelesaiannya
    Apakah kita dapati seorang percaya yang menyelesaikan tugas kehidupan yang dijalani dengan sempurna? Seberapa seseorang mau sungguh-sungguh berjuang? Dalam hal ini, bukan Tuhan yang menentukan kemenangan atau kekalahan seseorang. Kehendak bebas individu-lah yang menentukan. Salah satu keistimewaan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah kehendak. Tidak ada makhluk hidup yang diberi kehendak seperti yang dimiliki manusia. Allah memberi manusia komponen untuk dapat membuat pilihan, yang pasti akan menentukan atau paling tidak memengaruhi keadaan mereka. Komponen itu adalah pikiran dan perasaan. Dari pikiran perasaan ini, seseorang memiliki kemampuan mempertimbangkan sesuatu. Dari hasil pertimbangannya tersebut, seseorang dapat mengambil keputusan atau pilihan. Inilah kehendak bebas. Jika manusia tidak memiliki pikiran dan perasaan, manusia tidak memerlukan kehendak bebas. Justru karena ada pikiran dan perasan tersebut, manusia dapat memiliki atau harus memiliki kehendak bebas.
    Dengan memiliki kehendak bebas, manusia menentukan nasib dan keadaan dirinya sendiri. Dalam hal ini manusia bisa mengasihi Allah dengan segenap hati (secara proporsional) atau tidak mengasihi Tuhan secara proporsional—atau berarti belum mengasihi Tuhan secara pantas. Dalam kehendak bebas tersebut, manusia dengan pilihannya, menentukan apakah menyelesaikan tugas kehidupannya dengan sempurna atau tidak. Pilihan seperti di atas ini tidak ditentukan oleh penyebab di luar dirinya, tetapi ditentukan oleh motif dari dirinya sendiri: hasil dari pertimbangan nalar atau rasio yang dimilikinya. Adapun pertimbangan yang dimiliki seseorang sangat ditentukan oleh apa yang masuk ke dalam pikirannya melalui jendela mata dan telinganya atau pancaindranya. Semua itu menentukan apakah seseorang dapat menyelesaikan tugas kehidupannya atau tidak. Oleh sebab itu, orang percaya harus berhati-hati terhadap apa yang masuk ke dalam pikirannya. Untuk hal ini, betapa dibutuhkannya kebenaran Firman Tuhan untuk selalu memperbarui pikiran seseorang. Pikiran yang dibaharui akan meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan tugas kehidupan.
    Fragmen yang terjadi di Taman Eden adalah gambaran kehidupan manusia, bukan hanya bagi manusia pertama, melainkan juga bagi semua manusia di segala tempat dan di sepanjang zaman: bahwa manusia dikendalikan oleh kehendak bebasnya atau free will dalam menentukan nasib atau keadaan dirinya. Tuhan sebagai hakim menegakkan hukum itu dengan segala risiko dan konsekuensinya, baik bagi manusia maupun bagi Tuhan sendiri. Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah, dan Allah sendiri yang harus turun menyelamatkannya. Orang bertanggung jawab atas sesuatu yang disebabkan oleh keputusan dari tindakannya. Orang yang tidak menjadi penyebab dari suatu akibat tidak bertanggung jawab atas sesuatu. Dalam hal ini, keadaan manusia hari ini adalah hasil atau akibat dari keputusannya masa lalu. Tuhan tidak bisa dipersalahkan. Dalam hal tersebut, manusia ditantang untuk menundukkan diri kepada Tuhan—hidup di bawah kedaulatan Tuhan—atau hidup dalam kedaulatannya sendiri sehingga menjadi budak dosa. Dari hal kejatuhan manusia jelas ditunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang diberi tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menentukan “nasibnya” atau takdirnya.
