Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Analisa Roma 8:28
    Di dalam Roma 8:28-29 terdapat penjelasan penting untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa Allah tidak secara sepihak memilih dan menentukan orang-orang tertentu masuk surga dan yang lain masuk neraka. Roma 8:28-29 tertulis: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”Kesalahan memahami ayat ini bisa membangun teologi yang menyimpang dari kebenaran.
     
    Dengan teliti kita memperhatikan Roma 8:28, yang berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”Dimulai dengan kalimat “kita tahu sekarang.” Kalimat ini menyambung kalimat atau ayat-ayat sebelumnya. Kalimat sebelumnya berbicara mengenai Roh yang memimpin nurani atau cara berpikir kita agar sesuai dengan kehendak Allah. Kalimat “Allah turut bekerja” dalam teks aslinya adalah sunergei (συνεργεῖ), dari akar kata sunergeo (συνεργέω). Kata sunergeo merupakan gabungan dari dua kata, yaitusun dan ergon. Sun artinya bersama-sama, sedangkan ergon artinya bekerja atau melakukan sesuatu berkesinambungan atau terus menerus. Kata sunergei memiliki keterangan waktu verb indicative present active 3rd person singular yang menunjuk kepada kegiatan yang berlangsung terus menerus.
     
    Dari tulisan Paulus ini diperoleh pelajaran rohani bahwa melalui setiap peristiwa atau kejadian, Allah bekerja menggunakan semua hal tersebut untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Dalam hal ini, tidak dapat dibantah bahwa Allah membutuhkan sarana untuk mendewasakan orang percaya. Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa perubahan hidup orang percaya menuju kedewasaan tidak dapat berlangsung dengan mudah atau secara otomatis. Ada perjuangan, baik dari pihak Allah melalui Roh Kudus dan orang percaya yang menerima penggarapan tersebut. Hal ini sangat jelas memberi petunjuk pentingnya respon manusia dalam menyambut anugerah keselamatan yang Tuhan berikan.
     
    Konteks sebenarnya dari Roma 8:28-29 adalah usaha atau sebuah proses dimana Allah memberi “kebaikan” kepada orang-orang percaya yang menjadi umat pilihan. Kata “kebaikan” dalam teks aslinya adalah agathos (ἀγαθός), yang bisa berarti of good constitution or nature(baik dalam arti secara natur atau konstitusi atau secara unsur). Dengan demikian kata “kebaikan” yang dimaksud dalam ayat ini adalah menjadi “menjadi serupa dengan Yesus.” Inilah sesungguhnya inti keselamatan, dimana manusia mengalami pembaharuan hidup sampai pada tingkat mengalami perubahan kodrat. Hal ini lebih dari sekadar perubahan secara moral umum. Tentu saja perubahan ini merupakan proses yang panjang, berat, atau sukar. Untuk ini segenap potensi dan waktu yang dimiliki orang percaya harus hanya diarahkan untuk hal ini sepenuhnya.
     
    Kalimat “yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” bukan berarti mereka ditentukan untuk pasti selamat masuk surga, tetapi menunjuk kepada sekelompok manusia yang diberi kesempatan mendengar Injil. Hal ini tergantung prerogative Allah. Adapun apakah seseorang digarap oleh Allah untuk mengalami perubahan kodrat atau dikembalikan ke rancangan Allah semula tergantung respon masing-masing individu.Respon tersebut ditunjukkan dengan “mengasihi Allah.” Berbicara mengenai “mengasihi” menunjuk sikap hati. Sikap hati adalah bagian terdalam dalam diri manusia yang ada di wilayah kedaulatan manusia itu sendiri. Orang yang tidak mengasihi Allah tidak akan digarap Allah untuk menerima kebaikan, yaitu untuk menjadi serupa dengan Yesus.
     
    0 min
  • Pertimbangan Tuhan
    Sejak dahulu, dalam sejarah gereja abad mula-mula banyak teolog sudah mempersoalkan pernyataan Alkitab mengenai pemilihan dan penentuan Allah (Theos) berkenaan dengan keselamatan yang diterima seseorang. Ayat-ayat tersebut antara lain: Efesus 1:4-5,11; Yohanes 6:37, 39; 15:16; Kisah Rasul 13:48; 2 Tesalonika 2:13; Roma 8:29-30; 9:6-26; dan lain-lain. Banyak teolog berpendapat bahwa Allah memilih dan menentukanorang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan. Sejatinya pandangan ini tidak tepat. Untuk menemukan makna orisinal dari ayat-ayat tersebut, seorang penafsir tidak boleh terbelenggu atau tersandera oleh suatu premis, sehingga pengertian terhadap ayat-ayat tersebut sudah didasarkan pada premis di dalam pikirannya. Untuk mendapatkan makna orisinal dari ayat-ayat di atas, seorang penafsir harus sungguh-sungguh melihat konteks ayat itu berada, direlasikan dengan pasal, karakter atau sifat kitab, latar belakang, bahasa asli, dan lain sebagainya. Jika dalam menganalisa ayat-ayat tersebut seseorang tidak disandera oleh suatu premis tertentu, maka ia akan memperoleh kebenaran yang Alkitabiah, yaitu makna orisinal dari ayat-ayat Alkitab.
     
