Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Ada Pemaksaan
    Ketika Tuhan mendatangkan tulah dalam bentuk penyakit barah ke atas Mesir, anehnya Firaun sendiri tidak mengalami penyakit barah tersebut, padahal ahli-ahli sihir dan semua rakyat Mesir mengalaminya (Kel. 9:9-11). Mengapa demikian? Inilah cara Tuhan mengeraskan hati Firaun. Seandainya Tuhan juga mendatangkan barah atas tubuh Firaun, maka bisa jadi Firaun bersikap lain. Tuhan tidak memberi penyakit barah atas Firaun, sehingga ia merasa mampu menanggulangi tulah-tulah tersebut, dan hal ini membuat hatinya menjadi semakin keras. Dari hal ini, kita memperoleh pelajaran bahwa orang yang berkeadaan sehat belum tentu karena berkat Tuhan untuk kebaikannya. Tuhan membiarkan orang jahat tetap sehat untuk maksud-maksud-Nya. Pemazmur juga menyinggung mengenai hal ini (Mzm. 73:3-5, Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain). Tetapi sebaliknya, kalau Tuhan menaruh “duri dalam daging” bukan berarti Tuhan mendatangkan bencana.
    Juga dalam kasus tulah penyakit sampar yang didatangkan Tuhan atas Mesir, terdapat pelajaran rohani yang dapat dipetik. Firman Tuhan berkata: Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Engkau masih selalu menghalangi umat-Ku, sehingga engkau tidak membiarkan mereka pergi (Kel. 9:15-17). Tuhan tidak segera membunuh Firaun, karena Tuhan hendak mengeraskan hatinya untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya. Satu pelajaran mahal yang dapat dipetik dari kasus ini adalah bahwa bagaimanapun keadaan manusia dan dunia ini, nama Tuhan tidak pernah dapat dipermalukan.
    Ada orang-orang Kristen yang sekilas mempermalukan nama Tuhan, tetapi pada waktunya akan nyata bahwa Tuhan tetap dipermuliakan, dan orang itu dipermalukan. Jadi, kalau ada orang Kristen yang seakan-akan bisa mempermalukan Tuhan, dan Tuhan tidak menghukum atau seakan-akan Tuhan berdiam Diri, bukan berarti tidak ada perhitungannya. Suatu hari pasti ada perhitungannya. Dalam konteks bahasan kita ini, Tuhan sengaja membuat Firaun tetap hidup supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan, sebab Firaun pernah mengatakan bahwa ia tidak mengenal Elohim Israel. Dengan berbagai tindakan Tuhan yang dahsyat, tidak bisa tidak, mulutnya terbungkam (Kel. 5:12).
    Akhirnya, Tuhan benar-benar mengeraskan hati Firaun, artinya hati Firaun menjadi keras tatkala ia tidak lagi mau bertemu dengan Musa dan Harun. Hal itu terjadi setelah tulah dimana seluruh tanah Mesir menjadi gelap. Kemudian sampai puncaknya, anak sulung orang Mesir ditulahi Tuhan sehingga meninggal dunia. Kematian anak-anak sulung Mesir tersebut membuat rakyat Mesir menjerit, sehingga menggerakkan mereka mendesak Firaun untuk melepaskan bangsa Israel keluar dari Mesir (Kel. 12:29:36).
    Ternyata, tulah demi tulah yang didatangkan Tuhan atas tanah Mesir dan rakyatnya, sampai puncak penderitaan yang dialami bangsa Mesir, yaitu kematian anak sulung bangsa Mesir, mempersiapkan hati orang Mesir bisa bermurah hati memberikan emas dan perak kepada bangsa Israel. Apakah selama ini bangsa Mesir bermurah hati kepada orang Israel? Tentu tidak. Dalam Keluaran 12:33, tertulis: Orang Mesir juga mendesak dengan keras kepada bangsa itu, menyuruh bangsa itu pergi dengan segera dari negeri itu, sebab kata mereka: “Nanti kami mati semuanya.” Tulah demi tulah sampai pada kematian anak sulung mempersiapkan hati bangsa Mesir menjadi murah, sehingga memberikan emas dan perak, tentu dengan harapan yaitu bangsa Israel dapat segera meninggalkan Mesir.
    Tuhan membuat bangsa Mesir bermurah hati tidak secara mistis atau ajaib, tetapi melalui tangan Tuhan yang teracung (men...
    0 min
  • Proses Pengerasan Hati
    Masalah penting yang harus dipersoalkan adalah bagaimana proses “pengerasan hati” Firaun zaman Musa tersebut. Kita tidak boleh memandang pengerasan hati Firaun secara mistik. Ternyata Tuhan menggunakan sarana untuk mengeraskan hati Firaun, bukan intervensi ke dalam hati atau batin Firaun. Pada umumnya orang berpikir bahwa cara Tuhan mengeraskan hati Firaun adalah dengan mengubah hatinya. Seakan-akan Tuhan intervensi ke dalam jiwa Firaun dan membuat hatinya menjadi keras hati.
    Pandangan di atas tersebut adalah salah. Kalau seseorang berpandangan atau berpikir bahwa Tuhan mengintervensi ke dalam batin manusia dan mengubahnya tanpa alasan, itu adalah tuduhan terhadap Tuhan bahwa Tuhan melakukan pelanggaran terhadap hakikat-Nya sendiri dan merusak hakikat manusia. Alkitab jelas menunjukkan bahwa sejak semula Allah menciptakan manusia, Ia memberikan independensi kepada manusia, sehingga manusia harus mengarahkan sendiri jiwanya atau mengendalikannya. Jadi, kalau seseorang berpandangan bahwa Allah berintervensi ke dalam jiwa manusia, ini adalah pandangan yang benar-benar menyesatkan.
