Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pengertian Injil
    Kata Injil merupakan terjemahan dari bahasa Yunani euanggelion. Kata eu berarti indah dan anggelion berarti berita. Kata euanggelion sebenarnya pada mulanya berarti a reward for good tidings. Dalam perkembangannya kata a reward dihilangkan, menjadi the good news (kabar baik) atau good message. Kata euanggelion bertalian dengan kata kerja euanggelizo, yang berarti to bring or announce glad tidings. 
     
    Apa sebenarnya Injil itu? Banyak orang hanya memahami Injil sekadar kabar baik, tanpa memahami maksud kabar baik tersebut. Untuk memahami pengertian Injil secara benar, terlebih dahulu harus memahami maksud kata baik di sini. Harus dipersoalkan baik menurut siapa dan baik yang bagaimana. Tentu pengertian baik harus dari perspektif Tuhan, bukan dari sudut manusia.
     
    Manusia dalam segala keterbatasannya

    tidak tahu apa yang baik.
     
    Apa yang dipandang baik sering ternyata bukan sesuatu yang baik (Pkh. 6:12). Seperti misalnya kebodohan orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, memahami apa yang baik, mengakibatkan kegagalan menerima kabar baik dari Sang Mesias. Mereka tidak memahami misi utama kedatangan Yesus Kristus, itulah sebabnya mereka hendak mengangkat Yesus jadi Raja menurut konsep mereka (Yoh. 6:15). Dengan tindakan itu mereka beranggapan akan memperoleh sesuatu yang baik, tetapi ternyata tidak.
     
    Petrus mewakili murid-murid-Nya mencegah Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem. Bagi mereka penyaliban Yesus adalah malapetaka, sebagai reaksi-Nya Tuhan Yesus menghardik Petrus dengan kata: Hai iblis, enyahlah dari pada-Ku (Mat. 16:23). Tuhan Yesus menolak apa yang dipandang baik oleh mereka, sebab apa yang dipandang mereka baik sesungguhnya bukan sesuatu yang baik. Sikap seperti ini pun ada di dalam kehidupan orang Kristen hari ini.
     
    Selanjutnya harus ditemukan apakah yang baik menurut pandangan Tuhan bagi manusia? Menurut Tuhan yang baik adalah keselamatan. Persoalannya kemudian adalah apakah keselamatan itu? Keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga adalah buah dari keselamatan, bukan keselamatan itu sendiri. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk memulihkan manusia segambar dengan Diri-Nya dan Injil adalah sarananya, sebab Injil adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16).
     
    Paulus dalam Galatia 1:6-10, menunjukkan adanya pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil, Alkitab menyebutnya “Injil yang lain” (Yun. eis heteron euanggelion; a different gospel). Paulus mengatakan Injil jenis itu “sesungguhnya bukan Injil”. Inilah cara kerja Iblis yang menyesatkan. Dalam 2 Korintus 11:2-4 ditunjukkan kenyataan adanya pikiran jemaat yang disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus oleh “Injil yang lain” tersebut.
     
    Bagi orang-orang yang baru menjadi Kristen, mereka tidak mampu membedakan manakah Injil yang benar dan yang tidak benar. Demikian pula orang-orang Kristen yang hidup Kekristenannya tidak bertumbuh selama bertahun-tahun, mereka juga tidak mampu mengenali adanya “Injil yang lain” tersebut. Hal ini terbukti dengan berbondong-bondongnya banyak orang Kristen yang sudah lama tertanam di gereja mainstream (gereja yang sudah permanen), pindah ke gereja-gereja yang mengajarkan Injil yang sebenarnya bukan Injil.
     
    Menanggapi adanya “Injil yang sesungguhnya bukan Injil”, orang percaya harus waspada. Dalam 2 Korintus 11:2-4, dikatakan bahwa penyesatan atas orang percaya sama dengan tipuan Iblis kepada Hawa. Keberhasilan Iblis menjatuhkan manusia ternyata dengan menyesatkan pikirannya, yaitu melalui informasi yang bertentangan dengan kebenaran yang disuntikkan ke dalam pikiran manusia, maka tewaslah ia.
     
    Dalam Galatia 1:8-9 dikatakan bahwa kalau ada yang memberitakan Injil yang lain baik malaikat mapun manusia “terkutuklah dia”. Dengan pernyataan ini, menunjukkan betapa berbahayanya “Injil lain”.
    0 min
  • Kuasa Ilahi Yang Membebaskan
    Pengenalan akan Tuhan memerdekakan kita dari ikatan mamon. Kemerdekaan dari ikatan mamon ini menyangkut kemerdekaan dari pola pikir duniawi.
     
     
    Kedua, pengenalan akan Tuhan berperan dalam penanggalan nafsu daging. Dalam Yohanes 8:31-32 terdapat pernyataan Tuhan Yesus yang berkaitan dengan pengenalan akan Tuhan yang dikalimatkan “Mengenal kebenaran” (Yun. gnosesthe aletheian). Tuhan Yesus berkata “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Kemerdekaan ini adalah kemerdekaan dari dosa. Dalam hal ini harus kita mengerti bahwa ketika seseorang bertobat dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dosa-dosa masa lalu dihapus, tetapi “kodrat dosa” (sinful nature) tidak otomatis lenyap. Sejak pertobatan awal itulah Tuhan menghendaki orang percaya bertumbuh dalam kesucian.
     
