Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Buta Terhadap Injil
    Perbuatan baik yang kita lakukan, dan moral agung yang orang percaya ekspresikan, bisa membuat orang yang menolak Injil tidak menghujat Tuhan Yesus dan memusuhi-Nya. Ini penting sekali, sebab kalau sampai seseorang menghujat Tuhan Yesus, pasti binasa. Kalau seseorang, walau bukan orang Kristen, tetapi jika tidak memusuhi Tuhan Yesus, bisa ada kemungkinan ia dihakimi menurut perbuatan. Dengan demikian masih ada kesempatan baginya untuk menjadi anggota masyarakat di langit baru dan bumi yang baru nanti. Terkait dengan hal ini Yesus berkata: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”(Luk. 9:50). Pengertian “di pihak orang percaya”, belum tentu menjadi orang percaya atau menjadi orang Kristen. Mereka yang dikategorikan di pihak orang percaya ini, pasti orang-orang baik yang memiliki toleransi tinggi dan kasih kepada sesama. Mereka masih berkesempatan menjadi anggota masyarakat dalam Kerajaan Tuhan Yesus nanti.
    Jika mengamati sikap atau respon orang-orang Yahudi pada abad pertama terhadap Yesus, sangat sedikit mereka yang bersikap baik terhadap Yesus dan pengikut-Nya. Mereka sengaja memusuhi dan mendatangkan penderitaan bagi orang percaya. Bahkan mereka berusaha untuk memunahkan Kekristenan. Inilah yang membuat mereka tidak pernah mengenal keselamatan dan diselamatkan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa lebih baik mereka tidak pernah mendengar Injil, daripada mendengar Injil tetapi menolak-Nya (Yoh. 9:41- Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”). Keadaan bangsa Israel yang menolak Tuhan Yesus membuat Paulus menangisi mereka, dan bersedia dijauhkan dari Kristus, dan terkutuk demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya (Rm. 9:1-3). Itulah sebabnya Paulus bekerja keras untuk keselamatan bangsanya, sampai ia sendiri tidak menghiraukan nyawanya.
    Kata “buta” dalam Yohanes 9:41 artinya tidak mendengar Injil sama sekali atau salah mendengar Injil. Faktanya orang-orang Yahudi pada zaman Yesus mendengar kebenaran secara langsung dari Yesus, tetapi sengaja memusuhi-Nya, maka mereka pasti binasa. Di dunia ini, juga di Indonesia, banyak orang tidak mendengar Injil, tetapi lebih banyak yang salah memahami Injil sehubungan dengan pemberitaan mengenai Yesus yang salah. Keadaan orang-orang seperti ini -sama dengan “buta” yang dimaksud oleh Yesus- mereka tidak bisa dituntut untuk percaya dan tidak bisa dipersalahkan kalau mereka tidak percaya kepada Yesus. Mereka tidak termasuk umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa (Rm. 8:28-29; Mat. 5:48).
    Kita harus menerima kenyataan bahwa orang-orang seperti mereka ini, tidak terpilih atau tidak ditunjuk sebagai umat pilihan. Orang-orang seperti mereka ini, telah terpasung dalam keadaan tidak mampu menangkap berita Injil. Berbeda dengan murid-murid Yesus yang memang dikondisi menjadi umat pilihan, seperti Petrus, Yakobus, Yohanes, dan lain sebagainya. Kepada mereka ini Tuhan Yesus menyatakan: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman (Yoh. 6:44). Kalau seandainya Petrus menjadi Herodes, atau salah satu bangsawan Roma atau salah satu imam kepala, belum tentu ia menjadi pengikut Yesus. Orang-orang yang terpilih ini dikatakan oleh Firman Tuhan sebagai ditarik oleh Bapa. Kata ditarik dalam bahasa aslinya adalah helkuse (ἑλκύσῃ), dari akar kata helko (ἕλκω), yang memiliki kasus keterangan kata kerja subjunctive, yang artinya lebih bersifat diharapkan, bukan sengaja (active) ditarik. Mereka yang ditarik oleh Bapa berpotensi mengalami proses keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula dan nanti di akhir zaman akan dibangkitkan.
    Tanpa pengertian yang benar terhadap kebenaran, membuat seseorang atau sebuah komunitas tidak akan pernah menemukan kebenaran Allah. Sampai pada stadium tertentu,
    0 min
  • Keselamatan Hanya Pada Dia
    Paulus memulai tulisannya dalam Roma 10:2-3 sebagai berikut: Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Penting untuk memahami kalimat “mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar”. Banyak orang yang memiliki kerinduan untuk giat di dalam hal agama atau Tuhan, tetapi tidak memiliki pengertian yang benar. Karena mereka tidak mengenal kebenaran Tuhan, dan oleh karena mereka membangun kebenaran sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran-Nya. Kebenaran Tuhan adalah jalan keselamatan di dalam atau melalui Yesus Kristus. Tidak takluk kepada kebenaran Tuhan, berarti menolak jalan keselamatan yang diajarkan oleh Injil. Ini juga berarti mereka menolak Injil.
