Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tetap Dalam Kemurahan-Nya
    Paulus menunjukkan, bahwa walaunpun bangsa Israel bersungguh-sungguh mencari Tuhan, tetapi karena mereka mau membangun kebenaran sendiri, maka mereka ditolak oleh Allah. Paulus memberi peringatan yang sangat tegas: Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu, Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga (Rm. 11:21-22). Tulisan Paulus ini sangat penting, sebab menunjukkan dan meletakkan dasar teologi mengenai keselamatan, bahwa selalu ada kemungkinan Tuhan menolak orang yang sudah diberi kesempatan untuk menjadi umat pilihan. Paulus mengancam, jika mereka tidak tetap dalam kemurahan-Nya, maka mereka akan dipotong juga.
    Umat pilihan dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Baru, yang mendengar Injil dan memiliki segala kemungkinan untuk bertumbuh mewujudkan keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Tetapi rancangan Allah semula tidak akan terwujud, kalau orang percaya tidak berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Dalam tulisannya Paulus mengatakan: yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga. Kalimat “tetap dalam kemurahan-Nya” harus dipahami dengan benar. Bukan hanya sekadar setia sebagai orang Kristen, tetapi juga tetap terus bertumbuh dalam kebenaran, sebagai murid yang belajar tiada henti. Hal ini sama dengan “tetap menjadi mahasiswa”; bukan berarti hanya berstatus sebagai mahasiswa, tetapi tetap belajar untuk meningkatkan pengetahuan.
    Lebih jelas lagi Paulus menulis: Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri (Rm. 11:23-24). Dalam tulisannya ini, Paulus menunjukkan bahwa Tuhan masih memberi kesempatan kepada orang-orang Yahudi untuk dicangkokkan kembali, jika mereka meninggalkan ketidakpercayaan mereka. Seperti Paulus dan orang-orang Yahudi lainnya, juga masih diberi kesempatan untuk menjadi orang percaya. Tetapi sebaliknya, jika orang Kristen yang tadinya berkeadaan tidak sesuai dengan kehidupan umat pilihan, diperkenan menjadi umat pilihan, maka mereka harus hidup dalam kepercayaan yang benar, sehingga bisa berkeadaan berbeda dari keadaan semula sebelum menjadi cabang yang dicangkokkan.
    Dalam hal tersebut, orang percaya harus hidup dengan keadaan sebagai orang percaya yang dikehendaki oleh Allah. Kehidupan orang yang diperkenan Allah adalah kehidupan dalam “kepercayaan yang benar”. Hidup dalam kepercayaan yang benar, artinya bukan hanya secara nalar percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias, tetapi juga memiliki pola dan gaya hidup sesuai dengan kehendak Allah, sebagai orang yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yesus. Di sini dibutuhkan usaha yang giat untuk mencapai standar kehidupan sebagai orang yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yesus. Usaha yang giat tersebut, bukanlah perbuatan baik sebagai usaha untuk mencapai dan memiliki keselamatan, tetapi respon terhadap anugerah dalam Yesus Kristus yang disediakan oleh Allah bagi manusia.
    Perbuatan baik -bahkan kesempurnaan yang diusahakan untuk dicapai- bukanlah usaha untuk mencapai keselamatan, sebab keselamatan hanya oleh karena korban Yesus di kayu salib. Kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib, maka tidak ada manusia yang bisa masuk surga, sebaik apa pun manusia itu. Tetapi dengan kematian Tuhan Yesus di kayu salib, maka orang yang mengakui dan menerima pengorbanan-Nya dibawa kepada proses dikembalikan ke rancangan semula.
    0 min
  • Jangan Bermegah
    Sayang sekali, banyak bangsa Israel yang menolak berkat rohani, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Oleh karena bangsa itu menolak berkat keselamatan, maka Allah mengalihkan atau memberikannya juga kepada bangsa-bangsa lain. Itulah sebabnya Paulus menulis: Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka. Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? (Rm. 11:12-15).
    Dalam tulisan Paulus di Roma 11:12-15, Paulus menunjukkan betapa hebatnya keadaan bangsa Israel, jika mereka menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, karena mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mau mencari kebenaran (Rm. 10:2, Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar). Seandainya semua mereka menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, dan memiliki gairah yang sangat kuat dalam mencari Tuhan, maka hal tersebut bisa menjadi model bagi bangsa-bangsa lain dalam mencari Tuhan. Dalam hal ini, secara tidak langsung Paulus hendak menunjukkan betapa pentingnya kita, sebagai orang percaya memiliki kesungguhan untuk mencari Tuhan.
