Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Allah Tidak Mengambil Kebebasan Manusia
    Satu hal yang harus kita sadari bahwa tidak ada yang lebih berkuasa dalam hidup kita lebih dari diri kita sendiri. Setan dan Tuhan pun tidak, sebab Tuhan telah menyerahkan kedaulatan kepada manusia untuk menentukan takdirnya sendiri. Sebagai buktinya, kita dapat melihat kisah Adam dan Hawa, kisah Kain dan Habel dan banyak lagi di dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia menentukan takdirnya sendiri. Semua itu pada dasarnya menunjukkan kepada kita fakta adanya hukum tabur tuai. Hukum tabur tuai adalah bahwa manusia menentukan nasib atau takdir serta keadaan dirinya sendiri tanpa campur tangan pihak lain. Allah memberikan kemerdekaan kepada manusia untuk bertindak dan menentukan keadaan dirinya berdasarkan hukum dan keadilan Tuhan. Jadi bagaimanapun, manusia tetap terikat dengan hukum dan keadilan Allah. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari realitas ini.
     
    Manusia diperhadapkan kepada hukum dan keadilan Tuhan, yaitu berkat atas ketaatan atau kutuk atas pemberontakan. Oleh sebab itu, kehidupan ini harus sungguh-sungguh dijalani dan disikapi dengan sikap hati-hati, tidak ceroboh. Allah tidak pernah mengambil alih kebebasan manusia, sebab Allahlah yang menciptakan kebebasan itu dan Allah menghendaki agar manusia menggunakannya semaksimal mungkin. Manusia diperhadapkan kepada pilihan-pilihan dalam jalan hidupnya. Apakah ia hidup dalam ketaatan kepada Tuhan yang mendatangkan berkat atau pemberontakan yang mendatangkan kutuk. Dalam hal ini kita dapat menyimpulkan bahwa nasib manusia di tangan manusia itu sendiri. Kalimat bahwa nasib manusia di tangan manusia itu sendiri, harus dilihat dari perspektif manusia. Bukan dari perspektif Allah. Allah memiliki bagian yang pasti Allah penuhi, tetapi manusia juga memiliki bagian mutlak yang manusia harus memenuhinya.
     
    Menjadi kehendak Allah agar kita mengontrol kehendak diri, tubuh, jiwa dan roh kita sendiri dengan seksama. Penguasaan diri di mana seseorang mampu mengontrol dirinya sendiri dalam ketertundukan pada kehendak Allah, membuat dirinya dapat menjadi anak Allah yang berkenan di hadapan Bapa. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung dalam kehidupan kita, bukan karena Allah mengatur secara sepihak kehidupan kita sehingga menghilangkan kebebasan kita. Manusia tidak pernah kehilangan kebebasan, sampai menyerahkan kebebasan itu kepada Tuhan atau musuh-Nya.  Manusia tidak pernah menjadi seperti robot yang diatur oleh remote control. Hal ini merupakan ketetapan dari kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah tidak menentukan bagaimana nasib masing-masing individu, tetapi kedaulatan Allah menetapkan bagaimana masing-masing individu menentukan nasibnya.
     
    Manusia mengatur dirinya sendiri. Kalau ia mau mengatur dirinya sesuai dengan kehendak Allah, maka terbangunlah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Jika tidak, maka tidak akan terjadi atau berlangsung demikian.  Manusia yang menentukannya sendiri. Kita juga dapat menentukan keadaan diri kita untuk hidup dalam perkenanan Tuhan. Tentu semua ini bisa terjadi atau berlangsung dalam pimpinan Roh Kudus. Pembiasaan diri menuruti kehendak Allah melalui penyangkalan diri terus menerus akan membuahkan kehidupan yang semakin serupa dengan Yesus.
     
    Iblis menghendaki agar kita tidak menggunakan kebebasan dengan seksama. Sebab ketika kita tidak menggunakan kehendak bebas dengan seksama, maka Iblis dapat lebih leluasa menguasai seseorang sampai pada tingkat penguasaan yang permanen. Terkait dengan hal ini Paulus menasihati orang percaya untuk tidak memberi kesempatan kepada Iblis (Ef.4:27).  Kata “kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon, kata ini dapat diterjemahkan sebagai tempat berpijak atau pangkalan. Pangkalan yang disediakan bagi Iblis dalam kehidupan seseorang akan membuat seseorang hidup dalam penguasaan sepenuhnya sampai tidak dapat melepaskan diri dari penjaranya. Jaring-jaring Iblis yang menjerat manusia ini, dimulai dari hal-hal kecil dan sangat sederhan...
    0 min
  • Bahaya Kenyamanan Hidup
    Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa Iblis hanya membuat manusia susah, menderita dan mengalami berbagai bencana. Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya Iblis juga mengupayakan kesejahteraan manusia di bumi ini agar manusia dapat melupakan Allah dan tidak membutuhkan dunia lain. Kuasa dunia ini juga akan membuat hidup manusia menjadi nyaman, senyaman-nyamannya sampai mereka melupakan Tuhan dan rencana-Nya. Hal ini terbukti dengan apa yang terjadi dalam pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus. Iblis menawarkan keindahan dunia ini. Iblis berkata kepada Tuhan Yesus bahwa segala kuasa dunia dan segala kemuliaannya akan diberikan kepada Yesus, kalau Yesus mau menyembah Iblis (Mat. 4:8-10). Menyembah artinya menundukkan diri dengan menghargai keindahan dunia tersebut. Pencobaan itu pada dasarnya merupakan bujukan Iblis dengan menjanjikan keadaan nyaman di dunia hari ini, yaitu usaha untuk menikmati dunia hari ini tanpa Tuhan.
     
