Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Supaya Menjadi Anak Allah
    Dalam Efesus 1:5 jelas sekali dikatakan bahwa Allah menentukan supaya orang-orang pilihan-Nya menjadi “anak-anak Allah.” Menjadi anak-anak Allah bukan sekadar sebutan, tetapi benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dalam Roma 8:4 menyatakan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Dalam hal ini seseorang dapat dikatakan sebagai anak Allah, bukan karena sekadar menjadi orang Kristen, aktivis gereja, majelis atau pendeta, tetapi karena dipimpin oleh Roh Kudus. Jadi kalau dikatakan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, artinya bukan saja bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, tetapi juga bahwa keselamatan hanya melalui atau oleh korban Tuhan Yesus atas orang yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.
     
    Dalam Roma 8:14 Firman Tuhan menunjukkan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Kualifikasi ini tidak bisa digantikan dengan yang lain. Orang yang hidup dalam pimpinan Roh Allah adalah orang-orang yang berpotensi untuk dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan demikian hanya orang percaya yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus yang dimungkinkan menjadi anak-anak Allah. Hasil atau buah, atau akibat dari hidup yang dipimpin Roh Kudus adalah orang percaya menemukan roh dalam arti menemukan gairah, spirit atau hasrat yang sama dengan Kristus. Jika orang percaya hidup menurut roh tersebut, maka barulah dapat dikatakan sebagai anak-anak Allah yang sah (Yun. Huios). Inilah fasilitas keselamatan, agar orang percaya dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Orang yang selalu hidup menurut roh akan menyatu dengan roh tersebut, gairah hidup lamanya digantikan dengan gairah hidup menurut roh tersebut. Sehingga secara permanen hidup orang percaya tersebut berubah total.
     
    Dalam hal ini jelas sekali bahwa seseorang dapat menjadi anak Allah yang benar atau sah, tergantung masing-masing individu. Jika seorang Kristen masih memiliki tanda-tanda orang yang hidup “menurut daging,” maka jelas ia bukan anak Allah. Ia bisa merasa sebagai anak Allah, tetapi Tuhan tidak akan mengakuinya (Mat. 7:21-23). Tuhan menyediakan fasilitas pimpinan Roh Kudus yang menghasilkan roh yang sesuai dengan Dia, agar orang percaya hidup menurut roh tersebut, tetapi apakah seseorang memberi atau menyediakan diri hidup menurut roh atau menurut daging tergantung masing-masing individu. Dalam hal ini, Tuhan memberi kebebasan kepada masing-masing individu. Hanya orang yang menurut kepada roh yang dapat melakukan kehendak Bapa. Dengan demikian keselamatan bukan ditentukan secara sepihak oleh Allah, tetapi diperankan juga oleh perjuangan masing-masing individu.
     
    Hidup menurut roh artinya segala sesuatu yang dilakukan hanya sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tentu saja orang-orang yang hidup menurut roh tidak lagi hidup menuruti keinginannya sendiri. Tetapi mengarahkan diri kepada kehendak dan rencana Bapa serta memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Surga. Jika orang percaya bisa melakukan hal ini, betapa hebat kualitas hidup yang dimilikinya. Hal inilah yang mengesahkan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah. Dalam hal ini seseorang yang menyebut Allah sebagai Bapa haruslah memiliki kualitas yang sangat luar biasa. Dengan demikian apakah seseorang nanti akan diterima di dalam keluarga Kerajaan atau tidak, sudah nampak dari perilakunya sekarang di bumi ini.
     
    Oleh sebab itu harus diingat bahwa menjadi orang percaya berarti berhutang untuk hidup menurut roh, bukan menurut daging, artinya menjadi orang percaya harus tidak lagi hidup seperti anak-anak dunia atau seperti sebelum dirinya bertobat. Menurut daging artinya menuruti diri sendiri atau hidup dalam kewajaran manusia lain hidup. Mereka yang memikirkan hal-hal dari daging atau dunia ini, menjalankan hidupnya hanya untuk mencari dan menikmati dunia ini dengan segala hiburannya.
    0 min
  • Pengertian Efesus 2:1
    Terkait dengan pemilihan, penentuan, dan penetapan keselamatan atas manusia, penting untuk memahami tulisan Paulus dalam Efesus 2:1 – “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Kata penting yang menjadi pokok masalahnya adalah terdapat pada kata “mati.” Kata “mati” di ayat ini dipahami oleh sebagian orang Kristen sebagai keadaan di mana manusia tidak mampu sama sekali meresponi anugerah keselamatan. Sehingga menurut mereka, harus ada campur tangan Tuhan secara sepihak untuk “menghidupkan” manusia atau menyelamatkannya. Tanpa intervensi Tuhan secara sepihak dan secara penuh maka manusia tidak dapat menerima keselamatan. Hal ini menjadi dasar atau turut mendukung pandangan bahwa Allah memang menetapkan sebagian orang saja untuk selamat. Sejatinya, pandangan ini tidak tepat. Kita harus melihat seluruh konteks perikop di mana ayat ini berada, agar kita dapat menemukan makna orisinal atau makna yang benar dari maksud Paulus menulis pernyataan tersebut.
     