    Dengan sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka orang percaya dapat menyerap sebanyak-banyaknya berkat rohani yang telah disediakan oleh Tuhan. Berkat rohani tersebut diilustrasikan sebagai “akar pohon zaitun yang penuh getah”. Walaupun orang percaya tercangkok dan memiliki kesempatan untuk meneguk berkat rohani, tetapi kalau tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka semua menjadi sia-sia. Harus disadari dan dipahami dengan benar, bahwa berkat rohani yang diilustrasikan seperti “akar pohon zaitun yang penuh getah”, tidak otomatis dapat mengalir dan diterima orang percaya. Jadi, berkat rohani yang tersedia yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus tidak dapat mengalir secara otomatis atau dengan sendirinya. Daging dan darah Tuhan Yesus menunjukkan berkat rohani, tetapi kalau tidak “dimakan” -artinya kalau tidak berjuang untuk meneladani-Nya- maka sia-sialah iman Kristen. Oleh sebab itu seperti bangsa Israel begitu giat menjari Tuhan, maka kita juga harus giat mencari Tuhan agar keselamatan yang disediakan Allah dalam Yesus Kristus, terwujud dalam hidup kita.
    Hal di atas ini harus dikemukakan, karena banyak orang Kristen berpikir, keselamatan dalam Yesus Kristus secara otomatis dapat dimiliki seseorang ketika secara nalar orang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Banyak orang Kristen, di antaranya para teolog yang mencibir atau merendahkan orang-orang Yahudi, karena mereka melihat usaha yang sangat giat dari orang-orang Yahudi yang membangun kebenaran dengan melakukan hukum. Orang-orang Kristen dan sebagian teolog ini seakan-akan mau menyatakan, bahwa percuma orang-orang Yahudi berusaha berbuat dengan giat membangun kebenaran sendiri, kalau tidak menerima Yesus Kristus sebagai Mesias; sebab keselamatan bukan karena perbuatan baik, tetapi karena iman. Pernyataan ini benar, tetapi jangan karena hal ini, maka tidak ada usaha untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13). Mereka berpikir bahwa keselamatan dapat diperoleh secara mudah. Ternyata orang-orang Kristen dan sebagian teolog seperti itu, menyimpang dari kebenaran Injil yang murni.
    Itulah sebabnya Paulus mengatakan dalam Roma 11:18 … janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu.
    0 min
  • Kesempatan Menerima Berkat
    Dalam pelajaran di bab ini, secara khusus kita belajar mengenai ketegasan Allah terkait dengan sikap orang percaya terhadap anugerah Tuhan. Hal ini dikemukakan Paulus di dalam Roma 11:17-20 yang tertulis demikian: Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!
    Dalam tulisan Paulus di perikop ini, bangsa Israel digambarkan sebagai carang asli yang memperoleh bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah. Sedangkan orang percaya adalah tunas liar yang dicangkokkan pada batang pohon zaitun. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan orang percaya bahwa mereka pada mulanya bukanlah umat pilihan. Terkait dengan hal ini, Paulus dalam Efesus 4:11-13 menulis: Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.
    Selama ini, karena sudah terbiasa menjadi orang Kristen, apalagi sudah menjadi Kristen sejak kecil, maka banyak orang Kristen tidak merasa istimewa menjadi orang Kristen. Padahal kalau ditinjau dari pemilihan Allah, sebenarnya mereka dulunya termasuk bangsa kafir yang tidak memiliki hak-hak istimewa sebagai umat pilihan. Dalam hal ini, kita harus selalu mengingat, betapa besar anugerah yang orang percaya terima untuk diperkenankan menjadi umat pilihan. Kalau seandainya mereka tidak menjadi umat pilihan, betapa malang keadaannya.
    Suatu kemalangan yang tidak dapat dibayangkan, orang-orang yang tidak memperkarakan hal ini dengan sungguh-sungguh. Mereka pasti menjadi orang-orang yang sangat berpotensi memandang rendah kasih karunia atau anugerah yang Tuhan berikan. Mereka juga pada umumnya tidak menghargai pengorbanan Tuhan Yesus yang sangat mahal. Dan hal ini memicu mereka menyia-nyiakan anugerah yang begitu besar, sehingga mereka tidak mengalami dan tidak memiliki anugerah keselamatan.
    Sebagai umat pilihan, kita mendapat “bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah”. Maksud kalimat ini, adalah bahwa umat pilihan mendapat kesempatan untuk menerima berkat-berkat dari Allah (Elohim) Yahwe. Berkat-berkat yang dimiliki Tuhan adalah berkat-berkat yang dibutuhkan manusia. Tentu berkat di sini bukan hanya berupa berkat jasmani, tetapi juga berkat rohani atau berkat kekal, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Kalau bangsa Israel, umat pilihan secara darah daging telah memperoleh berkat jasmani pada zaman Perjanjian Lama, sekarang Tuhan menyediakan berkat rohani atau berkat kekal.
    Berkat rohani tersebut adalah keselamatan dalam Yesus Kristus. Keselamatan dalam Yesus Kristus menyediakan atau memuat berkat yang dapat membuat manusia mengalami perubahan di dalam batinnya. Inilah inti berkat keselamatan yang diberikan oleh Tuhan. Sayangnya, bangsa Israel tidak mengingini berkat tersebut. Mereka lebih mengingini berkat fana, yaitu kemerdekaan dari kekuasaan bangsa Romawi dan segala berkat jasmani untuk kemakmuran lahiriah.