    Kita tidak perlu bingung kalau Paulus menyatakan bahwa Tuhan sudah memilih dan menentukan orang yang akan selamat sejak semula, bahkan sebelum dunia dijadikan. Sebab sebagai orang-orang yang telah merespon anugerah Tuhan dan telah menjadi anak-anak-Nya, orang percaya harus yakin bahwa kitalah orang yang dipilih dan ditentukan sebelum dunia dijadikan untuk memiliki kesempatan menerima anugerah keselamatan, yaitu menjadi kekasih-kekasih-Nya. Namun demikian, hendaknya kita tidak dengan gegabah menyatakan bahwa Tuhan memilih dan menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak. Bila demikian, berarti kita sudah mulai menilai Tuhan dengan pikiran manusia yang sangat terbatas. Sebagai akibatnya, timbul dugaan dan tuduhan bahwa ada orang-orang tertentu yang oleh kedaulatan Tuhan juga dipilih dan ditentukan untuk binasa. Ini suatu hal yang tidak mungkin, sebab Allah yang adalah kasih adanya tidak menghendaki seorang pun binasa (1Ptr. 3:9-11).
     
    Memahami kata “dipilih dan ditentukan” harus dilihat dari dimensi atau pandangan yang luas dan fair.Pemilihan dan penentuan tidak boleh diartikan sebagai langkah Allah Bapa tanpa pertimbangan apa pun, menunjuk siapa yang selamat masuk surga dan yang lain berarti masuk neraka. Dalam hal ini Tuhan tidak akan memilih dan menentukan tanpa “sistem” atau tatanan dalam diri Allah yang sempurna. Harus diingat bahwa “yang dipilih” adalah orang-orang yang mendapat kesempatan untuk hidup di zaman Perjanjian Baru, mendengar Injil, dan memiliki kapasitas untuk merespon anugerah. Tuhan adalah Pribadi yang sempurna. Pertimbangan-pertimbangan-Nya juga sangat sempurna. Ia tidak memilih dan menentukan secara acak dan asal-asalan. Sebagaimana di dalam diri manusia yangdiciptakan Tuhan menurut gambar-Nya, ada “kebijaksanaan” yang merupakan rangkaian dari pertimbangan nalar yang melibatkan emosi, perasaan, dan kecerdasan atau rasio.
     
    Kita tidak boleh menyamakan cara dan kualitas Tuhan dalam memilih atau menentukan, sama dengan kualitas manusia memilih dan menentukan. Pandangan yang mengatakan bahwa di luar kesadaran dan kemauan seseorang, Tuhan sudah menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga adalah pandangan yang mengesampingkan fakta bahwa Tuhan tidak sama dengan manusia. Dalam keberadaan-Nya yang sempurna Tuhan memiliki pertimbangan-pertimbangan yang tidak bisa dipahami dengan nalar kita. Kalau kita mengakui bahwa pikiran Tuhan tak terselami (Rm. 11:33), maka hendaknya kita tidak mencoba merumuskan bahwa Tuhan memilih dan menentukan seseorang untuk selamat berdasarkan kedaulatan-Nya. Harus diingat bahwa yang dipilih adalah sejumlah manusia yang diberi kesempatan untuk mendengar Injil dan merespon anugerah. Adapun penentuan Tuhan bukan pada individu (manus...
    0 min
  • Pemilihan Sebagai Kedaulatan Allah
    Di dalam Alkitab terdapat beberapa ayat yang memuat pernyataan, yang bila salah dipahami maka bisa ditafsirkan bahwa Allah memilih orang-orang tertentu untuk pasti diselamatkan. Tentu saja kompensasi dari pandangan ini -tidak bisa tidak- sampai pada kesimpulan bahwa ada orang-orang yang juga ditentukan untuk tidak selamat atau binasa. Akan banyak masalah rumit yang timbul, kalau seseorang berani melangkah masuk wilayah Sang Pencipta, sehingga dengan mudahnya menyatakan bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya menentukan kepastian orang-orang tertentu untuk selamat. Faktanya, banyak teolog dan orang Kristen awam yang selama berabad-abad berusaha menyusun argumentasi-argumentasi hanya demi membela doktrin keselamatan yang kaku dan fatalistis ini.
     
    Mereka berkeras berpendapat bahwa Allah menentukan keselamatan individu atas pilihan dan penentuan-Nya. Argumentasi-argumentasi tersebut menciptakan pemikiran yang tidak logis dan menggambarkan Allah sebagai “sosok” yang memiliki pemikiran yang tidak logis dan berkepribadian tidak adil, tidak sehat, dan aneh. Hal ini bisa menimbulkan pertanyaan: Seperti itukah model Sesembahan (Elohim Yahweh) orang percaya? Seharusnya orang percayamenyadari bahwa dirinya tidak berhak mengemukakan pernyataan tersebut. Dengan hormat orang percaya harus mengakui bahwa Allah adalah “Allah yang transenden dan transempiris” (melampaui akal dan pengalaman manusia). Dalam kaitannya dengan ini Tuhan berkata: “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?… Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? Firman Yang Mahakudus.” (Yes. 40:18, 25).
     
