Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perjuangan Mengenakan Kodrat Ilahi
    Dari pihak manusia, dibangunnya kodrat Ilahi berarti perjuangan melawan dosa atau ketidaktepatan (Yun. hamartia; ἁμαρτία) di dalam dirinya. Ketidaktepatan di sini adalah keadaan dan tindakan manusia yang tidak sesuai dengan keinginan, pikiran, dan perasaan Tuhan. Inilah keadaan manusia yang telah jatuh di dalam dosa, yaitu berkeadaan sebagai manusia yang kehilangan kemuliaan Allah. Kehilangan kemuliaan Allah artinya manusia kurang atau tidak mencapai moral kesucian seperti rancangan Allah semula. Manusia memang bisa menjadi manusia yang berbudi pekerti baik, tetapi manusia tidak mampu mencapai keadaan moral yang berstandar Allah sebagai gambarnya.
    Dosa dalam konteks umat Perjanjian Baru, bukan hanya sekadar pelanggaran terhadap hukum atau norma umum, tetapi semua tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Elohim Yahweh, Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus. Dengan demikian mengenakan kodrat Ilahi artinya bahwa segala perbuatan yang dilakukan seseorang baik yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dalam hal ini sebenarnya manusia dirancang tanpa hukum atau peraturan. Manusia bisa bermoral baik standar Tuhan karena memang berkeadaan segambar dan serupa dengan Dia.
    Perjuangan untuk mengenakan kodrat Ilahi ini berlatar belakang kenyataan bahwa manusia telah gagal mengerti kehendak Allah, dan melakukan kehendak-Nya dengan sempurna; manusia tidak mampu berpikir, berucap sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Harus dimengerti dan diterima bahwa semua orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup sebagai seorang yang berkodrat Ilahi. Inilah perjuangan satu-satunya yang harus dimiliki dan dijalani umat pilihan. Perjuangan ini adalah perjuangan yang berat yang menyita segenap hidup ini. Tetapi perjuangan ini tidaklah diperhitungkan sebagai jasa, seakan-akan keselamatan manusia hasil dari perbuatan baiknya.
    Perjuangan adalah respon terhadap anugerah yang Tuhan berikan.
    Perjuangan tersebut dimaksudkan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah Bapa (Ibr. 12:10) atau yang sama dengan mengambil bagian dalam kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4).
    Kodrat Ilahi yang dapat dikenakan umat pilihan bukan terjadi secara otomatis, tetapi menuntut respon yang aktif. Ini adalah perjuangan melawan kodrat dosa (sinful nature); kodrat yang sudah melekat dalam diri manusia, yang berpotensi hidup dalam ketidaktepatan. Keberhasilan lolos dari kodrat dosa ini membuahkan seseorang mengenakan kodrat Ilahi. Dikemukakan oleh Paulus dalam Filipi 2:12, bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Mengerjakan keselamatan ini sama dengan perjuangan mengenakan kodrat Ilahi. Dengan takut dan gentar menunjukkan pergumulan untuk dapat mengenakan kodrat Ilahi adalah perjuangan yang berat. Bila dihubungkan dengan Filipi 2:5-7, Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Yesus Kristuslah model manusia yang mengenakan kodrat Ilahi.
    Ternyata kata “pikiran dan perasaan” dalam Filipi 2:5 dalam teks aslinya bukan kata benda, tetapi bentuk perintah (imperative), yaitu phroneistho (φρονείσθω). Dalam bahasa Yunani kata ini memiliki kasus imperative present passive third person singular dari akar kata phroneo (φρονέω). Kalau diterjemahkan bebas bisa berbunyi: ‘‘Berpikirlah atau bersikaplah seperti Yesus Kristus’’. Dalam salah satu Alkitab terjemahan bahasa Inggris, diterjemahkan sebagai berikut: Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus.
    Kalau Firman Tuhan memerintahkan

    agar orang percaya berpikir atau bersikap sesuai dengan kehendak-Nya, maka berarti orang percaya yang harus menggerakkan atau mengarahkan pikiran dan menetapkan sikapnya dengan jelas.
    Hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung oleh pihak lain, bahkan oleh Tuhan sendiri.
    0 min
  • Kuasa Supaya Berkodrat Ilahi
    Isi keselamatan adalah dibangunnya kodrat Ilahi dalam kehidupan manusia. Ini adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Tetapi bukan berarti proses ini bisa terwujud atau berlangsung hanya dari pihak Tuhan saja. Manusia juga dituntut untuk memberi diri dibentuk, agar dapat diubah demi mencapai target atau tujuan, yaitu menjadi manusia yang berkodrat Ilahi. Dalam hal ini, selain Allah harus aktif, manusia juga harus aktif. Untuk mewujudkan dibangunnya kodrat Ilahi atas manusia, Allah memberikan kuasa kepada orang percaya, supaya berkodrat Ilahi, yang sama dengan menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kata “kuasa” dalam teks ini adalah exousia (ἐξουσία), yang lebih tepat atau lebih dekat artinya bila diterjemahkan “hak” (Ing. right) atau sebuah hak istimewa (Ing. priviledge).
    Perubahan kodrat tidak terjadi secara otomatis. Itulah sebabnya kuasa atau hak tersebut harus dimanfaatkan atau yang sama dengan mewujudkan proses dibangunnya kodrat Ilahi. Isi kuasa atau hak itu antara lain:
    Pertama adalah penebusan. Dengan penebusan, seseorang dapat menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Tuhan Yesus berhak memuridkan orang percaya yang menjadi milik-Nya (Mat. 2:18-20). Setelah segala kuasa ada di tangan Tuhan Yesus, maka Tuhan memberikan Amanat Agung-Nya. Kuasa kegelapan tidak berhak lagi membelenggu orang yang ditebus, dengan demikian mereka yang menerima Yesus memiliki kemungkinan untuk dimuridkan guna tujuan keselamatan, yaitu berkodrat Ilahi.
    Penebusan membuat orang percaya

