Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Ketertundukan Kepada Allah
    Salah satu ciri dari seorang yang hidup baru dalam Tuhan adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan dari diri sendiri. Dulu, kalau kita mendengar khotbah yang mengatakan bahwa keinginan harus ditanggalkan, kita memrotes baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Bagaimana bisa manusia tidak boleh memiliki keinginan? Namanya juga manusia, harus mempunyai keinginan dan cita-cita. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu dan pertumbuhan kedewasaan rohani, kita bisa mengerti dan menerima bahwa semua keinginan harus disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan keinginan diri sendiri yang disalibkan atau ditanggalkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh setiap orang yang telah ditebus oleh darah-Nya.
     
    Sudah terlalu lama kita terbiasa hidup dalam berbagai hasrat dan keinginan, dan hal ini kita anggap sebagai suatu kewajaran. Tetapi kalau kita mengerti dan menerima bahwa kehidupan ini diciptakan oleh suatu Pribadi yang memiliki kehendak atau keinginan, Pribadi yang memiliki pikiran dan perasaan, maka kita harus mulai mempertimbangkan: Apakah kita boleh sebebas-bebasnya mengumbar keinginan kita tanpa mempertimbangkan apakah keinginan tersebut sesuai dengan kehendak, pikiran dan perasaan Tuhan? Harus dipahami bahwa sikap hidup dan segala gerak kehendak, pikiran, dan perasaan orang percaya sebagai anak-anak Tuhan sangat memengaruhi hati atau perasaan Tuhan. Satu aspek hal ini menjadi belenggu atau ikatan, tetapi aspek lainnya adalah kemerdekaan, artinya merdeka dari belenggu dunia. Orang yang terbelenggu Tuhan akan terlepas dari belenggu dunia, tetapi kalau orang terlepas dari belenggu Tuhan, maka ia akan pasti terbelenggu oleh dunia.
     
    Sebelum kita bertobat dan mengikut Tuhan Yesus, kita merasa memiliki diri kita sendiri. Kita seperti Petrus yang masih muda yang “mengikat pinggang sendiri dan berjalan ke mana saja kita kehendaki”, tetapi setelah kita tua atau makin dewasa rohani kita harus mengulurkan tangan dan orang lain yang akan mengikat kita dan membawa kita ke tempat yang tidak kita kehendaki (Yoh. 21:18). Inilah yang dimaksud dengan kehendak yang disalibkan. Fenomena ini sejajar dengan doa Tuhan Yesus yang berbunyi: Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu. Hal ini merupakan pelaksanaan dari Doa Bapa Kami yang berbunyi: Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Selama seseorang masih seperti Petrus muda yang masih suka-suka sendiri, atau mengatur diri sendiri sesukanya, maka ia tidak akan dapat memuliakan Allah. Kita harus berubah dari Petrus muda ke Petrus tua, agar kita dapat memuliakan nama Tuhan.
     
    Dalam kehidupan ini, kehendak Tuhanlah yang harus berdaulat secara penuh. Kita sebagai hamba-hamba-Nya harus memberi diri tunduk terhadap kedaulatan dan otoritas-Nya secara penuh. Inilah kehidupan dalam ketaatan penuh. Manusia memang dirancang untuk ini sejak manusia itu diciptakan. Karyawan yang tidak tunduk kepada perusahaan saja bisa dipecat, apalagi makhluk ciptaan di hadapan Penciptanya. Hidup dalam ketertundukan kepada Allah adalah sebuah kehormatan. Hal ini tidak boleh kita tanggapi sebagai beban atau kewajiban, tetapi sebagai kesukaan dan kebutuhan. Mengapa demikian? Sebab ketertundukan kepada Allah adalah berkat abadi.
     
    Cepat atau lambat, setiap insan akan tiba pada suatu saat di mana ia tidak akan memiliki keinginan apa pun, atau dipaksa tidak memiliki keinginan apa pun. Saat itu terjadi ketika seseorang akan tutup usia, di mana seluruh organ tubuh sudah tidak dapat dipakai lagi, atau pada suatu keadaan fisik karena kecelakaan atau sakit, sehingga tidak bisa berfungsi lagi. Di saat seperti itu seseorang tidak akan mampu memiliki keinginan apa pun, kecuali Tuhan yang dapat menjadi sahabat abadi. Di saat seperti itu kita baru menghayati bahwa kekayaan adalah mamon yang tidak jujur atau menipu. Kekayaan bisa menjadi alat Iblis yang sangat efektif dan berdaya guna membinasakan manusia.
    0 min
  • Harga Menjadi Sekutu Allah
    Matahari kita ialah bintang yang ukurannya demikian besar, sehingga dibutuhkan 1.300.000.000 planet seukuran Bumi untuk mengisinya. Tetapi itu tidak ada artinya dibanding bintang terbesar yang diketahui manusia saat ini, yaitu VY Canis Majoris di rasi Canis Major, yang berjarak 4.900 tahun cahaya dari bumi. Bintang raksasa ini berdiameter sekitar 2.000 kali Matahari, dan untuk mengisi volumenya dibutuhkan 7 kuadriliun (7.000.000.000.000.000) planet seukuran Bumi. Bila membandingkan ukuran bintang raksasa tersebut dengan Bumi, maka Bumi seperti kerikil yang sangat kecil. Faktanya memang jagad raya ini tidak terbatas. Sungguh-sungguh tidak terbatas. Suatu realitas yang tidak dapat dibayangkan.
     