    Sejatinya, yang ditentukan untuk selamat bukanlah secara individu orang-orang yang pasti diselamatkan, tetapi orang-orang yang diberi kesempatan untuk mendengar Injil. Jika orang-orang yang diberi kesempatan mendengar Injil tersebut merespon dengan benar, maka mereka akan memperoleh keselamatan artinyamengalami proses dikembalikan ke rancangan semula. Respon terhadap Injil bukan seperti sebuah titik tetapi garis panjang, sebab keselamatan adalah sebuah proses. Jika seseorang tidak merespon dengan benar, berarti menolak keselamatan. Pemilihan dan penentuan Allah hanya berorientasi pada orang-orang yang diberi kesempatan untuk menerima keselamatan, bukan mengenai orang-orang tertentu yang dipastikan selamat masuk surga. Bila kita menganalisa ayat-ayat yang memuat hal mengenai pemilihan dan penentuan keselamatan, hendaknya kita menyadari bahwa manusia tidak akan dapat memahami “bagaimana” Allah memilih dan menentukan orang-orang yang memiliki kesempatan untuk mengalami keselamatan.
     
    Kapasitas pikiran Allah yang tidak terbatas, tidak akan dapat dimengerti oleh manusia.Usaha merumuskan bahwa Allah menentukan orang-orang tertentu untuk pasti selamat masuk surga, menunjukkan seolah-olah manusia bisa berpikir setara dengan Allah. Dalamhal ini hendaknya kita tidak terjebak pada usaha untuk berada di posisi Allah. Kalau manusia mencoba berdiri di posisi Allah, maka akan berasumsi bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya telah memilih dan menentukan siapa yang selamat dan yang tidak. Ini namanya menyederhanakan ayat yang sebenarnya sangat sulit untuk dipahami dengan pikiran manusia. Kita harus berdiri di posisi di mana kita harus berada, sebagai ciptaan (manusia). Berdiri pada “posisi” manusia akan membuat kita lebih menyadari tanggung jawab kita sebagai manusia secara proporsional. Sehingga sebagai manusia kita dapat menunaikan bagian yang harus kita penuhi dengan rela dan sukacita atau secara proporsional.
     
    Kalau dalam Efesus terdapat ayat-ayat yang mengesankan bahwa Allah telah memilih dan menentukan ada orang-orang yang selamat, hal itu ditujukan kepada jemaat yang telah menunjukkan buah kehidupan iman yang sangat baik. Paulus mengenal dengan benar jemaat itu. Ia pernah tinggal beberapa tahun bersama mereka.
    0 min
  • Ciri Umat Pilihan Yang Terpilih
    Banyak orang Kristen beranggapan bahwa kalau mereka sudah merasa percaya kepada Tuhan Yesus di dalam pikiran, maka secara otomatis mereka sudah menjadi orang-orang yang dipilih dan ditentukan pasti selamat. Mereka merasa berhak meyakini bahwa mereka pasti masuk surga. Karena pemahaman ini maka banyak orang Kristen sudah merasa tenang, sebab merasa sudah diakui sebagai umat pilihan yang pasti masuk surga. Padahal sebenarnya mereka harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan menjadi umat pilihan, iman, dan apakah keselamatan itu.
     
    Salah satu yang menjadi penyebab kesalahan ini adalah pengesahan dari pihak gereja tertentu yang menyatakan bahwa jemaat yang sudah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, dan pergi ke gereja berarti sudah menjadi umat pilihan Allah yang sudah diselamatkan, dan pasti masuk surga. Di sini Kekristenan menjadi murahan, Kekristenan dikesankan menjadi jalan mudah masuk surga. Inilah Kekristenan tanpa perjuangan, tanpa proses didewasakan. Sebagai akibatnya, orang Kristen seperti itu tidak mengalami pertumbuhan rohani secara proporsional. Padahal Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk diselamatkan seseorang harus “berjuang untuk masuk jalan sempit” (Luk. 23:13-14).
     
    Sesungguhnya menjadi umat pilihan Allah yang pasti selamat masuk surga adalah umat pilihan yang terpilih, bukan karena seseorang terlahir dari keluarga Kristen, juga bukan karena “pengesahan dari gereja.” Tetapi pengakuan dari Tuhan yang menyatakan bahwa orang tersebut melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Dalam hal ini menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa bukan hanya sekadar memiliki keyakinan dalam pikiran bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Dalam hal ini keselamatan harus benar-benar direspon dengan tindakan, bukan hanya dengan keyakinan di dalam pikiran. Pengertian iman atau percaya yang benar sangat terkait dengan pengertian keselamatan. Keselamatan adalah usaha Tuhan atau sebuah proses dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Tentu saja kehidupan orang percaya yang memiliki percaya atau iman yang benar adalah dalam tindakan yang membuatnya dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Kehidupan orang percaya seperti ini tentu saja sangat berbeda dengan mereka yang tidak percaya. Dengan demikian kualitas hidup orang percaya menunjukkan kebenaran imannya.
     
    Umat pilihan yang benar-benar terpilih adalah mereka yang memiliki keberadaan sebagai anak-anak Allah, yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Ini adalah orang-orang yang merasakan kebencian dan jijiknya terhadap dosa. Mereka juga menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, sehingga berkerinduan pulang ke surga. Mereka juga bekerja keras memaksimalkan semua potensi untuk kepentingan pekerjaan Tuhan semata-mata dalam keseluruhan kehidupan ini. Dengan demikian mereka merasa tidak memiliki kepentingan apa pun dalam hidup ini kecuali melayani Tuhan. Orang percaya yang benar, yang berhak meyakini bahwa dirinya pasti selamat dan diterima sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga adalah orang-orang yang tidak bisa lagi dibahagiakan oleh dunia ini, sehingga tidak menantikan apa pun selain perjumpaan dengan Tuhan.
     
