Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Rhema Dan Logos
    Keselamatan tidak dapat dipisahkan dari Firman Tuhan. Dalam Roma 1:16 ini sangat jelas menunjukkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Dikuduskan oleh Firman artinya dengan kuasa Firman Tuhan yang dipahami, maka seseorang dapat didewasakan agar tidak lagi hidup dalam dosa, tetapi hidup sesuai dengan kehendak Allah. Firman Tuhan menguduskan artinya Firman Tuhan menghindarkan manusia dari berbuat jahat (Yoh. 17:14-17). Tentu manusia yang harus tekun belajar kebenaran Firman Tuhan, sebab kalau seseorang tetap dalam Firman barulah ia dapat dimerdekakan (Yoh. 8:31-32). Dimerdekakan di sini maksudnya adalah dibebaskan dari kecenderungan berbuat dosa. Bagaimana proses kemerdekaan itu berlangsung?
     
    Menjawab pernyataan di atas kita harus memahami dan dapat membedakan pengertian Firman dalam arti Logos dan Rhema. Pada waktu seseorang mendengar Firman Tuhan, cara berpikirnya diubah dengan pengajaran yang diajarkan secara penalaran atau kognitif. Dalam hal ini Firman (logos) menjadi pengertian di dalam pikirannya. Logos adalah Firman yang dipahami di dalam pikiran melalui pengajaran yang didengar. Misalnya seseorang mendengar Firman: Kasihilah musuhmu. Ini bukan berarti seseorang sudah bisa mengasihi musuh. Pengertiannya mengenai mengasihi musuh belum tentu dapat diperagakan atau dilakukan. Untuk itu seseorang harus mengalami secara konkret atau riil bagaimana dimusuhi seseorang. Pada waktu dalam pergumulan dimusuhi tersebut, Roh Kudus akan mengingatkan perkataan Tuhan. Di sini Firman (logos) yang sudah dipahami secara akal pikiran diterjemahkan secara konkret dalam kenyataan hidup. Roh Kudus akan berbicara kepada orang tersebut. Perkataan Tuhan inilah yang disebut sebagai Rhema.
     
    Dalam kasus-kasus tertentu dan untuk orang-orang tertentu (bagi mereka yang mengasihi Tuhan), Tuhan memroses pengudusan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan (Rm. 8:28). Semua ini dilakukan oleh Tuhan, khususnya untuk mereka yang merasa perlu dan sungguh-sungguh bersedia menerima didikan atau pukulan dari Allah (Ibr. 12:7-9).
    Tidak ada pendewasaan tanpa pengalaman dalam kehidupan nyata setiap hari.
     
    Memang proses ini tidak menyenangkan bahkan tidak jarang yang menyakitkan, tetapi Tuhan melalui segala pengalaman-pengalaman riil tersebut hendak membersihkan karakter dosa kita. Dalam hal ini Bapa mendidik kita melalui Roh-Nya. Inilah yang dimaksud dikuduskan oleh Roh Allah. Oleh pekerjaan atau pimpinan Roh seseorang dimungkinkan untuk memiliki ketaatan kepada Bapa. Jadi, bukan dengan kuat dan gagah seseorang daapat melakukan atau mencapai kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah, tetapi oleh Roh Allah yang menolong orang percaya. Roh Allah adalah fasilitas keselamatan yang disediakan guna membawa orang percaya kepada kesempurnaan Allah.
     
    Kalau kata “dikuduskan” ini dihubungkan dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Ia menguduskan Diri-Nya, supaya orang percaya dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:19), maka berarti Tuhan Yesus berusaha untuk taat agar bisa menggenapi rencana Allah. Tuhan Yesus sendiri harus bergumul untuk bisa mencapai kesempurnaan. Ia tidak mencapainya dengan mudah. Ia harus bergumul hebat. Hal itu dilakukan agar setelah ia mencapai kesempurnaan, Ia dapat menjadi teladan bagi orang percaya dan Allah memakai-Nya sebagai alat keselamatan. Demikian pula orang percaya dapat dikuduskan dengan kebenaran supaya bisa dipakai oleh Bapa (Yoh. 17:19). Dalam Ibrani 5:8-9 tertulis: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya”. Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, Ia menjadikan manusia untuk dikuduskan dan dipakai oleh Bapa, sebagaimana Diri-Nya sendiri juga telah mengalaminya. Paulus juga dikuduskan untuk ini, yaitu menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menggenap...
    0 min
  • Injil Yang Benar
    Bagaimana Injil yang benar itu? Injil yang benar tertulis dalam kitab Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dan Injil yang telah diberitakan oleh Paulus. Untuk memahami Injil yang diberitakan Paulus, perlulah mendalami surat-surat Paulus yang tertulis dalam Alkitab. Di dalamnya memuat apa yang Tuhan ajarkan kepada mereka yang harus diteruskan kepada orang percaya di sepanjang abad. Jadi bila seorang pembicara salah mengartikan isi Alkitab, itu berarti ia memberitakan Injil yang lain. Injil yang benar adalah semua kebenaran yang termuat dalam Alkitab.
     