    Secara umum, ada dua kesalahan yang terjadi pada banyak orang di luar orang percaya, sehingga mereka tidak dapat menerima jalan keselamatan yang diajarkan Injil (yang sama dengan tidak takluk kepada kebenaran Tuhan), yaitu: Pertama, mereka tidak mengenal kebenaran. Kedua, mereka membangun kebenarannya sendiri. Dua hal tersebut berkaitan, kalau seseorang tidak mengenal kebenaran pasti berusaha membangun kebenarannya sendiri. Jika kebenaran yang dibangun sendiri semakin kuat atau kokoh, maka mereka tidak dapat diubah lagi. Inilah yang membuat banyak orang di luar orang percaya tidak akan pernah bisa menerima Injil. Ini berarti mereka tidak pernah digarap Roh Kudus untuk dikembalikan ke rancangan semula. Ini bukan berarti mereka pasti akan menjadi jahat atau tidak beradab seperti hewan, tetapi mereka tidak pernah menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Kepada orang-orang seperti ini, kita tidak dapat memaksa mereka menjadi orang percaya atau menjadi orang Kristen. Jangankan kita sebagai manusia, Tuhan pun tidak memaksa. Itulah sebabnya kepada orang-orang atau kota yang menolak Injil, Yesus berpesan agar orang percaya mengebaskan debu dari kaki mereka (Mat. 10:14). Tindakan mengebaskan debu dari kaki dan meninggalkan komunitas yang menolak Injil dilakukan oleh Paulus dan Barnabas (Kis. 13:51; 18:6). Hal ini jelas menunjukkan, bahwa ada komunitas di sebuah keluarga atau komunitas sebuah kota yang akan menolak Injil, dan mereka memang tidak pernah diselamatkan. Mereka menolak Injil bukan karena tidak ditentukan selamat oleh Tuhan, tetapi karena kehendak bebas mereka dalam meresponi Injil. Sehingga mereka tidak pernah mengenal pengalaman keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan semula Tuhan. Namun perlu ditambahkan satu catatan: Tidak dikembalikan ke rancangan semula bukan berarti masuk neraka, tetapi kemungkinan paling baik adalah hanya menjadi anggota masyarakat di langit baru dan bumi yang baru nanti. Adapun mereka yang diselamatkan karena meresponi Injil dengan benar, dan mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar, akan menjadi anak-anak bagi Bapa, dan terhisap dalam anggota keluarga Kerajaan Surga.
    Dari penjelasan di atas, nampak seakan-akan Tuhan tidak berdaya menyelamatkan mereka yang ada di luar orang percaya. Tetapi inilah faktanya, kuasa kegelapan membangun kekuatan antikris, berusaha untuk menentang kebenaran Injil. Pada intinya, hal tersebut diusahakan agar manusia tidak bisa mengakui Yesus. Mereka tidak akan pernah bisa menerima Yesus sebagai Tuhan serta menyambut-Nya sebagai Juruselamat. Untuk itu mereka harus membangun kebenaran lain. Kebenaran lain bukan berarti selalu berupa suatu ajaran yang mendorong manusia melakukan kebejatan. Tetapi mengajarkan sesuatu yang “mengesankan” bahwa ajaran mereka adalah kebenaran, menjanjikan berkat jasmani, pemeliharaan, dan perlindungan-Nya di bumi, bahkan janji masuk surga, tetapi tidak membawa manusia kepada maksud keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    0 min
  • Pengertian Doa Perjanjian Baru
    Selanjutnya kita membedah kata berdoa dalam Roma 10:1. Adapun kata berdoa dalam bahasa aslinya dalam ayat ini adalah deesis (δέησις), yang artinya juga kebutuhan (need), keinginan (want), fakir miskin (indigent), kekurangan (privation), permintaan (asking), pencarian (a seeking), permohonan (entreating, supplication, request) yang sama dengan permintaan kepada Tuhan (prayer).
    Sangat penting untuk memahami pengertian doa dalam kehidupan orang percaya. Doa dalam kehidupan orang percaya tidak sama dengan pengertian doa dalam agama-agama pada umumnya, bahkan tidak sama dengan doa dalam agama Yahudi atau umat Perjanjian Lama. Dalam kehidupan Perjanjian Baru, dimana setiap individu menerima materai Roh Kudus, berdoa bukan sekadar permintaan, tetapi doa adalah berdialog. Mengapa? Sebab umat Perjanjian Baru adalah umat yang harus mengerti segala sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan. Itulah sebabnya orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Dengan demikian doa dalam Kekristenan tidak sederhana, harus disertai dengan pembaharuan pikiran setiap hari, sehingga seseorang dapat mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Dalam hal ini, idealnya orang percaya tidak sembarangan menyampaikan permintaan kepada Tuhan. Orang percaya harus menggumuli semua keinginannya di hadapan Tuhan dalam dialog, sebelum menyampaikannya sebagai permintaan kepada Tuhan.
