Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Anggota Keluarga Kerajaan
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, maksudnya dalam konteks harus melakukan kebaikan bagi semua orang, baik kepada orang baik maupun orang jahat, orang benar maupun orang yang tidak benar. Sempurna seperti Bapa artinya berkodrat seperti Bapa, yaitu berkodrat Ilahi. Sebagai anak-anak Allah (Theos) yang juga adalah Bapa, kita harus juga bersikap sama seperti Bapa terhadap semua orang. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa. Luar biasa bukan dalam penampilan lahiriah, harta, gelar, pangkat, kedudukan, dan lain sebagainya; tetapi orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama yang dipandang sebagai orang saleh yang melebihi masyarakat. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus lebih benar dari mereka. Ini berarti orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Tingkat keluarbiasaannya adalah kehidupan moral yang melebihi tokoh-tokoh agama, yaitu berkodrat Ilahi.
    Dalam Matius 5:20 Tuhan mengatakan dengan sangat jelas: Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kata hidup “keberagamaanmu” dalam Matius 5:20 adalah dikaiosune (δικαιοσύνη). Kata ini lebih tepat diterjemahkan kebenaran yang bertalian dengan kelakuan, baik yang kelihatan mapun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikir kita. Kata dikaiosune menyangkut integrity, virtue, purity of life, rightness, correctness of thinking feeling, and acting (integritas, kebajikan, kemurnian hidup, kebenaran, kebenaran perasaan berpikir, dan perilaku). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan righteousness. Kata ini dalam konteks tersebut bisa berarti beberapa, antara lain: state of him who is as he ought to be, righteousness, the condition acceptable to God (keadaan yang semestinya dimiliki, sebuah keadaan atau kondisi yang diterima oleh Tuhan).
    Keadaan yang semestinya dimiliki, menunjuk kepada keadaan manusia yang seharusnya dikenakan sesuai rancangan Allah sejak semula ketika diciptakan.
    Jadi, kalau orang percaya dipanggil

    untuk hidup secara luar biasa,

    maksudnya bahwa manusia dibawa

    kepada keadaan sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia itu,

    yaitu berkodrat Ilahi.
    Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus berkeadaan diterima oleh Allah melebihi dari ahli Taurat dan orang Farisi, berarti orang percaya dihakimi dengan ukuran berbeda. Bisa dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa ia berusaha untuk berkenan. Berkenan artinya berkeadaan diterima oleh Allah sesuai dengan standar yang diinginkan oleh Tuhan (the condition acceptable to God).  Berkenan yang dimaksud oleh Paulus adalah diterima dalam rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan. Hal ini lebih dari sekadar masuk dunia yang akan datang, tetapi keadaan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Ini berarti menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Inilah orang orang yang benar-benar menjadi benar.
    Ungkapan “benar-benar benar” bukanlah ungkapan yang harus dikaitkan dengan keberadaan Allah sebagai satu-satunya yang memiliki keberadaan sempurna secara mutlak atau benar-benar mutlak benar. Sebab Allah tentu memiliki kebenaran yang mutlak. Dia lebih dari sekadar “benar-benar benar”, Dia adalah kebenaran yang absolut. Sangatlah picik kalau ungkapan ini dikaitkan dengan Allah, sebab kebenaran Allah sudah tidak lagi dipersoalkan atau dicoba untuk dibedah. Kebenaran Allah adalah kebenaran yang tidak dapat dipecahkan dengan pikiran manusia yang terbatas, sebab kebenaran Allah tidak terbatas. Orang yang mencoba mengkaitkan ungkapan ini dengan Allah, dan menentang adanya usaha untuk memahami apa yang “benar-benar benar” dari perspektif manusia adalah orang yang tidak memiliki kerinduan untuk menjadi berkenan kepada Alla...
    0 min
  • Firman Membangun Kodrat Ilahi
    Proses mengalami perubahan kodrat -dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi- dimulai ketika seseorang mendengar Firman Tuhan lalu Roh Kudus membuka pikiran dan hati untuk mengerti Firman-Nya. Tentu Firman yang didengar haruslah Firman Tuhan yang benar atau murni. Firman yang tidak benar tidak akan melahirkan iman yang benar (Rm. 10:17). Kata “Firman” dalam Roma 10:17 teks aslinya adalah rhematos. Kata ini berasal dari kata rhema (ῥῆμα), sama seperti dalam Matius 4:4.
    Orang yang tidak memiliki iman yang benar, tidak akan mengalami perubahan kodrat.
    Firman yang diberitakan harus disampaikan terus-menerus. Seperti janin dalam rahim, ia tidak akan tumbuh menjadi bayi dan mengalami kelahiran kalau tidak menerima suplai makanan yang memadai secara berkesinambungan. Itulah sebabnya dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah harus murni, agar pendengarnya mengalami Kelahiran Baru guna perubahan kodrat. Untuk itu Tuhan Yesus “mengajar” dari hari ke hari, dari desa ke desa, dari kota ke kota (Luk. 13:22).
    Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang semua bisa diterjemahkan Firman. Kata pertama adalah logos (λόγος) yang juga bisa diterjemahkan Firman. Biasanya logos juga diartikan sebagai “pengetahuan.” Kata yang kedua adalah rhema. Logos adalah Firman yang diajarkan melalui apa yang didengar, sedangkan rhema adalah Firman yang disuarakan oleh Roh Kudus dalam suatu situasi di dalam hati atau pikiran. Yang menarik dalam Roma 10:17 adalah tidak menggunakan Firman Tuhan atau Firman Allah tetapi “Firman Kristus.” Menggunakan kata “Kristus” hendak menunjukkan bahwa Firman itu adalah Firman dari Dia yang telah diurapi. Oleh sebab itu, Firman tersebut aktif bekerja, disertai oleh “Yang Diurapi” -yaitu Tuhan Yesus- yang memiliki segala kuasa di surga dan di bumi. Firman yang diurapi adalah Injil yang diajarkan Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun.
    Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus mengajar dengan kuasa. Pengajaran yang disampaikan Tuhan Yesus berbeda dengan para ahli Taurat dan tokoh agama (Mat. 7:29). Perbedaannya terletak pada kuasa. Kuasa itu terletak pada kemurnian Firman tersebut. Firman Tuhan yang murni pasti berkuasa. Firman Tuhan yang murni pasti disertai kuasa Roh Kudus. Firman yang disampaikan dengan kuasa itu akan mengubah kodrat. Perubahan kodrat terjadi oleh Firman Allah yang hidup dan kekal (1Ptr. 1:23). Kata “hidup” di sini adalah zao (ζάω), yang artinya selain life (hidup) tetapi juga quick (doing something fast atau done without delay; melakukan sesuatu dengan cepat tanpa ditunda). Pemberitaan Firman yang penuh kuasa inilah yang dibutuhkan dunia hari ini.
    Hanya Firman Tuhanlah makanan rohani yang dapat membangun kodrat Ilahi dalam kehidupan seseorang. Dalam Matius 4:4 Tuhan Yesus bersabda: … Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah). Perhatikanlah kalimat “dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” (Yun. Epi panti reemati ekporeuomenoo dia stomatos theou, ἐπὶ παντὶ ῥήματι ἐκπορευομένῳ διὰ στόματος θεοῦ). Sedangkan frase “Setiap Firman” (Yun. panti remati) berarti kebenaran penuh atau lengkap yang tertulis di dalam Alkitab atau yang dipaparkan oleh keempat Injil.
    Firman Tuhan harus didengar terus-menerus secara variatif atau lengkap. Perubahan karakter dalam satu aspek mirip dengan pencerahan pikiran atau kesadaran akan kebenaran, yang nantinya menentukan seluruh pandangan hidupnya. Semua ini dikerjakan oleh Roh Kudus melalui pemberitaan Firman atau belajar Firman Tuhan. Firman Tuhan yang murni memiliki pengaruh yang sangat kuat. Firman yang murni (Logos) akan melahirkan Firman dari suara Roh Kudus (Rhema) yang murni pula. Sebaliknya kalau Logos yang didengar salah, maka sering yang dianggap Rhema adalah suara dari dirinya sendiri atau sumber lain.
    Bagi orang yang tidak berhasrat diselamatkan atau masih duniawi,