    tidak berhak sama sekali atas dirinya.
    Oleh sebab itu harus memberi diri untuk diubah sesuka hati Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.
    Kedua adalah Roh Kudus atau Roh Allah. Pada dasarnya keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula, yaitu berkodrat Ilahi. Untuk dapat berkeadaan sebagai berkodrat Ilahi, orang percaya harus mengalami pencerahan pikiran sehingga seseorang dapat mengerti kehendak Allah secara sempurna. Roh Kudus adalah satu-satunya Pribadi utusan Bapa yang dapat memberikan kemampuan kepada orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Yoh. 16:13; Rm. 12:2). Dengan demikian manusia dapat melakukan segala sesuatu tepat seperti yang dikehendaki oleh Bapa. Roh Kudus sebagai pendamping (Yun. Parakletos; παράκλητος) menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah.
    Tanpa Roh Kudus,

    perubahan ke arah berkodrat Ilahi tidak akan terwujud dalam kehidupan orang percaya.
    Ketiga adalah Injil. Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Iman yang merupakan landasan keselamatan timbul dari mendengar Firman Kristus. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Yun. Rhematos Christou; ῥήματος Χριστου; Rm. 10:17). Firman Kristus itulah kebenaran Injil yang disuarakan Roh Kudus di dalam pikiran orang percaya. Jadi sangat jelas dan harus ditegaskan bahwa Injil adalah sarana keselamatan (Rm. 1:16-17). Terkait dengan hal ini, sebenarnya perubahan seseorang sehingga berkodrat Ilahi adalah bentuk Kelahiran Baru. Hal ini pada dasarnya sama dengan pencerahan pikiran terus menerus oleh Firman sehingga mengubah kodrat seseorang. Dalam hal tersebut kebenaran Injil adalah satu-satunya sarananya. Injil memuat pengenalan akan Allah atau kebenaran-Nya.
    Orang yang memahami Injil dengan benar, pasti memiliki Tuhan Yesus dan