    Aspek lain dalam doa, orang percaya yang adalah milik Tuhan secara penuh, tidak berhak lagi memiliki keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita suatu prinsip: Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Maksud prinsip ini adalah bahwa kita hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dengan demikian, idealnya orang percaya yang dewasa harus sadar, bahwa dirinya tidak berhak meminta sesuatu kepada Tuhan jika permintaan tersebut di luar kehendak dan rencana-Nya.
    Akhirnya, di dalam doa, seseorang memiliki tanggung jawab untuk melakukan sesuatu sesuai dengan isi doa tersebut, tentu jika isi doa tersebut sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Seperti misalnya dalam Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami bukan formula kalimat doa yang memuat permintaan-permintaan dari keinginan agar terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan. Tetapi di dalam doa tersebut ada panggilan untuk dipenuhi. Kalau dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat: “Dipermuliakan nama-Mu”, berarti orang percaya dipanggil untuk memuliakan nama-Nya. Kalimat “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu…” memuat panggilan agar kita menghadirkan Kerajaan-Nya, dan melakukan kehendak Bapa. Kalimat “berikanlah kami makanan kami…” berarti kita harus pergi bekerja mencari nafkah.
    Demikian pula dengan doa Paulus agar bangsanya diselamatkan. Ini berarti Paulus harus bekerja dan berjuang untuk keselamatan bangsanya. Jadi tidak heran kalau ia berani mengatakan bahwa ia rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudara, kaum sebangsanya secara jasmani. Dalam kehidupan Paulus kita melihat usahanya dan perjuangannya yang luar biasa demi keselamatan orang lain.
    Dalam salah satu kesaksiannya, ia mengatakan: Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: … dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku ...
    0 min
  • Keselamatan Perjanjian Baru
    Paulus memulai tulisannya dalam Roma 10 dengan kalimat: Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan. Kalimat ini kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya pengertiannya sangat pelik. Persoalannya adalah apakah doa bisa mengubah keadaan? Bagaimana hubungannya dengan tatatanan Tuhan mengenai kehendak bebas manusia? Untuk itu kita perlu membedah ayat Roma 10:1 ini. Kata keinginan hatiku dalam bahasa aslinya adalah eudokia (εὐδοκία), yang artinya selain keinginan juga berarti pilihan (choice), kehendak yang baik atau kebajikan (good will, kindly intend, benevolent), juga berarti kerinduan (desire), kesenangan (delight, pleasure) dan kepuasan (satisfaction).
    Paulus adalah sosok hamba Tuhan yang melayani Tuhan dengan sikap hati yang benar. Sikap hati tersebut nampak dari kerinduannya untuk menyelamatkan bangsanya. Kerinduan itu yang dapat memuaskan dirinya yang juga merupakan kebutuhannya, seakan-akan ia merasa sebagai orang miskin atau berkekurangan Dalam hal tersebut kemiskinan dan kekurangannya adalah keselamatan bangsanya. Kata “keinginan” dalam Alkitab bahasa Indonesia sebenarnya belum kuat. Kata “kerinduan” lebih kuat dari kata “keinginan”. Paulus merindukan agar bangsanya dapat diselamatkan.
    Keselamatan di sini artinya bangsanya benar-benar mengenal maksud kedatangan Mesias, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula, sehingga serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Hal ini lebih dari sekadar menjadi orang beragama Kristen, atau menjadi anggota gereja. Paulus bisa memiliki kerinduan ini, sebab dirinya benar-benar telah memiliki pengalaman keselamatan yang benar. Pengalaman keselamatan yang benar ini menggerakkan dirinya mengajak orang lain untuk memiliki pengalaman yang sama. Jika seorang pelayan jemaat tidak memiliki pengalaman yang benar dalam keselamatan, maka keinginannya membawa orang lain beragama Kristen, atau masuk gereja hanya sekadar agar mereka menjadi orang yang beragama Kristen, dan menjadi anggota gerejanya. Tidak sedikit dari mereka, di balik keinginannya tersebut ada hasrat untuk kebesaran nama gereja, dirinya, dan keuntungan materi.
    Kerinduan Paulus yang sangat kuat demi keselamatan bangsanya, sampai ia menyatakan suatu pernyataan yang luar biasa demikian: Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani (Rm. 9:1-3). Jika seorang pelayan Tuhan memiliki pengalaman keselamatan yang benar, maka ia bersedia berkorban apa pun demi keselamatan orang lain. Tentu keselamatan yang benar. Tidak heran kalau orang-orang seperti ini rela bekerja keras demi pekerjaan Tuhan tanpa menuntut upah. Dalam satu pernyataannya, Paulus mengatakan bahwa upahnya adalah ia boleh bekerja tanpa upah (Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil – 1Kor. 9:18).