    Ketika Yohanes memperoleh penglihatan dari Tuhan Yesus di Pulau Patmos, ia melihat Tuhan Yesus memegang tujuh bintang (Why. 1:16). Memang bintang yang dimaksud di dalam ayat ini belum tentu berarti fisik, tetapi sebagai Pencipta bukan tidak mungkin secara fisikpun Sang Logos sanggup melakukannya. Jadi, jika kita sudah terkagum-kagum memperhatikan ukuran bintang-bintang di alam semesta ini, betapa tidak berartinya itu semua dibandingkan Tuhan kita yang jauh lebih besar dari semua kenyataan jagad raya ini. Betapa dahsyatnya Tuhan Semesta Alam itu: kuasa-Nya, hikmat-Nya, jalan-jalan-Nya, dan pekerjaan tangan-Nya. Betapa tidak berartinya segala sesuatu yang kita anggap berharga (keluarga, harta, pangkat, kehormatan, dan lain sebagainya) di hadapan-Nya.
     
    Lebih mengagumkan lagi dan sangat menakjubkan sebab sangat luar biasa, jika ternyata Tuhan yang Mahadahsyat dan Mahabesar itu berkenan menjadikan kita sekutu-Nya. Untuk itu Ia menginginkan kita melepaskan segala sesuatu, agar kita bisa mempersembahkan hidup kita bagi Dia. Dengan menghayati kedahsyatan Tuhan dan betapa besar kasih-Nya, serta betapa tidak berartinya segala sesuatu yang kita lepaskan bagi-Nya, maka kita akan menyadari bahwa mempersembahkan segenap hidup kita juga sesungguhnya tidak cukup untuk membalas kasih-Nya. Karena kita tidak mempunyai apa-apa yang dapat diperhitungkan sebagai sesuatu yang bisa berguna bagi-Nya. Hanya oleh anugerah-Nyalah, Ia bisa melengkapi kita dengan segala sesuatu yang berguna bagi Kerajaan-Nya. Dengan kesadaran ini, maka sanjungan, puji-pujian dan kehormatan dari manusia tidak lagi kita perhitungkan sama sekali.
     
    Dalam hal ini, sikap hati kitalah yang berperan, apakah kita memiliki kesediaan untuk menjadi sekutu Tuhan? Tuhan tidak mencari keuntungan apa pun dari kita, tetapi Tuhan ingin menemukan hati yang mengasihi Dia dan rela berbuat apa pun demi kepentingan-Nya. Jika hati seseorang mengasihi Dia, maka ia pasti tampil sebagai pembela-Nya. Jangan sia-siakan kesempatan yang sangat berharga ini untuk menjadi sekutu Tuhan Semesta Alam Yang Mahatinggi.
     
    Untuk menjadi sekutu Tuhan, ada harga yang harus dibayar. Abaraham, salah satu contoh dari seorang yang berani membayar harga menjadi sekutu Tuhan. Sehingga ia disebut sebagai sahabat Tuhan. Tindakan iman Abraham adalah tindakan yang menyita seluruh kehidupannya. Hidupnya benar-benar berubah sejak ia meresponi panggilan untuk keluar dari Ur-kasdim. Hidupnya menjadi sangat berbeda dengan lingkungannya. Ia menjadi orang asing, bagi keluarganya sendiri, saudaranya, bahkan masyarakat di mana ia pernah menetap. Abraham adalah sosok yang memiliki keberanian yang sangat hebat untuk menjadi sekutu Tuhan. Inilah iman yang sejati itu.  Abraham berani memercayai Elohim Yahweh tanpa jaminan apa pun. Ia hanya percaya, titik. Percaya saja dengan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah yang benar itu. Hal ini seharusnya menjadi standar iman kita sebagai pengikut Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak pernah meragukan Allah Bapa. Ia percaya saja, sampai mati di kayu salib, bahkan ketika Ia merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Yesus tetap percaya, tidak meragukan Bapa sama sekali.
     
    0 min
  • Sebuah Kemutlakan
    Tentu kita semua kita tahu bahwa berlian adalah barang mewah yang tidak dapat disentuh oleh orang-orang yang berpenghasilan rendah. Bagi mereka, berlian adalah impian yang tidak pernah terwujud. Itulah sebabnya mereka tidak pernah berpikir mengenai berlian. Dalam stadium tertentu, untuk sementara, mereka adalah orang-orang yang merdeka dari berlian. Tetapi kalau suatu hari mereka memiliki banyak uang, belum tentu mereka tetap dalam kemerdekaan dari berlian tersebut. Ketika memiliki uang, maka mulai berpikir bagaimana membeli barang mewah, seperti berlian. Jadi bisa dimengerti kalau orang semakin kaya, maka berpotensi lebih besar untuk terbelenggu dengan banyak keinginan, yang akhirnya membawanya kepada kebinasaan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri dengan tegas mengatakan, bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga. Ini juga berlaku bagi orang miskin yang ingin kaya dengan tujuan akan merasa bahagia dengan kekayaan.
     
    Sering kita mendengar ungkapan “berlian adalah abadi”, karena berlian adalah permata yang indah, langka, dan sangat kuat. Oleh karenanya, harganya sangat mahal. Batu berlian mentah paling besar yang ditemukan di bumi ialah Cullinan diamond yang berukuran 3.106,75 karat (621,35 gram) dari Afrika Selatan. Namun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sebuah berlian di langit, yang ditemukan oleh para astronom pada tahun 2004 di rasi bintang Centaurus. Ukurannya 10 milyar-trilyun-trilyun (angka 1 diikuti 34 nol) karat. Berlian raksasa tersebut dulunya sebuah bintang, yang kemudian mati, mendingin, dan menyusut. Ini menunjukkan betapa kecilnya kita sebagai manusia dengan segala harta kita di bumi, dibandingkan dengan Tuhan yang empunya alam semesta ini. Entah ada berapa banyak lagi berlian raksasa di langit seperti bintang tersebut.
     