    Dalam Efesus 2:2-3 tertulis: “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini,  karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa,  yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu  kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging  dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.” Mengapa Paulus mengatakan bahwa mereka dahulu dalam keadaan mati? Karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa mereka. Kata “mati” dalam teks aslinya adalah nekros (νεκρός). Kata ini berarti tidak ada unsur kehidupan (Ing. Lifeless). Kata ini juga sering ditujukan untuk kematian secara umum.
     
    Dikatakan dalam ayat berikutnya bahwa mereka hidup di dalamnya, karena mengikuti jalan dunia, menaati penguasa kerajaan angkasa, dan seterusnya. Di dalam tulisan Paulus ini menunjukkan bahwa mereka dikatakan “mati” karena mereka tidak hidup di dalam kebenaran Tuhan. Tidak disebutkan di sini bahwa keadaan “mati” mereka terkait dengan keberdosaan nenek moyang atau dosa orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan mati atau “keadaan tidak ada kehidupan” tersebut disebabkan oleh pilihan mereka sendiri untuk tidak hidup di jalan Tuhan.
     
    Penjelasan di atas ini seakan-akan menggiring pemikiran kita kepada kebenaran bahwa keadaan mati mereka disebabkan oleh perilaku mereka sendiri, bukan karena faktor lain. Walaupun tentu saja keadaan manusia seperti itu juga karena semua manusia yang dilahirkan oleh keturunan Adam dan Hawa yang pasti mewarisi kodrat dosa. Maksud kodrat dosa di sini adalah bahwa keadaan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah tidak bisa mencapai kesucian Allah atau menjadi manusia sesuai dengan maksud manusia diciptakan oleh Allah. Keadaan ini bukan berarti manusia menjadi bejat total sehingga tidak dapat memiliki kebaikan sama sekali. Tetapi manusia tidak dapat mencapai kesucian Allah.
     
    Banyak teolog yang menyatakan bahwa kebaikan atau kesalehan manusia seperti kain kotor. Mereka mengambil dasar pernyataan tersebut dari Yesaya 64:6, kemudian mengenakannya secara umum. Yesaya 64:4 hanya ditujukan kepada masyarakat Israel yang rusak pada zaman Yesaya. Hal ini tidak dapat dan memang tidak boleh dikenakan kepada semua manusia. Di Perjanjian Lama terdapat orang-orang yang dicatat sebagai orang-orang yang baik, menjauhi kejahatan; seperti Nuh, Lot, Abraham, Yusuf, Samuel, dan lain sebagainya.
     
    Manusia dalam keberadaannya yang telah kehilangan kemuliaan Allah, sesungguhnya masih memiliki kebaikan manusia. Tetapi kebaikan manusia bukanlah standar yang dikehendaki oleh Allah, sebaik bagaimanapun manusia itu. Dikatakan “mati” berarti manusia tidak mampu memiliki kemuliaan Allah, Paulus sendiri yang menyatakan bahwa ditinjau dari Taurat dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6),
    0 min
  • Peran Manusia Dalam Keselamatan
    Pernyataan bahwa Tuhan memilih dan menentukan keselamatan manusia disampaikan Paulus kepada jemaat Efesus secara komunitas atau kelompok, bukan kepada perorangan (Ef. 1:4-5). Pemilihan ini adalah pemilihan dan penentuan secara komunitas. Demikianlah kebenaran Alkitab yang kita percayai, bahwa dari semua aliran kepercayaan dan agama, hanya gereja Tuhan yang akan menjadi mempelai-Nya. Hanya gereja Tuhan yang dipilih dan ditentukan untuk selamat masuk kemuliaan-Nya. Pertimbangan ini perlu dikemukakan agar kita tidak dengan gegabah menyatakan bahwa Tuhan secara diskriminatif memilih dan menentukan seseorang secara individu untuk pasti selamat masuk surga dan menentukan atau membiarkan yang lain binasa.
     
    Dalam Wahyu 2:1-7, Yohanes di Pulau Patmos diperintahkan Tuhan menulis “surat Tuhan” kepada jemaat Efesus. Dalam suratnya termuat kenyataan yang tidak bisa dibantah bahwa di tengah-tengah jemaat tersebut terdapat pendusta-pendusta yang tentu bukan jemaat yang pantas untuk menerima keselamatan. Di sisi lain ternyata jemaat Efesus dinilai Tuhan telah meninggalkan kasih yang mula-mula. Tuhan memandang betapa dalamnya mereka telah jatuh, mereka harus bertobat. Jika tidak, Tuhan mengancam akan mengangkat kaki dian-Nya dari antara mereka.
     
    Dengan penjelasan di atas ini, cukuplah untuk menunjukkan bahwa respon manusia juga diperlukan untuk meraih keselamatan. Dipandang dari sudut manusia, keselamatan perorangan bukanlah dekret (keputusan) mutlak yang telah ditentukan oleh Tuhan. Mari kita renungkan, apakah dalam penginjilan seseorang cukup berkata: “Bersiaplah bagi Anda yang dipilih dan ditentukan untuk selamat. Bersyukurlah kepada Tuhan Yesus karena Anda diberi anugerah iman.” Di sini iman dipahami sebagai suatu dorongan untuk percaya kepada Tuhan, yang diberikan secara misteri dan mistis, tiba-tiba “duaaar” muncul di hati. Seperti membalik tangan dalam hitungan detik. Ajaib. Ini pandangan yang picik dan tidak tepat. Percaya itu bukan sekadar pengaminan akali, tetapi tindakan konkret. Iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh.
     