    Dari penjelasan di atas ini, kita memperoleh pelajaran yang sangat mahal. Kalau sekarang ini kita menjumpai banyak pelayanan, atau kegiatan gereja yang bertendensi kepada kepentingan materi, dan kebanggaan-kebanggan lahiriah, hal itu disebabkan karena pelayan-pelayannya tidak mengenal dan mengalami keselamatan yang benar. Pada dasarnya, mereka belum diselamatkan sesuai dengan standar keselamatan yang diajarkan Alkitab Perjanjian Baru. Mengapa disebutkan keselamatan yang diajarkan Alkitab Perjanjian Baru? Keselamatan yang diajarkan Perjanjian Baru adalah keselamatan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, dan dijabarkan secara detail oleh surat rasul-rasul.
    Keselamatan yang diajarkan oleh Perjanjian Baru mengarah kepada pembaharuan hidup untuk sempurna seperti Bapa, atau serupa dengan Tuhan Yesus. Selain itu keselamatan dalam Perjanjian Baru tidak menekankan hal duniawi sama sekali,
    0 min
  • Membangun Kebenarannya Sendiri
    Di ayat selanjutnya Paulus mengatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (Rm. 9:30-33). Di dalam tulisannya ini Paulus menegaskan ulang, bahwa pembenaran atas manusia terjadi bukan karena perbuatan baik yang berdasarkan Taurat atau hukum, tetapi berdasarkan iman.
    Orang Yahudi harus menerima realitas, bahwa kebanggaan sebagai umat pilihan secara darah daging karena anak Abraham, tidak lagi memiliki legitimasi dibanding dengan pembenaran oleh korban Tuhan Yesus di kayu salib, yaitu bagi mereka yang mendengar Injil. Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa hal menjadi umat pilihan secara darah daging (bangsa Israel) adalah penentuan Tuhan berdasarkan kedaulatan-Nya, tetapi keselamatan abadi untuk menjadi “anak Israel” berdasarkan iman tergantung dari respon dan tanggung jawab setiap individu.
    Kebenaran oleh hukum yang diupayakan oleh bangsa Israel, mewakili pola keberagamaan agama-agama Samawi pada umumnya, tidak akan membuat mereka menerima dan memiliki keselamatan atau dibenarkan. Hanya iman kepada Yesus yang membuat seseorang memperoleh pembenaran atau diselamatkan. Tanpa Yesus, tidak ada seorang pun dapat dibenarkan, sebab kalau tidak ada “yang memikul dosa manusia”, maka manusia sebaik apa pun pasti binasa. Jika Yesus tidak menebus dosa, maka tidak perlu lagi ada penghakiman, karena semua manusia otomatis masuk neraka tanpa ada yang dapat menahan. Tetapi dengan adanya Yesus yang memikul dosa manusia, maka ada penghakiman kepada semua orang. Di sini ada peluang seseorang masuk dunia yang baik sebagai anggota masyarakat, maupun sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga.
    Sesungguhnya darah binatang tidak dapat menghapus dosa manusia. Allah adalah Allah yang memiliki tatanan. Dosa yang dilakukan di dalam daging manusia, hukumannya harus ditimpakan pada daging manusia juga. Dalam hal ini pengganti manusia yang harus dihukum adalah mutlak harus diadakan. Yesuslah sebagai Anak Domba Allah yang memikul hukuman dosa akibat pemberontakan manusia. Jalan ke surga melalui korban Kristus adalah jalan yang benar sesuai dengan prinsip keadilan Tuhan. Inilah kebenaran yang diajarkan Alkitab (Yoh. 1:29; Kis. 4:12).
    Kebenaran oleh hukum yang diupayakan bangsa Israel yang beragama Yahudi, mewakili agama Samawi pada umumnya, tidak membawa seseorang kepada kesempurnaan di mana manusia dapat dikembalikan segambar dan serupa dengan Allah yang modelnya adalah Yesus. Jalan hidup mereka adalah jalan hukum. Tetapi Kekristenan adalah jalan Tuhan, bagaimana seseorang memiliki karakter Tuhan di dalam hidupnya. Itulah sebabnya orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Kenyataannya, sungguh pun bangsa Israel sudah mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu, artinya mereka tidak akan dapat melakukan hukum dengan sempurna. Hanya kasih karunia dan anugerah dalam Yesus Kristus yang mampu membawa kehidupan tak bercacat dan tidak bercela atau sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48).
    Fenomena ini dapat digambarkan seperti sebuah batu sandungan. Paulus menyatakan: Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (Rm. 9:32-33). Bagi bangsa Israel, keselamatan dalam Yesus Kristus yang mereka tolak dengan berbagai alasan da...