    Harus selalu diingat bahwa kenyamanan hidup juga membuat seseorang tidak memerlukan siapa-siapa, bahkan Tuhan sendiri. Kenyamanan hidup dapat menciptakan suasana jiwa di mana seseorang tidak merasa membutuhkan Tuhan. Sikap hati seperti itu akan membangun bangunan percintaan dunia di dalam diri kita. Ini adalah keadaan yang benar-benar membahayakan dan sungguh-sungguh gawat yang harus disadari. Tuhan memperingatkan agar kita menjaga diri dari hal tersebut. Dalam peringatan-Nya, Tuhan Yesus menasihati agar kita menjaga diri agar hati kita tidak dipenuhi oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi. Hal itu dimaksudkan agar hari Tuhan tidak dengan tiba-tiba jatuh ke atas diri kita seperti suatu jerat(Luk. 21:34). Jerat di sini mirip dengan ikatan candu yang bila seseorang sudah terbiasa mengkonsumsi, sukarlah untuk melepaskannya.  Percintaan dunia inilah yang sama artinya dengan tipu daya kekayaan, yang merupakan candu yang membinasakan. Oleh sebab itu sangatlah benar kalau dikatakan bahwa orang yang terikat dengan dunia ini sama dengan menyembah Iblis.
     
    Kita harus selalu mengingat bahwa kenyamanan dalam hidup di dunia yang didasarkan pada kekayaan dan hiburan dunia membuat seseorang tidak melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Inilah ciri dari orang yang sedang terjerat oleh tipu daya kekayaan. Mereka yang terjerat ini pasti tidak dapat mencintai sesamanya secara proporsional atau sebagaimana mestinya. Tentu saja mereka tidak mengupayakan keselamatan jiwa orang lain dengan segenap hati.  Orang-orang ini seperti pemuda kaya yang dikemukakan dalam Injil, di mana ia tidak mau melepaskan miliknya bagi sesamanya yang miskin.
     
    Dengan memahami hal ini bukan berarti kita harus memberikan semua uang kita untuk orang miskin atau sibuk kegiatan gereja semata-mata, tetapi yang penting di sini adalah apakah kita bersedia memecahkan diri seperti anggur yang tercurah atau roti yang terpecah bagi keselamatan orang lain? Kalau hanya membagi uang atau harta kita untuk orang lain, banyak manusia juga dapat melakukannya. Tetapi membagi segenap hidup untuk Kerajaan Allah adalah hal yang berbeda. Ini hal yang sangat sulit. Alkitab menunjukkan bahwa sekalipun seseorang memberikan seluruh harta, tetapi tanpa kasih adalah sia-sia (1Kor. 13:13). Kasih artinya tindakan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan seperti yang ada pada Yesus, yaitu yang rela mengosongkan Diri, hidup hanya untuk kepentingan Kerajaan Allah. Prinsip-Nya adalah serigala memiliki liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat.8:20). Intinya adalah hidup di bumi ini tidak dijadikan Firdaus.
     
    Inilah perbedaan antara keselamatan dari Tuhan dan keselamatan dari Iblis. Keselamatan dari Iblis bersifat hari ini dan sementara, tetapi keselamatan dari Tuhan tidak terfokus hari ini, tetapi kehidupan yang akan datang. Keselamatan dari Iblis bersifat kesenangan lahiriah kedagingan,
    0 min
  • Perhentian Yang Sejati
    Satu hal yang penting yang harus kita renungkan adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan ketenangan itu.  Anggapan orang pada umumnya mengenai ketenangan adalah suatu keadaan di mana seseorang dapat merasakan suasana tenang dan damai dalam jiwanya karena keadaan yang tidak bermasalah, tidak ada ancaman dan semua kebutuhan terpenuhi. Bila kita memahami ketenangan demikian, maka kita tidak pernah memiliki ketenangan dalam hidup ini.  Ketenangan dalam hidup semacam itu sudah hampir tidak pernah dapat ditemukan lagi di dunia hari ini. Sesungguhnya ketenangan sejati dapat kita miliki dan rasakan tatkala kita sampai pada perhentian Tuhan. Perhentian itu bukan membuat kita berhenti bekerja, tetapi berhenti bekerja untuk diri kita sendiri. Kita berhenti dari cita-cita kita sendiri, selanjutnya berusaha mengerti kehendak Tuhan, serta berusaha melakukannya secara konsekuen dan konsisten. Itulah perhentian yang sejati.
     
    Kalau seseorang hanya berhenti bekerja dari pekerjaan sekuler, kemudian menjadi pendeta atau aktif dalam ruangan biara, bisa saja ia menemukan perhentiannya sendiri, tapi belum tentu perhentian di dalam Tuhan. Menemukan perhentian di dalam Tuhan terjadi ketika seseorang diajar oleh Tuhan Yesus mengenakan pola hidup-Nya. Pola hidup Tuhan Yesus adalah mengosongkan diri, hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Selama kita belum mengosongkan diri, perhentian di dalam Tuhan belum pernah kita temukan. Tuhan Yesus menjadi Tuan dan Majikan kita, artinya kita harus meneladani pola hidup-Nya. Inilah sebenarnya tujuan Kekristenan itu.
     