    Orang beriman yang benar dengan kehidupan yang semakin seperti Yesus, pasti lebih dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya. Dengan kehidupan seperti ini maka ia tidak terikat oleh keindahan dunia ini dengan segala hiburannya. Tidak ada yang dapat membahagiakan hidup orang-orang seperti itu kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya saja. Dengan demikian ia akan sangat merindukan perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang menjadi kekasih jiwanya. Sementara hidup di dunia, mereka berusaha untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Hidupnya adalah pelayanan bagi Tuhan, dimulai dari hidupnya setiap hari yang menyenangkan hati Bapa sampai kepada perjuangan untuk menjadikan orang lain berkeadaan seperti dirinya.
    0 min
  • Pengertian Umat Pilihan
    Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan umat pilihan? Pertama,tentu saja mereka yang hidup di zaman Perjanjian Baru, dan yang berkesempatan untuk mendengar Injil. Banyak orang yang memang hidup pada zaman anugerah, tetapi mereka tidak pernah mendengar Injil. Mereka ada di pelosok-pelosok yang jauh dari jangkauan pemberitaan Injil. Lembaga-lembaga penginjilan dan tim misi belum menjangkau mereka, yang sering juga disebut sebagai unreach people. Masyarakat seperti itu termasuk kelompok orang yang belum pernah mendengar Injil, walaupun mereka hidup di dalam zaman anugerah atau zaman setelah Yesus menyelesaikan tugas kemesiasan-Nya. Kalau seseorang lahir di pedalaman India, yang masyarakatnya bukan beragama Kristen, maka sampai mati orang tersebut tidak akan pernah mendengar Injil. Pada dasarnya mereka seperti manusia yang hidup sebelum abad pertama, yaitu sebelum ada Injil Kerajaan Allah.
     
    Sekalipun alat transportasi dan teknologi komunikasi sudah sangat maju, tetapi karena sangat luasnya dunia ini, mereka belum terjamah oleh pemberitaan Injil. Tentu saja seiring dengan perjalanan waktu dan bertambah banyaknya misi penginjilan, maka mereka juga pada akhirnya akan mendengar pemberitaan Injil. Dengan demikian, semakin hari pemberitaan Injil akan menjangkau seluruh wilayah bumi ini. Hal ini menjadi salah satu tanda kedatangan Tuhan Yesus sesuai dengan Matius 24:14 yang berbunyi, “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
     
    Kedua,umat pilihan adalah mereka yang mendengar Injil yang benar. Dalam kenyataan hidup ini banyak orang yang memang hidup pada zaman anugerah, tetapi sejak kecil sudah mendengar cerita atau berita mengenai Tuhan Yesus Kristus dari sumber yang salah. Pengertian mereka telah dibutakan oleh fitnah terhadap Injil. Mereka mendengar bahwa Allah tidak mungkin mempunyai anak, Yesus adalah manusia biasa, Allah tidak mungkin menjadi manusia, agama Kristen adalah agama orang Barat, agama Kristen adalah kafir dan banyak lagi fitnah lain terhadap Injil. Semua ini membuat banyak orang di luar gereja tidak akan pernah menerima Injil.
     
    Kelompok orang di atas ini tidak bisa disebut sebagai umat pilihan walaupun mereka hidup di zaman Perjanjian Baru. Seakan-akan mereka juga mendengarkan Injil, tetapi sebenarnya mereka belum mendengar Injil dengan benar. Injil yang mereka dengar adalah Injil yang palsu yang mereka terima dari sumber yang salah. Yesus hanya diperkenalkan sebagai nabi atau manusia biasa tanpa menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Allah. Banyak fitnah yang ditujukan pada diri Yesus sehingga berita Injil menjadi gelap, tidak dikenali dengan benar. Ini berarti semua mereka salah mendengar Injil. Tentu saja mereka akan sulit menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena mengakarnya kesalahan tersebut dalam diri mereka,maka mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Mereka adalah kelompok orang-orang yang tidak terpilih. Sebenarnya orang-orang seperti ini tidak bisa dipersalahkan kalau mereka tidak menjadi orang percaya, karena mereka tidak mendengar Injil dengan benar. Posisi mereka sebenarnya tidak berbeda atau paling tidak mirip dengan orang yang hidup sebelum zaman Tuhan Yesus yang tidak mendengar Injil. Mereka bukan umat pilihan.
     
    Ketiga,umat pilihan adalah adalah mereka yang memiliki keberadaan fisik dan psikis yang baik sehingga dapat memahami Injil dan merespon dengan maksimal. Dalam kenyataan hidup ini terdapat orang-orang yang hidup pada zaman anugerah tetapi oleh karena kelemahan fisik, cacat mental, dan berbagai faktor fisik maupun psikis lain membuat mereka tidak bisa menerima Injil secara memadai. Kalaupun mereka mendengar dan menerima Injil, tetapi oleh karena keterbatasan fisik dan psikis, maka mereka tidak bisa mencapai hasil optimal dalam pertumbuhan hidup Kekristenannya. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak akan ditunt...
    0 min
  • Umat Pilihan Yang Kedua
    Umat pilihan yang kedua adalah orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang berpotensi dikembalikan ke rancangan Allah semula, agar dapat berkeberadaan sebagai anak-anak Allah dan dilayakkan menjadi anggota warga Kerajaan Surga. Selanjutnya dalam tulisan buku ini jika tertumbuk kata “umat pilihan” maka itu berarti umat pilihan yang kedua ini, yaitu orang Kristen. Orang Kristen disebut sebagai umat pilihan bukan berarti sudah pasti dipilih dan ditentukan oleh Tuhan untuk masuk surga. Di zaman Perjanjian Baru, umat pilihan adalah mereka yang “diberi kesempatan” untuk selamat, yaitu dikembalikan ke rancangan semula Allah. Komunitas ini tidak terbatas suku dan bangsa serta demografi atau wilayah.
     