    0 min
  • Anak Israel
    Dalam Roma 9:27 tertulis: Dan Yesaya berseru tentang Israel: “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan”. Kita perlu memperhatikan, dalam teks ini untuk Israel tidak digunakan kata “bangsa Israel”, tetapi menggunakan kata “anak Israel”, huion Israel (υἱῶν Ἰσραὴλ). Apakah ini hanya menunjuk bangsa Israel secara darah daging atau menunjuk kepada semua orang percaya (baik Israel secara lahiriah maupun Israel rohani)? Kemungkinan hal ini menunjuk kepada semua orang yang mengenal Injil atau orang Kristen. Alasannya adalah jumlah anak Israel tersebut sangat besar; seperti pasir di laut. Dengan penjelasan ini, maka dapat dimengerti kalau tidak semua orang Kristen akan menjadi umat pilihan di Kerajaan Surga. Tentu saja ayat ini masih dalam konteks ayat sebelumnya. Konteks ayat sebelumnya adalah Roma 9:24-26.
    Dalam Roma 9:24-26 tertulis, … yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: “Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih.” Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” di sana akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.” Pernyataan Paulus ini sangat jelas menunjukkan, bahwa banyak orang -dalam jumlah sangat besar- dari berbagai suku bangsa menjadi umat pilihan yang berstatus sebagai anak-anak Allah. Tentu saja mereka juga dapat disebut sebagai “anak Israel”. Kebenaran di atas ini diteguhkan oleh Roma 11:17-21 bahwa ada cabang asli dan cabang liar yang bisa dipotong. Cabang asli adalah bangsa Israel, dan cabang liar adalah mereka yang bukan berasal dari bangsa Israel. Jadi, bukan saja orang-orang dari suku bangsa Israel secara darah daging yang bisa tertolak, tetapi juga dari bangsa-bangsa lain yang sudah menjadi Kristen bisa tertolak, sehingga tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga, yaitu kalau tidak tetap di dalam kemurahan-Nya.
    Pernyataan Paulus dalam Roma 9:27 ini berkaitan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 22:14, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Tidak semua orang Kristen pasti masuk surga, atau tidak semua orang yang mengaku percaya kepada Yesus pasti diselamatkan. Mereka yang diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah mereka yang “melakukan kehendak Bapa” (Mat. 7:21-23). Untuk melakukan kehendak Bapa, orang percaya harus berjuang dengan perjuangan yang berat. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk. 13:24). Sungguh suatu penyesatan kalau diajarkan atau dikesankan bahwa masuk Kerajaan Surga itu sesuatu yang mudah, seakan-akan Kekristenan adalah jalan mudah untuk masuk surga. Dalam hal tersebut, harus diketahui bahwa sesungguhnya iman bukan hanya aktivitas pikiran, tetapi tindakan. Jadi kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka ia melakukan tindakan, yaitu harus melakukan kehendak-Nya.
    Selanjutnya Roma 9:28-29 tertulis: Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.” Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya: “Seandainya Tuhan semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti Sodom dan sama seperti Gomora.” Kalimat “Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera” hendaknya tidak dipahami salah, seakan-akan Tuhan sudah menentukan segala sesuatu, di dalamnya termasuk orang yang masuk surga. Maksud kalimat tersebut bisa mengandung dua pengertian, pertama bahwa semua yang telah dinubuatkan oleh Firman Tuhan pasti digenapi. Kedua, sejarah kehidupan manusia merupakan peta kebenaran, dan tatanan yang kapan pun pasti ditegakkan atau dipenuhi. Menyinggung Sodom dan Gomora,
    0 min
  • Dipersiapkan Untuk Kemuliaan Bapa
    Dalam Roma 9:23 tertulis: justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan. Dari ayat ini kita menemukan masalah sulit yang harus dipecahkan, yaitu apa yang dimaksud dengan “dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan”? Kalau bangsa Israel dipersiapkan untuk kemuliaan Tuhan, artinya melalui bangsa itu Tuhan menunjukkan kuasa-Nya, sehingga membuat mata dunia membuktikan Elohim Israel adalah Sesembahan yang luar biasa. Berbeda dengan umat Perjanjian Baru atau orang percaya. Dalam kehidupan orang percaya, mereka dipersiapkan untuk memuliakan Tuhan dengan menunjukkan perilaku yang sempurna seperti Tuhan Yesus. Dengan demikian Bapa akan dipermuliakan. Itulah sebabnya orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan (Mat. 5:20, 48), sehingga dapat menjadi alat kemuliaan bagi Bapa dan Tuhan Yesus (Mat. 5:16).