    Firman Tuhan yang murni itu

    bisa dirasa menyakitkan.
    Banyak orang Kristen menolak pemberitaan kebenaran...
    0 min
  • Kematian Diri Sendiri
    Tidak ada kehidupan tanpa kematian. Demikian pula seseorang tidak akan mengenakan kodrat Ilahi tanpa mengalami kematian diri sendiri. Kata kematian diri sendiri bertalian dengan usaha untuk memadamkan atau mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi, ambisi pribadi, dan lain sebagainya, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini berarti harus rela kehilangan segala hak demi Tuhan. Hal ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup Kekristenan yang benar. Jadi sebelum kita mati secara fisik dan dikubur, maka kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama.
    Kematian diri sendiri harus terjadi serentak atau simultan dengan terbangunnya kodrat Ilahi. Dengan proses ini orang percaya menjadi ciptaan yang baru (a new creature atau a new being). Inilah yang dimaksud Alkitab bahwa orang yang menerima Yesus diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yang dilahirkan oleh Allah (Yoh. 1:11-13). Dilahirkan oleh Allah adalah anugerah terbesar yang dimiliki manusia. Tentu hal ini terjadi oleh karena pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Sebab oleh penebusan-Nya-lah kita dimungkinkan menjadi anak-anak Allah. Pengangkatan sebagai anak ditunjukkan dengan materai, yaitu Allah menaruh Roh Kudus dalam diri kita (Ef. 1:13).  Dalam hal menjadi anak-anak Allah, bagi orang percaya, yang penting diberi potensi untuk dapat memiliki kodrat baru atau natur baru. Roh Kudus selain sebagai materai, juga sebagai pendamping yang membawa orang percaya bertumbuh dalam natur atau kodrat baru, dimana orang percaya sampai kepada kematian diri sendiri melalui proses panjang. Ini adalah proses mati sebelum mati.
    Panggilan untuk mengalami kematian