    Langkah atau proses di atas ini dikalimatkan sebagai: penanggalan manusia lama yang menyesatkan. Berbicara mengenai penyesatan, biasanya selalu dihubungkan dengan ajaran, yaitu ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Namun ternyata penyesatan bukan hanya berkaitan dengan pengajaran, tetapi juga dengan tingkah laku manusia. Dalam hal ini penyesatan berkaitan dengan nafsu (Yun: epithumia – strong desire). Dalam Roma 13:14, epithumia ini diterjemahkan “sinful nature”. Penanggalan manusia lama ini berlangsung oleh sarana pengenalan akan kebenaran Firman Tuhan.
     
    Dalam 2 Petrus 1:3-4 kita temukan penjelasan Petrus mengenai hubungan pengenalan akan Tuhan dengan kesucian hidup. Ada beberapa pokok pikiran yang harus diperhatikan dengan seksama dari ayat tersebut: Penting dipahami kalimat “kuasa ilahi menganugerahkan kepada kita segala sesuatu untuk hidup saleh”, yang mengisyaratkan bahwa kuasa Tuhan bukan hanya dikaitkan dengan perbuatan-perbuatan spektakuler, tanda-tanda ajaib dalam pelayanan. Dalam ayat ini tekanan maksud kuasa Ilahi Tuhan diberikan “guna hidup yang saleh”. Agar kita mengambil bagian dalam kodrat Ilahi. Kedua, kuasa Ilahi tersebut tersalur melalui “pengenalan akan Tuhan”. Perhatikan “oleh pengenalan kita akan Dia”. Dalam teks aslinya “dia tes epignoseos tou kaleo antos hemas” (through the full knowledge of the One calling us). Ibarat pipa saluran, saluran untuk mendayagunakan kuasa Ilahi yang berguna untuk hidup yang saleh adalah pengenalan akan Tuhan.
     
    Akhirnya pengenalan akan Tuhan memerdekakan kita dari ikatan mamon. Kemerdekaan dari ikatan mamon ini menyangkut kemerdekaan dari pola pikir duniawi. Tuhan menghendaki kita memasuki perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Perlombaan itu adalah menanggalkan segala beban dan dosa (Ibr. 12:1). Segala beban maksudnya adalah keterikatan kita dengan dunai ini. Bila kita menghubungkan hal kemerdekaan dari ikatan perkara duniawi dengan pengenalan akan Tuhan, kita dapati relasional yang erat pula. Dalam Matius 6:19-22, ketika Tuhan berbicara mengenai mengumpulkan harta di surga, Yesus berbicara mengenai “mata adalah pelita tubuh”. Mata di sini adalah pengertian tentang hidup. Kalau pengertian kita tentang hidup sudah salah, maka gelaplah hidup kita. Kita akan memandang keliru berbagai hal dalam hidup ini dan bertindak keliru.
     
    Dalam perikop Matius 6:19-24 orientasi pembicaraan Tuhan mengenai mamon. Tuhan Yesus hendak menjelaskan di sini bahwa orang-orang yang hidup untuk mamon adalah orang-orang yang gelap hidupnya.
     
    Perasukan Iblis atas manusia bukan saja kalau seseorang kerasukan setan
    yang manisfestasinya secara lahiriah menakutkan, tetapi filsafat mamonisme yang membuat manusia mengesampingkan 
    segala sesuatu -bahkan Allah sendiri- adalah perasukan setan yang sangat berbahaya.
     
    Berkenaan dengan ini kita menemukan betapa pentingnya kebenaran Firman Tuhan yang mengubah pikiran dan pengertian kita untuk mengenal kebenaran-Nya (Yoh. 17:17; Rm.
    0 min
  • Pengenalan Akan Allah
    Pemberitaan kebenaran merupakan hal yang utama dan penting dalam pelayanan gereja Tuhan. Hal ini ditunjukkan oleh berita dalam Kisah Rasul 6:1-2. Para rasul Tuhan perlu mengutamakan pelayanan pemberita Firman, karenanya pelayanan diakonia perlu diserahkan kepada orang lain. Hal itu dimaksudkan agar para rasul dapat memberi perhatiannya kepada pemberitaan Firman.
     
    Alkitab berkata bahwa umat-Nya binasa karena tidak mengenal Allah (Hos. 4:6). Kata “binasa” dalam salah satu terjemahan Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan: destroyed. Kata ini teks aslinya dari akar kata “dama” yang dapat diterjemahkan selain “to destroy” juga dapat dimengerti sebagai “be cut down, to be dumb.” Kalimat “karena tidak mengenal” dalam teks lain disebutkan “kekurangan dalam mengenal Tuhan” (lack of knowledge). Mereka binasa bukan karena dosa-dosa fisik seperti yang sering disebut-sebut atau dikenal secara umum, tetapi karena tidak atau kurang mengenal Tuhan. Dari pernyataan Hosea ini jelaslah dapat ditemukan peran pengenalan akan Tuhan dalam kehidupan umat yang sangat besar, sebab kurang atau tidaknya pengenalan akan Tuhan dapat membinasakan umat. Pengenalan akan Tuhan merupakan pilar penting bangunan kehidupan iman orang percaya.
     
    Dalam Yohanes 17:3, Tuhan Yesus berujar: Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Kata “hidup kekal” bukan hanya berbicara mengenai “panjangnya hidup” sebab bukan hanya di surga ada kekekalan, di neraka pun juga kekal. Tetapi hidup kekal juga berbicara mengenai “dalamnya hidup”, mutu atau kualitas hidup. Dengan demikian jelaslah bahwa pengenalan akan Tuhan menentukan kualitas hidup manusia. Itulah sebabnya Petrus di akhir suratnya berharap dan menghimbau agar orang percaya bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan: Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya (2Ptr. 3:18). Apa yang menandai kualitas hidup kita ditingkatkan. Untuk mengerti relasional bahwa pengenalan akan Tuhan menentukan kualitas hidup umat Tuhan, dapat dijelaskan dalam butir-butir berikut:
    Pertama, pengenalan akan Tuhan melepaskan beban kehidupan (Mat. 11:28). Terdapat “undangan kelegaan” dari Tuhan Yesus bagi mereka yang berlelah. Undangan kelegaan ini sering dipahami secara miskin sehingga kebenaran ayat ini tidak terwujud dalam kehidupan. Untuk memahami ayat ini hendaknya kita memperhatikan konteksnya, yaitu ayat sebelum dan sesudahnya (Mat. 11:25-27). Ternyata Tuhan Yesus berbicara mengenai pengenalan akan Tuhan.
     
