Di ayat selanjutnya Paulus mengatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (Rm. 9:30-33). Di dalam tulisannya ini Paulus menegaskan ulang, bahwa pembenaran atas manusia terjadi bukan karena perbuatan baik yang berdasarkan Taurat atau hukum, tetapi berdasarkan iman.
Orang Yahudi harus menerima realitas, bahwa kebanggaan sebagai umat pilihan secara darah daging karena anak Abraham, tidak lagi memiliki legitimasi dibanding dengan pembenaran oleh korban Tuhan Yesus di kayu salib, yaitu bagi mereka yang mendengar Injil. Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa hal menjadi umat pilihan secara darah daging (bangsa Israel) adalah penentuan Tuhan berdasarkan kedaulatan-Nya, tetapi keselamatan abadi untuk menjadi “anak Israel” berdasarkan iman tergantung dari respon dan tanggung jawab setiap individu.
Kebenaran oleh hukum yang diupayakan oleh bangsa Israel, mewakili pola keberagamaan agama-agama Samawi pada umumnya, tidak akan membuat mereka menerima dan memiliki keselamatan atau dibenarkan. Hanya iman kepada Yesus yang membuat seseorang memperoleh pembenaran atau diselamatkan. Tanpa Yesus, tidak ada seorang pun dapat dibenarkan, sebab kalau tidak ada “yang memikul dosa manusia”, maka manusia sebaik apa pun pasti binasa. Jika Yesus tidak menebus dosa, maka tidak perlu lagi ada penghakiman, karena semua manusia otomatis masuk neraka tanpa ada yang dapat menahan. Tetapi dengan adanya Yesus yang memikul dosa manusia, maka ada penghakiman kepada semua orang. Di sini ada peluang seseorang masuk dunia yang baik sebagai anggota masyarakat, maupun sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga.
Sesungguhnya darah binatang tidak dapat menghapus dosa manusia. Allah adalah Allah yang memiliki tatanan. Dosa yang dilakukan di dalam daging manusia, hukumannya harus ditimpakan pada daging manusia juga. Dalam hal ini pengganti manusia yang harus dihukum adalah mutlak harus diadakan. Yesuslah sebagai Anak Domba Allah yang memikul hukuman dosa akibat pemberontakan manusia. Jalan ke surga melalui korban Kristus adalah jalan yang benar sesuai dengan prinsip keadilan Tuhan. Inilah kebenaran yang diajarkan Alkitab (Yoh. 1:29; Kis. 4:12).
Kebenaran oleh hukum yang diupayakan bangsa Israel yang beragama Yahudi, mewakili agama Samawi pada umumnya, tidak membawa seseorang kepada kesempurnaan di mana manusia dapat dikembalikan segambar dan serupa dengan Allah yang modelnya adalah Yesus. Jalan hidup mereka adalah jalan hukum. Tetapi Kekristenan adalah jalan Tuhan, bagaimana seseorang memiliki karakter Tuhan di dalam hidupnya. Itulah sebabnya orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Kenyataannya, sungguh pun bangsa Israel sudah mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu, artinya mereka tidak akan dapat melakukan hukum dengan sempurna. Hanya kasih karunia dan anugerah dalam Yesus Kristus yang mampu membawa kehidupan tak bercacat dan tidak bercela atau sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48).
Fenomena ini dapat digambarkan seperti sebuah batu sandungan. Paulus menyatakan: Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (Rm. 9:32-33). Bagi bangsa Israel, keselamatan dalam Yesus Kristus yang mereka tolak dengan berbagai alasan da...