Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Naskah Asli Perjanjian Lama
    Seperti yang dikemukakan berkali-kali bahwa Alkitab ditulis oleh 40 orang dalam rentang waktu selama 1.500 tahun; ini adalah suatu rentang waktu yang sangat panjang. Jika dipertanyakan manakah Alkitab yang asli atau naskah asli (autograf) dari sekian banyak naskah yang diakui sebagai Firman Tuhan, maka pertanyaan tersebut sebenarnya adalah pertanyaan yang sudah didasarkan pada suatu premis atau asumsi tertentu. Sudah jelas si penanya telah memiliki pemikiran bahwa Kitab Suci orang Kristen dihadirkan dalam bentuk suatu kumpulan buku yang sudah jadi. Pengertian ini adalah pengertian secara mistis. Sebenarnya Alkitab tidak dihadirkan dengan cara demikian.
     
    Kitab-kitab paling tua dan awal dalam Alkitab adalah 5 kitab Musa yang dikenal sebagai Pentateuch. Kitab ini ditulis sekitar sejak tahun 1.500 sebelum Masehi oleh Musa. Walaupun Musa dikenal sebagai penulisnya, sangat besar kemungkinan bukan hanya Musa yang menulis, bahkan mungkin bukan Musa sebagai penulisnya, sebab setelah Musa meninggal dunia penulisan itu tetap berlangsung, artinya kelima kitab Musa juga mengisahkan kematiannya. Bagaimana orang mati masih bisa menulis? Lagi pula terdapat budaya dunia sastra dalam kehidupan manusia pada waktu itu bahwa hasil penulisan orang tertentu tidak mencantumkan nama penulis aslinya, tetapi mencantumkan nama orang besar sebagai penulisnya. Hal ini dilakukan sebagai tanda penghormatan kepada sosok orang besar tersebut.
     
    Sebagai orang percaya, kita tidak perlu mempersoalkan mengenai hal tersebut, apakah Musa yang menulis bersama dengan orang lain, atau semua isi Pentateuch ditulis oleh orang lain. Tetapi yang terpenting adalah bahwa kelima kitab Musa terbukti memiliki benang merah dengan Perjanjian Baru secara jelas sekali, khususnya terkait dengan karya keselamatan dalam Yesus Kristus. Dari kelima kitab Musa, terkuak rencana Allah yang sangat jelas mengenai maksud Allah menciptakan manusia, kejatuhan, dan penyelamatannya. Kelima kitab Musa adalah kitab-kitab yang sangat luar biasa. Kelima kitab Musa memuat kebenaran sejarah umat manusia yang tidak ditemukan dalam ajaran agama manapun. Jadi, kalau ada kitab yang juga memuat kisah yang mirip atau sama dengan kelima kitab Musa, bisa dipastikan bahwa sumbernya adalah kelima kitab Musa tersebut.
     
    Tentu saja Alkitab ditulis dengan media yang sangat primitif dan secara bertahap, dari menggunakan sarana dan media tanah liat, batu, kayu dan lilin, tembikar, logam, papirus, dan lain sebagainya. Akhirnya manuskrip-manuskrip (tulisan-tulisan kuno) menggunakan kulit binatang. Dari manuskrip-manuskrip yang menggunakan kulit binatang ini, terbangunlah saksi abadi kebenaran Alkitab.
     
    Perjanjian Lama sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani di Alexandria (Mesir) oleh sekitar 70 orang Yahudi antara

    tahun 250-130 sebelum Masehi,

    yang disebut sebagai Septuaginta.
     
    Kitab ini menjadi salah satu acuan dan dasar kitab Perjanjian Lama yang digunakan oleh orang percaya sampai sekarang ini.
    Hampir semua isi kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, dan pada mulanya semuanya hanya terdiri dari konsonan (huruf mati), tanpa vokal (huruf hidup). Selain itu Perjanjian Lama juga ditulis dalam bahasa Aram. Bahasa Aram yang masih serumpun dengan dengan bahasa Ibrani. Jadi, tidak heran kalau terdapat banyak kesamaan pada bahasa Ibrani dengan bahasa Aram. Bahasa Aram juga digunakan sebagai bahasa yang umum atau semacam lingua franca yang dipakai di Timur Tengah sekitar tahun 600 sebelum Masehi sampai abad 1 Masehi.
     
    Dalam Perjanjian Lama beberapa bagian ditulis dalam bahasa Aram antara lain: Kejadian 31:47, Yeremia 10:11, Daniel 2:4b-7:28, juga di beberapa pasal dalam kitab Ezra (Ezr. 4:8-6:18; 7:12-26). Perlu ditambahkan di sini bahwa ketika ditemukan naskah-naskah Laut Mati ternyata ada beberapa bagian Alkitab Perjanjian Lama dalam bahasa Aram, antara lain Daniel 2:4b-7.
    0 min
  • Alkitab Jujur
    Alkitab pernah mendapat tuduhan sebagai buku porno, karena mencantumkan kata yang dianggap porno, yaitu kata-kata yang mencantumkan bagian tubuh manusia yang dianggap sebagai tidak elok disebut dalam sebuah Kitab Suci. Kalau Alkitab menulis kata yang memuat bagian tubuh manusia yang tertutup seperti buah dada, puting, dan lain sebagainya, hal itu bukan sesuatu yang bisa dianggap porno. Apakah sesuatu itu porno atau tidak, sangat tergantung dari penilaian dan pikiran si pembaca. Sama dengan kalau seseorang melihat lawan jenisnya. Walaupun lawan jenisnya mengenakan pakaian yang tertutup rapat semua bagiannya, kalau memang pikiran orang tersebut kotor, maka si pelihat membangun hal-hal porno dalam pikirannya sendiri, sebab pikiran dapat menciptakan hal-hal porno tanpa batas. Hal ini tergantung pada kualitas moral masing-masing individu. Betapa naifnya kalau seseorang memandang Alkitab itu porno, padahal Alkitab sendiri memandang hal itu sebuah realita umum.
     