    Hendaknya kita tidak mensimplifikasi kebenaran atau menyederhanakannya
    sehingga kehilangan maksud kebenaran

    ayat tersebut.
     
    “Marilah kepadaKu, …. kamu akan beroleh kelegaan”, kalimat ini simpel atau sederhana sekali. Tetapi di balik kalimat ini ada proses atau mekanismenya. Dari “letih lesu dan berbeban berat” sampai “memperoleh kelegaan” terdapat proses atau mekanisme. Ternyata kunci proses atau mekanisme adalah mengenal Bapa dan Anak.
    Bila kita analisa secara jujur dan teliti, ternyata terdapat proses untuk menerima ketenangan jiwa. Kata kelegaan (Yun. anapauso) dalam ayat 28 ternyata juga terdapat dalam ayat 29 yang dalam teks bahasa Indonesia diterjemahkan “ketenangan jiwa”. Proses atau mekanisme itu terletak pada kata “belajar pada-Ku”. Kata belajar harus dikaitkan dengan konteks pembicaraan Tuhan di Matius 11:25-27, perlu dicamkan kalimat “dinyatakan kepada orang kecil”, apa yang dinyatakan? rahasia tentang “pengenalan akan Bapa dan Anak”.
     
    Selama ini banyak orang memahami “terlepas dari beban dan memperoleh kelegaan” dengan pemahaman yang tidak tepat, yaitu cukup memberikan penumpangan tangan maka “everything is running well”, segala sesuatu berjalan dengan baik atau menjadi beres.
    0 min
  • Menemukan Inti Atau Ekstraksinya
    Alkitab ditulis dengan melibatkan pikiran, perasaan manusia, kemampuannya berinteraksi dengan Tuhan dan lingkungan, budaya, dan lingkungan hidup yang semuanya berbeda jauh dengan keadaan kita hari ini. Dengan demikian Alkitab bagai sebuah hutan belantara yang harus dikenali dengan benar jalan-jalannya. Ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan:
    Pertama, kita harus belajar sungguh-sungguh memahami pola berpikir para penulis Alkitab. Harus diingat bahwa Alkitab ditulis dalam kurun 1.500 tahun oleh sekitar 40 penulis.
    Kedua, budaya dan lingkungan hidup mereka pada waktu wahyu Tuhan tersebut ditulis. Alkitab ditulis dalam bungkus budaya Yahudi purba, karenanya kita harus belajar budaya mereka pada waktu itu.
    Ketiga, dalam rangka apa suatu kitab ditulis, apa hubungannya dengan penulis dan manusia lain pada waktu itu, dan lain sebagainya.
     
    Seperti misalnya sebuah nubuatan ditujukan kepada suatu bangsa, kita tidak boleh mengambil alih nubuatan itu untuk diri kita atau orang lain. Misalnya teks yang berbunyi: Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu (Yes. 60:5). Nubuatan ini ditujukan kepada bangsa Israel, bukan kepada semua orang Kristen. Kalau untuk tempat tertentu dan pada waktu tertentu ayat ini “dipinjam” untuk orang Kristen, mungkin bisa saja. Tetapi kemungkinannya sangat kecil.
     
    Jadi, ayat tersebut tidak berlaku bagi semua orang Kristen dan di sepanjang zaman. Bagi orang Kristen yang hidup di negara di mana Injil diterima seperti di negara-negara Barat, orang Kristen dapat hidup makmur, kekayaan negara-negara jajahan diangkut oleh mereka. Tetapi di banyak tempat di mana Kekristenan ditolak atau masyarakatnya miskin, maka realisasi ayat ini sangat jauh. Apakah kalau sudah demikian berarti Tuhan tidak konsekuen? Tentu tidak. Yang salah adalah kesalahan tafsir terhadap ayat tersebut. Kesalahan bukan terletak pada Tuhan.
     
    Masing-masing kitab harus ditafsirkan menurut sifatnya, sejarah, nubuat, syair, amsal, Injil, surat, dan wahyu. Kitab yang berisi syair yang penuh dengan gaya bahasa simbolis atau figuratif tidak bisa diartikan secara harafiah. Demikian pula dengan wahyu yang sering diungkapkan dengan simbol-simbol tidak boleh diartikan secara hurufiah. Kuda, singa, naga, dan lain-lain mengandung makna tertentu, bukan dalam arti hurufiah. Untuk ini kita harus mengartikannya dengan teliti dan hati-hati. Harus diingat bahwa Alkitab bukan teka-teki.
     
    Adalah lebih lengkap lagi bila mengerti bahasa asli yang digunakan menulis Alkitab. Bahasa asli Alkitab bertalian dengan maksud penulis. Misalnya dalam Alkitab bahasa Yunani Koine (bahasa asli Perjanjian Baru) terdapat dua kata yaitu “aletheia” dan “dikaiosune” (Yoh. 14:6 dan Mat. 5:20), dua-duanya diterjemahkan “kebenaran”, padahal masing memiliki muatan pengertian yang berbeda. Contoh lain misalnya dalam Alkitab bahasa Yunani Koine terdapat dua kata “dedoulotetai” dan “dedetai” (1Kor. 7:15 dan 1Kor. 7:27, 39) dua-duanya diterjemahkan “terikat”. Padahal masing-masing memiliki muatan pengertian yang berbeda, yang satu terikat secara “perbudakan” bukan secara legal, tetapi yang satu terikat secara legal atau secara hukum.
     