    Merupakan suatu perhentian kalau kita menerima kenyataan, bahwa kita sebagai makhluk ciptaan dan anak tebusan tidak lagi merasa berhak memiliki sesuatu. Kita juga harus memahami bahwa kita tidak akan pernah dapat memiliki sesuatu tanpa pemberian atau anugerah-Nya di Kerajaan-Nya. Semua yang kita miliki hari ini di bumi ini bukanlah milik kita, tetapi semuanya adalah milik Tuhan. Harta kita sendiri di surga. Bukanlah sesuatu yang dianggap sebagai milik kalau hanya dapat dinikmati sesaat. Dengan menghayati hal ini, kita dapat merasa tenang tanpa materi dunia dan kita merasa tetap tenang di dalam keadaan ancaman sebesar apa pun. Kehidupan seperti ini dapat terwujud kalau seseorang hidup dalam pemerintahan Allah.
     
    Oleh sebab itu di singkatnya umur hidup manusia, seharusnya seseorang bergumul terus untuk menempatkan dirinya sebagai hamba yang melayani Tuhan dalam pemerintahan-Nya.  Bukan satu hal yang mudah untuk hidup dalam pemerintahan Tuhan. Untuk hidup dalam pemerintahan-Nya, maka seseorang harus:

    * Belajar menuruti Firman-Nya
    * Memiliki kepekaan mendengar suara-Nya
    * Menemukan tempat di mana seharusnya ia mengabdi kepada Tuhan.

    Orang percaya harus menjadi manusia yang hidup dalam pemerintahan Tuhan. Pemerintahan Tuhan artinya seseorang tidak melakukan apa yang melanggar kesucian Tuhan dan tidak bisa dibahagiakan oleh dunia ini, tetapi hanya dapat dibahagiakan oleh suasana Kerajaan Surga, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.
     
    Ketika seseorang hidup dalam pemerintahan Tuhan, maka ia memperoleh perhentian. Dalam di perhentian ini, seseorang memperoleh ketenangan yang sejati (Mat .11:28-29). Hidup dalam pemerintahan Allah yang tidak kelihatan di balik fakta yang kelihatan dan segala fenomenanya yang dijalani manusia pada umumnya, akan menjadikan hidup orang percaya digerakkan oleh kesadaran bahwa ada Allah yang hidup menentukan segala perkara di dalam tatanan-Nya. Ini berarti bahwa Tuhanlah yang menaungi segala sesuatu dalam tatanan atau hukum-Nya dengan sangat tertib. Kesadaran ini akan nyata dalam sikap hidup kita yang selalu merendahkan diri di hadapan-Nya untuk bergantung dan berharap sepenuhnya dalam segala sesuatu dari pada-Nya. Orang-orang yang bersikap seperti ini akan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Baginya, kehidupan ini tidak lengkap tanpa Tuhan.
    0 min
  • Waktu Menjadi Anugerah Atau Kutuk
    Sebuah fakta dalam kehidupan yang tidak dapat dibantah adalah bahwa untuk menjadi dewasa dan sempurna seperti yang dikehendaki oleh Tuhan membutuhkan waktu. Dalam hal ini tidak ada mukjizat, artinya tidak ada cara ajaib yang mudah oleh kuasa di luar diri kita untuk mengalami perubahan menjadi dewasa tersebut. Dalam hal ini Tuhan tidak membuat keajaiban semacam sulapan untuk mengubah kita menjadi dewasa. Perubahan harus melalui sebuah proses bertahap yang ketat oleh perjuangan masing-masing kita dalam meresponi penggarapan Tuhan melalui Roh-Nya. Oleh sebab itu kita tidak boleh menunggu Tuhan, sebab sebenarnya kitalah yang sedang ditunggu oleh Tuhan. Kita yang harus aktif mencari Tuhan. Tuhan sedang menyediakan Diri untuk ditemukan. Hanya orang yang mencari Tuhan, artinya haus dan lapar akan kebenaran, yang akan menemukan Dia sebagaimana mestinya atau dipuaskan oleh Tuhan. Orang yang merasa tidak atau kurang membutuhkan Tuhan adalah orang-orang yang tidak mendapat bagian apa-apa dari Tuhan.
     
    Tanpa perjalanan waktu, seseorang tidak akan dapat sempurna. Mengingat hal ini, maka betapa berharganya waktu yang Tuhan berikan. Hal ini akan sangat dihayati ketika seseorang menjumpai kenyataan dan sadar sepenuhnya bahwa waktu yang diberikan Tuhan telah habis dan ia tidak dapat memutar balik atau membuat mundur waktu hidupnya. Keadaan itu sangat mengerikan. Hal ini akan dialami pada waktu seseorang ada di pembaringan terakhirnya, sebelum ajal menjemput, sementara ia belum mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tidak ada kata yang dapat melukiskan keadaan yang sangat mengerikan tersebut.
     
    Suatu hukum kehidupan yang tidak dapat kita sangkal adalah bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan waktu. Manusia sadar atau tidak, ada dalam perjalanan waktu. Manusia harus tunduk kepadanya, sebab tidak seorangpun di antara kita yang sanggup menghentikan perjalanan waktu ini. Kenyataan ini harus kita camkan dengan seksama dan sungguh-sungguh. Kita tidak boleh masa bodoh, sebab ketidakpedulian kita akan mendatangkan celaka dan malapetaka abadi dalam hidup ini. Waktu menjadi anugerah bagi orang yang mengisi waktu hidupnya secara bijaksana, sebaliknya, waktu menjadi kutuk bagi orang yang mengisi hari-hari hidupnya dengan tidak bijaksana. Firman Tuhan mengatakan agar kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kita harus hidup. Kita harus menjadi bijaksana, artinya menggunakan kesempatan yang ada untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Orang yang bijaksana adalah orang yang menghitung hari hidupnya (Mzm. 90:12). Menghitung di sini artinya menghargai waktu yang diberikan oleh Tuhan, sebab waktu yang diberikan Tuhan terbatas dan sangat singkat.
     