    Kalau Alkitab menyatakan bahwa ada orang-orang yang dipilih, artinya bahwa tidak semua manusia “memiliki kesempatan” menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Hal initergantung pada kedaulatan Allah sepenuhnya. Ada orang-orang yang diberi kesempatan mendengar Injil, tetapi ada yang tidak. Umat pilihan pastilah orang-orang yang dilahirkan pada masa setelah Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya. Dengan demikian orang yang menjadi umat pilihan adalah mereka yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Ini berarti umat pilihan Kerajaan Allah adalah mereka yang hidup sejak abad pertama atau abad Masehi.
     
    Mereka yang hidup di zaman sebelum Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, bukanlah umat pilihan yang berkesempatan dikembalikan ke rancangan semula. Mereka yang hidup sebelum zaman anugerah bukanlah umat pilihan untuk keselamatan kekal. Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak nabi dan orang benar ingin menyaksikan kedatangan Mesias, tetapi mereka tidak terpilih (Mat. 13:17). Dalam hal ini Tuhan Yesus tegas berkata:“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…”(Yoh. 15:16). Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan dengan hak prerogative-Nya memilih orang-orang tertentu untuk menyaksikan langsung karya luar biasa dari Tuhan Yesus agar mereka menjadi fondasi gereja sepanjang zaman, yaitu murid-murid-Nya. Tidak seorang pun berhak mempersoalkan mengapa dirinya tidak dilahirkan pada zaman Yesus dan berkesempatan menyaksikan secara langsung karya penebusan oleh Tuhan Yesus. Mereka yang ada di sekitar Yesus pada waktu Yesus mengenakan tubuh daging adalah orang-orang yang dipilih Tuhan sendiri, tentu dalam pimpinan Roh Kudus.
     
    Kalau Alkitab menyatakan bahwa Allah memilih, itu bukan berarti manusia yang dipilih pasti selamatatau tidak bisa menolak anugerah. Pemilihan atas seseorang untuk menjadi umat pilihan bukan berarti penentuan pasti masuk surga. Dipilih Allah sesungguhnya adalah dipilih untuk diberi kesempatan mengenal anugerah dan berkesempatan merespon anugerah. Anugerah itu memuat proses dikembalikannya manusia ke rancangan semula Allah. Banyak orang Kristen merasa karena meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, maka secara otomatis sudah menjadi umat pilihan yang dikembalikan ke rancangan semula-Nya, yaitu dapat segambar dan serupa dengan Allah. Mereka berpikir, asalkan sudah dipilih dan ditentukan untuk selamat, maka bagaimanapun pasti tergiring masuk surga.
     
    Di bagian lain dalam Alkitab, lebih tegas lagi Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yoh. 6:44). “Ditarik” di sini artinya dikondisikan. Kata “ditarik” dalam teks aslinya adalah elkuse (ἑλκύσῃ), yang keterangan waktu dan kasusnya adalah kata verb subjunctive aorist active 3rd person singular, dari kata elkuo (ἑλκύω). Kata subjunctive menunjuk suatu kegiatan yang tidak setegas kata kerja pada umumnya. Subjunctive aorist digunakan sebagai kalimat pengandaian yang mengacu pada masa lampau. Dengan demikian kata “ditarik” tersebut bukanlah sesuatu yang dipaksakan atas orang yang “ditarik” tersebut. Dengan demikian terdapat kemungkinan orang yang “ditarik” bisa saja menolak.
    0 min
  • Umat Pilihan Yang Pertama
    Alkitab menunjukkan ada dua jenis umat pilihan. Umat pilihan yang pertama adalah mereka yang terlahir sebagai keturunan Abraham secara darah daging, yaitu Bangsa Israel. Mereka disebut sebagai umat pilihan karena mereka mewarisi dan menyimpan pengenalan mengenai Allah yang benar, yaitu Elohim Yahweh, dan dari bangsa itu dilahirkan Mesias, Juruselamat dunia. Sampai dunia berakhir bangsa ini akan menjadi “monumen peringatan” dalam sejarah manusia, bahwa Allah pernah memilih mereka sebagai umat pilihan, dan Bangsa Israel ini akan tetap eksis. Bangsa Israel termasuk bangsa kuno yang mendiami wilayah Kanaan di antara bangsa-bangsa Kanaan yang lain, seperti Bangsa Sidon, Het, Yebus, Amori, Hewi, Girgashites, Arkites, Sinites, Arvadites, Zemarites, Hamathites, dan lain sebagainya.
     