    Firaun zaman Abraham bukan Firaun yang jahat, sebelum ia mengambil Sara sebagai istri, ia bertanya baik-baik siapa Sara itu. Ia tidak langsung mengambil dan membunuh Abraham. Seandainya ia tahu bahwa Sara adalah istri Abraham, ia tidak akan atau belum tentu mengambil untuk menjadi istrinya (Kej. 12:16-20). Karena Abraham mengaku Sara sebagai saudaranya, maka Firaun bermaksud mengambilnya untuk dijadikan istrinya. Hal ini menunjukkan bahwa Firaun zaman Abraham tersebut baik. Paling tidak berbeda atau lebih baik dibanding dengan Firaun yang memerintah pada zaman Musa. Firaun yang memerintah zaman Musa ini adalah Firaun yang jahat, sudah tidak bisa diperbaiki dan pantas untuk dihukum. Ia mempekerjakan paksa bangsa Israel dan menekan mereka dengan semena-mena.
    Itulah sebabnya Tuhan mengadakan banyak peristiwa, seperti kejaiban tongkat menjadi ular dan sepuluh tulah yang membuat Firaun bukannya bertobat, tetapi hatinya semakin keras. Firaun zaman Abraham dihantam sekali dengan “tulah yang hebat”, dan menjadi bertobat. Tetapi Firaun zaman Musa diberi tulah secara bertahap pun masih tetap tidak bertobat. Ternyata tulah bertahap tersebut membuat Firaun ini semakin keras hati, sampai immune (kebal) terhadap peringatan dari Tuhan. Hal ini bukan bentuk diskriminasi, dimana Tuhan tidak mengeraskan hati Firaun zaman Abraham, tetapi mengeraskan Firaun zaman Musa. Dalam hal ini keras hati Firaun tidak terjadi oleh tindakan Tuhan yang mistis, tetapi melalui proses natural yang dapat kita mengerti. Kalau Tuhan tidak bermaksud mengeraskan hati Firaun, maka Tuhan tidak akan menyediakan peristiwa-peristiwa sehingga Firaun bertobat dan menjadi baik. Sebaliknya, Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa terjadi dalam hidupnya membuat dirinya semakin immune terhadap peringatan dan teguran dari Tuhan.
    Hendaknya kita tidak berpikir bahwa secara mendadak hati Firaun dibuat menjadi keras, sebagai akibatnya Firaun ini tidak melepaskan bangsa Israel keluar dari Mesir. Seakan-akan hal tersebut mirip dengan orang yang dihipnosis. Jadi, menurut banyak orang, Firaun disentuh oleh Tuhan secara mistis seperti orang dihipnosis agar hatinya menjadi keras. Sehingga seandainya Firaun ditanya: Mengapa hatinya menjadi keras sehingga tidak mau melepaskan bangsa Israel? Kalau Firaun jujur, ia dapat menjawab bahwa dirinya “tidak tahu” entah mengapa hatinya menjadi keras.
    Jadi, sangat keliru pandangan yang mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun secara mistis. Ini adalah pandangan yang tidak tepat. Tuhan tidak akan pernah berbuat demikian. Tidak mungkin hati seseorang menjadi keras, tanpa ada alasannya sama sekali untuk menjadi keras. Firaun zaman Musa menjadi keras hati, karena memang keadaan hatinya berpotensi menjadi keras akibat dari pilihan demi pilihan, dan tindakan demi tindakan yang pernah dilakukannya.
    Harus diingat,
    0 min
  • Alasan Pengerasan Hati
    Sebenarnya Musa dan Harun menghadapi Firaun dengan maksud agar umat Israel diperbolehkan oleh penguasa Mesir ini untuk dapat beribadah kepada Elohim Yahweh. Hal tersebut dikatakan Musa sebagai kehendak Tuhan. Tetapi Firaun sengaja mengada-ada dengan menuduh mandor-mandor Israel yang mau pergi. Sehingga pengerah-pengerah Mesir memukuli mandor-mandor Israel, dan membuat beban yang lebih berat kepada bangsa Israel (Kel. 5). Diplomasi licik yang dilakukan Firaun tersebut dimaksudkan agar bangsa Israel menyalahkan Musa dan menolak untuk diajak keluar dari Mesir. Ini baru satu dari sekian banyak watak jahat Firaun tersebut. Itulah sebabnya sosok penguasa ini sudah saatnya dihukum Tuhan. Inilah alasan yang sudah cukup jelas, mengapa Firaun dikeraskan hatinya.
    Cara Tuhan mengeraskan hati Firaun bukan masuk ke dalam jiwa Firaun dan membuat hati Firaun menjadi keras secara mistis atau secara supranatural. Kalau Tuhan masuk ke dalam jiwa Firaun dan membuat hatinya keras, maka Allah melanggar hakikat-Nya dan melanggar hakikat manusia. Tuhan mengizinkan situasi dan kejadian-kejadian yang membuat hati Firaun menjadi keras. Tindakan Tuhan mengeraskan hati Firaun melalui kejadian-kejadian yang Tuhan izinkan terjadi di Mesir, yaitu melalui tanda ajaib yang dilakukan Musa dan tulah yang Allah turunkan.