    Bagaimana dapat memahami Injil yang benar kalau tidak memahami isi Alkitab? Memang sebelum ada kitab Perjanjian Baru, murid-murid Tuhan Yesus  belajar langsung dari Tuhan. Tetapi setelah ada Alkitab orang percaya yang hendak mengenal Injil yang benar harus belajar dari Alkitab. Tidak ada saluran lain yang diajarkan Tuhan selain Alkitab. Hal ini ditegaskan Tuhan Yesus dengan ucapan-Nya: Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepada-Mu. Jadi bukan Tuhan Yesus sendiri secara langsung, murid-murid-Nyalah yang meneruskan pengajaran-Nya, dan pengajaran Tuhan tersusun dalam Alkitab ini.
     
    Tuhan Yesus Kristus tatkala memberitakan Injil di bumi selama 3,5 tahun, sebagian besar waktu-Nya digunakan untuk mengajar (Mat.4:23; 9:35; 26:55; Luk. 19:47; dll). Paulus pun dalam perjalanan pelayanannya mengajarkan “Injil” di mana-mana dengan mengajar. Mengajarkan Injil artinya menjelaskan kebenaran Allah secara mendalam dan luas. Pengajaran Yesus memiliki jelajah yang luas dan dalam. Jadi misi Injili adalah pemberitaan Injil yang benar dengan mengajarkan sepenuh isi Alkitab kepada umat manusia.
     
    Memberitakan Injil sama dengan mengajarkan kebenaran Alkitab secara lengkap. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Paulus dalam seluruh tulisannya dan kitab Ibrani. Dalam Ibrani 6:1-2, disebutkan tentang asas-asas pertama dan ajaran tentang Kristus, selanjutnya ada ajaran lanjutan. Oleh sebab itu, kalau mau mengerti ajaran Injil yang benar, orang percaya harus tekun belajar dengan sungguh-sungguh dan membutuhkan waktu panjang. Tentu belajar dari orang yang mengerti ajaran tentang Injil Yesus Kristus tersebut dengan benar.
     
    Selanjutnya, ajaran yang benar akan membuahkan “roh” dalam arti semangat atau gairah (Spirit) hidup yang benar. Injil yang benar akan menciptakan manusia rohani yang hatinya ada di surga (Mat. 6:21-22). Injil artinya kabar baik. Baik yang bagaimana? Kalau baiknya diarahkan kepada hal-hal dunia, maka itu berarti penyesatan. Sebab hal-hal dunia atau fasilitas dunia juga bisa diberikan Iblis (Luk. 4:4-8). Kata “baik” dari kata eu (Yunani) di sini adalah menyangkut “kebenaran”, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:16-17).
     
    Jemaat harus dilepaskan dari Injil yang sesat (berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata) dengan kuasa kebenaran Injil, yaitu kebenaran yang termuat dalam Alkitab secara benar. Inilah yang dimaksud bahwa Firman-Nya menguduskan (Yoh. 17:17). Kenyataan hari ini jemaat lebih diarahkan kepada kepentingan fisik pemenuhan kebutuhan jasmani daripada batiniahnya yang harus terus menerus diperbaharui. Menjadi orang percaya berarti telah dibawa kepada habitat baru, yaitu habitat warga Kerajaan Surga. Dalam hal ini orang percaya harus berani meninggalkan dunia dengan segala konsepnya agar dapat menjadi umat Kerajaan Allah yang baik.
     
    Gereja yang benar adalah gereja yang sungguh-sungguh membawa umat Tuhan
    kepada “perkara-perkara yang di atas”.
     
    Inilah yang membedakan orang percaya dengan bangsa Israel secara lahiriah. Mereka berorientasi kepada hal-hal dunia, makan minum, kawin mengawinkan, kesehatan, dan lain sebagainya, sehingga mengabaikan hal-hal rohani yang seharusnya menjadi perhatian utama. Dengan uraian ini bukan berarti kita tidak membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmaniah.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…