    Sebaliknya, dalam Alkitab kita menemukan satu kata yaitu “latreia” tetapi di dalam Alkitab Bahasa Indonesia yang satu diterjemahkan berbakti dan yang lain diterjemahkan ibadah. Dengan demikian jelas dapat dimengerti bahwa Alkitab dipahami sebagai Firman Tuhan tergantung dari “cara menafsir” atau tergantung “mengolahnya”. Bila salah mengolah, maka Alkitab tidak menjadi Firman Tuhan, sebaliknya menjadi alat melawan kebenaran. Hal ini terjadi tanpa disadari oleh jemaat bahkan si “pemberita Firman”. Dalam hal ini yang sangat dibutuhkan ada dua faktor:
    Pertama,
    0 min
  • Alkitab Adalah Firman Tuhan Atau Berisi Firman Tuhan?
    Pernah dipersoalkan dengan serius dalam masyarakat Kristen, sesungguhnya yang benar adalah Alkitab adalah Firman Tuhan atau Alkitab berisi Firman Tuhan? Dalam Pengakuan Iman suatu gereja tertulis Alkitab adalah Firman Tuhan. Untuk membedah masalah ini, harus dipersoalkan: Apa sebenarnya yang Firman Tuhan? Bukunya secara fisik? Huruf yang menyusun kata-kata? Kalimat yang menjadi ayat-ayat? Atau penjelasan dari kesimpulan-kesimpulan para penafsir yang juga menjadi rentetan khotbah-khotbah mereka? Hal ini menjadi persoalan yang harus ditanggapi dengan serius.
     
    Kita mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, tetapi ternyata bidat-bidat atau aliran-aliran sesat dalam lingkungan Kristen juga mengakui demikian. Mereka juga membedah Alkitab dan mengakui bahwa mereka hidup berlandaskan Alkitab yang diakuinya juga sebagai Firman Tuhan.
     
    Tidak dapat disangkal kenyataan bahwa ajaran-ajaran sesat yang merusak iman murni jemaat Kristen juga ajaran yang diakui sebagai dilandaskan kepada Alkitab yang disebutnya sebagai Firman Tuhan.
     
    Dengan hal ini maka terbuka kemungkinan ajaran-ajaran yang diakuinya sebagai berlandaskan Firman Tuhan, sebenarnya melawan kebenaran. Ini berarti tidak sedikit jumlah “pembicara” atau “nabi Tuhan” yang tanpa sadar melawan kebenaran, yaitu ketika mereka menyampaikan “Firman Tuhan” padahal apa yang dikemukakan bertentangan dengan prinsip kebenaran atau bukan Firman Tuhan.
     
    Masalah penting di sini adalah bagaimana kita dapat menemukan kebenaran dari dalam Alkitab. Sebab ternyata dari dalam Alkitab orang bisa menarik kesimpulan dari apa yang dimengertinya sebagai kebenaran padahal bukan kebenaran. Alkitab adalah buku yang multi tafsir, artinya memiliki potensi untuk ditafsirkan sesuka hati penafsirnya. Sehingga masing-masing penafsir bisa mengklaim bahwa mereka mengajarkan Firman Allah yang murni. Bahkan mereka berani menyatakan bahwa apa yang diajarkan orang lain -yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh mereka- adalah penyesatan. Mereka berani mengklaim sebagai yang paling benar.
     
    Harus dimengerti bahwa Alkitab adalah buku yang ditulis dalam bungkus atau bahasa manusia yang keberadaannya berbeda sekali dengan zaman kita hari ini. Wahyu yang ditulis dalam Alkitab tidak ditulis secara mekanis. Secara mekanis artinya Alkitab ditulis oleh penulis yang hanya berfungsi sebagai mesin yang secara mekanis menulis wahyu atau pengilhaman dari Tuhan. Inisiatif dan keaktifan mutlak ada pada Tuhan. Di sini keterlibatan dan peran manusia hampir tidak ada. Manusia seperti orang “kesurupan” yang menulis secara mekanis dan otomatis segala hal yang Tuhan kehendaki untuk ditulis.
     
    Harus diingat cara penulisan Alkitab tidak sama dengan penulisan kitab-kitab dalam agama-agama tertentu, dimana “wahyu” yang mereka terima diberikan “allah” secara mekanis. Alkitab tidak demikian. Seperti misalnya Injil Lukas dan Kisah Rasul ditulis oleh Lukas setelah melalui “penyelidikan” dan kemudian dituliskannya kepada sahabatnya Theofilus. Dalam awal tulisannya ia berkata: Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu (Luk. 1:3). Dalam Injilnya, Lukas dapat menemukan kisah masa kecil Tuhan Yesus, tetapi Injil lain kurang.
     
    Selanjutnya kita menemukan bahwa ternyata kemampuan menulis masing-masing penulis berbeda. Kemampuan menggunakan bahasa, menjelaskan suatu pemikiran, menganalisa sesuatu pun berbeda-beda. Misalnya Paulus sangat cakap menjelaskan hal Taurat dan budaya Yahudi, tetapi Petrus tidak menyinggungnya secara mendalam. Bahkan karena Petrus bukan seorang terpelajar seperti Paulus, maka dalam menulis Injilnya ia menggunakan tenaga dan keahlian Markus, salah satu dari pengikut Kristus yang menjadi muridnya.
     