    keselamatan-Nya.
    Jadi, kalau seseorang tidak memahami Injil dengan benar, maka pastilah tidak akan pernah dimiliki dan memiliki Tuhan Yesus, serta tidak akan pernah mengalami keselamatan.
    Keempat adalah penggarapan Allah. Penggarapan ini suatu anugerah yang luar biasa. Sarana keselamatan yaitu Roh Kudus dan Injil tidak berdaya guna tanpa penggarapan Allah. Alkitab menyatakan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Alla...
    0 min
  • Kodrat Dosa Dalam Kehidupan Orang Percaya
    Tulisan Paulus dalam Roma mengenai kodrat dosa merupakan uraian yang sukar dipahami. Jika salah memahami, maka pembaca bisa memiliki asumsi yang sesat. Berulang-ulang dalam kitab Roma Paulus menyatakan fakta adanya kodrat dosa di dalam diri manusia, juga di dalam dirinya. Hal tersebut menggerakkan seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Roh.
    Fakta ini tidak dapat dibantah, dengan jelas Paulus menulis: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Rm. 7:15-20). Dari hal ini dapat ditemukan betapa rentan dan rawannya hidup orang percaya. Inilah yang menjadi titik persoalan berat orang percaya sebagai anak-anak Allah yang harus hidup berkodrat Ilahi dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus, agar layak disebut sebagai anak-anak Allah.
    Kodrat dosa dalam kehidupan orang percaya bukan hanya harus ditekan dan diarahkan untuk tidak melanggar tatanan hukum dan etika kehidupan secara umum, tetapi dimatikan sama sekali, untuk digantikan dengan kodrat baru.
    Agama dan pendidikan budi pekerti memiliki wilayah “menjinakkan kodrat dosa” ini. Mereka berusaha untuk dapat berhasil mengatasinya. Dalam level tertentu mereka dapat mengatasinya secara terbatas, tetapi tidak akan pernah sanggup mematikannya. Mereka hanya bisa menekannya saja atau sekadar menjinakkannya, tetapi tidak akan bisa mematikannya sama sekali dan menggantikannya dengan kodrat baru, yaitu kodrat Ilahi. Hanya keselamatan dalam Yesus Kristus yang dapat menjawab masalah ini.
    Kodrat dosa dalam kehidupan manusia tidak dapat diarahkan untuk bisa sinkron dengan kehendak Roh, juga tidak dapat diarahkan untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Kodrat dosa mengunci manusia dalam keadaan tidak berdaya mencapai kesempurnaan dan kekudusan yang dikehendaki oleh Tuhan. Hanya kodrat Ilahi yang dapat membuat keadaan moralnya sinkron dengan kehendak Roh, dan dapat mengarahkan seseorang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang percaya harus mengenakan salah satunya, kodrat manusia atau kodrat Ilahi. Dalam Kekristenan harus ada yang dikorbankan atau dimatikan, kodrat Ilahi atau kodrat manusia. Kita tidak boleh menghidupi dua-duanya, karena tidak pernah ada titik temu di antara keduanya. Dalam hal ini kita mengerti, mengapa Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.
    Dari tulisan Paulus kita dapati pergumulan berat Paulus dan kesan frustasi yang dialaminya. Ia menyatakan: Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku (Rm. 7:21). Dalam tulisan ini ia menyaksikan adanya tarik menarik yang terjadi di dalam dirinya, yaitu antara kodrat dosa dan kodrat baru yang sedang ditumbuhkan, yaitu kodrat Ilahi. Paulus sangat menyadari adanya kejahatan di dalam dirinya. Kata “kejahatan” dalam teks aslinya adalah kakos (κακός), yang artinya kodrat yang buruk (bad nature), juga bisa berarti model berpikir (mode of thinking), suatu kesalahan (wrong).
    Kata kakos memang tidak memiliki unsur kejahatan yang parah seperti kata adikia (kejahatan) atau parabasis (pemberontakan). Tetapi kakos menunjuk kepada keadaan yang belum sesuai dengan standar kesucian Tuhan.
    0 min
  • Isi Keselamatan
    Dalam 2 Petrus 1:3-4 tertulis: Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Firman Tuhan ini jelas sekali menunjukkan bahwa pada intinya hidup Kekristenan dan jalan keselamatan kita adalah proses mengubah kodrat; dari kodrat manusia atau kodrat dosa menjadi kodrat Ilahi. Kata kodrat dalam teks aslinya dalam 2 Petrus 1:4 adalah phuseos (φύσεως) dari asal kata phusis (φύσις). Kata phusis memiliki pengertian natural endowment or condition (satu kondisi yang ditopang oleh sifat bawaan atau alamnya). Dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan nature. Kata kodrat dalam konteks 2 Petrus 1:4 ini lebih berarti sifat asli atau dasar yang menggerakkan seseorang berbuat segala sesuatu.
    Keselamatan dalam Yesus Kristus, pada dasarnya adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Rancangan Allah semula adalah agar manusia berkodrat Ilahi seperti Diri-Nya. Kalau pengertian mengenai keselamatan adalah terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, maka orang Kristen yang berpengertian demikian, Kekristenannya hanya kulit tanpa isi atau tanpa esensi kebenaran Injil. Itu adalah Kekristenan yang tidak menyentuh inti Injil. Kekristenan semacam itu hanya sekadar agama yang dihiasi dengan kegiatan keberagamaan semata-mata. Pengertian keselamatan yang salah di atas mendangkalkan pikiran, sehingga tidak bisa membangun pengertian iman yang benar.
    Kalau pengertian mengenai iman

    sudah salah, hidup Kekristenannya pun

    juga pasti salah.
    Mereka yang memiliki konsep yang tidak tepat ini sangat berpotensi menjadi sesat, dan tidak mengalami keselamatan. Pengertian keselamatan yang dangkal, dapat mengaburkan kebenaran mengenai keselamatan yang diajarkan oleh Injil. Mereka tidak akan berjuang untuk menemukan atau membangun kodrat Ilahi.
    Sejatinya, keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia untuk dapat berkeadaan sebagai berkodrat Ilahi. Ini berarti keselamatan adalah suatu proses, dimana manusia dikembalikan kepada tujuan awal Allah menciptakan manusia. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki keadaan segambar dan serupa dengan Diri-Nya (Lat. Imago Dei). Pada zaman anugerah, rancangan Allah sejak semula atas manusia tersebut dilaksanakan dalam kehidupan umat pilihan melalui karya salib Yesus Kristus. Dengan demikian fokus keselamatan haruslah perjuangan untuk berkodrat Ilahi. Jika demikian, maka orang yang berkehendak untuk selamat haruslah memberi diri digarap oleh Tuhan melalui Roh Kudus untuk menjadi manusia sesuai rancangan Allah tersebut, yaitu berkodrat Ilahi. Inilah isi keselamatan.
    Banyak orang Kristen yang berbicara mengenai keselamatan, selalu menghubungkan pengorbanan Kristus yang menebus manusia dari dosa, dengan pemulihan kehidupan di bumi ini dalam segala aspeknya. Sekilas hal ini seakan-akan benar, tetapi sebenarnya keliru dan menyesatkan. Keselamatan yang diajarkan adalah jalan untuk mencapai kodrat Ilahi, tetapi juga kesulitan hidup menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan jasmani di bumi hari ini. Ini sebuah penyesatan, di mana orientasi keselamatan yang seharusnya berpusat pada proses mengenakan kodrat Ilhai, bergeser dan berubah pada orientasi pemenuhan kebutuhan jasmani. Hal ini bertentangan dengan Injil yang murni. Ini adalah keselamatan versi setan (satan’s salvation).
    Keselamatan versi setan berorientasi