    diri sendiri sebenarnya adalah panggilan untuk semua orang percaya agar dapat mengenakan kodrat Ilahi. 
    (Filipi 3:10)
    Pernyataan Paulus “serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” pada dasarnya adalah kehidupan yang ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Allah sepenuhnya. Kata “mati” dalam teks aslinya di sini adalah thanatos (θάνατος), kata yang sama digunakan dalam Kolose 3:3; bahwa kita telah mati. Kata thanatos memang dapat menunjukkan terpisahnya tubuh dari roh, tetapi sebenarnya lebih menunjuk kepada kematian kekal, sebuah keberadaan final (Why. 20:13-14). Alkitab memilih kata thanatos hendak menunjukkan bahwa setelah menjadi anak Tuhan, maka tujuan hidup kita harus dibedakan dari anak-anak dunia. Memang pemisahan ini tidak dalam satu hari, tetapi melalui proses panjang. Proses panjang tersebut merupakan pembaharuan pikiran -supaya orang percaya tidak sama dengan dunia ini- harus terjadi setiap hari (Rm. 12:2). Firman Tuhan yang dapat memisahkan yang jiwani dan yang rohani (Ibr. 4:12).  Pemisahan ini bersifat permanen, maka menggunakan kata thanatos. Terkait dengan hal ini, dalam Kolose 3:3 Alkitab berkata: “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”.
    Kematian diri sendiri ini tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. Manusia tetap memiliki diri. Melalui penyangkalan diri terus menerus orang percaya menyerahkan kehendak diri kepada Tuhan. Inilah sumber masalahnya, sebab ketika orang percaya hendak menundukkan diri sepenuh, maka seluruh hak orang percaya diserahkan kepada Tuhan; hak hidup layak seperti yang lain, hak memiliki uang dan segala fasilitasnya. Hak memiliki penghormatan, hak dihargai, hak diperlakukan adil, dan lain sebagainya. Dalam hal ini Paulus juga memberi teladan ketika ia berkata: Hidupku bukan lagi aku tetapi Kristus yang hidup di dalamku.
    Orang yang mengalami proses kematian

    diri sendiri ditandai dengan keadaan

    dimana dosa tidak lagi berkuasa

    dalam tubuhnya yang fana.
    Ini adalah hukum terpenting dalam hidup Kekristenan. Kesediaan untuk ini merupakan hal utama. Itulah sebabnya orang percaya memberi diri dibaptis.
    0 min
  • Memiliki Diri Sendiri
    Kalau seseorang melepaskan hak, berarti tidak berhak pula memiliki kesenangan apa pun selain Tuhan. Sehingga kesenangannya adalah melakukan segala sesuatu yang diinginkan oleh Allah yang memiliki hidup ini. Hal ini sejajar dengan apa yang dialami atau dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ketika Ia mengenakan tubuh manusia, makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Orang percaya yang mengikut Tuhan Yesus harus memiliki gaya hidup seperti itu juga. Hal ini demi kepentingan orang percaya itu sendiri. Menyerahkan segenap hidup bagi Tuhan. Menyerahkan hidup bagi Tuhan tidak cukup dengan menjadi aktivis gereja yang sibuk dalam pelayanan gerejani, bahkan tidak cukup menjadi pendeta. Tidak jarang orang percaya yang menjadi aktivis gereja -bahkan menjadi pendeta- hanya sebagai sarana untuk memperoleh sesuatu yang bertendensi pada kepentingan diri sendiri. Kalau tidak bertumbuh sebagai anak-anak Allah yang mengenakan kodrat Ilahi, maka biarpun bertahun-tahun menjadi aktivis gereja -bahkan pendeta- ia hanya hidup untuk dirinya sendiri, bukan bagi Tuhan.
    Ketika seseorang belum menjadi anak tebusan, ia tidak dipersalahkan kalau memiliki dirinya sendiri seperti mereka yang tidak memiliki karunia sulung Roh. Hidupnya dimiliki oleh dirinya sendiri atau kuasa kegelapan. Mereka tidak bisa menjadi anak Allah yang mengenakan kodrat Ilahi. Ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dengan menerima Dia sebagai Tuhan atau pemilik kehidupan, maka mau tidak mau ia harus menyerahkan atau mengembalikan seluruh miliknya bagi Tuhan. Selama seseorang masih memiliki dirinya sendiri -artinya merasa berhak memiliki kesenangan dan menikmati hidup seperti anak-anak dunia lain- maka ia tidak bisa diubah Tuhan sesuai dengan rancangan semula-Nya.
    Ciri kehidupan yang mau diubah