    Mari kita renungkan, Sang Pencipta yang Mahakaya -yaitu Sang Logos atau Anak Allah yang kekal- rela untuk mengosongkan Diri menjadi manusia di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Ia tidak lahir menjadi Raja di sebuah istana, tetapi Ia lahir dalam sebuah keluarga yang sederhana, yang hanya sanggup mengurbankan dua ekor burung untuk kurban setelah masa pentahiran ibu-Nya, yaitu sesudah melahirkan Yesus. Ia tinggal di kota kecil Nazaret dan bekerja sebagai tukang kayu membantu ayah-Nya. Ia tidak menuntut perlakuan istimewa dari siapa pun. Ia sudah tertolak oleh manusia sejak dalam kandungan, sampai ketika di ujung kematian di kayu salib. Sungguh apa yang dilakukan-Nya adalah satu hal yang sangat luar biasa. Keagungan dan kebesaran Anak Allah ini, Tuhan Yesus Kristus, terdapat pada kesediaan-Nya mengosongkan Diri dan melepaskan semua hak-Nya. Ia melepaskan kemuliaan-Nya dan menggantikannya dengan mahkota duri.
     
    Yesus rela merendahkan Diri-Nya, meninggalkan surga, rela kehilangan hak-Nya sebagai Raja alam semesta, dan menjadi manusia yang rendah, seperti kita yang menghuni planet kecil ini. Bahkan Ia rela taat sampai mati di kayu salib demi kita, yang sesungguhnya tidak layak dibela-Nya. Semua kita mempunyai sifat manusiawi yang tidak bisa rendah hati. Kita ingin diistimewakan dan dihormati orang lain. Kita ingin orang lain melihat harta kita, yang sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan berlian milik Tuhan Yesus di langit.
    Kita harus selalu ingat, bahwa Tuhan Yesus menghendaki kita menaruh pikiran dan perasaan seperti yang ada pada Diri-Nya, yang salah satunya ialah kerendahan hati. Kerendahan hati inilah yang membuat seseorang dapat mengosongkan diri seperti Dia mengosongkan diri. Ini mencakup kerelaan untuk kehilangan hak, rela untuk tidak dihargai, rela kehilangan kenikmatan duniawi di dunia ini. Hal ini bukan sesuatu yang mudah, tetapi kita harus melakukannya, sebab tidak ada kemuliaan tanpa tindakan mengosongkan diri seperti yang Yesus lakukan. Meneladani apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah sebuah kemutlakan yang tidak bisa dihindari. Menghindari hal tersebut berarti menolak mengikut Dia.
     
    0 min
  • Tanda-tanda Zaman
    Beberapa tahun lampau pernah ada film mengenai akhir zaman berjudul “2012” -yang disutradarai oleh Roland Emmerich dan didistribusikan oleh Columbia Pictures- yang ditayangkan di bioskop-bioskop. Ternyata film semacam itu menarik perhatian banyak orang, sehingga film ini terbilang sangat sukses. Dengan modal sekitar US$ 200 juta, film ini meraup US$ 235 juta hanya dalam satu akhir minggu ketika film tersebut diputar pertama kali. Film tersebut bisa mencengangkan penonton, ketika menyaksikan fragmen bagaimana dunia mengalami kehancuran. Tetapi perlu dicatat di sini, bahwa sebenarnya peristiwa yang digambarkan film tersebut belum ada artinya dibanding dengan kenyataan yang akan terjadi di bumi ini. Kenyataan yang akan terjadi nanti ketika bumi ini dihancurkan sungguh amat dahsyat. Banyak hal yang harus kita pikirkan dan sungguh-sungguh kita renungkan ketika menyaksikan kenyataan yang akan terjadinya akhir zaman ini. Tentu dengan pikiran yang positif dan diterangi kebenaran Injil oleh pimpinan Roh Kudus, supaya kita dapat membangun sikap berjaga-jaga yang patut.
     
    Di tengah-tengah dunia yang semakin sukar ini banyak manusia tidak memikirkan sesamanya, bahkan pemerintah-pemerintah di planet ini tidak sungguh-sungguh berusaha menyelamatkan rakyatnya yang jumlahnya yang sangat besar. Mengapa akhirnya mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain sibuk untuk mencari selamat sendiri?  Tidak sedikit negara yang para tokoh serta pemimpinnya sibuk berebut kedudukan. Sehingga negara itu tidak pernah tenang. Pihak yang kalah selalu membuat gaduh sehingga mengganggu jalannya pemerintahan yang sedang berlangsung. Hal itu dimaksudkan agar dalam pemilihan pemimpin di kemudian hari mereka dapat menggantikannya. Mereka hanya mengejar kedudukan, harta dan kekuasaan, tetapi tidak mencintai sesama dengan benar. Mereka bagai predator yang lebih buas dan kejam dari binatang.
     
    Sekarang ini ada pemimpin-pemimpin negara, yang tidak dapat menahan diri dan mulutnya dari perkataan yang tidak perlu, sehingga bisa mengakibatkan perang besar antar dua negara, yang juga bisa menyeret banyak negara bahkan bisa terjadinya Perang Dunia ke-3. Manusia sudah menjadi semakin jahat. Di negara kita ini juga tidak pernah rasanya ada ketenangan. Konflik antar para tokoh tidak pernah surut. Perang mulut dan sindiran di media selalu menjadi bahan percakapan masyarakat. Sementara pemerintah sedang berusaha membangun, tetapi ada saja pihak-pihak yang selalu membuat gaduh. Mereka yang membuat gaduh pada dasarnya jahat, karena tidak memikirkan nasib banyak orang di negeri ini. Tidak dapat disangkal banyak orang semakin jahat, dan benar-benar sangat jahat. Agama dijadikan komoditas politik sehingga memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa yang besar dan memiliki wilayah yang luas. Sementara itu mereka mengaku cinta tanah air. Betapa munafik, keji dan jahatnya orang-orang itu. Semua ini merupakan bagian dari tanda-tanda zaman.
     