    Oleh sebab itu, perlu sekali kita memeriksa hidup apakah hidup kita sudah benar atau bijaksana. Orang-orang bijaksana adalah mereka yang mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya secara pribadi dan melakukan kehendak-Nya dengan sukacita serta rela. Di dalam waktu hidup ini terdapat kesempatan, kesempatan ini bisa kita ibaratkan sebagai kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran Allah. Firman Tuhan mengatakan agar kita mempergunakan waktu yang ada. Di sini waktu ibarat kendaraan yang dimanfaatkan. Dimanfaatkan di sini lebih tepat digunakan kata diarahkan ke tujuan yang benar. Sebab waktu tetap berjalan, tidak ada yang dapat menghentikannya. Semua orang terseret oleh waktu itu. Karenanya sementara kita terseret oleh waktu, hidup kita di dalam waktu ini diarahkan ke tujuan yang benar.
     
    Harus selalu diingat bahwa waktu hidup kita ini sangat singkat, artinya kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran ini terbatas waktu penggunaannya. Oleh sebab itu waktu yang sisa ini jangan kita gunakan untuk hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki, tetapi kita gunakan secara bijaksana. Keterlibatan Tuhan secara penuh sebagai Pembimbing, Mentor dan Guru Agung harus kita sambut dengan benar. Kehadiran Tuhan dalam hidup kita harus dimanfaatkan sebaik-baik...
    0 min
  • Keadaan Batiniah Seperti Yesus
     
    Kalau kita bisa menghayati dan merenungkan betapa luas jagad raya dengan semua planet dan gugusan-gugusan galaksi yang tidak terhitung jumlahnya, maka kita dapat mengerti betapa tidak berartinya bumi di mana kita hidup hari ini. Sejajar dengan tidak terbatasnya luasnya kawasan jagad raya ini, demikian pula kekekalan. Seharusnya kita dapat merenungkan hal ini sebagai kedahsyatan bagi kita. Sayang sekali, banyak orang sudah terbelenggu oleh keindahan dunia dari cara pandang yang salah. Sehingga mereka menjadi picik. Cara berpikirnya sempit. Jangkauan pemikiran mereka hanya pada apa yang ada di sekitarnya hari ini dan dirinya sendiri.
     
    Cara berpikir yang sempit itu membuat mereka mengagungkan harta dunia dan kehormatan diri sendiri. Malangnya, mereka tidak menyadari keadaan mereka. Mereka merasa sudah hidup sebagai orang Kristen yang baik, merasa sudah menjadi orang percaya yang benar. Mereka bisa berbicara mengenai ketuhanan dan iman, dan merasa sudah memahaminya dengan baik, padahal mereka adalah orang-orang bodoh yang tindakan hidupnya tidak menyenangkan hati Tuhan. Harta dunia dan kehormatan adalah sarana Iblis untuk membuat mereka menyembahnya. Mereka menganggap itu hal yang wajar; dunia dan kehormatan diri dinikmati, dimiliki dan dibanggakan sama seperti mereka yang bukan anak-anak Allah.
     
    Mereka tidak mengerti atau tidak mau mengerti bahwa yang dapat menyenangkan hati Bapa hanyalah pribadi yang berstandar kesucian seperti Yesus, sehingga Bapa dapat menyatakan bahwa pribadi seperti Putra-Nya itulah anak-anak Allah Bapa yang dikasihi dan yang berkenan kepada-Nya. Seharusnya dalam kehidupan di bumi yang tidak lama ini, orang percaya hanya untuk menyenangkan hati Bapa dengan sungguh-sungguh. Sehingga orang percaya memandang bahwa tidak ada yang bernilai mulia dalam hidup orang percaya selain harta kekal, yaitu keadaan batiniah seperti Tuhan Yesus. Dengan demikian semua harta dunia dan kehormatan manusia tidak menjadi tujuan hidup kita.
     
    Harta dunia dan kehormatan telah membutakan mata banyak orang Kristen. Sehingga mereka tidak mengenal siapa diri mereka. Mereka memandang diri mereka tidak seperti Tuhan memandang mereka. Karena mereka tidak mempersoalkan hal ini dengan rendah hati, maka Roh Kudus tidak bisa mengajarkannya kepada mereka. Mereka tidak bisa diajar dan diberi tahu mengenai kebenaran. Apalagi kalau mereka merasa dirinya sudah pintar, bisa berbicara mengenai ajaran-ajaran dan doktrin Alkitab, mereka semakin tidak bisa diajar dan dinasihati oleh Roh Kudus. Mereka sudah mempunyai banyak guru.  Mereka tidak berurusan dengan Bapa dan Tuhan Yesus, tetapi berurusan dengan pikiran mereka sendiri dan guru-guru manusia mereka. Mereka tidak mengerti kalau mereka sebenarnya belum mengerti. Harta dunia dan kehormatan diri telah membutakan mata mereka dan membuat mereka menjadi angkuh.
     