    Kalau berkat jasmani hanya diperoleh bagi kebutuhan fisik, tetapi berkat rohani untuk pemenuhan kehidupan rohani. Pada dasarnya, berkat rohani yaitu keselamatan,
    0 min
  • Tergantung Respon Individu
    Pola berpikir keberagamaan Yahudi tersebut, sebenarnya tidak salah, jika seandainya Yesus belum datang ke dunia. Mereka memang memiliki standar hidup yang hanya seperti itu, dan Tuhan mengizinkan atau memperkenankan demikian. Tetapi setelah ada Injil, maka pola keberagamaan seperti itu harus ditinggalkan. Mereka harus mengenakan Kekristenan yang diteladankan oleh Yesus. Melakukan hukum Taurat diganti dengan melakukan hukum kasih. Hukum kasih adalah pikiran, dan perasaan Tuhan sendiri, sebab Allah kasih adanya. Percaya kepada Yahwe diganti dengan percaya kepada Pribadi Yesus yang memang adalah Yahwe sendiri, dengan mengikuti gaya hidup-Nya. Percaya kepada Yesus berarti hidup seperti Dia hidup. Jika tidak, berarti belum atau tidak percaya.
    Kenyataannya dewasa ini, ada pengajaran yang memudahkan keselamatan terjadi atau berlangsung dalam hidup orang Kristen. Hal ini adalah sebuah penyesatan yang sangat membahayakan bagi orang Kristen, mereka mengajarkan bahwa iman sejajar dengan pengaminan akali, dan menurut mereka yang sudah memiliki pengaminan akali tersebut, pasti sudah memiliki keselamatan atau masuk surga. Mereka juga mengajarkan bahwa selama hidup di bumi ini, orang-orang tersebut pasti diberkati dengan pemenuhan kebutuhan jasmani -dari kesembuhan, berkat materi dan lain sebagainya- dan nanti setelah mati, mereka berhak masuk ke dalam surga. Ini adalah jalan keselamatan yang mudah. Jalan keselamatan yang mudah bukanlah ajaran Injil yang benar dan murni.
    Pada dasarnya penolakan bangsa Israel atau sikap membantah -yang sama dengan memberontak- karena mereka mau membangun kebenarannya sendiri, yaitu kebenaran berdasarkan perbuatan (sesuai dengan hukum Taurat). Paralel dengan hal ini, banyak orang Kristen mau membangun kebenarannya sendiri. Mereka mau menjadi orang Kristen tanpa melepaskan percintaannya dengan dunia ini. Mereka berpikir, bahwa Tuhan tidak terganggu dengan gaya hidup yang menjadi standar mereka tersebut. Kekristenan yang mereka kenakan seperti itu adalah Kekristenan yang palsu. Itulah Kekristenan yang telah dimodifikasi dan dikawinkan dengan semangat dan gairah zaman ini. Jika hal tersebut berlangsung terus menerus, maka pada akhirnya mereka tidak akan dapat terlepas dari belenggu percintaan dunia, sehingga mereka tertawan oleh kuasa kegelapan sampai selamanya. Walaupun mereka Kristen, mereka bisa termasuk orang yang terbuang ke dalam api kekal.
    Meneguhkan penjelasan di atas, Paulus mengatakan: Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, seperti ada tertulis: “Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.” Dan Daud berkata: “Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perangkap, penyesatan dan pembalasan bagi mereka. Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk.” (Rm. 11:7-10). Satu hal yang dikemukakan Paulus dalam teks ini adalah bahwa menolak Yesus adalah sebuah pemberontakan atau yang sama dengan kejahatan. Dan orang yang dengan sengaja menolak Yesus, menjadi buta terhadap kebenaran.
    Bagi orang-orang Kristen sekarang, harus diketahui bahwa belum tentu dengan menganut agama Kristen dan pergi ke gereja, berarti seseorang sudah menerima Yesus dengan benar. Kalau orang-orang Kristen seperti ini tidak mengikuti jalan Tuhan, yaitu hidup seperti yang ditunjukkan Tuhan atau hidup seperti Diri-Nya, maka berarti orang-orang Kristen tersebut sama dengan menolak Yesus. Inilah orang-orang yang menerima agama Kristen, tetapi menolak Yesus. Bisa dimengerti, kalau di akhir zaman nanti Tuhan menolak orang-orang yang mengaku sudah memercayai Dia. Orang-orang yang ditolak oleh Yesus adalah orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa.
    Lebih tegas lagi Paulus mengemukakan bahwa pemberontakan dan penolakan seseora...
    0 min
  • Masih Ada Sisa-sisa Orang Setia
    Roma 11 tidak dapat dipisahkan dari Roma 10. Untuk masuk ke Roma 11, kita harus memperhatikan Roma 10, khususnya di ayat-ayat terakhir. Dalam Roma 10:20-21 tertulis: Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.” Tetapi tentang Israel ia berkata: “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.” Firman Tuhan mengatakan, bahwa Allah memberi Diri ditemukan oleh bangsa-bangsa di luar Israel yang tidak mencari Allah, karena memang mereka pada mulanya tidak mengenal Allah yang benar sama sekali. Sementara itu, bangsa Israel terus menerus tidak taat dan memberontak kepada Allah yang selalu menolong mereka.