    Kalau melihat keadaan dunia hari ini, seperti pemanasan global dan polusi yang makin parah, populasi manusia yang tumbuh tidak terbendung, ditambah dengan abainya para politisi terhadap kesejahteraan rakyat, maka keadaan dunia ini seharusnya menjadi bahan renungan kita: Apakah kita akan meneruskan cara hidup seperti manusia pada umumnya, yaitu mengejar pemuasan kebutuhan duniawi belaka, atau memilih untuk mempersiapkan diri menyongsong langit baru dan bumi yang baru? Selanjutnya juga berusaha untuk menuruti Firman Tuhan guna menjaga hati kita agar tidak sarat dengan pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi, seperti yang diingatkan dalam Firman Tuhan? (Luk. 21:34) Harus diingat bahwa bagi orang yang tidak berjaga-jaga, maka hari kedatangan Tuhan akan menjadi sesuatu yang tiba-tiba menjerat atau menjebak.
     
    Kalau seseorang tidak berjaga-jaga, maka ia akan terus berada di dalam belenggu percintaan dunia, sehingga sekalipun ada peringatan-peringatan melalui film,
    0 min
  • Hidup Dalam Kasih Karunia
    Apa yang membuat kita dapat dikatakan hidup dalam kasih karunia atau anugerah? Tentu bukan karena kita memperoleh berkat lahiriah lebih berlimpah dibanding dengan orang di luar Kristen. Malah kenyataannya, banyak orang non-Kristen yang lebih berlimpah harta kekayaannya, lebih terhormat dalam kedudukan, pangkat, kekuasaan dan berbagai bidang lainnya. Kita disebut hidup dalam kasih karunia bukan pula karena kita pasti memiliki perlindungan secara lahiriah lebih dari mereka yang ada di luar orang Kristen. Kenyataannya, kehidupan kita dengan mereka yang ada di luar orang Kristen terkesan sama. Memang demikian kenyataannya, sebab tidak sedikit orang Kristen yang tidak layak menerima perlindungan Tuhan. Mereka tidak layak menerima perlindungan Tuhan sebab tidak hidup di dalam rencana serta kehendak Allah. Hukum tabur tuai berlaku bagi semua orang. Kalau orang tidak bekerja keras, tidak jujur, maka hidupnya susah. Kalau seseorang tidak menjaga pola hidup dan pola makan yang baik, maka pasti ia sakit. Orang yang ceroboh dalam berkendara, cenderung mengalami kecelakaan dan lain sebagainya.
     
    Kita dapat dikatakan hidup dalam kasih karunia sebab kita dipilih untuk menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti menjadi makhluk manusia yang dapat melakukan kehendak Bapa atau memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Allah, secara ideal sesuai dengan standar yang dikehendaki oleh Allah. Untuk ini Allah memberi kuasa kepada orang percaya supaya menjadi anak-anak Allah, artinya disanggupkan untuk dapat melakukan kehendak Allah atau berkenan kepada Tuhan. Kuasa yang disediakan oleh Tuhan adalah Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah telah tersedia secara limpah tidak terbatas. Selain itu, Tuhan memberi Diri untuk dikenal dan dijumpai untuk berinteraksi sebagai Guru yang membimbing kita kepada kesempurnaan melalui Roh Kudus. Semua itu sangat berpotensi untuk dapat membuat kita berkenan kepada Allah dan melakukan kehendak Bapa.
     
    Dalam hal ini kita memperoleh gambaran yang jelas betapa mengerikan dampak Teologi Kemakmuran itu. Pada umumnya mereka hanya fokus kepada pemenuhan kebutuhan jasmani serta bagaimana menjalani hidup ini tanpa masalah yang dapat mengganggu apa yang mereka rasakan sebagai ketenangan. Berbicara mengenai kasih karunia, yang dipahami mereka bahwa mereka sudah pasti masuk surga, sementara hidup di dunia ini diberkati dengan segala berkat jasmani dan memperoleh perlindungan Tuhan secara khusus. Kasih karunia menjadi murahan. Para penganut ajaran hypergrace melandaskan hidupnya di atas pemahaman ini. Terdapat gereja-gereja yang menyatakan anti hypergrace, padahal dalam praktiknya mereka mengenakan ajaran tersebut. Hal ini mengakibatkan mereka tidak mengerti maksud kasih karunia keselamatan diberikan.
     
    Mereka tidak berusaha untuk berkenan kepada Allah dan tidak berjuang untuk dapat melakukan kehendak Bapa. Biasanya mereka berpikir bahwa mereka sudah memiliki keadaan yang berkenan di hadapan Allah karena Tuhan Yesus yang menggantikan posisi mereka. Padahal Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. Alkitab mengatakan bahwa Yesus memikul dosa kita, artinya Ia menanggung hukuman akibat dari dosa yang kita (dan semua manusia) lakukan. Semua hutang dosa kita dibayar, tetapi bukan berarti kita boleh berhutang lagi. Alkitab menunjukkan bahwa kita berhutang bukan untuk hidup dalam daging atau berbuat dosa terus menerus, tetapi hidup nenurut roh, artinya hidup berkenan kepada Allah atau melakukan kehendak Bapa (Rm.8:12). Adapun setelah menerima pengampunan dosa, orang percaya harus berusaha berkenan kepada Allah.
     