    Jadi, suci tidaknya sebuah kitab bukan berdasarkan sudut pandang kesantunan
    hidup manusia yang sering sangat munafik dan picik. Kesucian Kitab Suci ditentukan oleh kejujurannya menulis apa yang seharusnya ditulis.
     
    Alkitab juga menulis secara terbuka kisah-kisah yang memuat perbuatan-perbuatan yang sebenarnya memalukan atau salah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang sebenarnya dianggap sangat terhormat. Seperti dosa yang dilakukan oleh tokoh besar yang sangat terhormat, yaitu Daud yang meniduri istri orang dan membunuh suaminya. Walaupun Daud dianggap sebagai seorang tokoh hebat, bahkan bendera negara Israel hari ini menggunakan simbol bendera Daud, tetapi Alkitab menelanjangi perbuatan Daud yang memalukan dan menjijikkan tersebut. Juga tindakan bodoh Petrus dalam menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, yang juga merupakan kisah yang ditulis secara terbuka, walaupun Petrus tokoh terhormat dalam Perjanjian Baru. Juga kemunafikan Petrus ketika berhadapan dengan Paulus yang ditulis oleh Paulus dalam Galatia 2.
     
    Alkitab memang dengan jujur menulis apa yang pernah terjadi dalam kehidupan orang-orang yang dikisahkan. Seperti misalnya kejatuhan manusia ke dalam dosa. Abraham yang mengambil Hagar, budak dari Mesir menjadi salah satu gundik untuk melahirkan anak bagi Sara. Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Hagar menjadi istri sah bagi Abraham, sebab Abraham tidak pernah mengakui bahwa keturunan yang akan menjadi umat perjanjian berasal dari wanita lain, selain keturunan dari Sara yang memang sejak semula berangkat keluar dari Ur-Kasdim. Alkitab juga jelas sekali mencatat perintah Tuhan yang sukar dimengerti, yaitu Abraham harus menyembelih anaknya Ishak di bukit Moria sebagai korban bakaran.
     
    Kisah mengenai Abraham menyembelih Ishak tertulis di dalam Kejadian 22:2 – Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Pada waktu itu Abraham ada di sekitar daerah tersebut, tidak berada di tempat lain. Kitab Kejadian menulis secara terperinci alur perjalanan Abraham, sehingga apa yang ditulis Alkitab tersebut sangat bisa dipercaya kebenaran dan akurasi datanya. Tidak mungkin Kitab Suci menulis bahwa Abraham mempersembahkan orang lain di India, padahal Abraham mempersembahkan Ishak di bukit Moria; tempat di sekitar di mana Abraham mengadakan perjalanan sesuai dengan jalur perjalanan Abraham yang sangat terperinci. Jalur terperinci Abraham dalam kitab Kejadian membuktikan kebenaran bahwa Ishak yang dikorbankan di bukit Moria, bukan orang lain di tempat yang berbeda.
     
    Kemudian hari, bukit tersebut menjadi tempat di mana Daud dan Salomo membangun istananya, seperti yang tertulis di dalam 2 Tawarikh 3:1 – Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya,
    0 min
  • Menghadapi Tuduhan
    Ada orang-orang di luar Kristen yang menyatakan bahwa Kitab Suci orang Kristen atau Alkitab telah dipalsukan. Pernyataan yang juga merupakan tuduhan ini secara tidak langsung hendak merobohkan keyakinan yang dimiliki orang Kristen. Sebab kalau Kitab Sucinya sudah dipandang tidak asli, berarti agamanya juga palsu, tidak bermutu, bernilai rendah, dan tidak pantas dianut. Ini sebenarnya sebuah pelecehan yang merusak sendi utama keyakinan orang Kristen. Serangan ini sebenarnya merupakan serangan langsung ke jantung kehidupan keberimanan orang Kristen. Bagaimana sikap yang seharusnya kita -sebagai orang percaya- tunjukkan kepada dunia ini ketika menghadapi serangan ini?
     
    Biasanya mereka yang memberi pernyataan tersebut dengan gencar, melakukannya sebagai serangan terhadap orang Kristen. Hal itu dilakukan untuk menyakiti hati orang Kristen dan melecehkan Alkitab. Di lain pihak mereka hendak berusaha agar mereka sendiri, dan para penganut agama yang sealiran dengan mereka dapat membuktikan dan meneguhkan bahwa ajaran agama mereka paling benar. Dengan cara bagaimanapun orang-orang seperti itu akan berusaha mengibarkan bendera ajaran agama mereka sendiri, dan menurunkan bendera agama orang lain. Hal ini bisa terjadi bila mereka berkeyakinan bahwa agama di luar mereka salah. Tidak mengherankan kalau mereka merasa berhak mengatai dan menjuluki semua orang yang tidak seagama dengan mereka sebagai orang kafir. Tentu saja tidak semua orang seagama dengan mereka setuju cara berpikir tersebut dan sikap yang melukai umat agama lain dengan menyerang Kitab Sucinya.
     