    Dalam hal ini kita memperoleh pelajaran, bahwa mestinya (idealnya) tidak harus menunggu nanti di surga, ketika semua pengetahuan menjadi sempurna, kita baru mengerti alasan Tuhan mengeraskan hati seseorang. Sekarang di bumi ini, seharusnya kita sudah bisa menemukan alasan mengapa hati seseorang dikeraskan. Sebab tindakan Tuhan tersebut menjadi pelajaran rohani atau tuntunan bagi kita, agar tidak mengalami keadaan seperti yang dialami oleh Firaun. Tindakan-tindakan Tuhan yang dicatat Allah kitab dimaksudkan agar memberi pelajaran bagi kita. Sama seperti bangsa Israel yang sebagaian besar tewas di padang gurun dalam perjalanan ke Mesir. Alkitab mengatakan bahwa semua itu menjadi contoh bagi kita (1Kor. 10:1-13)
    Hendaknya, jangan karena memiliki premis bahwa Allah menentukan keselamatan individu secara absolut dan sepihak, maka mereka membuat kesimpulan bahwa tindakan Tuhan mengeraskan hati Firaun adalah kebijaksanaan-Nya yang tidak bisa, tidak boleh dan tidak perlu dimengerti oleh manusia. Dengan alasan bahwa itu adalah tindakan Allah yang transenden, maka orang percaya tidak perlu menggali kebenaran untuk menemukan alasannya. Mestinya, dari sepak terjang Firaun, dan dari wataknya yang sangat jahat, sudah cukup membuat kita mengerti mengapa Tuhan mengeraskan hatinya. Dari kejadian ini kita memperoleh pelajaran rohani, agar kita menjaga hati agar tidak menjadi jahat seperti Firaun.
    Alkitab menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Tuhan mengasihi semua umat manusia, tentu saja juga termasuk Firaun. Tuhan tidak memiliki hati yang kejam dan kebencian terhadap siapa pun tanpa alasan. Sebagai contohnya Tuhan juga mengasihi Firaun pada zaman Abraham, hal ini terbukti dengan tindakan Tuhan memperingatkan Firaun agar tidak mengambil Sara istri Abraham (Kej. 12). Tuhan tidak langsung membunuh Firaun karena mengambil istri Abraham, sahabat-Nya. Tuhan memberi peringatan agar Firaun terhindar dari hukuman yang lebih fatal dari Tuhan. Firaun yang kafir tersebut, ternyata juga dikasihi oleh Tuhan. Tentu Tuhan tidak pilih kasih, mengasihi Firaun yang satu dan membenci Firaun yang lain tanpa alasan.
    Seandainya Firaun yang dikisahkan pada zaman Abraham tersebut masih berkeras hati mengambil Sara sebagai istrinya, maka Tuhan pasti bertindak lain. Firman Tuhan mengatakan: Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu (Kej. 12:17). Tidak jelas isi atau bentuk tulah tersebut, tetapi tulah tersebut sudah cukup menyadarkan Firaun, sehingga Firaun tidak meneruskan niatnya untuk mengambil Sara sebagai istrinya. Hal ini membuat seisi istananya serta rakyatnya bisa dih...
    0 min
  • Sumber Hikmat
    Kita harus memeriksa dengan teliti sejarah hidup Firaun, supaya kita dapat menemukan makna yang benar dari Roma 9 (Roma 9:17-18 – Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memerlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya”). Kalau kita tidak memahami dengan benar kisah Firaun secara lengkap dan teliti dalam kitab Keluaran, maka kita akan salah dalam memahami maksud tulisan Palus di Roma 9 tersebut.
    Sejak berabad-abad kasus mengenai Firaun yang hatinya dikeraskan oleh Tuhan, telah menjadi landasan atau dasar berpikir dari pandangan orang yang secara tidak langsung maupun secara langsung, menyatakan bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya mengeraskan hati siapa yang dikehendaki untuk dikeraskan. Selanjutnya, hal ini membangun atau meneguhkan premis bahwa Allah menentukan siapa yang Allah selamatkan. Dengan demikian, konsekuensi logisnya berarti Allah membiarkan yang lain untuk binasa. Dalam hal ini ada orang yang dikeraskan hatinya sehingga mereka tidak selamat atau dibiarkan hatinya keras sehingga tidak selamat, dan ada sekelompok lain yang hatinya tidak dikeraskan oleh Tuhan, sehingga berkemungkinan atau bisa dipastikan selamat, bisa masuk surga.
    Dalam hal tersebut, seakan-akan Tuhan dalam pertimbangan-Nya yang tidak dimengerti oleh manusia, mengeraskan hati orang-orang yang dikehendaki oleh-Nya untuk dikeraskan. Dan Tuhan tidak berbuat demikian kepada orang-orang yang dipilih untuk selamat. Pandangan ini tentu saja salah, sebab Allah yang mulia tidak mungkin bertindak tanpa pertimbangan, alasan dan dasar yang bisa dimengerti oleh umat-Nya. Harus digarisbawahi dan ditegaskan, bahwa Alkitab ditulis untuk menjadi sumber hikmat guna memberi pelajaran rohani bagi umat pilihan. Dari tindakan-tindakan Tuhan tersebut, umat pilihan dapat mengerti bagaimana ia mengisi hidupnya. Kalau Tuhan bertindak dengan atau dalam tatanan yang tidak dimengerti manusia, berarti manusia berjalan dalam gelap. Manusia tidak dapat mengisi hidupnya secara proporsional, atau secara patut dan natural. Dewa atau allah semacam itu adalah allah yang bukan saja misteri, tetapi juga kejam.
    Tidak mungkin Alkitab menulis sesuatu yang konyol, absurd dan tidak bermakna tanpa mengandung pelajaran rohani bagi umat Tuhan. Harus bisa ditemukan alasan, mengapa Allah mengeraskan hati Firaun. Jawabannya tentu bukan sederhana seperti yang sering dikemukakan banyak orang, bahwa hal itu karena kedaulatan Allah, titik. Betapa naifnya jawaban itu. Jawaban yang tidak memuat implikasi yang berarti bagi orang percaya. Kalau ada implikasi, maka implikasinya hanya menggiring seseorang untuk menerima saja semua tindakan Tuhan secara sepihak tanpa bisa dan boleh mengertinya dengan jelas; sebab jawabannya hanya “karena Allah telah menentukan demikian”.