    Kalau keadaan mereka yang berpikir picik tersebut tidak berubah, berlarut-larut dalam kebodohan, maka apa pun yang diajarkan oleh Roh Kudus tidak bisa mereka pahami lagi sama sekali. Hal ini akan nyata dari perilaku mereka yang semakin sulit mengenakan Pribadi seperti yang dikenakan Tuhan Yesus pada waktu mengenakan tubuh daging di bumi. Mereka bisa membela diri atas semua yang mereka lakukan dan berbagai argumentasi mereka, tetapi suatu hari mereka akan tercelik bahwa semua itu hanya permainan palsu manusia yang picik.
     
    Harta dunia dan kehormatan manusia sebenarnya tidak ada artinya jika dibanding dengan keindahan Kerajaan yang Bapa berikan kepada Putra-Nya dan orang-orang yang setia seperti Dia (Mat. 16:26). Oleh sebab itu, Tuhan nasihati orang percaya yang masih memiliki nurani dan masih memiliki kerendahan hati yang tulus, agar tidak merasa sudah pandai, sudah baik dan pantas dihormati manusia. Kita harus selalu berpikir bahwa kita miskin di hadapan Allah. Miskin di hadapan Allah artinya menyadari dan mengakui bahwa kita bisa menjangkau B...
    0 min
  • Kehilangan Nyawa
    Satu hal yang tersulit dalam kehidupan Kristen adalah meninggalkan dunia, yang sama dengan kehilangan nyawa. Namun demikian, hal ini harus terjadi atau berlangsung dalam hidup kita. Kita tidak boleh menghindarkannya. Menghindari hal ini berarti berkhianat kepada Tuhan Yesus. Meninggalkan dunia bukan berarti tidak lagi bergaul di tengah-tengah masyarakat. Bukan berarti tidak melakukan kegiatan apa pun demi menarik diri dari semua kegiatan hidup. Meninggalkan dunia artinya meninggalkan cara berpikir, gaya dan pola hidup dunia yang dikenakan semua manusia di sekitar kita. Ini hal yang sulit, sebab sementara kita hidup di tengah-tengah dunia yang semua manusia memiliki cara berpikir, pola dan gaya hidup tertentu, kita harus mengenakan cara berpikir, pola dan gaya hidup yang berbeda dari mereka.
    Kalau menyingkir dari keramaian, menyepi di tempat-tempat di mana tidak ada manusia lain, maka hal ini menjadi sangat jauh lebih mudah. Hal ini sama dengan puasa di tengah-tengah banyak makanan. Jauh lebih mudah puasa di padang pasir di mana tidak ada makanan dan minuman.  Tetapi justru inilah ujian iman kita. Tidak bisa dikatakan ujian kalau jalan hidup sebagai orang Kristen mudah ditempuh.
     
    Dalam suratnya, Yakobus menulis: Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun(Yak. 1:1-2). Iman seorang harus diuji. Iman di sini artinya penurutan terhadap kehendak Allah. Orang percaya diuji apakah lebih taat kepada Allah atau lebih memilih mengikuti cara hidup manusia di sekitar yang sama dengan menyenangkan diri sendiri.
     
    Apa yang dikatakan Yakobus seirama dengan yang ditulis Petrus:  Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu(1Ptr. 1:6-9). Tujuan iman adalah kehidupan yang serupa dengan Tuhan Yesus. Ini berarti berkeadaan yang sangat berbeda dengan dunia ini. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa. Tuhan Yesus tidak meminta Bapa mengambil orang percaya dari dunia ini, tetapi melindungi mereka dari yang jahat (Yoh. 17:15). Untuk ini Firman Tuhan menguduskan orang percaya (Yoh. 17:17); menguduskan berarti membuat mereka berbeda dengan dunia ini.
     
    Orang-orang Kristen abad pertama harus mengalami aniaya yang hebat. Hal itu merupakan cara Allah membawa mereka untuk dapat dalam waktu singkat menjadi orang percaya yang meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, selanjutnya hidup sesuai dengan kehendak Allah. Aniaya tersebut membangun kehidupan yang berbeda dengan dunia ini. Allah mengizinkan begitu berat aniaya yang mereka alami agar mereka lebih cepat menjadi matang atau dewasa. Hal ini juga dialami oleh orang percaya dewasa ini. Keadaan dunia yang semakin mengancam ketenangan hidup kita hari-hari ini bisa menjadi sarana Allah lebih cepat membuat kita matang. Sementara itu di lain pihak dunia yang semakin jahat membuat matang kejahatan mereka yang mengikuti jalan dunia. Dalam keadaan dunia seperti ini, tetaplah setia mengikuti Tuhan Yesus, bukan mengikuti jalan dunia.
     
    Jadi, ketika Tuhan Yesus berkata kepada seseorang “ikutlah Aku”,
    0 min
  • Sikap Terhadap Pegawai
    Kita harus selalu mengingat apa yang telah ditulis oleh Yakobus dalam suratnya: Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu. Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan(Yak. 5:5). Di seluruh belahan dunia ini, fenomena perlakuan sewenang-wenang majikan kepada pegawai atau buruh menjadi masalah yang dipersoalkan dengan tajam. Karena keserakahan manusia, maka terjadi kesenjangan sosial ekonomi yang semakin jauh. Hal ini menunjukkan ketidakadilan yang semakin merajalela, mereka yang kuat dan kaya semakin kuat dan kaya; sedangkan mereka yang lemah dan miskin, semakin lemah dan miskin. Semua ini menunjukkan telah dekatnya akhir sejarah dunia. Tidak lama lagi, mereka semua harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang mereka lakukan di dunia ini. Orang percaya harus menyadari bahwa segala sesuatu pasti ada perhitungannya.
     