    Sejatinya, Injil diberitakan kepada semua orang, dan respon orang yang mendengar Injil akan menunjukkan kesungguhannya memberi diri untuk diselamatkan. Respon itu bukan hanya ketika mendengar khotbah, tetapi respon setiap hari terhadap Firman Tuhan dan kesediaan mengikuti jejak-Nya. Dengan menolak memberi respon yang benar, seseorang harus bertanggung jawab atas penolakannya itu. Setelah mendengar Firman Tuhan dan benar-benar mengerti, maka bagi mereka yang percaya dengan benar, bisa dikatakan bahwa mereka terpilih seperti yang dikatakan di dalam Kisah Rasul 13:48, “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Harus diperhatikan bahwa orang yang percaya yang dikisahkan dalam Kisah Rasul 13 ini sebelumnya memang sudah mendengar Firman Tuhan secara memadai. Paling tidak sebagian mereka sudah mengenal Allah atau belajar kebenaran. Bukan orang yang “nol” sama sekali tidak mengerti hal Tuhan dan keselamatan. Hanya orang yang tidak waras yang mudah mengatakan kepada orang lain: “Aku percaya kepadamu. Aku ikut saja apa yang kau inginkan.”
     
    Dalam Kisah Rasul 13:43 tertulis: “Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.” Sebelum Paulus mengajar pun sebenarnya mereka sudah terbiasa belajar mengenal Allah. Jadi, hendaknya kita tidak berasumsi bahwa mereka mendengar khotbah sekali lalu diselamatkan. Belum tentu. Mereka harus memiliki pengertian yang benar mengenai keselamatan agar memiliki respon yang benar pula.
     
    Bagaimana orang bisa dikatakan percaya tanpa mengenal siapa yang dipercayai dan apa isi percayany...
    0 min
  • Maksud Mengerjakan Keselamatan
    Dalam Filipi 2:12, Paulus mengemukakan kebenaran bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Dengan takut dan gentar menunjukkan pergumulan yang tidak ringan. Bila direlasikan dengan ayat sebelumnya (Flp. 2:5-7), mengerjakan keselamatan berarti panggilan untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Jadi, keselamatan adalah usaha untuk menjadi manusia yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Tuhan Yesus Kristuslah model manusia yang dikehendaki oleh Bapa. Itulah sebabnya orang percaya disebut sebagai Kristen, yang artinya “seperti Kristus”. Orang Kristen yang tidak semakin seperti Kristus adalah palsu.
     
    Perjuangan untuk mencapai keberadaan serupa dengan Yesus -yaitu iman yang sempurna atau ketaatan yang penuh kepada Bapa- ini dianalogikan dengan perjuangan Tuhan Yesus dalam menyelesaikan tugas kemesiasan-Nya (Ibr. 12:2-4). Dalam kitab Ibrani dikatakan: “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah” (Ibr. 12:3-4). Nasihat ini menunjukkan bahwa kalau Tuhan Yesus sudah bergumul begitu berat untuk manusia agar bisa dibebaskan dari kuasa dosa, maka orang percaya harus mengimbangi perjuangan Tuhan tersebut dengan perjuangan yang benar agar sungguh-sungguh bisa dimerdekakan dari dosa, artinya agar dosa tidak lagi berkuasa atas kehidupan orang percaya.
     
    Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki moral atau kesucian Allah sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas bahwa kita harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Orang Kristen yang tidak menujukan hidupnya pada tujuan keselamatan ini berarti ia tidak bersedia diselamatkan atau menyia-nyiakan keselamatan yang Tuhan sediakan (Ibr. 2:1-3). Iblis berusaha menyibukkan manusia -juga banyak orang Kristen- dengan berbagai kesenangan dan hiburan dunia, sehingga mereka terperangkap oleh percintaan dunia atau semangat materialisme. Sebagai akibatnya mereka tidak memberi perhatian yang semestinya pada proses keselamatan yang harus diperjuangkan. Dengan sembarangan mereka menggunakan waktu, sehingga mereka tidak mengalami pertumbuhan kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.
     
    Orang percaya harus berjuang untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah standar kesucian Allah. Sayang dan malang sekali, banyak orang Kristen tidak memahami hal ini dengan benar. Mereka sudah merasa puas dengan keberadaan moral yang mereka miliki dan tidak berusaha keluar dari standar yang ada. Malahan tidak sedikit orang Kristen yang moral umumnya saja tidak lebih baik dari orang non-Kristen, tetapi jiwanya tidak merasa terganggu. Salah satu penyebab keadaan ini adalah pemahaman yang tidak tepat mengenai ayat Efesus 2:8-9 bahwa keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus diperoleh bukan karena berbuat baik.
     