    Pandangan atau pengajaran ini menempatkan manusia bukan sebagai manusia yang bertanggung jawab secara proporsional dan natural. Manusia hanya menerima saja apa yang telah ditentukan bagi dirinya tanpa bisa mengelak. Jika demikian, tentu saja etika tidak dapat tampil secara wajar. Tidak perlu ada tuntunan etika yang normatif bagi manusia, sebab akhir perjalanan hidup seseorang sudah ditentukan sepihak oleh Allah. Juga tidak perlu ada perjuangan sama sekali. Kalaupun ada perjuangan, maka perjuangan tersebut tidak proporsional. Padahal Tuhan Yesus sendiri berfirman agar kita berjuang masuk jalan sempit, berbuah, sempurna seperti Bapa, berkenan kepada Bapa dan lain sebagainya.
    Harus ditegaskan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun, sebab Tuhan sudah tahu bahwa Firaun tidak akan melepaskan umat Israel. Firman Tuhan menulis: Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat (Kel. 3:19). Tentu saja keadaan Firaun yang jahat seperti ini,
    0 min
  • Berjuang Memahami Tindakan Tuhan
    Dalam kasus Nikodemus dan Paulus dapatlah diambil kesimpulan bahwa seseorang meresponi anugerah Tuhan tidak lepas dari latar belakangnya. Tentu latar belakang seseorang juga tidak lepas dari respon-responnya terhadap setiap peristiwa yang dialami, segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya. Tentu saja Tuhan yang adil tidak akan berniat menggiring seseorang kepada kebinasaan dan yang lain kepada keselamatan kekal. Dalam hal di atas tersebut, jelaslah bahwa Tuhan tidak berintervensi ke dalam jiwa manusia secara mutlak dan mengendalikan secara penuh sehingga pilihan dan keputusan seseorang berdasarkan skenario Tuhan. Tetapi masing-masing individu bertanggung jawab dalam mengambil keputusan dari kehendak bebasnya. Jadi, sangatlah keliru kalau seseorang berpendapat bahwa Tuhan memilih Paulus, tetapi tidak memilih Nikodemus. Tuhan memaksa Saulus bertobat, tetapi tidak memaksa Nikodemus bertobat. Dalam keadilan Tuhan, Ia bertindak sesuai dengan porsi dan keadaan masing-masing individu.
    Fakta yang dapat dilihat, banyak orang-orang beragama meyakini bahwa Allah secara mistis atau ajaib mengubah jiwa seseorang secara mendadak (instant). Kisah-kisah seperti ini ada dalam banyak legenda dan mitos. Hal ini bisa dimengerti sebab dalam hampir semua agama terdapat keajaiban-keajaiban yang diyakini dilakukan oleh allah atau dewa yang disembah. Tidak ada agama yang menyembah Allah yang transenden tanpa hal-hal yang bersifat keajaiban dan mistis. Pemikiran mengenai pribadi ilah atau dewa yang disembah yang bersifat misteri sudah mengakar dalam pikiran banyak orang. Seakan-akan dalam kedaulatan tingkat tertentu atau tidak terbatas dari ilah atau dewa mereka, dewa-dewa atau ilah mereka bisa bertindak semaunya tanpa dimengerti oleh umat. Umat hanya menerima saja tanpa harus mengerti dan mempersoalkan alasannya.
    Mereka pun pada umumnya menerima saja hal tersebut, sebab bagi mereka yang penting illah atau dewa mereka memberi kontribusi yang umat ingini dalam kehidupan di dunia ini. Illah atau dewa mereka biasanya juga dipandang tidak terlalu mempersoalkan bagaimana gaya hidup umat. Hal ini berbeda dengan keadaan umat Tuhan, Tuhan sangat mempersoalkan gaya hidup mereka, sebab umat di bumi hanya dipersiapkan untuk memasuki Kerajaan Surga, sebagai anggota keluarga Allah. Itulah sebabnya orang percaya harus menjadi seperti diri Tuhan sendiri. Tidak ada agama -selain Kristen- yang mengajarkan bahwa umat harus berkarakter seperti Allahnya.
    Tuhan memang transenden, tetapi tindakan-tindakan-Nya pasti memuat kebenaran atau hikmah yang dapat dimengerti dan dapat menuntun umat Tuhan kepada kehendak dan jalan-Nya, sebab Tuhan yang transenden berurusan dengan manusia yang imanen (berada dalam jangkauan kesadaran dan akal manusia yang terbatas). Itulah sebabnya, Allah turun menjadi manusia agar dapat memberi petunjuk dengan jelas bagaimana manusia menyelenggarakan hidupnya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak seorang pun mengenal Bapa, selain Anak, dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya (Mat. 11:27). Pengetahuan mengenai Bapa dan Anak maksudnya adalah bagaimana umat menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan dan menempatkan Tuhan di tempat yang pantas dalam hidup ini. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak bermain teka-teki yang rumit dan tak terpahami dalam berurusan dengan umat.