    Tuhan menasihati kita melalui Yakobus agar orang percaya tidak termasuk kelompok manusia yang sewenang-wenang terhadap pegawai atau buruh. Orang percaya berhak memiliki hak-hak sebagai majikan, tetapi harus juga menghargai hak-hak pegawai atau buruhnya. Ini bukan hanya menyangkut urusan dengan manusia, baik dengan pegawai atau buruhnya dan dengan pemerintah atau hukum negara, tetapi terlebih utama ini adalah urusan orang percaya dengan Tuhan. Seperti yang telah diajarkan kepada orang percaya, sebagai anak-anak Allah, bahwa Allah yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar, dan menghakimi semua manusia (Mat. 5:45)
     
    Kita harus memiliki perasaan seperti perasaan Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Mengasihi mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan dan menaungi mereka, siapa pun orang itu. Dengan berbuat kebaikan kepada pegawai atau buruh kita, kita dapat memberi kesaksian mengenai Kerajaan Surga, bahwa kita adalah anak-anak Allah yang mengikut jejak Yesus. Dengan perbuatan baik orang percaya, para pegawai dan buruh tidak akan menaruh kebencian kepada Tuhan Yesus. Hal itu memberi peluang kepada mereka untuk dapat dihakimi menurut perbuatan dan memberi kemungkinan mereka masuk ke dalam Kerajaan Tuhan Yesus Kristus sebagai anggota masyarakatnya. Sedangkan kita, akan memerintah bersama-sama dengan Putra Tunggal Bapa di dalam Kerajaan-Nya.
     
    Kita harus belajar berpikir dan bersikap, bahwa pemerintahan Kerajaan Tuhan Yesus Kristus sudah dimulai sejak kita hidup di bumi. Kita harus berpikir dan bersikap seakan-akan kita sedang memerintah sebuah masyarakat bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Inilah pemenuhan doa yang diajarkan Tuhan Yesus, agar Kerajaan Bapa dihadirkan di muka bumi dan kehendak Bapa dilaksanakan di bumi seperti di surga. Di surga, maksudnya adalah pemerintahan Kerajaan Putra Tunggal Bapa nanti yang sudah dimulai sekarang. Dengan demikian kita belajar mengayomi manusia lain yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita dengan tulus. Hal ini harus kita lakukan, agar kita melatih diri untuk memerintah sesama manusia, agar suatu hari nanti kita dapat memerintah dengan benar bersama dengan Putra Tunggal Bapa nanti di Kerajaan Surga.
     
    Selama kita hidup di dunia, kita harus belajar melayani sesama manusia, seperti yang dilakukan Tuhan Yesus sendiri. Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kita tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kita hendaklah menjadi sebagai yang paling muda, dan pemimpin sebagai pelayanSebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Yesus ketika mengenakan tubuh daging ada di tengah-tengah manusia sebagai pelayan(Luk.
    0 min
  • Tindakan Iman Dan Pengharapan
    Kita sering mendengar berbagai berita mengenai ketegangan antar negara yang bisa menyeret dunia kepada perang yang bisa memakan korban manusia dan harta benda yang tidak terhitung, serta rusaknya bumi ini. Kalau terjadi perang dunia kali ini, seperti yang kita semua ketahui di mana manusia sudah menemukan senjata pemusnah nuklir, maka dunia yang kita huni akan menjadi rusak sama sekali. Hal ini sebenarnya menjadi peringatan kepada kita semua, betapa rentannya hidup di bumi ini. Sesuai dengan Firman Tuhan, bahwa dunia akan mengalami keadaan yang semakin buruk. Kita juga dapat melihat bukti bahwa dunia tidak pernah bertambah menjadi baik. Dunia akan menjadi tempat hunian yang tidak nyaman. Semua ini menjadi peringatan kepada kita, agar sungguh-sungguh berusaha mengikuti jalan kehidupan yang diajarkan Tuhan Yesus.
     
    Dengan melihat hal tersebut, mestinya kita tidak menaruh harapan untuk dapat menikmati kebahagiaan dan ketenangan di dunia sekarang ini. Sebenarnya tidak ada kebahagiaan dan ketenangan yang sesungguhnya di dunia yang sudah jatuh ini, karena manusia memberontak kepada Allah. Tetapi banyak orang yang mata hatinya sudah menjadi buta dan pengertiannya sudah menjadi gelap, sehingga mereka tidak menyadari keadaan dunia ini. Mereka menjadi sangat bodoh. Mereka serakah, berusaha memiliki sebanyak-banyaknya yang dapat diraih dari dunia ini untuk kebahagiaan yang mereka harapkan dapat diperoleh dan dinikmati.
     
    Seharusnya keadaan dunia sekarang ini membuat pandangan kita -sebagai orang percaya yang mengenal kebenaran Injil-diarahkan kepada Kerajaan Surga saja. Tetapi banyak orang Kristen yang tidak memedulikan peringatan Tuhan tersebut. Mereka memandang rendah Kerajaan Tuhan Yesus Kristus, mereka lebih memilih memberi hati kepada keindahan dunia yang fana ini. Mereka merasa dan berpikir seakan-akan kehidupan di dunia adalah satu-satunya kehidupan yang dapat dimiliki manusia. Mereka berusaha tidak kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati sebanyak-banyaknya kebahagiaan yang dapat disediakan dunia ini. Tanpa mereka sadari, mereka tertipu dan terjebak oleh tipu daya kekayaan dunia. Sehingga mereka menjadi mangsa si jahat.
     