    Bangsa Israel bagian utara sudah mengalami pembuangan sejak tahun 722 sM oleh Bangsa Asyur. Adapun Israel bagian selatan ditaklukkan dan mengalami pembuangan pada tahun 586 sM oleh Bangsa Babel. Klimaks terseraknya (diaspora) bangsa itu terjadi pada peristiwa penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M oleh Jenderal Titus dari Romawi. Selama ribuan tahun mereka telah meninggalkan negeri leluhur nenek moyang mereka, tetapi pada tanggal 14 Mei 1948 mereka memproklamirkan kemerdekaan mereka di Tel Aviv, dan membangun negara Israel modern. Sulit ditemukan riwayat suatu bangsa yang telah meninggalkan negeri leluhurnya selama ribuan tahun, tetapi masih bisa kembali ke tanah asalnya. Tentu saja kalau bukan tangan yang kuat, tangan Elohim Yahweh, mereka tidak akan dapat kembali ke tanah asalnya –Eretz Israel- yang mereka kenal sebagai Tanah Perjanjian.
     
    Seiring dengan dipulihkannya Bangsa Israel dengan kembalinya ke tanah asalnya, orang-orang Yahudi menjadi orang-orang yang terkemuka di dunia. Sejak akhir abad 19 dan awal abad 20, muncul ilmuwan-ilmuwan berdarah Yahudi yang mewarnai peta kehidupan manusia di dunia. Seperti penemu teori relativitas yaitu Albert Einstein, penemu bom atom yaitu Felix Bloch, penemu vaksin polio yaitu Albert Sabin, Benjamin Rubin penemu jarum vaksin, Gertrude Belle Elion penemu obat-obat leukimia, Baruch Blumberg yang mengembangkan vaksinasi untuk penyakit Hepatitis B, Paul Ehrilch menemukan obat penyakit kelamin syphilis, Elie Metchnikoff ilmuwan yang dalam penelitiannya mengenai sistem imun yang menyelamatkan banyak orang, dan masih banyak lagi yang tidak dimuat di dalam tulisan ini. Selain itu, banyak tokoh lain yang mewarnai dunia seperti seperti Mark Zuckerberg penemu Facebook, Mike Lazaridis penemu Blackberry, Bill Gates penemu Microsoft, Larry Page penemu Google, dan lain sebagainya. Dan banyak orang kaya dan banker besar berdarah Yahudi di dunia, seperti Rothschild, George Soros, dan lain sebagainya.
     
    Dari jejak rekam sejarah Bangsa Israel dapat dilihat dengan jelas tangan Allah -Elohim Yahweh- yang tidak kelihatan merajutnya. Hal dipulihkannya Bangsa Israel kembali ke tanah leluhurnya dan diberkatinya bangsa itu telah dinubuatkan di dalam Alkitab. Salah satu nubuatan mengenai kembalinya Bangsa Israel ke tanah leluhur mereka terdapat dalam Yeremia 29:14 “Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.”
     
    Tuhan juga berjanji akan memberkati Bangsa Israel dengan memberikan kekayaan bangsa-bangsa kepada mereka dan mereka akan menjadi orang-orang terkemuka, seperti yang tertulis di dalam Alkitab, “Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu” (Yes. 60:5). “Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya,
    0 min
  • Mewarisi Langit Baru Dan Bumi Baru
    Untuk menjadi seorang yang mewarisi langit baru dan bumi yang baru, orang percaya harus belajar melepaskan diri dari segala ikatan. Ikatan yang paling dominan dan bisa menjadi dosa permanen yang tidak bisa dilepaskan sampai selamanya adalah percintaan dunia. Inilah yang dikatakan sebagai “beban” yang merintangi perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya (Ibr. 12:1). Ikatan dengan dunia adalah ikatan yang sudah mendarah daging, yaitu terbangun sejak kecil di lingkungan tradisi orang tua yang menekankan “sukses hidup dalam dunia” atau paling tidak hidup dalam kewajaran seperti manusia lain.
     
    Orang percaya hendaknya tidak menganggap remeh belenggu ini. Kalau tidak ditanggulangi dengan serius, seseorang akan tetap dalam belenggu tersebut. Banyak orang merasa bahwa hal ini bukan bahaya besar. Mereka tidak pernah berjuang dengan sungguh-sungguh melepaskan diri dari ikatan percintaan dunia, maka mereka tidak pernah menjadi pemenang. Sampai tua kebanggaannya adalah harta. Memang hal itu tidak terucap di mulutnya, tetapi terpatri dalam jiwa. Kalau seseorang mengganggap hal melepaskan diri dari ikatan dunia sebagai hal yang mudah ditanggulangi, itu berarti ia tidak pernah berjuang. Mereka pasti sedang dalam tawanan. Banyak rohaniwan yang merasa telah terbebas dari belenggu ini, padahal jabatan sebagai rohaniwannya tidak membuat ia bebas dari belenggu ini. Karena merasa sudah terbebas dari ikatan dunia, maka ia merasa diri sudah rohani padahal masih duniawi. Rohani yang dimaksud di sini adalah tidak lagi menilai materi atau kekayaan sebagai nilai tertinggi kehidupan.
     
    Sejatinya, orang percaya harus memiliki kehidupan yang memiliki perbedaan mencolok dengan mereka yang tidak dipanggil sebagai umat pilihan warga Kerajaan Surga. Orang percaya yang benar akan menjadikan langit baru dan bumi yang baru sebagai tujuan utamakehidupan dan kerinduan yang terbesar. Yang mana hal ini tidak dimiliki oleh anak-anak dunia. Kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Persiapan ini menyangkut kehidupan pribadi kita agar kita diperkenan bertemu dengan Tuhan di awan-awan permai (Kis. 1:11). Ini berarti kita harus mengutamakan perkara-perkara rohani atau yang memiliki nilai kekal. Hal ini dapat dilakukan dengan kesetiaan terus menerus belajar mengenal Allah dan kebenaran-Nya serta melakukan kehendak-Nya.
     