    Hendaknya jangan karena Tuhan adalah Tuhan yang transenden, maka dalam memahami tindakan Tuhan yang berkenaan dengan manusia juga serba transenden. Tindakan Tuhan menyangkut keadaan manusia di bumi ini -apalagi keadaan di kekekalan nanti- harus dimengerti bukan sebagai sesuatu yang misteri. Tuhan pasti menyatakan kebenaran dari kehendak-Nya, dan umat harus berjuang untuk memahaminya dengan benar. Sebab kalau tindakan Tuhan yang berkenaan dengan kehidupan umat-Nya seperti teka-teki yang tidak bisa dipahami, maka umat berjalan dalam gelap. Umat tidak tahu dengan tepat bagaimana harus bersikap terhadap Tuhan. Hal ini sangat mengerikan.
    0 min
  • Selalu Melalui Proses
    Pada umumnya orang meyakini dan memahami cara Allah mengeraskan hati atau melembutkan hati seseorang, yaitu dengan cara berintervensi ke dalam jiwa manusia, dan mengeraskan hati atau melembutkannya. Fenomena seperti ini dapat disebut fenomena spektakuler atau bisa juga bersifat mistis. Dengan demikian, menurut mereka, banyak tindakan Tuhan yang tidak bisa dimengerti, karena tindakan-tindakan-Nya di luar kemampuan manusia memahaminya. Jika hal ini benar, berarti keadaan jiwa manusia adalah sesuatu yang dapat diubah dalam sekejap tanpa mekanisme, tatanan, dan aturan yang jelas. Pada kenyataannya (fakta empiris), dalam kehidupan ini, perubahan yang berkaitan dengan karakter atau watak selalu melalui proses; sangat tidak mungkin orang bisa menjadi baik secara mendadak atau menjadi jahat secara mendadak pula. Bila ada yang bisa menjadi keras hati secara mendadak, ini yang disebut sebagai mistis.
    Hal-hal yang bersifat mistis dan transenden ini adalah hal-hal yang sudah terbiasa menghiasi kehidupan orang beragama. Tidak heran kalau ada doa yang berbunyi: “Ubah hatiku Tuhan”. Mereka berharap secara mistis ajaib hatinya bisa berubah oleh kuasa Tuhan. Jika ini bisa terjadi, maka Tuhan tidak perlu memberi Amanat Agung-Nya kepada orang percaya untuk memuridkan orang percaya, tidak perlu adanya pembaharuan pikiran dan proses pendewasaan. Tuhan tidak bekerja secara demikian dalam mengubah karakter atau watak seseorang. Tuhan mengubah manusia selalu melalui proses, demikian pula dengan iman yang bisa timbul di hati seseorang. Tidak timbul secara mistis, tetapi ada pemberitaan Firman yang harus didengar, dan masing-masing individu harus meresponinya secara benar. Dalam perubahan karakter dan kehidupan iman, respon seseorang terhadap anugerah Allah harus dimainkan secara benar, artinya intensif dan berkesinambungan. Tidak seperti sebuah titik, tetapi seperti sebuah garis panjang. Dalam hal ini ketekunan seseorang sangat berperan.
    Perjumpaan Nikodemus dengan Tuhan Yesus tidak menghasilkan iman di hati pemimpin agama ini. Jarang Tuhan memberi waktu dan kesempatan yang berharga untuk seorang tokoh agama Yahudi seperti kepada Nikodemus ini (Yoh. 3). Walaupun Tuhan Yesus sudah melakukan percakapan langsung dengan Nikodemus, dan mengajak atau menghimbau Nikodemus untuk mengalami kelahiran baru, tetapi Nikodemus menolaknya (Yoh. 3:7). Ini bukan karena Tuhan tidak menggerakkan hati Nikodemus untuk percaya dengan benar. Dalam hal ini, kelahiran baru bukan sesuatu yang dikerjakan Tuhan secara sepihak, harus ada respon individu.
    Respon negatif seperti Nikodemus juga ditunjukkan oleh orang kaya dalam Matius 19, sehingga tidak menghasilkan kelahiran baru yang menyelamatkan. Tuhan sudah memberi kesempatan mengadakan percakapan, tetapi orang kaya itu tidak memberi ruang hidupnya bagi Tuhan. Orang kaya ini menolak menjual segala miliknya, membagikan kepada orang miskin dan mengikut Tuhan Yesus. Ia menolak bukan karena hatinya dikeraskan, tetapi karena ia tidak bersedia melepaskan hartanya (Mat. 19:22). Ia pergi dengan sedih karena tidak beroleh hidup kekal, ia lebih memilih hartanya.
    Berbeda dengan perjumpaan Saulus (Paulus) dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke kota Damsyik -ketika Paulus memburu orang Kristen untuk dianiaya- menghasilkan iman dan pertobatan yang benar (Kis. 9). Tentu hal ini tidak disebabkan oleh adanya faktor-faktor di luar diri Saulus, seperti misalnya Tuhan berintervensi ke dalam jiwa Saulus. Firman Tuhan tidak menulis bahwa Tuhan yang menggerakkan hati Saulus (Paulus) untuk bertobat dan meresponi Tuhan Yesus dengan respon yang benar. Paulus sendiri yang meresponi tindakan Tuhan dengan respon positif, tentu dari dalam dirinya sendiri. Inilah kehendak bebas tersebut.
    Latar belakang seseorang juga menentukan responnya terhadap Tuhan dan tindakan nya.  Saulus seorang pecinta Yudaisme yang fanatik. Ia berusaha membela Allah (Elohim Yahweh) dengan segenap hati. Tidak segan-segan melakukan pembantaian dan pemb...
    0 min
  • Tatanan Yang Tidak Mistis
    Dalam Roma 9:17 tertulis: Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memerlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Biasanya ayat ini digunakan sebagai landasan orang-orang yang memiliki pandangan bahwa Allah menentukan keselamatan individu. Kemudian mereka mengokohkan pandangan mereka dengan pernyataan, bahwa Allah dengan kedaulatan-Nya menaruh belas kasihan kepada siapa Allah menaruh belas kasihan, dan mengeraskan hati orang yang Allah kehendaki untuk dikeraskan.