    berkodrat Ilahi adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia.
    Kalaupun ada keinginan memiliki sesuatu, maka dasarnya adalah karena hendak melakukan kehendak Bapa. Tuhan Yesus yang menjadi teladan kita menunjukkan sebuah kehidupan yang sangat agung. Keagungan-Nya adalah ketika Ia bersedia melepaskan hak-hak-Nya dan rela merendahkan Diri. Tuhan Yesus terhina di antara manusia, hal ini menunjukkan kerelaan-Nya kehilangan kehormatan. Ekspresi kerelaan kehilangan hak dihormati manusia dalam kehidupan Yesus juga ditunjukkan dengan tindakan-Nya mencuci kaki murid-murid-Nya dalam suatu perjamuan terakhir sebelum Yesus menghadapi penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Semua itu dilakukan bagi kemuliaan Allah Bapa.
    Banyak orang ketika menyatakan diri mau mengikut Tuhan Yesus, mereka tidak tahu betapa sukarnya mengikut Tuhan Yesus. Mereka berpikir bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti bisa memiliki jaminan pemeliharaan di dunia ini secara luar biasa menurut konsepnya sendiri. Mereka berpikir bahwa Tuhan bukan saja baik, tetapi juga kuat. Mereka tidak mengerti isi kebaikan Tuhan dan tidak memahami kehendak serta rencana-Nya. Mereka berpikir dengan percaya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memelihara mereka di bumi ini dengan keistimewaan yang lebih dibanding orang kafir. Itulah sebabnya mereka bingung ketika melihat fakta orang kafir memiliki keadaan ekonomi, kesehatan, keluarga, dan berbagai aspek lahiriah yang lebih unggul dibanding dengan sebagian besar orang Kristen.
    Pada umumnya kemapanan hidup seseorang ditopang oleh terpenuhinya kebutuhan finansial, sebab dengan finansial yang “memadai” mereka merasa terjamin. Ukuran memadai masing-masing orang tentu berbeda, bersifat relatif. Selain relatif, hal itu juga bersifat bergerak. Artinya selalu menginginkan jumlah finansial yang lebih banyak, karena dengan memiliki kekuatan finansial lebih besar, berarti hidup lebih terjamin. Inilah yang membuat seseorang selalu bergerak tiada henti untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Dan target tersebut hampir selalu bergerak, sebab pada umumnya orang tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya.
    0 min
  • Perlombaan Berkodrat Ilahi
    Perjuangan untuk dapat mengenakan kodrat Ilahi adalah perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya (Ibr. 12:1). Orang di luar Kristen tidak memiliki perlombaan ini. Perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya sesungguhnya adalah pergumulan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah atau yang berkodrat Ilahi. Berkodrat Ilahi sama dengan yang dikatakan dalam Ibrani 12:10 sebagai mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Itulah sebabnya Bapa mendidik orang percaya agar orang percaya menjadi anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kekudusan-Nya tersebut; yang sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Seperti bapak di dunia ini mendidik anak-anaknya, demikian pula Bapa di surga mendidik orang percaya. Pendidikan terhadap setiap orang percaya adalah hal yang mutlak dialami. Jika seseorang tidak mengalami pendidikan ini, maka ia bukanlah anak yang sah.
    Orang percaya harus menerima kenyataan panggilan ini, bahwa sepanjang umur hidupnya hanyalah sebuah proses pendidikan untuk menjadi anak Allah yang sah (huios).
    Perlombaan untuk menjadi anak Allah yang sah harus dapat dimengerti dan diterima dengan segenap hati. Perjuangan dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut harus menjadi satu-satunya perjuangan yang juga menjadi satu-satunya agenda hidup ini. Dalam Ibrani 12 ini terdapat kebenaran penting berkenaan dengan hal ini, bahwa orang percaya harus memandang kepada Tuhan Yesus artinya meneladani ketekunan-Nya untuk menjadi pemenang. Dialah satu-satunya model Anak Allah yang harus orang percaya teladani. Diwajibkan artinya tidak bisa tidak orang percaya harus mengikutinya. Untuk menjadikan ini wajib bagi orang percaya, orang percaya tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai wajib. Dengan demikian hanya satu yang mutlak harus orang percaya capai, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berkodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Semua hal yang orang percaya lakukan haruslah bermuara pada perlombaan tersebut agar dapat menjadi anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
    Mengapa banyak orang yang tidak menyadari apakah dirinya telah mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau belum? Sebab mereka tidak mengalami perjuangan mengikuti perlombaan yang diwajibkan tersebut. Mengapa tidak mengalami? Sebab tidak tahu bahwa ia harus berjuang untuk mencapai level tertentu, dimana dirinya sungguh-sungguh berstatus sebagai huios yang berkodrat Ilahi tersebut. Level hidup bagaimana yang harus dicapainya untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah menjadi anak-anak Allah yang sah (huios)? Level itu adalah keberadaan seperti Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa. Pernyataan Firman Tuhan dalam Ibrani 12 bisa berarti bahwa orang percaya harus berjuang untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, dimana pengesahan tersebut ditandai dengan mengenakan kodrat Ilahi. Dalam hal ini proses mengambil bagian dalam kodrat Ilahi bukan sebuah proses otomatis, tetapi perjuangan dalam kurun waktu panjang, sepanjang hidup ini.