    pada pemenuhan kebutuhan jasmani,

    tetapi keselamatan versi Tuhan berorientasi pada dibangunnya kodrat Ilahi

    dalam kehidupan manusia.
    Yesus berkata bahwa Ia datang untuk memberi hidup (Yoh. 10:10).
    0 min
  • Kesadaran Terhadap Kesucian Allah
    Paulus dengan jujur menyaksikan pengalaman hidupnya sebagai seorang yang beragama secara saleh: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa kodrat dosa di dalam dirinyalah sebagai penyebab, mengapa ia berbuat apa yang tidak dikehendakinya. Itulah sebabnya di dalam kesaksiannya di Roma 7:17, ia mengatakan: Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Kalimat “bukan aku lagi yang memperbuatnya”, berarti bukan Paulus yang bermaksud memiliki keadaan diri demikian itu, tetapi dosa yang ada di dalam dirinya. Dari pernyataan Paulus ini nampak frustasinya Paulus menghadapi keadaan dirinya sendiri tersebut.
    Kalimat “ada di dalam aku” dalam teks asli bahasa Yunani adalah oikeo (οἰκέω) (Rm. 7:15). Kata oikeo ini berhubungan dengan kata oikos yang artinya rumah atau tempat tinggal. Jadi kalimat “ada di dalam aku” maksudnya menetap atau tinggal di dalam dirinya seperti penghuni sebuah rumah. Dari tulisannya ini, Paulus hendak menunjukkan bahwa:
    Di dalam diri manusia ada penghuni

    yang membangun keberadaannya,

    atau yang menggerakkan seseorang

    berbuat segala sesuatu.
    Penghuni tersebut yang menentukan perilaku seseorang. Itulah kodrat seseorang. Kalimat berikutnya sukar dipahami ketika Paulus mengatakan: Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik (Rm. 7:16). Kata perbuat dalam teks aslinya di ayat ini bukan katergazomai (κατεργάζομαι) seperti di ayat 15 dan 17, tetapi poieo (ποιέω) yang lebih menunjuk kepada suatu tindakan yang membuat dampak.
    Dalam konteks ini, bedanya poieo dengan katergazomai adalah kalau poieo menunjuk satu perbuatan yang menghasilkan suatu dampak, sedangkan katergazomai lebih menunjuk akumulasi tindakan yang utuh yang membangun suatu bentuk. Kata katergazomai juga bisa berarti menyelesaikan atau mencapai. Kata “kehendaki” dalam teks aslinya adalah thelo (θέλω) yang juga berarti “yang diharapkan atau yang dimaksudkan”.
    Terkait dengan hal di atas ini Paulus mengatakan: Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku (Rm. 7:22-23). Paulus menyatakan bahwa ia menyukai hukum Allah. Dengan demikian Roma 7:22 sebenarnya dari teks aslinya kalimat tersebut lebih tepat diterjemahkan: Aku menyukai hukum Allah yang ada di dalam batin atau kedalaman hati manusia.
    Dengan hal tersebut, maka apa yang dikemukakan di atas benar adanya, bahwa yang dipersoalkan bukanlah hukum secara umum, tetapi kebenaran dalam batin. Hal ini menyangkut kesucian Allah, yaitu apa yang berkenan di hadapan-Nya. Jadi, kalau dalam 2 Korintus 5:9-10, Paulus menyatakan bahwa ia berusaha untuk berkenan kepada Allah. Inilah ukuran keberkenanan tersebut, yaitu kesucian Allah atau apa yang sesuai dengan selera Allah. Kalau hanya mengenai hukum Allah yang tertulis di atas kertas, Paulus menyatakan diri tidak bercacat.
    Hukum Allah di dalam batin manusia sebagai lawannya adalah “hukum lain” di dalam anggota tubuh. Dalam Roma 7:23 tertulis: … tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Apa yang dimaksud dengan “hukum lain” di dalam anggota tubuh di sini? Harus dicatat di sini, bahwa kata tubuh dalam arti daging tidak ada dalam teks ini. Kalau ada, maka ada kata sarkikos (σαρκικός), tetapi yang ada dalam Roma 7:22 adalah kata melos (μέλος). Kata melos memang juga bisa bertalian dengan sarkikos, tetapi juga bisa berarti atau menunjuk suatu gairah yang bertentangan dengan kehendak Allah yang kudus di dalam diri seseorang,
    0 min
  • Pepramenos
    Keadaan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah adalah keadaan manusia yang terjual di bawah kuasa dosa (Rm. 7:14). Kata “terjual” dalam teks aslinya adalah pepramenos (πεπραμένος), dari akar kata piprasko (πιπράσκω). Kata ini digunakan untuk proses jual beli budak, dimana seorang tuan yang membeli budak tersebut, berkuasa mengontrol kehidupan budak tersebut. Ini berarti ada subyek yang membeli dan ada manusia sebagai obyek transaksinya. Kata piprasko adalah sebuah metafora (bukan dalam arti harafiah), bahwa oleh perbuatan salah Adam, menyebabkan semua keturunannya tidak bisa memiliki kemampuan untuk bertindak tepat seperti yang Allah kehendaki. Manusia dikontrol oleh kekuatan yang membuat manusia tidak dapat melakukan apa yang tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah.
    Dengan keadaan manusia terjual di bawah kuasa dosa berarti manusia hidup dalam kodrat dosa. Dalam keadaan ini manusia pasti selalu “meleset” (hamartia) dari apa yang dikehendaki oleh Allah. Bangsa Israel tidak pernah tidak meleset dalam melakukan hukum Taurat, itulah sebabnya harus ada darah domba sebagai alat penghapus dosa. Bagi umat Perjanjian Baru, dimana kehendak Allah sebagai hukumnya, maka umat pilihan Perjanjian Baru harus berjuang melawan kemelesetan (dosa; hamartia). Kemelesetan di sini adalah kemelesetan dari pikiran dan perasaan Allah.
    Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka Adam dan semua manusia tidak terjual di bawah kuasa dosa. Ini berarti semua manusia dapat terbeli untuk bisa hidup dalam kodrat Ilahi, yaitu hidup dalam kehendak Allah sesuai dengan rancangan Allah semula. Tetapi kenyataannya, manusia pertama telah jatuh dalam dosa. Adamlah yang menyebabkan manusia terjual, sehingga semua yang dilahirkan di bumi ini ada di bawah kuasa dosa.
    Keadaan manusia yang terjual