    Dalam Roma 9:24-26, tertulis: “yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: “Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih.” Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” di sana akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Bapa yang hidup.” Dengan pernyataan ini jelaslah dunia dibawa kepada masa di mana banyak orang -termasuk orang non Yahudi- menjadi umat pilihan yang berstatus sebagai anak-anak Bapa. Jumlahnya sangat besar. Masalahnya kemudian: Apakah pada zaman penggenapan ini, semua orang yang mengaku percaya Yesus pasti selamat?
    Kalau memperhatikan Roma 9:27, Dan Yesaya berseru tentang Israel: “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan, maka tidak dikatakan dalam teks ini bangsa Israel tetapi anak Israel (υἱῶν Ἰσραὴλ). Apakah ini hanya menunjuk bangsa Israel secara darah daging, atau sebenarnya menunjuk kepada semua orang percaya (baik dari bangsa Israel secara darah dan daging, maupun dari bangsa-bangsa non Yahudi)? Kemungkinan kedua lebih besar, sebab ditunjukkan jumlah komunitas ini sangat besar; seperti pasir di laut. Tetapi tidak semua orang yang terpanggil akan menjadi umat pilihan pasti lolos sebagai umat pilihan yang permanen, masuk ke dalam Kerajaan Surga sebagai anggota keluarga Allah. Hal ini meneguhkan penjelasan fakta adanya cabang asli dan cabang liar yang bisa dipotong.
    Selanjutnya dalam Roma 9:28-29, tertulis: Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.” Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya: “Seandainya Tuhan semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti Sodom dan sama seperti Gomora.” Dalam tulisannya ini Paulus sudah mengembangkan orientasi pemikirannya, bukan hanya sekitar orang-orang Yahudi, tetapi juga secara universal. Kalimat “Tuhan meninggalkan keturunan” artinya Tuhan pasti masih menopang orang-orang percaya yang mau tetap di dalam kemurahan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar masih ada sisa orang yang mau berjuang untuk menjadi sempurna atau diselamatkan; dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Akhirnya Paulus mengatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” Di dalam tulisannya ini Paulus menegaskan ulang, bahwa pembenaran atas manusia bukan karena perbuatan baik berdasarkan Taurat, tetapi berdasarkan iman.
    0 min
  • Bisa Ditolak
    Dalam Roma 9:19-23 tertulis: Sekarang kamu akan berkata kepadaku: “Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?” Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan — justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan… Melalui tulisan ini Paulus menegaskan bahwa tidak ada makhluk manapun yang berhak dan bisa menentang Tuhan. Paulus menunjukkan bahwa ciptaan dapat digambarkan seperti tanah liat di tangan tukang periuk. Tuhan adalah tukang periuk yang berkuasa memperlakukan tanah liat atau ciptaan-Nya sesuka-Nya. Walau demikian, harus diingat bahwa Tuhan memiliki tatanan di dalam Diri-Nya, Tuhan tidak mungkin bertindak di luar sifat dan hakikat-Nya tersebut.
    Tanah liat di sini menunjuk bangsa Israel (harus diperhatikan bahwa konteks pasal ini adalah pemilihan Israel). Dalam hal tersebut Tuhan berhak memilih Israel, dan juga bisa membuangnya, jika mereka tidak menerima penyelamatan dari Tuhan. Faktanya memang bangsa Israel hendak membangun kebenarannya sendiri, yaitu kebenaran karena melakukan hukum Taurat, bukan karena iman kepada Tuhan Yesus. Mereka menolak kasih karunia itu, maka Tuhan juga menolak mereka. Dalam Roma 11:17-19, 25 tertulis, bahwa Israel sebagai carang atau cabang asli dari suatu pohon, dipatahkan karena ketegaran hati mereka. Bukan karena Tuhan menetapkan mereka untuk dipotong, tetapi hal itu terjadi karena ketegaran hati mereka. Di dalam Roma 11:20-23, Paulus mengingatkan bahwa kalau cabang asli bisa dipangkas karena kekerasan hati, maka cabang liar (orang-orang non Yahudi) juga bisa dipotong, kalau tidak tetap hidup di dalam kemurahan-Nya.
    Dengan penjelasan ini dapat ditarik benang merah yang penting, bahwa pemilihan bangsa Israel sebagai umat pilihan adalah berdasarkan kedaulatan Allah, bukan berdasarkan perbuatan. Namun demkian, tidak semua orang Israel menjadi umat pilihan abadi, sebab yang menjadi umat pilihan pada akhirnya adalah anak-anak Abraham secara atau di dalam iman. Seperti bangsa Israel sebagai cabang asli bisa dipotong karena kekerasan atau ketegaran hati mereka, maka cabang dari pohon zaitun liar -yaitu orang-orang yang memiliki kesempatan untuk menjadi umat pilihan berdasarkan iman dari orang-orang non Yahudi- juga dapat dipotong-Nya pula jika tidak tetap di dalam kemurahan-Nya. Dengan demikian, Roma 9 bukan sebuah legitimasi untuk menyatakan bahwa Tuhan menentukan keselamatan setiap individu. Keselamatan masing-masing individu ditentukan oleh responnya terhadap kasih karunia. Jadi, baik orang Yahudi maupun non Yahudi yang mengeraskan hati akan ditolak atau terbuang dari hadirat Tuhan.