    Mereka juga berpikir bahwa kalau sudah menjadi orang yang dipilih oleh Allah, bagaimanapun akhirnya akan selamat, sedangkan mereka tidak memahami apa maksud atau isi keselamatan itu. Mereka hanya berpikir bahwa pada intinya bahwa selamat itu artinya terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Mereka juga belum memahami apa surga itu. Mereka hanya berpikir bahwa surga tempat yang nyaman di mana orang hanya bernyanyi-nyanyi memuji Tuhan dan menyembah Dia. Tidak heran kalau mereka tidak memiliki ketegangan dalam perjuangan untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
     
    Ternyata kata “pikiran” dalam Filipi 2:5 dalam teks aslinya bukan kata benda tetapi bentuk perintah (imperative), yaitu phroneisto (φρονείσθω). Dalam Bahasa Yunani kata ini memiliki kasus imperative present passive third person singular dari akar kata phroneo (φρονέω)....
    0 min
  • Pengertian Percaya
    Salah satu penyebab mengapa orang berpandangan bahwa Allah memilih dan menentukan sebagian orang selamat adalah karena mereka tidak memahami pengertian percaya dengan benar. Di antara mereka ada yang berpandangan bahwa seseorang bisa percaya pun karena Allah yang menggerakkannya atau menaruh percaya di dalam diri orang yang terpilih dan ditetapkan untuk pasti selamat masuk surga. Pandangan ini salah. Untuk itu kita harus memahami dengan benar pengertian percaya itu. Dalam bahasa Ibrani, kata “percaya” atau “iman” adalah aman (אָמַן). Kata “iman” dalam bahasa Yunani terjemahan dari pistis (πίστις), yang artinya kepercayaan atau penyerahan diri kepada seseorang. Kata kerja dari pistis adalah pisteuo (πιστεύω), yang mempunyai pengertian “percaya kepada, memercayakan diri atau menyerahkan diri kepada suatu obyek,” dalam hal ini tentu Tuhan. Membahas mengenai iman atau percaya yang bertalian dengan keselamatan, bisa dilihat dari tiga dimensi.
     
    Dimensi pertama adalah keyakinan terhadap karya Kristus yang telah selesai sempurna dua ribu tahun yang lalu. Iman seperti ini disebut sebagai pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Dalam hal ini pikiran setuju dan memercayai fakta sejarah Anak Allah yang berinkarnasi menjadi daging, mati di kayu salib untuk memikul dosa manusia. Pikiran setuju dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Percaya dimensi pertama ini mutlak penting, sebab percaya ini adalah pintu gerbang untuk memiliki percaya yang penuh. Tanpa pengaminan akali ini seseorang tidak akan pernah memiliki keselamatan. Tetapi pengaminan akali belumlah cukup. Banyak orang Kristen memiliki percaya hanya sampai di tatanan ini, tetapi merasa sudah percaya dengan benar dan meyakini dirinya sudah selamat.
     
    Penerimaan dan keyakinan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat barulah sebuah awal perjalanan hidup Kekristenan. Orang Kristen seperti ini baru dengan mulut mengaku, tetapi hati belum percaya. Hati yang percaya dapat dibuktikan dalam perbuatan. Iman atau percaya kepada Tuhan dalam hati, harus diaplikasikan secara konkret dalam tindakan. Itulah sebabnya surat Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:17-26). Iman dimensi pertama ini harus disempurnakan dalam perbuatan. Abraham adalah bapa orang beriman. Imannya ditunjukkan dengan ketaatannya terhadap kehendak Allah, walaupun untuk hal-hal yang sangat tidak masuk akal; seperti meninggalkan Ur-Kasdim untuk menemukan negeri yang dijanjikan Tuhan, menyembelih anak kandungnya sebagai korban bakaran, dan lain sebagainya. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah, bukan sekadar aktivitas pikiran. Oleh sebab itu kita harus melihat percaya dalam dimensi kedua.
     
    Dimensi kedua, iman adalah kesediaan untuk berusaha mengenal Pribadi Allah, mencari kehendak-Nya dan melakukannya, serta mengerti rencana-rencana Allah dalam hidup ini untuk dipenuhi. Dalam hal ini percaya seseorang bukan hanya di dalam pikiran, tetapi sudah diterjemahkan dalam tindakan nyata. Inilah iman yang dimiliki atau diperagakan oleh Abraham. Iman seperti inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam surat pastoralnya, bahwa orang percaya dibenarkan bukan oleh perbuatan tetapi oleh iman. Ini berarti seseorang dapat dibenarkan bukan hanya memiliki iman dimensi pertama -yaitu pengaminan akali- tetapi melalui proses pertumbuhan pendewasaan sampai seseorang melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Percaya dimensi kedua ini adalah tindakan mengerjakan keselamatan dalam takut dan gentar, sehingga terjadi atau berlangsung perubahan menuju mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, sesuai dengan rancangan Allah semula.
     
    Dalam memahami kata percaya atau iman dengan tepat menurut Alkitab, perlu diperhatikan bukan saja aspek persetujuan pikiran atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan.
    0 min
  • Allah Dan Manusia Berkolaborasi
    Pikiran kita harus dijauhkan dari pengertian bahwa secara sepihak Allah menentukan atau menetapkan seseorang pasti selamat masuk surga. Dengan penentuan seperti ini, orang percaya tidak akan pernah memenuhi tanggung jawab dan panggilan hidupnya. Sebab kalau Allah sudah menetapkan atau menentukan kepastian keselamatan seseorang, sangat tidak mungkin seseorang memiliki perjuangan untuk mengalami dan memiliki keselamatannya secara proporsional. Padahal untuk mengalami dan memiliki keselamatan, seseorang harus melepaskan segala sesuatu, sebab seseorang tidak akan memiliki Kristus tanpa melepaskan segala sesuatu (Flp. 3:7-9; Luk. 14:33). Melepaskan segala sesuatu menunjukkan perjuangan tanpa batas.
     