    Dalam meneliti Alkitab, fakta-fakta ini harus diperhitungkan dengan sangat se...
    0 min
  • Alkitab Unitas
    Sifat Alkitab yang lain adalah bahwa Alkitab berisi kebenaran yang unitas. Unitas artinya menunjuk kepada satu kesatuan yang di dalamnya terdapat beberapa atau banyak elemen keterangan dan penjelasan yang inti atau esensinya tidak saling berbenturan atau konflik. Dalam hal ini yang tidak berbenturan bukan data-data secara minor, sebab memang Alkitab seperti kumpulan tulisan-tulisan dari para penulis dengan segala keberadaan yang terbatas. Alkitab tidak ditulis secara mekanis dimana penulis menulis tanpa kesadaran. Alkitab ditulis dalam kesadaran dan keterbatasan manusia, seperti seorang wartawan yang mengamati sesuatu dan menulisnya. Secara akurasi data yang minor belum tepat benar, masih perlu pengujian, tetapi mengenai kebenaran yang termuat di dalamnya pasti tepat sempurna. Dalam hal ini kebenaran bukan terletak pada susunan hurufnya, tetapi pengertiannya. Dalam hal ini yang dipentingkan adalah kebenaran yang bisa ditulis dari tulisannya. Untuk ini Roh Kudus pasti menuntun setiap penulisnya.
     
    Alkitab berisi kebenaran yang unitas maksudnya adalah bahwa di dalam Alkitab tidak ada benturan pandangan atau konsep pemikiran dari para penulisnya. Walau Alkitab ditulis oleh sekitar 40 orang dalam kurun waktu sekitar 1.500 tahun, tetapi Alkitab berisi kebenaran-kebenaran yang saling menunjang, melengkapi, dan meneguhkan. Masing-masing penulis tidak kenal dan hidup di zaman yang berbeda, dan tempat yang berbeda serta situasi kehidupan yang berbeda, tetapi mereka dapat menulis sebuah tulisan yang tidak saling bertentangan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab mereka menerima pimpinan Roh Kudus. Jadi, sangatlah wajar kalau apa yang mereka tulis tidak saling berbenturan, sebab semua menuju kepada karya Allah dalam Yesus Kristus, yaitu keselamatan umat manusia.
     
    Kalau ada orang-orang yang sengaja membuat benturan antara satu ayat dengan ayat yang lain di dalam Alkitab dan menuduh Alkitab tidak unitas, sebenarnya ini adalah usaha mereka hendak merusak kewibawaan Alkitab, hal itu tidak perlu kita tanggapi sama sekali. Biasanya hal tersebut datang dari orang-orang yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat. Serangan terhadap Alkitab sesungguhnya hanya untuk menentang adanya pengajaran bahwa hanya ada satu-satunya jalan keselamatan di dunia ini, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Kis. 4:12, Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Yoh. 14:6, Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.)
     
    Kalau kita menanggapi serangan-serangan dari berbagai pihak di luar gereja, maka hal tersebut membuat kita sendiri menjadi bodoh. Karena mereka melihat Alkitab dengan perspektifnya sendiri, yang tidak sesuai dengan cara yang benar dalam memandang Alkitab. Jika seseorang memandang Alkitab dengan cara demikian, maka mereka akan selalu menemukan data-data dan penjelasan yang seakan-akan bertentangan. Padahal jika seseorang memperhatikan dan menemukan inti atau esensi isinya -yaitu kebenaran yang harus dipahami- maka dapat terbangun pengertian kebenaran yang unitas dalam Alkitab yang sangat menakjubkan.
     
    Semua yang tertulis di dalam Alkitab mengarah kepada karya keselamatan Allah dalam Yesus kristus.
     
    Hal ini tidak mungkin dilakukan manusia. Hanya Allah oleh Roh-Nya yang kudus dan berkuasa yang mampu mengerjakan semuanya. Ini adalah suatu mukjizat besar, sebab tidak ada buku yang memiliki keberadaan yang sangat luar biasa seperti ini, begitu tebal dan memuat banyak kebenaran tetapi mengarah kepada satu berita, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Dengan jelas Alkitab menunjuk satu klimaks, yaitu karya keselamatan Allah dalam Yesus, tidak ada yang lain. Keselamatan ini dapat diterima dan dimiliki oleh manusia bukan karena memiliki perbua...
    0 min
  • Alkitab Berkuasa
    Salah satu ciri Alkitab yang ketiga adalah bahwa Alkitab berkuasa. Berkuasa di sini artinya membawa dampak yang sangat kuat dan besar. Kalau seseorang benar-benar mengerti isi Alkitab dan mengenakannya di dalam hidupnya, maka kehidupan orang tersebut pasti terus menerus diubah. Kehidupan seseorang yang diubah sesuai dengan maksud dan tujuan keselamatan, maka kehidupan orang tersebut pasti menjadi sangat luar biasa. Kehidupan yang luar biasa yang mengacu pada Pribadi Kristus yang dapat digambarkan sebagai lampu yang memiliki kekuatan watt yang tinggi dengan terang yang menakjubkan (1Ptr. 2:9). Dalam hal ini “berkuasanya” Alkitab dapat terbukti.
     
    Terkait dengan Alkitab yang berkuasa, ada beberapa pernyataan Alkitab yang luar biasa. Yesus berkata bahwa Firman Tuhan adalah kebenaran yang menguduskan (Yoh. 17:17). Menguduskan di sini berarti mengubah karakter. Kalau darah Yesus mengangkat dosa yang dilakukan, tetapi Firman Allah di dalam Alkitab mengangkat karakter dosa yang berpotensi untuk dilakukan. Kebenaran Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab berpotensi membuat seseorang bukan saja tidak berbuat dosa lagi, tetapi tidak bisa berbuat dosa lagi. Rasul Paulus dalam suratnya menyatakan: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Rm.1:16-17). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Alkitab berkuasa.
     