    Kita -sebagai orang percaya yang dikehendaki oleh Tuhan mengasihi semua orang, bahkan orang yang memusuhi kita- tidak perlu membantah dan beradu argumentasi, sebab cara mereka memandang Kitab Suci tidak sama dengan orang percaya memandang. Tetapi kita bisa memperkarakan di dalam hati, apakah mereka bisa membuktikan kebenaran tuduhan mereka tersebut? Seharusnya kalau ada orang menuduh bahwa Kitab Suci orang Kristen atau Alkitab palsu, mereka semestinya dapat menunjukkan Alkitab yang asli, atau paling tidak dapat memberi argumentasi bagaimana Kitab Suci yang asli itu. Kalau menunjukkan suatu mata uang palsu, maka ia harus menunjukkan mata uang aslinya. Oleh sebab sangat bodoh dan picik, ketika seseorang menuduh Kitab Suci agama lain adalah palsu, bisa dipastikan mereka tidak dapat membuktikan kebenaran tuduhan mereka.
     
    Alkitab bukan hanya memuat ajaran atau nasihat-nasihat yang diakui berasal dari Allah, tetapi Alkitab juga ditulis dengan memuat nama-nama yang jelas (raja, penguasa, dan lain sebagainya yang terkait), tempat kejadian dan keterangan waktu, dan lain sebagainya yang bersifat keterangan tempat dan waktu. Hal ini bisa membuktikan kebenaran isi Alkitab; apakah Alkitab benar atau tidak. Dalam berbagai penggalian arkeologi ternyata sangat banyak hal-hal yang dikemukakan dalam Alkitab terbukti dengan sangat tepat. Hal ini mestinya sudah cukup membuktikan kebenaran Alkitab. Pencantuman nama-nama tokoh di sekitar sejarah dalam Kitab Suci mereka, nama tempat dan waktu, memberi bukti kebenaran Alkitab.
     
    Tuduhan bahwa Alkitab sudah tidak asli lagi atau palsu dibangkitkan oleh kuasa kegelapan untuk merusak berita Injil keselamatan

    bagi umat manusia.
     
    Tentu saja dalam hal ini Iblis menggunakan kekuatan agama palsu dan orang-orang yang pikirannya dirasuki kuasa kegelapan untuk menista Alkitab sebagai Firman Tuhan dan Tuhan Yesus secara Pribadi. Tuduhan tersebut pasti berasal dari kelompok orang-orang yang merasa bahwa keyakinan agamanya dapat dirongrong oleh kewibawaan, kemurnian, keaslian, dan kejujuran Alkitab. Tentu saja kelompok ini adalah kelompok yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Ini adalah kelompok yang digerakkan oleh Helel ben Sakhar atau Lusifer yang memang tidak menghendaki Tuhan Yesus sebagai penguasa yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
    0 min
  • Perspektif Terhadap Kitab Suci
    Banyak orang Kristen tidak memahami bahwa Alkitab bukan buku hukum, sebab Kekristenan bukanlah agama hukum, tetapi jalan hidup yang berdasarkan kebenaran. Kebenaran di sini adalah kebenaran yang didasarkan pada pikiran dan perasaan Tuhan. Kalau pada agama secara umum hidup para umatnya diatur oleh hukum dengan segala sanksi-sanksinya, maka setiap kata dan hurufnya tidak boleh meleset sedikit pun, sebab berdasarkan kata dan kalimat tersebut umat ditentukan nasib dan keadaannya di bumi ini dan di akhirat. Jadi, mengubah bahasa asal atau bahasa asli Kitab Suci mereka bisa membahayakan kelangsungan agama tersebut. Tetapi Kekristenan adalah jalan hidup berdasarkan kebenaran. Kebenaran itu adalah pikiran dan perasaan Tuhan. Adapun satu-satunya Tuhan dalam kehidupan orang percaya adalah Yesus. Jadi, ketika Kitab Suci belum tersusun, asalkan mereka mengerti kebenaran yang membangun kecerdasan, maka itu sudah cukup membuat seseorang berjalan dengan Tuhan. Tetapi dengan tersusunnya Alkitab secara lengkap, orang percaya seharusnya bisa menjadi sempurna.
     
    Bisa dimengerti kalau dalam agama-agama yang mendasarkan hidup mereka pada tatanan hukum, bahasa Kitab Suci mereka tidak boleh diubah sedikit pun atau sebisa mungkin tidak diterjemahkan ke dalam bahasa lain selain bahasa asal atau bahasa asli. Seperti misalnya agama Yahudi, sebisa mungkin Kitab Suci mereka tetap menggunakan bahasa Ibrani. Seremonial ibadah mereka juga harus menggunakan bahasa Ibrani. Doa-doa mereka kepada Allah yang mereka sembah menggunakan bahasa Ibrani, seakan-akan Allah senang kalau umat menggunakan bahasa asal atau bahasa Kitab Sucinya. Karena hal itu, secara otomatis dapat terbangun persepsi bahwa suku bangsa yang melahirkan agama tersebut bisa menjadi lebih terhormat dibanding suku bangsa lain. Tetapi tidaklah demikian dengan Kekristenan.
     
    Kitab Suci orang percaya -yaitu Alkitab- harus diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh umat yang memeluknya. Mengapa demikian? Sebab dalam Kekristenan yang diutamakan adalah memahami kebenaran.
    Dari pemahamannya mengenai kebenaran,
    orang percaya dapat membangun kecerdasan roh untuk dapat mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan,

    dan yang sempurna.
     
    Selain itu, bangsa Yahudi sebagai bangsa asal Mesias tidak dianggap memiliki nilai lebih dari bangsa lain (Rm. 10:12 –Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya). Dalam Kekristenan, bangsa Yahudi tidak boleh dianggap lebih dari bangsa lain. Ketika semua orang memiliki kesamaan hak di hadapan Allah, maka semua bangsa memiliki kesamaan kedudukan di hadapan Allah.
     