    di bawah kuasa dosa adalah

    keadaan diri manusia yang

    -tidak dapat tidak- pasti meleset

    dari kehendak Allah yang sempurna.
    Inilah yang disebut oleh Martin Luther sebagai non posse non peccare.
    Dalam sejarah kehidupan umat pilihan, telah terbukti bahwa manusia tidak dapat melakukan kehendak Allah dengan sempurna (bagi bangsa Israel, melakukan Taurat). Hal ini terjadi karena manusia telah berkodrat dosa. Melakukan hukum Taurat saja tidak bisa terpenuhi dengan sempurna, apalagi melakukan kehendak Allah, yaitu selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Paulus menjelaskan hal ini dengan pernyataan: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Rm. 7:15).
    Pengalaman Paulus seperti ini adalah pengalamannya setelah mengenal kebenaran Injil, sebab sebelum mengenal kebenaran Injil, Paulus menyatakan bahwa dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6). Ini berarti sebelum menjadi orang percaya Paulus tidak mengalami atau menyadari ketegangan (konflik) dalam dirinya dalam melakukan hukum. Lagi pula, pemimpin-pemimpin agama seperti Paulus, pada umumnya adalah orang-orang beragama yang sombong. Mereka tidak akan merasa sebagai orang berdosa, tetapi merasa sebagai orang yang sudah benar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyindir mereka dengan pernyataan, bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tetapi orang sakit (Mat. 9:12).
    Paulus mengatakan: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Kata “perbuat” dalam teks aslinya di ayat Roma 7:15 ini adalah katergazomai (κατεργάζομαι), yang artinya to perform, accomplish, achieve, to work out, to fashion, to produce (melakukan, mencapai, menyelesaikan suatu tugas, berpenampilan, menghasilkan). Kata “perbuat” dalam ayat ini lebih menunjuk suatu penampilan atau keadaan hidup seseorang, bukan hanya satu atau dua tindakan. Tidak mungkin seseorang melakukan suatu tindakan di luar kesadaran atau sepengetahuannya.
    0 min
  • Pengertian Dosa
    Dalam Roma 2:23 dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi telah melanggar hukum Taurat. Kata melanggar dalam teks asli bahasa Yunaninya digunakan kata parabasis (παράβασις). Hukum Taurat telah ditetapkan untuk dipatuhi guna mengatur kehidupan bangsa Yahudi, tetapi orang-orang Yahudi tidak mematuhinya. Dengan demikian pelanggaran terhadap Taurat yang tertulis adalah dosa. Taurat di sini sebagai tolok ukur pengaturan Tuhan atas umat pilihan-Nya. Dalam hal ini hukum Taurat diberikan kepada bangsa Israel untuk menunjuk standar kebenaran moral mereka. Bagi umat Perjanjian Baru, kata dosa yang paling sering atau paling banyak digunakan adalah “hamartia” (ἁμαρτία). Kata ini berarti suatu “keluncasan” atau meleset. Kata hamartia ini sebenarnya dari pengertian katanya sendiri berarti luncas, tidak kena sasaran, atau meleset. Sebenarnya kata itu sendiri secara etimologi (asal usul kata) tidak mengandung unsur atau makna “kejahatan”. Ibarat suatu target memanah atau menembak, bila bidikan tidak tepat mengenai pusat pusaran target berarti meleset. Inilah hamartia itu.
    Dengan demikian, bagi orang percaya dosa bukan hanya berarti melanggar hukum atau norma secara umum, tetapi dosa adalah tindakan yang tidak sesuai (menyimpang atau meleset) dari kehendak Allah. Jadi, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah adalah dosa. Dengan demikian moral yang diperuntukkan bagi orang percaya sangat jauh berbeda dengan moral yang dikenakan pada kehidupan umat manusia pada umumnya, atau orang beragama pada umumnya. Moral atau kesucian orang percaya berdasarkan ukuran “seperti Bapa” (Mat. 5:48). Setiap orang Kristen dituntut memiliki standar kesucian seperti Bapa atau sempurna.
    Jadi bila kehidupan orang percaya