    Proses menjadi anak Allah yang sah adalah proses yang hanya dialami oleh umat pilihan. Mereka yang di luar Kristen tidak memiliki kesempatan ini. Proses ini sangat berat. Harganya sangat mahal. Dalam Roma 8:17 Firman Tuhan mengatakan: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”. Dalam ayat ini orang percaya disejajarkan dengan Tuhan Yesus dalam mewarisi “janji-janji” Allah. Kepada Anak Tunggal-Nya, Bapa berjanji akan mempermuliakan, artinya memberikan kemuliaan yang Bapa pernah berikan sebelum dunia dijadikan dan sebelum Ia turun ke bumi berinkarnasi sebagai manusia. Orang percaya yang menjadi anak-anak Allah juga menerima janji-janji Allah Bapa bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
    0 min
  • Karunia Sulung Roh
    Sesungguhnya, semua manusia adalah anak-anak Allah, sebab roh manusia adalah roh yang berasal dari Allah Bapa. Itulah sebabnya Allah Bapa disebut sebagai Bapa segala roh (Ibr. 12:9). Kebenaran ini dinyatakan oleh tulisan Yakobus: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” (Yak 4:5). Roh yang dimaksud di sini bukanlah Roh Allah, tetapi roh manusia. Oleh karena roh manusia adalah roh dari Allah, maka Allah menghendaki roh manusia kembali kepada-Nya. Sebenarnya pergumulan Adam adalah pergumulan untuk mengesahkan diri sebagai anak Allah secara permanen. Secara permanen artinya Adam mencapai suatu level karakter Ilahi yang ideal seperti yang dikehendaki oleh Bapa dan tidak pernah akan berubah lagi atau tidak akan jatuh lagi. Tetapi ternyata Adam gagal. Tuhan Yesus memberi teladan bagaimana menjadi anak-anak Allah.
    Tuhan Yesus adalah manusia pertama yang berhasil mencapai kehidupan sebagai anak Allah yang ideal atau sempurna. Dialah model manusia yang diinginkan oleh Allah. Keberhasilan-Nya sebagai manusia seperti yang dikehendaki oleh Bapa, menempatkan Diri-Nya sebagai pokok keselamatan bagi mereka yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9). Pokok keselamatan dalam teks aslinya adalah aitios (αἴτιος). Aitios bisa berarti author, the person who originated or gave existence to anything (seorang yang menciptakan sesuatu). Kata aitios juga bisa berarti penggubah (composer). Dengan kemenangan-Nya, maka Tuhan Yesus dapat menggubah manusia berdosa menjadi anak-anak Allah. Tuhan Yesus sendiri telah belajar dan berhasil. Dalam hal ini, untuk mencapai kesempurnaan, Tuhan Yesus tidak menerimanya secara otomatis oleh anugerah, tetapi hasil dari perjuangan-Nya. Umat pilihan adalah orang yang diperkenan mencapai level itu. Inilah yang dimaksud Paulus bahwa kita memiliki karunia sulung roh (Rm. 8:23).
    Bagaimana sebenarnya seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah? Dalam Roma 8:14 Alkitab mencatat bahwa semua orang, yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah agontai (ἄγονται), dari akar kata ago (ἄγω), yang selain berarti memimpin (to lead) juga berarti membawa (to bring; to carry) atau memotori (to drive). Hal ini hanya terjadi dalam kehidupan umat pilihan. Kita adalah orang-orang yang sungguh beruntung, karena kita menjadi orang yang terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Melalui proses pendewasaan kita dapat menjadi anak yang sah.
    Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang”. Dalam teks asli Alkitab kata anak gampang di sini adalah “nothos’ (νόθος), yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam Yunani selain ada kata nothos juga ada kata huios (υἱός), yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
    Orang Kristen yang berkodrat Ilahi disebut huios, sedangkan orang Kristen yang tidak berkodrat Ilahi sama dengan nothos.
    Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak Allah, yaitu berkodrat Ilahi. Dengan berkeadaan sebagai anak Allah maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak Allah. Dengan demikian seseorang dikatakan berstatus sebagai anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak Allah. Berkeadaan sebagai anak Allah yang berkodrat Ilahi maksudnya memiliki ciri-ciri nyata dalam kehidupan ini yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini paling tidak ada 5 ciri seorang yang berkeadaan sebagai anak Allah.
    Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela.
    Kedua,
    0 min
  • Menjadi Yang Terpilih
    Banyak orang salah memahami yang dimaksud dengan menjadi umat pilihan. Mereka memandang yang disebut umat pilihan pasti masuk surga. Sebenarnya menjadi umat pilihan berarti menjadi orang-orang yang diberi kesempatan untuk menjadi orang-orang yang berkarakter seperti Allah. Ini sama dengan berkodrat Ilahi (1Tim. 6:11). Hal ini terjadi hanya pada zaman Injil diberitakan, dan adanya penebusan oleh darah Tuhan Yesus Kristus, dimana manusia dapat diproses menjadi manusia seperti rancangan semula, yaitu berkodrat Ilahi. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa adalah manusia yang tidak lagi berkodrat Ilahi. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia agar dapat kembali berkodrat Ilahi. Itulah sebabnya Tuhan menyediakan sarana guna mewujudkannya.
    Orang Kristen disebut sebagai umat pilihan yang khusus dan istimewa, karena tidak semua orang bisa mendengar berita Injil. Kalau Alkitab menyatakan bahwa Allah memilih, itu bukan berarti manusia yang dipilih pasti selamat. Dipilih disini artinya diberi kesempatan atau memiliki peluang untuk mendengar Injil, diproses sehingga berkodrat Ilahi. Kalau Alkitab menyatakan bahwa ada orang-orang yang dipilih, artinya bahwa tidak semua manusia “memiliki kesempatan” untuk menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Hal ini sungguh-sungguh tergantung pada kedaulatan Tuhan sepenuhnya. Ada orang-orang yang diberi kesempatan mendengar Injil dan kesanggupan untuk menerima-Nya, tetapi ada yang tidak memiliki kesempatan mendengar Injil sama sekali dan kemampuan untuk menerima-Nya. Harus dipahami bahwa:
    Kesempatan menjadi orang pilihan