    Bukan sesuatu yang dapat menjadi kebanggaan, seandainya Kitab Suci orang percaya -yaitu Alkitab- tetap menggunakan bahasa asli atau bahasa asal yaitu bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Juga bukan sesuatu yang membuat kita berkecil hati kalau Kitab Suci kita -yaitu Alkitab- diterjemahkan ke bahasa ibu masing-masing bangsa. Justru dengan bahasa yang dikenal orang percaya, maka kebenaran Firman Tuhan dapat dimengerti dengan lebih mudah dan lebih lengkap, utuh dan tajam, serta detail. Justru di sini orang percaya dengan Kitab Sucinya memiliki nilai lebih. Apa artinya mengenal bahasa asal atau bahasa asli Kitab Suci kalau tidak memahami isinya?
     
    Alkitab tidak perlu atau tidak harus tetap dalam bahasa asli, sebab Alkitab tidak harus atau tidak perlu dilantunkan atau dinyanyikan, oleh sebab itu bahasa asli Alkitab tidak sangat dibutuhkan untuk semua umat, kecuali untuk memahami isinya bagi para pengajarnya. Harus diingat bahwa kesucian Kitab Suci bukan pada hurufnya, tetapi pada kebenarannya yang harus dimengerti dengan benar. Bahasa Ibrani dan bahasa Yunani tidak lebih suci dari bahasa lain. Dalam hal ini tidak ada pengkultusan terhadap suatu bahasa.
    0 min
  • Proses Menulis Alkitab
    Bagaimana proses penulisan Alkitab, sekilas bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hasil dari tulisan mereka menentukan kualitas hidup manusia dan keselamatan kekal setiap individu. Perjanjian Lama mula-mula diyakini ditulis oleh Musa. Hal ini tidak mengherankan, karena Musa dalam lingkungan istana Firaun yang sangat maju pada zamannya. Tentu saja Musa dibesarkan dalam lingkungan pendidikan para pangeran di istana Firaun di Mesir. Tidak mengherankan kalau Musa dapat menulis lima kitab Musa, Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan yang dikenal sebagai Pentateuch. Pertanyaannya adalah bagaimana Musa dapat memperoleh pemahaman dan pengertian mengenai kisah dalam kitab Kejadian?
    Pertama, harus dimengerti bahwa kisah mengenai Adam dan Hawa, Nuh, dan semua kisah sebelum Abraham sudah merupakan kisah yang dikenal oleh masyarakat umum. Peristiwa-peristiwa di dalam Eden sampai pada zaman sebelum Abraham adalah kisah milik semua orang. Tentu saja telah ada dokumen yang ditulis dalam lempengan-lempengan tanah mengenai kisah-kisah yang mirip dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab. Tentu saja semua itu merupakan warisan secara lisan yang diturunkan oleh Adam kepada keturunannya, sebab semua manusia juga berasal dari pasangan Adam dan Hawa.
    Dan tentunya Musa sebagai seorang terpelajar juga menangkap semua warisan secara lisan kisah-kisah mengenai penciptaan, Nuh, dan lain sebagainya tersebut. Perbedaannya antara Musa dengan pengetahuan yang dimiliki bangsa-bangsa di luar Israel adalah Musa sebagai seorang yang bergaul dekat dengan Allah tentu saja menerima pengilhaman dari Allah untuk mengetahui dengan tepat semua kejadian atau peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di bumi ini, dari zaman Adam sampai pada zamannya sendiri. Tidak ada kitab di bumi ini yang mengisahkan mengenai penciptaan langit dan bumi, Nuh, dan kisah-kisah lain seperti yang dimiliki oleh bangsa Israel yang ditulis oleh Musa yang adalah nenek moyang mereka. Hal ini harus diakui dengan jujur, kalau tidak ada bangsa Israel, belum tentu kisah-kisah tersebut terbangun atau ada.
    Kedua, adapun kisah mengenai Abraham, Ishak, dan Yakub tentu merupakan kisah yang selalu hangat di dalam pikiran bangsa Israel, karena mereka adalah nenek moyang bangsa itu. Kisah mengenai Abraham yang diperintahkan untuk menyembelih Ishak anak tunggalnya, tentu merupakan kisah yang sangat menarik dan selalu melekat dalam ingatan bangsa Israel, sebab Ishak adalah nenek moyang mereka yang pernah hidup di Kanaan dan di sekitar Mesir pada zamannya. Abraham pernah pergi ke Mesir dan beberapa daerah yang Alkitab sebut dengan jelas, bukan saja tempatnya tetapi juga waktu kapan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Hal ini menunjukkan akurasi atau ketepatan kisah-kisah tersebut. Kalau misalnya Abraham pernah pergi ke India, pasti Alkitab mencatatnya. Ternyata Abraham tidak pernah pergi ke India. Jadi, kalau dikisahkan Abraham pergi ke tempat-tempat di mana Alkitab tidak pernah mencatatnya, berarti itu adalah sebuah pemalsuan.
    Ketiga, Perjanjian Baru ditulis oleh para penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Belum tentu mereka mengetahui bahwa ternyata suatu hari tulisan mereka diakui sebagai bagian dari Kitab Suci. Mereka menulis dari apa yang mereka saksikan dan mereka ingat secara tulus dan jujur untuk orang-orang pada zamannya. Mereka seperti wartawan yang menulis apa yang mereka dengar dan saksikan. Dalam Injil kita hampir tidak menemukan perasaan penulis terlibat di dalamnya. Mereka secara tulus dan polos menulis apa yang mereka lihat dan dengar dari kehidupan Yesus tanpa memasukkan isi perasaan mereka di dalamnya.
    Keempat, Injil ditulis beberapa belas tahun bahkan beberapa puluh tahun setelah peristiwa tersebut terjadi. Hal tersebut pasti sangat mereka ingat, sebab apa yang mereka beritakan setiap hari adalah semua kejadian yang Yesus alami, lakukan, dan yang Yesus ucapkan. Itulah yang mereka tulis.
    Karena keterbatasan manusia,
    0 min
  • Tidak Turun Dari Langit