    Untuk dapat memahami secara benar Roma 9:17, kita harus menangkap makna orisinal ayat asal di mana Paulus mengutipnya. Roma 9:17 ternyata dikutip Paulus atau diambil dari Keluaran 9:16, … akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memerlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Para teolog yang sudah memiliki premis yang salah -bahwa Allah menentukan keselamatan setiap individu- membangun pandangan bahwa demi nama-Nya masyhur, maka Allah mengorbankan Firaun. Mengorbankan Firaun dengan mengeraskan hatinya.
    Dari hal tersebut, seakan-akan mereka menemukan peneguhan bahwa Allah berdaulat melakukan apa saja yang Allah ingini, termasuk dalam pemilihan manusia yang diselamatkan dan yang lain tidak menerima keselamatan. Dalam pandangan mereka, Allah mengeraskan hati Firaun sehingga ia dapat menjadi “boneka” Tuhan untuk memasyhurkan nama-Nya. Ini suatu pandangan yang picik dan sangat dangkal. Mereka tidak memperhatikan seluruh konteks kisah dalam kitab Keluaran tersebut.  Tentu Allah yang sangat baik, tidak akan bertindak demi memasyhurkan nama-Nya, mengorbankan jiwa seseorang.  Walaupun Firaun bangsa kafir, dan memang keturunan orang jahat, Tuhan tentu tidak betindak gegabah. Kalau Firaun kemudian menjadi alat untuk memasyhurkan nama Allah (Elohim Yahweh), hal tersebut karena memang Firaun memilih menentang Allah dari kehendak bebasnya, maka Allah menggunakan kondisi tersebut membuat nama-Nya masyhur. Kemasyhuran nama-Nya, juga bukan karena Allah gila hormat, tetapi supaya bangsa Israel sebagai umat pilihan, mengenal Allahnya.
    Dalam Alkitab kita menemukan pernyataan yang mengesankan, bahwa secara mistis Tuhan mengeraskan hati seseorang, seperti misalnya Allah mengeraskan hati Firaun (Kel. 4:21; 7:3; 9:12; 10:27; 11:10; 14:4). Kemudian berkembang lagi pemikiran bahwa Yudas ditentukan Allah untuk berkhianat kepada Tuhan Yesus. Menurut mereka, Yudas terpilih sebagai anak kebinasaan, dan Yudas tidak dapat menghindarinya. Hal ini sama dengan persepsi bahwa Allah membuat Yudas mencintai uang sampai taraf ekstrem menjual Gurunya atau mengeraskan hati Yudas untuk berkhianat kepada Yesus. Demikian pula dengan kasus Esau dan Yakub bahwa Tuhan memilih Yakub, sehingga Esau (harus) menjadi orang yang tidak layak menerima warisan berkat Perjanjian dari Ishak.
    Kalau Allah menentukan Yakub menjadi umat pilihan -bukan Esau-, berarti Esau harus di-“setting” tidak pernah menjadi baik. Tuhan harus merancang peristiwa demi peristiwa sampai akhirnya Esau jadi jahat, atau sebaliknya, Yakub menjadi baik sehingga dapat menerima warisan. Hal ini sama dengan mengeraskan hati Esau untuk tetap menjadi orang yang tidak baik. Apakah Allah yang kasih adanya bertindak demikian? Tentu tidak. Kalau Allah digambarkan dengan gambaran demikian, maka berarti menciderai Allah, sebab Allah seperti itu adalah Allah yang tidak agung. Tetapi sesungguhnya Allah yang benar tidaklah demikian. Gambaran mengenai Allah seperti itu merupakan sebuah penggambaran yang jauh dari eksistensi Allah yang sebenarnya.
    Dalam kehidupan ini ada tatanan yang tertib yang bertalian dengan keadaan jiwa manusia. Keadaan jiwa manusia tidak pernah bisa diubah secara mistis. Mistis artinya hal yang berkaitan dengan tindakan yang bersifat...
    0 min
  • Landasan Kemurahan Allah
    Terkait dengan pembahasan bab ini, kita perlu mengoreksi pandangan banyak teolog yang memungut ayat dalam Yesaya 64, dan ternyata keluar dari konteksnya. Yesaya 64:4 tertulis: Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Kesalehan bangsa Israel pada zaman pembuangan dan paska pembuangan yang jahat tersebut berkualitas seperti kain kotor. Hal ini menunjukkan betapa rusaknya bangsa itu pada zaman tersebut. Sangatlah keliru, kalau kemudian ayat itu dikenakan untuk semua manusia yang hidup di bumi. Pertanyaannya apakah Ayub termasuk di dalamnya? Henokh? Abraham, dan lain sebagainya? Hal ini terjadi hanya karena mereka membangun teologi predestinasi yang salah. Hal ini sekilas terkesan bukan masalah besar, tetapi sebenarnya memiliki implikasi yang sangat luas dalam memahami konsep keselamatan. Dari penafsiran mereka, maka terbangun pandangan bahwa tidak ada seorangpun yang baik, jadi kalau seseorang bisa selamat, hal itu karena pemilihan Allah berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak.