    Untuk mewujudkan keselamatan atas manusia, Allah memberikan kuasa kepada mereka yang menerima-Nya, supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kata “kuasa” dalam teks ini adalah exousia (ἐξουσία), yang lebih tepat atau lebih dekat artinya bila diterjemahkan “hak” (Ing. right) atau sebuah hak istimewa (Ing. Privilege). Isi kuasa itu antara lain: Pertama adalah penebusan. Dengan penebusan tersebut seseorang dapat menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Kedua adalah Roh Kudus. Roh Kudus adalah satu-satunya Pribadi utusan Bapa yang menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah (Yoh. 16:13). Dengan demikian manusia dapat melakukan segala sesuatu tepat seperti yang dikehendaki oleh Bapa. Tanpa Roh Kudus keselamatan tidak akan terwujud dalam kehidupan manusia. Ketiga adalah Injil. Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Iman yang merupakan landasan keselamatan timbul dari mendengar Firman Kristus. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rm. 10:17), dan Firman Kristus itulah Injil. Jadi sangat jelas dan harus ditegaskan bahwa Injil adalah sarana keselamatan (Rm. 1:16-17). Keempat adalah penggarapan Allah. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm. 8:28).
     
    Keselamatan diterima manusia bukan secara otomatis, tetapi menuntut respon yang aktif dan proporsional. Hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung dengan mudah. Harus ada kolaborasi antara Allah yang diwakili Roh Kudus dengan masing-masing individu. Kolaborasi ini tidak akan merusak prinsip only by grace. Keselamatan dimulai dari inisiatif Allah memberikan Putra Tunggal-Nya. Tanpa karya salib Putra Tunggal Bapa, tidak akan ada keselamatan sama sekali, bukan hanya tidak ada kesempatan masuk surga, tetapi juga tidak ada kemungkinan manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Setelah Allah menyediakan jalan pendamaian, Allah memberikan Injil dan Roh Kudus, kemudian Allah menggarap orang percaya dalam perjalanan waktu melalui segala peristiwa dan keadaan, hanya bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm. 8:28-29). Di sini orang-orang yang mengasihi Allah -artinya mereka yang bersedia memberikan dirinya diselamatkan- harus berjuang untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula.
     
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk selamat seseorang harus berjuang masuk jalan sempit (Luk. 13:3-24). Perjuangan melawan kodrat dosa (sinful nature) yang sudah melekat dalam dirinya dan kemungkinan dosa yang masih bisa dilakukan di waktu mendatang. Keberhasilan lolos dari kodrat dosa ini membuat seseorang menjadi manusia Allah (man of God). Tujuan keselamatan adalah menjadikan manusia yang berkodrat dosa menjadi “man of God.” Perjuangan untuk menjadi “man of God” seperti yang telah diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus adalah perjuangan yang berat, yang harus mengerahkan segenap hidup ini. Perjuangan ini tidaklah diperhitungkan sebagai jasa, seakan-akan keselamatan manusia adalah hasil dari perbuatan baiknya. Perjuangan adalah respon terhadap anugerah yang Tuhan berikan. Tanpa salib, perjuangan sehebat apa pun dari manusia akan menjadi sia-sia belaka.
     
    Dari pihak manusia,
    0 min
  • Pengertian Keselamatan
    Biasanya orang yang berpandangan bahwa Allah memilih dan menentukan atau menetapkan secara sepihak mengenai keselamatan seseorang, mereka memandang keselamatan secara dangkal, tidak tepat, atau tidak utuh. Ketika seseorang merumuskan keselamatan secara salah, maka Kekristenannya pun juga salah. Kekristenannya menjadi tidak atau kurang berkualitas, sebab pasti tidak sampai kepada tujuan keselamatan itu. Oleh mereka, keselamatan hanya dipahami sekadar terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Dengan pengertian yang dangkal ini banyak orang Kristen merasa cukup berbekal “percaya saja bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat” maka nanti kalau mati bisa masuk surga. Ditambah lagi dengan pemahaman keliru akan pengertian sola gratia (hanya oleh anugerah) dan sola fide (hanya oleh iman) membuat mereka terjebak dalam pasivitas rohani yang tidak membawa mereka kepada pengalaman keselamatan yang sejati. Mereka tidak memahami bahwa keselamatan adalah perjuangan yang menyita seluruh kehidupan.
     
    Prinsip sola gratia atau hanya oleh anugerah, bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan, sudah dipahami secara tidak tepat. Memang keselamatan hanya di dalam Yesus dan oleh anugerah-Nya. Tetapi isi anugerah-Nya adalah manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula agar menjadi kudus seperti Allah yang kudus, mengenakan kodrat Ilahi, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Untuk ini harus ada usaha individu untuk mencapai hal tersebut. Anugerah salib Kristus memperdamaikan kita dengan Allah (Ho Theos atau Bapa). Dengan pendamaian tersebut kita dapat diterima oleh Bapa tanpa mempersoalkan keadaan “keberdosaan” kita. Bapa memberikan Roh Kudus untuk menuntun kita kepada seluruh kebenaran dengan sarana Injil (Rm. 1:16-17), dan melalui semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini (Rm. 8:28-29). Untuk ini kita harus memahami keselamatan dari tiga dimensi.
     