    Kemudian Paulus mengatakan: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: “Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku. Tetapi bagaimanakah firman Allah kepadanya? “Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal” (Rm. 11:1-4).
    Paulus menjelaskan bahwa Allah tidak menolak umat-Nya. Di antara sekian banyak umat Israel yang tidak taat dan memberontak kepada Allah, pada zaman Paulus masih ada orang-orang yang percaya kepada Allah, untuk mengikuti jalan-Nya. Paulus sendiri orang Yahudi, dan orang-orang percaya lainnya juga ada yang berasal dari bangsa Yahudi. Mereka masih percaya kepada Tuhan dan hidup di dalam Injil-Nya. Hal ini seperti pada zaman Elia, ketika hampir semua bangsa Israel menyembah berhala, yaitu menyembah dewa Baal. Tidak ada seorang pun nabi yang benar. Selain nabi-nabi telah dibunuh dan mezbah-mezbah Tuhan diruntuhkan, juga tidak ada lagi nabi yang menganjurkan kebenaran kepada umat Israel. Semua nabi pada zaman itu adalah nabi-nabi palsu yang menyesatkan umat, agar umat menyembah baal. Tetapi Tuhan masih menyisakan seorang hamba Tuhan yang setia, yaitu Elia, seorang nabi yang benar. Tuhan juga masih menyisakan tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal.
    Kalau kebenaran ini diparalelkan dengan keadaan sekarang, di mana orang percaya dikepung di tengah-tengah manusia yang materialistis, tetapi orang percaya harus tetap berani berintegritas berdiri di jalan Tuhan. Materialisme adalah penyembahan berhala, seperti orang-orang Irsael pada zaman Elia, menyembah dewa Baal. Pada zaman Elia, banyak nabi-nabi yang benar telah dibunuh. Demikian pula hari ini, banyak hamba-hamba Tuhan yang dibunuh oleh semangat atau gairah materialisme dan berbagai pengaruh filosofi dunia yang jahat. Tidak banyak hamba Tuhan yang berani melawan arus, yaitu arus materialisme, yang juga menjadi berhala kehidupan banyak orang. Tetapi Tuhan pasti masih menyisakan hamba Tuhan yang berintegritas melawan pengaruh dunia yang sangat kuat, yaitu orang-orang yang berani berdiri di jalan Tuhan, walau untuk itu ia harus menderita.
    Orang-orang yang berani berintegritas di zaman sekarang ini dapat digambarkan seperti orang “bunuh diri”. Inilah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai kehilangan nyawa. Paulus mengatakan, bahwa inilah orang-orang yang mati bagi dunia dan hidup bagi kemuliaan Allah. Orang-orang yang kehilangan nyawa tersebut adalah orang-orang yang tidak akan terbunuh oleh dunia ini, sebab ia sudah membunuh dirinya sendiri. Dengan demikian, ia dapat mempersembahkan hidup sepenuhnya secara benar kepada Tuhan. Hanya orang yang kehilangan nyawa karena Yesus, yang bisa merasakan keindahan dan kesukaan di dalam Tuhan secara benar. Tentu saja orang-orang seperti ini rela berbuat segala sesuatu, apa pun dan bagaimanapun untuk Tuhan. Di aspek lain,
    0 min
  • Berpaling Kepada Bangsa Lain
    Hasil dari pemberitaan Firman yang dilakukan oleh orang-orang percaya di abad pertama tersebut, adalah jiwa-jiwa yang benar-benar diselamatkan, yaitu orang-orang yang bersedia patuh terhadap Injil. Mereka benar-benar bersedia memenuhi tuntutan dan tuntunan Injil, sehingga mereka juga rela kehilangan harta, keluarga, dan nyawa mereka sendiri. Orang-orang yang menerima Injil tersebut mengikuti pola hidup dari para pemberita Injil yang juga patuh terhadap Injil, dan yang bersedia hidup dalam tuntutan dan tuntunan Injil. Dalam kondisi yang sangat krisis, di mana orang percaya hidup dalam aniaya yang hebat, mereka sulit mengembangkan suatu teologi, selain teologi yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
    Dari Roma 10:17 kita peroleh pelajaran rohani, pada akhirnya pemberitaan Firman yang benar adalah pemberitaan Firman yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang diurapi. Zaman sekarang, semua orang bisa dengan mudah berkhotbah. Kuliah 4 tahun sudah bisa menjadi pengkhotbah yang cakap, apalagi kalau sudah bergelar Master Teologi atau Doktor Teologi. Tetapi pada zaman Roma, ketika Paulus masih hidup, hanya orang-orang yang berani mempertaruhkan hidupnya tanpa batas serta memperagakan kehidupan Yesus yang dapat memberitakan Injil. Itulah sebabnya jelas sekali, hanya orang-orang yang diurapi (seperti Kristus) yang menjadi saksi yang efektif bagi Tuhan.