    Dalam Roma 9:16 tertulis: Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Menganalisis ayat ini, kita harus tetap dalam konteks: bagaimana Allah memberi kasih karunia dan belas kasihan kepada Musa. Hendaknya ayat ini tidak dibawa kepada konteks yang berbeda atau tidak simetris. Jika dipertanyakan mengapa Allah memberi kasih karunia dan belas kasihan kepada Musa, maka jawabnya ada di dalam keluaran 33:17 – “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.” Kata mengenal dalam teks aslinya adalah yada (עדי), yang artinya mengenal karena menikmati atau mengalami. Kata ini digunakan dalam Kejadian 4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kata bersetubuh dalam teks aslinya juga menggunakan kata yada. Penjelasan dalam paragraf ini juga menjadi pertimbangan mengapa Allah memilih Yakub. Sebab Yakub memang lebih baik dari Esau dan layak menerima “Berkat Perjanjian”; bahwa dari keturunan Abraham semua bangsa di bumi akan diberkati. Dalam hal ini, Allah tidak sembarangan memilih.
    Tentu saja kemurahan hati Allah tidak ditujukan kepada sembarang orang. Seperti yang telah dijelaskan bahwa di dalam Diri Allah ada tatanan. Dalam memberikan kasih karunia dan belas kasihan pun pasti berdasarkan tatanan di dalam Diri Allah yang sempurna. Kemurahan hati Allah pasti ditujukan kepada orang-orang tertentu dengan landasan sesuai dengan sifat dan hakikat Allah yang kasih, kudus, adil, mulia, bijaksana dalam segala kesempurnaan-Nya. Memang hal ini merupakan misteri Ilahi. Tetapi dari memahami hakikat dan karakter Allah di dalam Alkitab, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah bertindak berdasarkan tatanan dan hukum di dalam Diri-Nya. Dalam hal ini sudah sangatlah pasti bahwa Allah tidak akan pernah bertindak sewenang-wenang tanpa tatanan yang sempurna.
    Jadi, sangatlah adil kalau Allah memilih Yakub dan menolak Esau. Ada dasar atau alasan Allah bertindak demikian. Demikian pula dalam pemilihan Allah atas bangsa di luar Israel sebagai umat pilihan atau menjadi bagian dari umat pilihan Allah. Israel sejati bukanlah mereka yang berdarah keturunan Yakub saja, tetapi yang memiliki iman seperti Abraham. Adalah adil kalau bangsa-bangsa ‘kafir’ menjadi umat pilihan yang kekal atau umat pilihan permanen sampai kekekalan, karena iman kepada Yesus Kristus. Allah memiliki alasan untuk bertindak demikian, sebab walau bangsa Israel adalah umat pilihan secara darah daging dengan segala hak istimewa, tetapi mereka menjadi keras kepala dan tegar tengkuk dengan menolak kasih karunia dalam Yesus Kristus,
    0 min
  • Bukan Kedaulatan Yang Sewenang-wenang
    Untuk menegaskan pemilihan Allah atas Yakub, Paulus mengutip ucapan Tuhan: Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah (Rm. 9:15-16). Ayat-ayat ini tidak boleh ditafsirkan sembarangan dan dipisahkan dari konteks ayat sebelumnya yang berbicara seputar pemilihan Yakub dan penolakan-Nya terhadap Esau. Untuk memahami secara benar pernyataan Paulus dalam Roma 9:14-16, maka kita harus menghubungkan dengan kisah yang dialami Musa dalam Keluaran 33, sebab pernyataan Paulus dalam Roma 9:15 diambil dari peristiwa yang ditulis dalam Keluaran 33. Untuk ini, kita harus teliti menganalisis kisah yang terjadi dalam Keluaran 32-33.
    Meninjau peristiwa dalam Keluaran 32-33 tersebut, harus dimulai dari melihat kelakuan bangsa Israel yang mendukakan hati Allah (Elohim), yaitu tindakan mereka membuat patung anak lembu emas untuk disembah pada saat Musa naik gunung Sinai. Hal ini membuat Tuhan murka dan hendak meninggalkan bangsa tersebut; Tuhan bermaksud tidak menyertai mereka lagi dalam perjalanan ke Kanaan. Menyikapi hal tersebut, Musa memohon kepada Tuhan, agar Tuhan tidak meninggalkan bangsa tersebut. Musa rela namanya terhapus dari kitab yang Allah telah tulis (Kel. 32:32). Musa memohon kepada Tuhan, seperti membujuk Tuhan, agar tetap menyertai bangsa tersebut dan tidak membuat bangsa itu berjalan sendiri tanpa tuntunan-Nya.
    Selanjutnya, Musa juga mohon kepada Tuhan agar Tuhan berkenan memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada Musa. Tuhan mengabulkan permintaan Musa, yaitu berkenan menunjukkan kemuliaan-Nya yang gemilang kepada Musa (Kel. 33:18-19). Dari peristiwa ini muncul ayat yang ditulis Paulus dalam Roma 9:15 (Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.”). Adapun dalam Keluaran 33:19 Tuhan berfirman: Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” Pernyataan ini mengesankan bahwa Tuhan memberi kasih karunia kepada siapa yang Tuhan mau memberi atau sebaliknya, tidak memberi kasih karunia dan belas kasihan kepada orang yang Tuhan tidak berkenan memberi belas kasihan dan kasih karunia-Nya.