    Dimensi pertama dari keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari sudut masa lalu (past tense). Keselamatan yang ditinjau dari masa lalu adalah memandang karya atau pekerjaan keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu sebagai telah selesai atau sudah genap (Ibr. 2:1-3). Tuhan Yesus mati untuk semua manusia, dari manusia pertama Adam sampai manusia terakhir nanti (Yoh. 1:29). Tuhan Yesus telah menyelesaikan tugas penyelamatan itu sehingga tidak perlu lagi usaha untuk melengkapi karya Tuhan Yesus yang sudah sempurna tersebut. Ini adalah harga mati, bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus (Kis. 4:12). Banyak orang Kristen hanya berhenti sampai di dimensi ini, mereka merasa sudah ditentukan selamat oleh korban Yesus tersebut.
     
    Dimensi kedua dari keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari masa sekarang atau kekinian (present). Keselamatan yang ditinjau dari masa sekarang adalah pergumulan orang percaya dalam merespon keselamatan. Inilah pergumulan untuk menjalankan hidup baru yang Tuhan berikan. Orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Mengerjakan keselamatan adalah belajar bertumbuh mengenakan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Jelas sekali bahwa keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya dan manusia harus meresponnya dengan respon yang benar. Tanpa respon yang benar berarti tidak beriman dengan benar. Iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:20-26).
     
    Keselamatan harus dikerjakan supaya keselamatan menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:9-11; 2Ptr. 1:10-11). Menjadi milik yang pasti atau memiliki hak penuh masuk Kerajaan Surga artinya kalau seseorang menyambut keselamatan dengan sikap yang benar, maka tidak mungkin ia sampai binasa. Di sini barulah berlaku pernyataan “sekali selamat tetap selamat.” Status “sekali selamat tetap selamat” tidak bisa dikenakan kepada semua orang Kristen, tetapi untuk mereka yang bertumbuh dalam kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus; melakukan kehendak Bapa.
    0 min
  • Penggalian Alkitab Terus Menerus
    Bagi individu atau sebuah komunitas yang meyakini bahwa Allah memang menentukan adanya orang-orang yang dikasihi dan yang tidak dikasihi, akan memberi keyakinan kepada individu atau komunitas tersebut bahwa mereka sudah pasti selamat. Kalau dipertanyakan apa alasan mereka dipilih untuk masuk surga? Biasanya jawabnya adalah karena “kasih karunia.” Hal ini dikarenakan mereka merasa telah memiliki kasih karunia tersebut, sedangkan yang lain tidak diberi kasih karunia. Menurut individu atau komunitas ini, orang-orang tersebut sudah ditetapkan untuk tidak bisa menerima kasih karunia dari Tuhan. Individu atau komunitas seperti ini adalah orang-orang yang tidak memikirkan keselamatan orang lain secara proporsional. Mereka membiasakan diri merasakan apa yang diyakini, bukan apa yang dialami.
     
    Teologi seperti di atas tidak memiliki implikasi yang wajar. Tidak heran kalau teologi mereka lebih kepada aktivitas dalam pikiran, tetapi tidak dalam pengalaman konkret. Untuk itu teologi mereka lebih bersifat falsafi untuk memuaskan pikiran saja. Pada umumnya penganut ajaran ini, akan menerima saja “kedaulatan Allah” tersebut. Mereka merasa lebih menghormati Tuhan dengan menerima “kedaulatan Allah.” Padahal sejujurnya, malah sebaliknya, mereka tidak menerima kedaulatan Allah yang memberi kehendak bebas kepada manusia. Menganalisa “tindakan Tuhan memilih dan menentukan” mereka yang akan selamat bukan sesuatu yang sederhana dan tidak boleh disederhanakan (Ef. 1:4-5). Efesus 1:4-5 dan ayat-ayat lain yang isinya sejajar dengan ini, secara hurufiah dan dalam pengertian yang sempit, mengesankan bahwa Tuhan telah menentukan siapa yang akan selamat, yang berarti juga menentukan atau membiarkan mereka yang akan binasa di api kekal. Pandangan ini telah mengakar di pikiran sebagian orang Kristen dan diakui dapat mewakili kebenaran Alkitab yang murni.
     
    Hendaknya kita berpikir secara mendalam dan jujur terhadap teks-teks semacam itu supaya kita tidak terjebak pada usaha memformulasikan teks alkitab secara gegabah. Jangan dibelenggu dengan konsep doktrin yang sudah ada, siapa pun perumusnya, seakan-akan konsep tersebut sejajar atau berkekuatan setara dengan Firman Tuhan. Bila ada usaha untuk mengoreksi atau merevisi pandangan yang sudah ada tersebut, hendaknya tidak disikapi sebagai pandangan yang dangkal, tidak berpengetahuan teologi yang eksklusif serta dianggap sebagai tinjauan yang tidak berdasarkan Alkitab. Padahal Tuhan akan terus membuka rahasia-rahasia Firman Tuhan lebih dalam dan tajam, seiring dengan perkembangan iptek yang mengagumkan. Kalau sudah lebih dulu bersikap apriori terhadap pandangan baru yang muncul, maka individu atau komunitas tertentu itu tidak akan bisa bersikap obyektif. Cenderung menjadi resisten, arogan, dan picik. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah menemukan inovasi-inovasi yang akan Tuhan bukakan bagi jemaat-Nya di zamannya.
     