    belum seperti yang Bapa kehendaki,

    itu berarti masih meleset atau “luncas”.
    Dalam hal ini pengertian luncas atau hamartia bukanlah sebuah dosa yang “fatalistik”. Biasanya dosa dipahami sebagai hal yang fatalistik, seperti membunuh, berzina, mencuri, dan lain sebagainya. Hukuman terhadap dosa-dosa seperti itu adalah kebinasaan. Tetapi dalam Kekristenan, dosa adalah kemelesetan. Orang yang masih meleset bukan berarti masuk neraka, tetapi tidak dapat menjadi anak-anak Allah yang masuk rumah Bapa dan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Namun demikian kalau seseorang bukan saja meleset, tetapi juga berbuat kejahatan, walaupun ia seorang Kristen dan mengaku percaya maka pasti binasa, masuk api kekal. Dalam hal ini percaya berarti mengikuti jejak Tuhan Yesus. Jadi, orang percaya tidak mungkin berbuat kejahatan.
    Dalam hal tersebut di atas, orang percaya dituntut untuk hidup tidak bercacat cela (1Tes. 4:7); kudus seperti Bapa (1Ptr. 1:13-17). Untuk ini Paulus berkata: Aku berusaha untuk berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9). Pengertian dosa menurut umat Perjanjian Baru ini penting sekali bagi orang percaya, sebab inilah yang menjadi dasar hidup kita bahwa
    Allah memanggil orang percaya

    bukan saja untuk menjadi orang baik,

    tetapi untuk menjadi sempurna,

    yaitu berkodrat Ilahi sehingga dapat dikatakan sempurna seperti Bapa.
    Dengan “sempurna seperti Bapa” manusia tidak membutuhkan hukum, peraturan, dan syariat. Dengan “sempurna seperti Bapa atau berkodrat Ilahi”, manusia dapat memiliki kesanggupan mengerti kehendak Tuhan apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna dan melakukannya.
    Mengerti kehendak Tuhan bukan hanya mengerti hukum-hukum, tetapi memiliki kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan mengutus Roh Kudus kepada orang percaya. Namun, kalau orang percaya tidak merespon karya Roh Kudus, maka Roh Kudus yang diutus Tuhan tidak berdaya guna menuntun orang tersebut untuk mengerti kehendak Tuhan. Setiap orang percaya harus merespon Roh Kudus dengan kerinduan untuk mengerti kehendak Tuhan, dengan usaha terus menerus menggali kekayaan Alkitab, selalu menyediakan diri bersekutu secara pribadi dengan Tuhan dalam do...
    0 min
  • Kemuliaan Yang Hilang
    Adam diberi tanggung jawab untuk membangun kodrat Ilahi di dalam dirinya, yaitu keserupaan dengan Allah. Buah dari pohon Kehidupan dan buah dari pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat, sebenarnya hanya figuratif. Manusia harus memilih pikirannya diisi oleh kebenaran dari Allah yang digambarkan dengan pohon Kehidupan, atau filosofi yang berasal si jahat yang digambarkan dengan pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Ternyata manusia lebih mengkonsumsi filosofi dari si jahat, sehingga manusia gagal mencapai keserupaan dengan Allah. Hal ini sama dengan tidak mencapai berkeadaan sebagai berkodrat Ilahi. Kodrat Ilahi inilah yang dimaksud dengan kemuliaan Allah yang harus dicapai oleh Adam.
    Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, hal ini sama dengan bahwa manusia telah kehilangan kemuliaan Allah; sebenarnya maksudnya adalah bahwa manusia gagal untuk mencapai kodrat Ilahi. Keadaan manusia tidak mulia seperti rancangan Allah semula (Kej. 1:26). Kata “kehilangan” bisa membangun asumsi yang salah, seakan-akan manusia pernah mencapai kemuliaan Allah tersebut, padahal belum. Sebenarnya manusia telah gagal mencapai kemuliaan Allah, yang hilang adalah kesempatan untuk meraih kemuliaan Allah atau kesempatan untuk berkeadaan sebagai berkodrat Ilahi (divine nature).
    Kemuliaan pada manusia berkurang atau tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah. Dalam teks bahasa Yunani kata “kehilangan” atau berkurang ini adalah yustereo (ὑστερέω) (Rm. 3:23). Gambar Allah merupakan sesuatu yang inheren di dalam diri manusia, yaitu sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari diri manusia. Itulah sebabnya walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa, tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi berkurang kualitasnya seperti yang Allah kehendaki. Ini yang disebut kehilangan kemuliaan Allah. Dalam Kejadian 9:6, Alkitab mencatat bahwa siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya. Dalam teks aslinya (Kej. 9:6) kata “gambar” adalah tselem (צַלְמֵ֖). Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun manusia telah jatuh dalam dosa tetapi manusia tetap masih memiliki komponen yang juga ada pada Allah. Komponen-komponen itu tidak hilang yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Tetapi komponen-komponen tersebut tidak bisa berkeadaan serupa (demuth) dengan Allah. Manusia gagal berkodrat Ilahi.
    Memperjelas uraian di atas perlu diamati Kejadian 5:3 yang tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Kata rupa dan gambar dalam teks aslinya (Kej. 5:3) adalah tselem dan demuth (צַלְמֵ֖ דְמוּתֵּ֑). Set memiliki rupa dan gambar Adam bukan, bukan rupa dan gambar Allah. Hal ini hendak menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan oleh Adam segambar dengan “diri Adam”, sama kualitasnya dengan Adam yang sudah jatuh dalam dosa. Tselem dan demuth-nya sama dengan Adam, yaitu kualitas manusia yang telah jatuh dalam dosa yang tidak bisa lagi bertumbuh atau berkembang mencapai kualitas tselem demuth seperti yang dikehendaki oleh Allah. Inilah yang dimaksud Alkitab bahwa semua manusia telah “terjual di bawah kuasa dosa”. Manusia berkeadaan berkodrat dosa (sinful nature).
    Sejak manusia berdosa,