    Kita harus selalu mengingat, bahwa dunia bukan satu-satunya kehidupan yang kita jalani. Dunia ini hanyalah tempat persiapan untuk memperoleh hidup yang sebenarnya, yang Tuhan rancang setelah Adam tidak melakukan kehendak Allah. Itulah sebabnya manusia hanya diberikan umur pendek, sekitar 70 tahun pada umumnya. Kematian yang terjadi atas setiap manusia, sebenarnya adalah jalan keluar dari keadaan menderita yang dapat dialami di bumi ini. Kalau Tuhan memberikan umur panjang, maka penderitaan manusia menjadi panjang. Cukuplah dengan 70 tahun manusia mempersiapkan diri untuk kehidupan yang baik nanti di balik kuburnya, yaitu di langit baru dan bumi yang baru. Kalau kita percaya kepada Tuhan, maka sejatinya kita harus menaruh pengharapan hanya pada kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan di bumi ini sekarang. Kalau kita menaruh pengharapan di bumi ini, itu berarti kita memilih dunia dan tidak memilih Kerajaan Tuhan Yesus Kristus.
     
    Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus memberi pengharapan kebangkitan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Percaya kepada-Nya berarti mengikuti jejak hidup-Nya, yaitu selalu melakukan kehendak Bapa. Kalau kita hanya mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, itu belumlah berarti sudah percaya kepada-Nya. Percaya seperti itu belumlah diperhitungkan sebagai iman yang dapat menyelamatkan. Iman adalah tindakan, bukan hanya di dalam pikiran. Banyak orang Kristen merasa sudah percaya di dalam pikirannya, tetapi tidak memiliki iman seperti Abraham, yaitu tindakan yang menuruti apa yang diperintahkan oleh Tuhan. Itu berarti iman palsu. Iman yang palsu membuat banyak orang Kristen tidak pantas dibangkitkan dan memperoleh kemuliaan bersama Putra Tunggal Bapa.
     
    0 min
  • Belajar Kebenaran Yang Murni
    Semua orang berusaha berprestasi dalam hidup ini untuk mencapai apa yang mereka idam-idamkan. Itulah yang mereka pandang sebagai pencapaian yang dapat membahagiakan dan membuat hidup mereka lengkap atau utuh, serta bisa mendatangkan kehormatan dari sesamanya. Tetapi hendaknya orang percaya tidaklah demikian. Usaha yang kita lakukan melalui segala hal adalah bagaimana dapat menjadi sempurna seperti Bapa, atau serupa dengan Yesus. Mencapai kesempurnaan atau serupa dengan Yesus sama dengan memiliki kesucian hidup. Tentu ini adalah kesucian hidup yang berstandar kesucian Bapa. Bapa berfirman: Kuduslah kamu sebab Aku kudus(1Ptr. 1:16).Kesucian yang harus orang percaya capai adalah kesucian yang melebihi orang beragama manapun, bahkan lebih dari tokoh-tokoh agama mereka.
     
    Kesucian hidup harus membuat orang percaya merasa bahagia, membuat hidup menjadi lengkap dan utuh, serta mendatangkan kehormatan di dalam Kerajaan Tuhan Yesus. Itulah yang harus menjadi idaman kita satu-satunya. Ingatlah bahwa hal ini tidak bisa dicapai oleh manusia yang tidak mengenal keselamatan di dalam Yesus Kristus. Orang percaya yang memiliki anugerah untuk memiliki pencapaian kesucian itu, harus menghargai kesempatan dengan meresponi anugerah tersebut secara pantas. Jika mereka tidak menghargai anugerah tersebut, maka mereka tidak akan pernah mengalami maksud keselamatan yang Bapa berikan di dalam dan melalui Putra Tunggal-Nya.
     
    Banyak orang yang mengaku sebagai anak-anak Allah, tetapi mereka berkeadaan tidak berbeda dengan orang-orang di luar gereja. Mereka pergi ke gereja setiap hari Minggu, mengaku Kristen dan melakukan pekerjaan pelayanan gereja, tetapi mereka tidak memiliki kerinduan untuk mencapai prestasi kesucian yang Tuhan kehendaki. Mereka hanyut dengan banyak hal yang mereka idam-idamkan. Padahal semua yang mereka idam-idamkan tersebut merupakan hal fana semata, dan menyeret mereka berkeadaan tidak layak mewarisi Kerajaan yang akan Bapa berikan kepada Yesus Kristus dan orang-orang yang menderita bersama Dia.
    Harus dipahami bahwa kesucian akan membuat orang percaya mengenal Allah dengan benar. Semakin tinggi pencapaian orang percaya dalam kesucian, maka semakin orang percaya menemukan pengenalan yang semakin mendalam pula mengenai Tuhan. Hal ini tidak dipahami oleh banyak orang Kristen, bahkan para pembicara di mimbar-mimbar gereja dan pengajarnya. Mata pikiran mereka buta terhadap kebenaran. Tuhan sedih menyaksikan para teolog yang belajar mengenai teologi, mereka merasa sudah mengenal dan menemukan Tuhan hanya karena mereka bisa berbicara mengenai teologi yang mereka baca dan pelajari di bangku Sekolah Tinggi Teologi. Apalagi kalau mereka menyandang gelar, mereka menjadi sombong dan merasa lebih mengenal Allah daripada orang lain.
     