    Alkitab harus diletakkan di atas dogma atau doktrin dan ajaran manapun, juga di atas pandangan teolog manapun. Observasi dan eksplorasi terhadap Alkitab tidak akan dan tidak boleh berhenti. Itu adalah tanggung jawab setiap orang percaya sampai Tuhan datang kembali. Harus selalu ada usaha untuk memeriksa kembali apakah pandangan yang selama ini dianggap Alkitabiah benar-benar Alkitabiah atau tidak. Fakta empiris dalam sejarah gereja membuktikan, bahwa gereja-gereja dan ajaran-ajaran yang berumur ratusan tahun ternyata memuat ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang murni. Untuk itu sebagai gereja dan orang percaya kita harus bersedia dikoreksi. Jangan merasa bangga dan puas dengan pandangan teologi yang sudah ada seolah-olah kebenaran Firman Tuhan sudah termargin dan orang Kristen hanya bisa mewarisi dan melestarikan tanpa sikap kritis. Mereka membela buta ajaran yang diyakini benar, karena tidak mau dianggap sebagai orang bodoh atau berkhianat terhadap seorang tokoh teolog atau denominasi gereja.
     
    0 min
  • Memenuhi Persyaratan
    Ada pandangan teologi yang berpendapat bahwa manusia ditempatkan Tuhan pada posisi di mana manusia tidak dapat menolak anugerah Tuhan. Tentu konsep ini membangkitkan ucapan syukur bagi orang-orang yang ditentukan selamat. Dengan konsep ini berarti pula bahwa ada manusia juga ditempatkan Tuhan pada posisi tidak dapat menolak hukuman Tuhan. Pandangan ini bisa membangkitkan kemarahan dan sikap mempersalahkan Tuhan bagi mereka yang terhukum. Dari hal ini timbul pertanyaan mengapa Tuhan menciptakan manusia untuk dibinasakan dan disiksa dalam siksaan abadi? Tentu saja konsep bahwa Allah menentukan sebagian orang pasti selamat masuk surga adalah pengajaran yang tidak benar. Ini adalah pandangan yang fatalistik yang tidak rasional. Konsep ini menggiring pemikiran takdir mati atas semua ciptaan-Nya. Takdir mati artinya, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan telah ditentukan mutlak oleh Tuhan secara sepihak dalam kedaulatan-Nya.
     
    Dalam konsep di atas tersebut, manusia hanya menerima apa yang disediakan sebelumnya dan menerimanya tanpa bisa mengelak. Dalam hal ini Tuhan digambarkan sebagai pembuat skenario dari segala sesuatu yang terjadi atau berlangsung dalam kehidupan manusia, termasuk di dalamnya bencana, kejahatan, dan puncaknya adalah neraka abadi bagi yang ditentukan untuk binasa. Pandangan ini mengindikasi seakan-akan Tuhan terlibat di dalam semua kejadian dan mengerjakan semuanya. Tentu saja dengan demikian manusia bisa ditempatkan pada posisi tidak perlu bertanggung jawab. Konsep takdir agama non-Kristen pada umumnya mendekati konsep ini, dimana manusia tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang bukan dilakukannya atau disebabkannya. Oleh sebab itu tidak adil kalau manusia harus bertanggung jawab atas apa yang tidak disebabkannya atau bukan karena perbuatannya sendiri.
     
    Untuk memecahkan hal ini, mari kita memperhatikan Matius 22:1-14. Orang tidak akan bisa menerima Tuhan Yesus, bila mereka tidak menerima perkataan-Nya. Justru penerimaan kepada Tuhan Yesus harus ditunjukkan dengan menerima perkataan-Nya. Menerima perkataan-Nya berarti juga mau belajar mengerti Firman-Nya dan terus menerus belajar untuk melakukannya. Mengerti dan melakukan Firman-Nya akan membuat seseorang menjadi manusia unggul. Inilah manusia yang terpilih. Dalam kisah Matius 22:1-14 tersebut dikatakan bahwa mereka yang memakai pakaian pesta adalah mereka yang hidup tidak bercela di hadapan-Nya atau menjadi manusia seperti rancangan semula Bapa.
     
    Dalam Matius 22:1-14, Tuhan digambarkan sebagai seorang raja yang mengadakan pesta, yang mengundang tamu-tamu istimewa untuk menikmati jamuannya. Tetapi tamu-tamu istimewa yang diundangnya tidak datang. Kemudian raja itu memerintahkan untuk mengundang siapa saja yang bisa dijumpai, maka banyaklah tamu-tamu undangan dalam pestanya. Tetapi ketika raja itu menjumpai seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta, raja itu mengusir tamu tersebut dan menghukumnya. Tuhan memanggil orang-orang untuk menjadi manusia pilihan-Nya. Tetapi apakah orang-orang yang dipanggil tersebut mau menjadi manusia pilihan serta menanggapi panggilan tersebut dengan benar atau tidak, tergantung dari individu itu masing-masing.
     