    Ternyata untuk dapat melakukan kehendak Bapa atau hidup berkenan kepada Allah, seseorang harus benar-benar melepaskan segala sesuatu. Seperti Tuhan Yesus mengosongkan Diri, demikian pula kita harus melakukan hal yang sama. Mengosongkan diri di sini artinya bersedia untuk melepaskan semua yang kita anggap sebagai hak.
    0 min
  • Pejuang Tuhan
    Pernahkah kita benar-benar berperkara dengan Bapa dan Tuhan Yesus mengenai satu hal penting ini: Apa kita sungguh-sunguh telah termasuk orang Kristen yang berdiri di pihak Tuhan? Apakah kita sungguh-sungguh telah mengabdi kepada Bapa dan Tuhan Yesus secara patut? Kita harus memeriksa diri dengan jujur apakah kita telah benar-benar melayani Tuhan Yesus sebagai Tuhan dengan segenap hidup tanpa batas? Oleh korban Yesus, kita telah menjadi anak-anak Bapa. Menjadi anak-anak Bapa artinya bukan berarti dapat menerima fasilitas berkat jasmani-Nya, tetapi dipanggil untuk menderita bersama-sama dengan Yesus. Paulus adalah sosok hamba yang benar-benar mengabdi kepada Bapa. Inilah yang Bapa kehendaki, yaitu agar kita memiliki pergumulan yang sama dengan Paulus. Kehidupan seperti itulah yang dapat dikatakan sebagai “berpadanan dengan Injil” (Flp. 1:27). Injil sejati yang merasuki seseorang akan menjadikan orang itu “pejuang bagi Kristus”.
     
    Orang yang jiwanya belum dirasuki jiwa Injil yang benar, pasti belum bisa berlaku sebagai “pejuang Kristus”. Seperti yang telah Tuhan Yesus katakan bahwa Injil itu seperti ragi; dan ragi itu pasti mengubah. Perubahan tersebut sampai tingkat radikal, seperti yang Tuhan Yesus lakukan bagi Bapa-Nya. Inilah yang Tuhan Yesus kehendaki, kebenaran Injil menjadikan kita pejuang-pejuang Injil, pejuang kebenaran, pejuang bagi Tuhan untuk mengawal Kerajaan Bapa, sehingga kita dapat menjadi seperti anak panah bagi Tuhan. Bila tidak demikian, Injil yang kita terima bukanlah Injil yang benar. Tidak ada orang yang menerima Injil yang benar tidak menjadi pejuang bagi Kristus
     
    Kita harus memahami bahwa pemberontakan Iblis di hadapan Bapa, dengan menyeret pula malaikat-malaikat, berlanjut di muka bumi ini. Pemberontakannya beralih dari surga ke bumi ini. Iblis mencoba menyeret sebanyak mungkin manusia untuk mengikuti jejaknya, melawan Allah. Ini merupakan gerakan Iblis yang terus berlangsung sampai hari ini. Kita harus menyadari hal ini dengan seksama dan berjaga-jaga dengan serius, agar tidak terseret menjadi pengikutnya atau berdiri di pihak dia.
     
    Ketika Kerajaan Allah datang, Yesus menantang kita, kita ada di pihak siapa? Pihak Tuhan atau di pihak musuh. Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Tuhan merupakan isyarat dimulainya sebuah peperangan besar. Peperangan untuk membinasakan pekerjaan Iblis dan mengembalikan manusia kepada Allah sebagai pemilik-Nya. Sebagaimana Iblis mendayagunakan segala kekuatan melalui pengikutnya untuk melawan Bapa, demikian pula Tuhan Yesus mendayagunakan kita, para pengikut-Nya, untuk menghancurkan pekerjaan Iblis. Di surga malaikat-malaikat yang berperang, tetapi di bumi “kita”, orang percaya, yang mengawal Kerajaan Bapa. Dalam hal ini yang penting harus dipastikan sekarang ini kita berada di pihak siapa? Apakah kita turut serta mengawal Kerajaan Bapa- atau sibuk dengan urusan kita sendiri?
     
    Kita harus memilih, mengumpulkan bersama dengan Tuhan atau sebaliknya menceraiberaikan.  Tuhan Yesus berfirman: Barangsiapa tidak mengumpulkan bersama Dia, berarti menceraiberaikan, artinya merusak atau mengganggu pekerjaan Tuhan. Sebagai anak-anak tebusan, merupakan keharusan yang mutlak, kita hidup hanya bagi Tuhan. Ini berarti hidup kita hanya untuk kepentingan Kerajaan Bapa. Orang Kristen yang sudah dewasa, dapat mengerti bahwa sebenarnya orang percaya tidak berhak menuntut Tuhan, tetapi Tuhanlah yang berhak menuntut diri orang percaya untuk melakukan kehendak Bapa.
     
    Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, bukan lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Yesus yang sudah mati bagi mereka. Sekarang Tuhan Yesus menunjukkan otoritas-Nya sebagai Raja, Tuhan berhak menuntut ketegasan kita, kepada siapa kita berpihak?  Kita tidak boleh plin-plan. Keadaan plin-plan sangat berbahaya. Banyak orang Kristen yang tidak hidup serius bagi Tuhan.
    0 min
  • Diparkir Di Dunia
    Ketika seseorang mengikut Tuhan Yesus, maka sebenarnya ia tidak bisa lagi hidup wajar. Mengapa? Sebab fokus dan orientasi hidupnya bukan menjadi sedikit berubah, tetapi harus berubah total. Dalam Lukas 5:36-39, Tuhan Yesus memaparkan sebuah perumpamaan mengenai mengoyakkan secarik kain dari baju baru untuk menambal baju tua yang robek. Hal itu merupakan tindakan yang bodoh, sebab baju yang lama malah bisa terkoyak. Mestinya baju yang tua dibuang saja dan digantikan baju yang baru. Tetapi ini bukan sesuatu yang mudah, sebab baju yang lama sudah terbiasa nyaman dipakai. Dalam perumpamaan ini, baju baru bisa menunjuk Injil. Orang percaya tidak boleh hanya mengambil beberapa hal saja dalam Injil yang dipandang tidak menganggu “kenyamanan hidupnya”, sementara itu masih tetap mengenakan cara berpikir dan gaya hidupnya yang lama. Hal ini terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen. Penyebabnya bisa dua kemungkinan: Pertama, tidak mengerti Injil yang murni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kedua, walaupun mengerti Injil yang benar, tetapi memang tidak bersedia mengenakannya.
     