    Jadi, sangat dipaksakan dan benar-benar keluar konteks kalau Keluaran 33:19 menjadi dasar premis bahwa Allah memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan masuk ke dalam surga karena dibelaskasihani oleh Allah, dan yang lain tidak selamat karena tidak menerima kasih karunia dan dibelaskasihani Allah. Dari hal ini dikesankan bahwa Allah tidak menaruh belas kasihan kepada semua orang. Juga dikesankan dengan jelas bahwa Allah tidak mengasihi semua orang. Dipetakan oleh orang yang berpandangan demikian bahwa Allah hanya memberi belas kasihan dan kasih karunia kepada orang tertentu. Jika dipersoalkan: Mengapa demikian? Apa dasarnya? Biasanya jawabnya adalah kedaulatan Allah. Betapa mengerikan memiliki Allah seperti ini. Allah yang “gelap” sama sekali. Bisa dimengerti jika mereka berpandangan bahwa Allah memilih Yakub karena “mau-mau”-Nya sendiri tanpa bisa dipahami sama sekali maksud-Nya tersebut. Dari hal ini, mereka mengokohkan doktrin predestinasi yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Satu hal yang harus ditanamkan, bahwa kedaulatan Allah bukanlah kedaulatan yang sewenang-wenang, sehingga bertentangan dengan hakikat kasih dan keadilan-Nya.
    Mengapa sampai teolog-teolog tertentu mengambil ayat dalam Roma 9:15 sebagai dasar premis predestinasi? Hal ini terjadi atau disebabkan karena memang tidak ada dukungan ayat yang kuat yang menunjukkan bahwa Allah menentukan sekelompok orang selamat dan yang lain binasa. Jadi,
    0 min
  • Keadilan Versi Untuk Semua
    Setelah Paulus berbicara mengenai pemilihan Allah atas Yakub, maka Paulus menantang orang-orang Yahudi atau siapa pun yang tidak menerima tindakan dan keputusan-keputusan Allah dengan pernyataan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (Rm. 9:14). Kata “tidak adil” dalam teks aslinya adalah adikia (ἀδικία), selain dapat diterjemahkan tidak adil (injustice), juga dapat diterjemahkan tidak benar (unrighteousness), jahat (wickedness), tindakan yang salah (wrongdoing). Pernyataan Tuhan dalam Roma 9:14 masih dalam konteks pemilihan Allah atas Yakub. Kalau pernyataan Paulus ini dikenakan untuk semua orang, maka membangun doktrin keselamatan yang sangat keliru dan membangun image yang sangat buruk mengenai Allah.
    Dari pernyataan tersebut di atas, Paulus hendak mengatakan bahwa Allah tidak mungkin tidak adil, tidak mungkin tidak benar atau berbuat suatu tindakan yang salah atau suatu kejahatan. Juga dalam pemilihan-Nya atas Yakub sebagai nenek moyang umat pilihan yang melahirkan Mesias. Jadi, ketika Paulus mengatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Kalimat “apakah Allah tidak adil”, juga berarti apakah Allah jahat? Tentu saja Allah tidak jahat. Ketidakadilan adalah kejahatan. Dalam hal ini, tidak mungkin Allah menentukan orang selamat, sedangkan yang lain dibiarkan binasa. Pemilihan tersebut hanya menyangkut pemilihan bangsa Israel sebagai umat pilihan, bukan penentuan individu menjadi umat pilihan.
    Kalau Allah menentukan seseorang dapat memiliki keselamatan, dan yang lain dibiarkan tidak memiliki keselamatan, maka berarti Allah adalah Allah yang jahat, sebab tidak adil. Lebih kurang ajar lagi, kalau tindakan Allah tersebut dianggap sebagai “keadilan versi Allah”. Mereka yang berpandangan salah tersebut menyatakan, bahwa Allah berhak memiliki moral yang tidak sama dengan manusia. Keadilan atau ketidakadilan versi Allah berbeda dengan versi manusia. Hal ini benar-benar kacau, sebab harus diingat bahwa manusia sebagai gambar dan rupa Allah adalah “Masterpiece”-Nya, tidak mungkin diajar keadilan atau ketidakadilan versi yang lain. Kalau keadilan versi tersebut dikenakan dalam kehidupan orang percaya, betapa rusaknya kehidupan ini. Keadilan Allah haruslah keadilan versi untuk semua, yaitu keadilan yang dikenakan oleh Allah, yang juga harus dikenakan semua manusia.
    Allah pasti bertindak dengan adil, benar, dan tidak akan pernah berbuat sesuatu yang salah. Pemilihan Allah atas Yakub pasti berdasarkan tatanan atau hukum di dalam diri Allah yang sempurna (tidak bercela). Kalau Allah membenci Esau dan mengasihi Yakub, memang Esau tidak berhak dan tidak layak menjadi nenek moyang umat pilihan, dan itu pun dalam konteks pembicaraan mengenai tindakan bangsa Israel yang tidak menghormati Allah, sehingga Allah harus memberi teguran kepada mereka.
    Ketika Allah mengatakan membenci Esau dan mengasihi Yakub, hal itu harus dimengerti dalam konteks ketika bangsa Israel tidak bersikap pantas kepada Allah (Mal. 1). Dari pernyataan ini, Allah hendak menunjukkan bahwa Allah membenci sikap tidak hormat bangsa itu terhadap Elohim Yahweh. Dalam hal ini diingatkan, bahwa Allah tidak membenci Esau sejak dalam kandungan. Ketika Allah berkata bahwa yang muda akan menjadi tuan bagi yang tua, Allah hanya menubuatkan, berhubung orang tua Esau dan Yakub mempertanyakan mengapa dua anak dalam kandungan berdesak-desakan. Jangan sampai ada orang Kristen berpikir bahwa Allah membenci seseorang tanpa alasan.
    Supaya tidak salah memahami tulisan Paulus dalam Roma 9:14 perlu diingatkan, bahwa pemilihan atas Yakub tidak paralel dengan pemilihan individu untuk menjadi umat yang diselamatkan. Roma 9:4 konteksnya hanya pemilihan suatu bangsa, yaitu bangsa Israel, bukan pemilihan individu untuk menjadi umat pilihan. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa Esau tidak pernah menjadi hamba bagi Yakub, tetapi secara komunitas,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…