    Segala sesuatu yang didengar oleh orang-orang yang belum mengenal Injil adalah segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan yang sudah barang tentu diperagakan oleh mereka. Jadi, orang-orang kafir atau orang yang tidak mengenal Allah, bisa menjadi percaya dengan mematuhi tuntutan dan tuntunan Injil, sehingga mereka juga bisa memiliki kehidupan seperti yang diperagakan oleh Tuhan Yesus, karena mendengar yang diajarkan dan diperagakan oleh orang-orang percaya yang menjadi saksi (Rm. 10:14-16). Dengan demikian, iman orang pada waktu itu timbul dari pemberitaan orang-orang yang diurapi oleh Tuhan. Hal ini bertalian dan diteguhkan oleh ayat-ayat sebelumnya, misalnya dari Roma 10:14-15 – Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”
    Selanjutnya Paulus menulis: Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: “Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi (Rm. 10:18).Tidak ada alasan orang mengatakan bahwa dirinya tidak mendengar Firman Kristus, sebab Firman diperdengarakan sampai ke ujung bumi. Memang pada dasarnya mereka tidak mau mematuhi Injil, maka mereka menolaknya. Perhatian mereka hanya kepada kesenangan duniawi, maka mereka tidak dapat patuh terhadap Injil atau tidak bersedia hidup dalam tuntutan dan tuntunan Injil, sehingga mereka tidak memiliki kehidupan yang berpadanan dengan Injil. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: “Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal.” (Rm. 10:19).
    Karena bangsa Israel menolak Injil, maka Allah berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Dalam hal ini jelas dikatakan dalam Roma 10:20-21: Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.” Tetapi tentang Israel ia berkata: “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.” Tuhan tidak memaksa seseorang menerima Injil dengan benar atau menolaknya. Kalau menolak Injil, sudah pasti Tuhan membuang orang-orang yang menolak Injil,
    0 min
  • Logos Dan Rhema
    Dalam Roma 10:17, terdapat kalimat yang sangat populer dan sangat penting bagi orang percaya. Kalimat itu adalah: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Kata “jadi”, menunjuk atau adanya hubungan dengan ayat atau kalimat sebelumnya. Kalimat sebelumnya berbicara mengenai percaya kepada Yesus, yang membawa kepada pemulihan dalam kehidupan orang-orang yang patuh kepada Injil dan yang berani menderita karena Injil. Dengan demikian, orang-orang percaya yang memberitakan Injil, memberitakan bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan dan keadaan konkret. Kehidupan orang percaya seperti itu adalah kehidupan seorang saksi Kristus, memenuhi yang diamanatkan Tuhan Yesus sebelum kenaikan-Nya (Kis. 1:8). Seorang saksi Kristus harus menyatakan kehidupan Tuhan atau Guru yang disaksikan dalam hidupnya, bukan hanya di dalam perkataannya. Harus diingat pada waktu itu, Alkitab Perjanjian Baru belum terbentuk. Injil yang tertulis belum lengkap menjadi satu kesatuan. Bahkan yang pasti Injil Yohanes belum ditulis, atau mungkin juga Injil yang lain. Injil disampaikan secara lisan dengan perkataan dan perbuatan.
    Perkataan mengenai apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, dan perbuatan memenuhi yang diajarkan Injil itulah yang didengar dan dilihat oleh orang-orang. Orang bisa mematuhi isi Injil atau beriman karena mendengar apa yang dikatakan, dan melihat apa yang diperagakan oleh orang percaya, di dalamnya termasuk Paulus sebagai saksinya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa iman timbul dari pendengaran. Kata “iman” dalam teks ini adalah pistis (πίστις), kata kerjanya adalah piesteuoo (πιστεύω), yang artinya menyerahkan diri kepada obyek yang dipercaya. Adapun kata “pendengaran” adalah akoe (ἀκοή) yang berarti “sesuatu yang didengar, dikhotbahkan, dan dilaporkan”. Kehidupan orang percaya yang menjadi saksi adalah kehidupan yang memperdengarkan, mengkhotbahkan, atau melaporkan apa yang mereka ketahui dan mereka lihat. Tentulah mereka yang menjadi saksi, bukan hanya menyajikan perkataan yang diperdengarkan atau dikhotbahkan, tetapi juga menunjukkan hidup yang menjadi kesaksian bagi semua orang.
    Pendengaran oleh Firman Kristus. Ada hal-hal yang menarik dari kalimat dalam ayat ini. Dalam teks aslinya dalam salah satu terjemahan bahasa Yunani berbunyi: Ara he pistis eks akoes, he de akoe dia rhematos Khristos (ἄρα ἡ πίστις ἐξ ἀκοῆς, ἡ δὲ ἀκοὴ διὰ ῥήματος Χριστοῦ). Dalam terjemahan bahasa Yunani versi lain diterjemahkan: Ara he pistis eks akoes, he de akoe dia rhematos theou (Ἄρα ἡ πίστις ἐξ ἀκοῆς, ἡ δὲ ἀκοὴ διὰ ῥήματος θεοῦ). Salah satu terjemahan menggunakan kata Firman Kristus, tetapi di terjemahan lain menggunakan kata Firman Theos. Bagaimana memecahkan masalah ini?