    Tuhan juga mengatakan mengenai anggur baru yang harus disimpan di kirbat (kantung kulit) yang baru. Kalau disimpan di kantung kulit lama, akan mengoyak kantung kulit lama itu. Kebenaran Injil yang diajarkan Tuhan Yesus sangat kuat luar biasa untuk mengubah. Kalau seseorang tidak memiliki hati yang siap menerimanya, maka sia-sialah kebenaran itu disampaikan, tetap akan terbuang sia-sia. Inilah yang terjadi dalam kehidupan di antara kita, walaupun mendengar Firman yang benar tetapi tidak berubah, sebab memang hatinya sudah melekat dengan dunia ini. Ia tidak sanggup memahami Firman tersebut secara utuh atau lengkap, apalagi mengenakannya dalam hidup ini.
     
    Seiring dengan hal tersebut, Tuhan Yesus juga menyinggung mengenai orang yang terbiasa minum anggur yang tua, dan merasa tidak enak kalau minum anggur yang baru.  Semua ini menggambarkan betapa tidak mudahnya mengubah cara berpikir dan gaya hidup yang sudah dijalani dalam waktu lama. Dari hal ini kita memperoleh pelajaran rohani bahwa kuasa kegelapan berusaha memarkir selama mungkin orang Kristen dalam cara berpikir dan gaya hidup anak dunia, sampai tidak mau atau bahkan sampai tidak bisa berubah lagi.
     
    Mengapa mengikut Tuhan Yesus tidak bisa lagi hidup wajar? Sebab mengikut Tuhan Yesus berarti hidup dengan cara berpikir dan gaya hidup-Nya. Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Ini berarti seluruh cara berpikir dan gaya hidup orang percaya harus benar-benar berubah secara radikal dan drastis. Untuk menunjukkan ekstremnya hidup dalam Tuhan Yesus ini, Alkitab menggunakan istilah “dilahirkan dari atas atau dilahirkan baru”. Hal ini menunjukkan bahwa mengikut Tuhan Yesus harus benar-benar berkeadaan baru.
     
    Menyedihkan, banyak orang menganggap kalau seseorang sudah ke gereja menjadi manusia yang bermoral baik, apalagi menjadi aktivis gereja, maka ia sudah dianggap telah lahir baru. Pada umumnya orang-orang Kristen yang sudah pergi ke gereja merasa bahwa dirinya sudah lahir baru. Hal ini sebenarnya sebuah penyesatan yang memarkir jemaat masih di dunia, tetapi meyakini diri sudah berparkir di surga. Mereka merasa sudah menjadi umat Allah dan berhak serta layak masuk rumah Bapa, padahal pada umumnya mereka belum melakukan kehendak Bapa. Betapa berbahaya keadaan banyak orang Kristen tersebut. Hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang tidak tertolak oleh Tuhan.
     
    Seharusnya bagi seorang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka hidupnya sudah berakhir. Ia menghentikan perahu hidupnya di satu pelabuhan, yaitu Tuhan Yesus. Inilah yang dimaksud dengan kelegaan atau perhentian yang Tuhan Yesus ajarkan (Mat. 11:28-29). Kelegaan dalam teks aslinya adalah anapauso yang sama dengan perhentian.  Dalam hal ini kita memang harus belajar dari Tuhan Yesus untuk dapat memperoleh ...
    0 min
  • Mengikuti Perlombaan
    Betapa mahal harga jiwa untuk memperoleh keselamatan yang dibayarkan Putra Tunggal Bapa bagi kita. Harganya adalah Diri Tuhan Yesus sendiri. Harga yang tidak pernah dapat kita mengerti. Ketika Yesus membayar hutang kita, itu berarti Diatelah memikul semua hukuman yang seharusnya kita tanggung. Kita dibebaskan dari semua hukuman akibat dosa-dosa kita. Tuhan Yesus membawa kita kepada Bapa untuk menjadi anak-anak-Nya. Bapa tidak mungkin menolak kita, sebab Bapa mengasihi Putra Tunggal-Nya, dan tidak akan berkhianat kepada-Nya. Bapa menyambut kita sebagai anak-Nya dan sungguh-sungguh mengasihi kita. Tetapi keadaan kita masih belum bisa bersekutu secara harmoni dengan Bapa. Kita masih berkeadaan tidak layak menjadi anak Bapa. Secara hukum Bapa pasti menerima kita sebagai anak-Nya, tetapi dalam kenyataan berkenaan dengan keadaan kita yang telah rusak, kita masih belum layak bagi-Nya. Untuk itu Bapa harus mendidik kita, supaya kita terus menerus mengalami perubahan, agar kita menjadi umat dan anak yang layak bagi-Nya.
     