    Banyak sekolah Alkitab dan Sekolah TinggiTeologi membicarakan Allah, tetapi Allah tidak hadir di sana sebagaimana mestinya. Mereka menggantikan Bapa dan Anak dengan rumusan-rumusan teologi dan diskusi-diskusi tanpa sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan dengan benar. Kehadiran para guru di ruang kelas dan kuliah tidaklah mewakili Tuhan, tetapi mewakili pandangan manusia yang tidak mengubah siswa dan mahasiswanya menjadi manusia seperti yang Tuhan kehendaki. Sehingga para siswa dan mahasiswanya tidak menemukan Tuhan di dalam hidup mereka. Bagaimana siswa dan mahasiswa tersebut bisa menjadi hamba-hamba Tuhan yang pantas berdiri sebagai juru bicara Tuhan? Padahal merekalah yang dianggap pantas berbicara di mimbar-mimbar gereja. Lagipula, biasanya mereka yang menjadi pimpinan dalam sinode gereja, yang mengarahkan perjalanan gereja Tuhan Yesus Kristus.
     
    Semua tersebut membangun suatu pemerintahan yang tidak berbeda dengan rezim yang berkuasa. Mereka merasa memiliki gereja milik Yesus Kristus dan membelenggu kehidupan umat dengan hidup keberagamaan yang kosong. Seharusnya umat Tuhan diajar memiliki kesucian Tuhan.
    0 min
  • Mengejar Kesucian Atau Kesempurnaan
    Kalau kita mengamati dengan cerdas, dapat kita temukan ternyata tidak banyak orang yang frustasi karena mengejar kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak peduli sama sekali terhadap kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Sebaliknya, mereka frustasi terhadap masalah-masalah dunia fana. Frustasi seperti ini adalah frustasi yang terus menyeret manusia semakin jauh dari kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Mereka semakin haus dan lapar terhadap kekayaan dan keindahan dunia serta kehormatannya. Mereka selalu merasa kurang mengenai harta dan kehormatan manusia. Dengan cara demikian, kuasa dunia membawa mereka kepada kegelapan. Hal ini bukan saja terjadi atas anak-anak dunia, tetapi juga terjadi atas orang-orang yang sudah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Hal tersebut menyedihkan hati Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan apa telah diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu untuk mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Mereka tidak pernah mau mengerti Kerajaan Allah, sebab mereka membangun kerajaan mereka sendiri.
     
    Sebaliknya, orang benar akan mengalami frustasi menghadapi dirinya sendiri, yaitu bagaimana bisa mencapai kesucian atau kesempurnaan. Mereka bertanya-tanya dalam hati mereka sendiri: kapan bisa hidup sempurna? Pertanyaan yang menuntut jawaban seperti itu adalah pertanyaan yang sangat baik dan harus orang percaya miliki. Fakta hidup yang orang percaya jalani selama ini menunjukkan kegagalan untuk mencapai kesucian atau kesempurnaan, dan orang percaya merasakan serta menyadari kegagalan itu. Frustasi orang percaya dalam hal ini sesungguhnya sesuatu yang normal yang dialami oleh semua orang percaya yang haus dan lapar akan kebenaran. Tetapi sayang, banyak mereka yang berhenti di tengah jalan karena putus asa. Mereka merasa tidak sanggup lagi meneruskan perjuangan untuk mencapai hidup dalam kesucian atau kesempurnaan. Inilah orang-orang yang imannya mengalami keguguran. Seharusnya orang percaya tetap berjuang tiada henti ketika mengalami keadaan dimana ia merasa putus asa dan pesimis untuk mencapai kesucian atau kesempurnaan (Ibr. 12:2-4). Dalam pikiran orang percaya seharusnya hanya ada satu kerinduan, dan tekad bahwa orang percaya harus mencapai kesempurnaan, berapa pun harganya.
     
    Di akhir zaman ini akan semakin sedikit orang yang memburu kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Kesucian atau kesempurnaan menjadi barang langka dan dianggap barang yang tidak terjangkau. Lebih rusak lagi kalau hal ini dipandang tidak dibutuhkan. Mereka merendahkan dan mencampakkan secara sewenang-wenang. Tidak sedikit pengajar sekolah Alkitab, pembicara di mimbar gereja dan kelompok orang-orang Kristen yang mengajarkan bahwa kesucian atau kesempurnaan hanya bisa tercapai nanti setelah di surga, bukan di bumi. Hal ini benar-benar bisa mematahkan gairah dan semangat banyak orang percaya untuk mencari kebenaran dan mencapai kesucian Tuhan. Ajaran itu sangat keliru. Tuhan yang memerintahkan untuk sempurna atau hidup dalam kesucian, tentu Tuhan yang memberi kemungkinan untuk dapat dicapai dan dialami, sebab Tuhan bukan pendusta dan tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak dapat orang percaya capai.
     
    Banyak pengajar palsu mengajarkan apa yang tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus. Mereka mengajarkan seakan-akan korban Tuhan Yesus di kayu salib sudah menjawab secara otomatis semua kebutuhan orang Kristen, sehingga mereka merasa tidak perlu bergumul untuk melakukan kehendak Bapa. Dalam hal ini, seakan-akan keselamatan dapat terjadi secara mudah dengan sendirinya, tanpa perjuangan individu. Melakukan kehendak Bapa sebenarnya sama dengan hidup dalam kesucian atau kesempurnaan. Itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa mereka harus sempurna seperti Bapa di surga.
     
    Betapa malangnya mereka yang merasa sudah memiliki keselamatan, dan merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah serta yakin akan diperkenan masuk ...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…