    Alkitab tidak diturunkan ke dunia dari langit secara mekanis seperti proses yang diakui beberapa tokoh agama dalam memperoleh Kitab Sucinya. Mereka menyaksikan bahwa kitab mereka turun dari langit secara “ajaib”. Hal ini tentu merupakan usaha untuk mensahkan, bahwa Kitab Suci mereka yang memuat ajaran adalah benar dan suci yang berasal dari Allah yang benar. Tidaklah demikian dengan proses penulisan Alkitab. Alkitab tersusun melalui proses yang sangat manusiawi, artinya ada orang-orang yang turut terlibat atau berperan dalam pembentukannya atau penyusunannya. Penulis Alkitab adalah orang-orang yang mengalami Tuhan dalam kehidupannya, kemudian menulis pengalaman tersebut dengan bahasa manusia dan dibungkus dengan budaya yang ada pada zamannya. Mereka menulis apa yang mereka lihat, rasakan, dan alami secara konkret.
    Jadi, Kitab Suci ditulis oleh para penulisnya setelah melewati pengalaman yang sudah berlangsung. Dalam menulis tersebut, tentu mereka dalam pimpinan Roh Kudus. Inilah yang disebut sebagai pengilhaman Roh Kudus atau theo pneustos (2Tim. 3:16). Pengilhaman tersebut bisa secara menyeluruh (pengilhaman plenary), bisa juga pengilhaman kata demi kata (pengilhaman verbal). Tentu apa yang ditulis merupakan pernyataan Tuhan (Ibr. 1:1; 2Ptr. 1:21). Mereka yang menerima pewahyuan atau ilham berjumlah sekitar 40 orang dalam kurun waktu 1.500 tahun. Hal ini memberi pembuktian bahwa Alkitab sungguh-sungguh benar, karena tidak diterima hanya oleh satu orang saja. Dengan banyak penulis, maka nilai obyektivitasnya tidak seperti kalau hanya satu orang yang menerimanya. Jika Alkitab diterima hanya oleh satu orang, maka obyektivitas kebenarannya bisa diragukan. Dalam Alkitab tersirat bahwa Alkitab ditulis oleh manusia, karena nama penulisnya dicantumkan.
    Alkitab diilhamkan oleh Roh Kudus kepada para penulisnya tanpa menghilangkan kesadaran dan kemampuan berpikir penulis yang menerima ilham tersebut. Dalam hal ini penulis dalam kesadaran penuh dengan menggunakan kemampuan yang ada, menulis ilham yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Dalam Alkitab kita menemukan Lukas -seorang tabib yang terpelajar dengan kemampuannya menulis- berusaha menulis apa yang disaksikannya mengenai Kristus (Kis. 1:1). Dalam hal ini penulis Alkitab bukan orang yang buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis. Kalau penerimanya sendiri tidak bisa membaca dan menulis, maka ia sendiri tidak akan mengetahui isi wahyu atau ilham dari Allah tersebut. Karena Allah adalah cerdas, maka orang yang menerima pewahyuan juga orang-orang cerdas. Hal itu dimaksudkan untuk dapat mengimbangi kecerdasan Allah. Orang-orang yang menerima wahyu Allah dalam Alkitab adalah orang-orang cerdas seperti Musa, Daniel, Lukas, dan lain sebagainya.
    Roh Kudus telah memberikan hikmat kepada penulis untuk menuliskan ilham-Nya, dan menjaga serta menolong penulis untuk terhindar dari kekeliruan atas hal-hal yang prinsip dalam penulisan tersebut. Dalam penulisannya, kadang-kadang manusia menjadi seperti mesin yang hanya menulis saja apa yang diberikan oleh Roh Kudus untuk dituliskan (pengilhaman mekanik), namun tidak menghilangkan kesadaran si penulis. Seperti di pulau Patmos, Yohanes diperintahkan untuk menulis segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya, tetapi semuanya ditulis dalam kesadaran. Orang yang menulis Alkitab dalam kesadaran adalah orang yang dapat dipercaya, artinya ia sehat jasmani dan rohani, bukan orang yang tidak dalam kesadaran atau dalam kondisi trance (keadaan tidak sadarkan diri). Kalau orang menerima wahyu Allah di luar kesadarannya, bagaimana bisa dipercaya?
    Hal inilah yang kemudian menjadi masalah, apakah proses terbentuknya Alkitab lebih merupakan karya manusia atau karya Allah? Sebagai orang percaya, kita tidak perlu takut mengakui cara terbentuknya atau tertulisnya Alkitab dengan mekanisme tersebut. Ini adalah kejujuran, daripada merekayasa pengakuan bahwa Alkitab turun dari surga secara mekanis yang bisa diunggulkan sebagai keajaiban,
    0 min
  • Bukan Fisiknya
    Alkitab adalah Kitab Suci; namun tentu yang suci bukan fisiknya secara lahiriah, tetapi kebenaran yang terdapat di dalamnya. Harus diingat bahwa pengertian suci di sini adalah berarti tidak bercela, tidak bisa salah, agung, tepat, benar karena memuat nilai moral yang tinggi, bisa dipercayai adanya, dan bertalian dengan keberadaan Allah yang kudus. Tentu hal ini sama sekali tidak menunjuk kepada fisiknya. Jadi sangatlah bodoh dan picik kalau fisik Alkitab dipandang sebagai memiliki nilai sakral. Harus diingat bahwa Alkitab secara fisik dicetak di sebuah percetakan dengan menggunakan tenaga mesin dan manusia yang belum tentu orang percaya. Jadi, tidak ada alasan untuk mengkultuskan Alkitab. Tuhan menentang bentuk pengkultusan termasuk terhadap benda-benda lain, seperti salib, air suci (sekalipun diambil dari tempat-tempat tertentu), lukisan, ukiran (sekalipun itu lukisan atau ukir-ukiran gambar Kristus), dan lain sebagainya. Tuhan dan kehadiran-Nya tidak dapat diwakili apa pun dan siapa pun.
    Memang faktanya banyak orang mengkultuskan fisik Kitab Sucinya. Sampai-sampai orang Kristen ikut terpengaruhi dalam kebodohan. Orang percaya tidak boleh mendewakan Alkitab seakan-akan secara fisik atau secara harafiah kitab ini memiliki unsur mistis, sehingga secara fisik Alkitab harus diperlakukan secara khusus. Seperti misalnya, ada orang Kristen yang dianggap tidak menghormati Alkitab karena menjepit Alkitab dengan lengan dan dada di sekitar ketiak. Ada pula yang berpandangan bahwa sebelum memegang Kitab Suci harus cuci tangan dulu dan lain sebagainya. Cara pandang ini salah. Dengan penjelasan ini, bukan berarti orang percaya boleh secara fisik memperlakukan Alkitab secara sembarangan.
    Kalau seseorang menghormati isi Alkitab, maka perlakuannya secara fisik pun