    Kita mulai dulu dengan memecahkan pengertian kata Firman. Kata Firman dalam ayat ini adalah Rhema, bukan Logos. Logos yang terkait atau dalam konteks suara Tuhan, adalah Firman dalam pengertian pengetahuan atau filosofi. Sedangkan Rhema adalah Firman dalam pengertian suara Tuhan yang diterima dalam suatu situasi konkret. Kata “Kristou” dari salah satu terjemahan bahasa Yunani (versi pertama) artinya yang diurapi. Kata Kristus menunjuk kepada sosok Pribadi yang diurapi. Kata Kristus dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menggunakan huruf besar, tetapi dalam teks aslinya tidak ada perbedaan. Jadi, tidak tertutup kemungkinan, kata Kristus menunjuk kepada Pribadi Kristus, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan menunjuk orang-orang yang diurapi yang menyampaikan Firman Theos dari Rhema yang diperoleh dari Tuhan Yesus.
    Mengapa Roma 10:17 tidak menggunakan kata Logos? Sebab Logos adalah pengetahuan yang berasal atau dimiliki oleh Tuhan. Allah Anak atau Yesuslah Sang Logos. Rhema dalam Roma 10:17 adalah suara Tuhan atas “orang-orang yang diurapi”, yang kemudian disampaikan kepada bangsa-bangsa kafir atau orang -orang tidak mengenal Allah. Harus diingat bahwa pemberitaan Firman (Rhema) oleh para rasul atau orang Kristen mula-mula ad...
    0 min
  • Berpadanan Dengan Injil
    Dalam Roma 10:16 Firman Tuhan tertulis: Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Kata “menerima” dalam teks aslinya adalah hupekousan (ὑπήκουσαν), dari akar kata hupakuoo (ὑπακούω), yang sebenarnya artinya adalah mematuhi (obey) dan mengikuti (follow). Dalam pemberitaan Firman yang disampaikan oleh Paulus, ternyata ada atau bisa banyak orang yang tidak menerima kabar baik, atau yang sama dengan menolak Injil. Tidak menerima kabar baik berarti “tidak patuh” terhadap Injil. Pada zaman Paulus, Paulus merasa dan melihat betapa sulitnya orang menerima Injil. Hal ini, bukan hanya terjadi pada orang-orang yang jelas-jelas menentang Injil atau melawan dan mengadakan perlawanan terhadap Injil, yang mengakibatkan penderitaan orang-orang Kristen. Tetapi juga terjadi pada orang-orang yang tidak secara langsung melawan atau menentang Injil, mereka yang berkeadaan seakan-akan tidak menolak Injil, tetapi sebenarnya mereka tidak mematuhi Injil.
    Tidak mematuhi Injil artinya tidak hidup sesuai dengan tuntutan, dan tuntunan Injil atau tidak mengikuti (follow) jalan yang Injil tunjukkan. Hal ini sebenarnya berarti juga penolakan terhadap Injil. Jadi, penolakan terhadap Injil, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang menentang Injil, tetapi juga terjadi atas orang-orang Kristen yang tidak all out atau sepenuh hati hidup bagi Tuhan dengan memenuhi tuntutan dan tuntunan Injil. Sekilas mereka kelihatan menjadi orang Kristen yang menerima Injil, padahal sebenarnya mereka menolak Injil. Hal ini dibuktikan dengan kehidupan mereka yang tidak patuh terhadap Injil. Mereka tidak bersedia memenuhi tuntutan dan tuntunan Injil.
    Dari tulisan Paulus ini, kita memperoleh pelajaran rohani bahwa menerima Injil bukan sesuatu yang sederhana. Penerimaan terhadap Injil harus disertai dengan “kepatuhan terhadap Injil”, sebab Injil memiliki tuntutan yang harus dipenuhi. Injil bukan sekadar dipercayai di dalam nalar atau pikiran, tetapi dipahami isinya dan dituruti tuntutan dan tuntunannya. Inilah yang disebut sebagai mematuhi (obey) Injil. Itulah sebabnya dalam surat yang ditulis Paulus kepada jemaat Filipi, Paulus mengatakan agar hidup orang percaya berpadanan dengan Injil (Flp. 1:27, Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus... Kata “berpadanan” dalam teks aslinya adalah aksios (ἀξίως). Kata ini juga berarti cocok (suitably) dan pantas atau layak (worthily).
    Orang percaya harus bersikap benar terhadap Injil, agar layak sebagai orang yang mengaku telah menerima Injil. Demikianlah, Injil bukan hanya menjadi berita, tetapi menjadi peragaan orang yang benar-benar telah menerima Injil. Hal tersebut dapat dilihat dan dirasakan orang lain. Orang-orang yang menerima Injil atau mematuhi (obey) Injil adalah orang-orang yang pasti memiliki kehidupan seperti Yesus. Mereka bisa berkata: Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Mereka inilah yang dapat menjadi saksi Kristus dengan efektif dan memiliki kehidupan yang diurapi seperti Yesus Kristus.