    Betapa bahagianya hidup seseorang yang benar-benar ditujukan kepada Tuhan, sebab hanya dengan berbuat demikian ia mengisi hidup ini secara benar. Inilah keberuntungan di atas segala keberuntungan. Dengan demikian seseorang memiliki arah hidup yang jelas. Memiliki fokus hidup yang benar atau orientasi hidup yang benar (Luk. 4:8). Bila kita memiliki warna atau keadaan hidup seperti ini, maka hidup kita jauh lebih berarti dari seorang tokoh politik, bintang film terkenal manapun. Sebenarnya inilah kehidupan yang didamba oleh semua makhluk hidup. Oleh karena ini hendaknya kita tidak menunda untuk melangkah dan bergerak bersama dengan Tuhan. Ini adalah suatu pola kehidupan yang tidak terlalu sukar dilakukan. Dengan kesungguhan kita dapat memiliki hidup seperti ini. Semua kita dipanggil untuk memiliki jenis kehidupan seperti ini. Bila warna hidup kita tidak seperti ini, berarti kita telah gagal dalam hidup ini. Dan Tuhan tidak menghendaki kegagalan seperti ini.
     
    Dalam kecerdasannya yang melampaui pikiran manusia, Iblis menawarkan segala “kesenangan-kesenangan sesaat.” Dunia ini dipenuhi dengan berbagai kesenangan-kesenangan yang sangat memikat. Kesenangan-kesenangan sesaat tersebut bisa berupa hobi, hasrat memiliki sesuatu benda (jam tangan, mobil, rumah, dan lain sebagainya), fasilitas hiburan, dan lain sebagainya. Kalau hal tersebut benar-benar hanya sesaat dan tidak mengikat, dampaknya akan kecil (tetapi tetap berdampak). Kalau kesenangan-kesenangan sesaat menjadi ikatan, artinya selalu ingin mengulangi terus menerus sehingga menyita waktu, pikiran, perasaan,
    0 min
  • Bukan Dari Dunia Ini
    Karena kejatuhan manusia ke dalam dosa,maka bumi makin rusak dan tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni. Tuhan Yesus menyatakan bahwa dunia ini bukan rumah kita. Rasul-rasul menyatakan bahwa kita adalah pendatang di bumi ini. Tuhan menyatakan bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, sama seperti Dia bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:16). Firdaus pertama telah rusak dan harus ditinggalkan. Tuhan menyediakan Firdaus yang baru. Banyak orang Kristen yang sebenarnya belum mengerti maksud Tuhan Yesus bahwa orang percaya berasal dari atas, bukan dari dunia ini. Mengapa Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan berasal dari dunia ini seperti Dia juga yang bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:15-16)? Pernyataan Tuhan Yesus ini hendak menunjukkan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan sepenanggungan dengan Dia adalah orang-orang yang terhisap sebagai warga Kerajaan Surga. Mereka hidup di bumi ini hanya sebagai persiapan untuk menetap di sana. Ini berarti orang percaya bukan milik dunia dan kuasa kegelapan lagi, tetapi dipersiapkan untuk menjadi milik Tuhan.
     
    Sementara orang percaya masih tinggal di dunia ini, Tuhan Yesus mohon kepada Bapa agar Bapa melindungi dari yang jahat (Yoh. 17:9-15). Melindungi dari yang jahat maksudnya agar orang percaya terhindar dari cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa, tetapi bergaya hidup sebagai warga Kerajaan Surga. Tentu saja permohonan tersebut dikabulkan oleh Bapa. Ini berarti orang percaya dimungkinkan untuk memiliki keadaan diri yang berbeda dengan orang yang bukan warga Kerajaan Surga. Orang percaya bisa menjadi “manusia lain.” Perlindungan itu akan membuat orang percaya mampu hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara mutlak dan dalam kedaulatan-Nya secara absolut, asalkan mau belajar atau dimuridkan.
     
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya bukan berasal dari dunia ini seperti Dia juga bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:15-16), juga menunjuk bahwa orang percaya bukan bagian dari dunia ini. Dunia ini akan dihancurkan sesuai dengan apa yang dikatakan Petrus dalam suratnya bahwa langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya (2Ptr. 3:1-13). Orang percaya akan diungsikan Tuhan, dibawa ke tempat di mana tidak ada kejahatan. Firman Tuhan menyatakan bahwa orang percaya yang hidup -yang masih tinggal- akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah orang percaya akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan (1Tes. 4:17).
     
    Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Itulah kota yang dirindukan oleh Abraham (Ibr. 11:10). Kerinduannya terhadap kota itu mendorong Abraham meninggalkan Ur-Kasdim dan tidak pernah berniat kembali ke negerinya, walaupun sampai akhir hidupnya Abraham meninggal dan tidak menemukan negeri itu. Ia hanya melihat dari jauh dan melambai-lambaikan tangannya. Hal ini menunjukkan kerinduannya yang sangat kuat untuk sampai ke negeri itu (Ibr. 11:13-16).
     