     
    Tuhan seperti menggelar sebuah gelanggang, bukan panggung sandiwara. Dalam gelanggang tersebut ada pihak-pihak yang terlibat, yaitu Allah sendiri, Iblis, para malaikat, dan manusia. Allah membiarkan semua berlangsung dengan fair. Tidak ada rekayasa atau sebuah pengaturan yang dipaksakan. Dalam gelanggang tersebut, Allah dalam kedaulatan-Nya menetapkan aturannya. Semua harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Allah, bahkan diri Allah sendiri. Aturan itu ada dalam diri Allah sebagai Hakim dan penyelenggara kehidupan ini. Masing-masing pihak memiliki kedaulatan atau independensi, baik manusia, malaikat, Iblis, maupun Allah sendiri. Dalam hal ini,
    0 min
  • Kematian Dalam Tuhan
    Dalam suratnya Paulus menulis, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:11). Klausa penting yang patut diperhatikan dalam ayat ini adalah “serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Kematian dalam Tuhan menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup kekristenan yang harus dialami setiap orang percaya. Jadi, sebelum orang percaya mengalami kematian secara fisik, ia harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama. Proses kematian manusia lama artinya menanggalkan semua kebiasaan hidup sebelum mengambil keputusan mengikut Tuhan Yesus dengan segala pola berpikir dan filosofinya. Proses kematian manusia lama mengawali atau mendahului kelahiran baru yang Tuhan berikan atau bisa berjalan serempak atau sejajar. Dalam hal ini, tidak ada kelahiran baru tanpa kematian manusia lama.
    Alkitab mengatakan bahwa di dalam Yesus Kristus, orang percaya adalah ciptaan baru (2Kor. 5:17). Alkitab juga menyebutkan bahwa orang percaya telah dilahirkan oleh Allah. Namun, ini bukanlah sesuatu yang otomatis bisa terjadi dengan sendirinya. Kelahiran baru adalah hasil atau buah dari perjuangan panjang ketika orang percaya bersedia meninggalkan cara hidup yang lama. Orang percaya tidak boleh menganggap hal ini sebagai hal mudah yang bisa terjadi dalam kehidupannya sehingga tidak perlu diperjuangkan. Sebaliknya, orang percaya harus menganggap hal ini sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sangat serius. Oleh perjuangan yang berat dalam merespons anugerah Tuhan, seseorang dapat dilahirkan oleh Allah dengan natur yang baru.
    Panggilan untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus dalam kematian-Nya merupakan panggilan untuk semua orang percaya. Serupa dengan Dia dalam kematian-Nya pada dasarnya adalah kehidupan yang ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Allah sepenuhnya. Untuk itu, orang percaya harus memisahkan diri dari dunia. Memisahkan diri dari dunia berarti bahwa orang percaya tidak lagi memiliki cara hidup seperti yang dimiliki anak-anak dunia. Kalau tujuan hidup orang percaya dahulu sama dengan anak dunia, sekarang tujuan hidupnya haruslah berbeda. Memang pemisahan ini tidak terjadi dalam satu hari, tetapi melalui sebuah proses panjang. Pembaruan pikiran harus terjadi setiap hari supaya tidak sama dengan dunia ini.
    Dalam Kolose 3:3 Alkitab berkata, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kalimat ini banyak tidak dimengerti orang. Lebih banyak orang Kristen yang tidak rela kehilangan hidupnya. Padahal, Alkitab jelas mengatakan bahwa kamu telah mati. Hal inilah yang sebenarnya dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai kehilangan nyawa. Orang yang rela kehilangan nyawa adalah orang
    yang rela kehilangan kesenangan hidup, yaitu orang yang bersedia dilahirkan baru. Seseorang tidak akan mengalami kelahiran baru kalau ia tidak rela kehilangan segala kesenangan hidup dan kehormatan manusia. Dalam hal ini harus ditegaskan bahwa kelahiran baru bukanlah proses ajaib dan supernatural. Kelahiran baru adalah proses natural yang dikerjakan Roh Kudus dalam hidup orang-orang yang bersedia kehilangan dunia ini. Dari proses natural ini orang percaya diubah sehingga dapat mengenakan natur baru, yaitu natur Allah.
    Firman Tuhan mengatakan, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor. 4:10). Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kematian Yesus dalam ayat ini? Kematian Yesus menunjuk pada kepasrahan dari kesediaan Tuhan Yesus yang tulus menerima segala penderitaan yang harus dialami demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Tuhan Yesus tidak pernah menghindari penderitaan atau kesulitan sebesar apa pun demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Artinya,
    0 min
  • All Out
    Tidak dapat disangkal, hari ini banyak orang Kristen masih memisahkan antara ibadah kepada Tuhan di gereja dan kehidupan setiap hari. Mereka beranggapan bahwa ibadah kepada Tuhan adalah bagian dari hidup ini. Itulah sebabnya mereka membedakan antara kegiatan yang bersangkut paut dengan Tuhan—seperti berdoa, menyanyi lagu rohani, atau ke gereja—dengan kegiatan yang tidak bersangkut paut dengan Tuhan—s eperti bekerja di kantor, rekreasi dengan keluarga, olahraga, makan, minum, dan lain-lain— yang dianggap bukan ibadah kepada Tuhan. Bila seseorang masih memiliki anggapan atau sikap berpikir seperti ini, berarti ia belum memahami pengertian ibadah yang sesungguhnya. Orang seperti ini akan gagal menyelesaikan hidup kekristenannya di hadapan Tuhan. Hendaknya orang percaya tidak terpengaruh oleh berbagai aliran agama-agama tertentu yang memisahkan antara hidup beribadah di lingkungan kegiatan rohani dengan kegiatan di luar kegiatan rohani yang dianggap bukan ibadah.