    bukanlah jaminan seseorang bisa benar-benar terpilih dan pasti selamat masuk surga.
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Orang yang terpanggil adalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk menjadi orang yang terpilih, tetapi orang yang terpanggil untuk terpilih ini tidak semua benar-benar menjadi orang pilihan selamat masuk surga. Dari semua yang “orang yang diundang” ada yang tidak diperkenan menikmati pesta perjamuan, artinya tidak terpilih (Luk. 22: 1-13).
    Kesempatan sebagai orang terpilih untuk diundang, tidak dimiliki semua orang. Ini bisa dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu:
    Faktor pertama, mereka hidup sebelum zaman anugerah, yaitu zaman sebelum kedatangan Tuhan Yesus ke dunia. Dalam hal ini Tuhan Yesus tegas berkata: Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu (Yoh. 15:16).
    Faktor kedua, mereka tidak terjangkau Injil. Banyak orang hidup pada zaman anugerah, tetapi mereka tidak pernah mendengar Injil. Mereka yang ada di pelosok-pelosok jauh dari jangkauan pemberitaan Injil. Alat transportasi dan teknologi komunikasi belum menjamah mereka. Mereka adalah orang-orang yang terisolir dari masyarakat modern. Posisi mereka sebenarnya tidak berbeda dengan orang yang hidup sebelum zaman Tuhan Yesus yang tidak mendengar Injil.
    Faktor ketiga, mereka mendengar Injil yang salah. Mereka mendengar Injil dari sumber yang salah. Sejak kecil sudah mendengar cerita atau berita mengenai Tuhan Yesus Kristus, tetapi dari sumber yang salah. Pengertian mereka telah dibutakan oleh fitnah terhadap Injil. Semua ini membuat mereka tidak akan pernah menerima Injil bahkan tidak pernah ramah terhadap Injil, terhadap gereja sebagai institusi dan orang Kristen secara individu. Sebagian mereka terkondisi menentang Injil sampai hatinya membatu sehingga tidak pernah menjadi orang percaya.
    Faktor keempat, memiliki cacat fisik dan psikis. Mereka hidup pada zaman anugerah, tetapi oleh karena kelemahan fisik, cacat mental, dan berbagai faktor fisik maupun psikis sehingga mereka tidak bisa menerima Injil secara memadai.
    Dalam Matius 22:1-14, menunjukkan Tuhan yang digambarkan sebagai seorang raj...
    0 min
  • Kerjasama Dengan Roh Kudus
    Perubahan kodrat tidak mungkin terjadi atau berlangsung dalam kehidupan seseorang tanpa pertaruhan segenap hidupnya. Bila kita mengamati kehidupan Abraham yang menjadi teladan iman kita, dimana orang percaya diajar untuk memiliki iman seperti itu, Abraham memiliki respon yang positif kuat terhadap kehendak Allah (Kej. 15:6). Alkitab mencatat bahwa Abraham -bapa orang percaya- dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah. Abraham disebut sebagai sahabat Tuhan dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, setelah ia menunjukkan imannya dengan perbuatannya (Yak. 2:21-23).
    Respon Abraham nampak nyata dari sejak ia keluar dari Ur-Kasdim. Itulah awal dari perjalanan iman Abraham. Dari langkahnya meninggalkan Ur-Kasdim sampai ia menaati perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya Ishak sebagai korban bakaran, nampak nyata responnya terhadap Tuhan.
    Kalau Abraham menolak meninggalkan