    pasti pantas pula.
    Mengapa sampai orang mensakralkan atau mengkeramatkan benda seperti Kitab Suci secara fisik? Sebab memang dalam banyak agama terdapat kecenderungan melakukan ibadahnya pun secara lahiriah. Jadi tidak heran kalau benda-benda yang terkait dengan ibadah dianggap sakral pula. Dalam Kekristenan tidak ada ruangan untuk memberi pandangan atau sikap seperti itu. Kekristenan menekankan sikap batiniah. Dengan sikap batiniah maka kebenaran menjadi fleksibel dan dinamis, artinya di dalam segala keadaan dan zaman dapat menyesuaikan diri tanpa kehilangan jiwa atau nafas kebenaran. Sekarang ini Kitab Suci ada di dalam handphone, handphone dimasukkan kantong celana. Sopankah? Dibawa ke toilet, pantaskah? Dari kasus ini, nyata betapa hebat kebenaran di dalam Injil yang tidak menekankan hal-hal lahiriah sama sekali.
    Akibat sikap yang salah -yaitu menekankan hal-hal lahiriah- maka hal-hal yang bersikap batiniah tidak mendapat penekanan secara proporsional. Allah yang agung diperlakukan seperti dewa-dewa murahan yang menekankan hal-hal lahiriah. Demikianlah dapat kita jumpai pula penyembahan kepada dewa-dewa yang menekankan hal-hal lahiriah; baik sikap tubuh, tempat, waktu, dan lain sebagainya. Biasanya mereka memiliki upacara agama dan seremonial yang diatur sedemikian detil mengenai cara, tempat, dan waktunya. Bagi mereka kemeriahan dan kekhusukan seremonial tersebut menentukan keberkenanan di hadapan dewa-dewa mereka.
    Dalam kehidupan orang percaya diajarkan agar orang percaya menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran). Hal ini menunjuk kepada ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan, waktu, dan cara-cara tertentu, tetapi menekankan sikap batin yang diekspresikan dalam tindakan secara konkret setiap hari. Dalam hal ini, ibadah bukanlah bentuk seremonial atau liturgi, tetapi sikap hati, cara berpikir, gaya hidup, dan seluruh perilaku. Pola ibadah seperti ini tidaklah diatur oleh cara-cara tertentu, tidak terikat ruangan dan waktu. Ketika Tuhan Yesus mengajarkan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran,
    0 min
  • Kitab Suci
    Alkitab disebut Kitab Suci, sebab di dalamnya terdapat kebenaran-kebenaran Allah yang suci. Kata suci untuk Alkitab menyatakan bahwa kitab ini adalah kitab yang suci, berarti tidak bercela, tidak bisa salah, agung, tepat, benar, bisa dipercayai dan bertalian dengan keberadaan Allah yang kudus. Tentu yang suci bukan fisiknya secara lahiriahnya, tetapi kebenaran yang terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu memang percuma seseorang mengaku Alkitab sebagai Kitab Suci, kalau ternyata tidak mengerti isinya dengan benar. Alkitab menjadi Kitab Suci kalau dapat menemukan kebenaran yang termuat di dalamnya dan mengamalkannya secara konsekuen dan konsisten dalam kehidupan hari ini.
    Dengan menemukan kebenaran dari Alkitab yang adalah Kitab Suci maka seseorang pasti memperoleh tuntunan untuk hidup tidak bercela, tidak bisa salah, agung, benar karena memuat nilai moral yang tinggi, bisa dipercaya, dan kudus seperti Allah yang adalah kudus. Ada banyak agama di dunia ini dengan segala kitabnya. Tentu setiap agama mengklaim bahwa agamanya paling benar dan Kitab Sucinya paling bisa dipercayai sebagai wahyu dari Allah yang benar. Dalam kenaifan berpikir, sering orang-orang tertentu menilai Kitab Suci agama lain dengan perspektifnya sendiri, seperti dirinya memandang Kitab Sucinya. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa Kitab Sucinya sendiri paling benar, sedangkan Kitab Suci agama lain tidak benar. Bisa terjadi seseorang menista Kitab Suci agama lain dengan tuduhan bahwa Kitab Suci agama lain tidak asli, telah dipalsukan, dan lain sebagainya.
    Untuk membuktikan apakah Kitab Suci