    maka kemuliaan Allah telah hilang,

    artinya manusia tidak mampu mencapai standar kesucian Allah.
    Namun demikian, manusia tidak kehilangan kemuliaan manusia. Manusia masih bisa menjadi manusia yang beradab yang jauh lebih mulia dari hewan. Pengertian ini penting, sebab dalam proses keselamatan, gambar Allah yang rusak ini dipulihkan kembali (Lat. restitutio imaginus Dei). Pikiran, perasaan, dan kehendak manusia yang rusak atau cacat diberi kemampuan untuk dipulihkan atau diproses menjadi seperti demuth Allah atau berkualitas seperti kualitas yang Allah kehendaki.
    Oleh karena kejatuhannya,
    0 min
  • Ciptaan Yang Luar Biasa
    Sebenarnya, betapa luar biasa makhluk yang disebut manusia ini, sebab hanya makhluk ini yang diciptakan oleh Penciptanya berkeadaan seperti Penciptanya sendiri. Alkitab menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kata-kata yang digunakan untuk gambar dan rupa di dalam teks asli Alkitab, bahasa Ibrani adalah tselem demuth (צַלְמֵ֖ דְמוּתֵּ֑). Dua kata ini digabung tanpa kata penghubung, tetapi kalau secara terpisah tselem sering diartikan sebagai gambar, sedangkan demuth artinya keserupaan atau kemiripan. Kata tselem hendak menunjuk gambar dalam arti bahwa komponen-komponen yang dimiliki Allah yang juga dimiliki manusia yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Dalam Perjanjian Baru kata tersebut diterjemahkan “eikona theou” (εἰκόνα θεοῦ). Kata tselem lebih menunjuk kepada bentuk gambaran atau image.
    Adapun demuth adalah keserupaan yang menunjuk kepada kualitas atas komponen-komponennya (pikiran, perasan, dan kehendak). Kata demuth lebih menunjuk kepada kemiripan (Ing. fashion, like, similitude).
    Kemiripan ini (demuth) mengalami proses perkembangan. Dalam Kejadian 1:26 Firman Tuhan tertulis: Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Rancangan semula Allah adalah manusia dapat berkeadaan segambar (tselem) dan serupa (demuth) dengan Diri-Nya. Hal ini sama artinya bahwa Allah menghendaki manusia berkeadaan seperti Diri-Nya, yaitu berkodrat Ilahi. Kodrat Ilahi inilah yang dimaksud dengan kemuliaan Allah.
    Tetapi di dalam Kejadian 1:27 tertulis: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Dalam Kejadian 1:17 Allah merancang manusia berkeadaan segambar (tselem) dan serupa (demuth) dengan Allah, tetapi dalam kenyataannya Allah hanya menciptakan gambar-Nya (tselem), tetapi tidak bersamaan dengan rupa-Nya (demuth). Hal ini menunjukkan bahwa:
    Keserupaan dengan Allah harus diperjuangkan oleh manusia itu sendiri. 
    Keserupaan dengan Allah inilah yang menentukan kualitas gambarnya, atau menentukan kodratnya.
    Jadi, proses pendewasaan menuju kesempurnaan sudah terjadi atau berlangsung sejak manusia pertama di taman Eden, yaitu sebelum manusia dinyatakan berdosa atau meleset (Yun. hamartano: ἁμαρτάνω) artinya tidak lagi mampu bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Manusia diciptakan lebih mulia dari segala sesuatu yang Allah ciptakan. Manusia adalah citra dan mahkota dari segala ciptaan Allah. Dalam diri manusia dilengkapi komponen-komponen yang tidak ada di dalam makhluk lain, komponen-komponen tersebut juga ada di dalam diri Allah. Dikatakan segambar dengan Allah, jelas mengindikasikan bahwa manusia memiliki keberadaan dan kemampuan seperti Allah. Tentu saja kualitas dan skala yang ada pada Allah lebih besar dan sempurna.
    Komponen-komponen tersebut antara lain kecerdasan (rasio) atau intelektual. Hal ini memampukan manusia berpikir, berlogika, dan menganalisis. Berikutnya manusia memiliki perasaan dan emosi, hal inilah yang membuat manusia dapat memiliki rasa sayang, benci, cemburu, cinta, marah, dan lain-lain. Akhirnya, manusia memiliki kehendak (will) yang memampukan untuk memiliki kehendak. Kehendak manusia ini adalah kehendak bebas untuk memilih (Latin: liberum arbitrium), maksudnya manusia dengan kehendaknya dapat memilih mematuhi Tuhan atau memberontak terhadap-Nya. Fragmen yang tertulis dalam Kejadian 3 mengenai kejatuhan manusia, memberi bukti yang sangat jelas bahwa:
    Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan atau memilih dan bertanggung jawab atas keputusan dan pilihannya. 
    Banyak penjelasan para teolog mengenai dua kata tersebut (tselem dan demuth). Tetapi pada umumnya kata-kata itu diartikan tunggal (bersinonim),
    0 min
  • Menanggalkan Keinginan
    Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan, tetapi mengisi jiwa kita dengan keinginan Tuhan semata-mata. Ini akan membuka kesempatan di mana kehendak Tuhanlah yang menguasai kehidupan kita. Dalam hidup ini, kita hanya mau melakukan kehendak-Nya. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Tuhan, maka Tuhan tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya, sehingga ia tidak memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan. Ingat, Tuhan tidak akan memberikan barang yang kudus kepada anjing dan tidak melemparkan mutiara kepada babi. Ucapan Tuhan Yesus ini jelas menunjukkan bahwa Ia tidak akan memberikan sesuatu yang bernilai tinggi atau berharga kepada mereka yang tidak layak menerimanya atau yang tidak berkerinduan mengerti Firman untuk dilakukan.
     