    Perintah untuk mengelola dunia ini sebagai penyelenggara kehidupan di bumi ini merupakan perintah kudus, yang rohani yang tidak boleh diidentifikasi sebagai duniawi. Itulah sebabnya orang percaya tidak boleh membedakan profesi duniawi dan rohani diukur semata-mata dari jenis perkerjaan itu. Karenanya pula, orang percaya tidak boleh merasa kurang kudus hanya karena memiliki profesi bukan pendeta atau tidak ikut berkegiatan dalam gereja. Dalam Roma 12:1-2 Paulus menjelaskan arti ibadah, yaitu mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan. Ini artinya menggunakan tubuh untuk kemuliaan Tuhan. Untuk kemuliaan Tuhan berarti bahwa segala sesuatu yang dilakukan, dilakukan dalam kesucian dan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Untuk ini, orang percaya harus memaksimalkan potensi sesuai dengan bidang masing-masing dan terus bertumbuh dalam kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
     
    Dengan pertumbuhan kedewasaan rohani, seseorang akan mengerti arti “hidup bagi Tuhan,” seperti prinsip Rasul Paulus (Flp. 1:21; 2Kor. 5:14-15). Dengan demikian, motivasi hidup sehingga seseorang menyelenggarakan seluruh kegiatan hidupnya itu menentukan nilai ibadahnya. Yang penting di sini adalah bahwa seseorang harus mengerti kebenaran Firman Tuhan sehingga sampai kepada motivasi hidup yang benar, yaitu hidup bagi Tuhan (Flp. 1:21). Orang tidak akan memiliki motivasi hidup bagi Tuhan kalau ia tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan melalui kebenaran firman-Nya yang ditulis dalam Alkitab. Kemurnian motivasi ini tentu saja berproses, semakin dimurnikan seiring dengan pendewasaan rohani seseorang. Kemurnian motivasi hidup orang percaya harus mencapai kualitas seperti kemurnian yang dimiliki Tuhan Yesus.
    Sekalipun seorang pejabat gereja, kalau ia tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, ia belum mampu hidup bagi Tuhan. Pelayanannya adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ambisinya. Jadi di sini, seseorang dikategorikan rohani atau tidak itu sangat ditentukan oleh motivasi kehidupannya. Untuk hal ini, jemaat harus peka terhadap Tuhan agar jemaat hidup untuk Tuhan, bukan untuk kehidupan pendeta dengan segala ambisinya yang bertendensi untuk kepentingan diri sendiri. Jadi, memberi uang untuk pendeta atau gereja belum tentu efektif bagi Tuhan sebab itu tergantung gereja atau pendeta tersebut. Dalam hal ini, yang penting adalah bagaimana manusia di sekitar orang percaya itu diberkati Tuhan melalui hidupnya. Harus dimengerti bahwa yang dimaksud berbakti bukan hanya menyangkut kegiatan lingkungan gereja, melainkan meliputi seluruh gerak hidup orang percaya.
    Jam ibadah orang percaya bukan hanya 2 jam dalam gereja, melainkan 24 jam waktu hidup orang percaya setiap hari adalah jam ibadah yang terus-menerus berlangsung tiada henti. Orang percaya dapat menikmati hidup dalam ibadah kepada Tuhan sepanjang waktu ini. Orang yang berbakti kepada Tuhan selama hidup dalam dunia ini adalah orang yang akan diperkenan berbakti kepada...