    Alkitab berisi Firman Tuhan, oleh sebab itu kekuasaan yang terdapat di dalamnya
    adalah kekuasaan Allah yang tertinggi.
     
    Otoritas yang dimiliki Alkitab adalah otoritas dari tempat yang Mahatinggi. Alkitab tidak boleh dan tidak bisa dibawahi oleh lembaga apa pun. Sebab tidak ada lembaga dalam dunia yang lebih dari Allah. Oleh karena Alkitab memiliki otoritas dari Allah sebagai lembaga tertinggi, maka gereja dan orang percaya harus tunduk kepada Firman Tuhan sebagai pedoman dan pengatur kehidupan. Kuasa yang terdapat dalam Alkitab akan terbukti nyata dalam kehidupan manusia yang memercayai dan menghidupi kebenaran Alkitab.
     
    Oleh karena Alkitab berkuasa, maka gereja harus mengakui kewibawaan Alkitab di atas segalanya, artinya doktrin yang dirumuskan gereja tidak boleh dianggap sejajar dengan Alkitab, apalagi dianggap lebih tinggi. Doktrin yang disusun oleh sebuah sinode gereja dalam bentuk Pengakuan Iman dan pengajaran tidak boleh dianggap sebagai harga mati, artinya tidak boleh dipandang sebagai permanen yang tidak boleh diganggu gugat atau diubah. Kita harus selalu membuka ruangan untuk mengoreksi kembali segala sesuatu yang diajarkan oleh gereja dan sudah diyakini sebagai kebenaran.
     
    Gereja juga tidak boleh takut dan ragu-ragu untuk mengoreksi kembali ajaran dari para tokoh teolog masa lalu yang sangat hebat pada zamannya, bahkan mereka yang menjadi pendiri dari sebuah denominasi gereja. Mereka memang dipakai oleh Tuhan secara luar biasa pada zamannya, tetapi sekarang zaman sudah sangat berubah. Pengajaran yang sangat efektif pada zamannya belum tentu efektif untuk dunia kita hari ini. Pengeksplorasian terhadap Alkitab tidak boleh berhenti guna menemukan kebenaran-kebenaran yang efektif pada zamannya. Apa yang pernah dirumuskan oleh para tokoh gereja dan teolog masa lalu tidak boleh disejajarkan dengan kewibawaan Alkitab.
     
    Alkitab juga teruji kuasanya dalam hal ketahanannya menghadapi segala serbuan yang memandang Alkitab sebagai buku biasa. Ternyata Alkitab telah tercetak lebih dari 240 bahasa secara lengkap dan bagian tertentu telah diterjemahkan lebih dari 1800 bahasa. Dalam membela dan mempertahankan Alkitab, orang percaya tidak menggunakan kekerasan atau pedang. Tuhan mengajarkan agar orang percaya mengasihi musuh-musuhnya.
    0 min
  • Alkitab Cukup Dan Lengkap
    Salah satu sifat Alkitab yang kedua adalah cukup dan lengkap. Cukup artinya tidak perlu lagi ditambahi dengan kitab-kitab lain, dan tidak boleh mengurangi kitab-kitab yang sudah diakui sebagai kitab-kitab yang memuat kebenaran. Salah seorang reformator pada abad ke-15 pernah mengatakan bahwa kitab Yakobus adalah kitab yang dapat digambarkan sebagai “jerami kering”. Hal ini dimaksudkan bahwa kitab Yakobus tidak memberi manfaat yang cukup. Pernyataan ini muncul berhubung gelombang gerakan yang menyerukan bahwa keselamatan hanya oleh anugerah (sola gratia) dan hanya oleh iman (sola fide). Kitab Yakobus dipandang mengganggu atau paling tidak mengurangi ketajaman pengajaran sola gratia dan sola fide tersebut. Padahal sebenarnya tidak. Kalau keselamatan hanya oleh iman dalam tulisan Roma (Rm. 6-8), maka bisa membangkitkan asumsi bahwa untuk memperoleh dan mengalami keselamatan respon manusia tidak dibutuhkan sama sekali. Tetapi Yakobus menyatakan bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan, oleh karena perbuatannya maka imannya menjadi sempurna (Yak. 2).
     
    Pengertian perbuatan dalam kitab Roma adalah perbuatan berdasarkan hukum, sedangkan perbuatan yang dimaksud oleh Yakobus adalah perbuatan berdasarkan penurutan terhadap kehendak Allah, yaitu pikiran dan perasaan Allah. Sangat jelas sekali bahwa tidak ada orang yang dibenarkan karena perbuatan berdasarkan hukum, tetapi dibenarkan karena perbuatan berdasarkan penurutan terhadap kehendak Allah. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 7:21-23). Kalau kitab Yakobus dihilangkan dari Alkitab, maka konsep keselamatan menjadi kacau. Pernyataan Tuhan Yesus bahwa orang yang diselamatkan harus berjuang seperti masuk pintu sempit tidak akan dipahami sebab dengan pikiran atau nalar yang “percaya” maka seseorang sudah selamat. Keselamatan adalah perjuangan bagaimana meresponi penggarapan Allah untuk menjadi serupa dengan gambar dan rupa Allah, yaitu sesuai dengan rancangan semula.
     