    Banyak orang merasa tidak perlu mengerti dan melakukan kehendak Tuhan. Mereka berpikir bahwa Tuhanlah yang tidak memberitahukan kehendak-Nya kepadanya. Padahal, bukan Tuhan tidak mau memberitahukan kehendak-Nya, tetapi sebenarnya mereka memang dasarnya tidak mau tahu kehendak Tuhan dan tidak bersedia melakukan kehendak-Nya. Orang seperti ini adalah orang yang dapat digolongkan sebagai manusia celaka. Mengerikan sekali, sebab jumlah manusia yang celaka ini lebih banyak dari mereka yang dilayakkan menerima kemuliaan bersama Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sendiri berkata, bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih. Fenomena ini seharusnya membuat hati kita gentar. Bisa dimengerti kalau Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Takut dan gentar di sini menunjukkan betapa tidak mudahnya untuk bisa mengalami dan memiliki keselamatan.
     
    Tuhan adalah Pribadi yang lembut. Ia tidak memaksa seseorang untuk mengerti kehendak-Nya dan melakukan kehendak-Nya tersebut. Tuhan memberi kebebasan kepada setiap individu dalam bersikap terhadap Tuhan. Jadi, kalau hari ini Tuhan terkesan diam dan tidak peduli dengan keadaan hidup kita yang sering tidak melakukan kehendak-Nya, bukan berarti Tuhan masa bodoh dan tidak peduli terhadap hal tersebut. Tuhan menghendaki kerelaan kita untuk melakukan kehendak-Nya. Hanya orang yang haus akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5:6). Kalau seseorang tidak bersedia mengerti kehendak-Nya dan tidak bersedia melakukan kehendak-Nya dengan sukacita, maka Tuhan tidak memaksa orang tersebut mengerti kehendak-Nya dan melakukannya. Kalau kita tidak sungguh-sunguh mendesak Tuhan untuk mengerti kehendak-Nya dan melakukan kehendak tersebut, maka hendaknya kita tidak berharap dapat mengerti kehendak Tuhan serta melakukannya. Kondisi dunia hari ini membuat banyak orang tidak merasa perlu sungguh-sungguh mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya.
     
    Dengan kesediaan menanggalkan segala keinginan bukan berarti kemanusiaan kita hilang. Kita tetap sadar bahwa kita tidak pernah menjadi siapa-siapa, kita tetap manusia dengan segala unsur kemanusiaan yang tidak pernah lenyap. Dalam hal ini, Tuhan akan mengizinkan kita menikmati kesenangan-kesenangan sebagai manusia dengan berkat-berkat yang Tuhan sediakan bagi kita. Baik berkat jasmani maupun berkat rohani. Di satu pihak kita melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan, sisi yang lain kita tetap menjadi manusia dengan menikmati segala kesenangan yang Tuhan berikan. Terutama, dalam melakukan kehendak Tuhan itu sendiri, kita menikmatinya sebagai kesenangan hidup. Misalnya Tuhan memerintahkan manusia untuk memenuhi bumi dengan pernikahan. Ini adalah mandat prokreasi. Dalam mandat prokreasi ini ada kenikmatan rekreasi. Kenikmatan hidup itu juga termasuk tidur nyenyak, makan enak dan segala kebahagiaan bersama dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan. Orang yang mau melakukan kehendak Tuhan akan dikenyangkan oleh Tuhan dengan sukacita dan kesenangan tanpa berbuat salah memberhalakan k...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…