    Roma 9:22, tertulis: Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan – Ayat ini menunjukkan bahwa bangsa Israel yang menolak karya keselamatan akan mendapat murka Tuhan. Inilah yang membuat Paulus terbeban sampai rela terpisah dari Kristus demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud merancang dan menentukan kebinasaan atas orang-orang tertentu atau keselamatan untuk orang-orang tertentu secara sepihak. Bangsa Israel ditolak karena ketegaran hati mereka, oleh sebab itu orang non Yahudi pun bisa dipotong ke luar dari umat Perjanjian sebagai anak-anak Abraham, kalau tidak tetap tinggal dalam kemurahan-Nya
    0 min
  • Bertindak Menuruti Kehendak-Nya
    Harus ditegaskan bahwa pemilihan atas Yakub sebagai nenek moyang bangsa Israel, bukanlah pemilihan yang memiliki dampak langsung bagi semua manusia. Itu hanya pemilihan suatu bangsa yang akan melahirkan Mesias, dan mereka menjadi bangsa yang menyimpan rahasia pengenalan Sesembahan, yaitu Elohim Yahwe. Sebenarnya Tuhan juga bisa memilih bangsa manapun, tetapi dalam kedaulatan-Nya, Dia memilih bangsa Israel. Pemilihan Yakub sebagai nenek moyang Mesias oleh Tuhan berdasarkan kedaulatan-Nya, tidak boleh menjadi landasan pemilihan dan penunjukkan individu sebagai umat pilihan yang diperkenankan masuk surga.
    Pada akhirnya, umat pilihan yang sesungguhnya adalah keturunan Abraham oleh iman. Keputusan memilih Yakub bukanlah keputusan yang memiliki dampak besar dibandingkan dengan fakta keselamatan kekal atas setiap individu. Menjadi umat pilihan berdasarkan iman adalah perjuangan, sebab iman bukan hanya sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Iman adalah tindakan konkret dan nyata, dimana seseorang harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan. Orang yang menolak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan, berarti menolak untuk beriman.
    Dalam hal tersebut, nyata bedanya antara umat pilihan keturunan secara darah dan daging, dengan umat pilihan karena iman. Umat pilihan secara darah dan daging, secara otomatis terlahir sudah menjadi umat pilihan. Hal ini terjadi bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan pilihan dan panggilan. Adapun orang percaya oleh iman, tidak otomatis menjadi umat pilihan karena terlahir dari keluarga Kristen. Masing-masing individu orang Kristen harus meresponi keselamatan dengan bertindak menuruti kehendak Tuhan. Menuruti kehendak Tuhan itulah iman.
    Hal menentukan siapa yang akan menjadi nenek moyang Israel merupakan hal yang besar dan penting bagi bangsa Israel, tetapi bagi umat manusia pada umumnya (bangsa-bangsa lain), pemilihan atau penetapan tersebut tidak sepenting seperti bagi bangsa Israel. Bagi umat manusia atau bangsa-bangsa lain, yang penting adalah kehadiran Juruselamat yang mengangkut dosa dunia, tidak masalah dari bangsa mana pun. Sangat keliru kalau penetapan pemilihan Israel -sebagai umat pilihan berdasarkan kedaulatan Tuhan- disejajarkan atau diparalelkan dengan keselamatan kekal individu; seakan-akan sebagaimana Tuhan menetapkan bangsa Israel sebagai umat pilihan, demikian pula Tuhan menetapkan keselamatan masing-masing individu dalam kekekalan. Tuhan tidak pernah menentukan seseorang untuk masuk surga berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak dengan mengabaikan respon dan tanggung jawab manusia. Harus ditekankan dan ditegaskan bahwa konteks pembicaraan Roma 9 hanya mengenai pemilihan Israel, bukan penetapan keselamatan kekal individu. Harus diingat bahwa percakapan Paulus dalam Roma 9:1-5 adalah mengenai bangsa Israel yang secara individu menolak Yesus sebagai Mesias. Hal ini menjadi kesedihan Paulus, walaupun mereka adalah umat pilihan yang memiliki hak-hak istimewa, tetapi mereka gagal menjadi umat pilihan abadi.
    Supaya suatu hari nanti, keselamatan bagi semua manusia terwujud melalui bangsa Israel, maka Elohim Yahwe bertindak secara ekstrem, melepaskan bangsa itu dari cengkeraman Mesir. Tuhan memakai tangan Firaun untuk mewujudkan rencana-Nya (Rm. 9:17, Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.”). Kalimat “membangkitkan” dalam teks ini bukan berarti Tuhan mengambil alih kehendak seseorang, kemudian mengontrol dan mengendalikannya, sehingga seseorang dijadikan boneka untuk berbuat sesuatu, termasuk perbuatan yang jahat, seperti yang dilakukan Firaun. Tentu tidak demikian maksudnya.