    suatu agama benar atau tidak,

    hal itu dapat dilihat atau dibuktikan dari kehidupan tokoh, umat atau masyarakatnya, serta kecerdasan kitab tersebut.
    Dari kualitas individu dan komunitas atau sebuah masyarakat, maka dapat dibuktikan kebenaran Kitab Suci yang mewarnai atau melandasi pola berpikir mereka. Hal ini merupakan penilaian yang paling jujur, adil, dan tepat. Sebenarnya hal ini sudah sangat jelas untuk membuktikan kebenaran suatu agama atau keyakinan. Hal ini dikemukakan bukan bermaksud hendak menghakimi agama lain atau siapa pun, tetapi sebagai suatu pertimbangan yang melandasi seseorang melakukan refleksi dan introspeksi diri sendiri (self reflection and introspection).
    Namun demikian, kalau sebuah masyarakat yang menganut kepercayaan atau agama tertentu tidak setia kepada keyakinannya -dalam hal ini tidak menuruti Kitab Sucinya- maka moral masyarakat tersebut menjadi rusak. Seperti masyarakat Eropa dan dunia Barat pada umumnya. Tidak bisa dibantah dan disangkal kemajuan dan kemakmuran mereka. Negara mereka menjadi impian banyak bangsa, sehingga banyak bangsa berkeinginan menjadi imigran ke negara-negara tersebut. Negara dan masyarakatnya seperti Firdaus di bumi. Negara-negara tersebut memiliki masyarakat yang tenang, damai, dan jujur. Tidak sedikit toko-toko atau tempat jualan yang pembelinya bisa menimbang sendiri barang yang dibeli, dan meletakkan uang di tempat uang, tanpa diawasi. Masyarakat Barat yang sering dikesankan sebagai tidak ramah, tidak adil, dan lain sebagainya, ternyata tidak demikian. Orang-orang yang memandang selalu negatif tersebut pasti belum penah berada di negara-negara tersebut, sehingga berpikiran picik.
    Kehidupan masyarakat Barat yang tadinya percaya Alkitab, hidupnya begitu tertib, hak-hak asasi kehidupan manusia sangat dihargai, dan perlindungan kepada warganya begitu diperhatikan. Jarang sekali terjadi tindak kekerasan yang bernuansa sara. Jauh dari suasana diktator mayoritas. Jarang sekali atau hampir tidak pernah agama dijadikan komoditas politik. Jaminan hari tua masyarakatnya sangat baik. Tidak pernah ada kelaparan, dan hampir tidak ada terorisme dari dalam negeri sendiri. Namun demikian ketika mereka meninggalkan Alkitab, maka kehidupan moral mereka menjadi rusak. Walau kemakmuran secara lahiriah masih terasa kuat, tetapi kehidupan moral mereka sudah ambruk.
    0 min
  • Kitab Suci Adalah Alkitab
    Kata Alkitab terdiri dari gabungan dua kata, al dan kitab. Al berarti penting, luhur, agung, dan bisa berarti suci atau benar, sedangkan kitab adalah buku. Jadi Alkitab berarti buku yang penting, luhur, agung, benar, dan suci. Disinyalir kata ini berasal dari bahasa Arab. Tetapi ada pula yang memahami Alkitab sebagai kitab Allah atau kitab Tuhan, sebab mengartikan kata Al sebagai Allah atau Tuhan. Pengertian Alkitab sebagai kitab yang suci memiliki pengertian yang lebih tepat dibanding dengan Alkitab dipahami sebagai kitab Allah atau kitab Tuhan. Pengaruh Bahasa Arab dalam kehidupan keberagamaan di Indonesia ini sangat kuat, sehingga tidak mengherankan banyak istilah-istilah keagamaan menggunakan bahasa ini.
    Dalam Alkitab Perjanjian Baru terjemahan bahasa Indonesia terdapat beberapa ayat yang memuat kata Alkitab atau yang memiliki pengertian sama. Pertama, dalam Markus 15:28 yang bunyinya adalah: Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.” Kata “Alkitab” dalam ayat ini dalam terjemahan aslinya adalah graphe (γραφὴ), yang artinya adalah tulisan. Kata Alkitab yang kedua dalam Alkitab Bahasa Indonesia terdapat dalam Lukas 4:16 yang berbunyi: Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kata Alkitab dalam ayat ini sebenarnya terjemahan dari kata anagnonai (ἀναγνῶναι) dari akar kata anaginosko (ἀναγινώσκω), yang arti sebenarnya membaca atau mengucapkan kalimat dengan suara lantang.
    Kata berikut yang memuat pengertian yang sama dengan Alkitab terdapat dalam 2 Timotius 3:16 tertulis sebagai berikut: Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Kata “tulisan” dalam ayat ini dalam terjemahan aslinya adalah graphe (γραφὴ). Kata ini juga digunakan dalam Markus 15:28. Adapun lengkapnya kata “segala tulisan” dalam teks aslinya adalah pasa graphe (πᾶσα γραφὴ). Hal ini menunjukkan bahwa:
    Semua yang tertulis di dalam Alkitab