    Sekarang, yang menjadi tanggung jawab kita adalah menerima didikan-Nya, agar kita menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Inilah yang Tuhan Yesus katakan kepada kita, sebelum kembali ke tempat dari mana Ia berasal, bahwa kita harus menjadi murid-Nya. Menjadi murid-Nya artinya belajar hidup seperti cara hidup yang telah dijalani-Nya. Hal ini harus menjadi satu-satunya isi dan tujuan hidup kita. Tidak boleh ada yang lebih menarik dalam hidup kita selain hal ini. Kita tentu tahu, Tuhan Yesus berkata kepada kita bahwa kita harus melepaskan segala sesuatu barulah dapat menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Maksudnya, kalau kita bersedia meninggalkan keterikatan dengan segala hal di dunia ini, selain terikat dengan Allah Bapa dan Anak, barulah kita dapat diubah.
     
    Untuk itu Bapa menaruh Roh-Nya di dalam kita sebagai materai, maksudnya sebagai tanda bahwa kita milik Bapa dan harus mengikuti perlombaan yang wajib semua orang percaya ikuti. Perlombaan itu adalah berjuang untuk menjadi serupa dengan Yesus. Dengan hal ini, kita berusaha untuk memiliki iman yang sempurna, artinya kita bisa menghormati Bapa sebagai Bapa kita, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Hal ini sama dengan berkeadaan sebagaimana mestinya seorang anak bagi Bapa di surga.  Ini adalah perlombaan satu-satunya yang paling terhormat dan agung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Perlombaan ini telah diikuti oleh Adam manusia pertama, bagaimana seharusnya ia menjadi manusia yang menghormati Elohim Yahweh dengan menuruti segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.  Ternyata Adam gagal menjadi anak bagi Bapa, dan hal ini menyedihkan hati-Nya. Kegagalan Adam adalah kegagalan semua manusia keturunannya. Hanya satu cara untuk menyelamatkan manusia, Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya. Putra Tunggal-Nya menjadi manusia dan berhasil berkeadaan sebagai manusia yang layak sebagai Anak Bapa. Hal itu menyenangkan hati Bapa. Itulah sebabnya Bapa menyatakan bahwa Bapa berkenan kepada Yesus.
     
    Kita harus mengerti dan bersedia mengikuti perlombaan memiliki iman yang sempurna seperti Yesus, yaitu ketaatan dan penghormatan-Nya kepada Bapa. Perjuangan dalam perlombaan itu telah dilakukan oleh Yesus. Perlombaan itu dimaksudkan agar kita dapat dikembalikan menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa oranag percaya harus mengikut Dia. Mengikut Dia tidaklah cukup menjadi orang Kristen seperti yang dipahami dan dilakukan banyak orang Kristen saat ini. Mengikut Dia berarti menjadi manusia yang memiliki pola hidup sama seperti kehidupan yang telah dijalani oleh Yesus. Kalau kita hanya menjadi orang Kristen, berarti belum mengikut Dia dengan benar. Kita harus sungguh-sungguh memperhatikan hal ini, agar kita tidak sampai ditolak ketika mau masuk ke dalam Kerajaan Surga, sebab tidak melakukan kehendak Bapa
     
    Hendaknya kita tidak berpikir bahwa sudah pergi ke gereja dan mengaku Kristen berarti...
    0 min
  • Melayani Perasaan Tuhan
    Menjadi umat pilihan merupakan hal yang sangat luar biasa, sebab kita diberi kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah. Untuk itu seorang yang bersedia menjadi anak Allah harus berani hidup dalam ketidakwajaran. Selama ini banyak orang Kristen masih hidup dalam kewajaran, sehingga mereka tidak akan pernah menjadi anak Allah.  Dikatakan hidup dalam kewajaran jika hidup seseorang terfokus pada kehidupan hari ini. Semua kegiatan dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, membesarkan anak untuk menjadi orang yang mandiri, memiliki keturunan untuk meneruskan kelangsungan generasi keluarga. Sementara menjalani hidup, banyak kesenangan yang dapat dinikmati, dengan berpikir bahwa memang hidup untuk menikmati segala kesenangan tersebut. Kesenangan itu dapat diperoleh dari makan dan minum, menikmati seks, mengenakan pakaian dan perhiasan, menikmati kendaraan, wisata, menikmati kesenangan dari hobi-hobinya dan lain sebagainya yang berorientasi pada kehidupan di bumi seperti manusia lain.
     
    Pada umumnya, orang berusaha untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain dan terus menggeliat untuk mencapai keadaan yang melampaui mereka dan keadaan dirinya sekarang. Keadaan ini membuat manusia terus haus dan lapar akan perkara-perkara dunia, bukan haus dan lapar akan kebenaran. Perkara-perkara dunia dianggap penting, mulia, dan berharga. Jika belum mencapai apa yang dianggap penting, mulia dan berharga tersebut, mereka belum merasa lengkap atau utuh. Dengan demikian perjalanan hidup manusia hanya diarahkan untuk perkara-perkara yang di bumi. Supaya lebih lengkap, maka seseorang beragama atau ber-Tuhan. Namun pada dasarnya bagi mereka, ber-Tuhan juga untuk menyelamatkan kehidupan di bumi ini dan berpengharapan nanti kalau mati masuk surga. Bagi orang-orang baik di dalam gereja, mereka memiliki kegiatan pelayanan gerejani, seperti menjadi guru Sekolah Minggu, aktivis, bahkan ada yang menjadi pendeta. Kegiatan gereja akan membuat jiwa terasa lebih tenang, sebab merasa sudah melayani Tuhan. Padahal melayani Tuhan adalah melayani perasaan-Nya, artinya hidup tidak bercacat dan tidak bercela.
     