    Dengan demikian, jelaslah bahwa untuk menjadi manusia pilihan seseorang harus memenuhi persyaratan. Persyaratan tersebut tidak boleh dianggap sebagai jasa seolah-olah manusia layak menjadi manusia pilihan secara otomatis tanpa anugerah penebusan darah Tuhan Yesus Kristus. Persyaratan tersebut adalah respon yang memuat penghargaan terhadap anugerah yang Tuhan sediakan bagi manusia yang mau atau memberi diri untuk dicintai-Nya. Kata “persyaratan” sebenarnya kurang tepat ditempatkan dalam konteks ini, tetapi sulit menemukan kata lain. Persyaratan ini mengesankan adanya keharusan yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Hendaknya persyaratan ini tidak dipahami sebagai pintu gerbang memperoleh keselamatan.
    0 min
  • Tuhan Tidak Menetapkan
    Apakahbenar kalau Allah memilih seseorang untuk pasti selamat masuk surga, maka ia tidak bisa menolak? Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan ini, marilah dengan teliti dan jujur kita memeriksa Alkitab. Jika pikiran seseorang sudah dikuasai premis tertentu, maka ia tidak akan bisa lagi berpikir obyektif, dan Roh Kudus tidak akan bisa memperbaharui pikirannya secara proporsional. Kalau Tuhan membuat seseorang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka dapat dikatakan bahwa Tuhan juga menentukan orang-orang tertentu untuk tidak bisa menerima anugerah-Nya. Sebab bila kita berbicara mengenai kedaulatan Allah yang membuat orang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka pasti ada juga orang yang berkeadaan sebaliknya.
     
    Tuhan memilih keluarga Lot untuk diselamatkan dari sekian banyak keluarga yang ada di kota Sodom Gomora dan Tuhan pasti menghendaki semua keluarga Lot untuk diselamatkan. Tetapi ternyata istri Lot tidak mematuhi nasihat malaikat agar tidak menoleh ke belakang. Sehingga karya keselamatan Allah atas istri Lot gagal. Mengapa? Apakah karena istri Lot tidak dapat menerima anugerah sementara anggota keluarga yang lain tidak bisa menolak anugerah Tuhan? Dalam percakapan antara Tuhan dan Abraham, mengenai rencana Tuhan membinasakan Sodom dan Gomora, Tuhan tidak menetapkan istri Lot binasa (Kej. 18:16-33). Bahkan malaikat yang diutus Tuhan menyelamatkan Lot dan keluarganya, mendesak Lot untuk mengajak kaumnya yang lain untuk diselamatkan (Kej. 19). Dengan demikian tidak mungkin Tuhan menetapkan istri Lot untuk binasa dan tidak mungkin pula istri Lot dibuat Tuhan untuk tidak bisa menerima anugerah keselamatan sementara anggota keluarga yang lain dibuat tidak bisa menolak anugerah-Nya.
     
    Fakta ini penting bagi orang percaya di zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memunculkan fakta ini dalam pengajaran-Nya (Luk. 17:32). Mengapa Tuhan Yesus menyebut istri Lot dalam pengajaran-Nya? Kalau kita memperhatikan ayat sebelum dan sesudahnya (Luk. 17:22-37), Tuhan Yesus sedang menunjukkan pola hidup manusia akhir zaman yang tidak memedulikan keselamatan jiwanya: Mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Mereka sibuk sendiri dan tidak memedulikan keselamatan. Seperti zaman Lot, mereka tidak menyadari hujan belerang dan api akan menimpa mereka. Mereka menolak diungsikan, walaupun Lot sudah memberitahu mereka akan datangnya penghukuman itu. Demikian pula dengan manusia hari ini, mereka menolak menerima keselamatan. Ingat! bukan karena dibuat tidak bisa menerima keselamatan atau anugerah, tetapi oleh karena pilihan mereka sendiri.
     
    Hal yang sama juga terjadi pada zaman Nuh. Pada zaman Nuh orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan sampai tidak memedulikan keselamatan. Dalam Alkitab Nuh disebut sebagai pemberita kebenaran (2Ptr. 2:5). Tentu Nuh sudah berusaha mengajak orang-orang untuk ikut “proyek penyelamatan” ini, tetapi ternyata tidak ada yang mau (1Ptr. 3:20). Dikatakan pula dalam 1 Petrus 3:20, bahwa Tuhan dengan sabar menantikan mereka untuk bertobat sementara Nuh membuat bahtera. Bertahun-tahun Nuh memberitakan kebenaran atau seruan pertobatan dan Tuhan dengan sabar menunggu mereka untuk mengubah hati agar ikut proyek keselamatan bersama Nuh, tetapi mereka tetap mengeraskan hati. Sehingga Tuhan membinasakan mereka semua.
     
    Melalui peristiwa Sodom Gomora ini, Tuhan Yesus juga ingin menunjukkan pola hidup manusia akhir zaman seperti juga yang terjadi pada zaman Nuh (Luk. 17:26-27). Di mana orang-orang tidak memedulikan keselamatan jiwanya. Alkitab mencatat bahwa sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera.Nuh memberitakan berita keselamatan, tetapi orang-orang itu menolak. Sementara Tuhan memberi kesempatan mereka untuk bertobat dan diselamatkan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…