    Pengertian bahwa Alkitab sudah lengkap artinya tidak boleh ditambahi dengan kitab-kitab lain. Kebenaran yang terdapat dalam Alkitab sudah cukup, lengkap, dan sempurna artinya apa yang sudah tertulis di dalam Alkitab sesuai dengan hasil proses kanonisasi. Jadi Alkitab yang berisi 66 kitab, yaitu 39 Perjanjian Lama dan 27 Perjanjian Baru sudah cukup dan lengkap. Adapun kalau ada kitab-kitab lain yang diakui oleh gereja tertentu, hal itu menjadi hak dan tanggung jawab mereka. Dengan 66 kitab tersebut, maka sebenarnya kebenaran yang Allah kehendaki untuk dipahami orang percaya sudah cukup.
     
    Mengurangi jumlah tersebut akan membuat tidak lengkapnya kebenaran yang harus dipahami orang percaya, tetapi sebaliknya penambahan atas 66 kitab tersebut akan mengacau kebenaran yang seharusnya dipahami oleh orang percaya.
     
    Apakah Alkitab yang benar berjumlah 66 atau dengan jumlah yang lain, dapat dibuktikan dengan kualitas anggota gereja mereka? Kualitas anggota gereja yang meyakini Alkitab cukup sejumlah 66 kitab dengan mereka yang menambahi atau mengurangi jumlah kitab, dapat dibuktikan kualitas hidup masing-masing. Aspek lain yang harus diperhatikan, sekalipun Alkitabnya benar, tetapi kalau tidak memahami isinya pasti juga melahirkan anggota gereja yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Dengan demikian, harus dipahami, kalau Alkitabnya saja benar, tetapi kalau tidak mengerti isinya dengan benar akan rusak juga, apalagi kalau Alkitabnya salah.
     
    Alkitab cukup dan lengkap, sehingga sama sekali tidak perlu ditambah oleh kitab-kitab lain sebagai pelengkap atau penyempurnanya. Dewasa ini terdapat aliran Kristen yang menganggap perlu menambah Alkitab dengan kitab lain yang diakui sebagai ilham dari Allah. Ajaran ini harus ditolak tegas. Alkitab sudah cukup (sufficientia).
    0 min
  • Alkitab Tidak Bisa Bersalah
    Dalam bab ini kita perlu meninjau sifat-sifat Alkitab yang sekaligus menunjukkan kepiawaian Alkitab yang tak tertandingi dibanding dengan kitab-kitab dalam dunia ini. Pertama, Alkitab tidak mungkin salah.
     
    Ketidakbersalahan di sini bukan menyangkut penulisan secara hurufiah dan data-data yang mungkin bisa meleset oleh karena keterbatasan pola pikir manusia pada zamannya, tetapi ketidakbersalahan di sini adalah menyangkut jiwa kebenaran yang terkandung di dalam Alkitab.
     
    Setiap ide yang dipaparkan Alkitab adalah kebenaran yang memiliki nilai akurasi sempurna. Inilah yang juga disebut sebagai infalibilitas Alkitab. Oleh sebab Alkitab tidak mungkin salah, maka Alkitab dapat menjadi syarat mutlak (neccesitas) yang tidak dapat ditawar. Segala kebenaran yang ditawarkan apabila tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, maka ia bukanlah kebenaran tetapi dusta yang harus tegas ditolak.
    Ketepatan Alkitab teruji dalam hal kegenapan setiap nubuat-nubuatnya. Bila kita mempelajari mengenai nubuat-nubuat Alkitab, maka semua nubuat yang tertulis dalam Alkitab digenapi dengan sempurna. Salah satu contoh adalah nubuat yang ditafsirkan oleh Daniel dari mimpi raja Nebukadnezar mengenai patung besar yang melambangkan perjalanan sejarah dunia. Nubuatan-nubuatan Daniel lebih banyak berbicara mengenai dunia pada waktu itu, tahun-tahun atau abad-abad setelah Daniel hidup, lebih dari keadaan dunia zaman kita. Kepala emas melambangkan negara Babel tahun 606 SM. Dada dan lengan dari perak menggambarkan Kerajaan Persia tahun 539 SM. Perut dan pinggang dari tembaga menggambarkan Kerajaan Yunani tahun 331 SM. Paha dari besi menggambarkan Kerajaan Romawi Barat dan Timur tahun 64 SM. Kaki dan jari-jari sebagian besi dan tanah liat menggambarkan negara-negara di dunia ini, yaitu adanya negara yang kuat dan lemah. Ini baru salah satu nubuat Alkitab yang digenapi dengan tepat. Masih banyak nubuat lain yang digenapi dengan sangat tepat dan sempurna. Hal ini membuktikan bahwa Alkitab tidak mungkin salah.
    Ketidakbersalahan Alkitab bukan terletak pada penulisannya secara harafiah dan data-data minor yang tidak penting. Tetapi ketidakbersalahan Alkitab terletak pada maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Dalam hal ini yang penting dari Alkitab adalah penjelasan atau keterangan mengenai rencana Allah menyelamatkan dunia ini, yaitu bagaimana mengubah manusia-manusia yang terpilih sebagai umat pilihan Perjanjian Baru. Perubahan itu adalah perubahan dari kodrat manusia dengan kodrat dosanya (sinful nature), menjadi seorang yang berkodrat Ilahi (divine nature). Ini berarti perubahan tersebut bukan hanya dari orang jahat menjadi orang baik, tetapi dari manusia berdosa kemudian menjadi baik, dan akhirnya menjadi sempurna. Target yang harus dicapai adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
     
    Perubahan kodrat dalam kehidupan manusia tidak membutuhkan hukum-hukum seperti hukum-hukum agama Samawi pada umumnya. Tetapi yang dibutuhkan adalah pengertian mengenai kebenaran yang dapat mencerdaskan pikiran sehingga orang percaya dapat mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Itulah sebabnya pikiran orang percaya bukanlah pikiran hukum, tetapi pikiran Tuhan. Terkait dengan hal ini orang percaya dikehendaki oleh Allah untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Dengan hal ini kita bisa menghayati bahwa Kekristenan bukan jalan hukum, tetapi jalan hidup. Hidup yang harus dijalani adalah hidupnya Tuhan Yesus. Untuk memiliki hidup seperti yang pernah dijalani Yesus, orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan-Nya.
     