    Firaun memang “sudah berkeadaan jahat”. Keadaan jahat Firaun tersebut bisa dipakai untuk memenuhi rencana Tuhan. Ini tidak sama dengan “membuat Firaun menjadi jahat” demi maksud rencana Tuhan.
    0 min
  • Membuka Mata
    Harus ditegaskan bahwa Tuhan tidak berintervensi atau masuk ke dalam jiwa Firaun -sehingga hatinya menjadi keras- tetapi Tuhan mendesak Firaun melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi, yaitu tulah-tulah yang Allah datangkan. Dalam Keluaran 3:19-20, Firman Tuhan mengatakan: Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat. Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi. Hal ini diteguhkan dalam Keluaran 5:24 – Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya”.
    Dalam ayat-ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak dapat mengubah hati Firaun, kecuali melalui kejadian yang memaksa Firaun mengizinkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Sesungguhnya memang demikian adanya. Jadi kata “mengeraskan” harus dimengerti dengan benar. Maksud “mengeraskan” tersebut adalah bahwa berhubung Firaun berkeberatan atau tidak mengizinkan bangsa Israel keluar dari Mesir, maka Elohim Yahwe mendatangkan tulah-tulah yang membuat Firaun semakin jahat. Tetapi oleh karena tekanan semakin kuat dari tulah-tulah tersebut, serta desakan rakyat Mesir, maka terpaksa Firaun melepaskan bangsa Israel. Namun demikian, Alkitab mencatat bahwa akhirnya Firaun tetap memburu bangsa Israel, tetapi kemudian Firaun dan tentaranya ditewaskan di dalam laut Tiberau. Kereta perang dan perlengkapan senjata perang pun juga dibenamkan di dalam laut tersebut. Kemudian suatu hari pada tahun 1988, ketika dilakukan penggalian arkeologi di sekitar laut tersebut, terbukti bahwa peristiwa tersebut benar-benar pernah terjadi dan merupakan fakta sejarah.
    Melalui tulah-tulah yang diberikan oleh Tuhan, diharapkan dapat membuka mata Firaun agar mengenal kemuliaan Elohim Israel. Namun kenyataannya, Firaun tetap tidak bertobat. Tetapi melalui kejadian-kejadian tulah tersebut, bangsa Israel memperoleh pengenalan, bahwa Sesembahan mereka perkasa. Sebagai dampaknya pula, bangsa-bangsa yang wilayahnya kemudian hari akan dilalui bangsa Israel, tidak mempersulit bangsa Israel melewatinya untuk menuju Kanaan.
    Kasus mengenai pengerasan hati Firaun, harus diamati dengan teliti, cerdas, dan jujur (Kel. 4:21; Rm. 9:17). Apakah Elohim Yahwe mengeraskan hati Firaun karena didorong kebencian-Nya terhadap Firaun tanpa alasan? Kita harus meneliti kisah tersebut secara menyeluruh dalam seluruh konteksnya. Dalam memahami kebenaran, kita tidak boleh mengambil satu atau dua ayat, lalu menafsirkan secara sembarangan berhubung sudah terlebih dahulu memiliki premis tertentu. Premis tertentu yang mengakar dalam diri seorang penggali Alkitab dapat menawannya atau membelenggunya, sehingga tidak dapat menangkap maksud teks Alkitab secara tepat. Tidak mungkin Elohim Yahwe mengeraskan hati Firaun, atau siapa pun, tanpa alasan. Hanya allah yang tidak waras pikirannya bertindak tanpa aturan dan tanpa dasar.
    Menurut beberapa penemuan arkeologi, Firaun yang memerintah pada zaman Yusuf dan keluarga Yakub masuk Mesir adalah Firaun Apepi III (zaman wangsa Hyksos). Tetapi Firaun yang menekan bangsa Ibrani adalah “raja yang tidak mengenal Yusuf” (Kel. 1:8). Menurut sejarah, keturunan wangsa Hyksos yang ke-18, kemungkinan adalah Raja Thotmes 1 yang mulai berusaha menghapus semua bangsa Israel -karena dikhawatirkan akan mengambil alih kekuasaan- dan menindas mereka. Tidak heran kalau anak-anak bayi orang Ibrani dibantai. Kemungkinan yang menyelamatkan Musa adalah putrinya Ratu Hatsyepset, permaisuri Raja Thotmes II. Firaun yang memperberat penderitaan bangsa Ibrani adalah Raja Thotmes III. Pada waktu itu Musa berumur 40 tahun.
    Firaun yang memerintah pada waktu bangsa Ibrani keluar dari Mesir adalah Amenofis II seki...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…