    Ur-Kasdim, ia tidak pernah menjadi

    nenek moyang umat pilihan Allah dan dinyatakan sebagai bapa orang percaya.
    Respon itu bukan hanya satu tindakan saja dan dalam satu kali peristiwa, juga tidak sesaat saja. Respon haruslah tindakan terus menerus, sebuah akumulasi (penumpukan atau pengumpulan) respon yang membawa seseorang kepada tingkat percaya yang murni, seperti yang dimiliki Abraham. Sejak Abraham keluar dari Ur-Kasdim sampai hari tuanya, dimana ia harus mengorbankan Ishak, adalah rentetan pergumulan yang melaluinya Abraham disempurnakan. Dari hal ini iman Abraham baru teruji kemurniannya.
    Respon di sini juga bukan hanya sebuah persetujuan pikiran bahwa kita hanya setuju dengan apa yang Tuhan katakan, tetapi respon adalah tindakan konkret yang menunjukkan percaya kita kepada-Nya. Dengan demikian jelaslah bahwa iman bukanlah aktivitas nalar semata-mata tetapi tindakan konkret. Iman tidak hanya di pikiran atau di bibir, tetapi dalam seluruh wilayah hidup dan di sepanjang waktunya. Apakah Abraham melakukan semua perintah dan kehendak Allah karena Tuhan yang menggerakkannya secara mutlak, sehingga sekalipun Abraham tidak berminat melakukannya pun ia akan tetap akan melakukannya, sebab Tuhan menghendaki? Tentu tidak. Abraham memang memilih untuk taat. Itulah sebabnya ia disebut sebagai sahabat Allah. Ia bukan sahabat paksaan atau sahabat buatan -karena terpaksa atau karena tekanan- tetapi dengan rela Abraham mau menjadi sahabat Tuhan dengan segala harga yang harus dibayar. Dengan demikian harus dimengerti bahwa iman bukanlah anugerah gratis, tetapi tindakan dari keputusan atau pilihan inividu yang bersedia menuruti kehendak-Nya.
    Respon bukanlah ucapan bibir percaya atau setuju dengan apa yang diberitakan, tetapi iman juga dinyatakan dalam tindakan konkret. Dalam hal ini, kita dapat mengerti mengapa Yakobus menegaskan dalam suratnya sebagai berikut: Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yak. 2:17-26). Iman sempurna melalui tindakan perbuatan nyata selama bertahun-tahun, sampai membangun sebuah iman yang murni. Tindakan-tindakan inilah yang sebenarnya disebut sebagai respon.
    Dalam proses perubahan kodrat, Tuhan bekerja sangat aktif melalui Roh Kudus di dalam hati manusia yang menerima taburan kebenaran Firman Tuhan; tetapi bagaimanapun kecilnya, manusia juga memiliki respon yang sangat dihargai Tuhan. Itulah sebabnya panggilan untuk bertobat, bertumbuh, mendengar Firman Tuhan ditujukan kepada manusia agar manusia memberikan respon. Kalau respon manusia tidak dibutuhkan, maka Tuhan Yesus tidak perlu berseru agar manusia bertobat (Mat. 3:2; 4:17).
    Di sini kita menemukan misteri yang tidak terpecahkan dengan mudah. Satu sisi Tuhan berkata bahwa kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, tetapi sisi lain dikatakan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Flp. 2:12).
    0 min
  • Independensi Dalam Proses Perubahan Kodrat
    Peran individu dalam meresponi penggarapan Allah guna berkodrat Ilahi disebut independensi. Indipendensi artinya keadaan dimana seseorang tidak dikendalikan oleh pihak lain dalam bertindak mengambil keputusan dan pilihan. Terkait dengan kehendak bebas, berarti seseorang tidak terikat oleh siapa pun dalam mengambil keputusan karena tidak ada pihak lain yang mengendalikan dan menentukannya. Dengan demikian, sesungguhnya setiap orang dapat menentukan apakah memberi diri diubah menjadi seorang yang berkodrat Ilahi atau tetap berkodrat manusia. Dalam hal ini, bukan Tuhan yang menentukan seseorang dipastikan berkodrat Ilahi dan yang lain tidak. Tetapi tergantung kepada masing-masing individu, bagaimana ia meresponi penggarapan Allah.
    Manusia memiliki pikiran dan perasaan yang dapat menciptakan atau membangun suatu keinginan. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa manusia dapat memiliki pikiran dan perasaan, sehingga dapat membangun atau menciptakan keinginan dari dirinya sendiri. Justru pikiran dan perasaan diadakan oleh Allah, memampukan setiap individu memiliki kehendak dari diri sendirinya. Pikiran dan perasaan dapat memproduksi kehendak atau keinginan apa saja. Dalam hal ini, betapa berbahayanya kalau seseorang mengumbar keinginan, sebab hal ini bisa membinasakan seseorang. Orang percaya harus bisa menyangkal diri, artinya mengendalikan hasrat atau keinginan, sehingga hanya mengingini apa yang dikehendaki oleh Allah.
    Keinginan dan hasrat dalam diri seseorang menentukan kodrat orang tersebut.
    Kalau keinginan seseorang adalah dunia ini, maka ia berkodrat dunia atau berkodrat manusia; tetapi kalau seseorang mengingini melakukan kehendak Allah saja, maka ia berkodrat Ilahi.
    Allah juga memiliki independensi, sehingga Allah berdaulat. Kedaulatan Allah tidak menghilangkan kedaulatan manusia. Kedaulatan Allah tidak terletak pada tindakan-Nya menentukan segala sesuatu berdasarkan keputusan dan pilihan-Nya, tetapi terletak pada tindakan-Nya menegakkan keadilan dari hukum atau tatanan-Nya. Seperti misalnya hukum-Nya adalah apa yang ditabur seseorang itu juga akan dituainya. Allah dalam kedaulatan-Nya menegakkan hukum itu. Ia tidak akan menyangkali hakikat-Nya yang memberi kehendak bebas kepada makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia. Kedaulatan Allah bukan pada tindakan-Nya yang secara sewenang-wenang menentukan sekelompok orang dapat mengalami Kelahiran Baru dan yang lain tidak.
    Kedaulatan-Nya terletak pada integritas-Nya yang kokoh dalam menegakkan tatanan-Nya tanpa bisa dipengaruhi oleh apa pun