    Dengan demikian, untuk dapat membedakan apakah seseorang mengerti Alkitab atau tidak, bukanlah ditentukan oleh cakapnya berbicara mengenai teologi, bukan pula pada jenjang pendidikan teologi, tetapi apakah seseorang memiliki kehidupan Yesus yang diperagakan secara konkret. Peragaan tersebut pasti sangat nyata dari setiap kata...
    0 min
  • Bisa Dipercayai
    Dalam sejarah perjalanan Alkitab, tidak jarang serangan bukan datang dari orang di luar Kristen, tetapi juga datang dari orang-orang Kristen sendiri. Dan yang paling menyedihkan, serangan terhadap Alkitab justru datang dari teolog-teolog Kristen sendiri dan orang-orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran Alkitab. Mereka studi Alkitab selama bertahun-tahun supaya menjadi cerdas dan membela pekerjaan Tuhan, tetapi malahan sebaliknya, menyerang Alkitab. Tetapi walaupun Alkitab mengalami tantangan dan serangan yang begitu hebat, Alkitab tetap eksis. Seharusnya teolog-teolog Kristen berdiri membela Alkitab sebagai kebenaran yang tidak ada duanya. Tetapi ironisnya, justru mereka mencoba merusak kewibawaan Alkitab. Di antara orang-orang tersebut mengajarkan bahwa tidak semua yang tertulis dalam Injil adalah Firman Tuhan atau ucapan Tuhan. Ada juga yang mengatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah peristiwa simbolis. Mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak bangkit. Mereka yang mengatakan bahwa kisah-kisah yang tertulis dalam Alkitab adalah mitos, terutama yang menyangkut mukjizat.
     
    Memang Alkitab ditulis oleh manusia dengan segala keberadaannya, tetapi bukan berarti apa yang mereka tulis boleh diragukan. Roh Kudus menuntun orang percaya dalam menerima pengilhaman kebenaran. Mereka yang menerima penghilhaman adalah orang-orang pilihan yang “mumpuni” atau berkapasitas untuk menerima pewahyuan; seperti Musa, Daniel, para penulis Injil, Paulus, Petrus, Yohanes, dan lain sebagainya. Jadi, bukan orang sembarangan untuk bisa dipercaya menerima pewahyuan atau ilham dari Tuhan, yaitu kebenaran-Nya guna maksud dan rencana penyelamatan umat manusia. Terutama kehidupan moral mereka yang baik, yang patut diteladani, walau mereka tentu tidak atau belum sempurna.
     
    Jadi sangat keliru kalau ada tuduhan bahwa Alkitab ditulis dalam pengaruh keberadaan individu, baik kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangannya, dan lain sebagainya. Aspek negatif yang bisa dimunculkan adalah kemungkinan terjadi kesalahan dalam penulisannya. Jika hal itu terjadi, kita tidak perlu gusar dan meragukan Alkitab. Penulis Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, pasti terdapat data-data yang tidak sama. Data-data tersebut tidak bisa dikatakan bertentangan, sebab bukan sesuatu yang bersifat pengajaran. Tetapi hanya data-data seperti jumlah kuda-kuda Salomo, nama-nama orang yang tidak penting dan urutan silsilah, dan lain sebagainya. Tetapi bila menyebut nama-nama penting, tidak mungkin salah. Seperti misalnya bahwa Abraham adalah leluhur Israel, bahwa yang dikorbankan adalah Ishak, dan lain sebagainya, tidak mungkin salah.
     
    Dalam hal ini nampak sekali unsur kemanusiaan dalam Alkitab, yaitu bahwa penulisnya adalah manusia dengan segala keterbatasannya. Tetapi bagaimanapun, inti berita keselamatan dalam Yesus Kristus yang benang merahnya sudah ada sejak zaman nenek moyang Israel secara khusus dan manusia pada umumnya, tidak mungkin meleset.
     
    Kenyataan bahwa Alkitab ditulis manusia dengan segala keterbatasannya membuat Alkitab bisa dibaca oleh setiap orang dan dimengerti dengan lebih mudah.
     
    Kita harus memandang bahwa Alkitab ditulis oleh manusia dengan segala keberadaannya seperti para pembacanya, maka Alkitab akan sangat mungkin dipahami secara utuh dan lengkap oleh pembacanya yang juga adalah manusia. Dalam hal ini Firman Tuhan dibungkus dalam budaya manusia, konteksnya adalah budaya Timur Tengah, khususnya bangsa Israel dari zaman sebelum Musa sampai zaman Roma menguasai Palestina pada abad 1.
     
    Alkitab yang memuat data-data yang menyangkut waktu, tempat, dan zaman raja-raja tertentu, ternyata dalam penggalian sejarah, data-data tersebut cocok. Seperti misalnya kisah mengenai Firaun yang ditenggelamkan di Laut Tiberau. Hari ini para arkeolog menemukan bangkai kereta-kereta perang dan perlengkapan senjata. Hal ini menunjukkan Alkitab bisa dipercaya. Juga mengenai bahtera Nuh.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…