    Kita adalah umat pilihan yang memiliki kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah. Tetapi untuk menjadi anak-anak Allah, kita harus mengikuti perlombaan yang diwajibkan, yaitu memiliki iman yang sempurna seperti yang telah dicapai oleh Yesus. Iman yang sempurna adalah kehidupan yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Jika kita memperhatikan dengan teliti Ibrani 12:1-10, jelas sekali bahwa seseorang tidak akan pernah menjadi anak yang sah (Yun. huios), sehingga hidup dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah, tanpa mengikuti perlombaan yang diwajibkan tersebut dan hidup dalam hajaran Bapa. Bapa menghajar dan mendidik kita melalui Roh Kudus.
     
    Adalah sangat keliru kalau memahami hidup Kekristenan sebagai jalan yang mudah untuk masuk surga. Kekristenan adalah jalan yang sukar dan mustahil untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, yaitu menjadi anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Tetapi yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan. Oleh sebab itu kalau kita mau menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, kita harus memfokuskan diri pada perlombaan yang diwajibkan dengan menanggalkan segala beban dan dosa. Selama seseorang masih terikat dengan beban dosa, maka proses mengikuti perlombaan tidak dapat berlangsung dengan baik.
     
    Ketika kita masuk ke dalam proses ini, maka segala sesuatu yang selama ini menurut pandangan kita indah dan berharga, akan menjadi tidak berarti sama sekali. Segala sesuatu harus kita jadikan sarana demi tercapainya tujuan hidup kita ini, yaitu menjadi anak-anak Allah yang sah, yang hidup dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Dengan demikian apa yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan Tuhan.  Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang sangat indah. Hati kita akan melekat dengan Tuhan.
    0 min
  • Melepaskan Semua Hak
    Kalau kita jujur, banyak di antara kita sudah terlalu lama terbiasa hidup dalam berbagai hasrat dan keinginan-keinginan sendiri. Kita merasa memiliki hak untuk hidup sesuai dengan selera sendiri. Hidup sesuai dengan selera sendiri artinya seseorang merasa bebas berbicara apa pun, membeli apa pun, pergi kemana pun, mempunyai apa pun, memilih teman dan jodoh siapa pun dan lain sebagainya. Hal ini sering dianggap sebagai suatu kewajaran. Biasanya orang merasa berhak memiliki hidupnya sendiri sepenuhnya. Padahal seharusnya sebagai anak tebusan, semua hak kita telah diambil alih oleh Tuhan (1Kor. 6:19-20). Itu berarti kita tidak boleh lagi bebas melakukan apa pun. Ini adalah konsekuensi sebagai umat tebusan. Orang yang memberi diri ditebus adalah orang yang merelakan semua haknya diambil. Kalau kita memberi diri ditebus oleh Tuhan Yesus, maka kita harus rela dimiliki Tuhan sepenuhnya. Itulah sebabnya Paulus mengatakan dalam tulisannya bahwa kita bukan milik kita sendiri, tetapi Tuhan yang memiliki hidup kita sepenuhnya.
     
    Kita yang telah ditebus oleh darah Yesus harus menyadari dan menerima bahwa kita tidak berhak lagi memiliki kehendak dari diri sendiri, tetapi melakukan kehendak Tuhan.  Oleh sebab itu, orang percaya yang dewasa, yang mengerti hal ini tidak akan mudah mengatakan “aku berhak memiliki keinginan”, sebab hidupnya hanya untuk melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, bukan cita-citanya sendiri. Memang logikanya dan fairnya kalau kita telah dimiliki Tuhan, maka kita tidak berhak memancangkan cita-cita dan kehendak kita sendiri. Inilah kehidupan yang diatur atau dikendalikan oleh Tuhan, kehendak Tuhanlah yang harus berkuasa secara penuh. Kita sebagai anak tebusan harus memberi diri tunduk terhadap kedaulatan Allah secara penuh. Inilah kehidupan dalam ketaatan penuh. Manusia memang dirancang untuk ini sejak manusia itu diciptakan
     
    Sebelum kita ada dalam situasi di mana segala keinginan harus dilepaskan, yaitu ketika ada di ujung maut, kita harus sudah belajar dengan rela dan sukacita melepaskan segala keinginan serta mengenakan prinsip: makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaaan-Nya. Inilah gaya hidup yang Tuhan Yesus ajarkan. Dan setiap orang percaya wajib hidup sama seperti Dia hidup. Ketika kita menjadi orang percaya, gaya hidup inilah yang Tuhan kehendaki kita kenakan dalam kehidupan ini. Tuhan Yesus sebagai teladan atau yang memulai dan kita meneladani atau mengikuti-Nya. Dalam hal ini yang diikuti adalah kesediaan hidup dalam ketertundukan terhadap otoritas Bapa.
     
    Ciri kehidupan orang percaya yang benar adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia. Kalaupun ada keinginan memiliki sesuatu, maka motif dasarnya adalah karena hendak menggunakannya bagi kepentingan Tuhan. Ini berbeda dengan orang-orang pada umumnya, mereka mengingini sesuatu atau mau mencapai sesuatu, pada dasarnya hanya untuk menambah nilai diri lebih dari orang lain, atau kebanggaan bagi diri sendiri. Kebanggaan-kebanggaan inilah yang menjerat manusia menjadi gila hormat, sehingga menjadi anak Iblis. Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak Allah, tetapi kelakuannya tidak menunjukkan dirinya anak Allah. Kalau keadaan ini tidak disadari maka, akhirnya ia tidak pernah mengenal dirinya dengan benar sampai masuk api kekal. Untuk ini gereja harus berbicara lantang mengenai hal tersebut.
     
    Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan, tetapi mengisi jiwa kita dengan keinginan Tuhan semata-mata. Ini akan membuka kesempatan di mana kehendak Tuhanlah yang menguasai kehidupan kita. Dalam hidup ini, mestinya kita hanya mau melakukan kehendak-Nya. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Tuhan, Ia tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…