    dan siapa pun.
    Manusia diberi independensi atau kedaulatan dalam areanya. Memang demikian kenyataannya, bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, di dalamnya termasuk independensinya. Dalam beberapa kesempatan Tuhan Yesus sudah mengingatkan Yudas agar tidak melakukan kesalahan, tetapi Yudas tetap memilih untuk menjual Gurunya. Akhirnya, Tuhan Yesus membiarkan apa yang akan dilakukan oleh Yudas. Jika Tuhan sudah mengingatkan seseorang dan ia berkeras dalam niatnya, maka Tuhan akan membiarkan ia berbuat apa yang hendak dilakukannya. Dalam hal ini Tuhan menghargai independensi seseorang. Semua kejadian dan kisah yang lain -yang dapat kita peroleh baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru- menunjukkan bahwa Tuhan menghargai independensi atau kemandirian manusia.
    Independensi akan menciptakan sebuah kepartneran atau kemitraan yang proporsional antara Tuhan dan manusia. Bukan sebuah mekanisme hubungan yang dinaskahkan, sehingga semua berjalan seperti mesin tanpa perasaan yang wajar atau seperti sebuah sandiwara. Firman yang memerintahkan agar manusia mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan, menunjukkan dengan jelas bahwa manusia independen. Manusia harus mengendalikan perasaan, pikiran, dan kehendaknya agar dapat dengan rela mengasihi Tuhan secara proporsional dan natural (Mat. 22:37-40). Dengan kemitraan yang dibangun dari independensi masing-masing pihak,
    0 min
  • Menolak Berkodrat Ilahi
    Pendewasaan rohani harus membawa umat pilihan sampai memiliki moral Allah Bapa. Hal ini sama dengan “mengambil bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr. 12:10). Hal ini sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan agar orang percaya harus kudus seperti Bapa di surga, kudus (1Ptr. 1:16). Untuk itu orang percaya harus menaruh seluruh pengharapannya pada penyataan Tuhan Yesus Kristus dan hidup dalam ketaatan (1Ptr. 1:13-15). Inilah maksud keselamatan, dimana manusia dimungkinkan kembali untuk memiliki kemuliaan Allah yang telah hilang (Rm. 3:23). Dengan demikian, pada dasarnya kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan kodrat dosa. Adapun keselamatan dalam Yesus Kristus dimaksudkan agar orang percaya mengenakan kodrat Ilahi sesuai dengan rancangan Allah semula.
    Baptisan Roh Kudus sebenarnya tidak hanya menunjuk suatu momentum, tetapi lebih menunjuk suatu proses dan suatu kondisi (state) yang berpotensi mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya. Baptisan Roh Kudus membawa orang percaya kepada proses kehidupan berjalan dalam Roh atau dipimpin oleh Roh Allah. Inti baptisan Roh Kudus adalah kehidupan orang percaya yang diubahkan terus menerus oleh pekerjaan Roh Kudus guna memenuhi rencana Allah Bapa menjadi corpus delicti. Dengan demikian baptisan Roh Kudus adalah suatu state atau keadaan yang memberi kemungkinan atau potensi untuk mengubah manusia menjadi seperti yang dikehendaki oleh Allah.
    Apakah seseorang yang telah dibaptis Roh Kudus bisa menolak pimpinan Roh Kudus, sehingga Roh Kudus meninggalkannya? Banyak orang berpikir bahwa kalau seseorang sudah dibaptis Roh Kudus, maka ia tidak bisa menolak pimpinan Roh Kudus atau tidak bisa murtad lagi. Seakan-akan baptisan tersebut menjadi materai yang secara permanen membuat atau memastikan seseorang tidak dapat binasa.
    Baptisan Roh Kudus menunjuk suatu masa atau dekade dimana Roh Kudus menyediakan Diri untuk menuntun seseorang

    agar hidup mencapai kodrat Ilahi.
    Oleh sebab itu seseorang harus memberi diri dipimpin oleh Roh, bukan dagingnya. Dalam Galatia 5:16 tertulis: Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Hidup oleh Roh di sini adalah membiasakan diri berjalan sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Kata “hiduplah” dalam teks aslinya adalah peripateo (περιπατέω) yang memiliki beberapa pengertian, antara lain: behave (berperilaku atau berkebiasaan), conduct ourselves (mengatur diri sendiri), to walk (berjalan), to make one’s way, progress (membuat jalan seseorang; kemajuan), to make use of opportunities (memanfaatkan peluang), to regulate one’s life, to conduct one’s self, to pass one’s life (mengatur kehidupan sendiri untuk lulus). Pada dasarnya kata peripateo menunjuk pada usaha mengatur diri atau membiasakan hidup (sesuai dengan Roh Kudus). Tentu saja pembiasaan ini (sesuai dengan kehendak Allah) membutuhkan perjuangan dan latihan dalam waktu yang panjang.
    Hendaknya kita tidak berpikir kalau seseorang dipimpin Roh Kudus maka ia tidak bisa menolak atau memberontak terhadap pimpinan-Nya. Kalau seseorang menolak tuntunan Roh Kudus, sama artinya dengan menolak anugerah. Jika seseorang tidak bisa menolak anugerah, maka tidak perlu pembiasaan untuk hidup menurut sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Faktanya, seseorang bisa menolak Roh Kudus. Pembiasaan tersebut menunjukkan bahwa seseorang harus berlatih untuk hidup sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Dalam berlatih atau belajar membiasakan diri hidup sesuai dengan kehendak Roh Kudus, kehendak bebas seseorang harus digunakan dengan maksimal agar bisa hidup sesuai dengan kehendak Allah.
    Bagaimanapun, manusia tidak pernah kehilangan kehendak bebasnya, sebab manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Paulus sendiri walau sudah menjadi rasul tetap berusaha untuk berkenan kepada-Nya. Untuk berkenan kepada Tuhan harus diusahakan sendiri, bukan karunia (2Kor. 5:9-10).
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…