    Tidak menerima Injil sama dengan tidak percaya secara benar. Hal ini dikemukakan Paulus, ketika Paulus menghubungkan penolakan orang pada zamannya dengan orang-orang Israel pada zaman Yesaya. Dalam hal ini ada benang merah yang dapat kita temukan. Pada zaman Yesaya, keadaan bangsa Israel sedang terpuruk. Tuhan berulang-ulang memberi peringatan agar bangsa Israel kembali kepada Tuhan, agar Tuhan dapat memulihkan kembali keadaan hidup mereka, tetapi bangsa Israel menolaknya. Pada akhirnya bangsa Israel mengalami keterpurukan, dan mereka menjadi bangsa yang ditaklukkan musuh serta hidup dalam pembuangan. Hal ini sejajar dengan keadaan manusia pada zaman Paulus, banyak orang tidak mau percaya kepada Yesus. Padahal Tuhan hendak memulihkan hidup mereka. Dalam hal ini, sebenarnya, tidak percaya pada dasarnya sama dengan menolak untuk dipulihkan versi Tuhan.
    0 min
  • Kerinduan Membagi Injil
    Paulus menegaskan bahwa orang yang berseru atau memanggil Yesus sebagai Tuhan, yang karenanya mereka teraniaya, akan membuahkan keselamatan (Rm. 10:13). Kata “berseru” dalam teks aslinya adalah epikaleomai (επικαλεομαι), yang juga bisa berarti appeal (an urgent request for something important), menyampaikan permintaan yang mendesak kepada Tuhan untuk sesuatu yang penting. “Orang yang berseru” menunjukkan kepada orang yang sedang dalam keadaan berkebutuhan khusus. Kalau dikaitkan dengan keadaan orang Kristen pada waktu itu, orang yang berseru kepada Tuhan adalah orang-orang Kristen yang menderita aniaya karena nama Yesus atau karena beriman kepada Yesus.
    Dalam atmosfer pikiran Paulus, memercayai Yesus adalah keuntungan atau keunggulan. Walau harus disertai dengan aniaya dan penderitaan. Itulah sebabnya Paulus merindukan orang-orang juga bisa berkeadaan seperti dirinya dan orang-orang percaya yang menderita aniaya. Keadaan menderita karena aniaya tersebut, sebenarnya membuat orang percaya menjadi lebih mulia dan unggul daripada mereka yang tidak memiliki keadaan tersebut. Karenanya Paulus mempersoalkan bagaimana Injil bisa didengar sebanyak mungkin orang, agar mereka mendengar Injil dan diselamatkan (Rm. 10:14). Paulus juga memuji orang-orang yang mau memberitakan Injil. Dalam tulisannya Paulus menyatakan, betapa indahnya jejak langkah orang yang memberitakan Injil (Rm. 10:15).
    Kerinduan atau keinginan Paulus agar orang lain mendengar Injil, merupakan satu hal yang sukar dimengerti, sebab mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan, kemudian menjadi orang Kristen pasti akan menderita aniaya. Secara tidak langsung, pemberitaan Injil yang dilakukan Paulus sama dengan mengajak orang untuk menderita. Tidak mudah orang bersedia menerima Injil, yang justru membuat mereka menderita aniaya di bumi ini. Biasanya atau pada umumnya, tidak ada orang yang mau hidup menderita. Betapa sulitnya pemberitaan Injil seperti ini.
    Pemberitaan Injil pada zaman gereja mula-mula pasti pemberitaan Injil yang murni. Injil diberitakan hanya untuk mengajak orang beriman dengan benar kepada Yesus, artinya memiliki hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, seperti Abraham hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Ini sama artinya dengan hidup dalam ketaatan kepada Allah dalam segala hal, sehingga dapat hidup dalam kesucian dan kekudusan. Injil diberitakan dengan menyertakan pengharapan kedatangan Tuhan Yesus, kebangkitan dari antara orang mati dan selanjutnya tinggal di rumah Bapa. Inilah Injil yang diberitakan tanpa jaminan untuk hidup nyaman di bumi sekarang ini.
    Injil yang murni ini adalah Injil penderitaan, bukan Injil kemakmuran duniawi atau kemakmuran materi di bumi. Injil yang benar menawarkan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, sebagai anggota keluarga Kerajaan, tetapi harus memikul salib yaitu menderita bersama dengan Yesus. Ini berarti harus melepaskan segala sesuatu atau kehilangan nyawa demi iman kepada Yesus. Tentu saja Injil seperti ini, pada waktu itu, hanya bisa diberitakan oleh orang-orang yang telah menang melawan penderitaan aniaya kekaisaran Roma, yaitu mereka yang bersedia setia sampai mati, walaupun di bumi ini mereka tidak hidup dalam kenyamanan. Kalau orang percaya belum menghayati Injil yang murni pada zaman itu, dan belum mengalami penderitaan bersama Tuhan, pasti tidak akan bisa memberitakan Injil yang murni atau Injil yang benar.