    Ini suatu hal yang mengagumkan, yaitu walaupun Abraham hidup di zaman Perjanjian Lama, tetapi ia sudah menghayati betapa tidak bernilainya hidup di bumi ini kalau hanya menikmati kesenangan fana. Itulah sebabnya ia merindukan tempat lain. Abraham tidak menghargai dunia ini lebih dari Tuhan. Ia rela meninggalkan negerinya dan tidak menikmati kehidupan seperti orang lain. Ia juga berani mempersembahkan anaknya Ishak tanpa ragu-ragu demi Tuhan yang dihormati dan dihargainya lebih dari segala hal. Jiwa kemusafiran Abraham inilah yang menunjukkan imannya kepada Allah. Seharusnya kehidupan iman Abraham seperti ini yang harus juga orang percaya teladani sepenuhnya.
    0 min
  • Memperbaharui Pola Pikir
    Biasanya pelayanan gereja dimulai dari kerinduan agar orang-orang jahat menjadi baik. Keluarga-keluarga yang bermasalah dipulihkan, sehingga dapat membangun keluarga yang bahagia. Jemaat diberkati secara finansial, anak-anak sukses dalam studi dan karirnya serta memperoleh jodoh sesuai dengan kehendak Allah dan hidup bahagia. Mereka yang sakit dapat memperoleh kesembuhan, sehingga hidup dalam tubuh yang sehat dan bahagia. Orang-orang yang belum atau tidak ke gereja bisa dibawa ke gereja menjadi orang Kristen yang rajin datang ke kebaktian.
     
    Banyak pendeta sudah merasa puas kalau gerejanya memiliki aktivitas yang menarik dan membuat jemaat senang bergereja. Gereja menjadi maju dengan jumlah jemaat yang bertambah, gedung gereja bisa dibangun besar dan megah, bila mungkin bisa memiliki radio Kristen, klinik Kristen, rumah yatim piatu, panti jompo, dan berbagai kegiatan misi penginjilan. Inilah kegiatan pelayanan yang dipandang sebagai menyukakan hati Tuhan. Biasanya kegiatan-kegiatan tersebut juga didorong oleh semangat membela denominasinya. Sampai hari ini dan pada umumnya (hampir semua) pelayanan gereja-gereja bernuansa kegiatan yang demikian.
     
    Kalau seseorang bertumbuh dewasa secara benar, yaitu terbangunnya kodrat Ilahi (divine nature), maka pelayanan tidak akan terkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan lahiriah semata-mata, tetapi pembangunan terhadap manusia batiniahnya, yaitu bagaimana menjadi manusia Allah (man of God).Menjadi manusia Allah artinya memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, tidak tertarik sama sekali dengan dunia ini, sebab hatinya tidak bisa dibahagiakan oleh apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya dan kerinduannya adalah Rumah Bapa. Jika demikian, maka para rohaniwan (pendeta dan jajarannya) akan berusaha untuk lebih dahulu mencapai kesempurnaan supaya bisa menjadi teladan. Suatu kemutlakan bahwa gereja harus memiliki kebenaran yang mengubah mindset (cara berpikir), sebab pola (cara) berpikir akan pasti mengubah seluruh perilaku. Selain itu gereja harus memiliki role model yang dapat menjadi teladan bagi jemaat.
     
    Dengan jiwa atau esensi pelayanan yang benar seperti itu, maka yang dirindukan dan diusahakan bukan saja agar orang jahat menjadi baik, tetapi orang berdosa menjadi sempurna, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita mengajar jemaat bukan hanya membangun rumah tangga yang bahagia di bumi tetapi bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Semua sukses studi, karir, bisnis, dan semua kegiatan hidup hanya dipersembahkan bagi Tuhan sepenuhnya. Jemaat bukan hanya belajar memberi persepuluhan, tetapi segenap hidupnya didedikasikan untuk kepentingan Kerajaan Surga. Jemaat diajar untuk bertanggung jawab agar memiliki kesehatan secara berkesinambungan, bukan hanya mukjizat kesembuhan sesaat. Supaya dengan tubuh sehat dapat menjadi pelayan Tuhan yang efektif melalui segala bidang yang digelutinya.
     
    Orang-orang yang belum atau tidak ke gereja bukan hanya dibawa ke gereja menjadi orang Kristen yang rajin datang ke kebaktian, tetapi diubah pola berpikirnya sehingga layak menjadi warga Kerajaan Surga. Gereja bukan hanya memiliki aktivitas yang menarik dan membuat jemaat senang bergereja, tetapi mereka menjadi orang-orang yang haus dan lapar akan kebenaran, yaitu merindukan Firman Tuhan dan menjadi sempurna. Jumlah jemaat tidak lagi menjadi tujuan utama, tetapi yang terutama adalah kualitas individu untuk serupa dengan Yesus. Semua kegiatan lain -seperti radio, televisi, klinik, panti asuhan, panti jompo, misi penginjilan, dan lain sebagainya- hanya sarana untuk membangun manusia Allah, manusia yang layak menjadi anak Allah guna menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Isi pelayanan yang benar menutup pintu terhadap praktik manipulasi.
     
    Pelayanan yang benar memiliki isi pelayanan tiga hal, yaitu:
    Pertama, menggiring umat menjadi anak-anak Allah yang tidak bercacat dan tidak bercela.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…