    memuat kebenaran Firman Tuhan;
    Semua harus diterima dan diyakini

    sebagai kebenaran.
    Sangatlah tidak tepat kalau seseorang menista ayat Alkitab dengan perkataan yang tidak sopan, misalnya mengatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Alkitab yang tidak perlu dicantumkan dalam Alkitab. Kita menyesalkan seorang tokoh reformator menyatakan bahwa kitab Yakobus seperti “jerami kering”. Pada zamannya tokoh tersebut belum menerima pengertian yang tepat mengenai ayat-ayat dalam kitab Yakobus tersebut.
    Alkitab adalah kumpulan kitab-kitab yang diakui sebagai Firman Allah melalui proses yang disebut kanonisasi. Dalam bahasa Inggris, Kitab Suci orang Kristen ini diterjemahkan Bible. Kata Bible berasal dari bahasa Yunani, yaitu biblos. Biblos menunjuk kepada segala jenis dokumen tertulis yang memuat kitab-kitab yang sekarang ada di dalam Alkitab. Kata biblos sebenarnya berasal dari nama kota yang menghasilkan serat-serat papirus sebagai sarana untuk menulis. Kata biblos juga disinyalir memiliki hubungan dengan nama pelabuhan Fenesia Biblus, tempat di mana papirus diimpor dari Mesir. Tidak mengherankan kalau kata biblos dianggap sebagai padanan dari kata papirus, yaitu alat untuk menulis wahyu Tuhan. Papirus bentuknya lembaran, merupakan sarana untuk menulis pada zamannya, semacam kertas untuk zaman sekarang. Selanjutnya, kitab-kitab yang memuat wahyu Tuhan tersebut diterjemahkan biblion (bentuk tunggal) dan biblia (bentuk jamak).
    Dalam Alkitab Perjanjian Lama -yaitu di dalam Daniel 9:2- ditemukan kata yang memiliki padanan pengertian dengan kata Alkitab, dalam teks bahasa Ibrani disebut bassefarim (בַּסְּפָרִים). Kata ini dalam terjemahan Bahasa Inggris diterjemahkan books. Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan kumpulan “kitab-kitab”. Dalam Perjanjian Baru terdapat beberapa kata yang memiliki penger...
    0 min
  • Berkodrat Ilahi, Bukan Fantasi
    Tidak dapat dibantah adanya orang-orang Kristen -bahkan teolog atau pengajar Alkitab- yang menganggap bahwa berkeadaan sebagai berkodrat Ilahi merupakan sebuah fantasi. Mereka memandang bahwa berkodrat Ilahi sesuatu yang tidak akan pernah terwujud atau tidak pernah tergapai dalam kehidupan manusia di bumi. Mereka memandang bahwa orang percaya yang berusaha untuk berkodrat Ilahi adalah orang yang berfantasi kosong. Mereka yang yang mau berkodrat Ilahi dipandang sebagai orang yang sombong. Sesungguhnya, berkodrat Ilahi bukanlah fantasi. Sebab dalam konteks kehidupan orang percaya ukuran berkodrat Ilahi adalah Tuhan Yesus sendiri. Kalau Tuhan Yesus adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata, maka ukuran tersebut juga benar-benar nyata, bukan sebuah fantasi. Biasanya orang yang memandang bahwa berkodrat Ilahi adalah fantasi dan tidak akan dapat dicapai di bumi, berpendirian bahwa hanya di surga ada keadaan tersebut.
    Berkodrat Ilahi harus dipandang

    dari perspektif Allah.
    Yesus adalah model atau prototipe manusia yang berkodrat Ilahi. Sebagai umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Dia, kita memiliki panggilan untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus. Perjuangan untuk serupa dengan Yesus sebenarnya sama artinya dengan perjuangan untuk berkodrat Ilahi. Sangatlah picik kalau seseorang memandang berkeadaan berkodrat Ilahi sebagai fantasi dan halusinasi, sementara ia setuju bahwa orang percaya harus menjadi seperti Yesus. Jadi sangat keliru kalau dikatakan bahwa berkeadaan berkodrat Ilahi sebagai fantasi atau tidak ada, yang ada adalah kedewasaan. Bukankah kedewasaan pada dasarnya adalah proses untuk menuju keadaan berkodrat Ilahi? Tidak pernah dapat dikatakan bahwa kedewasaan adalah keadaan statis, tetapi bagian dari proses pertumbuhan menuju keadaan berkodrat Ilahi.
    Banyak orang Kristen berpandangan keliru, bahwa berkeadaan berkodrat Ilahi tidak akan dapat dicapai di bumi ini; berkeadaan berkodrat Ilahi hanya bisa ditemukan dan dialami di surga. Menurut mereka bumi bukanlah tempat manusia dapat berkeadaan berkeadaan berkodrat Ilahi. Ini berarti mereka juga tidak percaya bahwa ada kesempurnaan di bumi. Mengapa orang Kristen sampai beranggapan demikian? Pandangan salah ini bisa muncul disebabkan karena mereka tidak memahami pengertian kesempurnaan menurut Alkitab. Pengertian kesempurnaan yang dipahami oleh mereka sebenarnya serapan dari berbagai pandangan agama dan filsafat dunia, bukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.
    Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hanya di surga di mana tidak ada Iblis -maka juga tidak ada dosa- orang baru bisa berkodrat Ilahi. Dalam hal ini kesucian dipahami sebagai keadaan yang tidak ternoda dosa oleh karena tidak adanya cobaan atau godaan dari Iblis. Mereka berpandangan bahwa selama masih ada Iblis yang mencobai dan menggoda, maka bisa dipastikan manusia akan selalu berbuat dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam hal ini dosa dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dosa dipandang sebagai kemutlakan yang pasti dialami oleh orang yang hidup di bumi ini. Mereka berpikir bahwa selama masih tinggal dan hidup di bumi, tidak mungkin tidak terpengaruhi oleh dosa. Ini pandangan keliru. Mestinya, sekalipun ada dosa, karena orang percaya bisa berkodrat Ilahi, maka ia bisa tidak berbuat dosa lagi. Dengan demikian cara menanggulangi dosa adalah bagaimana mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat Ilahi.
    Orang percaya yang benar, setiap hari senantiasa berusaha bagaimana mengubah kodrat. Pikiran dan perasaannya selalu disiagakan untuk memperkarakan apakah tindakan-tindakannya, baik yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan benar-benar sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian tidak ada saat di mana dirinya ada di dalam keadaan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Setiap kali merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya, ia selalu melakukan pemberesan segera di hadapan Tuhan, saat itu juga secara langsung.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…