    Hal ini sangat berbeda dengan pemberitaan Injil zaman sekarang. Di zaman ini, Injil diberitakan tanpa resiko dan konsekuensi; sebaliknya, Injil diberitakan dengan janji berkat, mukjizat, dan berbagai jalan keluar dari masalah hidup secara umum. Tentu saja pemberitaan atau pengajaran mengenai hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah seperti Abraham yang menghasilkan kesucian, tidak mendapat porsi pemberitaan yang proporsional. Injil yang diberitakan adalah Injil tanpa pengharapan yang kuat terhadap kedatangan Tuhan dan kebangkitan dari antara orang mati.
    0 min
  • Hidup Karena Percaya
    Orang percaya diajar untuk menaruh atau meletakkan seluruh pengharapannya bukan pada kehidupan hari ini, tetapi kehidupan yang akan datang. Itulah sebabnya, Paulus juga bisa mengatakan: — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat — (2Kor. 5:7). Fokus hidup orang percaya bukan pada kehidupan hari ini, tetapi pada kehidupan di dunia lain, di langit baru dan bumi yang baru. Dengan demikian, penderitaan yang mereka alami tidak menjadi sesuatu yang menyakitkan, sampai membuat mereka menyangkali imannya. Justru penderitaan yang mereka alami, merupakan nilai lebih dalam kehidupan ini, yang membuat mereka menjadi mulia atau terhormat.
    Pengharapan memperoleh kemuliaan di balik kehidupan tersebut, membuat mereka menjadi teguh dan kokoh dalam menghadapi segala tantangan yang begitu berat. Hal ini berbeda dengan orang-orang Kristen duniawi, yang tidak menaruh pengharapannya kepada kehidupan yang akan datang; mereka tidak akan sanggup menghadapi tantangan seperti yang dialami gereja mula-mula. Maka tidak heran sekarang pun di zaman ini, orang-orang Kristen seperti itu tidak sanggup menghadapi serbuan pengaruh materialisme dan berbagai godaan untuk berbuat dosa.
    Dalam Roma 10:10 (ayat sebelumnya) telah dijelaskan bahwa orang percaya menghadapi tantangan atau musuh dalam bentuk kekuatan dari kekaisaran Romawi, yang menyiksa dan menganiaya mereka secara fisik. Tetapi orang percaya pada waktu itu, tetap kuat dan benar-benar dapat mengalahkan pergumulan mereka dalam aniaya tersebut dengan kesetiaan yang tinggi kepada Tuhan Yesus, sehingga mereka dapat setia sampai mati. Orang-orang Kristen tersebut tidak takut menderita, tidak takut menjadi miskin, dan terhina oleh kekuatan Roma.
    Dengan keteguhan hati melawan tantangan, orang-orang Kristen tersebut barulah menjadi pemenang dan dapat dikatakan sebagai pemenang. Pemenang di sini maksudnya adalah orang percaya dapat menanggulangi tantangan dalam bentuk aniaya dan berbagai penderitaan, tanpa mengorbankan iman mereka, sebaliknya mereka malah menjadi semakin sempurna atau iman mereka semakin murni. Dengan demikian aniaya yang mereka harus alami, menjadi berkat kekal bagi mereka. Penderitaan karena nama Yesus membuat mereka berhenti berbuat dosa (1Ptr. 4:1) dan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17).
    Demikian pula seharusnya dengan orang percaya pada zaman sekarang. Orang percaya hari ini menghadapi tantangan atau musuh bukan dalam bentuk aniaya fisik, tetapi kekuatan materialisme dan godaan atau bujukan berbuat dosa. Orang percaya harus menang melawan tantangan pada zaman ini. Untuk bisa menang, maka:

    * Orang percaya seharusnya tidak takut menjadi miskin, tidak takut dianggap tidak mulia atau tidak terhormat karena tidak memiliki barang-barang dunia fana.
    * Orang percaya seharusnya tidak takut menjadi orang yang tidak memiliki kebahagiaan dari dunia ini.
    * Orang percaya harus berani tidak menjadi kaya demi kebenaran dan kesucian hidup
    * Orang percaya harus berani tidak menikmati dunia dengan segala kesenangannya.
    * Orang percaya harus berani menolak dosa, walaupun ia merasakan ada sesuatu yang hilang di dalam daging dan jiwanya.

    Dengan demikian orang percaya bisa menjadi pemenang dan dapat dikatakan sebagai pemenang.
    Akhir-akhir ini banyak orang Kristen dengan mudah mengklaim bahwa mereka adalah umat pemenang. Mereka sebenarnya tidak tahu yang dimaksud dengan menjadi umat pememang itu. Dalam ketidaktahuan atau dalam kebodohan mereka menyatakan hal tersebut. Kalau hal ini berlangsung berlarut-larut, maka orang Kristen membiasakan diri menyatakan sesuatu yang tidak dipahaminya. Hal ini membangun kebiasaan memiliki iman fantasi. Iman fantasi ini, menciptakan iman khayalan yang membuat seseorang tidak mengenal dirinya sendiri dengan benar. Betapa mengerikan keadaan ini, kalau suatu hari ternyata mereka tidak dikenal oleh Tuhan,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…