    0 min
  • Peta Berpikir Orang Percaya Akhir Zaman
    Tuhan Yesus mengatakan, “Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat. 24:12). Oleh karena itu, bisa dimengerti kalau di bagian lain dalam Alkitab, Yesus menyatakan keraguan, “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8). Setiap orang memiliki peta berpikir. Ini sama dengan paradigma atau pola berpikir atau sistem berpikir dari syaraf-syarafnya. Peta ini terbangun dari pengalaman hidup, filosofi hidup yang diserapnya, dan gen yang dimiliki masing-masing individu dengan karakteristiknya yang khusus dan khas. Kedatangan Tuhan Yesus hendak memperbarui peta berpikir atau cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang itu (1Ptr. 1:18-19). Tuhan melalui Roh Kudus menuntun orang percaya kepada segala kebenaran, bagi yang memberi diri, untuk diperbarui dari hari ke hari. Inilah yang menjadi isi mandat Tuhan Yesus dalam Matius 28:18-20.
    Kedatangan Tuhan Yesus memberi gen baru dalam kehidupan orang percaya. Inilah kuasa” supaya dapat menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Roh Kudus yang dimeteraikan dalam diri orang percaya adalah gen baru (Ef. 1:13). Kalau orang percaya tidak aktif berjalan dalam pimpinan Roh melalui pembaruan Firman setiap hari, semua itu menjadi sia-sia. Talenta yang diberikan akan sia-sia (Mat. 25:14-30). Anugerah yang besar ini hendaknya tidak disia-siakan. Oleh sebab itu, kalau seorang Kristen mengerti anugerah yang besar ini, ia tidak akan memfokuskan dirinya pada perkara-perkara duniawi. Tuhan Yesus mengajarkan peta berpikir yang baru. Dengan peta baru tersebut seseorang akan dapat menyerap apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Namun kalau belum diubah petanya, ia tidak akan mengerti bahasa Tuhan (Yoh. 8:43). Seperti contohnya, Nikodemus tidak bisa mengerti apa yang diajarkan Tuhan Yesus sebab ia telah memiliki sistem dalam pola berpikir beragamanya (Yoh. 3).
    Yang menjadi masalah terbesar dalam hidup sekarang ini adalah bagaimana kita dapat menerjemahkan iman dalam kehidupan bukan dalam pengakuan iman melalui acara liturgi yang menjadi bagian suatu ritual seperti yang dilakukan dalam agama-agama pada umumnya. Sesungguhnya, seluruh gerak hidup orang percaya adalah kebaktian dan penyembahan kepada Tuhan. Di dalam kehidupan setiap hari orang percaya, terdapat irama memuji dan menyembah Tuhan. Dalam Roma 12:1-2 sebenarnya sudah jelas tertulis bagaimana seharusnya menerjemahkan iman yang benar dalam kehidupan ini. Banyak orang yang ibadahnya masih dalam wujud ritual atau upacara. Liturgi orang percaya sesungguhnya adalah seluruh hidup ini. Ini berarti seluruh hidup orang percaya telah dimiliki Tuhan. Pengakuan ini ditandai dengan kesediaannya untuk tidak mencari penghormatan apa pun dari dunia ini. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia (Rm. 11:36). Kalau hidup orang percaya dimiliki Tuhan, tidak ada pujian dan sanjungan yang layak diterima untuk dirinya sendiri. Semuanya harus dikembalikan kepada Tuhan. Hal ini berbicara soal sikap hati. Oleh karena itu, yang penting adalah bagaimana hati anak- anak Allah memberi penghormatan kepada Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
    Selanjutnya, seluruh gerak orang percaya adalah pengabdian kepada Allah. Ia bersedia menggunakan hidup ini untuk melayani Tuhan, untuk kesenangan hati-Nya. Inilah yang dikatakan Paulus bahwa apa pun yang dilakukan anak-anak Allah harus benar-benar memuliakan Tuhan (1Kor 10:31). Dan sejatinya, ini adalah irama hidup yang benar, di mana seluruh hidupnya adalah irama menyembah Tuhan (Luk. 4:8). Dalam Alkitab, kita dapat menemukan bagaimana Tuhan mengecam adanya kesalehan palsu dalam kehidupan umat Tuhan (Yes. 58:1-12). Kebenaran firman ini merupakan tamparan keras bagi banyak orang beragama yang tampak saleh dan bagi beragama, tetapi ternyata, kesalehannya palsu. Segala yang palsu tidak akan diterima Allah. Segala sesuatu yang palsu bukan berasal dari Allah, melainkan dari Iblis (Yoh. 8:44). Orang percaya harus memiliki hati nurani yang ber...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…